BUDIDAYA TANAMAN
TAHUNAN (AGT 312)
KELAS A
DOSEN PENGAMPU :
KONTRAK PEMBELAJARAN
STATUS DAN DESKRIPSI :
Status mata kuliah : Budidaya Tanaman Tahunan
merupakan mata kuliah utama.
Deskripsi mata kuliah :
• Mata kuliah Budidaya TanamanTahunan merupakan mata kuliah yang membahas tentang tanaman tahunan yang meliputi pengertian, pengelompokan, arti penting dan manfaat, pewilayahan, biologi dan ekologi, dan teknik budidaya sejumlah tanaman unggulan (karet, sawit, kelapa) karena kontribusinya sebagai komiditas bahan industri dan merupakan sumber pendapatan keluarga petani dan sebagai komoditas ekspor sektor non migas. • Mata kuliah ini hanya dapat ditempuh setelah mahasiswa
KOMPETENSI DAN MANFAAT :
• Setelah selesai mengikuti mata kuliah ini diharapkan : mahasiswa dapat mengenali berbagai kelompok tanaman tahunan,
mengetahui pentingnya pewilayahan tanaman tahunan, mengetahui dan menjelaskan aspek biologis dan ekologis tanaman tahunan,
menjelaskan cara analisis kesesuaian suatu kawasan untuk tanaman tahunan, dapat
PROSES PEMBELAJARAN :
Proses pembelajaran meliputi tiga kegiatan utama, yaitu :
• Ceramah dan tanya jawab, dilakukan di kelas, dosen menjelaskan teori dan atau konsep, dilanjutkan dengan tanya jawab. • Praktikum, dilakukan di laboratorium atau
lapangan,
• Mengerjakan tugas terstruktur yang
PENILAIAN HASIL BELAJAR :
• Tugas terstruktur : 20 %
• Praktikum : 30 %
• Ujian Mid Semester : 25 % • Ujian Akhir Semester : 25 %
KRITERIA PENILAIAN :
•
A : ≥ 80,00
ATURAN PERKULIAHAN :
1. Bagi mahasiswa : Keterlambatan hadir kuliah maksimum 15 menit. Apabila
melewati batas waktu tersebut, dimohon kesadarannya untuk tidak masuk ruangan, atau menutup pintu dari luar.
2. Bagi dosen : Dianggap tidak hadir apabila 15 menit sejak waktu awal kuliah belum hadir tanpa pemberitahuan.
ATURAN PRAKTIKUM :
• Setiap mahasiswa wajib melaksanakan
seluruh acara praktikum dan menandatangani daftar hasir.
• Setiap mahasiswa wajib membuat dan
menyerahkan laporan seluruh acara
praktikum yang dilaksanakan sesuai batas waktu yang telah ditentukan.
• Setiap mahasiswa wajib mengikuti pretest
dan postest yang dilaksanakan.
• Penilaian praktikum dilakukan untuk seluruh
ATURAN TUGAS TERSTRUKTUR :
• Semua mahasiswa wajib mengerjakan dan
menyerahkan tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen.
• Tugas terstruktur dapat bersifat kelompok
atau mandiri sesuai dengan perintah dosen yang memberikan tugas.
• Tugas harus diserahkan sesuai dengan batas
waktu yang telah ditentukan.
• Apabila seorang mahasiswa tidak
COURSE CONTENT :
I. PENDAHULUAN
II. JENIS KOMODITAS PENTING TANAMAN
TAHUNAN
III. ASPEK AGROKLIMAT TANAMAN TAHUNAN
(karet, kelapa sawit)
IV. ASPEK MORFOLOGI DAN FISIOLOGI
I. PENDAHULUAN
Pengertian tanaman tahunan (perennial
crop): tanaman yang dapat meneruskan kehidupannya setelah bereproduksi atau
menyelesaikan siklus hidupnya dalam jangka waktu lebih dari dua tahun.
Pengelompokan tanaman tahunan: • Tanaman buah-buahan : Jeruk, mangga,
durian, salak, apel dll.
• Tanaman hutan: jati, sengon, albasia dll.
Manfaat dan arti penting :
1. Sebagai penghasil buah segar dan bahan baku industri minuman, manisan dan
makanan dll.
2. Sebagai penghasil bahan baku industri kayu lapis, kertas, meubeler dll
3. Sebagai penghasil bahan baku obat-obatan, kosmetik, minyak atsiri, bumbu penyedap dll. 4. Sebagai penghasil bahan baku industri
minyak, ban dll
II. JENIS KOMODITAS PENTING TANAMAN TAHUNAN
A. Kajian Data Luas Penanaman dan Produksi Tanaman Tahunan Indonesia
Jenis Komoditas Luas Areal (ha) Produksi (ton) Tahun Kelapa
B. Beberapa Komoditas Penting Taanaman Tahunan
• Karet
C. Analisis Kesesuaian Lahan
Konsep evaluasi dan kesesuaian
• Evaluasi lahan : proses penilaian
sumberdaya lahan untuk tujuan tertentu dengan pendekatan/cara yang sudah
teruji.
Lanjutan Konsep evaluasi dan kesesuaian
Kesesuaian lahan : tingkat kecocokan
sebidang lahan untuk penggunaan tertentu.
1) Kesesuaian lahan aktual, dinilai untuk kondisi saat ini.
Lanjutan Konsep evaluasi dan kesesuaian
Kesesuaian lahan aktual : kesesuaian
lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumberdaya lahan sebelum lahan
tersebut diberi masukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala.
Data biofisik : (1) karakteristik lahan dan
Lanjutan Konsep evaluasi dan kesesuaian
Kesesuaian lahan potensial : menggambarkan
kesesuaian yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan.
Lahan yang dievaluasi :
a. hutan konversi,
b. lahan terlantar/tidak produktif,
c. lahan pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan, tetapi masih dapat ditingkatkan
Klasifikasi kesesuaian
Struktur klasifikasi (FAO, 1976) menurut
tingkatannya : Ordo, Kelas, Subkelas dan Unit.
Ordo : keadaan kesesuaian lahan secara global.
Pada tingkat ordo dibedakan menjadi (1) sesuai (S = Suitable) dan
(2) tidak sesuai (N = Not suitable).
Kelas : keadaan tingkat kesesuaian lahan dalam
Lanjutan Klasifikasi kesesuaian
• Berdasarkan tingkat detail skala pemetaan, kelas kesesuaian lahan dibedakan menjadi :
(1) Untuk pemetaan tingkat semidetail (skala 1 : 25000 – 1 : 50000) pada tingkat kelas lahan yang sesuai (S)
dibedakan menjadi menjadi : sangat sesuai (S1),
cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Sedang lahan yang tidak sesuai (N) tidak dibedakan menjadi kelas-kelas,
(2) Untuk pemetaan tingkat tinjau (skala 1 : 100000 – 1 : 250000) pada tingkat kelas dibedakan menjadi
Penjelasan :
1) Kelas S1 : sangat sesuai. Lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang
berarti/nyata terhadap penggunaan secara berkelanjutan, atau faktor pembatas bersifat minor dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan secara nyata.
2) Kelas S2 : cukup sesuai. Lahan mempunyai faktor pembatas dan faktor pembatas ini akan berpengaruh terhadap produktivitasnya,
memerlukan tambahan masukan (input).
Lanjutan Penjelasan :
3) Kelas S3 : sesuai marginal. Lahan punya faktor pembatas yang berat dan faktor pem-batas ini sangat berpengaruh ada produkti-vitasnya, memerlukan tambahan masukan yang lebih banyak dibandingkan lahan S2. Untuk mengatasi pembatas pada lahan S3 diperlukan modal yang tinggi, sehingga perlu bantuan/campur tangan pemerintah swasta.
4) Kelas N : tidak sesuai karena mempunyai
Pendekatan
dalam evaluasi
Ada beberapa macam pendekatan :
1. Sistem perkalian parameter,
2. Sistem penjumlahan parameter, 3. Sistem pencocokan/matching,
antara kualitas lahan dan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh
Kualitas dan karakteristik lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan.
Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan
(performance) yang berpengaruh terhadap
kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri dari satu atau lebih karakteristik lahan (land characterisics).
Kualitas lahan ada yang dapat diestimasi dan
Hubungan kualitas lahan dengan
karakteristik lahan
1) Temperatur (tc) : suhu rata-rata (° C)
2) Ketersediaan air (wa) : curah hujan
(mm), kelembapan (%), lamanya bulan kering.
3) Ketersediaan oksigen (oa) : drainase.
Lanjutan Hubungan kualitas lahan
dengan karakteristik lahan
5) Retensi hara (nr) : KTK liat, kejenuhan basa, pH.
6) Toksisitas (xc) : salinitas.
7) Bahaya erosi (eh) : lereng (%), bahaya erosi.
Penjelasan :
Karakteristik lahan yang erat kaitannya
untuk keperluan evaluasi lahan dapat
dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama yaitu : topografi, tanah dan iklim.
Karakteristik lahan tersebut (terutama
Topografi
Topografi yang dipertimbangkan dalam eva-luasi
lahan adalah :
(1) bentuk wilayah (relief) atau lereng dan
(2) ketinggian tempat dari permukaan laut (dpl).
Relief erat kaitannya dengan faktor pengelo-laan
lahan dan bahaya erosi.
Ketinggian tempat dpl berhubungan dengan
persyaratan tumbuh tanaman yang
Bentuk wilayah (relief) dan kelas lereng (%)
Relief Lereng (%)
Datar < 3
Berombak/agak melandai 3 - 8
Bergelobang/melandai 8 - 15
Berbukit 15 - 30
Bergunung 30 - 40
Bergunung curam 40 - 60
Ketinggian tempat :
Diukur dari permukaan laut seba-gai titik
nol.
Dalam kaitannya dengan tanaman
dibedakan :
(1) dataran rendah (< 700 m dpl) (2) dataran tinggi (> 700 m dpl).
Kesesuaian tanaman terhadap ketinggian
tempat berhubungan dengan suhu dan
Lanjutan Ketinggian Tempat :
Semakin tinggi tempat, baik suhu maupun
radiasi matahari cenderung semakin menurun.
Ketinggian tempat dapat dikelaskan
sesuai kebutuhan tanaman.
Misal : teh dan kina lebih sesuai pada
Iklim : Suhu udara
Apabila data suhu udara tidak tersedia, suhu
udara dapat diduga berdasarkan ketinggian tempat dpl.
Semakin tinggi tempat semakin rendah suhu
udara rata-ratanya, dapat dihitung dengan rumus Braak (1928) sbb :
26,3° C (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6° C)
Suhu rata-rata di tepi pantai berkisar antara 25°
Lanjutan Iklim : Curah hujan
Data curah hujan dapat diperoleh dari
stasiun penakar hujan.
Cara mengukur : manual dan otomatis. Untuk keperluan penilaian kesesuaian
lahan, dasarnya :
(1) jumlah curah hujan tahunan, (2) jumlah bulan basah dan
Lanjutan Iklim : Curah hujan
• Oldeman (1975) : mengelompokkan
wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan jumlah bulan kering berturut-turut.
(1) Bulan basah > 200 mm. (2) Bulan kering < 100 mm.
Berguna untuk tanaman pangan, terutama padi.
Lanjutan Iklim : Curah hujan
Schmidt & Ferguson (1951) membuat
klasifikasi berdasarkan curah hujan :
bulan basah > 100 mm dan bulan kering < 60 cm.
Lebih bersifat umum untuk pertanian,
Tanah
Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa
sifat/karakteristik tanah : 1) Drainase tanah,
2) Tekstur tanah,
3) Kedalaman tanah, 4) Bahaya erosi,
Drainase
Menunjukkan kecepatan meresapnya air dari
tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air.
Dibedakan menjadi :
(a) Cepat, (b) Agak cepat, (c) Baik, (d) Agak
Tekstur tanah
1) Sangat halus (sh) : liat (tipe mineral liat 2:1)
2) Halus (h) : liat berpasir, liat, liat berdebu.
3) Agak halus (ah) : lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu.
4) Sedang (s) : lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu.
5) Agak kasar (ak) : lempung berpasir.
Kedalaman tanah
Kedalaman tanah dibedakan menjadi :
Bahaya erosi
Tingkat Tanah yang
hilang (cm/tahun)
Sangat ringan (sr) < 0,15
Ringan (r) 0,15 – 0,9
Sedang (s) 0,9 – 1,8
Berat (b) 1,8 – 4,8
pH tanah
Kelas pH tanah
Sangat masam < 4,5
Masam 4,5 – 5,5
Agak masam 5,6 – 6,5
Netral 6,6 – 7,5
Agak alkalis 7,6 – 8,5
Prosedur evaluasi kesesuaian lahan
Terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
1) Penyusunan karakteristik lahan. 2) Penyusunan persyaratan tumbuh
tanaman
3) Proses evaluasi kesesuaian lahan
(matching).
Bagan metode evaluasi
data peta ikl. data peta tanah peta topogtafi ch, suhu lereng, kark. tanah relief, elevasi
karakteristik lahan
matching persyaratan tanman penggunaan lahan kesesuaian lahan
utk komoditas prioritas penggunaan lahan
aktual
Metode Klimogram :
1. Dasar pemikiran :
a) Pengaruh faktor iklim sangat penting.
b) Hubungan antara iklim dengan pertanian mencakup segala aspek integrasi antara unsur-unsur iklim dan tanaman.
c) Unsur-unsur iklim berpengaruh besar
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dan setiap daerah mempunyai
Metode Klimogram :
2. Dasar analisis :
Data iklim dari pusat produksi tanaman yang akan dikembangkan, terutama
data iklim yang merupakan faktor
Metode Klimogram :
3. Prinsip dasar :
Klimogram merupakan grafik yang
menun-jukkan interaksi (perpotongan) antara dua buah unsur iklim rata-rata bulanan dalam suatu siklus (setahun).
Contoh : untuk membuat grafik klimogram
tanaman tebu dapat digunakan unsur iklim suhu udara dan curah hujan. Karena suhu udara dan curah hujan merupakan unsur iklim yang paling besar pengaruhnya
Lanjutan Metode Klimogram :
Penggunaan klimogram : dalam skala titik/
daerah atau wilayah.
Dalam skala wilayah misalnya skala kabu-paten, klimogram dapat digunakan untuk
memetakan kabupaten, yang dapat menjadi alternatif daerah budidaya suatu tanaman. Hasil analisis klimogram dapat digunakan
Tahapan pembuatan klimogram :
1) Tentukan tanaman pertanian yang akan
dicari kesesuaian iklimnya.
2) Carilah 3 atau lebih daerah yang telah
menjadi sentra produksi selama lebih dari 10 tahun.
3) Tentukan unsur iklim yang paling
ber-pengaruh terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman tersebut. Kalau ada lebih dari satu unsur, maka dapat dibuat grafik
Lanjutan Tahapan pembuatan
klimogram :
4) Lakukan inventarisasi data iklim
Lanjutan Tahapan pembuatan
klimogram :
5) Sebagai langkah awal pembuatan grafik klimogram, tentukan dua unsur iklim, ke-mudian plotkan dalam bentuk grafik garis
yang saling berhubungan dari bulan Januari sampai Desember.
6) Setelah grafik klimogram daerah sentra pro-duksi selesai dibuat, tentukan
Tahapan pembuatan klimogram :
7) Lakukan inventarisasi data iklim harian daerah-daerah yang akan diuji, terutama
unsur-unsur iklim yang paling berpengaruh selama 10 tahun. Kemudian buat rata-rata bulanan (Januari sampai Desember) dari setiap unsur iklim tersebut.
Tahapan pembuatan klimogram :
9) Lakukan overlay antara grafik klimogram daerah sentra produksi dengan grafik dari daerah yang diuji.
Bagan Metode Klimogram
tnm tplh un-ik
ri-da-sen-pro ten-da-kan-ji
lak-in-dat-ik lak-in-dat-ik
plot-dat-sur-klim-da-pro plot-dat-sur-klim-da-ji
overlay
Budidaya Tanaman Tahunan/Perkebunan
Kelapa Sawit
PENGERTIAN
Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)
adalah tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Namun untuk menghasilkan pertumbuhan yang sehat dan jagur serta menghasilkan produksi yang tinggi
Daerah Asal Kelapa Sawit
• Terdapat perbedaan pendapat:
Afrika
Afrika
Alasannya:
• Ditemukannya fosil tepungsari kelapa sawit pada lapisan-lapisan arkeologis tua (zaman
Miocene) maupun lapisan arkeologis muda ---- indikasi bahwa kelapa sawit telah tumbuh sejak lama di kawasan afrika
• Penjelajahan bangsa eropa (abad 14-16)
menjumpai tanaman sawit di kawasan afrika barat (Liberia) dan afrika tengah (Nigeria),
dijumpai adanya minyak sawit dan anggur (wine) sawit, dijumpai adanya bahan-bahan yang
Alasan lanjutan ….
Telaah bahasa/linguistik:
• Di Suriname, nama-nama yang dipakai untuk kelapa sawit merupakan modifikasi kata-kata dalam bahasa afrika
• Di Brazil, ditemukan bukti bahwa kelapa sawit yang ada di sana, dibawa oleh
Amerika selatan
Alasannya:
• Kelapa sawit ditemukan tumbuh secara alamiah di pantai Brazil
Kelemahan alasan di atas:
• Keluarga palma (salah satunya sawit), memiliki karakteristik mudah tumbuh dan cepat
Alasan lanjutan ….
• Marga-marga palma lainnya kebanyakan berasal dari amerika selatan
Kelemahan alasan di atas:
Alasan lanjutan ….
• Dari afrika hanya ditemukan satu spesies yaitu
Elaeis guineensis
• Di amerika selatan ditemukan dua spesies yaitu
Elaeis odora dan Elaeis oleivera
• Marga palma: 28, 26 diantaranya berasal dari
amerika selatan (karena paling banyak ditemukan di sana), pengecualian untuk marga Cocos dan Elaeis
• Marga Cocos, ditemukan merata di semua wilayah tropika
Masih terjadi kerancuan pendapat mengenai asal kelapa sawit, namun sebagian besar
ahli berpendapat bahwa kelapa sawit berasal dari afrika
Jalan tengah
Diduga, kelapa sawit terbentuk pada saat amerika selatan masih menyatu dengan afrika (sebelum terjadinya
Klasifikasi
• Divisio: Spermatophyta
• Sub-divisio: Angiospermae • Kelas: Monocotyledonae • Ordo: Palmales
• Familia: Palmaceae • Genus: Elaeis
• Spesies: Elaeis guineensis, Elaeis odora,
• Elaeis guineensis : berasal dari Guinea (Afrika), jenis yang banyak ditanam di Indonesia
• Elaeis odora: berasal dari Amerika
Selatan, tidak ditanam di Indonesia
• Elaeis oleivera: berasal dari Amerika
(Berdasarkan warna kulit buah)
1. Nigrescens
- ungu kehitaman (muda) - jingga kehitaman (masak) 2. Virescens
- hijau (muda)
- jingga kemerahan, ujung buah hijau (masak) 3. Albescens
- keputih-putihan (muda)
Perakaran Kelapa Sawit
• Akar tunggang (kecambah), tidak berkembang (mati) setelah menjadi bibit maupun dewasa
• Akar serabut (saat fase pembibitan, tanaman muda, dewasa, dan tua), sedikit bercabang, membentuk anyaman yang rapat dan tebal, sebagian tumbuh
vertikal (ke arah bawah) dan sebagian tumbuh ke arah horizontal (mendatar/samping)
• Pertumbuhan perakaran dipengaruhi oleh sifat fisik tanah: tekstur, struktur, dan aerasi (terutama aerasi)
Perakaran lanjutan …
• Akar yang dalam dan lebar: memaksimalkan
penyerapan hara, air, dan memperkuat tegaknya tubuh tanaman
• Perakaran sawit banyak mengandung sel parenkim, berongga, dan berisi udara
• Keberadaan rongga berisi udara pada sel parenkim akar akan membantu respirasi perakaran
• Pangkal batang kelapa sawit: ditumbuhi akar
adventiv (membantu respirasi akar biasa pada saat suasana tergenang)
• R = akar tunggang • Ad = akar adventif • Co = kotiledon
Batang Kelapa Sawit
• Pertumbuhan memanjangnya lambat (pada umur 0-4 tahun), belum kelihatan adanya pertumbuhan memanjang
• Pada umur > 4 tahun mulai terlihat adanya pertumbuhan memanjang dari batang
• Ketinggian batang bisa mencapai 20 m, berbentuk silindris
• Pada permukaan batang banyak terdapat
Daun Kelapa Sawit
• Muncul didekat titik tumbuh
• Daunnya berbentuk pelepah yang tersusun atas sejumlah anak daun, dengan 80 – 120 anak
daun/pelepah (pada pelepah normal)
• Pertanaman kelapa sawit menghasilkan 2 pelepah daun/bulan, posisi daun awal dengan daun
berikutnya membentuk sudut 1350
Daun lanjutan …
• Rumus kedudukan daun 3/8, artinya dalam setiap 3 putaran terdapat 8 pelepah daun, posisi pelepah ke-9 tepat di bawah pelepah ke-1, posisi pelepah ke-17 tepat dibawah pelepah ke-9, begitu seterusnya
• Pelepah daun tua akan patah pada bagian di dekat pangkalnya, sisa pangkal tidak akan terlepas dari batang, permukaan batang tidak licin seperti pada kelapa sayur
Bunga Kelapa Sawit
• Kelapa sawit mulai berbunga pada umur 18 bulan • Pohon kelapa sawit umumnya menghasilkan
bunga jantan dan betina sekaligus dalam satu pohon, meskipun ada juga yang hanya
menghasilkan bunga jantan atau betina saja • Bunga tersusun dalam suatu tandan, bunga
jantan dan betina terdapat pada dua tandan yang terpisah
• Waktu masak bunga jantan dan betina dalam satu pohon tidak bersamaan, bunga jantan
masak terlebih dahulu, penyerbukan sendiri antar bunga dalam satu pohon jarang terjadi,
Bunga lanjutan …
• Bunga betina/putik: masa reseptifnya 3 x 24 jam, pada saat reseptif mahkotanya berwarna putih cerah, jika tidak diserbuki putik akan berwarna hitam dan
mengering
• Bunga jantan: pada saat matang seludang akan membuka, beraroma harum, berwarna kuning
keemasan, pada kondisi alami dapat hidup selama 24 jam
• Pengawetan tepung sari: bunga jantan dikeringkan dengan oven, suhu 600C selama 24 jam, disimpan
dalam tabung reaksi, ditutup rapat dengan aluminium foil, ditempatkan dalam freezer, tahan selama 10 hari, digunakan untuk assisted pollination (penyerbukan
Bunga lanjutan …
• Pada tanaman sawit muda (umur < 6 tahun), produksi bunga jantan dan betina belum berimbang, bunga
betina jumlahnya lebih banyak, terjadi kekurangan
tepung sari, banyak buah yang tidak jadi, produktifitas rendah
• Pada tanaman sawit muda perlu dilakukan penyerbukan bantuan: menggunakan tepung sari awetan,
pelaksanaannya dapat memanfaatkan tenaga manusia maupun serangga penyerbuk (Elaedobius camerunicus) • Menurut hasil penelitian, pelaksanaan penyerbukan
bantuan pada tanaman sawit muda mampu
Buah Kelapa sawit
• Buah kelapa sawit tersusun dalam tandan buah, jumlah buah dalam satu tandan bisa mencapai ribuan tergantung bobot tandan, tandan buah mencapai ukuran maksimal pada umur 4,5 – 5 bulan setelah penyerbukan, dan siap dipanen pada umur 6 bulan
• Tandan buah tumbuh di ketiak daun
• Buah yang dipelihara adalah buah yang berasal dari bunga tanaman kelapa sawit yang umurnya telah
mencapai 3 tahun, bunga yang muncul pada tanaman
kelapa sawit berumur < 3 tahun akan di kastrasi (dibuang) • Semakin tua umur pohon, produksi pelepah semakin
Buah lanjutan …
• Bagian-bagian buah kelapa sawit: 1. Perikarpium
- epikarpium (kulit buah)
- mesokarpium (daging buah/sabut) 2. Endokarpium (tempurung/cangkang) 3. Endosperm (kernel/inti)
4. Lembaga (embrio)
• Mesokarpium kalau diolah akan menghasilkan CPO (minyak sawit mentah): 20 % berat tandan • Endosperm kalau diolah akan menghasilkan PKO
Buah lanjutan …
• Kelapa sawit dibedakan menjadi beberapa tipe menurut ketebalan endokarpium/mesokarpium:
1. Dura
- cangkang tebal (2-5 mm)
- daging buah tipis (20-50% terhadap buah) - rendemen minyak rendah
2. Pisifera
- cangkang tipis (hampir tidak ada)
- daging buah tebal (92-97% terhadap buah) - rendemen minyak tinggi, produktivitas rendah
3. Tenera
- cangkang sedang (1-2,5 mm)
Buah lanjutan …
• Kelapa sawit yang banyak di tanam di Indonesia adalah varietas Nigrescens
• Buah sawit varietas Nigrescens: kulit buah berwarna ungu kehitaman (muda) dan oranye merah (masak/tua)
• Buah muda berwarna ungu kehitaman karena dominasi dari anthocyanin
• Buah tua berwarna oranye merah karena dominasi karoten (khususnya β-karoten)
• Zat-zat minyak mulai dibentuk pada saat buah berumur 4,5 – 5 bulan setelah penyerbukan
• Minyak dibentuk dibagian sel-sel pengisi di sela-sela daging buah (mesokarpium)
epikarpium
epikarpium
mesokarpium
mesokarpium
Endokarpium
DURA
PISIFERA
Kualitas Lahan dan Karakteristik
Lahan
• Temperatur : temperatur rerata atau elevasi
• Ketersediaan air : curah hujan, masa kering, RH • Ketersediaan oksigen : drainase
• Media perakaran : drainase, tekstur, jeluk tanah, ketebalan-kematangan gambut
• Retensi hara : KPK, kejenuhan basa, pH, C org • Toksisitas : Al, salinitas/DHL
• Sodisitas : alkalinitas • Sulfidik : pyrit
• Erosi : lereng, erosi • Banjir : genangan
Syarat Tumbuh dan Kesesuaian
Lahan
• Syarat tumbuh : keadaan yang harus dipenuhi agar tanaman dapat hidup,
tumbuh dan memberi hasil yang tinggi
• Syarat tumbuh : iklim (suhu, curah hujan), tanah (jeluk, tekstur,
derajat lengas, struktur, pH, kesuburan)
• Syarat tumbuh : minimum, optimum dan maksimum
• Lahan : bagian bentang alam
mencakup : iklim, elevasi, topografi, hidrologi, tanah dan vegetasi
• Kesesuaian lahan : kesuaian antara
Klasifikasi Kesesuaian Lahan
• Cara membandingkan : syarat tumbuh, kualitas dan karakteristik lahan, dengan keadaan lahan
• Ordo : sesuai (S) dan tidak sesuai (N)
Kriteria Kesesuaian
• S1: pembatas sangat kecil, tidak menurunkan hasil nyata
• S2 : ada pembatas kecil, berpengaruh terhadap hasil, perlu input, dapat diatasi petani
• S3 : faktor pembatas berat, perlu input lebih banyak, perlu modal besar dan bantuan pemerintah
Pada Komoditas Sawit
Daya hasil (ton/ha/tahun) tandan buah segar
berdasarkan kelas kesesuaian lahan: • S1 : > 24 ton/ha/th
Syarat tumbuh kelapa sawit
1. Iklim:
• Curah hujan dan evapotranspirasi • Penyinaran
• Suhu
2. Tanah:
Curah hujan dan evapotranspirasi
• 2000 mm/tahun, terbagi merata sepanjang
tahun, tidak terdapat periode kering yang tegas • CH tinggi: produksi bunga tinggi, prosentase
buah jadi rendah, penyerbukan terhambat,
sebagian besar pollen terhanyut oleh air hujan • CH rendah: pembentukan daun dihambat,
CH lanjutan ….
• Daerah dengan 2-4 bulan kering, kelapa
sawitnya memiliki produktifitas yang rendah • Permasalahan 2-4 bulan kering bisa
diminimalkan pengaruhnya apabila di wilayah tersebut :
a. tanahnya memiliki kemampuan menahan lengas tinggi ---- produktifitasnya bisa meningkat 100% b. Permukaan air tanahnya dangkal ---- dapat
meningkatkan produktifitas kelapa sawit
Evapotranspirasi lanjutan ….
• Evapotranspirasi < CH, tidak ada masalah
• Evapotranspirasi > CH, bisa timbul masalah,
pertanaman bisa
mengalami defisit air
Defisit air per
tahun (mm) / klasifikasiStatus
0 – 150 Optimal
150 – 250 Masih sesuai
250 – 350 Intermedier
350 – 400 Batas, limit
400 – 500 Kritis
Penyinaran
Lama penyinaran:
• Minimal 5 jam penyinaran per hari, sepanjang tahun • Kondisi ideal: paling tidak terdapat periode 3 bulan
dalam 1 tahun yang penyinarannya 7 jam per hari Intensitas penyinaran:
• Kelapa sawit termasuk sun plant • > 80%
Suhu
• Suhu: mempengaruhi aktifitas biokimia dan metabolisme dalam tubuh tanaman • 200C: suhu minimal bagi pertumbuhan
vegetatif
• 22-230C: suhu rata-rata tahunan yang
diperlukan untuk produksi buah
Suhu lanjutan …
• Batas lintang ideal: 10 – 120LU/LS, untuk
ketinggian tempat 5 – 400 m dpl
• Pada lintang > 120 , suhu optimal untuk tanaman
sawit tidak pernah tercapai
• Garis lintang juga berkaitan dengan CH dan penyinaran. Di daerah dekat equator, cocok
untuk sawit karena CH tinggi, merata sepanjang tahun, IC tinggi, panjang penyinaran rata-rata 11 jam
• Pada ketinggian > 400 m dpl, suhu mulai sejuk, produksi terhambat, kurang optimal untuk
Tanah
• Jenis tanah: latosol, aluvial, dan laterit
• Latosol: berwarna kemerahan, kecoklatan, dan kekuningan
• Aluvial: sepanjang DAS dan sepanjang daerah pantai, variasi kesuburan tanah sangat tinggi
• Laterit: tanah yang kesuburannya rendah, terdapat oksida besi dan aluminium terhidrasi, menjadi
lapisan kedap, jika tebal menghambat
perkembangan akar, pada musim kemarau tanah cepat mengering
• Tanah mineral (latosol, aluvial, dan laterit)
Tanah lanjutan ….
• Ke depan: pengembangan sawit di lahan gambut (organik), luasannya melimpah di kalimantan dan papua (17 – 27 juta ha)
• Sifat fisik tanah gambut: selalu tergenang air, dekomposisi bahan organik lambat, konsistensi lepas, kepadatan masa rendah, bersifat seperti spon (menyerap dan manahan air dalam jumlah besar), drainase pada gambut akan diikuti oleh penyusutan masa, terjadi penurunan muka
Tanah lanjutan ….
• Sifat kimia tanah gambut: bahan organik mentah sangat tinggi, asam humik dan fulfik tinggi, pH 3 – 3.5, kandungan N
tinggi dan tersedia, C/N tinggi, KPK tinggi, status hara rendah kecuali N dan tidak
Tanah lanjutan ….
• Jenis tanah lain yang potensial untuk
pengembangan sawit: tanah sulfat masam (pasang surut)
• Luasan di Indonesia: 2 juta ha
• Kelebihan tanah sulfat masam: karena disekitar daerah pantai (pasang surut) topografinya datar • Kekurangan tanah sulfat masam untuk budidaya
sawit: kandungan senyawa pirit tinggi (FeS2) dan potensial mengalami oksidasi, letaknya di daerah pasang surut air laut, NaCl dan MgCl sangat tinggi, EC tinggi, air tanahnya sangat pekat, pertanaman akan mengalami plasmolisis
• Perlu ditemukan teknologi yang tepat untuk
Kesesuaian Lahan Kelapa Sawit
Kesesuaian Lahan Kelapa Sawit Persyaratan Kelas Kesesuaian Lahan
S1 S2 S3 N
Temperatur (oC) 25-28 22-25/
28-32 20-22/32-35 < 20/> 35 Curah hujan (mm) 1700-2500 1450-1700/
2500-3500 1250-1450/ 3500-4000 < 1250 / > 4000 Defisit air (mm/thn) 0 - 150 150 - 200 250 - 400 > 400
Hari terpanjang tidak
hujan < 10 < 10 < 10 > 10 Jeluk (cm) >100 50-100 25-50 < 25 Lereng (%) < 8 8-16 16-30 > 30 pH 5,0 – 6,5 4,2 – 5,0 < 4,2
Persyaratan
Kelas Kesesuaian Lahan
S1 S2 S3 N Tinggi (m dpl) 0-400 0-400 0-400 0-400 Topografi Datar-ombak
Datar-gelombang berbukit Curam Lereng (%) 0-15 16-25 25-36 > 36 Solum (cm) > 80 80 60-80 < 60 Dalam air (cm) > 80 60-80 50-60 40-50 Tekstur Lp-lpli Lip-li Plp-li P Organik (cm) 5-10 5-10 5-10 < 5 Batuan dalam dalam dalam dangkal Erosi t.a t.a t.a sedikit Drainase baik baik Agak baik Agak baik
Banjir t.a t.a t.a Sedikit Pasang surut t.a t.a t.a ada
Keterangan: Li: liat, p: pasir, lp: lempung, t.a.: tidak ada
Pembukaan Lahan
• Hutan
Hutan, Kebun Tua, dan Replanting
• Ekosistem stabil
• Daun gugur – menutup
tanah – menahan pukulan hujan
• Akar – menahan tanah • BO – humus – nutrisi
tanaman
Alang-alang
• Hutan ditebang – tidak dipelihara – tumbuh
Pembukaan Lahan Hutan, Kebun Tua,
dan Replanting
• Cara : manual, mekanis, kombinasi mekanis-manual
• Alat - manual : gergaji, kapak, parang, cangkul, bajak, garu
Pembukaan Lahan Hutan, Kebun Tua, dan Replanting Secara Manual
• Pembabatan semak : parang
• Penebangan pohon: gergaji & kampak, dipilih pohon ekonomis lebih dahulu kemudian yang lain, arah tebang memperhatikan topografi
• Pembongkaran tonggak : kampak
• Pembakaran : daun, ranting dibiarkan
mengering dibakar pada musim kemarau
• Pengendalian ilalang : manual, mekanis, kimia • Pengolahan tanah : bajak,garu, cangkul
Lanjutan …..
• Pada lahan bekas kebun tua atau replanting, akar harus lebih bersih – mengurangi penyakit akar
• Pada lahan miring dibuat teras, saluran air, rorak atau penanaman menurut garis kontur
• Dilakukan penanamn tanaman penutup tanah dan pohon pelindung
Pembukaan Hutan Cara Mekanis
• Pembuatan jalan rintisan : bulldozer • Penebangan pohon : chainsaw
• Perobohan pohon-pengumpulan kayu : bulldozer
• Pemotongan-perencekan : chainsaw • Menumpuk cabang & ranting yang
dipotong : traktor
Penebangan pohon dengan diameter diatas 10 cm
Penebangan pohon dengan diameter diatas 10 cm
menggunakan kampak atau chainsaw. Tinggi
menggunakan kampak atau chainsaw. Tinggi
penebangan tergantung pada diameter batang
penebangan tergantung pada diameter batang
Diameter batang (cm) Maksimum tinggi penebangan (cm)
ARAH PENUMBANGAN & ARAH TUMBANG KAYU
Cabang dan ranting yang dipotong dirumpuk Cabang dan ranting yang dipotong dirumpuk
memanjang arah Utara-Selatan (agar memanjang arah Utara-Selatan (agar mendapat cahaya matahari maksimal
mendapat cahaya matahari maksimal→cepat →cepat kering). Jarak antar Rumpukan 50-100 m
kering). Jarak antar Rumpukan 50-100 m
Secara periodik harus dikontrol dari gulma Secara periodik harus dikontrol dari gulma dan sumber hama seperti tikus dan oryctes dan sumber hama seperti tikus dan oryctes
serta penyakit seperti
serta penyakit seperti GanodermaGanoderma
Pembukaan Lahan Alang-Alang
Dilakukan satu tahun sebelum tanam dengan
Dilakukan satu tahun sebelum tanam dengan
cara :
cara :
1.
1.Manual : dibabat menggunakan parangManual : dibabat menggunakan parang
2.
2.Mekanis : dibajak dan digaru dengan Mekanis : dibajak dan digaru dengan menggunakan traktor atau buldozer
menggunakan traktor atau buldozer
3.
3.Kimia : disemprot bahan kimia (sistemik) Kimia : disemprot bahan kimia (sistemik)
dengan konsentrasi 0,12%
Yang perlu diperhatikan?
Konservasi : lahan dengan kemiringan > 100
1. Mekanis : teras (sengkedan), rorak
(lobang penampung air hujan), saluran drainase, tanggul, cek dam
Biologis : barisan tanaman (Vetiver
Kenapa lahan dengan kemiringan >
10
0?
Tidak seluruh curah hujan dapat berinfiltrasi masuk ke dalam tanah
Fungsi konservasi lahan
• Membantu pertumbuhan, pemeliharaan, dan panen yang efektif
• Meminimalkan erosi dan aliran permukaan • Miningkatkan infiltrasi
• Menjaga dan mempertahankan kelembaban tanah
• Mengupayakan agar tanaman
Daur Hidrologi
aliran air tanah
air permukaan
lapisan kedap air
Akibat erosi
• Erosi = pengangkutan tanah ke tempat yang lebih rendah karena aliran air
(daerah tropis)
• Erosi menghilangkan lapisan tanah atas yang subur, tersisa tanah lapisan bawah yang kurang subur
• Hasil tanaman lebih rendah
Fungsi Pembuatan Teras
Fungsi Pembuatan Teras
1.
1.Mengurangi aliran permukaan air (Run-Mengurangi aliran permukaan air (Run-off) yang akan mengurangi bahaya erosi
off) yang akan mengurangi bahaya erosi
2.
2.Memperbesar daya infiltrasi dan Memperbesar daya infiltrasi dan
penyimpanan air tanah (meningkatkan
penyimpanan air tanah (meningkatkan
efektivitas pemupukan)
efektivitas pemupukan)
3.
3.Memudahkan pemeliharaan tanamanMemudahkan pemeliharaan tanaman
4.
Macam teras
• Ada tiga macam teras : teras bangku, teras gulud dan teras individu
• Teras bangku : teras yang dibuat
memotong lereng dan meratakan tanah di bagian bawah membentuk susunan seperti tangga, dibuat sedikit miring ke dalam agar air lebih banyak meresap. Tebing teras
ditanami rumput, bibir tebing ditanami
tanaman penguat teras. Teras bangku tidak cocok untuk tanah mudah longsor, jeluk
Teras Bangku
Lokasi saluran drainasi
Bagian teras sebelah dalam
Bibir teras
Tebing teras
Teras Gulud
• Dibuat dengan memotong lereng sesuai
dengan kontur, dilengkapi dengan guludan dan saluran pembuangan
• Jeluk tanah dangkal, teras bangku tidak cocok
• Kemiringan < 150
Teras Gulud
Gulud
Saluran drainasi
Teras Individu
• Teras yang dibuat dengan meratakan tanah di sekitar tanaman dengan garis tengah 1 – 1,5 m
• Dapat dibuat pada lereng > 45o
Teras Individu
Kemiringan asli
Rorak:
Galian yang dibuat di sebelah pokok
Penentuan garis kontur
• Dengan theodolit
• Dengan selang berisi air dengan prinsip bejana berhubungan
• Dengan ondol-ondol (frame A)
• Dengan alat-alat tersebut ditentukan titik-ttik dengan tinggi tempat yang sama
Tanaman Penutup Tanah
• Legume (LCC=legume cover crop)
• Syarat : mudah diperbanyak (biji, stek), perakaran dangkal, pertumbuhan cepat daun banyak, tahan : pangkas, kering, naungan, OPT,mudah diatur-tidak
Macam Penutup Tanah
• Menjalar : diantara barisan tanaman, pelindung tebing, bersifat permanen
Jenis LCC Tipe Menjalar pada Perkebunan Kelapa Sawit
• Centrosema pubescens • Pueraria javanica
• Calopoginium mucunoides
• Psopocarphus polustris
• Calopogonium caeruleum
• Desmodium ovalifolium
• Mucuna conchinchinensis
Jenis LCC Tipe Pelindung Perdu pada Perkebunan Kelapa Sawit
• Flemingia congesta
• Crotalaria anagyroides
• Tephrosia vogelii
• Caliandra callothyrsus (putih)
• Penanaman LCC secara campuran dari berbagai jenis lebih menguntungkan dari pada hanya
menggunakan 1 jenis LCC
• Seleksi LCC: perlu dilakukan sebelum dilakukan penanaman, seleksi dilakukan melalui pengujian daya kecambah
• Tujuan seleksi LCC: mengetahui kemurnian dan persentase pertumbuhan dari LCC sehingga akan didapatkan pertumbuhan di lahan yang baik
• Tingkat pertumbuhan minimum beberapa jenis kacangan: Calopoginium mucunoides (40%),
Calopogonium caeruleum (30%), Pueraria javanica (60%), Mucuna conchinchinensis (75%)
• Apabila persentase pertumbuhan di bawah standar, kebutuhan benih dapat ditambah secara
Contoh Kebutuhan Benih LCC
• Pada penanaman LCC secara campuran kebutuhan benihnya sebagai berikut:
Calopoginium mucunoides (6 kg/ha), Pueraria javanica (3 kg/ha), Mucuna conchinchinensis (2 kg/ha), dan Calopogonium caeruleum (0,5
Kegunaan LCC
• Menahan pukulan hujan • Menahan laju air limpasan • Menambah N
• Menambah BO (memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah)
• Melindungi permukaan tanah dari erosi • Mengurangi pencucian unsur hara
• Mempercepat pelapukan barang sisa LC/replanting
Dampak Negatif LCC
• Persaingan dengan tanaman pokok • Mengganggu tanaman pokok
• Sebagai tempat bersarang tikus
Beberapa Perlakuan Sebelum Penanaman Benih LCC
• Perendaman benih dalam air hangat: dilakukan selama 2 jam pada suhu 750C
• Direndam dalam larutan glycerin: selama 2 jam pada suhu 600C
• Direndam dalam larutan asam (asam sulfat): selama 8-15 menit
• Penipisan kulit benih (skarifikasi)
• Supaya pertumbuhan dan perkembangan LCC berlangsung dengan baik, sebelum benih di
tanam perlu diinokulasi menggunakan
Pohon Pelindung
• Ada beberapa jenis tanaman perkebunan yang habitat aslinya di dalam hutan untuk memberikan hasil yang tinggi perlu naungan sebagian, dengan pohon pelindung
• Pohon pelindung : dalam barisan, melindungi tanaman pokok atau tebing, pematah angin, bersifat tetap, Albizzia falcata (sengon laut),
Leucaena glauca, L. leucocephala
Kriteria tanaman yang akan digunakan
Kriteria tanaman yang akan digunakan
sebagai pohon pelindung
sebagai pohon pelindung
1.
1. Morfologi daun, tipe percabangan, ketahanan hama Morfologi daun, tipe percabangan, ketahanan hama penyakit
penyakit
2.
2. Tumbuh cepat & mampu tumbuh pada tanah kurang Tumbuh cepat & mampu tumbuh pada tanah kurang subur
subur
3.
3. Tidak mengalami gugur daun pada musim tertentuTidak mengalami gugur daun pada musim tertentu 4.
4. Tidak bersaing dalam kebutuhan air dan hara dengan Tidak bersaing dalam kebutuhan air dan hara dengan tanaman pokok
tanaman pokok
5.
5. Tidak menjadi inang penyakit, tahan akan angin dan Tidak menjadi inang penyakit, tahan akan angin dan mudah dimusnahkan
mudah dimusnahkan
6.
Pembibitan
1. Perkecambahan (Germinated seeds)
Benih kelapa sawit berkulit tebal, mk perlu persiapan yg
lama utk pengecambahannya
Setelah buah masak dipanen, tandan buah diperam
(fermentasi I) selama 3 hari supaya semua buahnya rontok
Setelah itu diperam lagi selama 3 hari (fermentasi II)
Selama fermentasi I dan II, penyiraman dilakukan setiap hari Setelah daging dlm sabut membusuk, bijinya dipisahkan dr
daging buah dan serat
Setelah terpisah, biji dikeringkan dan disimpan selama 2
bulan utk mematahkan dormansi
Setelah itu biji dikecambahkan. Biji sawit akan berkecambah
2. Pembibitan
Syarat lokasi pembibitan :
Dekat dgn sumber air, tetapi tdk tergenang Letaknya tdk jauh dr lokasi penanaman
Areal datar dan mudah dipasang instalasi air Dekat kantor dan pemukiman memudahkan
pengawasan
Keamanan terjamin dan bebas dr gangguan
binatang pengganggu
a. Pembibitan Pendahuluan (Pre-Nursery)
Polibag kecil diisi tanah topsoil yg sudah dibersihkan dr batu
dan sisa tan
Kmd polibag diletakkan dibedengan ukuran lebar 1m, panj 8m
dan tebal 2,5cm (tergantung kebutuhan)
Sebelum penanaman kecambah, polibag hrs disiram air
dahulu, kmd tnh ditengah polibag dilubangi dgn telunjuk tangan, lalu kecambah dimasukkan ke dlm lubang dgn primordia batang menghadap ke atas selanjutnya lubang ditutup kembali
Pembibitan awal dilakukan sampai umur 3 bulan ato kecambah
sdh berdaun 4 lembar, lalu dipindah ke pembibitan utama
Selama pembibitan awal dilakukan pemeliharaan : disiram 2
b. Pembibitan Utama (Main Nursery)
Polibag ukuran 40cm x 50cm diisi dgn tanah yg sdh
bersih jangan terlalu penuh
Polibag diletakkan dgn jarak tanam 70cm x 70cm x
70cm. Setelah disiram, tanah ditengah polibag dilubangi yg besarnya sama dgn polibag kecil
Polibag kecil disobek, kmd bibit beserta tanahnya
dimasukkan ke dlm lubang tadi lalu ditutup kembali
Selama pembibitan utama dilakukan pemeliharaan :
Dosis Pemupukan Bibit Kelapa Sawit
Umur Bibit Jenis Pupuk Dosis (g/bibit) Frekuensi Minggu 17
Minggu 18-20 Minggu 22-28 Minggu 30-40
c. Seleksi bibit (thinning out)
Seleksi bibit minimal dilakukan 2 kali ketika bibit berumur
9 bulan dan ketika hendak ditanam di lapangan
Bibit yg afkir dikumpulkan dan dimusnahkan jmlhnya
sekitar 30%
Ciri-ciri bibit yg disingkirkan :
• Habitus tidak normal, kaku, pelepah muda lebih pendek dp yg tua, tinggi bit dibawah rata-rata, dan daun tdk mau membuka
• Daun tidak normal seperti anak daun sempit bergulung, tdk membuka, pendek dan lebar, sangat rapat, dan
Penanaman
• Penanaman : tidak teratur atau teratur • Penanaman teratur menggunakan jarak
tanam
• Jarak tanam ditentukan berdasarkan
ukuran tanaman terutama diameter tajuk, tanaman dapat menangkap cahaya
matahari optimal perlu juga
mempertimbangkan diameter perakaran
lanjutan
• Jarak tanam ideal berbentuk segitiga
samasisi, penangkapan cahaya maksimal, populasi lebih tinggi (jumlah tanaman 15% lebih banyak), kelemahannya: sulit untuk penerapan mekanisasi dalam kegiatan penanaman, pemeliharaan, maupun
pemanenan
• Tidak selalu operasional yang terbaik, bisa bujur sangkar,untuk memudahkan
Segi empat Segi tiga
Tabel . Hubungan jarak tanam, bentuk jarak tanam, dan populasi tanaman
Jarak tanam segi empat segi tiga
---6m 278 320 7m204 236
8m156 180 9m123 143
Lubang Tanam
• Ukuran lubang tergantung ukuran tanaman terutama daerah perakaran
• Pada kelapa sawit ukurannya adalah: 60 cm x 60 cm x 40 cm
• Lubang dapat dibuat beberapa bulan sebelum penanaman agar tanah dalam lubang
mengalami perbaikan. Untuk daerah dengan curah hujan tinggi sering tidak dapat karena tergenang
• Beberapa minggu sebelum penanaman lubang diisi campuran tanah atas dan pupuk organik • Saat penanaman tanah digali seukuran
Lubang Tanam
Lapisan Lapisan tanah atas tanah bawah
Kegiatan Setelah Penanaman
• Umpan tikus
• Pemberian mulsa dengan janjangan kosong
Umpan tikus
• Sebagai tindakan pencegahan terhadap serangan tikus
• Per pokok bibit diberi 2 butir umpan tikus, 1 butir diletakkan disebelah kiri pokok dan 1 butir lagi diletakkan di sebelah kanan
pokok
Pemberian mulsa dengan janjangan kosong
• Semua bibit yang baru ditanam di lahan harus diberikan janjangan kosong (dosis 25 ton/ha)
• Janjangan kosong diletakkan disekitar piringan bibit, dalam bentuk lingkaran • Janjangan kosong yang digunakan
haruslah yang masih segar, yang
Penyisipan
• Penyisipan dilakukan secepat mungkin, tidak boleh lebih dari 2 tahun setelah
tanam
• Menggunakan bibit advaced planting material
Konsolidasi
• Pemeriksaan rutin terhadap tanaman
Pemeliharaan
1. Pengendalian gulma
2. Kastrasi (membuang semua bunga yg ada pd tan sawit muda ato TBM)
Kastrasi pd spesies Elaeis guineensis dilakukan pd
saat tan berumur 16 bln dan berakhir setelah tan berumur 26 bln
Pd spesies Elaeis melanococca kastrasi dimulai umur
16 bln dan berakhir umur 32 bln
Kastrasi dilakukan sebulan sekali
Buah yg dihasilkan dr bunga pd tan yg berumur 16-32
Lanjutan Pemeliharaan
3. Penyerbukan bantuan (assisted pollination)
Pd areal tan menghasilkan (TM) yg berumur kurang 7 tahun,
bunga jantan sangat sedikit muncul shg pollen bebas di alam sangat kurang, oki buah banyak yg tdk jadi krn bunga betina tdk dibuahi
Jika di areal sawit TM terdpt 2 bunga jantan yg mekar per ha,
pollen sdh bisa membuahi semua bunga betina
Penyerbukan bantuan dilakukan satu bulan setelah kastrasi
dihentikan dan diakhiri setelah tan berumur 7 tahun
Penyerbukan buatan dilakukan setiap tiga hari sekali, dgn
Lanjutan Pemeliharaan
4. Pengendalian hama dan penyakit
Hama yg sering menyerang sawit adalah ulat (Tasea asigna, Stora nitens, Darnarima sp.) dikendalikan dgn dipterex ato bayrusil, kumbang (Apogania sp. dan
Oryctes rhinoceros) dikendalikan dgn azodrin sistemik, dan tikus dikendalikan dgn racun tomorin, warfarin ato racumin yg dicampur dgn umpan.
Penyakit yg sering menyerang sawit adalah Ganoderma lucidum (parasit), tan yg terserang dibongkar, Little leaf
(penyakit fisiologis krn kekurangan unsur barium, gejalanya pertumb anak daun tdk normal, kecil, jumlahnya sedikit, tdk beraturan), diatasi dgn
Lanjutan Pemeliharaan
5. Pemupukan
Kisaran dosis optimum pemupukan TM
UMUR TANAMAN
(tahun) UNSUR HARA JENIS PUPUK
Lanjutan Pemeliharaan
CARA PEMUPUKAN
• Penaburan pupuk dlm piringan yg dibuat melingkar di sekitar tan dgn radius 2m
• Pemupukan dilakukan pd larikan yg dibuat dlm piringan dgn jarak 0,5m dr pohon kelapa sawit
• Jika dlm waktu yg bersamaan dipupuk sebanyak dua atau tiga jenis pupuk, mk harus ada tiga larikan yg sejajar dan tdk
bersinggungan utk setiap jenis pupuk
• Pemisahan larikan dilakukan krn ada jenis pupuk yg tdk boleh dicampur dgn jenis lain
• Selain itu pemisahan larikan bertujuan agar efektivitas setiap pupuk tetap terjaga
Lanjutan Pemeliharaan
6. Tunasan
Membuang ato memangkas daun yg ada dibawah buah dg tujuan :
Membersihkan tan spy pollen mudah membuahi putik Memudahkan pekerja utk mengambil ato memotong
buah yg masak
Secara fisiologis daun-daun yg tua di bag bawah tdk