• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN TINGKAT KREATIVITAS VERBAL ANT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN TINGKAT KREATIVITAS VERBAL ANT"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN TINGKAT KREATIVITAS VERBAL ANTARA SISWA SMU

PADA KELAS AKSELERASI DAN KELAS REGULER

NASKAH PUBLIKASI

oleh

ASRI PRAHESTI

RA. RETNO KUMOLOHADI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

(2)

NASKAH PUBLIKASI

PERBEDAAN TINGKAT KREATIVITAS VERBAL ANTARA SISWA SMU PADA KELAS AKSELERASI DAN KELAS REGULER

Telah Disetujui Pada Tanggal

_______________________

Dosen Pembimbing Utama

(3)

PERBEDAAN TINGKAT KREATIVITAS VERBAL ANTARA SISWA SMU PADA KELAS AKSELERASI DAN KELAS REGULER

Asri Prahesti Retno Kumolohadi

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat kreativitas verbal antara siswa SMU pada kelas akselerasi dan kelas reguler. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan tingkat kreativitas verbal antara siswa SMU pada kelas akselerasi dan kelas reguler, dimana tingkat kreativitas verbal siswa kelas akselerasi lebih tinggi daripada siswa kelas reguler.

Subjek penelitian ini adalah siswa SMU berusia 13-18 tahun di SMA Negeri I Balikpapan, Kalimantan Timur. Subjek penelitian berjumlah 66 siswa, yaitu sebanyak 26 orang siswa program akselerasi dan sebanyak 40 orang siswa program reguler. Alat ukur yang digunakan adalah Tes Keativitas Verbal dari Utami Munandar (1977). Tes Kreativitas Verbal tersebut terdiri dari enam subtes dengan masing-masing subtes terdiri dari empat aitem.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Mann-Whitney Test dengan menggunakan SPSS for windows versi 11.5 untuk menguji apakah ada perbedaan rata-rata sekor kreativitas verbal antara siswa pada program akselerasi dengan siswa program reguler. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sebaran data pada tes kreativitas verbal adalah tidak normal dengan nilai z = 3.115; p = 0,000 (p<0,05). Dan dengan metode Levene’s Test for equaity of variance diperoleh hasil bahwa data homogen F = 3.295; p=0,074 (p>0,05). Dikarenakan data yang tidak normal, maka digunakan statistik non parametrik untuk menguji hipotesis penelitian yaitu dengan metode Mann-Whitney Test. Berdasarkan analisis, ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara rata-rata kreativitas verbal kelas akselerasi dengan kelas reguler (t = 39,5; p= 0,000; p<0,01). Rata-rata skor kreativitas verbal siswa kelas akselerasi adalah 146,04 dan rata-rata skor kreativitas verbal siswa kelas reguler adalah 121,68, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kreativitas verbal antara siswa akselerasi dengan kelas reguler, dimana kreativitas verbal siswa kelas akselerasi lebih tinggi dari siswa kelas reguler.

(4)

PERBEDAAN TINGKAT KREATIVITAS VERBAL ANTARA SISWA SMU PADA KELAS AKSELERASI DAN KELAS REGULER

Pengantar

Di era globalisasi dan persaingan bebas sekarang ini kehidupan manusia dituntut untuk mengikuti kemajuan zaman. Semakin hari semakin banyak masalah yang timbul, dan semakin kompleks juga masalahnya. Kesulitan semakin bertambah dan bermacam-macam. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan mengembangkan kreativitas.

Menurut Wycoff dalam bukunya Menjadi Super Kreatif Melalui Metode Pemetaan-Pikiran,

“Dunia sekitar berubah dengan sangat cepat. Begitu cepatnya sehingga manusia sering tidak sadar dan merasa seolah-olah berada di daerah baru. Daerah baru ini membutuhkan pendekatan dan cara penyelesaian yang baru dalam menghadapi tantangannya, yang kita namakan imajinasi dan kreativitas. Imajinasi dan kreativitas kita yang akan membuka pintu menuju kemajuan menuju produk baru dan pelayanan baru, menuju pasar dunia baru, menuju cara berkomunikasi yang baru, menghadirkan hal-hal yang lebih indah, lebih berirama, sekolah yang lebih baik, lapangan pekerjaan yang lebih banyak, dan akhir peperangan dan kelaparan.” ( 2003:23)

(5)

imajinasi yang menghasilkan ide-ide cemerlang dan kreatif. Dan semua ide cemerlang dalam sejarah, semua penemuan besar, sebenarnya punya satu kesamaan: lahir dari otak manusia. Selain untuk menyimpan informasi, otak juga punya kemampuan yang sama hebatnya untuk menciptakan ide-ide baru (Dryden&Vos, 2002).

Kemampuan otak untuk memunculkan ide-ide kreatif tidak lepas dari fungsi dari kedua belah otak manusia itu. Secara umum, otak kiri memainkan peranan dalam pemprosesan logika, kata-kata, matematika, dan urutan, yang disebut pembelajaran akademis. Sedangkan otak kanan berurusan dengan irama, rima, musik, gambar, dan imajinasi, yang disebut dengan aktivitas kreatif (Dryden&Vos, 2002).

Kedua belahan otak manusia memiliki spesialisasi fungsi yang berbeda. Tetapi pada kenyataannya kedua rangkaian sifat belahan otak ini menentukan proses berpikir manusia. Menurut Trazzara dalam artikel Mengatasi Krisis Kreativitas pada Anak,

“Idealnya, setiap anak dapat menggunakan kedua belah otak secara seimbang, baik yang kiri maupun yang kanan. Pasalnya, kedua belahan tersebut saling bergantung satu sama lain. Apabila tidak terbiasa menggunakannya secara seimbang, salah satu dari belahan yang jarang digunakan akan mengalami hambatan-hambatan dalam menjalani fungsinya. Bisa jadi, hal ini merupakan penyebab munculnya krisis kreativitas anak Indonesia. Faktanya, dalam sistem belajar di negara kita, anak-anak memang lebih banyak dirangsang untuk menggunakan belahan otak kiri. Sedangkan otak kanan sangat jarang digunakan. Bahkan terkesan terlupakan. Buntut-buntutnya, anak-anak Indonesia miskin kreativitas.” (Pikiran Rakyat, 6 April 2003)

(6)

terkecuali krisis kreativitas. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kreativitas siswa-siswa SD Indonesia berada pada peringkat terakhir di Asia Timur. Dikatakan bahwa siswa-siswa tersebut hanya mampu memahami 30 persen dari materi bacaan dan sulit menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran (Pikiran Rakyat, 6 April 2003).

Berdasarkan survey dari Komisi Sosial Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Asia Pasifik, pengangguran usia muda (15-24 tahun) sebanyak 38 juta orang berada di Asia. Sepuluh juta orang diantaranya berada di Asia Tenggara, dengan negara pengangguran muda terbanyak tercatat di Filipina dan Indonesia. Sedangkan menurut data dari Bappenas, pada tahun 2004 sebanyak sepuluh juta pengangguran di Indonesia berada di usia produktif, sekitar 15 sampai 24, dan 40% nya adalah lulusan S1. Terkait dengan hal ini, persoalan kunci bagi pengangguran di Indonesia adalah perekonomian yang stagnan dan buruknya kualitas pendidikan. Sehingga mereka tidak memiliki skill dan kreativitas untuk bersaing meraih masa depan yang lebih baik (www.republika.co.id, 06 Juli 2005)

(7)

kurang, dapat dipastikan siswa-siswa di Indonesia akan kalah bersaing dengan siswa dari negara lain.

Ditinjau dari aspek kemampuan dan kecerdasan anak, siswa dapat dikelompokkan kedalam tiga strata, yaitu yang memiliki kemampuan dan kecerdasan diatas rata-rata (anak-anak jenius,

talented, gifted); rata-rata; dan dibawah rata-rata (under-achiever). Umumnya, strategi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia bersifat klasikal-masal, yaitu memberikan perlakuan yang standar (rata-rata) kepada semua siswa. Padahal setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Akibatnya, siswa yang dibawah rata-rata akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang berlangsung, sebaliknya siswa yang yang diatas rata-rata akan merasa jenuh karena harus menyesuaikan diri dengan kecepatan belajar siswa-siswa lainnya (Widyastono, 2000).

(8)

lebih awal dari waktu yang telah ditentukan (pasal 24 butir 6). (http://www.dikdasmen.depdiknas.go.id )

Penyelenggaraan kelas akselerasi (mempercepat) yang sudah diujicobakan beberapa tahun terakhir ini masih mengandung pro dan kontra. Menurut Mujiran, dari segi konseptual program ini dipandang bagus, tetapi beberapa kelemahan juga menyertai penyelenggaraan kelas akselearasi ini. Diantaranya, stigmatisasi bahwa kelas reguler relatif lebih jelek dibanding kelas akselerasi; muncul kelas eksklusif, arogansi, dan budaya inferior pada siswa kelas akselerasi; dan siswa kelas akselerasi tidak memiliki kesempatan luas untuk belajar mengembangkan aspek afektif, pasalnya mereka dituntut untuk menyelesaikan tugas sendiri dengan waktu yang terbatas (Bernas, 18 Maret 2004).

(9)

Dalam Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kreativitas adalah: 1.) Kapasitas khusus untuk memecahkan masalah yang memungkinkan seseorang mencetuskan ide asli (orisinil), atau menghasilkan produk-produk yang sesuai dan dapat dikembangkan penuh; dan 2.) Kemampuan mencapai pemecahan atau jalan keluar yang sama sekali baru, asli dan imaginatif terhadap masalah yang bersifat pemahaman, filosofis estetis ataupun yang lainnya.

Sedangkan Vernon (Harre dan Lamb, 1996) mengungkapkan bahwa kreativitas adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan berbagai gagasan, wawasan, penemuan atau obyek seni yang baru, yang diterima sebagai yang mempunyai nilai sosial, spiritual, keindahan, ilmiah atau teknologis.

Menurut Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo,2000), pengertian verbal adalah 1.) Berkaitan dengan bahasa; berkaitan dengan kata-kata, 2.) Kebiasaan-kebiasaan bahasa, seperti dalam berbicara, menulis, membaca, atau menghafal.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kreativitas verbal adalah kemampuan seseorang dalam menuangkan kreativitasnya dalam bentuk yang berkaitan dalam bahasa, kata-kata maupun tulisan. Dimana di dalamya terdapat aspek-aspek fluency, flexibility, originality, dan elaboration.

(10)

diberikan bagi siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan (Depdiknas, 2001)

Secara konseptual, pengertian acceleration diberikan oleh Pressey (Hawadi, 2004) sebagai suatu kemajuan yang diperoleh dalam program pengajaran, pada waktu yang lebih cepat atau usia yang lebih muda daripada yang konvensional (reguler).

Depdiknas (2001) menyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya program akselerasi adalah untuk memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa dalam mewujudkan kemampuan mereka secara optimal agar mereka dapat: Mengembangkan kemampuan berfikir dan bernalar, serta pengembangan kreativitas siswa; Memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat; Memacu mutu diri siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual dan emosionalnya secara seimbang.

Berbicara mengenai siswa program kelas akselerasi (siswa akseleran) berarti berbicara mengenai siswa berbakat (gifted children). Definisi anak berbakat untuk Program Percepatan Belajar (akselerasi) yang dikembangkan oleh pemerintah dibatasi pada hal-hal berikut (Depdiknas, 2001):

1. Mereka yang mempunyai taraf intelligensi atau IQ di atas 140. 2. Mereka yang oleh psikolog dan/atau guru diidentifikasikan

(11)

memuaskan, dan memiliki kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas, dan keterikatan terhadap tugas yang tergolong baik serta kreativitas yang memadai.

Konsep akselerasi yang dikaitkan dengan konsep anak berbakat tidak lepas dari model Three Rings dari Renzulli (1981) yang menyatakan bahwa keberbakatan merupakan hasil perpaduan dari kemampuan di atas rata-rata (IQ), kreativitas (CQ), dan komitmen pada tugas (Task Commitment/ TC). Dengan pendekatan model Renzulli ini diperoleh identifikasi anak berbakat dalam program akelerasi. Pemerintah Indonesia melalui Direktorat PLB (Pendidikan Luar Biasa) menetapkan skor IQ siswa akselerasi adalah 125. Bagi murid sekolah dasar taraf kecerdasan IQ adalah 120 keatas (Skala Weschler), taraf kreatif CQ 110 ke atas (Skala TKF-UM), dan taraf komitmen pada tugas TC 132 ke atas (Skala TC-Rendi). Sedangkan bagi siswa tingkat SMU, taraf kecerdasan IQ 120 ke atas (Skala TIKI), CQ 110 (Skala TKV-URH), dan TC 126 ke atas (Skala YA/FS Revisi) (Hawadi, 2004).

(12)

Permasalahannya, apakah semua anak berbakat itu kreatif? Bila menganut konsep Renzulli maka setiap anak berbakat itu kreatif yang berarti siswa program akselerasi itu idealnya kreatif. Tetapi menurut Southern dan Jones (Hawadi, 2004) dalam bukunya yang berjudul The Academic Acceleration of Gifted Children, kelemahan program akselerasi adalah “tuntutan sebagai siswa sebagian besar pada produk akademik konvergen sehingga siswa akseleran akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan divergen.

Siswa akselerasi adalah siswa yang dikelompokkan sebagai anak berbakat. Pengelompokkan siswa akselerasi, khususnya di Indonesia, tidak berdasarkan tes inteligensi saja, tetapi juga tes kreativitas dan task commitment, sehingga dapat dikatakan bahwa siswa akselerasi itu kreatif.

Dari kontradiksi inilah maka penelitian ini dimaksudkan akan dilakukan. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kreativitas antara siswa SMU pada program kelas akselerasi dengan program reguler

Metode Peneltian

(13)

Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Tes Kreativitas Verbal dari Utami Munandar (1977). Tes tersebut terdiri atas enam subtes dengan masing-masing subtes terdiri dari 4 aitem. Baterai Tes Kreativitas Verbal ini meliputi:

Tes I : Word Beginning (permulaan kata), mengungkap kelancaran kata.

Tes II : Anagram (menyusun kata), mengungkap kelancaran kata (word fluency)

Tes III : Three word sentences (membentuk kalimat tiga kata), mengungkap kelancaran dalam ungkapan (expressional fluency).

Tes IV : Thing categories (sifat-sifat yang sama), mengungkap

ideational fluency (kelancaran dalam memberikan gagasan)

Tes V : Unusual uses (penggunaan tidak biasa), mengungkap fleksibilitas dan orijinalitas.

Tes VI : Consequences (apa akibatnya), mengungkap ideational fluency dan elaboration (elaborasi dan kelancaran).

Nilai yang diperoleh dari tes ini adalah nilai kasar dan rentang antar subtes yang terlalu jauh perbedaannya. Karena itu, nilai kasar ini kemudian dikonversikan ke dalam sekor skala yang tersedia dalam manual tes kreativitas verbal.

(14)

Prosedur yang digunakan untuk melakukan analisa dalam penelitian ini adalah prosedur Independent sample t-test. Analisa

Independent sample t-test ini merupakan uji rata-rata antara satu grup sampel dengan satu grup lainnya dimana kedua grup tidak saling berhubungan (bebas) (Pratisto, 2004).

Sebelum melakukan uji beda (t-test), harus dilakukan uji asumsi terlebih dahulu. Uji asumsi ini meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan

Statistical Product and Services Solution (SPSS) for Windows versi 11.5

Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada hari Senin tanggal 2 Mei 2005. Penelitian dilaksanakan secara bersamaan baik untuk kelas reguler maupun kelas akselerasi. Subjek penelitian untuk kelas reguler diambil sebanyak dua kelas yaitu kelas II IPA 1 dan II IPS 1. Subjek dari kelas reguler ini merupakan permohonan dari pihak sekolah, karena kedua kelas ini termasuk kelas unggulan di tingkatannya. Sedangkan dari kelas akelerasi diambil seluruh siswa baik kelas II maupun kelas III karena jumlahnya yang sedikit.

(15)

beberapa alasan, yaitu tidak menulis lengkap identitas diri (terutama tanggal/bulan/tahun lahir), serta tidak mengikuti instruksi dengan benar sehingga banyak pengisian tes yang salah. Deskripsi subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian

(16)

Uji Asumsi

Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data dari variabel yang dianalisis mengikuti distribusi normal. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test dengan program SPSS for Windows 11,5. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sebaran data pada tes kreativitas verbal adalah tidak normal dengan nilai z = 3,115; p = 0,000 (p<0,05).

Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk membuktikan bahwa data homogen atau tidak. Dari analisis dengan Levene’s Test for equaity of variance diperoleh hasil bahwa data homogen dengan F = 3,295; p = 0,074 (p>0,05).

Uji Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah ada perbedaan tingkat kreativitas verbal antara siswa SMU pada kelas akselerasi dengan kelas reguler, dimana tingkat kreativitas verbal pada siswa kelas akselerasi lebih tinggi daripada siswa kelas reguler. Analisis yang digunakan dalam pengujian hipotesis ini adalah

(17)

Berdasarkan analisis ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara rata-rata kreativitas verbal kelas akselerasi dengan kelas reguler (t = 39,5 ; p= 0,000; p<0,01). Rata-rata skor kreativitas verbal siswa kelas akselerasi adalah 146,04 dan rata-rata skor kreativitas verbal siswa kelas reguler adalah 121,68, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kreativitas verbal antara siswa akselerasi dengan kelas reguler, dimana kreativitas verbal siswa kelas akselerasi lebih tinggi dari siswa kelas reguler.

Pembahasan

Dari hasil pengujian hipotesis, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan tingkat kreativitas verbal yang sangat signifikan antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler di SMA Negeri I Balikpapan, Kalimantan Timur, dimana tingkat kreativitas verbal siswa kelas akselerasi lebih tinggi daripada siswa kelas reguler. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t = 39,5 (p = 0,000), p<0,01.

(18)

Luar Biasa) menetapkan skor IQ siswa akselerasi adalah 125. Bagi murid sekolah dasar taraf kecerdasan IQ adalah 120 keatas (Skala Weschler), taraf kreatif CQ 110 ke atas (Skala TKF-UM), dan taraf komitmen pada tugas TC 132 ke atas (Skala TC-Rendi). Sedangkan bagi siswa tingkat SMU, taraf kecerdasan IQ 120 ke atas (Skala TIKI), CQ 110 (Skala TKV-URH), dan TC 126 ke atas (Skala YA/FS Revisi) (Hawadi, 2004).

Dengan meningkatnya perhatian terhadap anak berbakat semakin menjelaskan bahwa tes inteligensi saja tidak cukup untuk mengidentifikasikan murid yang memiliki bakat unggul dan kreatif. Karena tes inteligensi pada umumnya tidak memancing jawaban-jawaban yang imajinatif, orisinil, dan unik. Oleh karena itu tes kreativitas juga banyak direkomendasikan oleh para ahli untuk digunakan dalam identifikasi anak berbakat disamping tes inteligensi dan tes prestasi belajar (Munandar,1982).

Kreativitas dapat berupa kreativitas verbal ataupun kreativitas figural. Kreativitas verbal berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan kreativitasnya secara verbal atau melalui tulisan. Kreativitas verbal ini secara umum berkaitan dengan ranah kognitif seseorang. Siswa kelas akselerasi adalah siswa yang secara intelektual dikatakan berbakat, sehingga dimungkinkan kemampuan kognitif mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan siswa yang berada di kelas reguler.

(19)

dan motivasi (Munandar, 1992). Munandar (1992) kemudian

e. Daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan f. Menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik g. Senang dan sering membaca

h. Ungkapan diri lancar dan jelas i. Pengamat yang cermat

j. Senang mempelajari kamus, peta dan ensiklopedi k. Cepat memecahkan soal

l. Cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan m. Cepat menemukan asas dalam suatu uraian

n. Mampu membaca pada usia lebih mudadaya abstraksi

d. Bebas dalam menyatakan pendapatmempunyai rasa keindahan dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai) b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putu asa)

c. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi d. Selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat

(20)

e. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya)

f. Senang dan rajin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin

g. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut)

h. Mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian)

i. Senang mencari dan memecahkan soal-soal

Dari ciri-ciri siswa berbakat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa siswa akselerasi memiliki kreativitas yang tinggi disamping intelegensi dan motivasi. Aspek-aspek dari kreativitas verbal diberikan pendidikan khusus dengan special teacher (ahli di bidang yang dikuasai anak), misalnya siswa dengan bakat melukis diberikan guru yang ahli dalam seni lukis. Dapat juga dengan

special school atau dengan special classes seperti program pendidikan enrichment (pengayaan) dan acceleration

(percepatan). Sehingga keberbakatan mereka tidak tersia-sia begitu saja (Bloom, Papalia dan Olds, 1995).

(21)

akselerasi lebih unggul daripada siswa kelas reguler dalam hal kapasitas intelektual ataupun kreativitas, tetapi di sisi lain siswa kelas reguler bisa jadi lebih unggul dibandingkan dengan siswa kelas akselerasi dalam hal afektif ataupun penyesuaian soial, misalnya. Adalah tanggung jawab pihak sekolah untuk dapat menyeimbangkan masing-masing kekurangan dan kelebihan siswa-siswi tersebut dan menyediakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang optimalnya kreativitas verbal siswa-siswinya.

Siswa kelas akselerasi sebenarnya secara tidak langsung telah dilatih oleh para guru untuk mengembangkan kreativitas verbal mereka. Model pendidikan dengan kurikulum yang berbasis kompetensi juga sebenarnya sudah mendukung untuk meningkatkan tingkat kreativitas verbal mereka. Para siswa akseleran sering diperintahkan untuk membuat esai, makalah, dan menulis artikel baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Hal-hal semacam ini sebenarnya secara tidak langsung sudah memacu kreativitas verbal mereka.

Hurlock (1978) menyatakan,

“In the absence of obstacles that interfere with the development of creativity, it is reasonably safe to say the more intelligent the child the more creative the child could be. On the othe hand, it is questionable whether a child with very low intelligence could ever be more than moderately creative even in the most favorable environment.”

(22)

Pada dasarnya, tinggi rendahnya kreativitas siswa, terutama kreativitas verbalnya, tidak hanya ditunjukkan oleh tinggi rendahnya inteligensinya ataupun jenis kelasnya, tetapi lebih kepada kesempatan yang diberikan guru kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas verbal mereka dan lingkungan sekitar yang ikut mendukung berkembangnya kreativitas verbal mereka.

Pentingnya peran guru dalam pengembangan kreativitas siswa baik program aksselerasi maupun reguler senada dengan Torrance, yang mengatakan bahwa ketika guru menerima pertanyaan yang tidak konvensional, memuji ide yang orisinil, dan berhenti membandingkan semua yang anak lakukan, siswa akan lebih kreatif dan berperilaku baik (Papalia and Olds, 1995).

Dalam penelitian ini, memang tingkat kreativitas verbal siswa akselerasi lebih tinggi daripada siswa kelas reguler, tetapi kreativitas tidak hanya berupa kreativitas verbal saja, karena juga terdapat kreativitas figural. Dimungkinkan terdapat perbedaan tingkat kreativitas figural antara kedua jenis kelas ini. Hal ini merupakan salah satu kelemahan penelitian ini, karena hanya mengungkap satu jenis kreativitas saja, yaitu kreativitas verbal, bukan kreativitas secara keseluruhan yaitu kreativitas verbal dan figural.

Kesimpulan

(23)

reguler. Siswa kelas akselerasi lebih tinggi tingkat kreativitas verbalnya daripada siswa kelas reguler.

Saran

Saran kepada pihak sekolah

1. Sebaiknya sekolah menetapkan standar untuk menjadi siswa kelas akselerasi adalah harus dengan melalui tahapan-tahapan tertentu, dengan menggunakan seleksi adminsitratif, tes seleksi akademis, tes psikologi, (tes inteligensi, tes kreativitas dan

battere task commitment) yang sesuai dengan konsep anak berbakat dari Renzulli. Ditambah dengan tes wawancara, sehingga kualitas siswa akselerasi lebih dari sekedar intelektualitasnya saja.

2. Sarana dan prasarana penunjang berkembangnya kreativitas verbal bagi siswa kelas akselerasi dan kesempatan untuk mengembangkannya harus diperhatikan. Sehingga potensi kognitif mereka tidak terpendam begitu saja.

Saran kepada peneliti lain

1. Menambah variabel kreativitas figural (dari Torrance) sehingga dapat diukur kreativitas siswa secara keseluruhan.

(24)
(25)

Daftar Pustaka

Alwasilah, A. C. 2004. Pendidikan, Penabur Benih Kreativitas. Artikel. Pikiran Rakyat 9 Februari 2004

Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Pedoman Penyelenggara Program Percepataan Belajar (SD, SLTP, dan SMU). Jakarta: Direktorat PLB Ditjen Dikdasmen

Dinas Pendidikan Dasar dan Menegah Departemen Pendikan Nasional. 2004. Peningkatan Kualitas Pendidikan Pada Sekolah Penyelenggara Akselerasi Belajar Di SD, SLTP dan SMU. http://www.dikdasmen.depdikanas.go.id

Dryden, G. & Vos, J. 2002. Revolusi Cara Belajar. Bandung: Kaifa

Harre, R. dan Lamb, R. 1996. Ensiklopedi Psikologi. (Ed.) Danuyasa Asihwardji. Jakarta: Penerbit Arcan

Hawadi, R.A. 2004. Akselerasi, A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Jakarta: Grasindo

Hurlock, E.B. 1978. Child Development. 6th Edition. USA: McGraw-Hill Kartono, K. & Gulo, D. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya

Mujiran, P. 2004. Persoalan Kelas Akselerasi. Artikel. Harian Bernas 18 Maret 2004

Munandar, S.C.U. 1977. Creativity and Education: A Study of the Relationships Between Measures of Creative Thinking snd a Number of Educational Variables in Indonesian Primary and Junior Secondary School. Dissertation. Jakarta: Indonesian University.

______________. 1982. Pemanduan Anak Berbakat, Suatu Studi Penjajakan. Jakarta: CV Rajawali

(26)

Pratisto, A. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Pecobaan dengan SPSS 12. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Papalia, D.E & Olds, S.W. 1995. Human Development. USA: McGraw-Hill.,Inc.

Renzulli, J.S., Reis, S.M., & Smith, L.H. 1981. The Revolving Door Identifications. Connecticut: Creative Learning Press

Trazzara, E. 2003. Mengatasi Krisis Kreativitas Pada Anak. Artikel. Harian Pikiran Rakyat 6 April 2003.

Widyastono, H. 2000. Sistem Percepatan Kelas (Akselerasi) bagi Siswa yang Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.026 Tahun ke-6. 496-509

Wycoff, J. 2003. Menjadi Super Kreatif Melalui Metode Pemetaan-Pikiran. Bandung: Kaifa

(27)

IDENTITAS PENULIS

Nama : Asri Prahesti

Alamat Rumah : Jl. Karang Jawa RT.XI No.90

Balikpapan Kalimantan Timur 76123

Alamat Tinggal : Jalan Kaliurang KM. 5,6 Pandega Duksina CT.I No.5 Jogjakarta 55281

Gambar

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Dalam mengidentifikasi tipe kesopanan maksim dalam tuturan mahasiswa semester 6 jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya penulis berpegang pada pendapat Leech

PELNI Cabang Surabaya telah melakukan delapan tahapan strategi komunikasi pemasaran yang efektif, yakni mengidentifikasi audiens sasaran, menentukan tujuan

peneliti terlebih dahulu melakukan observasi untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya dilapangan. Selain itu juga dilakukan pencarian informasi mengenai kendala yang

Manfaat penelitian ini adalah (1) meningkatkan profesionalitas guru, memberikan informasi mengenai penggunaan model TAPPS berbasis multimedia (2) melatih agar peserta

jenis dominan pada suatu tingkat pertumbuhan tidak selalu dominan pada tingkat pertumbuhan yang lain. Jenis vegetasi pada tingkat pohon didominasi oleh Castanopsis

Seluruh data dari hasil pengamatan yang dikaitkan dengan Cobit khususnya pada 4 proses DS, maka usulan perbaikan TI dapat diberikan sesuai model standar Cobit.. Hasil

Nalar religius yang bertahan di pesantren tidak bisa dilepaskan dari beberapa ciri umum yang dimiliki oleh pesantren itu sendiri, baik sebagai lembaga pendidikan Islam