• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAMA DALAM PERSPEKTIF BARAT SEKULAR DAN KOREKSI ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AGAMA DALAM PERSPEKTIF BARAT SEKULAR DAN KOREKSI ISLAM"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

AGAMA DALAM PERSPEKTIF BARAT SEKULAR DAN KOREKSI ISLAM

Disusun oleh:

MUHAMMAD FAUZAN AULIA (2105025051) ACHMAD FAJAR KOSASIH (2105025059) OKTAVERA TANIA KARTIKA (2105025091)

Dosen Mata Kuliah:

Bapak Rifki Abror Ananda

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA

2021

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “AGAMA DALAM PERSPEKTIF BARAT SEKULAR DAN KOREKSI ISLAM”

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penyusun.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rifki Abror Ananda selaku dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.

Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 6 Oktober 2021

Penyusun

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Manfaat ... 2

C. Tujuan Pembelajaran ... 2

BAB II ... 3

PEMBAHASAN ... 3

A. Problematika dan Ragam Ekspresi dan Simbol Modern(Western) ... 3

B. Pengertian, Sejarah, dan Ideologi Dunia Modern Serta Bahayanya Terhadap Agama ... 4

1. Pengertian Sekularisme dan Sekularisasi/Ateisme ... 4

2. Latar belakang sejarah dan perkembangan ... 5

3. Kritik dari prespektif keilmuwan ... 6

4. Bahayanya Terhadap Agama ... 7

C. Agama dan Tuhan Dalam Pandangan Tokoh Atheis ... 8

D. Dampak Sekularisme dan Atheisme Dalam Kehidupan ... 9

E. Penolakan dan Kritik Islam Terhadap Paham Sekularisme ... 10

BAB III ... 12

PENUTUP ... 12

DAFTAR PUSTAKA ... 13

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sudah sedemikian banyak para cendikiawan, ilmuwan, ulama dan pemikir yang mencurahkan perhatian kritisnya terhadap sekularisme. Pada program Westernisasi bukan sekadar pembicaraan yang diarahkan terhadap orang-orang yang antibarat. Program ini sudah ada sejak awal era modernisasi yang telah dirasakan dan dialami oleh banyak orang. Namun dunia Timur masih terkesan biasa saja dalam menghadapi situasi ini, apalagi mengkritik dan menolaknya.

Salah satu program utama westernisasi adalah ateisme yang menyebabkan pemecahan keyakinan terhadap Tuhan dan alam. Ateisme ditimbulkan oleh kebencian terhadap agama dan keinginan bebas darinya. Menurut Don Juan, saat ini kebencian merupakan bagian dari kesenangan terbesar terhadap agama. Oleh karena itu banyak yang menjadi liberalist, ada yang ingkar terhadap Tuhan (ateis), ada yang ingkar terhadap agama (infidel), ada pula yang menolak pengetahuan tentang Tuhan serta eksistensi-Nya sekaligus (agnostic).

Ada yang meragukan wahyu Tuhan (skeptic), dan juga yang menolak wahyu secara intelektual, yaitu disbeliever, atau unbeliever penganut yang mengingkari Tuhan dengan akal dan hati. Maka banyak jalan untuk menyakini bahwa ia menjadi ateisme. Selain itu, di dalam kebudayaan Barat, ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius). Saat ini, bisa dikatakan ateisme menjadi tren bagi orang Barat. Pemikiran ateisme memanfaatkan hadirnya modernitas dengan sikap, pandangan hidup, dan tindakan seluruh manusia untuk melakukan kebebasan massal atau freedom dari agama.

Lebih jauh lagi, ateisme yang berkembang di Barat itu bukan hanya sekedar isu atau program Barat di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Akan tetapi juga menawarkan konsep dalam bentuk kebebasan untuk tidak memiliki agama dalam hidup yang mendominasi dari kalangan para ateisme saat ini. Wacana ateisme menjadi suatu wacana yang sangat berbahaya karena mengingat akan ketidakpercayaan terhadap eksistensi Tuhan dan penciptaan alam yang tidak ada keterkaitannya dengan sang pencipta alam. Sehingga timbullah sikap naturalisme yang menyatakan bahwa alam itu berdiri sendiri dan tidak ada campur tangan Tuhan.

(5)

2

B. Manfaat

Manfaat adanya pembelajaran tentang sekularisme dan sekularisasi/ateisme salah satunya adalah mengetahui bahwa sekularisme dan sekularisasi/ateisme itu berbeda, mengetahui sejarah terjadi sekularisme dan sekularisasi/ateisme di salah satu tempat, mengetahui apa dampaknya bagi kehidupan dan agama, mampu untuk menolak sekularisme dan sekularisasi/ateisme dalam kehidupan.

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bahan ajaran tentang sekularisme dan sekularisasi/ateisme ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami apa perbedaan sekularisme dan ateisme, serta mampu menolak dan meyakini bahwa sekularisme dan sekularisasi/ateisme tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

A. Problematika dan Ragam Ekspresi dan Simbol Modern(Western)

Problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Adapun, istilah modern yang merujuk pada segala hal yang baru, berbau teknologi dan pengembangan ilmu pengetahuan telah menyajikan berbagai perkembangan pesat dalam membentuk mindset dan gaya hidup masyarakat. Artinya, modern terkait dengan segala sesuatu yang baru yang berbeda dengan sesuatu yang lama, misalnya dalam cara hidup, dan aktivitas manusia yang berbeda dari masa sebelumnya. Sedangkan Westernasi merupakan sebuah program modernisasi untuk mengarahkan cara berpikir manusia menjadi sekular

Dalam perilaku individu maupun sosial, bahkan juga dalam keyakinan agama seseorang atau kelompok sangat berpengaruh. Keyakinan agama ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya pengaruh buku-buku bacaan, lingkungan sosial, mazhab pemikiran yang dianut, sistem sebuah pemerintahan, organisasi. Di lingkungan agama besar dunia selalu muncul berbagai mazhab. Ada yang bersifat dominan ada pula yang tergolong kecil.

Terlebih di era keterbukaan dan demokrasi, semakin warna-warni keyakinan, pemikiran, dan ekspresi keberagamaan seseorang dan kelompok. Di Barat yang mayoritas Kristiani, misalnya, ada-ada saja kelompok yang dianggap sempalan seperti Yehova atau Mormon. Orang luar menganggap mereka itu Kristen, tetapi dalam komunitas Kristen sendiri dipertanyakan kekristenan mereka. Hanya saja, karena hukum negara dikawal dan ditegakkan, bentrokan fisik yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan bisa dicegah. Lebih dari itu, mungkin saja mereka memilih damai dan dengan jalan dialog untuk berlomba menyampaikan misi ajarannya. Mereka belajar dari pengalaman pahit perang antarsekte agama di Eropa abad- abad lalu.

Begitu pula ajaran Islam yang begitu luas, ditambah lagi pemeluknya yang sangat beragam dari segi etnis, bangsa, pendidikan, ekonomi, dan mazhab pemikiran, sangat logis kalau ekspresi keberagamaan mereka juga sangat beragam. Mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan pengetahuan luas serta dalam tentang agama cenderung terbuka, toleran, dan tidak senang menggunakan jalan kekerasan dalam mengekspresikan keyakinan agamanya. Mereka memilih jalan intelektual dan melalui lembaga-lembaga pendidikan untuk menyebarkan keyakinan agamanya. Mereka yang merasa tersingkir atau terpinggirkan tentu akan berjuang merapat ke tengah.

(7)

4

Adapun problematika, ragam ekspresi dan simbol lainnya yaitu ateisme yang menyebabkan pemecahan keyakinan terhadap eksistensi Tuhan dan pemisahan sains dengan agama. Ateisme merupakan pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan beserta malaikatnya atau menolak terhadap penganut teisme. Pandangan ateisme merupakan awal bagi hadirnya skeptisisme terhadap Tuhan yang cukup terlihat dalam kehidupan masyarakat Barat. Tidak hanya itu saja, ateisme lebih cenderung menggunakan akal empiris yang berdasarkan fakta dan dapat dipelajari oleh orang lain. Ukuran empirik penganut ateisme terhadap sains adalah yang dapat diuji dan terbuka untuk dikritik serta dapat disempurnakan.

Menurut penganut ateisme, jika ingin menjadi saintis maka tidak membawa-bawa Tuhan di dalam sains. Bertolak belakang dengan itu, keyakinan Islam terhadap eksistensi Tuhan dibuktikan dengan dalil-dalil Qur’an dan sunnah, sehingga tidak menafikan Tuhan dalam sains dan ilmu pengetahuan. Islam hadir sebagai agama yang sempurna menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu. Al-Qur’an urutan pertama dalam hierarki sumber ilmu dalam epistemologi Islam. sementara Hadis berfungsi sebagai sandaran kedua setelah wahyu dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an terutama yang masih berupa konsep seminal. Oleh karena itu Islam meletakkan ilmu sebagai pioner bagi seluruh Muslim dalam berkata dan beramal yang dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan manusia.

B. Pengertian, Sejarah, dan Ideologi Dunia Modern Serta Bahayanya Terhadap Agama

1. Pengertian Sekularisme dan Sekularisasi/Ateisme

Secara terminologi sekularisme diterjemahkan kedalam bahasa Inggris secularism yang berarti duniawi, non agama atau irreligious, non spiritual atau unspiritual seluruhnya berdasarkan kata dunia. Secara etimologi Seculer dari bahasa latin yang berarti saeculum, yang memiliki dua konotasi yaitu Time (masa) dan Location (tempat). Sekuler dalam pengertian waktu menunjukan kepada “sekarang“ dan dalam pengertian ruang berarti “ dunia atau duniawi “.

Sekularisme adalah konsep atau ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Dalam sejarah Kristen Eropa, kata sekuler dimaknai sebagai pembebasan masyarakat dari cengkeraman kekuatan Gereja yang sangat kuat. Pembebasan dari asuhan agama dan metafisika, dari sebuah pengalihan perhatian “dunia lain“ menuju “ dunia kini “. Maka tidak sepantasnya kaum kristen menolak sekularisasi yang menjadi konsukensi otentik dari kepercayaan Bible.

(8)

5

Harvey Cox adalah salah seorang “Penabuh Genderang “ dibarat, ia membedakan sekularisasi dan sekularisme. Menurutnya sekularisme adalah nama sebuah ideologi yang tertutup. Sedangkan sekularisasi lebih membebaskan alam masyarakat dari kontrol agama dan pandangan yang tertutup.

2. Latar belakang sejarah dan perkembangan

Ada beberapa latar belakang yang menjadi dasar bangsa Barat dalam memilih jalan hidup sekuler dan mengglobalkannya dalam pandangan hidup dan nilai-nilai keseluruh dunia, termasuk dunia Islam. Diantaranya :

a. Problema Sejarah Kristen.

Sejarah ini bermula pada zaman Gereja Konstantinopel, antara katolik dan protestan.

Berbagai konflik dan pertumpahan darah yang terjadi memunculkan pemikiran bahwasanya toleransi antar masyarakat terjadi jika menghilangkan kekuasaan Gereja atas politik. Salah satu fenomena penting dalam sejarah abad pertengahan di Eropa adalah upaya gereja kristen memperoleh dan memelihara kekuatan politiknya. Setelah beratus-ratus tahun lamanya dibawah penindasan Imperium Romawi, akhirnya agama Kristen pun dapat menghirup udara kebebasan.

Konflik bermula pada pertengahan abad ke-11 saat seorang paus bernama Gregorius melarang keterlibatan raja dalam urusan pengangkatan pejabat gereja. Paus berargumen penuh bahwa yang berhak mengangkat ataupun memberhentikan uskup adalah Paus, bukan kaisar.

Di zaman ini pula lahirlah institusi Gereja yang kejam nan jahat yaitu Inquisisi. Metode ini digunakan oleh Gereja protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum katolik di daerah mereka yang berlangsung hingga akhir abad ke-17.

Inquisisi yang penuh dengan siksaan dan pembakaran terhadap korban ini justru dilakukan oleh orang-orang tersuci yang bertindak atas perintah wakil kristus. Dendam masyarakat barat ini kepada tokoh Agama membawa pengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang Agama. Hal ini juga menjadi trauma bagi masyarakat barat yang kemudian lahirlah daripadanya paham sekularisme, bahwa antara Agama dan negara harus dipisahkan.

Agama dianggap sebagai wilayah pribadi, dan negara sebagai wilayah publik.

b. Problema teks dalam Bible.

Hingga kini penulis bible masih merupakan misteri bagi agama kristen sendiri.

Sejatinya, dalam buku tertua di dunia, tidak pernah tercatat bahwa Moses adalah penulis kitab suci agama kristen. Cetakan pertama dari The New Tastement hadir dengan bahasa Greek di Spanyol pada tahun 1514. Mereka menyadari rumitnya memahami bahasa Greek dalam bible dengan banyaknya naskah menyebabkan keanekaragaman teks dalam bible.

(9)

6

Hingga pada tahun 1519, terbitlah edisi kedua dari The New Testament dalam bahasa Yunani. Teks inilah yang digunakan untuk menerjemahkan bible dalam bahasa Jerman dan Inggris. Penggunaan bahasa dalam beberapa teks bible dengan versi yang berbeda-beda pun menimbulkan banyak kesalahpahaman dalam mengartikan maksud teks tersebut.

c. Problema Teologi Kristen

Kekacauan para pemikir kristen di dunia barat memberikan pengaruh besar bagi simpangsiur dalam kultural barat sendiri. Jika dilihat dengan cermat maka titik problem itu terletak pada para ilmuwan dan pemikir yang dipaksa untuk tunduk pada teks bible dan otoritas Gereja. Maka tidak sedikit hasil pemikiran para ilmuwan mengalami benturan dengan paksaan ini.

Tentang konsep ketuhanan Yesus pun terdapat keyakinan bahwa Yesus bukan berasal dari zamannya, tetapi dari konsili Nicea yang dipimpin oleh seorang kaisar konstantin. Begitu juga dengan “penyaliban “ dan “ kebangkitan “ yang merupakan doktrin utama dalam teologi Kristen, maka timbulah berbagai jenis perdebatan. Diantaranya pun menceritakan tentang kubur Yesus yang kosong. Maka lahirlah pertanyaan-pertanyaan atas sosok Yesus merupakan fiktif atau simbolik.

Terlihat bahwa pemikiran kaum Kristen tentang Yesus berbeda satu dengan lainnya.

Padahal iman sendiri mestilah mendahulukan pemahaman terlebih dahulu dan akan selalu melampaui pemahaman. Teologi maupun Kristologi hanyalah sebuah sarana. Dalam Kristologi tidak membicarakan tentang Yesus Kristus melainkan pikiran orang-orang tentang Yesus.

Kepelikan para Teolog sejak zaman dahulu yang merumuskan pemahaman Yesus tidak pernah mencapai titik temu, karena jelas bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan dalam teks Bible manapun. Adapun yang mereka temukan adalah seluruh hakekat sifat kemanusiaan dalam diri Yesus. Problem teologi Kristen ini membentuk sikap “ traumatis” dalam diri masyarakat barat.

3. Kritik dari prespektif keilmuwan

Tantangan terbesar muncul saat ini adalah tantangan ilmu, yang mana penyebarannya dihiasi dengan peradaban barat. Hakikat ilmu pun menjadi tidak hakiki akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ilmu yang seharusnya membawa keselamatan justru selalu menghasilkan kekeliruan. Barat ini menyebarkan serta merumuskan pandangannya terhadap kebenaran dan realitas bukan berdasarkan ilmu dan agama, melainkan beradasarkan tradisi kebudayaan yang diperkuat dengan filosofi-filosofi bercampurkan spekulasi yang meragukan.

(10)

7

Kecintaan barat terhadap dunia serta manusia dengan semangat penelitian. Membuat barat, memiliki rasa dan keinginan yang tak terpuaskan untuk melakukan pencarian tanpa henti. Konsep ilmu yang diajarkan kaum sekularis ini menegaskan dalam penuhanan atas manusia dan tuhan dimanusiakan. Maka diperlukan perubahan system pengaturan dan penyebaran ilmu-ilmu pengetahuan dalam lembaga-lembaga pendidikan.

Satu konsep yang paling jelas, komprehensif dan mendalam yang ditemukan di dalam Alquran adalah konsep ilmu. Tentu, dalam kedudukannya yang penting ini, ilmu hanya merupakan turunan dari tauhid (mengesakan) yang merupakan tema sentral dan konsep dasar Alquran. Ide tentang ilmu inilah yang membedakan pandangan dunia (worldview) Islam dengan semua paham dan ideologi dunia. Penolakan terhadap paradigma ilmu Barat tidak berarti menafikan beberapa persamaan diantara sains modern dan agama Islam.

Seperti halnya kesatuan cara mengetahui secara nalar, kombinasi realisme dan pragmatis sebagai pondasi bagi filsafat sains dan prosesnya Agama adalah petunjuk Allah yang pamungkas, yang datang setelah insting dan akal. Oleh karenanya, tidak akan pernah ada kontradiski antara akal dan agama (wahyu). Wahyu datang melengkapi keterbatasan- keterbatasan akal.

Sampai di situ perjalanan akal berakhir, datanglah peran wahyu yang menjawab berbagai pertanyaan tentang Tuhan yang akal tidak akan mampu menjawabnya. Sebagai sebuah pandangan hidup (worldview), Islam tidak hanya mengatur sisi interaksi manusia dengan Allah SWT, tapi ia menyerambah ke setiap sudut kehidupan manusia.

Dalam menyikapi kehidupan dunia ini, sikap Islam sangat bijak dengan menyatakan bahwa tujuan utama manusia adalah akhirat, kendati demikian ia tidak boleh lalai dan menyepelehkan urusan dunianya. Oleh karenanya, dunia hendaknya ladang untuk berkarya dalam kerangka ibadah dengan cakupannya yang luas.

Berbagai penolakan lahir atas penafsiran yang final terhadap sesuatu masalah, terlebih dalam masalah-masalah agama. Keadaan inilah yang kelak menimbulkan rentetan kekacauan dalam ilmu, akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan. Hermeneutika teks-teks agama Barat bermula dengan masalah-masalah besar seperti diantaranya ketidakyakinan atas otentitas teks-teks mereka karena ketiadaan bukti material yang paling awal. Disamping itu ketiadaan tradisi mutawatir dan ijma’ maka tidak ada pula manusia-manusia yang menghafal teks-teks yang hilang itu. Maka dalam agama Islam selalu melihat latar belakang sebuah ilmu sebelum mengadopsinya.

4. Bahayanya Terhadap Agama

Di dalam sistem sekuler, pemerintah pun juga tidak dapat mencampuri urusan agama bahkan sebaliknya. Munculnya paham sekularisme ini di benua Eropa karena pengalaman buruk daerah-daerah Eropa terhadap peran agama dalam pemerintahan maupun kehidupan sosial keagamaan. Penerapan sistem sekuler pada negara-negara Eropa menjadikan

(11)

8

masyarakat berkembang bebas dari kungkungan dogma-dogma agama yang pada waktu itu sangatlah mendominasi.

Bentuk dari sekularisme di antaranya adalah tidak peduli dengan urusan agama, landasan hukumnya adalah hak asasi manusia dan lain ideologi saintisme sebagainya. Bahkan pada saat ini sekularisme bertumbuh menjadi sebuah trend bagi anak muda dengan gaya hidup ala kebarat-baratan, jauh dari nilai sosial budaya yang telah berlaku di Indonesia ini.

Sekularisme sangat menggoda penghayatan hidup manusia dalam aspek keagamaan dan keimanan. Sekularisme menggoda manusia dalam hal godaan materi. Sering sekali sekularisme menggoda diri manusia dan mendorong manusia untuk bersikap melampaui batas yang telah ditentukan oleh ajaran agama.

Sehingga seolah-olah manusia beragama lupa apa saja yang telah diajarkan agama dan menyesuaikan diri dengan ciri-ciri dari sekularisme. Misalnya ketika kita sedang bekerja terdapat beberapa teman yang sudah memiliki pengetahuan letak-letak yang bisa dijadikan celah untuk melakukan kecurangan yaitu meraup materi yang lebih banyak. Di tempat itu itu namanya korupsi sebagai godaan materi.

Bahkan dengan melebihkan isi tagihan nota yang tidak sesuai dengan harga aslinya alias mark up. Namun karena kita menilai bahwa itu sesuatu yang salah, maka kita tidak boleh mengikutinya. Banyak sekali hal-hal yang mungkin dapat kita lakukan untuk menjadi seperti orang-orang di lingkungan perkuliahan atau tempat umum namun karena tetap mengetahui bahwa itu adalah hal yang salah, maka kita tidak mengikutinya dan tidak juga langsung menolak secara terang-terangan. Karena kita menghargai mereka.

Dalam Islam, sekularisme tidak dapat diterima karena bertentangan dengan ajaran Islam. Karena menurut pandangan Islam apabila sebuah urusan dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan maka urusan itu akan bertabrakan dengan nilai-nilai yang terdapat pada urusan yang lain. Misal kekuasaan yang tidak dilandasi dengan nilai-nilai agama, maka akan terjadi kezaliman, timbul kerusuhan sosial, ekonomi terganggu, dan seterusnya.

Jadi, dari sudut pandang Islam banyak sekali kerugian yang akan ditimbulkan daripada keuntungannya. Islam memang menghargai paham yang dianut orang, bangsa, negara, dan pemeluk agama lain. Namun Islam mewanti-wanti orang agar tidak menyebarkan paham yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

C. Agama dan Tuhan Dalam Pandangan Tokoh Atheis

Menurut para tokoh atheis Charles Robert Darwin dalam bukunya “The Origin of Species” yang menyimpulkan Tuhan tidak berperan dalam penciptaan., Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup, namun semua itu disebabkan kondisi-kondisi alam secara natural. Sehingga sifat dari pada itu semua bertujuan menuju sekularisasi ilmu pengetahuan..

adapun menurut tokoh atheis lainnya yaitu Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka menegaskan doktrin-doktrin agama adalah ilusi. Agama sangat tidak sesuai dengan realitas

(12)

9

dunia. Menurutnya, bukan agama yang menciptakan karya ke arah ilmu pengetahuan, akan tetapi karya ilmiah yang dapat diukur secara empiris untuk menghasilkan ilmu pengetahuan.

Itulah fenomena yang terjadi dalam filsafat ilmu Barat. Menurut mereka Filsafat ilmu Barat yang sekular bertumpu pada akal semata dan menolak wahyu sebagai sumber ilmu seluruh penciptaan alam. Konsep berpikir tentang Tuhan oleh Barat berlandaskan konsep

“ada” dan “tiada,” dalam hal ini “ada” artinya terlahir di dunia dan memiliki zat dan sifat yang nyata. Sedangkan “tiada” memiliki konsep hilang dari dunia yang tidak berbentuk zat dan tidak memiliki sifat tertentu. Hasil dari hal ini adalah terpinggirkannya eksistensi Tuhan ke wilayah yang lebih irasional. Sejauh ini, pendukung ateisme lebih mengedepankan akal dalam memandang sains melalui paham kebendaan.

Richard C. Lewontin yang juga salah satu tokoh atheis menyatakan bahwa paham kebendaan itu mutlak karena ateis tidak bisa menerima kehadiran pribadi Illahi. Maka para penganut paham kebendaan memeluk satu-satunya alternatif yang ada, yaitu evolusi materi.

Oleh karena itu, ateisme menganggap asal mula kehidupan disebabkan oleh benda atau materi.

Selain itu, Stephen Hawking menyatakan dirinya ateis, ia pun menawarkan penjelasan yang lebih masuk akal tentang asal-usul alam semesta daripada agama. Ia berpendapat bahwa untuk mengenal sains maka unsur Tuhan harus dipisahkan (sains dan Tuhan tidak bisa bersama), sehingga sains itu natural. Selain itu, manusia dapat memahami pikiran Tuhan dengan cara melihat pembuktian simbolik realitas Tuhan yang berbentuk fisik. Oleh karena itu, Hawking berusaha memisahkan antara sains dan Tuhan dengan menjelaskan keyakinan bahwa alam semesta adalah hasil fenomena yang bisa dijelaskan secara sains, serta bukan oleh karena Tuhan. Di antara ungkapannya terdapat dalam buku “A Brief of Time From The Big Bang to Black Holes,” dimana Hawking menyebutkan “we would know the mind of God”, kita akan dapat mengetahui semua yang diketahui Tuhan, Jika memang Tuhan itu ada. Tapi nyatanya Tuhan tidak ada.

D. Dampak Sekularisme dan Atheisme Dalam Kehidupan

Dampak yang ditimbulkan oleh adanya sekularisme dan ateisme banyak terjadi dimasyarakat seperti skeptisisme yaitu memandang sesuatu selalu tidak pasti, artinya ketidakpercayaan atau keraguan seseorang terhadap sesuatu yang belum tentu kebenarannya.

Serta adanya pikiran lebih percaya terhadap hal yang rasional dan dibuktikan dengan fakta yang ada. Sementara realitas simbolik dan metafisik seperti wujud Allah dianggap semu sebagai hasil dari evolusi realitas materi. Sekularisme adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.

(13)

10

Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan bebas dari pemaksaan kepercayaan. Dampak sekularisme di masyarakat contohnya di negara mayoritas Kristen banyak terjadi penurunan pengunjung gereja dan tidak adanya kepercayaan terhadap agama tentang ilmu pengetahuan dan politik. Munculnya juga dengan kelompok muslim jughrafi yang dinamakan oleh Yusuf Qardhawi, yaitu orang-orang yang hidup di dunia islam namun pemikiran mereka tidak islami.

Pada bidang Pendidikan berdampak pada cara mendidik siswa yang digiring kea rah sekularisme, kebebasan beragama, berbicara, bertingkah laku. Anak-anak digiring jauh dari aturan agamanya. Dipaksa untuk mengikuti perayaan agama lain atas dalih toleransi.

Disodorkan oleh tayangan-tayangan yang sama sekali tak mendidik, tak menjadikan mereka generasi yang soleh dan bertakwa. Justru sebaliknya, anak-anak diarahkan untuk menikmati kehidupan sebatas materi, kebebasan dalam segala hal.

Dalam aspek berdampak pada seorang yang ketika ingin taat syariat, namun dipandang sebelah mata, aneh, dan di bully oleh orang disekitarnya. Dalam peradilan pun demikian, muslim tak bisa melaksanakan system sanksi dalam islam. Pada bidang politik system sekularisme se akan-akan ditoleransi, karena sedikitnya penerapan agama di bidang politik karena dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan dunia perpolitikan

E. Penolakan dan Kritik Islam Terhadap Paham Sekularisme

Telah banyak para ulama yang memberikan kritik terhadap paham sekularisme dan atheisme salah satunya yaitu Syaikh Yusuf Qardawi, seorang ulama, cendeekiawan, sastrawan yang sangat disegani baik di dunia islam maupun barat, beliau dianggap menguasai keilmuan klasik islam dan keilmuan modern islam.

Kritikan Yusuf Qardhawi terhadap sekularisme pada karyanya dalam buku yang berjudul Al-Islam Wal-‘Ilmaniyah (islam dan sekularisme), Hatmiyatu Al-Hillul Islamiy (perlunya solusi islam), Al-Islamu Kama Nu’minu Bihi (islam yang kita imani). Yusuf Qardhawi tidak hanya membahas tentang sekularisme tetapi juga memberikan solusi bagi umat islam dalam menghadapinya, solusi yang diberika diantaranya adalah agar umat islam kembali kepada ajaran islam yang benar yaitu islam yang diturunkan oleh Allah Swt dengan menjadika Al- Quran dan Muhammad SAW (sunnah) sebagai pedoman hidup di dunia serta menjalankan ibadah, akhlak, adat-istiadat seperti yang telah ditetapkan oleh islam dalam ajarannya.

Menurut Nurcholis Madjid atau yang biasa dikenal cak Noer sekularisme adalah untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat dunia, dan melepaskan ummat islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawikannya, atau proses penduniawian, beliau menambahkan bahwa sekularisme bertentangan dengan agama khusunya agama islam. Sebab islam mengajarkan tentang hari kemudian (akhirat), dan orang islam wajib meyakininya.

(14)

11

Yusuf Qardhawi telah memprediksi akan kemunculan paham sekularisme khususnya di dunia islam. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa telah terjadi konflik antara pemikiran islam, pemikiran sekuler, dan pemikiran atheis. Konflik terjadi karena adanya kolonialisme yang mencengkram dunia islam dan penjajah mencabut islam hingga ke akar-akarnya. Dengan begitu munculah apa yang dinamakan muslim jughrafi yaitu orang yang hidup di dunia islam tapi tidak berpikiran islam.

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa sekularisme dan atheisme adalah suatu ideologi yang harus dihapuskan karena berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat dari segi duniawi maupun ukhrowi. Karena sebagaimana dalam suatu masalah maka penganut agama akan lebih mendekatkan kepada tuhan untuk menenangkan hatinya dan meminta nasihat kepada pemuka agama untuk solusinya. Dan bagaimanapun juga dunia dan seisinya ada yang menciptakan dan mengaturnya.

(15)

12

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

Sekularisme adalah konsep atau ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Ideologi ini berpendapat bahwa sistem pemeintahan harus dipisahkan dari segala hal yang berbau agama. Ideologi ini lahir karena adanya perselihan terkait pengangkatan uskup yang menurut paus tidak boleh adanya campur tangan raja, terjadinya pemberontakan antar warga yang memunculkan pemikiran bahwa toleransi akan muncul jika tidak adanya campur tangan agama. Pada sekitar abad ke 11 lahirlah institusi gereja yang kejam nan jahat yaitu inquisisi, metode ini digunakan untuk penindasan dan kontrol oleh kaum protestan kepada kaum katolik. Peristiwa inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan kepercayaan masyarakat terhadap gereja.

Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan bebas dari pemaksaan kepercayaan. Dampak sekularisme di masyarakat contohnya di negara mayoritas Kristen banyak terjadi penurunan pengunjung gereja dan tidak adanya kepercayaan terhadap agama tentang ilmu pengetahuan dan politik. Munculnya juga dengan kelompok muslim jughrafi yang dinamakan oleh Yusuf Qardhawi, yaitu orang-orang yang hidup di dunia islam namun pemikiran mereka tidak islami.

SARAN

Berdasarkan data diatas penulis menyarankan bahwa :

 Masyarakat lebih mendalami pemahaman terkait agama.

 Menghindari doktrin terkait sekularisme dan atheisme.

 Mempelajari tentang atheisme dan sekularisme.

(16)

13

DAFTAR PUSTAKA

Prayogo, T.I., & Fathurrizka, H. (2019). Ateisme dalam Perspektif Barat dan Timur. Kalimah: Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam, 17(1), 101-116. Diperoleh dari

https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/kalimah/article/download/2943/2056

Ismail, M.S. (2014). Kritik terhadap Sekularisme: Pandangan Yusuf Qardhawi. Kontekstualita, 29(1), 101- 126. Diperoleh dari https://media.neliti.com/media/publications/145768-ID-kritik-terhadap- sekularisme-pandangan-yu.pdf

Purnamasari, H. Islam dan Sekularisme

Referensi

Dokumen terkait

Islam dianggap tidak toleran terhadap agama lain, terutama terhadap umat Hindu dan juga dianggap sebagai ekspansionis yang agresif.. Secara sosiologis dan psikologis,

Konsep-konsep ilmu ini membahas ilmu mulai dari definisi, pemetaan, objek, sumber-sumber ilmu, prinsip-prinsip dasar, epistemologi Islam, metodologi, adab dan

Bahkan beliau menambahkan: ”seandainya agama Islam adalah agama yang paling benar, kenapa Tuhan tidak menggunakan kekuasaannya untuk menjadikan/memberikan Hidayah kepada semua

Yusuf Qardhawi membagi katagori zakat ke dalam sembilan katagori; zakat binatang ternak, zakat emas dan perak yang juga meliputi uang, zakat kekayaan dagang, zakat hasil pertanian

Dalam menjawab problematika dan tantangan yang dihadapi pendidikan Islam, maka ada beberapa solusi alternatif yang bisa dilakukan, antara lain paradigma baru pendidikan

Peradaban Islam sering difahami segolongan besar umat Islam sebagai fakta-fakta sejarah tentang kegemilangan umat Islam pada masa silam. Oleh itu ia memberikan indikasi yang

 Sebagai pisau analisis masalah umat islam iaitu , memanfaatkan psikologi untuk menjelaskan masalah umat Islam serta meningkatkan sumber daya umat , namun seringkali

Makalah ini membahas tentang tingkah laku massa dalam perspektif psikologi agama dan penerapannya dalam pendidikan