• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGINTEGRASIAN NEURO FUZZY SISTEM UNTUK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGINTEGRASIAN NEURO FUZZY SISTEM UNTUK"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Integrating Neuro-Fuzzy Systems to Develop Intelligent Planning Systems for Predicting Students’ Performance

International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE)

Vol.1, No.2, December 2012, pp. 61~66 ISSN: 2252-8822 1

Urvashi Rahul Saxena, 2S.P Singh 1

Department of Computer Science and Engineering, 2Computer Science Department

1

JSS Academy of Technical Education, Noida, India , 2Birla Institute of Technology, Noida, India

PENGINTEGRASIAN NEURO FUZZY SISTEM UNTUK MENGEMBANGKAN SISTEM PERENCANAAN CERDAS UNTUK MEMPREDIKSI PRESTASI MAHASISWA

LATAR BELAKANG

Konsep Neuro Fuzzy adalah sebuah kombinasi antara dua hal yang muncul dari

pengembangan teori di Sistem Cerdas. Neuro Fuzzy menggabungkan konsep pembelajaran

yang dimiliki di Neural Network dan konsep samar yang dikembangkan Lofti Zadeh di teori

logika fuzzy. Secara terpisah kedua konsen tersebut sudah banyak dimanfaatkan dalam

teknologi. Neural Network sebagai salah satu algoritma untuk pengenalan citra, untuk time

series prediction. Sedangkan logika fuzzy banyak dikembangkan untuk kendali sistem yang

membutuhkan parameter ataupun variabel yang samar.

Salah satu kelemahan dari logika fuzzy adalah bagaimana menentukan parameter

yang dipergunakan. Dalam logika fuzzy, parameter terebut salah satunya adalah yang

disebut di dalam membership function. Selama ini parameter tersebut bersifat tetap yaitu

ditentukan di awal sebelum sistem diaplikasikan. Penentuan nilai dari parameter dilakukan

dengan rancangan dan perhitungan secara teoritis. Kadang sistem ini kurang mendukung

untuk kasus-kasus tertentu dimana dibutuhkan parameter yang adaptif. Sistem yang bagus

kadang dibutuhkan untuk mengantasipasi perubahan lingkungan atau variabel yang tidak

bisa diprediksi.

Kebutuhan akan adaptasi diperlukan dengan alasan pemodelan yang banyak

mengabaikan variabe-variabel untuk memudahkan perancangan dan perubahan lingkungan

yang tidak terprediksi. Semakin kompleksnya sistem maka dibutuhkan pemodelan yang

akurat, namun jika harus dilakukan akan menyulitkan pemodelan itu sendiri. Untuk

menyelesaikan masalah tersebut maka banyak dilakukan pengabaian terhadap beberapa

variabel.

Kelemahan fuzzy tersebut dapat dicoba diperbaikan dengan memanfaatkan algoritma

neural network untuk melakukan adaptasi terhadap parameter fuzzy. Salah satu

(2)

weighted) dari neuron. Perubahan bobot akan dilakukan sampai mendapatkan nilai galat

yang minimal. Untuk kasus kombinasi neural dengan fuzzy dilakukan dengan menempatkan

nilai parameter dari logika fuzzy menjadi bobot dari neural network. Otomatis pembelajaran

atau modifikasi bobot pada dasarnya adalah modifikasi terhadap parameter dari logika

fuzzy. Memang tidak sesederhana itu, namun dari konsep dasar kombinasi tersebut sudah

banyak dilakukan.

IMPLEMENTASI

Penelitian ini memberikan simulasi dari aplikasi Neuro Fuzzy untuk menganalisis

prestasi mahasiswa berdasarkan IPS dan IPK. Analisis ini adalah sebuah pengembangan dari

analisis prestasi mahasiswa menggunakan system fuzzy. Penelitian ini fokus untuk

mendukung pengembangan Sistem Perencanaan Cerdas (INPLANS) menggunakan Sistem

Fuzzy, Neural Networks, dan Algoritma Genetika dimana semuanya akan digunakan oleh

Penasehat Akademik dalam sebuah institusi pendidikan dengan mengevaluasi dan

memprediksi prestasi mahasiswa sama seperti membandingkan hasil dengan studi

sebelumnya. Model Neuro-Fuzzy ini mengguakan arsitektur feed-forward dengan lima

lapisan neuron dan empat konektor. Evaluasi sistem telah dilakukan selama sekitar 20 - 26

kasus hasil mahasiswa. Hasil menggambarkan bahwa telah terjadi peningkatan yang

signifikan dalam prestasi mahasiswa dibandingkan dengan prediksi kasus yang sama dengan

menggunakan Sistem Fuzzy.

Sehubungan dengan bidang akademik, sistem evaluasi berperan penting dalam

memandu dan mengawasi prestasi mahasiswa berdasar pada proses belajar yang

terinspirasi simulasi program perencanaan pendidikan. Salah satu peran paling penting yang

dilakukan oleh pembimbing akademik adalah untuk memberi nasihat kepada siswa dalam

perencaaan pendidikan seperti memilih mata kuliah yang akan diambil dan jumlah sks yang

harus dipenuhi. PA juga memonitor program mahasiswa dan menyarankan perubahan dari

rencana awal ketika dibutuhkan.

Pada dasarnya, setiap mahasiswa memilih mata kuliah setiap semester berdasarkan

pada Program Perencanaan Fakultas. Perencanaan ini berisi flowchart mata kuliah yang

perlu diambil melalui program tersebut. Maka dari itu, mahasiswa dengan nilai yang baik

tidak akan kesulitan dalam mengikuti perencanaan. Kesulitan akan muncul ketika mahasiswa

dengan nilai cukup yang ingin mengambil total sks mata kuliah yang sama seperti yang

ditawarkan. Pendekatan semacam ini tidak akan membantu dalam mengembangkan prestasi

mahasiswa. Maka dari itu, Sistem Perencanaan Cerdas (INPLAINS) harus dapat membantu

(3)

mahasiswa. Untuk menghasilkan program perencanaan otomatis berdasar kemampuan

mahasiswa, prestasi mahasiswa dianalisis menggunakan Metode Neuro Fuzzy. Prestasi

mahasiswa dinilai menggunakan metode Fuzzy dan membuktikan bahwa metode ini dapat

memprediksikan prestasi mahasiswa berdasarkan kemampuan belajarnya. Bagaimanapun

metode itu diperkenalkan untuk meningkatkan ketepatan hasil. Untuk menghasilkan hasil

yang akurat beberapa kritteria dilakukan. Kriterianya termasuk nilai output dari prestasi

mahasiswa, prestasi mahasiswa di kelas, aturan inferensi fuzzy yang sesuai, tujuan

pelatihan prestasi, dan tingkat kesalahan hasil nilai metode ini dengan metode sebelumnya.

Metode Neuro Fuzzy telah digunakan dalam 3 fase pada pengembangan INPLAINS.

Penelitian ini disusun sbb. bagian 2 dan 3 menampilkan desain sistem dasar dan metode

dari Neuro Fuzzy. Bagian 4 membahas tentang penemuan. Kesimpulan ditampilkan pada

bagian ke 5.

SISTEM NEURO FUZZY

Neuro-Fuzzy telah digunakan pada beberapa area seperti pengenalan emosi, teknik

control, DSS, teknik sipil, dll. Sistem Fuzzy dan Neural Network metode yang efektif dan

efisien untuk menganalisis ketidakpastian dalam penilaian pendidikan. Contohnya, Artificial

Neural Network telah digunakan oleh banyak peneliti untuk memecahkan masalah yang

membutuhkan fungsi prediksi dan Sistem Fuzzy telah digunakan dalam aplikasi penilaian

pendidikan. Keuntungan dari Neural Network memupunyai kemampuan beradaptasi dengan

data yang baru. Di sisi lain, Sistem Fuzzy mempunyai kemampuan untuk menangani data

numerik dan limu linguistik secara bersamaan. Bagaimanapun, kedua metode tersebut

mempunyai beberapa batasan, walaupun sistem fuzzy dapat melakukan mekasnisme

inferensi di bawah ketidakpastian kognitif, ini tidak mempunyai kemampuan belajar dan

adaptasi yang krusial dalam perkembangan manusia. Konsep dari Sistem Fuzzy adalah

bekerja sama dengan Neural Network, hal ini disebut dengan Neuro Fuzzy.

MODEL NEURO-FUZZY

Model Neuro-Fuzzy terdiri dari jaringan neuron, masing-masing neuron bekerja

dengan input vektor, weight vektor yang sesuai dengan input vektor, bias skalar, fungsi

transfer, dan sebuah output vektor. Artificial Neural Network mungkin terdiri dari satu atau

lebih neuron di masing-masing layer. Di sebuah network, lapisan terakhir disebut output

layer, dan semua layer sebelumnya disebut hidden layer. Pada hidden layer, output layer

menjadi input layer dari layer selanjutnya. Fungsi operasi dari sebuah neuron mengubah

(4)

arsitektur Feed Forward dengan 5 layer neuron dan 4 layer penghubung. Gambar 1

menampilkan arsitektur dari model Neuro-Fuzzy yang digunakan dalam penelitian ini. Model

Neuro-Fuzzy mempunyai layer input dan output dan 3 hidden layer yang mengevaluasi

fungsi keanggotaan dan menjelaskan aturan fuzzy.

Layer-1: Input ke dalam sistem Layer-2: Produksi hasil tengah

Layer-3: Normalisasi untuk menghapus anomali dalam data, jika ada Layer-4: penyajian terakhir

Layer-5: Output Defuzzifikasi

Gambar 1. Arsitektur Neuro-Fuzzy

Penelitian ini mencakup input dari Sistem Neuro-Fuzzy sebagai IPS dan IPK. Sistem

ini hanya bisa mulai dari semester kedua. IPS dan IPK bernilai dari 0 sampai 4.0 dan

terfuzzikan menggunakan formula Gauss sebagai fungsi keanggotaan fuzzy.

Variabel input dan output menunjukkan 3 kemungkinan penilaian prestasi: rendah,

sedang, dan tinggi dengan kisaran masing-masing 0-2.3, 1.7-3.3 dan 2.7-4.0. Hubungan

antara IPS dan IPK terdeskripsi pada Tabel 1 dan 2.

(a) (b)

(5)

Tabel 1. Aturan Fuzzy Tabel 2. List of detail

Pada matriks di atas menerangkan bahwa GL sebagai IPS rendah, GM sebagai IPS

sedang, GH sebagai IPS tinggi, CL sebagai IPK rendah, CM sebagai IPK sedang, CH sebagai

IPK tinggi, L sebagai rendah, M sebagai sedang, dan H adalah tinggi.

Layer pertama pada model ini dinamakan input crisp dimana neuron menerima IPS

dan IPK sebagai input. Masing-masing neuron pada layer ini mentransmisikan langsung

sinyal crisp terluar menuju layer selanjutnya. Layer ke dua dari neuron adalah berupa input

fungsi keanggotaan layer, dimana pada analisis ini terdapat 251 neuron. Layer ini

menghitung derajat keanggotaan fuzzy ke dalam nilai input yang mana yang termasuk pada

fungsi keanggotaan output telah ditetapkan, sebagai contoh rendah, tinggi, dan rendah.

Neuron pada layer ini menunjukkan himpunan fuzzy yang digunakan dalam aturan fuzzy

sebelumnya. Sebuah fuzzifikasi neuron menerima sebuah input crisp dan menentukan

derajat input yang mana yang termasuk dalam himpunan neuron fuzzy. Layer ke tiga adalah

aturan fuzzy dimana aturan tersebut mewakili gabungan antara fungsi keanggotaan input

dan output. Masing-masing neuron pada layer ini menghubungkan kepada sebuah aturan

fuzzy. Sebuah aturan fuzzy menerima input dari fauzzifikasi neuron yang mewakili himpunan

fuzzy di aturan sebelumnya. Selain itu, weight antara layer 3 dan 4 mewakili derajat

normalisasi kepercayaan dari aturan fuzzy yang sesuai. Weight tersebut disesuaikan pada

pelatihan sistem Neuro-Fuzzy, dari aturan fuzzy tersebut, lapisan keempat dari sistem

Neuro-Fuzzy yang merupakan keluaran keanggotaan fungsi layer menghitung derajat yang

fungsi keanggotaan outputnya cocok dengan input data. Sebuah output keanggotaan

neuron menerima input dari penyesuaian aturan fuzzy neuron dan mengombinasika Neural

Network menggunakan operasi fuzzy. Yang terakhir, layer ke lima atau layer deffuzzifikasi,

langkah ini menghitung nilai dari variable output. Masing-masing neuron pada layer

mewakili sebuah output dari Sistem Neuro-Fuzzy. Output dari Sistem Neuro-Fuzzy adalah

(6)

INVESTIGASI DAN PENEMUAN

Simulator Matlab 7.0 digunakan untuk merancang skenario; gambar 3 menampilkan

perbandingan himpunan fuzzy antara IPS dan IPK dari system Neuro-Fuzzy dengan

himpunan fuzzy dari Sistem Fuzzy. Kurva tersebut mewakili fungsi keanggotaan Neuro-Fuzzy

dan sistem Sistem Fuzzy. Grafik tersebut menunjukkan bahwa derajat fungsi keanggotaan

untuk Sistem Neuro-Fuzzy tidak melampaui derajat maximal, 1. Untuk itu, sistem ini

menghasilkan jarak derajat fungsi keanggotaan lebih kecil, dimana hal ini akan lebih tepat

dan akurat dibandingkan dengan Sistem Fuzzy. Berdasarkan pada distribusi fungsi

keanggotaan, ada 2 intersection; rendah/sedang dan sedang/tinggi. Gambar 4,5, dan 6

menampilkan evaluasi aturan yang memproduksi rendah, sedang dan tinggi set fungsi

keanggotaan output. Pada perbandingan dengan hasil, proses ini menghasilkan hasil yang

mirip dalam hal aturan yang menghasilkan himpunan tersebut pada fngsi keanggotaan

output. Berdasarkan analisis, anggota aturan 1, 2, dan 4 menghasilkan himpunan rendah

dari fungsi keanggotaan output. Aturan 3, 5 dan 7 menghasilkan himpunan sedang dari

fungsi keanggotaan output.

Gambar 4.

Aturan evaluasi yang memproduksi set rendah

Gambar 3.

Fungsi keanggotaan IPK dan IPS

dari sistem Neuro-Fuzzy dibandingkan Sistem Fuzzy

(7)

(a) (b)

(c)

Gambar 6.

Defuzzifikasi dari output himpunan fuzzy (a) rendah,(b) Menengah, dan (c) tinggi.

Sementara itu, aturan 6, 8, dan 9 menghasilkan himpunan tinggi dari fungsi

keanggotaan output. Kemudian, semua data dari masing-masing himpunan dari fungsi

keanggotaan output digabungkan, ini adalah sebuah proses dari penyatuan output dari

aturan yang sesuai. Pada studi ini, output dari aturan 1, 2, dan 4 terkombinasi menjadi

anggota rendah. Output dari aturan 3, 5, dan 7 terkombinasi menjadi anggota medium.

Output aturan 6, 8, dan 9 terkombinasi menjadi himpunan tinggi.

Penggabungan output himpunan fuzzy pada layer 4 ditransfer ke layer 5 dari Sistem

Neuro-Fuzzy untuk proses defuzzifikasi. Di sini, diaplikasikan teknik cetroid untuk

menentukan output. Ini menemukan sebuah titik, dinamakan centre of grafity (COG) dari

himpunan fuzzy. Di sini garis vertical dari COG akan membagi himpunan gabungan menjadi

dua massa yang sama. Gambar 6 menunjukkan defuzzifikasi untuk setiap output himpunan

(8)

Hasil menunjukkan Sistem Neuro-Fuzzy menghasilkan output crisp dengan sangat

baik. Neuro-Fuzzy memberikan sebuah nilai kesalahan kecil untuk Sistem Fuzzy. Hal ini jelas

bahwa sistem Neuro-Fuzzy menghasilkan hasil yang lebih akurat dan dapat diandalkan.

Untuk membuktikan bahwa Sistem Neuro-Fuzzy dapat memprediksi prestasi mahasiswa

dengan akurat, Sistem Neuro-Fuzzy dan Fuzzy Sistem merupakan hasil dari 26 kasus IPS

dan IPK yang dibandingkan. Pada sisi lain, Neuro Fuzzy menghasilkan nilai output yang

berbeda untuk kedua kasus yang lebih dapat dipercaya dan akurat. Pada kasus nomor 16

dan 19, Sistem Fuzzy juga menghasilkan nilai output yang sama dimana 1,4967 untuk

perbedaan kedua nilai input, tetapi Neuro Fuzzy menghasilkan hasil output berbeda yang

lebih dapat dipercaya dan akurat. Kesalahan jenis yang sama juga terjadi untuk kasus

nomor 23 dan 25, tetapi dengan menerapkan Neuro-Fuzzy, kesalahan telah diperbaiki. Jelas

bahwa Neuro-Fuzzy telah meningkatkan output prediksi prestasi siswa untuk menjadi lebih

handal dan akurat bila dibandingkan dengan output diperkirakan kasus yang sama dengan

menggunakan Sistem Fuzzy. Untuk menilai kemampuan model dalam menentukan prestasi

siswa menjadi rendah, sedang, dan tinggi, kemampuan prediksi model tersebut

dibandingkan dengan beberapa metode alternatif, yaitu model statistik, jaringan saraf,

kombinasi mesin belajar, dan heuristik.

Dalam penelitian ini, analisis regresi menunjukkan variabel yang paling penting

adalah IPK kumulatif. Analisis statistik hanya terfokus pada penentuan faktor-faktor yang

bertanggung jawab untuk prestasi dan berdasarkan informasi tersebut, kasus ini

menemukan cara untuk memperbaikinya. Padahal, dalam penelitian telah menggunakan

metode Neuro Fuzzy-untuk menghasilkan hasil asumsi semester mendatang berdasarkan

IPS sebelumnya dan saat IPK. Kombinasi teknik mesin belajar, bernama algoritma genetika

dan pohon keputusan digunakan oleh Dimitris Kalles dan Christos Pierrakeas untuk

menganalisis prestasi siswa dalam Hellenic Open University (HOU). Analisis ini difokuskan

pada masalah memprediksi prestasi siswa dan masalah pada siswa dewasa belajar di

kejauhan. Ini diukur dengan tugas pekerjaan rumah dan mencoba untuk menurunkan

aturan singkat yang menjelaskan dan memprediksi keberhasilan atau kegagalan dalam ujian

akhir pada modul tertentu. Hasil yang diperoleh adalah analisis yang lebih akurat prestasi

siswa dibandingkan dengan pengklasifikasi pohon keputusan konvensional. Algoritma

genetik dan pohon keputusan hanya terfokus pada memprediksi kemungkinan siswa pada

lulus ujian akhir berdasarkan modul tertentu. Dalam penelitian kami, seperti yang

dinyatakan sebelumnya, metode Neuro-Fuzzy digunakan untuk menganalisis prestasi siswa

(9)

Namun, metode ini memiliki keterbatasan di mana hanya bekerja untuk nilai tertentu

dan tidak untuk semua nilai. Dibandingkan dengan penelitian kami, hal itu menunjukkan

bahwa penelitian kami menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menganalisis prestasi

siswa, yang kemudian menghasilkan hasil yang berbeda.

KESIMPULAN

Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa sistem

Neuro-Fuzzy dapat meningkatkan output dari prediksi prestasi siswa untuk lebih akurat

dibandingkan dengan output penelitian yang lain. Oleh karena itu, sistem ini telah diuji

dengan menggunakan data yang sama dari penelitian sebelumnya. Sistem ini dimodelkan

dan dilatih berdasarkan koneksionis arsitektur Feed Forward. Percobaan dan analisis dari

sistem ini adalah pada peran IPS siswa dan IPK. Dengan memasukkan IPK dan IPS, aplikasi

simulasi dengan mesin Neuro-Fuzzy akan memproses hasil dan menghitung output dari

siswa prestasi dan mengklasifikasikan siswa prestasi dalam tiga kategori yang berbeda.

Sistem dimodelkan data pelatihan sangat baik karena memberikan nilai kesalahan kecil

dibandingkan dengan Sistem Fuzzy. Sistem ini telah diuji pada berbagai hasil siswa, dan

Gambar

Gambar 2. Fungsi Keanggotaan IPS dan IPK
Gambar 4.  Aturan evaluasi yang memproduksi set rendah
Gambar 6. Defuzzifikasi dari output himpunan fuzzy (a) rendah,(b) Menengah, dan (c) tinggi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa dapat meningkatkan kemampuan pembuktian matematika siswa, ini terlihat dari soal pretest dan posttest yang diberikan oleh

Sejalan dengan kata tersebut, studi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebuah aktivitas ilmiah untuk mempelajari dan menyelidiki materi yang terkandung dalam sebuah

Kinerja pelayanan operasional terminal penumpang kapal laut ditinjau dari kebutuhan dan keinginan pengguna adalah kebersihan ruang tunggu terminal penumpang, ruang tunggu yang

Untuk mengatasi faktor-faktor penyebab kesulitan guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013 hendaknya pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan memberikan pelatihan yang merata

Terdapat beberapa genotipe M1 yang memiliki keragaan kualitatif tipe helai daun, letak petiole, susunan bunga, tangkai bunga, dan karakter hasil yang berbeda

Meskipun perubahan mukosa terjadi pada semua pasien dalam penelitian ini, namun hubungan antara jenis batu dan perubahan mukosa yang terjadi masih belum bisa ditegakkan karena

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada pembelajaran Seni rupa dalam meningkatkan kemampuan pada pembelajaran seni rupa siswa kelas 1 SMP Negeri 1 Tapa Kabupaten Bone

Sebelum pelaku usaha baik perorangan maupun badan hukum yang mengadakan kegiatan usaha kepariwisataan langkah awal yang harus dilakukan adalah mengajukan permohonan izin