• Tidak ada hasil yang ditemukan

BURUH TANI DI BEKAS LAHAN SENDIRI DALAM LINGKARAN KEMISKINAN DAN EKSPLOITASI S U C I NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BURUH TANI DI BEKAS LAHAN SENDIRI DALAM LINGKARAN KEMISKINAN DAN EKSPLOITASI S U C I NIM"

Copied!
257
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

BURUH TANI DI BEKAS LAHAN SENDIRI DALAM LINGKARAN KEMISKINAN DAN EKSPLOITASI

(STUDI KASUS DI DESA KWALA GUNUNG KECAMATAN LIMA PULUH KABUPATEN BATU BARA)

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

S U C I NIM. 140901006

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Medan 2018

(2)

ABSTRAK

BURUH TANI DI BEKAS LAHAN SENDIRI DALAM LINGKARAN KEMISKINAN DAN EKSPLOITASI

(STUDI KASUS DI DESA KWALA GUNUNG KECAMATAN LIMA PULUH KABUPATEN BATU BARA)

Penelitian ini telah dilakukan di Desa Kwala Gunung Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batu Bara. Adapun alasan peneliti memilih lokasi ini berawal dari ketertarikan penulis terhadap kasus di Desa Kwala Gunung, yaitu sekitar 165 orang buruh tani telah kehilangan lahan, dan kini harus bekerja di lahan bekas miliknya sendiri. Dampak yang terjadi adalah penjualan lahan demi melunasi hutang karena kekurangan modal baik berupa lahan maupun finansial, yang berdampak pada perubahan kehidupan baik sosial, ekonomi dan juga mata pencahariannya.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk struktur eksploitasi yang terjadi pada petani padi di Desa Kwala Gunung yang membuat buruh tani bekerja di bekas lahannya sendiri serta untuk mengetahui struktur eksploitasi yang menyebabkan terjadinya kemiskinan pada petani padi di Desa Kwala Gunung yang membuat buruh tani bekerja di bekas lahannya sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study). Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah petani padi yang kehilangan lahan dan kini bekerja menjadi buruh di lahan bekas miliknya sendiri. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam (depth interview), observasi partisipan dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa buruh tani di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan diakibatkan karena beberapa faktor diantaranya faktor struktural, alamiah tetapi faktor kultural tidak terjadi di Desa Kwala Gunung. Hal ini terjadi karena buruh tani terus mengalami tindakan dari struktur eksploitasi yang dilakukan oleh aktor yang memiliki kepentingan dalam bidang pertanian. Bentuk struktur eksploitasi yang dialami buruh tani berupa: pinjaman modal dengan beban bunga yang tinggi dari tengkulak kepada buruh tani, rendahnya upah yang diberikan majikan kepada para buruh, hilangnya hak pekerja untuk memanen padi milik majikannya, rendahnya harga gabah yang berpengaruh terhadap upah yang diterima dan adanya manipulasi data bantuan yang tidak sesuai dengan penyalurannya. Kemiskinan pada buruh tani benar terjadi di Desa Kwala Gunung, dimana buruh tani mengalami kemiskinan dikarenakan para buruh tani melakukan penjualan lahan sawah demi melunasi hutang kepada tengkulak. Hal ini dibuktikan dengan penghasilan yang diterima petani dalam sekali panen tidaklah sebanding dengan pengeluaran yang diperlukan sehingga banyak dampak yang ditimbulakan dari rendahnya penghasilan dan besarnya pengeluaran pertanian. Hitungan penghasilan yang diperoleh dalam sekali panen rata-rata Rp.8.600.000;/10 rante per panen. Sedangkan pengeluaran dalam 3-4 bulan menuju masa penen selanjutnya sekitar Rp.12.080.000;/tahun. Kondisi seperti ini yang membuat buruh tani berada pada putaran lingkaran kemiskinan.

Kata Kunci: Buruh Tani, Kemiskinan dan Eksploitasi

(3)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi yang berjudul :‖Buruh Tani di Bekas Lahan Sendiri Dalam Lingkaran Kemiskinan dan Eksploitasi (Studi Kasus di Desa Kwala Gunung Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batu Bara), disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Secara ringkas skripsi ini menceritakan tentang kemiskinan yang dialami buruh tani mulai dari menjadi petani kecil yang hanya memiliki lahan kurang dari 1 Ha dengan penghasilan yang rendah harus mengalami bentuk eksploitasi dari para aktor-aktor yang memiliki kepentingan yaitu mencari keuntungan yang menyebabkan terciptanya lingkaran kemiskinan pada buruh tani padi di Desa Kwala Gunung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa ada dukungan dari berbagai pihak skripsi ini tidak akan selesai. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dengan sepenuh hati baik berupa ide, semangat, doa dan bantuan moril maupun materil sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya tidak akan cukup penulis ucapkan baik kepada dosen pembimbing sekaligus menjadi penasehat akademik, kepada kedua orang tua dan teman maupun sahabat sampai pada akhirnya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

(4)

Dalam penulisan skripsi ini penulis ingin menyampaikan penghargaan yang tulus dan ucapan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini yaitu kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Rasa hormat dan terima kasih yang tidak dapat penulis ucapkan dengan kata-kata kepada Ibu Dr. Harmona Daulay , S.Sos, M.Si selaku Ketua Departemen Sosiologi yang selalu memberikan masukan dan semangat kepada mahasiswa khususnya kepada penulis agar segera menyelesaikan skripsi tepat waktu.

3. Rasa hormat, kasih sayang dan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si selaku penasehat akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu baik ide, meluangkan waktunya, dan tenaga dalam membimbing penulis dengan kesabaran dan semangat yang dari awal kuliah hingga selesai menyelesaikan penulisan skripsi ini.

4. Ucapan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Badaruddin, S.Sos, M.Si selaku dosen penguji skripsi mulai dari seminar proposal hingga selesai menyelesaikan skripsi ini, yang banyak memberikan ilmu dan pengalaman dalam bidang penelitian khususnya kelengkapan skripsi penulis supaya lebih baik lagi.

5. Ucapan terima kasih kepada segenap dosen, staff, dan seluruh pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik khususnya Program Studi Sosiologi

(5)

yaitu Kak Ernita dan Bang Abel yang telah banyak membantu mengurus berkas dan dokumen yang diperlukan dari awal hingga selesai.

6. Ucapan terima kasih kepada sahabat-sahabat penulis yaitu grup ―cabe- cabean‖ yaitu (Mesra Manullang, Elisabet Simarmata, Murti Safitri, Rina Lestari dan Nur Mariam) dan juga buat seluruh teman terdekat yang lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

7. Ucapan terima kasih banyak kepada teman-teman Sosiologi 2014 yang baik, solid dan luar biasa. Terima kasih banyak atas pengalaman, penghargaan dan kepercayaan kalian semua kepada penulis selama masuk kuliah hingga penulis selesai menyelesaikan skripsi ini, segala dukungan dan semangat kalian akan selalu penulis ingat, terima kasih teman perjuangan sosiologi 2014.

8. Ucapan salam teristimewa dan terima kasih kepada Budi Cahya yang selalu mendukung, memberi semangat dan membantu dalam segala hal dan keperluan selama dibutuhkan mulai dari awal penulisan sampai selesai, terima kasih banyak.

9. Paling teristimewa dan salam hangat serta terima kasih kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan saya hingga membuat kedua orang tua bangga bisa menjadikan penulis hingga sampai ke tahap ini. Khusus buat ayah yang telah berada di sisi Allah semoga khusnul Khotimah dan bangga melihat perjuangan anakmu hingga sekarang dan mama semoga selalu sehat hingga anakmu bisa membahagiakan dirimu dengan ilmu yang dimilikinya.

(6)

10. Ucapan terima kepada keluarga besar Alm. Sugiono yaitu sembilan anak- anaknya (Sugianti, Sulastri, Sutresni, Nuriani, Sugianto, Suriati, Nurtika Sari dan Siti Sarah) yang telah banyak membantu baik materi maupun doa buat adik bungsunya supaya bisa membanggakan keluarga besar Sugiono.

11. Ucapan terima kasih banyak kepada segenap informan yang telah banyak membantu memberkan informasi dan pengalaman hidup yang sangat penulis butuhkan dalam penulisan skripsi ini. Terutama kepada para buruh tani yang ada di Desa Kwala Gunung yang banyak membantu dan percaya dengan kehadiran saya. Kemudian kepada Kepala Desa Kwala Gunung dan para aktor yang terlibat penulis ucapkan terima kasih banyak.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat berbagai kekurangan dan keterbatasan. Untuk itu penulis mengharapkan masukan dan saran serta kritikan yang bersifat membangun demi kebaikan dan kesempurnaan penulisan skripsi ini. Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, dan akhir kata dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini.

Medan, 27 September 2018 Penulis

S U C I 140901006

(7)

DAFTAR ISI

Abstrak ………... ii

Kata Pengantar ……… iii

Daftar Isi ……….... vii

Daftar Tabel ……… xi

Daftar Skema ……… xii

Daftar Gambar ……… xiii

BAB I. PENDAHULUAN ……….…...… 1

1.1 Latar Belakang ………..….…………. 1

1.2 Rumusan Masalah ………..……….…. 11

1.3 Tujuan Penelitian ………..……….……….… 12

1.4 Manfaat Penelitian ……….……….….. 13

1.4.1 Manfaat Teoritis ……….……….….. 13

1.4.2 Manfaat Praktis ………..……….. 13

1.5 Defenisi Konsep ………..……….…….… 14

BAB II. KERANGKA TEORI ……….……….. 23

2.1 Teori Lingkaran Setan Kemiskinan oleh Ragnar Nurkse….. 23

2.2 Indikator Kemiskinan dan Penyebabnya ..………. 28

2.3 Penguasaan atas Hak dan Sumber Daya …..………. 33

2.4 Struktur Eksploitasi ………... 37

2.5 Kajian-Kajian Relevan tentang Kemiskinan Petani Oleh Beberapa Perspektif ………..……….. 40

(8)

BAB III. METODE PENELITIAN ………….……….…. 49

3.1 Jenis Penelitian ……….……….…. 49

3.2 Lokasi Penelitian ……….…….…. 50

3.3 Unit Analisis dan Informan ……….………. 51

3.3.1 Unit Analisis ……….…. 51

3.3.2 Informan ……….………..… 52

3.4 Teknik Pengumpulan Data ………..…………. 53

3.4.1 Wawancara ……….……….. 53

3.4.2 Observasi ……….………..… 54

3.4.3 Dokumentasi ……….. 55

3.5 Interpretasi Data ……….……….. 55

3.6 Jadwal Kegiatan ……….…….…. 56

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 57

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ……… 57

4.1.1 Legenda dan Sejarah Desa Kwala Gunung ……… 57

4.1.2 Letak dan Kondisi Geografis Desa Kwala Gunung …… 58

4.1.3 Kondisi Demografi Desa Kwala Gunung ……… 61

4.1.3.1 Jumlah Penduduk ……….... 61

4.3.1.2 Mata Pencaharian ………... 62

4.1.4 Kehidupan Masyarakat Desa Kwala Gunung …………... 64

4.2 Profil Informan ……….... 65

4.2.1 Identitas Informan ………. 65

4.2.2 Sekilas Gambaran Kehidupan Para Informan …………... 67

(9)

4.2.3 Kisah Petani menjadi Buruh Tani ………. 98 4.2.4 Kisah Tengkulak yang dikenal sebagai Gejek …………. 119 4.2.5 Kisah Tuan Tanah Kaya ………..…… 123 4.2.6 Kondisi Sosial Ekonomi Buruh Tani yang

Kehilangan Lahan ……….… 126

4.3 Bentuk Struktur Eksploitasi pada Petani Padi hingga

menjadi Buruh Tani di Bekas Lahannya Sendiri ……….… 134 4.3.1 Bentuk Struktur Eksploitasi yang terjadi pada

Petani Kecil ………. 134

4.3.1.1 Eksploitasi yang dilakukan Tengkulak terhadap

Petani Kecil ………..… 136

4.3.1.2 Eksploitasi yang dilakukan Kelompok Pengomben

terhadap Petani Kecil ……….…. 145 4.3.1.3 Eksploitasi yang dilakukan Pemilik Mesin dan

Alat Pertanian (Jetor) terhadap Petani Kecil ………….. 149 4.3.1.4 Eksploitasi yang dilakukan Instansi Pemerintah

Desa terhadap Petani Kecil ……….…. 155 4.3.1.5 Eksploitasi yang dilakukan Preman terhadap

Petani Kecil ... 157 4.3.2 Bentuk Struktur Eksploitasi yang terjadi pada

Buruh Tani yang Kehilangan Lahan ………..… 158 4.3.2.1 Eksploitasi yang dilakukan Pemerintah Desa terhadap

Buruh Tani ………...… 162

(10)

4.3.2.2 Eksploitasi yang dilakukan Pemilik Lahan sekaligus

Majikan terhadap Buruh Tani ……….. 167

4.3.2.3 Eksploitasi yang dilakukan Tuan Tanah sekaligus Majikan terhadap Buruh Tani ……….. 170

4.3.2.4 Eksploitasi yang dilakukan Tengkulak sekaligus Majikan dan Kelompok Pengomben terhadap Buruh Tani….. 182

4.4 Struktur Eksploitasi menyebabkan Lingkaran Kemiskinan Petani Padi menjadi Buruh Tani di Bekas Lahannya Sendiri... 194

4.5 Bantuan Pemerintah Belum Maksimal …………...….…….. 214

4.6 Profesi Menjadi Buruh Tani tidak lagi Menjanjikan Hidup……… 219

BAB V. PENUTUP ……….………. 224

5.1 Kesimpulan ……….………. 224

5.2 Saran ……….………. 226

Daftar Pustaka ……….………….……… 228

Lampiran-Lampiran ………..……… 236

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbandingan Persamaan dan Perbedaan

Penelitian Terdahulu……… 41 Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penyusunan Skripsi…..……… 56 Tabel 4.1 Komposisi Jumlah Penduduk Desa Kwala Gunung………... 61 Tabel 4.2 Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Desa

Kwala Gunung……… 62

Tabel 4.3 Uraian Tata Penggunaan Lahan di

Desa Kwala Gunung ………...….………… 63

Tabel 4.4 Komposisi Usia dan Pekerjaan Informan di

Desa Kwala Gunung …..………..………... 66 Tabel 4.5 Alasan Petani Menjual Lahan Sawah Miliknya ……… 117 Tabel 4.6 Perbedaan Pendidikan, Kesehatan dan Pemenuhan

Kebutuhan Hidup Para Buruh Tani……… 126 Tabel 4.7 Penyaluran Bantuan yang tidak tepat Sasaran ……...….…. 163 Tabel 4.8 Perbedaan Upah Buruh Tani berdasarkan Jam Kerja

dan Jenis Pekerjaan……….…………... 172 Tabel 4.9 Hitungan Penghasilan dan Pengeluaran Petani Kecil di

Desa Kwala Gunung ……….. 198

Tabel 4.10 Status Kepemilikan Lahan Persawahan di

Desa Kwala Gunung………..… 202

Tabel 4.11 Hitungan Penghasilan dan Pengeluaran Buruh Tani sehingga menjadi Pekerja di Bekas Lahan Miliknya Sendiri …… 206

(12)

DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Lingkaran Setan Kemiskinan Versi Nurkse

(dalam Supriatna, 1997)…………..………... ………... 24 Skema 4.1 Komponen Bentuk Struktur Eksploitasi yang terjadi pada

Petani Kecil ……….... 135 Skema 4.4 Komponen Bentuk Struktur Eksploitasi yang terjadi

pada Buruh Tani yang Bekerja di Bekas Lahan Sendiri …... 161 Skema 4.3 Bentuk Struktur Eksploitasi Pemerintah Desa terhadap

Buruh Tani ………. 165

Skema 4.4 Bentuk Struktur Eksploitasi Pemilik Lahan

sekaligus Majikan terhadap Buruh Tani ………. 167 Skema 4.5 Bentuk Struktur Eksploitasi Tuan Tanah

sekaligus Majikan terhadap Buruh Tani ………. 171 Skema 4.6 Bentuk Struktur Eksploitasi Tengkulak sekaligus Majikan

dan Kelompok Pengomben terhadap Buruh Tani ..…… …….. 183 Skema 4.7 Komponen Struktur Eksploitasi menyebabkan Lingkaran

Kemiskinan pada Petani Padi hingga menjadi Buruh Tani

di Lahannya Sendiri ………. 196

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Peta Desa Kwala Gunung ……….… 60 Gambar 4.2 Kondisi Rumah Buruh Tani yang Terbaik dan

Darurat Menurut Peneliti………... 132 Gambar 4.3 Salah Satu Bagian dari Alat/Mesin

Komben Padi ……….….…………. 147

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara agraris dengan luas lahan pertanian sekitar 8 juta Ha dari seluruh luas lahan di Indonesia (menurut Data Kementan RI, 2017).

Hasil produksi dari sektor pertanian Indonesia diantaranya adalah bahan pangan berupa padi. Selain hasil produksi padi, sektor pertanian juga digunakan untuk bercocok tanam bagi petani di pedesaan, dengan aneka ragam tanaman seperti semangka, jagung, cabai, ubi dan lain sebagainya. Sebagian besar masyarakat di Indonesia yang bertempat tinggal di wilayah pedesaan menjadikan sektor pertanian sebagai mata pencaharian, pola hidup dan sumber penghasilan. Mata pencaharian yang dimaksud adalah sebagai seorang petani. Menurut (Mosher, 1987:198) petani adalah manusia yang bekerja memelihara tanaman dan hewan untuk diambil manfaatnya guna menghasilkan pendapatan. Ada dua kata dalam bahasa Inggris mengenai petani yaitu “peasant” dan “farmer”. Secara mudahnya peasant adalah gambaran dari petani yang subsisten dengan suatu kelas petani seperti petani kecil, penyewa, penyakap dan buruh tani. Sedangkan farmer adalah petani modern yang berusaha di bidang pertanian dengan menerapkan teknologi modern seperti petani kaya, tuan tanah dan petani pemilik.

Berkaitan dengan mata pencaharian sebagai seorang petani, terdapat salah satu wilayah di Kabupaten Batu Bara tepatnya Desa Kwala Gunung Kecamatan Lima Puluh, yang memiliki wilayah persawahan terluas sekitar 280 Ha dari total luas lahan wilayah Kabupaten. Mata pencaharian utama masyarakat di Desa

(15)

Kwala Gunung bergerak di sektor pertanian yaitu sebagai petani dan buruh tani sebanyak 288 orang (51%) dengan pembagian jumlah petani sekitar 123 orang dan buruh tani sekitar 165 orang. Sedangkan sekitar 49% bekerja sebagai (pegawai, buruh pabrik, pedagang, wiraswasta, dll). Hal tersebut telah dibuktikan melalui Data Administratif Desa (2017) bahwa luas wilayah Desa Kwala Gunung mencapai 510 Ha dengan pembagian atas penggunaan lahan seperti persawahan, pemukiman, perkebunan, ladang, jalan dan lainnya. Pembagian tersebut didukung dengan komposisi jumlah penduduk sebanyak 2.212 jiwa dengan pembagian (jumlah laki-laki sebanyak 1.177 jiwa dan perempuan sebanyak 1.035 jiwa).

Fungsi sektor pertanian selain sebagai ketersedian pangan, juga memiliki fungsi dalam penyediaan lapangan pekerjaan di wilayah pedesaan. Kemampuan sektor pertanian menampung tenaga kerja di wilayah pedesaan pernah dijelaskan (Geertz, 2016) mengenai involusi pertanian yang dijadikan sebagai tempat penampungan penduduk dan tenaga kerja yang terus bertambah dengan sistem kerja yang bergotong-royong, teknologi yang masih tradisional dan upah yang dibagi-bagi sehingga menyebabkan terjadinya kemiskinan yang dibagi rata (shared proverty). Mengingat peranan fungsi strategis pertanian, sudah selayaknya bidang pertanian mendapatkan perhatian dan kepedulian cukup besar baik dari level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) telah mendukung pengembangan pertanian di Indonesia melalui beberapa program seperti melakukan cetak sawah lahan pertanian baru, pupuk bersubsidi tepat waktu dan sasaran, memperluas layanan irigasi pertanian, pestisida untuk serangan hama, membantu kepemilikan alat pertanian padi untuk tanam yang lebih cepat dan luas, membantu kepemilikan

(16)

alat traktor roda dua untuk olah tanah yang lebih efesien, ansuransi ketika gagal panen dan harga gabah yang stabil sesuai dengan ketetapan pemerintah.

Beberapa program telah direncanakan oleh Kementan, yang bertujuan untuk membangun infrastruktur pertanian lebih baik kedepannya. Sama halnya yang dilakukan oleh pemerintah Desa Kwala Gunung melalui beberapa programnya. Pada tahun 2008 telah diatur berbagai macam program untuk kepentingan pertanian seperti program pengembangan informasi data, peningkatan hasil produksi dengan teknologi baru, peningkatan kesejahteraan petani dan gerakan pemberdayaan petani terpadu (GPPT). Beberapa program tersebut sebenarnya akan berguna untuk kemajuan bidang pertanian. Tetapi yang terjadi, program tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, dikarenakan tidak adanya kerjasama antara masyarakat petani dengan pemerintah desa untuk memajukan bidang pertanian. Keduanya seperti berjalan masing-masing padahal saling membutuhkan satu sama lain. Saat ini program tersebut hanya menjadi sebuah rencana dan tidak pernah terrealisasi. Pemerintah desa saat ini tidak fokus terhadap program di bidang pertanian, karena beberapa program dianggap tidak memberikan manfaat bagi pemerintah. Saat ini pemerintah desa lebih fokus terhadap pengembangan dan perbaikan infrastruktur desa yang akan berguna untuk masyarakat dalam melakukan segala aktifitas dan kegiatan sehari-hari.

Beberapa program yang telah dibuat oleh Kementerian Pertanian RI, sebenarnya akan berguna untuk kemajuan pertanian di desa apabila pemerintah desa ikut membantu bekerja sama dalam memfasilitasi dan membina petani supaya maju. Tetapi, kenyataannya petani di Desa Kwala Gunung kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui beberapa programnya. Sama

(17)

halnya dengan Desa Kwala Gunung yang merupakan salah satu desa yang berharap program Kementan bisa dirasakan petani. Program tersebut diwujudkan melalui bentuk bantuan yang diberikan kepada para petani miskin maupun buruh tani yang berguna untuk membantu menyelesaikan masalah yang sering dihadapinya. Bantuan tersebut akan bermanfaat untuk petani kecil supaya dapat mengembangkan bidang pertaniannya agar menghasilkan produksi yang melimpah. Sering kali program tidak dijalankan dan didistribusikan dengan baik karena beberapa kendala. Salah satu program yang tidak berjalan baik adalah program peningkatan hasil produksi dengan teknologi baru. Para petani di fasilitasi oleh Kementan dengan pendistribusian alat pertanian yang canggih seperti traktor, mesin jetor serta alat tanam yang baik. Semua fasilitas disediakan, tetapi pendistribusian ke daerah di kira kurang maksimal. Bantuan hanya sampai di kota dan tidak tepat sasaran ke desa. Sehingga dampak tersebut akan menimbulkan alat pertanian yang digunakan petani hanyalah alat yang seadanya dan masih tradisional dengan biaya yang murah. Sebab, jika ingin menyewa alat canggih harus menyiapkan uang penyewaan yang cukup mahal. Hal inilah yang harus menjadi tanggung jawab pemerintah dalam memajukan pertanian di desa supaya bisa menghasilkan produksi padi lebih banyak setiap tahun melalui bantuan dan program yang telah direncanakan.

Sejalan dengan program dan penyaluran bantuan yang terjadi di Desa Kwala Gunung, masalah yang sering terjadi di Desa Kwala Gunung adalah kurangnya ketersediaan modal dalam usaha pertanian yang membuat petani harus berhutang. Modal yang dimaksud merupakan modal dalam bentuk kepemilikan lahan maupun biaya pertanian. Tanah atau lahan adalah faktor yang paling utama

(18)

dalam usaha tani yang digunakan sebagai akses dan modal para petani. Lahan merupakan salah satu syarat untuk dapat berlangsungnya proses produksi di bidang pertanian.

Sesuai dengan data yang didapatkan dilapangan, kepemilikan lahan pertanian di Desa Kwala Gunung semakin tahun semakin menurun. Pada tahun (2015) kepemilikan lahan dikuasai oleh penduduk Desa Kwala Gunung sekitar 60% dan 40% dikuasai penduduk luar. Sedangkan pada tahun (2017) kepemilikan lahan justru berbalik dikuasai oleh penduduk luar Desa Kwala Gunung yaitu sekitar 55% dan penduduk Desa Kwala Gunung hanya memiliki 45%. Menurut data tentang kepemilikan lahan pada tahun 2015-2017, tahun berikutnya akan semakin menurun dikuasai penduduk Desa Kwala Gunung apabila penjulan lahan terus bertambah setiap tahunnya.

Banyaknya masalah yang dialami petani seperti kekurangan modal dalam usaha pertanian membuat petani di Desa Kwala Gunung melakukan beberapa cara supaya tetap mengolah sawah. Cara yang dilakukan yaitu dengan berhutang kepada tengkulak atau menjual harta benda berharga demi melangsungkan kegiatan pertanian. Cara ini dianggap akan membantu kesulitan awal yang dialami petani dengan meminjam atau menjual harta benda yang akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi petani. Tetapi yang terjadi petani merasa nyaman dan ketergantungan terhadap pinjaman tersebut. Petani mengandalkan segala keperluan dalam mengolah sawah dengan cara meminjam. Prinsif yang di yakini petani adalah “apabila tidak sanggup membeli lebih baik meminjam dan dibayar saat masa panen”. Prinsif inilah yang membuat petani di Desa Kwala Gunung masuk kedalam perangkap kemiskinan. Bagi petani, dengan berhutang

(19)

dianggap menjadi andalan yang bisa menyelesaikan masalah yaitu peminjaman modal tanam. Petani tidak pernah memikirkan resiko yang terjadi, bagi petani walaupun harus berhutang yang penting tetap mengolah sawah supaya menghasilkan produksi padi. Petani menganggap urusan pembayaran adalah hal yang mudah, yang terpenting adalah saat masa tanam harus tetap mengolah sawah meskipun harus berhutang.

Peminjaman hutang biasa dilakukan petani kepada tengkulak yang dianggap sebagai penolong para petani dalam menyelesaikan segala macam masalah dan kendala yang dialami. Tetapi yang terjadi justru tengkulak yang membawa petani jatuh miskin dengan besarnya beban bunga pinjaman yang diberikannya. Besar bunga yang ditetapkan sekitar 20% setiap pinjaman uang sebesar Rp.1.000.000;. Bunga akan terus bertambah sesuai besarnya nominal yang dipinjam, dan akan mengalami peningkatan sejalan dengan keterlambatan batas waktu pembayaran. Setelah diberikan pinjaman berupa modal awal oleh tengkulak, petani tidak pernah menyadari hal yang nantinya akan membuat petani bisa mengalami kemiskinan karena banyaknya hutang. Petani identik dengan pekerjaan yang kurang menjanjikan harapan untuk bisa hidup sejahtera, sehingga kemiskinan yang dialami petani tidak kunjung terselesaikan. Masing-masing keluarga petani di Desa Kwala Gunung rata-rata memiliki lahan sekitar 10 rante/keluarga. Menurut Sensus Pertanian (2003) petani yang menguasai lahan kurang dari 1 Ha akan sulit untuk meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga petani untuk keluar dari masalah kemiskinan yang dialami.

Petani dapat dikatakan sejahtera apabila memiliki lahan lebih dari 1-3 Ha dari lahan pertanian yang dimiliki. Pekerjaan menjadi seorang petani dengan luas

(20)

lahan rata-rata sekitar 10 rante hanya mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp.7.000.000/masa panen. Penghasilan tersebut bukanlah penghasilan bersih yang diterima petani. Penghasilan yang di dapat harus dipotong dengan hutang yang dipinjam selama pengolahan sawah baik berupa keperluan produk pertanian, modal tanam, jasa pengomben, beban bunga pinjaman, uang kasih sayang dan lain sebagainya. Apabila dihitung pengeluaran yang dikeluarkan petani jumlahnya sekitar Rp.10.000.000/masa pengolahan sawah. Artinya jumlah pengeluaran lebih besar daripada jumlah pemasukan yang didapat. Sehingga harapan petani yang ingin menyimpan modal untuk masa tanam selanjutnya akan hilang, dikarenakan tidak adanya sisa dari hasil keuntungan sawah yang dimiliki. Kondisi ini akan lebih diperparah apabila terjadi puso (kegagalan panen dikarenakan cuaca dan hama). Apabila petani mengalami kondisi puso, maka pendapatan yang dihasilkan lebih sedikit dari perkiraan. Hal ini yang sering terjadi di Desa Kwala Gunung, sehingga para petani sering mengalami kesulitan ekonomi dan memilih untuk hutang baik kepada tengkulak, sanak saudara maupun tetangga supaya tetap memenuhi kebutuhan hidup.

Petani sulit membayar hutang kepada tengkulak karena hasil yang didapatkan dari usaha tani tidak cukup untuk membayar hutang. Faktor lain yang menyebabkan petani tidak sanggup membayar hutang karena harga gabah yang murah. Petani sudah mengusahakan untuk membayar dan mengembalikan pinjaman, tetapi harga gabah di Desa Kwala Gunung sangat murah dan dapat dikatakan tidak sesuai dibanding dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 27/M-DAG/PER/9/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani yaitu harga Gabah Kering Panen

(21)

(GKP) sekitar Rp.4.791/kg. Sedangkan harga gabah di Desa Kwala Gunung per November 2017 sekitar Rp.4.300/kg. Perbandingan harga gabah yang dibeli oleh tengkulak tidaklah sesuai dengan harga ketetapan yang diberikan oleh pemerintah.

Sehingga petani di Desa Kwala Gunung tidak bisa membayar hutangnya hingga harus merelakan lahannya terjual demi menutupi hutang. Sesuai keadaan dilapangan, bahwa harga gabah di Desa Kwala Gunung tidak pernah berpatokan pada harga ketetapan pemerintah. Walaupun mengalami peningkatan dari pemerintah, tetapi tidak pernah ikut dirasakan oleh petani di Desa Kwala Gunung.

Hak untuk menetapkan harga gabah berada pada tangan tengkulak. Lebih parahnya lagi, petani yang memiliki sangkutan berupa hutang diharuskan untuk diambil gabahnya kepada tengkulak melalui kelompok pengomben. Pembayaran jasa kerja sebanyak 20 % setiap 1000 kg hasil gabah yang diperoleh.

Kasus yang sama terjadi di Surabaya, yang dilakukan oleh Wignjosoebroto dkk (1992), tentang kehidupan masyarakat petani yang rentan akan masalah kemiskinan. Keluarga petani yang di tindas kemiskinan pada umumnya tidak berdaya, ruang geraknya serba terbatas, dan cenderung kesulitan untuk terserap masuk ke dalam sektor-sektor yang memungkinkan mereka dapat mengembangkan usahanya di bidang pertanian. Petani sulit untuk keluar dari kondisi miskin karena petani sekedar mempertahankan diri agar mampu memenuhi kebutuhan hidup. Jangankan untuk mengembangkan diri ke taraf sejahtera, untuk bertahan hidup pada taraf subsisten saja bagi keluarga petani miskin hampir dikatakan mustahil. Studi yang sama telah dilakukan oleh Suyanto (1996), bahwa usaha untuk memberantas kemiskinan memang bukan hal yang mudah, sebab dialami bukan hanya dalam keluarga petani, tetapi seluruh

(22)

masyarakat miskin yang kekurangan pendapatan dan tidak memiliki modal usaha.

Hal ini yang sesungguhnya membuat lingkaran kemiskinan terus dialami keluarga petani dan masyarakat miskin di pedesaan. Keadaan inilah yang dikenal dengan perangkap kemiskinan (Suyanto, dalam: Jurnal Sosiologi, Tahun XIV No.

4/2001:30-34).

Fenomena dan data yang telah ditemukan di Desa Kwala Gunung melihat bahwa terdapat berbagai macam bentuk eksploitasi yang dialami petani kecil di Desa Kwala Gunung. Beberapa aksi dari tindakan eksploitasi telah dilakukan oleh seorang aktor yang memiliki kekuasaan untuk melakukan penindasan kepada petani kecil diantaranya adalah tengkulak menjebak petani dengan pinjaman modal dengan pembayaran bunga yang besar yaitu sekitar 20%, munculnya kelompok pengomben dengan keharusan hasil gabah dipanen oleh pengomben tetapi membayar potongan persen sekitar 20% per 1000 kg hasil gabah, pembelian harga gabah yang murah sampai ketentuan menjual hasil panen harus kepada tengkulak dan lain sebagainya.

Petani sadar akan hal tersebut, tetapi petani tidak berdaya karena apabila tidak menjual hasil panen kepada tengkulak maka tidak akan ada yang membeli hasil panen milik petani. Petani tidak memiliki akses dan kemampuan untuk melawan sistem dan struktur yang terjadi. Berdasarkan Data Administratif Desa (2017), dapat dikatakan bahwa Desa Kwala Gunung merupakan salah satu desa yang dapat dikategorikan sebagai desa berkembang dalam sektor pertanian. Desa Kwala Gunung merupakan penyumpang pangan terbaik di tingkat Kabupaten Batu Bara dengan produksi padi terbesar setiap tahunnya yaitu pada tahun 2017 sebanyak 958.000 kg atau sekitar 958 ton. Tetapi kenyataannya, petani di Desa

(23)

Kwala Gunung dapat dikatakan mengalami kemiskinan dan tidak memiliki kehidupan yang sejahtera. Bagaimana tidak, petani yang dikatakan sejahtera apabila memiliki lahan yang luas sekitar 1-3 Ha, sedangkan petani di Desa Kwala Gunung hanya memiliki sekitar 10 rante/keluarga dan sebagaian ada yang sudah menjual lahannya dan kini hanya menjadi pekerja.

Sejarah petani yang menang adalah petani yang memiliki modal dan lahan yang luas sehingga kehidupannya sejahtera. Sedangkan petani yang kalah adalah petani yang tidak memiliki modal dan kepemilikan lahan sehingga hanya menjadi pekerja di sektor pertanian. Sesuai dengan analisis (Soetomo, 1997:7) bahwa pada dasarnya petani adalah manusia yang harus diperlakukan dengan sungguh- sungguh sebagai manusia bukan sebagai orang yang harus ditindas apalagi dibodoh-bodohi oleh sistem dan keadaan. Petani berada pada situasi kemiskinan disebabkan oleh beberapa faktor dari dalam individu. Faktor tersebut berupa sikap nyaman meminjam dan bergantung pada tengkulak yang dianggap mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi petani serta tidak pernah berani untuk melawan struktur yang dianggap salah.

Sesuai Data Administratif Desa Kwala Gunung (2017), bahwa terdapat data mengenai jumlah petani yang beralih profesi menjadi buruh tani yang telah kehilangan lahannya. Data tersebut terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, mulai tahun 2013-2015. Pada tahun 2013 petani yang beralih profesi menjadi buruh tani berjumlah sekitar 85 orang, tahun 2014 sekitar 115 orang dan di tahun 2015 sekitar 165 orang. Sesuai data di lapangan, banyaknya jumlah petani yang beralih profesi menjadi buruh tani yang kehilangan lahan sekitar 165 orang, jumlah tersebut merupakan gambaran bahwa petani di Desa Kwala Gunung

(24)

memilih untuk menjual lahan demi menutupi segala macam masalah yang dialami seperti melunasi hutang dan memenuhi kebutuhan hidup. Petani yang kehilangan lahnnya kini harus rela menjadi buruh tani dibekas lahannya sendiri, demi kelangsungan hidup keluarganya. Karena tidak ada lagi andalan mata pencaharian lain selain bekerja menjadi buruh tani. Kondisi seperti ini membuat para petani mengalami kemiskinan akibat penjualan lahan yang terjadi di Desa Kwala Gunung. Hingga akhirnya petani memilih untuk menjual sedikit demi sedikit lahan persawahan bahkan keseluruhan, demi menutupi hutang kepada tengkulak dan untuk biaya kebutuhan hidup. Petani tidak bisa membuka usaha pertaniannya kembali karena petani sudah kehilangan akses utamanya yaitu lahan dan kini harus menjadi buruh tani di bekas lahannya sendiri.

Jumlah petani yang beralih profesi menjadi buruh tani di bekas lahannya sendiri akan terus mengalami peningkatan apabila pemerintah tidak melakukan tindakan dan mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah yang terjadi. Sudah selayaknya ada perhatian khusus dari pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi di Desa Kwala Gunung. Oleh karena itu, peneliti telah melakukan penelitian di Desa Kwala Gunung karena peneliti tertarik dengan masalah yang terjadi yaitu penjualan lahan petani yang berujung pada perubahan status petani dari pemilik lahan kini harus menjadi buruh tani dibekas lahannya sendiri dengan kondisi hidup yang tetap miskin setelah menjual lahannya.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti yang berisi pertanyaan tersurat yang

(25)

akan dijawab dan dicari penyelesaiannya (Usman & Purnomo, 2009:27).

Berdasarkan latar belakang dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana bentuk struktur eksploitasi yang terjadi pada petani padi di Desa Kwala Gunung hingga menjadi buruh tani bekerja di bekas lahannya sendiri ?

2. Bagaimana bentuk struktur eksploitasi yang terjadi pada buruh tani di Desa Kwala Gunung sehingga menyebabkan terjadinya kemiskinan pada buruh tani di bekas lahannya sendiri ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini ialah pernyataan mengenai apa yang hendak dicapai. Usman & Purnomo (2009:30) menyatakan bahwa tujuan penelitian dicantumkan dengan maksud agar pembaca dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan penelitian yang sesungguhnya. Tujuan yang dimaksud peneliti adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bentuk struktur eksploitasi yang terjadi pada petani padi di Desa Kwala Gunung hingga menjadi buruh tani bekerja di bekas lahannya sendiri.

2. Untuk mengetahui bentuk struktur eksploitasi yang terjadi pada buruh tani di Desa Kwala Gunung sehingga menyebabkan terjadinya kemiskinan pada buruh tani di bekas lahannya sendiri.

(26)

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi serta pengetahuan bagi mahasiswa khususnya mahasiswa sosiologi, serta dapat menambah referensi penelitian bagi pihak-pihak yang membutuhkan untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Adapun yang menjadi manfaat praktis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengasah kemampuan peneliti dalam mengkaji berbagai kebijakan atau program yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini terkait dengan konsentrasi keilmuan yang digeluti peneliti saat ini yakni sebagai calon perencana sosial dan pembangunan.

2. Selain itu, penelitian ini juga akan bermanfaat sebagai bahan masukan/rekomendasi untuk aparat pemerintahan yang terkait seperti:

Aparat Dinas Pertanian, Dinas Koperasi dan Pemerintah Desa Kwala Gunung agar dapat melakukan evaluasi dan memberi perhatian cukup besar terhadap bidang pertanian, supaya tidak terjadi lagi kasus dan fenomena yang sedang dihadapi masyarakat yaitu kasus penjualan lahan sawah yang mengakibatkan petani jatuh miskin hingga harus menjadi buruh di bekas lahannya sendiri.

3. Manfaat lainnya yaitu bagi petani yang ada di Desa Kwala Gunung supaya tidak dengan mudahnya menjual lahan pertaniannya hanya demi melunasi

(27)

hutang-hutangnya yang nanti justru akan menimbulkan masalah baru kedepannya.

1.5 Defenisi Konsep

Defenisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep adalah defenisi abstrak mengenai gejala atau realita suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Suyanto &

Sutinah, 2005:49). Selain itu, konsep berfungsi sebagai panduan bagi peneliti untuk menindaklanjuti penelitian serta menghindari timbulnya kekacauan akibat kesalahan tafsir dalam penelitian. Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian adalah sebagai berikut:

1. Petani Kecil

Petani kecil adalah orang yang bekerja di sektor agraria dan sebagian besar penghasilannya berasal dari sektor pertanian. Menurut Sasraatmaja (2010) berdasarkan kepemilikan lahan golongan petani kecil adalah petani yang memiliki lahan kurang dari 1 Ha. Luas lahan yang tidak terlalu luas biasanya dikerjakan sendiri. Lahan pertanian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lahan pertanian padi, dimana di Desa Kwala Gunung mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani yang dijadikan sebagai mata pencaharian untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani. Petani kecil di Desa Kwala Gunung rata-rata memilki 10 rante lahan sawah. Petani kecil sering mengalami masalah seperti: kepemilikan lahan yang sempit, kurangnya modal untuk biaya produksi serta murahnya harga gabah membuat keadaan petani mengalami kemiskinan, sampai pada

(28)

akhirnya membuat petani berani untuk berhutang bahkan menjual lahan demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya produksi pertaniannya.

2. Buruh Tani Miskin

Buruh tani adalah orang yang bekerja di bidang pertanian dengan cara melakukan pengelolaan tanah yang bertujuan untuk memperoleh hasil tanaman. Buruh tani hanya bekerja untuk lahan pertanian milik orang lain dengan balasan upah dari sang pemilik lahan atau sang tuan tanah.

Sedangkan buruh tani miskin di Desa Kwala Gunung adalah seorang yang bekerja di sektor pertanian yang mencari sebuah pekerjaan guna untuk mendapatkan hasil yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan keluarganya. Hasil berupa upah yang didapat dari buruh tani dapat digunakan bagi dirinya sendiri atau bisa untuk dijual lagi kepada orang lain dengan tujuan memperoleh manfaat yang bisa berguna untuk keluarganya. Buruh tani miskin yang dimaksud di Desa Kwala Gunung adalah buruh tani yang dulunya sebagai petani pemilik lahan yang kini harus bekerja menjadi buruh di lahan bekas miliknya dengan status kepemilikan lahan sudah berganti menjadi milik orang lain karena lahannya sudah terjual. Buruh tani miskin di Desa Kwala Gunung adalah buruh tani yang menjadi pekerja dilahan milik orang lain dan sebagian masih ada yang menjadi petani kecil setelah menjual sebagian lahannya, dan kini hanya memiliki lahan sekitar 5-10 rante.

(29)

3. Kelompok Pengomben

Kelompok pengomben adalah sebutan yang sering digunakan oleh masyarakat petani di Desa Kwala Gunung yang artinya adalah kumpulan orang yang dipekerjakan oleh pihak tengkulak atau agen untuk mengomben (memanen) hasil padi milik petani di seluruh Desa Kwala Gunung secara bersamaan dan bergiliran. Kelompok ini beranggotakan sebanyak 20-40 orang yang terdiri dari penduduk Desa Kwala Gunung dan luar Desa Kwala Gunung. Kelompok pengomben ini merupakan fasilitas yang diberikan dari tengkulak untuk mengambil hasil panen petani agar lebih mudah dan cepat. Kelompok pengomben mengambil hasil panen padi milik petani kemudian kelompok ini mendapatkan persen dari tengkulak sesuai dengan upah pekerjaannya. Apabila petani mendapat hasil panen 1000 kg maka harus mengeluarkan potongan persen sebesar 20% untuk upah bagi para pekerjanya.

4. Tengkulak

Tengkulak adalah pedagang yang berkembang secara tradisional di Indonesia dalam membeli komoditas dari petani yang berperan sebagai pengumpul, pembeli, pialang, pedagang, pemasaran, dan sekaligus sebagai kreditor. Tengkulak di Desa Kwala Gunung juga merupakan pedagang perantara yang membeli hasil bumi dari petani dengan harga beli yang umumnya lebih rendah daripada harga pasar. Tengkulak di Desa Kwala Gunung sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan petani karena peranan dan fungsi tengkulak merupakan seorang penolong bagi para

(30)

petani yang membutuhkan bantuan yang berhubungan dengan kegiatan pertanian maupun kebutuhan hidup keluarga. Tengkulak biasanya memberikan bantuan berupa pinjaman modal, pinjaman berupa produk pertanian dan penyewaan alat pertanian. Pinjaman tersebut diberikan oleh tengkulak bukan tanpa sebab, ia memberikan pinjaman dengan tujuan supaya para petani percaya dan merasa bergantung dengan tengkulak.

Apabila sudah bergantung, maka para petani tidak bisa lepas dan tetap mengikuti apa aturan yang dibuat tengkulak. Hal inilah yang membuat keadaan para petani atau buruh tani semakin kesulitan bahkan mengalami kemiskinan. Tetapi dilain pihak, tengkulak mendapatkan hasil yang besar karena tengkulak mendapat keuntungan dari hasil pembelian gabah dari petani dengan harga murah, dengan begitu tengkulak bisa menjual gabah kekilang dengan harga yang tinggi supaya dirinya memperoleh keuntungan yang akan memperkaya dirinya dan membuat kondisi orang lain menjadi miskin dengan cara yang dilakukannya.

5. Kemiskinan Petani

Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti (makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan). Kemiskinan merupakan masalah global yang disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar ataupun sulitnya akses terhadap kebutuhan dasar. Kemiskinan petani di Desa Kwala Gunung merupakan keadaan dimana para petani sulit untuk maju dan sejahtera disebabkan oleh beberapa faktor seperti kekurangan modal

(31)

untuk memulai usaha tani, lilitan hutan yang semakin hari semakin bertambah, harga gabah yang murah, upah pekerjaan yang sangat rendah, serta pekerjaan yang kurang menjanjikan. Keadaan inilah yang membuat keadaan petani tetap berada pada kondisi kemiskinan, karena kondisi ini tidak berubah dan terus saja seperti itu bagaikan lingkaran kemiskinan yang sulit untuk terselesaikan. Indikator kemiskinan menurut petani di Desa Kwala Gunung diantaranya adalah petani mendapat upah dengan kerja seharian dan habis untuk makan sehari, memiliki lahan padi sekitar kurang dari 1 hektar, tidak memiliki lahan sendiri/menyewa lahan milik orang lain, dan pengeluaran kebutuhan pertanian lebih besar daripada pendapatan yang diterima.

6. Struktur Eksploitasi

Menurut (Suharto, 2005) eksploitasi adalah suatu proses pemanfaatan yang dilakukan seseorang yang memiliki suatu kuasa atau kewenangan dengan cara mengambil keuntungan sendiri baik pengisapan dan pemerasan terhadap tenaga seorang pekerja. Sedangkan menurut Marx eksploitasi terjadi antara kaum borjuis (pemilik modal) dan kaum proletar (buruh). Eksploitasi atas kaum buruh akan melahirkan perubahan pada struktur kelas yang merangsang untuk melakukan perlawanan atas penindasan.

Berdasarkan kedua defenisi eksploitasi menurut para ahli, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa struktur eksploitasi adalah suatu perbuatan dari seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan

(32)

penindasan dan pemerasan secara konkret kepada kelompok lain demi memperoleh keuntungan. Struktur eksploitasi memiliki unsur yang berhubungan dan berkaitan antara satu aktor dengan aktor lainnya, yang dapat diwujudkan dalam bentuk paksaan dan tekanan dari pihak yang memiliki kekuasaan kepada para pekerja.

Bentuk dari struktur ekspoitasi yang terjadi di Desa Kwala Gunung berupa mahalnya harga produk pertanian yang dijual tengkulak tetapi tidak sesuai dengan harga pasaran seperti (harga pupuk 1 sak sekitar Rp.300.000; tetapi dijual dengan harga Rp.400.000;, racun dan pestisida seharusnya murah sekitar Rp.100.000;/liter bisa dijual dengan harga Rp.150.000;/liter), besarnya beban bunga pinjaman yang diberikan tengkulak seperti bunga pinjaman uang yaitu 20% setiap nominal Rp.1.000.000 peminjaman, upah tenaga kerja yang murah sekitar Rp.500.000- Rp.1.000.000 dan tidak sesuai dengan hitungan jam kerja dan jenis pekerjaan, harga gabah yang murah dan tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah yaitu seharusnya Rp.4.791/kg kini menjadi Rp.4.300/kg serta potongan persen kelompok pengomben yaitu 20% setiap 1000 kg hasil gabah. Hal ini merupakan bentuk eksploitasi yang terjadi pada petani di Desa Kwala Gunung sehingga petani mengalami kemiskinan dan akhirnya harus menjual sedikit demi sedikit lahannya hingga harus menjadi buruh tani di bekas lahannya sendiri.

(33)

7. Ketersediaan Pangan

Menurut UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan, pengertian ketersediaan pangan sama dengan ketahanan pangan, dimana kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan yang cukup dalam jumlah maupun mutunya yang aman, merata dan terjangkau. Sesuai keadaan dilapangan yaitu di Desa Kwala Gunung ketersediaan pangan untuk jenis produksi padi sangat melimpah ruah terbukti dengan hasil panen padi meningkat di tahun 2017 yaitu sebesar 958 ton/November dan di tahun sebelumnya hanya sekitar 728 ton yaitu di tahun 2016. Dari data tersebut, terlihat bahwa ketersediaan pangan berupa padi di desa dapat dikatakan cukup, tetapi kondisi dan keadaan yang terjadi dilapangan tidaklah sesuai. Terbukti masih banyaknya masyarakat miskin yang mengalami kekurangan bahan pangan dan kebutuhan hidup dikarenakan lilitan hutang. Hasil gabah yang diperoleh petani habis terjual bahkan kekurangan untuk menutupi hutang yang dimiliknya, sehingga tidak heran jika masyarakat petani tetap mengalami kondisi miskin dan terpuruk.

8. Manipulatif Data Bantuan

Manifulatif Data Bantuan adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan dengan cara melebihkan dan mengurangkan sesuatu sehingga tidak tampak seperti keadaan nyatanya. Pada dasarnya masyarakat di Desa Kwala Gunung cenderung untuk menutupi beberapa hal dalam setiap data. Salah satu cara yang terlihat dilapangan adalah

(34)

mengganti dan mengatas namakan kelompok tani demi mendapat bantuan subsidi dari pemerintah baik berupa alat pertanian (mesin komben, alat jetor, cangkul, capil, alat semprot hama dan mesin tanam) maupun produk pertanian (bibit, pestisida dan pupuk). Biasanya para aktor-aktor yang memiliki modal besar dan sanggup membeli alat atau produk pertanian langsung berkordinasi kepada ketua kelompok tani untuk mencari informasi mengenai bantuan apa yang diterima setiap tahunnya. Apabila ada bantuan yang disubsidi pemerintah, maka para aktor-aktor tersebut langsung bekerja sama pada kelompok tani untuk membeli bantuan tersebut dengan mengatas namakan kelompok tani. Karena bantuan tersebut hanya diberikan pada kelompok tani bukan orang lain diluar kelompok, dengan begitu otomatis bantuan didapat dengan harga yang sudah disubsidi (murah) tetapi dengan cara manipulasi atau rekayasa dari keadaan sebenarnya (penipuan data).

9. Ketergantungan Meminjam pada Tengkulak

Menurut Theotonio Dos Santos ketergantungan (dependensi) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi suatu Negara dipengaruhi oleh perkembangan Negara lain yang pola ketergantungannya hanya bergantung pada kehidupan masyarakatnya yang berperan sebagai penerima akibat saja. Salah satu bentuk ketergantungan yang ada di lapangan yaitu di Desa Kwala Gunung adalah ketergantungan untuk berhutang kepada tengkulak berupa modal pertanian, biaya penanaman dan perawatan, pupuk, dan racun pestisida. Ketergantungan yang terjadi di

(35)

Desa Kwala Gunung yaitu ketergantungan yang berarti keterikatan kepada tengkulak yang membuat keadaan buruh tani maupun petani justru semakin sulit dan hanya menciptakan sebuah kesengsaraan yang berujung pada kemiskinan. Hal itu terjadi karena pinjaman yang diberikan tengkulak harus dibayar dengan bunga, sehingga hutang yang sedikit akan bertambah jumlahnya jika tak mampu membayar.

(36)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Lingkaran Setan Kemiskinan oleh Ragnar Nurkse

Teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) pertama kali diperkenalkan oleh Ragnar Nurkse dalam bukunya yang berjudul Problems of Capital Formation in Underdeveloped Countries (1953). Persoalan kemiskinan terjadi karena akumulasi berbagai persoalan dan melibatkan banyak aspek. Bukan hanya aspek ekonomi tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, budaya, politik, sumber daya manusia (SDM) dan aspek lainnya. Lingkaran setan kemiskinan merupakan suatu rangkaian kekuatan yang saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga menimbulkan keadaan dimana suatu Negara akan tetap miskin dan akan mengalami banyak kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi. Sesuai dengan pernyataan Nurkse bahwa suatu Negara jadi miskin karena merupakan Negara miskin (Ragnar Nurkse, 1953).

Pernyataan Nurkse (1953) tersebut, seolah-olah menyebabkan upaya pemberantasan kemiskinan merupakan hal yang terkesan sangat sulit, kait- mengkait antara berbagai aspek dan hanya berputar-putar saja. Kemiskinan bukan saja disebabkan oleh ketiadaan pembangunan dimasa lalu, tetapi akan menimbulkan hambatan bagi pembangunan di masa yang akan datang. Berikut akan dijelaskan melalui skema proses dari lingkaran setan kemiskinan versi Nurkse (dalam Supriatna, 1997) yaitu sebagai berikut:

(37)

Skema 2.1

Lingkaran Setan Kemiskinan Versi Nurkse (dalam Supriatna, 1997)

Sumber: Ragnar Nurkse (dalam Supriatna, 1997).

Berdasarkan dari skema 2.1 menurut Nurkse (dalam Supriatna, 1997), teori lingkaran setan kemiskinan merupakan kondisi yang serba terbatas dan terjadi bukan karena kehendak orang yang bersangkutan tetapi ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan, kinerja yang rendah, pendapatan rendah, kesehatan dan gizi yang rendah serta kesejahteraan hidup yang kurang baik menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan.

Teori lingkaran setan kemiskinan menurut Nurkse bahwa kaum miskin terperangkap dalam satu siklus yang tidak berujung, bahkan akan memperparah kemiskinannya. Fenomena inilah yang kemudian kita kenal dengan nama

“lingkaran setan kemiskinan”. Teori Nurkse dianggap sejalan dengan yang terjadi di Desa Kwala Gunung. Bagaimana tidak, dengan kondisi yang dialami petani membuat para petani kecil yang ada di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan yang dapat dilihat dengan wujud konkret yaitu rendahnya penghasilan yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan hidup yang serba terbatas dan apa adanya. Sehingga keluarga petani harus rela makan apa adanya dan hidup dengan kesederhanaan. Kondisi inilah yang dialami buruh tani setelah semua masalah

(38)

yang terjadi. Dahulu buruh tani menjadi pemilik lahan kini harus berganti alih menjadi pekerja, dahulu bisa memenuhi kebutuhan hidup kini harus berhutang supaya bisa makan.

Para buruh tani miskin yang ada di Desa Kwala Gunung hidup dalam kesederhanaan dengan rata-rata tingkat pendapatan yang rendah yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan dan gizi yang rendah sehingga kinerjanya juga akan rendah. Hal inilah yang membuat petani berani untuk berhutang kepada tengkulak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Oleh sebab itu, keadaan ini yang membuat petani di Desa Kwala Gunung terperangkap oleh lingkaran hutang yang bertambah sehingga menimbulkan kemiskinan. Teori ini dianggap mampu menganalisis dan menjawab penelitian ini, karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk struktur ekspoitasi yang terjadi di Desa Kwala Gunung yang menyebabkan terjadi kemiskinan pada buruh tani. Kondisi kemiskinan yang dialami terus terjadi dan berdampak pada kehidupan para buruh tani sampai saat ini. Para petani padi di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan karena banyaknya penjualan lahan yang berdampak pada perubahan status petani hingga menjadi buruh tani di bekas lahannya sendiri.

Struktur eksploitasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bentuk hubungan dan relasi dari setiap aktor yang terlibat dalam kasus banyaknya buruh tani yang bekerja di lahannya sendiri yaitu sekitar 165 orang. Dahulu petani memiliki lahan sekitar kurang dari 1 Ha. Berjalannya waktu petani harus menjual lahan demi memenuhi kebutuhan pertanian dan membayar hutang. Hingga petani harus rela menjual sedikit-demi sedikit lahan padi demi menutupi lilitan hutang yang dimiliki. Sampai pada akhirnya petani harus menerima dampak yang besar

(39)

yaitu kehilangan mata pencaharian dan mengalami perubahan status dari pemilik lahan dan kini berganti menjadi pekerja yaitu sebagai buruh tani. Hal ini menyebabkan petani mengalami kemiskinan dan berdampak pada aksi eksploitasi yang dialami. Bagaimana tidak, petani yang sudah tidak memiliki lahan lebih sering mengalami penindasan karena sudah tidak adanya status atas kepemilikan lahan yang dimiliki. Kemiskinan yang dialami para petani di Desa Kwala Gunung mengakibatkan para petani mengalami perubahan yang konkret baik dari segi ekonomi, kesehatan dan sosialnya.

Perubahan pada kehidupan para petani terlihat pada segi ekonomi petani yaitu mengalami kemiskinan apabila pendapatan yang diterima rendah rata-rata sekitar Rp.7.000.000 - Rp.8.000.000/masa panen, apabila hitungan tiga kali (3x) masa panen, berarti selama 4 bulan petani menerima rata-rata sebesar Rp.2.000.000/bulannya. Sedangkan pengeluaran perbulan petani mencapai Rp.3.000.000/bulan. Hal ini terlihat bahwa lebih besar pengeluran daripada penghasilan yang diterima. Sehingga tidak heran jika para petani terus mengalami kondisi kemiskinan akibat rendahnya pendapatan. Kondisi seperti ini adalah salah satu contoh kemiskinan yang akan dialami petani karena besarnya pengeluaran akan membuat petani melakukan pinjaman yang akan mengakibatkan petani akan kehilangan lahan dan berdampak pada penjualan lahan miliknya. Dari segi kesehatan para petani akan mengalami kekurangan gizi karena rendahnya konsumsi. Rendahnya tingkat konsumsi akan berpengaruh terhadap kesehatan dan gizi seseorang sehingga bisa menimbulkan kinerja seseorang menjadi rendah.

Sedangkan apabila kinerja seseorang rendah maka upah yang akan diterima juga akan lebih rendah dibanding dengan orang yang memiliki kesehatan yang lebih

(40)

baik darinya. Jika pendapatan yang diterima rendah maka petani akan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini yang sering terjadi, lingkaran kemiskinan para petani tidak ada habisnya, terus berputar bagaikan lingkaran yang tidak berujung.

Sejalan dengan Nurkse (1983), dikutip dalam Kartasasmita (1996) bahwa kondisi kemiskinan dapat disebabkan oleh empat penyebab. Pertama, rendahnya taraf pendidikan. Taraf pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan sempitnya lapangan pekerjaan yang akan dimasuki. Dalam bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, taraf pendidikan memiliki andil yang besar untuk sebuah peluang dalam pekerjaan.

Kedua, rendahnya derajat kesehatan. Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya fisik, daya fikir dan prakarsa. Ketiga, terbatasnya lapangan kerja. Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan rendah dan kesehatan diperberat oleh terbatasnya lapangan kerja karena selama tersedia lapangan kerja maka lingkaran kemiskinan akan terputus tetapi jika tidak tersedia lapangan kerja maka semakin banyak pengangguran dan mengakibatkan kemiskinan. Keempat, kondisi terisolasi. Banyak penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya karena wilayah yang terpencil sehingga sulit menjangkau pelayanan baik kesehatan maupun pendidikan. Penyebab ini menunjukkan adanya lingkaran kemiskinan. Rumah tangga miskian pada umumnya berpendidikan rendah dan terpusat di daerah pedesaan. Apabila pendidikan rendah akan berpengaruh terhadap produktivitasnya yang rendah sehingga imbalan yang diterima juga akan rendah dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum antara lain kebutuhan sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya.

(41)

Berdasarkan dua pendapat para ahli mengenai penyebab kemiskinan petani, terdapat banyak pendapat lain yang sejalan dengan pemikiran keduanya tentang lingkaran kemiskinan yang menyebabkan petani tetap berada pada kondisi kemiskinan yaitu para petani di Desa Kwala Gunung. Petani di Desa Kwala Gunung tidak menyadari bahwa mereka terperangkap oleh situasi kemiskinan, dimana bentuk kemiskinan yang terlihat yang menyebabkan petani di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan adalah segala yang dipinjamkan harus ada balasan yang diberi, yaitu berupa bunga yang tinggi atas pinjaman. Petani melakukan berbagai macam cara seperti menjual lahannya demi melunasi segala hutang dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani. Akibatnya, kehidupan buruh tani hari demi hari cenderung mengalami kemiskinan hingga berlanjut ke generasi penerusnya, sampai keanak dan cucu.

2.2 Indikator Kemiskinan dan Penyebabnya

Terkait dengan kemiskinan di pedesaan, kemiskinan merupakan kondisi yang ditandai dengan situasi ketidakmampuan dan serba kekurangan baik kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Dalam kehidupan manusia sehari-hari kemiskinan adalah sesuatu yang nyata yang dialami dan dirasakan masyarakat. Kondisi ini terjadi bukan karena kehendak si miskin melainkan karena seseorang tidak bisa menghindar dari kondisi dan keadaan miskin yang dialami. Menurut Badan Pusat Statistik (2017) kemiskinan merupakan masalah global dan multidimensi yaitu ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar yang mencakup berbagai aspek kehidupan, tidak hanya mencakup aspek ekonomi melainkan juga aspek sosial dan budaya.

(42)

Menurut Sajogyo (1964) terdapat tiga ukuran yang menjadi indikator kemiskinan yaitu: miskin, sangat miskin dan melarat. Ukuran ini berdasarkan konsumsi per kapita/tahun setara dengan beras untuk wilayah perkotaan sebanyak 480 kg, 360 kg dan 270 kg. Sedangkan untuk wilayah pedesaan sebanyak 320 kg, 240 kg dan 180 kg (Arndt, Pembangunan dan Pemerataan, 1987:58). Secara umum ukuran kemiskinan diukur melalui kondisi tingkat kemampuan suatu keluarga dalam membiayai kebutuhan yang paling minimal untuk dapat hidup sesuai dengan taraf hidup kemanusiaan yang paling rendah. Garis kemiskinan dapat diukur melalui cara menghitung makanan yang di konsumsi dengan besarnya pengeluaran konsumsi per kapita/bulan yang setara dengan 2.100 kalori/kapita per hari. Sedangkan garis kemiskinan non makanan adalah besarnya rupiah untuk memenuhi kebutuhan non makanan seperti perumahan, kesehatan, pendidikan, transportasi, pakaian dan barang atau jasa lainnya. Sejalan dengan Suyanto (1964) dikutip dalam Supriatna, (2000) mengenai indikator kemiskinan ditandai oleh pendapatan perkapita wilayah yang rendah, persentase rawan gizi yang tinggi, tingkat umur harapan hidup rendah serta ditandai dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Sedangkan Bank Dunia (2004) memiliki indikator-indikator kemiskinan yang terdiri dari: kepemilikan lahan dan modal yang terbatas, terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pembangunan yang tidak merata, perbedaan kesempatan diantara anggota kelompok, perbedaan sumber daya manusia dari sektor ekonomi, rendahnya produktivitas, budaya hidup yang buruk, tata pemerintahan yang buruk dan pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan.

(43)

Fenomena kemiskinan bukan hanya sebatas kepada kekurangan pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan non makanan, tetapi meliputi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Menurut Sajogyo (1982) kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural.

a. Kemiskinan Kultural

Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang memiliki penyebab dari dalam individu seperti budaya diri sendiri yang menyebabkan seseorang terbelit dalam kemiskinan. Kemiskinan kultural mengacu pada sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup, budaya hidup yang merasa bahwa hidupnya merasa tidak kekurangan dan berkecukupan.

Kemiskinan kultural mengacu pada persoalan sikap dan budaya seperti:

tidak ingin berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupannya, malas, boros, tidak kreatif meskipun sudah ada pihak luar yang membantu. Sedangkan dari faktor kebudayaan kemiskinan muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang miskin seperti mudah menyerah pada nasib, curiga, sikap apatis, dan pesimis.

b. Kemiskinan Struktural

Kemiskinan struktural adalah kondisi atau situasi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan. Kemiskinan struktural muncul karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-

(44)

kesempatan yang memungkinkan si miskin dapat bekerja. Struktur sosial tersebut tidak mampu menghubungkan masyarakat dengan sumber-sumber yang tersedia, baik yang disedikan oleh alam maupun pemerintah sekitarnya.

Menurut BPS menganalisis kemiskinan dapat dilakukan melalui karakteristik rumah tangga miskin yang didalamnya mencakup kondisi rumah tangga berdasarkan pendidikan, kesehatan, sumber penghasilan, kondisi perumahan, sumber air dan sanitasi, serta kondisi sosial demografi. Dalam hal ini, BPS Kabupaten Batu Bara mengukur kemiskinan melalui golongan mata pencaharian, dalam hal ini peneliti mengambil kriteria kemiskinan dari mata pencaharian sebagai petani. Menurut BPS Kabupaten Batu Bara (2017), untuk mengukur indikator kemiskinan keluarga petani digunakan beberapa kriteria sebagai berikut:

1. Kondisi perumahan menggambarkan keberhasilan pembangunan karena kondisi fisik serta fasilitas yang berada di dalam bangunan menjadi gambaran kondisi kesejahteraan keluarga petani. Beberapa kriterianya seperti: luas bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2/orang dan status kepemilikan atau penguasaan bangunan tempat tinggal yang ditempati adalah menyewa, milik keluarga atau menumpang.

2. Pendidikan yang rendah

3. Tingkat kesehatan yang rendah dan angka kesakitan yang tinggi

4. Konsumsi pangan merupakan sumber kekuatan tubuh pada manusia untuk bisa melakukan segala aktifitas sehari-hari. Pemilihan sumber pangan yang baik adalah yang mengandung protein seperti daging sapi dan lauk bergizi

(45)

lainnya karena daging mewakili protein yang baik bagi tubuh. Pada rumah tangga miskin, menu daging dapat dikatakan hanya bisa makan sekali-kali dalam seminggu dan lebih banyak makan ikan asin karena nilai ekonomisnya rendah daripada daging sapi dikarenakan tidak mampu membeli, lain halnya dengan rumah tangga yang tidak miskin yang bisa mengkonsumsi daging sapi sebanyak 2-3 kali seminggu.

5. Ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan sandang dan papan.

6. Pendapatan keluarga yang dihitung dari total keluarga yang bekerja dalam satu rumah baik ayah, ibu dan anak.

2.3 Penguasaan atas Hak dan Sumber Daya

Penguasaan atas hak dan sumber daya merupakan salah satu cara menguasai hak yang dimiliki supaya mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi.

Kemiskinan adalah fenomena multidimensi yang tidak sebatas akibat dari minimnya modal dan kemampuan kerja. Tetapi dapat disebakan oleh faktor sumber daya dan penguasaan atas hak dan kesempatan. Menurut Nurkse (1953) ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi yakni kemiskinan alamiah dan kemiskinan struktural.

a. Kemiskinan Alamiah

Kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang timbul sebagai akibat dari sumber daya yang langka/terbatas jumlahnya dan terjadi tingkat perkembangan penggunaan teknologi yang sangat rendah dan adanya bencana alam yang terjadi. Artinya faktor-faktor inilah yang menyebabkan masyarakat menjadi miskin.

(46)

b. Kemiskinan Struktural

Kemiskinan struktural adalah kondisi dan situasi miskin yang dialami karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan dan kesempatan.

Kondisi ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia karena tidak adanya hak yang dimiliki berupa hak kekuasaan dan hak atas kepemilikan sehingga mereka tetap miskin.

Sejalan dengan pernyataan yang disampaikan Nurkse (1953), dikutip dalam Sen (1987) bahwa kemiskinan tidak hanya berhubungan dengan ketidakmampuan kerja, tetapi juga berkaitan dengan hak-hak yang tidak terlindungi, serta hilangnya kesempatan untuk mendapat harga yang layak atas produk yang dihasilkan atau tenaga yang diberikan, atau hilangnya kesempatan untuk memperoleh bantuan subsidi, dan program-program dari pemerintah.

Kemiskinan merupakan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia sejak merdeka sampai saat ini. Indonesia saat ini belum mampu menanggulangi masalah kemiskinan yang terjadi, karena strategi penanggulangan kemiskinan yang ditawarkan oleh pemerintah belum menjawab akar persoalan kemiskinan. Sejalan dengan teori ini, kebijakan yang ditawarkan pemerintah Desa Kwala Gunung hanya merespon dampak yang ditimbulkan dari persoalan kemiskinan, bukan bagaimana cara mengatasi dan menemukan strategi apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemiskinan yang terjadi di desa. Hal ini di perparah dengan cara pandang yang selalu beranggapan bahwa penyebab kemiskinan hanya berasal dari

Referensi

Dokumen terkait