• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN DALAM AGAMA MA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN DALAM AGAMA MA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TUGAS PENELITIAN

Pemimpin dan Kepemimpinan

Dalam Ugamo Malim

(Studi Pustaka dan Penelitian Terhadap Parmalim)

OLEH :

TEGUH ADI PUTRA SINAGA

MATA KULIAH : AGAMA DAN MASYARAKAT

DOSEN : Pdt. RIRIS JOHANNA SIAGIAN, M.Si

PROGRAM STUDI SARJANA THEOLOGI (S-1)

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN

(STT HKBP)

JL.SANGNAWALUH No.06 PEMATANGSIANTAR

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Secara ilmu Sosiologi, agama diartikan secara definisi yang empiris, yaitu yang tidak dipandang sebagai pewahyuan, tetapi diangkat dari eksperiensi atau pengalaman konkret sekitar agama yang dikumpulkan dari berbagai lapis, baik dari sejarah maupun dari kejadian sekarang. Dari hal demikian, agama berarti suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan nonempiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi penganutnya.1

Di Indonesia sendiri ada enam agama yang diakui oleh pemerintah, yakni agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Buddha dan Konghuchu. Namun, kita tidak dapat pungkiri bahwa dewasa ini ada juga agama atau aliran kepercayaan lainnya yang tak lain tujuannya juga berporos pada kekuatan-kekuatan supranatural (non-empiris) yang dipercaya penganutnya guna memperoleh keselamatan baginya. Salah satunya di suku Batak sendiri, terdapat suatu aliran kepercayaan yang disebut Parmalim. Istilah Parmalim ini merujuk kepada penganut agama Malim, yang dalam bahasa Batak sendiri disebut Ugamo Malim, yakni merupakan bentuk modern agama asli suku Batak. Pemerintah Indonesia mengelompokkan Ugamo Malim sebagai aliran kepercayaan kepada Tuhan2. Sebagai aliran kepercayaan tentunya terdapat ritual-ritual yang mereka lakukan dalam rangka memuji Tuhan nya guna mencapai keselamatan.

Oleh karenanya, di dalam melakukan ritual tersebut, tentunya harus ada seseorang yang dapat memimpin atau dengan kata lain sebagai suatu sistem sosial tentunya setiap anggota dalam sistem tersebut membutuhkan seseorang yang bisa memimpin mereka, sebab jika tidak ada pemimpin maka tidak ada yang dapat menjadi penuntun untuk anggota kelompoknya. Pemimpin adalah figure seseorang yang bijaksana, berani mengambil keputusan dan yang terpenting adalah berwibawa yang bisa memimpin untuk mencapai tujuan bersama. Jika di dalam agama Kristen kita mengenal Pendeta sebagai figure yang memimpin umat Kritsen dalam melakukan peribadahan, maka dari itu di Ugamo Malim sendiri juga memilki pemimpin yang dapat memimpin mereka melakukan kegiatan peribadatan mereka.

Dari latar belakang masalah diatas, melihat sebab akibat nya penulis ingin mengetahui bagaimana sebenarnya figure pemimpin dan kepemimpinan dalam Ugamo Malim tersebut. Oleh karena itu, dalam karya tulis ini penulis mengambil judul: “Ugamo

(3)

Malim di Suku Batak”, dengan sub judul sebagai batasan masalah: “Kepemimpinan dalam Ugamo Malim”.

1.2. Rumusan Masalah

Melihat latar belakang diatas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut. 1. Apa dan Bagaimana Ugamo Malim itu?

2. Bagaimana Ritus-Ritus di dalam Ugamo Malim tersebut?

3. Secara khusus, bagaimana pemimpin dan kepemimpinan dalam Ugamo Malim tersebut?

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya Ugamo Malim itu.

2. Untuk mengetahui ritus-ritus peribadatan yang ada di dalam Ugamo Malim. 3. Untuk mengetahui unsur pemimpin dan kepemimpinan di dalam Ugamo Malim. 1.4. Manfaat Penulisan

Bagi Pembaca :

Menambah pengetahuan seputar Ugamo Malim di dalam Suku Batak, terkhusus mengenai pemimpin dan kepemimpinan di dalam Ugamo Malim tersebut. Serta dapat menjadi bahan perbandingan terhadap informasi-informasi lainnya mengenai Ugamo Malim.

Bagi Penulis :

Menambah pengetahuan bagi penulis tentang Ugamo Malim, terkhusus mengenai kepemimpinan dalam Ugamo Malim. Selain itu secara khusus sebagai pemenuhan atas tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa dalam program mata kuliah Agama dan Masyarakat. 1.5. Metode Penulisan

Karya tulis ini secara general diperoleh melalui penelitian. Penelitian dilakukan pada sebuah cabang komunitas Parmalim yang ada di Maligas II, dimana ulu punguan komunitas tersebut bernama bapak Tohar Manurung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya Ugamo Malim itu, terkhusus mengenai tema kepemimpinan di dalam komunitas Parmalim tersebut. Oleh karena itu kelompok menggunakan dua metode dalam penulisan ini, yaitu metode observasi langsung (Field Research) dan Library Research (kepustakaan) melalui pengumpulan dan pendataan sumber-sumber buku yang menunjang penelitian.

BAB II

APA DAN BAGAIMANA UGAMO MALIM ITU?

2.1. Pengertian Ugamo Malim dan Perkembangannya

Ugamo Malim3 adalah jalan atau media perjumpaan antara manusia dengan Debata

melalui sesaji (pelean) yang bersih dan suci. Orang yang dikelompokkan dalam Ugamo

(4)

Malim disebut dengan istilah Parugamo Malim dan dari sini lah muncul istilah Parmalim.

Sehingga Parmalim berarti oknum atau orang-orang yang hidup di dalam ajaran malim tersebut, karena jika kita penggal kata parmalim ini, maka secara harfiah parmalim terbentuk dari partikel “par” dan kata benda “malim”. “Par” sendiri berarti orang atau penganut (oknum) yang menganut ajaran, sedangkan “malim” dalam bahasa Batak berarti suci atau ias rohana, tidak bernoda dan bermoral tinggi.4

Kami berpendapat bahwa Parmalim adalah suatu kepercayaan atau aliran yang didirikan para oknum (pengikut) nya yang diperoleh dari kelanjutan agama kuno (asli) orang Batak yang hidup suci, bersih dan bermoral tinggi demi memuja Tuhan mereka, yaitu Debata Mulajadi Nabolon.5

Dalam perkembangannya, singkat cerita gerakan atau komunitas Parmalim terus berkembang di tanah Batak dan mereka berusaha untuk memelihara dan mempertahankan keutuhan Parmalim tersebut. Kemudian gerakan Parmalim yang terus berkembang tersebut terpecah dan terbagi dalam empat aliran, yaitu:

1. Parmalim dibawah pimpinan Raja Mulia Naipospos, yang pusatnya di Huta Tinggi (Laguboti).

2. Parmalim Sumumba Malim, yang pusatnya di Sigaol. 3. Malim Putih, yang pusatnya di Balige.

4. Malim Beringin Batak, yang pusatnya di Pulau Samosir.

Komunitas Parmalim tempat kelompok melakukan penelitian (Maligas II), termasuk kedalam Parmalim yang pusatnya di Huta Tinggi. Jadi, mengapa muncul empat aliran dalam komunitas Parmalim tersebut? Pada dasarnya keempat sekte Parmalim ini mempunyai kesamaan aliran tetapi organisasinya berbeda. Namun tipe pengajarannya berbeda. Menurut kami perbedaan nya adalah ajaran Parmalim ke daerah-daerah tersebut diajarkan secara tradisi lisan.6

2.2. Ritus-Ritus Peribadatan dalam Ugamo Malim7

Untuk dapat berhubungan dengan Debata Mulajadi Nabolon, tentunya terdapat ritus-ritus atau upacara-upacara tertentu. Ritual-ritual mereka adalah sebagai berikut

1. Upacara Mararisabtu

Yaitu salah satu hal yang terpenting dan terutama dalam ritual pada Parmalim. Upacara ini wajib dilaksanakan sekali seminggu setiap akhir pekan yaitu hari Sabtu. Mereka meyakini bahwa hari Sabtu adalah hari yang kudus dan menganggap bahwa hari itu adalah

4 Lih. Ibrahim Gultom, 2010, hlm. 198.

5 Berdasarkan atas pemahaman dan analisa kelompok.. 6 Berdasarkan atas pemahaman dan analisa kelompok.

(5)

sabath bagi mereka. Menurut Ugamo Malim, penetapan hari Sabtu sebagai hari peribadatan adalah karena berasal dari sejarah, dimana tepat pada hari ketujuh (sabtu), Siboru Deakparujar menggunakannya sebagai peristirahatan atau hari tanpa adanya aktifitas baginya.

2. Upacara Manga Na Paet

Ritual ini dilaksanakan pada akhir tahun dan suatu ritual yang wajib dilakukan oleh setiap Parmalim. Hal ini wajib karena sebagai wujud pengakuan bahwa setiap manusia tak luput dari segala perbuatan dosa sejak awal tahun hingga akhir tahun. Oleh karena itu, mereka harus melakukan ritual tersebut guna mendapat pengampunan dosa tahunan tersebut. Ritual ini berupa ritus mengkonsumsi sayuran yang pahit. Ritual Mangan na Paet dilaksanakan sebanyak dua tahap, yaitu Mangan na Paet Parjolo dan Mangan na Paet Paduahon. Mangan na Paet Parjolo dilaksanakan pada awal bulan sepahasapuludua (bulan ke duabelas), kemudian dilanjutkan dengan Mangan na Paet Paduahon yaitu setelah tigapuluh hari kemudian. Yang lebih. Setelah kedua ini dilakukan, maka ditutup dengan ritual

mangan na tonggi8.

3. Ritual Sipaha Sada

Yaitu suatu upacara yang di dalam Ugamo Malim, dimana khusus memperingati hari kelahiran (ari hatatubu) Simarimbulubosi yang tepat pada hari kedua (ari suma) dan hari ketiga (ari anggara) bulan sipaha sada. Biasanya upacara ini diiringi dengan musik tradisional, seperti kecapi, gondang dan lainnya.9

4. Ritual Sipaha Lima

Yaitu ritual secara besar-besaran yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Debata Mulajadi Nabolon atas anugerah yang diberikannya. Ritual ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, yaitu mulai tanggal 12 (boraspatinitangkup) sampai tanggal 14 (samisapurasa) bulan lima.10

5. Ritual Martutuaek

Yaitu ritual menyambut kehadiran tondi (kelahiran). Upacara ini dilakukan pada anak yang telah berusia sebulan dan orang tua wajib melaksanakan upacara martutuaek Menurut ajaran Parmalim, Tondi yang ada pada manusia berasal dan Debata dan pada suatu masa nanti tondi itu akan kembali kepada-Nya. Berdasarkan kepada ajaran itu, Ugamo Malim manganut

8 Mangan na Paet paduahon dan Mangan na Tonggi harus dilakukan pada hari yang sama, namun dengan waktu yang berbeda . Jika Mangan na Paet Paduahon dilakukan pukul 09.00 makan Mangan Natonggi dilakukan pada pukul13.00.

9 Secara eksplisit narasumber kami mengatakan bahwa pada dasarnya ritual Sipaha Sada sama seperti hari Natal pada umat Kristen. Hanya saja pada umat Kristen memperingati ari hatatubu Jesus, sedangkan bagi Ugamo Malim memperingati ari hatatubu Simarimbulubosi.

(6)

paham bahwa dalam setiap penyambutan seorang anak yang baru lahir sepatutnyalah berangkat dari segi tondi-nya dan bukan semata-mata jasmaninya.

6. Ritual Mamasumasu

Merupakan ritual pemberkatan perkawinan yang tidak boleh diabaikan oleh penganut

Parmalim jika hendak melangkah ke jenjang pernikahan. Upacara mamasusmasu ini biasanya dipimpin langsung oleh Ihutan atau boleh juga diwakilkan kepada ulu punguan setempat.

7. Ritual Pasahat Tondi

yaitu suatu ritual Parmalim yang bermaksud meynampaikan atau menyerahkan roh (tondi) seseorang manusia yang sudah meninggal dunia kepada Debata Mulajadi Nabolon.

Pada saat itu sekaligus juga memohon kepada-Nya agar orang yang yang bersangkuan dapat diampuni dosanya dan ditempatkan Debata di sisi-Nya serta memohon keampunan dosa keluarga yang ditinggalkan.

Ciri khas tersendiri bagi orang Parmalim jika ada yang meninggal, dia harus dimandikan dengan aek pangurason. Dan ketika mereka belum dimandikan, mayat tersebut masih boleh ditangisi tetapi setelah mayat itu dimandikan, orang-orang tidak boleh lagi menangisi mayat tersebut. Hal ini karena mayat itu tadinya sudah disucikan tetapi jika terkena air mata maka tidak suci lagi.11

8. Ritual Manganggir

Yaitu ritual pensucian diri seseorang agar suci dari segala jenis dosa, kekotoran akibat makan haram (ramun) dan kekotoran jasmani, yang dipimpin langsung oleh Ihutan. Ritual ini tidak wajib, namun harus tetap dilakukan jika ada anggota Parmalim yang melanggar hukum yang ada dalam Ugamo Malim. Setidaknya ada dua hal kemungkinan yang melatarbelakangi perlunya seseorang disucikan melalui ritual manganggir yaitu: Pertama, karena disebabkan murtad (meningalkan Ugamo Malim), tetapi kemudian hari kembali lai memeluk Ugamo Malim. Kedua, karena adanya keiinginan seseorang hendak berpindah agama dari agama lain ke Ugamo Malim.

9. Ritual Mardebata

Yaitu suatu ritual penyembahan Debata yang biasanya dengan melalui pelean

(sesajen) yang suci dan bersih. Ritual ini tidak wajib, namun jika ada niat dari seorang parmalim untuk melakukannya, maka wajib untuk dilaksanakan dan harus dihadiri oleh anggota parmalim lainnya. Dengan kata lain, ritual ini sebenarnya seperti hajatan keluarga.

Apa yang mereka lakukan saat melakukan upacara-upacara tersebut? Ketika mereka melakukan upacara/ritual tersebut, secara khusus mararisabtu, mereka mengucapkan patik-patik yang tujuannya untuk mengetahui kesalahan dan dosa mereka serta mendapat

(7)

penghapusan dosa dari Debata Mulajadi Nabolon12. Selain itu mereka juga mengucapkan

tonggo-tonggo. Tonggo tonggo bagi Parmalim ada 10, yaitu dimulai dari tonggo kepaa Debata Mulajadi Nabolon sampai kepada Naposonya. Malim ni Debata disebut juga sebagai Naposo ni Debata. Mereka tidak bisa meminta pengampunan dosa jika tidak melalui Naposo ni Debata tersebut. Mereka memohon agar Debata mengampuni dosa mereka. Kesepuluh tonggo tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tonggo kepada Debata Mulajadi Nabolon, yaitu Tuhan Pencipta langit dan bumi. 2. Tonggo kepada Debata Natolu, yaitu Batara Guru, Debata sori, dan Bala Bulan. 3. Tonggo kepada Siboru Deak Parujar, yaitu yang memberi sumber pengetahuan dan

keturunan.

4. Tonggo kepada Naga Padoha Niaji, yaitu penguasa di dalam tanah. 5. Tonggo kepada Saniang Naga Laut, yaitu penguasa air dan kesuburan.

6. Tonggo kepada Raja Uti, yaitu yang diutus Debata sebagai perantara pertama bagi orang Batak.

7. Tonggo kepada Simarimbulu Bosi, yaitu karena hari kelahirannya pada perayaan Sipaha Sada.

8. Tonggo kepada Raja Naopat Puluh Opat, yaitu semua nabi (malim) yang diutus Debata kepada bangsa melalui agama-agama tertentu, misalnya Sisingamangaraja yang diutus bagi orang Batak.

9. Tonggo kepada Raja Sisingamangaraja.

10. Tonggo kepada Raja Nasiakbagi, yaitu dianggap sebagai penyamaran Raja Sisingamangaraja (Parmalim menyebutnya sebagai sahala ni Sisingamangaraja).13

Dalam Ugamo Malim, mereka beribadah menghadap matahari. Dalam ibadah tersebut ada “memercikan air” yang memiliki arti Pangurason (penyucian/pembersihan) terhadap dosa-dosa. Kemudian memanjatkan doa sambil menaburkan bubuk atau yang disebut dupa

(dupa itu dari getah pohon, dupa tidak bisa sembarang dibuat. Hanya pemimpin mereka lah yang membuat dupa itu) keatas tungku yang berisi arang api sehingga menghasilkan asap, melalui asap itulah mengucapan terimakasih kepada Mulajadi Nabolon.14

2.3. Sekilas Historis Singkat Mengenai Pemimpin di dalam Ugamo Malim

Secara historis, ada empat figur pemimpin yang diutus Debata Mulajadi Nabolon dan diakui sebagai malim dikalangan orang Batak. Figur tersebut adalah Raja Uti, Simarimbulubosi, Sisingamangaraja dan Raja Nasiakbagi. Mereka diakui sebagai utusan

Malim ni Debata di dalam Ugamo Malim. 1. Raja Uti

12 Dalam memohon penghapusan dosa dari Debata Mulajadi Nabolon, mereka diperciki atau meminum aek pangurason oleh pemimpin.

(8)

Raja Uti adalah malim yang pertama sebagai pemimpin yang berkharisma di zamannya. Raja Uti lahir di dekat Barus di daerah Tapanuli Utara. Raja Uti ini muncul untuk mengembalikan kepercayaan manusia untuk menyembah Debata Mulajadi Nabolon. Raja Uti membentuk ajaran ajaran yang terdiri dari tona, poda, patik dan uhum. Keempat ajaran ini disebut dengan istilah “marsuhi ni appang na opat”. Dan komunitas mereka pada saat itu meyakini bahwa ajaran tersebut turun langsung dari banua ginjang ke bumi (sudah ada sebelumnya di banua ginjang sebelum diturunkan ke bumi).

2. Simarimbulubosi

Setelah Raja Uti mangkat, kepemimpinan tersebut selanjutnya diturunkan kepada Simarimbulubosi. Dalam tradisi oral suku Batak, Simarimbulubosi adalah seorang kesatria., yaitu Ia anak ketujuh dari Raja Mombang Napitu. Di dalam perjalanan hidupnya, ia mendapatkan penyiksaan dan bahkan ingin membunuhnya dari keenam abangnya. Namun Simarimbulubosi selamat karena katanya memilki bulu/rambut besi serta mempunya ilmu kebal. Akibatnya karena sikap para saudaranya tersebut, ia pergi meninggalkan kampungnya untuk mengembara.15 Ia melanjutkan ajaran Raja Uti supaya orang Batak hidup di dalam

kemaliman kepada Debata Mulajadi Nabolon. Namun ditengah masa kepemimpinannya ia meninggal16 dan setelah itu terjadi kekacauan pada orang Batak. Akibatntya, diutus kembali

malim yang ketiga yaitu Sisingamangaraja agar tetap memimpin dan membina orang Batak untuk menyembah Debata Mulajadi Nabolon.

3. Sisingamangaraja

Setelah beberapa waktu Simarimbulubosi memimpin, maka kepemimpinannya diturunkan kepada Sisingamangaraja. Tugas dari Sisingamangaraja adalah menguatkan (pahoton) adat, patik dan uhum bagai orang Batak sebagai panduan hidup dalam kemaliman.17 Pada dasarnya secara fisik yang disebut Sisingamangaraja berjumlah dua belas orang sehingga untuk menyebutnya dinamakan Sisingamangaraja I sampai XII. Singkat cerita ketika itu pemerintahan Belanda menjajah tanah Batak, sehingga Sisingamangaraja XII mati terbunuh. Namun menurut kepercayaan Parmalim, dia tidak mati. Sahala Sisingamangaraja turun kepada seseorang yang bernama Nasiakbagi.

4. Raja Nasiakbagi18

Dengan munculnya Raja Nasiakbagi, mereka mempercayai bahwa Sisingamangaraja belum mati. Kepemimpinan Raja Nasiakbagi lebih mengutamakan bagaimana supaya orang

15 Lih. Johannes Paulus Saragih, Gerakan Mesianis di Toba: Suatu Tinjauan Sosio Politis Religious, (Sebuah Majalah Ilmiah Mahasiswa tahun 2009), 8.

16 Kata “meninggal” disini berarti pergi menghadap bapaknya (natorasna) di banua ginjang. 17 Lih. Ibrahim Gultom, 2010, hlm. 158.

(9)

Batak pada saat itu hidup dalam kemalimam. Oleh karena itu Raja Nasiakbagi melakukan pembinaan dengan mengajarkan hamalimon. Satu ciri khas perkataan dari Raja Nasiakbagi kepada umatnya, yaitu : “malim ma hamu”, yang berarti sucilah kalian atau senantiasalah hidup suci dalam keagamaan. Dan sejak inilah, ajaran yang dibawanya resmi disebut “Ugamo Malim”. Setelah kepemimpinan Raja Nasiakbagi selesai, ia menyerahkan kepemimpinan tersebut kepada seorang murid setianya, yaitu Raja Mulia Naipospos.19 Sejak penyerahan itulah, Raja Mulia Naipospos mulai memimpin Ugamo Malim dan meneruskan ajaran dari Raja Nasiakbagi. Singkat cerita, ketika kepemimpinan Raja Mulia Naipospos selesai, maka ia menurunkan kepemimpinan tersebut kepada Raja Ungkap Naipospos dan selanjutnya diturunkan kembali kepada Raja Marnangkok Naipospos.

SISINGAMANGARAJA

RAJA NASIAKBAGI

RAJA MULIA NAIPOSPOS

RAJA UNGKAP NAIPOSPOS

RAJA MARNANGKOK NAIPOSPOS

19 Lih. Ibrahim Gultom, 2010, hlm. 170.

RAJA MARNANGKOK NAIPOSPOS RAJA UNGKAP NAIPOSPOS

RAJA MULIA NAIPOSPOS RAJA NASIAKBAGI SISINGAMANGARAJA

(10)

Gambar : Bagan pemimpin-pemimpin Parmalim secara turun-temurun di Huta Tinggi

BAB III

TOPIK-TOPIK SEPUTAR KEHIDUPAN ORANG BATAK

3.1. Simangot dan Sumangot di Kalangan Orang Batak

Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara sumangot dan simangot. Perbedaanya hanya lah terletak pada pengucapan atau pelafalannya saja, karena daerah sangat menentukan bagaimana pengucapannya, yang berarti daerah yang satu dengan daerah lainnya bisa saja berbeda dalam pengucapannya. Sehingga tidak ada perbedaan yang khusus antara simangot dengan sumangot.

Menurut narasumber kami, Parmalim meyakini bahwa “sumangot/simangot” adalah

sahala natua-tua. Secara harfiah, sumangot berarti semangat (spirit yang berarti roh yang aktif). Orang Batak meyakini bahwa sumangot merupakan wujud roh atau arwah dari garis keturunan mereka yang sudah meninggal. Namun, tingkatan sumangot lebih tinggi daripada roh. Mengapa demikian? Karena sumangot ini merupakan arwah dari kerabat atau ketutunan mereka dan dikenal olehnya sehingga secara batiniah tidak ditakuti, melainkan disegani. Penampakan sumangot ini umumnya berkaitan dengan perilaku semasa hidupnya20. Alasan lain mengapa sumangot disegani oleh orang Batak, karena umumnya sumangot yang sudah meninggal dapat menjadi penghibur21 bagi seseorang yang mengalami keputusasaan, jika sumangot tersebut menampakkan diri. Hal ini dikarenakan sumangot yang terlihat tersebut adalah sosok yang disegani dalam hidupnya, sehingga penampakannya menjadi pembangkit semangat hidupnya untuk merubah keputusasaannya. Oleh karena itu, umumnya orang Batak mengatakan bahwa sumangot ini harus dipuja (disembah)22, supaya tetap terus menjadi

20 Contohnya, seorang ompung yang selama hidupnya terhormat di masyarakat dan keluarga, dianya menjadi dikenang oleh orang lain serta menjadi panutan oleh orang banyak dan keturunannya. Jika ada pada keturunannya melakukan hal-hal yang tidak baik dan dulunya menjadi sesuatu yang tidak disenangi oleh sang ayah yang sudah meninggal tersebut, maka ada kalanya seseorang yang melakukan ketidakbaikan itu akan melihat penampakan mendiang ayahnya itu, dan penampakan itu menjadi sesuatu peringatan baginya untuk tidak melakukan hal yang tidak baik itu di dalam hidupnya.

21 Hal ini dikarenakan penampakan Sumangot kepada seseorang menjadi motivasi bagi dirinya untuk berubah menjadi lebih baik. Oleh karena itu bentuk roh ini tidak dianggap sebagai roh jahat yang dikenal, tetapi menjadi roh kebaikan yang datang dari leluhur garis keturunannya.

(11)

pemotivasi keturunannya dan bahkan dapat memajukan kesejahteraan keturunannya (memperoleh hamoraon, hasangapaon, hagabeon).23

3.2. Konsep Tondi dan Sahala Bagi Orang Batak

Ada sebuah kalimat ungkapan bagi orang Batak, yaitu ”martondi na mangolu, marsahala na mate”, yang berarti molo Tondi mangolu do, dos do sahala dohot tondi, molo marujungngolu ‘marsahala ma’, jala molo mangolu ‘martondi ma’. Ungkapan ini dapat memberikan petunjuk bagaimana sebenarnya hubungan antara sahala dan tondi. Dalam artian diwaktu hidupnya disebut tondi dan ketika sudah mati disebut Sahala. Tapi lebih kuat sahala daripada tondi. Namun tidak semua orang yang sudah meninggal bersahala atau memiliki sahala. Itu tergantung bagaimana perbuatan nya selama hidup.24

Lebih lanjut tondi adalah roh kehidupan, yaitu jiwa atau roh seseorang dan sekaligus merupakan kekuatan baginya. Tondi bersemayam dalam tubuh manusia dan hidup bersama-sama dalam kehidupan manusia seutuhnya25. Tondi memberikan kehidupan, dan jika tondi tersebut meninggalkan badan seseorang untuk sementara, maka orang itu akan sakit. Jika secara terus-menerus atau untuk selamanya, maka akan berujung kepada kematian

Apakah Sahala terdapat pada diri seseorang yang masih hidup?26

Menurut orang Batak, sahala orang yang sudah meninggal ini, dapat hinggap kepada orang masih hidup. Itu lah akibatnya orang yang hidup dapat juga bersahala. Jika bagi orang yang masih hidup, sahala dapat diartikan sebagai kekuatan jiwa yang berbeda-beda bagi tiap-tiap orang yang masih hidup tersebut. Artinya tidak semua orang memiliki sahala, dan beberapa orang yang memiliki sahala itu jumlah dan kwalitasnya berbeda-beda. Contohnya, ada orang yang mampu dalam mengobati orang sakit sehingga disebut sahala pengobati. Orang Batak sering menyebut sahala dengan istilah hasaktian. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan, sahala ni raja lebih kuat daripada sahala orang biasa, misalnya sahala kelompok hula-hula lebih kuat daripada kelompok boru.

23 Berdasarkan wawancara kepada bapak Tohar Manurung pada tanggal 25 April 2015, di Maligas II, dan diperjelas dalam buku J.P. sitanggang , Batak Na Marserak, Maradat-Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), 191-192.

24Hasil wawancara kepada bapak Tohar Manurung pada tanggal 25 April 2015, di Maligas II.

25 Orang Batak meyakini bahwa setiap manusia memiliki tubuh dan tondi yang selalu hidup berbarengan dikehidupannya. Tondi nya dapat diajak berkomunikasi oleh dirinya dalam bentuk insting, kata hati, dan bahkan melalui pengartian sebuah mimpi. Diyakini pula bahwa di dalam keadaan tidur, Tondi dapat berkeliaran keluar dari tubuh dan melanglang buana kemana disukainya. Oleh karena itu masyarakat Bangsa Batak berupaya agar tubuhnya tetap disenangi oleh Tondi -nya sebagai tempatnya besemayam. Pemeliharaan Tondi ini selalu dilakukan dengan pola hidup dengan percaya diri tinggi dan mempersipkan diri secara dinamis (mar-roha).

(12)

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sebenarnya konsep berpikir sehingga sahala itu dapat hinggap dalam diri orang-orang khusus tersebut? Orang Batak berpikir bahwa Sahala adalah bentuk reinkarnasi dari suatu perilaku baik yang dilakukan oleh seseorang yang sudah menjadi leluhur yang dimuliakan (diyakini), yang diturunkan kepada generasi keturunannya baik secara alami (hadir secara tersendiri) atau melalui peniruan sikap dan perilaku yang dipraktekkan27. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa dari keyakinan tersebut, sahala dapat dikatakan sebagai roh kebajikan dari leluhur yang hidup kembali kepada seseorang di keturunannya.

Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana kita mengetahui bahwa pada diri seseorang telah dihinggapi oleh sahala leluhur yang diyakini tersebut? Orang Batak meyakini bahwa, berdasarkan bentuk-bentuk aura tubuh, berwibawa, bersahaja, bertalenta, dan memiliki keahlian-keahlian yang khusus merupakan wujud adanya Sahala pada diri seseorang28.

Dari uraian diatas, Lantas, bagaimana sebenarnya hubungan khusus antara tondi dan sahala? Dapat dikatakan bahwa tondi memberikan kehidupan, sedangkan sahala memberikan kekuatan untuk mengarungi kehidupan tersebut. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan

sebab-akibat antara tondi dan sahala, dimana sahala merupakan ‘akibat, (perwujudan) dari tondi. Oleh karena itu Sahala menjadi bagian dari jiwa (Tondi, roh) seseorang yang hidup.29

Bagaimana dengan penyembahan terhadap sahala? Menurut narasumber kami, pada dasarnya dalam praktek kehidupan orang Batak tidak ada melakukan pemujaan kepada

Sahala. Hanya saja bentuk peniruan perilaku atau sikap dari orang mati yang memilki sahala tersebut, menunjukkan wujud dari pemujaan tersebut. Narasumber kami pun menentang pemujaan melalui sesembahan, karena bagai mereka tidak ada seperti itu.

3.3. Kematian Menurut Orang Batak

Menurut narasumber kehidupan orang batak setelah mengalami kematian terdiri dari dua bagian. Pertama, jika semasa hidupnya ia berbuat baik, disukai banyak orang dan mematuhi patik dan uhum, serta banyak memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, maka setelah mati ia akan kembali kepada Mulajadi, yaitu naik ke banua ginjang. Namun orang Parmalim tidak dapat menggambarkan secara eksplisit mengenai banua ginjang

tersebut, sama seperti halnya penggambaran surga yang kita ketahui hingga saat ini. Mereka

27 Hal ini dapat dikaitkan dalam pandangan orang Batak dahulu yang mengatakan bahwa tondi tetap hidup selamanya baik selama berada di dalam tubuh yang hidup maupun setelah kematian. Diyakini pula oleh Bangsa Batak bahwa Tondi adalah warisan dari Mulajadi Nabolon kepada manusia sejak dilahirkannya manusia pertama yang kemudian diwariskan kembali kepada keturunan manusia sampai sekarang ini.

28Secara analitif, mungkin pernyataan ini sulit untuk diterima. Karena bisa saja talenta atau keahlian yang mereka miliki tersebut karena dipelajari.

(13)

hanya mengatakan nama banua ginjang itu sendiri tetapi tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai banua ginjang. Bagian yang kedua, jika semasa hidupnya ia berbuat jahat, dibenci banyak orang dan melanggar patik dan uhum, serta senang mengambil hak yang seharusnya dimiliki orang lain, maka ia akan dimasukkan ke banua toru. Sama seperti halnya banua ginjang, mereka tidak mau memberikan gambaran yang spesifik terhadap apa yang dimaksud dengan banua toru tersebut.30

Yang perlu ditekankan bahwa ketika manusia meninggal, sudah pasti tondi akan meninggalkan tubuhnya. Yang menjadi pertanyaan, kemana tondi ini akan pergi? Orang Batak dahulu meyakini bahwa setelah manusia meninggal, maka tondi nya akan kembali keasalnya, yaitu kepada si pemberi kehidupan, Mulajadi Nabolon, dan akan memulai siklus hidup yang baru lagi.31

Namun ada, juga orang Batak yang beranggapan bahwa, setelah manusia meninggal maka ia akan menjadi begu. Hal ini dikarenakan orang Batak secara batiniah hidup dalam keyakinan spiritual yang dilingkupi oleh dunia roh, tetapi untuk roh-roh yang tidak dikenalnya, dan inilah yang disebut begu. Begu banyak dikenal dalam berbagai bentuk penamaan dan diyakini ada dalam wujud roh dari orang mati yang tidak dikenalnya dan diasumsikan sebagai roh jahat, hantu, setan atau iblis.32

BAB III

STUDI KHUSUS TERHADAP PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN DALAM UGAMO MALIM33

3.1. Bagaimana Struktur Organisasi Kepemimpinan dalam Ugamo Malim?

30 Pendapat bapak Tohar Manurung pada tanggal 25 April 2015, di Maligas II.

31 Lih. Harun Hadiwijono, Religi suku Murba di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 81.

32 Lih. Donald. H Nainggolan, Kosmologi Batak Alam dan Agama Kepercayaan, (Jakarta: Pustaka Azet, 1996), 54-55.

(14)

Bagaimana sebenarnya organisasi kepemimpinan dalam Ugamo Malim? Pada dasarnya struktur organisasi kepemimpinan dalam Ugamo Malim sangat sederhana. Dapat dikatakan hanya ada dua struktur kepemimpinan dalam Ugamo Malim, yaitu pimpinan pusat dan pimpinan cabang. Pimpinan pusat yaitu pimpinan tertinggi dalam Ugamo Malim, yang dipegang oleh seorang yang disebut “Ihutan” (artinya: yang diikuti). Ihutan ini berada di pusat komunitas parmalim, yakni di Huta Tinggi, Laguboti. Sebagai pimpinan pusat, seorang

ihutan bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan pembinaan anggota komunitas secara keseluruhan. Namanya juga sudah ihutan, berarti ia harus dapat menjadi teladan atau menjadi seorang yang diikuti oleh anggotanya, baik dalam perkataan, perilaku atau segala sesuatu yang menunjukkan suatu keteladanan. Oleh karena itu, sebagai seorang ‘yang diikuti’ maka ihutan harus mengetahui ajaran-ajaran (patik, uhum) dan sudah pasti juga harus mengetahui sejarah tumbuh dan berkembangnya Ugamo malim. Selain itu ihutan juga bertugas sebagai pemimpin dalam suatu upacara ritual yang bersifat kolektif (berkumpulnya cabang-cabang komunitas parmalim di pusat komunitas) yang mana upacara ini sifatnya tahunan, seperti sipaha sada, sipaha lima, mardebata dan mangan na paet. .

Sedangkan dicabang-cabang komunitas Parmalim yang tersebar diberbagai tempat, dipimpin oleh seorang pimpinan cabang yang disebut dengan Ulu Punguan. Ulu Punguan

juga bertugas dan bertanggung jawab dalam memberikan pembinaan terhadap anggota komunitas di tingkat cabang dan juga sebagai pemimpin upacara dalam setiap ritual keagamaan di persattian, contohnya memimpin dalam mararisabtu. Intinya Ulu Punguan harus dapat menjadi Panggonggom (pembimbing) dan pangumei (penasihat) di dalam punguan atau komunitas tersebut. Secara khusus Ulu Punguan juga harus bertanggung jawab dalam meperhatikan perkembangan anggotanya di cabang baik secara kuantitas dan kualitas serta melaporkannya kepada pimpinan pusat (Ihutan).

3.2. Bagaimana Sistem Pemilihan Pemimpin dalam Ugamo Malim?

(15)

dan sudah pasti harus melalui pengakuan moral dari seluruh anggota komunitas tersebut, baik dilihat dari perkataannya maupun perbuatannya di komunitas tersebut. Pendidikan formal atau informal tidak menjadi prasyarat dalam pemilihan tersebut, tetapi setidaknya harus mengetahui ajaran-ajaran parmalim (ingkon mamboto patik dohot uhum).

Kemudian bagaimana dengan kelanjutan kepemimpinan tersebut? Kepemimpinan di dalam Ugamo Malim itu selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada keturunannya34 seperti mengikuti sistem kepemimpinan kerajaan atau dinasti. Secara eksplist narasumber kami mengatakan bahwa pada dasarnya seorang pemimpin di komunitas Parmalim tidak dipilih karena kewibawaan atau kecakapan nya dalam memimpin, tetapi dari paras wajahnya dan penampilan nya sudah ada kharisma untuk memimpin. Parmalim menyebut hal ini dengan istilah sahala. Para anggota parmalim tersebut mempercayai bahwa sahala itu sudah hadir (hadir secara tersendiri) pada diri pemimpin tersebut dan kehadiran sahala ini bukan karena dipelajari (ditekuni) sehingga cakap dalam memimpin, tetapi mereka meyakini bahwa itu muncul karena berkat sahala dari Tuhan mereka, yaitu Debata Mulajadi Nabolon.

Namun, ada kekhususan tersendiri dalam pemilihan pemimpin cabang (Ulu Punguan). Biasanya Ulu Punguan ini dipilih secara langsung oleh pemimpin pusat (Ihutan). Jika dianggap sudah mampu untuk memimpin maka Ihutan berhak untuk memilihnya sebagai

Ulu Punguan, dengan berdasarkan pertimbangan atau pendapat dari komunitas Parmalim di cabang tersebut untuk melihat bagaimana kesehariaan nya di dalam komunitas tersebut.

3.3. Ungkapan-Ungkapan Yang Seharusnya Ada dalam Diri Seorang Pemimpin Ada setidaknya delapan ungkapan atau idom dalam bahasa Batak yang menunjukkan dan seharusnya ada dalam diri seorang pemimpin. Ungkapan-ungkapan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Parbahulbahul na Bolon

Makna dari ungkapan ini adalah bahwa di dalam diri seorang pemimpin tidak ada lagi yang kurang, baik dalam melakukan adat, patik, uhum dan lainnya serta yang bisa mengampuni kesalahan saudaranya (mambalum sude hasalahon ni dongan na), tidak ada rasa sakit hati (hancit ni roha), intinya orang yang demikian adalah jolma na tigor jala na sintong di jolo ni Debata.

2. Paramak na so habalunon

(16)

Makna dari ungkapan ini adalah orang yang suka menjamu saudaranya secara sukarela. Oleh karena itu seorang pemimpin harus rela dengan berbesar hati menjamu para anggotanya secara sukarela.

3. Parapi na so haintopan / Partataring na so mintop

Makna dari ungkapan ini adalah orang yang bisa disebut sebagai “paradongan”, yaitu bisa melayani semuanya karena sudah penuh hatinya, sehingga tidak pernah padam untuk melayani.

4. Parimbulu bosi

Makna dari ungkapan ini adalah bahwa seorang yang menjadi pemimpin mereka pada awalnya memiliki bulu-bulu di badannya yang terbuat dari besi sehingga jarang ada orang yang berani menyentuhnya. Namun, pemimpin ini tidak menggunakan kekuatan yang dimiliki dari bulu-bulu badannya untuk melindungi dirinya saja melainkan untuk melindungi semua orang atau masyarakatnya. ini menadakan bahwa dia memiliki kekuatan.

5. Parhata Oloan

Makna dari ungkapan ini adalah bahwa pemimpin yang dimaksud adalah Raja na sintong dan Raja na jujur. Kalau tidak benar dan jujur tidak mungkin dapat menjadi Parhata Oloan, sehingga raja atau pemimpin yang demikian selalu tempat untuk bertanya. Dan lagi, sosok raja atau pemimpin seperti ini merupakan raja yang lemah lembut yang mengayomi masyarakatnya.

6. Parhata na Siat

Makna dari ungkapan ini adalah seorang raja yang mana na siat maroloan atau siat hatana. Dalam artian, apa yang diucapkannya menjadi panduan hidup (patik atau uhum) dan harus dipatuhi serta tidak dapat ditolak.

7. Raja Panungkunan

Makna dari ungkapan ini adalah bahwa dialah seorang raja panungkunan di uhum, kokoh di dalam adat (hot di adat dohot patik) dan kuat/kokoh di setiap ada yang kurang, intinya ia serba tahu serta rela hatinya untuk memecahkan masalah. Jika tidak memenuhi ini, maka tidak mungkin dapat menjadi Raja Panungkunan.

8. Raja na so habolusan

Makna dari ungkapan ini adalah bahwa ini adalah pemimpin yang jujur, dimana kita tidak bisa sembarang berbicara kepadanya tanpa melalui perantara serta tidak dapat didahului dalam hal apapun itu.

(17)

ungkapan-ungkapan tersebut. Karena kalau pun ada yang memenuhi, “naposo ni Debata ma i, jala molo di Kristen ima 12 halak sisean ni Jesus ma i”, ujar Bapak Tohar Manurung.

3.4. Empat Profil Pemimpin Yang Berkharisma

Ketika kami melakukan wawancara dengan memberikan pertanyaan bagaimana profil pemimpin yang berkharisma itu (mulia, kudus, keras hati dan juara), kami tidak meperoleh jawaban yang memuaskan. Mereka mengatakan bahwa keempat profil ini tidak mungkin semuanya terdapat pada diri seorang pemimpin, terlebih untuk mulia dan kudus. Keempat ini tidak bisa diberikan berdasarkan penilaian akal manusia. Hanya Debata lah yang dapat menilai itu. Dan hanya kepada Debata Mulajadi Nabolon keempat hal tersebut ditujukan. Hanya saja yang kami peroleh adalah bahwa seorang pemimpin harus mematuhi patik, uhum, dohot adat dan tidak pernah melakukan hal yang tidak benar (dang hea mambahen na so denggan). Jika hal ini sudah dilakukan, maka dapat mewakili keempat profil pimimpin yang berkharisma tersebut.

Memang di dalam upacara mararisabtu sendiri, ada poda yang selalu disebut, yaitu poda hamalimon (poda yang lima). Setiap Parmalim (termasuk pemimpin) harus suci dalam setiap duduk (malim parhundulun), dalam setiap makan (malim parmanganon), dalam setiap melihat (malim parmerengon), dalam setiap perkataan (malim panghataion), dan harus suci dalam berjalan (malim pardalanan). Namun hal tersebut pun sulit ditemukan pada seorang pemimpin. Hal ini karena jotjot malanggar patik ni Debata dohot mambahen na so denggan. Yang paling terpenting pada diri seorang pemimpin adalah harus sesuai perkataan dengan perbuatannya (ingkon dos panghataion dohot pangalao).

3.5. Pakaian Tohonan Bagi Seorang Pemimpin

(18)

tradisi dahulunya, terkhusus penutup kakinya harus menggunakan ulos.35 Mengapa pakaian tohonan pemimpin tersebut sama dengan anggota nya? Menurut narasumber kami asa sarupa sude na torop i, ima asa sarupa sude na pogos dohot na mora, jadi ingkon sarupa do baju ni pemimpin dohot na torop i, jala ingkon sude do na mamangke.

Hal yang mengagumkan dari seorang pemimpin Parmalim adalah dia sama sekali tidak menerima upah (gaji) seperti pada pemimpin-pemimpin agama lainnya. Dia harus tulus melayani anggota nya tanpa mengharapkan adanya imbalan, karena pemimpin-pemimpin terdahulunya juga seperti itu.

BAB IV PENUTUP 4.1. Analisa Kelompok

Kita telah melihat bagaimana kepemimpinan di dalam Ugamo Malim tersebut. Jika kita analisa dibalik kata “kepemimpinan” tersebut, ternyata ada makna yang mendalam yang seharusnya dimiliki dalam seorang pemimpin, termasuk seorang pemimpin Parmalim. Kae H. Chung (1981) mengungkapkan bahwa di dalam kepemimpinan harus ada kesanggupan untuk mempengaruhi perilaku anggotanya. Sehingga di dalam kepemimpinan harus ada kemampuan pemimpin untuk membawa anggotanya kearah tujuan tertentu.36 Begitu juga di dalam Ugamo Malim, seorang pemimpin Parmalim harus dapat mempengaruhi na torop

untuk dapat hidup dalam hamalimon kepada Debata Mulajadi Nabolon yaitu dengan

manggonggomi (membimbing) dan mangumei (menasihati) anggotanya malalui patik, uhum

dan adat.

Pada sisi lain seorang pemimpin terkait pada dua sisi sekaligus, yaitu kedudukan sosial dan proses sosial. Dari sisi kedudukannya, seorang pemimpin terkait dengan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam komunitas tersebut. Sedangkan dari sisi proses sosialnya, seorang pemimpin terkait kepada sejumlah tindakan yang dapat mengarahkan dan

35 Narasumber kami mengatakan bahwa terkadang terdapat pelanggaran terhadap penggunaan penutup kaki. Seharusnya penutup kaki itu harus menggunakan ulos, namun karena pelanggaran tersebut , sebahagian dari para anggotanya ada yang menggunakan sarung.

(19)

mempengaruhi komunitas itu.37 Namun jika kita lihat pada komunitas Parmalim, sisi kedua (proses sosial) lebih terdapat padanya. Karena pada sisi yang pertama (kedudukan sosial), seorang pemimpin dikaitkan dengan sejumlah hak (upah atau gaji), namun hal ini tidak ada dalam seorang pemimpin Parmalim.

Jika dianalisa dalam topik “Agama Sebagai Institusi Sosial”, jika suatu agama diinstitusikan maka salah satu unsur yang harus ada adalah jabatan keagamaan, yaitu pemimpin. Setiap jabatan keagamaan mempunyai wewenang tertentu dan tidak pernah lepas dari pelayanan-pelayanan yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jemaat, seperti pelayanan dalam peribadatan dan lainnya.38 Begitu juga dalam Parmalim, seorang ihutan dan

ulu punguan tidak boleh lepas dari pelayanan demi kepentingan anggota nya. Bahkan seorang pemimpin agama bahari (termasuk Parmalim) harus dapat mengatasi masalah-masalah yang dialami anggotanya yang berkenaan dengan ajaran, upacara, dan lainnya. Hal ini harus dapat diselesaikan oleh pemimpin agama adat yang bersangkutan.39 Jika kita kaitkan juga dengan topik “Agama Dalam Sebuah Dilema”, agama dikatakan mengalami kedilemaan jika dihadapkan dengan pilihan yang sulit berkenaan dengan kepemimpinan, kepemimpinan yang kharismatis kah atau kepemimpinan yang rasional? Di dalam agama telah terdapat unsur kekuasaan dan pimpinan pada tingkat universal serta tingkat kerohanian. Jika mereka salah dalam memilih kedua tipe pemimpin ini, maka kemungkinan komunitas agama tersebut akan mengalami suatu krisis kepemimpinan dan pada akhirnya akan berujung kepada suatu kedilemaan.40 Begitu juga dengan Parmalim, unsur kepemimpinan sangat menentukan status dari komunitas tersebut karena jika seorang pemimpin mengalami krisis kewibawaan maka memungkinkan komunitas parmalim tersebut berada dalam suatu kedilemaan.

Lantas bagaimana cara seorang pemimpin dapat membimbing dan menasihati serta dapat mempengaruhi anggota nya? Jawaban ini tentunya akan panjang. Namun yang perlu ditekankan bahwa seorang pemimpin disyaratkan untuk memiliki tiga unsur utama, yaitu kekuasaan, kemampuan dan kewibawaan.41 Oleh karena itu, seorang ihutan dan ulu punguan di dalam Ugamo Malim tentunya harus memilki kewibawaan, kekuasaan dan kemampuan, baik dalam mengetahui uhum, patik dan adat. Namun secara khusus seorang pemimpin Parmalim terangkat menjadi pemimpin bukan karena kemampuannya, namun karena

37 Radesman Sitanggang, MEMIMPIN SESUAI AMANAH..., 3-4.

38 D. Hendropospito, SOSIOLOGI AGAMA, (Yogyakarta: Kanisius, 1983), 124. 39 D. Hendropuspito, SOSIOLOGI..., 121.

40 D. Hendropuspito, SOSIOLOGI..., 129-130.

(20)

memang sudah ada sahala dari Mulajadi Nabolon turun kepadanya, sehingga dia dianggap dan diyakini mampu untuk memimpin.

Hubungan Konsep Sahala terhadap Kepemimpinan:

 Bagaimana cara seorang pemimpin dapat membimbing dan menasihati serta dapat mempengaruhi anggota nya?

 Seorang pemimpin disyaratkan untuk memiliki tiga unsur utama, yaitu kekuasaan, kemampuan dan kewibawaan .Dari ketiga unsur ini lah yang akan memunculkan istilah “kharisma”, dan dari “kharisma” ini bagaimana sebenarnya konsep “sahala”

itu muncul.

 Atau dengan kata lain, bagaimana sebenarnya “sahala” itu membuat pemimpin memiliki kekuasaan, kemampuan dan kewibawaan.

Konsep sahala sendiri memang menunjukkan bahwa jika seorang pemimpin bersahala, maka dia benar dan kuat dalam melaksanakan patik, adat, uhum kepada Mulajadi Nabolon. Dan jika benar-benar bersahala maka seorang pemimpin tidak akan goyah sehingga sampai lah

tonggo-tonggo nya kepada Mulajadi Nabolon, karena marsahala patik dohot uhum dari Debata. Intinya perbuatan yang benar dan kuat dalam melakukan patik dan uhum, maka menunjukkan sahala/hasaktian dari seorang pemimpin Batak.42 Yang menjadi pertanyaan adalah apakah hal tersebut memang sudah ada secara tersendiri dalam diri seorang pemimpin, sementara salah satu tolak ukur seorang pemimpin yang bersahala adalah marsahala patik dohot uhum? Secara analitif memang untuk memperoleh hal tersebut, maka sahala tersebut harus ditekuni oleh pemimpin tersebut. Namun kelompok bukan mengatakan bahwa sahala itu dapat dipelajari dari awal (nol) sehingga menghasilkan istilah “sahala” tersebut, melainkan kelompok menganalisa bahwa sahala tersebut dapat dikembangkan. Artinya, sahala yang awalnya datang secara tersendiri dari leluhur pemimpin tersebut, dapat dikembangkan sehingga memperoleh sahala/hasaktian yang lebih baik lagi. Contohnya, dalam marsahala patik dohot uhum tersebut, secara otomatis memang patik dan uhum tersebut harus ditekuni.

4.2. Refleksi

Selaku pemimpin kiranya memiliki aspek-aspek iman yang diyakini, ditimba sedemikian rupa untuk memberikan dukungan yang bermakna dalam melakukan tugas kepemimpinan dalam suatu komunitas. Oleh karena itu hendaknya, motivasi dan sasaran kepemimpinan harus berazaskan kepada kehendak Tuhan. Artinya, ciri kepemimpinan dalam komunitas tersebut harus mendukung kehendak Tuhan. Maka dari itu, harus kita refleksikan

(21)

bahwa iman yang diyakini oleh seorang pemimpin tentulah akan berperan memberikan kontribusi terhadapnya dalam melakukan tugas pelayanannya di komunitasnya tersebut.

4.3. Kesimpulan

Kepercayaan parmalim merupakan suatu komunitas religius yang dianut oleh orang Batak pada zaman dahulu dan masih ada kita temukan sampai sekarang. Kepercayaan Parmalim bisa dikatakan sebagai bentuk modern dari agama asli Batak. Pemimpin dalam Parmalim (ihutan dan ulu punguan) sangat menentukan keberlangsungan komunitas tersebut, karena pemimpin lah yang membimbing dan menasihati anggotanya tanpa menerima imbalan atau mengharapkan sesuatu.

(22)

Referensi

Dokumen terkait

rangkaian tema berseri yang diadakan selama bulan September 2016. Kiranya hikmat dari Allah dan kasih karunia-Nya yang besar terpancar dalam ibadah kita, dan Yesus Kristus

Bagi siapa yang melanggar aturan Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri Nomor 6 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 63 ayat (2)

- Pshcyo idea, Yuwono, Susatyo issue 2 volume 8 pada tahun 2010 yang berjudul “Mengelola Stres dalam Perspektif Islam dan Psikologi” dalam penelitian ini, bertujuan

mengemukakan beberapa faktor penyebab peserta didik kurang menguasai keterampilan tune up sepeda motor: (1) Kurangnya alat praktik otomotif sehingga membuat peserta didik

Menurut Muhammad Farhat, jika semua masyarakat muslim menerima hukum yang diputuskan oleh majoriti ulama melalui akademi fiqh, badan fatwa atau seminar hukum sebagai suatu

(a) Pseudo second order and (b) pseudo first order kinetic fit from photodegradation data of 10 ppm BG employing CaTiO 3 prepared from different CaCO 3 /TiO 2 composition..

Proses penyusunan Peraturan Desa (PERDES) tentang pemanfaatan dan pengelolaan hutan mangrove di Desa Alo-Alo dilakukan selama 2 bulan yang diawali dengan pembuatan

oleh suatu produk sangat bergantung dari bahan baku (buah) yang digunakan untuk pembuatannya, ditambah lagi konsentrasi gum arab paling tinggi pada perlakuan P 1