Ξ77Ξ
PERETAS WAKTU
White is not always light Black is not always dark
M
oira mengangkat kepalanya, dan dia melihatElaidar masuk ke dalam kamar.
Namun, kali ini Elaidar tak sendiri, ada sosok lain yang mengikuti di belakangnya. Berbeda dengan sebelumnya, sosok ini sekarang mengenakan pakaian putih pelayan suci yang tak mencolok dengan tudung putih di kepalanya.
Menatap wanita itu, Moira seketika terlonjak dari duduknya dan langsung menghambur dengan penuh semangat.
“Ibu!” serunya keras penuh haru. Tubuh Moira bergerak cepat, melompat dari tempatnya seolah tak peduli dengan gaun panjang yang dikenakannya.
Bahkan, seruan dari Elaidar yang cemas dan memintanya untuk berhati-hati sama sekali tak didengarnya. Yang ada di benaknya sekarang adalah hanya ibunya. Dan seketika itu juga, saat dia mencapai ibunya, Moira pun langsung menubruk dan memeluk ibunya erat-erat seolah tak mau melepaskannya.
“Ibu! Ibu! Ibu!” Suara Moira dipenuhi keharuan, merasakan kehangatan tubuh ibunya, merasakan aroma ibunya yang
menyenangkan dan
dirindukannya, merasakan pelukan tangan ibunya yang balas memeluk tubuhnya, hati Moira seolah meledak dipenuhi rasa syukur yang amat sangat membuat gelombang panas memenuhi dadanya dan isak tangis seketika meluncur keras dari mulutnya, dibarengi dengan
air matanya yang menghambur deras.
“Ah, Moira... Moira... kau tidak boleh menangis. Ini adalah malam pengantinmu, bagaimana Sang Suci Yang Mulia nanti jika menemukanmu dengan mata sembap?” Nyonya Meera menasihati Moira dengan cepat, perempuan itu menjauhkan Moira yang menempel erat di pelukannya yang seperti anakan koala dan kemudian menggunakan tangannya untuk mengusap air mata Moira.
“Jangan menangis, jangan menangis—” Nyonya Meera terus menyerukan nasihat yang sama, akan tetapi kalimatnya itu tak sesuai dengan apa yang terjadi pada dirinya, sebab pada saat ini, air mata Nyonya Meera juga mengalir dengan begitu
deras, menunjukkan
keharuannya.
Elaidar yang melihat pertemuan ibu dan anak itu, merasakan haru di dalam hatinya.
Dia memang tak tahu dengan pasti apa yang terjadi sehingga
Ibu dan anak itu bisa berpisah, tetapi sedikit banyak, dari apa yang dijelaskan oleh Panglima Suci Vernon, tampaknya sang ibu dan anak ini berpisah karena campur tangan Raja Zilas yang gila, sebab identitas Nyonya Meera jelas sangat mengejutkan karena beliau adalah kakak tiri Raja Zilas!
Yah... Raja jahat itu pasti sedang mempermainkan nasib Moira dan ibunya dengan memisahkan ibu dan anak ini.
Sungguh Raja Zilas memang
pantas menyandang status sebagai Raja gila, beliau bahkan cukup terkenal karena setelah naik takhta, langsung membunuh semua anggota keluarganya sendiri sampai habis dengan keji.
Sungguh beruntung Nyonya Meera bisa bertahan sampai saat ini dan tak terbunuh, itu semua pasti akibat campur tangan Sang Suci Yang Mulia yang berusaha membantu pengantinnya untuk bisa bertemu dengan ibunya lagi.
Elaidar mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang
didapatnya, tak tahu bahwa kenyataannya, Raja Zilas sama sekali tak bersalah dalam hal ini dan perpisahan Moira dan ibunya sebagian besar disebabkan oleh campur tangan Panglima Agung Cassius, yang memiliki kharisma kesatria di mata semua orang sehingga dipandang tak mungkin melakukan perbuatan jahat seperti memisahkan ibu dan anak.
Kalau saja Raja Zilas bisa membaca pikiran Elaidar yang mengutuknya atas kejahatan
yang tidak dilakukannya saat ini, pastilah Raja Zilas akan merasa sangat kesal karena dituduh melakukan perbuatan dosa padahal dia tak bersalah sama sekali.
***
S
uara bersin Raja Zilas terdengar sangat keras, menggema memenuhi ruangan sehingga membuat Cassius maupun Izaka sama-sama menoleh ke arahnya.Pada saat ini, suasana jamuan pesta masih begitu meriah di luar sana, tetapi Izaka memilih masuk ke area balkon pribadi yang tertutup oleh dinding kaca, memberi isyarat kepada Raja Zilas dan Cassius untuk mengikutinya dalam diam.
Segera setelah mereka bertiga ada di area balkon itu, Izaka memasang lapisan pelindung magis untuk mencegah apa yang mereka bicarakan sampai keluar dari tempat ini. Meskipun tak ada orang yang begitu gila berani
mendekat untuk menguping di lokasi ketika ketiga pilar berkumpul, tetap tak ada salahnya Izaka berjaga-jaga demi menjaga situasi tetap lurus pada jalur yang direncanakannya.
Seolah tak merasa bersalah, Raja Zilas menyeringai lebar, lalu bergerak mengusap hidungnya dengan tangannya.
“Hidungku gatal.” Sang Raja mengangkat bahunya.
“Sepertinya ada orang yang sedang mengutukku diam-diam
saat ini,” ucap Raja Zilas dengan curiga.
Cassius menipiskan bibirnya, menatap Raja Zilas dengan tatapan mencemooh.
“Jika kau merasa hidungmu gatal setiap ada orang yang mengutukmu, pada saat ini hidungmu pasti sudah musnah karena sudah digaruk terlalu sering,” ucap Cassius sambil lalu.
Mendengar ucapan Cassius yang tajam itu, Raja Zilas tak bisa menahan diri untuk tak tertawa
keras, dia sama sekali tak tersinggung, malahan menganggap perkataan Cassius sebagai sesuatu yang lucu.
“Ah, Panglima Agung Cassius yang berkharisma, orang selalu berpikir bahwa hanya hal-hal baik yang kau ucapkan, tetapi sekarang kau bisa mengutuk dan mencela orang lain, bahkan kata- katamu lebih tajam dari mulut seorang perempuan yang dilanda cemburu.” Raja Zilas menatap Cassius dengan tatapan mengejek. “Apakah karena
sekarang kau telah lepas dari belenggu anak mama sehingga kau berada dalam fase pemberontakanmu? Menikmati kebebasanmu dan ingin menanggalkan topeng Cassius yang berbudi baik di mata semua orang?” serang Raja Zilas dengan nada suara tajam berbalur tawa.
Ekspresi Cassius menggelap ketika mendengar kalimat Raja Zilas itu. Akan tetapi, dia adalah salah satu orang yang tahu, bahwa Raja Zilas adalah sosok yang tak perlu dilayani. Lelaki itu,
secara singkat adalah lelaki gila, tak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tak ada yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Karena itulah, mengikuti provokasinya hanya akan membuang energi yang seharusnya bisa disalurkan untuk hal-hal yang lain.
Memikirkan itu membuat Cassius menguatkan kesabarannya dan memfokuskan pandangannya ke arah Izaka.
“Apakah pelaku percobaan pembunuhan itu sesuai dugaan?
Apakah kau sudah mendapatkan hasil?” Segera setelah Izaka sang suci menikah dengan Moira, maka mereka menjadi satu keluarga, oleh karena itu ketiga pilar sepakat untuk menanggalkan sikap formal di antara mereka. Dan saat ini, berbeda dengan sikap
mencemooh yang
ditunjukkannya saat berbicara dengan Raja Zilas, Cassius berbicara dengan Izaka dalam nada yang sangat serius.
Tentu saja dia serius dalam hal ini, sebab percobaan pembunuhan itu mengarah pada Moira, adik tirinya yang entah kenapa, akan menjadi satu- satunya orang yang memiliki hubungan darah lekat dengannya jika ayah ibunya sudah tak ada lagi.
Cassius sesungguhnya sudah menawarkan untuk mengirimkan monster beast-nya guna mencari tahu sumber dari para pembunuh itu. Meskipun dia memiliki dugaan bahwa itu adalah orang-
orang yang dikirimkan oleh Raja Barbar, tetapi dia tetap merasa harus menemukan bukti serta alasan, kenapa serangan itu baru dilakukan sekarang setelah kaum barbar memilih diam dan tak menyulut peperangan sekian lama, ditambah lagi, kenapa Moira yang diincar? Akan tetapi, tawaran Cassus menggunakan monster beast ditolak dengan tegas oleh Izaka, karena Izaka memiliki metode lain untuk mencaritahu yang tak mungkin diungkapkannya. Ya, Izaka telah
memerintahkan Morte menggerakkan pasukan deathstalker tingkat tinggi yang memiliki kemampuan menyamar untuk menyusup masuk dan menyaru sebagai kaum barbar.
Dengan kemampuan
penyamaran mereka, dengan cepat pasukan deathstalker di bawah kepemimpinan Morte bisa masuk ke area istana Raja Barbar dan mendapatkan informasi dari lingkaran dalam. Informasi itu diterima dengan cepat oleh Izaka karena dia memiliki kemampuan
untuk berkomunkasi jarak jauh dengan Morte melalui berbagai media sihir jika diperlukan. Dan setelah menerima informasi itu, Izaka memerintahkan Morte dan pasukannya untuk bertahan di sana dalam penyamaran sampai dia memberikan perintah lebih lanjut.
Menyuruh Morte dan pasukannya bertahan di area istana kaum barbar, tentu saja, Izaka sangat yakin bahwa pasukan deathstalker penyamar itu tak akan ketahuan, itu semua
karena dia sudah membuktikan kemampuan mereka. Bahkan ketika menyamar di area kastil pilar kesatria yang dipenuhi monster beast yang sensitif saja, mereka tidak ketahuan, tak perlu ditanya kemampuan mereka menyamar di area kaum barbar yang terkenal tidak sensitif dan tidak beradab.
Sambil berpikir sebelum menjawab, tatapan Izaka beralih dari Panglima Agung Cassius ke Raja Zilas, dan keningnya berkerut seketika.
Raja Zilas, tentu saja juga menawarkan untuk melakukan penyelidikan dengan menggunakan kekuatan magisnya, tetapi menyangkut yang ini, Izaka jelas menolaknya mentah-mentah. Sebab, dia tahu pasti bahwa kelemahan Raja Zilas adalah kekuatan sihir Raja Morfogh si penguasa kekuatan air dan samudera di mana Raja Morfogh membatasi wilayahnya dengan sihir dinding samudra yang sangat tinggi dan tak bisa ditembus. Kekuatan sihir Raja
Zilas memang sangat kuat, tetapi ketika dia berhadapan dengan dinding air samudera yang ditakutinya, kemungkinan besar, kekuatan sihir sang raja akan gagal menembus dinding itu.
Izaka menatap dua makhluk di depannya secara bergantian, membiarkan keduanya menunggu sejenak sebelum dia akhirnya berucap.
“Raja Morfogh adalah pelakunya. Mereka yang kubunuh, adalah bagian dari
pasukan elite Raja Morfogh yang menyusup masuk dan menyamar.
Dan anak panah itu bukanlah anak panah untuk membunuh.
Anak panah itu dilapisi dengan saripati daun Aphina yang sudah dimodifikasi dengan sihir, efeknya jika mengenai korbannya sangatlah buruk, akan membuat sang korban sakau dalam kondisi setengah hidup setengah mati dan akan terus menderita jika tak mendapatkan penawarnya.”
Cassius mengerutkan keningnya dan ekspresinya tampak menggelap.
“Kenapa Raja Barbar brengsek itu melakukan itu? Kenapa dia mengincar Moira?” geramnya cepat.
Izaka menipiskan bibir, pada saat dia berucap, aura kemarahan yang tadinya sempat reda kembali menguar dari tubuhnya, menciptakan kemurkaan yang memerahkan auranya, terasa sangat menyeramkan dan
memberdirikan bulu kuduk siapa pun yang cukup malang berada di dekatnya.
“Penawar racun itu hanya satu, korbannya harus ditiduri oleh Raja Morfogh setiap beberapa waktu sekali. Ya, penawarnya adalah benih Raja Morfogh dan efeknya pun tidak permanen, dengan kata lain, seseorang yang menjadi korban panah beracun itu, harus ditiduri secara berkala oleh Raja Morfogh, tergantung kepadanya seumur hidupnya jika dia tidak ingin jatuh lagi pada
sakau yang menyakitkan.” Izaka menjelaskan lambat-lambat sambil menggertakkan gigi, seolah setiap patah kata yang diucapkannya, berhasil menyulut kemarahannya menjadi semakin berkorbar dan siap meledak.
“Kurang ajar.” Mata hijau Cassius berkilat ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Izaka itu. Pada saat itu, dia menyadari betapa gentingnya situasi di pernikahan itu tadi.
Anak panah itu melesat dengan begitu cepat ke arah Moira.
Dirinya dan Raja Zilas gagal
memblokirnya yang
menunjukkan betapa cepatnya anak panah itu meluncur. Kalau saja Izaka tak bergerak cepat menangkap anak panah itu dengan tangannya tepat sebelum mata anak panah itu menusuk ke punggung Moira dan mengalirkan racunnya, maka saat ini kondisi Moira... dia akan terjebak dalam cengkeraman Raja Morfogh!
“Jadi, Raja Morfogh mengincar Moira.
Raja Zilas menyimpulkan dengan tenang. Dari ketiga pilar, jelas dia yang paling tampak tenang saat ini. Mata emasnya berkilat saat dia menatap Izaka dengan penuh arti. “Kenapa? Kenapa baru sekarang dan kenapa Moira? Aku bisa mengerti bahwa Raja Morfogh mungkin ingin menghina sang suci yang baru yang dianggapnya masih muda dan tak sekuat Anselm sang suci yang lama. Jika rencananya berhasil, bukankah dia bisa menginjak-injak sang suci karena
membuat sang suci terpaksa
harus menyerahkan
pengantinnya kepadanya demi menyelamatkan nyawanya? Akan tetapi, keberadaan Moira seharusnya hanya diketahui oleh mereka yang tinggal di kuil suci saja, bukan? Aku yakin bahwa kau sudah memblokir informasi tentang Moira hingga tak keluar melintasi dinding kuil suci. Akan tetapi. Raja Morfogh sudah pasti tahu tentang Moira. Jika sampai itu bocor melintasi batas wilayah hingga ke telinga kaum barbar,
dan mereka bahkan bisa menyusupkan pasukan elitenya dalam penyamaran masuk ke tempat ini, bukankah berarti ada pengkhianat di kuil suci?”
Kalimat Raja Zilas itu mungkin adalah kalimat serius terpanjang yang pernah diucapkannya. Hal itulah yang membuat baik Cassius maupun Izaka menatapnya dengan terkejut.
Sang Raja menyeringai melihat tatapan itu, mengedikkan dagunya tanpa tahu malu.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apakah kalian pikir aku bisa menjadi raja tanpa punya otak dan hanya mengandalkan kekuatan sihirku?” tanya Raja Zilas dengan angkuh.
Baik Izaka maupun Cassius, kedua-duanya memasang ekspresi wajah yang nyaris serupa, bahwa mereka sebelumnya memang berpikir persis tepat seperti itu.
Reaksi Izaka dan Cassius yang serupa itu membuat Raja Zilas merasa terhina bukan kepalang, tetapi dia tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat baginya untuk jatuh ke dalam tantrum dan mempermalukan dirinya sendiri.
Izaka yang tak ingin pembicaraan melebar kemana- mana, langsung mengambil alih situasi.
“Memang ada pengkhianat di kuil suci, tetapi untuk saat ini, aku memilih membiarkannya dan
berpura-pura tak tahu karena dia mungkin akan berguna di kemudian hari nanti.” Mata Izaka menatap dingin ke arah Cassius, lalu dia mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Raja Zilas.
“Mendina dan keluarganya, terutama ayahnya, Gordon.
Mereka bekerjasama untuk membalas dendam atas kematian Kalena. Dan menurutmu, kenapa Gordon memohon pada Raja Morfogh untuk membantunya?
Itu semua karena dia mengincar dirimu, Raja Zilas, sebagai tujuan
akhirnya. Sebab, kaulah yang membunuh Kalena.” Mata Izaka yang pucat keperakan tampak serius menatap Raja Zilas. “Raja Morfohg memiliki kekuatan yang menjadi kelemahanmu, sepertinya Gordon tahu itu, karena itulah dia memohon bantuannya.”
“Dan kenapa Morfogh bersedia membantu? Setahuku dia adalah si brengsek yang sangat serakah, tak mau melakukan apa pun jika bayarannya tak berkali-kali lipat
menguntungkannya.” Kening Raja Zilas berkerut saat menyahuti.
“Mungkin bayaran yang diberikan oleh Gordon untuk membalaskan dendam putrinya cukup besar dan menggoda bagi
Morfogh.” Cassius
menyimpulkan, menatap Izaka dengan berhati-hati sebelum melanjutkan ucapannya.
“Sepertinya, salah satunya sogokannya adalah menjanjikan Morfogh untuk memiliki
pengantin sang suci dengan mudah,” tambahnya cepat.
Izaka menganggukkan kepala.
“Morfogh adalah orang yang serakah dan jika itu berhubungan dengan tiga pilar, dia akan lebih serakah lagi serta semakin menggila.” Izaka berucap dengan pengetahuan penuh karena dia mendapatkan pengetahuan itu dari ingatan Anselm.
“Mendapatkan kesempatan untuk bisa memiliki pengantin sang suci, tentu saja itu akan
menjadi godaan yang tidak bisa ditolak oleh Morfogh. Sejak awal, raja barbar itu merasa inferior dan kalah kekuatan di hadapan ketiga pilar, karena itulah, ketika dia mendapatkan kesempatan untuk menjejakkan kakinya di atas kepala salah satu pilar, dia tak akan melewatkannya.”
Cassius yang sejak tadi mendengarkan, langsung mengerutkan keningnya dengan khawatir.
“Saat ini Morfogh belum mengetahui tentang oracle ramalan menyangkut Moira dan dia sudah ingin merebut Moira.
Jika sampai Morfogh nanti tahu tentang Moira... dia yang haus akan kekuatan dan terobsesi ingin lebih kuat dari ketiga pilar, pasti akan mejadi yang paling menggila, yang berusaha mendapatkan daging dan darah Moira demi kekuatan besar yang diimpikannya.” Cassius merasa kepalanya pening. Sudah cukup dia pusing dengan keberadaan
ibunya yang serakah akan kekuasaan dan haus darah, sekarang ditambah lagi dengan Raja Kaum barbar yang tiba-tiba saja bangkit dari hibernasinya dan memutuskan untuk membuat kekacauan?
Izaka menganggukkan kepala.
“Saat ini, aku akan membiarkan Raja Morfogh merasa di atas angin, berpikir bahwa sang suci yang baru begitu bodoh sehingga para pengkhianat di kuil suci itu tak
sampai ketahuan. Namun, aku sudah memasang sihirku kepada
Mendina tanpa dia
mengetahuinya, sihir itu akan membuatnya berguna, menjadi boneka yang melaksanakan perintah dengan patuh jika diperlukan,” ucap Izaka tenang.
Mata Raja Zilas melebar.
“Kau juga punya sihir yang seperti itu? Itu cukup mirip dengan sihir pesonaku!” klaimnya seolah tak rela.
Izaka menatap Raja Zilas dengan ekspresi dingin.
“Kekuatan mengendalikan pikiran manusia, tak melulu dikuasai oleh kaum kerajaan.
Bahkan kaum kesatria pun memiliki monster beast yang bisa menghipnotis manusia, bukan?
Kekuatanku kurang lebih sama seperti itu.” Izaka menyahuti tenang, membuat dua pilar lawannya terdiam karena kalimat Izaka itu memang benar adanya.
“Akan tetapi, bukankah oracle itu harusnya muncul di usia Moira yang keenam belas tahun? Hari sudah hampir habis, tetapi kenapa oracle itu tak keluar?”
tanya Cassius bingung.
Deklarasi perlindungan ketiga pilar adalah salah satu tameng pelindung lapisan pertama yang membuat orang berpikir dulu sebelum menyerang di saat oracle itu akhirnya muncul.
Oracle itu seharusnya muncul di usia Moira yang keenam belas tahun, karena itulah baik Raja
Zilas maupun Cassius menggunakan alasan pernikahan Moira untuk bisa hadir di kuil suci dan membuat sumpah darah perlindungan. Akan tetapi, sepertinya hari ini akan berlangsung aman tanpa ada oracle yang muncul.
“Sepertinya, ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi sehingga oracle itu muncul.” Raja Zilas tiba-tiba menyahuti, suaranya terdengar misterius.
Cassius seketika mengerutkan keningnya. Kalimat Raja Zilas itu, entah bagaimana terdengar relevan dan beralasan.
“Dari mana kau tahu tentang hal itu?” tanya Cassius cepat.
Raja Zilas bertopang dagu dengan santai dan mengangkat bahunya.
“Anggap saja aku bisa melihat masa depan. Dan di masa depan yang kulihat, oracle itu muncul ketika Moira mencapai kondisi tertentu, bukan di usianya yang
keenambelas tahun tepat. Dan jangan tanya apakah aku tahu kondisi seperti apa itu atau tidak, karena percuma, jawabanku adalah tidak tahu. Aku benar- benar tak tahu karena apa yang kulihat di masa depan itu, kulihat dari sudut pandang orang luar yang berada di titik terjauh.” Raja Zilas tersenyum lambat-lambat saat dia mengucapkan kalimatnya, dan entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasakan nuansa dingin menusuk tubuhnya. Saat dia mengangkat
kepalanya, mata emas Raja Zilas langsung bertemu dengan mata Izaka yang menusuk seolah mampu masuk dan menggeledah kedalaman jiwanya.
Raja Zilas sedikit bergetar, tetapi dia berhasil menyembunyikannya dalam ekspresi penuh senyum dan tak peduli.
Apakah Izaka sang suci bisa menebak? Di mata Raja Zilas, Izaka sang suci memiliki kekuatan istimewa dan sangat sensitif,
bukan tidak mungkin Izaka bisa menebak, bahwa Raja Zilas sesungguhnya tak bisa mengintip masa depan seperti yang dikatakannya. Ya, dia tak bisa, sebab masa depan itu adalah sesuatu yang pernah dialaminya sendiri.
Selama ini, tak ada yang bisa menebak, bahwa jiwa yang ada di dalam tubuhnya, adalah jiwa yang berasal dari masa dua puluh tahun ke depan yang berhasil melompat mundur, melakukan perjalanan waktu dan masuk ke
dalam tubuh kecilnya yang berusia lima tahun.
Karena itulah, Raja Zilas bisa dikatakan tahu semuanya. Di masa yang dilaluinya itu, kisah monster mata merah dan pengantinnya, tidaklah semulus ini dan bahkan berakhir dengan tragedi mengerikan yang memakan banyak nyawa.
Di masa itu, Raja Zilas tak terlibat sedekat ini, hanya menjadi penonton ketika tragedi besar itu terjadi. Akan tetapi
menjadi penonton ternyata tak menyelamatkan dirinya dan juga kaumnya, sebab kerusakan yang terjadi di satu titik, akhirnya menciptakan efek beruntun yang menyerang titik lainnya sampai lebur, membawa semua pihak ke dalam kehancuran.
Yah, tetapi karena saat ini, setelah dia mundur kembali ke masa lalu sebagai sosok yang mengetahui apa yang terjadi di masa depan, Raja Zilas akhirnya memutuskan untuk ikut campur dengan menggunakan segala
pengetahuannya, dia akhirnya bisa mengubah jalur skenario awal, menciptakan alur masa depan baru yang bahkan tidak bisa ditebaknya sendiri.
Masa depan sudah berubah dan tak bisa ditebak, tetapi satu hal yang pasti, Raja Zilas berharap langkah yang ditempuhnya saat ini, akan mencegah mereka semua menuju kepada kehancuran seperti yang terjadi pada masa yang pernah dilaluinya di masa depan.
***
B
egitu menerima kabar mengenai kegagalan usaha pasukan elitenya untuk mendapatkan pengantin sang suci dan bahkan mereka semua, yang terbaik dari pasukan elitenya pada akhirnya mati dibunuh dengan kejam dalam pertunjukan yang dilakukan oleh sang suci di altar pernikahannya, Raja Morfogh mengamuk bukan kepalang, ,menghempaskansemua benda yang ada di ruang singgasananya sampai hancur pecah berkeping-keping, membuat para prajurit dan pengawal yang ada di ruangan itu semuanya menggigil ketakutan.
Perempuan itu seharusnya menjadi pengantinnya! Tetapi pada akhirnya, Izaka sang suci menikahi perempuan itu!
Sebelumnya, Raja Morfogh berpikir bahwa dia sudah pasti akan berhasil, dia sudah
membayangkan kepuasannya ketika meniduri calon pengantin sang suci sekaligus menginjak- injak harga diri sang suci! Akan tetapi, semuanya ternyata hanya nol besar! Tidak ada hasilnya!
Bukannnya mendapatkan keuntungan, dia malahan sial bukan kepalang!
Sepertinya, dia telah bersikap sembrono, terlalu meremehkan kekuatan Izaka, sang suci yang baru. Tadinya dia berpikir bahwa karena masih muda dan arogan,
Izaka sang suci cukup bodoh dan masih bisa diakali. Ternyata, dugaannya salah besar, bukan hanya tak bisa diakali, Izaka sang suci ternyata lebih kuat dan lebih kejam dibandingkan Anselm pendahulunya, membuat Raja Morfogh harusnya lebih waspada dan berhati-hati.
Raja Morfogh masih terengah setelah dia menumpahkan seluruh kekesalannya dan nyaris menghancurkan seluruh area rang singgasananya. Matanya tampak nyalang dan rambut
merahnya berantakan, saat berpadu dengan tubuhnya yang berkulit perunggu dan penuh keringat, auranya terasa seperti binatang buas yang kelaparan, siap mencari mangsa untuk melampiaskan nafsu buasnya.
Namun, beruntung saat ini Raja Morfogh masih bisa menahan diri, dia menatap wajah salah satu panglimanya yang langsung gemetaran di bawah tatapannya.
“Panggil Gordon kemari, bajingan itu memasukkan enam pasukan eliteku untuk menyerahkan nyawa mereka, tanpa memberi peringatan kepadaku bahwa Izaka sang suci bukanlah orang bodoh yang bis dipermainkan!” Raja Morfogh berucap penuh tekad, matanya tampak bersinar, dibanjiri oleh nafsu membunuh yang kental.
Ketika panglimanya undur diri untuk bergegas melaksanakan perintah, mata Raja Morfogh kemudian menatap ke arah
kepala dayangnya, seorang perempuan tua berpengalaman yang telah mengikuti Raja Morfogh sejak sang raja masih kecil.
“Apakah kau sudah menyiapkan mayat wanita itu?”
tanya Raja Morfogh dingin.
Sang Kepala Dayang membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat.
“Sudah, Yang Mulia. Dia sudah siap,” jawabnya cepat.
Mendengar jawaban sang kepala Dayang, mata Raja Morfogh berkilat mengerikan.
“Bawa dia kemari,” perintahnya cepat dengan nada tak sabar.
***
E
laidar tahu bahwa ibu dan anak itu perlu menghabiskan waktu berdua saja untuk melepas rindu, karena itulah, dengan penuh empati dia berpamitan pergi, meninggalkan ibu dan anak itu berdua di dalam kamardan menutup pintu ruang kamar sang suci untuk menjaga privasi mereka.
Kesempatan itu digunakan oleh Nyonya Meera dan Moira untuk menceritakan secara detail apa yang terjadi kepada mereka selama mereka berpisah, apa yang mereka ketahu dan informasi apa yang mereka dapatkan selama ini. Ketika Moira dan ibunya saling bercerita dan melengkapi, kepingan puzzle yang bertebaran mulai bisa dikumpulkan satu persatu,
membentuk pengetahuan baru yang lebih solid dan membuat mereka berdua lebih memahami situasi mereka saat ini.
Nyonya Meera masih berurai air mata, meskipun begitu, dia masih bersikeras supaya Moira tak menangis. Mereka berdua sama-sama duduk di tepi ranjang, saling merapat dan berpelukan melepas rindu, dan saat ini, tangan Nyonya Meera mengusap pipi Moira penuh sayang.
“Maafkan ibu karena menurunkan darah yang rumit ke dalam tubuhmu, Moira. Dan oracle itu... mungkin itu juga muncul akibat percampuran tiga darah kuat di dalam tubuhmu.
Bagaimanapun, sejak awal mula, belum pernah ada manusia yang memiliki campuran tiga darah dari tiga kaum yang kesemuanya berasal dari keturunan kuat, kaulah yang pertama dan mungkin saja... karena itulah oracle itu terwujud.” Nyonya Meera kembali menangis terisak.
“Kalau saja... kalau saja Ibu mengetahui tentang asal usul ayahmu, kalau saja ibu tahu bahwa dia... bahwa dia adalah Pilar Kesatria, ibu pasti akan berpikir panjang untuk menerimanya. Bagaimanapun....
ada... ada Nyonya Issabela juga
yang pasti akan
membahayakanmu.” Suara Nyonya Meera tersekat dan ekspresinya tampak sangat pedih. “Maafkan Ibu... maafkan ibu Moira, semua ini gara-gara ibu—”
Nyonya Meera terus mengulang permintaan maafnya, membuat Moira merasa sedih dan matanya kembali berkaca- kaca.
“Ibu, ibu tak boleh meminta maaf seperti itu, semua ini terjadi karena takdir, jadi tak ada yang bisa disalahkan. Lagipula...
lagipula... jika Ibu tidak mau menerima ayah, bukankah aku tidak akan lahir ke dunia ini menjadi anak ibu?” bisik Moira dengan suara tersekat menahan tangis.
Sejenak Nyonya Meera tertegun, seolah berusaha menelaah kata-kata Moira. Lalu tak lama kemudian, air mata kembali bercucuran dari matanya.
“Ya! Ya! Kau benar. Kau benar, Moira. Jika ibu tak mengambil jalan ini, maka tidak akan ada kau di dunia. Kau putri Ibu, Ibu sangat bahagia memilikimu dan ibu tak akan menukarnya dengan apa pun. Bahkan ketika ibu bisa memutar waktu, ibu akan mengambil keputusan yang
sama untuk melahirkanmu,” bisik Nyonya Meera di sela tangisnya.
Moira tersenyum dan kali ini, air matanya tak tertahan lagi. Dia pun masuk kembali ke dalam pelukan ibunya dan mereka berdua bertangis-tangisan di sana. Kali ini, Nyonya Meera menangis sama kerasnya dengan Moira dan tak meminta Moira untuk menahan air matanya lagi.
Setelah mereka puas bertangis-tangisan dan setelah air mata mereka mengering, sang
ibu menjauhkan Moira dari pelukannya dan kemudian mengawasi wajah Moira.
Tangannya kemudian bergerak, mengambil sapu tangan dari saku gaun indahnya dan menggunakannya untuk mengusap air mata Moira.
“Putriku sekarang sudah besar dan cantik, dan dia sudah menikah serta menjadi seorang istri.” Tatapan mata Nyonya Meera tampak bergetar.
“Sepertinya takdir masih berbaik hati kepadamu, kau menolong
hamster mata merah itu dan ternyata beliau adalah Sang Suci Yang Mulia. Semua hal ini, semua takdir baik ini, telah
menggiringmu untuk
menemukan pelindungmu yang mulia.” Nyonya Meera berucap parau, menatap Moira dengan terharu.
Pada saat itu, Moira hanya bisa mengangguk dan menundukkan kepala, menghindari tatapan mata ibunya. Ya, satu-satunya kebohongan Moira kepada ibunya, adalah tentang monster
mata merah. Entah bagaimana, Moira merasa tak bisa mengungkapkan tentang monster mata merah itu jika tak mendapatkan izin dari Izaka sang suci. Karena itulah, Moira memodifikasi ceritanya dan mengganti monster mata merah dengan hamster mata merah.
Sekarang, meskipun ibunya tak curiga sama sekali, entah kenapa Moira merasa bersalah karena telah membohongi ibunya.
Sang ibu salah menganggap bahwa sikap Moira yang
menunduk dan menghindari pandangannya adalah sikap malu-malu calon pengantin baru.
Bibirnya membentuk senyuman dan dia pun memutuskan untuk memberikan wejangan kepada Moira.
“Bersikap baiklah kepada suamimu, Moira, Beliau, Sang Suci Yang Mulia jelas adalah orang yang tahu balas budi. Kau menyelamatkannya dalam wujud hamster dan beliau mengubah seluruh tatanan di kuil suci untuk menikahimu. Kau tentu tahu
bahwa pernikahan ini adalah anugerah perlindungan bagimu, bukan? Dengan perlindungan tiga pilar, ibu yakin... ibu berharap bahwa kau selalu aman.” Nyonya Meera menatap Moira dengan berhati-hati, lalu dia berucap perlahan-lahan.
“Kau akan menjadi istri Moira, malam ini adalah batas dirimu melangkah ke jenjang kedewasaanmu.” Nyonya Meera menatap Moira lembut dan menyambung ucapannya kemudian. “Ibu membesarkanmu
sebagai anak yang polos di tempat terpencil dan jangankan mengenal lelaki, kau bahkan tak punya teman perempuan.
Salahkan ibu sehingga membuatmu menjadi sepolos ini.
Akan tetapi... kau akan menjalani malam pengantinmu dan ibu tak ingin kau ketakutan atau kesakitan setengah mati... karena itu... dengarkan ibu, Moira.
Nasihat ibu ini mungkin tak akan bisa mengurangi sakit di malam pertamamu, tetapi ibu harap, nasihat ibu ini akan membuatmu
lebih nyaman dan siap
menghadapi malam
pengantinmu. Bagaimanapun sebagai seorang perempuan—”
Sang ibu tidak menahan- nahan diri lagi, mulai menjelaskan setiap tahapannya dengan gamblang, tak menggunakan kiasan dan langsung mengenai maknanya karena dia tahu bahwa waktunya sempit dan malam pertama Moira akan segera terjadi. Karena itulah, meskipun dilihatnya wajah dan telinga putrinya semakin
memerah dan memerah ketika mendengarkan penjelasannya, bahkan rona merah itu menyebar ke leher dan seluruh tubuh, Nyonya Meera tetap tak berhenti, terus menerangkan semuanya dengan gamblang, tak peduli bahwa ada ada beberapa kalimat vulgar yang diucapkannya.
***
T
ak lama, setelah ibunya pergi meninggalkan ruangan karena Elaidar mengabarkanbahwa sang pengantin pria akan kembali ke kamar, sosok Izaka memang benar-benar muncul di dalam kamar itu.
Moira sekarang bisa tenang memikirkan ibunya, sebab sang ibu mengatakan bahwa dirinya aman, baik-baik saja dan bahkan sangat sehat, jauh lebih sehat dibandingkan ketika Moira terakhir kali bertemu ibunya.
Sang ibu juga mengatakan bahwa kemungkinan besar, demi keamanan belaiau akan bersembunyi di wilayah Raja Zilas
di bawah perlindungan Raja Zilas.
Namun, bukan tidak mungkin Izaka sang suci akan mengatur baginya untuk bisa tinggal di kuil suci dalam penyamaran di masa depan nanti.
Karena sibuk dengan pemikiran tentang ibunya, Moira nyaris tidak perhatian menyangkut kabar Elaidar yang mengatakan bahwa sang suci akan datang ke kamar untuk
menghabiskan malam
pengantinnya, karena itulah saat
Izaka muncul, Moira mengerjap karena tak siap.
Pada saat itu, menatap Izaka yang memilih berdiri di ambang pintu dan mengawasinya, wajah Moira masih merah padam, memikirkan semua hal yang dikatakan oleh ibunya kepadanya. Semua penjelasan ibunya terbayang-bayang kembali di dalam benaknya dan Moira nyaris sesak napas ketika imajinasinya bergerak sesuai dengan perkataan ibunya.
Dia dan Izaka... astaga! Apakah itu memungkinkan?
Semakin menatap ke arah Izaka, semakin Moira kebingungan, malu dan takut. Hal itu membuat wajahnya benar- benar merah padam, membuat Izaka yang ada di ambang pintu dan mengawasinya langsung mengerutkan kening.
Dengan cepat, Izaka melangkah masuk ke dalam kamar sambil tak lupa menutup pintu di belakangnya.
Langkahnya begitu gesit menyeberangi ruangan dan mencapai Moira dalam sekejap.
Izaka sudah mandi dan membersihkan diri setelah acara jamuan makan malam selesai.
Saat ini, dirinya mengenakan jubah tidur hitam yang diikat di pinggangnya dengan sedikit longgar. Rambutnya yang putih tampak tergerai, kontras dengan warna hitam pakaiannya dan entah kenapa membuatnya begitu mengintimidasi di hadapan Moira, terlebih lagi saat
ini Izaka berdiri sangat dekat dengannya, di hadapannya yang sedang duduk di tepi tempat tidur, membuat sosoknya menjulang berkuasa di hadapan Moira.
“Moira.” Izaka berucap dengan penuh perhatian. Tangannya terulur, membeku di udara sejenak karena meragu, lalu pada akhirnya Izaka menggerakkan tangannya untuk mendarat di dagu Moira sebelum kemudian menengadahkan perempuan itu menghadapnya.
“Moira, apakah kau sakit?”
Izaka bertanya sambil mengerutka keningnya karena dari jarak dekat, dia mendapati bahwa permukaan kulit Moira benar-benar memerah seperti orang kepanasan. Tanpa pikir panjang, Izaka membungkuk, menempelkan dahinya dengan dahi Moira untuk memeriksa suhunya, membuat Moira terkesiap dan mematung beku seketika.
Bersambung ke Part berikutnya
DO NOT COPY
COPYRIGHT BY PSA [ PROJECTSAIRAAKIRA ] Follow Instagram @projectsairaakira
www. projectsairaakira.com
aplikasi @GooglePlay : PSA Vitamins Reader
EBOOK PSA TERSEDIA DI GOOGLE PLAYBOOK Kata kunci playbook: sairaakira
KONTEN INI TIDAK TERSEDIA DI PLATFORM LAIN
Jika Anda mendapatkan akses baca part ini bukan melalui website projectsairaakira.com/ aplikasi PSA
Vitamins Readers, maka Anda telah membaca dari sumber ilegal dan ikut serta dalam tindakan akses ilegal
serta penyebaran bajakan yang merupakan tindakan kriminal dan dapat kami proses secara hukum.