Tugas Resume Hukum Acara Pidana

Teks penuh

(1)

Tugas Resume Hukum Acara Pidana

Nama

: Muh. Heru Cakra Romokoy

Nim

: 10500113218

Kelompok

: Ilmu Hukum 9

KEDUDUKAN HUKUM ACARA PIDANA

Yang kita ketahui hukum di Indonesia terbagi atas 2 hukum yaitu hukum public dan hukum privat. Hukum public merupakan hukum yang mengatur hubungan antara masyarakat dengan Negara dan hukum privat mengatur tentang hubungan antar sesame anggota masyarakat. Hukum pidana sendiri terbagi atas hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur syarat yang menimbulkan hak penuntutan atau menghapuskan hak itu. Begitu pula hukumanya, dengan kata lain mengatur terhadap siapa, bilamana dan bagaimana hukuman harus dijatuhkan. Sedangkan hukum pidana formil mengatur cara menjalankan hak penuntutan, dengan kata lain menetapkan tata cara mengadili perkara pidana.

A. Pengertian Hukum Acara Pidana

Hukum acara pidana di Belanda dikenal dengan istilah starfvordering, di Inggris disebut criminal procedure law. Sedang di Amerika Serikat istilah disebut criminal procedure rule, adapun di Perancis disebut code d’instruction criminille criminille. Menurut simons, hukum acara pidana mengatur tentang bagaimana Negara melalui alat-alatnya melaksanakan haknya untuk memidana dan menjatuhkan pidana.

Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro mantan Ketua Mahkamah Agung RI mendefinisikan Hukum acara pidana sebagai “suatu rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa yaitu kepolisian, kejaksaan dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan menegakkan hukum pidana”. Seluruh definisi yang diberikan oleh para ahli Hukum Pidana, seperti diuraikan diatas pada dasarnya adalah sama, yaitu mendefinisikan hukum acara pidana merupakan:

1. Serangkaian peraturan.

2. Dibuat oleh Negara (undang-undang)

3. Yang memberikan wewenang kepada aparat penegak hukum

4. Untuk melakukan tindakan penyidikan penuntutan dan menjatuhkan pidana. 5. Terhadap pelaku tindak pidana

B. Funsi/Tujuan HukumAcara Pidana

1. Funsi Penegakan Hukum

Usaha untuk menciptakan tata tertib keamanan dan ketentraman dalam masyarakat, baik merupakan usaha penegakan maupun pemberantasan atau penindakan setelah terjadinya pelanggaran hukum.

(2)

Adanya kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana secara jujur dan benar, dengan tujuan mencari siapa pelakunya yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum.

3. Melaksanakan Putusan Pengadilan

Setelah upaya hukum dilakukan putusan pengadilan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka jaksa melaksanakan putusan pengadilan.

4. Tujuan melindungi Hak Asasi Manusia

Hukum acara pidana juga bertujuan melindungi hak asasi tiap individu baik yang menjadi korban, maupun si pelanggar hukum. Tujuan hukum acara pidana seperti dikemukakan dalam Pedoman Pelaksana KUHAP, maka Van Bammelen merumuskan menjadi tiga fungsi yaitu:

a. Mencari dan menemukan kebenaran. b. Pemberian keputusan oleh hakim. c. Melaksanakan keputusan.\

C. Asas-asas penting yang terdapat dalam hukum acara pidana

Undang-undang Hukum Acara Pidana disusun dengan didasarkan pada falsafah dan pandangan hidup bangsa dan dasar Negara, dimana penghormatan atas hukum menjadi sandaran dalam upaya perlindungan terhadap setiap warga negaranya. Disamping itu asas-asas ini juga merupakan panduan penting dalam pelaksanaan berjalannya system peradilan pidana, dengan asas-asas ini mekanisme pengawasan dan evaluasi terhadap berjalannya system ini dapat berjalan. Asas-asas ini pada dasarnya dapat dibagi tiga bagian yaitu:

1. Asas-asas umum dalam system peradilan pidana

2. Asas-asas khusus yang berkaitan dengan penyelenggaraan peradilan

3. Asas-asas yang berkaitan dengan perlindungan terhadap tersangka-terdakwa.

Pengertian asas berasal dari bahasa arab, asasun. Artinya dasar, basis, fondasi. Kalau dihubungkan dengan system berfikir yang dimaksud dengan asas adalah landasan berfikir yang sangat mendasar. Paul Scholten mengajarkan tentang adanya 5 asas hukum yang universal, yaitu:

1. Asas Kepribadian

Dicerminkan dengan pengakuan hak dan kewajiban serta pengakuan adanya subyek hukum 2. Asas Persekutuan

Dicerminkan oleh kehendak untuk mewujudkan keutuhan masyarakat. 3. Asas kesamaan

Mencerminkan keinginan untuk memperoleh keadilan dan berdasarkan pada “asas persamaan” itu dibidang peradilan dikenal dengan “asas persamaan bagi” setiap orang untuk diberlakukan sama di muka hukum

4. Asas Kewibawaan

Mencerminkan adanya keinginan akan adanya ketidaksamaan. 5. Asas Pemisahan antara baik dan huruk

Melingkupi ke-empat asas tersebut.

(3)

a. Asas Legalitas

Suatu asas yang menjadi landasan bagi seluruh asas yang ada dalam hukum pidana dan hukum acara pidana yang pada intinya menyatakan bahwa segala upaya penegakan hukum harus didasarkan the rule of law dan supremasi hukum, dimana undang-undang yang merupakan acuan buku menjadi sandaran utama.

b. Peradilan Pidana oleh Ahli Hukum

Pada hakikatnya peradilan pidana harus dilakukan oleh ahli hukum menjadi dasar dalam penyelenggaraan peradilan. Hal ini pada dasarnya adalah layak karena penyelenggaraan peradilan memerlukan pengetahuan hukum yang baik. Hal ini juga terkait dengan perlunya pendampingan bagi tersangka dan terdakwa oleh para penasihat hukum.

c. Jaksa sebagi penuntut umum

Dalam hukum acara pidana di Indonesia, pihak pendakwa pada hakikatnya adalah wakil dari Negara yang diwakili oleh suatu instansi yang terlepas dari lembaga pengadilan yaitu kejaksaan. Dalam KUHAP dalam pasal 1 angka 6 dinyatakan:

a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

b. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

d. Oportunitas dalam penuntutan

Hukum acara pidana Indonesia juga menganut asas Opurtunitas yang diatur pada pasal 32c Undang-undang Nomor 5 tahun 1991 tentang kejaksaan yang berbunyi:

“Jaksa Agung dapat menyampingkan suatu perkara berdasarkan kepentingan umum”.

Jadi asas opurtunitas merupakan asas dimana penuntutan umum (Jaksa Agung) tidak harus menuntut seseorang yang melakukan tindak pidana jika menurut pertimbangan akan merugikan kepentingan umum. Asas ini sejalan dengan apa yang dikenal dengan Dominus Litis wewenang penuntut sepenuhnya milik penuntut umum.

e. Pelakuan yang sama dimuka hukum tanpa diskriminasi apapun.

Perlakuan yang sama atas diri setiap orang dimuka hukum dengan tidak mengadakan perbedaan perlakuan dimata setiap orang. Diskriminasi dimaknai sebagai:

“segala bentuk perbedaan, pengecualian, pembatasan atau piluhan yang berdasarkan pada ras, warna kulit, keturunan, atau asal Negara atau bangsa yang memiliki tujuan atau pengaruh menghilangkan atau merusak pengakuan, kesenangan atau pelaksanaan pada dasar persamaan, hak asasi manusia dan kebebasan yang hakiki dibidang politik, ekonomi, social, budaya dan bidang lain dari kehidupan masyarakat” Bagian I, Pasal 1 (1) Konvensi Internasioanal tentang penghapusan segala bentuk deskriminasi rasial 1965.

(4)

Asas ini harus ditegakkan pada semua tingkat pemeriksa dan sangat menyangkut pada sikap mental parat penegak hukum. Kebebasan peradilan adalah titik pusat dari konsep Negara hukum yang menganut paham “rule of law”, dimana hukum ditegakkan dengan secara tidak memihak (impartial), baik terhadap tersangka, terdakwa, pelaku, Jaksa Penuntut Umum dan korban (masyarakat). Peradilan yang bebas tidak akan mengijinkan bahwa seseorang telah “dianggap bersalah” sebelum adanya pembuktian yang kuat tentang hal itu, tidak akan mengijinkan adanya “show trials” dimana terdakwa tidak diberikan tidak diberikan atau dikurangi kesempatan yang layak untuk membela diri secara maksimal.

Adapun mengenai asas sederhana, artinya dalam penanganan suatu perkara harus cepat dan tepat, jangan bertele-tele, asas sederhana ini dapat dilihat pada acara pemeriksaan cepat. Asas sederhana juga tercermin dalam hal tertangkap tangan, pemeriksaan praperadilan, penggabungan pemeriksaan, perkara pidana dengan tuntutan ganti rugi.

Sedangkan mengenai asas biaya ringan dapatkita lihat pada surat edaran MA No. KMA/155/X/1881 tanggal 19 Oktober 1981 yaitu minimal Rp. 500,00 dan maksimal Rp. 10.000,00.

g. Pemeriksaan Hakim yang Langsung dan Lisan

Di sidang pengadilan dilakukan oleh hakim secara langsung kepada terdakwa dan para saksi. Pemeriksaan hakim juga dilakukan secara lisan artinya bukan tertulis antara hakim dan terdakwa

h. Peradilan yang terbuka untuk umum

Yang dimaksudkan adalah adanya “public hearing” dan dimaksudkan untuk mencegah adanya “secret hearings”, dimana masyarakat tidak dapat berkesempatan untuk mengawasi apakah pengadilan telah secara seksama melindungi hak terdakwa dan dijalankan sesuai dengan ketentuan yang ada (hukum beracara). Asas ini tidak dimaksudkan untuk diartikan peradilan merupakan suatu “show case” atau dimaksudkan sebagai “instrument of deterence” baik dengan cara mempermalukan terdakwa (prevensi khusus) atau untuk menakut-nakuti masyarakat atau “potential offenders” (prevensi umum).

Pasal 53 (5) KUHAP berbunyi:

“Untuk keperluan pemeriksaan hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan dan terdakwanya anaka-anak (pengadilan anak).

i. Pelanggaran atas hak-hak individu (penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan) – individual freedom of the citizen – harus didasarkan pada undang-undang dan dilakukan dengan surat perintah (tertulis)

Undang-undang Pokok-pokok kekuasaan kehakiman merumuskan:

Pasal 7 “tidak seorang pun dapat dikenakan penagkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan, selain atas perintah tertulis oleh kekuasaan yang sah dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang”

(5)

j. Hak seorang tersangka untuk diberitahu tentang persangkaan dan pendakwaan terhadapnya

k. Kewajiban pengadilan untuk mengendalikan pelaksanaan putusannnya l. Pra Duga Tak Bersalah

Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan didepan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

m. Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti kerugian dan rehabilitasi), dan penghukuman bagi aparat yang menegakkan hukum dengan carayang melanggar hukum.

n. Hak untuk mendapatkan bantuan hukum o. Hak kehadiran terdakwa dimuka pengadilan

D. Asas Hukum Acara Pidana dalam Al-Qur’an

 Asas keadilan

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang meyuruh manusia berlaku adil dan menegakkan keadilan. Terdapat dalam QS Sad 38:26

Allah memerintahkan agar manusia menegakkan keadilan, walaupun terhadap dirinya sendiri, orang tua dan keluarga dekat. Terdapat dalam QS Al-Nisa 4:135.

Allah menegaskan agar manusia berlaku adil sebagai saksi, berlaku lurus dalam melaksanakan hukum, kendatipun ada tekanan, ancaman atau rayuan dalam bentuk apapun juga.

 Asas kepastian hukum

Asas ini terdapat didalam QS Al-Israa 17:15

 Asas Kemanfaatan

Asas ini terdapat didalam QS Al-Baqarah 2:178

Asas Legalitas QS Al-Israa 17:15 dan QS Al-An’am 6:19

 Asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain

Adapun Ayat Al-Quran yang menjelaskan asas ini yaitu: QS 6:164, 35:18, 39:7, 53:38, 74:38.

 Asas Pra Duga Tak Bersalah

Mohammad Daud Ali menjelaskan bahwa ayar-ayat Al-Quran yang menjelaskan asas legalitas dan asas tidak boleh memindahkan kesalahan pada orang lain juga dapat ditarik asas praduga tak bersalah

SEJARAH HUKUM ACARA PIDANA

Guberbur Jendral Hindia Belanda melalui Firman Raja No. 1 tanggal 6 Mei 1946 memerintahkan untuk menetapkan dan memperlakukan suatu peraturan tata usaha kepolisian beserta pengadilan sipil dan penuntutan perkara criminal yang dilakukan oleh golongan bumi putera dan yang dipersamakan.

(6)

bangsa merdeka maka setelah melalui perdebatan panjang akhirnya lahirlah undang-undang hukum acara pidana yang baru pada tanggal 31 Desember 1981 yang dikenal dengan Undang-undang No. 8 tahun 1981 (LNRI No. 76 TLN No. 3209) selanjutnya disebut dengan “Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana” KUHAP, Menggantikan HIR.

Peradilan Islam telah lahir di Aceh Sejak zaman jayanya Kerajaan Acah. Dengan lahirnya Undang-undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Daerah Istimewah Aceh sebagi Propinsi Naggroe Aceh Darussalam, maka terjadilah sejarah baru bagi peradilan agama di Aceh.

PENYELIDIKAN

Penyelidikan ialah cara atau metode aparat hukum yang ditugaskan sebagai penyelidik untuk memperoleh penerangan dalam sebuah perkara yang masih prakira sebelum dilakukannya penyidikan. Sebagaimana yang tercantum dalam UU KUHAP BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1 Poin 5 yang berbunyi: Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menetukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Fungsi dan wewenang aparat penyelidik terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:

a. Menerima laporan dan pengaduan b. Mencari keterangan dan alat bukti c. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai d. Tindakan lain menurut hukum

Tindakan melaksanakan perintah penyidik yaitu:

a. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat penggeledahan dan penyitaan. b. Pemeriksaan dan penyitaan surat.

c. Mengambil sidik jari dan memotret sesorang.

d. Membawa dan menghadapkan sesorang pada penyidik

PENYIDIKAN

KUHAP menjelaskan dalam BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1 Poin 2 yang berbunyi:

Serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Tugas selanjutnya aparat hokum menentukan kepastian perbuatan seseorang merupakan perbuatan pidana berdasarkan undang-undang pidana dengan cara memperoleh bukti-bukti kuat bahwa pelaku benar-benar melakukannya. Dengan dimulainya penyidikan ditandai secara formal procedural dikeluarkannya surat perintah oleh pejabat yang berwenang diinstansi penyidik sekaligus diterimanya laporan atau pengaduan ataupun informasi tentang hal terjadinya perbuatan perbuatan pidana dilapangan.

PENANGKAPAN

(7)

menjadi kata lazim dalam bahasa Inggris, kata penangkapan telah memiliki beragam makna dan batasan bagi berbagi hal terkait dengan biro peradilan criminal, khususnya kepolisian.

PENAHANAN

Pasal 1 angka 21, Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa ditempat tertentu

oleh penyidikan atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut

cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Pasal 22 yaitu:

1. Jenis penahanan dapat berupa:

a. Penahanan rumah tahanan Negara

b. Penahanan rumah

c. Penahanan kota

2. Penahanan rumah dilaksanakan dirumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka

atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala

sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau

pemeriksaan disidang pengadilan.

3. Penahanan kota dilaksanakan dikota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau

terdakwa, dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor pada waktu yang

ditentukan.

4. Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang

dijatuhkan

5. Untuk penahana kota pengurangan tersebut seperlima dari jumlah lamanya waktu

penahanan rumah sepertiga dari jumlah waktu penahanan.

PENGGELEDAHAN

Pasal 1 angka 17. Penggeledahan rumah adalah tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penangkapan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.

Penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan pemeriksaan badan dan atau pakaian tersangka untuk mecari benda yang ditutup keras ada pada badannya atau dibawahnya serta untuk disita.

Pasal 36

Dalam hal penyidik harus melakukan penggeledahan rumah diluar daerah hukumnya, dengan tidak mengurangi ketentuan tersebut dalam pasal 33, maka penggeledahan tersebut harus diketahui oleh ketua pengadilan negri dan didampingi oleh penyidik dari daerah hokum dimana penggeledahan itu dilakukan.

(8)

Pasal 1 Angka 16. Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan dibawah penguasaanya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.

Pasal 43

Penyitaan surat atau tulisan lain dari mereka yang berkewajiban menurut undang-undang untuk merahasiakannya, sepanjang tidak menyangkut rahasia Negara, hanya dapat dilakukan atas persetujuan mereka atau atas izin khusus ketua pengadilan negeri setempat kecuali undang-undang menentukan yang lain.

PRAPENUNTUTAN

1. Kedudukan Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana

KUHAP memberikan uraian pengertian Jaksa dan Penuntut Umum, pada Pasal ! butir 6a dan b KUHAP serta Pasal 13 KUHAP, ditegaskan bahwa, Jaksa adalah pejabat yang diberikan wewenang oleh Undang-undang untuk bertindak sebagai Penuntut Umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hokum tetap. Penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan Hakim (Pasal 1 butir 6a jo Pasal 13 KUHAP). Rumusan pengertian ini ditegaskan kembali dalam pasal 1 butir 1 dan 2 Undang-undang Nomor 5 tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

2. Hubungan Kepolisian dan Kejaksaan dalam Penyelesaian Perkara Pidana pada Tahap Pra Penuntutan.

Hubungan antara pihak Kepolisian dan Jaksa dalam Criminal Justice System yang memiliki pola hubungan yang strategis, karena pada tahap ini proses penyidikan tindak pidana pada pelimpahan berkas perkara mulai pidana pada pelimpahan berkas perkara mulai dilaksanakan. Keberhasilan tahap ini akan sangat menetukan tahap berikutnya, yaitu penuntutan. Sebalinya apabila terdapat kegagalan dalam hal penyidikan, maka akan berpengaruh pada tahap penuntutan.

PENUNTUTAN

Prancis adalah asal dari lembaga yang kita kenal sekarang dengan Lembaga penuntut umum, dan oleh Belanda dimaksudkan dalam Wetboek van Stravordering (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) pada tahub 1838. Sebelumnya, tidaklah banyak perbedaan antara Pelaksanaan proses perdata dan proses pidana. Lau system ini lama-kelamaan menunjukkan kekurangan-kekurangan, sifat perdata dari penuntutan menyebabkan bahwa kerapkali sesuatu tuntutan pidana tidak dilakukan oleh orang yang dirugikan, disebabkan ia takut pembalasan dendam atau ia tidak mampu untuk mengungkapkan kebenaran dari tuntutannya, sebab kekurangan alat-alat pembuktian yang diperlukan. Berujuk dari alas an tersebut, tuntutan pidana yang munculnya dari perseorangan kemudian diserahkan kepada suatu badan Negara yang khusus diadakan untuk itu, yang kita kenal sebagai Penutut Umum.

Penuntut Umum mempunyai wewenang sebagai berikut:

a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidik dari penyidik atau pembantu penyidik.

(9)

c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutandan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik.

d. Membuat surat dakwaan,

e. Melimpahkan perkara ke pengadilan

f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi untuk dating pada sidang yang telah ditentukan

g. Melakukan penuntutan

h. Menutup perkara demi kepentingan hokum

i. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...