PROGRAM PERBAIKAN GIZI MAKRO
RINGKASAN
Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan serta aktifitas. Keadaan kurang gizi dapat terjadi dari beberapa akibat, yaitu ketidakseimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorsi dan penyakit infeksi.
Masalah gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi dari masalah gizi makro bila terjadi pada wanita usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak balita akan mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah.
Program perbaikan gizi makro diarahkan untuk menurunkan masalah gizi makro yang utamanya mengatasi masalah kurang energi protein terutama di daerah miskin baik di pedesaan maupun di perkotaan dengan meningkatkan keadaan gizi keluarga, meningkatkan partisipasi masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan gizi baik di puskesmas maupun di posyandu, dan meningkatkan konsumsi energi dan protein pada balita gizi buruk.
Strategi yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi makro adalah melalui pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi, pemberdayaan masyarakat di bidang gizi, pemberdayaan petugas dan subsidi langsung berupa dana untuk pembelian makanan tambahan dan penyuluhan pada balita gizi buruk dan ibu hamil KEK.
1. PENDAHULUAN
Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional melalui pembangungan kesehatan yang ingin dicapai untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal.
Keadaan gizi dapat dipengaruhi oleh keadaan fisiologis, dan juga oleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Pada saat ini, selain dampak dari krisis ekonomi yang masih terasa, juga keadaan dampak dari bencana nasional mempengaruhi status kesehatan pada umumnya dan status gizi khususnya.
Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan dan aktifitas. Kurang gizi dapat terjadi dari beberapa akibat, yaitu ketidakseimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorsi dan penyakit infeksi.
Gambaran perkembangan keadaan gizi masyarakat menunjukkan kecenderungan yang sejalan. Prevalensi kurang energi protein, yang kemudian disebut masalah gizi makro, pada balita turun dari 37.5 % pada tahun 1989 menjadi 26.4 % pada tahun 1999, keadaan ini juga diikuti dengan prevalensi masalah gizi lain.
Upaya untuk mencegah semakin memburuknya keadaan gizi masyarakat di masa datang perlu dilakukan dengan segera dan direncanakan sesuai masalah daerah sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan desentralisasi. Keadaan ini diharapkan dapat semakin mempercepat sasaran nasional dan global dalam menetapkan program yang sistematis mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan.
Sejalan dengan sasaran global dan perkembangan keadaan gizi masyarakat, rumusan tujuan umum program pangan dan gizi tahun 2001-2005 yaitu menjamin ketahanan pangan tingkat keluarga, mencegah dan menurunkan masalah gizi, mewujudkan hidup sehat dan status gizi yang optimal. Menyadari faktor penyebab masalah gizi yang sangat komplek dan arah kebijakan desentralisasi, maka perlu dirumuskan strategi program gizi khususnya pada program perbaikan gizi makro, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor: 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan tata kerja Departemen Kesehatan.
A.
Pengertian
Masalah gizi makro adalah: masalah gizi yang utamanya disebabkan oleh kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi dan protein.
B. Gambaran Gizi Makro 1. Masalah
Berat Bayi lahir Rendah (BBLR)
Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat dari dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan adalah ibu dan pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas bayi yang dilahirkan dan anak yang dibesarkan.
Bayi dengan berat lahir rendah adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita kurang energi kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan mental anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan (IQ). Setiap anak yang berstatus gizi buruk mempunyai resiko kehilangan IQ 10 – 13 poin. Pada tahun 1999 diperkirakan terdapat kurang lebih1,3 juta anak bergizi buruk, maka berarti terjadi potensi kehilangan IQ sebesar 22 juta poin.2 Sementara itu prevalensi BBLR
pada saat ini diperkirakan 7 – 14 % (yaitu sekitar 459.200 – 900.000 bayi). Gizi Kurang pada Balita
Gizi Kurang merupakan salah satu masalah gizi utama pada balita di Indonesia. Berdasarkan hasil susenas data gizi kurang tahun 1999 adalah 26.4 %, sementara itu data gizi buruk tahun 1995 yaitu 11.4 %. Sedangkan untuk tahun 2000 prevalensi gizi kurang 24.9 % dan gizi buruk 7.1%.
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor. 2
Gangguan Pertumbuhan
Dampak selanjutnya dari gizi buruk pada anak balita adalah terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Gangguan ini akan menjadi serius bila tidak ditangani secara intensif.
Hasil Survei Tinggi Badan Anak Baru masuk Sekolah (TB-ABS) di lima propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Maluku dan Irian Jaya) pada tahun 1994 dan tahun 1998 menunjukkan prevalensi gangguan pertumbuhan anak usia 5 – 9 tahun masing-masing 42.4 % dan 37.8 %. Dari angka tersebut terjadi penurunan yang cukup berarti, tetapi secara umum, prevalensi gangguan pertumbuhan ini masih tinggi.
Kurang Energi Kronis (KEK)
Pemantauan kesehatan dan status gizi pada WUS merupakan pendekatan yang potensial dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak. Kondisi WUS yang sehat dan berstatus gizi baik akan menghasilkan bayi dengan kualitas yang baik, dan akan mempunyai risiko yang kecil terhadap timbulnya penyakit selama kehamilan dan melahirkan.
Dari data Susenas pada tahun 1999 menunjukkan bahwa status gizi pada WUS yang menderita KEK (LILA < 23.5 cm) sebanyak 24.2 %. Hasil analisis IMT pada 27 ibukota propinsi menunjukkan KEK pada wanita dewasa (IMT< 18.5) sebesar 15.1 %.
Pada Ibu Hamil (Bumil)
Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai risiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Pada keadaan ini banyak ibu yang meninggal karena perdarahan, sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu dan anak.
Data SDKI tahun 1997 angka kematian bayi adalah 52.2 per 1000 kelahiran hidup dan dari data SDKI tahun 1994 angka kematian ibu adalah 390 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan dari data Susenas pada tahun 1999, ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27.6 %.
2. PENYEBAB MASALAH
UNICEF (1988) telah mengembangkan kerangka konsep makro (lihat skema.) sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi masalah kurang gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh: A. Penyebab langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit.
B. Penyebab tidak langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :
- Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya. - Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat
diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial. - Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan, makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.
C. Pokok masalah di masyarakat
Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung. D. Akar masalah
Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai.
Skema 1. Penyebab Kurang Gizi
Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan
Sumber : UNICEF (1988) DENGAN PENYESUAIAN
Makanan tidak seimbang Infeksi
Tidak cukup Persediaan pangan
Sanitasi dan air bersih/pelayanan kesehatan dasar tidak memadai
Kurang pendidikan Pengetahuan dan
ketrampilan
Penyebab langsung
Kurang Gizi Dampak
Pola asuh
anak tidak
memadai
Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga, kurang pemanfaatan
sumberdaya masyarakat
Krisis Ekonomi, Politik, dan Sosial
Penyebab tidak langsung
Akar masalah
C. TUJUAN DAN SASARAN
Program perbaikan gizi makro diarahkan pada kelompok wanita usia subur, pria/wanita dewasa, bayi dengan berat lahir rendah, ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang mempunyai balita, balita dan anak sekolah.
1. Tujuan Umum:
Menurunkan masalah gizi makro utamanya masalah kurang energi protein terutama di daerah miskin baik di pedesaan maupun di perkotaan.
2. Tujuan Khusus:
1. Meningkatkan keadaan gizi keluarga dengan mewujudkan perilaku keluarga yang sadar gizi
2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemerataan kegiatan pelayanan gizi ke seluruh wilayah perdesaan dan perkotaan
3. Meningkatkan kualitas pelayanan gizi baik di puskesmas maupun di posyandu untuk menurunkan prevalensi masalah gizi kurang dan gizi lebih 4. Meningkatkan konsumsi energi dan protein pada balita yang gizi buruk yang
benar-benar membutuhkan. 3. Sasaran
Untuk mencapai tujuan tersebut, telah ditetapkan sasaran nasional pembangunan di bidang pangan dan gizi tahun 2002-2005. Sedangkan sasaran di tingkat daerah harus direncanakan sesuai dengan potensi daerah. Sasaran tingkat nasional adalah:
1. Sekurang-kurangnya 80% keluarga telah mandiri sadar gizi
2. Menurunnya prevalensi kurang energi kronis (KEK) ibu hamil menjadi 20 % 3. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 26,4 % (1999)
menjadi 20 % (2005) dan gizi buruk dari 8,1% (1999) menjadi 5% (2005)
4. Mencegah meningkatnya prevalensi gizi lebih pada anak balita dan dewasa setinggi-tingginya berturut-turut 3 % dan 10%
5. Menurunnya prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menjadi setinggi-tingginya 7%.
D. STRATEGI
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, akan ditempuh strategi pokok sebagai acuan penanggulangan masalah gizi makro, sebagai berikut :
D.1. Pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi
1. Pemetaan keluarga mandiri sadar gizi oleh dasawisma dalam rangka survey mawas diri masalah gizi keluarga.
2. Asuhan dan konseling gizi
Pada akhir tahun 2005, 50% institusi pelayanan kesehatan telah melaksanakan asuhan dan konseling gizi bagi keluarga dengan tenaga profesional dengan menggunakan tatalaksana asuhan dan konseling gizi. D.2. Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi
Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memerangi kelaparan dan peduli terhadap masalah gizi yang muncul di masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penanggulangan masalah gizi makro, sehingga akan tercipta komitmen yang baik antara masyarakat dan petugas. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat adalah:
1. Pemberdayaan ekonomi mikro
Kegiatan dilaksanakan secara lintas sektor terutama dalam rangka income generating
2. Advocacy
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh dukungan baik teknis maupun non teknis dari pemerintah daerah setempat untuk memobilisasi sumber daya masyarakat yang dimiliki
3. Fasilitasi
Memberikan bantuan teknis dan peralatan dalam rangka memperlancar kegiatan penanggulangan gizi makro berbasis masyarakat, misalnya home economic set untuk PMT.
D.3. Pemberdayaan Petugas
Agar kualitas pelayanan gizi meningkat, maka diharapkan para petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan serangkaian kegiatan dalam peningkatan peran petugas yaitu antara lain dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan baik melalui kegiatan workshop dan capacity building.
D.4. Subsidi langsung
Subsidi diberikan dalam bentuk paket dana untuk pembelian makanan tambahan dan penyuluhan kepada balita gizi buruk dan ibu hamil kurang energi kronis
E. PELAKSANAAN
E.1. Pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi
1. Pemetaan keluarga mandiri sadar gizi oleh dasawisma dalam rangka survey mawas diri masalah gizi keluarga.
Tujuan : mengidentifikasi keluarga-keluarga yang belum melaksanakan perilaku gizi yang baik dan benar
Kegiatan :
2. Asuhan dan konseling gizi bagi keluarga yang belum menerapkan perilaku gizi yang baik dan benar.
Tujuan : meningkatkan kemandirian anggota keluarga dalam pelayanan gizi. Kegiatan :
- Menyusun standar tata laksana asuhan dan konseling gizi
- Melaksanakan kegiatan asuhan dan konseling gizi di setiap sarana pelayanan kesehatan
- Melaksanakan kegiatan asuhan gizi melalui penyuluhan kelompok mengenai makanan padat gizi dari bahan lokal
- Melaksanakan kegiatan asuhan dan konseling gizi secara profesional. 3. Kampanye keluarga mandiri sadar gizi
Tujuan : meningkatkan kepedulian keluarga untuk selalu menerapkan perilaku gizi yang baik dan benar
Kegiatan :
- Pengadaan bahan-bahan KIE lokal
- Pesan-pesan Kadarzi melalui kelompok kesenian tradisional - Pesan-pesan Kadarzi melalui media cetak dan elektronik E.2. Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi
1. Pemberdayaan ekonomi mikro
Kegiatan dilaksanakan secara lintas sektor terutama dalam rangka “income generating”
Tujuan : meningkatkan pendapatan keluarga Kegiatan :
- Usaha Bersama : pengembangan koperasi simpan pinjam - Pemanfaatan pekarangan bekerjasama dengan sektor pertanian 2. Advocacy dan sosialisasi
- Advocacy dan sosialisasi program pemberdayaan keluarga di bidang gizi kepada Gubernur dan Bupati
3. Fasilitasi
Memberikan bantuan teknis dan peralatan dalam rangka memperlancar kegiatan penanggulangan gizi makro berbasis masyarakat.
Kegiatan :
- Bantuan teknis untuk petugas lapangan : Pengadaan konsultan, pelatihan/workshop
- Pengadaan sarana : dacin, food model, home economic set, bahan-bahan KIE dll
E.3.Pemberdayaan Petugas
Tujuan : Meningkatkan ketrampilan petugas dalam memberikan pelayanan gizi sesuai dengan standar.
Kegiatan :
1. Workshop tata laksana gizi buruk tingkat kabupaten, puskesmas dan RT 2. Workshop tata laksana penanggulangan WUS KEK tingkat kabupaten,
puskesmas dan RT
E.4. Subsidi langsung
Tujuan : meningkatkan keadaan gizi balita dan ibu hamil
Subsidi dalam diberikan dalam bentuk paket dana untuk pembelian makanan tambahan dan penyuluhan kepada balita gizi buruk dan wanita usia subur kurang energi kronis. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :
1. Identifikasi sasaran yang perlu disubsidi (target sasaran).
Target sasaran ditentukan berdasarkan hasil antropometri yang dilaksanakan langsung di lapangan dengan beberapa tambahan kriteria antara lain : balita dan Ibu hamil tergolong miskin, jumlah anggota keluarga lebih dari 3, kondisi rumah dan sarana air bersih kurang memadai.
2. Distribusi dana subsidi secara langsung ke keluarga melalui bidan di desa. Bidan di desa menjelaskan cara penggunaan dana dan mekanisme PMT (sesuai Pedoman Tata laksana Gizi Buruk di Rumah Tangga)
3. Evaluasi PMT : penggunaan dana, proses PMT dan perubahan status gizi E. EVALUASI
Evaluasi ditujukan untuk menilai :
1. Input : ketenagaan (jumlah dan qualitas), dana, fasilitas dan sarana pelayanan kesehatan dll.
2. Proses : menilai pelaksanaan kegiatan apakah telah mencapai target yang ditetapkan, mengidentifikasi kendala dan masalah yang dihadapi serta pemecahannya.
3. Output : menilai pencapaian setiap kegiatan penanggulangan gizi makro. 4. Impact : Menilai prevalensi status gizi pada sasaran.
Kegiatan :
Pelaksanaan evaluasi akan dilakukan oleh pihak ketiga agar tidak terjadi subjektivitas hasil evaluasi dengan tahap-tahap sebagai berikut :
- Penunjukkan pelaksana evaluasi, misalnya LSM di bidang kesehatan, Universitas.
- Evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan dengan rentang waktu satu tahun sekali. Akan tetapi setiap 6 bulan dilakukan monitoring terhadap kegiatan yang sedang berjalan.
- Hasil evaluasi tahunan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan selanjutnya.
F. PENDANAAN
Daftar Pustaka:
1. ___The Impact of Asian Financial Crisis on Health Sector in Indonesia,
www.health_indonesia.pdf, 12 Maret 2002
2. RI dan WHO, Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001 – 2005, Jakarta, Agustus 2000
3. Direktorat Gizi Masyarakat, Panduan Pemberian Makanan Gizi Buruk Pasca Rawat Inap di Rumah Tangga, Jakarta, 2000
4. Direktorat Gizi Masyarakat, Tata Laksana Penanggulangan Gizi Buruk, Jakarta 2000
5. Tim Kewaspadaan Pangan dan Gizi Pusat, Situasi Pangan dan gizi di Indonesia, Jakarta, 2000
6. Departemen Kesehatan, Status Gizi dan Imunisasi Ibu dan Anak di Indonesia, Jakarta, 1999
7. Departemen Kesehatan, Tuntutan Praktis Bagi Tenaga gizi Puskesmas, Bekalku Membina Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi), Jakarta, 1999
8. Tim Koordinasi Penanggulangan masalah Gizi Pangan dan Gizi, Gerakan nasional penanggulangan masalah Pangan dan Gizi di Indonesia, Jakarta, 1999
9. Departemen Kesehatan, Pedoman Penggunaan Alat Ukur Lingkar Lengan Atas (LILA) Pada Wanita Usia Subur, Jakarta, 1995
Macronutrient Program in Indonesia
SUMMARY
Circumstances include the provision of nutrition and nutrition for growth,
development, and maintenance and activities. The situation is less of the
nutrient can occur due to some, the imbalance Feed substance-vitamin,
digestive disease factors, absorsi disease and infection.
Problems of nutrition problems divided into macro and micro nutrients.
Macro nutrient problem is that the main problem is caused Feed
imbalance or lack of energy and protein. Manifestation of the problem
occurs when the macro nutrients in fertile-age women and pregnant
women are chronic Less Energy (KEK) is a new weight babies born to a
low (BBLR). When you happen to children under five will result in
marasmus, kwashiorkor, or marasmic-kwashiorkor and further growth will
occur in the disruption of school age children.
Nutrition improvement program focused on macro issues down the macro
nutrient that the main problem is less protein energy, especially in poor
areas in both rural and urban areas by improving the nutrition situation of
families, increase community participation, improve the quality of nutrition
in both health centers and in posyandu, and increase consumption of
energy and protein malnutrition in under five.
The strategy is to overcome the problem of nutrition is through macro
development in the field of family health and nutrition, community
empowerment in the field of nutrition, empowerment of staff and direct
form of subsidy funds to purchase additional food and counseling in the
five malnutrition and maternal KEK.
Evaluation is also conducted in the implementation of the nutrition
improvement program macro, the start of the evaluation input, process,
output and impact with the aim to assess the preparation, implementation,
achievement of targets and prevalence of nutritional status on the target.
1. INTRODUCTION
The main objectives of national development is improving the quality of
human resources is sustainable. Based on the vision of national
development through the development of health would like to achieve to
achieve healthy Indonesia 2010. The development vision of nutrition is to
realize the family self-conscious to achieve the nutrition status of families
that optimal nutrition.
the impact of the economic crisis that is still felt, as well as the impact of a
national disaster affecting the health status in general and particularly the
status of nutrition.
Circumstances include the provision of nutrition and nutrition for growth,
development, and maintenance activities. Poor nutrition can occur as a
result of some, the imbalance Feed substance-vitamin, digestive disease
factors, absorsi disease and infection.
The description of the nutrition community that shows the trend in parallel.
Prevalence of less energy protein, which is then called a macro-nutrient
problems, down from five at 37.5% in 1989 to 26.4% in 1999, this situation
is also followed by the prevalence of other nutritional problems.
Efforts to prevent memburuknya the nutrition situation in the future should
be done immediately and planned according to regional problems in line
with government policy in the implementation of decentralization. This
condition is expected to accelerate the national and global targets set in
the start of systematic planning, implementation and monitoring.
In line with the targets and the development of the global nutrition
situation, formulation of general purpose food and nutrition program years
2001-2005, namely ensuring food security level of the family, prevent and
reduce problems of nutrition, healthy living and achieving the status of
optimal nutrition. Recognizing factors that cause the problem of nutrition is
very complex and the direction of decentralization policies, the need to
formulate strategies of nutrition programs, especially improvement of the
nutrition program at the macro, in accordance with a decree from the
Minister of Health: 1277/Menkes/SK/XI/2001 of the Organization and
governance of the Ministry of Health .
A. The
Macro nutrient problem is: the main nutrition problems caused by
imbalance or lack of energy and protein Feed.
Nutrition status can be described mainly on the status of children under
five and pregnant women. Therefore, the objective of macro-nutrition
improvement program based on this cycle of life, namely starting from the
age of fertile women, adults, pregnant women, newborn babies, five, and
school children.
B. Nutrition macro picture
1. Trouble
Low birth weight Babies (BBLR)
of the baby who was born and raised children.
Babies with low birth weight is one of the outcomes of pregnant women
who suffer chronic and less energy will have a status of malnutrition. BBLR
associated with high infant mortality and under five, can also seriously
impact on the quality of the future generation will slow growth and mental
development of children, and the effect on the decline in intellect (IQ).
Every child who has experience malnutrition risk losing IQ 10 - 13 points.
In the year 1999 is estimated there are less lebih1, 3 million children
nutritious bad, then the mean potential loss of IQ occurs by 22 million
poin.2 Meanwhile BBLR prevalence is estimated at 7 - 14% (ie around
459,200 - 900,000 infants).
Poor nutrition in the five
Poor nutrition is one of the main nutrition problems in the five years in
Indonesia. Based on the results of poor nutrition Susenas data in 1999 is
26.4%, while the data malnutrition in 1995 is 11.4%. While for the year
2000 prevalence of 24.9% less nutrition and malnutrition 7.1%.
Malnutrition is the less nutrient levels caused by the weight of the low
consumption of energy and protein food every day and going in a quite
long time. Clinical signs of malnutrition in outline can be distinguished from
marasmus, kwashiorkor, or marasmic-kwashiorkor. 2
Growth Disorders
Impact of next of malnutrition in children under five is the occurrence of
interference on the growth of school age children. This interference will
become serious if not treated intensively.
Results from the Survey Agency Child High School New entry (TB-ABS) in
the five provinces (West Java, Central Java, East Nusa Tenggara, Maluku
and Irian Jaya) in 1994 and 1998 shows the prevalence of growth
disturbances children aged 5 - 9 years old respectively 42.4 % and 37.8%.
From the number of decrease significantly, but in general, prevalence of
disturbance of growth is still high.
Less Energy chronic (KEK)
KEK can occur in the Women's Age Subur (WUS) and in pregnant women
(bumil). KEK is a situation where the mother suffered from lack of food that
goes prolonged (chronic) that lead to the occurrence of disturbances in the
mother's health. (Ministry of Health, 1995)
Women in the Age of fecundity (WUS)
WUS conditions that are healthy and good nutrition will result in a baby
with a good quality, and will have a small risk of the occurrence of disease
during pregnancy and childbirth.
Susenas on data from 1999 indicate that the nutritional status of WUS with
KEK (lila <23.5 cm) of 24.2%. IMT analysis results in 27 provincial capital
shows KEK in adult women (IMT <18.5) of 15.1%.
In the pregnant women (Bumil)
Pregnant women who have suffered KEK risk of sudden death of the
mother during the perinatal risk of giving birth or babies with low birth
weight (BBLR). On this condition many mothers died because of bleeding,
so the numbers will improve maternal and child mortality.
Data SDKI 1997 infant death rate is 52.2 per 1000 live births and data
from the 1994 figure SDKI maternal mortality is 390 maternal deaths per
100,000 live births. While data from Susenas in 1999, pregnant women
who have risk KEK is 27.6%.
2. The cause MATTERS
UNICEF (1988) has developed a draft framework of the macro (see
scheme.) As a strategy for tackling the problem less nutrition. In the
framework is shown that the problem may be due to poor nutrition by:
A. Direct cause of
Food and disease can directly cause poor nutrition. The incidence of
nutrition not only because less Feed less food, but also disease. Children
who get enough food, but often suffer pain, in the end may suffer less
nutrition. Similarly in children who do not get enough to eat, then the
resistance will be weakened and the body easily akan disease.
B. The cause is not immediately
There are 3 causes that do not directly cause poor nutrition, namely:
- Resilience of family food inadequate. Each family is expected to be able
to meet the needs of all members of the family food in a fairly good
number of number and quality gizinya.
- Pattern childcare inadequate. Each family mayarakat and is expected to
provide time, attention, and support for the child so that the flower can
grow well both physical, mental and social.
- Health services and environment inadequate. The system of health
services is expected to ensure the provision of clean water facilities and
basic health services that is affordable by every family in need.
Third factor is related to the level of education, knowledge and skills of
families. The higher level of education, knowledge and skills, the better
level of food security of families, the better the pattern will nurture more
and more families are utilizing health care services.
C. Main issues in the community
Lack of empowerment of women and families and lack of utilization of
community resources related to the increasing unemployment, inflation
and poverty caused by economic crisis, political and social unrest that
befall Indonesia since 1997. Situation teleh trigger the emergence of cases
of malnutrition due to poverty and food security of families that are not
adequate.
The government can implement various measures to reduce the nutrition
of the poor, among others, each with a mother breastfeeding ensure
exclusive breastfeeding, ensuring each mother to obtain assistance and
support for nutrition programs. In accordance with the following scheme,
nutrition improvement efforts involve not only technical problems but the
health aspects of social, political, economic, and cultural ideology. In
connection with this, efforts need to be integrated and cross-sectoral
programs related to both the central and provincial and district level.
Scheme 1. Poor Nutrition Causes
C. PURPOSE AND TARGET
Nutrition improvement program focused on the macro-group female fertile
age, male / female adults, infants with low birth weight, pregnant women,
breastfeeding mothers, mothers who have five, five and school children.
1. General Objectives:
Reduce nutrient macro main problem is less a problem of protein energy,
especially in poor areas in both rural and urban.
2. Specific Objectives:
1. Improving the nutrition situation of families with the behavior of families
who realize nutrition-conscious
2. Increasing community participation and equity activities to all the
nutrition of rural and urban areas
3. Improving the quality of nutrition in both health centers and in posyandu
to reduce the prevalence of poor nutrition and over nutrition
4. Increasing the consumption of energy and protein in five of malnutrition
that are really in need.
3. Aim
To achieve this, have set national targets for development in the field of
food and nutrition year 2002-2005. While the target at the regional level
should be planned in accordance with the potential regions. National
targets are:
1. At least 80% of families have been self-conscious nutrition
women to 20%
3. The decreasing prevalence of under nutrition in children under five from
26.4% (1999) to 20% (2005) and malnutrition of 8.1% (1999) to 5% (2005)
4. Prevent the increasing prevalence of over nutrition in children under five
and adults at high consecutive 3% and 10%
5. The decreasing prevalence of low birth weight infants (BBLR) at a high
level of 7%.
D. STRATEGY
To achieve the above goals, the strategy will be adopted as a basic
reference for the macro-nutrients, as follows:
D.1. Empowerment of the family in health and nutrition
Empowerment is the process where family families who have health
problems and nutrition work together tackling the problems that they face.
The best way is to help them participate in solving the problems they face.
Nutrition improvement efforts are made to increase independence with
self-conscious focus on family nutrition in the hope that they can recognize
and find solutions to problems faced. Operational activities carried out are:
1. Mapping of the family by self-conscious nutrition survey in order
dasawisma introspective family nutrition problems.
2. Care and nutrition counseling
At the end of 2005, 50% of health institutions have been implementing
nutrition care and counseling for families with energy use tatalaksana with
professional care and nutrition counseling.
D.2. Community empowerment in the field of nutrition
Community empowerment in the field of nutrition is intended to increase
the autonomy of the community in the fight against hunger and concerned
about nutrition issues that arise in the community. Community must be
involved in planning, implementation and evaluation of the macro
nutrients, so there will be a commitment between the community and staff.
Things that need to be done in the framework of community development
are:
1. Economic empowerment of micro -
Activities implemented in a cross sector particularly in the framework of
Generating income
2. Advocacy
This activity is intended to support both technical and non-technical from
the local government to mobilize the resources of the community
3. Facilitation
set for PMT.
D.3. Empowerment of staff
So that the quality of nutrition increases, so health officials are expected to
provide health services in accordance with the standards. In connection
with this, a series of activities to be performed in increasing the role of the
officers, among others, by providing knowledge and skills through
workshop activities and capacity building.
D.4. Direct Subsidy
Subsidies are given in the form of a package of funds for the purchase of
additional food and counseling to the five malnutrition and maternal
chronic less energy
E. IMPLEMENTATION
E.1. Empowerment of the family in health and nutrition
1. Mapping of the family by self-conscious nutrition survey in order
dasawisma introspective family nutrition problems.
Goal: to identify families who do not perform the behavior of good nutrition
and proper
Activity:
- Training for Kadarzi Kader dasawisma
- Procurement of materials, mapping
- Mapping, analysis and follow-ups
2. Care and nutrition counseling for families who do not implement the
behavior of good nutrition and proper.
Goal: increase the autonomy of family members in nutrition.
Activity:
- Establishing standards governing quality care and nutrition counseling
- Undertake care activities and nutrition counseling at each of the health
service
- Conducting nutrition education activities through group counseling on
nutrient dense foods from local materials
- Undertake care activities and nutrition counseling in a professional.
3. Campaigns family self-conscious nutrition
Goal: to increase awareness of the family to always apply the behavior of
good nutrition and proper
Activity:
- Procurement of IEC materials, local
- Messages Kadarzi through traditional arts groups
- Kadarzi messages through print and electronic media
E.2. Community empowerment in the field of nutrition
Activities implemented in a cross sector particularly in the framework of
"Generating income"
Goal: increase the family income
Activity:
- Business Together: the development of cooperative savings and loans
- The grounds in cooperation with the agricultural sector
2. Advocacy and dissemination
- Advocacy and empowerment of family socialization program in the field
of nutrition to the Governor and the Bupati
3. Facilitation
Provide technical assistance and equipment in order to facilitate the
activities of community-based nutrition macro.
Activity:
- Technical assistance to field officers: Procurement of consultants,
training / workshops
- Procurement of means: dacin, food models, a set of economic, IEC
materials etc.
E.3.Pemberdayaan Officer
Goal: Increase staff skills in providing nutrition services in accordance with
the standards.
Activity:
1. Workshop procedures like malnutrition district, and neighborhood health
centers
2. Workshop governance characteristic of WUS KEK district, and
neighborhood health centers
3. Capacity building of regional planning to address the macro problems of
nutrition
E.4. Direct Subsidy
Goal: to improve the nutrition and five pregnant women
Subsidies in the package provided in the form of funds for the purchase of
additional food and nutrition counseling to the poor and five women aged
less fertile chronic energy. The steps that need to be done is:
1. Identification of targets that need to be subsidized (target goals).
Target goals are determined by the results antropometri implemented
directly in the field, with some additional criteria, including: five pregnant
mother and the poor, the number of family members more than 3, the
condition of the house and water inadequate.
nutrition
E. EVALUATION
Evaluation aimed to assess:
1. Input: ketenagaan (number and Qualitas), the funds, facilities and
facilities of health services etc..
2. Process: assess whether the implementation of activities has reached
the target set, identify constraints and problems and solutions.
3. Output: assessing the achievement of each of the macro nutrients.
4. Impact: Assessing prevalence of nutritional status on target.
Activity:
Implementation of the evaluation will be conducted by a third party that
does not happen with subjektivitas evaluation stages as follows:
- Implementing the evaluation appointment, for example, NGOs in the field
of health, the University.
- The evaluation was conducted on an ongoing basis with a time once a
year. However, every 6 months to do the monitoring activities that are
currently running.
- The annual evaluation is used as a basis for further planning.
F. FUNDING
Source of funding comes from: the State Budget and other sources.
References:
1. ___The Impact of Asian Financial Crisis on Health Sector in India,
www.health_indonesia.pdf, March 12, 2002
2. RI and the WHO, the Plan of Action for the National Food and Nutrition
2001 - 2005, Jakarta, August 2000
3. Directorate of Community Nutrition, Food Nutrition Guide Giving Bad
Post Inpatient in the Household, Jakarta, 2000
4. Directorate of Community Nutrition, Tata Penanggulangan Laksana
Nutrition Information, Jakarta 2000
5. Tim vigilance Food and Nutrition Center, Food and nutrition situation in
Indonesia, Jakarta, 2000
6. Department of Health's Nutrition and Maternal and Child Immunization
in Indonesia, Jakarta, 1999
7. Department of Health, Labor Claims Practical nutrition for health,
Bekalku Building Sadar Family Nutrition (Kadarzi), Jakarta, 1999
8. Team Coordination problems Penanggulangan Nutrition Food and
Nutrition, National Movement for the Food and Nutrition in Indonesia,
Jakarta, 1999
9. Department of Health, Guidelines Tool Use Measure arm Lingkar Top
(lila) In the Age of Subur Wanita, Jakarta, 1995