7 A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai obyek referensi untuk menunjang keakuratan data dalam melakukan penelitian yang dilakukan saat ini.
Begitu juga dengan permasalahan rantai pasok yang sudah banyak diangkat untuk menjadi topik dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian terdahulu dapat dijadikan sebagai reverensi bagi peneliti dan membantu dalam penelitian.
Berikut ini terdapat beberapa penelitian terdahulu sebagai referensi penelitian.
Penelitian yang pertama dilakukan Latifa Dinar Wigaringtyas (2013) , penelitian ini dilakukan di UKM Batik Sekar Arum, permasalahaan yang dihadapi dalam penelitian ini yaitu pengukuran kinerja SCM dan mengidentifikasi Key Performance Indicator(KPI) yang menjadi tolak ukur dalam pengukuran kinerja
sedangkan normalisasi Snowrm De Boer berfungsi untuk menyamakan nilai KPI tersebut. Alat analisis dalam penelitian ini yaitu SCOR dan AHP, hasil dalam penelitian ini pengukuran kinerja SCM perusahaan menghasilkan nilai kinerja tertinggi pada proses source, sedangkan nilai terendah plan bahwa pencapaian kinerja SCM perusahaan tergolong bagus.
Pada penelitian yang ke dua dilakukan oleh Widya Anggreini (2009),penelitian ini dilakukan di PT. Crown Clourse yang dimana dalam penelitian ini perusahaan mengunakan alat analisis model SCOR. Permasalaha yang dihadapi oleh perusahaan yaitu pengukuran kinerja Manajemen Rantai Pasokan dalam melakukan pengiriman barang dan kecepatan perusahaan
merespon perubahan pasar. Hasil penelitian ini yaitu perusahaan melakukan kerjasama dengan baik antar pemasok dalam satu jenis bahan baku.
Anas Mutakin dan Musa Hubies (2011), melakukan penelitian ini di PT.
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (PT. ITP.TBK). permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana mengukur kinerja Supply chain management pada PT.ITP.TBK. Alat analisi yang digunakan yaitu SCOR yang dimana hasil penelitian ini adalah perusahaan sudah menerapkan Manajemen Rantai Pasokan dengan baik, namun kurang memperhatikan proses dalam pengiriman barang, sehingga banyak mengalami biaya yang hilang dan tidak efisien.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terletak pada objek yang diteliti dan teknik analisa data, dimana penelitian sekarang pada CV.
Lintas Mandiri Group sedangkan untuk penelitian terdahulu pada PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk. Perusahaan Batik Sekar, dan penelitian padaPT. Crown Clourse. sedangkan persamaanya yaitu sama – sama menggunakan metode SCOR.
B. Landasan Teori
Landasan teori sangat penting dalam sebuah penelitian, fungsi dari landasan teori adalah untuk mengkaji yang sesuai untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian. Berikut ini adalah kajian teori – teori yang relevan dalam penelitan :
1. Keputusan Bidang Operasional
Setiap perusahaan pasti akan menerapkan strategi untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal. Dalam hal ini membuat keputusan yang tepat adalah hal yang harus dilakukan oleh perusahaan.
Tentu saja dalam membuat setiap keputusan perlu didasari dengan berbagai hal yang dapat mendukung keputusan yang akan dibuat guna mencapai tujuan perusahaan. Selain itu kegiatan perusahaan tidak akan pernah lepas dari kegiatan manajemen operasional. Karena kegiatan operasional perusahaan mampu menerapkan keputusan bidang produksi dan operasi.
Kegiatan manajemen operasi harus bertanggung jawab terhadap kegiatan operasional penggadaan barang atau jasa perusahaan. Heizer dan Render (2010:32), mengatakan bahwa terdapat 10 (sepuluh) bidang tanggung jawab keputusan utama pada manajemen operasional yaitu mutu, desain barang dan jasa, desain proses dan kapasitas, seleksi lokasi, desain tata letak, manusia dan sistem kerja, manajemen rantai pasokan, persediaan, penjadwalan, dan pemeliharaan.
Dengan kata lain, Manajemen Operasi merupakan serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan hingga pengawasan yang bertujuan untuk menghasilkan barang dan jasa dengan memperhatikan fungsi 10 (sepuluh) keputusan penting dalam operasional.
Adapun beberapa keputusan operasional tersebut dijelaskan pada uraian berikut :
a. Mutu
Mutu merupakan suatu yang sangat penting bagi perusahaan, maka dari itu diperlukan suatu pengelolaan agar mutu yang baik bisa dicapai oleh suatu Perusahaan. Heizer dan Render (2010:32) menyatakan bahwa harapan mutu pelanggan harus ditentukan, dan kebijakan prosedur dibangun untuk mengidentifikasi serta mencapai mutu yang ditetapkan.
Dalam hal ini, mutu dapat menjamin sebuah produk yang berkualitas dari suatu perusahaan yang terus memperhatikan mutu produk ataupun jasa yang dihasilkan.
b. Desain Barang dan Jasa
Desain adalah hal yang harus diperhatikan karena desain suatu barang atau jasa menggambarkan suatu produk atau jasa yang dihasilkan perusahaah. Heizer dan Render (2010:32), mengatakan bahwa merancang barang dan jasa mendefinisikan sebagian besar proses transformasi, keputusan mutu, biaya dan sumber daya manusia sangat berinteraksi dengan desain. Desain seringkali menetapkan batas bawah biaya dan batas atas mutu. Dengan kata lain bahwa dengan memperhatikan desain suatu produk atau jasa, maka perusahaan dapat mengetahui mutu yang dihasilkan serta batas biaya yang diperlukan.
c. Desain Proses dan Kapasitas
Desain proses dan kapasitas dilakukan setelah perancangan barang dan jasa selesai.Pilihan proses sudah tersedia untuk produk dan jasa, keputusan proses mengikat manajemen pada teknologi, mutu, pemanfaatan sumber daya manusia, dan pemeliharaan yang spesifik.
Komitmen biaya dan modal akan menentukan struktur biaya dasar perusahaan. (Heizer dan Render, 2010: 32-33). Dengan memperhatikan desain proses dan kapasitas maka perusahaan dapat mengotrol biaya agar sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan perusahaan
d. Seleksi Lokasi
Pemilihan lokasi berkaitan dengan manajemen rantai pasok.
Maka dari itu perusahaan harus mampu memilih lokasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Keputusan lokasi baik manufaktur maupun jasa menentukan keberhasilan perusahaan. Kesalahan yang dibuat pada saat ini dapat menghambat efisiensi (Heizer dan Render, 2010:32). Lokasi yang strategis akan menentukan tingkat keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasi.
e. Desain Tata letak
Setelah perusahaan memilih lokasi yang sesuai maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mendesain tata letak yang tepat untuk digunakan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasi.
Kebutuhan kapasitas, tingkat personel, keputusan pembelian da kebutuhan persediaan mempengaruhi tata letak. Selain itu, proses dan bahan baku harus ditempatkan dengan memerhatikan keterkaitan antara satu dengan yang lain. (Heizer dan Render, 2010:32). Perancangan tata letak akan berpengaruh pada SDM, persediaan, penjadwalan dan pemeliharaan.
f. Manusia dan Sistem Kerja
Di dalam perusahaan yang beroperasi tentunya bukan hanya mesin dan kendaraan saja yang dibutuhkan tetapi juga bagian terpenting yaitu manusia harus ada didalamnya. Manusia adalah bagian integral dan mahal dari sistem total. Oleh karena itu, bakat, keahlian yang dibutuhkan serta biayanya harus ditentukan (Heizer dan Render, 20010:32). Manusia
juga harus memiliki system kerja yang bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan dan keahlian yang di milikinya untuk menjalankan system operasi perusahaan.
g. Manajemen dan Rantai Pasokan
Hubungan yang terintegrasi didalam rantai pasokan sangatlah penting untuk berjalannya system operasi. Hubungan yang seimbang antara pemasok, produsen, dan konsumen akanmeningkatkan system kinerja operasi yang positif. Pertimbangan ini diperlukan untuk mutu, pengiriman, dan inovasi, dengan harga yang memuaskan. Suasana saling menghormati antara pembeli dan pemasok dibutuhkan untuk pembelian yang efektif. (Heizer dan Render, 2010:32). Dalam hal ini Manajemen rantai pasok berkaitan dengan keputusan apa yang harus dibeli dan apa yang harus dibuat. Sehingga kualitas apa yang harus dibeli akan menentukan kualitas apa yang dibuat.
h. Persediaan
Keputusan dalam hal persediaan haruslah diperhatikan dengan benar agar tidak terjadi penumpukan saat proses operasi berjalan. Fungsi persediaan ialah untuk memisahkan beragam proses produksi, menyediakan persediaan barang-barang yang akan menjadi pilihan pelanggan, untuk mengambil diskon kuantitas, dan untuk menjaga pengaruh inflasi. (Heizer dan Render, 2010:32). Dengan kata lain persediaan juga harus melihat kondisi yang ada agar adanya persediaan menjadi optimal.
i. Penjadwalan
Penjadwalan hal yang harus ada dalam perusahaan karena system operasi yang berjalan akan berawal dari adanya penjadwalan yang dirancang terlebih dahulu. Penjadwalan berkaitan dengan pemilihan waktu operasi yang terfokus pada proses. Penjadwalan produksi yang layak harus dikembangkan, permintaan terhadap sumber daya manusia dan fasilitas harus ditentukan dan dikendalikan. (Heizer dan Render, 2010:33).
Penjadwalan yang dibuat denga baik akan dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada diperusahaan.
j. Pemeliharaan
Suatu system operasi dapat berjalan baik apabila peralatan yang mendukung perusahaan selalu diperhatikan dalam proses pemeliharaannya.
Keputusan harus dibuat berkaitan dengan tingkat pemeliharaan yang diinginkan. Rencana untuk implementasi dan pengawasan sistem pemeliharaan adalah perlu. (Heizer dan Render, 2010:32). Pemeliharaan yang tepat akan membuat proses operasi perusahaan berjalan dengan baik. Karena perusahaan dapat menghemat biaya operasi dalam hal pembelian peralatan akibat dari tidak bagusnya pemeliharaan yang mengakibatkan peralatan rusak.
Maka dari itu pemeliharaan ini haruslah di optimalkan.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sepuluh bidang keputusan ini merupakan kunci keberhasilan dari setiap kegiatan operasi produksi. Kesepuluh bidang keputusan tersebut harus berfungsi dengan baik dan harus saling berkaitan dengan bidang lain yang ada di perusahaan.
2. Supply Chain Management
Untuk memahami Supply Chain Management lebih dalam, maka akan di jelaskan terbih dahulu mengenai definisi dari Supply Chain Management. Berikut ini akan dijelaskan mengenai Supply Chain dari
beberapa refrensi.
Supply ChainManagementIstilah manajemen rantai pasokan
pertama kali dikemukakan oleh Oliver dan Weber pada tahun 1982.jika rantai pasokan (supply chain) adalah jaringan fisiknya, yakni perusahaan- perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir.
Menurut (pujawan : 2005 ) Supply Chain Management adalah jaringan perusahaan – perusahaan yang secara bersama – sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.perusahaan – perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, serta perusahaan – perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik.
Jadi, banyaknya urutan atau tahapan – tahapan Supply Chain di atas ditentukan oleh banyak faktor, seperti skala usaha dan kerumitan produk
3. Penilaian Kinerja Supply Chain
Seperti halnya keuangan, manajer rantai pasokan memerlukan standar (atau metrik sebagai mana sering disebut) untuk mengevaluasi kinerjanya. Evaluasi terhadap rantai pasokan penting bagi manajer rantai pasokan karena menghabiskan sebagian besar uang perusahaan.Terlebih
lagi, mereka membuat jadwal dan keputusan yang menentukan jumlah aset yang berbentuk persediaan.Hanya dengan metrik yang efektif, seorang manajer dapat menentukan seberapa baik kinerja rantai pasokan dan seberapa baik aset-asetnya dimanfaatkan (Haizer dan Render, 2008).
Menurut Pujawan (2005), salah satu aspek fundamental dalam manajemen rantai pasokam adalah manajemen kinerja dan perbaikan secara berkelanjutan. Untuk menciptakan manajemen kinerja yang efektif diperlukan sistem pengukuran yang mampu mengevaluasi kinerja rantai pasokan secara holistik. Sistem pengukuran kinerja diperlukan untuk:
a. Melakukan pengawasan dan pengendalian.
b. Mengkomunikasikan tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada rantai pasokan.
c. Mengetahui posisi suatu organiasasi terhadap pesaing maupun terhadap tujuan yang hendak dicapai.
d. Menentukan arah perbaikan untuk menciptakan keunggulan dalam bersaing.
Rantai pasokan suatu perusahaan bisa panjang dan pendek tergantung tingkat kompleksitas suatu perusahaan. Dalam melakukan penilaian kinerja rantai pasok kita dapat memilih elemen rantai pasokan yang mau diukur kinerjanya seperti dalam bukunya Chibba dan Horte(2001), dijelaskan ada empat tipe pengukuran kinerja SCM yang bisa dilakukan seperti berikut :
1) Functional Measures
Pada tipe ini, pengukuran bisa dilakukan berdasarkan fungsi yang ada dalam SCM, seperti bagian pemasok saja.
2) Internal Integrated Measures
Pada tipe ini, pengukuran dilakukan pada fungsi SCM pada internal perusahaan, seperti bagian produksi saja atau gudang.
3) One Side Integrated Measures
Pada tipe ini, pengukuran dilakukan dengan membandingkan kinerja antar anggota rantai pasokan, seperti pemasok dengan perusahaan dll.
4) Total Chain Measures
Pada tipe ini, pengukuran dilakukan secara lengkap mulai dari pemasok hingga ke konsumen akhir.
Apabila perusahaan ingin memperbaiki kinerja rantai pasoknya, maka melakukan penilaian merupakan hal pertama yang harus dilakukan agar perbaikan yang dilakukan bisa tepat sasaran. Dalam melakukan penilaian nantinya, perusahaan bisa memilih tipe penilaian yang dikehendaki.
4. Metode pengukuran kinerja Supply Chain Management
Akhir- akahir ini banyak perusahan yang menyadari bahwa untuk melakukan pengelolaan Supply Chain yang dimiliki oleh perusahaan itu sangatlah penting. Sampai saat ini sudah banyak metode – metode yang dihasilkan oleh para ahli manajemen, metode – metode tersebut adalah : a. Supply Chain Operation References (SCOR)
Dalam bukunya John Paul(2014) mengartikan SCOR sebagai berikut yakni sebuah metode yang menyajikan kerangka proses bisnis, indikator kinerja, praktik-praktik terbaik serta teknologi yang unik untuk mendukung komunikasi dan kolaborasi antarmitra rantai suplai, sehingga dapat meningkatkan efektivitas manajemen rantai rantai suplai dan efektivitas penyempurnaan rantai suplai.
Metode ini diciptakan oleh Supply Chain Council (SCC) dalam rangka menyediakan suatu metode penilaian mandiri dan perbandingan aktivitas-aktivitas dan kinerja rantai suplai sebagai suatu standar manajemen rantai suplai lintas industri.
b. Balanced Scorecard (BSC)
Metode ini menerjemahkan sebuah visi, misi, dan strategi dari perusahaan ke dalam penentuan tujuan dan ukuran scorecard Kaplan(2000). BSC mengukur kinerja berdasarkan empat perspektif, yaitu: perspektif finansial, perspektif customer, perspektif internal business process, dan perspektif learning and growth.
Awalnya metode ini diperkenalkan oleh David P. Norton dan Robert Kaplan pada awal tahun 1990. Metode ini muncul dikarenakan pada jaman dahulu kinerja perusahaan yang diukur hanyalah dari sisi keuangan karena keuangan berbicara mengenai angka sesuatu yang mudah dihitung dan dianalisa, padahal ada sisi lain yang tidak kalah penting untuk di nilai yakni non-keuangan.
5. Metode SCOR Supply Chain Operation Reference a. Mengenai Metode SCOR
SCOR merupakan salah satu model dari operasi supply chain. Metode SCOR ini dikemukakan oleh Supply Chain Council pada tahun 1996. Supply Chain Council merupakan sebuah not-for-profit corporation yang didirikan oleh enam puluh sembilan pendiri baik perusahaan maupun perseorangan.
Dengan menggunakan metode diagnodan alat tolak ukur ( benchmarking ) miliknya, SCC banayak membantu perusahaan – perusahaan dalam melakukan perbaikan rantai pasok perusahaan.
Sumber : Jhon Paul (2014)
Gamabar 2.1. Model Kerangka Proses
Dalam bukunya John Paul (2014) disebutkan cakupan bidang- bidang yang termasuk dalam SCOR, yakni: (1) interaksi antara seluruh penyuplai dan konsumen, mulai dari penerimaan pesanan hingga pembayaran tagihan, (2) seluruh transaksi material fisik, dari pihak penyuplai hingga konsumen pihak pelanggan, (3) seluruh transaski pasar, dari pemahaman akan permintaan agregat hingga pemenuhan setiap pesanan, (4) proses pengembalian.
Akan tetapi, SCOR juga tidak mencakup beberapa hal seperti berikut ini: proses administrasi penjualan, proses pengembangan teknologi, proses desain dan pengembangan produk, beberapa proses pendukung teknis pasca-pengiriman.
b. Penilian Kinerja
Model SCOR merupakan metode penilai kinerja rantai pasok yang lengkap. Mulai dari penilain kinerja, mengidentifikasi permasalahan, hingga solusi dengan saran praktik terbaik. Dalam melakukan penilian
kinerja rantai pasok pada elemen yang harus diperhatikan yakni atribut kinerja metric. Kedua elemen tersebut membantu penelitian untuk mengetahui posisi kinerja rantai pasok perusahaan dan strategis yang paling sesuai dengan kondisi kinerja perusahaan.
Menurut Jhon Paul (2014), SCOR mengenal lima atribut kinerja yakni: 1). Keandalan (reliability), merupakan atribut yang berfokus pada konsumen, 2). Kecepatan (responsiveness) merupakan atribut yang berfokus seberapa cepat tugas dijalankan, 3). Ketangkasan (Agility) merupakan atribut yang berfokus pada kemampuan untuk merespon perubahan eksternal, 4). Biaya (cost) merupakan atribut yang berfokus pada biaya menjalankan proses, 5). Manajemen asset ( asset management) merupakan atribut kinerja yang berfokus pada kemampuan
pada kemampuan untuk memanfaatkan asset secara efisien.
Pada pembahasan sebelumnya, disebutkan bahwasanya untuk menilai kinerja rantai pasok dibutuhkan atribut kinerja dan metric penggabungan kedua elemen tersebut, akan mermbentuk sebuah SCORcard. SCORcard berisikan atribut kinerja yang mewakili metrik – metric yang sudah ditentukkan peneliti, untuk menilai kinerja rantai pasok perusahaan. Agar lebih jelas mengenai gambaran SCORcard maka pada table 2.1 akan ditampilkan contoh SCORcard pada model SCOR.
Sumber : Jhon Paul (2014)
Gambar 2.2. SCORcard
Dalam melakukan penilian, nantinya peneliti tinggal mengisi hasil perhitungan dari metric – metric yang telah ditentukan. Dalam menentukan metrik, peneliti hanya perlu memilih metrik – metrik yang ada didalam aktivitas rantai pasok perusahaan. Setelah pengisian telah dilakukan maka langkah selanjutnya adalah menentukkan setiap atribut kinerja yang mewakili metric – metric masuk ke dalam kategori median atau terbaik dikelasnya.
c. Pemetaan Rantai Pasok Metode SCOR
Metode SCOR dalam proses penilaian rantai pasok memiliki beberapa tahap atau level yang umumnya terdiri dari 3 level, pemetaan dimulai pada level 1 untuk menunjukan tipe proses, level 2 untuk menunjukkan kategori proses, level 3 untuk menunjukkan elemen proses.
Tujuan dilakukan pemetaan ini berdasarkan penelitian Juliana rouli(2008) adalah sebagai berikut: (1) untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terhadap rantai pasok, (2) memudahkan proses analisis kinerja rantai pasok, (3) memudahkan untuk mendapatkan gambaran rinci dari setiap proses rantai pasok, sehingga proses penghubungan antara aktivitas lebih mudah.
Dalam melakukan pemetaan rantai proses pasokan produk, ada langkah-langkah yang harus dilakukan, sebagai berikut: (1) menentukan anggota rantai pasokan suatu produk, mulai dari pasokan bahan mentah dari pemasok, hingga menjadi produk jadi yang dijual ke konsumen, (2) menggambarkan rangkaian aliran material dalam proses penciptaan nilai tambah produk, (3) menggambarkan rangkaian aliran informasi dalam proses rantai pasok.
Dalam bukunya Stevenson, J. et al (2014) dijelaskan mengenai tahap atau pemetaan secara umum, sebagai berikut: SCOR menganalisis proses rantai pasokan menurut tiga tingkatan detail. Tingkat 1 mendefinisikan cakupan dan isi dengan menentukan target kinerja rantai pasokan. Pada tingkat 2, rantai pasokan dikonfigurasi menggunakan
“kategori proses” inti yang didefinisikan dalam SCOR. Konfigurasi proses tersebut kemudian mewakili strategi operasi rantai pasokan.
Tingkat 3 mendefinisikan kemampuan perusahaan untuk bersaing dengan memeriksa detail elemen proses, masukan dan hasil proses, indikator kinerja, serta praktik terbaik.
Umumnya, dalam melakukan penilaian menggunakan metode SCOR harus melalui tiga level seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Fungsi dari pemetaan adalah untuk memudahkan peneliti dalam menilai kinerja rantai pasok dan memberikan gambaran yang jelas mengenai kegiatan rantai pasok pada suatu perusahaan.
d. Analisis Praktik Terbaik
Model SCOR merupakan metode penilaian kinerja rantai pasok yang lengkap. Model SCOR menyediakan suatu penilaian mandiri begitu pula solusinya melalui analisis praktik terbaik. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai praktik terbaik, maka selanjutnya akan dibahas gambaran umum praktik terbaik dalam SCOR.
Menurut John Paul (2014) definisi praktik adalah cara yang khusus untuk mengatur konfigurasi sebuah proses atau sekumpulan proses. Cara yang khusus disini dapat berupa proses, teknologi yang diaplikasikan dalam proses, dan lain-lain. Praktik dalam SCOR dapat membantu perusahaan dalam hal seperti berikut:
1). Membakukan proses-proses (apa cara standar dalam mengoperasikan aktivitas rantai suplai.
2). Mengidentifikasi alternatif cara mengoperasikan rantai suplai.
3). Merumuskan daftar hitam yang berisi proses yang tidak diinginkan (desinkronisasi).
SCOR membagi jenis-jenis praktik ke dalam empat kategori yakni praktik yang baru muncul, praktik terbaik, praktik standar, dan praktik yang sedang menurun. Masing-masing kategori memiliki dampak yang
berbeda terhadap kinerja perusahaan. Klasifikasi sebuah praktik akan bervariasi tergantung jenis industrinya. Bagi sebagian jenis industri, sebuah praktik bisa dianggap praktik yang standar maupun sebaliknya dll.
Praktik terbaik merupakan praktik-praktik kekinian, terstruktur dan dapat diulang yang telah terbukti memiliki dampak positif terhadap kinerja rantai pasok perusahaan. Dalam analisis praktik terbaik kini telah diklasifikasikan oleh SCOR ada 19 klasifikasi yang didefinisikan oleh SCOR yakni: 1). Analisis/perbaikan proses bisnis 2). Dukungan pelanggan 3). Manajemen distribusi 4). Manajemen informasi/data 5).
Manajemen inventori 6). Penanganan material 7). Perkenalan produk baru 8). Rekayasa pesanan 9). Manajemen pesanan 10). Manajemen orang (pelatihan) 11). Perencanaan dan peramalan 12). Manajemen daur hidup hidup produk 13). Pelaksanaan produksi 14). Pembelian/pengadaan 15).
Logistik terbalik 16). Manajemen resiko/keamanan 17). Manajemen rantai suplai yang berkesinambungan 18). Manajemen transportasi 19).
Pergudangan
Jadi, dalam melakukan analisis praktik terbaik peneliti perlu melakukan beberapa pengelompokkan mulai dari jenis kategori praktik yang berjumlah 4 dan klasifikasi praktik yang berjumlah 19. Dalam proses pengelompokkan tentunya akan disesuaikan dengan kondisi dan jenis perusahaan yang diteliti.
C. Kerangka Pikir Penelitian.
Penelitian ini dilakukan berlandaskan terhadap penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Anas Mutakin dan Musa Hubeis. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anas Mutakin dan Musa Hubeis, mereka mencoba untuk mengkaji struktur rantai pasok produk semen untuk mengetahui penyebab permasalahan dalam kegiatan rantai pasok perusahaan. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba hal yang sama yakni untuk mengetahui penyebab permasalahan yang dialami oleh CV. Lintas Mandiri Group dan perbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja rantai pasok perusahaan. Berdasarkan refrensi penelitian terdahulu dan tinjauan teori, maka dapat disusun kerangka pikir pada gambar 2.3 sebagai berikut :
Sumber: Jhon Paul (2014)
Gambar 2.3. Kerangka pikir penelitian
Kerangka pikir diatas, merupakan gambaran penilaian kinerja rantai pasokan terhadap CV. Lintas Mandiri Group menggunakan atribut kinerja, dalam atribut kinerja disisni terdapat 5 Atribut kinerja, yakni Reability : Keandalan berfokus pada kemampuan memprediksi hasil dari proses, Responsiveness:
Kecepatan untuk mengubah rantai suplai, Agility: Ketangkasan untuk merespon Atribut Kinerja :
1. Reliability 2. Responsiveness 3. Agility
4. Cost 5. Aset
Hasil Penilaian kinerja SCM Proses inti :
1. Plan 2. Source 3. Make 4. Deliver 5. Return
perubahan eksternal; kemampuan untuk berubah, Cost: Atribut yang fokusnya lebih ke internal, Aset: Kemampuan untuk memanfaatkan aset secara efisien setelah menganalisis atribut kinerja diatas selain penjelasan tentang atribut kerja juga ada metode SCOR untuk gambaran penilain kinerja rantai pasokan.
Dalam metode SCOR menurut Jhon Paul (2014) terdapat lima proses inti, yakniPlan: proses perencanaan untuk menyeimbangkan permintaan dan persediaan untuk mengembangkan tindakan yang memenuhi penggunaan source, produksi dan pengiriman yang terbaik, Source: proses yang berkaitan dengan proses untuk memperoleh material dan hubungan perusahaan dengan supplier, Make: proses untuk mentransformasikan material menjadi produk jadi untuk memenuhi permintaan pelanggan, Deliver: proses mengirimkan produk jadi dan jasa untuk memenuhi permintaandan Return; proses yang dikaitkan dengan pengembalian dan penerimaan produk yang dikembalikan oleh pelanggan untuk berbagai alasan.
Variabel di atas nantinya akan diolah oleh metode SCOR berupa pemetaan level 1-3 untuk menghasilkan informasi berupa gambaran serangkaian aliran proses, bahan, dan informasi rantai pasok. Pada pemetaan level 1 peneliti akan mengidentifikasi lingkup dan isi model SCOR berdasarkan lima proses inti yakni P, S, M, D, R (Plan, Source, Make, Deliver, Return), kemudian pemetaan level 2 peneliti akan mengkonfigurasi rantai suplai berdasarkan tiga kategori utama yakni: make-to-stock, make-to-order, dan engineer-to-order. Pada sebagian besar kasus, pemetaan level 2 dapat membantu mengidentifikasi isu masalah dalam rantai pasokan. Terakhir pemetaan level 3 peneliti akan menjabarkan aktivitas lebih detail lagi terkait isu yang terdapat pada pemetaan level 2, pada level ini peneliti sekaligus akan memberikan saran perbaikan terkait isu masalah.
Dari hasil analisa diatas dapat menggambarkan rangkaian aliran informasi dalam proses rantai pasok, dengan menerapkan atribut kerja dan metode SCOR. Untuk mengatasi penyebab permasalahan yang terjadi pada CV.Lintas Mandiri Group. dan memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi Perusahaan sehingga mampu menerapkan atau memiliki rantai pasokan dengan baik.