DAMPAK BANJIR BANDANG TERHADAP
AKTIVITAS MASYARAKAT SEKITAR AIR TERJUN DUA WARNASIBOLANGIT SUMATERA UTARA
SKRIPSI
ZULFA HUSNA 141201067
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
DAMPAK BANJIR BANDANG TERHADAP AKTIVITAS MASYARAKAT SEKITAR AIR TERJUN DUA WARNA
SIBOLANGIT SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Oleh :
ZULFA HUSNA 141201067
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memproleh gelar Sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Zulfa Husna
Nim : 141201067
Judul Skripsi : Dampak Banjir Bandang Terhadap Aktivitas Masyarakat Sekitar Air Terjun Dua Warna Sibolangit Sumatera Utara
Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Medan, Februari 2019
Zulfa husna 141201067
ABSTRAK
ZULFA HUSNA. Dampak Banjir Bandang Terhadap Aktivitas Masyarakat Sekitar Air Terjun Dua Warna Sibolangit Sumatera Utara. Dibimbing oleh ACHMAD SIDDIK THOHA.
Salah satu dampak bencana alam adalah terganggunya aktivitas masyarakat di sekitar lokasi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas masyarakat dan mengetahui dampak bencana banjir bandang disekitar Air Terjun Dua Warna. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan berupa data skunder dan data primer.
Data primer merupakan data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan pengambilan sampel 10 % dari jumlah populasi.Hasil dari penelitian menunjukkan aktivitas masyarakat sekitar kawasan wisata Air Terjun Dua Warna Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara yaitu pemandu wisata, pengelola parkir, petani, buruh harian, penyewaan tenda, berdagang, dan kegiatan organisai SAR.
Adapun dampak banjir bandang wisata Air Terjun Dua Warna umumnya terlihat jelas pada perubahan luas sungai/badan air dan ekosistem hutan rusak, yang berdampak pada kegiatan masyarakat sekitar kawasan yang mengalami perubahan aktivitas keseharian dari pemandu wisata menjadi buruh tani serta dari pedagang beralih dalam mengelola lahan pertanian maupun lahan kebun campuran.
Kata kunci : Aktivitas Masyarakat, Air Terjun Dua Warna, Bencana Alam, Tutupan Lahan
ii ABSTRACT
ZULFA HUSNA. The Impact of the Deluge Against the Activities of a Community Around The Dua Warna Waterfall Sibolangit North Sumatra.
Supervised by the ACHMAD SIDDIK THOHA.
Natural disasters that occurred in the Dua Warna Waterfall destination Subdistrict Sibolangit District of Deli Serdang North Sumatra is one of the natural disasters that cause an impact on the activities of the community. This research aims to identify the activities of the community and find out the impact of a catastrophic flash floods around the Dua Warna Waterfall. The methods used in this research uses qualitative descriptive method. The data collected in the form of data primary data, skunder and primary data is data that is retrieved based on the results of direct observation in the field and interviews with a sampling of 10% of the total population. The result of the research shows Activity society around the Dua Warna Waterfall tour New Airport Village sub district of Deli Serdang Regency, Sibolangit, Sumatera Utara. Guide, parking Manager, farmers, workers ' daily, tent rental, trade organizations activity, and Dua Warna SAR while the impact of the deluge against Community activity that occurs in Dua Warna Waterfalls tours are generally clearly visible on the far-reaching changes of the river/body of water and forest ecosystems are damaged, which affects on community activities around the changing day-to-day activities of tour guides became farm laborers as well as from traders switch in managing agricultural land or land garden mix
Keywords: Community Activities, Dua Warna Waterfall, Natural Disasters, Social Impacts.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmad dan Ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapaun skripsi yang dibuat berjudul “Dampak Banjir Bandang Terhadap Aktivitas Masyarakat Sekitar Air Terjun Dua Warna Sibolangit Sumatera Utara”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Achmad Siddik Thoha S.Hut., M.Si selaku komisi pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis serta memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dalam penyelesaikan skripsi ini. Penulis juga berterima kasih kepada kedua orang tua bapak Abdul Gani dan Ibu Eva Yani serta kakak dan adik yang selalu memberikan kasih sayangnya yang tak terbatas, kesabaran, doa dan dukungan serta materi kepada penulis.
Penulis juga berterimakasih kepada seluruh masyarakat Desa Bandar Baru khususnya masyarakat sekitar lokasi Air Terjun DuaWarna, dan kepada Bapak Ramlan Barus selaku kepala UPT TAHURA Bukit Barisan yang telah banyak membantu dalam memproleh data yang dibutukan dalam skripsi ini. Terakhir penulis berterima kasih kepada rekan tim penelitian Arnidah Sari, Khairunnisa Kudadiri Sinta Manik dan Boki Taiba Mayalibit, yang telah memberikan semangat dan kerjasama saat melakukan penelitian
Medan, Februari 2019 Penulis
Zulfa Husna
iv
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumtera Utara pada tanggal 03 Mei 1996 dari pasangan Abdul Gani dan ibu Eva Yani. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Penulis menempuh pendidikan formal di SD Negeri 050771 Pangkalan Kabupaten Langkat dan lulus pada tahun 2008. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Babalan Pangkalan Berandan, Kabupaten Langkat dan lulus pada tahun 2014. Pada tahun 2014 penulis lulus seleksi masuk USU melalui jalur SNMPTN. Penulis memilih Program Studi Kehutanan, minat Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan.
Selain mengikuti perkuliahan, penulis juga aktif dalam kegiatan organisasi baik di dalam maupun di luar kampus yaitu Himpunan Mahasiswa Langkat (HIMALA). Pada tahun 2016 dan 2017 sebagai anggota Student Entreprenerurship Center USU (SEC). Penulis mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) pada tahun 2016 di Kawasan Hutan Mangrove Sei Nagalawan Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Selanjutnya penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Batang Gadis (22 Januari – 22 Februari 2018).
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP... iv
DAFTAR ISI...v
DAFTAR TABEL...vi
DAFTAR GAMBAR...vii
DAFTAR LAMPIRAN...viii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Manfaat Penelitian ... 2
TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum ... 3
Pengertian Bencana Alam ... 3
Bencana Banjir Bandang ... 4
Pengertian Aktivitas ... 5
Kriteria dan Contoh Aktivitas Masyarakat ... 5
Dampak Bencana Banjir Bandang yang Berpengaruh Terhadap Aktivitas Masyarakat... 5
Pemanfaatan Pengindraan Jauh untuk Kajian Dampak Bencana... 6
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 12
Alat dan Bahan ... 12
Prosedur Penelitian... 12
Pengumpulan Data ... ... 13
Analisis Tipe Tutupan Lahan ... 14
Analisis Perubahan Tutupan Lahan... 14
Analisis Perubahan Aktivitas Masyarakat Pra Bencana dan Pasca Bencana ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Aktivitas Masyarakat Sekitar Kawasan Air Terjun Dua Warna... ... 15
Dampak Banjir Bandang Terhadap Aktivitas Masyarakat... 17
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... ... 24
Saran... 24 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vi
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Kelas Penetapan Lahan Menurut BAPLAN
Departemen Kehutanan 2015... 8 2. Data Primer dan Data Skunder dalam Penelitian... 13 3. Jenis Aktivitas Masyarakat Terkait Wisata Air Terjun
Dua Warna Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit
Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara ... 15 4. Tutupan Lahan Tahun 2014 (pra bencana) dan 2016
(Pasca Bencana) di sekitar Air Terjun Dua Warna……… 17 5. Akivitas Masyaraat Pra dan Pasca Bencana……….. 20
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Peta Lokasi Penelitian... 12 2. Peta Tutupan Lahan di Dearah yang Berbatasan
Langsung dengan Kawasan Air Terjun Dua
Warna Desa Bandar Baru dan Sikeben... 16 3. Peta Tutupan Lahan pada Kawasan Air Terjun
Dua Warna Tahun 2014... 19 4. Peta Tutupan Lahan pada Kawasan Air Terjun
Dua Warna Tahun 2016... 19 5. Kondisi Sungai Sekitar Sekitar
Kawasan Air Terjun Dua Warna... 22 6. Kondisi Jalan Sekitar
Kawasan Air Terjun Dua Warna... 22
viii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Dokumentasi Survey Lapangan... 27 2. Kondisi Air Terjun Dua Warna Pasca
Benca Banjir Bandang Tahun 2018... 27 3. Kondisi Sekitar Air Terjun Setelah Terjadi Bencana………….. 27 4. Sungai di sekitar Air Terjun……… 29 5. Villa yang Berada di Wisata Air Terjun Dua Warna………. 29 6. Wawancara Terkait Bencana Banjir
Bandang dengan Narasumber Pengelola Villa... 30 7. Wawancara dengan Narasumber Pemandu dan Pedagang... 30 8. Wawancar Kepada Kepala UPT.TAHURA…………... 31 9. Kondisi Kantor Kepala Desa Bandar Baru,Sibolangit…………. 31 10. Karakteristik Responden... 32 11. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Dampak Banjir Bandang... 33 12. Matriks Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2014-2016 (Ha)……. 34
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang rawan bencana, sebagian bencana seperti gempa bumi, letusan gunung, tsunami, puting beliung terjadi di luar pengaruh manusia. Untuk sebagian bencana lainnya, kegiatan manusia sampai tingkat tertentu ikut menjadi faktor penyebab. Terlepas dari ada tidaknya pengaruh aktivitas manusia dalam peristiwa bencana, fenomena bencana tampak datang silih berganti seiring dengan perjalanan dan peredaran musim. Bahkan, bencana yang menimpa Indonesia ditengarai semakin meningkat frekuensinya (Nawiyanto, 2012).
Perubahan iklim global yang terjadi belakangan ini ternyata berdampak pada terjadinya akumulasi curah hujan tinggi dalam waktu yang singkat. Dengan curah hujan tahunan yang relatif sama, namun dengan durasi yang singkat akan berdampak pada meningkatnya intensitas banjir yang terjadi (Utama,2015).
Sibolangit terdiri dari beberapa daerah yang rawan terjadi pergerakan tanah, dengan desa yang rawan terjadi longsor yaitu Desa Sibolangit, dan Desa Bandar Baru. Kedua Desa ini memiliki kemiringan lereng yang berpotensi terjadinya longsoran. Desa Sibolangit memiliki kemiringan lereng 80-900, sedangkan Desa Bandar baru memiliki kemiringan lereng 60-700, yang masing- masing desa ini memiliki curah hujan yang tinggi tiap tahunnya (Rahmad, 2018).
Hutan memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan baik dari segi ekologi, lingkungan, sosial maupun segi ekonomi. Hutan memiliki fungsi ganda khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan karena mereka terlibat langsung dengan hutan tersebut. Pada umumnya masyarakat yang hidup di sekitar hutan akan memiliki ketergantungan yang lebih tinggi,oleh sebab itu masyarakat sekitar atau juga disebut masyarakat lokal tersebut akan tetap berusaha menjaga dan mengelola hutan tersebut meskipun akan ada sebagian orang yang tidak perduli akan fungsi hutan tersebut bagi kehidupan mereka (Ginting dkk, 2015).
Pengurangan luas hutan dari 36% menjadi 25%, 15% dan 0% akan meningkatkan laju erosi sebesar 10%, 60% dan 90%. Akibat dari erosi ini tanah menjadi padat, proses infiltrasi terganggu, banyak lapisan atas tanah yang hilang
2
dan terangkut tempat-tempat yang lebih rendah, tanah yang hilang dan terangkut inilah yang menjadi sedimentasi yang dapat mendangkalkan waduk, bendungan dan sungai (Yuwono, 2005).
Mengingat dampak banjir bandang yang terjadi di sekitar kawasan Air Terjun Dua Warna maka pengelolaan harus terpadu antar Desa, pengelolaan lingkungan harus tetap menjadi prioritas, Oleh karena itu perlu adanya upaya dalam manajemen bencana. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “ Dampak Banjir Bandang Terhadap Aktivitas Masyarakat Di Sekitar Air Terjun Dua Warna” Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan bagi masyarakat di sekitar kawasan Air Terjun Dwi Warna, Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penulisan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan kawasan Air Terjun Dua Warna.
2. Mengetahui dampak bencana banjir bandang terhadap aktivitas masyarakat di sekitar kawasan Air Terjun Dua Warna.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penulisan sebagai berikut:
1. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat dalam menjaga dan menanggulangi terjadinya banjir di kawasan ekowisata Air Terjun Dua warna, Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit.
2. Sebagai bahan dan informasi dan referensi bagi peneliti lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
3
TINJAUAN PUSTAKA
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Air Terjun Dua Warna berada di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Air Terjun Dua Warna dapat dicapai melalui Medan- Pancur Batu- Sibolangit dengan waktu tempuh 3 jam, dan Brastagi- Sibolangit 2 jam setengah. Secara geografis Kecamatan Sibolangit berada pada 98”53’602’- 98”60’797 Bujur Timur, 32”74’78’-033”99’08’ Lintang Selatan. Keadaan topografi Air Terjun Dua Warna cenderung datar hingga agak curam 0,60% dan berada pada ketinggian 350 -700 m dpl. Kecamatan Sibolangit memiliki luas 179, 96 Km2 yang terdiri dari 30 Desa. Pada bagian Utara Kecamatan Sibolangit berbatasan dengan Kecamatan Pancur batu, sedangkan Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kutalimbaru, serta sebalah Timur berbatasan dengan Kecamatan Namo Rambe, Kecamatan Biru-Biru dan Kecamatan STM Hilir (BPS, 2016).
Berdasarkan Keppres No.48 Tahun 1988, Air Terjun Dua Warna merupakan kawasan Bukit Barisan dengan fungsi hutan konservasi dan memiliki luas 39.678 ha yang berada di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Langkat, Kabupaten Karo, Kabupaten Deli serdang dan Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.
Pengertian Bencana Alam
Bencana alam merupakan suatu peristiwa alami yang menimbulkan dampak serius bagi manusia, seperti luka-luka atau hilangnya nyawa manusia, rusaknya properti (seperti rumah dan bangu nan),rusaknya infrastruktur (seperti jalan, jembatan dan saluran irigasi), musnahnya lahan budidaya (seperti lahan pertanian). Bencana alam dikelompokkan menjadi bencana alam meteorologi, bencana alam geologi, dan bencana alam dari ruang angkasa. Bencana alam meteorology berhubungan dengan cuaca dan iklim. Bencana geologi berhubungan dengan proses geologi, yaitu proses-proses yang berasal dari permukaan bumi (eksogen) atau di bawah permukaan bumi (endogen) yang melibatkan material batuan penyusunnya. Proses geologi bekerja membangun dan membentuk permukaan bumi. Bencana dari ruang angkasa (ekstra teritorial) adalah bencana
4
akibat jatuhan benda dari langit (asteroid) yang sampai ke permukaan bumi atau bencana akibat gangguan badai matahari (Suwarsono, dkk 2010).
Menurut Undang-undang No. 24 tahun 2007 bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana Banjir Bandang
Banjir merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia. Oleh sebab itu sangat perlu diantisipasi dan diminimalisir sebisa mungkin, sehingga dampak merugikan manusia bisa ditekan. Secara garis besar bencana dapat dibedakan menjadi dua yaitu bencana alam dan bencana yang disebabkan karena ulah manusia sendiri. Dalam berbagai kasus bencana banjir, baik faktor alam maupun faktor dari manusia secara bersama-sama menjadi faktor penyebab terjadinya bencana. Suatu peristiwa alam dianggap sebagai bencana apabila mengakibatkan atau berdampak pada timbulnya kerusakan, kerugian dan kesengsaraan manusia (Ismiyah dkk, 2013).
Banjir menjadi permasalahan rutin yang sering dihadapi oleh warga masyarakat yang tinggal pada wilayah aliran sungai. Meskipun masyarakat sadar akan resiko bahaya dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir, namun masyarakat tetap bersikeras untuk tinggal di wilayah rentan tersebut dan sulit untuk direlokasi ke lokasi yang lebih aman dari bahaya banjir (Santoso, 2013).
Banjir merupakan salah satu bentuk fenomena alam yang terjadi akibat intensitas curah hujan yang tinggi dimana terjadi kelebihan air yang tidak tertampung oleh jaringan pematusan suatu wilayah. Kondisi tersebut berdampak pada timbulnya genangan di wilayah tersebut yang dapat merugikan masyarakat.
Peningkatan intensitas curah hujan secara dinamis dan signifikan yang terjadi pada umumnya disebabkan oleh peningkatan gejala dari pemansana global berupa kenaikan suhu di permukaan bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia (Pamungkas dan Rachmat, 2014).
5
Pengertian Aktivitas
Aktivitas adalah keaktivan, kegiatan, kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian (KBBI, 2019). Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali aktivitas, kegiatan atau kesibukan yang dilakukan manusia, namun berarti atau tidaknya kegitan tersebut tergantung pada individu tersebut. Menurut Samuel Soeiteo (1982) sebenarnya aktivitas bukan hanya sekedar kegiatan, aktivitas dipandang sebagai usaha mencapai atau memenuhi kebutuhan.
Kriteria dan Contoh Aktivitas Masyarakat
Aktivitas masyarakat merupakan segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, aktivitas umum yang dilakukan masyarakat sosial seperti gotong royong, interakasi sosial, aktivitas dalam bekerja, sosialisasi tanggap bencana, kerja sama. Terjadinya suatu kegiatan/aktivitas yang dilakukan manusia dimulai dari hal yang kecil hingga hal besar, ini terjadi karena di daerah/kawasan tersebut memiliki daya tarik bagi manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang bersipat ekonomi dan sosial. Daya tarik tersebut dapat diartikan seperti , dimana suatu daerah, kawasan, dan kota memiliki struktur ruang yang baik (Triharto, 2016).
Kondisi masyarakat yang mengalami perubahan akibat bencana alam dapat berupa dampak sosial, dampak ekonomi, dampak sarana dan prasarana.
Dalam hal ini dampak sisoal dan ekonomi memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kelangsungan hidup masyarakat, terutama para petani yang seluruh kelangsungan hidupnya dipertaruhkan kepada pemanfaatan kawasan dan lahan hutan untuk berani sebagai mata pencaharian utama (Hafni, 2017).
Dampak Bencana Banjir yang Berpengaruh Terhadap Aktivitas Masyarakat Secara umum dampak banjir dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung relative lebih mudah diprediksi dari pada dampak tidak langsung. Dampak yang dialami oleh daerah perkotaan dimana didominasi oleh permukiman penduduk juga berbeda dengan dampak yang dialami daerah perdesaan yang didominasi oleh areal pertanian. Banjir yang menerjang suatu kawasan dapat merusak dan menghanyutkan rumah sehingga menimbulkan korban luka-luka maupun meninggal seperti yang terjadi di Wasior maupun
6
Bohorok. Banjir juga dapat melumpuhkan armada angkutan umum (bus mikro, truk) atau membuat rute menjadi lebih jauh untuk bisa mencapai tujuan karena menghindari titik genangan (Rosyidie, 2013).
Akibat bencana banjir, bangunan-bangunan akan rusak atau hancur yang disebabkan oleh daya terjang air banjir, terseret arus, daya kikis genangan air, longsornya tanah di seputar/di bawah pondasi, tertabrak/terkikis oleh benturan dengan benda-benda berat yang terseret arus. kerugian fisik cenderung lebih besar bila letak bangunan di lembah-lembah pegunungan dibanding di dataran rendah terbuka. Banjir dadakan akan menghantam apa saja yang dilaluinya (Sebastian, 2008).
Menurut Utomo dan Supriharjo (2012) menyatakan bahwa ada beberapa Faktor yang berpengaruh dalam penentuan tingkat kerentanan terhadap bencana banjir bandang adalah sebagai berikut: a) Aspek Lingkungan: curah hujan yang tinggi, jarak dari sungai, ketinggian topografi tanah dan penggunaan lahan, b) Aspek Fisik: persentase kerusakan jaringan jalan dan ketinggian kepadatan bangunan, c) Aspek Ekonomi: persentase rumah tangga miskin dan pekerja yang bekerja disektor rentan (Petani), d) Aspek Sosial: tingginya kepadatan penduduk, tingkat laju pertumbuhan penduduk dan persentase penduduk usia tua+balita.
Beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab terjadinya bencana adalah kemiskinan,pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang cepat, transisi cultural atau perubahan dalam masyarakat, proses alam (proses geologi,geomorfologis dan klimatologi), degradasi lingkungan, kurangnyakesadaran dan informasi yang ada dalam masyarakat, peristiwaperang atau kerusuhan masyarakat (Sriharini, 2010).
Pemanfaatan Pengindraan Jauh untuk Kajian Dampak Bencana
Informasi terkait tutupan lahan sangat penting, karena informasi ini berhubungan langsung dalam perumusan kebijakan keruangan di suatu wilayah.
Oleh sebab itu proses identifikasi, pemantauan dan evaluasi penutup lahan perlu selalu dilakukan pada setiap periode tertentu. Keberadaan informasi ini diperlukan oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Informasi ini dapat digunakan untuk mengetahui penutup lahan pada masa lalu, saat ini dan prediksi di masa depan, maupun untuk perencanaan, pengelolaan dan pemantauan perubahan lingkungan, sehingga sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan secara
7
optimal dan berkelanjutan. Untuk mendapatkan data terkait tutupan lahan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah melalui pemakaian teknologi penginderaan jauh. Dengan memakai teknologi ini, maka penggunaan sumber daya manusia, waktu dan biaya dapat lebih ditekan jika dibandingkan dengan mendapatkan data melalui survey di lapangan (Urip, 2017).
Kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah memerlukan acuan arah dan informasi geospasial. Untuk memperoleh informasi geospasial, saat ini para pengguna internet di Indonesia mulai memanfaatkan Gooogle Earth. Peta global Google Earth dibandingkan peta konvensional maupun digital local/nasional mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya adalah murah, cakupan data seluruh dunia dan informasi /citra mudah didownload melalui internet. Aplikasi ini mampu menyajikan kondisi suatu lokasi secara visual (foto) dari berbagai tingkat ketinggian (Yuanita, 2013).
Adapun sistem klasifikasi tutupan lahan dari BAPLAN Departemen Kehutanan dijadikan acuan. Hal ini dilakukan karena lokasi penelitian berada pada kawasan hutan. Penentuan kelas tutupan lahan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan hasil kriteria BAPLAN dengan penafsiran citra satelit terhadap penampilan lapangan atas batas-batas yang jelas di lapangan sesuaikan dengan kondisi lapangan di wilayah penelitian.
8
Tabel 1. Kelas Penutupan Lahan menurut BAPLAN Departemen Kehutanan, 2015 No Kelas Keterangan
1. Hutan Lahan Kering Primer Seluruh kenampakan hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan (dataran tinggi dan subalpin) yang belum menampakan bekas penebangan, termasuk hutan kerdil, hutan kerangas, hutan di atas batuan kapur,hutan di atas batuan ultra basa, hutan daun jarum, hutan luruh daun dan hutan lumut.
2. Hutan Lahan Kering
Sekunder/ bekas tebangan Seluruh kenampakan hutan dataran rendah, perbukitan dan pegunungan yang telah menampakkan bekas penebangan yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Termasuk hutan kerdil, hutan kerenges, hutan di atas batuan kapur,hutan di atas batuan ultra basa, hutan daun jarum, hutan luruh daun dan hutan lumut. Daerah berhutan bekas tebas bakar yang ditinggalkan, bekas kebakaran atau yang tumbuh kembali dari bekas tanah terdegradasi juga dimasukkan dalam kelas ini. Bekas tebangan parah bukan areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukkan savanna, semak, belukar atau lahan terbuka.
3. Hutan Rawa Primer Seluruh kenampakan hutan di daerah berawa, termasuk rawa payau dan rawa gambut yang belum menampakkan bekas penebangan, termasuk hutan sagu.
4. Hutan Rawa Sekunder/bekas
Tebangan Seluruh kenampakan hutan didaerah berawa,
termasuk rawa payau dan rawa gambut yang belum menampakkan bekas penebangan, termasuk hutan sagu dan hutan rawa bekas terbakar. Bekas tebangan parah jika tidak memperlihatkan tanda genangan (liputan air) digolongkan tanah terbuka, sedangkan jika memperlihatkan bekas genangan atau tergenang digolongkan tubuh air (rawa).
5. Hutan Mangrove Primer Hutan bakau, nipah dan nibung yang berada di sekitar pantai yang belum menampakkan bekas tebangan. Pada beberapa lokasi, hutan mangrove berada lebih dipedalaman.
9
Tabel lanjutan kelas penutupan lahan menurut BAPLAN Departemen Kehutanan
No Kelas Keterangan
6. Hutan Mangrove Sekunder/bekas
Tebangan Hutan bakau, nipah dan nibung yang berada di
sekitar pantai yang telah memperlihatkan bekas tebangan dengan pola alur,bercak, dan genangan atau bekas terbakar. Khusus untuk bekas tebangan yang telah berubah fungsi menjadi tambak/sawah digolongkan menjadi tambak/sawah, sedangkan yang tidak memperlihatkan pola dan masih tergenang digolongkan tubuh air (rawa).
7. Hutan Tanaman Seluruh kawasan hutan tanaman yang sudah ditanami, termasuk hutan tanaman untuk reboisasi. Identifikasi lokasi dapat diperoleh dengan pada Peta Persebaran hutan tanaman.
8. Semak Belukar Kawasan bekas hutan lahan kering yang telah tumbuh kembali atau kawasan dengan liputan pohon arang (alami) atau kawasan dengan dominasi vegetasi rendah (alami). Kawasan ini biasanya tidak menampakkan lagi bekas alur/bercak penebangan.
9. Semak Belukar Rawa Kawasan bekas hutan rawa/mangrove yang telah tumbuh kembali atau kawasan dengan liputan pohon arang (alami) atau kawasan dengan dominasi vegetasi rendah (alami). Kawasan ini biasanya tidak menampakkan lagi bekas alur/bercak penebangan.
10. Savana/ padang rumput Kenampakkan non hutan alami berupa padang rumput, kadang-kadang dengan sedikit semak atau pohon. Kenampakkan ini merupakan kenampakkan alami di sebagian Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur dan bagian Selatan Papua. Kenampakkan ini dapat terjadi pada lahan kering ataupun rawa (rumput rawa).
11. Pertanian Lahan Kering Semua aktivitas pertanian dilahan kering seperti tegalan, kebun campuran dan lading
10
Tabel lanjutan kelas penutupan lahan menurut BAPLAN Departemen Kehutanan No Kelas Keterangan
12. Pertanian Lahan Kering Campur
Semak/kebun campur Semua jenis pertanian lahan kering yang berselang- seling dengan semak, belukar, dan hutan bekas tebangan. Sering muncul pada areal perladangan berpindah, dan rotasi tanam lahan karst. Kelas ini juga memasukkan kelas kebun campuran.
13. Sawah Semua aktifitas pertanian lahan basah yang
dicirikan oleh pola pematang. Yang perlu diperhatikan oleh penafsir adalah fase rotasi tanam yang terdiri atas fase penggenangan, fase tanaman muda, fase tanaman tua dan fase bera.
Kelas ini juga memasukkan sawah musiman, sawah tadah hujan, sawah irigasi. Khusus untuk sawah musiman di daerah rawa membutuhkan informasi tambahan dari lapangan.
14. Tambak Aktivitas perikanan darat (ikan/udang) atau
penggaraman yang tampak dengan pola pematang (biasanya) di sekitar pantai.
15. Perkebunan/kebun Seluruh kawasan perkebunan, yang sudah ditanami Identifikasi lokasi dapat diperoleh pada Peta Persebaran Perkebunan. Perkebunan rakyat biasanya berukuran kecil sulit diidentifikasi dari citra maupun peta persebaran, sehingga
memerlukan informasi lain, termasuk data lapangan.
16. Pemukiman/lahan terbangun Kawasan permukiman baik perkotaan, pedesaaan, industri dll, yang memeperlihatkan pola alur yang rapat.
17. Bandara /pelabuahan Kenampakkan bandara dan pelabuhan yang berukuran besar dan memungkinkan untuk didelineasi tersendiri.
11
Tabel lanjutan kelas penutupan lahan menurut BAPLAN Departemen Kehutanan
No Kelas Keterangan
18. Transmigrasi Kawasan permukiman transmigrasi beserta pekarangan di sekitaranya. Kawasan pertanian atau perkebunan disekitarnya yang teridentifikasi jelas sebaiknya dikelaskan menurut pertanian atau perkebunan. Kawasan transmigrasi yang telah berkembang sehingga polanya menjadi kurang teratur dikelaskan menjadi pemukiman perdesaan.
19. Lahan Terbuka Seluruh kenampakan lahan terbuka tanpa vegetasi (singkapan batuan puncak gunung, puncak bersalju, kawah vulkan, gosong pasir, pasir pantai, endapan sungai) dan lahan terbuka bekas kebakaran.. Kenampakan tanah terbuka untuk pertambangan dikelaskan pertambangan, sedangkan lahan terbuka bekas pembersihan lahan land clearing dimasukkan kelas lahan terbuka. lahan terbuka dalam kerangka rotasi tanam sawah/tambak tetap dikelaskan sawah/tambak.
20. Pertambangan Lahan terbuka yang digunakan untuk aktivitas pertambangan terbuka, openpit (batubara, timah, tembaga dll.) serta lahan pertambangan tertutup skala besar yang dapat diidentifikasi dari citra berdasar asosiasi kenampakan objeknya.
Termasuk tailing ground (penimbunan limbah penambangan). Lahan pertambangan tertutup skala kecil atau yang tidak teridentifikasi dikelaskan menurut kenampakan permukaannya.
21. Awan Semua kenampakan awan yang menutupi suatu
kawasan dengan ukuran lebih dari 4 cm2 pada skala penyajian. Jika liputan awan tipis masih memperlihatkan kenampakan di bawahnya dan memungkinkan di tafsir tetap didelinease.
Kenampakan rawa yang sudah tidak berhutan.
22. Tubuh Air Semua kenampakan perairan, termasuk laut,
sungai, danau, waduk, terumbu karang, padang lamun, dll. Kenampakan tambak, sawah dan rawa-rawa telah digolongkan tersendiri.
23. Rawa Kenampakan lahan rawa yang sudah tidak
berhutan.
12
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November 2017 - Agustus 2018 di Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit di sekitar kawasan wisata Air Terjun Dua warna, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Kegiatan pengolahan dan analisis data dilakukan dilaboratorium Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah PC (Personal Computer) perangkat lunak Mikrosoft Exel, softrware ArcGIS 10.1, GPS (Global Positioning System), kamera dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra dari Google Earth, Peta administrasi kecamatan.
Prosedur Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu data primer dan data sekunder.
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini tertera pada Tabel 2.
13
Tabel 2. Data Primer dan data sekunder dalam penelitian
No Nama Data Jenis Data Sumber Tahun
1 Data Lapangan (Ground Check)
Primer Data Lapangan
2018 2
Google Earth
Sekunder https://bitbucket.org/sas_team /sas.planet.bin/download/SAS .Planet.Release.160707.zip
2016 3
Google Earth
Sekunder https://bitbucket.org/sas_team /sas.planet.bin/download/SAS .Planet.Release.140303.zip
2014 4 Peta Administrasi
Kecamatan Sibolangit, Sungai, Jalan
Sekunder Balai Pemantapan Kawasan
Hutan Medan 2013
Data primer merupakan data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan. Data yang dikumpulkan yaitu identifikasi aktivitas keseharian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan wisata Air Terjun Dua Warna dan pengecekan lapangan (ground check). Data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga terkait dan melalui studi literatur dari berbagai sumber. Data sekunder yang mendukung penelitian ini adalah data peta administrasi, buku profil Kecamatan Sibolangit yang diperloleh dari Kepala Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Sumatera Utara.
Pengmpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
Observasi (Pengecekan Lapangan)
Dalam tahap observasi peneliti melakukan survei lapangan dibantu oleh pendamping lapangan (ranger) yang mengetahui kondisi wilayah penelitian dan mengetahui lokasi-lokasi dampak terjadinya bencana, sehingga peneliti dapat mengamati aktivitas masyarakat di sekitar kawasan wisata, mengambil titik koordinat, dan dkumentasi pribadi berupa foto, sehingga peneliti dapat memperoleh informasi dampak banjir bandang terkait aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan kawasan wisata Air Terjun Dua Warna.
Wawancara
Dalam penelitian ini dilakukan wawancara terhadap masyarakat sekitar kawasan Air Terjun Dua Warna yaitu di Dusun 3 Desa Bandar Baru, pemilihan responden dilakukan secara purposive. Dalam penelitian ini pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner yang berisi pertanyaan tertentu sesuai
14
dengan kebutuhan data peneliti, sehingga mencapai hasil dari tujuan peneliti. Pada penelitian ini diambil sampel 10% dari jumlah populasi. Menurut Sugiarto dkk (2001) tahap awal peneliti pemula, sampel diambil 10% dari total individu populasi yang diteliti. Adapun jumlah individu populasi pada lokasi penelitian terdapat 186 KK, sampel minimum pada penelitian ini adalah 18 KK, namun dalam penelitian ini banyak sampel yang diambil sebanyak 20 KK untuk dapat mewakili jumlah populasi yang ada di lokasi tersebut.
Analisis Tipe Tutupan Lahan
Analisis tutupan lahan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu pengolahan citra awal terdiri dari penyediaan citra, pemotongan citra dan survei lapangan, menganalisis data dan pengumpulan data pendukung dari berbagai sumber buku dan literatur yaitu dari lembaga atau instansi terkait dengan wisata Air Terjun Dua Warna, serta pengolahan citra. Pengolahan citra dilakukan dengan menggunakan PC (personal computer) dengan software ArcGis 10.1 dan citra Google Earth tahun 2014 (pra bencana) dan tahun 2016 (pasca bencana) dan peta administrasi desa
Analisis Perubahan Tutupan Lahan
Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan dengan membandingkan luas dan persentase sebelum dan sesudah bencana. Adapun penentuan tipe tutupan lahan dengan melakukan klasifikasi visual melalui proses digitasi on screen pada citra Google Earth pro tahun 2014 (pra bencana) dan tahun 2016 (pasca bencana) dan berdasarkan penafisiran citra. Analisis tersebut diambil melalui hasil ground check dan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan sehingga diperoleh delapan tipe penutupan lahan, yaitu hutan, pertanian lahan kering, kebun campuran, permukiman, badan air lahan terbuka, semak belukar, jalan.
Analisis Perubahan Aktivitas Masyarakat Pra dan Pasca Bencana
Analisis perubahan aktivitas masyarakat dilakukan dengan membandingkan aktivitas masyarakat pra dan pasca bencana, aktivitas masyarakat diperoleh dari hasil wawancara dan kuisioner yang teah disediakan beserta pertanyaan terkait aktivitas masyarakat pra dan pasca bencana, serta dapat dilihat dari perubahan tutupan lahan yang terkait dengan aktivitas masyarakat, sehingga diketahui perubahan aktivitas masyarakat pra dan pasca bencana.
15
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identfikasi Aktivitas Masyarakat Sekitar Kawasan Air Terjun Dua Warna Identifikasi aktivitas masyarakat pada daerah yang berbatasan langsug dengan wisata Air Terjun Dua Warna yaitu Desa Bandar Baru dan Desa Sikeben dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jenis Aktivitas Masyarakat terkait wisata Air Terjun Dua Warna Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli serdang Sumatera Utara.
No Tipe Tutupan Lahan Luas Tutupan
Lahan Tahun 2016
Aktivitas Masyarakat Tahun 2018 (pasca
becana)
1 Badan air 20.07 Wisata
2 Hutan 2750.80 Buruh kayu
3 Kebun Campuran 209.98 Camping
4 Lahan Terbuka 391.72 Bertani, berkebun
5 Permukiman 99.68 Buruh tani, bertani
6 Pertanian Lahan Kering 225.48 Perkumpulan masyarakat
7 Semak belukar 113.40 Perladangan
Total 3811.13
Sumber : Hasil analisis citra tahun 2016 dan observasi tahun 2018
Tabel 3 menunjukkan hasil analisis citra tahun 2016 (pra bencana) yang diperoleh 8 tipe tutupan lahan dan identifikasi penggunaan lahan masyarakat yang diperoleh dari observasi lapangan pada daerah penelitian. Adapun penggunaan lahan yang merupakan kegiatan atau aktivitas masyarakat di atas tutupan lahan yaitu wisata, buruh kayu, camping, bertani, berkebun, buruh tani, perkumpulan masyarakat, perladangan, serta pengelola parkir.
Pada daerah penelitian, aktivitas masyarakat yang dilakukan merupakan upaya untuk meletarikan kawasan wisata baik dari segi ekonomi, ekologi maupun budaya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dhalyana (2013) bahwa aktivitas masyarakat memepengaruhi hubungan sosial antar sesama masyarakat di daerah wisata tersebut dengan tujuan untuk menarik minat pengunjung agar wisatawan yang datang tidak hanya wisatawan lokal.
Aktivitas masyarakat dalam penggunaan lahan terdapat pada jenis tutupan lahan yaitu badan air, hutan, lahan terbuka, kebun campuran, Pertanian lahan kering, Permukiman dan Semak belukar. Pada lokasi penelitian, luas tutupan lahan terbesar terdapat pada hutan dan lahan terbuka, pada tutupan lahan hutan
16
seluas 2781.56 ha dan lahan lahan terbuka seluas 392.73 ha. Luas tutupan lahan terbesar terdapat pada hutan dan lahan terbuka, hal ini karena lokasi penelitian merupakan tempat wisata bagi mayarakat sehingga pasca bencana masyarakat tidak dapat lagi masuk ke dalam kawasan wisata Air Terjun Dua Warna yang berada di dalam hutan, namun masyarakat hanya dapat menikmati wisata di sekitar Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit.
Menurut salah satu anggota karang taruna bahwa kegiatan yang dilakukan sebelum bencana banjir yaitu camping dan menelusuri kawasan wisata Air Terjun Dua Warna, berenang, menikmati pesona alam air terjun, bersantai menghangatkan tubuh sambil menyalakan api unggun, namun pasca terjadi bencana banjir bandang pengunjung hanya diperbolehkan untuk camping pada sekitar areal Bumi Perkemahan Sibolangit dan tidak di berikan izin untuk memasuki kawasan Wisata Air Terjun Dua Warna.
Berdasarkan hasil klasifikasi secara visual dengan melakukan digitasi pada citra tahun 2016 (pasca bencana) yang meliputi 2 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan wisata Air Terjun Dua Warna yaitu Desa Bandar Baru dan Desa Sikeben , dapat ditunjukkan pada Gambar 2 berikut.
Gambar 2. Peta Tutupan Lahan di Daerah Yang berbatasan Langsung dengan Kawasan Air Terjun Dua Warna Desa Bandar Baru dan Sikeben, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang Tahun 2016.
17
Dampak Banjir Bandang Terhadap Aktivitas Masyarakat
Secara umum dampak banjir bandang yang terjadi di Dusun 3 Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang cukup merugikan.
Hasil dari klasifikasi tutupan lahan mengalami perubahan luas pada setiap tutupan lahan. Luas tutupan lahan berdasarkan citra satelit google earth dapat dilihat pada table berikut 4 berikut.
Tabel 4. Tutupan Lahan Tahun 2014 (pra bencana) dan 2016 (pasca bencana) di Sekitar Kawasan Air Terjun Dua Warna
No Tipe Tutupan Lahan Luas Tutupan Lahan Tahun
2014 (Ha)
Luas Tutupan Lahan Tahun
2016 (Ha)
Perubahan Luas Tahun
2014-2016 (ha)
Persentase perubahan
(%)
1 Badan air 23.77 20.07 -3,70 3,89
2 Hutan 2781.56 2750.80 -30,76 32,30
3 Kebun Campuran 164.42 209.98 45,56 -47,84
4 Lahan Terbuka 392.73 391.72 -1,00 1,05
5 Peermukiman 97.62 99.68 2,06 -2,16
6 Pertanian Lahan Kering
234.01 225.48
-8,53 8,95
7 Semak Belukar 117.02 113.40 -3,62 3,80
Total 3811.13 3811.13 100
Keterangan : (-) : Penurunan Luasan (+) : Penambahan Luasan
Berdasarkan Table 4, diketahui tutupan lahan yang diidentifikasi berupa badan air, hutan, lahan terbuka, kebun campuran, pertanian lahan kering, permukiman, semak belukar dan jalan. Tutupan lahan terbesar terdapat pada hutan, yaitu pada tahun 2014 (pra bencana) dengan luas 2781,56 ha, dan pada tahun 2016 (pasca bencana) seluas 2750,80 ha, terjadi perubahan dalam kurun waktu 2 tahun yaitu tahun 2014-2016 dengan luas sebesa 32,30%, hal ini terjadi akibat bencana banjir bandang yang melandai wisata Air Terjun Dua Warna, dimana terjadi kerusakan disepanjang kanan kiri sungai yang disertai longsor yang membuat hutan disepanjang sungai mengalami kerusakan sehingga terjadi penurunan luas hutan.
Pada tutupan lahan terbuka terjadi penurunan luas yaitu pada tahun 2014 (pra bencana ) dengan luas 392,73 ha dan pada tahun 2016 (pasca bencana) seluas 391,72 ha, terjadi perubahan dengan luas sebesar 1,05 % dalam kurun waktu 2 tahun yaitu tahun 2014 – 2016, hal ini terjadi setelah wisata Air Terjun Dua Warna ditutup oleh pihak TAHURA, yang mengakibtkan masyarakat sekitar kawasan sebagain besar beralih aktivitas dalam membuka lahan pertanian
18
mengelola kebun serta bertani. Selain itu, masyarakat sekitar juga memanfaatkan lahan tersebut sebagai tempat wisata dengan membangun suatu tempat untuk melakukan kegiatan, hal ini terjadi karena aktivitas wisatawan yang sebelumnya melakukan aksi dalam kawasan hutan namun setalah bencana wisatawan hanya bisa melakukan aktivitas disekitar Bumi Perkemahan Sibolangit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fahreza (2016) bahwa pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin meningkat, hal ini menyebabkan kebutuhan akan ruang baik ruang untuk tempat tinggal dan aktivitas lainnya juga semakin meningkat.
Pada tutupan lahan kebun campuran terjadi penambahan luas yaitu pada tahun 2014 (pra bencana) dengan luas 164,42 ha, dan pada tahun 2016 (pasca bencana) seluas 209,98 ha, terjadi perubahan dalam kurun waktu 2 tahun yaitu tahun 2014 - 2016 dengan luas sebesar 47,84%, hal ini terjadi setelah bencana banjir bandang pada wisata Air Terjun Dua Warna dan wisata tersebut ditutup sehingga masyarakat kehilangan aktivitas masyarakat sebagai pemanadu wisata alam beralih profesi dalam mengelola lahan kebun maupun sebagai buruh tani.
Perubahan tutupan lahan yang terjadi di sekitar kawasan wisata Air Terjun Dua Warna dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 berikut.
19
Gambar 3. Peta Tutupan Lahan pada Kawasan Wisata Air Terjun Dua Warna Tahun 2014.
Gambar 4. Peta Tutupan Lahan pada Kawasan Wisata Air Terjun Dua Warna Tahun 2016.
20
Pada Gambar 3 dan Gambar 4 merupakan hasil klasifikasi visual dengan melakukan digitasi on screen pada citra google earth tahun 2014 dan 2016, Gambar 3 menunjukkan tutupan lahan tahun 2014 (pra bencana) dan Gambar 4 menujukkan tutupan lahan tahun 2016 (pasca bencana), pada gambar tersebut dapat diketahui perbedaan antara tutupan lahan sebelum dan sesudah bencana, terjadi perubahan yang terlihat jelas pada tutupan lahan hutan yang berada di kawasan wisata Air Terjun Dua Warna. Pada peta tahun 2016 (pasca bencana) diketahui terjadi bukaan lahan hutan semakin terlihat lebih luas dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini terjadi akibat terjadinya bencana banjir bandang yang juga disertai longsor pada kawasan tersebut sehingga terjadi pengurangan luas hutan pada tahun 2016 (pasca bencana). Hal ini juga berdampak terhadap perubahan aktivitas masyarakat sebelm dan susudah terjadinya bencana. Berikut perubahan aktivitas/profesi masyarakat dapat dilihat pada Tabel 5.
Perubahan aktivitas masyarakat pada daerah kawasan wisata Air Terjun Dua Warna dapat dilihat pada berikut.
Tabel 5. Aktivitas masyarakat Pra Bencana dan Paca Bencana No Pra Bencana Pasca Bencana Responden
Aktivitas pra Bencana
Aktivitas pasca Bencana
1 Pengelola parkir Pengelola parkir 4 1
2 Petani Petani 2 4
3 Pedagang Pedagang 5 9
4 Buruh tani Buruh tani 2 4
5 Pengelola wisata - 1 -
6 Pengelola
penginapan/
Penyewaan Outdoor
Pengelola penginapan/
Penyewaan Outdoor
2 2
7 Pemandu wisata - 4 -
Total 20 20
Sumber : Kuisioner dan wawancara
Tabel 5. menunjukkan aktivitas masyarakat pra bencana dan pasca bencana. Adapun aktivitas masyarakat pra bencana yaitu pengelola parkir, petani, pedagang, buruh tani, pengelola wisata, pengelola penginapan, dan pemandu wisata. Sedangkan aktivitas masyarakat pasca bencana yaitu pengelola parkir, petani, pedagang, buruh tani dan pengelola penginapan. Aktivitas masyarakat
21
yang jumlahnya betambah yaitu petani, pedagang, dan buruh tani, dan diketahui aktivitas masyarakat yang jumlahnya berkurang yaitu pengelola parkir, sedangkan aktivitas masyarakat sebagai pemandu wisata dan pengelola wisata sudak tidak ada. Perubahan aktivitas tersebut terjadi pasca bencana yang mengakibatkan masyarakat beralih kegiatan sehinga beberapa aktivitas ada yang berkurang dan ada yang kehilangan aktivitas.
Adapun masyarakat yang aktivitasnya sebagai petani dan buruh tani tidak merasakan dampak setelah terjadi bencana banjir bandang, sehingga sebelum terjadi bencana dan setelah terjadi bencana aktivitas tersebut masi berjalan hingga saat ini. Bahkan setelah terjadi bencana sebagian besar masyarakat yang terkena dampak bencana seperti pemandu wisata beralih kegiatan dalam membuka lahan pertanian serta sebagian masyarakat mengalihkan aktivitasnya sebagai buruh tani.
Dampak banjir bandang yang terlihat jelas terdapat pada aktivitas masyarakat dalam kegiatan wisata di kawasan Air Terjun Dua Warna. perubahan aktivitas tersebut terjadi pasca bencana banjir bandang sehingga wisata Air Terjun Dua Warna ditutup oleh pihak TAHURA secara resmi. Setelah resmi ditutup jumlah pengunjung berkurang hal tersebut yang berpengaruh terhadap masyarakat sekitar yang membuat masyarakat kehilangan aktivitas dan mengalami perubahan aktivitas. Sebagaimana yang dimaksudkan Mulyanto (2012) Resiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Berikut kondisi kawasan sekitar wisata Air Terjun Dua Warna tahun 2018 dapat dilihat secara nyata pada Gambar 5 dan Gambar 6.
22
Gambar 5. Kondisi Sungai Sekitar Gambar 6. Kondisi Jalan Sekitar
Kawasan Air Terjun Kawsasan Air Terjun
Dua Warna Dua Warna
Pada Gambar 5 menunjukkan kondisi sekitar Air Terjun Dua Warna yang diperoleh dari hasil observasi lapangan dengan mengambil foto sekitar kawasan, dan Gambar 6 merupakan kondisi jalan menuju Air Terjun. Pada Gambar 5 dan Gambar 6 dapat dilihat bahwa kawasan wisata Air Terjun Dua Warna masih mengalami rusak yang parah akibat bencana banjir bandang, sehingga kawasan perlu ada penangan dalam upaya merehabilitas kawasan.
Adapun rencana yang akan dilaksanakan Kepala UPT TAHURA untuk membuka kembali kawasan ekowisata Air Terjun Dua Warna, namun ada beberapa perencanaa program pencegahan banjir bandang seperti melakukan patroli ke kawasan Air Terjun Dua Warna, melengkapi fasilitas keselamatan wisatawan, perbaikan pada kawasan dengan membersihkan lingkungan wisata sehingga kawasan bisa kembali seperti sebelumnya, melengkapi dokumen resmi perizinan ekowisata dan membangun sarana dan prasarana serta membangun kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat dalam peraturan yang telah ditetapkan.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2007 bahwa setiap rencana usaha atau kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup wajib memiliki dokumen pengelolaan lingkungan
23
hidup dan berdasarkan kewenangan Menteri Negara Lingkungan Hidup, perlu diambil suatu kebijakan yang dapat dijadikan sebagai acuan dan dasar hukum bagi usaha atau kegiatan.
Untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan perlu dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti pemandu wisatawan (ranger) sesuai dengan pernyataan Khalik (2014) bahwa ancaman kenyamanan dan keamanan wisatawan dapat dipengaruhi dan disebabkan oleh beragam faktor, seperti aksi teroris, konflik lokal, bencana alam, perilaku sosial masyarakat sehingga hal tersebut dapat menyebabkan menurunnya rasa aman bagi wisatawan. Kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan merupakan salah satu faktor yang menentukan keputusan untuk melakukan suatu perjalanan ke suatu destinasi pariwisata yang telah berjalan. Sehingga keamanan dan keselamatan pengunjung dapat terjaga.
Pencegahan banjir bandang merupakan kunci utama untuk mengatasi masalah banjir bandang yang terjadi di Indonesia khususnya pada Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit kawasan wisata Air Terjun Dua Warna, maka pencegahan banjir bandang perlu ditegaskan dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran penting serta fungsi hutan. Hal ini sesuai dengan pernyataan rahayu (2009) setelah terjadi bencana, kita perlu melakukan upaya pemulihan yaitu segala upaya yang dilakukan agar kondisi kembali kepada keadaan sebelum terjadi bencana atau kondisi yang lebih baik. Hal Dalam rangka memulihkan kondisi, upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah : 1. Evaluasi penanganan darurat dan pernyataan tanggap darurat selesai.
2. Inventarisasi dan dokumentasi kerusakan sarana dan prasarana. sumberdaya air, kerusakan lingkungan, korban jiwa dan perkiraan kerugian yang ditimbulkan.
3. Merencanakan dan melaksanakan program pemulihan berupa: rehabilitasi, rekonstruksi atau pembangunan baru sarana dan prasarana sumberdaya air.
4. Penataan kembali kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena bencana banjir.
5. Evaluasi karakteristik banjir untuk menyesuaikan prediksi banjir dimasa datang.
24
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Aktivitas masyarakat sekitar kawasan wisata Air Terjun Dua Warna Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara yaitu pemandu wisata, pengelola parkir, petani, buruh harian, penyewaan tenda, berdagang.
2. Dampak banjir bandang terhadap aktivitas masyarakat yang terjadi pada wisata Air Terjun Dua Warna umumnya terlihat jelas pada perubahan luas hutan dan ekosistem hutan rusak, yang berdampak pada kegiatan masyarakat sekitar kawasan yang mengalami peubahan aktivitas keseharian dari pemandu wisata menjadi buruh tani serta dari pedagang beralih dalam mengelola lahan pertanian maupun lahan kebun campuran.
Saran
Diharapkan pemerintah lebih memperhatikan kawasan yang seharusnya dilindungi, sehingga ekositem hutan tetap terjaga dan masyarakat tetap ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian hutan, serta dapat memberikan informasi terhadap masyarakat secara mendalam atas bahaya dampaknya banjir bandang yang telah terjadi pada Wisata Air Terjun Dua Warna Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.
25
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2017. Kecamatan Sibolangit Dalam Angka 2017.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang. CV Rillis Grafika.
Fahreza W dan Restu. 2016. Analisis Ruang Terbuka Hijau Perumahan Nasional di Kota Medan. Jurnal Pendidikan Geografi. 8(2) : 197-207.
Ginting Br K, Purwoko A, Simanjuntak J. 2015. Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Hutan Di Desa Serdang Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo. Universitas Sumatera Utara.
Hafni, Roswita. 2017. Dampak Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Petani Di Desa Suka Meriah Kecamatan Payung Kabupaten Karo, Fakultas Ekonomi UMSU. Medan.
Ismiyah W . Sumardianti S, Nawiyanto. 2013. Bencana Banjir Bandang Di Kecamatan Panti Kabupaten Jember Pada Tahun 2006, Fakultas Sastra, Universitas Jember. 1 (1) : 1-8.
[KBBI]. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2019. [Online]
Https://kbbi.web.id/aktivitas.html [Diakses 2 februari 2019].
[Keppres] Keputusan Presiden 48. 1988. Pembangunan Kelompok Hutan Sibolangit Sebagai Taman Hutan Raya Bukit Barisan.
Khalik W. 2014. Kajian Kenyamanan dan Keamanan Wisatawan Di Kawasan Parawisata Kuta Lombok, Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana. 1 (1): 23-42.
Mulyanto, Utomo H, Parikesit AN. R. 2012. Petunjuk Tindakan dan Sistem Mitigasi Banjir Bandang, Direktorat Jendral Sumber Daya Air. Semarang.
Naumar A dan Utama L. 2015. Kajian Kerentanan Kawasan Berpotensi Banjir Bandang Dan Mitigasi Bencana Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji Kota Padang. 9 (1): 21-28
Nawiyanto, 2012. Bencana dan Pelestarian Lingkungan: Pandangan Etnik Jawa dan Madura Di Wilayah Ujung Timur Jawa, Universitas Jember. 22 (1):
41-55.
Nurman A, Suib, Rahmad R. 2018. Aplikasi SIG untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. 32 (1): 1-13.
Pamungkas A, Rachmat AR. 2014. Faktor-Faktor Kerentanan Yang Berpengaruh Terhadap Bencana Banjir Di Kecamatan Manggala Kota Makassar, Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 4 (1): 1-6.
26
[KLHK] Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015. Pedoman Pemantauan Penutupan Lahan.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12. 2007. Dokumen Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang Tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Rahayu RP. 2009. Banjir dan Upaya Penanggulangannya. Bandung Indonesia Rosyidie A. 2013. Banjir: Fakta dan Dampaknya, Serta Pengaruh dari Perubahan
Guna Lahan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung. 24 (3): 241-249.
Santoso EB. 2013. Manajemen Risiko Bencana Banjir Kali Lamong Pada Kawasan Peri-Urban Surabaya-Gresik Melalui Pendekatan Kelembagaan.
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota FTSPInstitut Teknologi Sepuluh Nopember. 8 (2) : 48-59.
Sebastian. 2008. Konservasi Tanah dan Air, Program Pascasarjana Universitas Sriwidjaja Palembang. 8 (2): 162-169.
Soegiyanto. 2014. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Rawan Banjir. Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa. 12 (1) : 46-58.
Soeitoe, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Srihariani. 2010. Membangun Masyarakat Sadar Bencana. Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 11 (2) : 157-171.
Sugiarto, Siagian D, Sunaryanto L T, DS. 2001. Teknik Sampling. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Triharto W. 2016. Kajian Keberadaan Ruang Aktivitas Masyarakat Terhadap Koridor Jalan Mochammad Toha. Matematika Dan Ilmu Pengetahan Alam. Universitas Indraprasta PGRI. 9 (4) : 302-312.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Urip L, Wahyuni E. D, Mukaromah S. 2017 Web Gis Tutupan Lahan Dengan Menggunakan Google Map Dan Google Earth. 10 (2) : 1-11.
Utomo, Supriharjo. 2012. “Pemintakan Risiko Banjir Bandang Di Kawasan Sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso”, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 1 (1): 58- 62.
27
Yuwono, Nur. 2005. “Penyebab Banjir, Pengurangan Luas Lahan”, Universitas Gadjah Mada.
Yunida R, Kumalawati R, Arisanty D. 2017. Dampak Bencana Banjir Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Di Kecamatan Batu Benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia. 4 (4): 42-52.
28
LAMPIRAN 1. Dokumentasi Survey Lapangan
A) Kondisi Air Terjun Dua Warna Pasca Benca Banjir Bandang Tahun 2018.
B). Kondisi Sekitar Air Terjun Setelah Terjadi Bencana
29
C). Sungai di sekitar air terjun
D). Villa yang berada di wisata Air Terjun Dua Warna
30
E). Wawancara terkait bencana banjir bandang dengan narasumber pengelola villa
F). Wawancara dengan narusumber pemandu dan padagang
31
G). Wawancara Kepada Kepala UPT.TAHURA
H). Kondisi Kantor Kepala Desa Bandar Baru,Sibolangit.
32
Lampiran 1. KarakteristikResponden No.
Responden
Jenis Kelamin Usia Pendidikan Aktivitas/profesi
1 L 30 SMA Petugas parkir
2 P 45 SMA Pedangang
3 P 53 Diploma Pedagang
4 L 53 Tidak Tamat SD Pengelola villa
5 P 38 SMA Pedagang
6 L 24 SMA Pedagang
7 L 53 SLTP Petani
8 L 42 Diploma Pedagang
9 L 46 Diploma Petani
10 P 35 SMA Pengelola villa
11 P 54 SMA Petani
12 P 55 SMA Petani
13 L 55 Diploma Pedagang
14 L 54 Tidak Tamat SD Pedagang
15 P 37 SMA Pedagang
16 L 49 SMA Pedagang
17 L 56 SMA Buruh tani
18 L 20 SMA Buruh tani
19 L 20 SMA Buruh tani
20 L 23 SMA Buruh tani
33
Lampiran 2. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Dampak Banjir Bandang
No Pertanyaan Responden Total
No.Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1. Mengetahui kejadian banjir
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20
2. Masyarakat yang berdampak
1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 12
3. Pengaruh terhadap aktivitas masyarakat
1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 12
4. Pengaruh terhadap alih profesi
1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 9
5. Pengaruh terhadap aktivitas ekonomi
1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 12
6. Pengaruh penebangan terhadap banjir
0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 12
7. Pengaruh banjir terhadap jumlah pengunjung
1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18
8. Adanya kegiatan penanggulan oleh instansi pemerintah
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20
Keterangan :Ya = 1 Tidak = 0