• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Auditing

Pengertian auditing menurut Arens dan Loebbecke (2000;2) adalah sebagai berikut:

“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent independent person”.

Menurut Boynton dan Kell (2000;6) auditing dapat didefinisikan sebagai berikut:

“A systematic process of objectively obtaining and evaluation evidence regarding assertions about economic actions and events assertions the degree of correspondence between those assertions and establish criteria and communication the result to interested users”.

Pengertian auditing menurut Sukrisno Agoes (2000;1) adalah sebagai berikut:

“Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sisrtematis, oleh pihak yang independen terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

Laporan keuangan yang harus diperiksa terdiri dari Neraca, Laporan Rugi Laba, Iktisar Perubahan Modal, Iktisar Perubahan Laba Ditahan, serta Laporan Arus Kas.

Catatan-catatan pembukuan terdiri dari buku harian, buku besar, serta sub buku besar.

Dalam melakukan pemeriksaannya, akuntan publik berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik, akuntan publik harus merencanakan pemeriksaannya sebelum pemeriksaannya dimulai dengan membuat AUDIT PLAN.

9

(2)

Akuntan publik juga harus independen, karena sebagai orang kepercayaan masyarakat harus bekerja secara objective, tidak memihak ke pihak manapun dan melaporkan apa adanya. Laporan keuangan yang wajar adalah yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum (SAK).

Menurut Mulyadi dan Kanaka (2000;7) definisi auditing memiliki unsur-unsur penting yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Suatu Proses Sistematik. Auditing merupakan suatu proses sistematik, yaitu berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, bererangka dan terorganisasi. Auditing dilaksanakan dengan suatu rangkaian langkah yang direncanakan, terorganisasi, dan bertujuan.

Untuk Memperoleh dan Mengevaluasi Bukti Secara Objektif. Proses sistematik tersebut ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti-bukti tersebut.

Pernyataan Mengenai Kegiatan dan Keterjadian Ekonomi. Yang dimaksud pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi disini adalah hasil proses akuntansi.

Dimana proses akuntansi ini menghasilkan suatu pernyataan yang disajikan dalam laporan keuangan, yang umumnya terdiri dari empat laporan keuangan pokok antara lain:

neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, serta laporan arus kas. Laporan keuangan dapat pula berupa laporan biaya pusat pertanggungjawaban tertentu dalam perusahaan.

Menetapkan Tingkat Kesesuaian. Pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kriteria yang Telah Ditetapkan. Mengenai kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan (yang berupa hasil proses akuntansi) dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Peraturan yang telah ditetapkan oleh suatu badan legislative.

2. Anggaran atau ukuran prestasi lain yang telah ditetapkan oleh manajemen.

3. Prinsip akuntansi berlaku umum (Generally accepted accounting principles).

(3)

Auditor independen menggunakan prinsip akuntansi berlaku umum dalam menilai laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan.

Penyampaian Hasil. Penyampaian hasil auditing disebut dengan atestasi (attestation).

Penyampaian ini dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report).

Sedangkan atestasi dalam bentuk laporan tertulis serta dapat digunakan untuk menaikkan/menurunkan tingkat kepercayaan bagi pemakai informasi keuangan atas asersi yang dibuat oleh pihak yang diaudit.

Pemakai yang Berkepentingan. Dalam dunia bisnis, pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan seperti: pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor dan kreditur, organisasi buruh serta kantor pelayanan pajak.

2.2 Jenis Audit

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2000;4) audit dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan dilaksanakannya audit. Dalam hal ini jenis audit terbagi dalam tiga kategori yakni: audit laporan keuangan, audit operasional, serta audit ketaatan.

2.2.1 Audit Laporan Keuangan

Audit laporan keuangan bertujuan untuk menilai apakah laporan keuangan secara keseluruhan yang merupakan informasi terukur yang akan di verifikasi telah disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. Umumnya kriteria itu adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Asumsi dasar dari suatu audit laporan keuangan yakni bahwa laporan tersebut akan dimanfaatkan bagi kelompok-kelompok berbeda untuk maksud yang berbeda pula.

Oleh karena itu, jauh lebih efisien apabila memperkerjakan satu auditor untuk melaksanakan audit dan membuat kesimpulan yang dapat diandalkan oleh semua pihak dari pada membiarkan masing-masing pihak melakukan audit sendiri-sendiri. Jika ada pihak yang merasa bahwa audit umum yang dilakukan tersebut tidak sanggup memberikan informasi yang memadai, ia tetap mempunyai kesempatan untuk memperoleh data tambahan.

(4)

2.2.2 Audit Operasional

Audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari prosedur serta metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya. Umumnya pada saat selesainya audit operasional, auditor akan memberikan sejumlah saran kepada manajemen untuk memperbaiki jalannya operasi perusahaan.

Pelaksanaan audit operasional dan hasil yang dilaporkan lebih sulit untuk didefinisikan dari pada jenis audit lainnya. Efisiensi dan efektifitas operasi suatu organisasi jauh lebih sulit pengevaluasiannya secara objektif dibandingkan penerapan dan penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Kriteria yang digunakan untuk evaluasi informasi terstruktur dalam audit operasional cenderung subjektif. Dalam hal ini, audit operasional lebih merupakan konsultasi manajemen dari pada audit.

2.2.3 Audit Ketaatan

Audit ketaatan bertujuan mempertimbangkan apakah audit (klien) telah mengikuti prosedur/aturan tertentu yang telah ditetapkan pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi.

Hasil dari audit ketaatan biasanya tidak dilaporkan kepada pihak luar, tetapi kepada pihak tertentu dalam suatu organisasi. Pimpinan suatu organisasi adalah pihak yang paling berkepentingan atas dipatuhinya prosedur serta aturan yang telah ditetapkan.

2.3 Proses Auditing

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2002;132), proses audit didefinisikan sebagai berikut:

“Proses audit adalah metodologi penyelenggaraan audit yang jelas untuk membantu auditor dalam mengumpulkan bahan bukti pendukung yang kompeten”.

Oleh karenanya, metodologi yang digunakan dalam proses audit harus sesuai dengan prosedur dan kriteria yang ditetapkan, sehingga nantinya dapat memperoleh bahan bukti audit yang benar-benar kompeten serta dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh auditor dalam melaksanakan tugasnya.

(5)

Merencanakan dan Merancang Pendekatan Audit

Perencanaan audit merupakan suatu hal yang sangat vital. Perencanaan audit berguna untuk mengkoordinasikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan audit.

Menurut Arens dan Loebbecke (2000;187) yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf ada tiga alasan utama mengapa auditor harus merencanakan penugasannya dengan baik yaitu: untuk memperoleh bahan bukti yang kompeten yang cukup dalam situasi itu, untuk membantu menekan biaya audit, serta untuk menghindari salah pengertian dengan klien.

Pengujian Pengendalian dan Transaksi

Tahap kedua ini adalah tahapan dimana auditor melakukan pengumpulan bahan bukti yang mendukung kebijakan dan prosedur pengendalian spesifik yang berperan terhadap tingkat resiko pengendalian yang ditetapkan, selain itu juga auditor mengumpulkan bahan bukti yang mendukung transaksi. Sejumlah besar bukti yang dikumpulkan adalah bukti yang mendukung jumlah-jumlah dalam laporan keuangan mencakup pola dokumentasi transaksi.

Melaksanakan Prosedur Analitis dan Pengujian Terinci atas Saldo

Terdapat dua kategori pada prosedur tahap tiga, yaitu prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo. Prosedur analitis digunakan untuk menetapkan kelayakan transaksi dan saldo secara keseluruhan. Pengujian atas saldo adalah prosedur khusus untuk menguji kekeliruan moneter dalam saldo-saldo laporan keuangan. Pengujian saldo akhir ini penting sekali dalam pelaksanaan audit karena kebanyakan bahan bukti audit diperoleh dari sumber yang independen dari klien, oleh karena itu bahan bukti tersebut dianggap memiliki mutu tinggi.

Menyelesaikan Audit dan Menerbitkan Laporan Audit

Setelah audit menyelesaikan semua prosedur, maka perlu untuk menggabungkan seluruh informasi yang didapat untuk memperoleh kesimpulan menyeluruh mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan. Jika audit telah diselesaikan, kantor akuntan publik harus mengeluarkan laporan audit yang menyertai laporan keuangan klien yang diterbitkan. Laporan itu harus memenuhi persyaratan teknis yang jelas, yang dipengaruhi oleh ruang lingkup audit dan sifat temuan auditor.

(6)

2.4 Tujuan Audit

Menurut Mulyadi dan Kanaka (2000;67) tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran laporan keuangan dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Kewajaran laporan keuangan dinilai berdasarkan asersi yang terkandung dalam setiap unsur yang disajikan dalam laporan keuangan. Asersi (assertion) adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam komponen laporan keuangan. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau eksplisit.

2.5 Pengertian Kantor Akuntan Publik (KAP)

Dalam keputusan Menteri Keuangan RI No 43/ KMK / 0.17 / 1997 mengenai jasa akuntan publik, pasal 1 butir b mendefinisikan Kantior Akuntan Publik sebagai berikut:

“Lembaga yang memiliki izin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam menjalankan pekerjaannya”.

Lembaga tersebut memiliki kewenangan yang besar dan nantinya lembaga itu akan bekerjasama dengan auditor dalam melaksanakan pekerjaannya terutama yang berhubungan dengan audit atas laporan keuangan.

2.5.1 Kategori Kantor Akuntan Publik

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2000;11) terdapat empat kategori ukuran kantor akuntan publik, yaitu:

1. Kantor Akuntan Publik International

Terdapat enam kantor akuntan publik terbesar di Amerika Serikat yang disebut sebagai kantor akuntan publik internasional dan mempunyai julukan “The Big Six”. Masing-masing memiliki kantor di setiap kota-kota besar di Amerika Serikat dan di banyak kota besar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia “The Big Six” ini diwakili oleh kantor akuntan publik Indonesia sendiri. KAP “The Big Six” dan mitranya di Indonesia saat ini, disusun menurut abjad adalah sebagai berikut:

(7)

The Big Six Mitra Indonesia Arthur Andersen Prasetio Utomo & Co

Coopers Lybrand International Siddharta & Siddharta Delloit Touch Tohmatsu Hans Tuanakotta Mustofa Ernest Young International Santoso Harsokusumo & Co KPMG Hanadi Sudjendro & Rekan Prince Waterhouse International Hadi Sutanto & Rekan 2. Kantor Akuntan Publik Nasional

Beberapa KAP lainnya di Amerika Serikat yang dianggap cabang-cabang sebagai kantor akuntan publik berukuran nasional karena memiliki cabang-cabang di seluruh kota besar Amerika Serikat. KAP ini memberikan pelayanan yang sama dengan “The Big Six” dan melancarkan persaingan langsung dengan mereka dalam hal menarik klien.

3. Kantor Akuntan Publik Lokal dan Regional

Sebagian kantor akuntan publik di Indonesia merupakan kantor akuntan publik lokal dan regional, dan terutama sekali terpusat di pulau jawa. Kantor akuntan publik ini pun bersaing dengan perusahaan lain dalam menarik klien termasuk bersaing dengan KAP Internasional dan nasional.

4. Kantor Akuntan Publik Lokal Kecil

Sebagian kantor akuntan publik di Indonesia mempunyai kurang dari 25 orang tenaga profesional pada satu KAP. Mereka memberikan jasa audit dan pelayanan yang berhubungan dengan itu terutama bagi badan-badan usaha kecil serta organisasi nirlaba meskipun ada diantaranya yang melayani satu dua perusahaan yang go publik.

2.6 Pengertian Bukti Audit

Menurut Mulyadi (2000;17) pengertian bukti audit adalah sebagai berikut:

“Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya”.

(8)

Pengertian bukti audit menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2002;2) adalah sebagai berikut:

“Bukti audit diartikan sebagai informasi yang digunakan auditor untuk menentukan apakah informasi kuantitatif yang sedang diaudit disajikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Luasnya informasi sangat bervariasi dalam meyakinkan auditor apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2.6.1 Keputusan Bahan Bukti Audit

Keputusan utama yang dihadapi setiap auditor adalah penentuan jenis dan jumlah bahan bukti yang memadai yang harus dikumpulkan untuk memastikan bahwa komponen laporan keuangan klien dan keseluruhan laporan telah disajikan dengan wajar. Menurut Mulyadi dan Kanaka (2000;25) dalam proses pengumpulan bukti audit, auditor melakukan empat pengambilan keputusan yang saling berkaitan, yaitu:

1. Penentuan prosedur audit yang digunakan

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2002;14) prosedur audit dapat didefinisikan sebagai berikut:

“Prosedur audit adalah suatu ketentuan yang harus ditaati untuk mengumpulkan tipe bukti audit tertentu yang diperoleh pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan”.

Di samping auditor memakai prosedur audit yang disebutkan dalam standar tersebut, auditor melaksanakan berbagai prosedur audit lainnya untuk mengumpulkan bukti audit yang akan dipakai sebagai dasar dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.

2. Penentuan besarnya sampel untuk prosedur audit tertentu

Jika prosedur audit telah ditetapkan, auditor dapat menentukan besarnya sampel yang berbeda dari satu unsur dengan unsur yang lain dalam populasi yang sedang diperiksa. Keputusan mengenai banyak unsur yang harus diuji harus diambil auditor untuk setiap prosedur audit. Besarnya sampel akan berbeda-beda diantara audit yang satu dengan audit yang lain serta dari prosedur yang satu ke prosedur yang lain.

(9)

3. Penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi

Setelah besarnya sampel ditentukan untuk prosedur audit tertentu, auditor masih harus memutuskan unsur mana yang akan dipilih sebagai anggota sampel untuk diperiksa.

4. Penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur audit tersebut

Audit atas laporan keuangan biasanya mencakup suatu periode seperti satu tahun.

Saat pelaksanaan prosedur audit dapat bervariasi dari permulaan periode akuntansi sampai lama setelah periode tersebut berakhir. Dalam audit atas laporan keuangan, klien biasanya menginginkan audit selesai satu atau tiga bulan setelah akhir tahun.

2.6.2 Jenis Bahan Bukti Audit

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2002;98) terdapat tujuh kategori bahan bukti yang dapat dipilih auditor yaitu sebagai berikut:

1. Pemeriksaan fisik (physical examination)

Pemeriksaan fisik adalah inspeksi atau perhitungan aktiva berwujud oleh auditor.

Bahan bukti jenis ini sering dihubungkan dengan persediaan dan kas, tetapi dapat diterapkan juga untuk verifikasi efek-efek, wesel tagih, dan aktiva tetap berwujud.

Pemeriksaan fisik sebagai alat yang langsung digunakan untuk memverifikasi apakah suatu aktiva secara aktual ada, dianggap sebagai salah satu bahan bukti yang paling handal dan berguna.

2. Konfirmasi (confirmation)

Konfirmasi dapat diartikan sebagai penerimaan jawaban tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen dalam memverifikasi akurasi informasi yang telah diminta oleh auditor. Karena konfirmasi berasal dari sumber yang independen dari klien, konfirmasi menjadikan bahan bukti yang dianggap bernilai tinggi dan sering dipakai. Menurut SA seksi 330 terdapat tiga jenis konfirmasi, yaitu:

a. Konfirmasi positif dengan informasi yang dipasok oleh pihak yang ditanya.

Konfirmasi bentuk ini berarti bahwa konfirmasi diminta untuk mengembalikan konfirmasi dalam kondisi apapun.

(10)

b. Konfirmasi positif dengan informasi yang akan dikonfirmasi yang tertera dalam formulir.

c. Konfirmasi negatif berarti bahwa penerima konfirmasi diminta menjawab hanya jika konfirmasinya salah.

3. Dokumentasi (documentation)

Dokumentasi biasanya disebut dengan pemeriksaan dokumen, merupakan pemeriksaan auditor atas dokumentasi dan catatan klien untuk mendukung informasi yang ada atau seharusnya ada dalam laporan keuangan. Dokumen yang diperiksa oleh auditor adalah catatan yang digunakan klien untuk meyediakan informasi dalam melaksanakan usahanya dalam kondisi yang terorganisasi.

4. Pengamatan (observation)

Pengamatan adalah penggunaan perasaan untuk menetapkan aktivitas tertentu.

Dalam keseluruhan audit akan ada banyak kesempatan untuk melihat, menyentuh, dan mencium untuk mengevaluasi bermacam benda.

5. Wawancara dengan klien (inquiry of the client)

Tanya jawab adalah mendapatkan informasi tertulis atau lisan dari klien dengan menjawab pertanyaan dari auditor. Meskipun sebagai bahan bukti yang diperhitungkan dapat diperoleh dari klien melalui tanya jawab, biasanya tanya jawab tidak dapat diperlakukan sebagai kemampuan memberikan kesimpulan, karena didapat dari sumber yang tidak independen dan mungkin memihak kepentingan klien. Dengan demikian, apabila auditor memperoleh bahan bukti dengan tanya jawab, biasanya perlu untuk mendapatkan bahan bukti yang menguatkan melalui prosedur yang lain.

6. Hasil ulang (reperformance)

Pelaksanaan ulang mencakup pengecekan ulang suatu sampel perhitungan dan perpindahan informasi yang dilakukan klien selama periode yang diaudit.

Pengecekan ulang perhitungan berisi pengujian akurasi aritmatis klien.

7. Prosedur analitis (analytical procedures)

Prosedur analitis adalah prosedur yang menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menentukan apakah saldo akun tersaji secara layak.

(11)

2.6.3 Bahan Bukti yang Menyimpulkan

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2000;150) terdapat empat faktor yang menentukan apakah suatu bahan bukti dapat memberikan kesimpulan yaitu:

1. Relevansi

Bahan bukti harus berkaitan atau erat terhadap tujuan pengujian auditor sebelum dikatakan bersifat dapat menyimpulkan. Relevansi dapat dipertimbangkan hanya dalam hubungan tujuan spesifik audit. Bahan bukti mungkin hanya relevan untuk satu tujuan tetapi tidak relevan untuk tujuan yang lain.

2. Kompetensi

Kompetensi mengacu pada derajat dapat dipercayanya suatu bahan bukti.

Kompetensi bahan bukti hanya berkaitan dengan prosedur audit yang dipilih.

Kompetensi tidak dapat diperbaiki dengan memperbesar sampel atau memilih pos yang lain dari populasi. Kompetensi dapat diperbaiki hanya dengan memilih prosedur audit yang berisi satu atau lebih karakteristik bahan bukti yang kompeten sebagai berikut:

Independensi Penyedia Data. Bahan bukti yang diperoleh dari sumber di luar suatu satuan usaha akan lebih handal dari pada yang diperoleh dari dalam.

Efektifitas Pengendalian Internal. Jika pengendalian internal efektif, bahan bukti yang diperoleh darinya akan lebih handal dari pada kalau pengendalian internal lemah.

Pengetahuan yang Diperoleh Sendiri Oleh Auditor. Bahan bukti yang diperoleh sendiri oleh auditor melalui pemeriksaan fisik, pengamatan, perhitungan dan inspeksi akan lebih kompeten dibandingkan dengan informasi yang diperoleh secara tidak langsung.

Kualifikasi Organisasi yang Menyediakan Informasi. Meskipun sumber informasi independen, bahan bukti tidak handal jika orang yang menyediakan informasi tidak mempunyai kualifikasi untuk melakukan hal tersebut.

Tingkat Objektifitas. Bahan bukti yang objektif akan lebih handal dari pada bahan bukti yang memerlukan pertimbangan untuk menentukan apakah bahan tersebut sudah benar.

(12)

3. Kecukupan

Jumlah bahan bukti yang diperoleh menentukan kecukupannya. Jumlah diukur terutama dengan besar sampel yang dipilih auditor. Ada beberapa faktor yang menentukan kelayakan besar sampel dalam audit. Diantaranya ada dua yang paling penting yaitu perkiraan auditor atas terjadinya kekeliruan dan efektifitas struktur pengendalian intern. Disamping besar sampel, pos tertentu yang akan diuji akan mempengaruhi kecukupan bahan bukti.

4. Ketepatan waktu

Ketepatan waktu dari bahan bukti audit mengacu kepada kapan bahan bukti yang dikumpulkan atau periode yang dicakup oleh audit.

2.6.4 Kecukupan Bukti

Menurut Mulyadi dan Kanaka (2000;72) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor dalam menentukan cukup atau tidaknya bukti audit adalah sebagai berikut:

1. Materialitas dan resiko

Untuk akun yang saldonya besar dalam laporan keuangan diperlukan jumlah bukti audit yang lebih banyak bila dibandingkan dengan akun yang bersaldo tidak material. Untuk akun yang memiliki kemungkinan tinggi untuk disajikan salah dalam laporan keuangan, bahan bukti yang dikumpulkan lebih banyak dari pada akun yang memiliki kemungkinan kecil untuk disajikan salah dalam laporan keuangan.

2. Faktor ekonomi

Auditor harus mempertimbangkan faktor ekonomi di dalam menentukan jumlah dan kompetensi bukti audit yang dikumpulkan.

3. Ukuran dan karakteristik populasi

Dalam pemeriksaan atas unsur-unsur tertentu laporan keuangan, auditor seringkali menggunakan sampling audit. Dalam sampling audit, auditor memilih secara acak sebagian anggota populasi untuk diperiksa karakteristiknya. Semakin besar populasi, semakin banyak jumlah bukti audit yang diperiksa oleh auditor.

(13)

2.7 Sales and Collection Cycle

Sales and collection cycle meliputi keputusan dan proses yang diperlukan untuk mengalihkan kepemimpinan atas barang dan jasa yang telah tersedia untuk dijual kepada pelanggan.

Menurut Mulyadi dan Puradiredja (2000;42) terdapat lima golongan transaksi dalam sales and collection cycle, yaitu: a) penjualan tunai (termasuk penerimaan kas), b) penjualan kredit, c) retur penjualan, d) pencadangan piutang tak tertagih, serta e) penghapusan piutang tak tertagih.

2.7.1 Penjualan

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2000;39) terdapat empat fungsi usaha yang berkaitan dengan penjualan, yaitu sebagai berikut:

1. Pemrosesan order pelanggan

Permintaan barang oleh pelanggan merupakan titik awal keseluruhan siklus.

Biasanya ini merupakan penawaran untuk membeli barang dengan ketentuan tertentu. Permintaan order pelanggan akan menghasilkan order penjualan.

2. Persetujuan penjualan secara kredit

Sebelum barang dikirimkan seseorang yang berwenang dalam perusahaan harus menyetujui penjualan secara kredit ke pelanggan atas penjualan secara kredit.

3. Pengiriman barang

Fungsi kritis ini merupakan titik pertama dari siklus dimana terjadi penyerahan aktiva perusahaan. Kebanyakan perusahaan mengakui penjualan saat barang dikirimkan. Nota pengiriman disiapkan pada saat pengiriman, dan secara otomatis dilakukan oleh komputer berdasarkan informasi order penjualan.

4. Penagihan ke pelanggan dan pencatatan penjualan

Penagihan ke pelanggan merupakan alat pemberitahuan ke pelanggan mengenai jumlah yang ditagih atas barang tersebut, dan penagihan ini harus dilaksanakan dengan benar dan tepat waktu. Aspek terpenting dari penagihan adalah meyakinkan bahwa seluruh pengriman yang dilakukan telah tertagih, serta tidak

(14)

ada pengiriman yang ditagih lebih dari sekali, dan tiap pengiriman ditagih dengan jumlah yang benar.

Pada kebanyakan sistem, penagihan ke pelanggan mencakup pembuatan faktur penjulan rangkap dan secara simultan memutakhirkan berkas transaksi penjualan dan bersama-sama dengan penerimaan kas dan aneka kredit, memungkinkan penyiapan neraca saldo piutang usaha.

2.7.2 Penerimaan Kas

Menurut Arens dan Loebbecke yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf (2002;28) terdapat dua fungsi yang berkaitan dengan penerimaan kas yaitu pemrosesan dan penerimaan kas. Dalam pemrosesan dan penerimaan kas, perhatian yang paling utama adalah kemungkinan dicuri. Pertimbangan paling utama dalam penanganan penerimaan kas adalah seluruh kas harus disetor ke bank dalam jumlah yang benar serta tepat waktu dan dicatat di berkas transaksi penerimaan kas, yang digunakan untuk membuat jurnal penerimaan kas dan memutakhirkan berkas induk piutang usaha.

2.7.3 Pemrosesan dan Pencatatan Retur dan Pengurangan Harga Penjualan Kalau pelanggan merasa tidak puas dengan barang yang diterima, penjual seringkali menerima pengembalian barang atau memberikan pengurangan harga atas jumlah yang harus dibayar. Retur dan pengurangan harga penjualan harus secara benar dan segera dicatat di dalam berkas transaksi retur dan pengurangan harga penjualan serta berkas induk piutang usaha.

2.7.4 Penghapusan Piutang Tak Tertagih

Dengan mengabaikan agresitivitas bagian penjualan, adalah tidak biasa kalau beberapa pelanggan tidak membayar tagihannya. Kalau perusahaan berkesimpulan bahwa suatu jumlah akan tidak tertagih, jumlah tersebut harus dihapuskan. Biasanya ini terjadi setelah pelanggan pailit atau piutang dialihkan ke agen penagihan.

(15)

2.7.5 Pencadangan Piutang Tak Tertagih

Pencadangan piutang tak tertagih harus cukup untuk mencerminkan bagian dari penjualan periode sekarang yang diperkirakan tidak bisa ditagih di masa depan. Pada kebanyakan perusahaan pencadangan menggambarkan nilai sisa hasil dari penyesuaian akhir periode oleh manajemen atas perhitungan piutang tak tertagih.

2.8 Tujuan Audit atas Sales and Collection Cycle

Menurut Halim (2000;7) tujuan audit atas sales and collection cycle adalah sebagai berikut:

1. Transaksi penjualan yang tercatat menggambarkan barang yang dikirimkan kepada pelanggan selama periode di bawah audit.

2. Transaksi penerimaan kas yang tercatat menggambarkan kas yang diterima selama periode baik yang berasal dari penjualan tunai maupun penjualan kredit.

3. Transaksi penyesuaian penjualan yang tercatat selama suatu periode menggambarkan rekening potongan penjualan yang terotorisasi, retur penjualan, dan piutang tak tertagih.

4. Saldo piutang dagang yang tercatat menggambarkan jumlah yang harus dibayar pelanggan pada tanggal neraca.

2.9 Faktor-faktor yang Dipertimbangkan Auditor dalam Mengumpulkan Bukti Audit atas Kualitas Audit Terhadap Sales and Collection Cycle

Dari pembahasan yang dikemukakan di atas, penulis dapat menduga bahwa faktor-faktor lain yang dipertimbangkan auditor dalam mengumpulkan bahan bukti audit antara lain sebagai berikut:

2.9.1 Biaya yang Dikeluarkan dalam Mengumpulkan Bukti Audit atas Sales and Collection cycle

Menurut SA seksi 326 mengenai kecukupan bukti audit dinyatakan sebagai berikut:

“Auditor bekerja dalam batas-batas pertimbangan ekonomi, agar secara ekonomi bermanfaat, pendapatnya harus dirumuskan dalam jangka waktu yang pantas dan dengan biaya yang masuk akal.

(16)

Seorang auditor haruslah bekerja sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik dari segi ekonomis maupun produktif. Selain itu juga auditor harus memberikan pendapat dan memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat waktu dan biaya yang seminimal mungkin.

Berdasarkan pernyataan tersebut, auditor harus memutuskan dua hal yang berkaitan dengan biaya yaitu:

a. Bukti yang tersedia dengan batasan biaya, cukup memadai untuk membenarkan pernyataan pendapatnya.

b. Terdapat hubungan yang rasional antara biaya untuk mendapatkan bukti dengan manfaat informasi yang diperoleh.

2.9.2 Waktu yang Diperlukan dalam Mengumpulkan Bukti Audit atas Sales and Collection Cycle

Menurut SA seksi 326 mengenai kecukupan bukti audit dinyatakan sebagai berikut:

“Auditor bekerja dalam batas-batas pertimbangan ekonomi, agar secara ekonomi bermanfaaat, pendapatnya harus dirumuskan dalam jangka waktu yang telah ditentukan”.

Seorang auditor dalam melaksanakan pekerjaannya harus sesuai dengan prosedur dan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

2.9.3 Penyedia Data yang Independen

Menurut SA seksi 326 mengenai kompetensi bukti audit dinyatakan sebagai berikut:

“Apabila bukti dapat diperoleh dari pihak independen di luar perusahaan, untuk tujuan auditor independen, bukti tersebut memberikan jaminan keandalan yang lebih dari pada bukti yang diperoleh dari dalam perusahaan itu sendiri”.

Bukti audit yang diperoleh dari luar perusahaan memiliki keandalan yang lebih dibandingkan dari dalam perusahaan, karena sumber di luar perusahaan banyak diperoleh dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan audit.

(17)

Perolehan informasi yang berasal dari luar perusahaan dapat dilakukan dengan cara konfirmasi. Menurut SA seksi 330 konfirmasi dapat didefinisikan sebagai berikut:

“Proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi langsung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas suatu permintaan informasi tentang unsur tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan”.

Menurut SA seksi 330, faktor-faktor yang kemungkinan berdampak terhadap keandalan informasi adalah sebagai berikut:

a. Bentuk permintaan konfirmasi

Terdapat dua bentuk permintaan konfirmasi, yaitu bentuk positif dan bentuk negatif. Beberapa konfirmasi bentuk positif meminta responden untuk menunjukkan apakah responden setuju dengan informasi yang dicantumkan dalam permintaan konfirmasi. Bentuk positif lain tidak menyebutkan jumlah (informasi lain) pada permintaan konfirmasi tetapi meminta responden untuk mengisi saldo atau informasi lain pada ruang kosong yang disediakan dalam formulir permintaan konfirmasi.

Konfirmasi bentuk negatif meminta responden untuk memberikan jawaban hanya jika ia tidak setuju dengan informasi yang disebutkan.

b. Pertimbangan tentang pengalaman audit sebelumnya atau terhadap entitas serupa.

Auditor harus mempertimbangkan informasi yang berasal dari audit tahun sebelumnya atau audit mnengenai entitas serupa. Informasi ini meliputi tingkat respon yang diterima, pengetahuan tentang ketidakakuratan informasi yang dikonfirmasi.

c. Sifat informasi yang dikonfirmasi

Pada waktu mendesain permintaan konfirmasi, auditor harus mempertimbangkan tipe informasi yang siap untuk dikonfirmasi oleh responden, karena sifat informasi yang diminta, secara langsung berdampak terhadap kompetensi bukti dan tingkat respon yang diperoleh.

d. Permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga yang diyakini oleh auditor memiliki pengetahuan mengenai informasi yang dikonfirmasi.

(18)

2.9.4 Pengendalian Internal Klien yang Efektif

Menurut SA seksi 326 mengenai kompetensi bukti audit dinyatakan sebagai berikut:

“Semakin efektif pengendalian internal, semakin besar jaminan yang diberikan mengenai keandalan data akuntansi dan laporan keuangan”.

Kalau struktur pengendalian internal klien efektif, maka bahan bukti yang diperoleh lebih kompeten sehingga laporan keuangan yang dihasilkan benar-benar dapat diandalkan dan diuji kebenarannya.

Menurut Wilson dan Campbell (2000;404) pengendalian internal klien yang efektif terhadap penerimaan kas adalah sebagai berikut:

a. Semua penerimaan kas melalui pos harus dicatat sebelum ditransfer kepada kasir.

b. Semua penerimaan kas harus disetor sepenuhnya setiap hari.

c. Tanggung jawab untuk menangani kas harus dirumuskan dengan jelas dan ditetapkan secara pasti.

d. Fungsi pengeluaran kas dan penerimaan kas harus dipisahkan.

e. Penanganan fisik kas harus dipisahkan seluruhnya dari penyelenggaraan pembukuan, dan kasir tidak berwenang untuk menyelenggarakan pembukuan.

f. Para agen dan wali di lapangan harus memberikan kwitansi tanda terima.

g. Rekonsiliasi bank harus dilakukan oleh mereka yang tidak menangani kas atau menyelenggarakan pembukuan.

h. Semua pegawai yang menangani kas atau pembukuan kas harus terikat dengan kontrak.

Menurut Ruchiyat (2000;56) pengendalian internal yang efektif bagi penjualan adalah sebagai berikut:

a. Fungsi penjualan harus dipisahkan dari fungsi pembukuan.

b. Pembukuan penjualan harus dipisahkan dari penerimaan kas sebagai hasil penagihan piutang.

c. Retur, potongan harga dan penghapusan piutang tak tertagih harus disetujui dengan tepat dan dipisahkan dari fungsi penerimaan kas.

d. Pejabat yang berwenang memutuskan penjualan kredit harus terpisah dengan bagian penjualan.

(19)

e. Rekening koran harus dikirim kepada debitur setiap akhir bulan oleh petugas yang bukan pemegang buku piutang dan bukan petugas pembuat faktur.

f. Petugas yang menyelenggarakan buku tambahan piutang, tidak boleh turut campur dalam penerimaan kas. Pembukuan pada kartu piutang harus langsung dari buktinya.

g. Semua kartu piutang harus diverifikasi secara periodik oleh petugas independen, sebaiknya oleh pemeriksa internal. Saldo piutang harus langsung dikonfirmasi kepada debitur.

h. Perusahaan harus membuat daftar analisa umur piutang secara periodik.

i. Faktur penjualan, order penjualan dan nota kredit harus bernomor urut cetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan dengan baik.

2.9.5 Pengetahuan Sendiri yang Diperoleh Auditor

Menurut SA seksi 326 mengenai kompetensi bukti audit menyatakan sebagai berikut:

“Pengetahuan auditor secara pribadi dan langsung yang diperoleh melalui inspeksi fisik, pengamatan, perhitungan, dan inspeksi lebih bersifat menyimpulkan dibandingkan dengan yang diperoleh secara tidak langsung”.

Pengetahuan sendiri dari auditor yang diperoleh secara langsung memiliki keandalan yang lebih dibandingkan dilakukan secara tidak langsung, karena dengan dilaksanakan secara langsung otomatis auditor sendiri dapat memilah-milah sumber mana yang paling baik, yang nantinya sumber tersebut dapat digunakan dalam pengambilan keputusan oleh auditor.

Menurut Mulyadi dan Kanaka (2000;82) prosedur audit yang dapat dilakukan oleh auditor sebagai berikut:

Inspeksi. Inspeksi ini merupakan pemeriksaan secara rinci terhadap dokumen atau kondisi fisik sesuatu.

Pengamatan. Pengamatan atau observasi merupakan prosedur audit yang digunakan oleh auditor untuk melihat atau menyaksikan pelaksanaan suatu kegiatan.

Konfirmasi. Konfirmasi merupakan bentuk penyelidikan yang memungkinkan auditor memperoleh informasi secara langsung dari pihak ketiga yang bebas.

(20)

Permintaan Keterangan. Permintaan keterangan merupakan prosedur audit yang dilakukan dengan meminta keterangan secara lisan.

Penelusuran. Penelusuran merupakan prosedur yang dilakukan oleh auditor terhadap informasi sejak mula-mula data tersebut direkam pertama kali dalam dokumen, dilanjutkan dengan pelacakan pengolahan data tersebut dalam proses akuntansi.

Pemeriksaan Dokumen Pendukung. Prosedur audit ini berlawanan dengan prosedur penelusuran, auditor bertolak dari catatan akuntansi kembali memeriksa dokumen- dokumen yang mendukung informasi yang dicatat.

Perhitungan. Prosedur ini meliputi, perhitungan fisik terhadap sumber daya berwujud dan pertanggunggjawaban semua formulir bernomor urut cetak.

Scanning. Scanning merupakan penelaahan secara tepat terhadap dokumen, catatan, dan daftar untuk mendeteksi unsur-unsur yang tampak tidak biasa yang memerlukan penyelidikan yang mendalam.

Pelaksanaan Ulang. Prosedur ini merupakan pengulangan aktivitas yang dilakukan oleh klien.

Computer Assisted Audit Techniques. Apabila catatan akuntansi klien diselenggarakan dalam media elektronik, auditor perlu menggunakan computer assisted techniques.

2.9.6 Kualifikasi Penyedia Informasi

Meskipun sumber informasi independen, bahan bukti tidak handal jika orang yang menyediakan informasi tidak memiliki kualifikasi untuk melakukan hal tersebut. Dengan alasan tersebut konfirmasi dari pihak bank dan pengacara biasanya lebih diperhatikan dari pada konfirmasi piutang dari orang yang tidak akrab dengan dunia usaha. Demikian pula bukti yang diperoleh sendiri oleh auditor dapat menjadi tidak handal kalau ia sendiri tidak memiliki kualifikasi untuk mengevaluasi bahan bukti tersebut. Misalkan dalam mengaudit berlian, auditor tidak mempunyai kualifikasi untuk itu, sehingga ia memerlukan tenaga ahli untuk menyediakan bukti yang handal akan keberadaan berlian.

(21)

2.10 Kualitas Audit atas Sales and Collection Cycle 2.10.1 Auditor dalam Melakukan Tugas Audit

Pada dasarnya auditor dalam melaksanakan tugasnya tidak terlepas dari Standar Profesional Akuntan Publik yang dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi auditor terutama dalam hal penyusunan laporan keuangan. Oleh karena itu, agar laporan keuangan dapat tersusun dengan baik maka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan secara sistematis oleh auditor yang mempunyai pendidikan, pengalaman, serta keahlian di bidang akuntansi, perpajakan, dan pemeriksaan akuntan sehingga laporan keuangan yang disajikan benar-benar telah bebas dari salah saji material.

Selain itu auditor juga harus memiliki sikap independensi dalam artian sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, serta tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, selain auditor harus benar-benar independen, ia masih juga harus menimbulkan persepsi di kalangan masyarakat bahwa ia benar-benar independen dari setiap pemilikan kepentingan perusahaan yang diauditnya.

Disamping itu, auditing harus dilakukan oleh orang-orang yang kompeten dalam arti mampu melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar teknis profesi sehingga bukti- bukti yang dikumpulkan dapat dijadikan dasar dalam mengambil kesimpulan hasil audit.

2.10.2 Standar-standar dalam Kualitas Audit

Standar auditing yang ditetapkan oleh organisasi profesi akuntan publik serta suatu pernyataan keyakinan bahwa audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing tersebut memberikan dasar yang memadai bagi auditor untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Standar auditing juga mencakup mutu profesional (profesional qualities) auditor independen dan pertimbangan (judgement) yang digunakan dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporan auditor.

Dalam kenyataannya, standar tersebut juga tidak semua dapat dipenuhi oleh auditor dan tidak hanya standar itu saja yang dipakai melainkan ada beberapa standar- standar lain yang juga ikut mendukung demi terciptanya kelancaran pekerjaan audit.

Dalam penugasannya, auditor melaksanakan auditnya atas dasar pengujian (test).

Pengujian (test) ini dilakukan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan mengenai karakteristik keseluruhan bukti tersebut. Dalam auditnya, auditor tidak hanya melakukan

(22)

pengujian terbatas pada catatan akuntansi klien saja, tetapi juga menempuh prosedur audit lain yang dipandang perlu oleh auditor untuk mendapatkan informasi penguat.

Catatan akuntansi bukanlah merupakan satu-satunya sumber untuk membuktikan kewajaran laporan keuangan. Dalam pemeriksaan atas unsur-unsur tertentu yang tercantum dalam laporan keuangan, auditor seringkali menempuh prosedur audit lain untuk memperoleh informasi penguat seperti membuktikan adanya (eksistensi) unsur tersebut secara fisik, meminta konfirmasi (penegasan) dari pihak luar perusahaan klien, menguji mutu sediaan barang (inventory) dengan bantuan ahli dari luar perusahaan.

Untuk itulah maka standar-standar tersebut memiliki peranan penting bagi auditor, karena dengan adanya standar tersebut auditor dapat memberikan kesimpulan positif mengenai lingkup pekerjaan audit yang telah dilaksanakan.

2.10.3 Penilaian Kualitas Audit atas Sales and Collection Cycle

Sebagaimana kita ketahui bahwa auditor dalam mengumpulkan bukti audit atas sales and collection cycle memerlukan berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Untuk itulah maka auditor terlebuh dahulu harus melakukan pengujian dan penyaringan terhadap bukti-bukti yang ada sehingga nantinya bukti tersebut dapat membantu auditor dalam mengambil suatu keputusan.

Akan tetapi auditor juga dalam melaksanakan pekerjaannya harus didasarkan pada prosedur-prosedur audit yang telah ditetapkan sebelumnya agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pada dasarnya cara melakukan penilaian kualitas audit atas sales and collection cycle dapat dilihat dari apakah auditor tersebut telah berhasil mendeteksi kecurangan ataupun kesalahan-kesalahan yang ada dalam transaksi penjualan dan penagihan piutang yang terjadi pada periode tertentu.

Mengingat bahwa seluruh transaski penjualan dan penagihan piutang nantinya akan dituangkan dalam suatu laporan yang berbentuk kertas kerja, maka dari itu penilaian terhadap auditor secara mudah dilakukan yaitu dilihat dari apakah kertas kerja yang disajikan tersebut telah sesuai dengan kriteria sertya aturan yang berlaku.

Dan apabila hasil kertas kerja tersebut benar-benar sesuai dengan bukti transaksi yang ada maka barulah dapat dikatakan bahwa auditor telah memiliki potensi dan kualitas yang baik dalam melaksanakan pekerjaannya. Pada kenyataannya, kertas kerja

(23)

merupakan mata rantai yang menghubungkan catatan klien dengan laporan audit. Oleh karena itu, kertas kerja merupakan alat penting dalam profesi akuntan publik.

Dalam proses auditnya, auditor harus mengumpulkan atau membuat berbagai tipe bukti untuk mendukung kesimpulan dan pendapatnya atas laporan keuangan auditan.

Untuk kepentingan pengumpulan dan pembuatan bukti itulah auditor membuat kertas kerja. Menurut SA seksi 339 Kertas Kerja memberikan panduan bagi auditor dalam penyusunan kertas kerja dalam audit atas laporan keuangan atau penugasan audit lainnya, berdasarkan seluruh standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.

Standar pekerjaan lapangan mengharuskan auditor melakukan perencanaan dan penyupervisian terhadap audit yang dilaksanakan, memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern, serta mengumpulkan bukti kompeten yang cukup melalui berbagai prosedur audit. Kertas kerja merupakan sarana yang digunakan oleh auditor untuk membuktikan bahwa standar pekerjaan lapangan tersebut dipatuhi. Kertas kerja tidak hanya berwujud kertas, namun dapat pula berwujud pita magnetik, film,atau media yang lain.

Dalam melakukan auditnya, auditor harus memperoleh kebebasan dari klien dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan auditnya. Pembatasan terhadap kebebasan auditor dalam menentukan tipe bukti yang diperlukan dan prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor sebagai dasar bagi auditor untuk merumuskan pendapatnya atas laporan keuangan klien. Untuk itu kompetensi dan kecukupan bukti audit yang diperoleh auditor akan mempengaruhi pendapat auditor atas laporan keuangan auditan.

Kecakapan teknis dan profesional seorang auditor berkualitas akan tercermin pada kertas kerja yang dibuatnya. Untuk membuktikan bahwa seseorang merupakan auditor berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar auditing, ia harus dapat menghasilkan kertas kerja yang benar-benar bermanfaat serta harus memahami faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam memenuhi syarat kriteria kertas kerja yang baik sehingga segala pekerjaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien mungkin.

(24)

2.10.4 Penerapan Konsep Materialitas, risiko, dan Strategi Audit Awal dalam Kualitas Audit

Materialitas merupakan dasar penerapan standar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Oleh karena itu, materialitas mempunyai pengaruh yang mencakup semua aspek audit dalam audit atas laporan keuangan. Menurut SA seksi 319 Risiko Audit dan Materialitas Audit dalam Pelaksanaan Audit mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan materialitas dalam perencanaan audit dan penilaian terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum.

Pertimbangan auditor mengenai materialitas merupakan pertimbangan profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan memadai dan yang akan meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan.

Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif dan kualitatif.

Pertimbangan kuantitatif berkaitan dengan hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan keuangan, sedangkan pertimbangan kualitatif berkaitan dengan penyebab salah saji.

Dalam merencanakan auditnya, auditor harus menggunakan pertimbangannya dalam menentukan tingkat resiko audit yang cukup rendah dan pertimbangan awal mengenai tingkat materialitas dengan suatu cara yang diharapkan, dalam keterbatasan yang melekat pada proses audit dapat memberikan bukti audit yang cukup untuk mencapai keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.

Dalam situasi tertentu, untuk perencanaan audit auditor mempertimbangkan materialitas sebelum laporan keuangan yang diauditnya selesai disusun. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit. Menurut SA seksi 312 Risiko Audit dan Materialitas dalam pelaksanaan audit, risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Semakin pasti auditor dalam menyatakan pendapatnya, semakin rendah risiko audit yang auditor bersedia untuk menanggungnya.

(25)

Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan atas dasar bukti yang diperoleh dari verifikasi asersi yang berkaitan dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi. Tujuannya yaitu untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun sedemikian rupa sehingga pada akhir proses audit, risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada pada tingkat yang rendah.

Hubungan antara materialitas, risiko audit, dan bukti audit cukup berlawanan. Jika materialitas rendah, jumlah salah saji yang kecil saja dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan maka auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya, jika materialitas tinggi, jumlah salah saji besar baru dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan maka auditor hanya perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah sedikit.

Demikian pula hubungan antara risiko audit dengan bukti audit. Semakin rendah risiko audit, auditor bersedia untuk menanggung risiko audit rendah sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor tinggi maka auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya, semakin tinggi risiko audit, auditor bersedia untuk menaggung risiko audit tinggi sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor rendah maka auditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah kecil saja.

Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko audit, serta bukti audit, maka auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi menjadi 2 macam yaitu pendekatan substantif, dan pendekatan tingkat resiko pengendalian taksiran rendah.

Tujuan akhir auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan proses audit adalah mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah untuk mendukung pendapatnya, apakah laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum.

Tujuan ini dicapai dengan mengumpulkan bukti audit tentang asersi yang terdapat dalam laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Dengan demikian maka untuk menjadi auditor yang berkualitas memperhatikan banyak hal diantaranya penerapan konsep materialitas, risiko, serta strategi audit awal dalam diri auditor itu

(26)

sendiri yang akan dituangkan melalui hasil pekerjaannya berupa laporan keuangan yang telah disajikan secara wajar serta telah bebas dari kesalahan saji material.

2.10.5 Pemahaman atas Struktur Pengendalian Intern dalam Kualitas Audit

Struktur pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas merupakan faktor yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas. Oleh karena itu, sebelum auditor melaksanakan auditor secara mendalam atas informasi yang tercantum dalam laporan keuangan, standar pekerjaan lapangan kedua mengharuskan auditor memahami struktur pengendalian intern yang berlaku dalam entitas.

Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain, yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan diantaranya keandalan informasi keuangan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, serta efektifitas dan efisiensi operasi. Oleh karena itu, auditor berkewajiban untuk memahami pengendalian intern yang ditujukan untuk memberikan keyakinan memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum.

Struktur pengendalian intern terdiri dari lima unsur pokok antara lain:

1. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian menciptakan suasana pengendalian dalam suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran personel organisasi tentang pengendalian. Lingkungan pengendalian merupakan landasan untuk semua unsur pengendalian intern, yang membentuk disiplin dan struktur.

2. Penaksiran Risiko

Penaksiran risiko untuk tujuan laporan keuangan adalah identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum.

Penaksiran risiko manajemen untuk tujuan pelaporan keuangan adalah penaksiran risiko yang terkandung dalam asersi tertentu dalam laporan keuangan dan desain serta implementasi aktivitas pengendalian yang ditujukan untuk mengurangi risiko pada tingkat minimum, dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat.

(27)

3. Informasi dan Komunikasi

Sistem akuntansi diciptakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mencatat, dan melaporkan transaksi, serta menyelenggarakan pertanggungjawaban kekayaan dan utang. Oleh karena itu, sistem akuntansi yang efektif dapat memberi keyakinan memadai bahwa seluruh transaksi telah tercatat dalam laporan keuangan.

Komunikasi mencakup penyampaian informasi kepada semua personel yang terlibat dalam laporan keuangan, baik yang berada di dalam maupun di luar organisasi.

4. Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberi keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan. Kebijakan dan prosedur ini memberi keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk mengurangi resiko dalam pencapaian tujuan.

5. Pemantauan

Pemantauan adalah proses penilaian kualitas kinerja struktur pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan dilaksanakan oleh personel yang semestinya melakukan pekerjaan baik pada tahap desain maupun pengoperasian pengendalian, untuk menentukan apakah struktur pengendalian intern beroperasi sebagaimana mestinya, dan untuk menentukan apakah struktur pengendalian tersebut telah memerlukan perubahan karena terjadinya perubahan keadaan.

Dengan demikian struktur pengendalian intern ini sangat membantu sekali bagi auditor dalam melaksanakan pekerjaannya. Secara umum, auditor perlu memperoleh pemahaman tentang struktur pengendalian intern kliennya untuk perencanaan auditnya.

Secara khusus, pemahaman auditor tentang struktur pengendalian intern yang berkaitan dengan suatu asersi banyak sekali kegunaannya antara lain; dapat mendeteksi resiko, auditor dengan cepat dapat menemukan kesalahan saji material yang terjadi; dapat melakukan perancangan pengujian substantif.

Untuk mewujudkan auditor agar dapat menjadi auditor yang berkualitas atas pemeriksaan kas dan penagihan piutang, maka dapat secara mudah dilakukan yaitu dilihat dari kertas kerja yang disajikan apakah hasilnya sesuai dengan bukti-bukti saldo yang

(28)

telah dicatat atau tidak. Dan apabila ditemukan kesalahan dalam kertas kerja tersebut diharapkan agar auditor dapat segera mengambil tindakan untuk memperbaiki kesalahannya. Selain itu juga auditor harus memperbaiki pengendalian internnya agar kejadian tersebut tidak akan terulang lagi.

(29)

(30)
(31)

(32)

Referensi

Dokumen terkait

Demikian pula dengan konsep kegiatan dalam buku diklat pendidikan dan pelatihan dalam konsep SIBIDIBA, yang menyatakan bahwa dalam perencanaan harus tertulis BI (

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Potrebna znanja učenicima šestog razreda za riješiti natjecateljske zadatke na školskoj i županijskoj razini u kategoriji Primjena algoritama su:.. • naredba ponavljanja

Dengan pemanfaatan controller SDN, administrator jaringan dapat mengubah sifat dan prilaku jaringan secara riil time dan mendeploy aplikasi baru dan layanan

Yamaha Agung Motor Semarang dalam proses order picking menggunakan strategi S­Shape, yaitu dengan menyisir seluruh gudang penyimpanan untuk mengambil barang yang telah dipesan

a) Seksi Perencanaan Tata Ruang; b) Seksi Pemanfaatan Tata Ruang; dan c) Seksi Pengendalian Tata Ruang.. Unit Pelaksana Teknis Dinas. Kelompok Jabatan Fungsional. Dinas

Identifikasi bahaya adalah suatu proses kajian kualitatif untuk mengetahui adanya potensi bahaya dari suatu peralatan, proses, lingkungan kerja, material atau

(1) Menyimpang dari Pasal 277 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, dalam hal terjadi kerugian atau kerusakan atas kendaraan bermotor yang dipertanggungkan dengan Polis ini,