BAB II. KERANGKA TEORI
2.3 Penguasaan atas Hak dan Sumber Daya …
Penguasaan atas hak dan sumber daya merupakan salah satu cara menguasai hak yang dimiliki supaya mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi.
Kemiskinan adalah fenomena multidimensi yang tidak sebatas akibat dari minimnya modal dan kemampuan kerja. Tetapi dapat disebakan oleh faktor sumber daya dan penguasaan atas hak dan kesempatan. Menurut Nurkse (1953) ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi yakni kemiskinan alamiah dan kemiskinan struktural.
a. Kemiskinan Alamiah
Kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang timbul sebagai akibat dari sumber daya yang langka/terbatas jumlahnya dan terjadi tingkat perkembangan penggunaan teknologi yang sangat rendah dan adanya bencana alam yang terjadi. Artinya faktor-faktor inilah yang menyebabkan masyarakat menjadi miskin.
b. Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural adalah kondisi dan situasi miskin yang dialami karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan dan kesempatan.
Kondisi ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia karena tidak adanya hak yang dimiliki berupa hak kekuasaan dan hak atas kepemilikan sehingga mereka tetap miskin.
Sejalan dengan pernyataan yang disampaikan Nurkse (1953), dikutip dalam Sen (1987) bahwa kemiskinan tidak hanya berhubungan dengan ketidakmampuan kerja, tetapi juga berkaitan dengan hak-hak yang tidak terlindungi, serta hilangnya kesempatan untuk mendapat harga yang layak atas produk yang dihasilkan atau tenaga yang diberikan, atau hilangnya kesempatan untuk memperoleh bantuan subsidi, dan program-program dari pemerintah.
Kemiskinan merupakan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia sejak merdeka sampai saat ini. Indonesia saat ini belum mampu menanggulangi masalah kemiskinan yang terjadi, karena strategi penanggulangan kemiskinan yang ditawarkan oleh pemerintah belum menjawab akar persoalan kemiskinan. Sejalan dengan teori ini, kebijakan yang ditawarkan pemerintah Desa Kwala Gunung hanya merespon dampak yang ditimbulkan dari persoalan kemiskinan, bukan bagaimana cara mengatasi dan menemukan strategi apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemiskinan yang terjadi di desa. Hal ini di perparah dengan cara pandang yang selalu beranggapan bahwa penyebab kemiskinan hanya berasal dari
kaum miskin atau orang miskin itu sendiri yaitu masalah yang berkaitan dengan ekonomi. Padahal tidak selamanya faktor ekonomi menyebakan kemiskinan.
Sesuai yang disampaikan Nurkse (1953) bahwa berbagai persoalan kemiskinan penduduk bukan hanya dari berbagai aspek ekonomi saja, melainkan dari berbagai aspek yaitu: sosial, ekonomi, psikologi dan politik.
a. Dari segi aspek sosial: kemiskinan terjadi akibat dari terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi.
b. Dari segi aspek ekonomi: kemiskinan terjadi dan tampak pada terbatasnya pemilihan faktor produksi, upah rendah, daya tawar petani rendah, rendahnya tingkat tabungan dan lemahnya mengantisipasi peluang kesempatan untuk berusaha.
c. Dari segi aspek psikologi: kemiskinan terjadi akibat dari rasa rendah diri, fatalism, malas dan merasa terisolir, boros dan pesimis.
d. Sedangkan dari aspek politik: kemiskinan berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminasi dan posisi lemah pada pengambilan sebuah keputusan.
Menurut Sen dalam Bloom & Canning (2001), bahwa seseorang dikatakan miskin apabila mengalami kekurangan "capability deprivation (perampasan kebebasan/kemampuan untuk mencapai sesuatu dalam hidup seseorang)".
Kebebasan tersebut adalah ―kurangnya kesempatan dan tidak adanya rasa aman‖.
Kemiskinan yang dimaksud Sen adalah kemiskinan petani pedesaan, barangkali dapat juga dijelaskan melalui capability approach (pendekatan kemampuan) yang diketengahkan oleh Sen (1999) di dalam bukunya Development As Freedom.
Menurut Sen, kemiskinan berkaitan dengan freedom of choice (kebebasan memilih), orang miskin sama sekali tidak memiliki hak untuk freedom of choice karena terjadi capability deprivation (ketiadaan kemampuan).
Capability mengacu pada dua perkara, yaitu ability to do (kebebasan untuk melakukan) dan ability to be (kebebasan untuk menjadi apa). Sen menyebut pemahaman tersebut sebagai fungsi “kemampuan”. Sen mendefinisikan kemampuan sebagai sebuah kebebasan seseorang untuk memilih manfaat bagi dirinya dan mengatur semua manfaat tersebut untuk kebutuhan dirinya di atas sebuah komoditas. Petani miskin di pedesaan benar-benar mengalami ability to do dan ability to be yang rendah karena mereka dalam posisi yang di rampas.
Berbagai macam deprivation (perampasan) yang dapat diketengahkan disini adalah sebagai berikut:
1. Structural deprivation: adalah perampasan struktural
2. Social capability deprivation: adalah perampasan kemampuan sosial 3. Economic capability deprivation: adalah perampasan kemampuan
ekonomi
4. Technological capability deprivation: adalah ketiadaan kemampuan teknologi
5. Political capability deprivation: adalah ketidakmampuan politik
6. Psychological deprivation: adalah perampasan psikologis. (Slamet, dalam:
kemiskinan petani pedesaan. Jurnal Sosiologi tahun 2010 : 8).
Sama halnya yang terjadi di wilayah Kabupaten Batu Bara yang mengalami sebuah proses pemiskinan yang terjadi pada masyarakat petani
khususnya di Desa Kwala Gunung. Kemiskinan yang dimaksud adalah keadaan dimana tidak adanya akses terhadap modal, kepemilikan tanah yang berganti, sulitnya akses sumber daya ekonomi dan informasi serta lemahnya dukungan penguasa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani membuat Desa Kwala Gunung tetap mengalami kemiskinan. Sehingga, banyak ditemukan kasus buruh tani yang bekerja dilahan bekas miliknya sendiri akibat adanya penjualan lahan milik petani yang berujung pada kondisi kemiskinan yang dialami. Para buruh tani yang dulunya memiliki akses berupa lahan padi yang bisa mereka jadikan sebagai sumber penghasilan, kini harus terampas karena banyaknya hutang yang melilit kehidupan para petani yang kini harus menjadi pekerja yaitu sebagai buruh tani di bekas lahannya sendiri.
Menurut Sen, kemiskinan dapat ditanggulangi apabila hak-hak dasar dari kaum miskin ditegakkan seperti hak untuk hidup layak dan hidup sejahtera.
Pendekatan kesejahteraan paling luas diungkapkan oleh Sen (1987), yang berpendapat bahwa kesejahteraan berasal dari kemampuan untuk menjalankan suatu fungsi dalam masyarakat. Lain halnya di Desa Kwala Gunung, hak yang seharusnya dimiliki oleh petani yaitu bisa mengomben (memanen) hasil padinya sendiri kini harus diberikan kepada pengomben karena sebuah kesepakatan.
Kondisi inilah yang membuat petani semakin kehilangan hak untuk hidup lebih baik lagi yaitu hidup sejahtera.
Ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan bagi masyarakat petani bukan karena kekurangan sumber daya alam. Tetapi karena faktor manusianya sendiri, sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat melimpah ruah. Namun, ketidakmampuan pada sumber daya
manusia yang mengelolanya yang mengakibatkan kemiskinan terus-menerus dialami oleh rakyat Indonesia (Syawaluddin, dalam: Al-Buhut. Jurnal Sosiologi Gorontalo Volume 11, Juni 2015:1-5).