• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.7. Total Kerugian Ekonomi Akibat Malaria

Biaya Langsung

1. Pengeluaran Pemerintah untuk Penanganan malaria Sub Total Biaya Langsung (HDC) 867.602.200

Biaya Tidak Langsung 1. Opportunity Cost Penderita 2. Opportunity Cost Keluarga

417.581.667 281.768.637

27 18 Sub Total Biaya Tidak Langsung (TIC) 699.350.304

Total Cost (TC) 1.566.952.504 100

Berdasarkan tabel 4.13 diperoleh bahwa total biaya langsung yang dikeluarkan akibat malaria sebesar Rp. 867.602.200,- dan total biaya tidak langsung sebesar Rp. 699.350.304,- Sehingga Total biaya baik langsung maupun tidak langsung rata-rata sebesar Rp.1.566.952.504,-. Hasil tersebut merupakan biaya yang dikeluarkan penderita malaria untuk periode sakit malaria dalam 1 tahun.

4.7. Total Kerugian Ekonomi akibat Malaria

Total kerugian ekonomi (economic loss) akibat malaria di kabupaten Batu Bara dihitung berdasarkan dua hal. Pertama adalah besarnya biaya yang dikeluarkan oleh penderita Malaria baik langsung maupun tidak langsung. Yang kedua adalah perhitungan dari biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah yang terkait langsung dengan penanganan penyakit malaria baik promotif, preventif maupun kuratif.

Berikut perhitungan kerugian ekonomi akibat malaria di kabupaten Batu Bara selama tahun 2014.

Tabel 4.14. Perhitungan Besarnya Kerugian Ekonomi Akibat Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp.)

1. Total pengeluaran responden 1.249.714.004

2. Pengeluaran pemerintah 317.238.500

Jumlah 1.914.067.400

Pada tabel 4.14 diperoleh informasi bahwa ternyata biaya yang dikeluarkan oleh penderita malaria jauh lebih besar dibanding dengan pengeluaran pemerintah atau 80% dari keseluruhan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat malaria tahun 2014.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ternyata responden terbanyak yang menderita malaria adalah laki-laki mencapai 56% dari total seluruh sampel penelitian. Banyaknya responden laki-laki yang terkena malaria lebih disebabkan karena berhubungan dengan resiko untuk terkena malaria yang lebih tinggi pada laki-laki karena aktivitas/pekerjaan mereka dan juga dengan kondisi lingkungan sebagai tempat kerja.

Berdasarkan umur responden, penelitian ini hanya dibatasi dengan mengambil sampel bagi responden yang berusia produktif saja. Yaitu responden yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 60 tahun. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perhitungan kerugian karena sakit malaria yang lebih maksimal, dimana dalam perhitungan hari produktif dan kehilangan pendapatan karena tidak bekerja dimasukkan sebagai salah satu komponen kerugian yang timbul karena sakit. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa sebagian besar responden berumur antara 35 sampai dengan 44 tahun yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Tingkat pendidikan responden juga sangat bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah lulus SMP. Dalam penelitian ini juga masih banyak yang tingkat pendidikan rendah seperti tamat SD atau bahkan tidak lulus SD.

Masih ditemukan masyarakat yang tidak tahu tentang cara pengobatan malaria yang tepat. Hal ini dapat diketahui dari sebagian besar responden tidak langsung mencari pengobatan ke puskesmas yang sebenarnya biaya pengobatannya gratis dengan diagnosa dan terapi yang tepat, tetapi sebagian besar masyarakat lebih memilih untuk membeli obat sendiri di toko obat maupun di warung atau di klinik bidan. Obat yang dibeli juga bervariasi seperti obat penurun panas yaitu paracetamol, vitamin atau obat anti malaria seperti resochin, suldox, atau pil kina.

Sebagian besar responden berprofesi sebagai nelayan dan buruh. Kondisi lingkungan kerja sangat beresiko terhadap penularan penyakit ini. Kawasan lembab dan rawa-rawa merupakan daerah yang memiliki kepadatan nyamuk penular malaria yang cukup tinggi. Bagi responden yang bekerja sebagai nelayan, mereka dibayar perhari sesuai dengan pekerjaan mereka. Akibatnya apabila mereka tidak bekerja maka mereka tidak mendapat upah. Misalnya karena sakit maka mereka akan kehilangan pendapatannya selama sakit tersebut.

Hal ini sejalan dengan penelitian Ernawati et all, tentang Hubungan faktor resiko individu dan lingkungan rumah terhadap kejadian malaria tahun 2010 , bahwa kelompok yang bekerja sebagai nelayan/petani tambak yang menginap mempunyai proporsi kejadian infeksi malaria lebih tinggi sebesar 12,4 % dibanding kelompok pekerja lain yang tidak menginap.

Kabupaten Batu Bara yaitu Sebesar Rp. 1.750.000,-, namun apabila dibelanjakan hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari tanpa adanya saving. Sehingga apabila menderita suatu penyakit maka disamping kehilangan pendapatannya juga akan menimbulkan ketidakberdayaan ekonomi yang mendorongnya jatuh miskin.

Hal serupa sesuai dengan hasil penelitian Dalimunthe (2008), tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pencegahan malaria di Mandailing Natal, bahwa pengasilan mempunyai pengaruh signifikan terhadap pencegahan malaria. Masyarakat denga penghasilan diatas UMR lebih baik 16,2 kali dalam pencegahan malaria.

Dilihat dari riwayat terkena penyakit malaria, rata-rata frekuensi terkena malaria adalah satu kali sebanyak 76 orang (80%). Disamping itu terdapat juga responden yang menderita malaria lebih dari 1 kali dalam setahun. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan lingkungan kerja yang sangat memungkinkan penularan kembali malaria terus berlangsung.

5.2. Pola Pencarian Pengobatan Penderita (Health Seeking Behavior) 5.2.1. Pola Pengobatan Sebelum ke Puskesmas

Dilihat dari pola pencarian pengobatan sebanyak 75 orang (79%) mencari pengobatan dulu ke berbagai fasilitas kesehatan yang ada dalam masyarakat, bahkan 9 orang diantaranya (9%) mencari pengobatan alternative secara tradisional. Hal ini sesuai dengan Hasil Riskesdas pada tahun 2010 bahwa masih ditemukan penderita

malaria klinis yang melakukan pengobatan sendiri (self treatment medicare) dengan obat tradisional dan tidak menerima ACT sebesar 15,4%.

Ternyata sebagian besar responden yang mencari pengobatan lebih memanfaatkan pelayanan kesehatan oleh bidan dan mantri setempat. Ini disebabkan jumlah tenaga bidan yang banyak memungkinkan keberadaan bidan lebih mudah untuk dijumpai oleh masyarakat setempat. Disamping itu pelayanan kesehatan oleh dokter yang merupakan tenaga kesehatan puskesmas jarang ditemukan di setiap kecamatan kecuali di waktu kerja puskesmas.

Indonesia ditargetkan terbebas dari malaria pada tahun 2030, salah satu keberhasilan ditentukan oleh efektifitas pengobatan. Sumatera Utara adalah salah satu dari lima provinsi yang mengobati malaria secara efektif yaitu 55,7% (Riskesdas, 2013). Namun jika ditelusuri lebih lanjut masih ditemukan penderita yang mengobati sendiri penyakit malaria yaitu sebesar 32%. Dengan membeli sendiri di apotik atau dengan pengobatan tradisional.

Sejak tahun 2004, pemerintah telah menganjurkan penggunaan ACT (Artemisinin based combination therapy) untuk upaya eliminasi malaria karena adanya resistensi beberapa obat jenis malaria seperti klorokuin dan sulfadoxin-primetamin. Meskipun demikian pada penelitian ini masih ditemukan adanya penggunaan klorokuin dan sulfadoxin-primetamin oleh penderita. Meskipun obat ini

adalah jenis obat umum (non malaria) seperti antibiotik, obat bebas terbatas dan obat tradisional diantaranya adalah paracetamol, chlorpeniramine maleat, ranitidine dan vitamin.

Kebiasaan masyarakat untuk membeli obat malaria sendiri tersebut dapat berbahaya terutama bagi mereka yang tidak tahu tentang dosis dan pemakaian obat tersebut. Pengobatan yang tidak tuntas yang dikarenakan kurang patuhnya penderita mengkonsumsi obat sesuai petunjuk serta adanya faktor resistensi responden terhadap obat berjenis klorokuin yang bisa dengan mudah ditemukan di apotik/ toko obat dapat berbahaya bagi masyarakat.

5.2.1.1. Biaya Obat pada Berbagai Fasilitas Kesehatan Sebelum ke Puskesmas Biaya obat yang dikeluarkan oleh responden sangat bervariasi antara Rp.5.000,- sampai dengan Rp. 100.000,- tergantung tempat responden mencari pengobatan tersebut. Sebagian besar dari responden yaitu 65 orang (77%) mengeluarkan biaya lebih dari Rp.20.000,-sampai dengan Rp.50.000,- untuk mendapatkan pengobatan malaria. Dan biaya rata-rata untuk mencari mengobatan malaria adalah sebesar Rp. 22.600,-.

Pemanfaatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan menjadi pilihan terbanyak responden, biaya obat yang dikeluarkan juga dipengaruhi oleh jenis obat dan intervensi yang diterima responden. Dari hasil wawancara biasanya responden mendapat obat penurun panas, antibiotik serta obat malaria ACT dan primakuin.

Selain itu responden juga mendapatkan injeksi vitamin seperti neurobion atau B12.

Rata-rata biaya yang dikeluarkan responden untuk sekali kunjungan di bidan berkisar

antar Rp. 30.000,- sampai Rp. 50.000,-. Pada penelitian ini tidak dijumpai penderita yang berobat ke praktek dokter swasta.

5.2.1.2. Lama Mencari Pengobatan Sebelum ke Puskesmas

Jika dilihat dari lama responden mencari pengobatan sebelum ke puskesmas, ternyata rata-rata responden membutuhkan 2 hari sebelum memutuskan berobat ke puskesmas. Sebelumnya responden lebih banyak menggunakan pelayanan kesehatan oleh bidan setempat, praktek dokter dan klinik swasta, namun bila dilihat dari data yang diperoleh sangat sedikit responden yang langsung ke puskesmas. Hal ini lebih banyak dikarenakan oleh letak puskesmas yang jauh dari tempat tinggal dan waktu pelayanan kesehatan di puskesmas pada pagi hari yang bersamaan dengan waktu kerja responden.

Program pengobatan menggunakan ACT harus dilakukan secara efektif yaitu pada 24 jam pertama pasien panas dan obat harus dihabiskan dalam waktu tiga hari.

Namun dari hasil penelitian, rata-rata penderita malaria malaria mencari pengobatan selama dua hari sebelum memutuskan untuk berobat. Hal ini tentu saja akan mengurangi cakupan pengobatan efektif.

5.2.2. Pola Pengobatan Penderita 5.2.2.1. Jenis Plasmodium

Semua responden yang mencari pengobatan ke puskesmas dengan

gejala-Diagnostic Test/RDT) dan sudah tersedia di semua puskesmas di Kabupaten Batu Bara.

Berdasarkan catatan petugas malaria diperoleh gambaran bahwa dari seluruh responden jumlah penderita p.vivax merupakan sebagian besar kasus yang ditemui sepanjang tahun 2014 yaitu sebanyak 87 orang (88%).

Berdasarkan data petugas malaria puskesmas, diperoleh informasi bahwa seluruh pasien yang datang dengan diagnose malaria dapat ditangani dengan baik tanpa harus dirujuk sehingga tidak pernah didapat kematian akibat malaria bagi pasien yang mendapat pengobatan di puskesmas.

5.2.2.2. Status Berobat Pasien

Berdasarkan laporan petugas malaria, sebagian besar dari responden adalah responden dengan status pasien umum dengan jenis pekerjaan nelayan dan petani di daerah resiko tinggi terkena malaria.

Sejak ada adanya bantuan dan kerjasama Dinas Kesehatan dengan Global Fund (GFATM), seluruh biaya obat malaria dan pemeriksaan laboratorium tidak dibebankan kepada pasien, tidak hanya bagi pasien BPJS/Askeskin yang dibebaskan biaya, tetapi juga kepada pasien umum lainnya.

5.2.2.3. Jenis Pelayanan Kesehatan di Puskesmas

Rata-rata responden datang berobat ke puskesmas setempat setelah dua hari menderita malaria. Selama dua hari tersebut responden telah berobat ke berbagai fasilitas kesehatan swasta yang tersedia di masyarakat. Namun karena penegakan diagnosa yang kurang tepat oleh karena tiada fasilitas laboratorium sehingga tidak

jarang malaria diduga sebagai demam berdarah, demam thypoid atau infeksi slauran pernafasan. Dengan demikian hal ini mempengaruhi terhadap terapi yang diberikan.

Ada juga diagnosa yang tepat dan sering diberikan semacam obat klorokuin yang dikombinasikan dengan obat penurun panas dan antibiotik tertentu. Namun karena ketidak patuhan responden dalam mengkonsumsi obat tersebut pengobatan sering tidak tuntas. Pemakaian klorokuin yang sering dijual bebas di warung dengan merek primaquin, resoquin atau riboquin menyebabkan terjadinya resistensi terhadap jenis obat tersebut.

Hal ini menyebabkan responden tidak sembuh dengan baik atau hanya dapat meredakan gejala sedangkan proses penyakit terus berlangsung sehingga responden akhirnya mencari pengobatan ke puskesmas terdekat.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa sebagian besar responden yang datang ke puskesmas mendapat pelayanan rawat jalan (100%). Hal ini terjadi karena puskesmas perawatan untuk rawat inap tidak difungsikan dengan baik. Akibatnya penderita malaria yang membutuhkan rawat inap harus opname di klinik swasta atau bidan setempat.

Untuk meningkatkan keberhasilan program, obat anti malaria serta pemeriksaan laboratorium diberikan gratis oleh pemerintah bagi yang memeriksakan dirinya ke fasilitas pelayanan kesehatan formal seperti Puskesmas dan Rumah Sakit.

seperti yang dilakukan di negara-negara Afrika adalah dengan pendekatan Home based Management Malaria (HMM). Pelibatan masyarakat terutama para ibu dan kader masyarakat terlatih merupakan inti dari HMM ini dalam deteksi dini (early diagnosis).

5.2.2.4. Biaya Pengobatan Selama di Puskesmas

Perawatan rawat jalan dan rawat inap di puskesmas tidak mempengaruhi biaya jasa pelayanan dan biaya obat yang diberikan oleh petugas kesehatan kepada responden. Hal ini dikarenakan semua biaya pelayanan dan biaya rawat inap serta obat-obatan tidak dipungut biaya. Sehingga responden hanya mengeluarkan biaya obat-obatan yang tidak tersedia di puskesmas.

Selain biaya obat, reponden juga mengeluarkan biaya untuk transportasi ke dan dari puskemas. Biaya transportasi tersebut tergantung jarak tempuh antara tempat tinggal dan puskesmas. Selain itu juga diperngaruhi jenis kendaraan yang digunakan.

Dari hasil penelitian bahwa rata-rata waktu tempuh yang digunakan adalah antar 10 menit sampai dengan 60 menit perjalanan yang berkisar antara 5 km sampai dengan 20 km. Dari hasil penelitian rata-rata pengeluaran pulang pergi responden adalah Rp. 7.000,- jenis angkutan yang paling sering digunakan adalah sepeda motor pribadi.

5.2.2.5. Pengeluaran Keluarga Selama Menjaga Pasien

Selama dalam perawatan di balai pengobatan swasta bagi responden yang mendapat pelayanan rawat inap semua dijaga oleh keluarganya yang datang setiap hari atau bahkan menginap di ruang rawat inap puskesmas. Rata-rata responden

dijaga oleh 1-2 orang anggota keluarga yang menunggui responden sepanjang perawatn responden. Hal ini tentunya menambah pengeluaran responden dan keluarga untuk menutupi kebutuhan selama di puskesmas.

Selama menunggui responden keluarga mengeluarkan biaya rata-rata Rp.

150.000,-. Biaya tersebut digunakan untuk keperluan transportasi local, membeli kebutuhan selama responden dirawat, sperti obat-obatan, makanan dan sebagainya.

Pengeluaran keluarga untuk konsumsi juga bervariasi sesuai dengan jumlah anggota keluarga dan barang yang dibeli. Selain nasi dan minuman keluarga juga mengeluarkan biaya untuk keperluan lain seprti rokok, jajanan, peralatan untuk mandi, mencuci dsb.

5.3. Opportunity Cost

Opportunity cost atau biaya kesempatan yang hilang adalah merupakan bagian dari biaya tidak langsung. Dalam penelitian ini diukur berdasarkan hilangnya pendapatan dari responden dan keluarga akibat sakit malaria. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa pendapatan yang hilang karena sakit malaria ini cukup besar dan signifikan terahadap total biaya yang ditimbulkan karena sakit malaria.

Dari keseluruhan responden yang wawancarai seluruhnya menyatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan aktivitas normalnya selama menderita malaria. Hal ini karena kondisi tubuh yang tidak sehat, badan meriang sehingga harus beristirahat.

sebagian besar responden telah kehilangan waktu produktifnya selama 5 hari dalam 1 kali episode malaria yang dideritanya.

Perhitungan opportunity cost penderita diperoleh dari rata-rata hari tidak produktif penderita dalam satu tahun sebanyak 4.51 hari dengan rata-rata total pendapatan penderita dalam satu tahun yaitu sebesar Rp. 1.523.700,- dibagi 30 kemudian dikalikan dengan seluruh jumlah penderita malaria usia produktif tahun 2014 yaitu 1.823 orang. Maka diperoleh Opportunity cost penderita sebesar Rp.

417.581.667,-.

Selama dalam perawatan tidak hanya penderita yang kehilangan hari produktif, tetapi keluarga yang menjaga penderita juga kehilangan waktu produktif.

Dari hasi penelitian diperoleh persentase jumlah keluarga yang kehilangan hariproduktif sebesar 9,4%. Sedangkan responden yang tidak dirawat tidak mempengaruhi hari produktif keluarga, sehingga keluarga bisa tetap bekerja.

Opportunity cost keluarga akibat kegiatannya menunggu penderita sebesar Rp.281.768.637,-.

Total pendapatan yang hilang dari responden dan keluarga untuk satu kali episode dalam satu tahun adalah Rp. 699.350.304,- (US$58,279) Biaya yang hilang ini sangat kecil bila dibandingkan dengan hasil penelitian Orem et all (2012), dimana Total biaya tidak langsung sebesar US$609.078.209 yang mewakili 52% dari Total kehilangan produktivitas akibat absen dari pekerjaan dan 58 % akibat kehilangan produktivitas akibat keluarga untuk menemani dan menjaga pasien.

5.4. Total Pengeluaran Responden Selama Sakit Malaria

Berdasarkan hasil penelitian rata-rata total biaya tersebut adalah Rp.

18.670.000,- per episode malaria. Jika dilihat dari total biaya minimum dan maksimum terlihat ada perbedaan yang cukup besar. Dimana biaya minimal adalah Rp. 56.000,- sedangkan biaya maksimal Rp. 3.976.000,-.

Perbedaan biaya tersebut disebabkan antara lain jenis pelayanan yang digunakan oleh responden dan frekuensi pelayanan sebelum ke puskesmas, terutama antara responden yang berobat ke pelayanan bidan atau responden yang mengobati sendiri dirinya dengan membeli obat yang dijual bebas.jenis pelayanan di puskesmas juga mempengaruhi total biaya tersebut, ada responden yang berobat jalan dan sebagian lagi mendapat perawatan di puskesmas, juga dipengaruhi oleh perbedaan lama hari rawat. Jumlah dan jenis obat yang dikonsumsi juga berbeda, teutama jumlah pendapatan yang hilang karena sakit.akibat perbedaan ini menyebabkan total biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing responden juga berbeda.

Biaya yang dikeluarkan responden dikelompokkan berdasrkan waktu responden mencari pengobatan yaitu biaya sebelum ke puskesmas, biaya selama di puskesmas dan biaya-biaya setelah pulang dari puskesmas.

1. Biaya yang dikeluarkan responden sebelum ke puskesmas yang meliputi :

a. Biaya rawat jalan mencari pengobatan pertama mencakup biaya obat, jasa

a. Biaya transportasi b. Biaya administrasi

c. Biaya obat dan laboratorium

Biaya yang dikeluarkan tersebut adalah biaya untuk keperluan obat atau bahan medis yang bukan dari puskesmas, karena seluruh obat dan bahan medis yang tersedia di puskesmas tidak dipungut biaya. Pembebasan tidak hanya ditujukan pada pasien BPJS askeskin tapi juga pada pasien umum.

Tabel. 5.1. Total Biaya Langsung yang Dikeluarkan oleh Responden Karena Sakit Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

No Biaya Langsung Biaya (Rp)

1. Biaya pencegahan 335.432.000

2. Biaya pengobatan 214.931.700

Jumlah 550.363.700

Pada tabel 5.1 dapat diketahui proporsi biaya terbesar yang dikeluarkan oleh responden untuk biaya langsung adalah biaya pencegahan (60%) dari total biaya langsung.

Biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.2 Total Biaya Tidak Langsung yang Dikeluarkan Responden di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

No Biaya Langsung Biaya (Rp) % Kumulatif

1. Opportunity cost penderita 417.581.667 72

2. Opportunity cost keluarga 281.768.637 28

Jumlah 699.350.304 100

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui biaya tidak langsung yang dikeluarkan oleh responden akibat malaria. Biaya terbesar yang dikeluarkan adalah untuk opportunity cost atau pendapatan yang hilang karena sakit malaria. Dari biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan oleh responden dapat diketahui bahwa persentase terbesar adalah biaya tidak langsung yaitu sebesar Rp. 699.350..304,-.

Perbedaan biaya tersebut dikarenakan oleh beberapa hal seperti sejauh mana keterlibatan pemerintah terhadap penanggulangan malaria, fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan, juga dipengaruhi oleh variabel lain seperti besar penghasilan perhari, lamanya waktu sakit. Karena biaya obat, laboratorium serta biaya kamar dan jasa tidak dikenakan biaya, dengan demikian responden hanya penderita hanya mengeluarkan biaya diluar kepentingan tersebut kecuali dalam beberapa hal ada beberapa obat yang tidak tersedia di puskesmas sehingga penderita harus membeli diluar.

Bila dilihat dari biaya yang dikeluarkan selama sakit sebagian besar tidak jauh berbeda dengan jumlah rata-rata pengahsilan responden dalam sebulan, tentunya hal ini sangat membebani responden karena harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit walaupun sebagian biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah.

Secara keseluruhan persentase biaya terbesar yang dikeluarkan oleh

5.5. Total Kerugian Ekonomi akibat Malaria

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran mengenai kerugian ekonomi yang ditimbulkan penyakit malaria dari sisi pasien maupun pemerintah. Dalam penelitian ini ada beberapa isu yang menjadi perhatian economic loss study terutama mengenai dampak dari malaria terhadap pertumbuhan ekonomi, baik secara mikro maupun makro. Secara mikro,penyakit malaria ini memebrikan pengaruh atau kerugian terhadap individu, keluarga dan perusahaan. Dimana disini terlihat bahwa dengan sakit malaria, maka pasien tersebut harus mengeluarkan biaya untuk mencari pengobatan dan harus kehilangan hari produktifnya. Jadi walaupun dapat beraktifitas namun tidak memberikan hasil yang maksimal. Secara makro akibat penyakit ini member pengaruh terhadap pertumbuhan pendapatan perkapita penduduk.

Total kerugian ekonomi akibat malaria di Kabupaten Batu Bara sebesar Rp.1.566.952.504,-.atau sekitar 2% dari Pendapatan daerah (PAD) Kabupaten Batu Bara pada tahun 2014. Hal ini sesuai dengan penelitian Ascobat Gani pada tahun 2001 tentang dampak malaria terhadap ekonomi di beberapa kabupaten.

Perbandingan tersebut tidak lepas dari besarnya PAD di Kabupaten Batu Bara sehingga bila dibandingkan akan jauh berbeda dengan daerah lain yang mempunyai PAD yang rendah. Namun bagi masyarakat nilai kerugian tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian mikro karena presentase paling besar dari kerugian tersebut disebabkan oleh pengeluaran masyarakat yang terkena malaria.

Sedangkan kerugian pemerintah hanya 20% dari total kerugian.

Total kerugian ini hanya nilai dari perhitungan dari pasien yang datang ke puskesmas dan pengeluaran pemerintah. Untuk biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pencegahan malaria dan yang menderita malaria tapi tidak berobat ke puskesmas tidak dihitung sehingga nilai akhir dari kerugian ini belum bisa menyimpulkan total kerugian seluruh masyarakat yang menderita malaria.

Hasil penelitian Gupta (2014) dalam The economic Burden of Malaria in India menyebutkan bahwa penguatan sistem kesehatan tetap menjadi landasan strategi yang menentukan keberhasilan pengendalian malaria. Penguatan sistem kesehatan serta meningkatkan skala intervensi akan membutuhkan dana. Oleh karena itu pemerintah harus menemukan sumber daya tambahan dari sumber-sumber domestic untuk program pengendalian berkelanjutan.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Orem et all (2012) bahwa negara-negara yang merupakan daerah endemis mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi dari pada negara lain yang tidak ada kasus malaria. Selain itu pendapatan perkapita penduduk lebih rendah sehingga program penanggulangan penyakit malaria sangat berpengaruh positif terhadap pembangunan ekonomi.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :