• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS PRODUKSI BERSIH DI IKM TAHU KOTA BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI KASUS PRODUKSI BERSIH DI IKM TAHU KOTA BOGOR"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

210

STUDI KASUS PRODUKSI BERSIH DI IKM TAHU

KOTA BOGOR

Yudith Vega Paramitadevi

1)

, Fany Apriliani

2)

dan Ika Resmeiliana

3)

1,2,3

Sekolah Vokasi IPB, Jl Kumbang no 14 Bogor 16151 (0251) 8329101 e-mail: [email protected]

Abstrak

IKM tahu Tofu menghasilkan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan. Limbah cair tersebut dapat disisihkan dengan metode aerobik. Hanya saja, pendekatan tersebut bisa jadi kurang optimal sehingga diperlukan pendekatan gabungan antara produksi bersih dan pengelolaan limbah cair. Produk yang dihasilkan dalam produksi tahu tidak hanya produk utama tetapi produk sampingan. Produk sampingan ini dapat berupa sisa energi, sisa air maupun ceceran bahan. Biaya yang dibutuhkan untuk mengelola produk sampingan tersebut cukup besar. Konsep produksi bersih perlu diterapkan untuk mengatasi ini semua. Penelitian ini mengangkat topik implementasi produksi bersih dalam IKM tahu di Tanah Sareal Bogor. Teknik Analythical Hierarchy Process (AHP) digunaan untuk menganalisa pemilihan faktor berpengaruh, yakni lingkungan. Prioritas program produksi bersih dari analisis AHP dapat mereduksi pemalaian air 42.3%, pelaksanaan tata kelola yang apik, supervisi pekerja dan pelatihan, investasi alat penggiling kedelai, investasi biogas, modifikasi cetakan tahu, perbaikan mesin saringan bubur tahu, dan instalasi energy saver. Pendekatan tersebut dapat mengurangi 2% dari total biaya langsung yakni Rp 497 896 776,00.

Kata kunci: air, AHP, IKM, produksi bersih, tahu.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut data PRIMKOPTI Kota Bogor tahun 2016, industri tahu berskala kecil dan menengah di Kota Bogor berjumlah 144 buah. Industri sejumlah itu memberi andil pada besarnya tingkat pencemaran karena penggunaan air yang cukup besar dalam proses produksinya (Utami RD dan Lantu DC 2014, Eravia D et al. 2015 dan Lopez-Ortega E et al. 2016). Agar prinsip efisiensi dan pencegahan terbentuknya limbah pada sumbernya lebih proaktif, dilakukanlah pendekatan produksi bersih. Produksi bersih bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dengan memberikan tingkat efisiensi yang lebih baik pada penggunaan bahan mentah, energi, dan air, mendorong performansi lingkungan yang lebih baik melalui pengurangan sumber-sumber pembangkit limbah dan emisi serta mereduksi dampak produk terhadap lingkungan dari siklus hidup produk dengan rancangan yang ramah lingkungan, namun efektif dari segi biaya (Visvanathan dan Kumar 1999, Indrasti NS dan Fauzi AM 2009, Ferenhof HA et al. 2014).

Studi ini meliputi identifikasi proses produksi, status produksi bersih pada industri tahu dan peluang penerapan lebih lanjut, serta implementasi produksi bersih

1.2 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah dapat mengurangi timbulan limbah cair, menghemat penggunaan energi sekaligus memperbaiki manajemen lingkungan dengan pelaksanaan good housekeeping.

2. METODOLOGI

2.1 Bahan

Studi penerapan produksi bersih pada industri tahu dimulai dengan memahami permasalahan yang ditimbulkan, yaitu penggunaan jumlah air yang cukup besar (Djayanti S 2015 dan Widodo L 2011), akibatnya air buangan dan whey yang dihasilkan cukup besar dan dapat mencemari lingkungan di sekitar industri. Jumlah air yang dibutuhkan untuk mengolah 5 kg kedelai sebesar 106 – 125 L dengan limbah cair yang dihasilkan sebesar 88 – 104 L (Djayanti S 2015). Instrumentasi atau alat pengumpul data yang digunakan beragam, antara lain:

(2)

211 a. Daftar pertanyaan/ daftar periksa.

b. Alat perekam berupa gawai. c. Alat pencatat berupa alat tulis.

d. Timbangan untuk mengukur bobot tahu.

e. Gelas ukur 100 mL untuk mengukur debit limbah tahu.

f. Stopwatch untuk mengukur debit limbah tahu.

g. Meteran untuk mengukur panjang, lebar dan kedalaman dimensi bak pada proses produksi di usaha IKM tahu.

2.2 Metode

Studi dilaksanakan di industri menengah tahu Djadi Sari, Kelurahan Tanah Sareal pada bulan Agustus 2017-Januari 2018 yang memproduksi 300-400 kg kedelai tiap harinya.

Tahapan penelitian meliputi :

a. Identifikasi proses produksi yang bertujuan untuk mengetahui neraca massa keseluruhan.

b. Analisis penerapan produksi bersih untuk mengidentifikasi peluang penerapan produksi bersih. Analisis ini dilakukan dengan pengamatan lapang, wawancara dengan pelaku industri dan pendapat pakar sebanyak tiga orang.

c. Penentuan strategi dan implementasi produksi bersih dilaksanakan menurut tiga aspek yakni teknologi, finansial dan kebijakan. Prioritas kebijakan disusun dengan teknik AHP menggunakan software expert

choice ver 11.5.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Proses produksi tahu

Pabrik tahu telah berdiri sejak tahun 2007 dengan skala produksi menengah. Proses produksi antara lain proses penggilingan 1, perendaman, pencucian, penggilingan 2, perebusan, pengepresan, penirisan, pemotongan dan penggaraman (Gambar 1). Untuk tiap 400 kg kedelai, dihasilkan 368.7 kg tahu, 26 kg ampas dan sisa kedelai kupas

3.2 Analisis penerapan produksi bersih

Berdasarkan peta pemikiran yang dibuat dalam studi lengkap, teknik produksi bersih yang digunakan adalah reduksi SDA, good house keeping, modifikasi proses dan identifikasi peralatan. Alternatif produksi bersih disusun menjadi struktur hierarkhi dengan 3 kriteria produksi bersih, yaitu aspek teknis, aspek ekonomi dan aspek lingkungan sebagai faktor. AHP mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan melalui suatu rasio konsistensi (Marimin 2004).

Penentuan prioritas menggunakan pendapat pakar yang memahami industri tahu yakni praktisi, dosen dan peneliti. Pendapat pakar yang diperoleh sangat dipengaruhi sudut pandang, pengalaman dan pendidikan masing-masing pakar. Menurut Saaty (1980) dan Kusrini (2007), penilaian perbandingan dikatakan konsisten jika CR tidak lebih dari 0.10. Konsistensi sampai batas tertentu dalam menerapkan prioritas perlu untuk memperoleh hasil-hasil yang sahih di dunia nyata. Perbandingan berpasangan terhadap faktor yang mempengaruhi pemilihan prioritas peluang produksi bersih mempunyai indeks konsistensi sebesar 0.05 sehingga penilaian perbandingan kriteria dan alternatif produksi bersih sudah konsisten dan tidak memerlukan revisi penilaian.

Hasil analisis perbandingan terhadap faktor yaitu kriteria produksi bersih menunjukkan bahwa pertimbangan yang menjadi prioritas dalam pemilihan alternatif produksi bersih adalah kelayakan secara lingkungan (Gambar 2), yaitu diharapkan dalam menerapkan produksi bersih perbaikan lingkungan dapat dilakukan sekaligus. Kelayakan ekonomi karena modal berasal dari pelaku usaha (0.328). Selanjutnya kelayakan teknis (0.261) dipertimbangkan dari segi perbaikan prosedur proses, efisiensi penggunaan sumberdaya, ketersediaan perawatan mesin dan keamanan sistem bagi pekerja.

(3)

212

Gambar 1. Proses dan neraca massa industri tahu di Djadi Sari.

(4)

213

Peluang yang menjadi prioritas pertama adalah reduksi pemakaian air saat proses perendaman dan pencucian (Gambar 3). Reduksi pemakaian air dari 520 liter perhari menjadi 300 liter per hari pada proses perendaman, kemudian reduksi pemakaian air pada proses pencucian dari 240 liter per hari menjadi 120 liter per hari dapat mengurangi pemakaian listrik dari 1.616 KWh perhari menjadi 0.8 KWh perhari. Reduksi tersebut dilakukan dengan cara reuse air bekas perendaman untuk proses pencucian yang pertama. Penghematan ekonomi diperoleh Rp 71 133,73 perbulan. Total penghematan air jika dihitung per 1 kg air adalah Rp 1,00 menjadi Rp 156 130,00 perbulan.

Gambar 3. Perbandingan berpasangan terhadap peluang produksi bersih

Prioritas ke-2 hingga ke-7 terdapat dalam Tabel 1. Prioritas ke-8 yakni pembuatan nata de soya tidak diterapkan disebabkan membutuhkan modal dan SDM yang besar dengan nilai B/C < 1. Martini et al. (2010) menyebutkan bahwa jika nilai B/C rasio rendah, proyek tidak layak dijalankan.

Tabel 1. Implementasi produksi bersih di tahu Djadi Sari

No Prioritas Perbaikan Keterangan

1. Perawatan alat dan pembersihan gudang berkala Penghematan

Rp. 3 036 250,00/ tahun

2. Pelatihan karyawan dan perbaikan jam kerja Penghematan

Rp.17 220 350,00/ tahun

3. Investasi alat penggiling kedelai PBP = 2.14 tahun

4. Investasi biogas Debit 2-3 m3/ hari

Menyisihkan COD 95% Menyisihkan BOD 90% Biaya

Rp. 9 550 000,00 PBP = 6.35 tahun

5. Modifikasi cetakan tahu Penghematan

Rp. 2 285 871,00/ tahun

6. Perbaikan mesin saringan bubur tahu Penghematan

Rp. 1 391 849,00/ tahun

7. Pemasangan alat energy saver dan perapihan kabel

instalasi listrik

Penghematan energi listrik hingga 10% per bulan

(5)

214

Biaya NPO sebelum diterapkan produksi bersih di tahu Djadi Sari sebesar Rp 497 896 776,00 atau 29% dari total biaya produksi langsung. Biaya NPO setelah diterapkan produksi bersih dapat turun menjadi 27% dari total biaya produksi langsung.

4. KESIMPULAN

Studi kasus produksi bersih di tahu Djadi Sari dapat mengurangi pemakaian air menjadi 42.3%, menghemat energi listrik hingga 10%, dan membentuk kesadaran karyawan serta pelaku usaha untuk melaksanakan praktek good house keeping berupa perawatan alat, pembersihan berkala, pelatihan karyawan dan perbaikan jam kerja. Total biaya akibat NPO menurun 2% dari total biaya produksi langsung.

DAFTAR PUSTAKA

Djayanti S. 2015. Kajian penerapan produksi bersih di industri tahu di desa Jimbaran, Bandungan, Jawa Tengah. Jurnal Riset Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri 6(2): 75-80.

Eravia D, Handayani T, Julina. 2015. The opportunities and threads of small and medium enterprises in pekanbaru: comparison between smes in food and restaurant industries. Procedia-Social and Behavioral Sciences 169: 88-97.

Ferenhof HA, Vignochi L, Selig PM, Lezana AGR, Campos LMS. 2014. Environmental management systems

in small and medium sized-enterprises: an analysis and systematic review. Journal of Cleaner

Production 74: 44-53.

Indrasti NS, Fauzi AM. 2009. Produksi Bersih. Bogor (ID): IPB Pr.

Kusrini. 2007. Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan. Yogyakarta (ID): Andi Offset.

Lopez-Ortega E, Canales-Sanchez D, Bautizta-Godines T, Machias-Herrera S. 2016. Classification of micro-small and medium enterprises (M-SME) based on their available levels of knowledge. Technovation 47: 59-69.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta (ID): Penerbit Gramedia.

Martini S, Sukardi, Marimin, Ismayana A. 2010. Model investasi Fuzzy untuk analisis kelayakan finansial usaha diversikasi industri berbasis tebu. J Sosial-Ekonomi Pertanian Agribisnis (SOCA). 10(2):134-140.

Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia. 2016. Daftar Rekapitulasi Kebutuhan Kedelai Anggota dan Non Anggota Pengrajin Tempe Tahu. Bogor : PRIMKOPTI.

Saaty, T.L. 1980. The Analytic Hierarchy Process: Planning, Priority Setting, Resource Allocation. New York (US): McGrawHill.

Utami RD, Lantu DC. 2014. Development competitiveness model for small-medium enterprises among the creative industry in Bandung. Procedia-Social and Behavioral Sciences 115: 305-323.

Visvanathan, Kumar. 1999. Issues for better implementation of cleaner production in small medium industries. Journal of Cleaner Production 7: 127-134.

Widodo L. 2011. Penerapan produksi bersih di industri tahu desa Kalisari dan Cikembulan kabupaten Banyumas Purwokerto. Jurnal Rekayasa Lingkungan 7(2): 179-191.

Gambar

Gambar 1. Proses dan neraca massa industri tahu di Djadi Sari.
Gambar 3. Perbandingan berpasangan terhadap peluang produksi bersih

Referensi

Dokumen terkait

A. Tesis atas nama Achmad Wildan Fahmi Ifza Habibi Program Studi Program Pascasarjana , Universitas Jember judul “Hak Ahli Waris Yang Murtad Dalam Pembagian Waris

Objektif kajian ini adalah untuk mengenalpasti nilai Etika Kerja Islam yang diamalkan oleh pelajar serta mengukur tahap pengamalan nilai Etika kerja Islam dalam kalangan pelajar

Saham merupakan bukti penyertaan modal dalam suatu kepemilikan saham perusahaan atau yakni surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan, Bambang Riyanto

Berdasarkan kriteria prevaleni menurut William dan Williams (1996) prevalensi tertinggi terdapat pada dusun Paya Rambe 50% termasuk dalam kategori sangat sering yang

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23

Pada gambar di samping, terlihat bahwa Standar Penilaian dan Standar Pembiayaan memiliki nilai standar yang tinggi dan nilia yang terendah pada Standar Proses

Aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan untuk dimiliki selama periode tertentu, dimana akan dijual