• Tidak ada hasil yang ditemukan

metodologi penelitian L B M 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "metodologi penelitian L B M 3"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1. Apa itu desain penelitian dan fungsi dari desain penelitian ?

Desain penelitian

Rancangan penelitian yang disusun sehingga dapat

menuntun peneliti untuk memperoleh jawaban dari

pertanyaan-pertanyaan penelitian

Suatu rancangan atau cara untuk mengumpulan atau

mengolah data untuk mencapai tujuan penelitian

Fungsi

Sebagai sarana bagi peneliti untuk memperoleh

jawaban atau alat bagi peneliti untuk

mengendalikan atau mengontrol variabel

Membantu peneliti untuk mendapat jawaban

yang tepat dan objektif dan akurat

Mengekspresikan struktur permasalahan

penelitian dan rencana investigasi yang

digunakan untuk memperoleh bukti-bukti yang

berkaitan dangan masalah

2. Apa yang perlu di kaji sebelum menentukan jenis desain

penelitian ?

Tentukan jenis penelitian eksperimen atau observasi

Observasi tentukan waktunya follow up atau

longitudinal.

Evaluasi pristiwa yang berlangsung prospektif

( memperkirakan kasus) dan retrospektif

Contoh kasus PPOK

Cross sektional : dari rekap medik pasien dilihat jumlah

PPOK  dikross cek apakah perokok atau tidak

Case kontrol : kasusdari PPOK

(2)

faktor resiko, data dan sumber data primer dan

sekunder )kata kunci !!!!

3. Apa saja macam-macam desain penelitian ?

Penelitian ekspreimental

Ialah penelitian yg observasinya dilakukan terhadap efek dari manipulasi peneliti terhadap satu atau sejumlah ciri (variabel) subyek penelitian.

Dikenal 2 macam penelitian eksperimental : 1) Penelitian eksperimental MURNI

Ialah penelitian yg memungkinkan peneliti mengendalikan hampir semua variabel luar (variabel pengacau), sehingga perubahan yg terjadi pada efek (variabel yg dipelajari) hampir sepenuhnya karena pengaruh perlakuan (variabel eksperimental).

2) Penelitian eksperimental KUASI/ SEMU

Ialah bila peneliti tidak mungkin mengontrol semua variabel luar, sehingga perubahan yg terjadi pada efek tidak sepenuhnya oleh pengaruh perlakuan.

a. Penelitian non eksperimental

Ialah penelitian yang observasinya dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subyek menurut keadaan apa adanya (in nature), tanpa ada manipulasi atau intervensi peneliti.

Dalam bidang kedokteran, dikenal beberapa macam penelitian yang terpilah secara tumpang-tindih, yaitu

a. Penelitian epidemiologik

Adalah jenis penelitian kedokteran yg mengkaji problema kesehatan dengan menggunakan pendekatan komunitas.

Dengan penelitian ini dapat diungkap :

- kejadian, distribusi dan determinan suatu penyakit atau status kesehatan tertentu dalam masyarakat.

- Faktor2 risiko apa yg berperan pada suatu status kesehatan atau penyakit tertentu.

Secara umum, penelitian epidemiologik mempunyai 3 kegunaan :

1) Untuk kepentingan diagnosis, yaitu untuk menyusun diagnosis komunitas atau diagnosis kelompok.

2) Untuk kepentingan penelusuran patogenesis penyakit, yaitu mempelajari aspek etiologi dan perkembangan penyakit

(3)

Dikenal 2 macam penelitian epidemiologik, yaitu :

1. Penelitian epidemiologik intervensi

Adalah penelitian eksperimental yg dilakukan terhadap masyarakat. Peneliti memberikan perlakuan atau manipulasi pada masyarakat, kemudian efek perlakuan tsb diobservasi, baik secara individual maupun kelompok. Dalam kaitan fungsi penelusuran patogenesis penyakit, penelitian intervensi mempunyai potensi untuk mengungkap mekanisme sebab-akibat antara faktor resiko (penyebab penyakit) dengan efek (penyakit atau status kesehatan tertentu). Sebagai contoh terhadap angka kematian anak balita di suatu daerah.

2. Survei epidemiologik

Surve epidemiologik, baik deskriptif maupun analitik (sbg penelitian epidemiologik non eksperimental) kedalaman analisis mekanisme sebab-akibat tidak dapat diperoleh. Hal ini disebabkan karena pada survei epidemiologik observasi dilakukan pada fenomena kesehatan (faktor2 risiko dan efek) dalam keadaaan “apa adanya”, tanpa manipulasi.

Survei deskriptif. Ialah suatu penelitian yg tujuan utamanya melakukan eksplorasi-deskriptif terhadap fenomena kesehatan masyarakat, baik yang berupa faktor resiko maupun efek. Penelitian ini hanya menyuguhkan sedeskriptif mungkin fenomena tsb, tanpa mencoba menganalisis bagaimana dan mengapa fenomena tsb terjadi. Sebagai contoh misalnya, survei angka kematian dan angka kelahiran pada suatu daerah tertentu, atau survei tentang insidensi dan prevalensi peyakit tertnetu di suatu daerah. Survei analitik. Pada survei epidemiologik analitik, peneliti mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan masyarakat itu terjaid, yaitu dengan melakukan analisis dinamika korelasi antar fenomen, baik antara faktor risiko dengan defek, antar faktor risiko, maupun antar efek. Dari analisis korelasi tsb dapat didekati seberapa besarkontribusi fakktor tertentu terhadap kejadian efek yg dipelajari.

Dikenal 3 macam survei epidemiologik analitik, yaitu

a) Penelitian cross sectional

Merupakan penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor2 resiko dengan efek, dengan model pendekatan atau observasi sekaligus pada satu saat, atau point time aproach. Dengan pendektan :”satu saat” bukan dimaksudkan semua subyek diamati tepat pada saat yang sama melainkan tiap subyek hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atua variabel subyek pada saat pemeriksaan.

b) Penelitian case control

(4)

Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi subyek2 yg merupakan kasus case adalah subyek dengan karakter efek positif kemudian diikuti secara retrospektif ada tidaknya faktor risiko (kausa) yg diduga berperan. Penetapan ada tidaknya kontribusi pengaruh faktor risiko terhadap terjadinya efek dilakukan dengan membandingkan adanya faktor2 risiko tsb pada subyek kontrol, yg juga dilihat secara retrospektif. Kelompok subyek kontrol dipilih dari individu yg sejauh mungkin sama kondisinya dengan subyek kasus (dipilih secara matching), kecuali individu tsb tidak menunjukkan adanya penyakit atau status kesehatan tertentu yg diteliti control adalah subyek dengan karakter efek negatif.

c) Penelitian cohort

Pada penelitian cohort bukan efek yang “dipegang” dulu, tetapi kausa (faktor risiko) diidentifikasi, kemudian diikuti secara prospektif sampai periode tertentu untuk kemudian ditentukan ada tidaknya efek (penyakit atau status kesehatan tertentu yg diteliti). Berbeda dengan case control pada penelitian cohort yg diidentifikasi dulu justru individu yg tidak berpenyakit (karakter efek negatif), kemudain dari mereka dipilih subyek2 dengan faktor risiko (kausa) positif. Sebagai kelompok kontrol, diambil individu2 yg tanpa kasus. Kedua kelompok diikuti perkembangannya sampai periode tertentu, selanjutnya dibandingkan banyaknya subyek yg kemudian menjadi berpenyakit (efek positif) antar kedua kelompok tsb.

b. Penelitian evaluatif

Adalah penelitian yg dimaksudkan untuk menilai tingkat kesehatan, usaha penyehatan atau tindakan medik tertentu yg ada pada masyarakat maupun di klinik. Dikenal 2 macam penelitian evaluatif, yaitu :

1. Reviu program

Bertujuan untuk menilai kelengkapan sarana atau uupaya peningkatan kesehatan dalam masyarakat. Reviu program tidak mengobservasi bagaimana tingkat kesehatan anggota masyarakat, melainkan mengobservasi program atau pelayanan penyehatan tertentu.

Sebagai contoh upaya yg dinilai ialah : imunisasi, abatisasi air, puskesmas atau institusi pelayanan kesehatan lain.

Dari uraian diatas diketahui bahwa sesungguhnya reviu program bukan merupakan suatu penelitian, tetapi lebih merupakan suatu observasi atau survei superfisial.

2. Trial

Trial benar2 suatu jenis penelitian, oleh karena langkah2 metodologik sebagaimana diuraikan didepan dilalui. Tujuan utama trial ialah menilai atau menguji suatu tindakan medik tertentu, baik yg dilakukan terhadap individu maupun terhadap masyarakat

Dikenal 2 macam trial yaitu trial yang ditujukan pada individu, disebut trial klinik dan yang ditujukan pada masyarakat disebut trial program.

(5)

Adalah penelitian yg pelaksanannya dilakukan di laboratorium. Penelitian bukan merupakan jenis penelitian mandiri atau eksklusif, melainkan dapat merupakan penelitian apa pun yang pengukurannya terutama dilakukan dilaboratorium.

(DASAR2 METODOLOGI PENELITIAN KEDOKTERAN DAN KESEHATAN. A. WATIK P)

4. Bagaimana langkah-langkah menyusun desain penelitian ?

Penentuan jenis penelitian

Sumber data

Variabel penelitian

Menentuka populasi dan sample

Tehnik pengambilan sample

Pendekatan yang digunakan sesuai dengan masalah

penelitian

Hipotesis

tehnik analis data

5. Bagaimana cara pengambilan sample ?

a. menentukan tujuan penelitian

tujuan penelitian adalah suatu langkah pokok bagi suatu penelitian, karena tujuan penelitian tersebut merupakan arah untuk elemen-elemen yang lain dari penelitian. Demikian pula dalam menentukan sampel tergantung pula pada tujuan penelitian. Oleh sebab itu langkah pertama dalam mengambil sampel dari populasi adalah menentukan tujuan penelitian.

b. menentukan populasi penelitian

sebelum sampel ditentukan harus ditentukan dengan jelas kriteria atau batasan populasinya. Dengan demikian maka akan menjamin pengambilan sampel secara tepat.

c. menentukan janis data yang diperlukan

jenis data yang akan dikumpulkan dari suatu penelitian harus dirumuskan secara jelas. Apabila jenis data yang akan dikumpulkan telah dirumuskan secara jelas, maka dapat dengan mudah ditentukan dari mana data tersebut diperoleh atau ditentukan sumber datanya.

d. menentukan tehnik sampling

penentuan teknik sampling yang akan digunakan dalam pengambilan sampel dengan sendirinya akan tergantung dari tujuan penelitian dan sifat-sifat populasi.

e. menentukan besarnya sampel ( sampel size )

(6)

dalam pengambilan sampel. Secara statistik penentuan besarnya sampel ini akan tergantung pada jenis dan besarnya sampel.

f. menentukan unit sampel yang diperlukan

sebelum menentukan sampel yang diperlukan,terlebih dahulu akan ditentukan unit-unit yang menjadi anggota populasi. Hal ini akan memudahkan dalam menentukan unit yang mana akan dijadikan sampel.

g. memilih sampel

apabila karakteristik populasi sudah ditentukan dengan jelas,maka kita dapat dengan mudah memilih sampel sesuai dengan karakteristik populasi tersebut. Dalam memilih sampel dari populasi ini dengan sendirinya berdasarkan teknik-teknik pengambilan sampel.

Sumber : Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

b. Probability Sampling

Probability Sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sample. Teknik ini meliputi :

i. Simple random sampling

Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan sample anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

Contoh :

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

Contoh :

Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sample yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut diambil secara proporsional.

iii. Disproportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sample, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

Contoh :

(7)

iv. Cluster sampling (Area Sampling)

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sample bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, missal penduduk dari suatu Negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Contoh :

Di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling.

Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga.

c. Nonprobability sampling

Nonprobability Sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sample ini meliputi :

i. Sampling Sistematis

Sampling sistematis adalah teknik penentuan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.

Contoh :

Anggota populasi terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 5, 19, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.

ii. Sampling kuota

Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

Contoh :

Akan dilakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

iii. Sampling Aksidental

Sampling Aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

iv. Sampling Purposive

Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Contoh :

Akan dilakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.

(8)

Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

vi. Snowball Sampling

Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan Sampel purposive dan Snowball.

Sumber : Prof. DR. Sugiyono, 2005. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta

Representatif : apabila ciri2 sampel yang berkaitan dengan tujuan penelitian sama/hampir sama dengan ciri2 populasinya.

2 syarat pokok kerepresentatifan : a. Kecukupan jumlah sample

Artinya jumlah sample cukup besar untuk mewakili populasi yang menjadi sasaran penelitian.

b. Metoda sampling berdasarkan equal chance

Artinya setiap individu yang terdapat dalam populasi mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample penelitian.

(Azrul Azwar dan Joedo Prihartono, 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Binarupa Aksara.)

Memadai : apabila ukuran sampelnya cukup untuk menyakinkan kestabilan ciri2nya.

(Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya,Ir.M.Iqbal Hasan,MM)

6. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan

sample?

Bentuk kesalahan pengukuran : - kesalahan sistematis

ialah kesalahan yang terjadi karena faktor alat dan pengukuran itu sendiri.Yang menyangkut alat ukur ialah ketidakvalidan atau ketidakreliabelan alat ukur yang digunakan.Yang menyangkut pengukuran berupa kesalahan yang bersumber pada pengukur sendiri , pada suasana atau lingkungan pengukuran serta pada administrasi (pencatatan)pengukurannya

untuk menghindari kesalahan sistematis terhadap alat dan instrumen penelitian:  dipilih alat yang sudah dibakukan

(9)

 dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya  dikasih cairan untuk mengukur kadar macam2 ex : SGPT

- kesalahan sampling

ialah kesalahan hasil pengukuran yang terjadi karena sampling pengukuran yang dilakukan tidak representatif.Sampling disini dapat dimaksudkan terhadap obyek ukur sendiri atau terhadap subyek penelitian

dasar – dasar metodologi penelitian kedokteran & kesehatan oleh : Dr.Ahmad watik Pratiknya

Adanya kesalahan dalam pengambilan sampel

 Design error : kesalahan pada designnya pada populasi target, pemilihan sampel, accesible population

 Implementation error (kesalahan dalam mengimplementasikan)

 random error : kesalahan pd teknik pengambilan sampel sampel yg tidak representatif

(Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta)

7. Mengapa digunakan sample bukan populasi?

1.

Lebih murah. Karena hanya meneliti

sebagian subyek dari populasi.

2.

Lebih mudah. Hanya melakukan

pengukuran pada sebagian subyekdari populasi.

3.

Lebih cepat.dengan meneliti lebih

sedikit subyek,maka hasil yang diperoleh juga lebih cepat.

4.

Lebih akurat. Pemeriksaan atau

pengukuran terhadap sedikit subyek memungkinkan

pemeriksaan yang lebih teliti dan akurat.

5.

Mewakili populasi. Bila dipilih

dengan cara yang benar, maka sampel dapat mewakili populasi.

6.

Lebih spesifik. Dengan memilih

sampel, maka dapat direkrut pasien dengan sifat tertentu,

(10)

Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi 4.

8. Apa saja macam-macam populasi ?

Populasi target (Target Population)

Populasi target merupakan sasaran akhir penerapan hasil penelitian. Disebut pula ranah atau domain populasi target ini bersifat umum, yang pada penelitian klinis biasanya dibatasi oleh karakteristik demografi (kelompok usia, jenis kelamin) dan karakteristik klinis.

Populasi terjangkau (Accessible Population) atau Populasi Sumber (Source Population)

Populasi terjangkau merupakan bagian dari populasi target yang dapat dijangkau oleh peneliti.

Sumber : Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi II, 2002, Prof. DR. Dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp. A(K), Dkk, Jakarta : CV.Sagung Seto)

populasi target (=target population)

populasi yg merupakan sasaran akhir penerapan hasil penelitian, bersifat umum, dibatasi oleh karakteristik demografis (kelompok usia, jenis kelamin) dan karakteristik klinis.

Co :

- anak sehat

- remaja pengguna narkoba - pasangan usia subur - neonatus dengan sepsis

- efektivitas antibiotik baru A dengan antibiotik standar B pada bayi yang menderita sepsis semua bayi yg menderita sepsis (populasi target)

populasi terjangkau (= accessible population) atau populasi sumber (=source population)

bagian populasi target yg dapat dijangkau peneliti, dibatasi oleh tempat dan waktu. Co :

- Pasien Morbus Hansen yang berobat di RS Dwikora pada tahun 1999.

Populasi sasaran (=populasi target=populasi referensi)

keseluruhan subjek (misal manusia), yg karakteristiknya ingin diketahui riset. Co :

- Dalam suatu studi kohort pengaruh kontrasepsi oral terhadap infark miokard

(11)

Populasi aktual (=populasi sumber)

kumpulan subjek dari populasi sasaran yg layak digunakan sebagai sumber subjek penelitian.

Co :

- Pada studi tentang kontrasepsi oral terhadap infark miokard  populasi aktual : wanita Indonesia keturunan Cina berusia 25-49 tahun yang tinggal di perkotaan, yang mengunjungi klinik keluarga berencana rumah sakit.

Populasi studi (=sampel)

subjek2 dari populasi aktual yg benar2 akan diteliti oleh peneliti. Tidak semua calon subjek dalam populasi aktual diamati karena : - Subjek menolak partisipasi

- Subjek bersedia tetapi tidak memenuhi syarat/kriteria eligibilitas Syarat itu adalah :

- Belum/tidak sedang mengalami penyakit yg diteliti - Tidak membutuhkan pengobatan intensif/definitif - Tidak ada kontraindikasi

- Tidak ada komplikasi

- Tidak ada faktor2 yg mempengaruhi validitas rancangan studi maupun etika

Populasi eksternal

populasi di luar sasaran pokok riset tetapi peneliti masih berminat membuat generalisasi temuan riset.

Co :

- Jika pemakaian OC meningkatkan risiko terkena MI pada wanita Indonesia perkotaan keturunan Cina berusia 25-49th, maka ada kemungkinan peneliti masih ingin menarik kesimpulan bahwa pemakaian OC juga meningkatkan risiko MI pada wanita Indonesia perkotaan umur yg sama, dg pertimbangan bahwa ras tidak ada hubungannya dg pemakaian OC maupun kejadian MI.

- Ras bukan faktor perancu (confounding factor) dalam hub OC dan MI

- Populasi eksternal : populasi wanita Indonesia pribumi perkotaan berusia 25-49th

Bhisma Murti. “Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi”. UGM Press.

Yang perlu Diperhatikan

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan populasi penelitian

a. pertimbangan keterkaitan atau ketergayutan subyek dlm populasi dg permasalahan penelitian. Pertimbangan ini terutama menyangkut substansi atau ikhwal (hal) yg akan diteliti.

(12)

menggunakan teknik penelitian (eksperimental atau non-eksperimental) dpt diperoleh dari subyek dlm populasi yg dimaksud

Sumber : Pratiknya, A. Watik. 1986. Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan

9. Bagaimana cara menentuka kriteria inklusi dan eksklusi ?

10.

Bagaimana cara menetapkan validitas dan reabilitas ?

Validitas dan reliabilitas di uji dengan uji statistik :

 Dengan program komputer yang mampu menguji validitas dan reliabilitas kuesioner, seperti misalnya program Statistical Product and Service Solutions (SPSS).

 Dengan cara manual :

1. Untuk uji reliabilitas :Uji ulang (test Retest), Split test, test paralel.

2. Untuk uji validitas : Dengan mencocokan kuesioner dengan tujuan penelitian, dapat pula diuji secar statistik.

Panduan Penelitian Dr. B. Sandjaja, MSPH dan Albertus Heriyanto,M. Hum

cara pendekatan atau pengujian terhadap reliabilitas pengukuran  pendekatan konsistensi dalam

prinsip : melakukan uji coba instrumen pada sekelompok subyek dengan : satu alat ukur , satu kali pengukuran

 pendekatan konsistensi luar

 dilakukan dengan dua kali pengukuran pada sekelompok subyek yang sama.Dikenal 2 teknik pendekatan :

teknik uji ulang

prinsip : ialah melakukan uji coba instrumen pada sekelompok subyek dengan : satu alat ukur dan dua kali pengukuran

teknik uji paralel

 hasil pengukuran instrumen yang dicoba dibandingkan atau dikorelasikan dengan hasil pengukuran dengan instrumen yang telah baku atau relaibel.Ui coba dilakukan pada sekelompok obyek dengan : dua alat ukur dan dua kali pengukuran

Sumber : dasar – dasar metodologi penelitian kedokteran & kesehatan oleh : Dr.Ahmad watik Pratiknya

Penilaian keandalan(reliabilitas) pengukuran:

 Keandalan pengukuran variabel numerik

Dilakukan dengan menggunakan simpangan baku (standard deviation)Statistik yang bermanfaat untuk keperluan ini adalah koefisien variasi.Pengukuran yang andal mempunyai koefisien variasi yang sempit.

(13)

Untuk menilai keandalan berskala nominal ini digunakan penentuan nialai kappa(suatu statistik yang mengukur kesesuaian antara variabel berskala nominal dikotom).

Sumber:Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.Prof.DR.Dr.Sudigdo Sastroasmoro & Prof.Dr.Sofyan Ismael,SpA(K).Hal.66-67

penilaian ke valid-an:

 Kesahihan alat ukur Numerik

Dilakukan dengan cara membandingkan alat ukur tersebut dengan alat ukur yang baku sebagai penera.

 Kesahihan alat ukur Nominal

Dinilai dengan cara membandingkan dengan alat diagnostik terbaik (gold standard).

Sumber:Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.Prof.DR.Dr.Sudigdo Sastroasmoro & Prof.Dr.Sofyan Ismael,SpA(K)hal 71-72

11.

Apa saja jenis-jenis validitas dan reabilitas ? dan sebutkan

ciri-cirinya !

Validitas

Validitas Penelitian :

o Validitas dalam ( internal validity )

 ikhwal kesahihan penelitian yang menyangkut pertanyaan : sejauh mana perubahan yang diamati dalam suatu penelitian ( terutama penelitian eksperimental ) benar2 hanya terjadi karena perlakuan yang diberikan ( variable pengakuan ) dan bukan karena pengaruh faktor lain ( variable luar )

o Validitas luar ( eksternal validity )

 ikhwal penelitian yang menyangkut pertanyaan : sejauh mana hasil suatu penelitian dapat dirampatkan ( digeneralisasikan ) pada populasi induk ( asal sample penelitian diambil )

Validitas pengukuran :

o Validitas isi  tingkat representativitas isi atau substansi pengukuran thd konsep ( pengertian ) variabel sebagaimana dirumuskan dalam definisi operasional

(14)

o Validitas konstruk  ketepatan pengukuran dalam menilai ciri atau keadaan subyek yang diukur, sehubungan dengan teori atau hipotesis yang melatarbelakanginya.

( Dasar – dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Dr. Ahmad Watik Pratiknya )

 Validitas isi (content validity)

Validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat proffesionla judgment. Validitas isi dibagi menjadi dua tipe, yaitu :

a. Validitas muka (face validity)

Tipe validitas yang paling rendah signifikannya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes.

b. Validitas logic (logical validity)

Disebut juga sebagai validitas sampling. Validitas tipe ini menunjukkan pada sejauhmana isi tes yang merupakan isi representasi dari ciri – cirri atribut yang akan diukur.

 Validitas konstrak (construct validity)

Merupakan tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkapkan suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukur.

 Validitas berdasar kriteria (criterion related validity)

Prosedur pendekatan validits berdasar kriteria menghendaki tersedianya criteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Prosedur validitas berdasar kriteria menghasilkan dua macam validitas, yaitu :

a. Validitas prediktif (predictive validity)

Validitas ini sangat penting artinya bila tes dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performansi diwaktu yang akan datang.

b. Validitas konkuren (concurrent validity)

Apabila skor tes dan skor kriteria dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor termaksud merupa kan koefisien validitas konkuren.

(Azwar, Saifuddin. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.)

12.

Macam-macam alat ukur yang dapat dipakai dalam

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko

Sedangkan pendekatan korelasi adalah suatu pendekatan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel atau penelitian yang melibatkan hubungan satu atau lebih

Alasan menggunakan analisis tersebut karena analisis regresi dan korelasi digunakan untuk mempelajari hubungan antara dua variabel atau lebih, dengan maksud bahwa dari hubungan

korelasi antara faktor risiko terhadap efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat, dimana data variabel dependen (keaktifan

Penelitian ini menggunakan expost facto yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mempelajari dinamika hubungan atau korelasi atau pengaruh antara faktor-faktor terukur

Pengamatan langsung atau observasi terhadap organisasi yang terkait dengan mempelajari dokumentasi, tujuan dan struktur organisasi, proses bisnis dan kebijakan teknologi

Pendekatan yang digunakan adalah Survey cross sectionalialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan

Menurut Notoatmodjo 2010 rancangan cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan,