• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAM PASIR DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JAM PASIR DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Program Studi Teknik Elektro

Disusun oleh :

YOHANES SINUNG NUGROHO NIM : 025114071

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2007

i

(2)

Presented as Partial Fulfillment of the requirements To Obtain the Sarjana Teknik Degree

In Electrical Engineering

By :

YOHANES SINUNG NUGROHO Student ID Number : 025114071

ELECTRICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM ELECTRICAL ENGINEERING DEPARTMENT

SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA

2007

ii

(3)
(4)
(5)

ini tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, Oktober 2007

Penulis

Yohanes Sinung Nugroho

(6)

^âÑxÜáxÅut{tÇ~tÇ àâztá t~{|Ü |Ç| M

Pada

”Tuhan Yesus Kristus”

atas hidup, talenta, penyertaan, mukjizat dan penebusan-Nya yang selama ini menyertai langkahku.

Untuk bapak

“Andhi Suhardi”

ibu

“Mariyani”

atas dukungan, doa dan bimbingan yang tiada henti, pembelajaran atas hidup dan kasih yang selama ini aku terima.

Untuk kakakku dan adikku

“Mas Nanang, Mbak Lena, Adikku Bintang”

atas dorongan semangat dan nasehat serta terimakasih untuk segala yang telah engkau berikan. Yang kita perlukan hanyalah kebersamaan kita, dengan itu kita bisa melalui segalanya.

Ê]|~t lxáâá `xÇz{xÇwt~|?

à|wt~ twt çtÇz à|wt~ ÅâÇz~|Ç w| wâÇ|t |Ç|Ê

vi

(7)

JAM PASIR DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

Nama : Yohanes Sinung Nugroho NIM : 025114071

INTISARI

Jam pasir digital berbasis mikrokontroler merupakan jam pasir elektronik, yang cara kerja dan tampilannya seperti jam pasir manual. Jam pasir digital ini menggunakan 32 led sebagai penampil yang tersusun dalam 10 baris. Dan 2 seven segmnent sebagai penampil pengaturan waktu tunda.

Pengendali jam pasir ini menggunakan mikrokontroler sebagai perangkat yang bertugas untuk menentukan keputusan-keputusan selama proses pengendali berjalan. Proses pengendali dilakukan untuk menentukan tunda waktu dan penyalaan led. Dalam jam pasir digital ini menggunakan seven segment untuk menampilkan informasi, yakni besarnya tunda waktu. Mikrokontroler yang digunakan adalah AT89S51, yang dalam proses komunikasi dengan komponen-komponen yang lain menggunakan komunikasi secara paralel.

Alat jam pasir digital yang telah dikerjakan ini dapat bekerja sesuai dengan proses pengendalian yang diharapkan. Penundaan pada alat jam pasir digital ini, dapat diatur dari rentang waktu 00 menit sampai 60 menit.

Kata kunci : jam pasir, led, mikrokontroler, tunda waktu

vii

(8)

ABSTRACT

Digital sand clock based on microcontroller is electronic sand glass, that is the appearance and operational of like manual sand glass. this digital sand clock apply 32 led as display is structured in 10 line. And 2 seven segmnent as display delay timing.

This controller of sand clock uses microcontroller as peripheral with the task that is used to determine decisions during processing of controller are run. Controller processing is purpose to determine the time delay and active the led. In this digital sand clock uses seven segments for presenting information, which the levels of time delay. AT89S51 is a microcontroller that used, in process of communications with other components using parallel communications.

The device of digital sand clock can work according to the expected operation process. Delay in this digital sand clock device, can be arrange from time stretch of 00 minute until 60 minutes.

Keyword: sand clock, led, microcontroller, time delay

viii

(9)

KATA PENGANTAR

Terima kasih Tuhan Yesus Kristus, sehingga perancangan dan penyusunan tugas akhir JAM PASIR DIGITAL ini dapat terselesaikan dengan baik.

Tugas akhir ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Teknik, jurusan Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma

Dalam penyusunan tugas akhir ini, banyak sekali bimbingan, saran dan masukan yang sangat bermanfaat bagi penulis yang telah diberikan oleh berbagi pihak demi terselesainya penyusunan tugas akhir ini.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Romo Ir. Greg. Heliarko, S.J., S.S., B.S.T., M.A., M.Sc., selaku dekan Fakultas Sains dan Teknologi.

2. Bapak A. Bayu Primawan, S.T., M.Eng., selaku ketua Jurusan Teknik Elektro.

3. Ibu B. Wuri Harini, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, masukan, dorongan dan bantuan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

4. Bapak Ir. Tjendro selaku dosen pembimbing II atas bimbingan, ide-ide dan bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

ix

(10)

5. Ayahku Andhi Suhardi dan Ibuku Mariyani yang telah memberikan kasih dan sayangnya, doa, dorongan, semangat. Terima kasih buat segala yang telah engkau berikan.

6. Buat Mas Nanang, Mbak Magdalena yang membiayai Kuliahku

7. Teman-teman, Wawan (T-cuz) ”Terima kasih buat semua bantuan yang sudah kamu berikan”, Oscar ”Terima kasih buat Pentium II-nya”.

8. Teman-teman bimbingan Ibu Wuri ”Hary, Yoga, Ido, Doni (Lele), Anton (Plentonx), Memen, Gepeng, Deni (Chino), Dhanny, Deri, Andhex”.

9. Teman-teman elektro 2002 : ”Robi, Andi S, Dhika, Pandu, Andreas (Bule)”

10. Teman-teman kost JMC ”Made, Endhok, Agung, Koko, Yuli, Andhek, Broto, Lambang”.

11. Teman-teaman kost Tangkadas ”Franky, Heri, Fandy, Purba, Si Boss”.

12. Segenap dosen-dosen Teknik Elektro atas segala bantuan yang telah diberikan selama penulis menimba ilmu di bangku kuliah.

13. Laboran teknik elektro : Mas Suryono, Mas Mardi dan Mas Broto.

14. Segenap Karyawan, Sekretariat Teknik, atas bantuan yang telah diberikan.

Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, karena keterbatasan tempat, atas saran, ide, dan dukungannya yang telah diberikan hingga tugas akhir ini terselesaikan.

x

(11)

Yogyakarta, Oktober 2007

Penulis

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vi

INTISARI ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR GAMBAR... xvi

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Judul ... 1

1.2 Latar Belakang ... 1

1.3 Batasan Masalah ... 2

1.4 Tujuan ... 2

1.5 Metode Penelitian ... 3

BAB II DASAR TEORI... 4

2.1 Mikrokontroler ... 4

xii

(13)

2.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 ... 4

2.1.2 Oganisasi Memori AT89S51 ... 7

2.1.2.1 Memori Program ... 8

2.1.2.2 Memori Data ... 9

2.1.2.3 Ram Internal... 10

2.1.2.4 Tabel Tengok (Look Up Table)... 11

2.1.2.5 Intruksi-intruksi Register Khusus ... 12

2.1.3 Mode Pengalamatan ... 13

2.1.4 Timer dan Counter dalam AT89S51 ... 14

2.1.4.1 Sarana Timer/Counter AT89S51... 15

2.1.4.2 Mode Kerja Timer 0 dan Timer 1... 16

2.1.4.3 Register Pengatur Timer... 18

2.1.5 Sistem Interupsi pada AT89S51... 20

2.1.5.1 Struktur Interupsi ... 20

2.1.5.2 Mengaktifkan dan Menon-Aktifkan Interupsi .... 21

2.1.5.3 Tingkat Prioritas Interupsi... 21

2.1.5.4 Teknik Polling... 22

2.1.5.5 Pemrosesan Interupsi ... 22

2.1.5.6 Vektor-Vektor Interupsi ... 23

2.1.5.7 Perancangan Program Interupsi ... 23

2.2 Transistor Sebagai Saklar... 24

xiii

(14)

2.3 Seven Segment... 26

2.4 Decoder BCD... 27

2.5 LED (Light Emitting Diode) sebagai Penampil ... 29

BAB III PERANCANGAN ... 30

3.1 Diagram Blok Rangkaian... 30

3.2 Perancangan Rangkaian ... 31

3.2.1 Rangkaian Switch ... 32

3.2.2 Pangkaian Unit Pengolah ... 33

3.2.3 Rangkaian Indikator ... 34

3.2.4 Rangkaian Tampilan Seven Segment ... 37

3.3 Perancangan Software ... 39

3.3.1 Diagram Alir Program Menyalakan Led (Flowchart) ... 42

3.3.2 Diagram Alir (Flowchart) Panggil Proses Tombol... 43

3.3.3 Diagram Alir (flowchart) Penampil Waktu pada Seven Segment... 44

3.3.4 Diagram Alir (flowchart) Pemberian Tunda pada Aliran Led... 46

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ... 48

4.1 Prinsip Kerja ... 48

4.2 Pengamatan Perpindahan Aliran Led... 49

4.3 Pengamatan Tunda Waktu ... 50

xiv

(15)

4.4 Pengamatan Tiap Rangkaian... 54

4.4.1 Rangkaian Tombol ... 54

4.4.2 Rangkaian Led ... 54

4.4.3 Rangkain Seven Segment... 57

4.5 Pembahasan Program ... 57

4.5.1 Subroutine Pengaturan Tunda ... 57

4.5.2 Penyalaan Led ... 58

4.5.3 Subroutine Cek Tombol ... 59

4.5.4 Subroutine Tampilan pada Seven Segment ... 61

4.5.5 Subroutine Tunda Waktu ... 62

BAB V PENUTUP... 66

5,1 Kesimpulan ... 66

5.2 Saran... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 67

xv

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Blok Diagram AT89S51 ... 5

Gambar 2.2 Peta Memori Interupsi... 8

Gambar 2.3 Susunan Bit dalam Register TMODE ... 18

Gambar 2.4 Susunan Bit dalam Register TCON ... 18

Gambar 2.5 Jenis Transistor dan Simbol Transistor ... .. 24

Gambar 2.6 Rangkaian Skema Dasar Konfigurasi Saklar Menggunakan transistor... 24

Gambar 2.7 Seven segment ... 26

Gambar 2.8 Seven Segment Common Anode ... 26

Gambar 2.9 Seven Segment Common Catode... 26

Gambar 2.10 Simbol IC 7447 ... 27

Gambar 2.11 Tampilan Seven Segment Menggunakan IC 7447... 28

Gambar 2.12 Fisik LED ... 29

Gambar 3.1 Diagram Blok Rangkaian... 30

Gambar 3.2 Layout Jam Pasir Digital ... 31

Gambar 3.3 Rangkaian Switch ... 32

Gambar 3.4 Rangkaian mikrokontroler ... 33

Gambar 3.5 Rangkaian Cuplikan dari Rangkaian LED Indikator ... 34

Gambar 3.6 Rangkaian LED Indikator ... 36

xvi

(17)

Gambar 3.7 Rangkaian Penampil Waktu pada Seven Segment ... 37

Gambar 3.8 Pergerakan Led... 41

Gambar 3.9 Flowchart Program Utama... 42

Gambar 3.10 Flowchart Panggil Proses Tombol... 43

Gambar 3.11 Flowchart Penampil Waktu pada Seven Segment... 45

Gambar 3.12 Flowchart Pemberian Tunda Waktu pada Aliran Led ... 46

Gambar 4.1 Layout Jam Pasir Digital ... 48

Gambar 4.2 Perpindahan Aliran Led dengan Tunda Waktu 3 menit... 49

xvii

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Fungsi Alamat Interupsi... 8

Tabel 2.2 Instruksi Membaca Tabel Tengok... 11

Tabel 2.3 Tingkat Prioritas Interupsi... 22

Tabel 2.4 Vektor-Vektor Interupsi ... 23

Tabel 2.5 Tabel Kebenaran IC 7447 ... 28

Tabel 4.1 Data Pengamatan Tunda Waktu... 50

Tabel 4.2 Data Pengamatan Waktu Tunda Tiap Baris Led... 51

Tabel 4.3 Data Pengamatan Rangakain Tombol... 54

Tabel 4.4 Data Pengamatan Tegangan pada Transistor ... 55

Tabel 4.5 Data Masukan untuk Port 1 dan Port 2 ... 58

Tabel 4.6 Hubungan antara Data Biner dengan Led ... 58

Tabel 4.7 Data Perbandingan Waktu Tunda dengan Seven Segment... 60

xviii

(19)

LAMPIRAN

Datasheet ... L1 Listing Program... L2 Rangkaian Lengkap Jam Pasir Digital ... L7

xix

(20)

1.1 Judul

Jam Pasir Digital Berbasis Mikrokontroler AT89S51

1.2 Latar Belakang

Dengan semakin pentingnya arti sebuah waktu, maka manusia mulai mencari cara untuk meminimalisasi atau mengatur waktu seefisien mungkin dengan berbagai cara untuk memperoleh kinerja yang baik dengan waktu yang relatif singkat dan tepat waktu atau dengan istilah lain yaitu Time Is Money. Salah satu cara untuk mewujudkan efisiensi waktu ini adalah menggunakan sebuah jam yang diberi nama sebagai Jam Pasir. Jam Pasir berbeda dengan jam biasa yang umumnya digunakan sehari-hari.

Jam pasir banyak diaplikasikan pada perusahaan-perusahaan yang menawarkan jasa makanan siap saji atau dikenal dengan istilah Fast Food.

Penggunaan jam pasir ini sangat diperlukan untuk menghasilkan pelayanan yang cepat dan efisien, selain dapat digunakan untuk beberapa aplikasi lain misalnya untuk penghitungan waktu pada saat melaksanakan ujian praktek atau kolokium. Untuk mewujudkan hal ini, salah satunya dibuat sebuah Jam Pasir elektronik yang menggantikan sistem jam pasir yang manual ke sistem yang lebih modern.

1

(21)

Alasan lain pembuatan dari jam pasir elektronik ini dapat juga dijadikan sebagai materi bahan praktikum mikrokontroler. Keuntungan selain sebagai bahan materi praktikum adalah :

1. Dapat mengatur waktu yang dibutuhkan pasir untuk berpindah dari tabung LED satu ke tabung LED yang lain.

2. Dapat juga dijadikan sebagai hobi elektronik.

1.3 Batasan Masalah

Mengingat akan banyaknya jenis-jenis jam yang dihasilkan dan dibuat oleh manusia yang mempunyai fungsi dan aplikasi berbeda, maka penulis perlu memberikan suatu batasan agar ruang lingkup dari pembahasan masalah tidak terlalu luas pembahasannya. Pembatasan masalah hanya didasarkan dari penggunaan dan pengaturan.

1. Waktu jam pasir berbasis Mikrokontroller AT89C51.

2. Menggunakan 32 buah LED sebagai penampil.

3. Menggunakan setting waktu counter up atau counter down.

4. Menggunakan 2 buah seven segment untuk menampilkan setting menit.

1.4 Tujuan

Tujuan utama dalam pembuatan jam pasir ini adalah untuk menerapkan dan merealisasikan sebagian dari pengetahuan mengenai sistem pemrograman yang telah dipelajari sebelumnya selama kuliah. Disamping itu, tujuan yang lain yang ingin dicapai adalah untuk membuat sistem pemrograman jam pasir yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi lebih modern.

(22)

Adapun tujuan pembuatan alat sebagai tugas akhir ini untuk memenuhi persyaratan akademis dalam menyelesaikan pendidikan sarjana Strata-1 (S1) pada jurusan Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma.

1.5 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penyusunan Tugas Akhir ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu :

1. Observasi, pengumpulan data-data melalui pembacaan buku-buku teori pendukung tugas akhir di perpustakaan USD. Selain itu melalui informasi- informasi dan keterangan-keterangan dari internet, dosen pembimbing tugas akhir dan teman-teman.

2. Perancangan, penyediaan seluruh komponen yang dibutuhkan selanjutnya merakit dan membuat alat.

3. Pengujian dan pengetesan alat yaitu menguji secara langsung cara kerja alat kemudian mengumpulkan data-datanya dan menyusunnya sebagai data hasil akhir dalam laporan tugas akhir.

4. Kesimpulan, yaitu menganalisa secara keseluruhan hasil kerja alat kemudian mengambil kesimpulan dari data-data yang didapat.

5. Penulisan laporan.

(23)

2.1. Mikrokontroler.

Mikrokontroler sebagai suatu terobosan teknologi mikroprosesor dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar dan teknologi baru. Sebagai teknologi baru, yaitu teknologi semikonduktor dengan kandungan transistor yang lebih banyak namun hanya membutuhkan ruang kecil serta dapat diproduksi secara massal (dalam jumlah banyak) sehingga harganya menjadi lebih murah (dibandingkan mikroprosesor). Sebagai kebutuhan pasar, mikrokontroler hadir untuk memenuhi selera industri dan para konsumen akan kebutuhan dan keinginan alat-alat bantu dan mainan yang lebih baik dan canggih. Dengan alasan demikian mikrokontroler banyak digunakan oleh berbagai kepentingan untuk menciptakan suatu kreasi elektronika yang beraneka ragam.

2.1.1. Arsitektur Mikrokontroler AT89S51.

Blok diagram lengkap dari Mikrokontroler AT89S51 seri AT89 (Keluarga 51) Atmel akan diperlihatkan secara jelas pada Gambar 2.1:

Bagian-bagian dari blok diagram diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Register A.

Register A (akumulator) yang menempati lokasi pada alamat E0h digunakan sebagai register untuk penyimpanan data sementara dalam program, instruksinya mengacu sebagai register A.

4

(24)

Gambar 2.1 Blok Diagram AT89S51 [1]

b. Register B.

Register B (lokasi F0h) digunakan selama operasi perkalian dan pembagian, untuk instruksi lain dapat diperlakukan sebagai register Scratch pad (papan coret- coret) lainnya.

(25)

c. Program Status Word (PSW).

Register PSW (lokasi D0h) mengandung informasi status program.

d. Stack Pointer.

Register Stack Pointer (SP) pada lokasi 81h merupakan register dengan panjang 8-bit, digunakan dalam proses simpan dan ambil dari/ke stack. Nilainya akan dinaikkan sebelum data disimpan menggunakan intruksi PUSH dan CALL. Walau Stack bisa menempati lokasi di mana saja dalam RAM, register SP akan selalu diinisialisasikan ke 07h setelah adanya reset, hal ini menyebabkan stack berawal di lokasi 08h.

e. Data Pointer.

Register Data Pointer atau DPTR mengandung DPTR untuk byte tinggi (DPH) dan byte rendah (DPL) yang masing-masing berada di lokasi 83h dan 82h, bersama-sama membentuk register yang mampu menyimpan alamat 16 bit. Dapat dimanipulasi sebagai register 16-bit atau sebagai dua register 8-bit yang terpisah.

f. Port 0, Port 1, Port 2, dan Port 3.

P0, P1, P2 dan P3 masing-masing menempati lokasi 80h, 90h, A0h dan b0h merupakan pengunci-pengunci (latches), yang digunakan untuk menyimpan data yang akan dibaca atau ditulis dari/ke port, masing-masing Port 0, Port 1, Port 2 dan Port 3.

g. Serial Data Buffer.

Serial data buffer (SBUF) pada lokasi 99h sebenarnya terdiri dari dua register yang terpisah yaitu register penyangga pengirim (transmit buffer) dan penyangga penerima (receive buffer). Pada saat data disalin ke SBUF, maka data sesungguhnya

(26)

dikirim ke penyangga pengirim dan sekaligus mengawali transmisi data serial, sedangkan pada saat data disalin dari SBUF, maka sebenarnya data tersebut berasal dari penyangga penerima.

h. Timer Register.

Pasangan register-register (TH0, TL0) di lokasi 8Ch dan 8Ah, (TH1, TL1) dilokasi BDh dan 8Bh serta (TH2, TL2) di lokasi CDh dan CCh merupakan register- register pencacah 16-bit untuk masing-masing Timer 0, Timer 1 dan Timer 2.

i. Capture Register.

Pasangan register (RCAP2H, RCHP2L) yang menempati lokasi CBh dan CAh merupakan register Capture untuk mode Timer 2 capture. Pada mode ini, sebagai tanggapan terjadinya suatu transisi sinyal di kaki (pin) T2EX (pada AT89C52/55), TH2 dan TL2 disalin masing-masing ke RCAP2H dan RCP2l. Timer 2 juga memiliki mode isi ulang otomatis 16-bit dan RCAP2H serta RCAP2L digunakan untuk menyimpan nilai isi ulang tersebut.

j. Control Register.

Register-register IP, IE, TMOD, TCON, T2CON, T2MOD, SCON dan PCON berisi bit-bit kontrol dan status untuk sistem interupsi, Pencacah/Pewaktu dan port serial yang akan dijelaskan nanti.

2.1.2. Oganisasi Memori AT89S51.

Mikrokontroler AT89S51 memiliki ruang alamat memori data dan program yang terpisah. Pemisahan memori program dan data tersebut membolehkan memori data dapat diakses dengan alamat 8-bit, sehingga dapat dengan cepat dan mudah

(27)

disimpan dan dimanipulasi oleh CPU 8-bit. Walaupun demikian, alamat memori data 16-bit bisa juga dihasilkan melalui register DPTR.

2.1.2.1 Memori Program.

Pada Gambar 2.2 dibawah ini ditunjukkan pemetaan bagian bawah dari memori program. Setelah reset, CPU segera mengerjakan program mulai dari lokasi 0000h.

Gambar 2.2 Peta Memori Interupsi [1]

Tabel 2.1 Fungsi Alamat Interupsi [1]

Alamat Fungsi Interupsi 0000h Reset 0003h Interupsi Internal 0

000Bh Timer 0

0013h Interupsi Internal 1

001Bh Timer 1

0023h Port Serial

0033h Timer 2

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.2 di atas, masing-masing interupsi diletakkan pada lokasi yang sudah tetap dalam memori program. Sebuah interupsi menyebabkan CPU melompat ke lokasi interupsi yang bersangkutan, yaitu letak dari subrutin layanan interupsi tersebut. Misalnya, Eksternal interupsi 0 disimpan pada

(28)

lokasi 0003h, jika interupsi digunakan, maka layanan rutin interupsi ini harus dituliskan pada lokasi ini, jika tidak, maka lokasi tersebut bisa dipakai sebagai memori program serba guna. Untuk lebih jelas perhatikan tabel 2.1.

Lokasi-lokasi layanan interupsi tersebut menempati lokasi-lokasi dengan jarak 8-byte : 0003h untuk eksternal interupt 0, 000Bh untuk timer 0, 0013h, untuk Eksternal Interupt 1, 001Bh untuk timer 1 dan seterusnya. Jika suatu rutin layanan interupsi sangat pendek (kurang dari 8 byte), maka seluruh rutin bisa disimpan pada lokasi yang bersangkutan (sesuai dengan interupsi yang digunakan). Jika terlalu panjang (lebih atau sama dengan 8-byte), maka harus digunakan suatu perintah lompat ke lokasi rutin interupsi yang sebenarnya (dilokasi lain dalam memori program).

2.1.2.2 Memori Data.

Memori data dapat berupa memori data internal dan memori data eksternal.

kita dapat menentukan memori data eksternal hingga 64K byte. Alamat memori data eksternal bisa 1 atau 2 byte. Alamat satu byte sering digunakan untuk membantu satu atau lebih jalur I/O dalam penghalamanan RAM. Alamat dua byte dapat dipakai dalam kasus jika byte alamat tinggi dikirim melalui port 2. Memori data internal memiliki ruang memori dibagi menjadi tiga blok, yang dikenal sebagai 128 bawah (lower 128), 128 atas (upper 128) dan register fungsi khusus (Special Function Register = SFR).

Alamat memori data internal selalu 8-bit atau 1-byte, yang konsekuensinya hanya mampu mengalamati hingga 256 byte saja. Namun demikian, mode-mode pengalamatan RAM internal (faktanya) bisa mengakomodasi hingga 384-byte.

(29)

Pengaksesan langsung (direct addressing) dengan alamat diatas 7Fh mengakses suatu memori, sedangkan pengaksesan tak langsung (indirect addressing) dengan alamat di atas 7Fh mengakses ruang memori lain yang berbeda. Sehingga terlihat 128 atas dan SFR menempati blok yang sama, 80h hingga FFh, walaupun secara fisik terpisah.

RAM Internal yang memiliki 128-byte dipetakan. 32 byte bawah dikelompokkan menjadi 4 bank dan 8 register (R0 hingga R7). Dua bit pada PWS (Program Status Word) digunakan untuk memilih kelompok register mana yang digunakan. Arsitektur ini membolehkan penggunaan ruang kode secara lebih efisien, karena instruksi-intruksi register lebih pendek dari pada instruksi-instruksi yang menggunakan pengalamatan langsung. 16 byte berikutnya, di atas bank-bank register membentuk suatu blok ruang memori yang bisa teralamati per bit. Kumpulan instruksi mikrokontroler ini memiliki berbagai pilihan instruksi- instruksi bit tunggal dan instruksi-instruksi ini mampu secara langsung mengalamati 128 bit dalam area ini. Alamat-alamat bit ini adalah 00h hingga 7Fh. Semua byte yang berada didalam 128 bawah dapat diakses baik secara langsung maupun tidak langsung. Bagian 128 atas dari RAM hanya ada di dalam piranti yang memiliki RAM berukuran 256 byte.

2.1.2.3. Ram Internal.

Instruksi MOV <tjn>, <sbr> membolehkan data dipindah-pindah antar lokasi dalam RAM internal atau lokasi-lokasi SFR tanpa melalui akumulator. Perlu dicatat bahwa untuk semua mikrokontroller Atmel Seri AT89C51, stack tersimpan dalam RAM internal. Intstruksi PUSH pertama kali akan menaikkan isi SP (stack pointer) kemudian menyalin data byte yang terkait ke dalam lokasi yang yang ditunjuk SP.

(30)

PUSH dan POP hanya menggunakan pengalamatan langsung untuk mengidentifikasi byte yang disimpan atau dikembalikan (ditarik dari ruang Stack), jika diimplementasikan lokasinya dapat mencapai 128 (upper 128) atas tetapi tidak mengganggu ruang SFR.

Jika piranti mikrokontroler yang digunakan tidak melakukan implementasi bagian 128 atas dan SP akan menunjuk pada lokasi di 128 atas tersebut, maka data byte yang di PUSH akan hilang serta instruksi POP menjadi tidak menentu.

Instruksi-instruksi transfer data mencakup sebuah instruksi MOV 16 bit (MOV DPTR,# data 16) yang dapat digunakan untuk inisialisasi DPTR dalam penggunaan Tabel Tengok atau look-up-tabel dalam memori program atau untuk akses data eksternal 16-bit.

2.1.2.4. Tabel Tengok (Look Up Table)

Pada Tabel 2.2 di bawah ini memperlihatkan dua instruksi yang dapat digunakan membaca tabel tengok yang tersimpan dalam memori program.

Tabel 2.2 Instruksi Membaca Tabel Tengok [1]

Intruksi Fungsi Waktu Eksekusi (µd)

MOV A,@A+DPTR Baca memori program dilokasi (A+DPTR)

2 MOV A,@A+PC Baca memori program dilokasi (A+PC) 2

Karena kedua instruksi ini hanya mengakses memori program saja, maka tabel tengok hanya bisa dibaca saja, tidak mungkin diremajakan atau update. Jika akses tabelnya ke memori program eksternal, maka tanda bacanya melalui kaki PSEN.

(31)

Instruksi MOVC yang pertama pada tabel di atas mampu mengakomodasi sebuah tabel dengan 256 entri, dengan indeks atau nomor baris 0 hingga 255. Angka indeks yang diinginkan disimpan dalam akumulator dan DPTR di set menunjuk ke alamat lokasi awal tabel yang bersangkutan. Dengan demikian perintah MOVC A,@A+DPTR digunakan untuk menyalin entri tabel yang dikehendaki ke dalam akumulator. Instruksi MOVC yang satunya juga sama, hanya saja menggunakan PC sebagai alamat dasarnya (bukan DPTR).

Biasanya tabel tengok diakses dalam suatu subrutin, pertama kali angka indeks entri tabel tengok yang akan dibaca disimpan dalam akumulator, kemudian subrutin yang terkait dipanggil misalnya :

MOV A, INDEKS_TABEL CALL TABEL

Subrutin TABEL bisa berisi sebagai berikut : TABEL : MOVC A,@A+PC

RET

Pada tabel dituliskan segera setelah instruksi RET (return) dalam memori program. Tipe tabel semacam ini bisa diisi hingga 255 entri, dengan indeks 1 hingga 255. Indeks 0 tidak dapat digunakan, karena pada saat instruksi, PC mengandung alamat dari instruksi RET, dengan demikian indeks 0 akan menunjuk pada instruksi RET tersebut.

2.1.2.5. Intruksi-intruksi Register Khusus.

Bank-bank register, yang masing-masing berisi R0 hingga R7 atau 8 register, dapat diakses melalui instruksi yang op-kodenya mengandung 3-bit spesifikasi

(32)

register (000 untuk R0, 001 untuk R1 hingga 111 untuk R7). Pengaksesan register dengan cara demikian bisa menghemat penggunaan kode instruksi, karena tidak memerlukan sebuah byte untuk alamat. Saat instruksi tersebut dikerjakan, satu dari delapan register pada bank yang terpilih yang diakses.

Beberapa instruksi hanya dikhususkan untuk suatu register tertentu. Misalnya suatu instruksi yang hanya bekerja pada akumulator saja. Sehingga tidak memerlukan alamat byte untuk menunjuk ke akumulator tersebut. Dalam hal ini, op- kodenya sendiri telah mengandung penunjuk ke register yang benar. Instruksi yang mengacu akumulator sebagai A akan dikodekan dengan op-kode spesifikakumulator.

Tidak semua alamat pada SFR (register fungsi khusus) digunakan, alamat- alamat yang tidak digunakan tidak diimplementasikan pada chip. Jika dilakukan usaha pembacaan pada alamat-alamat yang tidak terpakai tersebut akan menghasilkan data acak dan penulisannya tidak menimbulkan efek sama sekali.

Pengguna perangkat lunak sebaiknya jangan menuliskan “1” pada lokasi-lokasi ‘tak bertuan’ tersebut, karena dapat digunakan untuk mikrokontroler generasi selanjutnya.

Dengan demikian, nilai-nilai reset atau non aktif dari bit-bit baru ini akan selalu ‘0’

dan nilai aktifnya adalah ‘1’.

2.1.3. Mode Pengalamatan.

Mode pengalamatan pada keluarga MCS 51 terdiri dari dua mode yaitu Mode Pengalamatan Langsung (Direct Addressing) dan Mode Pengalamatan Tidak Langsung (Indirect Addressing). Dalam Pengalamatan Langsung, operan-operan ditentukan berdasarkan alamat 8-bit (1 byte) dalam suatu instruksi. Hanya RAM data internal dan SFR saja yang bisa diakses secara langsung.

(33)

Mode Pengalamatan tak Langsung dalam pengalamatannya, intruksi menentukan suatu register yang digunakan untuk menyimpan alamat operan. Baik RAM internal maupun RAM eksternal dapat diakses secara tak langsung. Register alamat untuk alamat-alamat 8-bit bisa menggunakan Stack Pointer atau RO atau R1 dari bank register yang dipilih. Sedangkan untuk alamat 16-bit hanya bisa menggunakan register pointer data 16-bit atau DPTR. Beberapa instruksi menggunakan operan berupa register yang menyimpan alamat data disimpan. Dalam hal ini digunakan tanda “at” (@) yang dapat digunakan bersama dengan R0, R1, DPTR atau PC tergantung dari instruksi yang digunakan. Misalnya :

ADD A,@R0 MOVC A,@A+PC

Instruksi pertama menyalin data yang tersimpan di alamat yang ditunjukkan R0 ke akumulator. Sedangkan instruksi kedua untuk data yang disimpan dalam

@A+PC.

2.1.4. Timer dan Counter dalam AT89S51.

Pada dasarnya sarana masukkan yang satu ini merupakan seperangkat pencacah biner (binary counter) yang terhubung langsung ke saluran data mikrokontroller, sehingga mikrokontroler bisa membaca kondisi pencacah dan bila diperlukan mikrokotroler dapat pula merubah kondisi pencacah tersebut.

Seperti layaknya pencacah biner, saat sinyal detak (clock) yang diberikan sudah melebihi kapasitas pencacah, maka pencacah akan memberikan sinyal overflow atau limpahan, sinyal ini merupakan suatu hal yang penting dalam pemakaian pencacah dan terjadinya limpahan pencacah ini bisa dicatat dalam suatu

(34)

register. Selain itu, sinyal detak yang diberikan ke pencacah bisa dikendalikan dengan mudah.

Sinyal detak yang diberikan ke pencacah dibedakan menjadi 2 macam, yang pertama adalah sinyal detak yang dengan frekuensi tetap sudah diketahui besarnya dan yang kedua adalah sinyal detak dengan frekuensi yang bisa bervariasi.

Jika sebuah pencacah bekerja dengan frekuensi tetap, dikatakan pencacah tersebut bekerja sebagai timer atau pewaktu, karena kondisi pencacah tersebut setara dengan waktu yang bisa ditentukan secara pasti.

Jika sebuah pencacah bekerja dengan frekuensi yamg bervariasi, dikatakan pencacah tersebut bekerja sebagai counter atau pencacah, kondisi pencacah tersebut menyatakan banyak pulsa detak yang sudah diterima. Untai pencacah biner tersebut merupakan pencacah biner naik (count up binary counter).

2.1.4.1. Sarana Timer/Counter AT89S51.

Keluarga mikrokontroler AT89S51 dilengkapi dengan dua perangkat timer/counter, masing-masing dinamakan sebagai Timer 0 dan Timer 1. Perangkat timer/counter tersebut merupakan perangkat keras yang terpadu dalam SFR.

Pencacah biner timer 0 diakses melalui register TL0 (timer 0 low byte, memori data internal alamat 6Ah) dan register TH0 (timer 0 high byte, memori data internal alamat 6Ch). Pencacah biner timer 1 diakses melalui register TL1 (timer 1 low byte, memori data internal alamat 6Bh) dan register TH1 (timer 1 high byte, memori data internal alamat 6Dh).

Pencacah biner timer/counter AT89S51 merupakan pencacah biner 16 bit naik (count up binary counter) yang mencacah dari 000Fh sampai FFFFh, saat

(35)

kondisi pencacah berubah dari FFFFh kembali ke 000Fh akan timbul sinyal limpahan (overflow).

Untuk mengatur kerja timer/counter tersebut digunakan 2 register tambahan yang dipakai bersama oleh timer 0 dan timer 1. Register tambahan tersebut adalah register TCON (timer control register, memori data internal alamat 88h, bisa di alamat per bit) dan register TMOD (timer mode register, memori data internal alamat 89h, tidak bisa di alamati per bit). TL0, TH0, TL1, dan TH1 merupakan SFR (Special Function Register) yang dipakai untuk membentuk pencacah biner timer 0 dan timer 1. Kapasitas keempat register tersebut masing-masing 8-bit, bisa disusun menjadi 4 macam mode pencacah biner.

2.1.4.2. Mode Kerja Timer 0 dan Timer 1.

Pada mode 0, 1 , dan 2, timer 0 dan timer 1 masing-masing bisa dibuat timer 0 bekerja pada mode 1 dan timer 1 bekerja pada mode 2, atau kombinasi lainnya sesuai dengan keperluan. Sedangkan pada mode 3 TL0, TH0, TL1 dan TH1 dipakai bersama-sama untuk menyusun sistem timer yang terpadu (khusus)

a. MODE 0 – Pencacah Biner 13-bit

Pencacah biner dibentuk dengan TLx (bisa TL0 atau TL1) sebagai pencacah biner 5 bit (meskipun kapasitas sesungguhnya 8 bit). Limpahan dari pencacah biner 5-bit ini dihubungkan ke THx (bisa TH0 atau TH1) membentuk sebuah untai pencacah biner 13-bit, limpahan dari pencacah 13-bit ini ditampung di TFx (bisa TF0 atau TF1) yang berada di dalam register TCON. Pada saat terjadi limpahan (dari 1FFFh ke 0000h) maka flag interupsi timer (TF1) akan diset (=1).

(36)

b. MODE 1 – Pencacah Biner 16-bit

Mode ini sama dengan mode 0, hanya saja register TLx dipakai sepenuhnya sebagai pencacah biner 8-bit, sehingga kapasitas pencacah biner yang terbentuk adalah 16-bit. Seiring dengan sinyal detak, kondisi pencacah biner 16-bit ini dimulai dari 0000h, 0001h, 0002h, ……, sampai FFFFh, kemudian kembali menjadi 0000h (pada saat itu terjadi sinyal limpahan atau overflow pada TFx).

c. MODE 2 – Pencacah Biner 8-bit dengan Isi Ulang

TLx dipakai sebagai pencacah biner 8-bit, sedangkan THx dipakai untuk menyimpan nilai yang disisikan ulang TLX setiap kali kondisi TLx melimpah atau berubah dari FFh menjadi 00h. Dengan cara tersebut bisa diperoleh sinyal overflow yang frekuensinya bisa ditentukan oleh nilai yang disimpan dalam THx.

d. MODE 3 – Gabungan Pencacah Biner 16-bit dan 8-bit

Pada mode 3 TL0, TH0, TL1 dan TH1 dipakai untuk membentuk 3 rangkaian pencacah, yang pertama adalah untai pencacah biner 16-bit tanpa fasilitas pemantau sinyal limpahan atau overflow yang dibentuk dengan TL1 dan TH1. Yang kedua adalah TL0 yang dipakai sebagai pencacah biner 8-bit dengan TF0 sebagai sarana pemantau limpahan. Pencacah biner ketiga adalah TH0 yang dipakai sebagai pencacah biner 8-bit dengan TF1 sebagai sarana pemantau limpahan, dengan demikian TH0 yang mengendalikan interupsi timer 1 (TF1).

Mode 3 biasanya digunakan pada aplikasi yang membutuhkan sebuah timer atau pencacah 8-bit tambahan. Dengan timer 0 pada mode 3, AT89C51 seakan-akan memilki 3 buah timer. Pada mode 3 ini, timer dapat dihidupkan dan dimatikan menggunakan M1 dan M0 pada register TMOD. Pada kasus seperti ini, timer 1

(37)

masih dapat digunakan oleh port serial untuk menghasilkan baud rate, atau aplikasi apa saja yang tidak membutuhkan interupsi.

2.1.4.3. Register Pengatur Timer.

Register timer digunakan untuk mengatur timer. Register pengatur timer terdiri dari register TCON dan register TMOD. Register-register tersebut merupakan register untuk mengatur kerja timer 0 dan timer 1. Perhatikan Gambar 2.3 dan 2.4 di bawah:

TMODE-TIMER MODE REGISTER

Gambar 2.3 Susunan Bit dalam Register TMODE [1]

TCON-TIMER CONTROL REGISTER

Gambar 2.4 Susunan Bit dalam Register TCON [1]

(38)

Register TMOD dan register TCON merupakan register yang digunakan untuk mengatur kerja timer 0 dan timer 1, susunan bit register TMOD dan TCON masing-masing ditunjukkan dalam gambar A dan B. Register TMOD dibagi menjadi 2 bagian secara simetris, bit 0 sampai 3 (TMOD.0 s/d TMOD.3) dipakai untuk mengatur timer 0, sedangkan bit 4 sampai 7 (TMOD.4 s/d TMOD.7) dipakai untuk mengatur timer 1, penjelasan sebagai berikut :

Bit M0/M1 dipakai untuk menentukan Mode Timer seperti yang ditunjukkan pada tabel digambar 2.3

a. Bit C/T dipakai untuk mengatur sumber sinyal detak yang diberikan ke pencacah biner. Jika C/T = 0, maka sinyal detak diperoleh dari osilator kristal yang frekuensinya sudah dibagi 12, sedangkan jika C/T = 1 maka sinyal detak diperoleh dari kaki T0 (untuk timer 0) atau kaki T1 (untuk timer 1).

b. Bit gate merupakan pengatur saluran sinyal detak. Bila bit GATE = 0, saluran sinyal detak hanya diatur oleh bit TRx (bisa TR0 atau TR1 pada register TCON).

Bila bit GATE = 1 kaki INT0 (untuk timer 0) atau kaki INT1 (untuk timer 1) yang dipakai untuk mengatur sinyal detak.

Register TCON dibagi menjadi 2 bagian, 4 bit yang pertama (bit 0 sampai bit 3) dipakai untuk keperluan mengatur kaki INT0 dan INT1. Sisa 4 bit dari register TCON (bit 4 sampai dengan bit 7) dibagi menjadi 2 bagian secara simetris yang dipakai untuk mengatur timer 0 / timer 1, sebagai berikut:

a. Bit TFx (TF0 atau TF1) merupakan bit penampung limpahan, TFx akan menjadi

‘1’ setiap kali pencacah biner yang terhubung padanya melimpah atau overflow (kondisi pencacah berubah dari FFFFh kembali menjadi 0000h). Bila TFx bias

(39)

dinolkan secara manual dengan instruksi CLR TF0 atau CLR TF1. Jika sarana interupsi dari timer 0/ timer 1 dipakai, TFx dinolkan saat AT89C51 menjalankan rutin layanan interupsi (ISR-Interupt Service Routine).

b. Bit TRx (TR0 atau TR1) merupakan bit pengatur saluran sinyal detak, bila bit ini

= 0 sinyal detak tidak disalurkan ke pencacah biner sehingga pencacah berhenti melakukan pencacahan. Bila bit GATE = 1 pada register TMOD, maka saluran sinyal detak ini diatur bersama TRx dan sinyal pada kaki INTO/INT1.

2.1.5. Sistem Interupsi pada AT89S51.

AT89S51 menyediakan 5 sumber interupsi yaitu : dua interupsi internal, dua interupsi Timer dan sebuah interupsi Port serial.

2.1.5.1. Struktur Interupsi.

Interupsi eksternal INT0 dan INT1 dapat dipilih dengan dua macam pilihan:

aktivasi tingkat (level activated) atau aktivasi transisi (trantition activated).

Tergantung pada bit IT0 dan IT1 dalam register TCON. Tanda atau flag yang sesungguhnya menghasilkan interupsi ini adalah bit-bit IE0 (TCON.1) dan IE1 (TCON.3) dalam register TCON. Saat rutin layanan interupsi (RL1) dijalankan, mikrokontroler secara otomatis akan menolkan tanda interupsi terkait asal interupsi tersebut diaktivasi dengan transisi. Jika aktivasi secara tingkat (level), maka sumber eksternal-lah yang mengontrol tanda interupsi tersebut.

Interupsi timer 0 dan timer 1 dihasilkan oleh TF0 dan TF1, terjadi pada saat muncul limpahan pada masing-masing timer (kecuali timer 0 pada MODE 3). Saat terjadi interupsi timer, mikrokontroller akan menolkan tanda-tanda tersebut. Interupsi port serial terjadi baik pada saat RI = ! atau TI = 1 (pada saat selesai penerimaan atau

(40)

pengiriman data). Dalam hal ini bit-bit RI dan TI harus dinolkan secara manual melalui program yang ditulis.(akan dijelaskan pada pasal-pasal berikutnya). Kedua interupsi port serial ini digabung menggunakan OR. Begitu juga dengan interupsi Timer 2 (TF2) dan masukkan eksternal 2 (EXF2). Hasil dari masing-masing gerbang OR tersebut yang kemudian akan menghasilkan interupsi yang bisa diaktifkan melalui bit IE.4 untuk RI atau TI dan IE.5 untuk TF2 atau EXF2.

Semua bit yang menyebabkan terjadinya interupsi bisa diset atau dinolkan melalui perangkat lunak dan hasilnya sama jika dilakukan melalui perangkat keras.

Dengan demikian interupsi bisa dihasilkan maupun dibatalkan melalui program.

2.1.5.2. Mengaktifkan dan Menon-Aktifkan Interupsi

Perhatikan gambar sebelumnya., masing-masing sumber interupsi tersebut dapat diaktifkan dan dinon-aktifkan sendiri-sendiri dengan mengatur bit-bit yang terkait dalam register IE (interupt enable) di alamat A8h. Selain pada register IE juga terdapat sebuah bit yang digunakan untuk mengaktifkan dan menon-aktifkan interupsi secara keseluruhan. Pada AT89C51 bit IE.5 belum terimplementasikan.

2.1.5.3. Tingkat Prioritas Interupsi

Masing-masing interupsi dapat diprogram tingkat prioritas -nya dengan mengatur bit-bit yang terkait pada register IP (alamat B8h). perhatikan gambar sebelumnya dan tabel 2.3.

Register IP akan berisi nol saat reset yang mengakibatkan semua interupsi di tempatkan sebagai prioritas rendah. Dengan adanya sistem prioritas maka saat sebuah rutin layanan interupsi dikerjakan bisa diinterupsi dengan interupsi yang

(41)

prioritas-nya lebih tinggi. Karena hanya ada dua tingkat prioritas, maka interupsi yang prioritas rendah bisa diinterupsi dengan yang prioritas-nya lebih tinggi, sedangkan interupsi dengan prioritas tinggi tidak dapat diinterupsi lagi.

Tabel 2.3 Tingkat Prioritas Interupsi.[1]

Bit Simbol Alamat Bit

Keterangan

(1 = level tinggi, 0 = level rendah

IP7 - -

IP6 - -

IP5 PT2 BDh Prioritas untuk interupsi Timer 2 IP4 PS BCh Prioritas untuk interupsi Port Serial IP3 PT1 BBh Prioritas untuk interupsi Timer 1 IP2 PX1 Bah Prioritas untuk interupsi Ekternal 1 IP1 PT0 B9h Prioritas untuk interupsi Timer 0 IP2 PX0 B8h Prioritas untuk interupsi Ekternal 0

2.1.5.4. Teknik Polling

Pada saat ada dua interupsi dengan prioritas yang sama muncul bersamaan, maka dilakukan polling untuk menetukan mana yang dilayani terlebih dahulu. Urutan polling sebagai berikut: eksternal 0, eksternal 1, timer 1, port serial kemudian baru timer 2.

2.1.5.5. Pemrosesan Interupsi

Saat terjadi interupsi, kemudian diterima CPU didalam mikrokontroller, maka program akan dihentikan terlebih dahulu kemudian dikerjakan langkah-langkah penanganan interupsi sebagai berikut :

1. Instruksi yang sedang dikerjakan diselesaikan terlebih dahulu 2. Isi PC (pencacah program) disimpan ke stack

3. Status interupsi yang bersangkutan disimpan ke stack 4. Interupsi-interupsi pada tingkat yang sama di-blockir

(42)

5. PC kemudian diisi alamat vektor rutin layanan interupsi (RLI) yang bersangkutan 6. RLI dikerjakan.

RLI diakhiri dengan instruksi RETI (bukan RET). Adanya instruksi RETI ini maka alamat PC yang terakhir yang tersimpan di stack diambil lagi dan status interupsi sebelumnya dikembalikan, sehingga program utama sempat ditinggalkan dapat diteruskan lagi.

2.1.5.6. Vektor-Vektor Interupsi

Saat suatu interupsi diterima, nilai yang disimpan ke PC sebagai alamat RLI selanjutnya disebut sebagai vektor interupsi, yang sekaligus merupakan awal alamat RLI yang bersangkutan. Lihat tabel 2.4

Tabel 2.4 Vektor-Vektor Interupsi [1]

Interupsi Tanda Flag Alamat Vektor

Reset Sistem RST 0000h

Eksternal IE0 0003h

Timer 0 TF0 000Bh

Eksternal 1 IE1 0013h

Timer 1 TF0 001Bh

Timer 2 TF2 atau EXF2 002Bh Port Serial RI atau TI 0023h

2.1.5.7. Perancangan Program Interupsi

Program yang menggunakan interupsi sebaiknya (disarankan) menggunakan kerangka sebagai berikut :

1: ORG OH

2: LJMP UTAMA

3: . . . ; letak RLI

4: ORG 30H ; awal program utama

5: UTAMA: . . . ; program utama dimulai

(43)

Instruksi diawal program (baris 2) digunakan untuk meloncati lokasi RLI (0h sampai 2Fh) ke program utama di lokasi 30h, hal ini terkait dengan kenyataan bahwa mikrokontroller akan memulai menjalankan instruksi di lokasi 0h setelah dihidupkan atau RESET.

2.2. Transistor Sebagai Saklar.

Komponen transistor juga terbuat dari bahan semikonduktor dengan susunan pn junction adalah seperti gambar 2.5. Ada dua jenis transistor yaitu jenis NPN dan jenis PNP. Simbol untuk transistor dapat dilihat pada gambar 2.5

Gambar 2.5 Jenis Transistor dan Simbol Transistor. [2]

Gambar 2.6 Rangkaian Skema Dasar Konfigurasi Saklar Menggunakan transistor [2]

(44)

Di sini transistor berfungsi sebagai saklar untuk menyalakan LED maupun seven segment secara bergantian sehingga seakan-akan LED maupun seven segment terlihat seperti menyala bersamaan. Jika untuk menghidupkan 8 buah seven segment Port paralel pada AT89S51 tidak mencukupi karena untuk menyalakan 8 buah seven segment membutuhkan 7 Port parallel, sedangkan AT89S51 hanya memiliki 4 Port parallel. Agar transistor bekerja di daerah jenuh dan daerah cuf off, maka dapat dilakukan dengan mengatur Vb dan menentukan tahanan Rb, dan juga tahanan beban RL. untuk mendapatkan on-off yang bergantian dengan periode tertentu, maka dapat dilakukan dengan memberikan tegangan Vb berupa pulsa.

Apabila Vb = 0, maka transistor off (cut off). Apabila Vb = V1, dan dengan mengatur Rb dan RL sedemikian rupa, sehingga arus Ib yang akan menyebabkan transistor dalam keadaan jenuh (Vce = 0; Vsat = 0.2 Volt).

1. Pada kondisi Vb = 0, harga Ic = 0, berdasarkan persamaan loop:

Vcc + IcR1-Vce.= 0, dihasilkan Vce = +Vcc

2. Pada kondisi Vb = V1, harga Vce = 0 dan Ic = I saturasi (Isat)

Cara penyalaan secara bergantian tersebut dinamakan dengan teknik scanning dan hanya membutuhkan 2 Port saja, Port 0 digunakan untuk mengirim data karakter yang akan ditampilkan pada seven segment, sedangkan Port 1 digunakan sebagai

“saklar” yang menghubungkan antara Vcc dan CA pada seven segment, karena register port 1 (P1) panjangnya 8 bit, maka bisa digunakan untuk “saklar” 8 buah seven segment. Konfigurasi saklar menggunakan transistor PNP dengan skema dasar ditunjukkan pada gambar 2.6.

(45)

2.3 Seven Segment.

Komponen yang sering digunakan sebagai penampil selain LCD adalah seven segment. Seven segment adalah susunan dari beberapa LED, susunan LED tersebut terdiri dari 7 buah LED untuk menampilkan angka 1 sampai dengan 9 dan 1 buah LED untuk menampilkan titik. Setiap segment diberi nama dengan huruf dari a sampai dengan g, sedangkan untuk menampilkan titik diberi nama dp. Dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.7 Seven Segment. [6]

Gambar 2.8 Seven Segment Gambar 2.9 Seven Segment Commond Anode [6] Commond Catode [6]

(46)

Terdapat dua jenis seven segment pada umumnya, yaitu common anode dan common catode. Perbedaan dari kedua jenis seven segment tersebut adalah pada letak penyusunan LED. Jika seven segment jenis common anode susunan kaki-kaki anode terhubung menjadi satu, sedangkan seven segment jenis common catode susunan kaki-kaki catode terhubung menjadi satu. Dapat dilihat pada gambar 2.8 dan 2.9.

2.4. Decoder BCD

IC (Integrated Circuit) decoder BCD digunakan untuk membantu mengaktifkan seven segment. IC ini berfungsi untuk mengubah masukan yang berupa kode BCD menjadi kode 7 bit, dengan IC tersebut seven segment akan menghasilkan tampilan angka decimal yang sesuai dengan kode BCD yang dimasukkan decoder BCD ke seven segment. IC yang sering digunakan untuk mengaktifkan seven segment adalah tipe 7447. Simbol IC decoder 7447 dapat dilihat pada gambar 2.10.

Gambar 2.10 Simbol IC 7447 [6]

Kaki a, b, c, d, e, f, g adalah kaki keluaran yang mempunyai keluaran aktif

“rendah”, yaitu dalam keadaan normal kaki tersebut mempunyai keadaan “tinggi”

dan jika IC tersebut aktif maka berubah menjadi “rendah”. Jika dilihat dari kondisi tersebut, maka decoder ini digunakan untuk seven segment jenis common anode.

(47)

Kaki LT (LampTest), RBI (Ripple Blanking Input), BI/RBO (Blanking Input/Ripple Blanking Output) merupakan masukan yang aktif “rendah”. Jika kaki LT mendapat masukan “rendah” maka seluruh kaki keluaran a, b, c, d, e, f, g menjadi aktif dan seven segment akan menampilkan angka 8. Sedangkan kaki BI, jika mendapat masukan “rendah” maka kaki keluaran akan menjadi “tinggi” dan seven segment akan mati. Bila kaki RBI mendapat masukan “rendah” maka seven segment akan mati. Tabel 2.5 adalah tabel kebenaran IC 7447.

Berdasarkan tabel 2.5, jika IC 7447 dihubungkan dengan seven segment maka akan menampilkan seperti pada gambar 2.11.

Gambar 2.11 Tampilan Seven Segment Menggunakan IC 7447 [6]

Tabel 2.5 Tabel Kebenaran IC 7447. [6]

L= Low (Rendah) H= High (Tinggi) X= don’t care

(48)

2.5. LED (Light Emitting Diode) sebagai Penampil.

LED digunakan sebagai penampil untuk pengganti pasir pada jam pasir analog. Banyak pilihan warna pada LED, tergantung bahan apa yang digunakan pada LED. Pada gambar 2.12 menunjukkan bentuk fisik dari LED.

Gambar 2.12 Gambar Fisik LED [8]

(49)

3.1 Diagram Blok Rangkaian

Dalam perancangan Jam Pasir Digital Berbasis Mikrokontroler AT89S51 menggunakan komponen-komponen dasar, antara lain:

1. LED sebagai komponen pengganti pasir sebanyak 32 buah.

2. Mikrokontroler sebagai komponen yang berfungsi untuk pengontrol LED, supaya menyerupai kerja jam pasir manual.

3. Seven segment sebagai komponen yang berfungsi sebagai penampil waktu berupa angka desimal.

Untuk perancangan dan pembuatan jam pasir dari yang bersifat manual ke jam pasir yang menggunakan teknologi elektronika, maka diagram blok dari rangkaian tersebut seperti pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Diagram Blok Rangkaian

30

(50)

Gambar 3.2 adalah layout jam pasir digital. Pada layout jam pasir digital terdapat 4 buah tombol sakelar yang mempunyai fungsi sebagai tombol start, reset, up, down. Selain tombol sakelar juga terdapat 2 buah seven segment dan 32 buah LED. Seven segment berfungsi untuk menampilkan waktu dalam satuan menit dan LED untuk menampilkan aliran pengganti pasir.

Gambar 3.2 Layout Jam Pasir Digital

3.2 Perancangan Rangkaian

Untuk memberi kemudahan dalam menganalisa dan mempelajari diagram blok rangkaian gambar 3.1, maka setiap blok akan dipisah satu-persatu, yaitu :

1. Rangkaian Sakelar

2. Rangkaian Unit Pengolah.

3. Rangkaian Indikator.

4. Rangkaian Seven segment.

(51)

3.2.1 Rangkaian Switch

Dalam perancangan jam pasir ini, digunakan 4 buah tombol (switch) yang umum digunakan (push button). Ke 4 tombol tersebut dapat dilihat pada gambar 3.3

Down

10k

P3.5

5 Volt

P3.6

P3.7 Reset

Up

10uF

Start Reset

Gambar 3.3 Rangkaian Switch Dari ke 4 tombol tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Menjalankan perintah Start.

2. Menjalankan perintah Reset.

3. Menjalankan perintah Up, untuk penambahan waktu pada seven segment.

4. Menjalankan perintah Down, untuk pengurangan waktu pada seven segment.

Dalam perancangan jam pasir digital digunakan 4 buah tombol, keempat tombol tersebut terdiri dari tombol start, reset, up, down. Fungsi dari empat tombol tersebut sebagai tombol untuk menjalankan perintah start (port P3.7 yaitu pin 17) yang dihubungkan dengan ground dan untuk menjalankan perintah reset (port RST yaitu pin 9), sedangkan tombol up (port P3.5) dan down (port P3.6) untuk mengatur waktu perpindahan aliran LED dari atas ke bawah, hingga LED bagian bawah menyala semua. Gambar 3.2 adalah gambar rangkaian switch.

(52)

3.2.2 Rangkaian Unit Pengolah

Mikrokontroler menjadi pengendali utama dari rangkaian jam pasir.

Pengendali (mikrokontroler AT89S51) tersebut memiliki 4 port (port 0, 1 2, 3).

Dengan port-port tersebut, maka setiap bagian yang akan dikendalikan atau diolah oleh mikrokontroler dapat terpenuhi dalam perancangan sistem jam pasir digital.

Pada gambar 3.4 kristal (XTAL) berfungsi sebagai detak (clock) sebagai pengatur siklus sinyal keluaran. Pembangkit clock internal menentukan kondisi- kondisi (state) yang membentuk sebuah siklus mesin mikrokontroler. Jadi, satu siklus mesin paling lama dikerjakan dalam 12 periode osilator atau 1 µd, karena pada rangkaian mikrokontroler menggunakan kristal 12 MHz.

Gambar 3.4 Rangkaian mikrokontroler

(53)

3.2.3 Rangkaian Indikator

Pada rangkaian indikator, digunakan transistor PNP 9012 yang berfungsi sebagai saklar. Transistor seri 9012 dan 9013 dipilih karena masisng-masing memiliki β sebesar 78 (minimum) dan 64 (minimum). Pada transistor PNP 9012 kaki emitor dihubungkan dengan Vcc dan kaki basis dihubungkan dengan P1.0 (salah satu dari port mikrokontroler). Jika Vcc = 5 V dan P1.0 = 0.45 V pada saat logika rendah (dianggap di-ground-kan), maka transistor dalam keadaan jenuh (saturasi) atau VEC

= 0. Jadi, jika transistor dalam keadaan jenuh (saturasi) berarti transistor ON.

Sebaliknya jika pada kaki basis mendapat tegangan dari P1.0 pada saat logika tinggi sebesar 5 volt, maka transistor dalam keadaan cut off. Jika transistor dalam keadaan cut off, maka transistor OFF. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5 Rangkaian Cuplikan dari Rangkaian Indikator Transistor sebagai Saklar

(54)

ON saat Saturasi ; OFF saat Cut Off

B in EB E

BSat R

V V

I V −( + )

=

RB

V V

V (0.7 0.45 )

5 − +

=

mA I

IC1 = LED =10

B

C I

I 1 =β.

βC1

B

I = I

78 IB =10mA

mA IB =12.82

B in EB E

BSat R

V V

I V −( + )

=

RB

V V

mA 5V (0.7 0.45 ) 82

.

12 − +

=

mA RB V

82 . 12

85 .

= 3

Ω

=300.31 RB

Jadi resistor (RB) menggunakan 300B Ω

C LED E

C I

V

R V

=

mA V RC V

10 1 . 2 5 −

=

Ω

= 290 RC

Jadi resistor (RC) menggunakan 300Ω

(55)

LED 300

300

LED

PA1.3

300

LED

PB3.2 300

PB0.1

PB2.1

300

LED LED

300

300

LED PA0.2

PB3.5

LED

PA1.5

P1.3

PA2.2

LED 300

LED

LED

300 5V

PA0.2

P1.4

PB3.1 9012PNP

LED

P1.2

PA2.4 PA2.1

300

LED PA4.1

LED

LED

LED

300 PA2.3

PB3.5

300 9012

PNP

PA2.5

PB2.2 5V

PA3.3

PB2.5 P1.0

PA1.4

5V

300

PA4.1 PA1.1

LED

P2.4

300

300

LED PA1.4

PB3.2 300 PB2.2

300

PA2.5

PA3.2

5V

300

LED

Q 10 PNP

PB2.3 5V

300 P1.1

PB1.1

PB3.3 300

PB2.4 LED PA1.3

5V

300

300

PB4.1 PA1.2

PA3.3 5V

PB2.5 LED

9012 PNP

PB1.1

PB2.1

LED

PB4.1 LED

9012PNP

PA1.5

PB1.3 PA3.1

LED

PB1.3 5V

300

300 PA2.2 300

PA2.3 5V

300

300

P2.2

PB0.1

9012 PNP

LED PA0.1

PA3.2

PA3.1 9012PNP

LED

300 9012

PNP

PA1.1 PA1.2 5V

9012 PNP

LED P2.1

LED

PB3.4 300

P2.0

PB3.4

LED PA0.1

PA2.1

300

300

LED

P2.3

9012 PNP

300 LED 300

LED

PB3.1

PB4.2 PB1.2

PB2.3 300

PA2.4

PB4.2 PB2.4

300

PB1.2 300

300 300

300 300 LED

300

300

PB3.3

Gambar 3.6 Rangkaian LED Indikator

(56)

Jika pada gambar 3.5 adalah gambar cuplikan dari rangkaian indikator, maka pada gambar 3.6 adalah gambar rangakain indikator utuh dengan 10 transistor PNP 9012.

Perancangan rangkaian indikator berfungsi untuk mengatur jenis-jenis aliran LED agar perpindahan LED dari atas ke bawah dapat terlihat secara teratur, walaupun aliran LED diatur pada saat program dijalankan oleh mikrokontroler.

Rangkaian indikator tersebut menggunakan 3 buah port yaitu port 1 (P1.0…..P1.5), port 2 (P2.0…..P2.5) dan port 3 (P3.0…..P3.5), dapat dilihat pada gambar 3.6.

3.2.4 Rangkaian Tampilan Seven Segment

Gambar 3.7 Rangkaian Penampil Waktu pada Seven Segment

Gambar 3.7 merupakan gambar rangkaian seven segment untuk menampilkan tampilan waktu dalam satuan menit. Berdasarkan data sheet dari seven segment, dapat diketahui bahwa arus yang dapat melewati seven segment atau IF(7’S) = 10mA dengan tegangan VF(7’S) = 1.8 V. Tegangan keluaran dari decoder pada saat logika rendah sebesar VOL = 0.25 V, maka resistansi yang harus digunakan agar tidak

(57)

melebihi batas maksimal 2.2 V (data sheet seven segment) dapat diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut:

Vcc = VF(7’S) + VRS + VOL

= VF(7’S) + IF(7’S).RS + VOL

Rs =

) ' 7 (

) ' 7

( )

(

S F

OL S F cc

I

V V

V − +

=

mA V V

V 10

) 25 . 0 8 . 1 (

5 − +

= 295Ω

Karena resistor 295Ω tidak ada di pasaran maka dalam perancangan, nilai resistor yang digunakan menjadi 300Ω. Jika resistor yang digunakan sebesar 300Ω kemungkinan besar komponen akan terhindar dari arus lebih.

Dalam perancangan, seven segment berfungsi untuk menampilkan waktu dalam hitungan menit, maka digunakan transistor yang berfungsi sebagai saklar untuk proses scanning kedua seven segment. Karena kedua seven segment pada gambar 3.7 tidak dapat menyala bersamaan, maka digunakan teknik scanning pada kedua seven segment. Karena proses scanning pada seven segment sangat cepat, maka seven segment kelihatan menyala bersamaan tetapi sebetulnya menyala bergantian.

Transistor yang digunakan adalah transistor PNP karena mikrokontroler akan mengeluarkan logika rendah sebagai tanda aktif seven segment. Transistor seri 9012 dipilih karena memiliki β sebesar 78 (minimum). Tegangan keluaran mikrokontroler pada saat logika rendah adalah VOL(mikro) sebesar 0.45 V. Perhitungan untuk menentukan nilai resistor pada kaki basis adalah sebagai berikut:

(58)

IC = 8.10mA = 80mA

IC = β .IBB

= βC I

= 78 80mA

= 1.025mA RB = B

B B

I V

=

B

mikro OL BE CC

I V V

V −( + ( ))

=

mA V V

V

025 . 1

) 45 . 0 7 . 0 (

5 − +

= 3756.1Ω

Karena resistor dengan nilai 3756.1Ω tidak terdapat di pasaran maka digunakan resistor dengan nilai 3900Ω.

3.3 Perancangan Software

Untuk menjalankan aliran LED dari atas ke bawah dengan perubahan waktu yang telah ditentukan (range waktu perpindahan LED) yaitu dengan menekan tombol start. Saat tombol start ditekan, maka mikrokontroler akan aktif dan melakukan inisialisasi, yaitu mengisi data-data dalam mikrokontroler dari data-data awal program.

(59)

Perubahan waktu ditentukan dengan menekan tombol up atau down dan mikrokontroler akan mengaktifkan seven segment untuk tampilan waktu awal “3.0”.

Kemudian mikrokontroler akan masuk ke subrutin cek tombol, dalam subrutin apabila tombol up atau down ditekan maka program akan masuk ke program utama untuk menjalankan program utama. Pada rangkaian jam pasir digital terdapat 5 baris LED, jadi setiap ada masukan perubahan waktu perpindahan LED dari tombol up atau down, maka setiap masukan tersebut akan dibagi 5. Maksimal masukan untuk perubahan waktu perpindahan LED adalah 60 menit dan minimal masukan perubahan waktu perpindahan LED adalah 0 menit. Waktu default pada jam pasir digital di-set pada program, yaitu sebesar 30 menit. Jika masukan perubahan waktu perpindahan LED 15 menit, dapat diperoleh:

5 15menit T =

= 3 menit

Jadi ketika masukan perubahan waktu perpindahan LED 15 menit, maka setiap baris pada indikator mempunyai waktu perpindahan 3 menit.

Prinsip kerja dari jam pasir ini adalah jika tombol start ditekan, maka jam pasir akan bekerja. LED pada bagian atas jam pasir akan menyala sesuai waktu default pada program yaitu 30 menit dan waktu setting-an tersebut akan ditampilkan pada seven segment. LED tersebut akan mati tiap baris dari atas ke bawah, dan berpindah ke LED bagian bawah jam pasir. Pada LED bagian bawah jam pasir akan menyala tiap baris dari bawah ke atas sampai penuh. Jika tombol Up atau Down ditekan, maka waktu perubahan untuk setting waktu akan bertambah 1 menit untuk sekali penekanan tombol Up dan akan berkurang 1 menit untuk sekali penekanan

(60)

tombol Down. Penambahan dan pengurangan waktu perubahan waktu tersebut nantinya juga akan ditampilkan pada seven segment. Tombol Reset berfungsi untuk mengembalikan setting-an awal. Proses penyalaan LED dapat dilihat pada gambar 3.8.

Gambar 3.8 Gambar Pergerakan LED

Gambar

Gambar 2.1 Blok Diagram AT89S51 [1]
Gambar 2.2 Peta Memori Interupsi [1]
Tabel 2.2 Instruksi Membaca Tabel Tengok [1]
Gambar 2.3 Susunan Bit dalam Register TMODE [1]
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Terdapat beberapa kekurangan dalam komitmen manajemen seperti menetapkan kebijakan mutu dan sasaran kemudian menyediakan sumber daya dan pelatihan, dibutuhkanya sumberdaya

Langkah atau meja keempat Posyandu sekaligus adanya penyuluhan kesehatan, menjelaskan data KMS atau keadaan anak berdasarkan data kenaikan berat badan yang digambarkan

Jika ianya bukan demikian bentuk rupa yang khusus ini diketahui oleh Allah dan dikehendaki oleh-Nya, Dia tidak akan membawa kita kepada kewujudan atasnya, dan rupa bentuk ini

Tapi apabila dilihat dari jumlah data error pada sistem komunikasi kooperatif yang dipengaruhi gangguan AWGN dan multipath fading dengan teknik AF dan tanpa teknik AF

[ mana-mana 1P] Dapat menyatakan dua faktor umum yang menentukan molekul yang boleh bergerak merentasi membran plasma Jawapan. P1 –

Faktor kimia juga dapat mempengaruhi faktor depresi pada pasien diabetes melitus tipe 2. Beberapa zat kimia yang dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan seperti polusi udara

Bagi pihak sekolah diharapkan mampu mempertahankan kondisi peserta didik yang memiliki empati yang tinggi serta perilaku altruis tik yang tinggi, dapat dilakukan dengan

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan tentang respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran demonstrasi di kelas VIII SMP Negeri 9 Kota