• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi Volume 17 Nomor 2 September 2016 ISSN :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi Volume 17 Nomor 2 September 2016 ISSN :"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi

Volume 17 Nomor 2 September 2016

ISSN : 1411-5336

UJI DAYA HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa. L) MODEL JAJAR LEGOWO DI KOTA MADIUN

Luluk Sulistiyo Budi& Ma’ruf P.N.

1 - 6

PENINGKATAN HASIL SAYURAN LOKAL KABUPATEN LUMAJANG DI LAHAN TERBATAS

Nanik Furoidah & Endang Sri Wahyuni

7 - 20

NALISIS PRODUKTIFITAS PETANI PADI PENANGKAR BENIH DENGAN PETANI KONSUMSI

Ratna Mustika Wardhani & Riza Ardi Ansyah

21 - 31

ALAND HUSBANDRY : APLIKASI BIOCHAR JERAMI PADI DI BUDIDAYA WIJEN (SESAMUM INDICUM L.) UNTUK PENINGKATAN KUALITAS TANAH

Eny Dyah Yuniwati

32 - 35

ESTIMASI KANDUNGAN KARBON POHON MAHONI(Swietinea macrophylla, King) PENYUSUN HUTAN RAKYAT BERSERTIFIKAT SVLK (SISTEM VERIFIKASI LEGALITAS KAYU ) (Studi Kasus di PPHR Lawu Lestari Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan) Djoko Setyo Martono & Sri Rahayu

36 - 41

KAJIAN POTENSI BEBERAPA VARIETAS UNGGUL TANAMAN Padi (Oryza sativa L.) BERBASIS VIABILITAS

Sri Rahayu, Praptiningsih Gamawati Adi Nurani & Maya Ayu Pranata

42 - 52

POTENSI PRODUKSI TANAMAN PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) DI KELOMPOK TANI MPSDH WONO LESTARI DESA PADAS KECAMATAN DAGANGAN KABUPATEN MADIUN.

Kusnul Rofik, Rahmanta Setiahadi, Indah Rekyani Puspitawati& Martin Lukito

(2)
(3)

MODEL JAJAR LEGOWO DI KOTA MADIUN

Luluk Sulistiyo Budi1, Ma’ruf P.N.2

1) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun

2) Mahasiswa Sekolah pascasarjana prodi Teknologi Industri pertanian IPB Bogor

Abstract

Increased production of rice can be reached with planting prospective models are Jajar Legowo models. The research objective was to test the productivity of the land with the Jajar Legowo Model in Madiun. Method of the research was used a random block design in lowland Banjarejo village Taman Madiun In the season first planting in 2015. The treatment models Jajar Legowo used 2: 1, 4: 1 with control (22cmx22cm). Results of the test showed not significant difference in height plant parameters, number of productive tiller, fresh and dry weight stover. But showed significant differences in the parameters of dry unhusked, the average value of the highest achieved models Legowo row 2 : 1 of 7.4 tons / ha.

KeyWords :

production, Planting Model , jajar legowo, field paddy

PENDAHULUAN

Kebutuhan akan pangan di suatu negara adalah sangat mutlak. Hal ini sangat ber-kaitan erat dengan stabilitas keamanan, ketentraman suatu negara. Bahan pangan di Indonesia sangat didominasi oleh pangan utama beras, maka pemerintah berupaya untuk menyiapkan segala upaya agar produksi padi dapat meningkat, bahkan dapat mencapai swasembada beras. Telah banyak upaya yang dilakukan guna peningkatan produksi padi mulai dari pemilihan bibit yang bersertifikat, penggunaan pupuk yang berimbang, model dan teknik pengolahan tanah, model pengairan dan pengendalian hama dan penyakit. Namun demikian masing-masing upaya tersebut tentunya

sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tempat dimana tanaman padi tersebut di budidayakan, oleh karenanya penerapan teknologi antar wilayah sangatlah berbeda. Demikian juga intensifikasi tanaman padi di Kota Madiun yang tentu saja akan berbeda dengan daerah lain. Dimana di Kota Madiun tahun 2013 mempunyai luas areal sekitar 906 Ha, dengan lokasi yang sangat beragam ada yang beririgasi teknis, dan setengah teknis (Deptan, 2014), dan hingga saat ini teknik budidaya padi jajar legowo belum menjadi pilihan dalam usaha taninya.

Kenyataan dilapang menunjukkan bahwa produktifitas lahan sawah rata-rata 6,55 ton/Ha (BPS 2015) sehingga masih sangat memerlukan sentuhan teknologi yaitu melakukan pola intensifikasi baik penggunaan benih yang unggul, formulasi pemupukan, pengolahan tanah dan atau

(4)

pengendalian hama dan penyakit. Disamping itu model tanam atau sistem tanam juga akan berpengaruh baik terhadap kelangsungan lingkungan dan produksi. Salah satu model sistem tanam adalah menggunakan jajar legowo. Sistem tanam legowo merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang di selingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan. Rekayasa teknik tanam padi dengan cara tanam Jajar Legowo 2:1 atau 4:1. Berdasarkan hasil penelitian terbukti dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12-22% (Bobihoe, 2013). Sistem tanam jajar legowo untuk padi sawah secara umum bisa dilakukan dengan berbagai tipe yaitu: legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1) atau tipe lainnya. Namun dari hasil penelitian (Badan Litbang Pertanian, 2007) Legowo 4:1 menghasilkan produksi gabah tertinggi, tetapi untuk mendapat bulir gabah berkualitas benih lebih baik jika digunakan legowo 2:1. Legowo 2:1 mampu mengurangi kehampaan akibat efek tanaman pinggir. Hasil penelitian Abdulrachman et al (2011) menunjukkan bahwa pada pertanaman Legowo 2:1 dengan jarak tanam (25x12,5x50) cm mampu meningkatkan hasil antara 9,63-15,44% dibanding model tegel.

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di lahan sawah teknis kelurahan Banjarejo Taman Madiun Pada Bulan Agustus-Nopember 2015.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian meliputi Benih padi Rojo Lele bersertifikat, pupuk UREA, Pupuk SP 36 dan KCL , Pupuk Organik, Pupuk Pelengkap Cair, Insektisida dan Herbisida. Adapun alat yang digunakan hand traktor, cangkul, Sabit, Treser, Terpal,

Kertas label dan koran, karung, Tali, mistar, timbangan, dan oven

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor tunggal, yaitu model tanam tegel 22 X 22 (kontrol), Jajar legowo 2:1 (JL 2:1) dan jajar legowo 4:1 (JL 4:1), masing-masing perlakuan di ulang 3 kali. Parameter pengamatan di lakukan pada parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, berat basah brangkasan, berat kering brangkasan, bobot 1000 butir gabah, berat kering sawah dan berat kering giling. Analisis dilakukan dengan uji statistik BNJ 0,5%

Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilakukan me-liputi tahapan-tahapan kegiatan yaitu pem-buatan persemaian seluas 10% dari luas areal penelitian

• Persiapan lahan dengan membersihkan sisa-sisa tanaman sebelumnya agar tidak mengganggu proses pengerjaan lahan dan lahan di airi/diberi air.

• Menambahkan pupuk organik/bokasi sesuai rekomendasi 3 ton/ha secara merata.

• Pengolahan lahan/tanah dilakukan meng-gunakan hand traktor dengan alat singkal dan garu sisir agar rata

• Setelah pengolahan tanah lahan digenangi sampai 7 hari agar biji-biji gulma tidak tumbuh serta lahan lebih berlumpur dan lebih baik untuk media tumbuh.

• Sementara itu melakukan perawatan pada persemaian agar bebas dari serangga hama dengan pengendalian terpadu. • Persiapan penanaman dimulai dengan

Mencabut bibit pada dari persemaian yang telah berumur 17 hari.

(5)

tegel 22 x 22 cm, dengan jajar legowo 2:1 dan jajar legowo 4:1, masing-masing di tanam 2 bibit pertananan.

• Melakukan pemupukan pertama dengan NPK yang 0,5 rekomendasi yaitu Urea 200 kg/Ha, SP 36 15 kg/Ha dan KCL 100 kg/Ha (Bobihoe, 2013)

• Pemupukan diberikan dalam baris antar tanaman untuk jajar legowo sedang model tegel/kontrol disebar secara merata. • Penyiangan gulma sekaligus membuat

parit-parit antar baris tanaman dan peng-endalian hama terpadu

• Melakukan pengamatan secara periodik terhadap parameter pertumbuhan dan produksi, pengamatan dilakukan setiap 10 hari sekali.

• Pengamatan pertumbuhan dilakukan menggunakaninstrumen yang telah di tentukan sebelumnya.

• Parameter tinggi tanaman diukur mulai atas tanah sampai dengan ujung daun bendera.

• Parameter jumlah anakan dihitung jumlah anakan seluruhnya

• Parameter jumlah anakan produktif dihitung pada semua anakan yang keluar malai.

• Panen dilakukan setelah tanaman tua ditandai dengan bulir menguning mencapai 80 %.

• Pengamatan parameter produksi dilaku-kan pada saat panen meliputi jumlag anakan produktif, berat basah brangkasan, berat kering brangkasan, prosentase gabah berisi, dan prosentase gabah hampa. Jumlah butir permalai, berat kering sawah dan berat kering giling. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan model tanam jajar legowo di lahan

sawah Kota Madiun terhadap parameter tinggi tanaman pada berbagai umur tidak berbeda nyata. Nilai rata-rata hasil pengamatan tinggi tanaman berbagai umur selengkapnya disajikan pada Gambar1.

Gambar 1. Kurva pertumbuhan tinggi tanaman

Terlihat pada Gambar 1, bahwa nilai rata-rata tinggi tanaman tertinggi di capi oleh model tegel (kontrol), meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan JL 2:1 mauoun JL 4:1. Muyasir (2012) menyatakan bahwa pertambahan tinggi tanaman ini disebabkan karena tajuk tanaman yang semakin merapat mengakibatkan kualitas cahaya yang diterima menjadi menurun. Semakin rapat jarak tanam yang dipakai maka pertumbuhan tinggi tanaman akan semakin cepat karena tanaman saling berusaha mencari sinar matahari yang lebih banyak.

Hasil analisis terhadap jumlah anakan menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai rata-rata hasil pengamatan jumlah anakan disajikan sebagaimana Gambar 2.

(6)

Gambar 2. Kurva jumlah anakan beberapa umur pengamatan.

Terlihat pada gambar 2 di tunjukkan bahwa jumlah anakan tertinggi di peroleh model jajar legowo 2:1 sebesar 18,3 dan berbeda nyata dengan model tegel/Kontrol, namun tidak berbeda dengan model jajar legowo 4:1.

Hasil analisis terhadap parameter jumlah anakan produkstif menunjukkan perbedaan yang nyata, dimana rata-rata jumlah anakan produktif tertinggi di capai oleh model jajar legowo 2:1 dengan nilai mencapai 14,6 meskipun tidak berbeda nyata dengan model jajar legowo 4:1 sebesar 13,8 dan keduannya berbeda nyata dengan model tegel atau kontrol. Nilai rata-rata hasil pengamatan jumkah anakan produktif sebagaimana di tunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Histogram jumlah anakan produkstif.

Model jajar legowo 2:1 memiliki ruang tumbuh yang lebih lebar karena semua menjadi tanaman pinggir dan akan berpengaruh besar terhadap produksi. Hal ini sesuai pendapat

Sauki et al. (2014), jumlah anakan maksimum akan berpengaruh terhadap jumlah anakan produktif dan berkorelasi terhadap hasil.

Hasil analisis terhadap parameter berat basah dan kering brangkasan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai rata-rata hasil pengamatan berat basah dan kering brangkasan disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Histogram berat kering dan basah brangkasan.

Berat basah dan berat kering brangkasan ini terkait dengan ketersedian hara dalam tanah, dan menunjukkan kondisi yang homogen. Hal ini sesuai dengan pendapat Distan (2011) bahwa ketersediaan hara bagi tanaman dipengaruhi oleh kemampuan tanah menyediakan hara seperti, Oksigen dalam tanah, suhu tanah, ketersediaan air dan kandungan bahan organik tanah

Selanjutnya hasil analisis terhadap parameter gabah berisi dan gabah hampa menunjukkan pengaruh yang tidak nyata. Nilai rata-rata hasil pengamatan gabah berisi dan gabah hampa disajikan selengkapnya pada Gambar 5.

(7)

Gambar 5. Histogram Gabah berisi dan Gabah Hampa.

Terlihat pada gambar 5. Menunjukkan nilai rata-rata gabah berisi di atas 80% berarti bahwa pengisian biji masih cukup bangus, namun pengaruh model jajar legowo tidak nyata. Namun demikian nilai tertinggi di capai model jajar legowo 2:1 sebesar 86,2%, dan terendah model tegel/kontrol sebesar 85,9%. Hasil analisis terhadap bobot 1000 biji menunjukkan perbedaan yang tidak nyata, dimana nilai rata-rata bobot 1000 tertinggi di capai oleh model jajar legowo 2:1 sebesar 28,9 g. Nilai rata-rata bobot 1000 biji selengkapnya disajikan pada Gambar 6 sebagai berikut.

Gambar 6 Histogram bobot 1000 biji. Bobot 1000 biji adalah merupakan hasil akumulasi proses fotosintesa yang dilakukan daun selama proses pengisian biji atau kemampuan untuk memanfaatkan nutrisi yang tersedia (cahaya matahari, hara, air dll) (Warjido et.al. 1990 dalam Ikhwani et al. 2013) yang disebut dengan bahan kering. Namun demikian faktor utama bobot 1000 biji tergantung pada bentuk dan ukuran biji varietas, sebagaimana yang disampaikan oleh Rahimi, et al (2011), jika hal ini tidak terjadi perbedaan maka faktor utama yang berperan adalah faktor genetik dan juga di tentukan oleh varietas (Chatura, 2013).

Hasil analisis terhadap produksi gabah kering sawah dan gabah kering giling menunjukkan perbedaan yang nyata.

Nilai rata-rata hasil pengamatan gabah kering sawah dan gabah kering giling selengkapnya disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Histogram produksi Gabah kering sawah dan gabah kering giling

Terlihat pada Gambar 7, dimana model jajar legowo 2:1 mencapai produksi tertinggi baik gabah kering sawah maupun gabah kering giling yaitu berturut-turut 8,9 Ton dan 7,4 Ton, namun demikian tidak berbeda nyata dengan model jajar legowo 4:1. Hal ini diduga bahwa model jajar legowo merupakan Penerapan peningkatkan populasi pertanaman, tetapi terjaga kelancaran sirkulasi sinar matahari dan udara disekeliling tanaman pingir sehingga tanaman dapat berfotosintesa lebih baik (Abdulrachman et.al, 2013). Disamping itu Sistem tanam jajar legowo pada arah barisan tanaman terluar memberikan ruang tumbuh yang lebih longgar sekaligus populasi yang lebih tinggi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dapat di tarik kesimpulan bahwa:

1. Model jajar legowo di lahan sawah teknis kelurahan banjarejo taman madiun berpengaruh terhadap peningkatan produksi persatuan luas

2. Model jajar legowo 2:1 memberikan alternatif pilihan terbaik di bandingkan dengan jajar legowo 4:1 dan juga model tegel.

3. Bahwa penerapan model jajar legowo akan memberikan hasil yang optimal

(8)

jika terpenuhi persaratan teknis yang dipersyaratkan.

Saran

Dari hasil penelitian ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait dengan uji daya hasil model jajar legowo 2:1 atau jajar legowo 4:1 dengan berbagai varietas yang biasa di budidayakan di Kelurahan Banjarejo Taman Madiun

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrachman, S., N. Agustiani, L.M. Zarwazi, dan I. Syarifah. 2011. Peningkatan efisiensi penggunaan air pada padi sawah (>20%) melalui sistem aerobik. Laporan Hasil penelitian. Balai besar penelitian Tanaman Padi

Badan Litbang Pertanian. 2007. Petunjuk teknis lapang pengelolaan tanaman terpadu(PTT) padi sawah irigasi. De-partemen pertanian. Jakarta. 40 p

Badan Pusat Statistik(BPS) 2015. http://www. bps.go.id/subjek/view/id diakses tanggal 29 April 2016

Deptan 2014. Statistik Lahan Pertanian Tahun 2009-2013, Pusat data dan Informasi Pertanian, Sekretariat Jendral Kementrian Pertanian

Bobihoe.J, 2013 Sistem Tanam Padi Jajar Legowo, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Bptp) Jambi Balai Besar Peng-kajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Peng-embangan Pertanian Kementerian Pertanian

Distan. 2011. Kebijakan pembangunan per-tanian tanaman pangan provinsi Bali. Denpasar, dinas pertanian tanaman pangan provinsi Bali

Ikhwani, Pratiwi. G.R, Paturrohman.E. Dan Makarim. Ak. 2013. Peningkatan Produk-tivitas Padi Melalui Penerapan Jarak Tanam Jajar Legowo, Iptek Tanaman Pangan Vol. 8 No. 2 2013

Muyassir , 2012, Efek Jarak Tanam, Umur Dan Jumlah Bibit Erhadap Hasil Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan, Volume 1, Nomor 2, Desember 2012: Hal. 207-212

Rahimi, Z. Zuhry, E. Nurbaiti. 2011. Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L.) Varietas Batang Piaman dengan Metode System of Rice Intensification (SRI) di Padang Marpoyan Pekanbaru. Jurnal. Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Hal 7. Sauki. A, Nugroho. A dan Soelistyono.

E, 2014. Pengaruh Jarak Tanam Dan Waktu Penggenangan Pada Metode Sri (System Of Rice Intensification) Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa.L.). Jurnal Produksi Tanaman, Volume 2, Nomor 2, Maret 2014, hlm.121-127

Wahyuni, S.U.S. Nugraha dan Soejadi.2004. Karakteristik Dormansi Dan Metode Efektif Untuk Pematahan Dormansi Benih Plasmanutfah Padi. Jurnal Peneltian Tanaman Pangan. Hal 12.

(9)

KABUPATEN LUMAJANG DI LAHAN TERBATAS

Nanik Furoidah1),Endang Sri Wahyuni 2)

1),2) Dosen Fakultas Pertanian Prodi Agroteknologi Universitas Islam Jember

Abstract

The purpose long-term research is to provide information to the public about nutrition concentration ready-made efficient for optimal growth on different varieties of lettuce in particular and as a solution to the community Lumajang in utilizing the space around their home for growing hydroponically, in particular vegetable plants as efforts to improve the lives and well-being through nutrition families. The study began with the seeding of lettuce on rockwool, and then seedlings have emerged at least three leaves grown in netpot and placed on the shelf hydroponics with fertigation techniques, where the results can be harvested 45 days after planting (DAP). Lettuce vegetable farming with hydroponics technique is a kind of research and development in terms of cultivation techniques. Analysis of the data in this study using a completely randomized design (CRD) with factorial pattern 3x3 consisting of the first factor, namely the treatment nutrient concentrations AB mix of 350 ppm, 450 ppm and 550 ppm, and the second factor is the treatment sorts of varieties of lettuce consists of varieties of Butterhead, Grand Rapid and General. The growth parameters were observed: plant height, leaf number, root length, fresh weight and dry weight of plants. The results showed that the treatment concentration of 550 ppm provides the best growth response in plants lettuce, especially General varieties and followed Grand Rapid and Butterhead varieties

Keywords:

hydroponics, nutrient AB mix concentrations, lettuce varieties PENDAHULUAN

Pentingnya tanaman sayuran bagi kesehatan memicu peningkatan produksi sayuran. Untuk menghasilkan sayuran segar, sehat dan bermutu tinggi, diperlukan penanganan yang baik mulai tahap pemilihan lokasi, benih, hingga cara bertanam dan pemupukannya. Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu sayuran yang mempunyai arti penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia. Permintaan akan sayuran ini mengalami trend kenaikan yang

signifikan setiap tahun. Kebutuhan akan komoditi selada semakin meningkat sejalan dengan perkembangan usaha tata boga, perhotelan serta tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi keluarga. Selada banyak digunakan sebagai salad, garnish / penghias makanan, campuran kebab, hamburger dan hidangan lain sebagai penggugah selera.

Tanaman selada memiliki fungsi sebagai zat pembangun tubuh, dengan kandungan zat gizi dan vitamin yang cukup banyak dan baik untuk kesehatan masyarakat.

(10)

Kandungan vitamin pada selada antara lain vitamin A, B, C, E, K, B1 dan B6 serta mineral yang lengkap, seperti iodium, fosfor, besi, tembaga, kobalt, seng, kalsium, mangan, potasium dan serat pangan (diatery fiber) serta antioksidan. Menurut Rukmana (2007), manfaat daun selada bagi kesehatan tubuh adalah membantu menurunkan resiko gangguan jantung, stroke, kanker, katarak, serta spina bifida (salah satu jenis gangguan kelainan pada tulang belakang), membantu kerja pencernaan dan kesehatan organ hati, mengurangi gangguan anemia serta membantu meringankan insomnia (sulit tidur) karena ketegangan syaraf.

Kandungannya yang lengkap menjadikan sayuran ini kaya manfaat dan sangat baik dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan tubuh. Memperhatikan kegunaannya yang beragam di dalam kehidupan sehari-hari, maka selada sangat mudah dipasarkan, dan jika dibudidayakan dengan baik dapat memberikan keuntungan yang besar.

Potensi hortikultura Lumajang awalnya berkembang melimpah dengan target bisa memenuhi pasar di Jawa Timur, kini bisa memenuhi target pasar nasional dan bahkan ke regional di Negara-Negara ASEAN. Ini dibuktikan dengan kunjungan Menteri Pertanian (Mentan) RI beberapa waktu lalu yang menyatakan, potensi hortikultura Lumajang ini sangat layak untuk pasar Internasional dengan pembinaan yang lebih baik lagi (Anonymous, 2012). Propinsi Jawa Timur (Jatim) yang terdiri dari 38 kabupaten/ kota telah dikenal sebagai salah satu sentra potensial bagi produksi tanaman hortikultura.

Ironisnya saat ini ketersediaan lahan untuk budidaya sayuran semakin berkurang, mengingat perkembangan wilayah di Kabupaten Lumajang yang begitu pesat akhir-akhir ini untuk tempat usaha, industri, pendidikan, perumahan serta perkantoran,

menjadikan banyak lahan pertanian beralih fungsi. Padahal potensi dan prospek dari tanaman sayuran sangat bagus, terutama selada dengan nilai jual di atas rata-rata. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan cara bertanam secara hidroponik, dengan demikian peluang untuk mencukupi kebutuhan sayuran masyarakat Lumajang tidak ada kendala. Sistem budidaya sayuran secara hidroponik merupakan solusi karena tidak memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan kultur tanah untuk menghasilkan satuan produktivitas yang sama, selain itu dapat memberikan lingkungan pertumbuhan yang terkontrol dan tidak mengenal musim tanam.

Kesadaran masyarakat yang tinggi dewasa ini akan kualitas hidup dan kesehatan, menjadikan produk sayuran hidroponik sebagai jawaban realistis yang patut diapresiasi karena kualitas tanaman hidroponik lebih bagus yaitu bersih, sehat dan bebas pestisida serta ramah lingkungan karena tidak mem-butuhkan air sebanyak berkebun secara konvensional, dan yang terpenting dapat mengakomodir para pekebun maupun hobiis tanaman untuk bercocok tanam dengan lahan terbatas.

Usaha peningkatan produksi selada serta perbaikan kualitas produksi dilakukan dengan cara hidroponik (Silvina dan Syafrinal, 2008). Keberhasilan budidaya sayuran secara hidroponik ditentukan oleh larutan nutrisi yang diberikan, oleh karena itu semua kebutuhan nutrisi diupayakan tersedia dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Menurut Yusuf dan Mas’ud (2007), pertumbuhan sawi akan lebih baik jika sistem hidroponik yang digunakan menggunakan pasir dengan nutrisi AB mix atau nutrisi buatan sendiri. Menanam selada maupun sawi hidroponik pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan menanam sayuran lain, yang perlu diperhatikan terutama adalah

(11)

kepekatan larutan nutrisinya. Hal ini karena tiap jenis sayuran memerlukan kepekatan dan kebutuhan nutrisi yang berbeda - beda, untuk itu perlu dilakukan penelitian pengujian konsentrasi pupuk siap pakai AB mix yang tepat dan efisien pada beberapa varietas selada.

Selada (Lactuca sativa L.), dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama lettuce. merupakan sayuran semusim dan merupakan tumbuhan asli lembah dari bagian timur Laut Tengah. Klasifikasi selada adalah sebagai berikut: Divisio:Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Kelas: Dicotyledoneae, Ordo: Asterales, Famili: Asteraceae / Compositae, Genus: Lactuca dan Spesies: Lactuca sativa L. (Lingga, 2006).

Pada dasarnya suhu optimal bagi budi-daya selada kriting berkisar antara 15-25°C dengan ketinggian 900 meter hingga 1.200 meter dari permukaan laut. Jenis tanah yang disukai selada kriting adalah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah yang masih mengandung humus, dengan pH tanah antara 5 - 6,5. Meskipun demikian, selada keriting masih toleran terhadap tanah yang miskin hara asalkan diberi pengairan dan pupuk organik yang memadai (Haryanto dkk, 2007).

Lingga (2006), hidroponik dalam bentuk sederhana adalah mengembangkan tanaman dengan memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman yang diberikan dalam pasokan airnya, bukan melalui tanah yang juga sering disebut “Dirtless gardening / Berkebun tanpa kotoran”.

Khamidah dan Rachma (2012), teknologi hidroponik sistem terapung (THST) atau rakit apung cocok untuk tanaman sayuran selada (Lactuca sativa L.) var. Panorama, Grand rapids, Red lettuce, dan Minetto, begitu juga pada tanaman sayuran daun lainnya, seperti sawi dan seledri.

Selanjutnya Lingga, 2006 keuntungan bertanam secara hidroponik yang utama adalah keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin. Selain itu, keuntungan lainnya yaitu:

a. Perawatan lebih praktis serta gangguan hama lebih terkontrol.

b. Pemakaian pupuk lebih efisien.

c. Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman baru.

d. Tanaman dapat tumbuh lebih pesat dengan keadaan yang bersih.

e. Tidak membutuhkan banyak tenaga. f. Hasil produksi lebih kontinu dan lebih

tinggi dibanding penanaman di tanah. g. Harga jual produk hidroponik lebih tinggi. h. Tidak ada resiko kebanjiran, erosi, ke-keringan atau ketergantungan pada kondisi alam.

i. Tanaman hidroponik dapat dilakukan pada lahan atau ruang yang terbatas. Pada sistem budidaya hidroponik unsur hara esensial yang diperlukan tanaman di-sediakan dalam bentuk larutan/nutrisi. Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam-garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara (Anonymous, 2008). Salah satu kesulitan didalam penyiapan larutan hara ini adalah belum diketahuinya dosis unsur hara yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Pada dosis yang terlalu rendah pengaruh larutan hara tidak nyata, sedangkan pada dosis yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan tanaman mengalami plasmolisis, yaitu keluarnya cairan sel karena tertarik oleh larutan hara yang lebih pekat.

Terdapat beberapa faktor penting dalam menentukan formula nutrisi hidroponik diantaranya adalah :

™ Menggunakan garam yang mudah larut dalam air.

(12)

™ Meminimalisir kandungan sodium, khlorida, amonium dan nitrogen organik unsur unsur yang tidak dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

™ Menggunakan komposisi garam yang tidak bersifat antagonis satu dengan yang lainnya.

Unsur hara makro seperti N, P, K, dan Mn harus dijaga pada konsentrasi rendah dalam larutan. Konsentrasi yang tinggi dalam larutan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan hara. N untuk larutan hidroponik disuplai dalam bentuk nitrat. N dalam bentuk ammonium nitrat mengurangi serapan K, Ca, Mg, dan unsur mikro. Kandungan amonium nitrat harus di bawah 10 % dari total kandungan nitrogen pada larutan nutrisi untuk mempertahankan keseimbangan pertumbuhan dan menghindari penyakit fisiologi yang berhubungan dengan keracunan amonia. Konsentrasi fosfor yang tinggi menimbulkan defisiensi Fe dan Zn, sedangkan K yang tinggi dapat mengganggu serapan Ca dan Mg (Rosliani dan Nani, 2005). Rosliani dan Nani (2005) menyatakan bahwa unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Fungsi unsur mikro adalah untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit atau hama. Kekurangan Mn menyebabkan tanaman mudah terinfeksi oleh cendawan Pythium. Tembaga (Cu) dan seng (Zn) dapat menekan pertumbuhan mikrobia, tetapi pada konsentrasi lebih tinggi menjadi racun bagi tanaman. Formula nutrisi yang berbeda mempunyai pH yang berbeda, karena garam-garam pupuk mempunyai tingkat kemasaman yang berbeda jika dilarutkan dalam air. Garam-garam seperti monokalium fosfat, memiliki tingkat kemasaman yang lebih lebih rendah dibandingkan dengan kalsium nitrat.

Pengontrolan larutan nutrisi yang diberikan pada sistem hidroponik dilakukan melalui electro conductivity (EC) menggunakan alat EC meter. Electro conductivity diperlukan untuk mengetahui cocok tidaknya larutan nutrisi untuk tanaman. Semakin tinggi garam dalam air, electro conductivity akan semakin tinggi. Konsentrasi garam yang tinggi dapat merusak akar tanaman dan mengganggu serapan nutrisi dan air. Setiap jenis dan umur tanaman membutuhkan larutan dengan electro conductivity yang berbeda-beda. Kebutuhan electro conductivity berbanding lurus dengan fase pertumbuhan tanaman. Kebutuhan EC dipengaruhi oleh kondisi cuaca, seperti suhu, kelembaban, dan penguapan. Jika cuaca terlalu panas, sebaiknya digunakan EC rendah .

Kabupaten Lumajang juga memiliki sentra produksi seperti di Kecamatan Senduro sebagai penghasil pisang, kentang, kubis, sawi, dan daun bawang, Kecamatan Pasirian terkenal dengan produk kacang panjang, cabe besar, tomat, terong, dan ketimun, sedangkan Kecamatan Kunir terkenal dengan produksi melon dan cabe rawit.

Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah usaha pertanian di kabupaten Lumajang sebanyak 168.127 dikelola oleh rumah tangga, sebanyak 17 dikelola oleh perusahaan pertanian berbadan hukum ( DPP ) dan sebanyak 3 dikelola oleh selain rumah tangga dan perusahaan tidak berbadan hukum (NRT).

Kecamatan Pasirian, Randuagung dan Tempeh merupakan tiga Kecamatan dengan urutan teratas yang mempunyai jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak, yaitu masing-masing 14.091 rumah tangga, 13.491 rumah tangga, dan 11.458 rumah tangga. Sedangkan Kecamatan Lumajang merupakan wilayah yang paling sedikit jumlah rumah

(13)

tangga usaha pertaniannya, yaitu sebanyak 3.101 rumah tangga. Sementara itu Kecamatan Sumbersuko menguntit berikutnya dengan jumlah 3.718 rumah tangga pertanian dan berikutnya Kecamatan Sukodono dengan jumlah 3.891 rumah tangga pertanian. Tiga kecamatan terakhir yang paling sedikit jumlah rumah tangga pertaniannya tidak terlepas dari alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan atau pemukiman baru. Yang jelas tiga kecamatan ini sebagai daerah penyangga perluasan kota Lumajang, yang secara geografis berbatasan dengan Kota Lumajang (BPS, 2013).

Menurut Lingga (2006), hidroponik dalam bentuk sederhana adalah mengembangkan tanaman dengan memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman yang diberikan dalam pasokan airnya, bukan melalui tanah yang juga sering disebut “Dirtless gardening / Berkebun tanpa kotoran”.

Menurut Khamidah dan Rachma (2012), teknologi hidroponik sistem terapung (THST) atau rakit apung cocok untuk tanaman sayuran selada (Lactuca sativa L.) var. Panorama, Grand rapids, Red lettuce, dan Minetto, begitu juga pada tanaman sayuran daun lainnya, seperti sawi dan seledri.

Larutan nutrisi tanaman hidroponik dewasa ini sudah banyak dijumpai di kios saprodi (sarana produksi) di berbagai kota maupun bisa dibuat sendiri di laboratorium maupun di rumah untuk skala rumah tangga maupun komersial.

Nutrisi tanaman merupakan unsur-unsur penting yang diperlukan oleh tanaman untuk tumbuh dengan media apapun termasuk media air (hidroponik). Tanaman hidroponik akan menyerap unsur-unsur dalam media larutan nutrisi tersebut dalam konsentrasi yang tepat dan tidak meracuni. Kekurangan nutrisi tersebut akan menyebabkan pertumbuhan tanaman secara vegetative

maupun generative terganggu, dalam hal ini dibutuhkan keahlian dan pengetahuan khusus dalam meramu larutan nutrisi hidroponik.

Menurut Wasonowati, dkk (2013), pemberian nutrisi Hydrogoup pada tanaman selada lebih baik dibandingkan nutrisi Greentonik (pupuk cair daun). Hydogroup merupakan salah satu merek dagang dari nutrisi hidroponik AB mix (1 set pupuk A dan pupuk B) siap pakai di pasaran. Adapun Greentonik merupakan pupuk daun cair seperti halnya Gandasil D atau Growmore, dimana dalam pemakaiannya masih harus dicampur dengan unsur hara makro maupun mikro secara manual. Dari kisaran harga pupuk AB mix relative lebih mahal daripada buatan sendiri, tetapi formulasi unsur hara makro dan mikronya dapat memenuhi kebutuhan tanaman dan sudah popular digunakan oleh penggiat tanaman hidroponik (Anonim, 2008) Tujuan penelitian ini adalah untuk men-dapatkan konsentrasi larutan nutrisi AB mix siap pakai yang efisien dan paling sesuai untuk pertumbuhan yang optimal dari beberapa varietas selada.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Islam Jember Jl. Kyai Mojo 101, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, sejak bulan April sampai dengan Mei 2016.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: benih selada varietas General, Butterhead dan Grand Raphid, pupuk nutrisi AB mix, rockwool, air.

Alat yang digunakan antara lain: netpot diameter 4,5 cm, baki khusus semai benih (tray), gunting, timbangan digital, alat pengaduk, ember / drum, sprayer, oven, mistar / roll meter, hollow saw, gergaji, spidol.

Penelitian dilakukan secara faktorial dengan pola dasar Rancangan Acak Lengkap

(14)

3 x 3 yang terdiri dari 2 faktor, masing-masing faktor terdiri 3 level dengan 3 kali ulangan. Faktor I: perlakuan Konsentrasi Larutan Nutrisi AB mix (K) yaitu: 350 ppm (K1), 450 ppm (K2) dan 550 ppm (K3) dan Faktor II: perlakuan Macam Varietas Selada (S) yaitu: Butterhead (S1), Grand Rapid (S2) dan General (S3). Data yang diperoleh dianalisa menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan bilamana terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan maka dilakukan pengujian lanjutan dengan uji Duncan (DMRT) taraf 5%.

Pengamatan dilakukan pada semua sampel tanaman pada umur panen yaitu 45 HST. Adapun parameter yang diamati meliputi: 1. Tinggi tanaman (cm), dihitung dari

pangkal batang hingga ujung daun terpanjang pada saat tanaman berumur 45 HST (Hari Setelah Tanam)

2. Jumlah daun adalah daun yang terbentuk sempurna dihitung pada saat tanaman berumur 45 HST.

3. Panjang akar (cm), diukur dari pangkal akar hingga akar terpanjang pada saat panen (umur 45 HST).

4. Berat basah tanaman (gr), dilakukan pada akhir pengamatan dengan memanen seluruh tanaman kemudian ditimbang secara keseluruhan(umur 45 HST).

5. Berat kering tanaman (gr), tanaman selada yang telah ditimbang , selanjutnya dikeringkan selama 60 jam pada oven listrik dengan suhu 700C, kemudian ditimbang kembali berat keringnya. HASIL DAN PEMBAHASAN

Parameter pengamatan dari per tum-buhan selada setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan hasil F-hitung sebagai berikut (Tabel 1):

Tabel 1. Hasil F-hitung dari Analisis Ragam Semua Parameter yang Diamati

Parameter Nilai F-Hitung Faktor K Faktor S Faktor KxS 1. Tinggi tanaman (cm) 15.69** 52.89** 11.21** 2. Jumlah daun (helai) 2.48ns 1.29ns 2.48ns 3. Panjang akar (cm) 0.06ns 0.01ns 0.06ns 4. Berat basah tanaman (cm) 9.32** 23.81** 6.45** 5. Berat kering tanaman (cm) 3.92** 14.68** 3.63** Keterangan: ** = berbeda sangat nyata; * = berbeda nyata; ns berbeda tidak nyata

Nilai F-Hitung tiap parameter pengamatan yang berbeda sangat nyata dilakukan uji lanjutan Uji Duncan 5%, baik terhadap faktor perlakuan konsentrasi nutrisi, macam varietas selada maupun interaksi kedua faktor (Tabel 2 sd 6).

Berdasarkan Tabel 1, Faktor konsentrasi nutrisi AB mix (K), faktor varietas selada (S) dan interaksi faktor konsentrasi nutrisi dan varietas (KxS) memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata pada parameter tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tanaman selada, tetapi pada parameter jumlah daun dan panjang akar memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata.

Tabel 2.Hasil uji Duncan 5% pengaruh perlakuan konsentrasi nutrisi terhadap rata-rata tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, berat basah dan berat kering tanaman selada pada umur 45 HST

Perlakuan konsentrasi nutrisi (ppm) Tinggi tanaman (cm) Jumlah Daun (helai) Panjang Akar (cm) Berat Basah (gr) Berat Kering (cm) 350 16.00 b 24 a 27.79 a 69.69 b 3.47 b 450 18.87 a 21 a 44.42 a 97.59 a 4.26 b 550 19.32 a 31 a 26.98 a 99.82 a 5.40 a Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata

(15)

Berdasarkan Tabel 2, kenaikan konsentrasi AB mix dari 350 ppm sampai 550 ppm dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman. Pemberian konsentrasi nutrisi AB mix 550 ppm (K3) menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering selada, masing-masing 19.32 cm, 31 helai, 99.82 gr dan 5.40 gr, yang kemudian diikuti oleh konsentrasi AB mix 450 ppm (K2) dan 350 ppm (K1). Sedangkan pemberian konsentrasi AB mix 550 ppm (K3) menghasilkan panjang akar terpendek yaitu 26.98 cm yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan K1 (27.79 cm) dan K2 (44.42 cm).

Tabel 3. Hasil uji Duncan 5% pengaruh perlakuan varietas selada terhadap rata-rata tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, berat basah dan berat kering tanaman selada pada umur 45 HST Perlakuan macam varietas Tinggi tanaman (cm) Jumlah Daun (helai) Panjang Akar (cm) Berat Basah (gr) Berat Kering (cm) Butterhead 14.64 c 24 a 29.14 a 72.93 b 2.90 b Grand Rapid 18.30 b 25 a 38.49 a 74.16 b 3.74 b General 21.24 a 27 a 31.54 a 120.01a 6.50 a Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata

Berdasarkan Tabel 3, perlakuan macam varietas selada, untuk varietas General (S3) secara umum memberikan respon pertumbuhan terbaik pada tinggi tanaman 21.24 cm, jumlah daun 27 helai, berat basah 120.01 gr dan berat kering 6.50 gr, disusul oleh varietas Grand Rapid (S2) dan Butterhead (S3). Pada pengamatan panjang akar, varietas Grand Rapid (S2) mempunyai panjang akar terpanjang yaitu 38.49 cm dan berbeda tidak

nyata terhadap varietas General (S3) dan Butterhead (S1).

Tabel 4. Hasil Uji Duncan (α 0.05) Pengaruh Interaksi terhadap Tinggi Tanaman (cm)

Konsentrasi Nutrisi (ppm)

Varietas Selada

Butterhead Grand rapid General

350 ppm 14.33 b B 20.90 a A 21.37 a A 450 ppm 19.03 a B 17.00 b B 21.93 a A 550 ppm 10.57 c C 17.00 b B 20.43 a A

Keterangan: Huruf kapital membandingkan macam varietas selada pada konsentrasi yang sama

Huruf kecil membandingkan konsentrasi nutrisi pada varietas yang sama

Hasil penelitian (Tabel 4) menunjukkan terdapat pengaruh interaksi yang berbeda nyata antara konsentrasi nutrisi AB mix yang diberikan pada tiga macam varietas selada terhadap pengamatan tinggi tanaman umur 45 HST. Interaksi terbaik terdapat pada selada varietas General dengan pemberian nutrisi AB mix pada konsentrasi 350 ppm (K2S3) dengan hasil rata-rata tinggi tanaman 21.93 cm, namun pemberian nutrisi AB mix pada konsentrasi yang berbeda yaitu 350 ppm (K1S3) dan 550 ppm (K3S3) pada varietas General menunjukkan pengaruh interaksi yang berbeda tidak nyata, masing-masing 21.37 cm dan 20.43 cm.

Tabel 5. Hasil Uji Duncan (α 0.05) Pengaruh Interaksi terhadap Berat Basah Tanaman (gr)

Konsentrasi Nutrisi (ppm)

Varietas Selada

Butterhead Grand rapid General

350 ppm 75.01 b C 86.36 a B 131.40 b A 450 ppm 63.25 c B 72.81 b A 73.00 c A 550 ppm 80.52 a B 63.29 c C 155.64 a A

(16)

Keterangan: Huruf kapital membandingkan macam varietas selada pada konsentrasi yang sama

Huruf kecil membandingkan konsentrasi nutrisi pada varietas yang sama

Hasil penelitian (Tabel 5) menunjukkan terdapat pengaruh interaksi yang berbeda nyata antara konsentrasi AB mix yang diberikan pada tiga macam varietas selada terhadap pengamatan berat basah tanaman umur 45 HST. Interaksi terbaik terdapat pada varietas General dengan pemberian konsentrasi AB mix 550 ppm (K3S3) yang menunjukkan hasil rata-rata berat basah tanaman 155.64 gr. Pada varietas Grand Rapid berat basah tertinggi dengan rata-rata 86.36 gr pada pemberian konsentrasi AB mix 350 ppm (K1S2) sedangkan pada varietas Butterhead perlakuan konsentrasi AB mix 550 ppm (K3S1) memberikan berat basah tertinggi dengan rata-rata 80.52 gr.

Hal ini menunjukkan bahwa respon kebutuhan nutrisi setiap varietas selada terhadap berat basah tidak sama dan cenderung berfluktuasi, diduga

Tabel 6. Hasil Uji Duncan (α 0.05) pengaruh perlakuan konsentrasi nutrisi AB mix dan macam varietas selada terhadap parameter

berat kering tanaman (gr) Konsentrasi Nutrisi

(ppm)

Varietas Selada

Butterhead Grand rapid General 350 ppm 2.84 c B 3.19 b B 6.74 a A 450 ppm 3.92 c A 2.82 b A 3.67 b A 550 ppm 4.45 c B 2.68 b C 9.08 a A Keterangan: Huruf kapital membandingkan macam varietas selada pada konsentrasi yang sama

Huruf kecil membandingkan konsentrasi nutrisi pada varietas yang Sama

Hasil penelitian (Tabel 6) menunjukkan terdapat pengaruh interaksi yang berbeda nyata antara konsentrasi AB mix yang diberikan pada tiga macam varietas selada terhadap pengamatan berat kering tanaman umur 45 HST. Interaksi terbaik terdapat pada varietas General dengan pemberian konsentrasi AB mix 550 ppm (K3S3) yang menunjukkan hasil rata-rata berat kering tanaman 9.08 gr.

PEMBAHASAN Tinggi Tanaman

Berdasar Tabel 1, interaksi faktor kon-sentrasi pemberian nutrisi AB mix pada tiga macam varietas selada memberi pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap peng-amatan tinggi tanaman. Pada konsentrasi nutrisi yang sama, ketiga varietas selada baik Butterhead, Grand Rapid dan General memberikan respon pertumbuhan tinggi tanaman yang berbeda dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman selada merupakan hasil interaksi antara faktor genetis serta faktor ketersediaan nutrisi yang merangsang petumbuhan. Kemampuan masing-masing varietas selada dalam menyerap larutan nutrisi berbeda-beda. 14.3 17.0 10.6 20.9 19.0 17.0 21.4 21.0 20.4 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 350 ppm 450 ppm 550 ppm Ti ng gi t an am an (c m )

Konsentrasi nutrisi AB mix

Butterhead Grand rapid General

Gambar 1. Pengaruh konsentrasi AB mix dan macam varietas selada terhadap tinggi

tanaman

Pada Gambar 1, selada varietas General menunjukkan respon pertumbuhan tinggi tanaman yang terbaik dari Grand Rapid

(17)

dan Butterhead pada konsentrasi nutrisi yang berbeda, artinya bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh nutrisi.

Pertumbuhan tinggi tanaman selada dengan pemberian larutan nutrisi AB mix yang berbeda konsentrasi, menunjukkan perbedaan. Pemberiaan nutrisi AB mix pada konsentrasi 550 ppm menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman selada yang lebih cepat, kemudian diikuti konsentrasi 450 dan 350 ppm (Tabel 2). Peningkatan konsentrasi larutan nutrisi yang diberikan mampu menstimulasi pertumbuhan tinggi tanaman selada. Hal ini disebabkan semakin tinggi konsentrasi larutan nutrisi, semakin banyak unsur hara yang terkandung di dalamnya sehingga kebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berkembang terpenuhi khususnya pada fase vegetatif.

Pertumbuhan tinggi tanaman dipeng-aruhi oleh kandungan nitrogen dan phospat dalam formula larutan nutrisi yang diberikan. Nutrisi AB mix sayuran merupakan nutrisi hidroponik yang diformulasikan kandungan unsur hara makro dan mikronya sesuai standard pertumbuhan tanaman dan komposisi unsur nitrogennya lebih tinggi dari unsur makro lainnya. Ketersediaan Nitrogen bagi tanaman berperan merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun karena nitrogen berfungsi sebagai bahan dasar untuk sintesis asam amino, enzim amino, asam nukleid, klorofil, dan protein. Selain itu unsur nitrogen digunakan untuk pembentukan sel jaringan, dan organ tanaman serta sebagai pengatur pertumbuhan tanaman keseluruhan (Sutiyoso, 2008).

Ketersediaan phosphor juga sangat berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif tanaman, karena phospor berfungsi antara lain membentuk asam nukleat (DNA dan RNA), merangsang pembelahan sel, dan membantu proses asimilasi dan respirasi. Kandungan

nitrogen dan phospor dalam larutan nutrisi yang digunakan sangat mencukupi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu nitrogen (N) sebesar 8% dan phospor (P2O5) sebesar 10% (Novizan, 2008). Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk NO3- (nitrat) dan NH4+ (ammonium). Fungsi ammonium ini akan menyebabkan tanaman tumbuh dengan pesat, sel-sel cepat membesar, dan tahan penyakit. Nutrisi AB mix ini mengandung unsur N yang tinggi dibandingkan dan berfungsi untuk memacu pertumbuhan pada fase vegetative terutama daun dan batang tanaman selada.

Pertumbuhan tinggi tanaman juga dipengaruhi oleh faktor eksternal atau iklim yang meliputi: intensitas cahaya, suhu, CO2 dan kelembaban yang diterima oleh tanaman. Jumlah Daun

Berdasarkan Tabel 1, interaksi faktor konsentrasi nutrisi dan macam varietas selada memberi pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap jumlah daun. Faktor konsentrasi nutisi diduga pada media larutan hidroponik mencukupi kebutuhan pertumbuhan daun pada selada. Faktor varietas lebih banyak disebabkan faktor genetis (keturunan) dari ketiga varietas tersebut, dimana selada General mempunyai jumlah daun lebih banyak dari Grand Rapid dan Butterhead.

24 a 21 a 31 a 0 5 10 15 20 25 30 35 350 ppm 450 ppm 550 ppm Ju m la h d au n (h el ai ) Konsentrasi AB mix

Gambar 2. Pengaruh konsentrasi AB mix terhadap jumlah daun (helai)

Pada Gambar 2, menunjukkan pemberian nutrisi pada konsentrasi yang berbeda

(18)

memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata pada pembentukan jumlah daun, hal ini diduga pada konsentrasi 350 ppm, 450 ppm dan 550 ppm dengan interval yang tidak terlalu tinggi tidak mempengaruhi ketersediaan kebutuhan nutrisi pada ketiga varietas selada tersebut. Pemberian unsur hara yang cukup dan berimbang menyebabkan tanaman akan lebih cepat membentuk daun. Pembentukan daun dipengaruhi oleh unsur hara nitrogen yang terkandung di dalam larutan nutrisi, karena nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam pembentukan daun tanaman.

Hasil utama tanaman selada adalah daun, dengan penanaman secara hidroponik harapan konsumen akan kualitas hasil selada dapat dipenuhi yaitu daun yang berukuran normal, tidak terserang hama dan penyakit tanaman, dan memiliki warna hijau (kualitas luar) dan kualitas dalam yang diharapkan adalah memiliki kadar nitrat standart atau tidak terlalu tinggi (Scharf dalam Kinasihati, 2008).

Jumlah daun berpengaruh terhadap kandungan klorofil dalam daun, dimana klorofil dalam daun berperan sebagai penyerapan cahaya untuk melangsungkan proses fotosintesis. Apabila kandungan klorofil dalam daun cukup tersedia maka fotosintesis yang dihasilkan semakin meningkat. Jumlah daun yang tinggi disebabkan oleh unsur hara nitrogen yang terkandung di dalam larutan nutrisi, karena nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam pembentukan daun tanaman. Nitrogen juga dibutuhkan untuk membentuk senyawa penting seperti klorofil, asam nukleat, dan enzim. (Novizan, 2008). Pembentukan daun ini dapat berlangsung baik pada suhu dan intensitas cahaya yang konstan.

Gambar 3. Pengaruh varietas terhadap jumlah daun (helai)

Pada Gambar 3, jumlah daun tertinggi yaitu 27 helai ditunjukkan oleh varietas General tetapi berbeda tidak nyata terhadap jumlah daun varietas Grand Rapid (25 helai) dan Butterhead (24 helai). Adanya perbedaan jumlah daun dari ketiga varietas tersebut, diduga disebabkan oleh perbedaan sifat (morfologi maupun genetik) atau keunggulan dari masing-masing varietas yang memberikan ciri khusus.

Panjang Akar

Pada Tabel 1, interaksi faktor konsentrasi nutrisi dan varietas memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap panjang akar. Faktor konsentrasi nutrisi diduga pada media hidroponik selada ini menggunakan media larutan nutrisi, dimana volume air dan konsentrasi nutrisi yang diberikan tersedia dengan baik dan mencukupi kebutuhan serta mudah bagi perakaran untuk menyerapnya. Faktor varietas selada lebih banyak dipengaruhi sifat genetik

(19)

Gambar 4. Pengaruh konsentrasi AB mix terhadap panjang akar (cm)

Pada Gambar 4, perlakuan konsentrasi AB mix yang diberikan berbeda tidak nyata pada panjang akar. Hal ini disebabkan kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap. Media larutan pada sistem hidroponik memungkinkan kelarutan hara nutrisi sangat bagus, sehingga perakarannya dapat berkembang karena mendapati asupan nutrisi dari larutan ter-sebut. Keberadaan air akan mendorong sel-sel akar lebih cepat membelah diri untuk dapat menyerap air dan nutrisi unsur hara dalam media. Sebaliknya menurut Nahum et al (2006), rendahnya kadar air pada media tanam akan menurunkan perpanjangan akar, kedalaman penetrasi maupun diameter akar akibat terhambatnya pembentukan auksin.

Gambar 5. Pengaruh varietas terhadap panjang akar (cm)

Perlakuan varietas pada pengamatan panjang akar menunjukkan berbeda tidak nyata, tetapi varietas Grand Rapid mempunyai ukuran akar terpanjang dibanding General dan Butterhead (Gambar 5). Hal ini diduga sifat tiap varietas lebih banyak dipengaruhi faktor genetik atau keturunan dari tetuanya, dimana pertumbuhan panjang akar varietas Grand Rapid lebih cepat secara alami dari kedua varietas yang lain.

Pertumbuhan tanaman yang baik me nurut Sitompul dan Guritno (1995) dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar

tanaman itu sendiri. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tanaman diantaranya adalah ketersediaan air, unsur hara, iklim dan adanya hama dan penyakit (Gardner et al., 1991). Berat Basah Tanaman Selada

Berdasarkan Tabel 1, hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi akibat perlakuan pemberian konsentrasi nutrisi AB mix dan macam varietas selada terhadap berat segar tanaman selada berpengaruh sangat nyata. Berdasarkan Uji lanjutan Duncan 5% (Tabel 5), pemberian nutrisi AB mix pada konsentrasi yang sama pada semua varietas menunjukkan respon berat segar varietas General lebih tinggi dari varietas Grand Rapid dan Butterhead, dan setiap varietas selada memberikan respon pertambahan berat segar yang fluktuatif terhadap penambahan konsentrasi AB mix.

Gambar 6. Pengaruh konsentrasi AB mix dan macam varietas selada terhadap berat basah

(gr)

Secara umum hasil penelitian me-nunjukkan bahwa pemberian AB mix pada tanaman selada sistim hidroponik dapat meningkatkan pertumbuhan. Pertumbuhan dapat diketahui dari ukuran panjang, lebar atau luas, pertambahan massa atau berat (Bidwell, 1979). Sedangkan menurut Noggle dan Fritz (1983) pertumbuhan dapat ditunjukkan dengan meningkatnya tinggi tanaman, panjang, lebar, dan luas daun, serta berat kering masing-masing organ yang meliputi akar, batang, daun dan buah; jumlah

(20)

sel dan konsentrasi kandungan kimia tertentu, yaitu asam nukleat, nitrogen terlarut, lipid, karbohidrat dalam jaringan dan organ.

Laju pertambahan berat segar tanaman selada bersifat fluktuatif dengan pemberian nutrisi AB mix yang meningkat (Gambar 6). Kemampuan penyerapan nutrisi oleh ketiga varietas selada tersebut diduga dipengaruhi oleh sifat genetik masing-masing varietas dan ketersediaan nutrisi pada media hidroponik.

Pemberian nutrisi berupa larutan pada sistem hidroponik pengaruhnya lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan cara konvensional karena pada sistem hidroponik sumber utama hara berasal dari larutan yang diberikan Hal ini didukung pula oleh pendapat Marschner (1986) dan Mengel and Kirby, (1979) bahwa hara yang diberikan dalam bentuk larutan lebih cepat diserap oleh tanaman dibandingkan dengan hara yang diberikan secara padat.

Pertumbuhan dapat diketahui dari ukuran panjang, lebar atau luas, pertambahan massa atau berat (Bidwell, 1979). Sedangkan menurut Noggle dan Fritz (1983) pertumbuhan dapat ditunjukkan dengan meningkatnya tinggi tanaman, panjang, lebar, dan luas daun, serta berat kering masing-masing organ yang meliputi akar, batang, daun dan buah; jumlah sel dan konsentrasi kandungan kimia tertentu, yaitu asam nukleat, nitrogen terlarut, lipid, karbohidrat dalam jaringan dan organ.

Berat Kering Tanaman

Bobot kering tanaman sangat dipengaruhi oleh partisi asimilat pada kecambah yang tumbuh. Akumulasi bahan kering se-sungguhnya merupakan kemampuan suatu tanaman untuk membentuk / menyimpan asimilat pada organ tanaman. Jika unsur hara tersedia cukup pada tanaman maka laju pertumbuhannya akan berjalan optimal yang pada akhirnya menghasilkan bahan kering yang lebih tinggi. Terbentuknya daun

membutuhkan energi yang cukup berupa ATP yang diperoleh melalui proses respirasi dengan memecah asimilat hasil fotosintesis.

Gambar 6. Pengaruh konsentrasi dan macam varietas tehadap berat kering tanaman (gr)

Daun merupakan salah satu bagian tanaman yang paling cepat memberikan respon terhadap ketersediaan hara dan air dalam tanah (Salisbury dan Roos, 1991). Jika hara dan air tersedia cukup, maka pembentukan daun akan berlangsung lebih cepat, sebaliknya jika ketersediaan hara dan air terbatas maka pembentukan daun lebih lambat. Lambatnya pembentukan daun apabila kekurangan unsur hara disebabkan karena terjadi parsaingan diantara daun dengan organ tanaman lainnya dalam memperoleh suplai fotosintat. Pemberian unsur hara yang cukup dan berimbang menyebabkan tanaman akan lebih cepat membentuk daun karena pembentukan daun membutuhkan unsur hara. Hal ini dapat ditunjukkan pada Gambar 3 dan 6, ada korelasi positif antara konsentrasi nutrisi yang diberikan dengan pertumbuhan jumlah daun serta berat kering tanaman.

Akumulasi bahan kering mencerminkan kemampuan tanaman dalam mengikat energi dari cahaya matahari melalui proses fotosintesis, serta interaksinya dengan faktor-faktor lingkungan lainnya.  Distribusi akumulasi bahan kering pada bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun

(21)

dan bagian generatif, dapat mencerminkan produktivitas tanaman.

KESIMPULAN

Terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi AB mix dan macam varietas selada untuk pengamatan tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tanaman tetapi tidak pada parameter jumlah daun dan panjang akar. Pemberian AB mix pada konsentrasi 550 ppm mampu memberikan pertumbuhan yang sangat baik pada varietas General terutama pada jumlah daun, berat basah dan kering dengan rata-rata 27 helai, 155.64 gr dan 9.08 gr. Respon pertumbuhan yang berbeda pada tiap varietas selada baik General, Grand Rapid dan Butterhead dipengaruhi oleh faktor genetik dan konsentrasi nutrisi yang diberikan.

SARAN

Pemberian nutrisi AB mix 550 ppm pada selada varietas General (banyak disukai konsumen) lebih efisien untuk diberikan karena lebih irit dari yang direkomendasikan oleh produsen maupun praktisi hidroponik. DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2008. Pengaruh Dosis Kompos Ayam sebagai Tambahan pada larutan Fertimix dalam Sistem Hidroponik terhadap Pertumbuhan Budidaya Selada (Lactuca sativa L.). Skripsi. http://badrussetiawan1. blogspot.com/2009_03_01_archive.html. Anonymous, 2012. Pacu Potensi Hortikultura Jatim dengan Pendekatan Kawasan. https://swaranewsindonesia.wordpress. c o m / 2 0 1 2 / 0 4 / 2 3 / p a c u p o t e n s i - hortikultura-jatim-dengan-pendekatan-kawasan/. Diakses tgl 5 Januari 2015 BPS, 2013. Sensus Pertanian 2013 Kabupaten

Lumajang.. http://st2013.bps.go.id/ st2013esya/booklet/st3508.pdf. Diakses tgl 4 Januari 2015

Dinas Pertanian, 2013. http://lumajangkab. go.id/pertanian.php. Diakses tgl 5 Januari 2015

Fried, George H. & George J. Hademenos. 2000. Scahum’s Outlines BIOLOGI,   Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta.

Gardner, F.P., Pearce, R.B., dan Mitchell, R.I. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (diterjemahkan oleh Herawati Susilo). UI Press, Jakarta.

Gunawan, AW., 2009. Hidroponik Sayuran. Gramedia Pustaka, Jakarta.

Karsono, F., 2013. Exploring Classroom Hydroponic, Parung Farm, Bogor.

Khamidah dan Rachma, 2012. Budidaya Selada dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST). http://hidup-sukses-milikmu.blogspot.com/2013/06/ budidaya-selada-dengan-teknologi_13. html. Diakses tgl 17 Desember 2014 Lingga, P., 2006, Hidroponik Bercocok Tanam

Tanpa Tanah. Penebar Sawadaya, Jakarta. Lonardy, MV., 2006. Respon Tanaman Tomat

(Lycopersicon esculentum Mill) Terhadap Suplai Senyawa Nitrogen dari Sumber Berbeda pada Sistem Hidroponik ‘Skripsi”. Universitas Tadulako, Palu

Marschner, 1986. Mineral Nutrition of Higher Plant. Academic Press. London Orlando San Diego Noew York Aus

Mengel and Kirkby, 1979. Principle of Plant Nutrition. International Potash Institut. Worblaufen-Bern/Switzerland.

Moerhasrianto, 2011. Respon Pertumbuhan Tiga Macam Sayuran Berbagai Konsentrasi Nutrisi Larutan Hidroponik. repository. unej.ac.id. Diakses tgl 6 Pebruari 2015. Noggle, G.R and Frits, G.J. 1983. Introduction

Plant Physiology, Second Edition. NewJersey: Prentice Hall, Inc, Englewood Clifts.

(22)

Perwatasari, Belia, dkk. 2012. Pengaruh Media Tanam Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakchoi Brassica juncea L.) dengan Sistem Hidroponik. Terdapat pada http://pertanian.trunojoyo.ac.id/. Diakses pada 14 September 2015 .

Rosliani dan Nani, 2005. Budidaya Tanaman Sayuran dengan Sistem Hidroponik. Balitsa, Bandung.

Rukmana, R, 2007. Bertanam Selada dan Sawi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Salisbury dan Ross, 1995. Fisiologi Tumbuhan. Terjemahan Herawati. Institut Teknologi Bandung.

Silvina dan Syafrinal, 2008. Penggunaan Berbagai Mediun Tanah dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan dan Produksi Mentimun Jepang. Jurnal Korespondensi, Universitas Riau, Pekanbaru

Sitompul dan Guritno. 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Wasonowati, dkk., 2013. Respon Dua Varitas Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) terhadap Macam Nutrisi pada Sistem Hidroponik. Jurnal Agrovigor, Vol 6 No 1, Maret 2013. ISSN 1979 5777.

Wijayani, 2000 . Penggunaan Teknologi Hidroponik untuk Menghasilkan Tanaman Sawi Bebas Pestisida, Laporan Hasil Penelitian Dosen Muda DIKTI. Balai Penelitian Universitas Tadulako, Palu. Zuhaida, dkk ., 2011. Pertumbuhan Dan Hasil

Selada (Lactuca Sativa L.) Hidroponik Diperkaya Fe. UGM, Yogyakarta.

(23)

DENGAN PETANI KONSUMSI

Ratna Mustika Wardhani 1) , Riza Ardi Ansyah 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun Alumni Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun

Email : [email protected]

Abstract :

Differences in the use of the source of origin of rice seeds affect the outcome, production, revenue and income among farmers and farmers’ seed paddy rice consumption. This study aims to determine perdedaan production, farmers’ income and receipt of seed paddy and rice farmers consumption. The study was conducted in the village of Slambur, District Geger, Madiun district in the village where there are two different groups of farmers are rice farmers and rice farmers breeder consumption began November 2015 to January 2016. The analysis method used is multiple linear regression and a different test method average - average , The results showed that the cost of inputs and labor costs affect the production of seed paddy farmers 99.7% and 99.1% of consumption of rice farmers. There are differences in the average - average production, revenue and income between farmers and seed paddy to rice farmers kosumsi with the same land area of 0.32 ha, with the production of farmers seed of 2378.25 kg of rice and rice farmers in consumption of 2327.5 kg , while for reception to farmer seed padiRp. 10,702,125, the consumption of rice farmers Rp. 9.801 million and for seed paddy farmers’ income of Rp. 7.1257 million, rice farmers Rp.6.809.075 consumption.

Keywords:

Seed, the cost of inputs, labor costs, production PENDAHULUAN

Di Indonesia, pengertian tentang benih tanaman tertuang dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Bab I Ketentuan Umun Pasal 1 ayat 4 sebagai berikut: benih tanaman yang selnjutnya disebut benih adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan/atau mengembangbiakan tanaman. Pada Undang Undang tersebut Bab III, bagian kedua tentang

Perbenihan Pasal 13 menyatakan bahwa benih dari varietas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah merupakan benih bina. Benih bina yang akan diedarkan harus melalui sertifikasi dan memenuhi standart mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Benih bina yang lulus sertifikasi apabila akan diedarkan wajib diberi label. Pemerintah mengatur mengenai syarat-syarat dan tata cara sertifikasi dan pelabelan serta melakukan pengawasan terhadap pengadaan dan peredaran benih bina. Benih bermutu mempunya pengertian

(24)

bahwa varietasnya benar dan murni, mempunyai mutu genetis, mutu fiologi, dan mutu fisik yang tinggi sesuai dengan standar mutu pada kelasnya. (Qadir. 2013)

Kebutuhan padi setiap tahun terus me-ningkat dan menyebabkan kebutuhan akan benih padi yang bermutu juga meningkat. Didalam usaha peningkatan produksi padi dilakukan dengan cara penggunaan benih unggul yang bersertifikat. Termasuk mendorong penggunaan teknologi baru seperti varietas unggul, pemupukan yang tepat, perbaikan bercocok tanam, peng-endalian hama dan penyakit, pengairan yang teratur, penanganan pasca panen serta pemasaran hasil panen. Penggunaan benih unggul bermutu tinggi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam produktivitas usaha tani padi khususnya. Oleh karena itu , ketersediaan benih unggul bagi petani dalam melakukan kegiatan usahatani merupakan faktor penting dalam peningkatan hasil dan kualitas produksi (Hanafi, 1998).

Benih padi adalah gabah yang dihasilkan dengan cara dan tujuan khusus untuk dise-maikan menjadi pertanaman. Kualitas benih ditentukan oleh prosesnya, mulai dar proses perkembangan dan kemasan benih, panen, perontokan, pembersihan, pengeringan, penyiapan benih sampai fase pertumbuhan di persemaian (Arsanti, 1995).

Benih yang memiliki mutu baik di-perlukan oleh petani maupun penangkar benih. Agar petani maupun penangkar benih tidak merasa dirugikan serta mereka memiliki jaminan kualitas atas benih yang digunakan, maka anjuran menggunakan benih sertifikat sangatlah penting. Bagi benih bersertifikat ditetapkan kelas kelas benih sesuai dengan urutan keturunan dan mutunya, penetapannya sebagi berikut: (a) Benih penjenis (Breeder Seed) adalah

benih yang diproduksi oleh dan dibawah

pengawasan Pemulia Tanaman yang bersangkutan atau Instansinya. Benih ini merupakan Sumber perbanyakan Benih Dasar. Benih ini masih murni dan berlabel kuning.

(b) Benih Dasar (Foundation sSeed = SS) adalah keturunan pertama dari Benih Penjenis. Benih Dasar diproduksi di bawah bimbingan yang intensif dan pengawasan yang ketat sehingga kemurnian varietas dapat terpelihara. Benih dasar diproduksi oleh Instansi/Badan yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan produksinya disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi benih.

(c) Benih Pokok (Stock Seed = SS) adalah keturunan dari   Benih Dasar yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga indetitas dan tingkat kemurnian varietas yang ditetapkan dapat dipelihara dan  memenuhi standart mutu yang di tetapkan dan harus disertifikasi sebagai Benih Pokok oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih.

(d). Benih Sebar (Extention Seed = ES)  merupakan  keturunan dari Benih Pokok yang diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas dapat dipelihara, memenuhi standart mutu benih yang ditetapkan serta harus disertifikasi sebagai Benih Sebar oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Hal yang membedakan benih bersertifikat dengan benih biasa adalah bahwa benih bersertifikat merupakan benih yang di-hasilkan dengan cara dan tujuan khusus yang memang akan dijadikan semaian pertanaman yang kemudian disertifikasi oleh BPSP, sedangkan benih biasa merupak benih yang dihasilkan petani dari hasil panen sendiri dan tidak mendapat sertifikasi dari BPSP, sehingga hasilnya kurang maksimal. Dengan

(25)

menggunakan benih padi unggul diharapkan petani dapt meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil produksi pertanian khususnya di tanaman padi. Menurut Soetopo (1993) keunggulan benih bersertifikasi disbanding dengan benih biasa diantaranya adalah : 1. Penghematan penggunaan benih , misal

untuk padi dari rata rata 30-50 kg/ha menjadi 20-25 kg/ha

2. Keseragaman pertumbuhan, pem-bungaan dan pemasakn buah, sehingga dapat dipanen sekaligus.

3. Rendemen beras tinggi dan mutunya seragam.

4. Penggunaan benih padi bersertifikat mampu meningkatkan hasil panen 5% - 15% perhektar

Meningkatkan mutu produksi beras yang dihasilkan

Dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia akan berbagai komoditas pertanian pertanian tersebut, pengadaan atau produksi benih sebagai bahan komoditas pertanian tersebut, pengadaan atau produksi benih sebagi bahan pertanaman harus dilakukan. Lini pengadaan bertugas memproduksi benih dengan orientasi dan target menghasilkan benih bermutu. Mutu benih yang dimaksud mencakup tiga yang tidak terpisahkan yaitu fisik, mutu fisiologi dan mutu genetik (Sadjad, 1993).

Sebagian besar lahan sawah di Ke-camatan Geger ditanami padi. Pada tahun 2014 jumlah luas lahan panen tanaman padi adalah 4583 ha, dengan hasil produksinya sebesar 30.706,10 ton dengan rata-rata produktivitas 6,70 ton/ha. Namun tidak semua benihnya berasal dari pemerintah, begitu pula pada Desa Slambur yang mayoritas petaninya menanam padi, benih padi yang mereka gunakan berasal dari beberapa sumber diantara penangkar langsung dan

toko. Penangkaran benih padi merupakan suatu usaha yang mempunyai tujuan untuk menyediakan benih sumber bermutu yang memenuhi standar perbenihan. Sebagai suatu usaha , penangkaran benih pada umumnya didirikan untuk untuk meningkatkan usaha dibidang ekonomi pertanian, menghasilkan benih pertanian berkualitas yang dapat menunjang usaha tani, mendapat keuntungan yang berkesinambungan serta meningkatkan peran swasta dalam industri perbenihan.

Ketersediaan dan kebutuhan akan benih yang diperlukan petani tidak sepenuhnya berasal dari pemerintah. Petani juga men-dapatkan benih padi yang berasal dari penangkar langsung dan benih padi yang dijual ditoko maupun benih hasil buatan sendiri. Hal tersebut dikarenakan stok benih padi yang terbatas dari pemerintah dan hanya sementara. Dari keadaan tersebut diatas maka perlunya diketahui tentang analisis produktifitas petani padi penangkar benih dengan petani konsumsi.

Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis perbedaan hasil produktifitas, pendapatan dan penerimaan usahatani petani penangkar benih padi dengan usahatani petani padi konsumsi. METODE PENELITIAN

Penentuan Lokasi Penelitian

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) yakni di desa Segulung kecamatan dagangan kabupaten madiun dengan pertimbangan berdasarkan hasil data dari badan pusat staistik (BPS) tahun 2010 produksi kakao terbesar di kabupaten Madiun terletak di kecamatn Dagangan dan desa Segulung merupakan desa dengan jumlah populasi tanaman kakao terbesar.

(26)

Metode Pengambilan Sampel

Dalam pengambilan sampel ini menggunakan metode survei, dimana dalam hal ini peneliti menggunakan random sampling untuk menentukan jumlah petani yang akan diwawancarai. Dalam penelitian ini, pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan rumus slovin (Umar,2005).

n = N

1 + Ne2 Dimana:

n = ukuran sampel N = ukuran populasi

e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir, misalnya 12%

Dalam penalitian ini terdapat dua jenis petani yaitu petani penangkar padi dan petani padi konsumsi. Masing masing jenis petani memiliki jumlah 100 orang, dari jumlah populasi tersebut dengan tingkat kelonggaran 12%, maka dengan menggunakan rumus slovin akan diperoleh sampel sebesar :

n = 100 = 40,9

1 + (100)(0.12)

jumlah responden yang dipilih dalam penelitian ini dari petani yang penangkar padi dan petani padi konsumsi sebanyak 40 orang dengan asumsi jumlah tersebut dapat mewakili seluruh populasi di daerah penelitian dan luas lahan berkisar 0,14 ha sampai 0,42 ha. Jumlah ini dipilih karena petani didaerah penelitian paling banyak petani memiliki luas lahan dengan kisaran luas tersebut.

Cara Pengumpulan Data a. Teknik Wawancara

Wawancara adalah tanya jawab antara peneliti dengan petani untuk memperoleh data-data yang diperlukan berdasarkan jawaban jawaban langsung dari petani.

b. Teknik Pencatatan

Pencatatan adalah cara memperoleh data dengan mencatat data dari berbagai instansi atau dinas atau lembaga dari tingkat kabupaten ataupun provinsi sampai tingkat desa yang didasarkan atas laporan serta catatan yang ada, dan hasilnya merupakan data sekunder. c. Teknik Observasi

Observasi adalah cara pengumpulan data tanpa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tetapi dengan jalan mengamati obyek yang diteliti. Observasi di sini bertujuan mencocokkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan keadaan sebenarnya dan dapat dipergunakan untuk melengkapi data yang ada.

Sumber data

a. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden atau petani. Alat bantu yang digunakan adalah kuisioner atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

b. Data sekunder yaitu data terdokumentasi yang relevan yang dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa.

Metode Analisis Data

Untuk menghitung hipotesis digunakan analisis regresi linier berganda (Gujarati dan Porter,2011). Dengan rumus sebagai berikut:

Y = a + b1x1 + b2x2+ μ Dimana :

Y = Penerimaan petani padi penangkar (Rp) x1 = biaya saprodipetani padi penangkar (Rp) x2 = biaya tenaga kerja petani padi penangkar

(27)

b1, b2 = koefisiensi regresi untuk masang - masing variable

μ = Kesalahan penggganggu Y = a + b1x11 + b2x22 + μ Dimana :

Y = Penerimaan petani padi konsumsi (Rp) x1 = biaya saprodi petani padi konsumsi (Rp) x2 = biaya tenaga kerja petani padi konsumsi

(Rp)

b11, b22 = koefisiensi regresi untuk masang - masing variable

μ = Kesalahan penggganggu Uji Kesesuaian

Agar memperoleh hasil regresi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator )menurut Gujarati dan Porter (2011) terdapat kriteria yang harus dipenuhi:

1. Analisis Koefisien Determinasi (R2) Dalam uji linier berganda, koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui presentase sumbangan pengaruh serentak variable – variable terhadap variable terikat. Semakin banyak variable bebas digunakan maka semakin tinggui pula koefisien determinasinya.

2. Uji Serempak (uji F)

Uji F pada dasarnya menunjukan apakah semua variable bebas yang di masukan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama sama terhadap variable terikat. Atau untuk mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variable dependen atau tidak dengan menggunakan rumus :

Dimana :

R2 = Koefisien determinasi

K = Jumlah variable bebas atau independen n = Jumlah sampel

Kesimpulan Statistik :

Berdasarkan nilai F hitung dan F tabel : · Jika nilai F hitung >F tabel maka variabel

bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.

· Jika nilai F hitung < F tabel maka variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat.

Berdasarkan nilai signifikansi hasil output SPSS :

· Jika nilai Sig.< 0,05 maka variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

· Jika nilai Sig.> 0,05 maka variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

3. Uji Parsial (Uji t)

Uji parsial atau Uji t pada dasarnya menunjukan bagaimana pengaruh masing-masing variabel bebas atau indenpenden secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikat atau dependen. Rumus uji t adalaha :

Dimana :

bi = Koefisien Regresi se = Simpangan Baku Kesimpulan

Bila nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak, artinya variable bebas secara nyata berpengaruh terhadap variable terikat.

Bila nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima, artinya variable bebas secara nyata tidak berpengaruh terhadap variable terikat. 4. Metode Uji Beda Rata - rata (T test)

Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

H0 : μ1 <μ2 terdapat perbedaan produksi dan pendapatan antara petani penangkar pada dengan petani padi konsumsi.

Gambar

Tabel 1. Hasil F-hitung dari Analisis Ragam  Semua Parameter yang Diamati
Tabel 4. Hasil Uji Duncan (α 0.05) Pengaruh  Interaksi terhadap Tinggi Tanaman (cm) Konsentrasi Nutrisi
Gambar 1. Pengaruh konsentrasi AB mix  dan macam varietas selada terhadap tinggi
Gambar 2. Pengaruh konsentrasi AB mix  terhadap jumlah daun (helai)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada pengamatan yang telah kami lakukan, didapatkan variasi atau Pada pengamatan yang telah kami lakukan, didapatkan variasi atau keanekaragaman pada tumbuhan, hewan

 Desain produk aneka produk kerajinan dari bahan limbah sebagai fungsi hias  Unsur estetika dan ergonomis, praktis dan marketable desain produk kerajinan  Peluang usaha,

Yoanita (2008) Kesesuaian citra diri terhadap kesukaan merek dan kepuasan pada konsumen motor Harley Davidson, memungkinkan perusahaan dapat menetapkan strategi agar

Untuk menggali menyangkut permasalahan di atas, maka penelitian yang dilakukan Deskriptif Analistis yakni dengan menggambarkan dan menjelaskan secara rinci

Jumlah indeks pengungkapan wajib PSAK 106 disetiap perusahaan perbankan yang diteliti, dimana pada tahun 2012 pengungkapan wajib tertinggi terdapat pada PT Bank

4.4 Menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur dan penggunaan bahasa... 2.Kerjakan latihan soal

Hasil penelitian menunjukkan 1) Karakteristik satuan lahan untuk pariwisata di daerah penelitian antara lain adalah: kemiringan lereng berkisar dari 2 – 8 %, tidak pernah

Tanpa kesehatan kita tidak akan bisa melakukan sesuatu yang berharga lainnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.. Masa remaja merupakan masa yang menentukan