Analisis Determinan Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Jawa Tahun 2004-2013.

27 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ANALISIS DETERMINAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PULAU JAWA TAHUN 2004-2013

Skripsi

Diajukan untuk Melangkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sebelas Maret Surakarta

YUSUF ZAENAL MUTAQIN F0112097

EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)

ii ABSTRAK

ANALISIS DETERMINAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI PULAU JAWA TAHUN 2004-2013

Yusuf Zaenal Mutaqin F0112097

Studi ini bertujuan menganalisis pengaruh pertumbuhan PDRB, realisasi pengeluaran pemerintah, tingkat pengangguran terbuka, dan upah minimum provinsi terhadap indeks pembangunan manusia di Pulau Jawa tahun 2004-2013. Penelitian ini menggunakan analisis data panel. Model yang digunakan dalam regresi adalah Fixed Effect dengan metodeGeneralized Least Square pendekatan

Seemingly Unrelated Regression (SUR). Sedangkan uji statistik meliputi, uji koefisien parsial, simultan, dan koefisien determinasi.

Hasil penelitian ini menunjukan : (1) Pertumbuhan PDRB berpengaruh positif yang signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Pulau Jawa Tahun 2004-2013. (2) Realisasi pengeluaran pemerintah berpengaruh positif yang signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Pulau Jawa Tahun 2004-2013. (3) Tingkat pengangguran terbuka berpengaruh positif yang signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Pulau Jawa Tahun 2004-2013. (4) Upah minimum provinsi memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap indeks pembangunan manusia di Pulau Jawa tahun 2004-2013.

Pemerintah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat dapat memperhatikan faktor-faktor yang sekiranya dapat meningkatkan pembangunan manusia, adanya pendapatan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan hidup layak dari kebijakan UMP dapat meningkatkan daya beli, sehingga kebutuhan dasar dapat terpenuhi. Sementara itu dalam kebijakan fiskal, pemerintah harus memperhatikan anggaran yang dikeluarkan terutama yang menyangkut masalah pelayanan publik.

(3)

iii ABSTRACT

AN ANALYSIS OF HUMAN DEVELOPMENT INDEX DETERMINANTS IN THE ISLAND OF JAVA IN 2004-2013

Yusuf Zaenal Mutaqin F0112097

The study aims to analyze the influences of the growth of regional gross domestic product (GDP), the realization of government expenditures, open unemployment rate, and the regional minimum wage on the Human Development Index (HDI) in the island of Java in 2004-2013. The research employed data panel analysis. The model used in the regression was Fixed Effect with Generalized Least Square method and Seemingly Unrelated Regression (SUR) approach. While the statistical tests used were: partial coefficient, simultaneous, and coefficient of determination.

The results of this research show: (1) The growth of regional GDP significantly and positively influences the HDI in the island of Java in 2004-2013. (2) The realization of government expenditures significantly and positively influences the HDI in the island of Java in 2004-2013 (3) The open unemployment rate significantly and positively influences the HDI in the island of Java in 2004-2013. (4) The regional minimum wage significantly and positively influences the HDI in the island of Java in 2004-2013.

The research suggests the government in guaranteeing its people prosperity, to consider factors which probably improve the HDI. People income which fulfils the decent living needs from the policy of determining the regional minimum wage can increase people purchasing power and thus market needs can be fulfilled. In term of fiscal policy, the government must pay attention on the budgets spent especially ones related to public service.

(4)
(5)
(6)
(7)

vii

HALAMAN MOTTO

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga

mereka mengubah dirimereka sendiri. “ (Q.S Ar-Ra'd : 11)

“ Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses

Man Jadda Wa Jadda

“ Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit

kembali setiap kali kita jatuh “

(Confusius)

“ The essence of being human is that one does not seek perfection “

(8)

viii

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan untuk : Ibu dan Bapak tercinta

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Analisis Determinan Indeks Pembangunan Manusia di Pulau Jawa Tahun 2004-2013“ dengan baik.Skripsi ini disusun guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dalam prosesnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapkan

terima kasih kepada:

1. Bapak Kresno Saroso Pribadi, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi. Terimakasih untuk segala bimbingan, kesabaran, koreksi dan motivasi dari

awal penulisan hingga selesainya penulisan skripsi ini.

2. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri, M.Si. selaku dekan Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Univeritas Sebelas Maret Surakarta.

3. Dr. Siti Aisyah Tri Rahayu, M.Si. selaku ketua jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

4. Bapak dan Ibu, H. Muhammad Usup dan Hj. Nurhayatinaatas segala do’a,

(10)

x

5. Kankan Iskandar, Lelih Sutanti, Ela Susanti, dan Ani Noviasari selaku

kakak tercinta, yang selalu memberikan semangat, dorongan, motivasi dan segala yang terbaik untuk penulis yang sedang berjuang.

6. Teman, sahabat, Wildan Ahmad Mujazim Wildani, Hilmi Mafahir, Muhammad Rahmahadi, Meita Dwi Lestari, Nilam Cahyati, Ismi Nurlela, Pandu Wirawan, Muhammad Harits, Fajar Christanto, Prabowo DW,

Andrianus Joko, Hilda Zulhida, Qoriyah, Anissa PMJ, Desi Christiani, Shinta Atriafinesa, dan yang tekhusus untuk Hayumas Tyastiara yang selalu

memberikan wakunya serta dorongan semangat penulis sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini.

7. Teman, Sahabat Kos Dua Saudara; Rudi Kahfi, Yasser Muhammad, Pandu

Love Rahadityo, Nobel Salman Syauqi, Wira Agung Abrar, Fahmi Adihapsoro, Anggi Alfianto, Satrio Hakim, Afif, Joel, dan Tulus Eko Nugroho.

8. Teman, Sahabat CKBNR Family; Husein Wahyudin, Arief Nur Iman, Arief Rachman Hakim, Ari Muhammad Zaki, Dejan Aji Gunawan, Alvin,

Mochammad Firgi, Irfan Naufal.dkk

9. Teman seperjuangan EP UNS 2012, Keluarga besar HMJ EP UNS, Keluarga KKN Ngadirojo Lor Wonogiri, dan seluruh teman-teman di

Universitas sebelas Maret.

10. Semua pihak yang turut memberi bantuan, semangat, dan doa bagi penulis

(11)

xi

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca guna menyempurnakan skripsi ini. Penulis berharap karya ini dapat bermanfaat bagi

pembaca dan seluruh pihak yang membutuhkan.

Surakarta, 16 November 2016

(12)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pembangunan Manusia ... 12

1. Konsep Pembangunan Manusia ... 12

2. Indeks Pembangunan Manusia ... 15

(13)

xiii

C. Teori Pengeluaran Pemerintah ... 25

D. Pengangguran ... 31

E. Upah Minimum ... 35

1. Teori Upah ... 35

2. Teori Upah Minimum ... 40

F. Penelitian Terdahulu ... 42

G. Kerangka Pemikiran ... 47

H. Hipotesis ... 50

BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian ... 51

B. Jenis dan Sumber Data ... 51

C. Definisi Operasional Variabel ... 52

1. Indeks Pembangunan Manusia ... 52

2. Product Domestic Bruto (PDRB) ... 53

3. Realisasi Pengeluaran Pemerintah ... 53

4. Tingkat Pengangguran Terbuka ... 54

5. Upah Minimum Provinsi ... 54

D. Metode Analisis Data ... 55

1. Estimasi Pemilihan Fungsi Model ... 55

1) Uji MWD ... 55

2. Estimasi Model ... 58

1) Common Effect Model(CEM) ... 59

2) Fixed Effect Model(FEM) ... 60

(14)

xiv

3. Pemilihan Model Estimasi ... 60

1) Uji Likelihood (Uji Chow) ... 60

2) Uji Hausman ... 61

E. Uji Statistik ... 62

1. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji t Statistik) ... 62

2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F Statistik) ... 63

3. Koefisien Determinasi (R2) ... 65

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Pulau Jawa ... 66

1. Keadaan Geografis ... 66

2. Wilayah Administratif Kependudukan ... 67

3. Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan ... 69

4. Keadaan Sosial Masyarakat ... 72

B. Deskripsi Perkembangan Variabel ... 73

1. Perkembangan Variabel Indeks Pembangunan Manusia ... 73

2. Perkembangan Variabel Product Domestic Bruto ... 75

3. Perkembangan Variabel Realisasi Pengeluaran Pemerintah ... 76

4. Perkembangan Variabel Tingkat Pengangguran Terbuka ... 78

5. Perkembangan Variabel Upah Minimum Provinsi ... 80

C. Hasil Analisi Data ... 82

1. Hasil Pemilihan Model Empiris ... 82

2. Hasil Pemilihan Model Estimasi Data Panel ... 84

3. Hasil Uji Statistik ... 86

(15)

xv

2) Uji F Statistik ... 88

3) Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 88

D. Interpretasi dan Pembahasan ... 89

1. Pengaruh Pertumbuhan PDRB Terhadap IPM ... 90

2. Pengaruh Relisasi Pengeluaran Pemerintah Terhadap IPM ... 91

3. Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap IPM ... 92

4. Pengaruh Upah Minimum Provinsi Terhadap IPM ... 93

BAB V PENUTUP A. Kesmipulan ... 95

B. Saran ... 96

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Peringkat Indeks Pembangunan Manusia

di Negara–Negara ASEAN Tahun 2013... 5

Tabel 2.1 Jenis-Jenis Belanja Pemerintah ... 29

Tabel 2.2 Regulasi Tentang Kebijakan Perlindungan Upah ... 39

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu ... 42

Tabel 3.1 Hipotesis Uji MWD ... 58

Tabel 4.1 Luas Wilayah Per-Provinsi di Pulau Jawa ... 67

Tabel 4.2 Jumlah Kota, Kecamatan, Kelurahan/Desa Menurut Provinsi di Pula Jawa Tahun 2014 ... 68

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi di Pulau Jawa Tahun 2000-2010 ... 69

Tabel 4.4 Jumlah Desa yang Memiliki Fasilitas Sekolah Menurut Provinsi dan Tingkat Pendidikan di Pulau Jawa ... 70

Tabel 4.5 Jumlah Desa/Kelurahan yang Memiliki Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Pulau Jawa ... 71

(17)

xvii

Tabel 4.7 Pekembangan Variabel Product Domestic Bruto ... 75

Tabel 4.8 Perkembangan Variabel Realisasi Pengeluaran Pemerintah ... 77

Tabel 4.9 Perkembangan Variabel Tingkat Pengangguran Terbuka ... 79

Tabel 4.10 Perkembangan Variabel Upah Minimum Provinsi ... 81

Tabel 4.11 Hasil Uji MWD Test–Linier ... 82

Tabel 4.12 Hasil Uji MWD Test Log-Linier ... 83

Tabel 4.13 Hasil Uji Likelihood ... 84

Tabel 4.14 Hasil Uji Hausman ... 85

Tabel 4.15 Uji t Statistik ... 86

Tabel 4.16 Uji F Statistik ... 88

Tabel 4.17 Nilai Koefisien Determinasi ... 89

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1.1 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia di

Indonesia ... 4

Gambar 1.2 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 5 Pulau Terbesar di Indonesia Tahun 2004-2013 ... 6

Gambar 2.1 Diagram Perhitungan IPM ... 17

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran ... 47

Gambar 4.1 Peta Kawasan Pulau Jawa ... 66

Gambar 4.2 Perkembangan Variabel Indeks Pembangunan Manusia ... 73

Gambar 4.3 Perkembangan Variabel Product Domestic Bruto ... 75

Gambar 4.4 Perkembangan Variabel Realisasi Pengeluaran Pemerintah ... 76

Gambar 4.5 Perkembangan Variabel Tingkat Pengangguran Terbuka ... 78

(19)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pandangan ilmu ekonomi tradisional berpendapat bahwa pembangunan merupakan hasil dari adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melihat pertumbuhan jumlah output yang dihasilkan lebih cepat

dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk. Selain itu, ukuran lainnya adalah rata-rata pendapatan nasional yang mencerminkan besaran

kesejahteraan, karena berkaitan secara langsung dengan kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi barang, jasa, dan investasi. Dengan adanya ukuran tersebut diharapkan dapat menciptakan manfaat sosial dari adanya

pertumbuhan ekonomi (Kuncoro, 2000).

Pada tahun 1950an dan 1960an, ketika beberapa negara berkembang mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Namun hal tersebut

tidak sesuai dengan harapan, dimana masyarakat tidak dapat merasakan dampak positif dari adanya pertumbuhan ekonomi didalam proses

pembangunan. Sehingga, apa yang di ungkapkan ilmu ekonomi tradisional dalam ukuran pembangunan tersebut bermakna sempit. Tentunya, dasar dari semua itu adalah permasalahan-permasalahan yang terjadi, seperti

meningkatnya kemiskinan absolut dan masalah ketimpangan yang awalnya dipandang sebelah mata sebagai sebuah trickel down effect dari adanya unsur

(20)

2

Permasalahan yang paling mendasar dalam arti pembangunan

menurut ilmu ekonomi tradisional adalah berasal dari objek pencapaiannya, dimana manusia didalam pembangunan hanya dipandang sebagai input dari

aspek keuangan dan kebendaan, bukan menjadi sasaran dalam pambangunan (Kuncoro, 2000). Namun seiring dengan waktu, paradigma pembangunan mengalami redefinisi, arti pembangunan yang awalnya bermakna sempit

semakin di perluas sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan dalam masyarakat atau sistem sosial. Proses perbaikan dalam pembangunan

tersebut terdapat tiga tujuan. Pertama, peningkatan ketersediaan berbagai macam kebutuhan barang pokok, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan keamanan. Kedua, peningkatan standar hidup. Ketiga, perluasan

pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu (Todaro, 2000:24).

Pada Tahun 1990 UNDP (United Nations Development Programs)

sebagai bagian dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) memperkenalkan

Human Development Indeks(HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam laporan tahunannya. Indeks tersebut dikembangkan oleh Amatya Sen

dan Mahbub Ul Haq untuk mengukur adanya pembangunan dengan mengklasifikasikan sebuah negara kedalam beberapa kategori, seperti negara

maju, negara berkembang atau negara terbelakang, dan juga mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Menurut Amatya Sen (dalam Todaro, 2004), IPM berfokus pada

hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekedar pendapatan perkapita yang selama ini digunakan untuk mengukur kesejahteraan, karena

(21)

3

kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang terlihat dari kualitas secara fisik

ataupun nonfisik. Kualitas fisik sendiri tercermin dari angka harapan hidup, sedangkan kualitas non fisik tercermin dari lamanya rata-rata penduduk

bersekolah, angka melek huruf, dan mempertimbangkan kemampuan ekonomi yaitu pengeluaran riil per kapita.

Indonesia sebagai negara yang berpenduduk terbesar keempat di

dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 237 juta jiwa (Sensus nasional, 2010). Tentunya permasalahan pembangunan manusia selalu menjadi topik

utama dalam perencanaan pemerintah. Peran penting dari kemampuan dasar manusia dalam partisipasinya, yaitu untuk kemajuan perekonomian, sosial, dan politik diharapkan dapat membangun negara secara berkesinambungan,

mengingat saat ini Indonesia dikategorikan sebagai negara dalam tahap berkembang. Dalam perkembangan Indeks Pembangunan Manusia di

Indonesia dari mulai tahun 2004-2013 memiliki pertumbuhan yang positif, jika melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS) padaGambar 1.1

Sumber : Data diolah dari Badan Pusat Statistik, 2015 Gambar.1.1 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia

di Indonesia 68.7 69.57

70.1 70.59 71.17

71.76 72.27 72.77

73.29 73.81

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

IPM Indonesia Tahun 2003-2013

(22)

4

Pertumbuhan IPM di Indonesia mengalami peningkatan setiap

tahunnya, seperti pada tahun 2004 nilai IPM berada pada angka 68,7, meningkat di tahun berikutnya pada 2005 menjadi 69,57. Pada tahun-tahun

selanjutnya kenaikan yang terjadi cukup stabil seperti pada tahun 2012 angka IPM berada pada angka 73,29 naik sekitar 0,7% menjadi 73,81 di tahun 2013. Seiring dengan kenaikan angka tersebut, hal yang paling

penting adalah di dalam komponen IPM terdapat sektor-sektor dasar sebagai modal pembangunan, yaitu kesehatan, pendidikan, dan pendapatan

masyarakat yang diharapakan pula dapat meningkat, menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kualitas manusia yang tinggi.

Perkembangan positif yang ditunjukan dalamGambar 1.Imengenai pembangunan manusia di Indonesia sebenernya masih jauh dari kata maju, hal yang paling sederhana adalah peringkat yang dilihat dari laporan

tahunan UNDP pada tahun 2013 yang menempatkan Indonesia hanya berada pada posisi 108 dari sekitar 188 negara, dan sebagai gambaran bahwa selama ini Indonesia belum maksimal dalam memperbaiki kualitas

manusianya. Bahkan, jika dibandingkan dengan negara-negara yang berada di kawasan ASEAN Indonesia hanya menempati peringkat dibawah

(23)

5

Tabel 1.1 Peringkat Indeks Pembangunan Manusia di Negara- Negara ASEAN Tahun 2013

Negara

Sumber : Human Development Report, 2014

Dalam kaitannya mengenai ketertinggalan Indonesia dalam

pembangunan manusia yang masih tergolong rendah, jika melihat kondisi prekonomian sebenernya tidak begitu menjadi yang terburuk di kawasan ASEAN, menurut data dari CEIC (2014), pertumbuhan ekonomi di

Indonesia cenderung stabil dari kawasan ASEAN dengan rata-rata sekitar 5,8% dari tahun 2004-2013. Pada angka rata-rata pertumbuhan tersebut

hanya berada di bawah Vietnam 6,4%, dan Singapura 6,3%. Melihat kondisi perekonomian yang stabil harusnya memberikan dampak kepada pembangunan manusianya untuk kualitas yang lebih baik. Robert Kennedy

(dalam Mankiw, 2000), menyatakan bahwa meskipun ukuran di dalam pertumbuhan ekonomi tidak mengukur kepintaran (pendidikan), tidak juga

(24)

6

sesungguhnya dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di suatu negara dapat membantu dalam menjalani hidup dengan baik dengan menyediakan pendidikan, kesehatan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan suatu

negara.

Peran penting dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebenarnya

tidak lepas dari adanya kontribusi kegiatan ekonomi di Pulau Jawa. Pada Tahun 2013 kontribusi kegiatan ekonomi Pulau Jawa mencapai 58,72% dari keseluruhan kegiatan ekonomi nasional (BPS, 2015). Selain itu, sumberdaya

manusia yang terkonsentrasi hampira 60% dari total jumlah penduduk di Indonesia berada di Pulau Jawa yaitu sekitar 136 juta jiwa (Sensus

Penduduk, 2010), dengan kondisi perekonomian yang lebih baik dibandingkan pulau besar lainnya di Indonesia, serta terkonsentrasinya jumlah penduduk yang sebagaian merupakan tenaga kerja membuat Indeks

pembangunan manusia di Pulau Jawa cenderung lebih tinggi, seperti dapat dilihat padaGambar 1.2.

Sumber : Data diolah dari Badan Pusat Statistik, 2015

Gambar 1.2 Indeks Pembangunan Manusia 5 Pulau Terbesar di Indonesia Tahun 2013

Sumatra Jawa Kalimantan Sulawesi Papua

Indeks Pembangunan Manusia di 5 Pulau

Terbesar Indonesia Tahun 2013

(25)

7

Meskipun indeks pembangunan manusia di Pulau Jawa menjadi

yang tertinggi dengan nilai 74,84 pada tahun 2013, akantetapi perbandinganya tidak begitu signifikan dengan beberapa pulau lainnya,

seperti di Pulau Sumatra hanya terpaut sekitar 0,07 dengan nilai IPM 74,77. Padahal menurut Mirza (2012), dalam penelitiannya menyatakan bahwa perekonomian suatu wilayah berpengaruh positif terhadap nilai indeks

pembangunan manusia. Jika melihat kontribusi ekonomi dari Pulau Jawa yang terkonsentasi lebih dari 58% nasional, harusnya kondisi tersebut

memberikan kontribusi lebih terhadap IPM di Pulau Jawa. Hal tersebut tentunya menjadi bukti bahwa memang kondisi pertumbuhan ekonomi di belum membawa kontribusi secara signifikan terhadap meningkatnya

pembangunan manusia.

Selain masalah pertumbuhan yang menjadi salah satu faktor dalam

pembangunan manusia. Tentunya terdapat banyak faktor-faktor lainnya sebagai pendorong maupun penghambat proses pembangunan manusia, terutama yang mempengaruhi secara langsung sektor dasar pembangunan,

yaitu ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Peran penting dari adanya pertumbuhan ekonomi tidak lepas dari meningkatnya produksi barang dan

jasa atau output yang dihasilkan oleh faktor produksi, dan sumber daya manusia atau tenaga kerja merupakan unsur yang diutamakan dalam hal tersebut. Ketika output suatu wilayah meningkat dalam menghasilkan

barang ekonomi, maka produktivitas masyarakat bisa dikatakan semakin tinggi, sehingga pendapatan yang diperoleh cenderung akan semakin

(26)

8

kemampuan manusia dalam melakukan kegiatan ekonomi, tentunya

kemampuan tersebut merupakan hasil dari adanya pelatihan atau pendidikan yang diberikan serta kualitas hidup yang menunjang kehidupan sehari-hari

sebagai seorang pekerja. Menurut Mankiw (2007:66), salah satu yang dapat mempengaruhi permintaan output terhadap barang dan jasa dalam perekonomian adalah kebijakan fiskal. Ketika pemerintah mengubah

besaran pengelurananya, maka secara langsung akan mempengaruhi besaran pemintaan di pasar barang dan jasa. Selain itu, dalam pengeluaran

pemerintah terdapat subsidi untuk mempermudah masyarakat dalam mengkonsumsi barang dan jasa serta fasilitas penunjang kegiatan yang

berkaitan dengan pembangunan manusia.

Peran dari pemeritah sendiri dalam menjamin masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, yaitu dari adanya kebijakan mengenai upah minimum

yang tertuang dalam Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang ketengakerjaan. Upah minimum sendiri merupakan upah terendah yang di berikan kepada buruh atau tenaga kerja untuk menjamin adanya pemberiaan

upah yang layak sesuai dengan kebutuhan dasar. Penetapan upah minimum dilakukan di setiap wilayah berdasarkan atas komponen kebutuhan hidup

layak (KHL) yang merupakan perhitungan mengenai kebutuhan sehari-hari pekerja. Jika besaran upah para pekerja layak dalam memenuhi kebutuhan, sehingga daya belinya untuk mengkonsumsi nurtrisi bergizi, mendapatkan

pendidikan yang layak, mampu menjamin kesehatan, maka akan mempengaruhi kesejahteraan dan meningkatkan taraf hidup dalam

(27)

9

akan menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas sehingga

berpengaruh positif terhadap indeks pembangunan manusia (Dewi, 2014).

Salah satu permasalahan yang sering menghambat dalam adanya

peningkatan indek pembangunan, yaitu akibat adanya tingkat pengangguran yang tinggi. Menurut Yacoub (2012) tingkat pengangguran yang tinggi dapat menyebabkan rendahnya pendapatan yang selanjutnya memicu

munculnya masalah kemiskinan. Kemiskinan tersebut mucul akibat tidak bisa terpenuhinya kebutuhan dasar (Basic needs) sehingga apa yang di

ungkapakan oleh Amatya Sen ( dalam Todaro & Smith, 2011) mengenai kesejahteraan yang menyangkut kesehatan, keadaan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan, dan pendidikan tidak dapat terpenuhi oleh

kemampuan masyarakat sehingga berdampak pada kemerosotan dalam pembangunan manusianya.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan pengkajian lebih jauh tentang masalah pembangunan manusia, sehingga membuat laporan penelitian dengan judul “ Analisis Determinan Indeks Pembangunan

Figur

Tabel 1.1Peringkat Indeks Pembangunan Manusia
Tabel 1 1Peringkat Indeks Pembangunan Manusia. View in document p.23
Gambar 1.2Indeks Pembangunan Manusia 5 Pulau Terbesar
Gambar 1 2Indeks Pembangunan Manusia 5 Pulau Terbesar. View in document p.24

Referensi

Memperbarui...