• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Sarasehan Cerdas Budaya Perspe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Prosiding Sarasehan Cerdas Budaya Perspe"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING SARASEHAN NASIONAL

DALAM RANGKA TAPAK LACAK WAKTU MENURUT SUNDA

DI TAHUN

KEUYEUP

1950 CAKA SUNDA

CERDAS BUDAYA

PERSPEKTIF TOKOH

MUSEUM KONPERENSI ASIA-AFRIKA

GEDUNG MERDEKA BANDUNG

Jl. Asia-Afrika No. 65 Bandung

Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi

Anggara Pahing, 11 Suklapaksa Asuji 1949 Caka Sunda

RINGKASAN

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)." (QS An-Nahl : 12)

Pada masa lalu, saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, waktu berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka, gejala alam adalah cerminan lintasan waktu.

Jauh sebelum adanya pertanda waktu modern seperti yang saat ini kita pakai sehari-hari, nenek moyang manusia di muka bumi, termasuk nenek moyang karuhun Sunda, telah mengenal pertanda waktu dengan memanfaatkan gejala-gejala alam yang dilihat, didengar, dan dirasa, misalnya: terbit dan terbenamnya benda-benda di langit, terang dan gelapnya hari, pasang dan surutnya air laut dipantai, berbunga dan berbuahnya tanaman, berpindah dan berbiaknya makhluk hewan, dan lain sebagainya (Sobirin, 2011).

Adanya arus modernisasi, dikuatirkan akan mengikis wujud kebudayaan tradisional yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan nasional bangsa Indonesia. Persoalan yang kemudian timbul adalah ketika fenomena ini dihadapkan pada realita masyarakat yang cenderung tidak memiliki keantusiasan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan tradisional yang dimilikinya. Demam globalisasi seolah-olah membuat masyarakat lupa bahwa mereka memiki harta yang tak ternilai harganya.

Waktu terus berjalan dari dulu hingga sekarang, melintasi peristiwa-peristiwa besar dan kecil yang mengubah bentang alam dan peri kehidupan makhluk di muka bumi. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi karena alami dan karena ulah perilaku manusia.

(2)

sebaik-baiknya. Berbagai tantangan harus dicermati dan dijawab dengan strategi-strategi yang matang agar berarti bagi perjuangan gerakan citra kebudayaan di Indonesia.

Permasalahannya adalah, dari arah mana kita akan menemukan simpul revitalisasi nilai-nilai lokal untuk mengembalikan citra kebudayaan nasional saat ini untuk kembali menatanya dari proses kehancuran peradaban?

Dari pertanyaan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya (lebih) banyak manusia yang merasa tidak pas dengan citra kebudayaan yang dikukuhkan dalam program-program acara yang ditampilkan di media massa, karena citra yang ditampilkan adalah sebuah rekayasa penggambaran kenyataan yang pseudo-realistic, bukan mencerminkan realitas aslinya di masyarakat. Namun demikian, harus diakui pula bahwa di kalangan budayawan sendiri masih ada yang "terjebak", sehingga sering kali menjadi rancu dalam mengartikan antara "keimanan" (kodrati) dengan "keyakinan" (konstruksi). Pada titik inilah kemudian Sarasehan Nasional “Cerdas Budaya Perspektif Tokoh” menjadi penting untuk diselenggarakan.

Acara yang dilaksanakan dalam rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda di Tahun Keuyep 1950 Caka Sunda ini diselenggarakan atas gagasan dan pemikiran akan pentingnya pemahaman budaya sebagai identitas dan jati diri sebuah bangsa, bahwa kebudayaan tradisional merupakan akar dari refleksi perkembangan peradaban kehidupan masyarakat di dunia, begitu pula di Indonesia. Mengingat keberadaan budaya daerah bangsa Indonesia yang pusparagam menjadikan khazanah tersendiri yang harus dilestarikan keberadaannya secara terus menerus oleh seluruh entitas bangsa ini. Patut disadari dan dibanggakan sebenarnya kepusparagaman budaya dalam diversitas yang kita miliki selama ini sebagai perwujudan dan pengejawantahan nilai-nilai kebhinekaan yang diinternalisasikan dalam falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan bentuk indahnya kebersamaan dalam berbagai latar belakang yang berbeda guna menyongsong kesatuan dan persatuan bangsa yang tercipta dari berbagai perbedaan latar belakang yang tidak mungkin akan bisa dielak dan dipisahkan dalam sejarah perjalanannya.

Kegiatan yang di desain dengan orintasi pembumian pemahaman tentang pentingnya memegang budaya lokal bagi masyarakat sehingga nantinya masyarakat akan memiliki kesadaran (civil conciousness) serta kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah. Ketika atmosfer semacam ini sudah terbangun maka kebudayaan di Indonesia akan menjadi media pengejawantahan tata hidup berbangsa dan bernegara yang beradab dan bermartabat. Oleh karena itu pengubalan dan pelaksanaan dasar kebudayaan kebangsaan adalah perlu bagi Negara Indonesia yang sedang membangun dan yang mempunyai penduduk pusparagam yang mengamalkan budaya dalam tradisi yang berbeda-beda.

Dasar ini dapat menjadi garis panduan dalam membentuk serta mewujudkan satu bangsa yang bersatu padu sebagai jati diri bangsa yang berdaulat atas budayanya sendiri di kalangan dunia antar bangsa. Namun demikian pelaksanaannya adalah rumit dan tidak dapat dicapai dalam masa yang singkat. Kesadaran dan kefahaman yang luas akan dapat membantu tercapainya hasrat dan cita-cita pelaksanaan dasar ini karena dengan keinsafan itu kebudayaan kebangsaan akan dapat dibedakan dengan kebudayaan kesukuan atau kebudayaan kaum. Kebudayaan yang dipupuk itu akan mencirikan sifat-sifat persamaan yang melampaui batas-batas suku kaum dan memperlihatkan kepribadian kebangsaan Indonesia itu sendiri sebagai sebuah Negara yang merdeka dan berdaulat.

Kekaguman kita ke masa lalu yang terlalu berlebihan telah membutakan akal sehat. Berbagai kebajikan masa lalu yang sesungguhnya hanya produktif untuk diterapkan pada zamannya kita telan mentah-mentah menjadi kebijakan masa kini. Padahal zaman sudah berubah. Apa yang bagus di masa lalu belum tentu bagus pula di masa kini. Apa yang sangat berguna di masa lalu mungkin justru tak bermanfaat apa-apa jika diterapkan di masa kini. Itulah yang kita lupakan.

(3)

itu sama sekali tak cocok lagi untuk diterapkan di masa kini. Kita lupa bahwa apa yang produktif di masa lalu mungkin bias menjadi sangat kontraproduktif di masa kini. Apalagi bagi masa depan. Diperlukan kecerdasan dalam memahami kembali kearifan lokal yang terkandung dalam petatah-petitih dan kata-kata mutiara itu. Diperlukan upaya revitalisasi agar kearifan lokal itu tetap aktual serta memiliki vitalitas tinggi. Revitalisasi kearifan lokal serta nilai-nilai budaya pada umumnya perlu dilakukan melalui langkah-langkah (1) inventarisasi, (2) reorientasi dan (3) reinterpretasi.

Romantisme masa lalu yang sangat kuat membuat kita mudah yakin bahwa apa yang disebut nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur dari generasi ke generasi itu seluruhnya bernilai luhung atau bahkan adiluhung. Kita tak berani lagi berpikir jernih bahwa apa yang sekarang kita sebut nilai-nilai budaya itu merupakan kesepakatan di antara orang-orang yang hidup pada kurun waktu yang sama. Kesepakatan itu penting untuk dijadikan pedoman bersama dalam menempuh kehidupan pada masanya.

Dengan melakukan inventarisasi kita akan dapat memisahkan nilai budaya yang bersifat produktif dari "nilai budaya" yang kontraproduktif. Kita bisa memilih mana nilai budaya yang bukan saja relevan dengan kepentingan masa kini melainkan juga bermanfaat bagi kepentingan masa depan. Sebaliknya, kita bisa menyingkirkan apa yang selama ini kita anggap sebagai "nilai budaya" tetapi ternyata tak bermakna apa-apa atau bahkan hanya menjadi penghambat gerak maju belaka.

"Nilai-nilai budaya" yang nyata-nyata bersifat kontraproduktif mengapa pula harus tetap dipertahankan, apalagi diwariskan kepada generasi kemudian. Lupakan! Buang jauh-jauh dari khasanah pemikiran agar tidak menjadi hambatan. Yang perlu kita wariskan dalam proses pewarisan nilai-nilai kepada generasi mendatang adalah "nilai-nilai budaya" yang mampu memotivasi generasi masa datang untuk meraih kemajuan. Yang harus kita wariskan adalah nilai-nilai budaya yang nyata-nyata berorientasi ke masa depan dan bukan ke masa lalu yang tak bakal kembali itu. Sebab, keengganan berorientasi ke masa depan merupakan salah satu hambatan pembangunan, sebagaimana dikemukakan Koentjaraningrat (1971). Oleh karena itu, segala bentuk kearifan lokal yang berdasarkan hasil inventarisasi masih kita anggap bermanfaat, harus kita orientasikan bagi kepentingan masa depan. Reinterorientasi terhadap kearifan lokal yang terkandung dalam petatah-petitih dan kata-kata mutiara itu perlu dilakukan agar kearifan lokal tersebut tetap kontekstual dengan kepentingan masa kini serta dapat diimplementasikan bagi kepentingan masa depan. Romantisme masa lalu seringkali membuat kita tidak ingat bahwa kita harus melangkah ke masa depan dan bukan cuma memaku pandang ke masa silam. Kebajikan yang berbunyi ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala sajeungkal, tentu mengandung makna bahwa orientasi ke masa depan haruslah lebih jauh jaraknya dan kuat tarikannya dibanding orientasi ke masa silam.

Langkah berikut dalam konteks revitalisasi nilai adalah reinterpretasi, yaitu menginterpretasi ulang makna-makna yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut agar tetap produktif. Reinterpretasi itu penting, sebab kearifan lokal yang berbentuk petatah-petitih dan kata-kata mutiara yang dimaknai oleh leluhur kita di masa lalu. Pemaknaan kearifan local oleh para leluhur kita itu tentulah mereka sesuaikan dengan konteks zamannya. Reinterpretasi tidaklah mengandung arti bahwa kita bebas memelintir makna, sebagaimana sering kita lakukan terhadap kearifan silih asah silih asih silih asuh yang terkenal itu. Kearifan yang bernilai abadi, yang pemaknaannya seringkali dipelintir sesuai dengan kepentingan penggunanya.

Masa lalu bukanlah tujuan. Masa lalu hanyalah sekadar menjadi inspirasi. Orientasi haruslah ke masa depan, agar kita tak ditinggalkan peradaban. Kerinduan ke masa lalu yang jaya haruslah dijadikan motivasi untuk meraih kejayaan itu kembali. Motivasi, bahwa leluhur kita pernah mampu membangun kejayaan. Dan kemampuan itulah yang sepatutnya menginspirasi kita untuk tidak diam berpangku tangan dalam berusaha meraih kejayaan itu kembali.

(4)

gambaran dari apa yang benar-benar mereka alami/saksikan secara langsung. Di tengah keprihatinan yang mendalam dan meluas itu muncul wacana multikulturalisme sebagai alternatif solusi untuk memulihkan nilai kebhinnekaan sebagai modal sosial untuk menata dan membangun kembali kehidupan bersama.

Kebhinnekaan merupakan ciri dasar negara-bangsa Indonesia sejak Republik ini dibentuk kemudian diproklamasikan oleh para founding fathers pada paruh kedua abad silam hingga kini. Secara geografis Republik ini terdiri atas lebih dari 13.500 pulau besar-kecil yang tersebar di sekitar katulistiwa. Secara kultural ia terdiri atas lebih dari 300 kelompok etnik meliputi baik yang berasal-usul lokal-indigenus maupun pendatang. Lebih dari 16 rumpun bahasa dan ratusan dialek, serta berbagai agama. Keterkaitan komunitas etnik dengan bahasa dan agama di berbagai pelosok Tanah Air telah mengukuhkan corak kebhinnekaan Republik ini. Itu pun masih dikukuhkan lagi oleh kebhinnekaan perseorangan masing-masing anak negeri yang kini berjumlah lebih dari 200 juta jiwa. Dalam kehidupan bersama kebhinnekaan bisa menjadi berkah atau sebaliknya sumber bencana tergantung cara kita memandang dan mengelolanya.

Sepanjang sejarah perjalanan Republik Indonesia, setidaknya bisa dibedakan beberapa cara bangsa-negara ini secara de facto memandang dan mengelola kebhinekaan, yang masih tetap berada di persimpangan antara menjadi Indonesia atau menjadi bangsa dengan budaya campuran. Jati diri keindonesiaan kita tumbuh dari budaya hibrida. Maka daripada itu, sebagai gagasan cerdas budaya, Observatorium Bosscha ITB di Lembang sebagai cagar budaya dapat kita lengkapi dengan Ancient Astronomy of Nusantara.

Lantaran abstraksi diatas itulah, Badan Pengurus Yayasan BESTDAYA mengetengahkan acara sarasehan bermaksud mengajak semua elemen bangsa untuk mengetahui akan signifikansi Cerdas Budaya tersebut guna menjaga jati diri dan ciri khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Kegiatan Sarasehan yang dirajut dengan pendekatan adat dan budaya dengan melibatkan kalangan akademisi dan praktisi astronomi, budaya, hukum, sosial politik, sejarah dan budaya ini bertujuan mewujudkan lingkungan yang kondusif dan favourable ke arah peningkatan pemahaman partisipasi potensi masyarakat dan kecerdasan berbudaya dalam upaya merekomendasi format Nusantara sebagai Gerbang Utama Era Keemasan Nusantara Jaya.

Marilah kita melangkah ke masa depan, merajut Adat yang terpencar agar gerbang utama era keemasan Nusantara Jaya menjadi berujud nyata sesuai dengan harapan!

********

Dibawah langit yang satu dan dibawah bumi yang satu, maka kita memiliki nilai yang satu.

Didalam masyarakat berbudi luhur, untuk dapat menjadi seorang negarawan (Maharaja) yang handal setiap manusia harus memulainya dengan mengembangkan sikap ”berbicara benar”,

bila membuat komitmen ucapannya bisa dipegang.

Maharaja, arti sesuai pesan metafisis awalnya adalah Negarawan, yaitu (1) benar-benar berwibawa dan memiliki pembawaan sebagai negarawan; (2) ahli strategi dan pengatur siasat; (3) mau mendengar pendapat orang lain, terutama masyarakat kecil, khususnya mereka yang menderita, lemah dan tidak

berdaya, seperti orang miskin, perempuan dan anak-anak; (4) melihat dengan mata hati, mendengar dengan hati nurani/sanubari.

(5)

KATA PENGANTAR

Dia (Allah) yang menjadikan matahari memancarkan sinar dan bulan memantulkan cahaya, dan Dia menentukan tahap-tahap peredarannya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan hal itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan

ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang berpengetahuan” (Al-Qur’an, Surat Yunus ayat 5).

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu

Wata’ala atas limpahan taufik dan hidayah-Nya, dan salam kepada Rasullullah Nabi Besar Muhammad SAW, atas pribadi luhurnya telah memotivasi penulis sehingga buku Prosiding Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi (Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) bertempat di Gedung Merdeka, Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung dapat terwujud. Dan semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah, SWT untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari. Amin.

Kegiatan Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi (Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) ini merupakan “kegelisahan” perjalanan panjang dari Bengkel Studi Budaya (BESTDAYA), sebagai wujud dari rasa tanggung jawab sebagai insan budaya kepada masyarakat disekitarnya, sehingga dapat mempercepat tercapainya tujuan pembangunan nasional dalam nuansa budaya yang berbasis kearifan lokal, serta meningkatkan pelaksanaan misi dan fungsi sistem perhitungan waktu yaitu pemgembangan ruhuddin yang mencerminkan citra dalam memperkokoh jatidiri bangsa.

Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah untuk memberi kontribusi kepada masyarakat tentang mewujudkan Indonesia Cerdas Budaya sebagai upaya mensosialisasikan nilai-nilai kearifan budaya bangsa.

Dari paparan kata pengantar ini hal menarik yang patut diperhatikan adalah bagaimana hubungan Kekayaan Kandungan Astronomi dalam Sejarah Penanggalan Nusantara yang merupakan pusaka dan identitas budaya bangsa Indonesia. Dan merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya yang diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk mencari titik temu dalam permasalahan-permasalahan bangsa yang ada saat ini melalui kearifan-kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Hampir semua etnis di Nusantara yang memiliki sistem penanggalan, yang pada umumnya didasarkan pada perputaran matahari, perputaran bulan, bintang, binatang, dan fenomena alam. Hal ini tidak lepas dari faktor-faktor sosio-geografis serta sosio-kultural yang mempengaruhi masing-masing etnis.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbhineka tunggal ika. yang telah mampu berpikir dengan melibatkan siklus waktu, artinya telah mampu berpikir secara ilmiah dan menjadi tonggak waktu bangsa Nusantara mulai berpikir ilmiah.

Dalam pada itu, kebudayaan tidak bakal bergerak tanpa adanya diskusi dan perdebatan. Disusunnya buku Prosiding Sarasehan Nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi (Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda), merupakan sebuah upaya untuk mengembalikan gagasan-gagasan kebudayaan bangsa Nusantara mulai berpikir ilmiah.

(6)

harapan, bahwa boleh jadi membicarakan perkara budaya Nusantara pada masa sekarang ini sangatlah penting dan mendesak untuk dilakukan. Sebab, menjadi keperluan kita semua untuk mencari tahu dari visi budaya macam apa, tiba-tiba pertumpahan darah dan kekerasan menjadi bagian yang menakjubkan dan seolah-olah sah dalam kebudayaan kita belakangan ini. Kerusakan lingkungan dan kurang pedulinya kita kepada planet bumi yang kita huni. Adakah itu semua memang merupakan bagian yang sah dalam budaya dan jatidiri kita sebagai sebuah bangsa? Adakah itu sisa kutukan dari kesewenang-wenangan penguasa (dan kita) pada kearifan budaya Nusantara yang sudah tidak memperhatikan Tata Wayah, Tata Wilayah dan Tata Lampah?

Masa depan Indonesia dengan berbasis kearifan budaya lokal mungkin saja baik, lebih cemerlang dari semua yang pernah kita impikan, namun mungkin yang terjadi sangat buruk, sesuatu yang belum pernah kita bayangkan, bahkan dalam mimpi-mimpi buruk kita sekalipun.

Pertemuan dalam bentuk Sarasehan Nasional ini merupakan salah satu dari berbagai wacana kearifan budaya lokal, yang kesemuanya mencari berbagai formulasi antisipasi eskalasi potensi konflik masa depan sebagai sinergi memperkokoh jati diri bangsa. Buku prosiding ini memuat latar belakang pemikiran dan tujuan kegiatan Sarasehan, pelaksanaan acara Sarasehan, makalah pembicara/narasumber, serta lampiran berkaitan dengan tema acara yang dikumpulkan dan ditata oleh tim dalam kepanitiaan Sarasehan nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini akan disebarkan kepada seluruh masyarakat, sebagai bahan diskusi publik. Rangkaian kegiatan ini tentunya tidak terlepas dari dukungan semua pihak. Untuk dukungan ini, diucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini. Secara khusus saya sampaikan terima kasih kepada Bapak Thomas Ardian Siregar, Kepala Pengelola Gedung Merdeka, yang telah memfasilitasi dan memberi kemudahan tempat pelaksanaan kegiatan Sarasehan ini. Juga

Uwa Runayat Natadipoera, sesepuh Sunda di Bandung, yang sudah berkenan memberikan

sambutan dan sekaligus membuka acara Dalam Rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda Di Taun Keuyeup 1950 Caka Sunda pada Selasa, 8 Oktober 2013 Masehi (Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bulan Asuji 1949 Caka Sunda) ini.

Bapak Jenderal TNI (Purn) H. Djoko Santoso (Mantan Panglima TNI); YMK.R.A.T Mas’ud

Thoyib Adiningrat (Sekjen Yayasan Raja Sultan Nusantara – YARASUTRA); Bapak dr. Teddy

Hidayat, SpKJ (Psikiater, Bagian Psikiatri RS Hasan Sadikin Bandung); Ibu Miranda Risang Ayu, LL., Ph.D (Kepala UPT HKI Universitas Pajajaran); Ray Sahetapy (aktor senior, yang tetap konsisten menggelorakan semangat Gagasan Kebangkitan Nusantara); di tengah kesibukan mereka masih berkenan hadir berpartisipasi menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai Narasumber dalam acara Sarasehan nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini.

Juga kepada Prof. Dr. Suhardja. D. Wiramihardja (Kelompok Keahlian Astronomi ITB); Dr.

Ir. Mubiar Purwasasmita (Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan

Tatar Sunda - DPKLTS); Dr. Ir. H. Moedji Raharto (Kelompok Keahlian Astronomi ITB); YM

Pangeran Hempi Raja Kaprabonan X (Keraton Kaprabonan Cirebon); Dra. Hj. Mira

Rosana Gnagey, M.Pd (Badan Musyawarah Masyarakat Sunda - BAMUS); Rachma Cupita

Dewi (Lady Astro); Drs. Nandang Rusnandar, M.Si (Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung); Dra. Itje Sandra Suminar, M.Pd, (Konsultan PAUDNI Kemendikbud RI); dan Ir.

Supardiyono Sobirin (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda - DPKLTS)

yang sejak awal memberi perhatian yang begitu besar sebagai Pengarah Materi Sarasehan dimana usulan kegiatan ini pertama kali diproses, serta seluruh sivitas Yayasan BESTDAYA yang berkenan hadir menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai Narasumber dan Moderator serta memandu acara dari awal hingga akhir acara Sarasehan nasional Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini.

(7)

Dan seluruh staff karyawan Pengelola Gedung Merdeka dan Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung yang telah banyak membantu dalam suksesnya kegiatan Sarasehan ini.

Semoga buku prosiding ini dapat memberi kemanfaatan bagi kita semua, untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai kearifan budaya. Di samping itu, diharapkan juga dapat menjadi referensi bagi upaya pembangunan karakter bangsa yang Cerdas Budaya.

Terakhir, tiada gading yang tak retak. Mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan. Saran dan kritik yang membangun tetap kami tunggu demi kesempurnaan buku prosiding ini.

Sebagai ucapan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan seminar dan kumpulan makalah dalam risalah seminar serta sekaligus sebagai penutup Kata Pengantar laporan akhir kegiatan ini, penyusun menadahkan kedua tangan mohon maaf atas segalanya sembari ber do‟a kehadirat Allah swt. Dzat Yang Paling Belas Kasih dalam Memelihara Langit dan Bumi:...

„Allah ya Robbi, Tuhan kami, beri kami bagian seimbang dalam menjalankan tugas kami dan beri kami kemampuan untuk mendistribusikan secara seimbang dan adil segala yang kami terima dari - Mu, yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan masukkan kami dalam rahmat kasih sayang- Mu, karuniailah kami keikhlasan, keteguhan (istiqomah), mencintai Allah dan mencintai orang yang mencintai-Mu”.

Amin ya Rabb

Dzat Yang Paling Belas Kasih dalam Memelihara Langit dan Bumi

Wassalamu „alaikum „warrahmatullahi „ wabarakatuh

Salam BESTDAYA Penyusun,

(8)

DAFTAR ISI

EXECUTIVE SUMMARY ... ii

KATA SAMBUTAN ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

I. LATAR BELAKANG KEGIATAN... 1

II. TUJUAN ... 2

III. ORGANISASI PELAKSANAAN KEGIATAN ... 2

1. Waktu dan Tempat ... 2

2. Kepanitiaan dan Jadwal Acara... 2

IV. PESERTA SARASEHAN ... 2

V. PELAKSANAAN SARASEHAN ... 3

1. Acara Pembukaan ...

2. Presentasi Materi oleh Pembicara dan Diskusi Panel ...

3. Focus Grup Discussion ...

VI. HASIL/RUMUSAN SARASEHAN ...

LAMPIRAN ...

Lampiran 1. Kepanitiaan, Undangan dan Jadwal Acara

Lampiran 2. Daftar Peserta

Lampiran 3. Materi Laporan dan Sambutan

Lampiran 4. Materi Presentasi Pembicara/Narasumber  Cerdas Budaya Perspektif Akademisi

 Cerdas Budaya Perspektif Sosial Politik, Perempuan, Astrologi, dan

Sejarah

 Cerdas Budaya Perspektif Keraton, Astro-Environment, Gagasan

Nusantara, dan Kesehatan Jiwa

Lampiran 5. Foto Dokumentasi

(9)

I. LATAR BELAKANG KEGIATAN

Menapaki Perjalanan Sunda

Menurut Plato, Atlantis kota yang sangat maju berada di sebuah pulau sekitar 9.000 tahun yang lalu. Wilayahnya meliputi wilayah Asia sampai Libya, dengan istana-istana mewah, berlimpah emas dan perak, dan merupakan tempat yang tanah dan iklimnya terbaik di dunia. Penelusuran Google Earth kota yang hilang itu berada sekitar 620 mil di lepas pantai barat laut Afrika, di dekat Kepulauan Canary di Samudera Atlantik.

Tulisan Plato ini yang menginspirasi Profesor dari Brazil Aryso Santos melakukan penelitian selama 30 tahun dan akhirnya menyimpulkan The Lost Atlantis itu adalah Indonesia.

Aryso Santos sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia adalah The Lost Atlantis setelah meneliti 33 bukti selama 30 tahun. Ke-33 bukti itu antara lain adalah luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani dan lain sebagainya.

Plato pula yang menginspirasi Profesor Stephen Oppenheimer dari Oxford University untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan mencapai kesimpulan yang semakin mengerucut bahwa The Lost Atlantis itu adalah Sundaland, atau Tatar Sunda.

Bila Aryso Santos mendasarkan penelitiannya pada kondisi alam dan prilaku tampak luar masyarakatnya, maka Oppenheimer melakukan analisis DNA (deoxyribo nucleic acid) sejenis asam nukleat yang menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel.

Profesor Stephen Oppenheimer menjadi terkenal di Asia Tenggara setelah menerbitkan buku yang mengguncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi berjudul, ”Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia”. (Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara). Buku ilmiah yang terbit pada tahun 1998 itu diramu dari pengalamannya menjadi dokter di sejumlah negara di Pasifik dan Asia Tenggara.

Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, Oppenheimer mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi ke mana-mana, ke Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan selanjutnya menurunkan ras-ras yang baru.

Dari buku Oppenheimer inilah pula kemudian terjadi penjungkirbalikan konsep yang mengatakan bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia. Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi.

Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya zaman es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode 14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia itu.

Oppenheimer juga melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang, kata Oppenheimer, orang-orang Eurasia punya mitos tentang banjir besar itu. Mitos itu, jelas Oppenheimer, diturunkan dari nenek moyangnya, yakni orang-orang yang datang dari Sundaland.

(10)

berkesudahan. Namun Oppenheimer yakin pada hipotesisnya. Dia bahkan datang ke Indonesia menjelaskan logika hipotesisnya.

Oppenheimer adalah seorang dokter anak ahli genetic yang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome dan banyak mempelajari sejarah peradaban manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya tentang The Lost Atlantis itu. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia "Pairidaeza" yang arti sebenarnya adalah Taman. Menurut Oppenheimer, munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.

Dalam tulisan ilmiah Oppenheimer tersebut, disinyalir Sunda pernah mendunia. Salah satu penetrasi budaya yang menjadi kontribusi Sunda dalam distribusi global (keluar wilayah Sunda) adalah tradisi sunat, terutama bagi laki-laki.

Tradisi sunat di Sunda ini telah mempengaruhi daerah : Mediterania Timur, Sub-Sahara Afrika, Teluk Persia, Afrika Timur, Timur Dekat Kuno (termasuk Mesir), Nugini, Korea, Oseania. Di Sunda, tradisi ini diberlakukan sejak anak berusia sekitar 3 – 6 tahun. Sunat mudah diterima secara luas, karena alasan kebersihan dan kesehatan yang menjadi faktor utama. Kebersihan dan kesehatan organ vital terutama untuk pria, akhirnya menjadi tradisi di banyak tempat, dan dikodifikasi oleh agama-agama Samawi. Selain sunat, kebudayaan, gaya hidup, keahlian di bidang teknologi maritim dan pertanian juga ikut menyebar luas dari daratan tanah Sunda ke berbagai daerah yang dikunjunginya.

Dalam Thesis Sunda-nya Oppenheimer mensinyalir adanya migrasi jangka panjang dari wilayah Sunda ke berbagai wilayah lain, dengan populasi berlebih, disebabkan oleh bencana banjir. Diasumsikan, bencana inilah yang menjadi pencetus perkembangan keahlian maritim yang Adi luhung yang dimiliki masyarakat Sunda.

Maka, ekspansi Sunda diawal milenium terjadi karena kecanggihan teknologi maritimnya, untuk masa itu, termasuk di dalamnya bidang pelayaran. Teknik kelautan merupakan prasyarat bagi migrasi jangka panjang. Dibutuhkan kapal yang kokoh, besar dan mudah menembus berbagai kendala yang mungkin terjadi selama mengarungi samudra.

Oppenheimer menengarai/menandai bahwa populasi Sunda asli yang didukung oleh keahlian maritim yang handal, telah membawa peradaban (Sunda) ke Asia Selatan (wilayah sungai Indus), Asia Barat (Mesopotamia), serta menyentuh peradaban Mesir dan belahan Afrika lainnya, serta merambah hingga Eropa (termasuk di dalamnya Basque).

Peradaban yang terbentuk berekspansi dan sanggup membuat ikatan lintas budaya, beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Sistem budaya formal, seperti mitos, bahasa, seni, sistem religi, alat musik dan bentuk-bentuk musik, cara menulis dan perhitungannya, termasuk detail bukti atas tapak Sunda diberbagai wilayah perluasannya.

(11)

Babilonia menerima barang-barang dagangan dari timur untuk dibawa ke barat (Mesir). Dan dari Mesir, barang-barang dagangan ini, rempah-rempah dari tanah Sunda, diteruskan ke Eropa.

Dari sinilah orang-orang barat (Eropa) mengenal rempah-rempah. Demikian terkenalnya tanah Sunda, hingga namanya terpatri di berbagai Prasasti/tiang kota di mesir maupun Atlantis, dengan sebutan Sunsa-Dwipa. Ini membuktikan bahwa ekspansi Sunda memberi kedudukan yang kokoh untuk jangka waktu yang lama, terutama kontribusinya di dunia perdagangan.

Ikonografi, produk-produk patung, ukiran logam (perunggu), dan gerabah, juga menjadi ciri kuat keterkaitan kesinambungan penetrasi budaya Sunda di berbagai wilayah sebarannya, dalam hal ini di Afrika. Ikonografi patung-patung Afrika yakni ukiran perunggu dari Ife. Model ini pada akhirnya memberikan temuan betapa dekatnya kemiripan akan model-model ketuhanan.

Oppenheimer, yang adalah seorang dokter pedriastis/ahli genetika, justru memberi kontribusi untuk temuan ilmiah, bahwa ekspansi sunda ke barat juga membawa ikutan distribusi penyakit darah yang diturunkan secara genetis, yang dikenal dengan sebutan talasemia. Jelajah penyebaran talasemia sangat cocok dengan “hipotesa perluasan Sunda”, khususnya DNA tipe B. Talasemia disinyalir menjadi cikal-bakal penyakit malaria.

Sunda berekspansi dan pengaruhnya bertahan lama, tidak lain akibat kepandaian, keberanian dan rasa ingin tahu dalam mencoba hal-hal baru, termasuk bermigrasi. Kecerdasan intelektual yang dipadu dengan kemampuan beradaptasi (kecerdasan emosional dan adversitas), serta keyakinan akan wujud pertolongan Sang Hyang Widi (kecerdasan spiritual), merupakan landasan utama yang membentuk sosok manusia Sunda yang menempatkan diri selaras dengan alam, dan sebagai bagian dari alam. Pengaruh budaya Sunda pada dunia pada akhirnya mendorong dunia menjadi lebih berbudaya, lebih mandiri dan kemudian mampu membudayakan diri sendiri.

Thesis Sunda-nya Stephen Oppenheimer melegakan Ali Sastramidjaja yang biasa dipanggil Abah Ali (Alm. 27 Oktober 1935 – 25 September 2009), seorang Anak Bangsa Indonesia Yang Berkarya Dalam Jiwa Sunda Sesungguhnya, karena berarti tak hanya almarhum yang berhasil mengungkap penemuan kebudayaan Sunda Kuno.

Menurut Abah Ali, dalam suatu peradaban bangsa, urutannya sebagai berikut : kata –> bahasa –> tulisan –> angka dan perhitungan –> kalender

Sehingga dalam suatu peradaban bangsa, kalender tercipta dari hasil perjalanan budaya suatu bangsa yang cukup lama. Dibutuhkan setidaknya waktu 3 (tiga) millenium dalam suatu kebudayaan, barulah dapat menciptakan kalender. Maka sebelum ada kalender, kebudayaan sudah ada. Sehingga diperkirakan bahwa kebudayaan Sunda Kuno telah ada paling tidak 20.000 tahun yang lalu.

(12)

II. DASAR KEGIATAN

a. Undang‐Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pedoman Fasilitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah;

c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2007 tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat; d. Rumusan Seminar Nasional “Mengembangkan Penemuan Kekayaan Kandungan

Astronomi Klasik dalam Kebhinekaan Budaya dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Indonesia” dalam rangkaian kegiatan 2nd International Olympiad on

Astronomy and Astrophysics (IOAA), Ruang Seminar Lt. 2 Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) Bandung 26 dan 27 Agustus 2008 Masehi;

e. Rumusan Seminar Nasional “Menelusuri Sejarah Penanggalan Nusantara” Fakultas Ilmu Budaya UGM Jogjakarta pada acara Dies Natalis UGM Jogjakarta 23 Februari 2008 Masehi;

f. Rumusan Konvensi Sistem Penanggalan Nusantara, Ruang Galeri Gedung Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung, 21 Juni 2011 Masehi.

g. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2001 dan Penjelasannya jo Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2001 dan Penjelasannya Tentang Yayasan;

h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Tentang Yayasan dan Penjelasannya jo Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Tentang Yayasan dan Penjelasannya;

i. Anggaran Dasar Yayasan BESTDAYA yang tercantum dalam Akta Notaris Erny Kencanawati, S.H.,M.H Nomor: 101 tanggal 29 Juli 2013 Masehi;

j. Notulen Rapat Musyawarah Pleno Pembina dan Rapat Musyawarah Pleno Gabungan Yayasan BESTDAYA tanggal 12 September 2013 Masehi di Bandung;

k. Notulen Rapat Panitia Pelaksana Kegiatan Yayasan BESTDAYA tanggal 12 September 2013 Masehi di Bandung.

III. POKOK PERMASALAHAN

Sunda yang saat ini tereduksi menjadi enam etnis dan kebudayaan yang menempati sebagian kecil wilayah suatu negara, dahulu merupakan sebuah wilayah besar dengan kemajuan peradaban dan pengetahuannya. Migrasi ke berbagai belahan dunia, berimbas pada penyebaran budaya, keahlian hidup, perilaku (termasuk mitos), perdagangan, pertanian, penyebaran bibit tanaman dan penyakit genetis. Disadari atau tidak, kontribusi Sunda pada dunia banyak yang masih tetap dipertahankan, salah satunya adalah tradisi sunat.

(13)

Menapaki Perjalanan Kalender Sunda

Pada masa lalu, saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, waktu berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka, gejala alam adalah cerminan lintasan waktu. Jauh sebelum adanya pertanda waktu modern seperti yang saat ini kita pakai sehari-hari, nenek moyang manusia di muka bumi, termasuk nenek moyang karuhun Sunda, telah mengenal pertanda waktu dengan memanfaatkan gejala-gejala alam yang dilihat, didengar, dan dirasa, misalnya: terbit dan terbenamnya benda-benda di langit, terang dan gelapnya hari, pasang dan surutnya air laut dipantai, berbunga dan berbuahnya tanaman, berpindah dan berbiaknya makhluk hewan, dan lain sebagainya (Sobirin, 2011).

Waktu merupakan komponen yang digunakan untuk mengukur sistem urutan suatu kegiatan, untuk membandingkan lama dan jeda suatu peristiwa, untuk mengukur gerakan obyek, dan merupakan subjek utama dalam agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Pengenalan waktu adalah ukuran urutan dalam hubungannya antara suatu peristiwa dengan peristiwa lain, dalam skala detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad.

Waktu terus berjalan dari dulu hingga sekarang, melintasi peristiwa-peristiwa besar dan kecil yang mengubah bentang alam dan peri kehidupan makhluk di muka bumi. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi karena alami dan karena ulah perilaku manusia.

Waktu adalah urutan yang tidak terpisahkan dan tidak kembali, di dalamnya terjadi berbagai peristiwa secara suksesi silih berganti, berjalan linier bebas dari konsep siklik (Davies, 1970 dalam Wisnubroto, 1999). Namun Bangsa Yunani Kuno beranggapan bahwa waktu berjalan secara siklik, kehidupan akan kembali sama seperti semula bila posisi kosmos kembali kepada kedudukan semula jadi (Withrow, 1972 dalam Wisnubroto, 1999).

Pengenalan waktu ini lebih dikenal dengan istilah kalender, adalah suatu sistem untuk membagi skala-skala waktu menjadi sistem periodik yang bermanfaat. Terdapat dua macam pengenalan waktu, yaitu pengenalan waktu modern dan pengenalan tradisional.

Pengenalan waktu tradisional atau kalender tradisional adalah pengenalan waktu yang disampaikan sebagai unsur agama, sosial dan budaya yang sering dikaitkan dengan gejala-gejala alam yang terjadi, disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya secara lisan, dan hanya dipergunakan dalam wilayah lokal yang relatif sempit atau hanya dipergunakan oleh suatu bangsa atau suku bangsa tertentu. Kalender tradisional ini juga disusun atas dasar peredaran matahari dan bulan, posisi rasi bintang di langit, serta gejala-gejala alam yang terjadi, misalnya perilaku tumbuhan dan binatang pada tiap skala waktu tersebut.

Pada masa lalu, saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, waktu berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka, gejala alam adalah cerminan lintasan waktu.

(14)

Bila dikategorikan sebagai salah satu bagian dari industri dan budaya, sebagian kalangan masyarakat menilai kalimat‚ Kalender Sunda serasa janggal. Karena‚ Kalender bersifat Waktu, sedangkan Sunda berkonotasi pada suku bangsa sejak masa lalu Kerajaan Tarumanegara; dan berdasarkan penelitian Drs. R. Mamun Atmamihardja (Sajarah Sunda I, 1956) arti dan makna kata "SUNDA" dapat didekati dari uraian secara leksikografis-etimologis-heurmanetik, menghasilkan tidak kurang dari 25 (dua puluh lima) arti yang semuanya mengandung pandangan dan tujuan hidup yang cemerlang, tinggi dan indah (sebagaimana yang dirangkum dari uraian Hidayat Suryalaga, 2002).

Sedangkan obyek dari sistem penanggalan tidak melalui proses industrialisasi semacam yang pada umumnya. Sistem penanggalan (tradisional) dibuat secara terbatas dan individual. Lantas bagaimana mendefinisikan Kalender Sunda ini? Sebenarnya yang dimaksud sistem penanggalan Kalender Sunda disini bukanlah sistem penanggalan yang baru, akan tetapi suatu sistem penanggalan yang meliputi sejarah penanggalan di nusantara, aktivitas kegiatan sosial yang dipengaruhi pergerakan planet dan dikemas serta menciptakan nilai-nilai yang berfaedah bagi kehidupan masyarakat.

Sistem Penanggalan Kalender Sunda secara sederhana dapat didefinisikan sebagai metode perhitungan ketepatan waktu yang dilakukan para pendahulu kita (baca: berbagai suku-bangsa di Nusantara) dalam mengukur siklus perubahan musim yang berguna untuk penjadwalan berbagai aktivitasnya ketika itu, misalnya bercocok-tanam dan berlayar. Hal ini merupakan salah satu manifestasi kearifan lokal yang sudah semestinya diungkap, dijaga, dan dilestarikan pada praktik kehidupan masyarakat kontemporer Indonesia. Utamanya ketika bangsa Indonesia sedang diterpa gelombang besar kebudayaan Barat bernama globalisasi pada masa sekarang, sehingga perhitungan sistem penanggalan (kalender) Kalender Sunda menjadi sangat penting. Hal ini memiliki implikasi kultural sebagai, misalnya, peneguh jati diri bangsa Indonesia.

Dari penjelasan ringkas ini, kita bisa memetik beberapa hal, seperti kesepakatan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa berbhineka dan memiliki penanggalan yang beragam; masing-masing etnik memiliki system dan tahapan penanggalan lantaran kearifan lokal yang berlaku; dan suatu etnik atau bangsa yang telah mengetahui siklus hidup melalui penanggalan berarti telah mampu berpikir „ilmiah„ dan menjadi awal suatu bangsa berpikir ilmiah.

Lebih dari itu, apakah sistem penanggalan (kalender) Kalender Sunda dapat dianggap sebagai awal kebangkitan sejarah intelektual bangsa? Kendati demikian, ekspektasi dari diadakannya Kalender Sunda tak lain adalah fungsinya sebagai pemicu awal tentang sejarah penanggalan yang berbasis kearifan tradisional dan astronomi ini.

Setiap bangsa dan suku bangsa yang berbudaya di muka bumi, memiliki kalendernya masing-masing, sesuai dengan permahaman dan keyakinan yang dianutnya, misalnya kalender Romawi, kalender Arab Pra Islam, kalender Gregorian, kalender Masehi, kalender Hijriyah, kalender Imlek, kalender Jepang, kalender Jawa Pranata Mangsa, Kalender Sunda, dan lain sebagainya.

Dahulu karena peradabannya ada, maka kalendernya pun ada. Tapi ketika kebudayaan Sunda Kuno hilang, maka kalender Sunda Kuno juga hilang. Kemudian muncul kalender-kalender lain hasil kebudayaan-kebudayaan berikutnya, seperti kalender Mesir, kalender Cina, kalender India, kalender Mesopotamia dan lain-lain.

(15)

Sebuah penerjemahan kitab dan naskah-naskah kuno bagi manusia Eropa, Amerika, justru merupakan hal sangat berharga bagi mereka. Mereka justru sengaja mengeluarkan dana besar dan mengutus banyak peneliti untuk penelitian penerjemahan naskah-naskah kuno. Mereka mengejar ke negara-negara yang merupakan pusat kebudayaan kuno seperti Mesir dengan Piramida dan hierogliphnya, India dengan suku Maya dan ramalan dari manuskrip kunonya, Kamboja dengan Angkor Watnya. Aneh saja bagi bangsa kita yang mengaku bangsa berbudaya, justru hasil-hasil kebudayaan kuno kita sendiri, tidak diakui dan diterima.

LEBIH kurang 500 tahun, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab dengan masyarakatnya. Padahal, praktik “hitung-menghitung hari baik” hingga kini tetap dilakukan orang-orang Sunda yang “pandai”. Malah, orang Sunda sendiri –meski tak semuanya– merasa belum afdal jika hajat mereka (seperti pernikahan, membangun rumah, dan sebagainya) tak “dihitung” terlebih dahulu. Ternyata, proses “hitung-menghitung” itu bukan berdasarkan sistem penanggalan Sunda, melainkan sistem penanggalan Jawa hasil pengaruh dari sistem penanggalan India. Soalnya, itu tadi, sistem penanggalan Sunda tak lagi akrab pada masyarakatnya sejak kurang lebih 500 silam.

Sistem penanggalan Sunda mengenal dua macam tahun, yakni Tahun Surya dan Tahun Candra. Masing-masing tahun juga mengenal tahun pendek (Surya 365 hari; Candra 354 hari) dan tahun panjang (Surya 366 hari; Candra 355 hari). Kala Surya Saka Sunda (Tahun Surya) mengenal aturan, “tiga tahun pendek, keempatnya tahun panjang. Akan tetapi, setiap tahun yang habis dibagi 128, dijadikan tahun pendek. Akhir tahun Surya adalah ketika matahari berada di titik paling selatan”.

Kala Candra Caka Sunda (Tahun Candra) punya aturan bahwa “dalam sewindu (8 tahun), tahun ke-2, ke-5, dan ke-8 adalah tahun panjang, sisanya tahun pendek. Setiap tahun ke-120 dijadikan tahun pendek. Setiap tahun yang habis dibagi 2.400 dijadikan tahun panjang”. Kala Candra (yang dipakai dalam sistem penanggalan Sunda) memiliki keistimewaan tersendiri, yakni “ciples”. Artinya, jika awal windu (biasa disebut indung poe) Senen Manis, maka akhirnya adalah Ahad Kaliwon. Keistimewaan lainnya, indung poe baru berganti setelah 120 tahun, mulai dari Senen Manis, Ahad Kaliwon, Saptu Wage, Jumaah Pon, Kemis Pahing, Rebo Manis, Salasa Kaliwon, hingga terakhir Rebo Pahing. Jika dihitung, “kejadian” itu berlangsung dalam waktu 84.000 tahun. Artinya, pada tahun ke-84.001, indung poekembali kepada Senen Manis. Dalam perjalanan 84.000 tahun itu, sistem penanggalan Sunda juga mengenal “Dewa Taun”, yakni hari pertama dan terakhir setiap kurun waktu 2.400 tahun.

Ternyata, ketepatan Kala Candra Caka Sunda dapat diuji secara ilmiah. Hitungannya begini, dalam sewindu (8 tahun), sistem penanggalan Sunda mengenal 5 tahun pendek dan 3 tahun panjang. Dengan demikian, hitungannya menjadi (5 x 354) + (3 x 355) sama dengan 2.835 hari per windu. Selanjutnya 120 tahun sama dengan 15 windu. Dengan demikian, [(2..835 x 15)-1] sama dengan 42524 hari per 120 tahun.

Perolehan angka tersebut dibandingkan dengan perhitungan secara ilmiah. Berdasarkan ilmu astronomi, perhitungan jumlah hari dalam 120 tahun adalah 12 x 29,53059 x 120 sama dengan 4.2524,0496. Artinya, terdapat selisih 0,0496 hari dalam 120 tahun atau 0,0004133 hari per tahun.

(16)

Artinya, selisih 1 hari antara perhitungan Sunda dan Astronomi tak lagi terjadi (lunas). Untuk 2.400 tahun seterusnya, sistem penghitungan kembali ke awal.

Dari keberadaan sistem penanggalan Kalender Sunda inilah diharapkan bisa menumbuh-kembangkan kebudayaan nasional yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Keberadaan penanggalan Kalender Sunda ini selain memiliki tujuan mengembangkan kebudayaan, juga pada akhirnya adalah untuk kesejahteraan rakyat. Lantaran kita sebagai generasi penerus dapat membangun strategi kebudayaan yang tepat, memperkayah khazanah warisan budaya, serta menjadikannya inspirasi dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa. Maka diharapkan dapat menjadi semacam data sejarah titik awal kebangkitan intelektual bangsa dan sekaligus media memperkokoh identitas bangsa di tengah unity in diversity.

Upaya mengangkat dan memantapkan kembali nilai‐nilai kebangsaan bagi setiap warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sangat diperlukan sebagai jawaban atas berbagai permasalahan yang timbul khususnya menyangkut kondisi kesadaran kebangsaan yang berdasarkan beberapa hasil penelitian, mengindikasikan semakin pudarnya rasa nasionalisme sebagai bangsa. Hal ini karena masih adanya ketidaksamaan (disharmoni) peran budaya dan ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara.

Adanya ketidaksamaan peran budaya dan ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara dan antara persepsi sebagai ancaman dengan perasaan tidak atau kurang suka terhadap produk kegiatan budaya lokal (daerah) sebagaimana yang terjadi selama ini, jelas memberikan indikasi kuat bahwa pada masyarakat kita terjadi apa yang disebutkan sebagai pudarnya jati diri dan rasa memiliki sebagai bangsa. Berkaitan dengan melunturnya jati diri pada masyarakat sebagaimana yang diungkapkan di atas, pada tataran empirik di lapangan dapat dilihat secara kasat mata, beberapa gejala yang ada dan berkembang dalam masyarakat, antara lain :

a. Menurunnya kadar solidaritas sosial nasional, sebagai nilai dasar integrasi nasional ditandai dengan banyaknya konflik sosial horizontal yang begitu mudahnya terpicu oleh hal-hal yang sepele berupa sentiment-sentimen kelompok/golongan atau daerah.

b. Rendahnya penghormatan terhadap nilai-nilai pluralisme, yang seharusnya menjadi aset yang menguatkan bangsa. Hal ini dapat dilihat dari mudahnya suatu kelompok/golongan primordial masayarakat yang mendiskreditkan keberadaan kelompok/golongan lain hanya karena perbedaan-perbedaan asal-usul atau keyakinannya. Pandangan stereotype masih banyak digunakan didalam menilai hubungan antar individu ataupun kelompok.

c. Rendahnya pemahaman akan makna symbol-simbol kenegaraan, ditandai dengan penggunaan simbol/lambang yang semestinya menyiratkan persatuan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kebersamaan, justru digunakan sebagai alat pembenaran terhadap tindakan destruktif yang justru sangat menciderai nilai-nilai persatuan dan kebersamaan itu sendiri.

Pemikiran-pemikiran tentang nilai-nilai lokal untuk mengembalikan citra kebudayaan bangsa menyadarkan kita akan kompleknya persoalan kebudayaan di Indonesia. Peluang yang ditawarkan oleh masa transisi saat ini harus segera kita tangkap dan manfaatkan sebaik-baiknya. Berbagai tantangan harus dicermati dan dijawab dengan strategi-strategi yang matang agar berarti bagi perjuangan gerakan citra kebudayaan di Indonesia. Permasalahannya adalah, dari arah mana kita akan menemukan simpul revitalisasi nilai-nilai lokal untuk mengembalikan citra kebudayaan nasional saat ini untuk kembali menatanya dari proses kehancuran peradaban?

(17)

bahwa di kalangan budayawan sendiri masih ada yang "terjebak", sehingga sering kali menjadi rancu dalam mengartikan antara "keimanan" (kodrati) dengan "keyakinan" (konstruksi). Pada titik inilah kemudian Sarasehan Cerdas Budaya Perspektif Tokoh menjadi penting untuk diselenggarakan.

Kegiatan Sarasehan Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini diselenggarakan dalam rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda di Tahun Keuyep 1950 Caka Sunda serta atas gagasan dan pemikiran akan pentingnya pemahaman budaya sebagai identitas dan jati diri sebuah bangsa mengingat keberadaan budaya daerah bangsa Indonesia yang pusparagam menjadikan khazanah tersendiri yang harus dilestarikan keberadaannya secara terus menerus oleh seluruh entitas bangsa ini. Patut disadari dan dibanggakan sebenarnya kepusparagaman budaya dalam diversitas yang kita miliki selama ini sebagai perwujudan dan pengejawantahan nilai-nilai kebhinekaan yang diinternalisasikan dalam falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan bentuk indahnya kebersamaan dalam berbagai latar belakang yang berbeda guna menyongsong kesatuan dan persatuan bangsa yang tercipta dari berbagai perbedaan latar belakang yang tidak mungkin akan bisa dielak dan dipisahkan dalam sejarah perjalanannya.

Pemilihan ini didorong oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa dan budaya yang menjadi sumber inspirasi peradaban dunia. Namun nilai-nilai Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kerakyatan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disebabkan bangsa Indonesia belum dapat mengatasi berbagai krisis yang dihadapi, terutama krisis yang berkenaan dengan sistem nilai budaya, seperti etika, moral, kejujuran, dan etos kerja. Oleh karena itu perlu dicari formula untuk memaanfaatkan nilai-nilai Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kerakyatan sebagai perisai budaya bangsa untuk memajukan kesejahteraan dan perdamaian masyarakat sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar 1945. Bangsa yang tangguh dan besar adalah bangsa yang mampu memaknai nilai-nilai kearifan budaya lokal sebagai modal dalam menghadapi situasi global yang sangat dinamis.

IV. MAKSUD DAN TUJUAN

Dengan tidak terasa pada tanggal 13 Oktober 2013 Masehi, kita memasuki Tahun Baru Kalender Caka Sunda, 1 Suklapaksa bulan Kartika 1950 Caka Sunda. Momentum pergantian waktu, misalnya tahun baru, ulang tahun, dan lain-lain sejenisnya, umumnya dirayakan dengan berbagai agenda meriah. Pada detik-detik pergantian waktu tersebut, dipenuhi dengan hura-hura, pesta, suara bising terompet yang beraneka ragam bunyinya, ditambah warna-warni kembang api yang menghiasi langit malam. Semua terlena dalam kebahagian, lupa akan makna yang terkandung dalam perubahan waktu tersebut, yaitu introspeksi diri di waktu sebelumnya dan menyusun rencana ke depan untuk kehidupan yang lebih baik.

1. Maksud

Kalender Sunda bukan hanya sekedar mencetak Kalender, tetapi ingin pula mensosialisasikannya kepada masyarakat luas, oleh karena itu kami merasa perlu peringatan Tahun Baru berdasarkan perhitungan sistem penanggalan Kalender Sunda dapat dijadikan agenda kalender kegiatan sosial budaya setiap tahun, agar fungsi dan komitmen Pemerintah Kota Bandung dan Pemda Provinsi Jawa Barat dalam mengembangkan pelestarian budaya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik melalui media informal maupun media formal.

(18)

pedoman di dalam menata kembali perikehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Tujuan

Kegiatan Sarasehan Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini diharapkan menjadi masukan di dalam merumuskan revitalisasi konsep kebudayaan, kebangsaan, dan kerakyatan untuk kebijakan strategi sebagai perisai budaya bangsa berbasis kearifan budaya daerah.

a. Menggalang semangat pertahanan dari nilai-nilai Budaya Sunda yang ada di masyarakat Jawa Barat dalam mengingatkan serta menggali akar dan nilai-nilai (Spirit of Sunda), maupun dicermati untuk dipakai sebagai konsep penyelarasan multidimensi yang dihadapi bangsa dan negara.

b. Meningkatkan apresiasi budaya antartradisi Sunda di Jawa Barat serta menumbuhkembangkan rasa cinta dan rasa memiliki (sense of belonging) pada kearifan budaya bangsa yang bermuara pada rasa cinta tanah air. Sehingga akan terbentuknya Jatidiri Bangsa (Nations Charakters Building).

c. Menggalang tali silaturahmi antar tokoh masyarakat dan para generasi muda dengan latar belakang Budaya Sunda di Jawa Barat. Membuka wawasan dan memberi pengertian pada seluruh komponen bangsa, tentang ilmu pengetahuan budaya Sunda (Sundanologi) yang bermanfaat dan bisa membawa kejayaan serta kemakmuran.

d. Membuka wahana pemikiran untuk memperoleh suatu konsepsi tentang revitalisasi konsep kebudayaan, kebangsaan, dan kerakyatan untuk kebijakan strategi sebagai perisai budaya bangsa pada situasi kondisi sekarang dan masa depan dalam pengelolaan potensi dan kompetensi lokal secara partisipatoris, inklusif, cerdas berbudaya dan berkelanjutan.

e. Mengeksploitasi gagasan cerdas budaya untuk perisai budaya bangsa sebagai penciptaan kesempatan mengembalikan kearifan nilai-nilai peradaban nusantara.

f. Melakukan refleksi bersama tentang perjuangan kearifan nilai-nilai peradaban nusantara dan transformasi sosial budaya.

g. Mencermati berbagai agenda strategis dari tingkat global sampai dengan tingkat komunitas akar rumput dalam hal sistem informasi yang memihak dan memberdayakan kearifan nilai-nilai peradaban nusantara.

h. Merumuskan agenda strategis dalam pengembangan sistem informasi berbasis kearifan nilai-nilai budaya daerah untuk mewujudkan peradaban nusantara tatanan masyarakat baru yang memberi peluang kepada nilai-nilai lokal menjadi pelaku utama kebijakan pembangunan.

V. HASIL YANG DIHARAPKAN

a. Adanya pencerahan terhadap konsepsi kebudayaan, kebangsaan, dan kerakyatan berasaskan kearifan lokal sebagai landasan formal untuk menyelenggarakan nilai-nilai budaya lokal (daerah) bagi setiap warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang akomodatif, responsif dan demokratis sesuai jiwa dan semangat falsafah bangsa Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

(19)

VI. DESKRIPSI METODE SARASEHAN

Pemaparan kertas kerja dalam bentuk narasi ini didasarkan atas keyakinan bahwa narasumber dan semua peserta adalah berasal dari wakil-wakil entitas pranata sosial yang berbeda dan memiliki gagasan untuk dikontribusikan. Narasumber hanya menjadi fasilitator yang menstimuli gagasan dialogis mengantarkan kepada upaya pemberdayaan jalinan interaksi sosial, sehingga nilai/bentuk dialog bisa menjadi bagian dari kombinasi rencana, pengalaman, dan pikiran peserta untuk mengeksplorasi berbagai permasalahan nilai-nilai kearifan budaya lokal konsepsi kebudayaan, kebangsaan, dan kerakyatan.

Sarasehan Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini mengacu kepada analisis terhadap latar belakang pemikiran, pokok permasalahan, maksud dan tujuan yang sudah dipaparkan di atas tentang tapak lacak waktu menurut Sunda, revitalisasi konsepsi kebudayaan, kebangsaan, dan kerakyatan sebagai perisai budaya bangsa.

Agar formulasi pemikiran dalam sarasehan kearifan budaya ini dapat terumuskan dengan kaidah-kaidah ilmiah berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang terukur, maka beberapa narasumber dari praktisi dan akademisi perlu turut hadir untuk urun rembuk menyampaikan pokok-pokok pikiran konstruktif sesuai perspektif yang melatarbelakangi/ disiplin kajian.

Mekanisme Sarasehan Cerdas Budaya Perspektif Tokoh ini diawali dengan penyampaian pemikiran narasumber tentang topik yang dibahas. Setiap narasumber memiliki hak yang sama untuk memberi masukan terhadap topik yang sedang dibicarakan dan akan dipandu oleh satu orang moderator dan dibantu dua orang notulis memungkinkan semua peserta mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pokok-pokok pikirannya secara merata, terbuka, dan partisipatif ini yang diharapkan mampu meningkatkan hubungan yang sinergis pemikiran tentang waktu menurut Sunda, revitalisasi konsepsi kebudayaan, kebangsaan, dan kerakyatan sebagai perisai budaya bangsa melalui metoda Participative Group Discussion. Hasil rumusan kegiatan ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk program kerja bersama.

Tema dan pokok bahasan yang mencakup sistem waktu menurut Sunda, kearifan nilai-nilai budaya Sunda, kecenderungan perubahan orientasi budaya di masa akan datang, serta implikasinya pada perubahan paradigma dan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih terbuka dan berkeadilan mewujudkan masyarakat cerdas budaya serta dampaknya dalam kehidupan sosial budaya, akan dirajut dalam penilaian prospektif yang terdiri dari Lokal Genius dari pranata sosial dan juga yang memiliki minat dan motivasi yang tinggi untuk melaksanakan/mendukung nilai-nilai kearifan budaya lokal dalam peradaban nusantara sesuai potensi perspektif profesinya dengan rangkaian tertib acara sebagai berikut.

1. Faktor manusia : kurang sejahtera tidak bahagia.

2. Faktor alam : tidak terjadi harmonisasi alam (rusaknya ekosistem, longsor, pemanasan global).

3. Faktor spritual : tidak terciptanya semesta ketuhanan (semakin lepasnya hubungan antara dunia dan spritual).

(20)

VII. ORGANISASI PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Selasa, 08 Oktober 2013 Masehi 03 „Dzul-hijjah 1434 Hijriyah

Anggara Pahing, 11 Kresnapaksa bln Asuji 1949 Caka Sunda Waktu : Pukul 08.00 WIB – 18.00 WIB.

Tempat : Gedung Merdeka Museum Asia-Afrika Bandung Jl. Asia – Afrika No. 65, Bandung

2. Kepanitiaan dan Jadwal Acara

Panitia Sarasehan Cerdas Budaya berasal dari Pengurus Yayasan BESTDAYA dan Pelaksana Kegiatan. Acara Sarasehan berlangsung satu hari terdiri atas tiga sesi, yaitu: Sesi Pertama pemaparan materi dari Perspektif Akademis; Sesi Kedua pemaparan materi dari Perspektif Sosial Politik, Perempuan, Astrologi dan Sejarah Nusantara; dan Sesi Ketiga pemaparan materi dari Perspektif Budaya Keraton, Alam dan Lingkungan, Gagasan Nusantara, dan Kesehatan Jiwa.

Kepanitiaan dan jadwal acara selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1.

VIII. PESERTA SARASEHAN

Sarasehan Cerdas Budaya ini dihadiri oleh 101 orang peserta yang terdiri dari pemerintah yang diwakili oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Dari akademisi yang hadir berasal dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Pajajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Pasundan. Sedangkan dari keraton yang hadir dari Kaparabonan Cirebon dan Yayasan Raja Sultan Nusantara. Serta hadir juga pimpinan/ahli dan pelaku Adat dan Budaya Sunda.

Daftar peserta selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.

IX. PELAKSANAAN SARASEHAN

A. Acara Pembukaan

Acara Pembukaan Sarasehan Cerdas Budaya yang dipandu oleh Dra. Itje Sandra Suminar, M.Pd terdiri dari Rajah Pamuka dengan diiringi kecapi melantunkan Kidung Siliwangi oleh Ambu Ottih Rostoyati, kemudian seluruh peserta diminta berdiri untuk bersama menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Selanjutnya Laporan Ketua Panitia, R.A. Garlika Martanegara, S.Sos., M.Si yang menyampaikan tentang persiapan yang telah dilakukan untuk penyelenggaraan Sarasehan, dilanjutkan dengan Sambutan Ketua Pembina Yayasan BESTDAYA Prof.

Dr. Suhardja D. Wiramihardja tentang Exploring Astronomy in the Ancient

Sundanese Culture , dan sambutan Runayat Natadipoera, Sesepuh Sunda di Bandung sekaligus membuka acara Sarasehan Cerdas Budaya Perspektif Tokoh dalam rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda di Tahun Keuyep 1950 Caka Sunda secara resmi.

1. Laporan Ketua Panitia Pelaksana Sarasehan

(R.A. Garlika Martanegara, S.Sos., M.Si – Ketua V Dewan Pengurus Yayasan BESTDAYA)

(21)

dari kegiatan dalam rangka Tapak Lacak Waktu Menurut Sunda di Tahun Keuyep 1950 Caka Sunda. Tujuan penyelenggaraan Sarasehan adalah sebagai ajang pertukaran informasi mengenai kajian yang telah dilakukan oleh Ali

Sastramidjaja (biasa dipanggil Abah Ali) terkait system penanggalan tradisional

masa lalu serta menjadi forum komunikasi di antara para pengkaji kearifan budaya dalam ragam tradisi di Tatar Sunda.

Sarasehan ini dibagi dalam 3 (tiga) sesi yang terdiri dari sesi presentasi dan diskusi panel. Beberapa pembicara dihadirkan dalam Sarasehan ini untuk menyampaikan berbagai materi tentang Cerdas Budaya dari berbagai Perspektif. Pada setiap sesi telah disiapkan sebagai materi pembahasan dari masing-masing perspektif yaitu Perspektif Akademisi; Perspektif Sosial Politik, Perempuan, Astrologi, dan Sejarah; serta Perspektif Astro Environment, Keraton, Kesehatan Jiwa, dan Gagasan Nusantara.

2. Laporan Ketua Dewan Pembina Yayasan BESTDAYA

(Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja – Ketua Dewan Pembina Yayasan BESTDAYA)

Ketua Dewan Pembina menyampaikan tentang Exploring Astronomy in the Ancient Sundanese Culture.

Kumpulan cerita rakyat yang ada hubungannya dengan langit dari 14 negara Asia, termasuk Indonesia. Tapi dari Tatar Pasundan belum ada. Saat ini, adalah kesempatan untuk berinteraksi mengali program-program yang kita punya tetapi tidak ada perhatian, yang ada perhatian tidak tetapi tidak punya alat dan atau dana bisa bekerja sama dengan Disbudpar, sehingga dapat merancang kegiatan yang spesifik.

3. Sambutan Pengarahan dan Pembukaan

(Runayat Natadipoera – Sesepuh Sunda di Bandung)

Runayat Natadipoera (biasa dipanggil Uwa Bandung) adalah sesepuh Sunda yang masih terus mempertahankan nilai-nilai luhur Sunda. Dalam kata sambutannya, yang disampaikan dengan bahasa Sunda yang diringkas sebagai berikut.

60 tahun Indonesia merdeka, beki die beki riweuh, bencana, tepikan runtuhna

lembaga eksekutif, legislatif.

Hiji bangsa anu poho sejarah, nilai-nilai luhur moal kilas balik urang direnungi

dibandungan. runtuhna tiga pilar demokrasi semua runtuh, tiga pilar ngoko kana

kekuasaan lain ku amalna. Pendekatan kekuasaan... gubrak na ka eleh jeun

menang. nu eleh menghalalkan segala cara. Ujung bangsaieu hancurna moral...

Ari during aya? Aya urang geus kehilangan jati luhur, mohokeun, nilai-nilai luhur,

karuhun urang.

Cerita ,, Rakean Darmasiksa

“hiji raja, Rakean Darmasiksa... hey ka nak incu, ulah poho.... ulah pookeun nilai

karuhun urang mun hayang jaya

Hirup jeung hurifna.. hirup nu bisa ngajamin,

Prabu wastukencana, amanah galunggung. Padamelan wastukencana teu lepas tina tirakat, haiyang ngabangun mandala wastu di buana, hiji manusia

Amalan, wangsit prabu siliiwangi

Spirit bandung, dasasila bandung, sprit kemerdekaan, kamanusiaan di bandung

(22)

Dimana anu Ieu rieuangan...spirit kemerdekaan “merdeka atawa mati, nyungkemkeun tali asih nagara... teundeun di handelem sieum

B. Pemaparan Materi dan Topik Bahasan oleh Narasumber

Sesi pertama pemaparan materi dari Perspektif Akademis menampilkan presentasi dari 4 (empat) orang Narasumber dengan Moderator Ir. Supardiyono Sobirin

selaku Ketua Pengarah Materi dan Ketua I Dewan Pengurus Yayasan BESTDAYA.

Sesi Pertama

Pokok-Pokok Pemikiran Cerdas Budaya Perspektif Akademisi/Pendidikan

Ringkasan materi presentasi dari keempat pembicara pada sesi pertama ini adalah sebagai berikut.

1. Kalender Tradisional dan Maknanya Bagi Jati Diri Budaya Bangsa

(Prof. Dr. Suhardja D. Wiramihardja – Kelompok Keahlian Astronomi ITB; dan Ketua Dewan Pembina Yayasan BESTDAYA)

bahwa kalender nasional bisa memakai kalender Sunda, yaitu kalender tradisional. Bagaimana orang Sunda zaman dahulu menggunakan kalender Sunda sebagai penunjuk waktu, di antaranya wanci, pranatamangsa, dan panjang tahun. Dalam kalender Sunda ini memotret antara manusia dan langit yang memberikan tentang simbol-simbol kehidupan orang Sunda.

2. Ilmu Pengetahuan Alam dan Citra Budaya Daerah

(Dr. Ir. H. Moedji Raharto – Kelompok Keahlian Astronomi ITB; dan Ketua Dewan Pengawas Yayasan BESTDAYA)

tentang Anggara Pahing, Kresnapaksa, Tanggal 11 bulan Asuji 1949 Caka Sunda. Ia mengemukakan bahwa dalam surat Alhujurat ayat 13 memberikan sinyalemen bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan musyawarah, seperti menggali kearifan dari kalender Sunda yang dibuat oleh Abah Ali, yang menerangkan bahwa awal tahun Caka Sunda 1950 adalah tahun keuyeup yang ditenggarai dengan munculnya banyak keuyeup. Dari tahun keuyeup ini mencari makna lingkungan dengan binatang, adakah siklus lokal, dan kekayaan alam yang memberikan gambaran tanda-tanda kehidupan.

3. Sistem Pertanian Ciri Khas Lokal Yang Seksama Untuk Ketahanan Pangan Nasional

(Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita, M.Sc – Dosen Teknik Kimia ITB, Ketua Dewan Pakar DPKLTS, Pembina Yayasan BESTDAYA)

menerangkan tentang system pertanian ciri khas lokal yang seksama untuk ketahanan pangan nasional dengan konsep kearifan lokal yang berdasar kepada pemikiran orang Sunda zaman dahulu yang menyatakan jika leuweung ruksak, cai beak, rayat balangsak.

4. Pranata Hukum dalam Kearifan Lokal dan Identitas Budaya Bangsa

(Miranda Risang Ayu, LLM., Ph.D – Dosen FH Unpad, Kepala UPT HKI Unpad Dewan Pakar Yayasan BESTDAYA)

Referensi

Dokumen terkait

Dosen-dosen yang namanya tersebut pada Lampiran Keputusan ini merupakan dosen tetap pada Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY yang diserahi tugas mengajar dan menguji pada

Skenario pengembangan rawa pasang surut Danda Besar dapat dibedakan menjadi: (a) penataan lahan, (b) pengaturan tata air mikro dengan membuat saluran kuarter, saluran

Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.. Analisis Kimia

Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah mengenai keterlibatan kaum perempuan sebagai isteri dan ibu bukan hanya pada urusan rumah tangga (domestik), tetapi juga ikut

14 guru. Karena tugas seorang guru bukan hanya mengajar atau mentransfer ilmu. Akan tetapi jauh daripada itu, seorang guru adalah pendidik dari semua aspek yang ada

Accordingly, the organizational change leading to gender- responsive schools in strategic dimension is not done in the schools’ vision, but in positions, programs

5. Penguasaan materi pelajaran lebih besar karena keterlibatan secara langsung setiap siswanya. Selain itu, dengan adanya sistem pembelajaran aktif siswa akan

Operator baru juga dapat menyebabkan proses produksi terhambat apabila tidak terbiasa dalam melakukan pekerjaannya, kurang memiliki keterampilan dibidangnya dan