• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendisiplinan Shalat Fardlu pada Anak da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendisiplinan Shalat Fardlu pada Anak da"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

PENDISIPLINAN SOLAT FARDU PADA ANAK DALAM KELUARGA Laporan Penelitian Individual

Oleh

DRS. H. ALI ROHMAD, M.Ag NIP. 150 241 714

Dibiayai oleh Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(2)

IDENTITAS DAN PENGESAHAN

A. JUDUL PENELITIAN

1. Judul Penelitian : Pendisiplinan Salat Fardu pada Anak dalam Keluarga. 2. Jenis Penelitian : Dasar

3. Kategori : Individual B. PENELITI

1. Nama : Drs. H. Ali Rohmad, M.Ag 2. Jenis Kelamin : Laki-laki

3. NIP. : 150 241 714

4. Pangkat dan Ruang : Pembina Tk I (IV/b) 5. Jabatan : Lektor Kepala 6. Jurusan : Tarbiyah

7. PTAI : STAIN Tulungagung 8. Bidang yang diteliti : Pendidikan

C. LOKASI PENELITIAN : Kepustakaan D. JANGKA WAKTU PENELITIAN : Juli – Oktober 2005

Tulungagung, 1 Nopember 2005 Peneliti,

Drs. H. Ali Rohmad, M.Ag NIP. 150 241 714

Mengetahui, Menyetujui,

Kepala P3M Ketua STAIN Tulungagung

(3)

ABSTRAK

Ali Rohmad, 2005 M, Pendisiplinan Salat Fardu pada Anak dalam Keluarga, Laporan Penelitian, NIP. 150 241 714, Pangkat : Pembina Tk I, Ruang : IV/b, Jabatan : Lektor Kepala dalam mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan, Instansi : STAIN Tulungagung.

Kata kunci : pendisiplinan, salat fardu, anak, keluarga.

Permasalahan penelitian : 1. Apa saja tugas perkembangan anak yang harus diantisipasi perealisasiannya oleh orang tua ?. 2. Sampai di mana perkembangan kesadaran beragama anak yang harus disadari oleh orang tua ?. 3. Berapa batas usia yang dipandang tepat untuk memulai pendisiplinan salat fardu pada anak ?. 4. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan oleh orang tua sebelum pendisiplinan salat fardu pada anak benar-benar diterapkan ?. 5. Bagaimana kiat orang tua dalam pendisiplinan salat fardu pada anak ?. 6. Bagaimana implikasi pendisiplinan salat fardu pada anak ?.

Metode Penelitian : 1. Pola penelitian : penelitian pendidikan, penelitian eksploratif, penelitian deskriptif, penelitian kepustakaan, penelitian analisis isi. 2. Variabel : yang diposisikan sebagai variabel bebas adalah data (X), dan yang diposisikan sebagai variabel terikat adalah target (Y). 3. Data dan Sumbernya : data teoritis yang bersumber dari dokumen kajian ilmiah dan internet. 4. Metode Pengumpulan data : dokumentasi dengan resume cards. 5. Metode Analisis data : tipe analisis isi semantik attributions dengan aplikasi metode deduksi, induksi, dan komparasi.

(4)
(5)

mengabaikan pendisiplinan salat fardu pada anak, menjatuhkan hukuman pada anak secara berlebihan melampaui batas toleransi yang ditetapkan dalam Hak Azasi Manusia (HAM), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dan Undang-Undang mengenai perlindungan anak . 6. Implikasi pendisiplinan salat fardu pada anak, adalah amat signifikan bagi diri anak, bagi orang tuanya, bagi masyarakat dan bangsanya baik masa kini maupun masa mendatang. Anak dilatih mengingat Allah swt dalam waktu-waktu yang berurutan pagi, siang, sore, petang, dan malam hari sekaligus mewujudkan rasa syukur padaNya. Anak dilatih menjalin hubungan dan komunikasi dengan Allah swt secara lebih dekat lagi kontinyu, ini dapat menumbuh kembangkan rasa tanggung jawab dalam pengawasanNya yang memunculkan sifat jujur dan amanah yang amat diperlukan bagi masa depan kehidupan individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Anak dilatih memperkokoh diri dengan kekuatan rohani (keimanan) yang berperan amat penting dalam menghadapi pengaruh negatif di kemudian hari. Anak dilatih menjadi penegak agama selaku generasi penerus yang baik lagi pilihan yang dipersiapkan untuk berfikir merdeka, kreatif, cerdas, kerja keras, memiliki visi, misi, integritas spiritual/moral, dan daya tahan. Secara psikis, anak dilatih memusatkan perhatian dan konsentrasi berdialog denganNya secara terbuka memohon ampunan atas segala dosa dan memohon kebahagiaan dunia akhirat. Anak dibekali konsentrasi yang amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengerjakan apa saja. Secara fisik, anak dilatih cinta kebersihan dan kesucian badan, pakaian, tempat sujud dari kotoran dan najis, juga cinta gerak badan, ini menjadi signifikan untuk membangun kesehatan yang menjadi sumber segala kesejahteraan dan keselamatan masyarakat. Secara sosiologis, mendirikan salat fardu secara berjama’ah jelas melatih anak hidup bermasyarakat dan mempersiap-kan anak menjalani kehidupan kelak di masa dewasa yang demokratis, tanpa diskriminasi atas dasar keturunan, kekayaan, kedudukan, kepangkatan, jabatan, warna kulit, dan lain-lain.

(6)

-KATA PENGANTAR

Hanya berkat limpahan kasih sayang Allah swt semata, pelaksanaan penelitian dan penulisan laporan penelitian berdasarkan Keputusan Ketua STAIN Tulungagung nomor : Sti.32.1/TL.01/25/K/2005 tanggal 5 Juli 2005 (foto copy terlampir) dengan tema ”Pendisiplinan Salat Fardu pada Anak dalam Keluarga” ini dapat peneliti selesaikan.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah swt limpahkan kepada nabi Muhammad beserta segenap keluarganya, segenap sahabatnya, dan setiap orang yang mengikuti jejaknya.

Terhadap semua pihak yang telah membantu realisasi penelitian dan penulisan laporan penelitian ini, peneliti sampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya, terutama kepada :

1. Bapak Drs. H. Achmad Patoni, M.Ag selaku ketua STAIN Tulungagung yang secara intensif membina karier peneliti sebagai dosen tetap di sana, sekaligus telah menyiapkan dana bagi peneliti melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2005 M guna realisasi penelitian beserta hal-hal yang terkait.

(7)

kemudian melalui forum rapat para dosen secara terbuka mengumumkan proposal penelitian yang masuk nominasi dibiayai DIPA 2005 M, juga secara akademik mengkritik proposal yang tidak masuk nominasi.

3. Bapak Ahmad Tanzeh, M.PdI selaku kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Tulungagung yang telah mensuport realisasi seminar proposal penelitian dan seminar laporan penelitian untuk memperoleh kritik dan saran penyempurnaan sebelum digandakan dan dijilidkan.

4. Ibu Dra. Hj. Siti Aminah, M.Pd selaku pustakawan dan bapak Muh. Ridho, MA serta bapak Nurul Amin, MA selaku staf perpustakaan STAIN Tulungagung yang telah dengan suka rela membantu memilihkan bahan-bahan pustaka untuk peneliti.

5. Hj. Nanik Nuroh Rahmawati, isteri peneliti yang senantiasa penuh dengan kesabaran memberikan dorongan moril demi kelancaran realisasi penelitian dan penulisan laporan penelitian ini dan terkadang terlibat dalam penyusunan data mentah (resume cards) serta penyeleksian dan pemberian kode data. 6. Fina Kholij Zukhrufin ♀, Ahmad Kanzu Syauqi Firdaus ♂, Arina Widda

Faradis ♀, anak-anak peneliti yang senantiasa belajar meningkatkan mutu iman dan taqwa di hadapan Allah swt serta mutu birrul-walidain.

7. Segenap kolega di STAIN Tulungagung yang terlibat dalam seminar proposal penelitian dan seminar laporan penelitian yang peneliti sajikan.

(8)

laporan penelitian ini disajikan secara sederhana dan mungkin di sana sini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Itulah sebabnya, dari forum diskusi ilmiah terhadap seluruh laporan penelitian dosen yang diselenggarakan oleh kepala P3M, peneliti berusaha memperoleh masukan baik yang berupa tanggapan, kritik, dan saran demi penyempurnaan laporan penelitian ini sebelum digandakan dan dijilidkan.

Akhirnya, hanya kepada Allah swt peneliti berdo’a : semoga semua pihak yang membantu realisasi penelitian dan penulisan laporan penelitian ini senantiasa dibimbing ke jalan yang diridlaiNya, dan semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dan semua pihak yang membacanya. Amin.

Tulungagung, 17 Oktober 2005 Peneliti,

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

TEMA……….. i

IDENTITAS DAN PENGESAHAN……….. ii

PIAGAM……… iii

ABSTRAK………. iv

KATA PENGANTAR……….. vii

DAFTAR ISI………... x

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang Masalah………. 1

B. Pembeberan Masalah………. 3

C. Tujuan Penelitian………... 5

D. Kegunaan Hasil Penelitian………. 6

E. Penegasan Istilah……… 7

BAB II. METODE PENELITIAN………. 9

A. Pola Penelitian……… 9

B. Variabel……… 11

C. Data dan Sumbernya……… 12

D. Kerangka Pemikiran………. 13

(10)

F. Metode Analisis Data………... 16

BAB III. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN………... 22

A. Tugas Perkembangan Anak……….. 22

B. Kesadaran Beragama Anak……….. 28

C. Batas Usia Anak untuk Pendisiplinan Salat Fardu………... 40

D. Perkara yang Harus Dipersiapkan Orang Tua……….. 45

E. Kiat Orang Tua dalam Pendisiplinan Salat Fardu pada Anak…….. 52

F. Implikasi Pendisiplinan Salat Fardu pada Anak……….. 67

BAB IV. PENUTUP………. 75

A. Kesimpulan……… 75

B. Saran……….. 80

Daftar Rujukan………. 83

Lampiran……….. 86

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam Islam, setiap orang tua (ayah dan ibu) dituntut untuk

mendidikkan salat lima waktu kepada setiap anaknya.1 Mengindahkan

tuntutan ini, berarti orang tua memperjuangkan anaknya ketika dewasa

kelak menjadi penegak agama; dan mengabaikan tuntutan ini, berarti

orang tua membiarkan anaknya ketika dewasa kelak menjadi peroboh

agama (kafir).2 Bahkan dalam jangka pendek, keteledoran orang tua

terhadap tuntutan ini dapat menjadi sebab kethalihan anak seperti yang

dinyatakan oleh Abdullah Nasih Ulwan bahwa : ”Di antara faktor yang

banyak berpengaruh bagi timbulnya kenakalan anak, rusaknya akhlak dan

hilangnya kepribadian mereka adalah keteledoran orang tua dalam

memperbaiki diri anak, mengarahkan dan mendidiknya”.3 Agar tuntutan

ini, secara edukatif, dapat direalisasikan dengan penuh kesungguhan lagi

penuh tanggung jawab di hadapan Allah swt sesuai dengan taraf

perkembangan anak dan perubahan keadaan zaman, maka setiap orang tua

(12)

Realitas dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan, bahwa tidak

setiap orang tua mampu mendapatkan kiat dan taktik pendisiplinan salat

fardu terhadap anak yang sesuai dengan kondisi perkembangan anak dan

perubahan zaman. Wajar jika kemudian dalam pendisiplinan salat fardu itu

orang tua menemui hambatan dan merasa kurang direspon oleh anak,

bahkan mungkin terlihat disepelekan lagi dianggap kolot lagi kuno.

Padahal masa anak-anak merupakan kesempatan paling tepat untuk

mendidikkan berbagai perilaku keagamaan, termasuk pendisiplinan salat

fardu, lebih-lebih apabila diterapkan kiat dan taktik yang jitu. Terasa tepat

jika Zakiah Daradjat berpendapat bahwa :

Apabila latihan-latihan agama dilalaikan di waktu kecil atau diberikan dengan cara yang kaku, salah atau tidak cocok dengan anak, maka waktu dewasa nanti ia akan cenderung kepada atheis atau kurang peduli terhadap agama atau kurang merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Dan sebaliknya, semakin banyak anak mendapat latihan-latihan keagamaan waktu kecil, sewaktu dewasa nanti akan semakin terasa kebutuhannya kepada agama.4

Paparan di atas memperlihatkan kesenjangan antara kondisi ideal

dengan realita dalam merealisasikan tuntutan menemukan kiat dan taktik

pendisiplinan salat fardu pada anak. Ada orang tua yang dapat

merealisasikan dengan baik, dan masih ada orang tua yang belum mampu

merealisasikannya. Keadaan ini tampak unik lagi menarik apabila diteliti

lebih lanjut, karena pada satu sisi penemuan kiat dan taktik pendisiplinan

salat fardu terhadap anak tersebut merupakan suatu keniscayaan bagi

setiap orang tua yang lazim mendambakan anak shalih, dan pada sisi yang

4

(13)

lain penerapan kiat dan taktik pendisiplinan salat fardu terhadap anak

tersebut sangat menentukan bagi perekayasaan generasi muslim untuk

melanjutkan perjuangan mewujudkan cita-cita kehidupan beragama dan

berbangsa di masa mendatang.

Pemikiran tersebut, secara akademis, menjadi pendorong bagi

peneliti untuk mengadakan penelitian secara lebih jauh mendalam yang

hasilnya dituangkan dalam laporan penelitian dengan tema : Pendisiplinan

Salat Fardu pada Anak dalam Keluarga.

B. Pembeberan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Sebagai permasalahan umum, tema penelitian di atas apabila

dicermati dengan seksama, maka dapat dikenali dan diidentifikasi sub

masalah yang relatif banyak seperti di bawah ini.

a. Cita-cita orang tua.

b. Cita-cita anak.

c. Tanda-tanda penting masa anak-anak.

d. Tugas perkembangan anak yang harus diantisipasi perealisasiannya

oleh orang tua.

e. Perkembangan kesadaran beragama anak yang harus disadari oleh

orang tua.

f. Batas usia yang dipandang tepat untuk memulai pendisiplinan salat

(14)

g. Perkara yang harus dipersiapkan oleh orang tua sebelum

pendisiplinan salat fardu pada anak benar-benar diterapkan.

h. Kiat orang tua dalam pendisiplinan salat fardu pada anak.

i. Implikasi pendisiplinan salat fardu pada anak.

2. Pembatasan Masalah

Agar secara akademik terjadi pembahasan yang intensif lagi

mendalam, maka terhadap sekian sub masalah yang dikenali dan

diidentifikasi di atas perlu dipilih dan dibatasi menjadi enam sub

masalah yang selanjutnya dijadikan sebagai masalah utama yang

nyata-nyata diteliti lebih lanjut melalui penelusuran data literer pada

pelbagai sumber dan penelusuran dunia maya internet. Keenam

masalah utama itu dirumuskan seperti di bawah ini.

a. Tugas perkembangan anak yang harus diantisipasi perealisasiannya

oleh orang tua.

b. Perkembangan kesadaran beragama anak yang harus disadari oleh

orang tua.

c. Batas usia yang dipandang tepat untuk memulai pendisiplinan salat

fardu pada anak.

d. Perkara yang harus dipersiapkan oleh orang tua sebelum

pendisiplinan salat fardu pada anak benar-benar diterapkan.

e. Kiat orang tua dalam pendisiplinan salat fardu pada anak.

(15)

3. Rumusan Masalah

Dalam rangka memenuhi ketentuan inklusi-eksklusi yang mampu

memberi arahan secara jelas lagi tepat ketika pengumpulan dan reduksi

datum untuk kemudian dianalisis dan hasilnya dituangkan ke dalam

laporan penelitian; maka berdasarkan pembatasan masalah di atas,

dapat disusun rumusan masalah yang akan diteliti lebih lanjut dalam

bentuk kalimat interogratif seperti di bawah ini.

a. Apa saja tugas perkembangan anak yang harus diantisipasi

perealisasiannya oleh orang tua ?.

b. Sampai di mana perkembangan kesadaran beragama anak yang

harus disadari oleh orang tua ?.

c. Berapa batas usia yang dipandang tepat untuk memulai

pendisiplinan salat fardu pada anak ?.

d. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan oleh orang tua sebelum

pendisiplinan salat fardu pada anak benar-benar diterapkan ?.

e. Bagaimana kiat orang tua dalam pendisiplinan salat fardu pada

anak ?.

f. Bagaimana implikasi pendisiplinan salat fardu pada anak ?.

C. Tujuan Penelitian

Berpijak pada rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan

penelitian ini dapat dikemukakan dengan redaksi yang sederhana tetapi

(16)

1. Untuk mengetahui tugas perkembangan anak yang harus diantisipasi

perealisasiannya oleh orang tua.

2. Untuk mengetahui perkembangan kesadaran beragama anak yang

harus disadari oleh orang tua.

3. Untuk mengetahui batas usia yang dipandang tepat untuk memulai

pendisiplinan salat fardu pada anak.

4. Untuk mengetahui perkara yang harus dipersiapkan oleh orang tua

sebelum pendisiplinan salat fardu pada anak benar-benar diterapkan.

5. Untuk mengetahui kiat orang tua dalam pendisiplinan salat fardu pada

anak.

6. Untuk mengetahui implikasi pendisiplinkan salat fardu pada anak.

D. Kegunaan Hasil Penelitian

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah

khazanah ilmiah, terutama yang berkenaan dengan pendisiplinan salat

fardu pada anak dalam keluarga.

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan

oleh para orang tua, tokoh masyarakat, ahli pendidikan sebagai bahan

pertimbangan untuk mengembangkan metode, strategi, kiat yang lebih

tepat dalam mendisiplinkan salat fardu pada anak agar dapat tumbuh

berkembang menjadi sumber daya manusia yang secara Islamiy

berkualitas dan generasi penerus yang kredibel lagi akontabel bagi cita-cita

(17)

Departemen Pendidikan Nasional beserta jajaran terkait selaku

penanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan sebagai bahan

penambah informasi untuk memperbarui kebijakan nasional mengenai

kurikulum pendidikan dasar terutama pada bidang studi pendidikan agama

agar makin realistis merekayasa para siswa menjadi lulusan yang

komitmen dengan sila pertama dari Pancasila lagi yang secara integral

benar-benar memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan

lain-lain yang sesuai untuk menyongsong kehidupan masa depan mereka yang

cenderung tampak sarat dengan tantangan dan persoalan; dapat

dimanfaatkan oleh para praktisi pendidikan seperti guru, dosen, tutor,

ustaz dan lain-lain sebagai bahan penambah informasi untuk menentukan

sikap yang lebih tepat guna mendisiplinkan salat fardu pada anak dalam

perubahan kondisi zaman yang makin cepat lagi tampak tanpa arah yang

pasti; dan dapat dimanfaatkan oleh peneliti lain di masa datang sebagai

penambah informasi untuk menyusun rancangan penelitian lanjutan yang

relevan dengan menerapkan pendekatan, metode, dan strategi yang

variatif.

E. Penegasan Istilah

Agar sejak awal para pembaca dapat secara jelas lagi tegas

memperoleh kesamaan pemahaman mengenai konsep yang terkandung

dalam tema penelitian beserta konstruk yang diselidiki, sehingga di antara

(18)

terhadapnya,5 maka peneliti merasa perlu memaparkan penegasan istilah

yang menjadi kata kunci dari tema penelitian seperti di bawah ini.

Secara konseptual, yang peneliti maksud dengan pendisiplinan

salat fardu pada anak dalam keluarga, adalah kiat yang dapat ditempuh

oleh orang tua agar anaknya taat mendirikan shalat lima waktu di

lingkungan rumah tangga.6

Secara operasional, yang peneliti maksud dengan pendisiplinan

salat fardu pada anak dalam keluarga, adalah kajian literer untuk

menemukan kiat yang dapat ditempuh oleh orang orang tua (ayah dan ibu)

dalam membimbing anaknya di antara usia 6-11 tahun (anak usia sekolah)

agar taat mendirikan shalat lima waktu terutama ketika mereka sedang

berada di rumah.

HAR

5

Vide, Sevilla, et.al, Pengantar Metode Penelitian, 1st ed, terjem. Amiluddin Tuwu, UI-Press, Jakartata, 1993, hal. 18-19.

6

(19)

BAB II

METODE PENELITIAN

A. Pola Penelitian

Ditinjau dari segi disiplin ilmu, penelitian ini dapat dimasukkan dalam

pola penelitian pendidikan, yaitu penelitian berkenaan dengan jenis spesifikasi

dan interest peneliti.1 Yang menjadi pusat perhatian penelitian ini adalah

bidang ilmu pendidikan. Ini dapat diperhatikan dari tema sentral

”pendisiplinan salat fardu pada anak dalam keluarga”. Tentu saja dilengkapi

oleh kehadiran sosiologi, psikologi, dan disiplin ilmu lain yang lazim

diposisikan sebagai bagian dari pendukung bidang ilmu pendidikan.

Ditinjau dari segi tujuan, penelitian ini dapat dimasukkan dalam pola

penelitian eksploratif. Dalam pandangan Hermawan Wasito, yang dimaksud

dengan penelitian eksploratif adalah ”penelitian yang bertujuan menemukan

masalah-masalah baru”.2 Dalam pengertian, penelitian ini berpijak pada

landasan teori mengenai macam-macam tugas perkembangan anak,

perkembangan kesadaran beragama anak, batas usia anak yang dipandang

tepat untuk memulai pendisiplinan salat fardu; kemudian mencari masalah

baru mengenai hal-hal yang harus dipersiapkan oleh orang tua sebelum

pendisiplinan salat fardu benar-benar dimulai, kiat orang tua dalam

pendislinan salat fardu pada anak, dan implikasi pendisiplinan salat fardu pada

1

Vide, Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 8th ed, Rineka Cipta, Jakarta, 1992, hal. 9.

2

(20)

anak baik untuk masa sekarang maupun untuk masa mendatang dalam

perspektif anak beserta lingkungan rumahnya.

Ditinjau dari sudut cara dan taraf pembahasan masalah, penelitian ini

dapat dimasukkan dalam pola deskriptif. Dalam pandangan Hermawan

Wasito, yang dimaksud dengan penelitian deskriptif adalah ”penelitian yang

terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana

adanya, sehingga hanya merupakan pengungkapan fakta”.3 Tujuan penelitian

deskriptif menurut Muhammad Nazir, adalah ”untuk membuat deskripsi,

gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai

fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki”.4

Ditinjau dari sudut tempat aktivitas penyelidikan, penelitian ini dapat

dimasukkan dalam pola penelitian kepustakaan,5 yang kegiatannya dilakukan

dengan mengumpulkan data dan informasi yang terkait dengan rumusan

masalah yang ditetapkan dengan bantuan bermacam-macam literatur di

perpustakaan seperti buku bacaan ilmiah; baik literatur yang menjadi milik

pribadi peneliti maupun milik perpustakaan STAIN Tulungagung, juga

literatur yang diakses melalui internet. Ini dalam lingkungan Universitas

Negeri Malang dinamai dengan penelitian pustaka, yaitu :

… telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari

3

Ibid, hal. 10. 4

Muhammad Nazir, Metode Penelitian, 3rd ed, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988, hal. 63.

5

(21)

berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru. Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlakukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pengetahuan yang telah ada, sehingga kerangka teori baru dapat dikembangkan atau sebagai dasar pemecahan masalah.6

Ditinjau dari sudut prosedur pengumpulan, penyajian, dan

penganalisis-an data, penelitipenganalisis-an ini dapat dimasukkpenganalisis-an dalam pola penelitipenganalisis-an ”penganalisis-analisis isi,

content analisys, analisis dokumen, penelitian literer”.Analisis isi oleh Klaus

Krippendorff didefinisikan sebagai ”suatu teknik penelitian untuk membuat

inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicabel) dan sahih data dengan

memperhatikan konteksnya”.7

B. Variabel

Yang dimaksud dengan variabel menurut Suharsimi Arikunto, adalah

”hal-hal yang ditatap (dijinggleng – Jawa) dalam suatu kegiatan penelitian

(points to noticed)”.8 Dalam bagian lain, Suharsimi Arikunto menyatakan,

bahwa ”variabel adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian

atau penelitian”.9

Variabel yang terdapat dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua

macam. Variabel pertama adalah data (resume cards) dari membaca dokumen

ilmiah (literatur dan internet) yang diposisikan sebagai variabel bebas dan

variabel kedua adalah target (rumusan masalah) yang diposisikan sebagai

6

Tim, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 4th ed, Biro Administrasi Akademik Perencanaan dan Sistem Informasi, Universitas Negeri Malang, 2000, hal. 2.

7

Klaus Krippendorff, Analisis Isi, Pengantar Teori dan Metodologi, 2nd ed, terjem. Farid Wajidi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hal. 15.

8

Suharsimi Arikunto, loc.cit. 9

(22)

variabel terikat.10 Sebagai stimulus atau sarana tanda bagi peneliti untuk

mengembangkan pemikiran mengenai target yang harus dikaitkan dengan

konteksnya; maka data secara nyata menjadi tempat bergantung untuk dapat

menguraikan rumusan masalah sebagai produk penelitian.

C. Data dan Sumbernya

Yang dimaksud dengan data menurut Suharsimi Arikunto, adalah ”hasil

pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta ataupun angka”.11 Data yang harus

dicari oleh peneliti adalah yang berkaitan dengan rumusan masalah. Apabila

diperhatikan dari segi tempat asalnya, maka data yang harus dikumpulkan

oleh peneliti adalah berupa data teoritis.

Yang dimaksud dengan sumber data menurut Suharsimi Arikunto,

adalah ”subyek dari mana data dapat diperoleh”.12 Apabila dilihat dari segi

wujud konkritnya, maka sumber data dapat dibedakan menjadi dua macam,

yaitu sumber data insani dan non-insani. Sumber data insani lazim disebut

dengan subyek, responden, dan informan. Sumber data non-insani lazim

disebut dengan dokumen, dan benda-benda yang lain.

Sesuai dengan pola penelitian dengan tinjauan dari sudut tempat

aktivitas penyelidikan, maka yang dipakai dalam penelitian ini adalah sumber

data non-insani yang berupa dokumen bidang kajian pustaka seperti

buku-buku bacaan ilmiah, majalah ilmiah, jurnal ilmiah, koran, situs internet,

CD-ROM dan lain-lain yang relevan dengan rumusan masalah. Ini diperkuat oleh

10

Vide, Klaus Krippendorff, op.cit, hal. 26. 11

Ibid, hal. 91. 12

(23)

pandangan Suharsimi Arikunto, bahwa ”apabila peneliti menggunakan

dokumentasi (dalam pengumpulan data = pen.), maka dokumen atau

catatanlah yang menjadi sumber data, …”.13

Sementara itu, dalam pandangan Lexy Moleong, yang dimaksud dengan

dokumen, adalah setiap bahan tertulis atau film yang tidak dipersiapkan

karena adanya permintaan seorang penyelidik.14

Di lain pihak, Klaus Krippendroff berpandangan bahwa ”pemeliharaan

dokumen-dokumen historis bersifat selektif, … dan apa yang dicetak sebagai

berita adalah hasil selektif dari rentang kemungkinan-kemungkinan yang luas.

Selektifitas jenis ini mengindikasikan proses sampling yang berasal dari

sumber”.15 Sejalan dengan pandangan ini, peneliti berusaha menyeleksi

sejumlah dokumen kajian ilmiah yang dipandang memuat datum terkait

dengan sekian rumusan masalah.

D. Kerangka Pemikiran

Secara rasional, seorang muslim akan dapat mendirikan salat fardu

dengan baik lagi benar mentaati ketentuan yang ditetapkan dengan sepenuh

hati merasai kekhusyu’an dan kekhudu’an; apabila telah memperoleh binaan

dan pelatihan yang memadai melalui pendisiplinan salat fardu dalam jangka

waktu yang relatif panjang sejak usia dini yang dilanjutkan pada masa

pra-sekolah, masa pra-sekolah, masa remaja, masa dewasa bahkan masa tua.

13

Ibid. 14

Vide, Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 13th ed, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000, hal. 16.

15

(24)

Secara psikis, manusia akan gemar melakukan suatu perbuatan, apabila

karakteristik perbuatan itu telah benar-benar dikenal, dipahami, dibutuhkan,

dilatihkan, dibiasakan dengan penuh kedisiplinan yang barangkali saja pada

tahap awalnya untuk sementara waktu dirasakan sebagai paksanaan. Dengan

ini, maka perintah nabi saw mengenai pendisiplinan salat fardu pada anak

adalah amat relevan dan memang tidak dapat ditawar atau ditunda-tunda

pengaktualisasiannya sekalipun semisal dengan dalih orang tua merasa

kasihan pada anak yang secara fiqh belum wajib mendirikan salat fardu atau

dalih lain orang tua sibuk bekerja sepanjang hari mulai pagi sampai petang.

Secara sosiologis, diakui bahwa peradaban manusia dewasa ini telah

memasuki era globalisasi yang ditandai oleh pemanfaatan dunia tanpa batas

teritorial untuk mengkomunikasikan segala produk budaya seluruh bangsa

sehingga cenderung memunculkan segala fenomena positif dan negatif bagi

kelanjutan aspek-aspek pandangan hidup (way of life) masing-masing bangsa.

Penganut materialisme dengan pelbagai cabangnya untuk sementara waktu

tampak menjadi skenario, sutradara, produser, dan pemain budaya seluruh

bangsa. Sementara itu penganut suatu agama semisal umat Islam tampak lebih

dominan menjadi penonton, pengekor dan konsumen. Dalam internal umat

beragama, semisal umat Islam, telah terdapat fenomena pendangkalan aqidah,

ibadah, dan akhlaq karimah. Fenomena negatif dalam internal umat Islam ini

tidak akan pernah mencuat; manakala mereka terlatih komitmen dengan salat

(25)

Secara edukatif, diakui bahwa selaku pendidik pertama lagi utama bagi

anak dalam kehidupan rumah tangga, orang tua (ayah dan ibu) dituntut

mampu mengemban tugas mendidik anaknya sejak usia dini. Dalam

mendidikkan nilai-nilai keimanan, peribadatan, dan akhlaq; Islam telah

memberi pedoman yang meyakinkan bagi setiap orang tua. Berkaitan dengan

posisi tersebut, realitas tugas yang wajib diemban oleh setiap orang tua adalah

memahamkan dan menginternalisasikan serta mendisiplinkan ajaran Islam

pada anaknya, termasuk mendisiplinkan salat fardu yang dapat dijadikan

sebagai pilar utama dalam memperjuangkan perwujudan kesalihan anak.

Pendisiplinan salat fardu pada anak akan dapat berlangsung dengan makin

baik, manakala orang tua mampu mengembangkan kiat dan taktik yang tepat

sesuai dengan karakteristik anak juga aneka tugas perkembangan anak beserta

perubahan zaman yang kini telah memasuki era globalisasi.

E. Metode Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data (resume cards) yang sebanyak-banyaknya

berkaitan dengan enam rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka

diterapkan metode dokumentasi. Dalam pandangan Suharsimi Arikunto, yang

dimaksud dengan metode dokumentasi adalah ”… mencari data mengenai

hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya”.16

16

(26)

Peneliti mencari dan mengumpulkan data yang relevan dengan rumusan

masalah melalui pemanfaatan sumber data non-insani yang berwujud

dokumen yang terdiri dari buku-buku bacaan ilmiah, jurnal ilmiah, majalah

ilmiah, dan koran yang dipinjam dari perpustakaan STAIN Tulungagung atau

yang dicari dari perpustakaan pribadi peneliti dan dari situs internet yang

dicopy ke dalam komputer program Word untuk kemudian diprint. Sejumlah

dokumen yang berhasil peneliti kumpulkan adalah diposisikan sebagai

populasi. Lebih lanjut, peneliti membaca sejumlah dokumen kajian ilmiah,

kemudian dari sana peneliti membuat cuplikan catatan-catatan yang berupa

pendapat para pakar ke dalam kartu-kartu resume (resume-cards) sebagai data

mentah untuk dijadikan bahan kajian yang dianalisis selama penulisan laporan

penelitian. Realitas pengumpulan data dari sejumlah dokumen kajian ilmiah

seperti ini berarti menerapkan sebagian dari metode non-interaktif.

Penulisan nukilan pendapat para pakar dari sejumlah dokumen kajian

ilmiah ke dalam kartu-kartu resume yang dilakukan oleh peneliti itu

merupakan penerapan sampling yang menghasilkan sampel berupa cuplikan

data yang dianggap saling terpisah antara satu dengan yang lain tetapi

dianggap mewakili informasi terkait dengan rumusan masalah untuk

kemudian dianalisis dan diarahkan pada generalisasi teoritis.

F. Metode Analisis Data

Yang dimaksud dengan analisis data menurut Moleong, adalah ”proses

(27)

uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan ditemukan hipotesis seperti

yang disarankan oleh data”.17

Sementara itu, Miles dan Huberman menjelaskan, bahwa analisis data

terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu : reduksi

data, penyajian data, penarikan kesimpulan.18

Dalam praktek, peneliti melacak data mentah yang terdiri dari

catatan-catatan yang berupa pendapat para pakar sebagai ringkasan dari aktivitas

membaca dokumen kajian ilmiah, mengorganisasikannya ke dalam

satuan-satuan tertentu sejalan dengan urutan rumusan masalah; sehingga pekerjaan

analisis data ini sebenarnya bergerak dari pembuatan data mentah sampai

dengan menjadi produk penelitian yang disajikan ke dalam laporan penelitian

ini.

Tipe teknik analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini lebih dekat

dengan analisis isi semantik yang diarahkan pada analisis pensifatan

(attribu-tions).19 Ini diterapkan untuk menggambarkan keadaan psikis, sosiologis, dan

edukatif masa anak sekaligus merepliksikan berbagai sikap, kepentingan, dan

pola-pola kulturalnya sebagai pijakan mengembangkan wawasan mengenai

kiat pendisiplinan salat pada anak beserta implikasinya bagi masa depan anak

menjalani kehidupan yang terasa makin sarat dengan tantangan dan problema

di era globalisasi.

17

Moleng, op.cit, hal. 103. 18

Vide, Miles dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, terjem. Tjetjep Rohendi, UI-Press, Jakarta, 1992, hal. 15.

19

(28)

Untuk penganalisisan data mentah setelah direduksi sampai dengan

menjadi produk penelitian yang disajikan ke dalam laporan penelitian ini,

peneliti berusaha menerapkan tiga macam metode analisis data seperti di

bawah ini.

1. Metode deduksi

Yang dimaksud dengan metode deduksi dalam pandangan Winardi,

adalah ”… proses penguraian dari hal-hal yang bersifat umum

(GENARAL) ke hal-hal khusus (PARTICULAR), dari hal-hal yang

universil ke hal-hal individuil, dari premis-premis tertentu ke

kesimpulan-kesimpulan berdasarkannya”.20

Sementara itu, dalam pandangan Sutrisno Hadi, ”dengan deduktif

berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum, dan bertitik tolak pada

pengetahuan yang umum itu kita hendak menilai sesuatu kejadian yang

khusus”.21

Berpijak pada batasan deduksi yang dipaparkan oleh dua pakar di atas,

maka penerapan metode deduksi dalam laporan penelitian ini,

pertama-tama dimulai dengan dalil (pendapat, teori) yang kemudian diikuti oleh

uraian dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Dalam laporan

penelitian ini, aplikasi metode deduksi yang menonjol untuk menganalisis

data dapat disimak pada bab pertama pendahuluan dan bab kedua metode

penelitian.

20

Winardi, Pengantar Metodologi Research, Alumni, Bandung, 1979, hal. 94-95. 21

(29)

2. Metode induksi

Yang dimaksud dengan metode induksi dalam pandangan Winardi,

adalah ”… suatu proses penguraian dari kasus-kasus khusus hingga suatu

kelompok kasus secara keseluruhan, dari fakta-fakta konkrit hingga

hal-hal yang bersifat umum (GENERALITIES), dari situasi-situasi individuil

ke situasi universil …”.22

Sementara itu Sutrisno Hadi berpandangan, bahwa ”berfikir induktif

berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang konkrit,

kemudian fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus dan konkrit itu

ditarik generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum”.23

Berpijak pada batasan induksi di atas, maka penerapan metode induksi

ini, pertama-tama dimulai dengan penyajian data mentah, kemudian diikuti

dengan uraian dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Dalam laporan

penelitian ini, aplikasi metode induksi yang menonjol untuk menganalisis

data dapat disimak pada bab ketiga dan seterusnya.

3. Metode komparasi

Yang dimaksud dengan metode komparasi dalam laporan penelitian ini,

adalah cara penguraian data yang dimulai dengan penyajian pendapat para

ahli untuk dicari persamaan yang prinsipil dan perbedaannya yang juga

prinsipil, setelah hal itu benar-benar diketahui perlu dipertimbangkan

secara rasional untuk kemudian diakhiri dengan penarikan suatu

22

Winardi, loc.cit. 23

(30)

kisimpulan. Atau paling tidak, diambil satu pendapat yang dipandang

paling kuat.24

Dalam laporan penelitian ini, aplikasi metode komparasi untuk

meng-analisis data dapat disimak pada hampir setiap bab ketika peneliti

menyajikan pendapat minimal dari dua pakar mengenai urusan yang sama.

Pendapat para pakar yang disajikan itu lazim memakai redaksi yang

berbeda, dengan kemungkinan unsur-unsur yang dimuatnya adalah sama

persis atau ada perbedaan yang signifikan.

G. Prosedur Penelitian

1. Prosedur administratif

Prosedur administrasi ini merupakan langkah-langkah yang harus

ditempuh oleh peneliti berkaitan dengan ketentuan administrasi

kelembagaan untuk mendapatkan legalitas penelitian sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peneliti mengurus

surat menyurat pada Pusat Penelitian, dan jajaran terkait di STAIN

Tulungagung. Ini penting untuk ditempuh, agar bisa diperoleh dana yang

memang mendukung kinerja peneliti.

2. Prosedur metodologis

Prosedur metodologis merupakan langkah-langkah yang sistematis,

terencana, dan mengikuti konsep ilmiah yang peneliti tempuh berkaitan

dengan realisasi penelitian dan penyusunan laporan penelitian. Secara

24

(31)

garis besar, langkah-langkah dalam prosedur metodologis yang peneliti

tempuh terdiri atas :

a. Menyusun proposal penelitian.

b. Menseminarkan proposal penelitian.

c. Merevisi proposal penelitian atas dasar masukan dari seminar.

d. Mengumpulkan dokumen-dokumen kajian ilmiah yang relevan.

e. Membaca dokumen sekaligus membuat catatan-catatan dari dokumen

sebagai data mentah yang berupa kartu-kartu ringkasan (resume cards).

Dalam langkah ini, secara hirarkhis diterapkan tiga prosedur kerja

analisis isi. Pertama, adalah pembentukan data yang meliputi unitisasi,

sampling, dan pencatatan. Kedua, adalah reduksi data : menyesuaikan

bentuk data yang ada menjadi bentuk data yang memang perlu

dianalisis melalui pemberian kode tertentu pada masing-masing

resume cards, sehingga terjadi pembuangan data yang dianggap tidak

relevan dengan rumusan masalah.

f. Menganalisis data mentah menjadi produk penelitian sesuai dengan

urutan rumusan masalah. Ini merupakan prosedur ketiga dari analisis

isi untuk mendeskripsikan keterkaitan antar unit sampel dengan setiap

rumusan masalah.

g. Menseminarkan produk penelitian.

h. Merevisi produk penelitian atas dasar masukan dari forum seminar.

(32)

BAB III

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Tugas Perkembangan Anak

Pandangan para pakar mengenai keberadaan fase perkembangan anak usia 6-11 tahun ternyata amat variatif dengan macam-macam sebutan. Dicatat oleh Moh. Kasiram,1 bahwa anak dalam rentang usia 6-11 tahun, secara biologis, dalam pandangan Aristoteles berada pada fase belajar, dalam pandangan Sigmund Freud berada pada fase latent dengan tanda-tanda dorongan tampak tidak menyolok, dalam pandangan Maria Montesori berada pada fase abstrak dengan tanda-tanda mulai menilai perbuatan manusia atas dasar baik buruk dan mulai timbul insan kamil, dalam pandangan Charlete Buhler berada pada fase memuncaknya minat ke dunia obyektif dan kesadaran akan akunya dengan tanda-tanda pertumbuhan badan yang subur dan kritis terhadap diri sendiri serta pancaroba (strum und drunk); secara didaktis dalam pandangan Johann Amos Comenius berada pada fase scola vermacula (sekolah bahasa ibu), dalam pandangan Jean Jacques Rousseau berada pada masa pendidikan jasmani dan latihan panca indra; dan secara psikis, dalam pandangan Oswald Kroh berada pada fase Trots II (masa keserasian sekolah), dalam pandangan Robert J. Havighurst berada pada fase Middle Childhood (masa sekolah), dalam pandangan Prof. Kohnstamm berada pada fase intelektuil.

1

(33)

Dan dicatat oleh Elizabeth B. Hurlock, bahwa anak dalam rentang usia 6-11 tahun ada pada ”akhir masa kanak-kanan (late childhood) berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu matang secara seksual”.2 Pendapat yang variatif dari para pakar mengenai keberadaan perkembangan anak usia 6-11 tahun dengan sudut pandang biologis, didaktis, dan psikis ini manakala dicermati ternyata antar pandangan dapat saling melengkapi.

Dalam usia 6-11 tahun, anak dianggap memiliki empat macam kematangan. Dicatat oleh Singgih D. Gunarsa,3 bahwa pertama anak dianggap matang secara fisik, yaitu kesanggupan mematuhi tata tertib secara jasmaniah seperti duduk tenang selama pembelajaran berlangsung. Kedua anak dianggap matang secara intelektual, yaitu kesanggupan menerima pelajaran secara sistematis, terus menerus berlanjut, dan menyimpannya dalam memori akal yang kemudian dapat mengingat kembali (tidak pelupa). Ketiga anak dianggap matang secara moral, yaitu kesanggupan menerima pembelajaran mengenai moral sekaligus mengaktualisasikannya, seperti pembelajaran akhlaq karimah. Keempat anak dianggap matang secara sosial, yaitu kesanggupan hidup menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitarnya yang pluralistik. Kondisi ini memerlukan pembinaan dan pendisiplinan yang terencana lagi intensif

2

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, 5th ed, terjem. Istiwidayanti dan Soedjarwo, Erlangga, Jakarta, n.d, hal. 146.

3

(34)

untuk mengintegrasikan perkembangan pola tingkah laku anak lebih lanjut.

Anak usia 6-11 tahun dapat dimasukkan ke dalam masa sekolah. Dalam pandangan Singgih D. Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, anak-anak dalam masa tersebut dituntut menjalani sembilan macam tugas perkembangan seperti di bawah ini.

1. Belajar ketrampilan fisik untuk permainan biasa. 2. Membentuk sikap sehat mengenai dirinya sendiri. 3. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya. 4. Belajar peranan jenis yang sesuai dengan jenisnya.

5. Membentuk ketrampilan dasar : membaca, menulis, dan berhitung.

6. Membentuk konsep-konsep yang perlu untuk hidup sehari-sehari.

7. Membentuk hati nurani, nilai moral dan nilai sosial. 8. Memperoleh kebebasan pribadi.

9. Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok sosial lain dan lembaga-lembaga.4

Sesuai dengan makin meningkatnya sifat ingin tahu anak dan makin meluasnya eksplorasi wilayah teritorial, maka masa bersekolah dalam pandangan B. Simandjuntak dan I. L. Pasaribu harus dipahami bahwa anak sudah menampakkan kepekaan untuk belajar.5 Terhadap keluarga, anak usia sekolah telah bersikap obyektif, empiris, realistis, dan intelektualistis; bukan lagi bersikap egosentris dan fantastis. Anak usia sekolah menampakkan kesiapan untuk disiplin mengaktualisasikan tata

4

Singgih D. Gunarsa dan Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga, 1st ed, PT BPK Gunung Mulia, 1991, hal. 12; vide, Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, vol. 1, 6th ed, terjem. Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih, Erlangga, Jakarta, n.d, hal. 40.

5

(35)

tertib sekolah dan kepekaan untuk menerima suatu pelajaran, serta kepekaan untuk belajar. Maka anak usia sekolah dituntut untuk aktif menyesuaikan diri dengan situasi sekolah tempat belajar dan menerima suatu pelajaran, aktif berintegrasi dan bersosialisasi serta menampakkan sikap bersahabat, tidak tepat jika bersikap manja, egoistis, emosional, tinggi hati, rendah diri, pasif, apatis. Posisi anak usia sekolah itu berada pada periode vital, artinya ”Tidak ada waktu lelah”;6 anak laki-laki maupun perempuan senantiasa menampakkan aktivitas yang besar mengembangkan aspek-aspek jasmani-rohani secara bersama-sama.

Pada masa sekolah, dalam pandangan Moh. Kasiram, anak menunjukkan enam macam perkembangan psikis yang meliputi perkembangan : pencerapan, ingatan, fantasi, pikiran, perasaan, kemauan.7 Pertama, pada masa sekolah, perkembangan pencerapan (pengambilan kesan dari pengamatan) berlangsung dari global menjadi terurai ke bagian-bagian. Dalam pandangan Ernst Meumann, perkembangan pencerapan anak itu terdiri dari tiga tingkatan : tingkat menghubung-hubungkan melalui fantasi, tingkat merinci, tingkat menghubungkan melalui pikiran logis. Dalam pandangan W. Stern, perkembangan pencerapan anak itu terdiri dari empat tingkatan : tingkat mengenal benda-benda, tingkat mengenal perbuatan-perbuatan, tingkat mengetahui hubungan-hubungan, tingkat mengenal sifat-sifat. Dalam pandangan Oswald Kroh,

6

Ibid, hal. 110.

7

(36)
(37)

Perasaan yang lebih kuat berkembang pada anak adalah perasaan intelektual, disamping perasaan tanggung jawab, perasaan estetis, dan perasaan keagamaan. Keenam, pada masa sekolah, perkembangan kemauan anak dapat dibangun lebih baik. Anak belum memiliki kekuatan yang signifikan untuk mengontrol perbuatan dirinya, sehingga anak cenderung tunduk lagi patuh kepada kekuatan di luar dirinya seperti figur orang tua (ayah dan ibu) selaku pendidik yang senantiasa dekat memberikan bimbingan ke arah yang lebih baik dalam menegakkan azas jati diri, merumuskan tujuan hidup, serta merealisasikan tugas hidup.

Setiap anak membutuhkan orang lain untuk membantu merealisasikan pelbagai tugas perkembangan tersebut agar secara fisik dan psikis dia memiliki kesiapan yang siginifikan untuk menghadapi tugas-tugas perkembangan yang baru pada fase pubertas. Bantuan orang lain itu amat penting bagi anak agar dia dinamis mengaktualisasikan tugas-tugas perkembangan di atas secara tepat waktu selaras dengan irama masing-masing sehingga dia tidak stagnan. Dinyatakan oleh Singgi D. Gunarsa, bahwa : ”Dan orang lain yang paling utama dan pertama bertanggung jawab adalah orang tua sendiri. Orang tuanyalah yang bertanggung jawab memperkembangkan keseluruhan eksistensi si anak”.8 Tanpa bantuan orang lain dapat saja anak memperkembangan aspek fisiknya, akan tetapi dinyatakan oleh Singgih D. Gunarsa bahwa : ”… satu hal yang pasti, anak

8

(38)

yang berkembang tanpa bantuan manusia lain akan kehilangan hakekat kemanusiaannya”.9 Berarti, secara fisik yang bersangkutan terlihat manusia, akan tetapi secara non-fisik tentu saja tidak terlihat manusia. B. Perkembangan Kesadaran Beragama Anak

Perkembangan kesadaran beragama seseorang adalah berkelanjutan dan berkesinambungan yang lazim dimulai dari fase anak, fase remaja, fase dewasa, dan fase tua, dan itu bukan terupus-putus. Akan tetapi setiap fase perkembangan beragama itu disertai tanda-tanda tertentu. Dalam pandangan H. Abdul Aziz Ahyadi, secara umum tanda-tanda kesadaran beragama pada anak terdiri dari tiga macam.10

1. Pengalaman ketuhanan lebih bersifat afektif, emosional dan egosentris Anak-anak mempelajari pengalaman ketuhanan lazim melalui hubungan emosional secara otomatis dengan pengasuhnya semisal ayah dan ibu selaku orang tua yang diwarnai rasa kasih sayang dan kemesraan, sehingga menimbulkan proses identifikasi, yakni proses penghayatan dan peniruan secara tidak disadari dengan penuh. Ayah dan ibu selaku orang tua merupakan tokoh idola untuk diikuti perbuatannya oleh mereka.

Dan karena pusat segala sesuatu bagi mereka adalah dirinya sendiri, kepentingan, keinginan, dan kebutuhan dorongan biologis; maka penghayatan mereka terhadap Allah swt adalah lebih sebagai

9 Ibid.

10

(39)

pemuas keinginan dan hayalan yang egosentris. Pengembangan kesadaran beragama yang berkaitan dengan pengalaman ketuhanan terhadap mereka seharusnya ditekankan pada pemuasan kebutuhan afektif. Allah swt itu pengasih, penyayang, pelindung, dan seterusnya. Orang tua dituntut dapat bersikap sebagai pengasih, penyayang, pelindung, dan pemuas kebutuhan emosional mereka.

2. Keimanan bersifat magis dan anthropomorphis

(40)

membutuhkan pelindung. Hubungannya dengan Tuhan bersifat individuil dan emosionil”.11 Disarankan kepada para pendidik termasuk orang tua supaya menonjolkan pembahasan mengenai sifat pengasih dan sifat penyayang Tuhan terhadap anak, dan tidak disarankan kepada mereka untuk membahas mengenai sifat pengazab Tuhan.

Pertambahan usia mereka dapat merubah pemikiran yang bersifat tradisional kongkrit menjadi pemikiran pada nilai wujud (eksistensi) sebagai hasil pengamatan, pemikiran tentang Tuhan semakin tertuju pada kebenaran ajaran keimanan. Yang semula Tuhan ditanggapi secara kongkrit emosional sebagai pemurah atas pemuasan keinginan individual kemudian menjadi ditanggapi secara logis sebagai pencipta dan pemelihara seluruh makhluq. Kasih sayang Tuhan adalah tidak terbatas. Dengan pemahaman ini, mereka juga termotivasi mengadakan hubungan yang semakin harmonis dengan masyarakat.

Karena belum mampu berfikir secara abstrak, maka merekapun biasa mempersepsikan segala sesuatu sebagai bernyawa dan dinamis. Akibatnya, pengamatan mereka itu bersifat physiagnosis, menganggap segala sesuatu memiliki kehidupan spiritual yang dilanjutkan dengan personifikasi (memanusiakan manusia) yang mendorong munculnya tanggapan yang bersifat anthropomorphis terhadap Tuhan. Allah swt

11

(41)

dianggap bertangan, bermata, bertelinga sebagaimana manusia, sehingga bilamana dikatakan Dia itu maha melihat, mereka biasa membayangkan betapa lebar mata Tuhan. Akan tetapi setelah mampu berfikir secara logik, mereka dapat memahami ternyata Tuhan tidak dapat dijangkau oleh panca indra (pendengar, penglihat, pencium, pengecap, peraba), dan tidak mungkin seperti yang dibayangkan semula.

3. Peribadatan masih merupakan tiruan, dan kebiasaan yang kurang dihayati

(42)

masjid mereka akan senang pula ke mesjid”.12 Disarankan kepada para pendidik termasuk para orang tua supaya memperbanyak kegiatan keagamaan yang direalisasikan bersama anak seperti mendirikan salat fardu secara berjama’ah di rumah sendiri atau di masjid (musalla, surau).

Kehidupan akhirat -masa depan yang abadi- merupakan keharusan moral sebagai pengekang dan pengendali individu dari perbuatan salah dan dosa, sekaligus sebagai pendorong individu merealisasikan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan dunia. Allah swt bukan hanya pemberi kepuasan emosional, melainkan juga hakim yang senantiasa mengawasi segala perilaku setiap makhluq. Bagi mereka, aktivitas ibadah seperti salat, puasa, do’a dapat berubah dari tindakan meniru dan imitasi menjadi tindakan yang makin disadari lagi berkesungguhan untuk mematuhi Allah swt guna mendapatkan ridlaNya. Untuk itu terasa tepat, jika B. Simanjuntak dan I. L. Pasaribu dalam menanggapi perasaan religious anak usia sekolah berpendapat bahwa :

Mengenai perasaan religious tidak lagi bersifat penyajian dongeng (katehiasi) tetapi sudah bersifat rasional. Oleh karena itu perasaan religious hanya dapat dipupuk terus dengan mengubah cara menyajikan selaras dengan taraf jiwa si anak. Pada umumnya aspek religious tidak mengalahkan perhatian spontan dari si anak. Hal ini disebabkan anak dikuasai perhatian kepada kenyataan disekitarnya.13

12

Ibid, hal. 114.

13

(43)

Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, termasuk juga mengenai perilaku keagamaan seperti mendirikan salat fardu merupakan hasil dari hubungan antara tiga faktor.14Pertama, dorongan yang spontan dari id dan super-ego. Pada setiap manusia terdapat dorongan yang spontan, kecenderungan alamiah yang bekerja secara otomatis dan timbul tanpa disadari dan tanpa sengaja ditimbulkan. Dorongan yang spontan pada manusia itu ada yang bersifat fisik yang bersumber dari id (dalam Islam disebut nafsu yang harus dipenuhi dengan materi) seperti kebutuhan akan harta, tahta, wanita, dan ada yang bersifat psikis yang bersumber dari super-ego (dalam Islam disebut qalbu harus dipenuhi dengan immateri) seperti mentaati suatu tata nilai religius, moral, sosial, dan susila. Dorongan yang spontan ini semula bersifat statis, apabila berdiri sendiri. Dorongan yang spontan ini menjadi dinamis untuk dipenuhi, jika diresapi dan ditanggapi secara positif oleh ke-aku-an selaku inti kepribadian dan didukung oleh situasi lingkungan. Kedua, ke-aku-an dari ego. Dorongan yang spontan lagi alamiah yang bereumber dari id dan super-ego itu dapat menjadi milik seseorang bilamana telah ditanggapi secara positif dan disetujui oleh ego untuk diperbuat. Ketiga, situasi lingkungan. Dorongan yang spontan yang ditanggapi secara positif dan disetujui oleh ego akan

14

(44)

benar-benar diperbuat bilamana situasi lingkungan mendukung secara penuh. Tindakan dan perbuatan manusia senantiasa tidak terlepas dari situasi lingkungan sekitar. Hubungan dinamik timbal balik antar tiga faktor tersebut menghasilkan perilaku seseorang. Karenanya, agar anak dapat disiplin mendirikan salat fardu, setiap orang tua (ayah dan ibu) selaku pendidik pertama lagi utama dituntut untuk membimbing ke-aku-an anak untuk menanggapi secara positif lagi menyetujui setiap dorongan yang spontan yang bersumber dari super-ego (qalbu), dan juga dituntut untuk menciptakan situasi lingkungan rumah tangga yang senantiasa mendukung penegakkan salat lima waktu seperti sehari-hari sejak pernikahan (temanten baru) mendirikan salat fardu secara berjama’ah.

Menurut asal kejadiannya, manusia itu diciptakan oleh Allah swt dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani. Istilah jasmani adalah nama bagi keseluruhan yang ada pada bagian dzahiriy (materi : badan wadag) dari manusia. Sedang istilah rohani adalah nama bagi keseluruhan yang ada pada bagian bathiniy (immateri : badan alus) dari manusia.

(45)

dari tanah, yang bersifat materi terutama makanan dan minumam yang lezat lagi bergizi tinggi (empat sehat lima sempurna).

Unsur rohani manusia diciptakanNya berasal dari ruh yang hanya diketahui olehNya. Tak ubahnya dengan jasmanai, rohanipun membutuhkan makanan demi pertumbuhan dan perkembangannya. Santapan yang cocok untuk rohani bukanlah jenis-jenis makanan yang berasal dari tanah, melainkan jenis-jenis makanan produksi Allah swt, yakni ajaran agama Islam.

Dipandang dari sudut fungsinya, menurut Mudlor Achmad, unsur rohani manusia itu dapat dibedakan menjadi empat macam : nafsu/id, ‘aqlu/ego, qalbu/superego, dan ruh.15 Empat unsur rohani ini memiliki karakter sendiri-sendiri. Nafsu/id itu berada dalam alam bawah sadar, ketidak sadaran manusia, memiliki daya-daya yang bertujuan pemuasan kesenangan jasmaniyah, tidak mengenal nilai moral, bersifat immoral. ‘Aqlu/ego itu berada dalam alam sadar manusia, merupakan tempat segala daya yang datang dari nafsu dan qalbu dianalisis, dipertimbangkan, diberi keputusan untuk kemudian ditindakkan atau ditiadakan, merupakan pengontrol yang bertujuan mewujudkan keseimbangan pribadi, bersifat realistis. Qalbu/superego itu berada dalam alam bawah sadar manusia, merupakan sumber nilai moral yang memiliki tujuan mewujudkan kesempurnaan rohaniah, bersifat ideal.

15

(46)

Pada umumnya secara psikis, manusia itu baru dikatakan memiliki jiwa yang sehat, apabila antara nafsu, ‘aqlu, dan qalbunya telah dapat bekerja sama dengan harmonis. Pandangan ini ternyata dibantah oleh kenyataan bahwa apabila dalam diri manusia terjadi pertentangan akibat dorongan nafsu dan qalbu yang antagonis dan saling tarik menarik antara keduanya (Jawa : oyok-oyokan), sedang ‘aqlu karena kelemahan-kelemahannya ternyata tidak mampu lagi memberikan keputusan dorongan mana yang harus ditindakkan dan mana yang harus ditiadakan; maka manusia dapat saja kehilangan keseimbangan diri dan padanya dapat tampak dengan jelas aneka perilaku dalam kategori abnormal.

(47)

Karenanya, setiap perilaku keagamaan, seperti mendirikan salat fardu, seharusnya menjadi media training dalam mengendalikan nafsu, ‘aqlu dan qalbu agar dapat senantiasa mengikuti kemauan ruh, agar manusia memiliki kesehatan jiwa yang selalu prima dan memiliki kepribadian Islamiy.

Ditinjau dari sudut sifatnya, Sayid Sabiq merangking nafsu menjadi tiga peringkat.16 Ranking ketiga : nafsu ammarah bi al-suuk; apabila keadaannya dapat menguasai watak yang jujur dan dapat memerintah tabiat yang berdasarkan fithrahnya sehingga dapat mengalahkan kesucian. Nafsu ranking ketiga ini senantiasa mengajak pemiliknya untuk berlaku buruk dan berbuat kejahatan. Nafsu ranking ketiga ini merupakan nafsu yang belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, belum mampu membedakan mana yang manfaat dan mana yang mafsadat. Sehingga semua yang bertentangan dan tidak cocok dengan kemauannya adalah berarti musuhnya, dan segala yang sejalan dengan kemauannya adalah berarti karibnya. Syahminan Zaini dalam bukunya ”Penyakit Rohani dan Pengobatannya” mengkategorikan nafsu ranking ketiga ini sebagai sumber penyakit rohani yang dapat merusak iman manusia,17 dan dalam bukunya ”Nilai Iman” mengkategorikan nafsu ranking ketiga ini

16

Vide, Sayid Sabiq, Aqidah Islam, 11th ed, terjem. Abdai Rathomy, CV Diponegoro, Bandung, 1992, hal. 386-388.

17

(48)

sebagai musuh iman kelas berat di samping syetan, orang kafir, dan orang munafiq.18 Ranking kedua : nafsu lawwamah; apabila keadaannya sudah mencapai tingkat peneliti, pemeriksa , dan selalu membuat perhitungan pada perbuatan yang dilakukan, yang baik atau yang buruk, kemudian merasa tenang dengan adanya kebaikan dan merasa berduka cita dengan adanya keburukan. Nafsu ranking kedua ini suka mencela dirinya sendiri. Di samping melihat kebaikan, ia telah menduduki tempat pengoreksian dari tubuh manusia itu sendiri. Nafsu ranking kedua ini adalah nafsu yang telah memiliki rasa insyaf dan menyesal sesudah melakukan pelanggaran. Sayang sekali, ia belum mampu dan kuat mengekang nafsu yang jahat. Oleh karena itu, ia masih selalu dekat pada pekerjaan maksiyat dan mafsadat. Setelah mengerjakan pelanggaran, timbullah keinsyafan dan penyesalan, lalu berharap agar kejahatannya jangan terulang lagi. Akan tetapi tobatnya hanya seperti orang makan sambal (Jawa : kapok lombok). Ranking pertama : nafsu muthmainnah; apabila keadaannya telah terkendali. Manusia dapat mengemudikan syahwatnya untuk diarahkan mengikuti kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan dalam mencapai maqam kreatif-bijaksanaan dan kelurusan yang dikehendaki oleh Allah swt. Nafsu ranking pertama ini merupakan nafsu yang telah mendapatkan tuntunan dan pemeliharaan yang baik, mendatangkan

18

(49)

ketenangan jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, membentengi serangan kekejian dan kejahatan, memukul mundur aneka musuh kesejahteraan dan kebahagiaan, mendorong melakukan kebajikan serta menghambat perbuatan kejahatan. Wajar manakala Allah swt dalam al-Qur’an surat al-Fajr ayat 27-30 memanggilnya untuk masuk syurga.19 Karenanya, setiap perilaku keagamaan seperti mendirikan salat fardu, seharusnya menjadi media training dalam menaikkan ranking nafsu manusia dari nafsu ranking ketiga ammarah bi al-suuk ke nafsu ranking kedua lawwamah dan terus ke nafsu ranking pertamana muthmainnah, atau menjadi media training untuk lebih mempertahankan dan melanggengkan nafsu ranking pertama yang selama ini memang sudah dicapai. Setiap pendidik, seperti para orang tua (ayah dan ibu), dituntut untuk menjadi pembimbing yang arif lagi bijaksana agar anak benar-benar disiplin mendirikan salat fardu guna meningkatkan ranking nafsu tersebut.

Setiap manusia dilahirkan ke dunia telah dimodali dengan bermacam-macam fithrah, antara lain potensi mempertahankan hidup, meneruskan keturunan, ingin mengetahui, mementingkan diri sendiri, beragama tauhid (iman). Dari sekian banyak macam fithrah ini, yang merupakan ciri khas manusia, yang membedakan manusia dengan binatang adalah fithrah beragama tauhid yang telah ada pada ruh

19

(50)

manusia semenjak di alam arwah sebelum ruh itu ditiupkan ke dalam jasad janin.20 Setiap perilaku keagamaan, seperti mendirikan salat fardu, harus menjadi media training untuk menempatkan fithrah beragama tauhid (iman) pada posisi imam, sekalgus menempatkan fithrah-fithrah lain termasuk qalbu, ‘aqlu, dan nafsu pada posisi sebagai makmum. Posisi iman sebagai imam, manager, pemimpin dalam merealisasikan segala kepentingan qalbu, ‘aqlu, dan nafsu merupakan muara yang senantiasa menjelmakan akhlaq karimah, terutama manusia dapat memiliki sifat jujur (shidiq) dan sifat dapat dipercaya (amanah) baik secara vertikal terhadap Tuhan sekaligus secara horizontal terhadap sesama manusia yang pluralistik dan terhadap makhluq-makhluq yang lain. Akhlaq karimah ini merupakan penegak utama bagi pertumbuhan dan perkembangan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga, setiap pendidik seperti orang tua (ayah dan ibu) dituntut untut menjadi pembimbing yang arif-bijaksana agar anak disiplin mendirikan salat fardu guna memposisikan iman sebagai imam sekaligus memposisikan qalbu, ‘aqlu, dan nafsu sebagai makmum.

C. Batas Usia Anak untuk Pendisiplinan Salat Fardu

Mendirikan salat fardu lima waktu dalam sehari semalam -subuh, dhuhur, ‘ashr, maghrib, ‘isyak- merupakan kewajiban yang dibebankan

20

(51)

Allah swt pada setiap hambaNya yang beriman,21 yang mukallaf : orang yang telah aqil baligh, bahkan orang mukallaf yang sakitpun tetap diwajibkan mendirikan salat fardu dengan cara-cara yang disanggupi, yaitu dengan berdiri, duduk, atau berbaring. Hanya ada tiga golongan orang mukallaf yang dikecualikan dari beban kewajiban mendirikan salat fardu : 1. Orang yang tak sanggup mengerjakannya dengan syarat logis, 2. Orang yang pitam (pingsan) hingga keluar waktu, 3. Perempuan yang sedang haidh atau nifas.22

Hukum mendirikan salat fardu lima waktu sehari semalam adalah fardu ‘ain bagi setiap umat Islam yang mukallaf. Artinya, setiap orang Islam yang mukallaf dibebani kewajiban mendirikan salat fardu dan harus ditunaikan sendiri, tidak dapat dibebankan dan diwakilkan pada orang lain sekalipun pada kerabat dan ahli waris terdekat.

Memang kewajiban mendirikan salat fardu merupakan beban setiap orang Islam yang mukallaf, bukan beban anak-anak yang muslim. Akan tetapi mendidik dan melatih mereka untuk mampu mendirikan salat fardu sampai dengan terbiasa mendirikannya adalah diperintahkan oleh nabi saw kepada setiap orang tua (ayah dan ibu) yang diberi amanat oleh Allah swt mengasuh anak-anak buah kasih sayang pernikahan mereka.23

21

Vide, Al-Qur’an seperti surat al-Baqarah ayat 43, ibid, hal. 16.

22

Vide, Hasbi as-Shiddieqy, Pedoman Shalat, 19th ed, Bulan Bintang, Jakarta, 1991, hal. 68. Sedang kriteria aqil baligh, vide, H. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, Attahiriyah, Jakarta, 1954, hal. 75.

23

(52)

ّﺮﻓو ﺮﺸﻋ ءﺎﻨﺑأ ﻢھو ﺎﮭﯿﻠﻋ ﻢھﻮﺑﺮﺿاو ﻦﯿﻨﺳ ﻊﺒﺳ ءﺎﻨﺑأ ﻢھو ة ﻼﺼﻟﺎﺑ ﻢﻛ دﻻوأ او ﺮﻣ

Artinya : ”Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan salat apabila mereka telah berusia tujuh tahun, dan apabila mereka telah berusia sepuluh tahun maka pukullah mereka (apabila tetap tidak mau melaksana-kan salat itu) dan pisahmelaksana-kanlah tempat tidur mereka”.24

Sabda nabi saw tersebut tampak secara tegas memerintahkan, bahwa batas usia anak untuk pendisiplinan salat lima waktu adalah di antara tujuh sampai dengan sepuluh tahun. Itu mengisyaratkan, bahwa sebelum berusia tujuh tahun, anak-anak sudah harus dikenalkan dan difahamkan dengan seluk beluk salat fardu terutama yang berkaitan dengan syarat dan rukun serta tata cara salat, dan mereka juga tidak dilarang (boleh) untuk dilatih mendirikan salat fardu. Itu juga memberi isyarat, bahwa pendisiplinan salat fardu terhadap anak-anak yang berusia lebih dari sepuluh tahun menjadi makin sulit direalisasikan.

Memang dalam lingkungan pendidikan informal (keluarga), kebanyakan orang tua (ayah dan ibu) memberi label kepada anak usia 6-11 tahun (late chilhood) itu merupakan usia menyulitkan, dan usia tidak rapih.25 Anak usia sekolah dilabeli dengan usia menyulitkan, dimaksudkan bahwa ketika itu kebanyakan anak tidak mau lagi menuruti perintah orang tua dan sudah lebih banyak menampakkan perilaku hasil pengaruh

24

Abdullah Nashih Ulwan, op.cit, hal. 54.

25

(53)

teman sebaya. Anak usia sekolah dilabeli dengan usia tidak rapih, dimaksudkan bahwa ketika itu kebanyakan anak kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya sendiri, cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan dengan kondisi kamar tidur yang berantakan. Semua itu dapat memperberat beban tugas orang tua mendidik mereka. Akan tetapi, selaku orang tua muslim selalu dituntut untuk mengemban tugas yang mulia dari nabi saw di atas dengan sekuat tenaga dan daya demi mewujudkan generasi penerus yang shalih.

(54)

Kemudian dalam sabda nabi saw secara tekstual juga disertai perintah kepada para orang tua (ayah dan ibu) untuk memukul anak-anak bilamana sampai usia sepuluh tahun tidak mau menunaikan perintah mendirikan salat serta memisahkan tempat tidur. Secara edukatif, sebagian pakar pendidikan membolehkan memanfaatkan hukuman sebagai alat dan metode mendidik anak. Perintah nabi saw terhadap orang tua (ayah dan ibu) untuk memukul anak-anak usia sepuluh tahun yang tidak mau medirikan salat adalah memperlihatkan bahwa nabi saw membenarkan penerapan hukuman fisik sebagai alat mendidikkan salat. Dan perintah nabi saw terhadap orang tua (ayah dan ibu) untuk memisahkan tempat tidur anak-anak usia sepuluh tahun yang tidak mau mendirikan salat adalah memperlihatkan bahwa nabi saw memebenarkan penerapan hukuman non-fisik sebagai alat mendidikkan salat. Secara kontekstual ke-Indonesiaan sekarang, tentu saja aplikasi kedua jenis hukuman dalam mendidikkan salat pada anak usia sepuluh tahun itu adalah tidak boleh melanggar hak-hak anak dan hak azasi manusia.

Referensi

Dokumen terkait

4 Kemudian lebih rinci lagi diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Lembaran Negara Republik Indonesia.. Tahun 2002 Nomor 109 yang

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165. c) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002, Tentang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan

Departemen Sosial RI, 2009, Buku Panduan Pelatihan Pekerjaan Sosial, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3). Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235)

Lahirnya pasal 81 (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak memberikan

Dengan ditetapkannya Undang-Undang Republik Nomor 23 Tahun 2002 tentang Dengan ditetapkannya Undang-Undang Republik Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan