1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malpraktek kedokteran adalah sebuah masalah yang menyebabkan banyak sekali penafsiran yang berbeda, menurut dokter, malpraktek artinya risiko medik, sedangkan menurut pasien atau korban adalah tindakan malpraktek kedokteran yang menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh atau rusaknya organ tubuh bahkan hingga menyebabkan kematian akibatnya menyebabkan kerugian bagi pasien dan keluarga korban, oleh sebab itu perlu adanya penegakan hukum untuk menengahi konflik atau sengketa hukum antara pihak dokter dan pasien atau keluarga pasien.1 Secara medis malpraktek sendiri ialah kelalaian seorang dokter yang menggunakan kemampuan serta ilmu pengetahuannya sesuai dengan ukuran yang lazim di orang lain dalam mengobati pasien dengan memakai ukuran standar dilingkungan yang sama. Kelalaian diartikan juga dengan melakukan tindakan kedokteran di bawah standar pelayanan medik.2
Adanya kekosongan pengaturan karena belum adanya hukum dan kajian hukum khusus tentang malpraktik kedokteran yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih dan menanggulangi adanya malpraktik kedokteran di Indonesia.3 Karena
1 Indra Yudha Koswara, Malpraktik Kedokteran Perspektif Dokter dan Pasien Kajian Hukum dan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), Cetakan I, DEEPUBLISH, Yogyakarta, 2020, hal., 233.
2 Mudakir Iskandar Syah, Tuntutan Hukum Malapraktik Medis-Apa saja yang termasuk kategori malapraktik? Dan apa sanksi hukumnya?, Cetakan I, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2019, hal., 1-2.
3 Erdiansyah, Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Dokter Atas Kesalahan dan Kelalaian Dalam Memberikan Pelayanan Medis di Rumah Sakit, Jurnal Ilmu Hukum, Vol., 3, No., 2, hal., 300.
2
permasalahan malpraktek atau kelalaian dokter lebih dititik beratkan pada permasalahan hukum, maka malpraktik kedokteran yang melawan hukum dapat berakibat fatal bagi pasien. Oleh karena itu, untuk menciptakan adanya sebuah bentuk kepastian hukum dan menjamin adanya pelayanan upaya kesehatan yang baik, maka perlu adanya aturan penegakan hukum yang mendukung bagi pasien atau korban malpraktik diantaranya yaitu KUHPerdata, kode etik kedokteran Indonesia, undang-undang di bidang kesehatan yaitu undang-undang nomor 23 tahun 1992 jo undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan serta undang-undang praktik dokter, yaitu undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik dokter serta undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.
Bagi seorang dokter dalam menjalankan profesinya yaitu pada memberikan pelayanan kesehatan tentu harus berpedoman pada aturan yang berlaku, baik peraturan perundang-undangan juga kode etik yang disusun oleh organisasi profesi kedokteran. Pengaturan hukum sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan, hal tersebut bertujuan untuk menjamin kualitas dan kepastian hukum dari pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.4 Norma yang ada dalam aturan hukum kesehatan ialah kaidah yang mengatur semua aspek yang berkaitan dengan upaya dan pemeliharaan di bidang kesehatan.5 Cara bekerja seorang dokter dalam menangani seorang pasien merupakan antara “kemungkinan” serta
4 Aditya Ryan Hidayat, dkk., Pertanggung jawaban Pidana Terhadap Dokter yang Melakukan Malpraktik dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan di Tengah Pandemi Covid 19, Jurnal Konstruksi Hukum, Vol., 2, No., 2, Mei 2021, hal., 311.
5 Wahyu Wiriadinata, Dokter Pasien dan Malpraktik, Mimbar Hukum, Vol., 26, No., 1, Februari 2014, hal., 45.
3
“ketidakpastian” sebab dalam tubuh manusia sifatnya kompleks dan tidak dapat dimengerti sepenuhnya. Belum diperhitungkan variasi yang ada di setiap pasien:
usia, tingkat penyakit, sifat penyakit, komplikasi serta hal-hal lain yang mampu diberikan seorang dokter. Oleh karena sifat “kemungkinan” dan “ketidakpastian”
dari pengobatan itulah maka seorang dokter kurang berhati-hati dan tidak kompeten di bidangnya bisa menjadi berbahaya bagi pasien.6
Profesi seorang dokter juga mempunyai etik kedokteran. Etik kedokteran merupakan norma serta asas yang berlaku bagi para dokter yang menjadi landasan dalam menjalankan profesinya. Pada praktiknya apa yang dimaksud dengan etik kedokteran memiliki dua sisi dimana satu sama lain saling terkait serta saling mempengaruhi. Yang pertama, etik jabatan atau yang dikenal dengan medical ethics, yaitu menyangkut persoalan yang hubungannya dengan sikap para dokter
terhadap sejawatnya, juga dengan warga masyarakat dan pemerintah. Yang kedua, etik asuhan atau yang dikenal dengan sebutan ethics of the medical care, yaitu mengenai sikap dan tindakan dokter terhadap penderita yang menjadi tanggung jawabnya.7 Pertanggung jawaban seorang dokter tidak hanya pada ruang lingkup pertanggung jawaban menurut etik profesinya saja, tetapi juga pada tanggung jawab dalam hukum. Tanggung jawab seorang dokter dapat dibuktikan dengan adanya
6 Olivia Putri Damayanti, Pertanggung jawaban Pidana Dokter Pada Kasus Malpraktek dalam Berbagai Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia, Recidive, Vol., 2, No., 2, Mei- Agustus 2013, hal., 171.
7 Wahyu Rizki Kartika Ilahi, Resiko Medis dan Kelalaian Medis Dalam Aspek Pertanggung Jawaban Pidana, Jurnal Hukum Volkgeist: Mimbar Pendidikan Hukum Nasional, Vol., 2, No., 2, April 2018, hal., 173.
4
kesalahan profesional yang dilakukan waktu menjalankan praktik, misalnya kesalahan diagnosa atau kesalahan dalam penanganan ataupun perawatan.8
Di Indonesia sendiri terdapat beberapa kasus yang berkaitan dengan malpraktek, antara lain:9
1. Kasus malpraktik ini terjadi di Bintan Utara, seorang perempuan berusia 30 tahun mengalami infeksi pasca operasi cesar. Bahkan perutnya berlubang dan mengeluarkan bau busuk. Diketahui perempuan tersebut menjalani rawat inap selama tiga hari pasca operasi cesar. Selama tiga hari itu pula, rupanya pihak rumah sakit tak memeriksa luka bekas operasi, bahkan tak mengganti perbannya.
2. Nasib tragis dialami seorang anak berusia 14 tahun asal Nusa Tenggara Timur. Setelah jalani operasi usus buntu, mata kanannya malah mengalami kebutaan. Padahal sebelumnya kedua matanya baik-baik saja. Awalnya mata kanannya hanya bengkak, ayah pasien pun mengeluhkan kondisi mata kanan anaknya yang mulai memburuk, hingga lama kelamaan penglihatan dari mata kanannya tersebut benar-benar hilang.
Selain contoh kasus tentang malpraktek tersebut, terdapat kasus malpraktek yang mengakibatkan seorang pasien mengalami cacat permanen yang terjadi dan dialami oleh seorang laki-laki berusia 36 tahun yang terjadi di Atambua. Adanya malpraktek yang dilakukan oleh seorang dokter yang dapat menyebabkan
8 Wahyu Andrianto, dkk., Tanggung Jawab Dokter dan Rumah Sakit Terhadap Tindakan Emergency Pembedahan Orthopaedi, Supremasi Hukum: Jurnal Penelitian Hukum, Vol., 30, No., 1, Januari 2021, hal., 94.
9 Intan Aprilia, “6 Kasus Malpraktik paling mengerikan di Indonesia”, 5 September 2018, https://www.orami.co.id/magazine/kasus-malpraktik-paling-mengerikan-di-indonesia/, diambil pada 23 September 2021, Pukul 17.12 WIB.
5
pasiennya mengalami cacat permanen, sehingga pasien tersebut menuntut pertanggung jawaban kepada dokter yang menanganinya.
Berdasarkan kasus tersebut tindakan dokter telah mengakibatkan kerugian bagi pasien karena perbuatan dokter yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Pada Pasal 62 Undang-Undang tentang kesehatan menyebutkan bahwa tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik harus dilakukan sesuai dengan kewenangan yang didasarkan pada kompetensi yang dimilikinya. Serta pada Pasal 68 ayat (1) undang- undang kesehatan berbunyi setiap tindakan pelayanan kesehatan perseorangan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan harus mendapat persetujuan.
Sedangkan pada kasus ini, dirumuskan bahwa tulang tempurung kaki kiri pasien diamputasi oleh tenaga kesehatan dalam hal ini adalah sebagai tergugat II, pada waktu tergugat II melakukan operasi tulang tersebut tidak pernah menjelaskan atau meminta persetujuan kepada pasien atau keluarga pasien tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien. Selanjutnya, berkaitan dengan persetujuan tertulis, dibuat dalam bentuk pernyataan khusus yang dibuat tergugat untuk tindakan operasi tulang sebagai dasar persetujuan keluarga pasien adalah sangat tidak masuk akal. Karena ada niat busuk dari tergugat II atau tenaga kesehatan untuk mengambil tulang tempurung kaki kiri si pasien. Terbukti bahwa tenaga kesehatan tersebut punya niatan busuk saat mengambil tulang tempurung tersebut diketahui dari cara tenaga kesehatan yang tidak lazim, yakni setelah melakukan operasi bedah terhadap si pasien, tenaga kesehatan ini tidak menunjukan dan sekaligus memberikan tulang tempurung kaki si pasien kepada pasien maupun kepada keluarga pasien. Menurut pertimbangan hakim terhadap gugatan tersebut,
6
memberikan amar yaitu menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya, dan menghukum para penggugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara sebesar Rp. 1.091.000, 00 (satu juta Sembilan puluh satu ribu rupiah). Berkaitan dengan tindakan dokter yang dapat merugikan pasiennya, seorang dokter dapat dikenai denda menurut undang-undang nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menurut Pasal 190 ayat (2) berbunyi “dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”
Sehingga dalam hal ini, penulis membahas bagaimana pertanggung jawaban seorang dokter terkait malpraktek yang dapat menyebabkan pasien mengalami cacat permanen, agar dalam permasalahan tentang malpraktek yang dapat menyebabkan seorang pasien mengalami cacat permanen, perlu adanya tanggung jawab seorang tenaga kesehatan dalam menangani pasien, agar pasien dapat diberikan kenyamanan akan kinerja seorang tenaga kesehatan, sehingga tenaga kesehatan dapat bekerja sesuai dengan kompetensinya, sesuai dengan tanggung jawabnya dan tetap memperhatikan pada kode etik seorang tenaga kesehatan, sehingga seorang tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan yang baik dan benar, karena pada Pasal 5 ayat (1) dan (2) undang-undang no. 36 tahun 2009 menyebutkan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya dibidang kesehatan, serta setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Oleh
7
karena itu, bagi setiap pasien atau pun korban agar tidak menimbulkan rasa kurang percaya terhadap kinerja yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam suatu rumah sakit.
Berikut merupakan perbandingan penelitian ini dengan penelitian- penelitian terdahulu seperti yang terlihat dalam tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1
Studi Perbandingan dengan Hasil Penelitian Terdahulu
No Nama Penulis dan Judul Skripsi
Rumusan Masalah Temuan Beda dengan
Rencana Skripsi ini 1 Michael Adi Susanto,
Judul Perlindungan Hukum Terhadap Hak Pasien Rumah Sakit Atas Informasi Hasil Rekam Medis (Studi Kasus Prita Mulyasari).
Bagaimana
perlindungan hukum terhadap hak rumah sakit atas informasi hasil rekam medis berdasarkan Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen?
Temuan adanya kesalahan dari pihak dokter maupun rumah
sakit. Serta
perlindungan yang diberikan oleh undang- undang adalah rekam medis adalah dokumen rahasia adalah milik rumah sakit sedangkan pasien adalah pemilik kandungan isi catatan medik
Bagaimana
malpraktek yang mengakibatkan cacat permanen diatur
dalam hukum
Indonesia?
Bagaimanakah tanggung jawab hukum dokter yang melakukan
malpraktek yang menyebabkan cacat permanen pasien?
2 Maulana Wisnu Indriarto. Judul Tinjauan Yuridis Mengenai Penolakan Pasien Pada Keadaan Gawat Darurat oleh Rumah Sakit.
Bagaimana hubungan pasien antara pasien dengan rumah sakit, terhadap penolakan dalam kondisi gawat darurat? dan apa akibat hukum atau sanksi bagi rumah sakit yang telah menolak pasien dalam kondisi gawat darurat?
Bagaimana hubungan pasien antara pasien dengan rumah sakit, terhadap penolakan dalam kondisi gawat darurat? dan apa akibat hukum atau sanksi bagi rumah sakit yang telah menolak pasien dalam kondisi gawat darurat?
Temuan terdapat sebuah hubungan hukum yaitu suatu perikatan (verbintenis) yang lahir berdasarkan peraturan perundang- undangan. Apabila rumah sakit terbukti
Penelitian ini menggambarkan pada kelalaian maupun pembiaran pasien dalam perawatan Debridemen oleh pihak rumah sakit tanpa alasan tertentu.
8
Sumber: diolah dari skripsi-skripsi terdahulu publikasi Fakultas Hukum UKSW Salatiga.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana malpraktek yang mengakibatkan cacat permanen diatur dalam hukum Indonesia?
2. Bagaimanakah tanggung jawab hukum dokter yang melakukan malpraktek yang menyebabkan cacat permanen pasien?
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
melakukan perbuatan melawan hukum maka dimintai pertanggung jawaban secara hukum serta dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3 Nadia Septia Paulina.
Judul Karakteristik
Badan Hukum
Rumah Sakit di Indonesia
Bagaimana badan hukum rumah sakit diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang rumah sakit?
dan apakah
karakteristik dari rumah sakit berdasarkan pilihan bentuk hukumnya?
Temuan bahwa rumah sakit yang didirikan harus berbentuk badan hukum yang kegiatan usahanya bergerak dibidang
perumahsakitan.
Mengenai ketentuan peraturan perijinan dan persyaratan bentuk badan hukum rumah sakit dapat dilihat dalam peraturan Menteri Kesehatan nomor 56 Tahun 2014.
Sedangkan
karakteristik rumah sakit berdasarkan pilihan bentuknya, yaitu karakteristik Yayasan dan perseroan terbatas.
Penelitian ini, bagi suatu rumah sakit diperlukannya peraturan yang pasti agar setiap pasien mendapatkan
kenyaman dan kepercayaan dalam penanganan seorang tenaga medis
9
1. Untuk menggambarkan (mendeskripsikan), menjelaskan, bagaimana malpraktek yang mengakibatkan cacat permanen diatur dalam hukum Indonesia.
2. Untuk menjelaskan bagaimana tanggung jawab hukum dokter yang melakukan malpraktek yang menyebabkan cacat permanen pasien.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat diadakannya penelitian hukum ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Memberikan kontribusi berupa kaidah, asas-asas maupun konsep-konsep dan makna atau pengertian baru bagi ilmu hukum, khususnya pertanggung jawaban dokter terkait malpraktek yang mengakibatkan pasien cacat permanen.
2. Manfaat Praktis
Memberi masukan bentuk-bentuk dalam rumusan kaedah hukum konkret yang baru bagi masyarakat. Dimaksudkan dengan masyarakat di sini, yaitu terutama para penegak hukum seperti: para Hakim, Jaksa, Advokat, dan lain sebagainya. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memperkenalkan bentuk, jenis, sifat-sifat dari kaidah hukum baru terkait dengan pertanggung jawaban dokter terkait malpraktek yang mengakibatkan pasien cacat permanen. Dengan cara demikian, diharapkan para penegak hukum akan mendapatkan masukan-masukan baru sebagai pedoman hukum dalam penegakkan peraturan perundang-undangan.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yaitu penulisan yang didasarkan pada analisis terhadap beberapa asas hukum dan teori hukum serta
10
peraturan perundang-undangan yang sesuai dan berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan penelitian hukum. Penelitian hukum normatif ini adalah suatu prosedur dan cara penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari segi normatifnya.10
Berikut di bawah ini diuraikan struktur penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum. Yaitu suatu kaidah atau peraturan hukum yang terdiri dari asas- asas, kaidah hukum dalam arti sempit, dan peraturan hukum konkret. Selain itu, yang dicari, ditemukan, digambarkan dan dianalisis dalam penelitian ini, sebagai suatu penelitian hukum adalah sistem hukum, dan penemuan hukum. Dalam penelitian ini, difokuskan untuk mengkaji pertanggung jawaban dokter terkait malpraktek yang mengakibatkan pasien cacat permanen.
2. Pendekatan Masalah
Dalam penelitian ini, pendekatan yang akan digunakan yaitu:
a. Pendekatan perundangan-undangan (statute approach), yaitu pendekatan yang memiliki berbagai aturan hukum yang menjadi tema dari suatu penelitian.11 Pada pendekatan perundang-undangan ini penulis akan melihat undang-undang RI nomor 36 tahun 2004 tentang kesehatan, undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktek
10 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Malang, 2006, hal., 57.
11 Ibid., hal., 302.
11
kedokteran, kode etik dokter Indonesia tahun 2012, peraturan menteri kesehatan RI nomor 290/Menkes/Per/III/2008, serta undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.
b. Pendekatan konsep (conseptual approach), yaitu merupakan unsur- unsur abstrak dalam suatu bidang studi yang kadangkala menunjuk pada hal-hal yang universal.12 Pendekatan konsep juga merupakan pendekatan yang beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin- doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum.13
3. Sumber Bahan Hukum
Bahan hukum penelitian ini menggunakan 2 (dua) sumber bahan hukum yaitu:
a. Bahan hukum primer, adalah bahan hukum yang memiliki kekuatan mengikat yang berkaitan dengan objek penelitian. Disini bahan hukum primer meliputi:
1. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, 2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran,
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan 4. Kode Etik Dokter Indonesia tahun 2012,
5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,
12 Ibid, hal., 306.
13 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2006, hal., 135.
12
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.
7. Putusan Kasasi Nomor 1880 K/Pdt/2016.
b. Bahan hukum sekunder, adalah buku-buku yang berisi gambaran hasil penelitian para professor, atau ahli-ahli hukum yang terkemuka dalam suatu sistem hukum. Bahan hukum sekunder pada penelitian ini yaitu buku-buku literature dan Jurnal-Jurnal Hukum yang membahas tentang pertanggung jawaban dokter terkait malpraktek yang mengakibatkan pasien cacat permanen.
F. Sistematika Penulisan
Hasil dari penulisan penelitian ini akan disusun dalam bentuk laporan penelitian yang berbentuk karya tulis skripsi. Skripsi dimaksud terdiri atas empat bagian besar:
Bab I yaitu Bab Pendahuluan Skripsi yang terdiri dari: Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Bab II Malpraktek Yang Mengakibatkan Cacat Permanen dan Pengaturan Di Indonesia, terdiri dari: 1.Teori Tentang Malpraktek; 2. Faktor Penyebab Terjadinya Malpraktek; 3. Teori Malpraktek Yang Mengakibatkan Cacat Permanen; 4. Aturan Hukum Serta Kode Etik Yang Mengatur Tentang Malpraktek Yang mengakibatkan cacat permanen; 5. Analisis Malpraktek yang Mengakibatkan Cacat Permanen.
Bab III Analisa Putusan Pengadilan Terkait Dengan Pertanggung Jawaban Dokter Terkait Malpraktek Yang Mengakibatkan Pasien Cacat Permanen Dalam
13
Perkara Nomor 1880 K/Pdt/2016, terdiri dari: 1. Pertimbangan Putusan Hakim; 2.
Analisis Terhadap Pertimbangan Putusan Hakim
.
Bab IV adalah Penutup Skripsi yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.