NIM : 1242500377
Analisis Cyber Warfare antara Korea Utara dan Amerika Serikat terkait Perilisan Film The Interview oleh Sony Picture Entertaiment
The internet’s enabling potential to that of handgun, which became knowns as “the great equalizer” Cyber Warfare-Jefferey Carr
Perilisan film ‘The Interview’ oleh salah satu production house Amerika Serikat yaitu Sony Picture Entertaiment menimbulkan kekhawatiran akan penurunan eksistensi Korea Utara dalam kancah Internasional. Film ini juga dianggap sebagai propaganda pihak Amerika Serikat yang dalam hal ini dilakukan oleh Sony Picture Entertaiment untuk melecehkan Korea Utara sekaligus seruan berperang. Oleh sebab itu, Korea Utara melakukan serangan yang menjadi tanda dimulainya perang terbuka dengan Amerika Serikat. Namun seiring dengan perkembangan globalisasi yang telah menggeser ruang kehidupan masyarakat dari dunia fisik menjadi dunia maya (cyberspace), maka area perang pun ikut bergeser menuju ruang virtual, yang disebut ‘Perang Cyber (cyber warfare)’. Tulisan ini akan membahas lebih jauh mengenai cyber warfare antara Korea Utara dan Amerika Serikat. Selain itu, tulisan ini juga akan mengkaji mengenai perebutan pengaruh atau power dalam pandangan Hubungan Internasional antara kedua negara tersebut. Pengambilan tema cyber warfare oleh penulis didasarkan pada ketertarikan penulis melihat perang antara dua negara yang memiliki pengaruh di dunia yang sama-sama memiliki kemampuan dalam jaringan.
Kata Kunci : globalisasi, media massa, film, propaganda, dunia maya, cyber warfare, The Interview, Sony Picture Entertaiment, Korea Utara, dan Amerika Serikat
Media Massa dan Pengaruhnya terhadap Perilisan Film ‘The Interview’
Globalisasi merupakan sebuah fenomena khusus yang hadir di tengah-tengah peradaban manusia. Didukung dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin modern, globalisasi bergerak cepat dan pada akhirnya mampu menyentuh seluruh aspek penting kehidupan masyarakat global. Menelaah lebih dalam mengenai titik keberadaan masyarakat saat ini, Daniel Bell dalam bukunya yang berjudul
mengikuti kehendak pihak-pihak yang memegang media.2 Dengan perubahan itu, media
massa bertranformasi menjadi alat politik baru, baik dalam tataran nasional maupun internasional. Signifikasi perubahan fungsi media massa kemudian digunakan sebagai instrumen politik berbagai negara untuk meningkatkan eksistensinya atau bahkan menjatuhkan eksistensi negara lain.
Berbagai jenis media massa dapat digunakan sebagai instrumen politik, salah satunya adalah film. Merujuk pada pemikiran dari seorang ahli bernama McQuail yang mengatakan bahwa film merupakan alat komunikasi yang efektif untuk mengantarkan pesan secara unik melalui audio dan visual sehingga memudahkan seseorang dalam memahami pesan yang ingin disampaikan, maka film dapat dikatakan sebagai instrumen politik yang baik.3 Hal inilah yang disinyalir dilakukan oleh Amerika Serikat kepada Korea
Utara melalui perilisan film The Interview.
Gambar 1: The Interview
Sumber: http://www.imdb.com/media/rm2264792576/tt2788710?ref_=tt_ov_i
Film berdurasi kurang lebih 1 jam 52 menit ini mengisahkan tentang 2 orang sahabat bernama Dave dan Aaron. Mereka berdua bekerja bersama dalam salah satu acara televisi, ‘The Skylark’. Dave sebagai pembawa acara dan Aaron sebagai production man. Memasuki episode acara yang ke-1000, kedua sahabat ini mulai mencari cara untuk tetap mempertahankan eksistensinya dalam dunia perfilman. Mengetahui bahwa Presiden negara Korea Utara yang terkenal dengan kediktatorannya menyukai acara Skylark, maka mereka berniat melakukan aksi nekad dengan mewawancarai Presiden
2 Nawiroh Vera M.Si. (2010) . Pengantar Komunikasi Massa. Renata Pratama Media. Jakarta. hal19 3 McQuail, D. (1986). International Information Flows-The Evidence of Content Analysis. Approaches to
tersebut. Aksinya mendapat respon positif dari pihak Kepresidenan Korea Utara sehingga mereka dijadwalkan untuk melakukan pertemuan secara eksklusif dan mewawancarai Presiden tersebut.4
Beberapa hari sebelum keberangkatan, Dave dan Aaron didatangi seorang agen intelegent wanita yang bekerja di CIA bernama Lacey. Agen ini meminta mereka untuk membunuh Kim Jong Un karena pengembangan nuklir yang dilakukannya mengancam keselamatan banyak jiwa. Menyetujui hal tersebut, Dave dan Aaron kemudian dibawa ke markas CIA untuk diberi pelatihan dalam menggunakan peralatan-peralatan intelegen agar dalam menjalani aksinya, tidak ada seorang pun yang tahu dan mereka dapat kembali dengan selamat ke Amerika Serikat. Agen ini melatih Dave dan Aaron untuk menggunakan “ricin strip”, sebuah alat berbentuk persegi panjang dan sangat tipis. Alat ini dimaksudkan untuk ditempel di tangan untuk kemudian disentuhkan kepada Kim Jong Un. Ketika menyentuh tangan, alat ini akan mengeluarkan racun. Dalam waktu 12 jam, benda tersebut tidak akan bereaksi apapun. Namun 12 jam berselang, racun akan melewati pembuluh darah, mencapai jantung, dan dalam beberapa menit akan mematikan. Setelah melalui pelatihan oleh CIA, kedua sahabat ini pun memulai perjalanannya ke Korea Utara.5
Sesampainya di Korea Utara, rencana yang sudah dipersiapkan mulai berubah ketika Dave dan Aaron melihat sebuah toko buah besar dan seorang anak kecil gendut di tengah perjalannya. Rencananya semakin berubah saat Dave mulai mengalami kedekatan langsung dengan Presiden Kim Jong Un. Melalui pengalamannya, Dave melihat bahwa Presiden Korea Utara ini berbeda seperti apa yang disampaikan oleh media lainnya. Namun saat Dave diundang dalam makan malam untuk mengenang kematian dari salah satu loyalis Korea Utara, Dave menyaksikan bahwa Kim Jong Un adalah seseorang yang tidak lagi menyenangkan namun sangat diktator. Hal ini terlihat jelas dari ucapannya yang berkata bahwa jutaan orang di Korea Utara harus dibunuh untuk menunjukan kekuatannya. Setelah pulang dari jamuan Presiden Kim, Dave kembali pergi ke toko buah yang pertama kali dilihatnya ketika tiba di negara tersebut, Dave mengetahui bahwa buah-buah yang ada di toko tersebut adalah palsu. 6
Mengetahui hal tersebut, kedua sahabat kembali berniat untuk membunuh Kim Jong Un. Namun seorang loyalis Sook Yin Park mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan mengubah keadaan karena sekalipun Presiden tersebut meninggal maka akan digantikan dengan saudara atau orang terdekat. Hal yang harus dilakukan adalah melakukan revolusi dengan memperlihatkan bahwa Kim Jong Un bukanlah Tuhan melalui wawancara yang akan dilakukan Dave. Wawancara tersebut kemudian berhasil menunjukan bahwa Kim Jong Un adalah manusia dan bukan Tuhan. Setelah wawancara, 4 Alexandria McAtee (co.produsen). (2014). The Interview. Amerika Serikat, Sony Picture Entertaiment
Kim Jong Un berniat mengirimkan nuklir ke Amerika Serikat namun sebelum niatnya dijalankan, Dave menembaknya dengan peluru tank dan Kim Jong Un pun meninggal. Setelah Presiden Kim meninggal, Dave dan Aaron kembali pulang ke Amerika Serikat dan Korea Utara pun mengalami revolusi kepemimpinan dimana Sook Yin Park naik menjadi Presiden. Di akhir cerita juga diperlihatkan secara singkat keterbukaan Korea Utara terhadap dunia.7
Dalam analisis komunikasi internasional, sebuah film merupakan suatu media yang sangat baik untuk melakukan propaganda. Berdasarkan pandangan dari Daugherty yang mengklasifkasikan propaganda dalam 3 bentuk yaitu, putih, hitam, dan kelabu.8
Berdasarkan jalan cerita film The Interview, tampak bahwa Amerika Serikat yang dalam hal ini dilakukan oleh Sony Picture Entertaimen telah berupaya untuk melakukan propaganda putih. Propaganda putih dapat diartikan sebagai suatu usaha sistematis yang dilakukan secara terbuka untuk mempengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan dari suatu kelompok untuk mencapai tujuan tertentu yang dalam hal ini adalah mengarahkan pandangan masyarakat mengenai Korea Utara. Adapun propaganda ini dilakukan melalui 3 tahap yaitu: build, break, and build.
Pada tahapan pertama, The Interview membangun (build) pandangan bahwa Korea Utara adalah negara makmur dan pemerintahan yang baik dibawah kepemimpinan Kim Jong Un melalui toko buah dan pengalaman Dave bersama Presiden. Pada tahap selanjutnya, film ini menghancurkan (mem-break) pandangan kemakmuran negara Korea Utara melalui penemuan fakta toko buah palsu dan kekejaman Kim Jong Un. Pada tahan akhir, film ini membangun (build) pandangan sesuai yang diinginkan pembuat film. Selain itu, genre film yang diarahkan pada komedi juga seringkali menampilkan adegan-adegan memalukan yang juga dilakukan oleh Presiden Kim Jong Un. Film pun diakhiri dengan kematian Presiden tersebut. Hal ini dapat dilihat sebagai upaya untuk melecehkan negara tersebut.
Sejak dirilisnya trailer film tersebut di Youtube, Korea Utara melalui juru bicara Kepresidenan menyatakan bahwa film tersebut telah melecehkan pemimpin tertingginya dan merupakan tindakan terorisme serta pernyataan perang terbuka.9 Lebih lanjut
melalui kantor resmi pemerintah Korea Utara, disampaikan bahwa tentara rakyat Korea Utara (DPRK) sepenuhya siap berdiri dan melakukan konfrontasi dengan Amerika Serikat di semua ruang perang, termasuk ruang perang internet.10 Beberapa hari setelah
pernyataan dan kecaman keras dari pemerintah Korea Utara, beberapa jaringan 7 Ibid
8 Denada Faraswacyen L. Gaol, M.Si. (2013). Perspektif Komunikasi Internasional. Hubungan Internasional, Universitas Budi Luhur. slide 7-10
9 Rizky Gunawan. (2014). Dituding Retas Film Pembunuhan Kim Jong-un, Korut Ancam AS. diakses melalui http://news.liputan6.com/read/2150973/dituding-retas-film-pembunuhan-kim-jong-un-korut-ancam-as pada tanggal 28 Des 2015. pukul 13:27
komputer perusahaan Sony Picture Entertaiment diretas hingga mengakibatkan kerugian lebih dari $100 dolar.11 Hal tersebut menyebabkan pihak Sony nyaris memundurkan
bahkan hendak membatalkan jadwal penayangan perdana film tersebut. Meskipun tidak mengakui tindakannya, namun Biro Investigasi Federal AS (FBI) telah menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh peretas asal Korea Utara.12 Hal ini menjadi awal perang
cyber (Cyber Warfare) antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Melalui tulisan ini, penulis akan mencoba melihat dan menganalisis lebih jauh terkait “perang cyber (Cyber Warfare) antara Amerika Serikat dan Korea Utara akibat pembuatan film The Interview” Cyber Warfare
Menelaah mengenai cyber warfare, maka pembahasan akan dimulai dari ruang perang yaitu dunia maya. Dalam 3 dekade terakhir, seperempat dari populasi dunia telah terintegrasi dalam dunia maya sehingga pusat gravitasi dunia tidak lagi pada ruang fisik, namun pada ruang virtual. Hal ini kemudian turut menggeser ruang perang suatu negara dari fisik menuju virtual atau yang disebut dengan cyber warfare. Dunia maya
(Cyberspace) merupakan suatu tempat yang diciptakan dari pertemuan antara jaringan komputer, sistem IT, dan infrastruktur telekomunikasi, atau yang sering disebut dengan World Wide Web. Lebih jauh, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendefinisikan bahwa dunia maya adalah area atau domain untuk menyimpan, memodifikasi, dan melakukan pertukaran data melalui sistem berbasis teknologi.13
Merujuk pada pengertian ruang perang secara virtual yaitu dunia maya, maka
cyber warfare dapat diidentifikasikan sebagai konflik berbasis internet yang mengarah pada penyerangan dan perusakan komputer atau jaringan informasi negara lain melalui virus komputer atau serangan denial-of-service.14 Cyber Warfare juga dapat dilakukan
dengan menonaktifkan website resmi dan jaringan, mengganggu atau menonaktifkan layanan penting, mencuri atau mengubah data rahasia, dan melumpuhkan sistem keuangan. Menurut seorang ahli bernama Jeffrey Carr dalam bukunya yang berjudul
"Inside Cyber Warfare", serangan dapat dilakukan dan diarahkan kepada negara, kelompok non-pemerintahan, atau bahkan perseorangan. Pada tataran negara, Resolusi Dewan Keamanan PBB mengatakan bahwa Cyber Warfare diartikan sebagai penggunaan komputer atau sarana digital melalui persetujuan pemerintah untuk mengakses dan merusak jaringan infrastruktur digital negara lain. Hal ini kemudian dipertegas oleh pernyataan dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang mengatakan bahwa tujuan dilakukannya Cyber Warfare adalah untuk mencapai tujuan militer yaitu
11 Brian Padden. (2014). Serangan Peretas Korea Utara atas Sony terkait Film Kim Jong Un. diakses melalui http://www.voaindonesia.com/content/serangan-peretas-atas-sony-terkait-film-kim-jong-un/2564604.html pada tanggal 28 Des 2015. pukul 14:42
12 Rizky Gunawan, loc.cit
13 Fred Schreier. (2015). On Cyberwarfare. DCAF Horizon. Vol.7. hal. 10-14
keamanan negara melalui dunia maya.15 Oleh sebab itu, Carr lebih lanjut juga
menyampaikan bahwa bahwa efek yang ditimbulkan oleh perang jenis ini sama halnya dengan perang menggunakan pistol.16
Konsep Power
Konsep power merupakan salah satu kajian penting dalam studi hubungan internasional karena dianggap sebagai unsur utama tindakan politik. Dalam hal ini, Morgenthau melihat bahwa politik dalam negari maupun internasional merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh kekuasaan (struggle for power). Sedangkan, Morgenthau sendiri mendefinisikan power sebagai suatu hubungan antara dua aktor politik dimana aktor A memiliki kemampuan mengendalikan pikiran dan tindakan aktor B. Menurutnya, power dapat terdiri atas apa saja yang menciptakan dan mempertahankan pengendalian seseorang atas orang lain. Hal ini didukung oleh pemikiran Robert Dahl yang mengatakan: “power as the ability to get others to do what they otherwise would not do”. Pemikiran Morgenthou juga di dukung oleh Walter S. Jones memandang bahwa hakekat power adalah kemampuan suatu aktor dalam panggung internasional untuk menggunakan segenap sumber daya yang terwujud (tangible) atau tidak terwujud
(intangible) serta seluruh asetnya, sedemikian rupa sehingga untuk mempengaruhi peristiwa internasional agar membawa hasil yang memuaskannya.17
Cyber Warfare Amerika Serikat dan Korea Utara
Film The Interview oleh Sony Picture Entertaiment yang semestinya tayang secara perdana pada tanggal 25 Desember 2014 pun, hampir diundur atau bahkan ditarik akibat serangan cyber yang diarahkan pada jaringan perusahaan tersebut. Pada bulan November 2014, kelompok peretas (hacker) yang menyebut diri sebagai "The Guardians of Peace" (GOP) masuk ke dalam jaringan internal milik Sony Pictures Entertainment dan mencuri sejumlah file rahasia. File sebagian diambil dalam bentuk dumped text
berukuran 1 GB yang berisi berbagai macam dokumen rahasia termasuk file PDF identitas aktor produksi film Sony, seperti Johan Hill, Cameron Diaz, dan Angelina Jolie. Selain itu, terdapat sekitar 700 dokumen berisi password penting, 179 arsip e-mail Outlook, dokumen sensitif berupa perencanaan budget film, dan bahkan 5 buah film yang belum dipublikasikan. Pada tahap selanjutnya, melalui akun Twitter "The Guardians of Peace" (GOP) mempromosikan film "Starship Trooper", salah satu film milik Sony
15 Fred Schreier, op.cit, hal. 16-17
16 What is cyberwarfare?. diakses melalui http://searchsecurity.techtarget.com/definition/cyberwarfare. pada tanggal 28 Des 2015. pukul 16:39
Pictures Entertaiment yang ikut dibajak.18 Keempat film lainnya juga secara bertahap
diupload ke publik.
Selain itu, "The Guardians of Peace" (GOP) juga melakukan penyerangan pada perangkat lunak sehingga menyebabkan terhambatnya kinerja perusahaan induk maupun cabang perusahaan asal Amerika Serikat ini. GOP menyatakan bahwa tindakan konfrontatifnya akan terus dilakukan apabila Sony Picture Entertaiment tidak menuruti permintaan mereka untuk membatalkan penayangkan film tersebut dan apabila tetap ditayangkan, maka GOP akan melakukan serangan fisik di bioskop-bioskop yang memutar film tersebut. Melihat bahwa serangan tersebut telah menyebabkan kerugian sebesar + $100 dollar dan terlebih ancaman serangan fisik di bioskop-bioskop, maka
Sony Picture Entertaiment menyatakan akan membatalkan perilisan perdana film tersebut.19 Namun demikian, presiden Barak Obama menyayangkan tindakan yang
diambil oleh perusahaan itu. Presiden Amerika Serikat ini menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengatur Amerika Serikat dalam hal penyensoran. Barak Obama juga berjanji akan menelusuri pihak dibalik peretasan jaringan Sony Picture Entertaiment.
Dalam penelusurannya, spekulasi kemudian muncul dan mengarah pada negara Korea Utara. Walaupun pihak pemerintah dalam berbagai kesempatan terus menyangkal keterlibatannya terkait masalah tersebut, tetapi hasil temuan yang dilakukan oleh periset keamanan dunia maya asal Korea Selatan dan agen intelegensi Amerika Serikat (FBI) memperlihatkan hasil yang berbeda. Simon Choi, seorang periset keamanan dunia maya dari perusahaan anti virus di Seoul, Hauri Incorporated, mempelajari kode-kode piranti lunak yang digunakan untuk meretas sistem komputer perusahaan Sony Picture Entertaiment. Dia pun mengatakan bahwa kode-kode pada piranti lunak tersebut mirip dengan kode yang digunakan Korea Utara untuk menyerang perusahaan-perusahaan media di Korea Selatan pada tahun 2012. Selain itu, virus yang digunakan dalam kasus
Sony Picture juga memiliki kemiripan dengan virus jaringan di perusahaan media Korea Selatan.20 Hal ini dipertegas pula oleh James Comey seorang Direktur FBI yang
mengatakan bahwa para peretas melakukan kesalahan fatal karena menyerang menggunakan server khusus yang hanya dimiliki oleh negara Korea Utara. Lebih lanjut, beberapa analis keamanan lainnya menyatakan bahwa serangan ini didukung oleh pihak negara.21
18 Oik Yusuf. (2014) Peretas Pamer File Rahasia Milik Sony Pictures. diakses melalui
http://tekno.kompas.com/read/2014/11/28/21120077/peretas.pamer.file.rahasia.milik.sony.pictures. pada tanggal 28 Des 2015. pukul 21:09
19 Brian Padden, loc.cit
20 FBI: Peretas Sony Gunakan Server Korea Utara. diakses melalui
http://www.voaindonesia.com/content/peretas-sony-gunakan-server-korea-utara/2589572.html pada tanggal 28 Des 2015. pukul 22:25
Tindakan yang dilakukan oleh GOP dan didukung oleh pemerintah Korea Utara ini merupakan tindakan cyber warfare yang mulanya diarahkan kepada production house, Sony Picture Entertaiment. Namun demikian, tindakan tersebut secara langsung juga berdampak pada negara Amerika Serikat. Dipandang dari sisi kedaulatan, ancaman untuk tidak menayangkan film tersebut telah melanggar asas-asas kebebasan berekspresi yang menjadi salah satu nilai penting dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa. Dilihat dari sisi politis, ancaman dan serangan oleh pihak yang disinyalir didukung oleh pemerintah Korea Utara merupakan salah satu perjuangan aktor tersebut dalam memperoleh kekuasaan (strugle of power). Seperti yang disampaikan oleh Robert Dahl, tindakan tersebut dapat dipandang sebagai salah satu cara untuk menekan pihak lain yang dalam hal ini Sony Picture Entertaiment untuk melakukan tindakan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh GOP. Lebih jauh apabila dipandang dari sisi ekonomi, penurunan kinerja Sony Picture Entertaiment menyebabkan kerugian yang berdampak pada terganggungnya siklus perekonomian negara sehingga menimbulkan instabilitas ekonomi walau masih dalam skala kecil. Menanggapi hal tesebut, Amerika Serikat pun melakukan serangan balasan.
Serangan balasan dilakukan dengan menyerang jaringan internet Korea Utara menggunakan metode serangan distributed denial-of service (DDoS). Serangan ini ditujukan untuk menyibukan jaringan karena menerima jutaan paket data tiap detiknya. Dalam beberapa waktu, serangan ini dapat melumpuhkan jaringan internet secara total. Pada serangat pertama yang dilakukan pada 22 Desember 2014, menurut pengamat dari perusahaan analisis jaringan Dyn Research, setelah mengalami ketidakstabilan konektifitas internet, kemudian internet di Korea Utara pun mati total selama sekitar 9 jam 31 menit.22 Serangan ini menimbulkan reaksi keras dari pihak Korea Utara. Komisi
Pertahanan Nasional Korea Utara pun menyatakan statement yang berkata : “Amerika Serikat, dengan ukuran fisik yang besar dan secara memalukan bermain sembunyi-sembunyi seperti anak kecil yang beringus di hidung, telah melancarkan gangguan operasi internet media utama republik kami. Benar-benar tindakan yang bisa ditertawakan.”23 Seperti yang dilakukan Korea Utara saat dituding melakukan
penyerangan Cyber, pihak Amerika Serikat pun menyatakan tidak bertanggung jawab atas serangan tersebut.
22 Gito Yudha Pratomo. (2014). Mati 9 Jam, Internet Korea Utara Kembali Normal. diakses melalui
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20141223103500-185-19958/mati-9-jam-internet-korea-utara-kembali-normal/ pada tanggal 28 Des 2015. pukul 23:28
Gambar 2: Gaming website hit with a massive DNS flood, peaking at over 25 million packets per second
Sumber : www.incapsula.com
Serangan pertama yang kemudian dapat ditangani dengan baik menyebabkan internet di Korea Utara dapat kembali beropersi. Namun keesokan harinya, peretas mengetahui bahwa pemerintah Korea Utara mencoba masuk dalam koneksi internet melalui jaringan yang bertumpu pada jaringan Tiongkok.24 Menanggapi tindakan
tersebut, peretas kembali merusak jaringan menggunakan metode yang sama sehingga koneksi internet Korea Utara kembali padam. Serangan kedua yang disinyalir dilakukan oleh pemerintah asal Amerika Serikat ini merupakan pukulan telak bagi pemerintah Korea Utara yang menjadi indikasi kekalahan Korea Utara dalam perang cyber. Hal ini karena serangan balik yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat ditujukan kepada negara Korea Utara secara keseluruhan. Berbeda dengan serangan dari peretas asal Korea Utara yang mana hanya ditunjukan pada satu perusahaan dan menggunakan metode yang lebih sederhana, serangan yang dilakukan oleh pihak yang disinyalir berasal dari Amerika Serikat melakukan serang dengan metode yang lebih komplek.
Metode denial-of-service (DDoS) merupakan suatu cara yang dilakukan dengan mengambil keuntungan dari kelemahan jaringan untuk melakukan pengambilalihan jaringan yang kemudian memaksa komputer menerima sejumah besar data sehingga mengakibatkan matinya koneksi internet dan kerusakan permanen pada jaringan komputer apabila tidak ditangani secara cepat. Penyerangan ini menyebabkan dalam beberapa beberapa hari Korea Utara seakan-akan hilang dari dunia virtual.25 Beberapa
dampak yang ditimbulkan oleh aksi balasan yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat salah satunya adalah ekonomi. Hal ini dikarenakan, sekitar 1 juta komputer yang dimiliki oleh Korea Utara sebagaian besar diarahkan untuk keperluan pendidikan dan institusi negara.26 Dengan matinya koneksi internet di negara ini maka sektor pendidikan dan
pemerintahan tidak dapat berjalan dengan lancar. Terhambatnya 2 sektor penting negara
24 Reuters. 2014. Jaringan Internet Korea Utara Mati. diakses melalui
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141223054020-113-19920/jaringan-internet-korea-utara-mati/ pada tanggal 29 Des 2015. pukul 02:00
25 Understanding Denial-of-Service Attacks. diakses melalui https://www.us-cert.gov/ncas/tips/ST04-015 pada tanggal 29 Des 2015. pukul 18:28
26 Editor : Bambang Priyo Jatmiko. (2014). Sebut Obama "Monyet", Internet Korea Utara Kembali Padam. sumber: AFP. diakses melalui
akan menyebabkan terhambatnya sektor-sektor penting lainnya terutama ekonomi sehingga membuat negara dalam kondisi terancam.
Serang yang diarahkan pada Korea Utara menunjukan kegagalan pihaknya dalam menggunakan power untuk mengendalikan pihak Sony Picture Entertaiment agar melakukan kehendak yang diingini dan menunjukan keberhasilan Amerika Serikat untuk memegang power atas negaranya. Kekuasaan yang ditunjukan oleh negara Adidaya ini kemudian mampu meyakinkan pihak production house untuk tetap menayangkan film tersebut. Oleh sebab itu, sesuai dengan rencana awal perilisan, film The Interview pun ditayangkan di bioskop Amerika Serikat tanggal 25 Desember 2014 yang disambut sangat baik oleh masyarakat Amerika Serikat. Selanjutnya, film tersebut pun mendapat persetujuan untuk dipublikasikan di berbagai media online dan negara. Namun 3 hari setelah dirilis, Presiden Kim Jong Un menyebut Barak Obama sebagai presiden monyet karena menyetujui perilisan film ini. Hal ini menyebabkan koneksi internet di Korea Utara mati untuk kesekian kalinya. 27 Tindakan tersebut juga dapat dilihat sebagai salah satu
bentuk pertunjukan Amerika Serikat atas power yang dimiliki oleh negara ini.
Kesimpulan
Perilisan film The Interview merupakan suatu ancaman dan penghinaan besar bagi negara Korea Utara. Ditengah perkembangan era global, film yang diakhiri dengan terbunuhnya pemimpin tertinggi Korea Utara ini akan secara cepat mengarahkan pandangan negatif mengenai pemimpin dan negara tersebut. Hal inilah yang menyebabkan penyerangan Korea Utara dibawah kelompok yang menamakan dirinya GOP melalui perang cyber ke pihak Sony Picture Entertaiment. Penyerangan ini ditujukan untuk menekan pihak Sony Picture Entertaiment agar membatalkan penayangan film tersebut. Namun, pemerintah Amerika Serikat pun menyatakan agar Sony Picture Entertaiment tetap merilis film The Interview tanpa mengikuti ancaman yang berarti Amerika Serikat menolak berada dibawah kekuasaan (power) Korea Utara.
Penolakan tersebut kemudian diwujudkan dengan melakukan serangan cyber
balasan kepada pihak Korea Utara melalui metode denial-of-service (DDoS) yang kemudian berhasil melumpuhkan jaringan internet Korea Utara secara total dalam beberapa hari. Hal ini berakibat pada lumpuhnya beberapa sektor penting terutama pendidikan dan pemerintahan. Serangan balik ini merupakan kekalahan telak bagi pihak Korea Utara sehingga Sony Picture Entertaiment pada akhirnya tetap menayangkan film tersebut. Film ini juga pada tahapan selanjutnya disiarkan di berbagai negara secara bebas dan pihak Korea Utara pun tidak melakukan tindakan agresif lainnya kecuali membuat pernyataan di media dan mengutuk penyebaran film tersebut. Dalam
Daftar Pustaka
D, Bell. “The coming of post-industry society”. 1973. New York: Venture in Social Forecasting.
D, McQuail. “International Information Flows-The Evidence of Content Analysis. Approaches to International Communication”. 1986. edited by: Ullamaija Kivikuru and Tapio Varis, the Finnish National Commission for Unesco, Helsinki.
Faraswacyen, Denada L. Gaol, M.Si. “Perspektif Komunikasi Internasional”. 2013. Hubungan Internasional. Universitas Budi Luhur McAtee, Alexandria (co.produsen).“The Interview”. 2014. Amerika Serikat: Sony Picture Entertaiment. Rusdiyanta S.IP, M.Si. “Power dan Kapabilitas”. 2012. Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional. FISIP, UBL.
Schreier, Fred. “On Cyberwarfare”. 2015. DCAF Horizon: Vol.7
Vera, Nawiroh M.Si. “Pengantar Komunikasi Massa”. 2010. Jakarta: Renata Pratama Media.
Sumber Online:
“Cyber Warfare”. 2014. diakses melalui http://www.rand.org/topics/cyber-warfare.html. “Understanding Denial-of-Service Attacks”. 2014. https://www.us-cert.gov/ncas/tips/ST04-015
“What is cyberwarfare?”. 2014.
http://searchsecurity.techtarget.com/definition/cyberwarfare.
Sumber Berita Online:
“FBI: Peretas Sony Gunakan Server Korea Utara”. 2014.
http://www.voaindonesia.com/content/peretas-sony-gunakan-server-korea-utara/2589572.html
Gunawan, Rizky. “Dituding Retas Film Pembunuhan Kim Jong-un, Korut Ancam AS”. 2014, http://news.liputan6.com/read/2150973/dituding-retas-film-pembunuhan-kim-jong-un-korut-ancam-as.
http://internasional.kompas.com/read/2014/12/28/09193311/Sebut.Obama.Monyet.In ternet.Korea.Utara.Kembali.Padam
“Korut ancam akan serang Amerika Serikat”. 2014.
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/12/141222_korut_as_sony
Padden, Brian. “Serangan Peretas Korea Utara atas Sony terkait Film Kim Jong Un”. 2014. http://www.voaindonesia.com/content/serangan-peretas-atas-sony-terkait-film-kim-jong-un/2564604.html
Reuters. “Jaringan Internet Korea Utara Mati”. 2014
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141223054020-113-19920/jaringan-internet-korea-utara-mati/
Wahyudi, Reza. “Internet Lumpuh, Korut Tuding Anak Kecil Beringus”. 2014. http://tekno.kompas.com/read/2014/12/27/1213009/Internet.Lumpuh.Korut.Tuding.An
ak.Kecil.Beringus.?utm_source=news&utm_medium=bp-kompas&utm_campaign=related& pada tanggal 28 Des 2015. pukul 23:30
Yudha Pratomo, Gito. “Mati 9 Jam, Internet Korea Utara Kembali Normal”. 2014. http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20141223103500-185-19958/mati-9-jam-internet-korea-utara-kembali-normal/