• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Lingkaran Setan Kemiskinan oleh Ragnar Nurkse…

BAB II. KERANGKA TEORI

2.1 Teori Lingkaran Setan Kemiskinan oleh Ragnar Nurkse…

Teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) pertama kali diperkenalkan oleh Ragnar Nurkse dalam bukunya yang berjudul Problems of Capital Formation in Underdeveloped Countries (1953). Persoalan kemiskinan terjadi karena akumulasi berbagai persoalan dan melibatkan banyak aspek. Bukan hanya aspek ekonomi tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, budaya, politik, sumber daya manusia (SDM) dan aspek lainnya. Lingkaran setan kemiskinan merupakan suatu rangkaian kekuatan yang saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga menimbulkan keadaan dimana suatu Negara akan tetap miskin dan akan mengalami banyak kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih tinggi. Sesuai dengan pernyataan Nurkse bahwa suatu Negara jadi miskin karena merupakan Negara miskin (Ragnar Nurkse, 1953).

Pernyataan Nurkse (1953) tersebut, seolah-olah menyebabkan upaya pemberantasan kemiskinan merupakan hal yang terkesan sangat sulit, kait-mengkait antara berbagai aspek dan hanya berputar-putar saja. Kemiskinan bukan saja disebabkan oleh ketiadaan pembangunan dimasa lalu, tetapi akan menimbulkan hambatan bagi pembangunan di masa yang akan datang. Berikut akan dijelaskan melalui skema proses dari lingkaran setan kemiskinan versi Nurkse (dalam Supriatna, 1997) yaitu sebagai berikut:

Skema 2.1

Lingkaran Setan Kemiskinan Versi Nurkse (dalam Supriatna, 1997)

Sumber: Ragnar Nurkse (dalam Supriatna, 1997).

Berdasarkan dari skema 2.1 menurut Nurkse (dalam Supriatna, 1997), teori lingkaran setan kemiskinan merupakan kondisi yang serba terbatas dan terjadi bukan karena kehendak orang yang bersangkutan tetapi ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan, kinerja yang rendah, pendapatan rendah, kesehatan dan gizi yang rendah serta kesejahteraan hidup yang kurang baik menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan.

Teori lingkaran setan kemiskinan menurut Nurkse bahwa kaum miskin terperangkap dalam satu siklus yang tidak berujung, bahkan akan memperparah kemiskinannya. Fenomena inilah yang kemudian kita kenal dengan nama

“lingkaran setan kemiskinan”. Teori Nurkse dianggap sejalan dengan yang terjadi di Desa Kwala Gunung. Bagaimana tidak, dengan kondisi yang dialami petani membuat para petani kecil yang ada di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan yang dapat dilihat dengan wujud konkret yaitu rendahnya penghasilan yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan hidup yang serba terbatas dan apa adanya. Sehingga keluarga petani harus rela makan apa adanya dan hidup dengan kesederhanaan. Kondisi inilah yang dialami buruh tani setelah semua masalah

yang terjadi. Dahulu buruh tani menjadi pemilik lahan kini harus berganti alih menjadi pekerja, dahulu bisa memenuhi kebutuhan hidup kini harus berhutang supaya bisa makan.

Para buruh tani miskin yang ada di Desa Kwala Gunung hidup dalam kesederhanaan dengan rata-rata tingkat pendapatan yang rendah yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan dan gizi yang rendah sehingga kinerjanya juga akan rendah. Hal inilah yang membuat petani berani untuk berhutang kepada tengkulak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Oleh sebab itu, keadaan ini yang membuat petani di Desa Kwala Gunung terperangkap oleh lingkaran hutang yang bertambah sehingga menimbulkan kemiskinan. Teori ini dianggap mampu menganalisis dan menjawab penelitian ini, karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk struktur ekspoitasi yang terjadi di Desa Kwala Gunung yang menyebabkan terjadi kemiskinan pada buruh tani. Kondisi kemiskinan yang dialami terus terjadi dan berdampak pada kehidupan para buruh tani sampai saat ini. Para petani padi di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan karena banyaknya penjualan lahan yang berdampak pada perubahan status petani hingga menjadi buruh tani di bekas lahannya sendiri.

Struktur eksploitasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bentuk hubungan dan relasi dari setiap aktor yang terlibat dalam kasus banyaknya buruh tani yang bekerja di lahannya sendiri yaitu sekitar 165 orang. Dahulu petani memiliki lahan sekitar kurang dari 1 Ha. Berjalannya waktu petani harus menjual lahan demi memenuhi kebutuhan pertanian dan membayar hutang. Hingga petani harus rela menjual sedikit-demi sedikit lahan padi demi menutupi lilitan hutang yang dimiliki. Sampai pada akhirnya petani harus menerima dampak yang besar

yaitu kehilangan mata pencaharian dan mengalami perubahan status dari pemilik lahan dan kini berganti menjadi pekerja yaitu sebagai buruh tani. Hal ini menyebabkan petani mengalami kemiskinan dan berdampak pada aksi eksploitasi yang dialami. Bagaimana tidak, petani yang sudah tidak memiliki lahan lebih sering mengalami penindasan karena sudah tidak adanya status atas kepemilikan lahan yang dimiliki. Kemiskinan yang dialami para petani di Desa Kwala Gunung mengakibatkan para petani mengalami perubahan yang konkret baik dari segi ekonomi, kesehatan dan sosialnya.

Perubahan pada kehidupan para petani terlihat pada segi ekonomi petani yaitu mengalami kemiskinan apabila pendapatan yang diterima rendah rata-rata sekitar Rp.7.000.000 - Rp.8.000.000/masa panen, apabila hitungan tiga kali (3x) masa panen, berarti selama 4 bulan petani menerima rata-rata sebesar Rp.2.000.000/bulannya. Sedangkan pengeluaran perbulan petani mencapai Rp.3.000.000/bulan. Hal ini terlihat bahwa lebih besar pengeluran daripada penghasilan yang diterima. Sehingga tidak heran jika para petani terus mengalami kondisi kemiskinan akibat rendahnya pendapatan. Kondisi seperti ini adalah salah satu contoh kemiskinan yang akan dialami petani karena besarnya pengeluaran akan membuat petani melakukan pinjaman yang akan mengakibatkan petani akan kehilangan lahan dan berdampak pada penjualan lahan miliknya. Dari segi kesehatan para petani akan mengalami kekurangan gizi karena rendahnya konsumsi. Rendahnya tingkat konsumsi akan berpengaruh terhadap kesehatan dan gizi seseorang sehingga bisa menimbulkan kinerja seseorang menjadi rendah.

Sedangkan apabila kinerja seseorang rendah maka upah yang akan diterima juga akan lebih rendah dibanding dengan orang yang memiliki kesehatan yang lebih

baik darinya. Jika pendapatan yang diterima rendah maka petani akan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini yang sering terjadi, lingkaran kemiskinan para petani tidak ada habisnya, terus berputar bagaikan lingkaran yang tidak berujung.

Sejalan dengan Nurkse (1983), dikutip dalam Kartasasmita (1996) bahwa kondisi kemiskinan dapat disebabkan oleh empat penyebab. Pertama, rendahnya taraf pendidikan. Taraf pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan sempitnya lapangan pekerjaan yang akan dimasuki. Dalam bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, taraf pendidikan memiliki andil yang besar untuk sebuah peluang dalam pekerjaan.

Kedua, rendahnya derajat kesehatan. Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya fisik, daya fikir dan prakarsa. Ketiga, terbatasnya lapangan kerja. Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan rendah dan kesehatan diperberat oleh terbatasnya lapangan kerja karena selama tersedia lapangan kerja maka lingkaran kemiskinan akan terputus tetapi jika tidak tersedia lapangan kerja maka semakin banyak pengangguran dan mengakibatkan kemiskinan. Keempat, kondisi terisolasi. Banyak penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya karena wilayah yang terpencil sehingga sulit menjangkau pelayanan baik kesehatan maupun pendidikan. Penyebab ini menunjukkan adanya lingkaran kemiskinan. Rumah tangga miskian pada umumnya berpendidikan rendah dan terpusat di daerah pedesaan. Apabila pendidikan rendah akan berpengaruh terhadap produktivitasnya yang rendah sehingga imbalan yang diterima juga akan rendah dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum antara lain kebutuhan sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya.

Berdasarkan dua pendapat para ahli mengenai penyebab kemiskinan petani, terdapat banyak pendapat lain yang sejalan dengan pemikiran keduanya tentang lingkaran kemiskinan yang menyebabkan petani tetap berada pada kondisi kemiskinan yaitu para petani di Desa Kwala Gunung. Petani di Desa Kwala Gunung tidak menyadari bahwa mereka terperangkap oleh situasi kemiskinan, dimana bentuk kemiskinan yang terlihat yang menyebabkan petani di Desa Kwala Gunung mengalami kemiskinan adalah segala yang dipinjamkan harus ada balasan yang diberi, yaitu berupa bunga yang tinggi atas pinjaman. Petani melakukan berbagai macam cara seperti menjual lahannya demi melunasi segala hutang dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani. Akibatnya, kehidupan buruh tani hari demi hari cenderung mengalami kemiskinan hingga berlanjut ke generasi penerusnya, sampai keanak dan cucu.

Dokumen terkait