• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN NAVSTAR GPS UNTUK PEMETAAN TOPOGRAFI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN NAVSTAR GPS UNTUK PEMETAAN TOPOGRAFI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN NAVSTAR GPS UNTUK PEMETAAN TOPOGRAFI

Muh. Altin Massinai

Lab. Fisika Bumi dan Lautan Program Studi Geofisika FMIPA Universitas Hasanuddin Makassar

Abstract

A research have been done about topography mapping by using GPS at around the campus of Hasanuddin University in

Tamalanrea. It take some data by the measuring a coordinate point of geography (latitude, longitude, and height ellipsoid) with using a receiver GPS.

Based on the processing and interpretation of data with applied correction factor of data (error of ephemeris, ionosphere effect, troposphere effect, multipath, and noise). So we could found a contour map, and topography map on the area of research that coordinate system of UTM, with Latitude value is 9430600 to 9472000 meters, Longitude value is 7774400 to 7776000 meters, and height ellipsoid value is 53,97 to 62,97 meters.

Keywords : GPS, the coordinate of geography, correction factor of data, UTM coordinate, contour map, topography map.

1. PENDAHULUAN

GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Sistem ini dapat digunakan oleh banyak orang dan dalam segala macam cuaca, serta didesain untuk memberikan informasi mengenai posisi dan waktu secara kontinyu di seluruh dunia. Saat ini GPS mulai banyak diaplikasikan di Indonesia, terutama yang terkait dengan dengan aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi tentang satelit.

Pengembangan GPS, diarahkan untuk penyempurnaan metode navigasi dan survai, baik dalam skala regional maupun global. Oleh karena itu sistem GPS mempunyai banyak keistimewaan dibanding dengan alat-alat navigasi dan survai yang bersifat konvensional.

Beberapa keistimewaan tersebut adalah:

a. GPS dapat digunakan baik pada waktu siang maupun malam dan tidak bergantung pada cuaca.

b. Posisi yang ditentukan oleh GPS akan mengacu kepada suatu datum global, dan memiliki ketelitian dalam orde milimeter hingga beberapa centimeter.

c. Pemakaian sistem GPS tidak dikenakan biaya selama pengguna memiliki receiver

d. Alat penerima sinyal GPS cenderung lebih kecil ukurannya dan lebih murah harganya. e. Pengoperasian receiver relatif mudah dan

tidak membutuhkan banyak orang.

f. Dengan menggunakan GPS maka efisiensi dan efektifitas kerja survai dapat ditingkatkan dibanding dengan menggunakan metode teresterial.

Penelitian ini mencakup pengolahan data pengukuran GPS yang menerapkan beberapa koreksi data, serta melakukan interpretasi data. Untuk memudahkan penelitian maka digunakan software “Ms. Excel 2000” untuk pengolahan data dan “Surfer 6 for Windows” untuk pembuatan peta topografi lahan.

Hal-hal yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Menerapkan prinsip dasar penggunaan GPS 2. Melakukan koreksi data dan transformasi

data pengukuran GPS dari sistem koordinat geografi ke sistem koordinat UTM

(2)

2. LANDASAN TEORI

GPS dalam istilah formalnya adalah NAVSTAR GPS, singkatan dari Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning Sistem. GPS terdiri atas 3 segmen utama, yaitu segmen angkasa yang terdiri atas satelit GPS, segmen sistem kontrol yang terdiri atas stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit dan segmen pemakai yang terdiri atas pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah sinyal dan data GPS.

Dalam penerapannya sinyal-sinyal yang diterima oleh GPS kemudian diubah menjadi informasi tentang posisi (koordinat dan ketinggian). Dalam hal ini data yang diperoleh oleh receiver masih mengandung unsur-unsur kesalahan antara lain kesalahan ephemeris (orbit), bias ionosfir, bias troposfir, efek multipath, cycle slips dan noise. 2.1. Faktor Koreksi Data GPS

.

Efek dari kesalahan orbit pada panjang baseline ditentukan dengan persamaan berikut:

dr r b db=

dengan:

dr = kesalahan tipikal komponen radial, along

track dan cross track orbit satelit (2.0, 3.0 dan 5.0 m)

db = besarnya efek kesalahan orbit pada

panjang baseline

b = panjang baseline

r = jarak rata-rata pengamat ke satelit

(20.000 km)

Besarnya bias ionosfir ini bergantung pada jumlah elektron sepanjang lintasan sinyal GPS serta frekuensi dari sinyal, secara matematis dituliskan dalam persamaan berikut:

2 4028 f STEC dion = dengan:

STEC = jumlah elektron sepanjang lintasan

(unit elektron/m2)

f = frekuensi sinyal GPS (Hertz)

Besarnya bias troposfir adalah sebagai berikut:

) ( ) ( dtrop E E Trop w Trop d +∆ ∆ = dengan:

11000

)

25

,

2

sin(

10

.

718

,

3

967

,

12

5

10

)

(

2 2 5 6

T

l

E

E

Trop w

+

+

=

− dengan: trop d = bias troposfir

[

40136

148

,

72

(

273

,

16

)

]

)

25

,

6

sin(

64

,

77

5

10

)

(

2 6

+

+

=

T

E

T

P

E

Trop d ) (E Trop d

∆ = komponen kering troposfir

) (E Trop

w

∆ = komponen basah troposfir

p = tekanan troposfir T = temperatur troposfir E = elevasi satelit

Besarnya efek multipath pada pengukuran data pengamatan fase adalah:

⎟⎟

⎜⎜

+

=

Θ

φ

α

φ

cos

sin

tan

1

arc

dimana:

Θ = Besarnya efek multipath α = faktor kekuatan sinyal pantul: 0 = tidak ada pantulan

1 = sinyal pantul sekuat sinyal langsung

φ = perbedaan fasa dari sinyal langsung

terhadap sinyal pantul

Data pengamatan GPS terkait dengan posisi pengamat (x,y,z) serta parameter-parameter lainnya melalui hubungan yang diformulasikan sebagai berikut:

Li = ρ + dρ + dtrop – dion + (dt –dT) + Θ + ϑCi

dengan :

Li = jarak fase pada frekuensi fi

ρ = jarak geometris antara pengamat dengan satelit

dtrop = bias yang disebabkan oleh refraksi troposfir

(3)

dρ = kesalahan jarak yang disebabkan oleh

ρ = ng disebabkan oleh

dt, dT t dari jam satelit

atan ϑCi = gangguan (noise) pada hasil pengamatan P

2.2. Proyeksi UTM (Universal Transverse

royeksi UTM merupakan salahsatu metode yang

alam penerapannya (untuk posisi daerah

= 10.000.000 – (I) + (II) p2 + (III) p4 + (A6) p6 + (IV)p + (V)p + (B5) p … (II.6) engan: oN in L cos L sin21”108/2 16 (5-tg2L+9e’2 (A6) = L 10 (61-8 tg L + -58 tg L + +(E5)q 1” 1018/ 6 ko3 N3 cos L (1 + 28tg L +24tg L+6 e’2cos L+8 imana :

faktor skala pada meridian tengah N = Jari-jari kelengkungan pada bidang L =

ujur ua . METODOLOGI

alam pengukuran data lapangan digunakan alat

. HASIL DAN PEMBAHASAN

ari kegiatan penelitian ini dalam tahap

asil akhir yang diperoleh dalam penelitian ini

engan melakukan pengukuran secara berulang kesalahan ephemeris

kesalahan jarak ya kesalahan ephemeris = kesalahan dan offse

Θ = efek dari multipath pada hasil pengam Pi dan Li

i

dan Li

Mercator) P

digunakan dalam bidang proyeksi peta dengan maksud untuk menyajikan dan mengekspresikan posisi titik-titik di permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar.

D

pengukuran), rumus yang digunakan untuk menghitung lintang dan bujur koordinat UTM dari koordinat geodetik adalah:

U …… (II.7) T = 500.000 3 5 d (I) = k (II) = koN s

(III) = koN sin L cos3 L sin41”10

cos2L+4e’4cos4L)/2

koN sin6L cos5L sin 4 2

tg4L+270 e’2 cos2L 330 e’2sin2L)/270

(B5) = koN sin51” cos5L 1024 (61 2

tg4L+14 e’2 cos2L -58 e’2sin2L)/120

p = 0,0001 dB

3 5

dB = (IX)q +(X)q

q = 0,0000001 B

(IX) = 106/ koN cos L sin

(X) = (1 + 2tg2L + e’2cos2L) sin 1”

(E5) = 2 4 2

e’2sin2L)1030/ 120 ko5 N5 cos L sin 1”

d ko = (0,9996) vertikal Lintang B = Bujur dB = Estimasi B

e’2 = eksentrisitas ked 3

D

receiver GPS, dan termometer. Pengukuran data dilakukan berulang sebanyak 5 kali, yang diikatkan ke titik Bench Mark (BM). Adapun data titik BM yang dijadikan acuan adalah Titik Kotrol Geodesi Orde III yang dibuat oleh Badan Pertanahan Nasional dengan Nomor: 20 01 022 (Lintang : 50 8’ 25.46429’’ , Bujur: 1190 29’ 20.50676’’ Tinggi Ellipsoid: 57.344 meter). Data yang diperoleh dari pengukuran ini kemudian dijadikan sebagai data primer yang diolah dengan menggunakan software “Microsoft Excel” dan selanjutnya diolah dengan software “Surfer” untuk menghasilkan peta topografi daerah penelitian.

4 D

pengukuran dihasilkan data dasar (Koordinat Geografi) dan dalam tahap pengolahan data diperoleh informasi tentang koordinat UTM dan elevasi titik pengamatan. Pengamatan posisi titik ukur yang berlokasi di dalam areal kampus Unhas Tamalanrea yang terdiri dari 90 stasiun pengamatan dengan mengambil jalan utama kampus sebagai jalur utama stasiun pengamatan yang terdiri dari 56 titik dan 34 titik diambil secara acak untuk detail topografi.

H

adalah peta topografi. Dari peta dapat terlihat kontur untuk daerah yang terlihat padat merupakan daerah yang terjal sedang daerah yang mempunyai kerenggangan kontur merupakan daerah yang mempunyai topografi relatif landai.

4.1. Analisa Data D

sebanyak lima kali maka diharapkan dapat diperoleh data yang lebih teliti. Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan program Microsoft Excel dapat terlihat bahwa yang dominan dalam mempengaruhi kesalahan data pengamatan adalah pada bias sinyal GPS yang

(4)

disebabkan oleh lapisan troposfir dan lapisan ionosfir.

Namun dalam pengukuran dan pengolahan data pengamatan dengan menggunakan jarak fase maka hal ini dapat lebih meningkatkan ketelitian data, sebab bias troposfir dan bias ionosfir akan saling menghilangkan. Hal ini diakibatkan oleh adanya percepatan sinyal pada lapisan ionosfir sedangkan pada lapisan troposfir sinyal GPS mengalami perlambatan sinyal GPS, sehingga dalam perhitungan faktor koreksi kedua besaran ini saling mereduksi. Hal ini akan berbeda jika digunakan penentuan dan pengolahan data dengan menggunakan pseudorange.

Besarnya faktor koreksi yang diperoleh berdasarkan pengolahan data adalah: koreksi kesalahan ephemeris adalah sekitar: X= 0,00005 meter, Y = 0,000075 meter, Z = 0,000013 meter; koreksi efek ionosfir sekitar 0,185 meter, koreksi efek troposfir sekitar 0,1763 meter, koreksi multipath untuk mode L2 adalah sekitar 0,048 meter, dan koreksi noise sekitar 0,0019 meter. Berdasarkan pada hasil pengolahan data diperoleh besarnya efek kesalahan untuk pengukuran dengan jarak fase adalah 0,028 meter, sedangkan untuk pengukuran dengan pseudorange sekitar 5,7 meter.

4.2. Analisa Peta

Dari peta topografi yang dibuat dengan menggunakan software surfer 6 for windows, diperoleh peta kontur yang terdapat kecenderungan bahwa pada bagian tengah kampus Unhas mempunyai topografi yang relatif tinggi jika dibandingkan jika dibandingkan dengan topografi disekitar sisi-sisi samping kampus. Secara makro hal ini sesuai dengan kondisi topografi kampus yang cenderung lebih tinggi pada bahagian tengah (di sekitar fakultas MIPA dan perpustakaan pusat).

Peta topografi yang dibuat menggunakan software surfer tersebut, pada dasarnya masih mengandung unsur kesalahan dan dalam skala mikro belum sesuai dengan kondisi topografi sebenarnya, hal ini disebabkan karena surfer melakukan penggambaran peta topografi berdasarkan prinsip interpolasi dan ekstrapolasi data. Untuk mengatasi hal ini agar peta topografi yang diperoleh dapat

sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, maka disarankan untuk melakukan pengeditan peta tersebut dengan menggunakan software Auto CAD. Dengan AutoCAD dapat dilakukan penggambaran secara manual dan ketelitian peta yang lebih tinggi.

5. KESIMPULAN

1. Pada dasarnya receiver tipe Garmin XL 45 dapat digunakan untuk mengukur posisi lintang, bujur dan ketinggian elipsoid dengan ketelitian:

a. Lintang dan bujur adalah 0,1 detik atau 30,8 cm

b. Ketinggian ellipsoid adalah 1 feet atau 32,8 cm

2. Faktor koreksi data yang disebabkan oleh kesalahan ephemeris, bias ionosfir, bias troposfir, efek multipath dan noise pada data GPS yang menggunakan frekuensi jarak fase adalah 0,0028 meter.

3. Dengan melakukan pengolahan data koordinat geografi maka dapat diperoleh peta topografi daerah penelitian dengan nilai koordinat T : 9430600 hingga 9432000 meter, nilai koordinat U : 774400 hingga 776000 meter, serta nilai ketinggian 53,97 hingga 62,97 meter.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, H.Z, 1995. Penentuan Posisi Dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta: Pradnya Paramita Abidin, H.Z, 1997.Penentuan TEC (Total Electron Content) dengan Pengamatan GPS. Jurnal KFI Vol.8 No.1

B. Hofman-Wellenhof, H. Lichtenegger and J. Collins, 1992.GPS Theory And Practice. New York: Springer-Verlag Wien

Massinai M. Altin, 1994. Aplikasi GPS pada Instalasi Bangunan Lepas Pantai. Makalah Seminar Teknik Geodesi ITB Bandung

Prihandito Aryono, 1988. Proyeksi Peta. Kanisius. Jakarta

(5)

Soetomo Wongsotjitro, 1982. Ilmu Proyeksi Peta. Kanisius Jakarta

Tuti, G, 1986. Aplikasi NAVSTAR GPS Dan Polytechnic XR-1 Receiver Untuk Menentukan Koordinat Geografis Stasiun Stasiun Bumi Satelit Sumber Alam Pekayon. Majalah LAPAN No. 44

(6)

LAMPIRAN 775400 775600 775800 776000 776200 776400 Koordinat T (meter) 9429600 9429800 9430000 9430200 9430400 9430600 9430800 9431000 9431200

Koordinat U

(m

eter

)

PETA TOPOGRAFI DAERAH PENELITIAN

UTARA

58.00

Garis kontur (meter)

Poligon utama

Referensi

Dokumen terkait

Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan STBM dilakukan untuk mengukur perubahan dalam pencapaian program serta mengidentifikasi pembelajaran dalam pelaksanaannya pada

Hasil dari penelitian ini berupa identifikasi posisi Program PAMSIMAS II setelah dilakukan perhitungan EFAS dan IFAS yang dilakukan berdasarkan Kuesioner yang telah

Pengaruhperceived risk terhadap perilaku konsumen pada transaksi e-commerce mahasiswa yang ada di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Lampung menurut persepsi etika bisnis

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian kuantitatif adalah suatu bentuk metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau

Faktor yang melatarbelakangi pengalihan fungsi lahan kebun karet di Desa Bencah, dan kebun lada di Desa Silip menjadi lahan penambangan timah adalah: merosotnya masing-masing

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII MIA 3 materi