• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci : Suku Bunga,Nilai Tukar,Pertumbuhan Ekonomi dan Yield Obligasi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata Kunci : Suku Bunga,Nilai Tukar,Pertumbuhan Ekonomi dan Yield Obligasi."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MIDDLE INCOME COUNTRIES DI ASIA PASIFIK

Lara Yuli Rusdy

1

, Sri Ulfa Sentosa

2

Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Dr Hamka Air Tawar Padang

[email protected], [email protected]

Abstract : This study explains the influence of monetary policy interest rates, real exchange rates and economic growth on government bond yields on Lower Middle Income Countries in Asia Pacific. This study combines cross section data in 5 countries with time series from 2007-2018, with the Panel Regression method and the Random Effect model selection test. The results show that: (1) Monetary Policy Interest Rates has a positive and significant effect on government bond yields on Lower Middle Income Countries in Asia Pacific, (2) The real exchange rate have a negative and significant effect on government bond yields for Lower Middle Income Countries in Asia Pacific. , (3) Economic growth has a negative and significant effect on government bond yields on Lower Middle Income Countries in Asia Pacific.

Keyword: Interest Rates, Real Exchange Rates, Economic Growth and Bond Yield.

Abstrak : Penelitian ini menjelaskan sejauh mana pengaruh antara suku bunga kebijakan moneter,kurs rill dan pertumbuhn ekonomi terhadap yield obligasi pemerintah Lower Middle Income Countries di Asia Pasifik. Penelitian ini mengkombinasikan data cross section di 5 negara dengan time series dari tahun 2007-2018, dengan metode Regresi Panel dengan uji pemilihan model Random Effect. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: (1) Suku Bunga Kebijakan Moneter berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield obligasi pemerintah Lower Middle Income Countries di Asia Pasifik, (2)Nilai Tukar berpengaruh negati dan signifikan terhadap terhadap yield obligasi pemerintah Lower Middle Income Countries di Asia Pasifik, (3) Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield obligasi pemerintah Lower Middle Income Countries di Asia Pasifik.

Kata Kunci : Suku Bunga,Nilai Tukar,Pertumbuhan Ekonomi dan Yield Obligasi.

(2)

PENDAHULUAN

Perkembangan pertumbuhan ekonomi pada saat sekarang membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang termasuk negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik harus membangun perekonomiannya dari ketertinggalan negara lain, baik dari pembangunan infrastruktur, kesehatan maupun kesejahteraan masyarakatnya.

Untuk melakukan hal itu, diperlukan anggaran yang berasal dari Anggaran pemerintah yang bersumber dari penerimaan negara, hibah dan pendapatan lainnya yang sah.

Keynes berpendapat bahwa pemerintah dapat menerapkan kebijakan ekspansi yang bertujuan untk meningkatkan output ekonomi dan menjamin pertumbuhan ekonomi (Fair, 2007). Selain itu, sistem anggaran yang sering di gunakan di banyak negara yaitu pengeluaran suatu negara akan diperkirakan sebelumnya dan sumber pendanaan untuk membiayai semua pengeluaran akan di perhatikan sesudahnya (budget deficit system), sehingga sering terjadi Defisit anggaran. Dalam menutupi defisit anggaran, biasanya suatu negara mencari sumber-sumber pembiayaan untuk kelanjutan program pembangunan yang telah direncanakan berjalan dengan baik, salah satu cara pemerintah membiayaan defisit anggaran dengan meminjam (Mishkin, 2006), pinjaman tersebut baik dari dalam negeri maupun luar negeri , hingga menerbitkan obligasi pemerintah (government bonds) (Aziz,et.al, 2010).

Obligasi yang di keluarkan pemerintah (government bonds) digunakan untuk menyerap dana di pasar domestik (Piesse, 2007). Obligasi tersebut diterbitkan di pasar modal yang mana dalam perekonomian suatu negara memiliki peranan yang besar sebagai sumber pendanaan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara, baik modal yang dalam negeri maupun modal yang berasal dari luar negeri (Nopirin, 1999). Pada dasarnya yang memiliki kelebihan dana adalah masyarakat, kelebihan dana yang dimiliki masyarakat biasanya di pergunakan untuk berinvestasi dalam bentuk obligasi dengan mengharapkan yield.

Yield obligasi merupakan return yang diperoleh investor dari menginvestasikan sejumlah dananya pada suatu obligasi. Tingkat yield obligasi yang akan diterima oleh investor tersebut akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan kondisi perekonomian baik secara mikro maupun makro dan hasil dari yield obligasi tersebut, mencerminkan kinerja dari suatu obligasi yang nantinya berguna sebagai informasi dalam pengambilan keputusan oleh investor.

Pada hakikatnya nilai obligasi berbanding terbalik dengan imbal hasil obligasi, dimana apabila nilai obligasi menurun maka yield obligasi atau imbal hasil obligasi yang di minta akan lebih tinggi.

Berdasarkan uraian permasalahan yang bertolak belakang antara nilai

obligasi dengan yield obligasi tersebut, maka Secara teori banyak faktor yang

(3)

dapat mempengaruhi Yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik,seperti faktor tingkat Suku Bunga, Kurs Rill dan Pertumbuhan Ekonomi.

TINJAUAN LITERATUR Sumber Penerimaan Negara

Dalam arus internasional sumber-sumber keuangan pembangunan dalam suatu negara terbagi dalam dua bentu (Todaro&Smith, 2006). Bentuk yang pertama terdiri dari Penanaman Modal Asing Langsung (PMA) dan investasi asing portofolio (foreign portofolio investmen ) (Todaro&Smith, 2006).

Menurut ( Faizal, 2015) Pendapatan suatu negara berasal dari berbagai sumber-sumber yang telah ditetapkan oleh negara tersebut, yang mana sumber penerimaan negara terdiri dari sumber pendapatan utama dan sumber pendapatan negara lainnya. Indonesia sebagai salah satu negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik memiliki sumber penerimaan negara, yang mana di atur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara, pendapatan negara. Dimana sumber penerimaan negara tersebut yaitu :

1. Penerimaan Pajak

Pajak merupakan iuran langsung kepada pemerintah yang memiliki unsur paksaan dan tidak mendapatkan imbalan lansung (Yuswar dan Mulyadi, 2005). Selain itu, pajak adalah sumber utama dari pendapatan suatu negara (Miskin, 2010).

2. Penerimaan bukan pajak

Sumber pendapatan negara bukan pajak terdiri dari keuntungan Badan Usaha Milik Negara, pengelolaan sumber daya alam, retribusi, pinjaman, barang sitaan, percetakan uang atau sumbangan (Yuswar dan Mulyadi, 2005).

3. Hadiah atau Hibah.

Hadiah atau yang lebih dikenal dengan Hibah merupakan pemberian yang diberikan kepada pemerintah tetapi bukan bersifat pinjaman. Hibah bersifat sukarela dan diberikan tampa ada kontrak khusus (Yuswar dan Mulyadi, 2005).

Menurut Henry (2015), Pedapatan suatu negara berasal dari berbagai

sumber-sumber yang telah ditetapkan oleh negara tersebut, yang mana sumber

penerimaan negara terdiri dari sumber pendapatan utama dan sumber pendapatan

negara lainnya. Sedangkan menurut Kuncoro (2010), negara yang tidak memiliki

tabungan dalam negeri yang cukup untuk membiayai pertumbuhan ekonomi,

umumnya menutup kesenjangan pembiayaan dengan mencari sumber dari luar

negeri, dengan demikian mengalirlah modal dari negara industri ke Negara

Sedang Berkembang (NSB).

(4)

Sumber dari Luar Negeri atau Utang LN yang berasal dari sumber resmi dibagi menjadi pinjaman bilateral yaitu bantuan antar negara dan pinjaman multilatera yaitu pinjaman dan kredit dari lembaga Keuangan Internasional.

Utang LN yang berasal dari kredit swasta adalah pinjaman dari bank-bank komersil, Obligasi dan lainnya. Obligasi yang dimaksud obligasi yang dikeluarkan pemerintah atau swasta (Kucoro, 2010).

Obligasi

Obligasi adalah surat utang jangka menengah maupun jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. Obligasi berisi janji dari pihak yang menerbitkan Efek untuk membayar imbalan berupa bunga (kupon) pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada akhir waktu yang telah ditentukan, kepada pihak pembeli obligasi tersebut (Tandelilin, 2007). Selain itu, Obligasi merupakan salah satu sumber pendapatan yang bisa di dapatkan bagi pemerintah. Obligasi merupakan sekuritas yang diterbitkan dengan adanya perjanjian pinjaman, dimana peminjam menerbitkan (menjual) obligasi kepada pihak pemilik dana dengan adanya imbalan sejumlah uang. Dengan kata lain obligasi merupakan surat pernyataan utang dari pihak peminjam (Bodie et al, 2009).

Perdagangan obligasi jangka panjang pada pasar modal mencakup obligasi pemerintah dam obligasi perusahaan (swasta). Sekuritas pemerintah pada umumnya ada tiga, yaitu obligasi jangka pendek (treasury bill) dengan waktu jatuh tempo kurang dari satu tahun, obligasi jangka menengah (treasury notes) dengan waktu jatuh tempo antara 1-10 tahun, dan obligasi jangka panjang (treasury bond) dengan waktu jatuh tempo antara 10-30 tahun (Manurung, &

Adler, 2009).

Yield Obligasi

Yield obligasi digunakan para investor dan pelaku pasar sebagai tolak ukur untuk mengetahui perkembangan nilai portofolio obligasi yang dimiliki dengan cara melihat pergerakan yield obligasi (Stander, 2005). Yield obligasi merupakan keuntungan atas investasi obligasi yang dinyatakan dalam persentase/dapat berupa kupon yang diterima maupun selisih kurs obligasi (Samsul, 2006).Yield Obligasi bergantung pada harga obligasi. Sementara, harga obligasi sangat bergantung pada banyak faktor. Selain faktor permintaan dan penawaran, kondisi makro ekonomi dan tren suku bunga juga sangat mempengaruhi pergerakan harga obligasi.

Salah satu cara untuk menghitung yield obligasi adalah dengan

menggunakan pendekatan terhadap yield to maturity (YTM). Yield to maturity

yaitu suku bunga yang menyamakan nilai sekarang dari pembayaran arus kas

yang diterima dari suatu instrumen hutang dengan nilai hari ini (Miskhin, 2006).

(5)

cara menghitung YTM jika kupon dan nilai pokok obligasi disimpan hingga saat jatuh tempo.

YTM approximation = ... (1)

Dimana:

C = Coupon payment

R = Nilai nominal (redemption value) P =harga pasar obligasi

N = waktu jatuh tempo (time to maturity) Suku Bunga

Suku bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu, suku bunga nominal dan suku bunga ril. Suku bunga nominal yaitu suku bunga yang tidak memperhitungkan tingkat harga, sedangkan suku bunga ril merupakan suku bunga yang disesuaikan dengan perubahan tingkat harga (Mishkin, 2009).

Sedangkan suku bunga kebijakan adalah suku bunga yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh negara dan diumumkan kepada publik. jumlah bunga yang dibayarkan per unit waktu yang disebut sebagai persentase dari jumlah yang dipinjamkan (Samuelson, 2004). Suku bunga yang tinggi dapat mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat karena ketika tingkat suku bunga tinggi maka orang akan memilih untuk menabung.

Suku bunga acuan suatu negara akan berpengaruh positif terhadap yield obligasi, jika suku bunga acuan naik, maka akan mengakibatkan obligasi pemerintah turun karena tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return) juga naik yang berarti tingkat yield juga mengalami kenaikan (Sundoro, 2018).

Begitu pula sebaliknya, jika suku bunga pasar turun maka harga obligasi akan naik dan yield obligasi menjadi turun.

Nilai Tukar

Nilai tukar dibagi menjadi dua yaitu Nilai Tukar nominal dan Nilai Tukar riil. Dimana Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata uang dua negara. Sedangkan Nilai Tukar Riil (Real Exchange Rate) adalah harga relatif dari barang-barang diantara dua negara, Nilai tukar riil diantara kedua negara dihitung dari nilai tukar nominal dan tingkat harga di kedua negara (Mankiw, 2003).

Gadanecz et al. (2014) mengemukakan nilai tukar merupakan faktor yang

berpengaruh terhadap yield obligasi, dimana terjadinya resiko turunnya nilai

investasi di surat utang akibat terdepreisasinya mata uang lokal. Yield akan

(6)

meningkat sejalan dengan melemahnya nilai tukar lokal, Pergeseran Nilai Tukar secara langsung mempengaruhi pergeseran harga obligasi, dimana Nilai Tukar memiliki peran langsung dalam pasar valuta asing. Perubahan nilai tukar masing- masing negara terhadap dollar berdampak terhadap obligasi pemerintah yang dapat terkena dampak negatif maupun dampak positif. Menguatnya Nilai Tukar terhadap mata uang suatu negara memiliki dampak positif langsung terhadap perekonomian di negara tersebut, sehingga dapat meningkatkan harga obligasi di pasar modal dan dampak positif ini dapat mendorong pembelian obligasi oleh para investor (Tandelilin, 2007).

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi mencerminkan perkembangan perekonomian suatu negara, yang dapat diukur dengan pendapatan nasional atau Gross Domestic Product (GDP) /Product Domestic Bruto (PDB) ataupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Teori pertumbuhan endogen mengasumsikan bahwa investasi pemerintah dan swasta akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas. Artinya, untuk memiliki laju pertumbhan ekonomi yang tinggi, maka suatu negara membutuhkan investasi yang juga tinggi. Dana untuk membiayai investasi didapatkan dari tabungan atau sekuritas modal yaitu obligasi (Todaro, 2011). Tetapi ketika terjadinya investasi yang tinggi maka harga obligasi di pasar modal akan mengalami penurunan karena harga yang ditawarkan terlalu rendah. Hal tersebut berpengaruh negatif terhadap yield obligasi pemerintah. Alat ukur untuk menghitung tingginya pertumuhan ekonomi yaitu Gross Domestic Product (GDP), yaitu:

…...………...……… (2)

dimana :

G

t

: Pertumbuhan Ekonomi Tahun t

GDP

(t) :

GDP periode t (berdasarkan harga konstan)

GDP

(t-1)

: GDP periode sebelumnya

METODE PENELITIAN

Pengaruh Suku Bunga, Kurs Rill, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Yield Obligasi Pemerintah: Lower Middle Income Countries di Asia Pasifik.

Dalam penelitian ini untuk data yang digunakan adalah data 5 Negara di

Asia Pasifik, dari tahun 2007 sampai 2018. Variabel yang dipakai yaitu Suku

(7)

Bunga (X

1

), Kurs Rill (X

2

) dan Pertumbuhan Ekonomi (X

3

). Dan Yield Obligasi (Y).

Teknik analisis yang dipakai pada penelitian ini adalah Regresi Data Panel dengan Uji Pemilihan Random Effect Model Analisis ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana pengaruh X

1

, X

2

dan X

3

terhadap Y.

Model estimasi dalam penelitian ini dapat dimodelkan sebagai berikut:

... (3) Dimana:

Y

it

= Yield Obligasi X

1it

= Suku Bunga X

2it

= Kurs Rill

X

3it

= Pertumbuhan Ekonomi Defenisi Operasional

Yield atau imbal hasil obligasi merupakan return yang diperoleh investor dari menginvestasikan sejumlah dananya pada suatu obligasi.Yield obligasi yang digunakan adalah yield obligasi pemerintah dalam satuan persen di 5 Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik.

Suku bunga adalah nilai, tingkat, harga atau keuntungan yang diberikan kepada investor dari penggunaan dana investasi berdasarkan perhitungan nilai ekonomi dalam periode waktu tertentu. Suku bunga dalam penelitian ini adalah suku bunga acuan/ suku bunga kebijakan moneter yang digunakan oleh masing- masing negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik dalam satuan persen.

Nilai Tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya.

Selain itu Nilai Tukar merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka. Pada penelitian ini Nilai Tukar yang digunakan Nilai Tukar Nominal dalam satuan harga mata uang lokal per US$.

Pertumbuhan ekonomi merupakan pengaruh dari nilai pendapatan nasional yang dinyatakan dalam satuan harga/besaran nominal. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode tertentu. Pada penelitian ini digunakan indikator GDP berdasarkan harga konstan.

Cadangan devisa didefinisikan sebagai seluruh aktiva luar negeri yang dikuasai oleh otoritas moneter yang dapat digunakan setiap waktu untuk membiayai ketidak seimbangan neraca pembayaran atau, stabilitas moneter dengan melakukan intervensi di pasar valuta asing dan untuk tujuan lainnya.

Pada penelitian ini cadangan devisa digunakan untuk mengontrol variabel bebas

terhadap variabel terikat.

(8)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Asumsi Klasik

Hasil uji normalitas menunjukan nilai probabilitas Jarque-Bera sebesar 1,496626 > 0,05 artinya sebaran data penelitian terdistribusi normal sehingga asumsi klasik tentang normalitas terpenuhi. Hasil uji multikolinearitas menggunakan deteksi dengan melakukan uji koefisien antar variabel bebas menunjukkan bahwa pengujian multikolinearitas dengan mendeteksi korelasi antar variabel bebas dengan variabelnya adalah < 0,8. Sehingga data pada penelitian ini bebas dari asumsi klasik multikolinearitas. Hasil uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan Uji Glejser diketahui bahwa nilai probabilitas dari hasil uji heteroskedastisitas dan nilai observasi r

2

berada diatas derajat kesalahan (> 0,05), dengan demikian data penelitian inibebas dari heteroskedastisitas dan bebas dari asumsi klasik.

Uji Regresi Data Panel

Hasil Output Fixed Effect Model (FEM) Variabel Suku Bunga, Nilai Tukar, dan Pertumbuhan Ekonomi

Dependent Variable: Y Method: Panel Least Squares Date: 01/24/21 Time: 14:40 Sample: 2007 2018

Periods included: 12 Cross-sections included: 5

Total panel (unbalanced) observations: 59

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 15.31386 1.570981 9.747956 0.0000

X1 0.184064 0.067455 -2.728688 0.0088 X2 -0.000304 0.000143 -2.121975 0.0388 X3 -0.347582 0.153751 -2.260684 0.0282 X4 -0.000415 0.000125 -3.325428 0.0017

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

(9)

R-squared 0.726016 Mean dependent var 8.214542 Adjusted R-squared 0.682178 S.D. dependent var 2.576091 S.E. of regression 1.452290 Akaike info criterion 3.723730 Sum squared resid 105.4572 Schwarz criterion 4.040642 Log likelihood -100.8500 Hannan-Quinn criter. 3.847440 F-statistic 16.56151 Durbin-Watson stat 1.671656 Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber: Hasil Olahan Data Eviews9, 2020

Pengaruh Suku Bunga Kebijakan Moneter terhadap Yield Obligasi Pemerintah Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik.

Berdasarkan dari hasil uji Analisis Regresi Panel dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini ditemukan bahwa Suku Bunga kebijakan memiliki pengaruh signifikan terhadap Yield Obligasi Pemerintah Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik dengan nilai koefisien positif. Hal ini dapat diartikan bahwa apabila terjadi peningkatan pada Suku Bunga kebijakan, maka Yield Obligasi pemerintah Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik akan mengalami peningkatan hal tersebut dikarenakan Kenaikan suku bunga acuan Amerika (the fed) dapat membuat ekspektasi bahwa investor asing akan mencari dananya pada Negara berkembang. Hal tersebut dikarnakan, pada saat perekonomian membaik maka suatu Negara dapat membayar hutang-hutangnya yang akan mengakibatkan harga obligasi turun dan yield-nya mengalami kenaikan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Muktiyanto &

Aulia, 2019) tentang Determinan Tingka Imbal Hasil Yield Surat Berharga Negara (SBN) Domestik menyatakan bahwa Suku Bunga Kebijakan Bank Sentral berpengaruh signifikan terhadap tingkat imbal hasil SBN Domestik Indonesia dan ekspektasi atas perubahan suku bunga kebijakan BI secara tidak langsung dipengaruhi oleh dinamika kebijakan di Amerika Serikat, tidak terkecuali di Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik yang mana kebijakan moneter dari Negara maju berupa suku bunga akan membuat yield obligasi di Negara LowerMiddleIncomeCountriesikut mengalami perubahan.

Pengaruh Nilai Tukar terhadap Yield Obligasi Pemerintah Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik

Berdasarkan dari hasil uji Analisis Regresi Panel dan pengujian hipotesis

yang telah dilakukan dalam penelitian ini ditemukan bahwa Nilai Tukar memiliki

pengaruh signifikan terhadap Yield Obligasi Pemerintah Negara Lower Middle

Income Countries Asia Pasifik dengan nilai koefisien positif. Hal ini dapat di

(10)

artikan bahwa Pergeseran Nilai Tukar secara langsung mempengaruhi pergeseran harga obligasi, dimana Nilai Tukar memiliki peran langsung dalam pasar valuta asing. Perubahan nilai tukar masing-masing negara terhadap dollar berdampak terhadap obligasi pemerintah yang dapat terkena dampak negatif maupun dampak positif. Menguatnya Nilai Tukar terhadap mata uang suatu negara memiliki dampak positif langsung terhadap perekonomian di negara tersebut, sehingga dapat meningkatkan harga obligasi di pasar modal dan dampak positif ini dapat mendorong pembelian obligasi oleh para investor (Tandelilin, 2012).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dewi,dkk (2016) tentang Pengaruh suku bunga, nilai tukar, coupon rate, dan likuiditas obligasi terhadap harga pasar obligasi pada sector keuangan menyimpulkan nilai tukar berpengaruh negative signifikan terhadap harga obli gasi, yang arti nya secara tidak langsung nilai tukar memiliki pengaruh positif terhadap yield obligasi. nilai tukar yang di gunakan nilai tukar Dolar Amerika, karna dollar amerika seing digunakan dalam berinvestasi oleh investor.

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Yield Obligasi Pemerintah Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik

Berdasarkan dari hasil uji Analisis Regresi Panel dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan dalam penelitian ini ditemukan bahwa Pertumbuhan Ekonomi pengaruh signifikan terhadap Yield Obligasi Pemerintah Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik. Hal ini diartikan bahwa ketika terjadinya guncangan global yang berdampak terhadap perekonomian dunia, secara langsung akan mempengaruhi yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik, Yang mana pada hakikatnya ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara dalam keadaan tidak stabil maka tingkat kepercayaan investor terhadap negara tersebut juga akan menurun, hal tersebut secara langsung akan membuat rendahnya harga obligasi. Dengan rendahnya harga obligasi menandakan meningkatnya yield obligasi yang akan diterima investor.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Sihombing &

Sundoro, 2017), tentang Pengaruh Faktor Makroekonomi dan Likuiditas terhadap

Yield Curve Obligasi Pemerintah Indonesia, dimana dalam penelitiannya

pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap Investasi, dimana ketika

investasi meningkat, maka harga obligasi juga akan ikut meningkata, sejalan

dengan meningkatnya harga obligasi merupakan sinyal negatif bagi yield

obligasi, dimana dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka akan

berpengaruh negatif terhadap yield obligasi.

(11)

SIMPULAN

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji metode Regresi Panel dengan Random Effect Model, maka pembuktian hipotesis yang dapat ditarik kesimpulan yakni:

1. Suku Bunga memiliki berpengaruh positif serta signifikan terhadap Yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik dengan probabilitas 0,0088 < α = 0,05 dan hipotesis yang menyatakan bahwa Suku bunga kebijakan moneter berpengaruh positif dan signifikan terhadaYield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik diterima.Dimana Ketika terjadi kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika (the fed), maka harga obligasi akan mengalami penurunanan dan akan menyebabkan tingkat imbal hasil atau yield obligasi akan mengalami penurunan.

2. Nilai Tukar berpengaruh Negatif dan signifikan terhadap Yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik, dengan probabilitas 0,0388 > α = 0,05 dan hipotesis yang menyatakan bahwa Nilai Tukar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik diterima.

3. Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik, dengan probabilitas 0,0282 < α = 0,05 dan hipotesis yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Yield Obligasi Negara Lower Middle Income Countries Asia Pasifik dapat diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Basri, Y. Z. dan M. S. (2005). Keuangan Negara dan Analisis Kebijakan Utang Luar Negeri. raja grafindo persada.

Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. J. (2008). Investments (7th Edition ed.).

McGraw-Hill.

Budi, E. al. (2009). invesment, edisi enam. salemba empat.

Dornbusch, R. dkk. (2008). Makroekonomi,edisi bahasa indonesia. PT. Media Global Edukasi.

Eka nanda. (2016). Analisis Ekonometrika Data Panel. Witra Wacana Media.

Fair. Case, K. E. dan R. (2007). Prinsip-prinsip ekonomi ,Edisi kedelapan.

Erlangga.

Faizal, H. N. (2015). Ekonomi Untuk Kesejahteraan Rakyat, edisi kedua. PT.

Indeks.

Gujarati, D. N. (2006). Ekonometrika Dasar. Erlangga.

Hidayat Setiaji. (2019). Di Pasar Obligasi, Investor Asing Bekerja dalam Sepi.

(12)

Cnbcindonesia.com.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20191130143015-17-119292/di- pasar-obligasi-investor-asing-bekerja-dalam-sepi

Ibrahim, H. (2008). Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang 2 0 0 8.

Kuncoro, M. (2010). Ekonomika Pembangunan. Erlangga.

Mankiw, N. G. (2003). Teori Makroekonomi.Edisi Kelima. Erlangga.

Mankiw, N. G. (2007). Makroekonomi. Edisi Keenam. Erlangga.

Manurung, Jonni dan Adler Haymans Manurung. . (2009). Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Moneter. salemba empat.

Mishkin, F. S. (2006). Ekonomi Uang,Perbankan, dan Pasar Keuangan, Edisi Kelima. salemba empat.

Mishkin, F. S. (2010). Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan, Edisi kedelapan. salemba empat.

Muktiyanto, I., & Aulia, M. (2019). Kajian Ekonomi & Keuangan Determinan Tingkat Imbal Hasil (Yield) Surat Berharga. Kajian Ekonomi Dan Keuangan, 3.

Nopirin. (2007). EKONOMI MONETER. BPFE.

Nurfauziah, N., & Setyarini, A. F. (2004). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Yield Obligasi Perusahaan (Studi Kasus pada Industri Perbankan dan Industri Finansial). Jurnal Siasat Bisnis, 2(9), 241–256.

https://doi.org/10.20885/jsb.vol2.iss9.art6

Paramita, R. P., & Pangestuti, I. R. D. (2016). Determinan Yield Obligasi Pemerintah Tenor 5 Tahun Dengan Menggunakan Model EGARCH Pada Negara Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Diponegoro Journal of Managaement, 5(2008), 1–14. http://ejournal.undip.ac.id/index.php/smo Paul R. Krugman, M. O. (2005). Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. PT.

Indeks.

Samsul. (2006). pasar modal dan manajemen portofolio. Erlangga.

Samuelson. (2004). Imu Makroekonomi. PT. Media Global Edukasi.

Setiaji, H. (2018). Yield Obligasi Negara Sentuh 6,84%, Tertinggi Sejak Oktober.

Cnbcindonesia.com.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20180323094441-17-8263/yield- obligasi-negara-sentuh-684-tertinggi-sejak-oktober

Sihombing, P., & Sundoro, H. S. (2017). Pengaruh Faktor Makroekonomi Dan Likuiditas Terhadap Yield Curve Obligasi Pemerintah Indonesia. Media Ekonomi, 25(2), 117. https://doi.org/10.25105/me.v25i2.4894

Tandelilin, E. (2012). Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Teori dan

Aplikasi. BPFE.

http://digilib.unsam.ac.id:80/index.php?p=show_detail&id=950

Thompson, G. R., & Vaz, P. (1990). Dual Bond Ratings: A Test of the Certification Function of Rating Agencies. Financial Review, 25(3), 457–

471. https://doi.org/10.1111/j.1540-6288.1990.tb00807.x

Todaro, M. P. dan S. S. C. (2006). Pembangunan Ekonomi. Jilid II Edisi

Kesembilan. Erlangga

Referensi

Dokumen terkait

Kerangka kerja tersebut merupakan penggabungan dari Leitner (2004) dan ketentuan akreditasi program studi yang ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi

Etis Terhadap Kinerja Karyawan Pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Di Jawa Timur” ini merupakan hasil penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan

difficulties in comprehending texts adopted from Hello Magazine faced by the second year students of SMK Diponegoro Salatiga. The model

Pada Gambar 6 merupakan activity diagram registrasi, yang dilakukan oleh aktor pegawai. Proses diawali saat pegawai melakukan tag kartu pada reader kemudian sistem

Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman dan merupakan suatu rangkaian

Teknologi NVIDIA® SLI™ adalah sebuah inovasi platform revolusioner yang memungkinkan untuk mendapatkan kinerja skala grafis cerdas dengan menggabungkan Multi-GPU

Jakarta, 5 Februari 2021 – Menteri Keuangan (Menkeu) melantik Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara, Staf Ahli Bidang Hukum dan Hubungan Kelembagaan, Tenaga Ahli Menteri

Ellitan (2001) dalam penelitiannya pada perusahaan manufaktur di Jawa Timur menemukan adanya pengaruh strategi biaya, kualitas, fleksibilitas dan pengiriman terhadap kinerja