MAKALAH
“AGAMA DALAM PERSPEKTF BARAT SEKULAR DAN KOREKSI ISLAM”
Disusun oleh :
Andhika Rachman / 2105015038 Inez Widyasari / 2105015087 Masnu’atul Khoeriyah / 2105015129
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Pendidikan Agama Islam
Dosen Pengampu : Rifqi Abror Ananda
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... 3
BAB I ... 4
PENDAHULUAN ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penulisan ... 5
BAB II ... 6
PEMBAHASAN ... 6
A. Pembahasan ... 6
B. Upaya Di Masa Depan Religionitas Manusia ... 8
BAB III ... 10
KESIMPULAN DAN PENUTUP ... 10
DAFTAR PUSTAKA ... 12
KATA PENGANTAR
Degan menyebut nama Allah swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pendidikan Agama Islam tentang Agama dalam Perspektif Barat Sekular dan Koreksi Islam.
Makalah Pendidikan Agama Islam ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin, agar terciptanya makalah yang baik dan benar. Terlepas dari itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan bak dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan segala kekurangan dalam makalah ini kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah Pendidikan Agama Islam ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Pendidikan Agama Islam tentang Agama dalam Perspektif Barat Sekular dan Koreksi Islam ini dapat memberi manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Bekasi, 8 Oktober 2021
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan Islam sejak diwahyukannya sampai sekarang ini, telah muncul berbagai istilah salah satunya sekularisme. Istilah ini sebelumnya tidak terkenal dalam Islam, karena Islam tidak mengenal polarisasi dalam kehidupan.
Sekularisasi ialah fenomena kultural yang berkembang dalam sejarah pemikiran Barat pasca-Renaissance. Renaissance merupakan suatu negasi yang berhubungan dengan dominansi pemikiran agama oleh kekuasaan gereja di abad pertengahan.
Dalam Islam tidak ada gerakan yang mempersoalkan dasar-dasar ajaran pokok Islam. Akar sejarah sekularisme muncul di Yunani dan Romawi kuno serta agama-agama di timur jauh yang percaya adanya Dewa, kemudian berkembang pada masa aflarung (pencerahan) ketika gereja berkuasa di Eropa, yang merupakan gerakan untuk memutuskan hubungan antara agama dan kebudayaaan.
Pada waktu itu para ilmuan tidak berkutik dalam menghadapi pengaruh gereja yang cukup dominan
Atas dasar itu, maka sekularisme dianggap sebagai ajaran yang tidak mempunyai landasan yang kuat dalam Islam, baik dalam konsep maupun gerakannya. Pada perkembangan selanjutnya, sekularisme semakin rumit bahkan menjadi perdebatan di kalangan kaum muslim. Oleh karena itu, pengetahuan tentang sekularisme baik berkenaan dengan latar belakang munculnya essensi, perlu dipahami oleh kaum muslim, khususnya para ilmuan dan tokoh-tokohnya agar tidak terjebak dalam sekularisme atau sekularisasi.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas pada makalah ini antara lain:
1. Apa hubungannya agama dengan sekularisme?
2. Apa sebenarnya sekularisme barat?
3. Apa yang dimaksud dengan sekularisme dalam Islam?
4. Apa bedanya sekularisme dengan sekularisasi?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut:
Untuk mengetahui hubungan agama islam dengan sekuralisme
Untuk mengetahui apa itu sekularisme barat
Untuk mengetahui yang dimaksud denga sekularisme dalam Islam
Untuk dapat membedakan sekularisme dan sekularisasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Sekuler, berasal dari kata latin seculun yang berarti “masa” karena itu sekuler berarti “berorientasi pada masa sekarang”. Sekularisme adalah sebuah doktrin, semangat, atas kesadaran yang menjunjung tinggi prinsip kekinian menjadi ide, sikap, semangat, keyakinan, serta kepentingan individu yang mendapat momentumnya di abad pertengahan ketika munculnya penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyudutkan pihak gereja katolik dan memicu bangkitnya gereja reformis yang dipimpin oleh Martin Luther.
Sekularisme dalam karakteristiknya seperti yang ada di Barat yaitu formulasi ide yang menegaskan bahwa antara agama dan negara merupakan dua entitas yang berbeda dan terpisah. Pengertian ini berdasarkan pada pengakuan bahwa “Agama merupakan sebuah keyakinan yang dipegang teguh manusia meskipun dalam pandangan yang berbeda.” Orang bisa saja berbeda tentang agama, tapi mereka bisa menjadi warga dari sebuah negara yang sama, dan mereka bisa seperti ini dengan lebih nyaman apabila negara tidak ikut campur dengan urusan agama. Oleh karena itu, sekularisme tidak hanya sekedar konsep politik, tetapi juga sebuah filsafah hidup dan cita-citanya adalah kemajuan dalam kehidupan manusia di dunia ini, tanpa memandang agama, aliran, maupun warna kulit seseorang. Sedangkan sekularisasi adalah transformasi dari seseorang, lembaga , atau hal-hal yang bersifat spiritual ke dalam keduniaan. Hal ini menarik perhatian sebagian orang karena adanya anggapan yang keliru bahwa materi lebih memberi pemenuhan kehidupan, harga diri dan prestise ketimbang menjadi seorang ideais sebagaimana yang ada pada doktrin-doktrin keagamaan.
Secara umum sekularisme adalah paham yang berpandang bahwa agama tidak berurusan dengan persoalan keduniaan yaitu persoalan poitik dan sosial budaya. Agama cukup bergelut dengan ritual keagamaaan. Mendasarkan standar etika dan tingkah laku pada referensi kehidupan sekarang dan kesejahteraan sosial
tanpa merujuk pada agama. Atas dasar itu islam menentang sekularisasi karena Islam tidak memiliki potensi sama sekali terjadinya proses sekularisasi.
Dari sini peran ijtihad sebagai prinsip gerakan Islam harus difungsikan dalam mengimplementasikan dan menjabarkan serta mengkolerasikan ajaran dasar agama Islam yaitu aqidah syariat dan akhlak dengan persoalan-persoalan baru sebagai konsekuensi akulturasi dan moderensisasi yang maju sesuai dengan perkembangan zaman. Kelompok yang terpengaruh oleh perbuatan sosial politik adalah generasi baru kaum intelektual, professional, penulis, dan ulama.
Kepatuhan terhadap Islam tidak mencegahnya untuk menghargai prinsip kemajuan teknologi dan liberaisme politik. Para elit intelektual muslim telah berulang kali menunjukkan kapasitas mereka untuk beraktualisasi atau berekspresi pada berbagai bidang tanpa melanggar ajaran agama Islam.
Sekularisme tercatat dalam Islam dan Modrenitas perkembangan zaman.
Hal ini membuat jurang pemisah antara agama dengan urusan-urusan keduniaan.
Dalam kaitan ini tentu saja orang-orang barat memilih dunia an sich atau sekuler dengan skala implikasinya, sementara orang-orang yang berlatar belakang agama otomatis memilih agama sebagai pandangan hidupnya. Dengan demikian sekularisme menjadi subur dalam perkembangan Islam bahkan generasinya cenderung anarkis dan tidak berprikemanusiaan, menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu durjana angkaramurkanya.
Dari pembahasan tersebut dapat dipahami bahwa ide sekularisme pada mulanya muncul dari Eropa yang didorong oleh falsafat yang dianutnya yaitu positifisme, eksistensialisme, pragmatisme serta fenomenologi yang merupakan bias dari filsafat yunani kuno yang mereka maknai sebagai suat metode impestigasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan segala penerapannya. Walaupun diantara mereka (pemikir barat) cenderung mempercayai Tuhan, dan Tuhan tidak dikonsepsikan sebagai ateisme, namu tuhan itu tidak terjangkau oleh akan dan Tuhan tidak mempengaruhi perilaku manusia.
Karena itu sekularisme dalam prakteknya hanya cenderung terhadap masalah-
masalah realitas kehidupan dunia dan mengenyampingkan persoalan kerohanian spiritual an kehidupan akhirat yang merupakan bagian dari doktrin keagamaan.
B. Upaya Di Masa Depan Religionitas Manusia
Abad Pertengahan jelas mewarisi trauma kekuasaan, kekuasaan dan segala bentuk kekuatan bermasalah di dunia yang tercerahkan dari humanisme sebagai kerangkanya. Manusia seringkali tidak ingin dikendalikan dan menjadikan semua kekuatan untuk menuntut acak. Dalam bidang teologi, kecenderungan ini dinyatakan sebagai: Sekularisasi, tetapi tren ini akan berkembang dan meningkat pemisahan yang suci dan dunia bahkan dapat menyebabkan ateisme. Di masa lalu, agama diserang karena di sinilah keberadaan Tuhan diakui. sekarang Agama diserang karena mengganggu kehidupan manusia.Oleh karena itu, pertanyaan tentang Tuhan dikaji dari perspektif yang berbeda, yaitu dari perspektif kehidupan. pria. Hidup sebagai standar dalam pertanyaan tentang Tuhan ini adalah hidup Individu manusia dan masyarakat sebagai landasan kehidupan bermasyarakat dan berbudaya.
Tuhan digambarkan dominan dan suci dalam keberadaan-Nya di kehidupan manusia, sehingga tidak ada tempat bagi manusia untuk menyadari potensi yang dimilikinya. Meskipun, potensinya hanyalah hadiah paling berharga yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Sekularisasi menolak para Tuhan ataupun Dewa secara mistis dengan menampilkan wajah yang berbeda dari yang diharapkan. Konsekuensinya ialah dapat berakibat pada cara membangun dan memberi kekuatan serta kemampuan manusia lepas pandangannya terhadap Tuhan. Konsep sekularisasi sebagai bentuk dari mitos sosial yang digunakan oleh ideologi anti-religius untuk menyerang bentuk religiositas tradisional dan pro-religius agar membela mereka. Sekularisasi dapat berkembang menjadi suatu sistem yang memaksakan maupun memutlakan unsur keduniaan dalam diri manusia jika sekularisasi berubah pandangannya menjadi suatu ideologi.
Sekularisasi diperlukan untuk mengeluarkan orang dari budaya yang dogmatis, kita harus membedakan temporal dan transendental antara urusan
agama dan urusan dunia. Tujuan sekularisasi Mengglobalkan nilai-nilai yang seharusnya bersifat duniawi. Sekularisasi memiliki arti khusus dalam desactification dari segala sesuatu, kecuali hal Ini benar-benar suci. Pada akhirnya, akan memicu fanatisme agama. Sekularisasi bertujuan untuk membebaskan orang dari takhayul dan misteri didogmatiskan dan dimanipulasi oleh para pendeta. Di dunia sekuler, Agama yang benar-benar bermakna bertemu dengan orang-orang yang nyata wajar. Kita harus menemukan Tuhan dalam apa yang kita ketahui. Tuhan ingin kita menyadari bahwa keberadaannya bukanlah masalah tidak terpecahkan tetapi dalam masalah dapat diselesaikan.
Pusat sekularisasi terletak pada orang yang mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Oleh karena itu, gambar Tuhan perlu meyelaraskan kembali pada adat-istiadat keagamaan. Proses desakralisasi dan penodaan dalam sekularisasi dapat menyucikan agama Sesat, dangkal, fanatik dan fatalistik.
Tuhan telah menyediakan kita akal dan kekuatan yang memungkinkan kita untuk hidup mandiri tanpa bergantung padanya. Baik buruknya, sukses atau gagalnya manusia itu semua karena manusia.
BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Hakikat semua agama khususnya agama wahyu, tidak mengenal polarisasi sistem kehidupan antara dunia dan akhirat. Hakikatnya adalah tauhid dan akhlak, dalam arti moral merupakan pelaksanaan dari tauhid. Akan tetapi, penafsiran tauhid dan akhlak yang dipersepsikan oleh orang-orang dalam sistem budaya yang berbeda dan budaya manusia dalam batas-batas tertentu berbeda, meskipun diakui ada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, pedoman dan kebijaksanaan yang bersifat universal. Hambatan terkait persoalan sekularisme atau sekularisasinya di zaman modern ini dapat diatasi jika pendekatan berbasis kearifan lokal dapat diintegrasikan dengan kearifan universal sesuai dengan semangat al-Qur'an dan hadis serta pendapat para ulama dalam kemajuan kehidupan yang modern. Dalam pengertian ini, Ijtihad sebagai awal dari gerakan Islam memainkan peran penting dalam implementasi ajaran Islam di semua dimensi kehidupan ummatnya untuk menghindari sekularisme dan sekularisasi. Selama sebuah gerakan Islam memiliki basis ideologis yang nyata berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist, maka dapat dimaknai sebagai sebuah dinamika Islam dan tidak distigmatisasi sebagai sekularisme atau sekularisasi.
Dengan cara ini ide sekularisme dapat diatasi. Jika tidak, maka efeknya sangat fatal dengan muncul sekularisasi di berbagai bidang kehidupan liberal, seperti ekonomi liberal/kapitalis, demokrasi politik liberal yang tidak memiliki nilai dan menghalalkan jalan dalam sektor lain seperti pendidikan sekuler, sistem sosial budaya sekuler yang semuanya lepas dari kendali nilai-nilai agama.
Mengarah pada ketimpangan dan kesengsaraan umat manusia, sementara agama membawa belas kasih sebagai kebenaran mutlak, dari banyak aspek, menurut sifat manusia, menurut waktu dan sifat kasih sayang, alam semesta justru dikesampingkan.
Pusat sekularisasi ada pada manusia yang memanifestasikan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Oleh karena itu, perlu untuk memandang citra Tuhan
dan praktik keagamaan. Proses penodaan dalam sekularisasi dapat membersihkan agama dari praktik-praktik yang menyimpang, dangkal, fanatik dan fatalistik.
Tuhan telah memberi kita alasan dan kekuatan agar kita dapat hidup mandiri dari- Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Pardoyo. Sekularisasi dalam Polemik. Yogyakarta: Grafiti Press, 2014.
Laba Lajar, Leo. “Sekularisasi dan Sekularisme”, dalam Iman dan Ilmu.
Yogyakarta: Kanisius, 2016.
https://riset-iaid.net/index.php/tajdid/article/view/347 (Sekularisasi dan Refleksi Terhadap Konsep ketuhanan)
Parangrangi, Tomo. “Sekularisme Dalam Perkembangan Islam”.