1
RENCANA DISEMINASI HASIL PENGKAJIAN (RDHP)
PENGEMBANGAN MODEL PERBIBITAN AYAM KAMPUNG UNGGUL BALITBANGTAN
INTI-PLASMA DI GORONTALO
Dr. Andi Yulyani Fadwiwati, SPt, M.Si dan Tim
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN GORONTALO BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN
2021
2
LEMBAR PENGESAHAN1. Judul Kegiatan : Pengembangan Model Perbibitan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan Inti-Plasma Di Gorontalo 2. Unit Kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo
3. Alamat Unit Kerja : Jl. Muh.Van Gobel No. 270 Desa Iloheluma Kec.
Tilongkabila Kab. Bone Bolango, Gorontalo
4. Sumber Dana : APBN
5. Status Penelitian : Lanjutan 6. Penanggung Jawab
a. Nama : Dr. Andi Yulyani Fadwiwati, SPt,MSi b. Pangkat / Golongan : Penata TK 1 /III d
c. Jabatan : Peneliti Muda 7. Lokasi : Provinsi Gorontalo 8. Agroekosistem : Lintas Agroekosistem
9. Tahun Mulai : 2018
10. Tahun Selesai : 2021
11. Tujuan : Untuk peternak inti penghasil DOC bibit:
1. Menyediakan sarana pendukung perbanyakan DOC bibit pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB- 1.
2. Menyediakan DOC ayam KUB dan Sensi dengan sarana produksi (pakan dan obat);
3. Melaksanakan pembinaan tatalaksana pembibitan untuk menghasilkan DOC bibit pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1.
Untuk dua peternak plasma penghasil ayam lokal potong :
1. Menyediakan sarana pendukung pembesaran ayam lokal potong di 2 (dua) peternak plasma skala kecil.
2. Menyediakan 300 ekor DOC pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1 untuk dua peternak plasma (masing-masing peternak plasma menerima sejumlah 150 ekor) lengkap dengan sarana produksi (pakan dan obat).
3. Melaksanakan pembinaan tatalaksana budidaya untuk menghasilkan ayam local potong.
12. Output : Untuk peternak inti penghasil DOC bibit:
1. Tersedianya sarana pendukung perbanyakan DOC bibit pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB-1.
2. Tersedianya DOC ayam KUB dan Sensi dengan sarana produksi (pakan dan obat);
3. Terlaksananya pembinaan tatalaksana pembibitan untuk menghasilkan DOC bibit pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1.
3
Untuk dua peternak plasma penghasil ayam localpotong:
1. Tersedianya sarana pendukung pembesaran ayam lokal potong di 2 (dua) peternak plasma skala kecil.
2. Tersedianya 300 ekor DOC pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1 untuk lima peternak plasma (masing-masing peternak plasma menerima sejumlah 150 ekor) yang akan dipelihara sampai umur 10-12 minggu
3. Terlaksananya pembinaan tatalaksana budidaya untuk menghasilkan ayam potong lokal.
12. Output Akhir : Terdiseminasinya ayam KUB Sensi di Gorontalo
Terjadi peningkatan pendapatan khususnya peternak ayam kampung di Gorontalo.
13. Biaya : Rp 28,500,000,- (Dua Puluh Delapan Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)
Koordinator Program,
Dr. Andi Yulyani F, S.Pt, M.Si NIP. 19700703 200312 2 001
Penanggungjawab RDHP
Dr. Andi Yulyani F, S.Pt, M.Si NIP. 19700703 200312 2 001
Mengetahui,
Kepala Balai Besar Pengkajian
danPengembangan Teknologi Pertanian
Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si NIP. 19680918 199303 1 002
Kepala BPTP Gorontalo
Dr. Amin Nur,S.P. M.Si NIP.19760817 200112 1 001
4
RINGKASAN EKSEKUTIF1. JUDUL : Pengembangan Model Perbibitan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan Inti – Plasma di Gorontalo
2. UNIT PELAKSANA:Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo 3. LOKASI :Provinsi Gorontalo
4. TUJUAN :
Untuk peternak inti penghasil DOC bibit:
1. Menyediakan sarana pendukung perbanyakan DOC bibit pedaging hasil silangan SenSi- 1 x KUB-1.
2. Menyediakan DOC ayam KUB dan Sensi dengan sarana produksi (pakan dan obat).
3. Melaksanakan pembinaan tatalaksana pembibitan untuk menghasilkan DOC bibit pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1.
Untuk dua peternak plasma penghasil ayam local potong:
1. Menyediakan sarana fasilitas pembesaran ayam lokal potong di 2 (Dua) peternak plasma skala kecil.
2. Menyediakan 300 ekor DOC pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1 untuk dua peternak plasma (masing-masing peternak plasma menerima sejumlah 150 ekor) lengkap dengan sarana produksi (pakan dan obat).
3. Melaksanakan pembinaan tatalaksana budidaya untuk menghasilkan ayam lokal potong.
5. OUTPUT YANG DIHARAPKAN:
Di peternak Inti:
1. Tersedianya sarana pendukung perbanyakan DOC bibit pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB-1 skala kecil;
2. Tersedianya DOC sejumlah 500 ekor ayam KUB dan Sensi
3. Terlaksananya pembinaan tatalaksana pembibitan untuk menghasilkan DOC bibit pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1.
Di Peternak plasma:
1. Tersedianya sarana pendukung (peralatan kandang sederhana, pakan, obat-obatan) pembesaran ayam hasil silangan SenSi-1 x KUB-1 untuk menghasilkan ayam lokal potong di dua peternak plasma;
2. Tersedianya 300 ekor DOC pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1 yang akan dipelihara sampai umur 10-12 minggu.
3. Terlaksananya pembinaan tatalaksana budidaya untuk menghasilkan ayam lokal potong.
6. OUTCOME YANG DIHARAPKAN :
1. Kesinambungan penyediaan DOC pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB-1 di peternak inti untuk memenuhi permintaan peternak plasma.
2. Kesinambungan produksi ayam lokal potong umur 10-12 minggu di dua peternak plasma untuk memenuhi permintaan konsumen menengah dan akhir.
5
7. BENEFIT DAN DAMPAK YANG DIHARAPKAN :1. Meningkatnya pendapatan keluarga peternak inti dan plasma dari usahatani produksi ayam lokal potong.
2. Berkembangnya industri peternakan ayam lokal di wilayah sekitar binaan BPTP.
8. DESKRIPSI DAN METODOLOGI
Industri perunggasan di Indonesia khususnya ayam ras berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang telah mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, namun tetuanya (Grand Parent Stock/GPS) masih tergantung dari impor. Sementara dalam belasan tahun terakhir ternak ayam local telah menjadi usaha alternatif yang cukup menjanjikan dengan pangsa pasar tertentu, dimana hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa usaha peternakan ayam lokal cukup menguntungkan dan dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan keluarga.
Pengembangan peternakan ayam lokal ditingkat peternak rakyat skala usaha ekonomi dapat dilakukan dengan pendekatan sistem produksi terintegrasi. Pengelolaan usaha dilakukan oleh peternak yang mempunyai pola pikir bisnis sehingga pengembangan yang lebih luas akan mampu menggerakkan ekonomi wilayah. Peningkatan pengetahuan, keterampilan penguasaan teknologi inovasi oleh peternak diharapkan mampu meningkatkan produksi dan produktivitas.
Kegiatan diawali dengan penentuan peternak/kelompok peternak ayam lokal yang potensial untuk dijadikan peternak pembibit. Selanjutnya peternak tersebut disebut peternak Inti. Penerapan inovasi usahatani terintegrasi (pembibitan untuk produksi telur tetas dan penetasan, pembesaran untuk produksi ayam potong, dan pemasaran) melibatkan 5 calon peternak sebagai peternak kooperator, selanjutnya disebut peternak Plasma.
Sosialisasi, pelatihan kepada para calon peternak kooperator untuk meningkatkan kapasitas peternak kooperator dan sekaligus pendampingan kepada peternak pembibit.
Data perkembangan tahapan usahatani dipantau dengan menggunakan alat ukur dan catatan berupa farm record keeping (FRK) untuk mengetahui kapasitas pengetahuan dan keterampilan para peternak kooperator. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan diukur dengan perkembangan sebelum dan sesudah pelaksanaan dalam kurun waktu setahun.
9. JANGKA WAKTU : 12 bulan (2021) 10. SUMBER DANA : APBN TA. 2021 11. BIAYA DISEMINASI : Rp 28.500.000,-
6
I. PENDAHULUANLatar belakang
Usaha peternakan ayam ras merupakan suatu industri yang sudah terintegrasi secara vertikal mulai dari industri hulu sampai hilir. Pada umumnya usaha ini dikelola dengan manajemen profesional dan menggunakan input teknologi maju/modern dengan tetap mempertimbangkan tingkat efisiensi usaha yang layak. Penyediaan daging ternak secara nasional sebesar 4.886.000 ton pada tahun 2019 dimana bahwa ayam ras mampu mensuplai 3.495.000 ton (71,53%) dan unggas lokal sebesar 298.000 ton (6,09%) sumbangan produksi daging nasional (Ditjen PKH, 2020). Dominasi pangan unggas terbesar dipasok dari ayam ras (broiler dan petelur), sedangkan unggas lokal masih rendah, namun mempunyai potensi segmen pasar tersendiri dan cukup besar di masyarakat sehingga terus ditingkatkan.
Rendahnya produktivitas ternak lokal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya disebabkan karena penyediaan dan penggunaan bibit ternak unggul yang massaldengan harga terjangkau oleh peternakmasih sulit diperoleh dan dalam proses pembibitan ini tampaknya sudah diminati oleh kalangan dunia usaha menengah kecil (UKM).
Namun demikian, pengembangan yang lebih masif lagi perlu ditangani lebih focus dalam program pemerintahyang bersinergi dengan swasta, maupun masyarakat peternak.
Bibit ternak mempunyai peranan yang sangat strategis dalam proses produksi ternak, sehingga diperlukan ketersediaan bibit ternak secara berkelanjutan, baik kuantitas maupun kualitas.Badan Litbang Pertanian telah banyak merakit dan melepaskan varietas dan galur ternak unggul baru, namun yang digunakan petani masih terbatas sehingga perlu upaya intensif untuk mensosialisasikan varietas dan galur unggul tersebut. Keberhasilan diseminasi teknologi dalam memanfaatkan varietas dan galur unggul baru, antara lain ditentukan oleh kemampuan industri bibitternak untuk memasok hingga sampai ke tangan petani. Oleh karena itu keberadaan sistem perbenihan yang kokoh (produktif, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan) sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan produksi dan mutu produk peternakan.
Dasar Pertimbangan
Bibit ternak unggul berkontribusi meningkatkan produktivitas hasil, diiringi tersedianya pakan yang cukup, produk diperlukan masyarakat dan dukungan jaringan kelembagaan/pemasaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu peran bibit ternak sangat strategis dalam proses produksi, sehingga diperlukan ketersediaan bibit ternak secara
7
berkelanjutan, baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu jaringan industri peternakan.Badan Litbang Pertanian (cq. Balitnak) telah memproduksi dan melepaskan galur ternak unggul salah satunya yaitu Ayam KUB-1, namun yang digunakan masyarakat peternak masih terbatas sehingga perlu upaya percepatan penyediaan dan penyebarannya di masyarakat peternak melalui jaringan yang diprakarsai dan dikomandani Balitbangtan.Ketersediaan bibit/benih ternak unggul di masyarakat yang berkualitas sangat terbatas, sedangkan permintaan terhadap penyediaan bibit terus meningkat dari waktu ke waktu.
Badan Litbang Pertanian sebagai penghasil produk unggulan pertanian (termasuk ternak), melalui Balitnak telah melakukan penelitian dan menghasilkan produk-produk ternak unggul, seperti ayam KUB-1 dengan keunggulan produksi telur tinggi yaitu produksi telur henday 45-50%, puncak produksi telur mencapai 84% pada umur ayam 31 minggu, bobot telur pertama bertelur 30 gr/butir, dan akan bertambah terus sampai 36 gr/butir pada akhir bulan kedua berproduksi (Sartika et al., 2015). Sementara itu, galur ayam Sensi-1 Agrinak yang merupakan singkatan dari “Sentul Terseleksi-1” merupakan salah satu galur murni (pure line) ayam lokal pedaging unggul, yang dapat dimanfaatkan sebagai ayam niaga (final stock) dan/ atau sebagai ayam tetua (parent stock).SenSi-1 Agrinak bulu Abu dengan varian berwarna bulu abu dengan keseragaman 88%; bentuk jengger kacang pada umur 70 hari; bobot tubuh anak umur satu hari (day old chick, doc) 29,7 g/ekor jantan betina; bobot tubuh umur 70 hari, jantan 1000 g/ekor, betina 800 g/ekor; feed conversion ratio (FCR) sampai umur 70 hari, FCR 2,7 – 3,7; bobot umur 20 minggu: jantan: 2381 kg/ekor; betina 1528 kg/ekor; sedangkan SenSi-1 Agrinak bulu Pucak (putih bercak hitam) dengan varian berwarna bulu pucak dengan keseragaman 95%; bentuk jengger kacang pada umur 70 hari; bobot tubuh anak umur satu hari (day old chick, DOC) 30,5 g/ekor jantan betina; bobot tubuh umur 70 hari, jantan 1000 g/ekor, betina 800 g/ekor; feed conversion ratio (FCR) sampai umur 70 hari, FCR 2,7 – 3,7; bobot umur 20 minggu: jantan:
2424 kg/ekor; betina 1619 kg/ekor; dan relatif tahan terhadap penyakit (Iskandar et al., 2016).
Program Kementerian Pertanian pada era saat ini telah mampu meningkatkan produksi pertanian, khususnya komoditas-komoditas utama yang menjadi target dalam rangka swasembada dan surplus pangan. Meskipun demikian khususnya komoditas peternakan belum memberikan dampak terhadap angka produksi pertanian nasional, karena lemahnya sistem perbibitan sehingga ketersediaan bibit unggul Balitbang Pertanian yang terbatas. Oleh karena itu Badan Litbang Pertanian mendorong dan memasifkannya sehingga memberikan dampak besar pada pembanguna peternakan secarea nasional. Fokus pengembangan perbibitan ternak perlu dilakukan sehingga aspek penyediaan bibit unggul
8
ternak mampu mensuplai logistik sehingga aspek budidaya dan aktivitas agribisnis peternakan terjadi secara berkelanjutan.TUJUAN
Untuk peternak inti penghasil DOC bibit:
1. Menyediakan sarana pendukung perbanyakan DOC bibit pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB-1.
2. Menyediakan DOC ayam KUB dan Sensi dengan sarana produksi (pakan dan obat);
3. Melaksanakan pembinaan tatalaksana pembibitan untuk menghasilkan DOC bibit pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1.
Untuk dua peternak plasma penghasil ayam potong:
1. Menyediakan sarana pendukung pembesaran ayam lokal potong di 2 (Dua) peternak plasma skala kecil.
2. Menyediakan 300 ekor DOC pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1 untuk dua peternak lasma (masing-masing peternak plasma menerima sejumlah 150 ekor) lengkap dengan sarana produksi (pakan dan obat).
3. Melaksanakan pembinaan tatalaksana budidaya untuk menghasilkan ayam potong lokal.
OUTPUT YANG DIHARAPKAN Di peternak Inti:
1. Tersedianya sarana pendukung perbanyakan DOC bibit pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB-1 skala kecil;
2. Tersedianya DOC ayam KUB dan Sensi sejumlah 500 ekor;
3. Terbentuknya kelembagaan pemasaran peternak skala kecil dengan sistem usahatani terintegrasi inti-plasma;
4. Laporan proses dan tingkat pencapaian tujuan kegiatan tahun 2021.
Di Peternak plasma:
1. Tersedianya sarana pendukung (peralatan kandang sederhana, pakan, obat- obatan) pembesaran ayam hasil silangan SenSi-1 x KUB-1 untuk menghasilkan ayam lokal potong di dua peternak plasma;
2. Tersedianya 300 ekor DOC pedaging hasil silangan ayam SenSi-1 x KUB-1 yang akan dipelihara sampai umur 10-12 minggu;
9
3. Terbentuknya kelembagaan peternak skala kecil dengan sistem usahataniterintegrasi.
4. Laporan proses dan tingkat pencapaian tujuan kegiatan tahun 2021.
OUTCOME YANG DIHARAPKAN
1. Kesinambungan penyediaan DOC pedaging hasil silangan SenSi-1 x KUB-1 di peternak inti untuk memenuhi permintaan peternak plasma;
2. Kesinambungan produksi ayam lokal pedaging unggul umur 10-12 minggu di dua peternak plasma untuk memenuhi permintaan konsumen menengah dan akhir.
BENEFIT DAN DAMPAK YANG DIHARAPKAN
1. Meningkatnya pendapatatan keluarga peternak inti dan plasma dari usahatani produksi ayam lokal pedaging unggul
2. Berkembangnya industri peternakan ayam lokal di wilayah sekitar binaan BPTP.
10
II. TINJAUAN PUSTAKAKerangka Pendekatan
Peningkatan produktivitas peternakan salah satunya disebabkan digunakannya bibit unggul dalam sistem budidaya yang efisien, sehingga mampu meningkatkan pendapatan peternak. Pengembangan peternakan khususnya ayam kampung dengan memanfaatkan inovasi teknologi unggul utamanya bibit ternak unggul Badan Litbang Pertanian dilakukan dengan menggerakkan peternak yang inovatif sebagai rumah tangga peternak untuk melakukan agribisnis ternak ayam kampung unggul Badan Litbang Pertanian didukung dengan jaringan kerjasama dengan stakeholder terkait.
Sistem Perbibitan Ternak
Salah satu komponen produksi yang dibutuhkan peternak adalah bibit ternak bermutu (unggul). Ketersediaan bibit unggul sangat strategis, karena menjadi penentu batas atas produksi ternak. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan inovasi untuk memperbesar pasokan bibit unggul, memperbaiki sistem distribusi dan meningkatkan bibit unggul melalui pengembangan sistem perbibitan ternak nasional. Produksi ternak di dalam negeri memerlukan dorongan dari hasil pemuliaan. Namun demikian sampai dengan saat ini, sebagian besar kegiatan pemuliaan masih terkonsentrasi di lembaga penelitian atau unit pelaksana teknis perbibitan milik pemerintah yang kapasitasnya sangat terbatas. Oleh karena itu untuk dapat meningkatkan kapasitas penyediaan bibit ternak unggul, diperlukan peran pemerintah maupun swasta, yang dapat dilakukan melalui mekanisme kerjasama perbanyakan bibit ternak (Setiadi et al.,2015).
Dalam mengembangkan pembibitan ternak, perlu adanya kerja sama dan interaksi yang kuat antara pemerintah dan kelompok masyarakat. Hal ini dikarenakan individu masyarakat mempunyai pola pikir yang berbeda-beda, sehingga perlu kesadaran untuk mendukung terlaksananya suatu kegiatan. Salah satu langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan bibit ternak adalah dengan membentuk, membina dan mengembangkan pembibitan ternak rakyat (Village Breeding Centre atau VBC). Dengan adanya pembibitan ternak rakyat ini diharapkan mampu mengembangkan peternakan secara berkelanjutan, terutama dalam menyediakan bibit ternak.
Village Breeding Centre yang selanjutnya disingkat VBC adalah suatu kawasan pengembangan peternakan yang berbasis pada usaha pembibitan ternak rakyat yang tergabung dalam kelompok peternakan pembibit. Sedangkan bibit ternak adalah semua hasil pemuliaan ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakan dalam
11
usaha pembibitan yakni usaha kegiatan budidaya menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk diperjualbelikan.Lesson Learn Pengembangan Ayam Kampung Unggul Balitbang Pertanian
Pengembangan ayam KUB di 10 provinsi telah dilaksanakan Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sejak tahun 2012 dengan pendekatan kelompok yang di dalamnya terdiri dari satu anggota (calon pembibit) yang melaksanakan perbanyakan final stock (FS), untuk didistribusikan kepada anggota kelompok. Anggota kelompok bertugas melakukan pembesaran anak ayam sampai siap potongsehingga memberikan kemudahan kepada produsen ayam potong lokal dalam mendapatkan DOC FS. Penyediaan parent stock (PS) dan FS diperoleh dari hasil kerjasama Badan Litbang dengan PT Ayam Kampung Indonesia (AKI) yang telah memperbanyak bibit (PS dan FS) ayam KUB. Selanjutnya Balitbangtan melalui Balitnak tetap menyediakan grand parent stock (GPS) sebagai bibit sumber untuk dipasok ke pihak swasta yang merupakan mitra perbanyakan ayam (Sartika et al., 2013).
Pengembangan ayam kampung unggul Balitbang Pertanian sangat prospektif karena dipicu dengan semakin menjamurnya kuliner spesifik lokasi seperti “Ayam Taliwang” di NTB,
“Gudeg” di Yogyakarta, “Ayam Geprek” di Bogor, masing-masing membutuhkan ayam siap potong yang sangat besar setiap harinya. Kebutuhan kuliner ayam taliwang sekitar 15 – 16 ribu ekor perhari. Pemenuhan tersebut ayam baru sekitar 10 – 30% pangsa pasar di NTB (Priyanti et al., 2016). Balai Penelitian Ternak didukung dengan pemerintah daerah provinsi telah berhasil mengembangkan ayam kampung unggul Balitbang Pertanian dengan pelaku usaha peternakan ayam kampung mulai dari pembibitan (peoduksi telur tetas–penetasan) dan pembesaran DOC untuk menghasilkan ayam siap potong.
Ayam KUB di Prov. NTB mulai disebarkan pada tahun 2012, sampai pada 2015 sejumlah 456.260 ekor DOC FS dan 6.050 ekor DOC PS hasil produksi bibit dari mitra pengembangan PT. AKI di Bogor. Sampai saat ini sejumlah 172 peternak dan 47 kelompok peternak yang tersebar di semua kabupaten di Prov. NTB telah melakukan budidaya ayam KUB (Priyanti et al., 2016). Pola pengembangan ayam KUB dilakukan oleh dua kelompok besar yaitu pelaku usaha pembibitan umumnya dilakukan secara terintegrasi antara produksi telur tetas dilanjutkan usaha penetasan untuk menghasilkan DOC dan pelaku usaha pembesaran untuk menghasilkan ayam siap potong selama sekitar 35 - 45 hari (5 - 7 minggu). Secara umum pengembangan ayam KUB dilakukan dengan pola kemitraan antara pelaku usaha pembibitan dalam menyediakan bibit DOC untuk dibesarkan oleh pelaku usaha pembesara, pada kondisi tertentu pelaku usaha pembibitan juga melakukan usaha pembesaran.
12
Analisis finansial usaha pembibitan dan penetasan ayam KUB yang dilakukan oleh peternak secara individu dengan skala usaha 300 ekor induk parent stock ayam KUB menunjukkan bahwa dengan discount factor 14% mampu memberikan NPV positif sebesar Rp 129,75 juta, nisbah B/C sebesar 1,49 dan pay back period pada tahun kedua serta nilai IRR sebesar 36,97% dan ROI sebesar 26,31%. Adapun usaha pembesaran ayam KUB skala usaha 1000 ekor, 6 - 8 minggu/periode (5 periode /tahun) menunjukkan bahwa mampu memberikan NPV positif sebesar Rp 136,64 juta, nisbah B/C sebesar 1,72 dan pay back period pada tahun kedua serta nilai IRR sebesar 58,30% dan ROI sebesar 32,05%.Hal ini bahwa usaha pembibitan (produksi telur tetas dan penetasan) dan pembesaran ayam KUB memberikan keuntungan yang lebih besar dari tingkat suku bunga komersial perbankan yang berlaku saat ini (Priyanti et al., 2016).Analisis ekonomi dilakukan terhadap analisis finansial terkait input (pengeluaran) dan output (penerimaan) pemeliharaan ayam SenSi-1 Agrinak. Biaya pengeluaran meliputi pembelian pakan, obat-obatan, vaksin, vitamin, DOC, sekam dan kapur, serta listrik.
Komponen penerimaan adalah harga dari rata-rata bobot badan akhir dikalikan dengan harga ayam saat penjualan (Rp. 40.000/ekor). Pemberian pakan terdiri dari pakan starter umur 0 – 4 minggu dan pakan grower umur 5 – 12 minggu dengan harga rata-rata pakan Rp. 5.500/kg. Analisa ekonomi 95 ekor ayam SenSi-1 Agrinak jantan untuk program pembesaran ayam SenSi-1 Agrinak sebagai unggas pedaging. Nilai keuntungannya mencapai Rp. 630.000,- dan R/C adalah 1,2. Artinya, setiap penambahan biaya pengeluaran sebesar Rp. 1 akan memberikan penerimaan sejumlah Rp. 1,20 (Iskandar, 2017).
Ayam KUB-1 ayam lokal petelur unggul
Balai Penelitian Ternak telah menghasilkan galur unggul ayam lokalmelalui penelitian strategi/program pemuliaan dengan seleksi selama 6 generasi yaitu Ayam KUB-1 (Kampung Unggul Balitbangtan) yang merupakan hasil penelitian seleksi galur betina (female line) dengan mengurangi sifat mengeramnya dengan produksi telur yang tinggi. Ayam KUB merupakan ayam Kampung murni hasil seleksi betina selama enam generasi dengan keunggulan produksi telur tinggi, 45-50% henday dengan sifat mengeram 10% dari total populasi. Warna bulu masih seperti ayam Kampung pada umumnya yaitu beragam, namun demikian didominasi oleh warna hitam, campur coklat dan kehitaman. Jengger berbentuk tunggal (single comb) dan berbentuk kacang (pea). Keunggulan Ayam KUB dapat dijadikan sebagai bibit galur betina merupakan bibit parent stock yang dapat dikawinkan dengan pejantan ayam lokal lainnya yang mempunyai bobot badan besar seperti ayam Pelung, Gaok, Sentul, Nunukan dan lainnya untuk menghasilkan DOC (day old chick) final stock
13
ayam Kampung pedaging dengan bobot badan 1 kg pada umur 70 hari. Keunggulan ayam KUB bila dibandingkan dengan ayam Kampung biasa produksi telurnya lebih tinggi, karena seleksi diarahkan untuk produksi telur, frekuensi bertelurnya ada yang setiap hari atau dua hari sekali tanpa clutch. Konsumsi pakannya rendah sekitar 80-85 gram dan konversi pakan rendah yaitu 3,8 kg pakan/kg telur (Sartika et al.,2013).Ayam KUB merupakan ayam unggulan Badan Litbang Pertanian sejak tahun 2009 melalui (SK Mentan RI No.274/Kpts/SR.120/2/2014) tentang Pelepasan Galur Ayam KUB. Keunggulan produksi telur tinggi yaitu produksi telur henday 45-50%, Puncak produksi 65%, produksi telur/tahun 160- 180 butir, konsumsi pakan 80-85 gram, sifat mengeram 10% dari total populasi, Umur pertama bertelur 22-24 minggu, bobot telur 35-45 gram dan konversi pakan 3,8(Sartika et al., 2010).Penampilan luarnya masih bervariasi, yaitu warna bulu masih beragam didominasi warna hitam, dan campur baur coklat kehitaman. Jenggernya pun bervariasi dan didominasi oleh bentuk jengger single dan Pea, demikian halnya dengan warna kulit/shank masih bervariasi dimulai dari warna hitam, abu-abu, kehijauan, putih dan kuning.Pada tahun 2011, telah terdesiminasi sebanyak lebih dari 10.000 ekor doc KUB ke para peternak ayam lokal se-Indonesia, merintis kerjasama dengan mitra perbanyakan bibit kelompok peternak di Jawa Barat dan Yogyakarta (Iskandar et al., 2011).
Ayam SenSi-1 Agrinak, ayam lokal pedaging unggul
Untuk mengantisipasi permintaan ayam lokal pedaging unggul, maka Balai Penelitian Ternak telah mengeluarkan produk baru ayam lokal unggul tipe potong, yang dinamakan ayam SenSi-1 Agrinak (disingkat SenSi-1). Setelah dilepas sebagai galur ayam lokal unggul tipe pedaging dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 39/KpTs/PK.020/1/2017;
tentang Pelepasan Galur Ayam Sensi-1 Agrinak Tanggal 20 Januari 2017.
Iskandar et al. (2017) menerangkan bahwa ayam SenSi-1 Agrinak ini merupakan hasil seleksi untuk 6 generasi, berdasarkan bobot badan tertinggi ayam jantan umur 70 hari dan berdasarkan warna bulu abu dan warna bulu pucak (putih bercak hitam) untuk jantan dan betinanya. Sifat lain sebagai criteria seleksi adalah jengger yang berbentuk kacang (pea) untuk ayam jantannya. Di bawah ini disajikan tabel kinerja ayam SenSi-1 Agrinak. Bobot hidup rata-rata umur satu hari untuk jantan dan betina sekitar 30,10 g/ekor. Pada umur 70 hari, bobot hidup jantan umur 70 hari mencapai 1066 g/ekor dan yang betina 745 g/ekor.
Pada umur 20 minggu, bobot hidup ayam jantan mencapai 2403 g/ekor dan yang betina mencapai 1572 g/ekor.
14
III. PROSEDURPengembangan model perbanyakan bibit di peternak inti Ruang lingkup
1. Penentuan peternak/kelompok peternak yang akan dijadikan sebagai peternak pembibit ayam KUB-1 dan ayam SenSi-1. Untuk mendukung kegiatan ini, diperlukan peternak/kelompok peternak yang sudah berjalan dan memiliki fasilitas sarana dan prasarana produksi ayam.
2. Penyediaan sarana kandang dan peralatan kandang sederhana untuk menampung 500 DOC ayam KUB-1 dan SenSi-1.
3. Penyediaan pakan dan obat oleh BPTP Gorontalo kepada pihak peternak/kelompok peternak yang terpilih.
4. Seluruh penyerahan barang dari pihak BPTP ke pihak peternak kooperator harus dilengkapi dengan kelengkapan administratif sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.
Pendampingan oleh tim BPTP.
1. Pendampingan teknis pemeliharaan dilakukan sebagai bentuk pembinaan dan pengawalan BPTP Gorontalo terhadap peternak yang ditunjuk agar dapat melaksanakan konsep dan teknis peternakan ayam lokal sehingga sesuai dengan SOP produksi yang dimiliki, serta menyiapkan peternak/kelompok peternak tersebut menjadi pembibit ayam lokal kedepannya. Pendampingan juga dilakukan untuk menjaga mekanisme perkawinan ayam lokal, sehingga sesuai dengan arahan dari tim.
2. Monitoring dan evaluasi terbatas di kelompok kooperator binaan akan dilaksanakan tim BPTP.
Pengembangan model perbanyakan bibit di peternak plasma Ruang lingkup
1. Penentuan peternak/kelompok peternak yang akan dijadikan sebagai peternak pembesaran ayam hasil silangan SenSi-1 x KUB-1, sebagai ayam niaga (final stock) ayam lokal pedaging unggul.
2. Penyediaan peralatan kandang sederhana untuk menampung 150 DOC final stock unsexed yang dipelihara sampai dengan umur 10-12 minggu (bobot pasar) pada tiap kandang plasma;
3. Penyediaan pakan dan obat oleh BPTP Gorontalo kepada pihak peternak/kelompok peternak yang terpilih.
15
4. Seluruh penyerahan barang dari pihak BPTP Gorontalo ke pihak peternak kooperator harus dilengkapi dengan kelengkapan administratif sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.Pendampingan oleh tim BPTP.
1. Pendampingan teknis pemeliharaan dilakukan sebagai bentuk pembinaan dan pengawalan BPTP Gorontalo terhadap peternak yang ditunjuk agar dapat melaksanakan konsep dan teknis peternakan ayam lokal sehingga sesuai dengan SOP produksi yang dimiliki, serta menyiapkan peternak/kelompok peternak tersebut menjadi pembibit ayam lokal kedepannya.
2. Monitoring dan evaluasi terbatas di kelompok kooperator binaan akan dilaksanakan tim BPTP Gorontalo
Hubungan terintegrasi sistem produksi dalam pengembangan ayam KUB membentuk siklus produksi berkelanjutan (Tabel 1).
Tabel 1. Integrasi unit produksi dalam pengembangan ternak ayam kampung unggul Balitbangtan secara berkelanjutan
TERINTEGRASI
PEMBIBITAN = produksi telur tetas – penetasan (Produksi DOC minggu ke- )
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 . . . 48
PEMBESARAN (Peternak)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
1
Monitoring pelaksanaan kegiatan
Monitoring secara reguler bulanan dilakukan. Materi monitoring berisi catatan pertumbuhan, produksi, reproduksi, kematian, jumlah dan jenis pakan yang diberikan sesuai dengan umur ternak, pemasaran (apabila sudah dilakukan).
16
IV. ANALISIS RESIKOTabel 2. Daftar Risiko/ Masalah, Penyebab dan Dampak
No Resiko Penyebab Dampak Penangan Resiko
1 Ternak tidak berkembang populasinya di tingkat mitra
Komitmen mitra yang tidak sesuai dengan
kesepakatan
Jumlah ternak yang akan diberikan ke peternak tidak sesuai target
Mencari mitra baru
2 Populasi ternak sebagai sumber bibit tidak mencukupi
Ketersediaan induk saat awal program
kegiatan terbatas
Jumlah anak yang dilahirkan tidak sesuai target
Menambah jumlah anak dari mitra lain 3 Penyakit flu
burung Serangan flu burung akibat lemahnya bio security.
Kematian induk, dan tidak tercapainya target
Biosecurity diterapkan secara ketat
V. TENAGA DAN ORGANISASI PELAKSANAAN Tabel 3. Tenaga yang Terlibat dalam Kegiatan
No Nama/NIP Disiplin
Ilmu Jabatan dalam Kegiatan
Uraian Tugas Alokasi Waktu (jam/ming
gu) 1 Dr.Andi Yulyani
Fadwiwati,SPt, Msi Sosial
Ekonomi Penanggung jawab kegiatan
Mengkoordinir kegiatan mulai dari perencanaan hingga pelaporan
15
2 Dr.Amin Nur,SP,
M.Si Pemuliaan Kepala Balai Melakukan pengawasan
pelaksanaan kegiatan 5 3. Rosdiana, SP Budidaya
Tanaman Anggota Membantu kegiatan mulai dari perencanaan dan pelaporan
10
4. Soimah
Munawaroh, SPt Nutrisi
Ternak Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
5. Dwi
Rohmadi,S.Pt,M.Sc Peternakan Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
6. Amini Amrina Budidaya Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
7. Non Botutihe Tanah Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
8. Surya,SPt.MSi Peternakan Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 10
9. Erni R. Maruapey,
M.Si THP Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
10. Adriyanto Kuku Peternakan Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
11. Nestin Peternakan Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
12. Gaffar Budidaya Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
13. Fajrin Utina Peternakan Anggota Membantu pelaksanaan
kegiatan 5
17
VI. JADWAL KERJATabel 4. Kegiatan Pengembangan model perbibitan ayam KUB (Inti)
Uraian Kegiatan Bulan ke:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Persiapan X X
Penunjukan peternak X
Penyiapan sarana produksi (DOC, pakan, obat, peralatan
kandang) X
Pendistribusian DOC, pakan, obat, peralatan pendukung ke
kandang inti X
Pendampingan dan pengawalan
inovasi teknologi - kelembagaan X X X X X X X
Monitoring dan Evaluasi X X X X
Pelaporan X X
Tabel 5. Kegiatan Pengembangan model perbibitan ayam KUB (Plasma)
Uraian Kegiatan Bulan ke:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Persiapan X X
Survey lokasi dan Penunjukan
peternak X
Penyiapan sarana produksi (DOC, pakan, obat, peralatan
kandang) X X
Pendistribusian DOC, pakan, obat, peralatan pendukung ke
kandang inti X
Pendampingan dan pengawalan
inovasi teknologi - kelembagaan X X X
Monitoring dan Evaluasi X X
Pelaporan X X
18
VII. PEMBIAYAANA Pengembangan Model Perbibitan Ayam
Kampung Unggul Balitbangtan Inti Plasma 28.500.000
521211 Belanja Bahan 2.750.000
(050-Gorontalo) -
- 3 Belanja Bahan Pendukung Kegiatan [*
x *] 1 Kali 2.750.000 2.750.000
521811 Belanja Barang Persediaan Barang Konsumsi 15.250.000
(050-Gorontalo) -
- 1 ATK dan Komputer Supplies [* x *] 1 Trw 1.000.000 1.000.000 - 2 Belanja bahan utama kegiatan [* x *] 1 Kali 14.250.000 14.250.000 524111 Belanja Perjalanan Dinas Biasa 10.500.000
(050-Gorontalo) -
- 2 Perjalanan Daerah Dalam Rangka
Pelaksana Kegiatan [* x *] 15 OP 700.000 10.500.000
19
DAFTAR PUSTAKADitjen PKH, 2020. Rancangan Kegiatan Strategis Peternakan Dan Kesehatan Hewan Tahun 2021.
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2016. Statistik Peternakan.Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementerioan Pertanian
Iskandar, S. 2011. Panduan pelaksanaan pengembangan ayam KUB. Edisi khusus untuk pengembangan di 10 propinsi. Balai Penelitian Ternak
Iskandar S., T. Sartika, H. Zainal, B. Gunawan. 2015. Naskah Ilmiah Pelepasan Galur AyamLokal Pedaging Sensiabu dan Sensiputih. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Ternak. Ciawi. Bogor
Iskandar, S. 2017. Sentul TerselekSi Ayam Pedaging Unggul. Bahan Konferensi Pers. Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian.
Priyanti A., T. Sartika, Priyono, T.B. Yuliyanto, T.D. Soedjana, S. Bahri, B. Tiesnamurti. 2016.
Kajian Ekonomi dan Pengembangan Inovasi Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB). Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian.
Bogor
Sartika, T., S. Iskandar, D. Zainuddin, S. Sopiyana, B. Wibowo, A. Udjianto. 2010. Seleksi dan “open nucleus” ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak). Lap. Penelitian No: NR/G- 01/Breed/APBN 2009.
Sartika T., D. Zainuddin, S. Iskandar, H.R. Resnawati, A.R. Setioko, Sumanto, A.P. Sinurat, Isbandi, B. Tiesnamurti, E. Romjali. 2013. Ayam KUB-1. IAARD Press. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. Jakarta
Sartika, T., S Iskandar, H. Zainal. 2013. Seleksi galur betina ayam KUB calon GP (Grand Parent). Laporan Penelitian Balai Penelitian Ternak No. Protokol : 1806.010.003/F- 02/APBN-2014.
Sartika, T., S. Sulandari and MSA Zein. 2011. Selection of Mx Gene genotype as genetic marker for avian Influenza resistance in Indonesian native chicken.
Biomed Central (BMC). Open Acces:
http://www.biomedcentral.com/1753- 6561/5/S4/S37Sartika T., H. Zainal, S. Iskandar. Kinerja Ayam Lokal Sentul Hasil Seleksi Sebagai Calon Galur Penjantan. Prosiding Seminar Unggas Lokal V. Peran Unggas Lokal dalam Menunjang Industri Perunggasan di Indonesia. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Semarang, 18 November 2015.
Sulandari, S., MSA Zein, D. Aastuti dan T. Sartika. 2009. Genetic polymorphisms of the chicken antiviral Mx gene in a variety of Indonesian Indigenous chicken breed. Jurnal Veteriner , Jurnal Kedokteran Hewan Indonesia 10 (2): 50-56.
Setiadi, B., B.R. Prawiradiputra, B. Tiesnamurti, A. Anggraeni. 2015. Pedoman Umum Kelembagaan Unit Pengelola Benih Sumber dan Bibit Unggul Peternakan. Pusat
20
Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.Munawaroh,S., Anas,S., Fadwiwati,A,Y.,Saleh,T,W., Hipi,A. 2018. Manajemen Pemeliharaan Ayam KUB – Sensi. BPTP Gorontalo.ISBN. 978-602-9309-27-0.