TESIS
Oleh:
DONALD R. SIMANJUNTAK NIM. 137045007
MAGISTER ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N 2 0 1 6
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Komunikasi dalam Program Magister Ilmu
Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
DONALD R. SIMANJUNTAK 137045007
MAGISTER ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2 0 1 6
MODIGLIANI TERHADAP “KOLOM LAE TOGAR” DI HARIAN POSMETRO MEDAN
Nama Mahasiswa : Donald R. Simanjuntak Nomor Pokok : 137045007
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Menyetujui, Komisi Pembimbing
Ketua, Anggota,
(Drs. Syafruddin Pohan,SH, M.Si, Ph.D) (Drs. Hendra Harahap,M.Si) NIP. 195812051989031002 NIP. 19671002 199403 1 001
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D) (Prof. Dr. Badaruddin, M.Si) NIP. 196704051990032002 NIP. 196805251992031002
Tanggal Lulus: 9 Pebruari 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Lusiana Andriani Lubis, M.A, Ph.D Anggota : Drs. Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D
Dr. Nurbani, M.Si
Drs. Hendra Harahap, M.Si Haris Wijaya, M.Comm
POSMETRO MEDAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa:
1. Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister pada Program Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara benar merupakan hasil karya peneliti sendiri.
2. Tesis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana, magister dan/atau doktor), baik di Universitas Sumatera Utara maupun dipeguruan tinggi lain.
3. Tesis ini adalah murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Komisi Pembimbing dan masukan Tim penguji.
4. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
5. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri dan adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi- sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 24 Pebruari 2016 Penulis
Donald R. Simanjuntak
ABSTRAK
Tesis ini berjudul “Analisi Framing Gamson dan Modigliani terhadap Kolom Lae Togar Di Harian Posmetro Medan”, studi kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah untuk: 1) melihat gagasan komunikator (emic), sebagai sentral (core frames) dalam Kolom Lae Togar , 2) menciptakan kekhasan kolom dalam framing devices (bagaimana melihat suatu isu) berupa cakupan tentang methapors, exemplars, catchprahrases, depictions dan visual images terhadap isu yang diceritakan sebagai jalan cerita Kolom Lae Togar , dan 3) melihat pengaruh Kolom Lae Togar terhadap penulis sebagai reasoning devices (alasan pembenar) terdiri dari roots (analisis kausal) dan appeal to pronciple (klaim moral) yang diketengahkan.
Teori-teori yang digunakan sebagai pedoman dalam penulisan tesis ini adalah dengan menggunakan paradigma konstruktivisme, terdiri dari teori komunikasi berbasis diri, teori konstruk hubungan dalam komunikasi, teori model desain pesan, definisi berita, komunikasi dan komodifikasi, analisis bingkai (framing analysis). Teknik pengumpulan data penelitian dengan menggunakan data skunder berupa terbitan cerita Lae Togar di Harian Posmetro Medan dengan topik kriminal,KDRT dan seks yang diterbitkan pada bulan Juni 2015 dan wawancara dengan penulis Kolom Lae Togar.
Hasil penelitian adalah Keberhasilan gagasan komunikator merupakan konsep emic sebagai sentral (core frames) dalam Kolom Lae Togar. Penciptaan kekhasan kolom dalam framing devices (bagaimana melihat suatu isu) berupa cakupan tentang kemampuan menggunakan fase khas (slogan), dan pemakaian kartun terhadap isu yang diceritakan sebagai jalan cerita Kolom Lae Togar .Komodifikasi penjualan, spasialisasi, dan strukturasi, sebagai reasoning devices (alasan pembenar) terdiri dari roots (analisis kausal) dan appeal to principle (klaim moral) yang diketengahkan merupakan pengakuan terhadap Kolom Lae Togar bagian dari entitas ekonomi Harian Posmetro Medan.
Kata kunci: Framing,Lae togar,Pos Metro Medan.
This thesis titled "Framing Analysis Gamson and Modigliani to Lae Togar Column In Posmetro Medan Daily", a qualitative study with constructivism. The research aimed to be achieved is to: 1) looking at the idea communicator (emic), as the central (core frames) in Lae Togar Column, 2) creates a column in the peculiarities of framing devices (how to look at an issue) in the form of coverage of methapors, exemplars, catchprahrases, depictions and visual images of issues to be told as the story Column Lae Togar, and 3) the influence of Columns Lae Togar against the author as reasoning devices (justification) consists of roots (causal analysis) and appeal to principle (moral claims) are presented.
Theories are used as guidance in writing this thesis is to use constructivism, consisting of self-based communication theory, theory constructs relationships in communication, message design model theory, the definition of news, communication and commodification, analyzes the frame (framing analysis).
Research data collection techniques using secondary data in the form of a story published in The Posmetro Medan Daily with topics of criminal, domestic violence and sex are published in June 2015 and interviews with the author Lae Togar Column.
Results of the research is successful ideas is the concept emic communicator as a central (core frames) in Lae Togar column. Creation of the peculiarities of the columns in the framing devices (how to look at an issue) coverage in the form of the ability to use typical phase (slogan), and the use of cartoons on the issue told as the story Lae Togar Column .Komodifikasi sales, spatialization and structuration, as the reasoning devices (justification) consists of roots (causal analysis) and appeal to principle (moral claims) who presented a recognition of Lae Togar column part of economic entities Daily Posmetro Medan.
,
Keywords: Framing, Lae Togar, Pos Metro Medan.
segala kesempatan, dan kesehatan yang masih diberikan kepada penulis hingga mampu menyelesaikan penulisan tesis ini.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis menyadari sepenuhnya kealfaan sebagai manusia mungkin terjadi dalam penyajian karya ilmiah ini, baik dari segi redaksional, pemaparan dan penyusunannya, untuk itu telaah dari semua pihak akan menjadi masukan sangat berarti untuk perbaikan tulisan yang tersaji.
Standarisasi penulisan karya ilmiah melalui Pedoman Penulisan Karya Ilmiah di Magister Ilmu Komunikasi USU menjadi rujukan dalam perbaikan-perbaikan nantinya.
Terima kasih yang tidak terhingga untuk istriku Lisdiu Sinaga atas dukungan moril yang diberikan dalam proses perkuliahan dan penyelesaian tesis ini, dan boru hasianku Christine Claradema Simanjuntak, motivasi terbesar dalam hidupku.
Untaian terima kasih atas segala bantuan yang diberikan selama proses penelitian saya sampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MH, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
kelayakan penelitian.
4. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, S.H, M.Si, Ph.D, selaku Ketua Komisi Pembimbing atas saran dan kritik yang diberikan dalam penyusunan karya ilmiah ini.
5. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si, selaku Anggota Komisi Pembimbing atas saran dan kritik yang diberikan dalam penelitian.
6. Ibu Dr. Nurbani, M.Si, dan Bapak Haris Wijaya, M.Comm, selaku Komisi Pembanding atas saran dan kritik yang diberikan.
7. Para informan yang telah bekerja sama dengan baik, terutama kepada Bonnique Suhendra, penulis Rubrik Lae Togar, atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada peneliti untuk melakukan wawancara; Ali, redaktur Harian Posmetro Medan atas berbagai informasi mengenai surat kabar in;
Lilik Redianto, fotografer yang membantu mendokumentasi dan sumber informasi peneliti.
8. Teman-teman kuliah yang memberi semangat dan inspirasi : Alfi, Rotua, Tutut, Rudy, Nata, Mahda, Ave dan Suci,
9. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam urusan administrasi maupun masalah teknis di lapangan selama penyelesaian tesis.
Yang Maha Esa, amin.
Medan, 24 Pebruari 2016 Penulis
Donald R. Simanjuntak
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ... iv
PERNYATAAN ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Fokus Masalah ... 13
1.3. Tujuan Penelitian ... 14
1.4. Manfaat Penelitian ... 15
BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Paradigma Penelitian dan Teori-teori ... 17
2.1.1. Paradigma Konstruktivisme ... 17
1) Komunikasi Berbasis Diri: Pemaknaan terhadap Person dan Self ... 22
2) Konstruk Hubungan dalam Komunikasi: Proses Berpihak Pada Person dan Self ... 23
3) Model Desain Pesan: Ekspresif, Konvensional dan Retoris ... 24
2.1.2. Definisi Berita ... 25
1) Surat Kabar ... 26
2) Konstruksi Berita Surat Kabar: Kapitelisme dan Konglomerasi Media ... 30
3) Sifat Berita Surat Kabar ... 34
4) Berita Kriminal Surat Kabar ... 35
2.1.3. Analisis Bingkai (Framing Analysis) ... 37
1) Teknik Framing: Kajian Komodifikasi Isi dan Komodifikasi Khalayak ... 38
2) Model Framing Gamson dan Modigliani ... 44
2.2. Kajian Terdahulu ... 47
3.2. Aspek Kajian ... 53
3.3. Subjek Penelitian ... 54
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 54
3.5. Metode Analisis Data ... 55
BAB IV. TEMUAN PENELITIAN 4.1. Proses Penelitian ... 58
4.2. Temuan Penelitian ... 59
4.2.1. Lae Togar dan Proses Penciptaan ... 59
4.2.2. Gagasan Sentral (Core Frames) : Gagasan Komunikator sebagai Kritik Sosial ... 67
4.2.2. Framing Devices (Mengemas Isu): Gambaan Kekhasan Kolom Lae Togar dengan Menggunakan Fase Khas (Slogan) dan Pemakaian Kartun ... 92
4.2.3. Reasoning Devices: Nilai Penulis ... 96
BAB V. PEMBAHASAN 5.1. Lae Togar dalam Konstruktivisme Sosial: Kajian Komunikasi Berbasis Diri, Konstruk Hubungan dalam Komunikasi dan Model Desain Pesan ... 102
5.2. Lae Togar dalam Perspektif Emic sebagai Gagasan Sentral (Core Frames): Wahana Kritik Sosial ... 107
5.3. Lae Togar dalam Penilaian Framing Devices: Penciptaan Kekhasan Rubrik ... 110
5.4. Lae Togar dalam Penilaian Reasoning Devices dan Appeal to Principle: Perspektif Diri Penulis ... 112
BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1. Simpulan ... 119
6.2. Saran ... 119
REFERENSI ... 121 LAMPIRAN
2.1 Logika Desain Pesan ... 25 3.1 Kolom Lae Togar Di Harian Posmetro Medan ... 54 4.1 Core Frames: Gagasan Komunikator tentang Kehidupan Narapidana 68 4.2 Core Frames: Gagasan Komunikator tentang Mentalitas Penegak
Hukum ... 75 4.3 Core Frames: Gagasan Komunikator tentang Mentalitas Masyarakat 79 4.4 Core Frames: Gagasan Komunikator tentang Kejujuran yang Tidak
Pada Tempatnya ... 86 4.5 Core Frames: Gagasan Komunikator tentang Bahaya Kelambanan
Diri ... 89 4.6 Slogan dan Kartun pada Kolom Lae Togar ... 92 5.1 Fungsi dan Disfungsi Hiburan Dalam Surat Kabar ... 105
14
2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 50 3.1 Analisis Framing Gamson dan Modigliani ... 56
vix
1 1.1. Latar Belakang Masalah
Media massa merupakan media diskusi publik tentang suatu masalah yang melibatkan tiga pihak yakni wartawan, sumber berita dan khalayak. Ketiga pihak itu mendasarkan keterlibatannya pada peran sosial masing-masing dan hubungan diantara mereka melalui operasionalisasi wacana yang mereka konstruksi. Sebuah media massa dilihat sebagai forum bertemunya pihak-pihak dengan kepentingan, latar belakang dan sudut pandang yang berbeda-beda. Setiap pihak berusaha untuk menonjolkan basis penafsiran, klaim atau argumentasi masing-masing berkaitan dengan persoalan yang sedang dibicarakan.
Persoalan media adalah keberpihakan terhadap atribut-atribut tertentu dari media yang dikondisikan berdasarkan klasifikan pesan-pesan yang dikomunikasikan. McLuhan menggambarkan keadaan ini sebagai “the medium is the message” (Sobur, 2001: 37). Media akan memberikan pemaknaan mendalam atau sekedar menyenangkan publik itulah pesan media dalam ketidaknetralan.
Media menjadi arena kritis dari pertarungan gerakan sosial, ditempatkan pada peran menentukan arti penting isu dihadapan khalayak. Peningkatan perhatian bukan pergerakan sosial tetapi lebih pada penafsiran, ditampilkan sebagai realitas agar didukung banyak orang (Birowo, 2004: 167). Gambaran tentang pro dan kontra terhadap isi media diperkuat pendapat J. Herbert Altschull (Severin & Tankard, 2005: 383), menyebutkan bahwa pers yang mandiri tidak
mungkin terwujud dan karenanya media massa hanyalah menjadi alat pemegang kekuasaan ekonomi, politik, dan semua kekuatan sosial dalam sistem apa pun.
Kesimpulan yang dikemukakan Altschull terhadap artikel tentang kepercayaan, tujuan, dan pandangan terhadan kebebasan pers di setiap dunia, baik di dunia yang disebutnya sebagai model pasar (kapitalis), model komunis (sosialis) dan model maju (agak akuratnya, negara berkembang) sebagai berikut:
(1) dalam semua sistem pers, media menjadi mewakili pihak yang menjalankan kekuasaan politik dan ekonomi; (2) isi berita selalu menunjukkan kepentingan dari orang yang membiayai pers; (3) semua sistem pers didasarkan pada kepercayaan ekspresi bebas dengan cara pendefinisian yang berbeda; (4) semua sistem pers menyokong doktrin tanggung jawab sosial, menyatakan bahwa mereka mereka melayani kebutuhan dan minat masyarakat, dan menyatakan kemauan mereka untuk menyediakan akses bagi mereka; (5) masing-masing model menganggap bahwa pers model lain menyimpang; (6) sekolah-sekolah jurnalis mengedarkan ideologi dan sistem nilai masyarakat di mana mereka berada pada dan secara tidak sadar membantu kekuatan masyarakat dalam mencapai kontrol pada media berita; dan (7) dalam praktiknya, pers selalu berbeda dengan teori.
Berita yang merupakan hasil konstruksi realitas dari sebuah proses manajemen redaksional tidak selalu menghasilkan makna sama seperti yang diharapkan para wartawan dalam diri khalayak pembacanya. Berita tidaklah mencerminkan realitas sosial yang direkamnya, tetapi hasil konstruksi realitas sosial yang direkam oleh wartawan dan kemudian diceritakan kembali yang tidak
dapat dilepaskan dari subjektifitas berpikir. Realitas subjektif dari kerja wartawan yang mana kejadian dilaporkan sebagai pandangan wartawan melalui sudut pandang kepentingan pemberitaan.
Merril (Birowo, 2004: 169), menyebutkan bahwa “obyektifitas sebuah karya jurnalistik merupakan hal yang tidak mungkin untuk dapat dilakukan.
Proses kerja jurnalistik mulai dari pencarian berita, peliputan, editing, kemudian juga seleksi berita merupakan kerja yang subjektif. Subjektifitas berita berkaitan langsung dengan jalan cerita suatu peristiwa. Ini berarti bahwa suatu berita setidaknya mengandung dua hal: 1) peristiwa, dan 2) jalan ceritanya (Tebba, 2005: 55). Jalan cerita tanpa peristiwa atau peristiwa tanpa jalan cerita tidak dapat disebut berita.
Dalam kehidupan sehari-hari tentu banyak peristiwa yang diceritakan kembali dalam surat kabar sebagai salah satu media tertua di dunia. Peristiwa dan jalan cerita yang terkandung di dalam surat kabar disebut berita. Tidak semua peristiwa diberitakan oleh surat kabar. Surat kabar melalui kerja wartawan, dan redaktur melakukan pengelompokan peristiwa dan jalan ceritanya, hingga menjadi berita berdasarkan jenis berita, yang secara umum dikenal dengan klasifikasi berita politik, ekonomi, hukum, sosial, dan kriminal.
Tidak semua berita disajikan dalam surat kabar, terjadi pemilihan berita sesuai dengan kepentingan redaksional, yang disebut dengan kebijakan redaksi.
Tebba menyebutkan pilihan peristiwa yang diberitakan tergantung pada hal-hal berikut, antara lain adalah: ... perilaku seks, emosi yang ditimbulkan oleh peristiwa, dan humor yang terkandung di dalam peristiwa (Tebba, 2005: 55).
Kelompok Jawa Pos melihat kehadiran koran kriminal sebagai peluang bisnis. Berita yang terkait kriminal selalu menarik minat pembaca. Sajian berita kriminal biasanya disertai dengan foto-foto mencolok, mengabaikan estetika perwajahan surat kabar umumnya. Gambar orang mati gantung diri atau korban kecelakaan yang mati berlumuran darah, justru menjadi hiburan dengan tampilan berita dan gambar vulgar tersebut. Perwajahan koran kriminal dipenuhi dengan banyak berita, di halaman depan biasanya diisi 10 sampai 11 berita, berbeda dengan koran biasa yang bukan koran kriminal. Bahkan koran besar seperti Kompas tidak jarang hanya memuat 3 atau 4 berita di halaman muka ditambah foto yang besar.
Pengabaian norma dan kaidah jurnalistik dengan menampilkan sisi emosionalisme dan sensasionalitas berlebihan, pada dunia media massa, khususnya pada surat kabar merupakan fenomena pemberitaan yang disebut dengan surat kabar kuning (yellow paper). Baran (Tambaruka, 2013: 150), menyebutkan, teknik-teknik yang digunakan termasuk pernyataan dilebih- lebihkan dari suatu kejadian berita, skandal, atau sensasional sebagai ciri jurnalisme kuning atau surat kabar kuning. Satu hal lain yang menjadi ciri koran kuning menurut pendapat Motto adalah: penggunaan wawancara palsu, menyesatkan berita utama, pseudo-science, pengetahuan dari sumber yang bukan ahli.
Kriminalitas sebagai berita dikemas dalam pewajahan media di Harian Posmetro Medan. Kriminalitas muncul sejalan dengan dinamika kehidupan manusia modern. Angka kriminalitas terus menanjak sejalan dengan peningkatan
kebutuhan hidup. Kriminalitas berarti “kejahatan, perbuatan yang melanggar hukum pidana (Poerwadarminta, 2014: 526). Berita kriminal biasa, seperti pembunuhan, perkosaan, perampokan dan tindak kekerasan lain, layak menjadi konsumsi kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Meskipun demikian, menurut Djuraid (2006: 64) “... bukan berarti kalangan high level tidak suka berita kriminal”. Nilai guna (use value) dari informasi berita kriminal diubah menjadi nilai tukar (exchange value). Proses perubahan nilai guna menjadi nilai tukar ini disebut komodifikasi (Ibrahim dan Akhmad, 2014: 18).
Berita kriminal adalah “berita yang disiarkan media massa mengenai peristiwa yang menyangkut kejahatan”. Menurut Moeliono “kejahatan adalah pelanggaran hukum yang dapat dihukum menurut undang undang pidana”.
Assegaf, mengistilahkan kriminal menjadi kriminil. Menurutnya berita kriminil adalah “berita atau laporan mengenai tindak kejahatan yang diperoleh dari pihak kepolisian” (http://jurnaltaya.blogspot.co.id/2013/11/berita-kriminal.html. diakses 10/02/2016). Mengenai penggolongan berita kejahatan atau kriminal, Assegaf (1982) mengatakan “yang termasuk ke dalam berita kejahatan adalah : pembunuhan, penodongan, pencopetan, perampokan pencurian, perkosaan dan lainnya yang melangar hukum (Assegaf, 1982 : 44).
Tindak kriminal ini bisa saja dilakukan di ruang publik “public sphere”
maupun di ruang privat “private sphere”.Jurgen Habermas (1989) menjelaskan
“public sphere” sebagai ruang yang pada dasarnya merupakan ruang yang tercipta dari kumpulan orang-orang tertentu (private people), dan ruang privat
atau “private sphere” yaitu ruang yang berada dalam hubungan ekonomi atau pasar dan lebih disebut sebagai ruang kepemilikan (Nasrullah ,2012)
Dalam penyajiannya, pada halaman satu Kolom Lae Togar, hanya menampilkan judul besar tentang permasalahan yang diangkat sebagai berita buatan, disertai lead dengan satu alinea awal yang bersambung di halaman kedua.
Hal ini menyulitkan, karena harus berpindah ke halaman lain untuk melanjutkan berita rekaan dalam kolom Lae Togar. Pada tahap selanjutnya, pembaca terbiasa dengan tampilan berbeda dari Harian Posmetro dengan sajian berita kriminal melalui perwajahan surat kabar yang berbeda dengan surat kabar biasa dipasaran yang lead secara lengkap menunjukkan tentang isi berita secara keseluruhan (Djuraid, 2006: 91).
Dikaitkan dengan fungsi hiburan (entertainment), Kolom Lae Togar
“mungkin” dimaksudkan sebagai hiburan untuk memberi waktu istirahat dari masalah setiap hari dan mengisi waktu luang (Severin & Tankard, 2005: 388);
fungsi-fungsi yang mewakili fungsi media massa, beradaptasi dari pemikiran Lasswell dan Wright (Severin & Tankard, 2005: 388) dapat dilihat sebagai fungsi:
rihat pribadi, lari dari kesibukan, mengisi waktu luang.
Berita buatan dalam Kolom Lae Togar dikemas dengan bahasa ringan, menarik, dan penuh ketegangan. Sajian atraktif jalan cerita dari peristiwa keseharian yang dikemas menjadi bacaan kalangan pembaca dengan segmentasi kelas pembaca yang berbeda dari Harian Sumut Pos yang merupakan bagian segment berita berbeda walau satu manajemen Jawa Pos Media Group.
Posmetro Medan, melakukan komodifikasi berita kriminal sebagai peluang usaha dengan menukarkan nilai guna menjadi nilai tukar. Selain mendirikan koran umum seperti Harian Sumut Pos yang meliputi seluruh jenis berita secara umum, berita kriminal menjadi sajian khusus, seperti Lampu Merah dan Posmetro.
Bahkan nama Posmetro menurut Djuraid (2006: 65), “menjadi trade mark koran kriminal” di kelompok Jawa Pos. Posmetro Medan, Posmetro Padang, Posmetro Palembang, bagian dari berita kriminal khusus yang disajikan kelompok perusahaan Jawa Pos. Estetika perwajahan surat kabar cenderung diabaikan, yang penting tampilannya mencolok menarik orang untuk membaca. Segmentasi kalangan masyarakat kelas bawah sebagai sasaran pembaca, menurut Djuraid (2006: 66), mereka justru “terhibur” dengan penampilan berita dan gambar yang vulgar. Tujuannya hanya mencapai sasaran pembaca yang dihibur dengan tampilan berita dengan warna mencolok dan foto-foto vulgar, bahkan sadis.
Selain gambar mencolok, misalnya, foto mayat dengan luka bacokan di sekujur tubuhnya, orang luka bersimbah darah dan gambar lain yang terkesan sadis. Di halaman depan koran dengan berita kriminal atau selanjutnya disebut dengan koran kriminal, biasanya perwajahan koran kriminal dipenuhi dengan banyak berita. Di halaman depan biasanya diisi 10 sampai dengan 11 berita.
Pengaturan berita yang jungkir balik dan berdesak-desakan menjadi ciri lain koran kriminal. Lead atau satu alinea awal dari satu berita kemudian dilanjutkan di halaman khusus sambungan. Bagi pembaca, atau sebagian besar pembaca ini tentu menyulitkan, tapi tidak demikian dengan pembaca kelas bawah, buktinya, oplah koran kriminal tetap mengungguli koran umum.
Media sebagai sebuah sistem komunikasi manusia telah kian penting di dunia, menggantikan pengalaman primer dengan komunikasi sekunder, salah satunya melalui media cetak yakni koran (news paper) telah memainkan peran penting dalam merombak tatanan sosial menjadi masyarakat serba bisa dalam memainkan fungsi sosial yang mengarahkan pembaca pada agenda media yang tidak mampu secara utuh menampilkan berita yang didapatkan para pekerja media. Kepentingan media, dan pembaca menjadi pertimbangan dalam memenuhi kebutuhan bersama.
Oleh sebab itu, komunikasi massa dapat diartikan dalam dua cara yaitu:
komunikasi oleh media dan komunikasi oleh massa. Namun tidak berarti komunikasi massa adalah komunikasi untuk setiap orang. Media tetap cenderung memilih khalayak dan demikian pula sebaliknya khalayak memilih-milih media.
Pemenuhan kepentingan bersama menjadi alasan utama media menampilkan berita, di sisi lain pembaca mencari berita di dalam media yang sesuai dengan kebutuhan informasi, dan hiburan yang diinginkan.
Apresiasi terhadap realitas harus dimaknai sebagai struktur konseptual terorganisir, termasuk dalam wacana yakni berita yang dibuat seperti halnya Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan. Informasi harus ditempatkan dalam konteks yang khas sehingga elemen isu tertentu menjadi memiliki alokasi yang lebih besar dalam kognisi individu dibandingkan dengan elemen isu yang lain.
Realitas yang disajikan secara subjektif oleh wartawan atau penulis berita yang dibuat (fabricated news), tidaklah diingkari secara total, namun dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan-sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja,
dengan menggunakan istilah-istilah yang memiliki konotasi tertentu, inilah yang disebut sebagai framing (Birowo, 2004: 181).
Salah satu media massa yang dibingkaikan adalah surat kabar, karena surat kabar memiliki sebuah ideologi dan ciri khas yang dibawa dalam setiap pemberitaannya sesuai dengan karakter dari surat kabar tersebut. Surat kabar sebagai salah satu alat untuk menyampaikan berita, penilaian atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik, antara lain karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atau suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris (Sobur, 2001). Tentunya segala kebijakan redaksi pada kedua koran lokal serta latar belakang media turut mempengaruhi proses konstruksi pada berita sehingga masing-masing koran memiliki kecenderungan pro kontra terhadap sebuah topik.Sebuah surat kabar yang pro bisnis sehingga berita-berita polemik ditempatkan sebagai headline demi meraih keuntungan dan menarik pembaca, sedang di surat kabar lain memandang peritiwa tersebut dari sisi lain.
Framing dalam surat kabar memberikan definisi, penjelasan, evaluasi dan rekomendasi tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan. Keberpihakan wacana dalam jalan cerita Lae Togar dimaknai sebagai kritik sosial, menjadikan tokoh fiksi tersebut tidak tunduk pada keadaan disekitar secara umum kalau ia tidak memahami dengan benar tentang kejadian tersebut. Perbedaan sikap yang
menunjukkan bahwa komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai pemaknaan dalam perilaku komunikasi yang tidak sama.
Seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas menjadikan informasi yang dibuat, menjadi informasi yang lebih menarik, lebih berarti, sehingga lebih mudah diingat oleh khalayak. Demikian juga Kolom Lae Togar, menjadi cerita yang menggelitik sehingga menjadi sebutan-sebutan tertentu dikalangan masyarakat pembacanya.Ketika terjadi hal-hal berbeda dalam perilaku atau terjadi kegaduhan,tidak jarang disebut layaknya Lae Togar. Lae Togar dari aspek realitas yang subjektif menjadi menjadi objektif dalam imajinasi khalayak pembacanya, walau tidak demikian pada pembaca media lainnya. Kolom Lae Togar menciptakan kekhasan tersendiri yang menjadikannya bertahan sebagai bacaan kelompok sosial tertentu di masyarakat di Kota Medan dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2016 saat ini.
Dalam prakteknya, framing dipahami sebagai penyeleksian isu tertentu dan mengabaikan isu lain, menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana, misalnya dengan menempatkan seks yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam ruang publik, baik dari sisi peran dan subjek cerita, sebagai berita buatan (fabricated news), yang ditunjukkan oleh Harian Posmetro Medan, melalui Kolom Lae Togar. Inilah yang disebut oleh Birowo (2004: 183), kemampuan berita buatan sebagai konsep kekhasan rubrik dengan “... memakai label tertentu ketika menggambarkan orang dalam peristiwa tertentu yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, dan simplikasi”.
Kolomnis Lae Togar menanamkan kerangka rujukan yang familiar dari kata, citra dan gambar tertentu dalam setiap penerbitan, namun kerangka subjektif dengan struktur makna tersembunyi di dalam pemikiran jurnalis akan diadopsi oleh khalayak pembacanya sebagai kerangka rujukan berpikir yang ditawarkan oleh jurnalis yang bertanggung jawab terhadap kolom ini, tujuannya adalah memberikan hiburan kepada masyarakat pembaca. Proses dan teknologi yang digunakan dalam penyajian Kolom Lae Togar, berdampak pada proses pengenalan cerita-cerita pada setiap edisi terbit, melibatkan proses produksi, distribusi, dan pertukaran, sehingga memungkinkan para pedagang eceran untuk melihat dan mengalami langsung tingkatan penjualan oplah Harian Posmetro Medan.
Kontruksi realitas yang dibangun pada Kolom Lae Togar cenderung menggunakan kata-kata vulgar dan mampu membangun opini negatif dari judul- judul yang ada ketika tidak dibaca dengan mengembalikan pada fungsi hiburan yang diinginkan penulis. Fungsi hiburan ini di framing dengan tujuan agar pembaca merasakan rihat pribadi, lari dari kesibukan, dan mampu mengisi waktu luang dengan membaca Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan.
Frame dapat diselidiki atau ditelaah dari kata, citra, atau gambar tertentu yang memberi makna tertentu dari teks berita. Pada penelitian ini, peneliti mencoba melakukan analisis framing berita pada Kolom Lae Togar dengan menggunakan definisi W.A. Gamson dan A. Modigliani yang menyebutnya sebagai cara bercerita (story line) tentang konstruksi makna atas jalan cerita yang ditampilkan dalam Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan. Jalan cerita
dalam Kolom Lae Togar akan dilihat sebagai package interpretif yang mengandung makna tentang jalan cerita yang ditampilkan. Package harus dilihat sebagai kumpulan ide-ide yang memberi petunjuk tentang isu yang dibicarakan dan peristiwa mana yang relevan dengan suasana masyarakat di dalam pemikiran pembaca.
Pemilihan rubrik Lae Togar sebagai unit analisis penelitian didasarkan pada kemampuan Harian Posmetro Medan untuk bertahan dan mempertahankan penerbitan kolom Lae Togar yang memiliki kekhasan tersendiri secara berkala dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2016.
Topik-topik yang diulas di kolom Lae togar tidak terlepas dari berita-berita yang disajikan pada harian Posmetro Medan. Beragam topik yang diulas pada kolom Lae Togar dapat dilihat dari judul-judul kolom Lae Togar di Harian Pos Metro Medan, yang diterbitkan pada tanggal 01 Juni 2015 sampai dengan 30 Juni 2015 sebagai berikut:
No Tgl Judul Kategori
1. 01-06-2015 Cerita di Sel 32 Kriminal
2. 02-06-2015 Libur -
3. 03-06-2015 5 Menit, 3 Mobil Polisi Kriminal 4. 04-06-2015 Mewarnai Halaman 29 Pendidikan 5. 05-06-2015 Pengebut di Jalan Tol Kriminal 6. 06-06-2015 90 Kilometer Per Jam Kriminal 7. 07-06-2015 -
8. 08-06-2015 Berdoa Pendidikan
9. 09-06-2015 Kabur Dari Atap Penjara Kriminal 10. 10-06-2015 Daging Tumbuh Di Mulut Kucing Kesehatan 11. 11-06-2015 7 Ekor Ikan Nila Life style
12. 12-06-2015 Anjing Berbahaya Kesehatan
13. 13-06-2015 Memeriksa Jumlah Uang Tabungan IPTEK 14. 14-06-2015 Handphone Dokter Life style 15. 15-06-2015 Cinta Di Counter Pulsa IPTEK
16. 16-06-2015 Tidak Mengacungkan Tangan Pendidikan 17. 17-06-2015 Mengetahui Pasword Ayah IPTEK
18. 18-06-2015 Doa Untuk Menyeberangi Sungai Seni dan Budaya 19. 19-06-2015 Mencari Istri Untuk Berbagi Warisan Ekonomi
20. 20-06-2015 Orang Jujur Kriminal
21. 21-06-2015 Terpisah Dari Ibu Life style 22. 22-06-2015 Super Lemah Lembut Kriminal 23. 23-06-2015 Cara Mengajak Suami Berbelanja Life style 24. 24-06-2015 Terburu-buru Di Supermarket Ekonomi 25. 25-06-2015 Bertemu Kawan Lama Life style
26. 26-06-2015 Suami Sekarat Kesehatan
27. 27-06-2015 Cabut Gigi Terburu-buru Kesehatan
28. 28-06-2015 KDRT Terhadap Suami KDRT
29. 29-06-2015 Biaya Servis IPTEK
30. 30-06-2015 Digigit Anjing Rabies Kesehatan Sumber : Harian Posmetro Medan edisi 1 Juni -30 Juni 2015
Sesuai dengan fokus berita harian Posmetro Medan dimana harian ini dalam kesehariannya memuat berita-berita kriminal,pembunuhan,pemerkosaan, dan lain sebagainya,maka peneliti akan menganalisis berita-berita dengan kategori Kriminal,KDRT dan Seks.Dari hasil temuan peneliti, terdapat 8 (delapan) judul yaitu 1. Cerita di Sel 32 2. 5 Menit, 3 Mobil Polisi, 3. Pengebut di Jalan Tol, 4. 90 Kilometer Per Jam, 5. Kabur Dari Atap Penjara, 6. Orang Jujur, 7. Super Lemah Lembut, 8. KDRT Terhadap Suami.Inilah yang nantinya akan menjadi unit analisis peneliti.
1.2. Fokus Masalah
Hasil pra penelitian, fokus penelitian tentang Kolom Lae Togar dalam framing tentang makna yang merujuk pada cara di mana berita buatan yang dihasilkan sebagai konten berita dibentuk dan diberikan konteks oleh jurnalis ke dalam kerangka rujukan yang familiar, seakan-akan jalan cerita Lae Togar benar-
benar terjadi dan menurut beberapa struktur ada makna yang tersembunyi sebagai subjektifitas jalan cerita.
Fokus penelitian menjadi fokus masalah penelitian yang peneliti rumuskan sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui gagasan komunikator (emic), sebagai sentral (core frames) dalam Kolom Lae Togar yang terbit di Harian Pos Metro Medan dengan topik kriminal,kekerasan dan seks.
2) Untuk mengetahui kekhasan kolom dalam framing devices (bagaimana melihat suatu isu) berupa cakupan tentang methapors, exemplars, catchprahrases, depictions dan visual images terhadap isu yang diceritakan sebagai jalan cerita Kolom Lae Togar .
3) Untuk mengetahui pengaruh kolom Lae Togar terhadap penulis, sebagai reasoning devices (alasan pembenar) terdiri dari roots (analisis kausal) dan appeal to pronciple (klaim moral) yang diketengahkan.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam framing Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan adalah dengan menggunakan Framing Analysis Model Gamson dan Modigliani, untuk melihat:
1) Gagasan komunikator (emic), sebagai sentral (core frames) dalam Kolom Lae Togar yang terbit di Harian Pos Metro Medan dengan topik kriminal,kekerasan dan seks.
2) Kekhasan kolom dalam framing devices (bagaimana melihat suatu isu) berupa cakupan tentang methapors, exemplars, catchprahrases, depictions dan visual images terhadap isu yang diceritakan sebagai jalan cerita Kolom Lae Togar yang terbit di Harian Pos Metro Medan dengan topik kriminal,kekerasan dan seks.
3) Pengaruh kolom Lae Togar terhadap penulis, sebagai reasoning devices (alasan pembenar) terdiri dari roots (analisis kausal) dan appeal to pronciple (klaim moral) yang diketengahkan.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang hendak dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Menambah wawasan bagi penulis baik dari segi teoritis maupun praktis tentang permasalahan yang berhubungan dengan realitas konstruksi framing pada Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan.
2) Kegunaan keilmuan, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah wawasan dibidang ilmu Komunikasi khususnya yang terkait konstruksi analisis framing pada Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan dengan menggunakan analisis framing model Gamson dan Modigliani.
3) Kegunaan praktis, dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan masukan bagi civitas akademika Program Magister Ilmu Komunikasi USU, dan pembaca dalam memahami dan memandang realitas konstruksi
analisis framing pemberitaan Kolom Lae Togar di Harian Posmetro Medan dengan menggunakan analisis framing model Gamson dan Modigliani.
17 2.1. Paradigma Penelitian dan Teori-Teori 2.1.1. Paradigma Konstruktivisme
Paradigma menurut Sobur (2014: 579), sebagai konsensus yang terluas yang terdapat suatu cabang ilmu pengetahuan yang membedakan antara komunitas ilmuwan atau sub komunitas yang satu dengan lainnya. Paradigma menggolong-golongkan, merumuskan dan menghubungkan, exemplar, teori-teori dan metode-metode serta seluruh pengamat yang terdapat dalam metode itu.
Exemplar merupakan unsur yang terpenting yang membentuk suatu paradigma tertentu.
Paradigma digunakan sebagai konsep dalam bidang komunikasi, dipahamai sebagai mana yang dikemukakan oleh Kuhn (Sobur, 2014:
579): “... model atau pola yang telah diterima sebagai hasil kesepakatan”. Ilmuwan bekerja dalam paradigma-paradigma, merupakan cara-cara umum untuk melihat dunia dan memutuskan karya ilmiah apa yang harus dikerjakan serta teori-teori seperti apa yang bisa diterima. Paradigma-paradigma ini akan menyediakan ilmu normal, yang menjadi panduan ilmuwan setiap hari secara rutin digunakan. Lama-kelamaan, bagaimana pun, ilmu normal melahirkan serangkaian anomali yang tidak bisa diselesaikan dalam paradigma.
Pada titik ini menurut Kuhn, “akan terdapat pemutusan yang tiba-tiba dan paradigma lama akan digantikan oleh paradigma baru”.
Paradigma sebagai pandangan dunia (world view) dipegang teguh oleh suatu komunitas diterapkan sebagai model atau pola yang telah diterima sebagai hasil kesepakatan. Paradigma terdiri atas keyakinan-keyakinan, nilai-nilai dan teknik-teknik yang dimiliki bersama. Inilah yang disebut Doyle (Sobur, 2014:
579) “... sudut pandang yang diterima secara luas yang terkait dengan konsensus”.
Melihat hubungan media dan khalayak, penelitian ini menggambarkan hubungan Media Cetak yakni Harian Posmetro Medan dan pembacanya, yang tidak dapat dipisahkan antara subjek dan objek komunikasi. Artinya, bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif yang terpisah dari subjek penyampai pesan. Penciptaan berita dalam Kolom Lae Togar dengan keterwakilan jalan cerita yang dituliskan melalui penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dari apa tujuan yang hendak dicapai oleh penulis.
Konstruktivisme adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh Jesse Delia dan koleganya (Littlejohn dan Foss, 2011: 179) mengatakan bahwa: individu menafsir dan bertindak menurut kategori konseptual yang ada dalam pikiran.
Realitas tidak menghadirkan dirinya dalam bentuk kasar, tetapi harus disaring melalui cara seseorang melihat sesuatu.
Konstruktivisme memandang kelompok menjadi penting dalam membangun realitas yang sudah disaring berdasarkan kategorisasi konseptual yang dimililiki setiap individu. Persamaan dan perbedaan yang menjadi sistem konseptual pemikiran individu tidak terjadi secara alamiah, ditentukan oleh pertentangan pengetahuan (kognitif) yang awalnya didapatkan dari kelompok- kelompok budaya setiap individu, termasuk keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Dari pengetahuan yang diperoleh seseorang dalam kelompok, dan menjadi skema interpretif individual, akan semakin berkembang sesuai dengan perkembangan diri, termasuk pergaulan
dengan orang lain di kelompok berbeda. Inilah yang disebut dengan perkembangan diri.
Konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epistemologi merupakan hasil konstruksi sosial (Ardianto dan Anees: 2007: 151). Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objektif material. Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan.
Dengan demikian, dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisasi dan bermakna. Keberagaman pola konseptual yakni upaya membangun pengetahuan setiap individu merupakan hasil dari lingkungan historis, asal muasal keberadaannya, disertai kebudayaan, dan sikap diri yang digali secara terus menerus dalam setiap interaksi baik verbal dan juga nonverbal.
Pandangan konstruktivis mengakui adanya ketidakmandirian dalam konteks ilmuwan dengan fenomena terbentuknya ilmu pengetahuan secara ontologis (alamiah). Tidak ada deskripsi yang murni objektif. Para ilmuwan yang bercita-cita objektif, secara transparan tidak dapat melihat “apa yang ada di sana”
atau “apa yang ada di sini” tanpa termediasi oleh teori, kerangka konseptual atau bahasa yang disepakati secara sosial. Semesta terbentuk oleh peran bahasa. Setiap bahasa mengkonstruksi aspek-aspek yang spesifik dari semesta dengan caranya sendiri (bahasa puisi/sastra, bahasa sehari-hari, bahasa slang, bahasa ilmiah).
Bahasa merupakan hasil kesepakatan sosial yang melabeli alam semesta dan bersifat tidak permanen, sehingga terbuka dan mengalami evolusi.
Robyn Penmann (Ardianto dan Anees: 2007: 151), merangkum kaitan konstruktivisme dalam hubungannya dengan ilmu komunikasi meliputi hal-hal berikut ini:
1) Tindakan komunikatif sifatnya sukarela. Pembuat komunikasi adalah subjek yang memiliki pilihan bebas, walaupun lingkungan sosial membatasi apa yang dapat dan telah dilakukan.
2) Pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan bukan sesuatu yang objektif sebagaimana diyakini positivisme, melainkan diturunkan dari interaksi kelompok sosial. Pengetahuan itu dapat ditemukan dalam bahasa, melalui bahasa itulah konstruksi realitas tercipta.
3) Pengetahuan bersifat kontekstual, maksudnya pengetahuan merupakan produk yang dipengaruhi ruang waktu dan akan dapat berubah sesuai dengan pergeseran waktu.
4) Teori-teori menciptakan dunia. Teori bukanlah alat, melainkan suatu cara pandang yang ikut memengaruhi pada cara pandang kita terhadap realitas atau dalam batas tertentu, teori menciptakan dunia. Dunia sebagai hasil pemahaman manusia atas kenyataan di luar dirinya.
5) Pengetahuan bersifat sarat nilai.
Analisis framing termasuk ke dalam paradigma konstruksionis. Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan teks berita yang dihasilkannya. Efek media terhadap perseorangan berbeda sesuai dengan kualitas komunikasi yang dibentuk. Bagi Penmann (Ardianto dan Anees: 2007:
151), kualitas komunikasi dalam kaitannya dengan simbolisasi penggunaan
bahasa, harus: 1) menciptakan dunia (konstitutif), 2) sesuai dan tergantung ruang dan waktu (kontekstual), 3) muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, tidak tunggal (beragam), dan 4) dan selalu dalam proses, terus berubah (tidak lengkap).
Konstruksi realitas diterjemahkan dalam pemberitaan sebagai konstruksi berita, menurut apa yang disebut Sobur (2014: 436) bermula dari kata konstruk (consruct), sebagai: “konsepsi yang mencakup serangkaian konsep atau kategori dengan abstraksi tingkat tinggi”. Konstruksi berita (news construction), mengakategorikan berita atas tiga kategori: (1) kepala berita/judul (headlines), (2) teras berita/intro (lead), dan (3) tubuh berita (body).
Pandangan Warren K. Age (Sobur, 2014: 436), kepala berita atau judul berita dimaksudkan untuk: (1) menarik perhatian pembaca, (2) menyimpulkan isi berita, (3) menjadi petunjuk pembaca mengenai isi halaman, (4) melukiskan mood berita, serta (5) memberikan keringanan pada tipografi.
Sebuah judul berita ada kalanya dipergunakan untuk maksud lain, misalnya untuk sensasi atau sekedar menarik mata pembaca. Di sini, judul tidak lagi mencerminkan berita, tetapi hanya dipakai sebagai merek besar untuk menarik orang membeli surat kabar. Biasanya judul seperti ini banyak digunakan oleh surat kabar kuning (the yellow papers). Artinya, komunikasi sebagai proses pertukaran pesan antar manusia dengan menggunakan bahasa menciptakan dunia yang tidak dapat terlepas dari ruang dan waktu, berbeda, dan tidak lengkap.
Konstruksionisme dengan demikan dapat dikategorikan sebagai komunikasi yang berpusat pada orang. Pada sisi lain, komunikasi yang berpusat pada orang mengalami perbedaan tanggapan karena perbedaan pengetahuan (diferensiasi
kognitif) dari desain pesan yang disampaikan pada proses penyampaian pesan dan pemaknaan dalam sebuah berita atau bahkan berita ciptaan yang disajikan dalam sebuah rubrik pembaca.
1) Komunikasi Berbasis Diri: Pemaknaan terhadap Person dan Self
Komunikasi berbasis diri merupakan pengembangan model komunikasi para ilmuwan konstruktivis. Komunikasi berbasis diri adalah “model komunikasi yang memeriksa proses lahirnya pesan berdasarkan orientasi diri” (Ardianto, Anees: 2007: 159). Pesan berbasis diri merupakan suatu gagasan yang mendukung kebutuhan pendengarnya, perhatian atas situasi yang mungkin dan mengarah pada tujuan yang beragam. Pesan berbasis diri menggambarkan tentang kewaspadaan dan adaptasi subjektif, afektif, serta aspek relasional dalam konteks komunikasi.
Artinya, dalam konteks komunikasi, konstruktivis menyatakan bahwa di dalam melakukan komunikasi baik sebagai pemberi atau juga penerima pesan pada hubungan antara individu dengan media, komunikasi ditentukan oleh diri di tengah pengaruh lingkungan luar. Pada titik ini, mengutip pendapat Ron Herre:
“Setiap proses komunikasi yang berbasis pada diri, individu melakukan pembedaan terhadap person dan self. Person adalah diri yang terlibat dalam lingkungan publik, pada dirinya terdapat atribut sosial budaya masyarakatnya. Self adalah diri yang ditentukan oleh pemikiran khasnya di tengah sejumlah pengaruh sosial budaya masyarakatnya” (Ardianto dan Anees, 2007: 161).
Emosi dan alasan muncul dalam tindakan komunikasi. Prinsip konstruktivisme menyatakan bahwa situasi emosi atau alasan merupakan konstruksi dari situasi yang memengaruhi individu. Emosi sebagai simbol kemarahan tunduk dengan aturan tertentu yang memandu kita tentang bagaimana
perasaan marah, apa yang harus dilakukan dalam kemarahan wujud emosional diri, bagaimana mengeskpresikannya dan kepada siapa?
Kemudian, komunikasi harus beragam, maka komunikasi yang dilangsungkan diri sendiri dipahami dalam keberagaman bentuk komunikasi. Jadi, komunikasi dipahami bukan sebagai suatu tindakan yang dianggap sama, namun sebagai episode-episode tindak komunikasi yang terikat oleh konteks pesan.
2) Konstruk Hubungan dalam Komunikasi: Proses Berpihak pada Person dan Self
Konstruktivisme meyakini bahwa segala sesuatu ada karena konstruksi tertentu. Tidak ada pesan yang netral dalam bentuk komunikasi berbasis diri sekali pun. “... suatu pesan tidaklah netral melainkan dikonstruksi oleh sistem kognitif tertentu” (Ardianto, Anees: 2007: 163). Komunikasi antarpersona merupakan wujud konstruk hubungan dalam komunikasi yang dilalui terlebih dahulu dengan komunikasi berbasis diri, di mana menurut kalangan konstruktivis,
“suatu hubungan yang bersifat individual akan menghasilkan pesan yang lebih berbasis diri”.
Pesan berbasis diri lebih kompleks dalam tindakannya karena di dalamnya setiap individu dalam wujud person dan self menjadi berbeda karena konstruksi diri dan lingkungan yang dia gambarkan sebagai diri. Secara khusus, individu dengan konstruk sistem yang berbeda, membuat definsi kompleks tentang situasi antarpersona dan akan meproduksi pesan yang lebih bersifat kompleks serta lebih berpusat pada diri. Person dan self memberikan posisi pandangan dan membentuk perilaku berbeda setiap individu melalui sistem interaksi sosial yang dijalankan
bersama. Kemampuan menjadi person dan self dalam sistem sosial menunjukkan individu yang berhasil pada penempatan opini publik
3) Model Desain Pesan: Ekspresif, Konvensional Dan Retoris
Setiap pelaku komunikasi memiliki strategi untuk mencapai tujuan komunikasi mereka. Model penyusunan pesan menurut Litllejohn dan Foss (2011:
184-189) dapat dilihat dari tiga teori, yakni: (1) teori perencanaan oleh Charles Berger, (2) teori logika penyusunan pesan oleh Barbara O‟Keefe, dan (3) teori pengertian secara semantik oleh Charles Osgood.
Perencanaan pesan sebagai model desain atau penyusunan pesan yang menekankan pada gambaran mental dari langkah-langkah yang diambil seseorang untuk memenuhi sebuah tujuan komunikasi. Berger memperkirakan bahwa semakin banyak yang Anda tahu (khusus dan umum), akan semakin kompleks rencana anda. Perencanaan diartikan sebagai: penyusunan (cerita, uraian dsb);
perancang (orang dsb yang merencanakan) (Poerwadarminta, 2015: 816).
Desain pesan didasarkan pada tujuan seseorang sebagai kecenderungan diri dalam memanajemen tujuannya untuk kepentingan sampainya tujuan melalui pesan yang dipilihnya. Barbara O‟Keefe (Ardianto dan Anees: 2007: 164) menunjukkan tiga logika dasar pesan, yaitu ekspresif, konvensional dan retoris.
Logika ekspresif memperlakukan komunikasi sebagai suatu model ekspersi diri, sifat pesannya terbuka dan reaktif secara alami, sedikit meperhatikan keinginan orang lain. Logika ekspresif misalnya bisa ditemukan pada saat kita sedang marah. Logika konvensional, sebagai pandangan yang mengartikan komunikasi sebagai permainan yang dilakukan secara teratur. Komunikasi
dilakukan sebagai proses ekspresi berdasarkan aturan dan norma yang diterima bersama, maka komunikasi berlangsung sopan dan tertib. Logika retoris memandang komunikasi sebagai suatu cara melakukan perubahan aturan melalui negosiasi. Pesan dirancang cenderung fleksibel, penuh wawasan, dan berpusat pada orang. Berikut akan digambarkan pada tabel tentang logika desain pesan:
Tabel 2.1 Logika Desain Pesan Logika desain
Ekspresif
Logika desain konvensional
Logika desain retoris Premis dasar Bahasa merupakan
media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan
Komunikasi adalah permainan yang dilakoni secara kooperatif oleh aturan sosial
Komunikasi adalah kreasi dan negosiasi siatuasi dan diri sosial
Fungsi utama pesan Ekspresi diri (self expression)
Pengendalian respons keinginan
Negosiasi konsensus sosial Hubungan antara
pesan/konteks
Perhatian yang kecil terhadap konteks
Tindakan dan makna yang ditentukan oleh konteks
Proses komunikasi menciptakan konteks
Metode penanganan masalah
Editing Bentuk-bentuk
kesopanan
Redefinisi konteks
Evaluasi komunikasi
Penjelasan ekspresif, terbuka dan jujur,
pensinyalan yang tidak terintangi
Apropriasi
(ketepatan), kontrol, sumber daya, kooperatifitas
Fleksibilitas, sofistifikasi simbolik, kedalaman interpretasi Sumber: Adaptasi dari O‟Keefe dikutip kembali dalam Ardianto dan Anees ( 2007: 100) 2.1.2. Definisi Berita
Arti berita dapat kita lihat dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ahli komunikasi, adalah sebagai berikut:
Bleyer mengartikan berita “sebagai kejadian aktual yang diperoleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar karena menarik dan mempunyai makna bagi pembaca”; MacDougall, menyatakan, “berita
merupakan apa saja yang menarik hati orang dan berita yang terbaik adalah yang menarik hati orang sebanyak-banyaknya”; Oetama, menyebutkan berita sebagai: “... peristiwa menjadi berita hanya apabila ditemukan dan dilaporkan oleh wartawan atau membuatnya masuk dalam kesadaran publik dan dengan demikian menjadi pengetahuan publik” (Barus, 2010: 26).
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa berita adalah segala laporan mengenai peristiwa, kejadian, gagasan, fakta yang menarik perhatian dan penting untuk disampaikan atau dimuat dalam media massa agar diketahui atau menjadi kesadaran umum. Artinya, berita mengandung unsur- unsur, peristiwa, menarik perhatian, penting, dilaporkan, dan laporan itu dimuat di media tertentu.
1) Surat Kabar
Surat kabar atau koran merupakan media massa paling tua sebelum adanya film, radio, dan televisi. Media ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf atau mampu baca tulis. Demikian pula pelanggannya, rata-rata berasal dari golongan menengah ke atas yang berpendidikan tinggi, selain itu juga berasal dari pekerja kantoran dan mapan.
“Kelebihan surat kabar adalah sebagai: 1) catatan tertulis yang mampu merekam peristiwa atau kejadian di masa lampau meskipun peristiwa itu sudah terjadi beberapa puluh tahun lalu, 2) bisa dikliping atau diarsipkan, 3) diterbitkan pada periode terbit pagi atau sore, dan 4) sifat penerbitannya secara nasional, lokal” (Cangara, 2010: 127).
Rendahnya rasio masyarakat Indonesia membaca surat kabar menjadi salah satu masalah perkembangan surat kabar saat ini, “setiap eksemplar surat kabar hanya dibaca oleh 38 penduduk Indonesia” (Tamburaka, 2013: 46). Rasio tingkat pembaca surat kabar harian di Indonesia jauh dari standar yang ditetapkan
UNESCO yang sebesar 1:10, artinya, setiap eksemplar surat kabar seharusnya dibaca oleh 10 orang penduduk Indonesia.
Menurut Tamburaka (2013: 47), kelemahan surat kabar pada perkembangan saat ini dapat dilihat dari:
“1) banyaknya sumber informasi selain surat kabar, 2) radio dan televisi dengan berita yang lebih atraktif dan menarik menyebabkan banyak orang mendengar radio dan menonton televisi, 3) surat kabar tidak mampu memperbaharui beritanya saat itu juga dan liputan secara live dibandingkan dengan radio dan televisi, dan 4) aktivitas khalayak di luar rumah memberikan keterbatasan membaca surat kabar”.
Sehingga saat ini sebenarnya surat kabar harus pandai dalam melihat kebutuhan pembaca. Surat kabar tidak mungkin bersaing dari segi aktualitas berita dan berita langsung (straight news), seperti yang disiarkan oleh radio, televisi, dan internet. Berita mendalam dengan teknik feature akan lebih disukai karena akan membedakan berita surat kabar tersebut dengan berita di media lain. Kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh pengguna internet yang sudah terbiasa mendapatkan informasi gratis dan bebas dari berbagai media online tanpa harus berlangganan atau membayar, yaitu profesionalisme jurnalisme, penekanan terhadap akurasi dan objektivitas pemberitaan. Berbeda dengan website, blog, dan forum yang kurang berpedoman pada kaidah jurnalistik meskipun dengan keberadaan jurnalisme warga (citizen journalism).
Pembaca surat kabar tentunya menginginkan objektivitas surat kabar melalui pemberitaan dalam pemenuhan fungsi-fungsi informasi dari surat kabar begitu penting untuk memperluas wawasan pembaca atas informasi aktual (terkini) atau faktual (sesuai fakta) yang terjadi sebagai jalan cerita yang ditulis
dalam surat kabar. Sering kali untuk mengejar deadline atau tampilan berita yang menarik dan unit yang bernilai berita atau karena tuntutan sirkulasi oplah, etika jurnalistik terabaikan. Profesionalisme yang dipegang teguh terabaikan karena subjektivitas dan pelanggaran etika jurnalistik.
Pengabaian nilai profesionalisme pekerja media yang tetap teguh memegang etika jurnalistik, menjadi fenomena yang dalam dunia media cetak khusus pada surat kabar disebut dengan surat kabar kuning (yellow paper), penyebutan istilah terhadap pembiaran bahkan pelanggaran terhadap norma dan kaidah jurnalistik dengan hanya menekankan pada emosionalisme dan sensasional berlebihan.
Menurut Campbell (2001: 131-132), surat kabar kuning menggambarkan:
“... surat kabar yang setiap harinya banyak menampilkan kolom- kolom di halam depan dengan banyak sekali judul seperti olahraga dan skandal yang menggunakan layout huruf bold (dengan ilustrasi yang besar dan juga warna) yang sangat berat dan sumber-sumber yang tidak jelas, mempromosikan diri sendiri (surat kabar). Istilah itu digunakan untuk menggambarkan sebagian besar surat kabar di New York pada sekitar tahun 1900-an dalam pertarungan sirkulasi”.
Sisi emosionalisme dan sensasi sering kali ditampilkan sebagai ciri khas tertentu dari aspek-aspek berita surat kabar kuning. Tujuannya adalah memenangkan pertarungan sirkulasi media dengan oplah penjualan yang diterima institusi surat kabar sebagai jurnalisme kuning. Sisi emosionalisme dan sensasi dalam tulisan Yusuf Awaluddin (2010), dari Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP), menganalisis sisi emosionalisme dari aspek jurnalisme koran kuning tampak terlihat dari headline, lead dan body berita.
Headline, ketika membaca koran kuning, kesan pertama yang muncul adalah luapan emosi judul beritanya. Emosionalisme yang ditampilkan dalam judul headline koran ini umumnya terlihat dengan teknik penulisan dengan tanda baca tertentu yang semestinya tidak digunakan, diperlihatkan dari pilihan kata, frasa, dan kalimat yang bernada emosional dalam bentuk hujatan, imbauan, ajakan, simpati, keterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, situasi, dan karakterisasi pelaku maupun korban kejahatan.
Lead, pemberitaan di koran kuning seperti dalam lead pemberitaan Lampu Merah sering ditampilkan dalam bentuk kalimat yang berisi luapan emosi, seperti hujatan, simpati, keterkejutan, keprihatinan, atau makian terhadap peristiwa, bahkan situasi yang melatarbelakangi peristiwa, yang menggambarkan karakteristik pelaku maupun korban kejahatan.
Body berita, bentuk emosionalisme tampak dari paparan atau narasi yang meluapkan ungkapan emosi wartawan. Paparan yang mengungkapkan penonjolan terhadap peristiwa, situasi, ataupun karakterisasi pelaku bahkan korban kejahatan.
Pemberitaan surat kabar kuning mengabaikan kaidah jurnalistik yang ada. Penulisan berita yang tidak mematuhi penggunaan kaidah kelengkapan berita 5W+1H sebagai syarat berita, kemudian menggunakan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), sehingga sering kali ditemukan bahasa slang atau bahasa pasaran yang tidak dimengerti masyarakat awam (Tamburaka, 2013: 156).
Artinya, pelanggaran kaidah jurnalistik profesional yang dilakukan oleh surat kabar kuning merupakan pelanggaran terhadap etika profesi dan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Penggunaan foto-foto pelaku kriminal atau kekerasan seksual dipajang secara
vulgar yang menunjukkan pelanggaran terhadap teori penjaga gawang (gatekeeper) dalam penyaringan informasi dan filter informasi yang dilakukan media sebelum diinformasikan kepada masyarakat luas. Akurasi pemberitaan menempatkan korban sebagai pihak eksploitasi. Pengabaian terhadap penciptaan opini sehat dan bermartabat sebagai tujuan utama informasi media massa termasuk surat kabar.
2) Konstruksi Berita Surat Kabar: Kapitalisme dan Konglomerasi Media Berita itu harus menarik perhatian khalayak penonton, pendengar, dan pembaca (Tebba, 2005: 61). Ketertarikan yang mempertimbangkan khalayak sebagai pembaca di dalam surat kabar disuguhkan karena materi berita yang diterbitkan perlu diketahui oleh khalayak, dan harus disajikan dengan gaya penulisan yang memikat pembaca.
Kata „menarik perhatian khalayak‟ pembaca pada Koran kuning bila mengacu pada tulisan Chomsky merupakan keadaan yang mengkawatirkan karena menghilangkan kesadaran jurnalis dan mematikan kejujuran mereka karena tujuan komersialisasi media. Berikut ungkapannya:
“... media ini adalah organisasi komersial yang memaksimalkan keuntungan (profit maximizing commercial organizational), upaya untuk mengejar keuntungan mungkin mengintervensi jurnalisme jujur dan obyektif yang berakibat mereka menjadi tidak sadar akan fakta- fakta penting yang justru dibutuhkan untuk membuat pilihan-pilihan yang tepat tentang persoanal kebijakan-kebijakan sosial” (Ibrahim &
Akhmad, 2014: 80).
Berita hendaknya mampu memenuhi unsur materi berita yang terus menerus diperbaharui dan dituliskan dengan gaya penulisan yang memikat. Ini berarti bahwa pemenuhan unsur peristiwa dan jalan cerita dengan gaya penulisan
harus sejalan, penonjolan dari salah satunya akan mengakibatkan berkurangnya nilai berita. Layak berita (newsworthy) ditentukan oleh media yang dimiliki oleh korporasi-korporasi besar, maka tidak heran kalau citra publik tentang realitas, sekurang-kurangnya sebagian, didefinisikan oleh pihak yang kaya dan kuat.
“Tujuan media menyediakan publik dengan informasi yang mereka butuhkan untuk berpartisipasi secara cerdas dalam proses politik. Ini berlangsung melalui seleksi topik, mana yang diliput dan mana yang diabaikan, pembingkaian isu, penyaringan informasi, tekanan relatif ditempatkan pada isu-isu dan nada di mana ia disajikan ... “ (Ibrahim
& Akhmad, 2014: 82).
Tujuan media pada penyediaan informasi publik melalui berita berlangsung tidak netral, terjadi keberpihakan media, melalui pembingkaian isu, penyaringan informasi, tekanan berita sebagai sajian informasi yang relatif ditempatkan pada isu-isu publik yang tidak bertentangan dengan ideologi media dan konglomerasi media. Sederhananya, berita melalui kerja jurnalis media sudah tidak mampu lagi bertindak sebagai anjing pengawas (a watchdog) terhadap kekuasaan, karena media berada dan malah berpihak kepada kekuasaan yang dominan, hingga sulit rasanya media mampu memisahkan antara kebenaran dari dusta melalui konstruksi berita yang dilakukan. Bahkan pada akhirnya menurut McChesney:
“... media yang dimiliki korporat mengancam kewajiban-kewajiban vital jurnalis yang justru diperlukan bagi demokrasi yang sehat, termasuk tugas jurnalis untuk menyajikan pandangan berbeda berdasarkan pada informasi empirik” (Ibrahim & Akhmad, 2014: 80).
Apa yang menjadi pemikiran Chomsky dan McChesney sudah terjadi dalam alam pemberitaan saat ini. Jurnalisme jujur dan obyektif berubah menjadi jurnalisme berpihak pada kepentingan penguasa yang pada akhirnya akan menjadi
berita yang disajikan beragam dan mematikan informasi empirik jurnalis pada kewajiban-kewajiban vital jurnalis.
Pada pemahaman lain, seperti yang disebutkan oleh Djuraid (2006: 11), berita itu adalah laporan atau pemberitahuan mengenai terjadinya sebuah peristiwa atau keadaan yang bersifat umum dan baru saja terjadi yang disampaikan wartawan di media massa. Artinya, faktor peristiwa atau keadaan menjadi pemicu utama terjadinya sebuah berita. Di mana peristiwa atau kondisi sesungguhnya terjadi, bukan rekaan atau fiksi penulisnya.
Keadaan inilah yang menggambarkan bahwa konstruksi pesan di media massa termasuk dalam berita yang dibuat tidak sepenuhnya merupakan kebohongan, ada ide yang muncul karena inspirasi suatu keadaan hingga kembali dituliskan oleh jurnalis atau kolumnis. Penulisan kembali laporan kejadian atau jalan cerita yang diciptakan ini tidak bisa dilepaskan dari keikutsertaan emosional dan pengalaman penulis hingga menjadi jalan cerita yang utuh. Ketidakmampuan memisahkan pendapat pribadi secara tegas, akan menjadikan berita bias dengan berbagai kepentingan yang seharusnya tidak masuk di dalam berita.
Dalam hal aktualisasi berita, terutama dalam berita live, media cetak terutama surat kabar tidak mungkin dapat menandingi Tv atau media elektronik yang ada sekarang ini.
Memenangkan persaingan merupakan strategi bertahan hidup yang harus dimiliki oleh media massa, termasuk surat kabar. Surat kabar tidak mungkin dapat menandingi kecepatan secara langsung (live) yang dihadirkan oleh televisi (Tv). “Tv tidak hanya menyajikan hiburan tapi juga berita yang cepat. Keunggulan Tv dan media elektronik lain adalah kemampuan menyampaikan berita secara langsung (live). Berbagai peristiwa, bahkan sampai ke penjuru dunia
dapat ditampilkan secara langsung saat itu juga” (Djuraid, 2006: 16- 17).
Media cetak tentu tidak ingin tergeser dengan kemampuan penyajian berita secara langsung oleh media elektronik, masalah dokumentatif, yang bisa dibaca berulang-ulang dan bisa disimpan merupakan salah satu keuggulan yang dimiliki media cetak. Artinya, secara personal, setiap pembaca media cetak dapat mendokumentasikan dan membaca berulang-ulang berita atau konten lain yang ingin ia ketahui lebih mendalam dari sekeder berita Tv atau media elektronik lainnya yang diinformasikan kepada mereka.
Menurut Djuraid (2006: 17), kekurangan surat kabar sebagai salah satu media cetak bisa ditutupi dengan “penampilan berita berita yang lebih menarik dan mendalam”. Agak sulit bagi Tv untuk mengorek segala sesuatu di balik berita, karena keterbatasan waktu dan mahalnya biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk kedalaman berita yang harus disuguhkan kepada publik. Pilihannya adalah kecepatan berita walau tidak terlalu dalam, dan akan terus diperbaharui.
Tampilan berita yang menarik tidak cukup dengan bekal materi berita menarik semata. Dibutuhkan keterampilan khusus dari seorang wartawan untuk
“mampu menampilkan realitas di lapangan ke dalam tulisan secara utuh” (Djuraid, 2006: 40-41). Kesulitan untuk menuliskan kembali materi berita yang menarik secara dalam dan mampu menggambarkan suasana yang sesungguhnya merupakan sebuah proses jurnalistik yang harus dialami seorang pewarta.
Rangkaian kalimat yang menggambarkan peristiwa yang sesungguhnya akan membawa imajinasi pembaca seolah-olah mereka berada atau terlibat dalam kejadian tersebut. Ini membutuhkan kemampuan untuk menuangkan pikiran atau