• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Tentang Institusi Politik Peran K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Tentang Institusi Politik Peran K"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TENTANG INSTITUSI POLITIK “PERAN KONSTITUSI DAN SISTEM PEMILIHAN SERTA EKSEKUTIF, LEGISTATIF DAN

YUDIKATIF”

Dosen Pengampu: Isnaini Muallidin, S.IP., M.P.A.

Disusun Oleh:

Diah Wahyuningsih 20140520036 Irma Herlina 20140520030

Akbar 20140520140

Vikri Yordhanda 20140520289 Rido Argo Mukti 20140520098 Riyan Prayitno 20140520229

ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGATAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

nikmat, berkat, rahmat dan hidayahnya yang begitu melimpah bagi penulis,

sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Kajian Tentang Institutisi Politik “Konstitusi Dan Sistem Pemilihan Serta Eksekutif, Legistatif Dan Yudikatif” tanpa ada halangan apapun.

Makalh ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas kuliah

Perbandingan Pemerintahan dengan Dosen pengampu Bapak Isnaini Muallidin,

S.IP., M.P.A. Selama pengerjaan makalah ini kami mengalami beberapa

hambatan, namun berkat dukungan dari banyak pihak kami dapat menyelesaikan

dengan tepat waktu.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan

dan oleh karena itu kami tetap terbuka untuk menerima masukan, kritik, dan saran

dari para pembaca dan khususnya Isnaini Muallidin, S.IP., M.P.A., agar nantinya

kami dapat lebih baik lagi. Akhirnya kami sangat berharap makalah ini dapat

bermanfaat bagi semua pembaca dan menambah khasanah ilmu kepenulisan.

Yogyakarta, 19 Maret 2017

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 3

1.3Tujuan dan Manfaat ... 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Institusi Politik ... 4

2.2 Konstitusi dan Sistem Pemilihan ... 4

2.2 Eksekutif ... 9

2.3 Legislatif ... 13

2.4 Yudikatif ... 18

BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan ... 25

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jika menelaah teori hukum alam, bahwa manusia sejak dahulu selalu hidup

bersama-sama dalam suatu kelompok (zoon politicon). Dalam kelompok manusia,

mereka berjuang bersama-sama mempertahankan hidupnya mencari makan,

melawan bahaya dan bencana serta melanjutkan keturunannya. Mereka

berinteraksi, mengadakan hubungan sosial, dan bertempat tinggal sama maka

inilah awal mula negara dan membutuhkan pemimpin, Kepada pemimpin

diberikan kekuasaan-kekuasaan tertentu dan kelompok manusia diharuskan

menaati peraturan-peraturan perintah pemimpinnya.

Dalam suatu negara, terdapat banyak fungsi. Dalam sejarah negara, ada tiga

fungsi kekuasaan yang dikenal secara klasik dalam teori hukum maupun politik,

yaitu fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ini merupakan institusi yang

menjalankan fungsi negara. Satu lembaga hanya boleh menjalankan satu fungsi,

dan tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing dalam arti yang mutlak

(sparation of power). Artinya jika tidak demikian, nama kebebasan akan

terancam. Hal ini dapat dilihat bahwa hubungan antar cabang kekuasaan dan

ketiganya bersifat sederajat dan saling mengendalikan satu sama lain sesuai

dengan prinsip checks and balances (Syahpurti 2014).

Di sisi lain, perkembangan masyarakat, baik secara ekonomi, politik, dan

sosial budaya, serta pengaruh globalisme dan lokalisme, menghendaki struktur

organisasi negara lebih responsif terhadap tuntutan mereka serta lebih efektif dan

efisien dalam melakukan pelayanan publik dan mencapai tujuan penyelenggaraan

pemerintahan. Perkembangan tersebut berpengaruh terhadap struktur organisasi

negara, termasuk bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi lembaga negara.

Lembaga negara merupakan lembaga pemerintahan negara yang

berkedudukan di pusat yang fungsi, tugas, dan kewenangannya diatur secara tegas

dalam suatu Undang-undang suatu negara. Kemudian, setelah perkembangan

zaman semakin maju, fungsi lembaga negara dibagi lagi menjadi banyak bagian.

Pembagian ini meliputi fungsi kelompok (partai politik dan kelompok

(5)

Istilah politik sering dikaitkan dengan bermacam-macam kegiatan dalam

sistem politik ataupun Negara yang menyangkut proses penentuan tujuan maupun

dalam melaksanakan tujuan tersebut. Di samping itu juga menyangkut

pengambilan keputusan (decisionmaking) tentang apakah yang menjadi tujuan

sistem politik yang menyangkut seleksi antara beberapa alternatif serta

penyusunan untuk membuat skala prioritas dalam menentukan tujuan-tujuan itu. Namun menurut Brendan O’Leary dari Syahpurti 2014 ilmu politik merupakan disiplin akademis, dikhususkan pada penggambaran, penjelasan, analisis dan

penilaian yang sistematis mengenai politik dan kekuasaan.

Institusi politik atau yang lebih dikenal sebagai lembaga-lembaga politik

merupakan kajian terhadap lembaga-lembaga politik khususnya peranan

konstitusi, eksekutif, birokrasi, yudikatif, partai politik dan sistem pemilihan.

Sebagian besar kademisi tertarik pada penelusuran asal-usul dan perkembangan

lembaga-lembaga politik dan memberikan deskripsi-deskripsi fenomenologis;

memetakan konsekuensi-konsekuensi formal dan prosedural dari institusi-institusi

politik. Banyak para ahli politik kontemporer yang menghabiskan waktunya untuk

memonitor, mengevaluasi, dan menghipotesiskan tentang asal-usul,

perkembangan dan konsekuensi-konsekuensi lembaga-lemabag politik, seperti

aturan-pluralitas sistem pemilihan atau organisasi-organisasi pemerintahan yang

semu.

Dinamika institusi politik dalam bernegara sangat menarik untuk dikaji,

karena lembaga-lembaga Negara merupakan pondasi penting untuk mengantar

kepada hakikat tujuan bernegara. Seperti peranan konstitusi, eksekutif, birokrasi,

yudikatif, partai politik dan sistem pemilihan. Fenomena institusi setiap Negara

berbeda hal itu dipengaruhi oleh bentuk negara, bentuk pemerintahan dan jenis

kekuasaan. Dari penjelasan diatas maka pada pembahasan akan dijelaskan

fenomena peranan konstitusi, eksekutif, birokrasi, yudikatif, partai politik dan

sistem pemilihan dalam lingkup kenegaraan.

B. Permasalahan

Beberapa permasalahan yang diangkat dari judul adalah sebagai berikut;

1. Apa pengertian dari institusi politik ?

(6)

3. Apa saja bagian-bagian dari lembaga negara legislatif, eksekutif, dan

yudikatif?

C. Tujuan dan Manfaat

Tujuan, memberikan pengetahuan dan bentuk edukasi kepada masyarakat

tentang arti penting dari peranan konstitusi, eksekutif, birokrasi, yudikatif, partai

politik dan sistem pemilihan yang ada di negara, khususnya Indonesia. Sebagai

bentuk pembelajaran, serta tujuan mengidentifikasi seberapa jauh peranan

konstitusi, eksekutif, birokrasi, yudikatif, partai politik dan sistem pemilihan

dalam mewujudkan tujuan bernegara. Manfaatnya, pengetahuan warga negara

untuk memahami dan mencermati arti negara, jalannya suatu negara beserta

(7)

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Institusi Politik

Konsep Institusi politik diartikan sama dengan lembaga negara, secara

terminologis memiliki banyak istilah. Kepustakaan Inggris, sebutan lembaga

negara menggunanakan istilah “political Institution”, sedangkan dalam

kepustakaan Belanda dikenal dengan istilah “staat organen”. Sementara itu,

bahasa Indonesia menggunakan istilah “lembaga negara, badan negara, atau organ negara”. Istilah institusi, dari bahasa Latin, instituere, artinya sesuatu yang diwujudkan. Maksudnya, institusi adalah kegiatan manusia yang berwujud.

Institusi politik merupakan bentuk dari proses-proses sosial yang mengatur

susunan masyarakat. Ini menggambarkan bahwa kepentingan kumpulan manusia

tertentu dijaga dan dipertahankan oleh mereka melalui proses penyertaan dan

keterlibatan politik. Dalam sistem pemerintahan negara terdapat tiga institusi

politik utama yaitu Legislatif, Eksekutif dan Kehakiman. Namun, fungsi beberpaa

institusi politik lain juga memainkan peran dalam pemerintahan sebuah negara.

Antara lain partai politik, birokrasi, dan kelompok kepentingan.

B. Konstitusi dan Sistem Pemilihan 1. Konstitusi

Kata “Konstitusi” berarti “pembentukan”, berasal dari kata kerja yaitu “constituer” (Perancis) atau membentuk. Yang dibentuk adalah negara, dengan demikian konstitusi mengandung makna awal (permulaan) dari segala peraturan

perundang-undangan tentang negara. Belanda menggunakan istilah “Grondwet”

yaitu berarti suatu undang-undang yang menjadi dasar (grond) dari segala hukum.

Indonesia menggunakan istilah Grondwet menjadi Undang-undang Dasar.

Sedangkan pengertian konstitusi menurut para ahli:

1. K.C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem ketaatanegaraaan suatu

negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur

/memerintah dalam pemerintahan suatu negara.

2. Herman heller, konstitusi mempunyai arti luas daripada UUD. Konstitusi

(8)

3. Lasalle, konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di

dalam masyarakat seperti golongan yang mempunyai kedudukan nyata di

dalam masyarakat misalnya kepala negara angkatan perang, partai politik.

Adapun tujuan dari konstitusi antara lain;

1. Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak sewenang-wenang

maksudnya tanpa membatasi kekuasaan penguasa, konstitusi tidak akan

berjalan dengan baik dan bisa saja kekuasaan penguasa akan merajalela

Dan bisa merugikan rakyat banyak.

2. Melindungi Ham maksudnya setiap penguasa berhak menghormati Ham

orang lain dan hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal

melaksanakan haknya.

3. Pedoman penyelengaraan negara maksudnya tanpa adanya pedoman

konstitusi negara kita tidak akan berdiri dengan kokoh.

Bila dilihat dari fungsinya, maka konstitusi dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Membagi kekuasaan dalam negara.

2. Membatasi kekuasaan pemerintah atau penguasa dalam negara.

Secara Vertikal yaitu pembagian kekuasaan menurut tingkatanya yang di

maksud ialah pembagian kekuasaan antara beberapa tingkat pemerintahan. Carl J

Friedrich memakai istilah pembagian kekuasaan secara territorial. Pembagian

kekuasaan ini dengan jelas dapat kita saksikan kalau kita bandingkan antara

negara kesatuan, negara federal, serta konfederasi. Di samping itu kita melihat

bahwa konstitusi itu mengatur juga pembagian kekuasaan dalam negara.

Macam-macam konstitusi tersebut adalah :

a. Konstitusi Unitaris.

b. Konstitusi Federalistis.

c. Konstitusi Konfederalistis

Secara Horizontal yaitu pembagian kekuasaan menurut fungsinya.

Pembagian kekuasaan ini menunjukkan pula perbedaan antara fungsi-fungsi

pemerintahan yang bersifat legislative, eksekutif dan yudikatif yang lebih dikenal

sebagai Trias Politica. Fungsi konstitusi dapat dijelaskan sebagai berikut :

Di dalam negara-negara yang mendasarkan dirinya atas demokrasi

(9)

kekuasaan pemerintahan sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan

tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan demikian di harapkan hak-hak warga

negara akan lebih terlindung. Gagasan ini dinamakan konstitusionalisme.

2. Sistem Pemilihan

Pengaturan pemilihan umum di Indonesia sangat beragam, ada

pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat,

Dewan Perwakilan Daerah, Gubernur, Bupati, Walikota, Dewan Perwakilan

Rakyat Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota. Sebelum mengetahui lebih lanjut

mengenai Pasal yang mengatur tentang Pemilihan Umum dalam Undang-Undang

Dasar 1945 Amandemen, ada baik mengetahui tentang Asas penyelenggaraan

Pemilihan Umum di Indonesia yang juga diatur dalam Pasal 22E Ayat (1) yang

berbunyi “Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas,

rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali”. Mengenai penyelenggara Pemilihan umum diatur dalam Pasal 22E Ayat (5) yang berbunyi : “Pemilihan

umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional,

tetap, dan mandiri.”. Sedangkan mengenai Pasal-pasal yang mengatur tentang

Pemilihan Umum dalam Undang-undang Dasar 1945 Amandemen diantaranya:

I. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden

Pasal 6 Ayat (1)

Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Pasal 6 Ayat (2)

Syarat-syarat untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden diatur lebih lanjut dengan undang-undang.

Pasal 6A Ayat (1)

Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara

langsung oleh rakyat.

Pasal 6A Ayat (2)

(10)

Pasal 6A Ayat (3)

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Pasal 6A Ayat (4)

Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Pasal 6A Ayat (5)

Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden lebih lanjut diatur dalam undang-undang.

Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya.

Pasal 8 Ayat (2)

Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya dalam waktu enam puluh hari, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden.

Pasal 8 Ayat (3)

Jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama. Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya.

Pasal 22E Ayat (2)

(11)

Pasal 22E Ayat (6)

Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang -undang.

II. Pemilihan Umum DPR

Pasal 2 Ayat (1)

Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang.

Pasal 19 Ayat (1)

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum.

Pasal 22E Ayat (2)

Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Pasal 22E Ayat (3)

Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.

Pasal 22E Ayat (6)

Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang -undang.

III. Pemilihan Umum DPD

Pasal 2 Ayat (1)

Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang.

Pasal 22C Ayat (1)

Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum

Pasal 22C Ayat (2)

Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Pasal 22E Ayat (2)

(12)

Pasal 22E Ayat (4)

Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah perseorangan.

Pasal 22E Ayat (6)

Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang -undang.

C. Eksekutif

Tugas badan eksekutif menurut ajaran trias po litica yaitu melaksanakan

kebijaksanaanya yang telah ditetapkan oleh badan legislatif serta

menyelenggarakan undang-undang yang dibuat oleh badan legislatif. Menurut

Harold J Laski, lembaga eksekutif adalah: “alat yang berkewajiban melaksanakan

peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh badan pembuat Undang-Undang

dan bekerja di bawah pengawasan badan pembuat Undang-Undang.” Di negara

demokratis badan eksekutif biasanya terdiri dari kepala negara beserta

menteri-menterinya. Eksekutif adalah pelaku utama kekuasaan negara. Pelakasana tugas

eksekutif dilakukan oleh sebuah organ yang disebut kabinet.

Kekuasaan Presiden sebagai Kepala Eksekutif Presiden sebagai pemegang

kekuasaan eksekutif mempunyai tugas melaksanakan undang - undang akan

tetapi selain tugas melaksanakan undang- undang presiden juga memiliki berbagai

kekuasaan dan wewenang dalam rangka mencapai tujuan negara. Ismail Suni

mengemukakan bahwa kekuasaan umum eksekutif adalah berasal dari UUD yang

antara lain :

a. Kekuasaan Administratif Presiden

Penyelenggaraan kekuasaan eksekutif dapat dibedakan antara kekuasaan

penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat umum dan pemerintahan yang

bersifat khusus. Presiden sebagai Kekuasaan penyelenggaraan pemerintahan

bersifat umum adalah kekuasaan menyelenggarakan administrasi negara.

Sedangkan kekuasaan penyelenggaraan negara yang bersifat khusus adalah

penyelenggaran tugas dan wewengan pemerintahan.

b. Kekuasaan Legislatif

Bertolak dari ajaran trias po litica Montesquie maka presiden mempunyai

(13)

berada di tangan parlemen. UUD 1945 mempraktikkan ajaran trias politica tetapi

tidak dalam arti separation of power akan tetapi dalam bentuk distribut in of

power. Wewenang presiden dalam bidang legislatif yaitu pembentukan

undang-undang, penetapan peraturan pemerintah (pp), dan penetapan peraturan

pemerintah pengganti undang-undang (perpu).

c. Kekuasaan Yudikatif

Kekuasaan presiden di bidang yudikatif adalah kekuasaan presiden

memberikan grasi, abolisi, amnesti dan rehabilitasi. Kekuasaan ini sering juga

disebut dengan kekuasaan preogratif presiden. Pascaamandemen UUD 1945

ketentuan pemberian grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi mengalami perubahan

yang diatur dalam Pasal 14 UUD 1945 yang berbunyi:

1. Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan

Mahkamah Agung

2. Presiden memberi Amnesti dan Abolisi dengan memperhatikan

pertimbangan DPR

Dengan adanya persyaratan bahwa presiden harus memperhatikan

pertimbangan Mahkamah Agung dan DPR dalam pemberian grasi, rehabilitasi,

amnesti dan abolisi maka proses check and balances dalam penyelenggaraan

pemerintahan dapat berjalan baik.

d. Kekuasaan Militer

Pasal 10 UUD 1945 menentukan presiden memegang kekuasaan tertinggi

atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Dan Pasal 11 UUD

1945 menentukan bahwa presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang,

membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain sebagaimana ditentukan

dalam Pasal 11 UUD 1945. Pascaamandemen UUD 1945 ketentuan Pasal 11

dirubah menjadi tiga ayat, yakni ayat (1) Presiden dengan persetujuan DPR

menyatakan perang membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.

Perang berakibat luas terhadap kehidupan rakyat. Kewenangan presiden untuk

menyatakan perang harus dengan persetujuan DPR sebagai lembaga perwujudan

kedaulatan rakyat yang benar-benar memberikan pertimbangan dari berbagai

(14)

e. Kekuasaan Diplomatik

Dalam pasal 11 UUD 1945 ditentukan bahwa selain memiliki kewenangan

menyatakan perang, presiden juga mempunyai kewenangan membuat perdamaian

dan perjanjian internasional. Perjanjian-perjanjian yang tidak mempunyai dampak

kepada APBN, politik dalam negeri dan politik luar negeri tidak perlu dilakukan

dengan persetujuan DPR. Pasal 11 ayat (2) UUD 1945 pascaamandemen

menentukan bahwa presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya

yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang

terkait dengan beban keuangan negara dan mengharuskan perubahan atas

persetujuan DPR. Pascaamndemen lahirlah UU No.24 Tahun 2000 tidak

membedakan antara treaty dan agreement melainkan hanya perjanjian

internasional. Dengan adanya persyaratan persetujuan dari DPR maka perjanjian

yang dibuat presiden tidak atas kemauan sendiri. Perjanjian internasional yang

dibuat dengan presiden dengan persetujuan DPR diharapkan dapat bermanfaat

bagi bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

f. Tugas dan Wewengan Presiden

Tugas dan wewenang pemerintahan dapat dikelompokkan dalam beberapa

golongan yaitu:

1. Tugas dan wewenang administrasi di bidang keamanan dan ketertiban

umum. Tugas utama pemerintahan adalah memelihara dan menjaga serta

menegakkan ketertiban umum dan keamanan. Pembukaan UUD 1945

alinea keempat dengan tegas menyebutkan bahwa tujuan Indonesia

merdeka adalah melindu ngi segenap bangsa Indonesia dan seluruh

tumpah darah Indonesia.

2. Tugas dan wewenang menyelenggarakan tata usaha pemerintahan Tugas

ketatausahaan dilaksanakan oleh Sekretaris Negara juga dilaksanakan oleh

departemen -departemen dan badan-badan negara. Tugas ketatausahaan

negara juga menyangkut pelayanan administrasi kepada masyarakat.

3. Tugas dan wewenang administrasi negara di bidang pelayanan umum

Tugas dan wewenang dalam pelayanan umum sering disebut dengan

public service. Pelayanan umum meliputi penyediaan rumah sakit, jalan,

(15)

4. Tugas dan wewenang administrasi negara di bidang penyelenggaraan

kesejahteraan umum

5. Pada alinea keempat UUD 1945 disebutkan bahwa yang menjadi tujuan

Indonesia merdeka adalah untuk memajukan kesejahteraan umum.

Pemerintah mempunyai tugas dan kewajiban untuk meningkatkan

kesejahteraan umum dengan menetapkan kebijakan pembangunan di

bidang ekonomi

Secara sederhana, tugas badan eksekutif meliputi pelaksanaan undang -

undang yang telah ditetapkan oleh lembaga legislatif. Dalam perkembangan

negara modern, wewenang badan eksekutif jauh lebih luas daripada hanya

melaksanakan Undang - Undang Dasar, bahkan dalam negara modern badan

eksekutif sudah mengganti badan legislatif sebagai pembuat kebijakan yang

utama. Di luar dari konteks kekuasaan Presiden sebagai kepala pemerintahan

sebagaimana disebutkan di atas, presiden juga memiliki kekuasaan sebagai kepala

Negara yaitu:

1. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Udara,

dan Angkatan Laut.

2. Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan

negara lain dengan persetujuan DPR.

3. Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan

mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan

negara, dan / atau mengharuskan perubahan atau pembentukan UU

harus dengan persetujuan DPR.

4. Menyatakan kondisi bahaya, Ketentuan dan akibat kondisi bahaya

ditetapkan dengan UU.

5. Mengangkat Dutadan Konsul, Dalam mengangkat Duta,

memperhatikan pertimbangan DPR.

6. Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan

pertimbangan DPR.

7. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan

(16)

8. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan

DPR.

9. Memberi gelar, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur

dengan Hukum.

10.Membentuk dewan pertimbangan yang bertugas member nasehat dan

pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dengan

Undang -Undang.

11.Membahas Rancangan Undang-Undang untuk mendapatkan

persetujuan bersama DPR.

12.Mengkonfirmasi Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui

bersama DPR untuk menjadi UU.

13.Dalam hal ihwal kegentingan memaksa, Presiden berhak menetapkan

Peraturan Pemerintah sebagai pengganti UU.

14.Mengajukan RUU APBN untuk dibahas bersama DPR dengan

memperhatikan pertimbangan DPD.

15.Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih

oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD.

16.Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan

telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung.

17.Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan

persetujuan DPR.

18.Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi.

D. Legislatif (Lembaga Perwakilan)

Konsep perwakilan tidak lahir bersamaan dengan dengan lahirnya ilmu

politik. Pada masa Yunani kuno tidak dikenal konsep perwakilan politik. Istilah

perwakilan baru dikenal pada masa Romawi kuno, meskipun tidak bermakna

politik. Di dalam bahasa Romawi ‘representation’ berasal dari kata ‘represeanture’ yang dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang mewakili orang lain. Konsep perwakilan paling tidak ada emapat hal. Pertama, adalah

sekelompok orang yang mewakili, yang manifestasinya ke bentuk lembaga

(17)

diwakili yang terdiri dari pendapat, kepentingan dan presfektif. Ketiga, adanya

sekelompok yang diwakili dan terakhir konteks politik di man perwakilan itu

berlangsung.

Konstruksi demokrasi di dalam politik indonesia adalah menggunakan

demokrasi perwakilan. Sistem dimana masyarakat indoensia terlibat secara

langsung dalam prose pemilihan. Oleh karena itu esensi penting dalam perwakilan

adalah adanya sekelompok yang berperan besar untuk mewakilkan

kepentingan-kepentingan kecil. Sebagai wakil harus bertindak sebagaiman yang dihendaki

yang diwakili dan memiliki kemampuan independen dari keinginan yang

terwakili.

Adanya proses seleksi para wakil rakyat baik secara politik teritorial dan

fungsional yang duduk di lembaga perwakilan memiliki implikasi terhadap

kosnstruksi perwakilan itu sendiri. Sistem bikameral adalah wujud institusional

dari lembaga perwakilan atau parlemen sebuah negar yang terdiri dari dua kamar

(Majelis). Majelis yang anggotanya dipilih dan mewakili rakyat yang berdasarkan

jumlah penduduk secar generik disebut majelis pertama atau majelis rendah dan

juga dikenal sebagi lembaga perwakilan. Majelis yang anggotanya dipilih atau

diangkat dengan dasar lain (bukan jumlah penduduk) desebut majelis kedua atau

majelis tinggi dan disebagian besar negara disebut sebagi Senat.

Sebagai pembanding, dapat dilihat sistem ketatanegaraan Amerika Serikat

yang bikameral (dua kamar). Di negara tersebut kekuasaan legislatif ada di tangan

Kongres yang terdiri atas dua kamar yaitu The House of Representatives dan

Senates. Kongres terdiri atas The House of Representatives dan Senates. Anggota

The House of Representatives terdiri atas wakil-wakil partai politik. Anggota

Senates terdiri atas wakil-wakil negara bagian. Kongres tidak berdiri sebagai

badan tersendiri oleh sebab ia hanya ada berkat gabungan antara anggota The

House of Representatives dan Senates.

Hasil studi IDEA (Institute For Democracy and Electoral Asistance).

Diindikasikan dari 54 negara di Dunia yang dianggap sebagai negara Demokrasi,

sebanyak 32 negara memilih bikameral, sedangkan 22 negara memilih

unikameral. Ini menunjukan di sebagian besar negara menganut paham

(18)

memiliki sistem bikameral tersebut, 20 dia antaranya adalah negara kesatuan

(Yusuf. 2013). Dengan demikian sistem bikameral tidak hanya berlaku di negar

federal. Negara demokrasi dengan jumlah penduduk besar umumnya memiliki

dua majelis.

Selanjutnya Spektrum negara-negara ASEAN. Tercatat dari 10 negara

anggota ASEAN, diantaranya 7 negara menganut sistem demokrasi dan 3 (Brunei,

Myanmar dan Vietnam) menganut paham yang berdeda. Dari 7 negara yang

menganut sistem demokrasi tersebut, 5 negara menerapkan sistem parlemen

bikameral, ayitu amsing masing Malaysia, Philipina, Kamboja, Thailand (sebelum

kudeta militer) dan Indonesia. Kontrusksi bikameral mencerminkan pandangan

bahwa terdapat dua perwakilan dalam lembaga legislatif di Indonesia yang terdiri

dari:

a. Kamar I

Dewan Perwakilan Rakyat (seterusnya disingkat DPR) adalah suatu

struktur legislatif yang punya kewenangan membentuk undang-undang. Dalam

membentuk undang-undang tersebut, DPR harus melakukan pembahasan serta

persetujuan bersama Presiden. Fungsi-fungsi yang melekat pada DPR adalah: (1)

fungsi anggaran; (2) fungsi legislasi; dan (3) fungsi pengawasan. Hak selanjutnya

diatur daam UU RI No. 27 Tahun 2009 Tentang Susunan dan Kedudukan

(susduk) MPR, DPR, DPD dan DPRD. Dalam menjalankan fungsi-fungsi

tersebut, setiap anggota DPR memiliki hak interpelasi, hak angket, hak

menyatakan pendapat, hak mengajukan pertanyaan, hak menyampaikan usul, dan

hak imunitas.

DPR merupakan sebuah lembaga yang menjalankan fungsi perwakilan

politik (political representative) karena menurut Jimly Asshiddiqie fungsi

legislatif berpusat di tangan DPR. Anggotanya terdiri atas wakil-wakil partai

politik. Anggota DPR melihat segala masalah dari kacamata politik. Melalui

lembaga ini, masyarakat di suatu negara diwakili kepentingan politiknya dalam

tata kelola negara sehari-hari. Kualitas akomodasi kepentingan sebab itu

bergantung pada kualitas anggota dewan yang dimiliki.

DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan.

(19)

Presiden. Fungsi anggaran adalah menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara bersama Presiden. Fungsi pengawasan adalah mengawasi jalannya

pemberlakuan suatu undang-undang oleh DPR berikut aktivitas yang dijalankan

Presiden. Selain itu, Hak DPR selaku Perseorangan meliputi (1) Hak Mengajukan

RUU; (2) Hak mengajukan pertanyaan; (3) Hak menyampaikan usul dan

pendapat; (4) Hak memilih dan dipilih; (5) Hak membela diri; (6) Hak imunitas;

(7) Hak protokoler; dan, (8) Hak keuangan dan administratif. Untuk

melaksanakan tugas dan wewenangnya, DPR membentuk Alat Kelengkapan DPR

yang terdiri atas: (1) Pimpinan DPR; (2) Badan Musyawarah; (3) Komisi; (4)

Badan Legislasi; (5) Panitia Anggaran; (6) Badan Urusan Rumah Tangga; (7)

Badan Kerja Sama Antar-Parlemen; (8) Badan Kehormatan; dan (9) Panitia

Khusus.

(20)

b. Kamar II

Dewan Perwakilan Daerah (selanjutnya disebut DPD) merupakan kamar

kedua sebagai wakil daerah. Struktur legislatif yang relatif baru dalam sistem

politik Indonesia. Anggota DPD dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan

umum, dan jumlah anggota DPD di setiap provinsi adalah sama. Namun,

Undang-undang Dasar 1945 mengatur bahwa jumlah total anggota DPD ini tidak boleh

melebihi 1/3 (sepertiga) jumlah anggota DPR. DPD bersidang sedikitnya satu kali

dalam setahun. Jimly Asshiddiqie menyatakan bahwa awalnya DPD dimaksudkan

sebagai kamar kedua (second chamber, bicameral) Indonesia. Namun, ketentuan

kamar kedua harus memenuhi persyaratan bikameralisme: Kedua kamar

sama-sama punya otoritas menjalankan fungsi legislatif. DPD sama-sama sekali tidak punya

kekuasaan legislatif. Pasal 22D UUD 1945 menyiratkan tidak ada satupun

kekuasaan DPD untuk membuat UU, meskipun berhubungan dengan masalah

daerah.

Sehubungan dengan fungsi di atas mengusulkan, ikut membahas, dan

memberikan pertimbangan DPD juga punya hak untuk mengawasi pelaksanaan

setiap undang-undang berkait masalah di atas. Namun, sebagai hasil pengawasan,

DPD tidak dapat bertindak langsung oleh sebab mereka harus menyampaikan

terlebih dahulu kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

Dalam konteks pembuatan undang-undang, DPD amat bergantung kepada DPR.

Fungsi DPD adalah mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan

dengan otonomi daerah, hubungan pusat-daerah, pembentukan dan pemekaran

serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya

ekonomi daerah, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan

daerah. Selain mengajukan rancangan undang-undang dalam konteks yang telah

disebut, DPD juga ikut serta dalam membahas rancangan undang-undang yang

mereka ajukan ke DPR. Juga, DPD dapat memberikan pertimbangan kepada DPR

atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan yang

berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama. Kehadiran DPD memberi

alternatif dan solusi atas polapenataan sistem politik yang sentralistik. Sesuai

(21)

mengakomodasikan daerah yang sejalan dengan otonomi daerah. Maka dari itu

tugas dan wewenang DPD harus dijalankan sesuai UU RI No 7 Tahun 2009.

Dilain sisi anggota MPR adalah kolektivitas dari seluruh anggota DPR-RI

ditambah seluruh anggota DPD. Hanya anggota DPR-RI dan DPD saja yang

dipilih rakyat secara langsung. MPR merupakan struktur legislatif yang cuma

berkedudukan di tingkat pusat. MPR bersidang sedikitnya 5 (lima) tahun sekali

dan setiap keputusannya diambil dengan suara terbanyak. Tugas dan wewenang

MPR digariskan oleh Pasal 2 UUD 1945 yang meliputi tiga hal yaitu: (1)

Mengubah dan menetapkan Undang-undang Dasar; (2) Melantik Presiden dan

Wakil Presiden; dan (3) Memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden dalam

masa jabatan menurut Undang-undang Dasar.

Fungsi MPR yang pertama dan ketiga bukanlah fungsi yang rutin

dilakukan (jarang). Fungsi melantik Presiden dan Wakil Presiden pun sekadar

seremonial, karena MPR sekadar melakukan upacara. Perlu diingat, yang memilih

Presiden dan Wakil Presiden bukan lagi MPR, tetapi rakyat secara langsung.

Sebab itu, MPR tidak dapat menghambat jalannya pelantikan dengan kuorum

kehadiran anggota mereka apalagi jumlah suara yang setuju/tidak setuju

pelantikan tersebut.

E. Yudikatif

Badan Yudikatif Indonesia berfungsi menyelenggarakan kekuasaan

kehakiman. Di Indonesia, kini dikenal adanya tiga badang yang berkaitan dengan

penyelenggaraan kekuasaan tersebut. Badan-badan itu adalah Mahkamah Agung,

Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial.

Kekuasaan Negara yang absolut (mutlak) yang menguasai seluruh bidang

kehidupan negara sentalistik dalam satu kekuasaan akan melahirkan hasil yang

tidak efektif dan efisien bahkan cenderung menyimpang dari konstitusi dan

peraturan yang berlaku. Untuk itu kenyataan ini mendorong para filosof untuk

mencari solusi mengenai upaya distribusi kekuasaan agar merata dan tidak

menumpuk pada satu orang atau institusi kekuasaan saja. Pemikiran yang

(22)

Politica. Teori ini menyatakan bahwa kekuasaan negara perlu dilakukan

pemisahan dalam tiga bagian yaitu kekuasaan Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif.

Pemisahan ini ditujukan untuk menciptakan efekstivitas dan evisiensi serta

transparansi pelaksanaan kekuasaan dalam negara sehingga tujuan nasional suatu

negara dapat terwujud dengan maksimal. Khusus mengenai Yudikatif adalah

fungsi untuk mengadili penyelewengan peraturan yang telah dibuat oleh Legislatif

dan dilaksanakan oleh Eksekutif. Dalam sejarahnya, Indonesia telah mengalami

rotasi pergantian kekuasaan. Ini ditandai dengan adanya masa kekuasaan yang

dikenal dengan tiga masa, yaitu masa Orde Lama, masa Orde Baru, dan masa

Orde Reformasi.

Disetiap masa memiliki ciri khas kekuasaan yang berbeda-beda. Dari

perbedaan setiap masa, dapat dilihat cara dalam menerapkan kekuasaannya

terhadap lembaga-lembaga yang terdapat pada masa itu. Kekuasaan Yudikatif

mungkin juga berbeda perananya dalam setiap adanya tiga masa kekuasaan tersebut. Maka disini kami penulis menulis makalah dengan judul “ Fungsi Lembaga Yudikatif dalam Sistem Politik Indonesia Masa Orde Baru dan Reformasi”. Kami hanya mengambil dari dua masa terakhir.

1. Pengertian Badan Yudikatif

Badan Yudikatif adalah suatu badan yang memiliki sifat teknis-yuridis

yang berfungsi mengadili penyelewengan pelaksanaan konstitusi dan peraturan

perundang-undangan oleh institusi pemerintahan secara luas serta bersifat

independent (bebas dari intervensi pemerintah) dalam pelaksanaan tugas dan

fungsinya (Rahman, 2007:215). Badan Yudikatif pada umumnya yang ada bahwa

tiap negara hukum masih berpegang pada prinsip bebas dari campur tangan Badan

Eksekutif. Tujuannya adalah agar Badan Yudikatif dapat berfungsi dengan baik

demi penegakan hukum dan keadilan serta menjamin Hak Asasi Manusia. Pasal

10 Declaration of Human Rights, memandang kebebasan dan tidak memihaknya

badan-badan pengadilan di dalam tiap-tiap negara sebagai sesuatu hal yang

esensiil. Di beberapa negara jabatan Hakim di angkat untuk seumur hidup.

(23)

2. Badan Yudikatif di Indonesia a. Mahkamah Agung

Mahkamah Agung Indonesia adalah peradilan yang menganut sistem

kontinental. Dalam sistem tersebut, Mahkamah Agung merupakan pengadilan

kasasi yang bertugas membina keseragaman dalam penerapan hukum dan

menjaga agar semua hukum dan Undang-Undang di seluruh wilayah negara

ditetapkan secara tepat dan adil serta memiliki sifat yang netral dari intervensi

pemerintah (independent). Menurut UU No. 14 Tahun 1970 tentang

Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman tanggal 17 Desember 1970, antara lain

dalam pasal 10 ayat 2 disebutkan bahwa Mahkamah Agung adalah Pengadilan

Negara tertinggi dalam arti Mahkamah Agung sebagai badan pengadilan kasasi

(terakhir) bagi putusan-putusan yang berasal dari Pengadilan-pengadilan lain yaitu

yang meliputi keempat lingkungan peradilan yang masing-masing terdiri dari:

a. Peradilan Umum

b. Peradilan Agama

c. Peradilan Militer

d. Peradilan Tata Usaha Negara.

Bahkan Mahkamah Agung merupakan pengawas tertinggi atas perbuatan

Hakim dari semua lingkungan peradilan. Sejak tahun 1970 tersebut Mahkamah

Agung mempunyai organisasi, administrasi, dan keuangan sendiri. Mahkamah

Agung menjalankan tugasnya dengan melakukan 5 fungsi yang sebenarnya sudah

dimiliki sejak Hooggerechtshof, sebagai berikut :

a. Fungsi Peradilan

b. Fungsi Pengawasan

c. Fungsi Pengaturan

d. Fungsi Memberi Nasihat

e. Fungsi Administrasi

Fungsi Peradilan. Pertama, membina keseragaman dalam penerapan

hukum melalui putusan kasasi dan peninjauan kembali. Kedua, memeriksa dan

memutuskan perkara tingkat pertama dan terakhir semua sengketa tentang

kewenangan mengadili, permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang

(24)

oleh kapal perang RI. Ketiga, memegang hak uji materiil, yaitu menguji ataupun

menilai peraturan perundangan di bawah undang-undang apakah bertentangan

dengan peraturan dari tingkat yang lebih tinggi.

Fungsi Pengawasan. Pertama, Mahkamah Agung adalah pengawas

tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan. Kedua,

Mahkamah Agung adalah pengawas pekerjaan pengadilan dan tingkah laku para

Hakim dan perbuatan pejabat pengadilan dalam menjalankan tugas yang berkaitan

dengan pelaksanaan tugas pokok kekuasaan kehakiman, yaitu menerima,

memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan. Ketiga,

Mahkamah Agung adalah pengawas Penasehat Hukum (Advokat) dan Notaris

sepanjang yang menyangkut peradilan, sesuai Pasal 36 Undang-undang nomor 14

tahun 1985 tentang Mahkamah Agung).

Fungsi Mengatur. Dalam fungsi ini, Mahkamah Agung mengatur lebih

lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila

terdapat hal-hal yang belum diatur dalam Undang-undang tentang Mahkamah

Agung. Fungsi Nasehat. Pertama, Mahkamah Agung memberikan nasehat

ataupun pertimbangan dalam bidang hukum kepada Lembaga Tinggi Negara lain.

Kedua, Mahkamah Agung memberi nasehat kepada Presiden selaku Kepala

Negara dalam rangka pemberian/penolakan Grasi dan Rehabilitasi.

Fungsi Administratif. Pertama, mengatur badan-badan Peradilan

(Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha

Negara) sesuai pasal 11 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 1999. Kedua,

mengatur tugas dan tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja

Kepaniteraan Pengadilan.

Saat ini, Mahkamah Agung memiliki sebuah sekretariat yang membawahi

Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum, Direktorat Jenderal Badan Peradilan

Agama, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Tata Usaha Negara, Badan

Pengawasan, Badan Penelitian dan Pelatihan dan Pendidikan, serta Badan Urusan

Administrasi. Badan Peradilan Militer kini berada di bawah pengaturan Direktorat

Jenderal Badan Peradilan Tata Usaha Negara.

Mahkamah Agung memiliki sebelas orang pimpinan yang masing-masing

(25)

jabatan yang diembannya yaitu: (1) Ketua; (2) wakil ketua bidang yudisial; (3)

wakil ketua bidang non yudisial; (4) ketua muda urusan lingkungan peradilan

militer/TNI; (5) ketua muda urusan lingkungan peradilan tata usaha negara; (6)

ketua muda pidana Mahkamah Agung RI; (7) ketua muda pembinaan Mahkamah

Agung RI; (8) ketua muda perdata niaga Mahkamah Agung RI; (9) ketua muda

pidana khusus Mahkamah Agung RI, dan; (10) ketua muda perdata Mahkamah

Agung RI. Selain para pimpinan, kini Mahkamah Agung memiliki 37 orang

Hakim Agung sementara menurut Undang-undang Nomor 5 tahun 2004

Mahkamah Agung diperkenankan untuk memiliki Hakim Agung

sebanyak-banyaknya enam puluh (60) orang.

b. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan

terakhir (sifatnya final) atas pengujian undang-undang terhadap UUD 1945,

memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan

oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan

tentang hasil pemilihan umum. Mahkamah Konstitusi juga wajib memberikan

putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres diduga telah melakukan

pelanggaran hukum berupa penkhianatan terhadap negara, korupsi, tindak

penyuapan, tindak pidana berat atau perbuatan tercela. Atau, seputar

Presiden/Wapres tidak lagi memenuhi syarat untuk melanjutkan jabatannya.

Mahkamah Konstitusi hanya dapat memproses permintaan DPR untuk memecat

Presiden dan atau Wakil Presiden jika terdapat dukungan sekurang-kuranya dua

per tiga dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang

dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua per tiga dari jumlah anggota DPR.

Susunan Mahkamah Konstitusi terdiri atas 9 orang anggota Hakim konstitusi yang

ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Dari 9 orang tersebut, 1 orang menjabat

Ketua sekaligus anggota, dan 1 orang menjabat wakil ketua merangkap anggota.

Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi masing-masing menjabat selama 3

tahun.

Selama menjabat sebagai anggota Mahkamah Konstitusi, para Hakim

(26)

politik, pengusaha, advokat, ataupun pegawai negeri. Hakim Konstitusi diajukan 3

oleh Mahkamah Agung, 3 oleh DPR, dan 3 oleh Presiden. Seorang Hakim

konstitusi menjabat selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 kali

masa jabatan lagi.

Hingga kini, beberapa perkara telah diperiksa oleh Mahkamah Konstitusi.

Perkara-perkara tersebut misalnya Pengujian Undang-undang Nomor 11 tahun

2008 tetang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan Pemohon Edy

Cahyono, et.al. Perkara lainnya misalnya Pengujian Undang-undang Nomor 36

tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang nomor 8 tahun

1983 tentang Pajak Penghasilan. Atau, yang bersangkutan dengan hasil pemilu

seperti Permohonan Keberatan terhadap Penetapan Perhitungan Suara Hasil

Pemilukada Kabupaten Belu Putaran II tahun 2008.

c. Komisi Yudisial

Komisi Yudisial tidak memiliki kekuasaan Yudikatif. Kendati

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menempatkan pembahasan

mengenai Komisi Yudisial pada Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman, tetapi

komisi ini tidak memiliki kekuasaan kehakiman, dalam arti menegakkan hukum

dan keadilan serta memutus perkara. Komisi Yudisial, sesuai pasal 24B UUD

1945, bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan personalia Hakim berupa

pengajuan calon Hakim Agung kepada DPR sehubungan dengan pengangkatan

Hakim Agung. Komisi ini juga mempunyai wewenang dalam menjaga serta

menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku Hakim. Dengan

demikian, Komisi Yudisial lebih tepat dikategorikan sebagai Independent Body

yang tugasnya mandiri dan hanya berkait dengan kekuasaan Yudikatif dalam

penentuan personalia bukan fungsi yudikasi langsung. Peraturan mengenai

Komisi Yudisial terdapat di dalam Undang-undang nomor 22 tahun 2004 tentang

KomisiYudisial. Komisi Yudisial memiliki wewenang mengusulkan

pengangkatan Hakim Agung kepada DPR dan menegakkan kehormatan dan

keluhuran martabat serta menjaga perilaku Hakim. Dalam melakukan tugasnya,

Komisi Yudisial bekerja dengan cara:

(1) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung;

(27)

(3) menetapkan calon Hakim Agung,

(4) mengajukan calon Hakim Agung ke DPR.

Pada pihak lain, Mahkamah Agung, Pemerintah, dan masyarakat juga

mengajukan calon Hakim Agung, tetapi harus melalui Komisi Yudisial. Dalam

melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung, Komisi Yudisial dapat menerima

laporan masyarakat tentang perilaku Hakim, meminta laporan berkala kepada

badan peradilan berkaitan dengan perilaku Hakim, melakukan pemeriksaan

terhadap dugaan pelanggaran perilaku Hakim, memanggil dan meminta

keterangan dari Hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku Hakim, dan

membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan

kepada Mahkamah Agung dan atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya

disampaikan kepada Presiden dan DPR. Anggota Komisi Yudisial diangkat oleh

Presiden dengan persetujuan DPR. Sebelum mengangkat, Presiden membentuk

Panitia Seleksi Pemilihan Anggota Komisi Yudisial yang terdiri atas unsur

pemerintah, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat. Seorang

anggota Komisi Yudisial yang terpilih, bertugas selama 5 tahun dan dapat dipilih

kembali untuk 1 periode. Selama melaksanakan tugasnya, anggota Komisi

Yudisial tidak boleh merangkap pekerjaan sebagai pejabat negara lain, Hakim,

advokat, notaris/PPAT, pengusaha/pengurus/karyawan BUMN atau BUMS,

(28)

BAB III KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan antara lain;

1. Dalam sejarah negara, ada tiga fungsi kekuasaan yang dikenal secara

klasik dalam teori hukum maupun politik, yaitu fungsi legislatif, eksekutif,

dan yudikatif. Ini merupakan institusi yang menjalankan fungsi negara.

Satu lembaga hanya boleh menjalankan satu fungsi, dan tidak boleh saling

mencampuri urusan masing-masing dalam arti yang mutlak (sparation of

power).) yang keduanya memiliki arti dan peran penting dalam negara.

2. Konstitusi berarti pembentukan yang dibentuk adalah negara, dengan

demikian konstitusi mengandung makna awal (permulaan) dari segala

peraturan perundang-undangan tentang negara. Tujuan dari konstitusi

antara lain; 1) Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak

sewenang-wenang. 2) Melindungi Ham maksudnya setiap penguasa

berhak menghormati Ham orang lain dan hak memperoleh perlindungan

hukum dalam hal melaksanakan haknya. 3) Pedoman penyelengaraan

negara maksudnya tanpa adanya pedoman konstitusi negara kita tidak

akan berdiri dengan kokoh.

3. Tugas badan eksekutif menurut ajaran trias po litica yaitu melaksanakan

kebijaksanaanya yang telah ditetapkan oleh badan legislatif serta

menyelenggarakan undang-undang yang dibuat oleh badan legislatif.

Kekuasaan Presiden sebagai Kepala Eksekutif Presiden sebagai pemegang

kekuasaan eksekutif mempunyai tugas melaksanakan undang-undang akan

tetapi selain tugas melaksanakan undang- undang presiden juga memiliki

berbagai kekuasaan dan wewenang dalam rangka mencapai tujuan negara.

4. Konstruksi demokrasi di dalam politik indonesia adalah menggunakan

demokrasi perwakilan. Sistem dimana masyarakat indoensia terlibat secara

langsung dalam prose pemilihan. Oleh karena itu esensi penting dalam

perwakilan adalah adanya sekelompok yang berperan besar untuk

mewakilkan kepentingan-kepentingan kecil. Sebagai wakil harus bertindak

sebagaiman yang dihendaki yang diwakili dan memiliki kemampuan

(29)

5. Badan Yudikatif Indonesia berfungsi menyelenggarakan kekuasaan

kehakiman. Di Indonesia, kini dikenal adanya tiga badang yang berkaitan

dengan penyelenggaraan kekuasaan tersebut. Badan-badan itu adalah

Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial.

Mahkamah Agung Indonesia adalah peradilan yang menganut sistem

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Syaputri, Y. 2014. Negara dan Institusi Politik Indonesia. Diakses pada tanggal 20 Maret 2017.

Yusuf. M. 2013. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Halida, A. (2009). Presidensil. Partai Politik Dan Parlemen (Suatu Hubungan Eksekutif Dan Legislatif Dalam Sistem Politik Pascaamandemen UUD 1945). Skripsi. FISIP. Ilmu Politik.

Basri, S. 2009. Badan Legislatif di Indonesia. Diakses pada tanggal 20 Maret 2017

Mansoer, M. T. (1977). Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-Kekuasaan Eksekutif Dan Legislatif Negara Indonesia. (Doctoral Dissertation, [Yogyakarta]: Universitas Gajah Mada).

Setya, R. (2016). Hubungan Kelembagaan Antara Eksekutif Dan Legislatif Dalam Proses Penyusunan Dan Penetapan APBD Kota Semarang Tahun 2016.

Gambar

Gambar 1. Didang Kegiatan Komisi pada Badan Perwakilan

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapat dikatakan sebagai perwakilan politik, karena anggota dewan terdiri dari partai politik yang dipilih melalui pemilihan umum..

ANGGOTA/PIMPINAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG-ROYONG.. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Daerah,

bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dewan Perwakilan Derah dan Dewan Perwakilan

(3) Negara Indonesia adalah negara hukum.*** BAB II MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT Pasal 2 (1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota

Hal ini sangat berbeda dengan ketentuan Pasal 2 (1) UUD NRI Tahun 1945 yang menentukan bahwa “ Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapat dikatakan sebagai perwakilan politik, karena anggota dewan terdiri dari partai politik yang dipilih melalui pemilihan umum..