1
I.
LATAR BELAKANG
Seiring dengan pertumbuhan perkotaan yang amat pesat di Indonesia, permasalahan drainase perkotaan semakin meningkat pula. Pada umumnya penanganan drainase di banyak kota di Indonesia masih bersifat parsial, sehingga tidak menyelesaikan permasalahan banjir dan genangan secara tuntas. Pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai tahap perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, serta ditunjang dengan peningkatan kelembagaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat. Peningkatan pemahaman mengenai drainase kepada pihak yang terlibat baik bagi pelaksana maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan agar penanganan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Dengan semakin berkurangnya daerah terbuka di kawasan perkotaan yang dapat difungsikan sebagai lahan peresapan air dan didukung pula oleh menurunnya kondisi saluran drainase baik kapasitas, sistem operasi, maupun pengelolaannya telah menyebabkan timbulnya berbagai masalah di sektor drainase. Apalagi dengan penurunan permukaan tanah secara tidak langsung akan menimbulkan penambahan beban pada sektor drainase.
Demikian halnya dengan kondisi di Kota Malang dalam beberapa
tahun terakhir mengalami perkembangan seiring dengan
2 diberikan pada pemerintah Kota Malang untuk membangun kotanya secara mandiri. Perkembangan dan pertumbuhan Kota Malang membawa dampak ke seluruh kota, sehingga diperlukan penataan dan perencanaan secara menyeluruh bahkan agar diperoleh kondisi kota yang optimal maka diperlukan rencana terperinci, dan salah satunya adalah penyusunan Rencana Induk Sistem Drainase Kota Malang. Kebutuhan akan prasarana wilayah di Kota Malang yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, dimana menurut Kota Malang Dalam Angka Tahun 2012 mencapai ± 894.342 jiwa, berdampak pada berkurangnya lahan kosong/resapan air sebagai lahan terbangun, pada dasarnya sangat membutuhkan penanganan yang lebih intensif dari pihak pemerintah kota. Bentuk penanganan tidak hanya dalam bentuk penanganan konstruksi bangunan namun lebih dari itu, salah satunya adalah faktor perencanaan dimana faktor perencanaan merupakan faktor urgensi dan mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkat keberhasilan sistem prasarana yang akan diterapkan.
Selain kondisi diatas yang melatarbelakangi perlunya disusun Rencana Induk Sistem Drainase, ada beberapa hal yang secara spesifik menyebabkan perlu disusunnya rencana induk ini yaitu :
1. Masih kurang jelasnya komponen-komponen sistem drainase yang ada sebagai konsekuensi pengalihfungsian sistem drainase;
3 3. Kurangnya perawatan / perbaikan komponen sistem drainase yang
ada;
4. Kurangnya sumber daya manusia untuk perawatan. II. LINGKUP FISIK
Secara umum kondisi drainase di Kota Malang terutama pada
saluran drainase tertutup, sebagian besar sudah cukup tua
sebagai hasil peninggalan penjajahan jaman Belanda (sebagian
besar jenis saluran yang telah berusia lebih dari 10 (sepuluh
tahun). Kondisi bangunannya banyak mengalami penurunan
kualitas seperti terjadinya penyumbatan dan tidak
berfungsinya manhole sebagai street inlet. Keadaan ini sangat
mengkhawatirkan bagi penduduk dan pengguna jalan apabila
terjadi genangan air akibat peningkatan intensitas curah hujan.
Saluran yang ada sebagian besar dimanfaatkan untuk saluran
pembuangan rumah tangga. Sistem drainase yang merupakan
sistem gabungan antara limbah domestik dan air hujan,
mempunyai kelebihan dalam hal pemanfaatan lahan dan
minimatitas OP. Akan tetapi disisi lain keberadaan saluran
drainase juga menimbulkan genangan air dan bau yang kurang
sedap. Salah satu penyebabnya adalah sistem saluran yang
kurang sempurna, proses sedimentasi dan penyumbatan
saluran akibat sampah. Saluran pembuangan limbah domestik
yang secara tidak langsung telah menimbulkan proses
4
sedimentasi yang dapat berakibat terhadap terjadinya luapan
air dan dapat menimbulkan genangan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengamatan di
lapangan, secara umum penyebab terjadinya genangan pada
beberapa lokasi disebutkan pada Tabel 2.1.
Tabel 1. Penyebab genangan yang terjadi di Kota Malang
No Penyebab Genangan
1 Kapasitas saluran yang kurang
2 Terjadinya sedimentasi
3 Terjadinya penumpukan sampah
4 Kombinasi: kapasitas kurang, proses sedimentasi, dan
proses penumpukan sampah
5 Kondisi dimensi inlet saluran yang kurang memadai
6 Jumlah inlet drainase yang terbatas
7 Tidak tersedianya inlet menuju saluran drainase
8 Daerah terletak pada daerah cekungan
9 Kemiringan saluran drainase tidak sesuai
5
III.
KONDISI FISIK DASAR
Wilayah Kota Malang merupakan kota yang memiliki karakteristik wilayah pegunungan. Dengan kondisi udara yang berhawa sejuk dan kering, curah hujan rata-rata tiap tahun 1.833 mm dan kelembaban udara rata-rata 72%. Adapun keadaan permukaan tanah yang ada di Kota Malang berupa; bagian selatan termasuk dataran tinggi yang cukup luas, dan cocok di fungsikan sebagai pusat kegiatan untuk industri. Bagian utara termasuk dataran tinggi yang subur, cocok untuk pertanian, bagian timur merupakan dataran tinggi dengan keadaan kurang subur, dan bagian barat merupakan dataran tinggi yang amat luas menjadi daerah pendidikan.
Jenis tanah yang ada di Kota Malang terdiri atas 4 macam, yaitu : Alluvial kelabu kehitaman dengan luas 6.930.267 Ha, Mediteran coklat dengan luas 1.225.160 Ha. Asosiasi latosol coklat kemerahan grey coklat dengan luas 1.942.160 Ha. Asosiasi andosol coklat dan grey humus dengan luas 1.765,160 Ha. Struktur tanah pada umumnya relatif baik, akan tetapi yang perlu mendapatkan perhatian adalah penggunaan jenis tanah andosol yang memiliki sifat peka erosi. Jenis tanah andosol ini terdapat di Kecamatan lowokwaru dengan relatif kemiringan sekitar 15 %. Sedangkan sungai yang mengalir di Kota Malang antara lain adalah Sungai Brantas, Amprong, dan Bango.
6 Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2010 tercatat rata-rata suhu
udara berkisar antara 22,8C sampai 24,1. Sedangkan suhu
maksimum mencapai 31,8C dan suhu minimum 18,5C. Rata-rata
kelembaban udara udara berkisar 74% - 82% dengan kelembapan maksimum 97% dan minimum mencapai 37%. Seperti umumnya di daerah lain, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, dan Desember. Sedangkan pada bulan Juni, Agustus dan November curah hujan relatif rendah. a. DEMOGRAFI (KEPENDUDUKAN)
Dalam pelaksanaan pembangunan, penduduk merupakan faktor yang sangat dominan. Penduduk tidak saja berperan sebagai sasaran pembangunan tetapi juga menjadi pelaksana pembangunan. Oleh sebab itu, perkembangan penduduk harus diarahkan pada peningkatan kualitas, pengendalian kuantitas serta pengarahan
mobilitasnya yang menunjang tercapainya keberhasilan
pembangunan yaitu meningkatkan kesejahteraan penduduk. Penduduk dalam suatu daerah merupakan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dalam proses pembangunan, disamping juga sebagai konsumen dalam pembangunan. Dalam konteks penduduk sebagai potensi SDM, mengandung arti bahwa penduduk/manusia memiliki peranan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA).
7 Peranan penduduk dalam pembangunan akan berhasil apabila memiliki kemampuan dalam menjawab semua tantangan dalampembangunan baik posisinya sebagai pengelola sumber daya alam maupun sebagai pengguna/konsumen sumber daya alam. Penduduk usia produktif merupakan suatu modal dalam pelaksanaan pembangunan di segala sektor, dengan harapan produktifitas dan efektifitas yang terjadi ditunjang pula dengan sarana dan prasarana pembangunan, dimana manusia merupakan tujuan dan pelaksana pembangunan. Keluasan pilihan bagi usia produktif untuk meningkatkan kualitas dirinya tentu akan pendorong naiknya angka IPM.
b. Jumlah Dan Kepadatan Penduduk
Jumlah penduduk di Kota Malang berdasar atas data Sensus Penduduk Tahun 2010 yang dikoordinasi oleh Biro Pusat Statistik Kota Malang Tahun 2010 adalah sebesar 820.243 jiwa, dengan perbandingan jumlah penduduk berkelamin pria sebesar 404.553 jiwa dan wanita sebesar 415.690 jiwa.
Persebaran penduduk pada tiap wilayah adminsitratif Kecamatan di Kota Malang dapat diketahui bahwa Kecamatan Lowokwaru memiliki kontribusi terbesar yaitu 186.013 jiwa, kemudian disusul oleh
8 Kecamatan Sukun sebesar 181.513 jiwa, Kecamatan Kedungkandang sebesar 174.477 jiwa,
Kecamatan Blimbing sebesar 172.333 jiwa. Sementara jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Klojen yaitu sebesar 105.907 jiwa.
Apabila dilihat dari luas wilayah Kota Malang yang memilki luas
110,056 Km2, maka kepadatan penduduk Kota Malang sebesar 7,453
jiwa/Km2. Penduduk Kota Malang tersebar di 5 Kecamatan, 57
Kelurahan, 531 RW dan 3.649 RT.
Sementara untuk tingkat kepadatan penduduk di Kota Malang, tingkat kepadatan tertinggi berada di Kecamatan Klojen dengan
tingkat kepadatan mencapai 11.994 Jiwa/km2 dan kepadatan
penduduk terendah berada di Kecamatan Kedungkandang yang
mencapai 4.374 jiwa/ km2. Lebih jelasnya lihat tabel dibawah.
Tabel 2.
Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Kota Malang Tahun 2010No Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Luas Wilayah (km2) Kepadatan Penduduk (Jiwa/km2) 1 Kedungkandang 174.477 39,89 4.374 2 Sukun 181.513 20,97 8.565 3 Klojen 105.907 8,83 11.994 4 Blimbing 172.333 17,77 9.698 5 Lowokwaru 186.013 22,6 8.231
9 Sedangkan untuk data terupdate yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Malang pada tahun 2011 jumlah penduduk Kota Malang sebesar 894.342 jiwa. Untuk lebih jelas rincian jumlah penduduk Kota Malang yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.
Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Kota Malang Tahun 2011NO KECAMATAN Jumlah Penduduk (jiwa) LUAS WILAYAH (km2) KEPADATAN PENDUDUK (jiwa/km2) 1 BLIMBING 198.684 17,77 11.181 2 KLOJEN 119.656 8,83 13.551 3 KEDUNGKANDANG 201.922 39,89 5.062 4 SUKUN 203.315 20,97 9.696 5 LOWOKWARU 170.765 22,6 7.556
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Malang 2012
IV. UNDANG-UNDANG
1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Daerah-daerah Kota Besar dalam lingkungan Provfinsi Jawa-Timur, Jawa-Tengah, Jawa-Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1954 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1954 Nomor 40,
10 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 551);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3034);
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak
Tanah dan Benda-Benda yang Ada Diatasnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961 Nomor 288, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2324);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
5. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah terkakhir kalinya dengan Undang-Undang Nomor Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);
6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
7. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377);
11
8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4411);
9. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
11. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
12. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
12
14. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068);
15. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188);
16. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
17. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5280);
A. PERATURAN PEMERINTAH
1. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953 tentang Penguasaan Tanah-Tanah Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 362);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3745);
13 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3934);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4161);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4242);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4490);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 83,
14 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4532);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4655);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4859);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4987);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
15 Nomor 5004);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5098);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5230);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 5393);
B. PERATURAN PRESIDEN
1. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum sebagaimana telah diubah terakhir kalinya dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006;
16 2. Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengesahan,
Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-Undangan; 3. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 - 2014;
4. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air;
C. KEPUTUSAN PRESIDEN:
1. Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional;
2. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah;
D. PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA:
1. Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1997 tentang Pemetaan Penggunaan Tanah Perdesaan, Penggunaan Tanah Perkotaan, Kemampuan Tanah dan Penggunaan Simbol / Warna untuk Penyajian dalam Peta;
2. Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi;
3. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan dan Pengaturan Pertanahan;
17 4. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pedoman Pertimbangan Teknis Pertanahan dalam Penerbitan Izin Lokasi, Penetapan Lokasi dan Izin Perubahan Penggunaan Tanah;
E. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI:
1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan;
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
F. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM:
1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 39 / PRT / 1989 tentang Pembagian Wilayah Sungai;
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48 / PRT / 1990 tentang Pengelolaan Atas Air dan atau Sumber Air pada Wilayah Sungai
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63 Tahun 1993 tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 / PRT / M / 2007 tentang Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang;
18 5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30 / PRT / M / 2007 tentang Pedoman Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Drainase Partisipatif;
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 31 / PRT / M / 2007 tentang Pedoman Mengenai Komisi drainase;
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 32 / PRT / M / 2007 tentang Pedoman Operasi dan pemeliharaan Jaringan Drainase;
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 33 / PRT / M / 2007 tentang Pedoman Pemberdayaa P3A/GP3A/IP3A;
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 / PRT / M / 2009 tentang Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten / Kota beserta Rencana Rincinya;
10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 / PRT / M / 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota; 11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14 / PRT / M /2010 tentang
Standar Pelayanan Umum Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;
12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 / PRT / M / 2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan;
13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06 / PRT / M / 2011 tentang Pedoman Penggunaan Sumber Daya Air;
19 1. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor : 186/PMK.06/2009 dan Nomor : 24 Tahun 2009 tentang Pensertipikatan Barang Milik Negara Berupa Tanah;
H. PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR:
1. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2006 Nomor 2 Seri E);
2. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2007 tentang Perizinan Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan di Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2007 Nomor 6 Seri E); 3. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2008 Nomor 1 Seri E);
4. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2005 - 2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 Nomor 1 Seri E);
I. PERATURAN DAERAH KOTA MALANG :
1. Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005 - 2025 (Lembaran Daerah Kota Malang Tahun 2010 Nomor 2 Seri E);
20 2. Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009 - 2013 (Lembaran Daerah Kota Malang Tahun 2010 Nomor 3 Seri E);
3. Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010 - 2030 (Lembaran Daerah Kota Malang Tahun 2011 Nomor 1 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota Malang Nomor 4);
ISTILAH DAN DEFINISI
1. drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan;
2. drainase perkotaan adalah drainase di wilayah kota yang berfungsi mengendalikan air permukaan, sehingga tidak menimbulkan genangan yang dapat mengganggu masyarakat, serta dapat memberikan manfaat bagi kegiatan manusia;
3. rencana induk sistem drainase perkotaan adalah perencanaan dasar yang menyeluruh pada suatu daerah perkotaan untuk jangka panjang; 4. badan penerima air adalah sumber air dipermukaan tanah berupa laut,
sungai, danau, dan di bawah permukaan tanah berupa air tanah di dalam akifer;
5. bangunan pelengkap adalah bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan, dan daerah curam, bangunan tersebut seperti gorong-gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, street inlet, pompa, pintu air;
21 6. daerah genangan adalah kawasan yang tergenang air akibat tidak
berfungsinya sistem drainase;
7. daerah pengaliran adalah daerah tangkapan air yang mengalirkan air ke dalam saluran;
8. kala ulang adalah selang waktu pengulangan kejadian hujan atau debit banjir rencana yang mungkin terjadi;
9. saluran primer adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran sekunder dan menyalurkan ke badan penerima air;
10. saluran sekunder adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran tersier dan menyalurkannya ke saluran primer;
11. saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari sistem drainase lokal dan menyalurkannya ke saluran sekunder;
12. sistem drainase utama adalah sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat;
13. sistem drainase lokal adalah sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian kecil warga masyarakat;
14. study terkait adalah studi lain yang terkait dengan kegiatan drainase kota yang memuat data, seperti : hidrologi, topografi, geologi, geografi; 15. tinggi jagaan adalah ketinggian yang diukur dari permukaan air
maksimum sampai permukaan tanggul saluran;
16. waktu pengaliran permukaan adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang jatuh ke permukaan tanah dan mengalir ke ketitik saluran drainase yang diamati;
17. waktu drainase adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang mengalir dari satu titik ke titik lain dalam saluran drainase yang diamati;
22 18. waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh titik air hujan yang jatuh pada permukaan tanah mengalir sampai di suatu titik di saluran drainase yang terdekat;
19. zona adalah sub sistem pelayanan satu aliran saluran drainase;
20. kota metropolian adalah kota yang mempunyai penduduk lebih dari 1.000.000 jiwa;
21. kota besar adalah kota yang mempunyai penduduk antara 500.000 jiwa – 1.000.000 jiwa;
22. kota sedang adalah kota yang mempunyai penduduk antara 100.000 jiwa – 500.000 jiwa;
23. kota kecil adalah kota yang mempunyai penduduk antara 20.000 jiwa – 100.000 jiwa;
ANALISA KEBIJAKAN
Perundangan yang berkaitan dengan perumusan kebijakan penanganan banjir/genangan air di Kota Malang, yaitu :
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sebagai
pengganti UU No.11 Tahun 1974 tentang Pengairan.
UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
PP No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya
Air
Permen PU No. 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan
Penetapan Wilayah Sungai
23
Permen 22/ PRT/M/2009 tentang Pedoman Teknis dan
Tata Cara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air
SNI : 02-2406-1991 tentang Tata Cara Umum Perencanaan
Drainase Perkotaan
Permen
Negara
Perumahan
Rakyat
No.
32/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Kawasan
Siap Bangun Dan Lingkungan Siap Bangun Yang Berdiri
Sendiri
A. Tinjauan Terhadap UU No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air Sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. Sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, undang-undang ini menyatakan bahwa sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat secara adil. Atas penguasaan sumber daya air oleh negara dimaksud, negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan melakukan pengaturan hak atas air. Penguasaan negara atas sumber daya air tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan tetap mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, seperti hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak-hak yang serupa dengan itu, sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
24 Beberapa istilah yang terdapat dalam UU No. 7 Tahun 2004 menyebutkan bahwa:
Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang
terkandung di dalamnya.
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun
di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat
Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau
pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya
Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan,
melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar
dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.
Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan
secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air.
Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber
25 pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.
Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah,
menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air.
Daya rusak air adalah daya air yang dapat merugikan kehidupan
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan
tindakan yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. Sumber daya air dikelola berdasarkan beberapa asas, antara lain:
Asas Kelestarian mengandung pengertian bahwa
pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan dengan menjaga kelestarian fungsi sumber daya air secara berkelanjutan.
Asas Keseimbangan mengandung pengertian keseimbangan
antara fungsi sosial, fungsi lingkungan hidup dan fungsi ekonomi.
Asas Kemanfaatan Umum mengandung pengertian bahwa
26 manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan umum secara efektif dan efisien.
Asas Keterpaduan dan Keserasian mengandung pengertian
bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terpadu dalam mewujudkan keserasian untuk berbagai kepentingan dengan memperhatikan sifat alami air yang dinamis.
Asas Keadilan mengandung pengertian bahwa pengelolaan
sumber daya air dilakukan secara merata ke seluruh lapisan masyarakat di wilayah tanah air sehingga setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berperan dan menikmati hasilnya secara nyata.
Asas Kemandirian mengandung pengertian bahwa pengelolaan
sumber daya air dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan keunggulan sumber daya setempat.
Asas Transparansi dan Akuntabilitas mengandung pengertian
bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh mencakup
semua bidang pengelolaan yang meliputi konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air, serta meliputi satu sistem wilayah pengelolaan secara utuh yang mencakup
27 semua proses perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi.
Pengelolaan sumber daya air secara terpadu merupakan
pengelolaan yang dilaksanakan dengan melibatkan semua pemilik kepentingan antar sektor dan antar wilayah administrasi
Pengelolaan sumber daya air berwawasan lingkungan hidup
adalah pengelolaan yang memperhatikan keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan.
Pengelolaan sumber daya air berkelanjutan adalah pengelolaan
sumber daya air yang tidak hanya ditujukan untuk kepentingan generasi sekarang tetapi juga termasuk untuk kepentingan generasi yang akan datang.
Sumber daya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras.
Sumber daya air mempunyai fungsi sosial berarti bahwa sumber
daya air untuk kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan individu.
Sumber daya air mempunyai fungsi lingkungan hidup berarti
bahwa sumber daya air menjadi bagian dari ekosistem sekaligus sebagai tempat kelangsungan hidup flora dan fauna.
Sumber daya air mempunyai fungsi ekonomi berarti bahwa
sumber daya air dapat didayagunakan untuk menunjang kegiatan usaha.
Air sebagai sumber kehidupan masyarakat secara alami keberadaannya bersifat dinamis mengalir ke tempat yang lebih rendah
28 tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Keberadaan air mengikuti siklus hidrologis yang erat hubungannya dengan kondisi cuaca pada suatu daerah sehingga menyebabkan ketersediaan air tidak merata dalam setiap waktu dan setiap wilayah.
Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan masyarakat mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan yang berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air dan meningkatnya daya rusak air. Salah satu pengelolaan sumber daya air adalah pengendalian daya rusak air. Daya rusak air air yang terjadi dapat berupa banjir ataupun genangan air yang akan merugikan.
Pengendalian banjir/genangan air diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian banjir/genangan air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air. Pencegahan dilakukan baik melalui kegiatan fisik dan/atau nonfisik maupun melalui penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai.
Pencegahan melalui kegiatan fisik adalah pembangunan sarana dan
prasarana serta upaya lainnya dalam rangka pencegahan
kerusakan/bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air, sedangkan kegiatan nonfisik adalah kegiatan penyusunan dan/atau penerapan piranti lunak yang meliputi antara lain: pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Pencegahan dengan penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai adalah penyelarasan antara upaya kegiatan konservasi di bagian hulu dengan pendayagunaan di daerah hilir.
29 Perencanaan pengendalian banjir/genangan air disusun untuk menghasilkan rencana yang berfungsi sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan. Perencanaan pengendalian banjir/genangan air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang ditetapkan dalam standar perencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air, penyusunan, dan penetapan rencana pengendalian.
B. Tinjauan Terhadap UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Penatagunaan tanah, penatagunaan air, penatagunaan udara, dan penatagunaan sumber daya alam lain, antara lain, adalah penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain melalui pengaturan yang terkait dengan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil.
Dalam penatagunaan air, di kembangkan pola pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang melibatkan 2 (dua) atau lebih wilayah administrasi provinsi dan kabupaten/kota serta untuk menghindari konflik antar daerah hulu dan hilir.
30 Kegiatan penyusunan neraca penatagunaan tanah, neraca penatagunaan sumber daya air, neraca penatagunaan udara, dan neraca penatagunaan sumber daya alam lain meliputi:
penyajian neraca perubahan penggunaan dan pemanfaatan
tanah, sumber daya air, udara, dan sumber daya alam lain pada rencana tata ruang wilayah;
penyajian neraca kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan
tanah, sumber daya air, udara, dan sumber daya alam lain pada rencana tata ruang wilayah; dan
penyajian ketersediaan tanah, sumber daya air, udara, dan
sumber daya alam lain dan penetapan prioritas penyediaannya pada rencana tata ruang wilayah.
Dalam penyusunan neraca penatagunaan tanah, neraca
penatagunaan air, neraca penatagunaan udara, dan neraca penatagunaan sumber daya alam lain, diperhatikan faktor
yang mempengaruhi ketersed iaannya. Hal ini berarti penyusunan neraca penatagunaan sumber daya air memperhatikan, antara lain, faktor meteorologi, klimatologi, geofisika, dan ketersediaan prasarana sumber daya air, termasuk sistem jaringan drainase dan pengendalian banjir.
i. Tinjauan Terhadap PP No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air
Lingkup pengaturan pengelolaan sumber daya air dalam peraturan pemerintah ini meliputi:
31
proses penyusunan dan penetapan kebijakan, pola, dan rencana
pengelolaan sumber daya air;
pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air, operasi dan
pemeliharaan sumber daya air; dan
konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air
serta pengendalian daya rusak air.
Pengendalian daya rusak air meliputi upaya:
pencegahan sebelum terjadi banjir
Pencegahan dilakukan, baik melalui kegiatan fisik dan/atau
nonfisik maupun penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai.
Kegiatan fisik dalam rangka pencegahan bencana dilakukan
melalui pembangunan sarana dan prasarana yang ditujukan untuk mencegah kerusakan dan/atau bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air.
Kegiatan nonfisik dalam rangka pencegahan bencana
dilakukan melalui pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian.
Penyeimbangan hulu-hilir dilakukan dengan mekanisme
penataan ruang dan pengoperasian prasarana sungai sesuai dengan kesepakatan para pemilik kepentingan.
penanggulangan pada saat terjadi banjir
Upaya Penanggulangan daya rusak air dilakukan dengan kegiatan yang ditujukan untuk meringankan penderitaan akibat bencana dilakukan berdasarkan rencana pengendalian daya
32 rusak air yang disusun secara terpadu, menyeluruh, dan terkoordinasi.
pemulihan akibat banjir
Upaya pemulihan dilakukan berdasarkan rencana pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu, menyeluruh, dan terkoordinasi.
ii. Tinjauan Terhadap Permen PU No. 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai
Pengelolaan Sumber Daya Air dilaksanakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya berdasarkan penetapan wilayah sungai.
Penetapan wilayah sungai didasarkan pada pertimbangan dan kriteria sebagai berikut:
a. efektivitas pengelolaan sumber daya air:
pengelolaan sumber daya air pada wilayah tersebut memenuhi
kebutuhan konservasi
sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air; dan/atau
keberadaan prasarana sumber daya air yang menghubungkan
33
satu dengan daerah aliran sungai yang lain.
b. fisiensi pengelolaan sumber daya air;
c. tercukupinya hak setiap orang untuk mendapatkan air guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.
Kriteria penetapan wilayah sungai strategis nasional di samping memenuhi kriteria dan harus memenuhi parameter sebagai berikut:
a. potensi sumber daya air pada wilayah sungai dibandingkan dengan potensi sumber daya air pada provinsi lebih besar atau sama dengan 20%;
b. banyaknya sektor yang terkait dengan sumb er daya air pada wilayah sungai paling kurang 16 sektor dan jumlah penduduk dalam wilayah sungai paling kurang 30% dari jumlah penduduk pada provinsi;
c. Besarnya dampak terhadap pembangunan nasional:
Sosial:
tenaga kerja pada lapangan kerja yang terpengaruh oleh
sumber daya air paling kurang 30% dari seluruh tenaga kerja di tingkat provinsi; atau
wilayah sungai yang terdapat pulau kecil atau gugusan pulau
kecil yang berbatasan dengan wilayah negara lain;
Lingkungan hidup:
terancamnya keanekaragaman hayati yang spesifik pada
sumber air, yang langka dan perlu dilindungi atau yang merupakan konvensi internasional;
34
perbandingan antara debit air sungai maksimum dengan
debit air sungai minimum rata-rata tahunan sungai utama melebihi 75;
perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan air pada
wilayah sungai yang bersangkutan melampaui angka 1,5 (satu koma lima);atau
seringnya timbul kejadian penyakit terkait dengan air yang
mengakibatkan kematian/cacat tetap dalam jumlah besar.
Ekonomi:
Terdapat paling kurang 1 (satu) daerah drainase yang
luasnya lebih besar atau sama dengan 10.000 ha;
Nilai produksi industri terkait dengan sumber daya air pada
wilayah sungai paling kurang 20% dari nilai produksi industri di tingkat provinsi; atau
Produksi pembangkit listrik tenaga air pada wilayah sungai
yang bersangkutan terkoneksi atau merupakan bagian dari jaringan listrik lintas provinsi.
d. besarnya dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu tingkat kerugian ekonomi yang diakibatkan paling kurang 1% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tingkat provinsi.
Berdasarkan Permen PU No. 11A/PRT/M/2006 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai Lampiran 3 (WS Strategis Nasional), kota Malang yang dilalui sungai Brantas masuk dalam Wilayah Sungai Brantas. WS Sungai Brantas yang melewati kota Malang terdapat 2 (dua) DAS, yaitu: DAS Brantas dan DAS Bango.
35 iii. Tinjauan Terhadap Permen 22/PRT/M/2009 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air
Mempelajari Kebijakan Nasional Sumber Daya Air, Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah administrasi yang bersangkutan (provinsi atau kabupaten/kota) atau kebijakan pembangunan provinsi atau kabupaten/kota dalam hal kebijakan pengelolaan sumber daya air terintegrasi dalam kebijakan pembangunan. Kebijakan pengelolaan sumber daya air ditinjau menurut aspek- aspek dalam pengelolaan sumber daya air yang meliputi aspek konservasi sum ber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, dan sistem informasi sumber daya air. Beberapa hal penting yang harus diidentifikasi meliputi :
kebijakan pemerintah dan kebijakan daerah terkait pengelolaan
sumber daya air di wilayah sungai yang bersangkutan .
aspek konservasi sumber daya air, khususnya terhadap :
tingkat kekritisan daerah aliran sungai (DAS), meliputi
prosentase tutupan lahan terhadap luas DAS, laju erosi lahan, tingkat sedimentasi sungai, dan rasio debit maksimum dan minimum ;
penggerusan garis pantai ; dan
sarana dan prasarana sumber daya air .
aspek pendayagunaan sumber daya air, khususnya terhadap :
36
jaringan dan bangunan drainase yang ada, yang meliputi luas
daerah drainase, alokasi air drainase, dan potensi lahan yang dapat dikembangkan;
sumber-sumber air yang tersedia;
pemanfaatan air permukaan dan air tanah untuk berbagai
keperluan;
kemampuan layanan air minum;
sektor-sektor pengguna air yang dominan beserta kuantitas
penggunaannya;
lokasi daerah yang mengalami kekurangan air dan daerah
yang kelebihan air; dan
neraca air per-DAS/ water district.
aspek pengendalian daya rusak air, khususnya terhadap:
terjadinya bencana, meliputi kejadian bencana (banjir,
longsor, gempa, tsunami, abrasi pantai), wilayah yang rawan terhadap bencana, upaya pengendalian yang telah dilakukan, hambatan dan permasalahan yang dihadapi;
erosi tebing dan degradasi sungai;
sedimentasi muara sungai ; dan
pencemaran sungai, yang meliputi kualitas air sungai, jenis,
jumlah dan lokasi limbah yang di buang ke sungai.
aspek sistem informasi sumber daya air dan ketersediaan data
sumber daya air yang meliputi kerapatan stasiun
hidroklimatologi, jumlah dan kondisi stasiun hidroklimatologi yang berfungsi/rusak, stasiun pengukur tinggi muka air/debit, stasi un pengamatan kualitas air pada sumber air dan badan air,
37 serta keberadaan data series (curah hujan dan debit), keakuratan data dan keberadaan sistim informasi data sumber daya air.
aspek pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan
dunia usaha serta kelembagaan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai, khususnya terhadap:
keberadaan dan jumlah organisasi pengguna air;
kemandirian organisasi (kemampuan swadaya);
keberadaan dan jumlah usaha yang sangat tergantung pada
ketersediaan air serta peran dunia usaha terhadap pengelolaan sumber daya air; dan
kelembagaan pengelolaan sumber daya air yang meliputi
landasan hukum pembentukannya, jumlah lembaga, lingkup kegiatan, frekuensi koordinasi antarlembaga (dalam penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan).
potensi yang dapat dikembangkan terkait dengan sumber daya
air, antara lain pengembangan atau peningkatan:
transportasi sungai; dan
sektor–sektor pertanian , industri, pariwisata, perkebunan
dan perikanan termasuk pengusahaannya.
aspirasi para pemilik kepentingan terkait dengan sumber daya
air, khususnya mengenai harapan-harapannya terhadap pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai masa yang akan datang.
38 Berdasarkan identifikasi tersebut dapat dirumuskan pokok-pokok permasalahan dan potensi yang dapat dikembangkan dimasa yang akan datang.
Beberapa skenario kondisi wilayah sungai merupakan asumsi tentang kondisi pada masa yang akan datang yang mungkin terjadi, misalnya, kondisi perekonomian, perubahan iklim atau perubahan politik. Untuk menyiapkan data tentang konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, dan sistem informasi sumber daya air serta pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha pada wilayah sungai yang bersangkutan untuk waktu lampau, saat ini dan yang akan datang . Data-data digunakan untuk membuat beberapa skenario kondisi wilayah sungai. Beberapa skenario kondisi wilayah sungai ditinjau pada setiap aspek pengelolaan sumber daya air yang menggambarkan kondisi wilayah sungai yang ada ( eksisting) serta kondisi wilayah sungai masa yang akan datang sesuai dengan harapan. Penyusunan prioritas beberapa skenario kondisi wilayah sungai berdasarkan aspek yang paling dominan pada masing - masing wilayah sungai. Beberapa skenario berdasarkan asumsi tentang kondisi pada masa yang akan datang yang mungkin terjadi misalnya:
- kondisi perekonomian;
- kondisi perubahan iklim; atau - kondisi perubahan politik
iv. Tinjauan Terhadap SNI : 02-2406-1991 tentang Tata Cara Umum Perencanaan Drainase Perkotaan
39 Standar ini menetapkan Tata cara perencanaan umum Drainase perkotaan yang dapat digunakan untuk memperoleh hasil perencanaan drainase perkotaan yang dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan teknik perencanaan.
Faktor - faktor umum dalam perencanaan drainase perkotaan, antara lain:
Sosial ekonomi: pertumbuhan penduduk, urbanisasi, angkatan
kerja; kebutuhan nyata dan prioritas daerah; keseimbangan pembangunan antar kota dan dalam kota, ketersediaan tataguna tanah: pertumbuhan fisik kota dan ekonomi pedesaan
Lingkungan: topografi, eksisting jaringan drainase jalan, sawah.
perkampungan, laut, pantai, tataguna tanah, pencemaran lingkungan, estetika yang mempengaruhi sistem drainase kota, kondisi lereng dan kemungkinan longsor; untuk daerah datar diperhitungkan pengelontoran, pengendapan dan pencemaran; untuk daerah yang terkena pengempangangan dari laut, danau atau sungai diperhitungkan masalah pemben-dungan dan pengempangan.
Perencanaan drainase perkotaan, didasarkan pada:
Landasan: didasarkan pada konsep kelestarian lingkungan dan
konservasi sumberdaya air yaitu pengendalian air hujan agar lebih banyak meresap ke dalam tanah dan mengurangi aliran permukaan.
40
Tahapan: pembuatan rencana induk, studi ke-layakan,
perencanaan detail; didasarkan pada pertimbangan teknik, sosial ekonomi.
Finansial dan lingkungan: dilakukan dengan survai lokasi,
topografi, hidrologi, geoteknik tataguna tanah, sosial ekonomi, institusi, peran serta masyarakat, kependudukan, lingkungan dan pembiayaan; penyelidikan terhadap parameter disain; penyiapan tanah; pelaksanaan drainase; operasi dan pemeliharaan.
Data dan persyaratan: data primer mencakup data 'banjir
meliput luas, lama, kedalaman rata-rata, frekuensi genangan, keadaan fungsi, sistem, geometri dan dimensi saluran
Daerah pengaliran sungai: prasarana dan fasilitas kota yang ada
dan yang direncanakan; data sekunder meliputi rencana pembangunan kota, geoteknik foto udara, pembiayaan, kependudukan, institusi, sosial ekonomi, peran serta masyarakat, kesehatan lingkungan; persyaratan kualitas dan kualitas data, peralatan, metode perhitungan dan asumsi yang digunakan.
Sistem drainase perkotaan: sistem drainase terpisah dan
gabungan; sistem saluran terbuka dan tertutup.
Kriteria: pertimbangan teknik meliput aspek hidrologi, hidraulik
dan struktur; pertimbangan lain meliputi biaya dan pemeliharaan. Koordinasi dan tanggung jawab: seluruh penyelenggara teknis pekerjaan dilaksana kan dibawah seorang ahli yang berkompeten dalam tim terpadu; masalah yang tidak
41 dapat diselesaikan oleh instansi yang berwenang harus diajukan kepada pihak yang berwenang di atasnya.
v. Tinjauan Terhadap Permen Negara Perumahan Rakyat No. 32/PERMEN/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Kawasan Siap Bangun Dan Lingkungan Siap Bangun Yang Berdiri Sendiri
Penyusunan rencana rinci tata ruang Kasiba harus me menuhi persyaratan prasarana, sarana dan utilitas untuk pengembangan Kasiba. bahwa rencana rinci tata ruang Kasiba harus dilengkapi dengan jaringan primer dan sekunder prasarana lingkungan berupa jalan, drainase atau saluran pembuangan air hujan dan saluran pembuangan air limbah, yang terpadu dengan prasarana kawasan/wilayahnya jaringan primer dan sekunder drainase atau saluran pembuangan air hujan harus dihubungkan dengan badan air (sungai, danau, atau laut) yang dapat menyalurkan atau menampung air hujan yang jatuh di atau mengalir melalui Kasiba.
Pembangunan prasarana drainase di Kasiba harus memenuhi stándar nilai koefisien aliran saluran drainase di Kawasan Perumahan yang terdiri dari :
a. rumah tinggal terpencar harus memenuhi stándar koofisien pengaliran 0,30 – 0,50;
b. komplek perumahan harus memenuhi stándar koofisien pengaliran 0,40 – 0,60;
c. permukiman (suburban) harus memenuhi stándar Koofisien pengaliran 0,25 – 0,40;
42 d. apartemen harus memenuhi stándar Koofisien pengaliran 0,50 –
0,90.
Jaringan primer dan sekunder drainase harus mempunyai kapasitas tampung yang cukup untuk menampung air yang mengalir dari area Kasiba dan kawasan sekitarnya. Aluran pembuangan air hujan dapat dibangun secara terbuka dengan ketentuan sebagai berikut:
a. dasar saluran terbuka ½ lingkaran dengan diameter minimum 20 cm atau berbentuk bulat telur ukuran minimum 20/30 cm;
b. bahan saluran terbuat dari tanah liat, beton, pasangan batu bata dan atau bahan lain;
c. kemiringan saluran minimum 2 %;
d. tidak boleh melebihi peil banjir di daerah tersebut; e. kedalaman saluran minimum 30 cm;
f. apabila saluran dibuat tertutup, maka pada tiap perubahan arah harus dilengkapi dengan lubang kontrol dan pada bagian saluran yang lurus lubang kontrol harus ditempatkan pada jarak maksimum 50 (lima puluh) meter;
g. saluran tertutup dapat terbuat dari PVC, beton, tanah liat dan bahan-bahan lain;
h. untuk mengatasi terhambatnya saluran air karena endapan pasir/tanah pada drainase terbuka dan tertutup perlu bak kontrol dengan jarak kurang lebih 50 M dengan dimensi (0,40x 0,40x 0,40) M
i. setiap Kasiba perlu melestarikan dan menyediakan kolam-kolam retensi dan sumur resapan pada titik-titik terendah;
43 j. penggunaan pompa drainase merupakan upaya tambahan apabila ditemui kesulitan untuk mengalirkan air secara gravitasi dan dapat juga digunakan untuk membantu agar pengaliran air dalam saluran mengalir lebih cepat.
Tahapan perencanaan jaringan primer dan sekunder drainase meliputi :
a. pengumpulan data topografi dan pemetaan yang terdiri dari pemetaan topografi dan pemotretan dari udara atau satelit; membuat peta tematik dengan ketelitian skala 1: 5000 yang mencakup kontur interval 5 meter untuk perencanaan jaringan; membuat peta tematik dengan ketelitian skala 1:1.000 untuk perencanaan detail; membuat level ikat topografi ( benchmark) yaitu elevasi dasar kota yang dikaitkan dengan elevasi muka air laut pasang atau pada sungai besar; menentukan garis kontur dengan penyesuaian terhadap titik ikat elevasi berdasarkan elevasi sungai yang ada guna perencanaan drainase perumahan; b. pengumpulan data hidrologi yang terdiri dari data yang
mencakup kedudukan muka air banjir terhadap elevasi lahan, serta data curah hujan harian, bulanan dan tahunan;
c. pengumpulan data geologi yang terdiri dari penyelidikan tanah untuk mengetahui kemungkinan penurunan pondasi saluran dan ke kuatan / kondisi tanah dasar untuk mengetahui daya dukung lapisan tanah tersebut.;
d. pengumpulan data kualitas dan kuantitas genangan, luas, lama, tinggi dan frekuensi genangan dalam setahun;
44 e. pengumpulan data tentang kerugian dan kerusakan akibat
genangan.
Dalam sistem penyediaan prasarana drainase ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
kolam retensi, yaitu bangunan resapan buatan atau bangunan
resapan alam yang berfungsi untuk menampung air hujan dan kemudian meresap kedalam tanah atau mengalir ke saluran drainase.
peil banjir sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana
dalam pembangunan fisik agar terbebas atau terhindar dari banjir dalam periode ulang tertentu.
Pada periode perencanaan sistem drainase perlu
memperhatikan daerah tangkapan air (catchment area) agar tidak terjadi kegagalan pada fungsi sistem drainase.
Periode ulang desain yang harus direncanakan untuk Kasiba
adalah seperti tercantum pada Tabel Periode Disain Makro dan Tabel Periode Disain Mi
b. Arah Kebijakan Pembangunan Drainase Kota Malang
Perumusan arah kebijakan pembangunan drainase untuk penanganan banjir/genangan air di kota Malang berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, maka akan mengarah pada pengendalian banjir
45 secara menyeluruh berdasarkan Sub DAS yang melalui kota Malang mulai dari hulu sampai dengan hilir.
Pengendalian banjir/genangan air secara menyeluruh adalah dalam upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan dalam 1 (satu) sistem sub DAS dari hulu sampai dengan hilir. Arah kebijakan pembangunan drainase di Kota Malang adalah sebagai berikut:
Penyelenggaran/penanganan terpadu dengan sektor terkait
terutama pengendalian banjir, air limbah dan sampah).
Mengoptimalkan sistem yang ada, disamping pembangunan
baru.
Melakukan koordinasi dengan instansi terkait, dunia usaha dan
masyarakat.
Mendorong Pemkab/Pemkot dalam pembangunan S&P drainase
untuk melancarkan perekonomian regional dan nasional serta meningkatkan tenaga kerja.
Dalam upaya penanganan banjir/genangan air harus
memperhatikan fungsi drainase sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan lingkungan, yang sesuai UU No. 7 Tahun 2004., yaitu:
Pencegahan terjadinya banjir
Pencegahan dilakukan, baik melalui kegiatan fisik dan/atau
nonfisik maupun penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai.
46
Kegiatan fisik dalam rangka pencegahan bencana dilakukan
melalui pembangunan sarana dan prasarana yang ditujukan untuk mencegah kerusakan dan/atau bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air seperti sumur resapan, pembangunan saluran drainase kolam retensi atau polder.
Kegiatan non fisik dalam rangka pencegahan bencana
dilakukan melalui beberapa cara, antara lain: meningkatkan daya resap tanah dengan penanaman pohon, pembersihan saluran drainase dari sampah, menerapkan peraturan tentang sempadan saluran drainase.
penanggulangan pada saat terjadi banjir
Upaya penanggulangan banjir dilakukan dengan cara: pembuatan sistem informasi drainase, membuat rencana induk sistem drainase peningkatan kapasitas saluran drainase yang telah ada.
pemulihan akibat banjir
Upaya pemulihan dilakukan dengan cara: memperbaiki sarana prasarana yang rusak akibat banjir seperti perbaikan saluran drainase, gorong-gorong dll.
47 B1 B2 m h d S.BR.II - 1 Jl. MT Haryono 508.89 0.016 0.50 0.80 1.10 S.BR.II - 2 Jl. MT Haryono 386.38 0.019 0.50 0.75 0.50 0.60 S.BR.II - 3 Jl. MT Haryono 497.98 0.019 0.50 0.80 1.10 S.BR.II - 4 Jl. MT Haryono 733.29 0.051
S.BR.II - 5 Jl. Sukarno Hatta 534.84 0.016 0.65 0.83 0.44 S.BR.II - 6 Jl. Sukarno Hatta 370.04 0.068
S.BR.II - 7 Jl. M.Panjaitan 931.98 0.013 0.50 0.25 0.60 S.BR.II - 8 Jl. M.Panjaitan 562.65 0.021 0.50 0.25 0.60 S.BR.II - 9 Jl. M.Panjaitan 338.25 0.000 0.70 0.95 0.65 S.BR.II - 11 Jl. Letjen Sutoyo 631.45 0.010 2.00 2.00 S.BR.II - 12 Jl. Letjen Sutoyo 418.83 0.004 0.60 0.60 0.60 S.BR.II - 13 Jl. J.A. Suprapto 233.62 0.009 2.00 1.20 S.BR.II - 14 Jl. J.A. Suprapto 209.92 0.006 2.00 0.50 S.BR.II - 15 Jl. J.A. Suprapto 429.44 0.002 2.00 1.20 S.BR.II - 16 Jl. J.A. Suprapto 231.36 0.007 2.00 2.00 S.BR.II - 17 Jl. Dr. Wahidin 257.84 0.011 0.50 0.25 0.50 S.BR.II - 18 Jl. Cokroaminoto 453.73 0.004 0.45 S.BR.II - 19 Jl. Trunojoyo 237.01 0.007 0.45 S.BR.II - 20 Jl. Trunojoyo 201.95 0.010 0.45 S.BR.II - 21 Jl. Trunojoyo 249.22 0.009 0.45 S.BR.II - 22 Jl. Trunojoyo 152.71 0.009 0.45 S.BR.II - 23 Jl. Panglima Sudirman 472.09 0.009 0.80 0.60 S.BR.II - 24 Jl. Panglima Sudirman 814.30 0.003 0.80 0.70 S.BR.II - 25 Jl. Panglima Sudirman 194.03 0.015 0.80 0.70 S.BR.II - 26 Jl. Rumah Sakit 365.30 0.002
S.BR.II - 27 Jl. Urip Sumoharjo 243.36 0.009 0.50 0.75 S.BR.II - 28 Jl. KH. Agus Salim 422.00 0.001 0.60 0.60 S.BR.II - 29 Jl. KH. Ahmad Dahlan 270.00 0.001 1.00 S.BR.II - 30 Jl. Gatot Subroto 135.00 0.002 0.60 S.BR.II - 31 Jl. Mangunsarkoro
S.BR.II - 32 Jl. Mangunsarkoro
S.BR.II - 33 Jl. Gatot Subroto 297.70 0.020 0.60 S.BR.II - 34 Jl. Muharto 263.83 0.050 0.50 0.30 S.BR.II - 35 Jl. Gatot Subroto 240.55 0.010 0.60 S.BR.II - 36 Jl. Martadinata 365.30 0.000 0.70 S.BR.II - 37 119.31 0.047
S.BR.II - 38 Jl. Kol. Sugiono 456.17 0.005 2.00
S.BR.II - 39 Jl. Kol. Sugiono Gg II 633.18 0.049 0.50 S.BR.II - 40 Jl. Kol. Sugiono 624.04 0.022 1.80 2.00 1.50 S.BR.II - 41 Jl. Kol. Sugiono 320.43 0.094 1.00 1.50 1.00 S.BR.II - 45 Jl. Lembayung 429.75 0.070
S.BR.II - 46 Jl. Bayem 808.62 0.043 S.BR.II - 47 Jl. Terong 488.25 0.072 S.BR.II - 48 Jl. Kyai Parseh 603.64 0.021 S.BR.II - 49 873.77 0.086 S.BR.II - 50 620.43 0.060 S.BR.II - 51 316.13 0.003
Kode Saluran Nama Jalan saluran (m)Panjang saluran Slope
365.30 0.010
Dimensi
V. KONDISI UMUM DAERAH DRAINASE KOTA MALANG
Tabel 4. Klasifikasi Saluran Drainase DAS Brantas
A. Saluran Sekunder
48 B1 B2 m h d S.BR.III - 1 Jl. Kertosono 323.34 0.027 S.BR.III - 2 Jl. Sumbersari 1409.35 0.014 0.50 0.50 S.BR.III - 3 Jl. Veteran 689.18 0.009 0.40 0.25 1.00 S.BR.III - 4 Jl. Bogor 250.62 0.012 0.80 0.20 0.70 S.BR.III - 5 Jl. Banten 208.42 0.014 S.BR.III - 7 Jl. Bandung 298.37 0.012 0.50 0.75 0.75 S.BR.III - 8 Jl. B. Kumis Kucing 501.47 0.004 0.30 0.50 S.BR.III - 9 Jl. Bungur 612.15 0.008
S.BR.III - 10 Jl. Sarangan 697.52 0.084
S.BR.III - 11 Jl. Sukapura 319.88 0.023 0.40 0.20 0.50 S.BR.III - 12 Jl. Sukapura 297.21 0.001 0.40 0.20 0.50 S.BR.III - 13 Jl. Ters. Sukarpura 250.20 0.033 0.50 0.63 0.50 S.BR.III - 14 Jl. Jaksa Agung S I 382.24 0.011 1.40 1.20 S.BR.III - 15 Jl. Hasanudin 527.53 0.008 0.40 0.20 0.50 S.BR.III - 16 Jl. Dr. Cipto 383.19 0.024 0.80 0.40 S.BR.III - 17 Jl. Dr. Cipto 202.49 0.020 0.80 0.60 S.BR.III - 18 Jl. Pattimura 722.77 0.007 0.40 0.40 S.BR.III - 19 Jl. Pattimura 189.03 0.026 0.40 0.40 S.BR.III - 20 Jl. Pajajaran 291.05 0.027 0.50 0.75 S.BR.III - 21 Jl. Kertanegara 249.53 0.002 0.30 0.60 0.13 1.00 S.BR.III - 22 Jl. Gajah Mada 728.94 0.017 0.60 0.60 S.BR.III - 23 Jl. Suropati 381.31 0.024 0.40 0.40 0.40 S.BR.III - 24 Jl. Aris Munandar 722.77 0.007 0.75 0.70
S.BR.III - 25 Jl. Pasar Besar 189.03 0.026 1.00
S.BR.III - 26 Jl. Pasar Besar 291.05 0.027 1.00
S.BR.III - 27 Jl. Pasar Besar 249.53 0.002 1.00
S.BR.III - 28 Jl. KH. Agus Salim 384.90 0.046 0.60 0.60 S.BR.III - 29 Jl. Kapt. Tendean 381.31 0.024 0.50 0.50 0.40 S.BR.III - 30 Jl. Kyai Tamin 313.96 0.021 0.50 0.60 S.BR.III - 31 Jl. Kyai Tamin 292.78 0.018 0.50 0.60
S.BR.III - 32 298.49 0.025
S.BR.III - 33 Jl. Halmahera 438.58 0.019 0.50 0.50 0.60 S.BR.III - 34 Jl. Irian Jaya 185.48 0.049 0.50 0.50 0.60 S.BR.III - 35 Jl. Sartono 384.90 0.046 0.60 0.60 0.70 S.BR.III - 36 Jl. Kebalen Wetan 206.22 0.056
S.BR.III - 37 Jl. Kebalen 471.12 0.017
Slope saluran
Dimensi
Kode Saluran Nama Jalan saluran (m)Panjang
49
C. Saluran Kuarter
B1 B2 m h d
S.BR.IV - 1 Jl. Merdeka Timur 178.34 0.070 0.3 0.3
S.BR.IV - 2 Jl. KH Zainal Arifin 304.64 0.039 0.6
S.BR.IV - 3 Jl. Merdeka Timur 170.78 0.002 0.3 0.3
S.BR.IV - 4 Jl. KH Zainal Arifin 168.38 0.044 0.7 0.6
S.BR.IV - 5 Jl. Sutan Syahrir 104.36 0.053 0.5
S.BR.IV - 6 Jl. Sutan Syahrir 138.66 0.016 0.5
S.BR.IV - 7 Jl. Sersan Harun 122.71 0.019 0.6
S.BR.IV - 8 Jl. Sersan Harun 139.68 0.043 0.6
S.BR.IV - 9 Jl. Kopral Usman 102.47 0.006 0.6
S.BR.IV - 10 Jl. Kopral Usman 157.76 0.056 0.6
S.BR.IV - 11 Jl. Prof Yamin 229.03 0.030 0.6
S.BR.IV - 12 Jl. Prof Yamin 179.68 0.124 0.6
Dimensi
Nama Jalan saluran (m)Panjang Slope saluran