• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.7. Metode Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan diolah untuk mendapatkan distribusi frekuensi dari karakteristik pasien terhadap variabel lainnya. Sementara data mengenai biaya yang dikeluarkan oleh responden selama sakit malaria, dilakukan perhitungan sehingga didapatkan biaya rata-rata untuk setiap jenis biaya yang dikeluarkan oleh variasi biaya tersebut (biaya yang paling rendah sampai yang paling tinggi).

Sedangkan biaya yang dibelanjakan oleh pemerintah dalam rangka penanganan penyakit malaria selama tahun 2014, juga dilakukan perhitungan sehingga didapatkan nilai nominal dari seluruh pengeluaran pemerintah baik sebagai dana rutin maupun bantuan dari donor yang khusus diperuntukkan pada penanganan penyakit malaria tahun 2014.

Untuk menentukan besarnya kerugian dari waktu yang hilang akibat sakit malaria didasarkan pada perhitungan waktu produktif yang hilang akibat sakit, kemudian dikonversikan ke dalam bentuk moneter, sehingga didapatkan keseluruhan biaya yang seharusnya dapat di save apabila tidak menderita malaria pada tahun 2014.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Lokasi Penelitian

Kabupaten Batu Bara merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara yang baru terbentuk pada tahun 2007, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Asahan. Kabupaten Batu Bara berada pada kawasan pantai timur Sumatera Utara dengan batas-batas sebagai berikut :

- Sebelah Utara dengan : Kabupaten Serdang Bedagai - Sebelah Timur dengan : Selat Malaka

- Sebelah Selatan dengan : Kabupaten Asahan - Sebelah Barat dengan : Kabupaten Simalungun

Secara administratif kabupaten Batu Bara terdiri dari 7 kecamatan dan 151 desa/kelurahan. Jumlah penduduk berdasarkan data terakhir sebanyak 385.960 jiwa.

Struktur penduduk di kabupaten Batu Bara tahun 2014 tergolong produktif, artinya proporsi penduduk usia 15-60 tahun mempunyai proporsi terbesar (62,6%) (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara, 2013).

Sarana pelayanan kesehatan yang tersedia di kabupaten Batu Bara terdiri dari sarana pelayanan kesehatan dasar yang terdiri dari puskesmas sebanyak 13 unit, puskesmas pembantu sebanyak 60 unit, puskesmas keliling sebanyak 13 unit, dan

Komposisi tenaga kesehatan berdasarkan tingkat pendidikan di puskesmas Kabupaten Batu Bara sebagian besar adalah bidan, yaitu sebanyak 443 orang (60%).

Sebagai rincian dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kabupaten Batu Bara

No Jenis Tenaga Jumlah Ratio/ 100.000

Penduduk Target 2014

4.2. Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh karakteristik penderita malaria tahun 2014 yang menjadi responden dalam penelitian ini. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan Terakhir, Pekerjaan, Tingkat Penghasilan, Status

Pernikahan dan Frekuensi Terkena Malaria

Karakteristik Responden Jumlah

Tabel 4.2. (Lanjutan)

Frekuensi terkena malaria pada tahun 2014 a. 1 kali

Pada tabel 4.2. di atas dapat diketahui karakteristik responden berdasarkan diantaranya umur terlihat bahwa penderita malaria berusia antara 34-44 tahun sebanyak 32 orang (34%). Rentang umur terendah adalah 16 tahun dan tertinggi adalah 60 tahun. Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah laki-laki, yaitu sebanyak 53 orang (56%). Dari segi pendidikan terlihat bahwa sebagian besar yang menjadi responden penelitian mempunyai pendidikan setingkat

Berdasarkan jenis pekerjaan responden, yang paling banyak adalah jenis pekerjaan nelayan yaitu 24 orang (25%), dengan tingkat penghasilan antara Rp.1.000.000-Rp.2.000.000,- sebanyak 41 orang (43%). Berdasarkan status pernikahan bahwa sebanyak 70 orang (74%) responden dalam penelitian ini telah menikah dan mempunyai anak. Jumlah anggota keluarga berkisar 2 sampai dengan 7 orang untuk satu keluarga, rata-rata jumlah anak dalam satu keluarga adalah 3-4 orang.

Dari hasil wawancara dengan responden diperoleh informasi bahwa sebanyak 76 responden (80%) menderita malaria 1 kali dalam tahun 2014. Rata-rata responden menderita malaria 1,2 kali terkena malaria dalam tahun tersebut.

4.3. Pola Pencegahan Penyakit Malaria Penderita Malaria

Bebagai upaya pencegahan dilakukan oleh penderita malaria seperti menggunakan obat nyamuk bakar, menyemprot, repelant, atau kelambu. Berikut informasi tentang jenis pencegahan malaria :

Tabel 4.3. Distribusi Metode Pencegahan Malaria pada Penderita Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

Variabel Jumlah Persentase (%)

Metode pencegahan :

Pada tabel 4.3 diperoleh hasil penelitian bahwa sebagian besar penderita malaria menggunakan obat nyamuk bakar sebanyak 43 orang (45%) untuk tindakan pencegahan malaria, dan lainnya sebanyak 12 orang (13%) membersihkan semak dan air tergenang sekitar rumah, menutup pintu dan jendela lebih cepat dan membakar sampah/daun.

Tabel 4.4. Biaya yang Dikeluarkan untuk Pencegahan Malaria pada Penderita Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

Jenis Biaya Total (Rp) Rata-rata (Rp) Metode Pencegahan

a. Obat nyamuk bakar b. Obat nyamuk semprot c. Repelant

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu 83 orang mengeluarkan biaya untuk pencegahan malaria. Total biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan malaria sebesar Rp. 18.925.000 per tahun dengan rata-rata Rp. 230.000,- per rumah tangga.

4.4. Pola Pengobatan Penyakit Malaria

4.4.1. Prilaku Mencari Pengobatan Penderita Malaria (Health Seeking Behavior) Sebagian besar responden dalam penelitian ini mencari pengobatan ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan sebelum ke puskesmas. Berikut informasi tentang pola pencarian pengobatan sebelum ke puskesmas :

Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Mencari Pengobatan dan Lama Mencari Pengobatan Sebelum ke Puskesmas

Variabel Jumlah Persentase (%)

Tempat Mencari Pengobatan Lama mencari Pengobatan sebelum ke

Puskesmas :

Pada tabel 4.5. diperoleh hasil penelitian bahwa sebagian besar penderita malaria yang berobat ke pelayanan kesehatan ternyata sebanyak 53 orang (56%) mencari pengobatan dulu ke berbagai fasilitas kesehatan yang ada dalam masyarakat, bahkan 22 orang diantaranya (23%) membeli obat di apotik atau toko obat.

Berdasarkan lamanya responden mencari pengobatan sebelum ke puskesmas ternyata sebagian besar responden mencari pengobatan malaria sebelum ke puskesmas selama 1 hari, yaitu sebanyak 52 orang (55%). Dari data tersebut menunjukkan bahwa rentang waktu responden mencari pengobatan sebelum ke puskesmas adalah antara 1 sampai dengan 2 hari, baik dengan mendatangi fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat maupun dengan membeli sendiri.

4.4.2. Pola Pengobatan Penderita Malaria Selama di Puskesmas

Selama dalam masa pengobatan atau perawatan di puskesmas diperoleh informasi yang berkaitan dengan keadaan penderita malaria.

Tabel 4.6. Distribusi Jenis Plasmodium, Jenis Pelayanan dan Status Pasien Malaria Selama di Puskesmas di Kabupaten Batu Bara

Variabel Jumlah Persentase (%)

Jenis Plasmodium :

Berdasarkan catatan pemeriksaan laboratorium petugas malaria puskesmas maka diperoleh jenis plasmodium yang paling banyak diderita oleh penderita malaria adalah p. vivax yaitu 72 orang (76%), dan ditemukan juga jenis plasmodium mix yaitu 13 orang (14%).

Jenis pelayanan yang lebih banyak dimanfaatkan oleh penderita malaria yang mencari pengobatan ke puskesmas.adalah pelayanan rawat jalan, yaitu sebanyak 80 orang (84%). Dalam tabel 4.6 juga dapat diketahui status pasien umum yaitu sebanyak 52 orang (55%) sementara pasien BPJS 43 orang (45%).

Biaya yang dikeluarkan penderita selama mencari pengobatan dan selama dipuskesmas dapat dirinci sebagai berikut :

Tabel 4.7. Distribusi Pengeluaran Responden Selama Sakit Malaria di Berbagai Fasilitas Kesehatan pada Tahun 2014

No Jenis Pelayanan Kesehatan Biaya

Transport

Biaya Medis

Total Biaya Apotik Tradisional Mantri Bidan Klinik Puskes

1 ya ya ya ya 25.000 505.000 530.000

Tabel 4.7. (Lanjutan)

No Jenis Pelayanan Kesehatan Biaya

Transport

Biaya Medis

Total Biaya Apotik Tradisional Mantri Bidan Klinik Puskes

43 ya ya ya ya 15.000 376.000 391.000

Tabel 4.7. (Lanjutan)

No Jenis Pelayanan Kesehatan Biaya

Transport

Biaya Medis

Total Biaya Apotik Tradisional Mantri Bidan Klinik Puskes

85 ya ya 9.000 66.000 75.000

Total 1.416.000 17.254.000 18.670.000

Berdasarkan tabel 4.7. dapat diketahui biaya yang dikeluarkan responden ke berbagai fasilitas kesehatan. Total biaya transportasi responden adalah sebesar Rp.1.416.000,-.

Biaya untuk obat dan medis yang dikeluarkan oleh responden sangat bervariasi tergantung tempat responden mencari pengobatan tersebut. Sebagian besar dari responden mengeluarkan biaya obat dan medis untuk mencari pengobatan malaria. Total biaya medis adalah sebesar Rp. 17.254.000,- Sehingga total pengeluaran responden untuk pengobatan malaria adalah sebesar Rp. 18.670.000,-

Selama masa pengobatan sebagian besar penderita malaria harus beristirahat di rumah baik penderita rawat jalan maupun setelah pulang dari rawat inap. Hari tidak produktif dan kehilangan pendapatan penderita dapat dilihat dalan tabel berikut:

Tabel 4.8. Distribusi Jumlah Hari Tidak Produktif Penderita Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

Hari Tidak Produktif Jumlah Persentase (%) Rata-rata Hari tidak produktif

Berdasarkan tabel 4.8. dapat diketahui bahwa sebagian besar selama sakit baik sebelum ke puskesmas maupun setelah dari puskesmas responden tidak dapat bekerja sehingga kehilangan hari produktif rata-rata 4,51 hari. Jumlah hari responden tidak dapat bekerja yang paling banyak adalah 5-7 hari yaitu 49 orang (52%). Total pendapatan responden yang hilang akibat tidak bekerja sebesar Rp. 13.160.000-.

Setelah berobat ke puskesmas sebanyak 15 responden masih harus dirawat di klinik setempat. Selama dalam perawatan di di klinik semua responden yang rawat inap ditunggui oleh keluarganya baik yang datang setiap hari bahkan menginap di ruang rawat inap. Berikut adalah informasi dari keluarga yang menunggui pasien :

Tabel 4.10. Biaya yang Dikeluarkan oleh Keluarga Selama Rawat Inap Jenis Biaya Jumlah (Rp) Rata-rata (Rp) Pengeluaran keluarga :

a. Biaya transportasi ke-dari klinik b. Biaya konsumsi

Pendapatan keluarga yang hilang akibatat menjaga pasien

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa pengeluaran keluarga responden untuk transportasi sebesar Rp. 120.000-, dengan rata-rata Rp. 8.000,- per keluarga. Biaya konsumsi selama menjaga pasien sebesar Rp.900.000,- dengan rata-rata Rp. 60.000,- per keluarga, yaitu untuk membeli makanan dan minuman, atau jajanan.

Selama mendampingi pasien keluarga yang menunggui juga kehilangan pendapatan. Pendapatan keluarga yang hilang bervariasi dang sangat tergantung pada jumlah hari rawat. Pendapatan keluarga yang hilang akibat menjaga pasien sebesar Rp. 1.550.000,- dengan rata-rata Rp.59.000,-

4.5. Pengeluaran Pemerintah untuk Penanganan Penyakit Malaria

Pengeluaran pemerintah Kabupaten Batu Bara dalam dalam anggaran belanja kesehatan selama tiga tahun sangat fluktuatif. Pengeluaran pemerintah yang paling signifikan adalah pada tahun 2013 senilai Rp.64.521.960.326,- Atau naik 2 kali lipat dari tahun sebelumnya.

Besarnya biaya yang dikeluarkan pemerintah maupun berupa bantuan asing dalam rangka upaya penanggulangan malaria selama tahun 2014 turut dihitung dalam penelitian ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara Bidang Pengendalian Penyakit Menular, dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4.11. Pengeluaran Pemerintah untuk Penanganan Penyakit Malaria Berdasarkan Jenis Pengeluaran Tahun 2014

No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp) Persentase (%) 1 Laboratorium

a. RDT 160.000.000 50

b. Kaca Slide 2.062.500 1

2 Pengadaan Alat Semprot

a. IRS (Indooor Residual Sprayer) 27.720.000 8 b. ORS (Outdoor Residual Sprayer) 27.700.000 8

3 Insektisida 103.488.000 32

4 Monitoring dan Evaluasi/Supervisi 2.268.000 1

Jumlah 317.238.500 100

Sumber : Laporan Bidang P2PL Dinas Kesehatan Batu Bara

Dari tabel 4.11. dapat diketahui pengeluaran pemerintah yang terkait langsung dengan penanganan penyakit malaria selama tahun 2014. Pada tabel tersebut biaya yang paling besar dikeluarkan adalah untuk belanja laboratorium yaitu biaya pengadaan RDT dan kaca slide (51%) dari total biaya. Total biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk program malaria sebesar Rp. 317.238.500,-

4.6. Model Perhitungan Kerugian Ekonomi

Kerugian ekonomi akibat sakit malaria dapat timbul akibat : 4.6.1. Kerugian Langsung

Kerugian langsung juga dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

a. Pengeluaran langsung penderita dalam penanganan malaria (biaya pencegahan malaria, pengobatan sebelum ke puskesmas, pengobatan selama di puskesmas dan

obat, baik yang dibeli atas keinginan sendiri maupun obat yang diresepkan, jasa pelayanan, biaya transportasi yang dibutuhkan dan biaya konsumsi khususnya pasien dan keluarga selama dalam perawatan.

b. Pengeluaran langsung pemerintah untuk program malaria selama tahun 2014 adalah semua sumber pembiayaan yang dialokasikan untuk Program pemberantasan penyakit Malaria dari pemerintah (APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten, BLN) untuk program pengendalian penyakit Malaria di Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara pada tahun anggaran 2014 baik yang diterima dalam bentuk tunai maupun dalam bentuk barang.

4.6.2. Kerugian Tidak Langsung

Kerugian tidak langsung juga dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

a. Opportunity cost penderita yaitu hilangnya pendapatan penderita termasuk waktu yang hilang akibat sakit.

b. Opportunity cost keluarga yaitu hilangnya pendapatan keluarga akibat aktivitasnya mendampingi pasien selama dalam perawatan

Parameter epidemiologi dan ekonomi yang dipergunakan dalam model perhitungan kerugian ekonomi ini dicantumkan dalam tabel berikut :

Tabel 4.12. Ukuran Parameter yang Dipergunakan untuk Perhitungan Kerugian Ekonomi Akibat Malaria dalam selama Tahun 2014

Variabel Simbol Nilai

Parameter epidemiologi :

a. Persentase penderita melakukan pencegahan yang membutuhkan uang b. Jumlah kasus malaria klinis tahun

2014

c. Jumlah penderita usia produktif tahun 2014

d. Prevalence rate malaria usia produktif e. Rata-rata hari tidak produktif

a. Rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk tindakan pencegahan hilang akibat aktivitasnya mendampingi penderita

Total Kerugian Ekonomi (TC) akibat malaria dapat dihitung dari rumus : TC = TDC + TIC……….………(1) dimana TDC adalah Total biaya langsung (Total Direct Cost), dan TIC adalah Total biaya tidak langsung (Total Indirect Cost) akibat hilangnya produktivitas.

TDC dihitung dengan menggunakan perhitungan 2-4 :

dimana : ISC (Institutional Cost) adalah pengeluaran pemerintah untuk penanganan malaria yang diperoleh dari wawancara langsung dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara dan HDC (Household Direct Cost) adalah pengeluaran penderita untuk pengobatan malaria termasuk biaya transport, administrasi, biaya konsultasi dan biaya obat

HDC = SM X (AC + ADM + C ) X AME HDC = 0,6 X 196.500 X 1823

= Rp. 214.931.700,-

Untuk memperoleh rata-rata biaya dari penderita per episode perhitungan berdasarkan biaya sebelum ke puskesmas dan selama di puskesmas. HDC adalah seluruh biaya langsung yang dikeluarkan penderita untuk untuk pengobatan; SM adalah prevalens penderita malaria usia produktif; AC adalah total biaya untuk pengobatan sebelum ke puskesmas (apotik, bidan/mantri, klinik); ADM adalah total biaya transportasi; C adalah total biaya di puskesmas (obat, administrasi dan laboratorium); sehingga diperoleh Total Cost (TC) yaitu AC+ADM+C sebesar Rp.

196.500,- ;AME adalah penderita malaria usia produktif.

HEP = HPM X AME X ATEP……….………..(3) HEP = (0,8) X 1823 X 230.000)

= Rp. 335.432.000,

Dimana : HPM adalah Hoesehold Preventive Methods yaitu persentase rumah tangga yang melakukan tindakan pencegahan yang membutuhkan uang (0,8); AME

adalah jumlah penderita malaria klinis usia produktif tahun 2014 ; ATEP adalah Total rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk pencegahan malaria per tahun.

TIC = LHH + LCG……….(4) Untuk memperoleh Biaya Tidak Langsung yaitu Total Indirect Cost (TIC) diperoleh dengan perhitungan Opportunity cost penderita (LHH) akibat sakit dan Opportunity cost dari Keluarga (LCG) akibat kegiatannya menunggu penderita.

LHH = TT X YH X AME

LHH = 4,51 X (1.523.700/30) X 1823

= Rp. 417.581.667,-

Dimana : TT adalah jumlah hari tidak produktif dalam 1 tahun; YH adalah rata-rata total pendapatan penderita per tahun dalam hari.

LCG = YAC + (ACA X AME) LCG = 16.315 X 9,4% X 1823

= Rp.281.768.637,-

Dimana: YAC adalah Total pendapatan keluarga yang hilang akibat aktivitasnya mendampingi penderita; ACA adalah persentase jumlah keluarga yang kehilangan hari produktif.

Sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan tersebut dapat dijelaskan oleh tabel berikut ini :

Tabel 4.13. Total Kerugian Penderita Malaria Akibat Sakit Malaria di Kabupaten Batu Bara Selama Tahun 2014

Jenis Kerugian Nilai

(Rp)

Persentase (%) Biaya Langsung

1. Pengeluaran Pemerintah untuk Penanganan malaria Sub Total Biaya Langsung (HDC) 867.602.200

Biaya Tidak Langsung 1. Opportunity Cost Penderita 2. Opportunity Cost Keluarga

417.581.667 281.768.637

27 18 Sub Total Biaya Tidak Langsung (TIC) 699.350.304

Total Cost (TC) 1.566.952.504 100

Berdasarkan tabel 4.13 diperoleh bahwa total biaya langsung yang dikeluarkan akibat malaria sebesar Rp. 867.602.200,- dan total biaya tidak langsung sebesar Rp. 699.350.304,- Sehingga Total biaya baik langsung maupun tidak langsung rata-rata sebesar Rp.1.566.952.504,-. Hasil tersebut merupakan biaya yang dikeluarkan penderita malaria untuk periode sakit malaria dalam 1 tahun.

4.7. Total Kerugian Ekonomi akibat Malaria

Total kerugian ekonomi (economic loss) akibat malaria di kabupaten Batu Bara dihitung berdasarkan dua hal. Pertama adalah besarnya biaya yang dikeluarkan oleh penderita Malaria baik langsung maupun tidak langsung. Yang kedua adalah perhitungan dari biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah yang terkait langsung dengan penanganan penyakit malaria baik promotif, preventif maupun kuratif.

Berikut perhitungan kerugian ekonomi akibat malaria di kabupaten Batu Bara selama tahun 2014.

Tabel 4.14. Perhitungan Besarnya Kerugian Ekonomi Akibat Malaria di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014

No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp.)

1. Total pengeluaran responden 1.249.714.004

2. Pengeluaran pemerintah 317.238.500

Jumlah 1.914.067.400

Pada tabel 4.14 diperoleh informasi bahwa ternyata biaya yang dikeluarkan oleh penderita malaria jauh lebih besar dibanding dengan pengeluaran pemerintah atau 80% dari keseluruhan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat malaria tahun 2014.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ternyata responden terbanyak yang menderita malaria adalah laki-laki mencapai 56% dari total seluruh sampel penelitian. Banyaknya responden laki-laki yang terkena malaria lebih disebabkan karena berhubungan dengan resiko untuk terkena malaria yang lebih tinggi pada laki-laki karena aktivitas/pekerjaan mereka dan juga dengan kondisi lingkungan sebagai tempat kerja.

Berdasarkan umur responden, penelitian ini hanya dibatasi dengan mengambil sampel bagi responden yang berusia produktif saja. Yaitu responden yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 60 tahun. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perhitungan kerugian karena sakit malaria yang lebih maksimal, dimana dalam perhitungan hari produktif dan kehilangan pendapatan karena tidak bekerja dimasukkan sebagai salah satu komponen kerugian yang timbul karena sakit. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa sebagian besar responden berumur antara 35 sampai dengan 44 tahun yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Tingkat pendidikan responden juga sangat bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah lulus SMP. Dalam penelitian ini juga masih banyak yang tingkat pendidikan rendah seperti tamat SD atau bahkan tidak lulus SD.

Masih ditemukan masyarakat yang tidak tahu tentang cara pengobatan malaria yang tepat. Hal ini dapat diketahui dari sebagian besar responden tidak langsung mencari pengobatan ke puskesmas yang sebenarnya biaya pengobatannya gratis dengan diagnosa dan terapi yang tepat, tetapi sebagian besar masyarakat lebih memilih untuk membeli obat sendiri di toko obat maupun di warung atau di klinik bidan. Obat yang dibeli juga bervariasi seperti obat penurun panas yaitu paracetamol, vitamin atau obat anti malaria seperti resochin, suldox, atau pil kina.

Sebagian besar responden berprofesi sebagai nelayan dan buruh. Kondisi lingkungan kerja sangat beresiko terhadap penularan penyakit ini. Kawasan lembab dan rawa-rawa merupakan daerah yang memiliki kepadatan nyamuk penular malaria yang cukup tinggi. Bagi responden yang bekerja sebagai nelayan, mereka dibayar perhari sesuai dengan pekerjaan mereka. Akibatnya apabila mereka tidak bekerja maka mereka tidak mendapat upah. Misalnya karena sakit maka mereka akan kehilangan pendapatannya selama sakit tersebut.

Hal ini sejalan dengan penelitian Ernawati et all, tentang Hubungan faktor resiko individu dan lingkungan rumah terhadap kejadian malaria tahun 2010 , bahwa kelompok yang bekerja sebagai nelayan/petani tambak yang menginap mempunyai proporsi kejadian infeksi malaria lebih tinggi sebesar 12,4 % dibanding kelompok pekerja lain yang tidak menginap.

Kabupaten Batu Bara yaitu Sebesar Rp. 1.750.000,-, namun apabila dibelanjakan hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari tanpa adanya saving. Sehingga apabila menderita suatu penyakit maka disamping kehilangan pendapatannya juga akan menimbulkan ketidakberdayaan ekonomi yang mendorongnya jatuh miskin.

Hal serupa sesuai dengan hasil penelitian Dalimunthe (2008), tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pencegahan malaria di Mandailing Natal, bahwa pengasilan mempunyai pengaruh signifikan terhadap pencegahan malaria. Masyarakat denga penghasilan diatas UMR lebih baik 16,2 kali dalam pencegahan malaria.

Dilihat dari riwayat terkena penyakit malaria, rata-rata frekuensi terkena malaria adalah satu kali sebanyak 76 orang (80%). Disamping itu terdapat juga responden yang menderita malaria lebih dari 1 kali dalam setahun. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan lingkungan kerja yang sangat memungkinkan penularan kembali malaria terus berlangsung.

5.2. Pola Pencarian Pengobatan Penderita (Health Seeking Behavior) 5.2.1. Pola Pengobatan Sebelum ke Puskesmas

Dilihat dari pola pencarian pengobatan sebanyak 75 orang (79%) mencari pengobatan dulu ke berbagai fasilitas kesehatan yang ada dalam masyarakat, bahkan 9 orang diantaranya (9%) mencari pengobatan alternative secara tradisional. Hal ini sesuai dengan Hasil Riskesdas pada tahun 2010 bahwa masih ditemukan penderita

malaria klinis yang melakukan pengobatan sendiri (self treatment medicare) dengan obat tradisional dan tidak menerima ACT sebesar 15,4%.

Ternyata sebagian besar responden yang mencari pengobatan lebih memanfaatkan pelayanan kesehatan oleh bidan dan mantri setempat. Ini disebabkan jumlah tenaga bidan yang banyak memungkinkan keberadaan bidan lebih mudah untuk dijumpai oleh masyarakat setempat. Disamping itu pelayanan kesehatan oleh dokter yang merupakan tenaga kesehatan puskesmas jarang ditemukan di setiap kecamatan kecuali di waktu kerja puskesmas.

Indonesia ditargetkan terbebas dari malaria pada tahun 2030, salah satu keberhasilan ditentukan oleh efektifitas pengobatan. Sumatera Utara adalah salah satu dari lima provinsi yang mengobati malaria secara efektif yaitu 55,7% (Riskesdas, 2013). Namun jika ditelusuri lebih lanjut masih ditemukan penderita yang mengobati sendiri penyakit malaria yaitu sebesar 32%. Dengan membeli sendiri di apotik atau dengan pengobatan tradisional.

Sejak tahun 2004, pemerintah telah menganjurkan penggunaan ACT (Artemisinin based combination therapy) untuk upaya eliminasi malaria karena adanya resistensi beberapa obat jenis malaria seperti klorokuin dan sulfadoxin-primetamin. Meskipun demikian pada penelitian ini masih ditemukan adanya penggunaan klorokuin dan sulfadoxin-primetamin oleh penderita. Meskipun obat ini

adalah jenis obat umum (non malaria) seperti antibiotik, obat bebas terbatas dan obat tradisional diantaranya adalah paracetamol, chlorpeniramine maleat, ranitidine dan vitamin.

Kebiasaan masyarakat untuk membeli obat malaria sendiri tersebut dapat berbahaya terutama bagi mereka yang tidak tahu tentang dosis dan pemakaian obat tersebut. Pengobatan yang tidak tuntas yang dikarenakan kurang patuhnya penderita mengkonsumsi obat sesuai petunjuk serta adanya faktor resistensi responden terhadap obat berjenis klorokuin yang bisa dengan mudah ditemukan di apotik/ toko obat dapat berbahaya bagi masyarakat.

5.2.1.1. Biaya Obat pada Berbagai Fasilitas Kesehatan Sebelum ke Puskesmas Biaya obat yang dikeluarkan oleh responden sangat bervariasi antara Rp.5.000,- sampai dengan Rp. 100.000,- tergantung tempat responden mencari pengobatan tersebut. Sebagian besar dari responden yaitu 65 orang (77%)

5.2.1.1. Biaya Obat pada Berbagai Fasilitas Kesehatan Sebelum ke Puskesmas Biaya obat yang dikeluarkan oleh responden sangat bervariasi antara Rp.5.000,- sampai dengan Rp. 100.000,- tergantung tempat responden mencari pengobatan tersebut. Sebagian besar dari responden yaitu 65 orang (77%)