I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehidupan manusia sangat bergantung pada tumbuhan, begitu pula pada makhluk lain yang tidak berhijau daun. Sedangkan tumbuhan dalam kehidupannya sering dihadapkan pada berbagai gangguan salah-satunya adalah serangan dari penyakit tumbuhan yang akan sangat berpengaruh pada besarnya hasil produksi. Adanya penyakit tumbuhan sudah diketahui lama sebelum masehi, bahkan dilaporkan bahwa penyakit telah ada sebelum manusia membudidayakan tanaman.
Tanaman akan sakit manakala tanaman rentan diserang oleh patogen virulen pada keadaan lingkungan yang mendukung perkembangan
penyakit. Tanaman sakit tampak dari gejala yang terjadi pada tanaman dan tanda yang mungkin terdapat pada bagian tanaman bergejala. Bila dalam pengamatan hanya dibedakan tanaman sakit dari tanaman sehat maka diperoleh data kategori, yaitu kategori sehat dan kategori sakit.
Pengamatan data kategori seperti ini tentu saja cukup mudah, tetapi tidak cukup memadai untuk mengukur seberapa berat penyakit yang diderita oleh setiap individu tanaman sehingga dapat dihitung nilai rerata untuk seluruh individu dalam populasi, maka dari itu cara yang semakin berkembang yaitu pengukuran intensitas penyakit dengan
menghasilkan skor. Hanya saja, nilai persen intensitas dalam hal ini berskala interval, bukan rasio, karena setiap nilai disepakati dengan menggunakan diagram area baku sebagai pembanding.Intensitas penyakit suatu tanaman dihitung dengan rumus ini apabila penyakitnya besifat sistemik atau dengan adanya serangan pathogen cepat atau lambat akan menyebabkan tanaman tidak berproduksi bahkan mati. Pada penyakit-penyakit yang tidak demikian, artinya intensitas penyakit-penyakit yang terjadi dan akibatnya bervariasi dan tanaman tidak mengalami kematian, maka intensitas penyakitnya dinyatakan dalam istilah Keparahan Penyakit (KeP) yang didefinisikan sebagai persentase luasnya jaringan tanaman yang terserang pathogen dari total las yang diamati, seerti dinyatakan dalam rumus berikut:Dimana KeP adalah keparahan penyakit, n adalah jumlah jaringan terserang pada setiap kategori (skor), v adalah kategori (skor) serangan, Z adalah kategori serangan tertinggi dan N adalah total dari jumlah jaringan yang diamati.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dalam kegiatan praktikum ini adalah : 1. Memepelajari cara menghitung intensitas penyakit.
2. Mengetahui perbedaan antara keterjadian dan keparahan penyakit. 3. Menghitung besar keterjadian dan keparahan penyakit pada daun yg
II. METODELOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain alat tulis, dan alat hitung (kalkulator). Sedangkan bahan yang digunakan adalah 5 lembar daun kopi yang diambil secara acak.
2.2 Langkah Kerja
Langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah:
1. Mengambil secara acak 5 lembar daun kopi
2. Menetapkan tingkat keparahan daun yang terinfeksi penyakit dalam beberapa tingkat (tingkat 1,2,3, dan 4)
3. Menghitung Keterjadian Penyakit (KP) berdasarka npersentase jumlah daun yang terinfeksi
III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 HasilPengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu :
Keterjadian penyakit :
TP =
=
Keparahan penyakit :
PP = x 100%
N x v
= (1x0) + (1x1) + (1x2) + (1x3) + (1x4) x 100% 5 x 4
3.2 Pembahasan
3.2.1 Tahapan pelaksanaan diagnosis
3.2.2 Keterjadian Penyakit dan Keparahan Penyakit
Keterjadian Penyakit (Disease incident) merupakan jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan sakit (jumlah tanaman, daun, batang, dan buah yang sakit) membandingkannya dengan jumlah total tumbuhan atau bagian tumbuhan.
Keparahan Penyakit (Disease Severity) didefinisikan sebagai persentase luas bagian tanaman yang sakit dibandingkan dengan keseluruhan bagian yang luas bagian tanamannya yang
diamati. Luasan bagian tanaman yang terserang penyakit diskor terlebih dahulu, baru setelah itu di masukkan kedalam rumus. Kejadian penyakit dihitung dengan membagi jumlah tanaman yang sakit (n) dengan jumlah tanaman yang diamati (N) dikali dengan seratus persen.
Sedangkan keparahan penyakit dapat kita hitung dengan jumlah tanaman yang sakit dikali skor dari masing-masing tanaman tersebut dibagi jumlah seluruh tanaman yang diamati dikali skor tertinggi dari penyakit tersebut, hasilnya dikali seratus persen. Kejadian penyakit dapat dilihat dari kerusakan parsial berdasar individu tanaman ataupun kerusakan parsial dari bagian tanaman dan kerusakan total dari tanaman tersebut.
besarnya gejala yang terlihat pada tanaman tersebut, seperti kerusakan atau tanda akibat bercak pada daun, karat pada batang, dan lainnya. Sedangkan kerusakan total adalah kerusakan dari seluruh tanamannya, seperti layu ataupun mati.
Keparahan penyakit dapat diamati dengan cara membagi kisaran dari tak ada gejala penyakit sampai penuh gejala penyakit ke dalam kelas-kelas atau kategori-kategori. Jaringan diamati dengan cara mencocokan termasuk kategori atau kelas yang manabagian tanaman tersebut. Proses pencocokan tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Jika jumlah kelas terlalu sedikit, maka kunci tersebut tidak memiliki kemampuan diskriminatif; sebaliknya kalau jumlah kelas terlalu besar maka diperlukan banyak waktu untuk menentukan suatu jaringan masuk kelas yang mana. Oleh karena itu biasanya jumlah kelas tidak lebih dari 10.
3.2.3 Contoh penyakit yang dapat di identifikasi hanya dengan melihat gejalanya
a. Penyakit blast pada padi
Penyakit blas yang dalam bahasa latin disebut
dengan Pyricularia grisea,adalah merupakan penyakit utama pada tanaman padi yang disebabkan oleh patogen
tanaman padi yaitu dari persemaian, stadia vegetatif, dan stadia generatif dengan menyerang leher dan cabang malai. Penyakit blas yang menyerang leher malai menjadi tantangan yang lebih serius karena banyak ditemukan di Indonesia khususnya di Kabupaten Sukabumi, Kuningan, Tulang Bawang, Lampung Tengah, dan Kabupaten Tabanan. Apabila kondisi lingkungan di sekitar tanaman padi mendukung perkembangan cendawan blas maka tanaman padi yang rentan terhadap penyakit ini seperti padi Cisadane, akan diserang dan menyebabkan petani yang menanamnya bisa gagal panen atau puso. Gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot) . Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat.
Ciri-ciri serangan penyakit blas adalah sebagai berikut : Cendawan Pyricularia grisea membentuk bercak pada daun padi, buku batang, leher malai, cabang malai bulir padi dan kolar daun (Chen, 1993;Scardaci et al., 1997). Bercak penyakit blas pada daun padi berbentuk belah ketupat dengan dua ujungnya runcing. Pada awal serangan bercak berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini akan semakin membesar pada varietas yang rentan, khususnya bila dalam keadaan lembab. Bercak yang sudah berkembang penuh
tersebut dikelilingi oleh warna kuning pucat (halo area), terutama di lingkungan yang kondusif yaitu dalam keadaan lembab dan ternaungi. Perkembangan bercak selain dipengaruhi oleh kerentanan varietas juga oleh umur bercak itu sendiri. Pada varietas tanaman padi yang tahan terhadap penyakit blas, bercak tidak berkembang dan hanya berupa titik kecil saja. Hal tersebut karena proses perkembangan konidia dari cendawanPyricularia grisea dalam jaringan inangnya terhambat. Di lingkungan yang kondusif, penyakit blas daun yang menyerang varietas tanaman padi yang rentan dan masih muda sampai stadia anakan, akan menyebabkan tanaman padi yang diserang mati seluruhnya. Selain menyerang daun, blas juga menyerang buku batang dimana pada buku batang yang diserang akan timbul bercak berwarna coklat atau hitam dan batang akan patah (Ou, 1985) dan kematian yang menyeluruh pada batang sebelah atas dari buku yang terinfeksi (Scardaci et al ., 1997)
Sedangkan infeksi pada malai akan menyebabkan blas leher, bercak coklat pada cabang malai dan bercak coklat pada kulit gabah (Ou, 1985). Apabila blas leher terjadi lebih awal akan mengakibatkan malai mati secara prematur, berwarna putih dan kosong secara menyeluruh, sedangkan jika blas leher terjadi kemudian akan menyebabkan pengisian bulir padi tidak
sempurna dan mutu biji menjadi rendah (Scardaci et al., 1997). Infeksi pada malai akan menyebabkan leher malai membusuk dan butir padi menjadi hampa (Semangun, 1991).
pada daun kedua terakhir dapat menyebabkan pengaruh yang nyata pada produksi padi (Scardaci et al., 1997).
Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai factor, salah satunya adalah kelebihan nitrogen dan kekurangan air akan menambah kerentanan tanaman. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi.
Cara Penyebaran Penyakit Blas adalah sebagai berikut :
sporulasi, dan perkecambahan spora. Cahaya dan kegelapan juga mempengaruhi infeksi. Proses penetrasi lebih cepat dalam keadaan gelap, tetapi untuk perkembangan selanjutnya
memerlukan cahaya. Penyebaran spora terjadi selain oleh angin juga oleh biji dan jerami. Cendawan P. grisea mampu bertahan dalam sisa jerami sakit dan gabah sakit. Dalam keadaan kering dan suhu kamar, spora masih bertahan hidup sampai satu tahun, sedangkan miselia mampu bertahan sampai lebih dari 3 tahun.
b. Layu bakteri pada tomat
Layu Fusarium (Fusarium oxysporum) – Penyakit layu fusairum disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum, merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti terutama oleh petani hortikultura karena berpotensi menimbulkan kerugian besar. Bahkan tidak jarang penyakit ini menjadi penyebab kegagalan budidaya. Pada tingkat serangan tinggi, penyakit layu fusarium bisa menghabisi seluruh tanaman, terutama terjadi pada musim hujan dan areal pertanaman mudah tergenang air.
Perkembangan Spora Cendawan Fusarium oxysporum adalah sebagai berikut :
Cendawan ini mampu menghasilkan tiga tipe spora, yaitu mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora. Mikrokondidia spora diproduksi oleh cendawan ini di dalam jaringan tanaman terserang. Sementara makrokonidia spora diproduksi
terinfeksi. Sedangkan klamidospora merupakan spora yang terdapat pada tanah yang sudah terinfeksi. Klamidospora mampu bertahan selama 30 tahun di dalam tanah.
Baik mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora dapat menyebar dengan bantuan air, peralatan pertanian, maupun kegiatan budidaya. Klamidospora merupakan jenis spora yang sangat aktif menginfeksi tanaman sehat melalui luka pada akar, maupun titik tumbuh akar lateral. Setelah masuk xilem,
miselium bercabang dan menghasilkan mikrokondidia yang akan terus berkecambah di dalam jaringan tanaman.
Pertumbuhan mikrokonidia spora ini mempengaruhi pasokan air, sehingga tanaman menjadi lemas dan akhirnya mati.
Gejala Serangan adalah sebagai berikut :
Serangan cendawan Fusarium oxysporum ditandai dengan gejala menguningnya daun-daun tua yang kemudian menjalar ke atas. Tulang daun memucat dan berwarna keputihan. Tanaman terkulai karena penyerapan unsur hara maupun air tidak bisa dilakukan. Hal ini disebabkan berkas pembuluh pengangkut membusuk. Jika tanah di sekitar lubang tanam dibongkar, tampak akar tanaman membusuk dan berwarna kecokelatan. Jika pangkal batang dipotong secara melintang, terdapat
3.2.4 Data perbandingan antar kelompok
Setelah dilakukan perhitungan untuk keterjadian penyakit oleh kelompok empat hasilnya adalah 80% didapatkan dari jumlah tanaman yang sehat dengan keseluruhan tanaman dikalikan dengan 100%. Jumlah tanaman yang sakit ada 4 dan dibagi dengan jumlah seluruh tanaman yaitu 5 dan dikalikan 100% maka hasilnya adalah 80%. Setelah dilakukan perhitungan untuk keparahan penyakit oleh kelompok empat hasilnya adalah 50% didapatkan dari
penjumlahan jumlah tanaman yang dikalikan dengan score tertentu dan dibagi dengan jumlah tanaman dengan score tertinggi
IV. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Dua cara yang umum dalam menentukan intensitas penyakit adalah keterjadian penyakit dan keparahan penyakit.
2. Keterjadian penyakit (KP) merupakan persentase jumlah tanaman yang terserang dibandingkan dengan total jumlah tanaman yang diamati. 3. Keparahan Penyakit (KeP) didefinisikan sebagai persentase luasan
DAFTAR PUSTAKA
.
Anonim 2011. Keterjadian
Penyakit dan KeparahaPenyakit.http:\\id\wikipedia.org\wiki\ Keterjadian-Penyakit.
Leonard J. F. 2001. Exercises in Plant Disease Epidemiology. APS Press St. Paul Minnesota.
Pracaya.1999. Hama danPenyakitTanaman.Jakarta : PT. PenebarSwadaya.
Semangun, Haryono. 1993. Penyakit – PenyakitTanamanPangan di Indonesia. Yogyakarta ; Gajah Mada University Press.
Layu Fusarium Tomathttp://www.tanijogonegoro.com/2013/11/layu-fusarium.htmldiakses pada tgl 11 Oktober 15 jam 09.00