REALITA DAN SASTRA
Telaah Kumpulan Cerpen: Liman Nah}mil al-Ras}as}ah (Peluru ini untuk siapa?) Karya Jiha>d Rajbi> Kajian Semiotik Charles Sander Peirce
Proposal Tesis
Disusun Oleh: Reni Ilmayanti 21151200100079
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Masykuri Abdillah
Dr. JM. Muslimin, MA
Dr. Usep Abdul Mathin, MA
SEKOLAH PASCA SARJANA
PROGRAM MEGISTER PENGKAJIAN ISLAM
KONSENTRASI BAHASA DAN SASTRA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Page | 1 OUTLINE
ABSTRAK
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
D. Penelitian Terdahulu yang Relevan E. Metodologi Penelitian
F. Sistematika Penulisan
BAB II : TEORI SEMIOTIK CHARLES SANDERS PEIRCE A. Sekilas tentang Peirce
B. Semiotik dalam Perspektif Peirce C. Segitiga Semiotik Peirce
1. Representamen 2. Objek
3. Interpretan
D. Trikotomi Semiotik Peirce 1. Ikon
2. Indeks 3. Simbol
BAB III : Dinamika Kehidupan Sosial Jiha>d Rajbi> A. Biografi Jiha>d Rajbi>
B. Latar belakang Sosial Jiha>d Rajbi>
BAB IV : Analisis Semiotik Peirce Terhadap Teks (Kumpulan Cerpen: Liman nah}mil al-Ras}as}ah): Melihat Realita Dibalik Peristiwa Intifa>dhah Masyarakat Palestina.
A. Pembacaan Heuristik Terhadap Seri Cerpen 1. Pengasingan
2. Biarkan Aku jadi Orang Paelstina 3. Peluru ini Untuk Siapa?
4. Orang-orang Deportan 5. Kami Bukan Orang Asing 6. Darah Hitam
7. Waham dan Amarah 8. Pencuri
9. Tanah Air ini Lebih Besar daripada Air Mata Mereka 10. Ahmad Izzudin, Tidak Lolos Sensor
11. Ketika Kota itu Tertidur
B. pembacaan hermenetik terhadap kumpulan cerpen Liman nah}mil al-Ras}as}ah : melihat makna serta ideologi pengarang dalam teks
Page | 2 ABSTRAK
Tesis ini mengkaji kumpulan cerpen yang berjudul: Liman Nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi> dengan menggunakan pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce. Tesis ini bermaksud memaparkan makna dan ideologi pengarang yang tersirat pada teks dalam mengungkapkan realita peristiwa dibalik Intifa>dhah di Palestina yang tersaji dalam kumpulan cerpen Jihad Rajbi.
Jihad Rajbi adalah seorang penulis perempuan Palestina yang lahir dan dibesarkan ditengah-tengah konflik peperangan berkepanjangan antara Palestina dan Israel. Kumpulan cerpen ini diterbitkan pada tahun 1993 oleh penerbit Filisti>n Muslimah, kumpulan cerpen ini mengisahkan ketertindasan bangsa Palestina atas penjajahan Israel. Isu-isu Intifa>dhah selalu tersajikan dalam setiap judul cerita dalam kumpulan cerpen ini. Ada heroisme wanita, anak-anak dan pemuda dalam melawan agresor yang tercermin dalam keseluruhan cerita. Ada ketegaran dalam penjara (Pengasingan), ada simpati opini dunia, khususnya kalangan media massa (Biarkan aku Jadi Orang Palestina), ada reaksi anak-anak Palestina yang diaspora (Darah Hitam), ada sikap partisipasi dari pemuda Palestina di luar negeri (Peluru ini Untuk Siapa), ada kisah perdamaian yang terlihat dalam beberapa cerita (Pencuri,
Ketika Kota Itu Tertidur, Ahmad ‘Izzudin Tidak Lulus Sensori), ada pula tema deportasi (orang-orangDeportan).
Pokok-pokok masalah tersebut akan dibahas secara deskriptif, analisis, interpretatif dan komparatif-sintesis. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library Research); dengan menelaah bahan-bahan pustaka, baik berupa buku, ensiklopedia, jurnal dan sumber-sumber lain yang relevan dengan topik yang dikaji. Sumber data primer dalam tesis ini adalah kumpulan cerpen Liman Nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi>. Adapun operasional metodologis penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap;mengumpulkan, mengklasifikasi, mengolahan dan menginterpretasi.
Kata Kunci: Semiotik Peirce, Intifa>dhah, Teks Kumpulan Cerpen Liman nah}mil al-Ras}as}ah
Page | 3 A. Latar Belakang Masalah
Hakikat masyarakat dan kebudayaan pada umumnya adalah kenyataan, sedangkan hakikat karya sastra adalah rekaan, dengan sebutan yang lebih populer, yaitu imajinasi. Berbeda dengan kenyataan dalam ilmu kealaman, kenyatan dalam ilmu sosial adalah kenyataan yang sudah ditafsirkan, kenyataan sebagai fakta sosial. Berbeda dengan imajinasi dalam kehidupan sehari-hari, yang dianggap sebagai semata-mata khayalan, imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang didasarkan atas kenyataan, imajinasi yang juga diimajinasikan oleh orang lain. Meskipun hakikat karya sastra adalah rekaan, tetapi jelas karya sastra dikonstruksi atas dasar kenyataan. Dalam setiap karya seni khususnya karya sastra, terkandung unsur-unsur tertentu yang memang merupakan fakta objektif.1
Sesuai dengan anggapan bahwa karya sastra adalah ciptaan pengarang yang tidak terlepas dari kreasi imajinatif, maka pandangan bahwa karya sastra sebagai dokumen realitas, mesti dimaknai sebagai realitas yang telah mengalami proses pengendapan di dalam pemikiran pengarangnya. Dalam hal ini, pengalaman pengarang yang telah melalui proses pengamatan perenungan, penghayatan dan penilaian itu, kemudian dibaluri sedemikian rupa oleh kekuatan imajinasi. Demikianlah, pemikiran yang menguasai penciptaan itu, tidak lain adalah pemahaman pengarang atas kehidupan di sekelilingnya yang lalu direfleksikan melalui karyanya. Dengan begitu, pemikiran itu sekaligus merupakan pantulan pengalaman pengarang dalam kehidupan sosial zamannya saat karya itu dilahirkan.2
Di beberapa sentral penelitian, hasil penelitian sastra pada umumnya masih berkutat pada hal-hal teoritik sastra. Yakni, sebuah wilayah penelitian sastra untuk sastra. Orientasi semacam ini sering dianggap kurang lengkap, karena karya sastra sebenarnya merupakan bahan komunikasi antara pengarang dengan pembaca.3
Dalam hubungannya antara pengarang dan pembaca, keduanya tidak hanya menduduki tempat sendiri, tetapi hadir dalam peranannya yang saling melengkapi. Ringkasnya, tanpa pengarang, mustahil ada karya sastra. Tanpa pembaca, karya itu tidak akan mengungkapkan fungsi sosialnya, dan sekaligus juga tidak akan memperlihatkan nilai keindahan estetiknya. Jadi, nilai estetik dan fungsi sosial karya sastra, baru muncul jika ia dinikmati masyarakat pembaca. Di antara sejumlah pembaca itu, kita sebagai mahasiswa khususnya dibidang ilmu kesastraan bukan hanya sekedar sebagai penikmat, tetapi menanggapinya secara kritis. Membaca dengan kritis mencoba mencari jawaban sebab-musababnya. Inilah yang disebut dengan sentuh kritis (critical contact). Dengan demikian mengungkapkan sejumlah pertanyaan dalam bentuk kritik atau apresiasi tertulis.4
1 Nyoman Kuta Ratna, Sastra dan Cultural Studies Refresentasi Fiksi dan Fakta, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 306-307
2 Maman S. Mahayana, Sembilan Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Teori Orientasi Kritik, (Jakarta: Bening Publishing, 2005), hlm. 361-362
3 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi, (Yogyakarta: Caps, 2011), hlm. 1
Page | 4 Mengingat kreasi pengarang tidak lain adalah sebuah teks yang dibangun berdasarkan pengalaman langsung (yang disarankan, dilihat dan dialami) dan pengalaman tidak langsung (yang didengar dan dibaca lewat teks lain), maka apa yang tertuang dalam teks sesungguhnya berdasarkan pengalamannya dalam kehidupan manusia di dunia. Pengarang tidak sekedar menampilkan kembali fakta yang terjadi dalam kehidupan, melainkan telah membalurinya dengan imajinasi dan wawasannya. Ia lalu mengungkapkan kembali dengan bahasa sebagai medianya.5
Sebagai mana perkataan Juzif al-Hasyim dalam bukunya mufi>d fi> a>da>b
al-‘arabi> yang dikutip oleh Wildana Wargadinata.6
رأ يِبأعَ ت ُبَدَألَْا
ا ُهُتَلأ يِسَو ِةاَيَألْا ِنَع
ِةَغُّلل
‚ Sastra adalah ungkapan tentang kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya‛.
Bahasa merupakan alat komunikasi dalam mengungkapkan pikiran lewat kata-kata yang tersusun.7 Bahasa digunakan dalam kenyataan yang paling kongkret untuk berbagai tujuan yang dikehendaki manusia. Ada yang digunakan sebagai alat membuat perjanjian, memberi sugesti, ajakan, melakukan sindiran, kritik, dan sebagainya. Demikian pulanya dengan karya sastra, ia merupakan sebuah fakta yang terlahir sebagai bagian dari berbagai permasalahan dan situasi konkret yang dihadapi manusia diluar faktanya sebagai pembangun makna. Dengan itu hendak dinyatakan bahwa karya sastra merupakan sebuah fakta kemanusiaan.8
Sebagai seni bahasa, sumbangan terpenting karya sastra dalam kaitannya dengan masalah-masalah kemasyarakatan adalah kemampuannya dalam mentransformasikan sekaligus mengabdikan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari, sebagai interaksi sosial, ke dalam peristiwa-peristiwa sastra, sebagai perilaku fiksional. Dengan kalimat lain bahasa sastra mentransendensikan kejadian-kejadian, sehingga masalah-masalah yang biasa menjadi luar biasa.9
Bahasa sebelum dipakai oleh penulis, sudah merupakan sistem tanda, sistem semiotik; setiap tanda, unsur bahasa itu mempunyai arti tertentu, yang secara konvensi disetujui, harus diterima oleh anggota masyarakat. Di dalam sistem tanda itu tersedia perlengkapan konseptual yang sukar sekali kita hindari, sebab
5 Maman S. Mahayana, Sembilan Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Teori Orientasi Kritik, hlm. 38
6 Wildana, dkk, Fakta Sosial Sastra Arab dan Lintas Budaya, (Malang: Uin Malang Press, 2008), hlm. 19
7 Fa>ru>q H}asa>n, Dira>sa>t Naqdiyah Ra’yu Naqdiyah, (Kairo: Al-Haiah al-Mis}riyah al-‘Ammah lilkita>b, 2008), hlm. 101
8 Faruk, Metode Penelitian Sastra Sebuah Penjelajahan Awal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 90
Page | 5 perlengkapan itu merupakan dasar pemahaman dunia nyata yang sekaligus merupakan dasar komunikasi antara masyarakat.10
Karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaan dan keinginan pengarang lewat bahasa. Bahasa itu sendiri tidak sembarangan bahasa, melainkan bahasa yang khas, yakni bahasa yang memuat tanda-tanda atau semiotik.11 Sebagai fakta semiotik, karya sastra mempunyai eksistensi ganda, yakni sekaligus berada dalam dunia inderawi (empirik) dan dunia kesadaran (consciousness) yang non empirik. Aspek keberadaannya yang pertama dapat ditangkap oleh indra manusiawi, sedangkan aspek keberadaannya yang kedua tidak dapat dipahami oleh indera.12
Untuk mengetahui makna tersirat yang berupa tanda dalam karya sastra seperti novel atau cerpen diperlukan sebuah kajian atau pendekatan tertentu agar dapat mengungkapkan makna yang tersirat. Dalam struktur prosa, baik cerpen dan novel, maupun drama, berbeda dengan puisi. Dalam prosa unsur yang dominan adalah cerita, plot, kejadian, tokoh, dan sudut pandang. Tokoh dan kejadian yang kemudian membentuk cerita, sebagai plot dianggap sebagai unsur utama.13
Dalam penelitian ini aspek yang dikaji adalah kumpulan cerpen karya Jihad Rajbi. Jihad Rajbi adalah seorang penulis wanita yang lahir dan dibesarkan ditengah konflik peperangan berkepanjangan antara negerinya, palestina, dan israel. Dalam kumpulan cerpen ini, pengarang menceritakan tentang ketertindasan bangsa palestina atas penjajahan Israel. Kumpulan cerpen ini terdiri dari 11 judul:
1. Pengasingan
2. Biarkan Aku jadi Orang Palestina 3. Peluru ini Untuk Siapa?
4. Orang-orang Deportan 5. Kami Bukan Orang Asing 6. Darah Hitam
7. Waham dan Amarah 8. Pencuri
9. Tanah Air ini Lebih Besar daripada Air Mata Mereka 10. Ahmad Izzudin, Tidak Lolos Sensor
11. Ketika Kota itu Tertidur
Kumpulan Cerpen yang berjudul: Liman nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi>, diterbitkan oleh penerbit Filisti>n Muslimah pada tahun 1993, yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dua diantaranya adalah bahasa Turki dan
10 A. Teww, Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), hlm. 96
11 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi, hlm. 1
12 Faruk, Metode Penelitian Sastra Sebuah Penjelajahan Awal, hlm. 78
Page | 6 Indonesia.14 Kumpulan cerpen ini mengisahkan ketertindasan bangsa Palestina atas penjajahan Israel. Sebelum kita melihat lebih jauh isi dalam kumpulan cerpen ini, kita dibawa pada pembacaan atas negara Palestina pada era tahun1967 dimana ketika itu Pelestina terpuruk akibat kemenangan Israel dalam perang 6 hari. Yerussalem Timur dikusai, masjid al-Aqsa dan Bayt al-Maqdis dikusai secara politik dan perundang-undangangan. Serangan dan pembunuhan keji yang dilakukan oleh Israel terhadap umat Islam Palestina secara terus-menerus. Pada tanggal 21 Agustus 1969 masjid al-Aqsa dibakar, sehingga sebagiannya, termasuk mimbar yang sudah berusia 1000 tahun musnah. Memasuki tahun 1980 Muslim Palestina bangkit bersatu ingin membebaskan dan membela diri dari cengkraman Israel. Gerakan mereka terkenal dengan nama Intifa>d}ah15 1 yang berlangsung
hingga 1993.16
Intifadah mencerminkan pendirian rakyat Palestina sebagai manifestasi ketidakpuasan hati terhadap perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina selama ini, dan puncaknya disebabkan dengan matinya empat orang rakyat Palestina oleh para tentara Zionis. Hal ini lah yang melatarbelakangi tercetusnya kebangkitan rakyat Palestina yang disebut dengan Intifadah Pertama (1987-1993).17 Intifadah juga merupakan suatu peristiwa besar dalam sejarah umat Islam Palestina, kebangkitan rakyat palestina dalam peristiwa Intifadah ini bukanlah suatu rencana yang disusun rapi seperti halnya organisasi-organisasi maupun individualisme akan tetapi kemuculan gerakan ini berlaku secara tiba-tiba dan atas semangat bersama menentang kezaliman kaum Zionis. Dalam peristiwa ini rakyat Palestina bersatu tanpa membeda-membedakan kasta dan tingkatan umur, seluruh masyarakatnya bersatu mulai dari kanak-kanak hingga orang tua bahkan kaum wanita juga ikut memainkan perannya dalam peristiwa ini.18
Tercatat bahwa peristiwa intifadah ini banyak menimbulkan korban dikalangan anak-anak. Hal ini bisa dilihat pada tabel dibawah.19
14 Helvi Tiana Rosa, ‚Sosok Ibu dalam Intifadoh Karya Jehad Rajbi‛, diakses pada 29 oktober 2016 dari https://sastrahelvy.com/2014/06/27/sosok-ibu-dalam-intifadhah-karya-jehad-rajbi/
15
Intifa>d}ah adalah perlawanan warga sipil Palestina tanpa senjata terhadap tentara Israel. Intifa>d}ah merupakan gerakan nasional yang dimulai pada 14 Desember 1987 dengan adanya demonstrasi besar-besaran diseluruh wilayah Gaza, Tepi Barat, Yerussalem Timur, yang melibatkan hampir seluruh rakyat Palestina, lelaki dan perempuan dari berbagai golongan umur.
16Misri A. Muchsin, ‚Palestina dan Israel: Sejarah Konflik dan Masa Depan,‛
MIQOTH, Vol. XXXIX, No. 2 (Desember 2015),hlm. 400
17Mohn Ruslan Mohn Nor, Siti Zaleha Hamzah, ‚Perjanjian Oslo: Kajian Terhadap Proses Damai Konflik Arab-Israel,‛ Al-Tamaddun, Vol. 10, (Januari 2015), hlm. 54
18 Abdul Qaiyim Suhaimi, Mohn Ruslan Mohn Nor, ‚Penentangan Rakyat Palestin Terhadap Israel dalam Intifadah Pertama 1987: Kronologi dan Kesannya ke Atas Konflik Palestin,‛ Al-Muqaddimah, Vol. I (Januari 2013), hlm. 28
Page | 7
Sebab Kematian Tebing Barat Gaza Jumlah
Umur 0-6
7-Gerakan pembebasan Muslim ini reda setelah adanya perjanjian Oslo20 menuntut perdamaian dan juga rupanya membolehkan rakyat Israel untuk hidup bebas di Palestina. Akan tetapi walaupun sudah ada perjanjian Oslo, namun Israel terus-menerus menindas rakyat Muslim Palestina.21
Intifa>d}ah sebagai gelombang gerakan rakyat yang menuntut kemerdekaan tampak jelas dalam kumpulan cerpen ini. Ada heroisme wanita, anak-anak dan pemuda dalam melawan agresor yang tercermin dalam keseluruhan cerita. Ada ketegaran dalam penjara (Pengasingan), ada simpati opini dunia, khususnya kalangan media massa (Biarkan aku Jadi Orang Palestina), ada reaksi anak-anak Palestina yang diaspora (Darah Hitam), ada sikap partisipasi dari pemuda Palestina di luar negeri (Peluru ini Untuk Siapa), ada kisah perdamaian yang terlihat dalam beberapa cerita (Pencuri, Ketika Kota Itu Tertidur, Ahmad ‘Izzudin Tidak Lulus
Sensori), ada pula tema deportasi (orang-orang Deportan). Semua ini menyampaikan pesan Intifadah secara eksplisit maupun implisit, meskipun para tokoh tersebut berada dalam kondisi ketakberdayaan.
Ruang dalam kumpulan cerpen ini bervariasi. Tetapi waktunya tetap satu, Intifad}ah. Dengan begitu karya ini telah mempersembahkan berbagai pemandangan dan situasi dalam bingkai waktu yang agung. Ia berusaha menyelami semua nuansa manusiawi dengan lebih dalam. Ia bahkan memasuki ruang kelemahan dan keputusasaan manusia, dan mencoba membelainya dengan filosofi yang sangat indah tentang kekalahan dan keputusasaan.
Narasi yang dipaparkan oleh Jihad Rajbi dalam kumpulan cerpennya tersebut menurut hemat peneliti menampilkan banyak tanda yang bersifat simbolis, tanda tersebut berupa kata-kata, diantaranya adalah kata peluru (Ras}as}ah), batu-batu kecil, anak-anak, ibu, al-Quds, pengasingan. kata-kata ini sering muncul
20 Perjanjian Oslo adalah kesepakatan damai antara pemimpin PLO (Palestine
Liberation Organisation) Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin, PLO
mengakui hak hidup Israel dan secara resmi meninggalkan cara-cara perjuangan bersenjata, perjanjian ini berlangsung pada tanggal 13 September 1993 di Oslo, Norwegia.
Page | 8 disetiap judul cerita, menariknya lagi dalam kumpulan cerpen ini Jihad Rajbi memilih satu judul yang diambil diantara beberapa judul, kemudian dijadikan judul utama dalam kumpulan cerpennya yaitu ‚Liman nahmil al-Ras}as}ah‛ kata al-Ras}as}ah sering kali muncul dalam setiap judul cerita.
Berdasarkan dari pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti aspek realita yang memunculkan berbagai macam tanda yang bersifat simbolis, dalam kumpulan cerpen Liman Nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>j Rajbi> menggunakan pendekatan Semiotik Charles Sanders Peirce. Maka judul yang diambil dalam penelitian ini adalah realita dan sastra: Telaah Kumpulan Cerpen: Liman Nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi> Kajian Simiotik Charles Sanders Peirce.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Secara garis besar fokus penelitian ini pada kumpulan cerpen Liman Nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi> dan peristiwa intifa>dhah masyarakat palestina dalam melawan penjajahan israel pada era tahun 1980-1993.
Sedangkan perumusan yang diangkat dalam penelitian ini adalah
1. Apa makna serta ideologi pengarang dibalik kata al-Ras}as}ah dalam kumpulan cerpen jiha>d Rajbi> sehingga kata ini sering muncul dalam setiap judul cerita dan dijadikan sebagai judul utama oleh pengarang?
2. Bagaimana hubungan simbol-simbol yang ada dalam kumpulan cerpen ini membentuk realita yang ditampilkan oleh pengarang sehingga dapat menggambarkan situasi masyarakat Palestina pasa masa itu?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengungkapkan hal-hal yang tersirat di dalam teks yang bersifat simbolis.
b. Untuk mengetahui dan mengungkapkan peristiwa dibalik tragedi intifa>dhah pada masyarakat palestina dalam karya sastra.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Peneliti berharap penellitian ini akan memperkaya bidang perkembangan
kajian sastra sehingga kajian sastra tidak sepi dari teori-teori yang digunakan sebagai alat untuk menganalisis produk sastra.
2. Memberi pengetahuan ke pembaca tentang peristiwa intifa>dhah pada masyarakat Palestina.
D. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Dalam penelitian yang ditemukan sebelumnya, peneliti mempertegaskan perbedaan dan kedalaman judul yang dibahas, dimana pada penelitian ini akan dilakukan pendekatan Semiotik Charles Sanders Peirce dalam menganalisa kumpulan cerpen yang berjudul Liman Nah{mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi>.
Page | 9 Malaysia, 2005), fokus penelitian dalam karya Khadijah ini adalah meneliti unsur religiusitas dalam karya Jihad Rajbi dengan menggunakan pendekatan analisis kritis. Seterusnya Khadijah mengungkapkan sisi realitas sosial yaitu kontak permusuhan antara kaum Yahudi (Israel) dengan Palestina, seperti permasalahan sosial yang dialami rakyat Palestina, peperangan, penindasan, pemerkosaan, perampasan hak atas warga sipil, dan pengasingan.22 Beberapa persamaan ada dalam penelitian ini misalnya dalam kesamaan membahas tentang realita sosial masyarakat Palestina yang tertuang dalam karya Jihad Rajbi. Akan tetapi, penelitiannya mencakup semua karya Jihad Rajbi dalam mengungkapkan nilai-nilai religiusitas di balik karya si pengarang. Hal ini berbeda dengan yang akan dibahas oleh peneliti dalam tesis ini, dalam tesis ini menganalisa teks-teks kumpulan cerpen yang berjudul Liman nah}mil al-Ras}as}ah karya Jiha>d Rajbi> dan dikaitkan dengan kondisi Palestina pada masa itu dengan menggunakan kajian semiotik Charles Sanders Peirce.
Kumpulan cerpen ini sudah diteliti oleh Haidar Faqih dalam kumpulan makalahnya tentang kumpulan cerpen yang memuat permasalahan umum tentang Palestina, seperti konflik Arab yahudi (Israel) serta sejarahnya, penyebabnya dari segi dunia Arab khususnya negara Palestina tentang: penjara, pengasingan, permasalahan perjanjian perdamaian dengan Israel. Akan tetapi fokus makalah ini adalah kajian sejarah terhadap Ideologi pengarang dengan gaya bahasa yang menggugah serta latar belakang pekerjaan Jihad rajbi sehingga dapat menampilkan sisi keislaman dalam kumpulan cerpen Liman Nah}mil al-Ras}as{ah. Namun perlu dipahami lebih jauh bahwa penelitian tesis ini berbeda dari aspek teoritis dalam mengungkapkan permasalahan yang ada dalam kumpulan cerpen Liman Nah}mil al-Ras}as}ah, adapun dalam tesis ini mengungkapkan hal-hal bersifat simbolik yang tertuang dibalik ideologi pengarang dalam bentuk narasi teks dengan menggunakan analisis terhadap teori Semiotik Charles Sanders Peirce.
Selanjutnya penelitian dari Alfiah Nurul Aini yang berjudul: Analisis Semiotik Terhadap Novel Laskar Pelangi Karya Andre Hirata Sebagai Bahan Pengajaran Sastra di SMA (Jurnal NOSI, Vol. 1, No. 2, Agustus 2013). Dalam jurnal ini fokus bahasannya melihat hal-hal yang tersirat yang berupa simbolis pada novel laskar pelangi dengan menggunakan pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce. Selanjutnya dalam novel Laskar Pelangi terdapat banyak ikon, indeks dan simbol, tanda-tanda tersebut tersebar dalam sub judul yang ada pada novel tersebut.23 tentu hal ini berbeda dengan yang akan di deliti dalam tesis ini, mengingat sumber primer penelitian pada tesis ini adalah kumpulan cerpen karya Jihad Rajbi sedangkan dalam jurnal yang dituliskan oleh Alfiah ini sumber primernya adalah novel laskar pelangi karya Andre Hirata.
22 Untuk lebih jelas lagi lihat Tesis Khadijah Waeyi ‚al-Ru’yah al-Islamiyyah Fi> riwa>ya>ti Jiha>d Rajbi> Dira>sah Tah}li>liyyah‛ (International Islamic University Malaysia: 2005), hlm. 46-59.
Page | 10 Pada tahun 2013 buku yang berjudul: Sastra Islam dan Politik Study Semiotik Terhadap Novel Aulad Haratina karya Prof. Sukron Kamil, buku ini awalnya berupa disertasi penelitian doktoral beliau kemudian dibukukan oleh penerbit Dian Rakyat. Dalam buku ini mengkaji aspek Islam dan politik dalam novel Aulad Haratina karya Najib Mahfudz dengan menggunakan pendekatan semiotik Riffaterre. Ia menyimpulkan pentingnya revitalisasi ajaran agama, maka dalam novel ada banyak gagasan keagamaan yang segar dari Mahdudz. Misalnya soal keadilan terhadap perempuan dalam wilayah diluar wilayah domestik; pentingnya kerja keras dan H}usn z}an (positive thinking) terhadap realitas yang dialami dan masa depan (kecerdasan emosi dan spiritual); takdir bukan sebagai sikap penyerahan (fatalisme); pentingnya mewujudkan keadilan ekonomi (kekayaan sebagai sesuatu yang baik); penegasan bahwa Islam adalah agama yang membolehkan pengguaan kekerasan ketika terdesak saja. Meski novel ini mengadung banyak gagasan besar yang tersembunyi dibalik simbol-simbol, tetapi kedudukannya sebagai sastra tidak terganggu. Format novel sebagai novel simbolik filosofis dan unsur-unsurnya tidak menjadi rusak oleh hasrat Mahfuz dalam berfilsafat. Secara gaya bahasa misalnya, novel ini menggunakan gaya bahasa romantik yang berbunga-bunga seperti tasybi>h dan muqa>balah dan gaya bahasa
realis yang serba singkat seperti haz’f dan qas}r. Gaya bahasa lain yang digunakan
adalah iltifa>t, isti’a>rah, dan maja>z mursal.24 tentunya hal ini berbeda dengan fokus yang akan diteliti dalam tesis ini baik dari sumber primernya maupun tokoh teori semiotik yang digunakan dalam menganalisis kumpulan cerpen Liman Nah}mil al-Ras}as}ah.
E. Kajian Teori
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang yang membentuk sistem tanda.25 Dalam bahasa Arab disebut dengan ‘ilmu al-‘ala>ma>t atau Si>ma>iyyah tapi dikalangan para kritikus Arab lebih disepaki dengan istilah Si>ma>iyyah yaitu ilmu tanda.26 Dalam kajian semiotik dikenal dengan dua tokoh pelopor utama yaitu Charles Sanders Pierce27 (1839-1914), dan Ferdinand de Saussure28 (1857-1913).
Dalam penelitian ini akan digunakan semiotik Charles Sanders Peirce. Kenapa penulis menggunakan teori Peircean tidak menggunakan teori Saussurean yang notabenenya adalah ahli bahasa. Dalam hal ini menurut hemat peneliti dari literatur-literatur yang telah dibaca dengan mendalam, bahwasanya teori
24 Sukron Kamil, Naji>b Mah}fu>z{: Sastra, Islam, dan Politik (Studi Semiotik Terhadap Novel Aulad H}aratina>) (Jakarta: Dian Rakyat, 2013), hlm.
25 Simon Malpas and Paul Wake (ed), The Routledge Companion to Critical and Cultural Theory, (Canada: Routledge 2013), Cet. Ke 2, hlm. 18
26 Sukron kamil, Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 193 untuk lebih jelas lihat S}ala>h} Fad}al, Naz}ariyyatul bina>iyyah Fi> an-naqd al-adabi>, (Beirut: Da>rul Afa>q al-ibdi>dah, 1985), hlm. 443
27 Charles Sanders Pierce adalah seorang ahli filsafat beraliran pragmatis berkebangsaan Amerika, teori semiotiknya disebut dengan Peircean
Page | 11 Saussurean berangkat dari teorinya tentang strukturalisme, yaitu melihat karya sastra dari kaca mata intrinsik dengan mamusatkan pada karya itu sendiri dari aspek pembentukan kebahasaannya tanpa melihat usur ekstrinsik di luar karya sastra.29 Teori semiotik Saussure memusatkan pertalian antar tanda atau melihat kolerasi tanda, dan pertalian itu dianggap sebagai unsur pembentukan makna, sedangkan Peirce lebih mempersoalkan sifat dan hakikat tanda dalam kaitannya dengan keseluruhan realitas sebagai permasalahan. Perbedaan ini berangkat dari keahlian yang berbeda diantara keduanya, Saussure seorang ahli dalam bidang linguistik dan Peirce ahli pada bidang Filsafat.30 Dari sinilah penulis beranggapan bahwa teori Peircean lebih kompatibel dipakai sebagai alat untuk menganalis dalam melihat sisi realitas yang dibentuk oleh pengarang (Jihad Rajbi) dalam rangkaian kata-kata yang merupakan sistem tanda sehingga hal yang tersirat di dalam teks kumpulan cerpen Liman Nah{mil al-Ras{as{ah dapat terungkap.
Menurut Peirce semiotik adalah studi tentang tanda dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengannya, seperti: fungsi-fungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda yang lain, proses pengiriman dan penerimaannya, dan sebagainya.31 Bagi Peirce tanda dan pemaknaannya bukan sturuktur melainkan suatu proses kognitif yang disebutnya semiosis. Jadi, semiosis adalah proses pemaknaan dan penafsiran tanda. Proses semiosis ini melalui tiga tahap. Tahap pertama, pencerapan aspek repsentamen tanda (pertama melaui panca indra), tahap kedua, mengaitkan secara spontan representamen dengan pengalaman dalam kognisi manusia yang memaknai representamen itu (disebut objek), dan ketiga, menafsirkan objek sesuai dengan keinginannya. Tahap ketiga ini disebut interpretant. Karena tanda dimulai dari representamen yang seakan mewakili apa yang ada dalam pikiran manusia (Objekt), teori semiotik Peirce mendefenisikan
tanda sebagai ‚samething that represents something else‛, yang secara teoritis
dapat kita terjemahkan menjadi tanda adalah representamen yang secra spontan mewakili objek.32
Sesuai dengan penjelasan diatas tiga unsur dalam tanda, yaitu representamen, objekt, dan interpretan. Hubungan ketiga unsur ini membentuk tanda dapat dilihat pada bagan berikut.33
29Faruk, Metode Penelitian Sastra Sebuah Penjelajahan Awal, hlm. 65-66
30 Mauricio Beuchot, John Deely, ‚Common Sources for the Semiotik of Charles Peirce and John Painsot,‛ The Review of Metaphysick, Vol. 48, No. 3 (Maret 1995), hlm. 539-540, http://www.jstor.org/stable/20129719 (diakses 21 Desember 2016). Lihat juga Benny H. Hoed, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, hlm. 15
31 Nyoman Kuta Ratna, Estetika Sastra dan Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 100
32 Benny H. Hoed, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, (Jakarta: Komunitas Jambu, 2014), hlm. 8
Page | 12 Objek
Representamen interpretan
Dalam membuat klasifikasi hubungan antara representamen dan objek, Peirce menerangkan tiga tahapan (fitsness, secondness, thirdness). Pembentukan tanda yang paling sederhana adalah icon, kemudian indeks, dan simbol. Tiga hal ini disebut dengan Trikotomi Tanda.34
1. Ikon adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan. Jadi, representamen mempunyai kemiripan dengan objek realita yang diwakilinya. Contohnya Lukisan atau gambar, foto.35
2. Indeks adalah hubungan yang mempunyai jangkauan eksistensial. Contoh: dalam kehidupan sehari-hari, belaian (kedekatan) dapat mengandung arti banyak. Misalnya asap merupakan indeks adanya api.
3. Simbol adalah tanda yang paling canggih karena sudah berdasarkan persetujuan dalam masyarakat (konvensi). Contoh bahasa merupakan simbol karena berdasarkan konvensi yang telah ada dalam masyarakat. Contohnya rambu-rambu lalu lintas.
Bagan Trikotomi Peirce
Trikotomi I II III
Kategori Hubungan dengan objek
Page | 13 F. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian adalah proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban secara terinci mengenai metode, teknik, prosedur atau langkah-langkah penelitian (termasuk pemilihan topik penelitian; teknik pengambilan sampel; etika dan pendekatan terhadap kelompok yang diamati; pencatatan, penyusunan dan analisis data; dan penulisan hasil penelitian).36
Dalam metode penelitian ini terdapat beberapa tahap, yaitu tahap persiapan, teknik pengumpulan data, analisis data dan penulisan. Beberapa tahap tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian perpustakaan (Library Reseacrch), yaitu penelitian yang memperoleh data dan informasi tentang objek penelitiannya lewat buku-buku atau alat audiovisual lainnya.37 Kemudian metode yang digunakan adalah kualitatif.
2. Teknik Pengumpulan Data
Oleh karena jenis penelitian ini studi pustaka, maka langkah awal dalam penelitian ini adalah membaca sumber primer kumpulan cerpen Liman nah}mil al-Ras}as}ah karya Jihad Rajbi dan sekunder dari bahan-bahan yang terkait dengan objek ini, seperti dari penelitian, buku, majalah, jurnal dan surat kabar. Seterusnya semua dokumen yang terkait dengan objek penelitian dikelompokkan berdasarkan objek atau fokus penelitian.
3. Analisi Data
Setelah data dikumpulkan, dengan menggunakan metode kualitatif, semua data yang berkenaan dengan konteks keberadaan teks atau unsur ekstrinsik dihubungkan dengan kumpulan cerpen ini. Dengan demikian, agar dapat melihat hal-hal yang tersirat di dalam teks, dengan pendekatan semiotik Carles Sander Pierce. Kumpulan cerpen ini akan dilihat dari sisi ektrinsiknya, terutama dengan realitas Intifa>dhah Palestina pada masa sebelum dan ketika kumpulan cerpen itu ditulis. Tentunya dalam langkah ini melihat sistem tanda yang dibangun oleh pengarang lewat karyanya sehingga akan terlihat ideologi pengarang yang tersirat dalam teks.
Berdasarkan teori diatas, data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan ilmu bantu yaitu sejarah, agar penelitian menjadi lebih kuat. G. Sistematika Pembahasan
Penelitian ini terdiri dari lima bab dan dari masing-masing bab pun terdapat sub bab dalam rangka memperjelas fokus dari judul besar tersebut. Bab I adalah pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, permasalahan, penelitian terdahulu yang relevan, tujuan penelitian, sistematika penulisan. Semua penjelasan tersebut, memberikan gambaran secara umum dari model penelitian ini. Mulai dari
36 Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2008), hlm. 145
Page | 14 latar belakang masalah hingga sistematika penelitian diharapkan dapat mengantarkan pembaca dalam memahami penelitian ini.
Untuk menjadi landasan penelitian ini, maka sangat dibutuhkan bab II yang akan menjelaskan tentang Teori semiotik Charles Sanders Pierce. Dari judul besar tersebut akan dibahas beberapa hal, yaitu: sekilas tentang Charles Sanders Pierce, semiotik dalam perspektif Pierce, segitiga semiotik Pierce, Trikotomi semiotik Pierce.
Bab III adalah bab pengantar yang akan membahas tentang dinamika kehidupan sosial Jihad Rajbi. Bab ini berisi tentang: biografi pengarang, latar belakang sosial kehidupan pengarang serta pengaruh pengarang dalam sosial kemasyarakatan.
Bab IV merupakan bab isi pertama akan membahasas tentang realita peristiwa Intifa>dhah masyarakat Palestina dalam teks kumpulan cerpen Liman nah}mil al-Ras}as}ah dilihat dengan semiotik Charles Sanders Peirce, yang meliputi: Pembacaan Heuristik terhadap seri cerpen, pembacaan hermenetik terhadap kumpulan cerpen Liman nah}mil al-Ras}as}ah : melihat realita dibalik peristiwa intifa>dhah masyarakat Palestina.
Page | 15 DAFTAR PUSTAKA
Beuchot, Mauricio, Deely, John, ‚Common Sources for the Semiotik of Charles Peirce and John Painsot,‛ The Review of Metaphysick, Vol. 48, No. 3 (Maret 1995).
Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi, Yogyakarta: Caps, 2011
Fad}al, S}ala>h}, Naz}ariyyatul bina>iyyah Fi> an-naqd al-adabi>, Beirut: Da>rul Afa>q al-ibdi>dah, 1985.
Faruk, Metode Penelitian Sastra Sebuah Penjelajahan Awal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012
H}asa>n, Fa>ru>q, Dira>sa>t Naqdiyah Ra’yu Naqdiyah, Kairo: Al-Haiah Mis}riyah
al-‘Ammah lilkita>b, 2008
Hoed, Benny H, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, Jakarta: Komunitas Jambu, 2014
Kamil, Sukron, Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Malpas, Simon and Wake, Paul (ed), The Routledge Companion to Critical and Cultural Theory, Canada: Routledge 2013
Mahayana, Maman S, Sembilan Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Teori Orientasi Kritik, Jakarta: Bening Publishing, 2005
Muchsin, Misri A. ‚Palestina dan Israel: Sejarah Konflik dan Masa Depan,‛
MIQOTH, Vol. XXXIX, No. 2 (Desember 2015).
Mulyana, Deddy Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2008
Mohn Nor, Mohn Ruslan dan Hamzah, Siti Zaleha, ‚Perjanjian Oslo: Kajian
Terhadap Proses Damai Konflik Arab-Israel,‛ Al-Tamaddun, Vol. 10, (Januari 2015)
Ratna, Nyoman Kuta, Sastra dan Cultural Studies Refresentasi Fiksi dan Fakta, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
__________ , Stilistika kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013
Page | 16 Rosa, Helvi Tiana, ‚Sosok Ibu dalam Intifadoh Karya Jehad Rajbi‛, diakses pada
29 oktober 2016 dari https://sastrahelvy.com/2014/06/27/sosok-ibu-dalam-intifadhah-karya-jehad-rajbi/
Rohana, Kate, ‚Children and the Intifadah,‛ Journal of Palestine Studies, Vol. 18,
No. 4 (Summer 1989).
Semi, M. Atar, Metode Penelitian Sastra, Bandung: Angkasa, 2012
Suhaimi, Abdul Qaiyim, Mohn Nor, Mohn Ruslan, ‚Penentangan Rakyat Palestin Terhadap Israel dalam Intifadah Pertama 1987: Kronologi dan Kesannya ke
Atas Konflik Palestin,‛ Al-Muqaddimah, Vol. I (Januari 2013).
Teww , A., Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra, Jakarta: Pustaka Jaya, 1984
Wargadinata, Wildana, dkk, Fakta Sosial Sastra Arab dan Lintas Budaya, Malang: Uin Malang Press, 2008