• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN INVESTIGASI TINDAK KRIMINAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANAJEMEN INVESTIGASI TINDAK KRIMINAL "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN INVESTIGASI TINDAK KRIMINAL SEJARAH FORENSIK UMUM DAN DIGITAL FORENSIK

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Yudi Prayudi, M. Kom

disusun oleh:

Subektiningsih

15917225

PROGRAM PASCA SARJANA TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

(2)

SEJARAH FORENSIK UMUM DAN FORENSIK DIGITAL

I. Sejarah Forensik Umum

Forensik ini berasal dari bahasa Latin, yaitu forensis yang berarti “dari luar”, dan istilah

dalam bidang ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang digunakan untuk membantu proses

penegakan keadilan melalui proses penerapan ilmu scientific method. Pada scientific Method and

Law (Hukum dan Metode Ilmiah) digunakan untuk menentukan sejarah permulaan ilmu

pengetahuan forensik, dengan mempertimbangkan evolusi proses hukum di Eropa, terutama

Inggris.

Penentuan bersalah atau tidaknya dari suatu tindak kejahatan dimulai dari peradilan

primitif melalui cobaan berat, proses inquisitorial, dan pada akhirnya ajaran dasar yurisprudensi

modern, yaitu praduga tak bersalah berdasarkan hukum Anglo-Saxon dan praduga bersalah

berdasarkan Napoleon Code. Metode ilmiah atau penyelidikan rasional menjadi bagian dari proses

peradilan pada abad ke-19, dan ilmu pengetahuan forensik berkembang dengan cepat pada abad

ke-20. Kemajuan teknologi terus mendorong pertumbuhan ilmu pengetahuan forensik. Forensik

ini juga bisa berarti sebuah bidang ilmu yang diterapkan untuk membantu proses pengungkapan

kejahatan sehingga bisa diajukan ke pengadilan.

Ilmu forensik adalah metode ilmiah yang digunakan untuk mengumpulan, memeriksa,

menyelidiki informasi. Kelompok ilmu forensic antara lain: ilmu fisika forensik, ilmu kimia

forensik, ilmu psikologi forensik, ilmu kedokteran forensik, ilmu toksikologi forensik, ilmu

psikiatri forensik, hingga komputer forensik. Dalam ilmu forensik mempelajari suatu hal yang

berhubungan dengan barang bukti. Saat menganalisis barang bukti, para ahli forensik harus

(3)

menafsirkan data, dan kemudian menarik kesimpulan yang masuk akal berdasarkan barang bukti

yang ada. Ilmu forensik bersifat aktif dan menyelidiki hingga tuntas.

Barang bukti yang sudah diamankan dari tempat kejadian perkara dan harus dilakukan uji

forensic maka proses selanjutnya dikirim ke laboratorium forensic untuk dianalisis. Selanjutnya

ahli forensik akan melakukan penggolongan, perbandingan, pengamatan, dan rekonstruksi untuk

memeriksa barang bukti. Mereka bisa bekerja “buta”, yang berarti mereka tidak mengetahui

rincian lain tentang kejahatan tersebut. Barang bukti ini kemudian ditambahkan dengan informasi

yang dikumpulkan dari para saksi.

Ilmu forensik ini telah mengalami banyak evolusi. Berikut ini berbagai evolusi Forensik :

1. Tahun 1248 adanya buku forensik pertama yang berisi catatan tentang pengetahuan medis

yang digunakan untuk memecahkan kasus kriminal.

2. Tahun 1600 dibuatnya laporan pertama Forensik Pathology tentang penyebab kematian

seseorang.

3. Tahun 1784 barang bukti dalam bentuk fisik digunakan dalam kasus criminal. Pencocokan

bukti fisik dalam kasus pembunuhan (John Toms, Inggris). Bukti bukti yang ditemukan

adanya robekan koran di pistol yang cocok dengan koran yang ada didalam sakunya.

4. Tahun 1806 adanya invertigasi kasus keracunan. Valentin Ross adalah seorang ahli

kimawan jerman yang mengembangkan metode untuk mendeteksi racun dalam perut

korban sehingga dapat membantu proses investigasi kematian yang berkaitan dengan

racun.

5. Tahun 1836 James Marsh, seorang ahli kimia dari inggris menggunakan proses kimia untuk

(4)

6. Tahun 1854-1859 Foto digunakan dalam investigasi untuk pertama kali. San Francisco

menggunakan foto untuk identifikasi kasus kriminal.

7. Tahun 1880 penemuan sidik jari. Henry Faulds and William James Herschel

mempublikasikan paper mengenai keunikan sidik jari. Kemuadin seorang ilmuwan yang

bernama Francis Galton, mengidentifikasikan pola sidik jari.

8. Tahun 1887 munculnya Sherlock Holmes. Penetapan bahwa koroner dapat digunakan

untuk menentukan penyebab kematian tiba-tiba, kekerasan dan ketidakwajaran kematian

sesorang. Arthur Conan Doyle juga menerbitkan cerita pertama Sherlock Homes.

9. Tahun 1892 digunakannya sidik jari dalam kasus kriminal. Juan Vucetich, seorang perwira

polisi Argentina menggunakan sidik jari sebagai bukti dalam penyelidikan pembunuhan.

Dia menciptakan sistem identifikasi sidik jari yang disebut daktiloscopy.

10.Tahun 1901 penyelidikan golongan darah. Karl Landsteiner mengelompokkan golongan

darah manusia ABO dan disesuaikan untuk digunkaan pada noda darah melalui Dieter Max

Richter. Dan Identifikasi pola sidik jari oleh Galton Henry system secara resmi digunakan

di Skotlandia.

11.Tahun 1903 identifikasi pola sidik jari oleh Galton Henry system secara resmi digunakan

di Skotlandia.

12.Tahun 1909 hadir sekolah forensik pertama didirikan oleh Rodolphe Archibald Reiss di

swiss.

13.Tahun 1910 penggunaan rambut dalam dunia forensik. Victor Balthazard and Marcelle

Lambert mempublikasi penelitian pertama tentang rambut. Dalam penelitiannya juga

mencantumkan kasus pertama yang mlibatkan rambut.

(5)

15.Tahun 1930 prototype polygraph, merupakan alat deteksi kebohongan yang diciptakan

oleh John Larson pada tahun 1921, dikembangkan dan digunakan di kantor polisi.

16.Tahun 1932 FBI membangun laboratorium forensik terkemudka didunia.

17.Tahun 1960 penggunakan rekaman suara yang dijadikan barang bukti di pengadilan.

18.Tahun 1967 FBI mendirikan National Crime Information Center.

19.Tahun 1974 teknologi yang di kembangkan oleh Aerospace Corporation yang dapat

menunjukan seberapa dekat tersangka dengan psitol yang digunakan.

20.Tahun 1975 FBI memasang pembaca sidik jari pertama.

21.Tahun 1979 Royal Canadian Mounted Police yang pertama kali menerapkan sistem

identifikasi sidik jari ortomatis.

22.Tahun 1984 Sir Alec Jeffreys mengembangkan teknik sidik jari DNA. Bahwa setiap DNA

setiap manuasia berbeda – beda.

23.Tahun 1987 penggunaan DNA dalam pengungkapan kasus criminal.

24.Tahun 1996 National Academy of Sciences mengumumkan bukti DNA dapat diandalkan

dalam proses penyelidikan.

25.Tahun 1999 FBI membangun sistem identifikasi sidik jari otomatis dan terintegrasi.

26.Tahun 2001 teknologi mempercepat waktu dalam identifikasi DNA dari 6 hingga 8 minggu

menjadi 1 hingga 2 hari.

27.Tahun 2007 Britain layanan ilmu forensik mengembangkan sistem pengkoden dan deteksi

alas kaki online.

28.Tahun 2008 Ilmuwan memvisualisasikan sidik jari yang telah dibersihkand dapat dideteksi

(6)

29.Tahun 2011 Universitas Negeri Michigan mengembangkan software yang secara otomatis

dapat mencocokan gambar yang sesuai dengan sketsa wajah yang tersimpan dalam databse.

Peneliti jepang mengembangkan sitem pencocokan x-ray gigi. Sistem ini secara otomatis

menyesuaikan x-ray gigi dalam databse.

II. Forensik Digital

Judd Robin yang juga seorang ahli komputer forensik dalam Abdullah (2007) juga menyatakan bahwa “komputer forensik merupakan penerapan secara sederhana dari penyelidikan

komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin”.

Digital forensik adalah kombinasi disiplin ilmu hukum dan pengetahuan komputer dalam

mengumpulkan dan menganalisa data dari sistem komputer, jaringan, komunikasi nirkabel, dan

perangkat penyimpanan sehingga dapat dibawa sebagai barang bukti di dalam penegakan hukum.

(Budhi Santoso).

Pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa digital forensik adalah

penggunaan teknik analisis dan investigasi untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, memeriksa

dan menyimpan bukti atau informasi yang secara magnetis tersimpan/disandikan pada komputer

atau media penyimpanan digital sebagai alat bukti dalam mengungkap kasus kejahatan yang dapat

dipertanggungjawabkan secara hokum. Digital forensik juga merupakan salah satu cabang ilmu

forensik yang berkaitan dengan bukti legal yang ditemui pada komputer dan media penyimpanan

digital. Barang bukti yang berasal dari komputer telah muncul dalam persidangan hampir 30 tahun.

Awalnya, hakim menerima bukti tersebut tanpa melakukan pembedaan dengan bentuk bukti

lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi komputer, perlakuan serupa dengan bukti tradisional

(7)

Bukti komputer mulai masuk kedalam dokumen resmi hukum lewat US Federal Rules of

Evidence pada tahun 1976. Selanjutnya dengan berbagai perkembangan yang terjadi muncul

beberapa dokumen hukum lainnya, antara lain adalah The Electronic Communications Privacy Act

tahun 1986, berkaitan dengan penyadapan peralatan elektronik. The Computer Security Act tahun

1987 yang berkaitan dengan keamanan sistem komputer pemerintahan. Economic Espionage Act

tahun 1996 berhubungan dengan pencurian rahasia dagang.

Pembuktian dalam dunia maya memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini dikarenakan sifat

alami dari teknologi komputer memungkinkan pelaku kejahatan untuk menyembunyikan jejaknya.

Karena itulah salah satu upaya untuk mengungkap kejahatan komputer adalah lewat pengujian

sistem dengan peran sebagai seorang detektif dan bukannya sebagai seorang user. Kejahatan

computer (cybercrime) tidak mengenal batas geografis, aktivitas ini bisa dilakukan dari jarak

dekat, ataupun dari jarak ribuan kilometer dengan hasil yang serupa. Secara umum kebutuhan

digital forensik dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Keperluan investigasi tindak kriminal dan perkara pelanggaran hukum.

2. Rekonstruksi duduk perkara insiden keamanan komputer.

3. Upaya-upaya pemulihan kerusakan sistem.

4. Troubleshooting yang melibatkan hardware maupun software.

5. Keperluan untuk memahami sistem ataupun berbagai perangkat digital dengan lebih baik.

III.Daftar Pustaka

Marcella, A. J. & Greenfiled, R. S. 2002. “Cyber Forensics a field manual for collecting, examining, and preserving evidence of computer crimes”, Florida: CRC Press LLC.

Prayudi, Y & Afrianto, D. S. 2007. Antisipasi Cyber Crime menggunakan Teknik Komputer Forensik.

Referensi

Dokumen terkait