• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keywords: Speech Capability, Improved KWL Technique. Pendahuluan - View of Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Teknik KWL Pada Siswa Kelas V SDN Martajasah Bangkalan Semester II Tahun pelajaran 2016/2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keywords: Speech Capability, Improved KWL Technique. Pendahuluan - View of Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Teknik KWL Pada Siswa Kelas V SDN Martajasah Bangkalan Semester II Tahun pelajaran 2016/2017"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Teknik KWL Pada Siswa Kelas V SDN Martajasah Bangkalan Semester II Tahun pelajaran 2016/2017

Sulihati

[email protected]/SDN Martajasah-Bangkalan

Abstrak: Dalam belajar bahasa Indonesia pengajaran bahasa meliputi empat keterampilan berbahasa yaitu: membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya, yaitu: Kosa Kata, Tata Bahasa dan

Pengucapan sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Teknik KWL Pada Siswa Kelas V SDN Martajasah Bangkalan Semester II Tahun pelajaran 2016/2017 Kegiatan penelitian dirancang dalam 3 siklus, tiap siklus di laksanakan selama 2 jam pelajaran (tatap muka). Setiap siklus meliputi 4 tahap yaitu : Perencanaan

(planning), Tindakan (acting), Pengamatan (observing), Analisis dan Refleksi

(reflecting).Berdasarkan pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan teknik KWL dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V SDN Martajasah semester II tahun pelajaran 2016/2017. Peningkatan dari masing- masing siklus nampak adanya peningkatan yang signifikan yakni; pada siklus I=64,12 , siklus II=71,17, dan siklus III= 80, 58

Kata Kunci:Kemampuan berbicara, Peningkatan Teknik KWL.

Abstract: Indonesian language learning includes four aspects of language skills: reading, listening, speaking and writing. All of that is supported by the elements of other languages, namely: Vocabulary, Grammar and Pronunciation in accordance with the theme as a means of achieving goals. Problems revealed in this research is Improved Speaking Capability Through KWL Technique In Grade V Students SDN Martajasah Bangkalan Semester II Year lesson 2016/2017 Research activities are designed in 3 cycles, each cycle is held for 2 hours lesson (face to face). Each cycle includes four stages: Planning, Acting, Observing, Analysis and Reflection. Based on the data collection and data analysis conducted, it can be concluded that with the KWL technique can improve the ability to speak to grade V SDN Martajasah second semester academic year 2016/2017. The increase of each cycle appears to be a significant increase ie; in cycle I = 64,12, cycle II = 71,17, and cycle III = 80, 58.

Keywords:Speech Capability, Improved KWL Technique.

Pendahuluan

Dalam mengajar seorang guru

harus bisa menciptakan daya kreatifitas

belajar yang menyenangkan bagi siswa,

kreatifitas biasanya diartikan sebagai

“Kemampuan untuk menciptakan

suasana produk baru, baik yang

benar-benar baru sama sekali maupun yang

merupakan modifikasi atau perubahan

dengan mengembangkan hal-hal yang

sudah ada” (Cece Wijaya, 1991;189).

(2)

akan sangat dipengaruhi oleh adanya

berbagai kemampuan yang dimiliki

anak didik, sikap, minat dan bakat yang

positif dan tinggi. Oleh karenanya

dituntut seorang mampu berperan aktif

dalam menumbukan kreatifitas anak

pada proses pembelajaran berlangsung

maupun rangsangan belajar diluar

sekolah.

Oleh karena itu dalam melakukan

penelitian ini, peneliti memilih model

pembelajaran yang dapat dijadikan

alternatif untuk memperbaiki

pembe-lajaran bahasa Indonesia tersebut.

Salah satu alternatif yakni model

pembelajaran dengan metode KWL,

karena model ini selain dapat

mengem-bangkan kemampuan kognitif siswa,

juga dapat meningkatkan kemampuan

siswa dalam hal mengkomunikasikan

keterampilan berbicara. Dari pendapat

tersebut maka penulis tertarik

mengadakan penelitian dengan judul

“Peningkatan Kemampuan Berbicara

Melalui Teknik KWL Pada Siswa

Kelas V SDN Martajasah Kecamatan

Bangkalan Kabupaten Bangkalan

Semester II Tahun Pelajaran 2016/

2017”

Permasalahan dalam penelitian

sangat penting karena dalam proses

penelitian akan menjadi penuntun atau

arah. Ini berarti rumusan masalah

menjadi pangkal tolak uuntuk

menemukan tujuan, metode dan

kerangka penelitian. Rumusan masalah

merupakan sesuatu yang sangat

penting, oleh sebab itu sebelum

berba-gai hal lainnya dikerjakan terlebih

dahulu masalah harus dirumuskan.

Dalam penelitian ini penulis

mengajukan masalah yang harus

dianalisis. Berdasarkan uraian di

rumusan masalah yaitu: “Adakah

Peningkatan Kemampuan Berbicara

Melalui Teknik KWL Pada Siswa

Kelas V SDN Martajasah Kecamatan

Bangkalan Kabupaten Bangkalan

Semester II Tahun Pelajaran 2016/

2017?”

Berdasarkan permasalahan di atas,

tujuan penelitian ini adalah Untuk

mengetahui peningkatan Kemampuan

Berbicara Melalui Teknik KWL Pada

Siswa Kelas V SDN Martajasah

Keca-matan Bangkalan Kabupaten

Bang-kalan Semester II Tahun Pelajaran

2016/2017.

Adapun manfaat yang diharapkan

penulis adalah 1). Bagi Sekolah

Sebagai bahan pertimbangan dalam

menyusun program-program sekolah

sekaligus dapat digunakan sebagai

(3)

peningkatan mutu pendidikan bahasa

Indonesia dan peningkatan belajar pada

siswa, 2). Bagi Guru Merupakan modal

untuk mengembangkan pola pikir serta

mengembangkan kreatifitas dan

aktifitas tolak ukur kemampuan diri

dalam rangka menambah bakat dan

pengalaman yang berguna dan

bermanfaat untuk pelaksanaan

pendi-dikan bahasa Indonesia di SDN

Martajasah Kec. Bangkalan Kab.

Bangkalan. 3). Bagi Siswa, Untuk

membantu memudahkan siswa dalam

memahami materi yang sulit sehingga

prestasi siswa meningkat.

KWL adalah singkatan dari ; K

(know) Apa yang telah diketahui

(sebelum membaca), W (want) Apa

yang hendak diketahui (sebelum

membaca), L (learned)Apa yang telah

diketahui (setelah membaca). (http:/

/www.erel/sdrs/areas/students/learning)

.

Teori tersebut ialah suatu teknik

berbicara di mana pembicara

mengingat dahulu apa yang telah

diketahui atau menentukan apa yang

ingin diketahui melakukan pembica

raan (bahan yang telah dipilih)

mengetahui apa yang telah diperoleh

dari pembicaraan yang baru dilakukan.

Dalam proses pembelajaran, guru

memberikan sebuah topik, kemudian

ditanyakan secara langsung kepada

siswa apa yang mereka ketahui tentang

topik yang diberikan. Semua jawaban

siswa dituliskan pada kolom K.

Pertanyaan selanjutnya yaitu apa yang

ingin mereka pelajari tentang topik dan

semua jawaban siswa ditulis pada

kolom W. Kemudian siswa diminta

membaca materi yang dimaksudkan

untuk hari itu. Kemudian guru

menggali tentang apa yang telah

mereka pelajari dan menuliskannya

pada kolom L.

a. Faktor-faktor Kebahasaan sebagai

Penunjang Keefktifan Berbicara

Sabarti dkk. berpendapat bahwa

”Aspek-aspek. berbicara yang

tergolong pada aspek kebahasaan,

adalah lafal, intonasi, serta pengunaan

kata, dan kalimat” (1991 : 154).

Sedangkan menurut Maidar, dkk.

Faktor-faktor kebahasaan sebagai

penunjang keefektifan berbicara adalah

”ketepatan ucapan, penempatan

tekanan, pilihan kata (diksi), dan

ketepatan sasaran pembicaan” (1991

17-19). Mengenai faktor faktor

kebahasaan, tersebut dapat dijelaskan

sebagai berikut.

(4)

Ketika seseorang berbicara

dengan orang lain tentu berharap orang

yang diajak bicara mengerti apa yang

dibicarakan. Ketepatan ucapan sangat

mempengaruhi penerimaan seseorang.

Karena tidak tepat dalam ucapan dapat

membingungkan orang lain.

Masing-masing kita, mempunyai gaya

tersendiri, akan tetapi jika perbedaan

atau perubahan itu terlalu mencolok,

sehingga menjadi suatu penyimpangan

maka keefektifan komunikasi akan

terganggu. Kita manyadari latar

belakang penutur bahasa Indonesia

memang berbeda-beda. Setiap penutur

tentu sangat dipengaruhi oleh bahasa

ibunya, misalnya pengucapan ”e” yang

kurang tepat, bebas diucapkan bebas,

sebaliknya derap diucapkan derap,

adapula seseorang yang menambahkan

bunyi-bunyi tertentu di belakang suku

kata atau di belakang kata, misalnya

waktu diucapkan waktuh dan

sebagainya. Mengenai lafal bahasa

Indonesia Sabarti Akhadiah M.K, dkk,

menyatakan bahwa ”Mengenai lafal

bahasa Indonesia sampai saat ini

memang belum dibukukan. Rumusan

yang dapat dikemukakan adalah bahwa

ucapan atau lafal yang baku dalam

bahasa Indonesia adalah ucapan yang

bebas dari ciri-ciri lafal daerah” (1991 :

15).

2) Penempatan Tekanan/Intonasi

Kesesuaian penempatan tekanan

atau intonasi merupakan daya tarik

tersendiri dalam berbicara. Penempatan

tekanan yang tidak sesuai akan terasa

janggal.

3) Pilihan Kata (Diksi)

Pilihan kata hendaknya tepat

dan jelas, yaitu mudah dimengerti oleh

orang yang diajak berbicara. Selain itu

harus disesuaikan dengan pokok

pembicaraan.

4) Ketepatan Sasaran Pembicaraan

Hal ini menyangkut pemakaian

kalimat. Orang yang berbicara

menggunakan kalimat efektifakan

memudahkan orang lain menangkap

pembicaraannya.

Dari uraian di atas, dapat

disimpulkan bahwa faktor-faktor

kebahasaan yang menunjang

keefek-tifan berbicara yaitu ketepatan

ucapan/lafal, penempatan, tekanan/

intonasi, pilihan.kata (diksi), dan

ketepatan sasaran pembicaraan.

b. Faktor-faktor Nonkebahasaan

Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara

1) Sikap yang wajar, tenang dan tidak

(5)

Dalam berbicara, kita harus bersikap

yang wajar, tenang, dan tidak kaku.

Bersikap wajar, berarti berpenampilan

atau berbuat biasa sebagaimana

adanya, mestinya sesuai dengan

keadaan. Sikap yang tenang adalah

sikap dengan perasaan hati yang tidak

gelisah, tidak gugup, tidak

tergesa-gesa. Sikap tenang dapat menimbulkan

jalan pikiran dan pembicaraan menjadi,

lancar tidak kaku berarti luwes.

2) Pandangan harus diarahkan kepada

lawan bicara

Pada waktu berbicara pandangan

kita harus diarahkan kepada lawan

bicara, baik dalam pembicaraan

perorangan maupun dalam kelompok.

Pandangan yang melihat ke atas, ke

samping, atau menunduk perlu

dihindari. Pembicaraan yang tidak

diarahkan kepada lawan bicara akan

mengurangi keefektifan berbicara.

3) Kesediaan menghargai pendapat

orang lain

Dalam menyampaikan isi

pembicaraan, seorang pembicara

hendaknya memiliki sikap terbuka

dalam arti dapat menerima pendapat

pihak lain, bersedia menerima kritik,

bersedia, mengubah pendapatnya jika

ternyata memang salah.

4) Gerak-gerik dan mimik yang tepat

Salah satu kelebihan kegiatari

berbicara adalah adanya gerak-gerik

dan mimik yang berfungsi membantu

memperjelas pembicaraan. Hal-hal

yang penting selain mendapat tekanan,

biasanya dibantu dengan gerak tangan

atau mimik. Gerak-gerik dan mimik

yang tepat dapat menunjang

keefek-tifan berbicara.

5) Kenyaringan suara

Tingkat kenyaringan suara

hendaknya disesuaikan dengan situasi,

tempat dan jumlah pendengar.

6) Kelancaran

Seorang pembicara yang lancar

berbicara akan memudahkan pendengar

menangkapan isi pembicaraannya.

Sering kali kita dengar pembicara

berbicara terputus-putus, bahkan antara

bagian-bagian yang terputus itu

diselipkan bunyi - bunyi tertentu yang

sangat mengganggu penangkapan

pendengar. Sebaliknya pembicara yang

terlalu cepat berbicara juga akan

menyulitkan pendengar menangkap

pokok pembicaraannya

7) Pengalaman dan relevansi

Gagasan demi gagasan haruslah

berhubungan dengan logis. Penalaran,

yaitu pemikiran atau cara berfikir yang

logis untuk sampai kepada suatu

(6)

arti adanya hubungan atau kaitan antara

uraian dengan pokok pembicaraan.

8) Penguasaan topik

Penguasaan topik pembicaraan

berarti pemahaman atas suatu pokok

pembicaraan. Dengan pemahaman

tersebut, seorang pembicara, akan

mempunyai kesanggupan untuk

mengemukakan pokok pembicaraan

kepada orang lain. Penguasaan topik

yang baik akan menimbulkan

keberanian dan menunjang kelancaran

berbicara.

Dari uraian di atas, dapat diambil

kesimpulan bahwa faktor-faktor non

kebahasaan yang menunjang

keefek-tifan berbicara yaitu sikap yang wajar,

tenang, dan tidak kaku, pandangan

harus diarahkan ke lawan bicara,

kesediaan menghargai pendapat orang

lain, gerak-gerik dan mimik yang tepat,

kenyaringan suara, kelancaran,

penalaran dan relevansi, dan

penguasaan topik.

Untuk mewujudkan

kemam-puan berbicara yang baik diperlukan

metode pembelajaran yang dapat

memotivasi siswa untuk berbicara.

Salah satu alternatif yakni model

pembelajaran dengan metode KWL,

karena model ini selain dapat

mengembangkan kemampuan kognitif

siswa, juga dapat meningkatkan

kemampuan siswa dalam hal

mengko-munikasikan ketrampilan berbicara

Untuk memecahkan masalah

yang ada diperlukan suatu hipotesis,

sehingga penelitian dan pemecahan

masalah akan lebih terarah. Hipotesis

merupakan jawaban sementara. Jadi

perlu dibuktikan kebenarannya dengan

analisis data. Berdasarkan

permasala-han di atas, penulis mengajukan

hipotesis sebagai berikut: “Jika

pembelajaran berbicara menggunakan

teknik KWL maka kemampuan

berbi-cara siswa kelas V SDN Martajasah

semester II tahun pelajaran 2016/2017

akan meningkat”.

Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan

bagian yang sangat penting dalam

sebuah penelitian, karena sebelum

penelitian dilakukan, penulis harus

menentukan lebih dahulu metode atau

cara tertentu yang akan digunakan

dalam penelitian tersebut. Tanpa

metode tertentu, tidak mungkin suatu

penelitian dapat berhasil dengan baik.

Dalam ilmu pengetahuan tidak semua

metode penelitian tersebut efektif

digunakan untuk mendapatkan hasil

dalam pemecahan data yang

(7)

pene-litian sangat tergantung pada metode

yang sesuai dengan penelitian supaya

dapat diperoleh data yang relevan.

Penelitian ini termasuk

penelitian tindak lanjut belajar yang

menyelidiki perkembangan subjek

sesudah diberikan tindakan atau

kondisi tertentu. Penelitian ini

mengambil tempat di kelas, oleh karena

itu penelitian ini merupakan bentuk

khusus dari penelitian tindakan (action

research). Suyanto (1996:2)

mengata-kan bahwa : “bentuk penelitian tersebut

dikenal dengan istilah peneltian

tindakan kelas”. Penelitian ini

dilakukan secara kolaboratif oleh

peneliti dan guru sebagai praktisi

dengan mengambil latar alamiah di

kelas.

Penelitian ini dilakukan di

Sekolah Dasar Negeri Martajasah

Kecamatan Bangkalan Kabupaten

Bangkalan pada semester II tahun

pelajaran 2016/2017, yaitu pada bulan

Maret 2017 sampai bulan Mei 2017.

Subjek penelitian adalah siswa kelas V

semester genap Sekolah Dasar Negeri

Martajasah Kecamatan Bangkalan

Kabupaten Bangkalan tahun pelajaran

2016/2017 sebanyak 17 siswa.

Kegiatan penelitian dirancang

dalam 3 siklus, tiap siklus di

laksanakan selama 2 jam pelajaran

(tatap muka). Setiap siklus meliputi 4

tahap yaitu : Perencanaan (planning), Tindakan (acting), Pengamatan (observing), Analisis dan Refleksi (reflecting)

1. Perencanaan Tindakan(planning) Peneliti akan menyiapkan

rancangan pembelajaran dengan teknik

KWL pada materi pokok keterampilan

berbicara. Peneliti juga menyiapkan

lembar penilaian keaktifan siswa serta

lembaran pendapat dan tanggapan dari

siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan(acting). Selama proses pembelajaran

berlangsung, guru mengajar sesuai

dengan rencana pembelajaran yang

telah dibuat dan diterapkan dengan

teknik KWL.

3. Pengamatan(observing)

Observasi akan dilakukan untuk

merekam semua aktivitas dan

kemampuan yang ditunjukkan siswa

selama kegiatan pembelajaran di kelas

meliputi keaktifan siswa, kemampuan

bertanya, menjawab dan mengeluarkan

pendapat. Observasi dilakukan oleh

peneliti sekaligus sebagai guru yang

membina pembelajaran tersebut. Hal

ini bertujuan untuk menjamin validitas

(8)

4. Analisis dan refleksis(reflecting) Data yang diperoleh pada tahap

observasi akan dianalisis untuk melihat

kegiatan di kelas sesuai dengan metode

yang digunakan, kemudian nilai yang

diperoleh dibahas/didiskusikan antara

siswa, peneliti dan guru bahasa

Indonesia yang lain. Hasil penilaian

keaktifan siswa dan hasil pendapat dan

tanggapan siswa juga akan dijadikan

bahan pertimbangan.

Siklus Penelitian

Sebagaimana dipaparkan dalam

desain penelitian diatas, penelitian ini

dilakukan dalam tiga siklus yang

masing-masing terdiri dari 4 tahap

yang meliputi perencanaan,

pelaksa-naan, pengamatan dan refleksi. Siklus 1

adalah siklus awal yang akan

digunakan sebagai acuan dalam

melakukan siklus II, dan siklus II

sebagai acuan pelaksanaan siklus III.

1. Siklus I

a. Perencanaan

1). Identifikasi masalah dan

penetapan alternative pemecahan

masalah. 2). Merencanakan

pembe-lajaran yang akan diterapkan dalam

proses belajar mengajar, 3). Memilih

materi pelajaran yang sesuai, 4).

Menentukan scenario pembelajaran

dengan teknik KWL, 5).

Memper-siapkan sumber, bahan, dan alat bantu

yang dibutuhkan, 6). Menyusun lembar

kerja siswa 7). Mengembangkan format

evaluasi, 8). Mengembangkan format

observasi pembelajaran.

b. Tindakan

1).Menerapkan tindakan yang mengacu

pada skenario pembelajaran. 2). Siswa

mendengarkan penjelasan guru tentang

materi yang terdapat pada buku

sumber. 3). Siswa mendengarkan

penjelasan guru tentang materi yang

dipelajari. 4). Siswa mengerjakan

lem-bar kerja siswa.

c. Pengamatan

1). Melakukan observasi dengan

memakai format observasi yang sudah

disiapkan yaitu dengan catatan untuk

mengumpulkan data, 2). Menilai hasil

tindakan dengan menggunakan format

lembar kerja siswa.

d. Refleksi

1). Melakukan evaluasi tindakan yang

telah dilakukan meliputi evaluasi mutu,

jumlah dan waktu dari setiap macam

tindakan, 2). Melakukan pertemuan

untuk membahas hasil evalusi tentang

scenario pembelajaran dan lembar kerja

siswa, 3. Memperbaiki pelaksanaan

tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk

digunakan pada siklus berikutnya.

(9)

siklus dengan perbaikan di tiap siklus

pada RPP.

Teknik pengumpulan data

merupa-kan cara yang digunakan dalam

penelitian untuk memperoleh data yang

diperlukan dan untuk menentukan

berhasil tidaknya tujuan yang akan

dicapai. Teknik pengumpulan data

yang digunakan dalam penelitian ini

adalah tes sehingga penulis peroleh

berupa data yang sebenarnya dari SD

yang penulis pilih dalam penelitian

ini.

Adapun teknik analisis data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah

rumus yang penulis gunakan adalah

sebagai berikut:

P = N F

x 100 % (Suharsini Arikunto,

2002:169)

Keterangan P = Prosentase

F = Frekuensi

N = Responden

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Penelitian ini dilakukan dengan tiga

siklus, dalam siklus I jika ditemukan

kekurangan baik dalam perencanaan,

penerapan, dan evaluasi, maka langung

dilakukan perbaikan pada siklus II,

begitu juga dalam siklus II yang

diperbaiki dalam siklus III, segingga

dalam hasil penelitian ini akan

ditampilakan hasil akhir penelitian

yakni di siklus III sebagai berikut.

Siklus III

a. Perencanaan

1) Identifikasi masalah dan penetapan

alternative pemecahan masalah.

Identifikasi masalah berupa

lemahnya kemampuan siswa dalam

kemampuan berbicara, serta mencari

pemecahan masalah guna kearah

kemajuan siswa

2) Merencanakan pembelajaran yang

akan diterapkan dalam proses

belajar mengajar.

Dalam langkah ini penulis

menyusun RPP yang akan penulis

gunakan dalam proses pembelajaran

3) Memilih materi pelajaran yang

sesuai

Materi penulis pilih dan sesuaikan

dengan tingkat kemampuan siswa

kelas V sekolah dasar

4) Menentukan scenario pembelajaran

dengan teknik KWL.

Scenario pembelajaran berupa

penerapan teknik KWL dalam upaya

meningkatkan kemampuan

berbi-cara siswa

5) Mempersiapkan sumber, bahan, dan

(10)

Sumber berupa buku paket bahasa

Indonesia kelas V.

6) Menyusun lembar kerja siswa

Lembar kerja siswa, berupa soal

yang akan penulis gunakan dalam

tes kemampuan berbicara siswa

7) Mengembangkan format evaluasi

Format evaluasi penulis buat untuk

mencatat kekurangan dan kelebihan

dengan teknik KWL ini

8) Mengembangkan format observasi

pembelajaran.

Format observasi digunakan untuk

mengamati selama proses

pembe-lajaran dan untuk mengamati tingkat

kemampuan siswa. Nilai yang telah

penulis peroleh penulis masukkan

pada format penilaian

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran antara

lain:

1). Mengucap salam dan berdoa, 2).

Tanya jawab tentang kemampuan

berbicara siswa, 3). Guru membuat

kolam KWL di papan tulis, 4). Guru

menjelaskan tentang teknik KWL, 5).

Siswa diberi kesempatan bertanya bagi

siswa yang kurang jelas tentang teknik

KWL, 6). Guru memberi perintah

untuk mengisi kolam KWL di papan

tulis, 7). Siswa mengerjakan tugas, 8).

Membahas dan menyimpulkan

kemam-puan siswa, 9). Menutup pelajaran

dengan memberi salam

c. Pengamatan

Selama proses pembelajaran guru

mengamati kemampuan siswa

berupa catatan dalam tabel.

Dari hasil pengamatan tersebut

kemudian penulis melakukan tes

kemampuan berbicara siswa, hasil dari

tes tersebut penulis paparkan sebagai

berikut:

Tabel 7 Nilai Tes Siklus III

No Nama Siswa Nilai

1 Indahu Zulfa 80

2 Ridwan 70

3 Nova Elisa 80

4 Andri

10 Miftahul Huda 80

11 Niken Nurjanah 90

12 Ninik Dewi S 90

13 Nurul Istiqomah 80 14 Rezza Muhaimin 80

15 Andik Saputro 80

16 Cendy Prasetya 80

17 Ulin Nuha 80

Jumlah 1370

Rata-rata 80,58

Nilai tersebut penulis analisis dengan

(11)

P =

Dari hasil observasi ditemukan data

sebagai berikut:

1) Dengan berbagai penjelasan dan

motivasi dari guru tentang teknik

KWL, membuat siswa mampu

dalam meningkatkan kemampuan

berbicara

2) Siswa semakin antusias dalam

proses belajar mengajar, karena

siswa sudah mulai merasakan

asiknya dan menyenangkanya

pembelajaran berbicara dengan

teknik KWL

Berdasarkan pengumpulan data dan

analisis data yang dilakukan, maka

dapat disimpulkan bahwa dengan

teknik KWL dapat meningkatkan

kemampuan berbicara pada siswa kelas

V SDN Martajasah semester II tahun

pelajaran 2016/2017.

Peningkatan dari

masing-masing siklus dapat dilihat pada

tabel berikut ini:

Tabel 8

Perbandingan Nilai pada

masing-masing Siklus

1 70 64,12 71,17 80,58

Penutup

Teknik KWL dapat meningkatkan

partisipasi siswa di kelas apabila guru

memberikan kesempatan dan

bimbi-ngan pada seluruh siswa. Hasil prestasi

siswa yang proses pembe-lajaran

dengan menggunakan teknik KWL

lebih baik nilai belajar yang diperoleh

siswa. Hasil yang diperoleh dari

analisis data penulis menyi-mpulkan

bahwa: Ada Peningkatan Kemampuan

Berbicara Pada Siswa Kelas V SDN

Martajasah Kecamatan Bangkalan

Kabupaten Bangkalan Melalui Teknik

KWL semester II Tahun Pelajaran

2016/2017. Penulis menyimpulkan hal

tersebut karena penulis dasarkan pada

hasil nilai rata-rata pada tiap-tiap siklus

mengalami peningkatan nilai. Pada

siklus 1 nilai rata-rata yang di peroleh

adalah 64,12, pada siklus 2 nilai yang

diperoleh adalah 71,17, dan pada siklus

(12)

Daftar Pustaka

Backy and Wright . 1984. Language art: Content and strategies. London: Longman

Djago Tarigan, Henry Guntur Tarigan. 1987. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Maidar G. Asrjad, Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Novia, T. 2002. Strategy to improve student's ability in speaking. Makalah Tugas Akhir S1. Padang: UNP Padang

Sabarti Akhadiah M.K, Maidar G Arsjad, Sakura H. Ridwan,

Zulfahnur Z.F. dan Mukti U.S. 1991. Bahasa Indonesia 1. Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti

Suyatno. 2005. Permainan Pendukung Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: PT Gramedia Srinuryati.2008. APLIKASI +

PERMAINAN + BAHASA + TERHADAP + KEMAMPUAN + BERBICAR. (http:// www.ksdpum.web.id/jurnal. diakses 24 Juli 2008

Gambar

Tabel 7Nilai Tes Siklus III
Tabel 8

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan variabel lainnya yaitu kekayaan pemerintah daerah yang diukur berdasarkan jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD), tipe pemerintah daerah yang berupa Kabupaten atau Kota,

bayaran yang terlatih, sistem pengendalian perusahaan terhadap risiko perang sangat baik (masuk dalam kategori strong) maka gabungan dari risiko yang tinggi dengan..

Perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam terkait dosis perlakuan zeolit agar. dapat memberikan dosis

Contoh perilaku menghormati dan menghargai guru dapat diwujudkan dengan berbuat baik kepada guru, antara lain.... Berpakaian seragam sesuai dengan aturan sekolah

[r]

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dalam penentuan akibat hukum yang terjadi oleh karena suatu perbuatan melawan hukum ataupun wanprestasi yang dilakukan

[r]

Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta inayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan