• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Tujuan utama dari perusahaan yang sudah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Tujuan utama dari perusahaan yang sudah"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Masalah

Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Fama (1978:284) dalam Apriada (2013) menyebutkan bahwa nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Tujuan utama dari perusahaan yang sudah go public atau yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu untuk menghasilkan laba guna meningkatkan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham melalui peningkatan nilai perusahaan yang mana dapat menggambarkan keadaan perusahaan (Gultom dkk, 2013).

Kondisi mengenai keadaan perusahaan tersebut tentunya berhubungan dengan kualitas baik atau buruknya perusahaan. Teori sinyal mengatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian pasar diharapkan dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan yang berkualitas buruk (Hartono, 2005:38 dalam Yuniati dkk, 2016). Sebelum menanamkan modalnya, para investor biasanya melakukan penilaian terhadap perusahaan, dimana nilai tersebut dikaitkan dengan harga saham perusahaan yang bersangkutan.

(2)

Para investor memiliki alternatif dalam melakukan penilaian harga saham.

Ada dua macam pendekatan yang dapat digunakan dalam penilaian harga saham yaitu pendekatan analisis teknis dan pendekatan analisis fundamental. Analisis fundamental yang dapat digunakan para investor untuk penilaian harga saham adalah dengan menggunakan pendekatan Price Earnings Ratio (PER Approach).

Pendekatan PER digunakan untuk memperkirakan nilai saham apakah saham tersebut layak dibeli atau dijual (Nazwirman, 2008 dalam Setiawan, 2012).

Sedangkan menurut Jogiyanto (2000) dalam Hayati (2010) ada dua macam analisis yang biasa digunakan untuk menentukan nilai sebenarnya dari saham, yaitu dengan analisis sekuritas fundamental (fundamental security analysis) atau analisis perusahaan dan analisis teknis (technical analysis). Menurut Sukamdiani (2011) terdapat beberapa formula yang popular dalam analisis fundamental antara lain Price Earning Ratio (PER), Price Book Value (PBV) serta rasio arus kas perusahaan (Cash Flow per Share). Salah satu analisis fundamental yang dapat digunakan untuk penilaian saham adalah dengan pendekatan PER dengan alasan utama PER akan memudahkan dan membantu para analis dan investor dalam penilaian harga saham.

Pergerakan harga suatu saham yang terjadi di bursa efek merupakan suatu fenomena yang sangat menarik bagi para investor untuk dilakukan suatu analisa.

Sebab suatu pergerakan harga saham yang wajar akan menumbuhkan suatu kepercayaan pada diri investor dalam melakukan investasinya untuk membeli atau menjual saham yang ada. Umumnya tujuan para pemodal menanamkan dananya

(3)

pada sekuritas antara lain adalah untuk mendapatkan return (hasil) yang maksimal pada resiko tertentu atau memperoleh hasil tertentu dengan resiko minimal. Hasil tersebut tentunya diharapkan lebih besar dari tingkat bunga yang diberikan oleh perbankan (Wiwid dkk, 2010 dalam Utomo dkk, 2016). Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham meningkat. Semakin tinggi harga saham sebuah perusahaan, maka semakin tinggi kemakmuran pemegang saham. Enterprise Value (EV) atau dikenal juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor, karena merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan secara keseluruhan (Samuel, 2000 dalam Nurlela dan Ishaluddin, 2008).

Penelitian ini mengkaji kembali faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan atau price earning ratio (PER). Jangka waktu periode pengamatan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu periode 2012- 2015. Dalam penelitian ini struktur modal diukur dengan debt to equity ratio (DER), likuiditas diukur dengan current ratio (CR), ukuran perusahaan diukur dengan logaritma natural total asset (LnTA), profitabilitas diukur dengan net profit margin (NPM), dan kebijakan dividen diukur dengan dividend payout ratio (DPR).

Untuk memperjelas dan menganalisis adanya permasalahan nilai perusahaan (PER) dan melihat hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015, maka berikut ini adalah data empiris yang dapat disajikan :

(4)

Tabel 1.1

Rata-Rata PER, DER, CR, SIZE, NPM, dan DPR

Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Tahun PER DER CR SIZE NPM DPR

2012 17.8790 0.6232 2.9225 28.6408 0.1318 0.4360 2013 17.0405 0.6241 2.8285 28.8284 0.1193 0.3890 2014 20.4991 0.7038 2.5257 28.9366 0.4852 0.4365 2015 19.6995 0.6290 2.8535 29.0094 0.1013 0.5546

Sumber : data diolah dari http://www.idx.co.id/

Berdasarkan tabel 1.1 tersebut dapat dilihat bahwa rata-rata price earning ratio (PER) mengalami fluktuasi selama empat tahun berturut-turut dari tahun 2012 hingga 2015. Pada tahun 2012 rata-rata price earning ratio (PER) sebesar 17,8790 dan pada tahun 2013 menurun menjadi sebesar 17,0405. Kemudian pada tahun 2014 kembali meningkat menjadi sebesar 20,4991. Selanjutnya pada tahun 2015 mengalami penurunan menjadi sebesar 19,6995. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2013 dan tahun 2015 rata-rata harga saham mengalami penurunan. Ini berarti nilai perusahaan yang dipandang oleh investor dari harga sahamnya juga mengalami penurunan. Adanya fluktuasi naik turunnya PER ternyata tidak selalu diikuti oleh variabel lainnya.

Hubungan antar variabel yang berkaitan dengan nilai perusahaan adalah ketika likuiditas suatu perusahaan tinggi maka menunjukkan bahwa asset perusahaan juga besar. Asset perusahaan yang besar menggambarkan bahwa ukuran perusahaan tersebut juga besar. Semakin besar ukuran suatu perusahaan maka semakin besar pula modal yang dibutuhkan untuk biaya operasionalnya sehingga kecenderungan

(5)

penggunaan hutangnya lebih besar pula. Perusahaan yang besar dengan asset yang tinggi akan lebih berani untuk meggunakan modal dari hutang untuk membiayai seluruh kegiatan operasionalnya. Hal ini bisa saja terjadi, karena perusahaan yakin akan mampu membayar hutangnya beserta biaya yang timbul akibat hutang tersebut, sehingga memungkinkan adanya peningkatan hutang perusahaan.

Ketika hutang meningkat maka rasio perbandingan antara hutang dan ekuitas akan meningkat. Beban keuangan juga akan meningkat, namun akan diiringi dengan biaya pajak yang menurun akibat hutang dan beban bunga yang ditimbulkan sehingga memungkinkan jika laba perusahaan akan meningkat. Laba yang tinggi menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan juga tinggi, dengan laba yang besar maka memungkinkan bagi perusahaan untuk membagikan dividen yang lebih besar pula kepada pemegang sahamnya sehingga kemakmuran pemegang sahamnya akan meningkat. Hal ini akan memicu banyaknya investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut sehingga harga saham perusahaan akan meningkat dan nilai perusahaan juga akan naik.

Beberapa penelitian terdahulu telah banyak dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, diantaranya adalah struktur modal, likuiditas, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan kebijakan dividen.

Penelitian Nurul Hayati (2010) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) sebagai salah satu kriteria keputusan investasi saham perusahaan Real Estate dan Property di Bursa Efek Indonesia mendapat hasil bahwa

(6)

Earnings Per Share (EPS), Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), dan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Price Earnings Ratio (PER), sedangkan Price to Book Value (PBV) tidak berpengaruh terhadap Price Earnings Ratio (PER).

MG. Sukamdiani (2011) meneliti mengenai pengaruh kinerja keuangan perusahaan terhadap Price Earning Ratio saham pada perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2002-2007. Hasil dari penelitiannya mengungkapkan bahwa Total Debt Ratio dan Profit Growth Ratio tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio, sedangkan Long-term Capital to Fixed Asset Ratio, Current Ratio, Total Assets Turnover, dan Return On Assets berpengaruh terhadap Price Earning Ratio.

Imelda Adi Setiawan (2012) yang meneliti tentang analisis pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio kepemilikan terhadap Price Earnings Ratio (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2009) menunjukkan hasil bahwa rasio likuiditas, rasio profitabilitas (NPM), dan rasio kepemilikan tidak berpengaruh terhadap Price Earnings Ratio sedangkan rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas (ROE) berpengaruh terhadap Price Earnings Ratio.

Selanjutnya yaitu penelitian Robinhot Gultom, Agustina dan Sri Widia Wijaya (2013) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan pada perusahaan farmasi di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan

(7)

bahwa struktur modal, likuiditas, dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Kemudian Wawan Utomo, Rita Andini, dan Kharis Raharjo (2016) meneliti tentang pengaruh Leverage (DER), Price Book Value (PBV), Ukuran Perusahaan (SIZE), Return On Equity (ROE), Dividen Payout Ratio (DPR) Dan Likuiditas (CR) terhadap Price Earning Ratio (PER) pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2014. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa Leverage dan Likuiditas tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER), sedangkan Price Book Value (PBV), Ukuran Perusahaan (SIZE), Return On Equity (ROE), dan Dividen Payout Ratio (DPR) berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER).

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang telah dipaparkan tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan hasil penelitian-penelitian terdahulu tersebut, yaitu :

Pada penelitian Hayati (2010) dan Setiawan (2012) Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Price Earnings Ratio (PER). Sedangkan pada penelitian Gultom dkk (2013) dan Utomo dkk (2016) Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap Price Earnings Ratio (PER).

(8)

Penelitian Sukamdiani (2011) Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER), sedangkan pada penelitian Setiawan (2012), Utomo dkk (2016), dan Gultom dkk (2013) Current Ratio (CR) tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER). Penelitian Utomo dkk (2016) ukuran perusahaan berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER), sedangkan penelitian Gultom dkk (2013) ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER).

Profitabilitas pada penelitian Gultom (2013) berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER), sedangkan pada penelitian Setiawan (2012) profitabilitas tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER). Penelitian dari Utomo dkk (2016) Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER) sedangkan penelitian Setiawan (2012) Dividend Payout Ratio (DPR) tidak berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER).

Untuk dapat mempertegas dan menyimpulkan secara lebih jelas bagaimana hubungan Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), SIZE (Ukuran Perusahaan, Net Profit Margin (NPM), dan Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Price Earning Ratio (PER) maka diperlukan penelitian dan pembahasan lebih jauh yang didasarkan pada temuan-temuan sebelumnya mengenai variabel-variabel tersebut.Hasil penelitian terdahulu sejauh ini juga banyak memberikan pandangan yang kontradiktif, dimana terdapat research gap untuk beberapa variabel yang berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER) sebagai berikut :

(9)

Tabel 1.2

Hasil Penelitian Terdahulu (Research Gap)

N o

.

Variabel Penelitian Terdahulu

Independen Dependen

Nurul Hayati (2010)

MG.

Sukam diani (2011)

Imelda Adi Setiaw

an (2012)

Robinhot Gultom, Agustina, Sri Widia Wijaya

(2013)

Wawan Utomo,

Rita Andini,

Kharis Raharjo

(2016) 1

Struktur Modal (DER)

Nilai Perusahaan

(PER)

Berpe

ngaruh - Berpe

ngaruh

Tidak Berpenga

ruh

Tidak Berpen

garuh 2 Likuiditas

(CR) - Berpe

ngaruh

Tidak Berpe ngaruh

Tidak Berpenga

ruh

Tidak Berpen

garuh 3

Ukuran Perusahaan

(SIZE)

- - -

Tidak Berpenga

ruh

Berpen garuh 4 Profitabilitas

(NPM) - -

Tidak Berpe ngaruh

Berpenga

ruh -

5

Kebijakan Dividen

(DPR)

- -

Tidak Berpe ngaruh

- Berpen

garuh

Sumber : disarikan dari berbagai jurnal

Tabel 1.2 diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan cenderung tidak konsisten atau berbeda antara peneliti yang satu dengan peneliti yang lain. Dengan adanya ketidakkonsistenan hasil penelitian tersebut maka perlu untuk mengkaji lebih jauh mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang

(10)

terdaftar di Bursa Efek Indonesia sehingga dapat ditemukan variabel apa saja yang mempengaruhi nilai perusahaan.

Penelitian ini merupakan bentuk replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Robinhot Gultom, Agustina, Sri Widia Wijaya (2013) dimana variabel yang diteliti tersebut merupakan faktor-faktor yang juga mempengaruhi nilai perusahaan. Faktor- faktor tersebut diantaranya adalah struktur modal, likuiditas, ukuran perusahaan, dan profitabilitas, serta menambahkan faktor lain, yaitu kebijakan dividen sebagai variabel independen. Penambahan ini dilakukan sesuai dengan saran pada penelitian tersebut yaitu untuk dapat menambah variabel lain yang mempengaruhi nilai perusahaan seperti kebijakan dividen karena dividen yang dibagikan perusahaan cenderung mempengaruhi para pemegang saham dalam berinvestasi yang tentunya mempengaruhi nilai perusahaan. Objek yang akan diteliti adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

Pemilihan sampel perusahaan manufaktur pada penelitian ini dikarenakan perusahaan manufakur merupakan perusahaan yang menjual produknya yang dimulai dengan proses produksi yang tidak terputus yaitu mulai dari pembelian bahan baku, dan proses pengolahan bahan baku hingga menjadi produk yang siap untuk dijual.

Hal ini dilakukan sendiri oleh perusahaan tersebut sehingga membutuhkan sumber dana yang akan digunakan untuk operasional perusahaan. Sumber dana tersebut salah satunya adalah sumber dana jangka panjang, yaitu dengan investasi saham oleh para investor. Pemilihan sampel perusahaan manufaktur juga sesuai dengan saran

(11)

pada penelitian yang dilakukan oleh Robinhot Gultom, Agustina, Sri Widia Wijaya (2013) yaitu untuk dapat mengembangkan objek penelitian selain perusahaan farmasi seperti perusahaan manufaktur.

Berdasarkan uraian diatas maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah: “PENGARUH STRUKTUR MODAL, LIKUIDITAS, UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015)”

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah masih banyaknya faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan. Berdasarkan riset gap dan fenomena yang ada, terdapat perbedaan hasil penelitian dan hasil fenomena mengenai pengaruh struktur modal, likuiditas, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan. Pada penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan?

2. Bagaimana pengaruh likuiditas terhadap nilai perusahaan?

3. Bagaimana pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan?

4. Bagaimana pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan?

5. Bagaimana pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan?

(12)

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

2. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

3. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

4. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

5. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

(13)

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya adalah sebagai berikut :

1.3.2.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai referensi dalam penelitian-penelitian dengan topik yang sama yang mungkin akan dilakukan.

1.3.2.2 Manfaat Praktis

1. Bagi pihak perusahaan, penelitian ini dapat memberikan pemahaman kepada manajer agar dapat meningkatkan nilai perusahaan yang diharapkan dapat memberikan sinyal yang baik kepada para investor.

2. Bagi investor, hasil penelitian ini mampu memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan investor terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan yang akan menentukan kemakmuran para pemegang saham.

3. Bagi kalangan akademisi dalam literatur penelitian di Indonesia, khususnya di bidang Akuntansi Keuangan, penelitian dapat digunakan sebagai bahan referensi dan sebagai pembanding untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan nilai perusahaan.

(14)

53

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.1.1 Variabel Penelitian

Sugiyono (2016:61) mengungkapkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada 6 (enam) yaitu 1 (satu) variabel dependen dan 5 (lima) variabel independen.

1. Variabel Dependen

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2016:61). Tika (2006:19) menjelaskan bahwa variabel terikat (dependent variable) adalah suatu variabel yang dipengaruhi oleh varibel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan yang diukur dengan Price Earnings Ratio (PER).

2. Variabel Independen

Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2016:61).

(15)

Menurut Tika (2006:19) variabel bebas (independent variable) adalah suatu variabel yang dapat mempengaruhi variabel lainnya. Variabel independen dalam penelitian ini ada 5 (lima) yaitu struktur modal (DER), likuiditas (CR), ukuran perusahaan (SIZE), profitabilitas (NPM), dan kebijakan dividen (DPR).

3.1.2 Definisi Operasional

Sujarweni (2015:77) menjelaskan bahwa definisi operasional adalah variabel penelitian dimaksudkan untuk memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis, instrument, serta sumber pengukuran berasal dari mana. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.1.2.1 Variabel Dependen 1. Nilai Perusahaan

Gultom dkk (2013) mengemukakan bahwa nilai perusahaan (Company Value) merupakan sebuah nilai yang digunakan untuk mengukur seberapa besar

"Tingkat Kepentingan" sebuah perusahaan dilihat dari sudut pandang para investor yang mengaitkan nilai perusahaan dengan harga sahamnya. Nilai perusahan dapat diukur dengan Price Earnings Ratio (PER). Menurut Sudana (2009:27) dalam Prasetyorini (2013), price earning ratio adalah rasio yang mengukur tentang bagaimana investor menilai prospek pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, dan tercermin pada harga saham yang bersedia dibayar oleh investor untuk setiap rupiah laba yang diperoleh perusahaan.

(16)

Menurut Tangkilisan (2003) Price Earnings Ratio (PER) dapat dihitung dengan cara membagi harga pasar saham dengan pendapatan per saham. Price Earnings Ratio (PER) dirumuskan sebagai berikut :

3.1.2.2 Variabel Independen 1. Struktur Modal

Menurut Weston dan Brigham (1993) dalam Febrianti (2012), struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara resiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham. Dalam penelitian ini struktur modal diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER). Ang (1997) mengungkapkan bahwa DER digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan hutang terhadap total shareholders’ equity yang dimiliki perusahaan. Menurut Van Horne dan Wachowics (2005) Debt to Equity Ratio (DER) dirumuskan sebagai berikut :

DER = Total Hutang

Ekuitas Pemegang Saham 2

2. Likuiditas

Van Horne dan Wachowics (2005) mengatakan bahwa rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka PER =

Harga Pasar Per Saham

1 Pendapatan Per Saham (EPS)

(17)

pendeknya. Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio Lancar (Current Ratio). Menurut Ang (1997) rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan jangka pendek perusahaan di dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Rasio Lancar (Current Ratio) dirumuskan sebagai berikut :

CR = Current Asset

Current Liabilities 3

3. Ukuran Perusahaan

Machfoedz, 1994 dalam Suwito dan Herawaty, 2005 mengatakan bahwa ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan logaritma natural dari total aset. Logaritma natural dipilih untuk meratakan data atau menghindari rentang data yang terlalu jauh. Total aset dipilih dengan mempertimbangkan bahwa nilai aset relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar dan penjualan (Wuryatiningsih, 2002 dalam Sudarmadji dan Sularto, 2007).

Size = LnTA (Logaritma Natural Total Asset) 4

(18)

4. Profitabilitas

Rasio Profitabilitas berusaha mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh aktiva maupun modal sendiri (Tangkilisan, 2003). Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Net Profit Margin (NPM), dimana rasio ini berfungsi untuk mengukur tingkat

kembalian keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya. Van Horne dan Wachowics (2005) mengatakan bahwa Net Profit Margin (NPM) adalah ukuran profitabilitas perusahaan dari penjualan setelah dikurangi biaya dan pajak penghasilan. Menurut Ang (1997) Net Profit Margin (NPM) dirumuskan sebagai berikut :

NPM =

NIAT (Net Income After Tax)

5 Net Sales

5. Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen merupakan keputusan mengenai bagaimana cara perusahaan menggunakan laba yang diperoleh apakah akan diinvestasikan kembali atau dibagi kepada pemegang saham sebagai dividen (Oktavia, 2013 dalam Adi Putra dan Putu Vivi, 2016). Kebijakan dividen diukur dengan Dividen Payout Ratio (DPR). Dividend Payout Ratio membandingkan antara dividen yang dibayarkan dengan laba bersih yang didapat perusahaan. Ang (1997) menjelaskan bahwa Dividen Payout Ratio (DPR) merupakan perbandingan antara DPS dengan EPS, jadi

(19)

perpektif yang dilihat adalah pertumbuhan dividen per share terhadap earning per share. Dividen Payout Ratio (DPR) dirumuskan sebagai berikut :

DPR = Dividen Per Share (DPS)

Earning Per Saham (EPS) 6

Secara lebih ringkas definisi operasional variabel dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 3.1

Definisi Operasional Variabel No. Nama

Variabel

Definisi

Variabel Indikator Sumber

1 Nilai Perusahaan

Sebuah nilai yang

digunakan untuk mengukur seberapa besar

"Tingkat Kepentingan"

sebuah perusahaan dilihat dari sudut

pandang para investor yang mengaitkan nilai

perusahaan dengan harga sahamnya.

Variabel ini diukur dengan PER (Price Earning Ratio). PER dapat dirumuskan dengan : PER

= Harga Pasar Per

Saham/Pendap atan Per Saham (EPS).

Nurul Hayati (2010); MG.

Sukamdiani (2011); Imelda Adi Setiawan (2012); Robinhot Gultom,

Agustina, Sri Widia Wijaya (2013); Wawan Utomo, Rita Andini, dan Kharis Raharjo (2016).

(20)

No. Nama Variabel

Definisi

Variabel Indikator Sumber

2 Struktur Modal

Struktur modal yang mengoptimal kan

keseimbanga n antara resiko dan pengembalian sehingga memaksimu mkan harga saham.

Variabel ini diukur dengan DER (Debt to Equity Ratio).

DER dapat dirumuskan dengan : DER

= Total Hutang / Ekuitas Pemegang Saham.

Nurul Hayati (2010); Imelda Adi Setiawan (2012); Robinhot Gultom,

Agustina, Sri Widia Wijaya (2013); Wawan Utomo, Rita Andini, dan Kharis Raharjo (2016).

3 Likuiditas Mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Variabel ini diukur dengan CR (Current Ratio). CR dapat dirumuskan dengan : CR = Current Assset / Current Liabiities.

MG. Sukamdiani (2011); Imelda Adi Setiawan (2012); Robinhot Gultom,

Agustina, Sri Widia Wijaya (2013); Wawan Utomo, Rita Andini, dan Kharis Raharjo (2016).

4 Ukuran Perusahaan

Suatu skala dimana dapat diklasifikasik an besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, antara lain:

total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain.

Variabel ini diukur dengan LnTA

(Logaritma Natural Total Asset).

Robinhot Gultom, Agustina, Sri Widia Wijaya (2013); Wawan Utomo, Rita Andini, dan Kharis Raharjo (2016).

(21)

No. Nama Variabel

Definisi

Variabel Indikator Sumber

5 Profitabilitas Mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh aktiva maupun modal sendiri.

Variabel ini diukur dengan NPM (Net Profit Margin).

NPM dapat dirumuskan dengan : NPM

= Net Income After Tax (NIAT) / Net Sales.

Imelda Adi Setiawan (2012);

Robinhot Gultom, Agustina, Sri Widia Wijaya (2013).

6 Kebijakan Dividen

Keputusan mengenai bagaimana cara

perusahaan menggunakan laba yang diperoleh apakah akan diinvestasika n kembali atau dibagi kepada pemegang saham sebagai dividen

Variabel ini diukur dengan DPR (Dividend Payout Ratio).

DPR dapat dirumuskan dengan : DPR

= Dividend Per Share (DPS) / Earning Per Share (EPS)

Imelda Adi Setiawan (2012);

Wawan Utomo, Rita Andini, dan Kharis Raharjo (2016).

Sumber : Berbagai jurnal ilmiah.

3.2 Obyek Penelitian, Unit Sampel, Populasi dan Penentuan Sampel 3.2.1 Obyek Penelitian dan Unit Sampel

Pengertian objek penelitian yang dikemukakan oleh Sugiyono (2016) yaitu :

“Objek penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

(22)

Obyek penelitian yang dipilih adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Obyek ini dipilih karena perusahaan manufakur merupakan perusahaan yang menjual produknya yang dimulai dengan proses produksi yang tidak terputus mulai dari pembelian bahan baku, proses pengolahan bahan hingga menjadi produk yang siap dijual. Hal ini dilakukan sendiri oleh perusahaan tersebut sehingga membutuhkan sumber dana yang akan digunakan untuk operasional perusahaan. Sumber dana tersebut salah satunya adalah sumber dana jangka panjang, yaitu dengan investasi saham oleh para investor.

Telah diambil sejumlah sampel yang digunakan untuk penelitian ini dari populasi tersebut. Unit sampelnya berupa laporan keuangan yang telah diaudit.

3.2.2 Populasi dan Penentuan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2016:117). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian yaitu dari tahun 2012-2015. Dari populasi tersebut diambil sejumlah sampel untuk digunakan dalam penelitian.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Sugiyono, 2016:118). Tika (2006) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari suatu subjek atau objek yang mewakili populasi. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan

(23)

metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel perusahaan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016:124).

Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2015 dengan kriteria sebagai berikut :

a) Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012- 2015 secara berturut-turut.

b) Perusahaan menerbitkan laporan keuangan per 31 Desember dalam mata uang Rupiah dari tahun 2012-2015.

c) Perusahaan mengalami laba dan membagikan dividen pada tahun 2012-2015.

d) Menampilkan data dan informasi secara lengkap yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan setiap perusahaan sampel yang dilaporkan ke BEI dari tahun 2012-2015. Sumber data yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan sampel yang terdapat pada ICMD (Indonesian Capital Market Directory) dan website Indonesia Stock Exchage (www.idx.co.id) selama periode tahun 2012-2015.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan studi pustaka. Dokumentasi yaitu dengan cara mengumpulkan data yang tersedia pada

(24)

obyek penelitian, dalam hal ini adalah dokumen laporan keuangan perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015. Sedangkan studi pustaka yaitu mempelajari dan mengambil data yang berasal dari literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini.

3.5 Metode Analisis

Data yang didapat dari hasil penelitian ini adalah data kuantitatif, yang selanjutnya akan dianalisis sesuai dengan jenisnya. Analisis data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, dan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS versi 20.

3.5.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran tentang variabel-variabel dalam penelitian ini yang dilihat dari rata-rata (mean), nilai maksimum dan minimum, jumlah data, dan standar deviasi.

3.5.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan guna memastikan bahwa sampel yang diteliti terbebas dari gangguan normalitas, multikolinieritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

3.5.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel bebas dan variabel terikat memiliki distribusi normal. Metode regresi yang baik adalah

(25)

memiliki distribusi normal atau mendekati normal (Ghozali, 2012). Dalam penelitian ini pengujian normalitas dilakukan dengan uji statistik non parametik One Sample Kolmogorov Smirnov. Pedoman untuk pengambilan keputusan didasarkan pada :

1) Apabila nilai probabilitas > 0,05 atau 5 persen, maka distribusi data normal.

2) Apabila nilai probabilitas < 0,05 atau 5 persen, maka distribusi data tidak normal.

3.5.2.2 Uji Multikolonieritas

Menurut Ghozali (2012) uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji adanya korelasi antar variabel bebas (independen) dalam model regresi. Model regresi yang baik seharusnya antar variabel independen tidak terjadi korelasi. Adanya indikasi multikolonieritas yaitu ketika antar variabel independen terdapat korelasi yang cukup tinggi sehingga akan sulit untuk memisahkan masing-masing pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian terhadap multikolonieritas dapat dideteksi dengan menggunakan tolerance value dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance value > 0,10 dan VIF < 10, maka tidak

terjadi multikolonieritas.

3.5.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Menurut Imam Ghozali (2012) uji heteroskedastistas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan antara varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika varian berbeda

(26)

disebut heteroskedastistas. Pada penelitian ini menguji ada tidaknya heteroskedastistas adalah dengan menggunakan Uji Glejser. Analisis yang dilakukan yaitu dengan melihat signifikansi variabel independen terhadap variabel dependen.

Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas. Hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansinya jika diatas 5 persen atau diatas 0,05, maka dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya Heteroskedastisitas.

3.5.2.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji adanya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2012:110). Adanya problem autokorelasi karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan dengan satu sama lainnya, hal ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (times series). Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson. Jika DU < DW

< 4 – DU, maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terdapat autokorelasi.

3.5.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Secara umum, analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel

(27)

dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas/bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan/ atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Gujarati, 2003) dalam Ghozali (2012). Jadi regresi merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model regresi dirumuskan dengan persamaan berikut :

Y = α + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + ɛ 6

Keterangan :

Y = Nilai Perusahaan

α = Konstanta

b1- b5 = Koefisien Regresi X1 = Struktur Modal X2 = Likuiditas

X3 = Ukuran Perusahaan X4 = Profitabilitas X5 = Kebijakan Dividen

ɛ = error

3.5.4 Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis yang diajukan maka dilakukan pengujian secara parsial dan pengujian secara simultan serta analisis koefisien determinasi (R2) (Ghozali, 2012).

(28)

3.5.4.1 Uji Layak Model (Uji F)

Uji F dilakukan untuk menguji secara simultan apakah semua variabel independen yang digunakan dalam model regresi secara bersama-sama dapat mempengaruhi variabel dependen. Uji statistik F digunakan untuk mengetahui seluruh variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi secara bersama- sama terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0,05 (Ghozali, 2012) yaitu sebagai berikut :

1) Nilai probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Ini berarti bahwa semua variabel independen tidak mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

2) Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti bahwa semua variabel independen mempunyai pengaruh secara bersama- sama terhadap variabel dependen.

3.5.4.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi antara nol (0) dan satu (1). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.

Nilai yang mendekati satu (1) berarti variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali,

(29)

2012). Bila terdapat nilai adjusted R2 bernilai negatif, maka nilai adjusted R2 dianggap bernilai nol (0).

3.5.4.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji T)

Uji statistik T digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh yang signifikan dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji statistik T juga menunjukkan seberapa jauh pengaruh masing-masing variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Uji statistik T dilakukan dengan cara nilai sig t dibandingkan dengan derajat signifikansinya, apabila sig t lebih kecil dari tingkat signifikansinya (5%) maka hipotesis ditolak yang berarti ada hubungan signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Cara pengujiannya adalah sebagai berikut :

1) Jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima atau H1 ditolak.

Ini berarti bahwa variabel independen tidak mempunyai pengaruh individual terhadap variabel dependen.

2) Jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti bahwa variabel independen mempunyai pengaruh secara individual terhadap variabel dependen.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Potensi-potensi mitigasi yang terkait dengan energi terbarukan dan efisiensi sangat besar dan memiliki potensi tinggi untuk dapat menjadi bagian dari INDC Indonesia yang akan

Investor harus memperhatikan kebijakan- kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan, seperti kebijakan untuk melakukan buy back saham yang dipublikasikan dalam bentuk

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linear berganda dengan bantuan program SPSS 22 untuk mengolah data sehingga dapat diketahui seberapa besar

Dimana gas akan mengalir bila ada perbedaan energi, kemudian dengan dasar pendekatan de waard- rnilliams dapat diprediksi laju korosi pada saluran pipa gas alam itu sesuai

Kecelakaan kerja yang terjadi di PT Kertas Leces (Persero) dikategorikan menjadi 2 macam yaitu, kecelakaan di dalam plant adalah kecelakaan kerja yang terjadi

PNS yang dinilai jika merasa keberatan atas nilai sebagaimana tertuang dalam formulir penilaian prestasi kerja, baik secara keseluruhan maupun sebagian, dapat

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka ditemukan faktor-faktor yang menghambat evaluasi program kelompok masyarakat (specific block grant) sebagai

Peran MPM sebagai lembaga sosial di Muhammadiyah dalam pembentukan pemerintah desa yaitu MPM menginisiasi adanya pemekaran wilayah, supaya masyarakat suku kokoda