BAB I
1. Pendahuluan
1.1
Latar Belakang Masalah
Pemerintahan Prof. H. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia pada periode kedua mulai tahun 2009 sampai tahun 2014 ini akan segera berakhir. Presiden SBY dan wakilnya Prof. Boediono serta para menterinya mengemban tugas membangun Indonesia dalam sebuah tim yang diberi nama Indonesia Bersatu Jilid Dua. Adakah tim ini berhasil membangun Indonesia seperti yang diharapkan?
Mayoritas jawaban yang akan didapatkan atas pertanyaan ini adalah tidak berhasil. Hasil survei berbagai lembaga survei di Indonesia dengan tegas menyatakan besarnya rasa ketidakpuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan Presiden SBY dan kinerja di bidang ekonomi adalah yang paling banyak dikeluhkan publik. Serangan bertambah besar saat berbagai lembaga swadaya masyarakat dan lawan politik SBY ikut mengemukakan pendapat yang keseluruhan bunyinya bernada miring menilai ketidakberhasilan kinerja SBY dan timnya meski ada serangkaian prestasi yang dapat dibanggakan disana.
SBY serta bawahannya mengungkapkan keberhasilan dalam pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kesetaraan sosial sebagai capaian bagus yang mereka rasa pantas dan perlu di berikan apresiasi.
letak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus saja di banggakan oleh pemerintahan SBY?.
Perbedaan kenyataan yang terjadi dalam waktu bersamaan ini tentu dapat menimbulkan perdebatan panjang yang tidak pasti dimana akhirnya. Hal ini sangat menarik untuk dibahas karena setiap pencapaian keberhasilan pembangunan ekonomi yang diungkapkan pemerintah selalu bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di kalangan masyarakat. Untuk itu penulis mecoba menganalisa secara terpisah kenyataan yang terjadi dalam pemerintahan SBY dengan apa yang terjadi di dalam masyarakat sehingga diharapkan dapat kita temui sebuah titik terang yang bisa kita gunakan sebagai standar penilaian yang lebih netral tanpa memihak pada satu pihak saja.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana kinerja Presiden SBY dalam pembangunan ekonomi di Indonesia periode 2009 – 2014?
1.2.2 Bagaimana dampak pembangunan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia periode 2009 - 2014?
1.3
Tujuan
1.3.1 Mendeskripsikan kinerja Presiden SBY dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.
1.4
Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi penulis yaitu mengembangkan wawasan penulis mengenai perkembangan perekonomian pada masa pemerintahan SBY, sekaligus sebagai sarana pembelajaran dalam penulisan karya ilmiah lainnya.
1.4.2 Manfaat bagi pembaca adalah memberikan pengetahuan yang baru mengenai kenyataan yang terjadi sehingga bisa turut serta dalam menilai kinerja pemerintah kita.
BAB II
2.
Teks Utama
2.1 Kinerja Presiden SBY dalam Pembangunan Ekonomi di
Indonesia Periode 2009 – 2014.
Masa kepemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama wakil presiden Boediono akan segera berakir bulan juli nanti seiring dengan diadakannya pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru untuk menggantikan mereka.
Lima tahun masa kepemimpinan SBY di periode yang kedua ini telah menghasilkan sejumlah perubahan di berbagai sektor kehidupan bangsa Indonesia, ada yang mencerminkan kesuksesan namun ada pula yang dikritik karena ketidakefektivannya saat dilaksanakan. Banyak faktor yang disoroti dan dianggap sebagai celah pemerintahan SBY bersama Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 yang merupakan timnya dalam membangun Indonesia diantaranya bidang hukum, bidang ekonomi, bidang perindustrian dan bidang bidang lainnya. Berikut kita akan mendalami pembangunan ekonomi dalam masa kepemerintahan SBY.
2.1.1 Defenisi Pembangunan Ekonomi Menurut Para Ahli
Berger (1987), memandang modernisasi sebagai suatu rangkaian fenomena historis yang jauh lebih spesifik, yang diasosiasikan dengan tumbuhnya masyarakatmasyarakat industrial.
Dissaynake (1984), mendefinisikan pembangunan sebagai proses perubahan sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dari seluruh atau mayoritas masyarakat tanpa merusak lingkungan alam dan kultural tempat mereka berada dan berusaha melibatkan sebanyak mungkin anggota masyarakat dalam usaha ini dan menjadikan mereka penentu dari tujuan mereka sendiri.
Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”
Deddy T. Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional dapat pula diartikan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan strategi menuju arah yang diinginkan
2.1.2 Pembangunan Ekonomi di masa Pemerintahan Presiden SBY
Periode 2009- 2014
Model pembangunan yang dilakukan Indonesia pada masa awal orde baru diprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi. Tujuannya adalah untuk mengatrol kondisi ekonomi yang sedang jatuh pada masa itu. Cara yang paling cepat adalah dengan cara konglomerasi yaitu mendorong peningkatan investasi dan pembangunan dengan padat modal. Sedangkan prioritas kedua adalah pada stabilisasi, karena tanpa adanya stabilisasi maka pembangunan tidak akan berlangsung dengan baik. Itulah sebabnya mengapa pemerintah Indonesia padamasa itu menetapkan stabilisasi sebagai salah prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan. Sedangkan pemerataan pembangunan dan hasil hasilnya justru menjadi prioritas ketiga.
2.1.2.1 Hasil Pembangunan Ekonomi pada Masa Pemerintahan SBY Periode
2009- 2014
Dalam masa kepemerintahan Presiden SBY yang berlansung pada periode ke dua ini,beberapa keberhasikan yang diberitakan oleh pemerintah kepada masyarakat sebagai keberhasilan dari proses pembangunan ekonomi yang dilaksanakan. Keberhasilan yang dianggap baik oleh pemerintah itu antara lain:
1. Pendapat perkapita Meningkat. Tidak hanya kemiskinan, pengangguran, pemerintah pun berperan dalam peningkatan pendapatan perkapita masyarakat, dari USD 1.100 menjadi USD 4.000.
3. Tekan Pengangguran. Jumlah pengangguran di Indonesia pun mengalami penurunan yang jika pada tahun 2004 sekitar 10 persen, kini tahun 2013 menjadi 5,4 persen.
4. Investasi Tinggi. Salah satu indikator kekuatan ekonomi Indonesia adalah keinginan investor meningkatkan investasi di Indonesia.
Hal ini masih diperkuat oleh fakta bahwa perekonomian Indonesia mampu bertahan pada saat dunia digoncang krisis ekonomi tahun 2008.
Pernyataan senada juga diungkapkan oleh beberapa pihak untuk menggambarkan keberhasilan SBY dalam pembangunan ekonomi diantaranya Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Dr Umar Juoro dan Pengamat ekonomi yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Dr Berly Marwardaya. Mereka mengaangap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakir cukup mengalami peningkatan, pendapatan perkapita naik dari 1.100 USD pada tahun 2004 menjadi 4.000 USD pada tahun 2014. Mereka juga memuji kinerja SBY yang mampu menjaga kestabilan perekonomian indonesia yang akhirnya mendukung pengusaha makro di Indonesia terus tumbuh dan berkembang.
Namun benarkah pernyataan pemerintah terhadap keberhasilan mereka ini?. Mari kita cermati keadaan yang terjadi di masyarakat selama ini.
terlebih di daerah timur Indonesia hal tersebut masih sangat jauh dari kata memuaskan. Dalam proses pembangunan ekonomi, hal ini memang merupakan suatu faktor penghambatnya dan sangat disayangkan, Hal yang dulu sering didengungkan oleh SBY dalam setiap kampanyenya ini ternyata sangat sedikit mendapat perhatian darinya.
2.1.2.2 Analisis Pembangunan Ekonomi pada Masa Pemerintahan SBY Tahun
2009- 2014
Untuk dapat melihat secara mendalam serta terperinci bagaimana sebenarnya hasil pembangunan ekonomi pada masa pemerintahan SBY, penulis menggunalkan indikator yang lansung terkait dengan pembangunan ekonomi tersebut antara lain : pertumbuhan ekonomi, pendapatan nasional, tingkat inflasi, utang negara dan juga neraca perdagangan. Berikut akan dibahas kelima indikator tersebut.
1. Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Boediono (2005), Pertumbuhan ekonomi (Capital Gain) adalah proses kenaikan output per kapita yang terus-menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil.
berada pada kisaran 5.3 % turun 0.3 % jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai angka 5.6 %.
Pertumbuhan ekonomi yang dicapai sebenarnya bisa lebih ditingkatkan jika Presiden SBY lebih berani dalam menentukan kebijakan serta tegas dalam pelaksanaannya. Pengentasan kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru menjadi pokok kegagalannya. Hal lainnya yang juga penting adalah ketersediaan infrastruktur sektor industri, sektor transportasi, dan sektor energi, ketiga sektor ini dianggap kurang diperhatikan sehingga berdampak pada pergerakan arus investasi yang biasa saja.
Dalam hal ini Husnan (1996:5) menyatakan bahwa:
Proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.
Dari pernyataan Husan diatas dapat kita ketahui pada umumnya manfaat ini dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya tanah, mesin, bangunan dan lain-lain. Dalam pemerintahan Presiden SBY, hal ini kurang diperhatikan dan pemerintah terkesan pasrah. Pemerintahan SBY masih belum mampu melakukan kebijakan yang mampu menarik investor asing ke dalam negeri.
2. Pendapatan Nasional
Pemerintah mengklaim bahwa PDB terus tumbuh positif dan diperkirakan hingga 6,7 persen di tahun 2013. Padahal, indikator makro tersebut pada faktanya merupakan pertumbuhan nilai tambah sejumlah sektor ekonomi yang bersifat agregat. PDB tidak pernah memperhitungkan siapa yang memproduksi barang tersebut apakah asing atau penduduk domestik, atau apakah pertumbuhan tersebut digerakkan oleh segelintir orang saja atau oleh mayoritas masyarakat. Besarnya jumlah PDB sama sekali tidak dapat menggambarkan kesejahteraan rakyat secara akurat. Buktinya meski PDB terbesar Indonesia terbesar ke-18 di dunia sebagiaman yang terus dibangga-banggakan oleh pemerintah, namun indikator kesejahteraan Human Development Index (HDI) UNDP masih menempatkan Indonesia pada urutan ke 108 dari 169 negara. Rendahnya pendapatan nasional juga disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam mengolah sumber daya yang dimiliki.
Dalam hal ini, Putong (2013, 373) mengatakan bahwa:
Pendapatan Nasional (National Income) merupakan salah satu indikator kemampuan dan kualitas (alam dan atau manusia) suatu negara. Semakin baik dan berkualitas sumber daya suatu negara maka relatif semakin besar juga pendapatan nasionalnya.
3. Tingkat Inflasi
Pada masa pemerintahan SBY, inflasi memang dikatakan mennurun dan cenderung membaik, prestasinya adalah saat inflasi pada tahun 2009 yaitu sebesar 2,7 %, angka yang sangat berbeda dari perkiraan semula yang mencapai 5%. Hal ini terjadi karena itu adalah tahun dimana SBY kembali terpilih sebagai presiden kembali, dan banyak kalangan menilai itu adalah strategi awal saja.
Januari 2014 sebesar 0,56 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Januari 2014 terhadap Januari 2013) sebesar 4,53 persen.
Namun angka ini akan semakin bertambah karena kesalahan berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Naiknya harga bahan bahan pokok akan menyebabkan penurunan daya beli masyarakat sehingga akan menimbulkan inflasi ( Putong, 2013: 417)
4. Utang Negara
Rasio utang terhadap PDB menurun hingga 26%. Terlepas dari perdebatan mengenai kepantasan menggunakan PDB sebagai alat ukuran besaran utang, namun yang pasti nominal utang Indonesia dari tahun ke tahun terus membengkak. Per Desember 2010 misalnya berdasarkan Data Departemen Keuangan, total utang pemerintah Indoneisa mencapai Rp 1675 triliun. Akibatnya APBN yang semestinya dialokasikan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat justru 20 persennya (Rp249 dari Rp1,230 triliun) terkuras untuk membayar pokok utang dan bunganya. Angka ini melampaui anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan berbagai bentuk subsidi seperti pangan, pupuk, listrik dan BBM.
5. Neraca Perdagangan
sumber daya alam yang berbentuk bahan mentah atau setengah jadi. Mirip-mirip pada era kolonial, di mana Indonesia menjadi pengekspor utama rempah-rempah ke Eropa. Bedanya komoditas ekpsor kini lebih banyak bahan baku energi seperti migas, batu bara, bij besi, nikel dan minyak sawit. Ini menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu menjadi negara industri yang dapat mengoptimalkan bahan baku tersebut untuk kegiatan industri yang menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Selain itu, komoditas sumber daya alam tersebut sebagian besar merupakan kekayaan milik umum yangmseharusnya dikuasai oleh negara. Namun, kekayaan yang diperoleh dari penjualan tersebut justru lebih banyak dinikmati oleh para pengusaha swasta termasuk perusahaan- perusahaan asing.
2.2 Dampak Pembangunan Ekonomi Bagi Kesejahteraan
Sosial Masyarakat Indonesia Periode 2009- 2014
Kesejahteraan Masyarakat selalu berhubungan dengan pembangunan ekonomi, karena saat pembangunan ekonomi yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi berada dalam jalur positif maka tingkat pendapatan masyarakat akan meningkat, selain itu dari peningkatan pendapatan yang terjadi masyarakat akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara lebih baik. Hal ini menunjukan bahwa kesejahteraan dalam bentuk pendapatan masyarakat mulai meningkat, dengan demikian maka pengangguran akan berkurang, otomatis tindakan kriminal juga akan berkurang, aksi demonstrasi akibat ketidakpuasan juga akan menurun apabila masyarakat menerima penghasilan yang sebanding dengan yang mereka kerjakan.
2.2.1 Defenisi Kesejahteraan Sosial Menutut Para Ahli
Sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai Dalam kebijakan sosial, kesejahteraan sosial menunjuk ke jangkauan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini adalah istilah yang digunakan dalam ide negara sejahtera. Berikut ini adalah kesejahteraan menurut para ahli:
masalah sosial, pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas hidup.”
Menurut Zaztrow, 2000 kesejahteraan sosial adalah sebuah sistem yang meliputi program dan pelayanan yang membantu orang agar dapat memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang sangat mendasar untuk memelihara masyarakat.
Menurut Soeharto, 2005 kesejahteraan sosial adalah kegiatan-kegiatan yang terorganisasi yang betujuan untuk membantu individu atau masyarakat guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kepentingan keluarga dan masyarakat (Suharto, 2005).
Menurut Undang Undang No 11 Tahun 2009, kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.
2.2.2 Kesejahteraan Sosial Masyarakat Indonesia pada Masa
Pemerintahan SBY Periode 2009 – 2014
Berdasarkan uraian tentang pembangunan ekonomi sebelumnya kita sudah dapat mengetahui bahwa pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh SBY belum maksimal, hal ini tentu saja juga berdampak pada belum meratanya tingkat kesejahteraan masyarakat.
lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan tingkat produktivitas masyarakat.
Berdasarkan kenyaataan, dalam usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia, SBY dianggap kurang mampu bekerja all out. Hal ini dapat kita lihat di beberapa sektor seperti ekonomi mikro. Kekurangan itu antara lain adalah indikator pengangguran dan angka kemiskinan yang masih tetap tinggi. Itu juga masih ditambah dengan kesenjangan antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin yang sangat tinggi. Masyarakat kaya dengan pendapatan besar akan semakin kaya, sementara masyarakat miskin juga semakin miskin.
Memang ada peningkatan yang signifikan untuk pendapatan perkapita di Indonesia dalam 10 tahun terakhir tetapi ternyata hal ini juga berbanding lurus dengan kesenjangan sosial yang semakin besar dimana masyarakat kaya bisa semakin kaya tetapi masyarakat miskin tidak bisa naik kelas menjadi kaya, tetap saja miskin. Hal ini kurang mendapat perhatian dari Pemerintahan SBY sehingga permasalahan ini masih terus terjadi.
Kekurangan lainnya adalah soal infrastruktur khususnya infrastruktur jalan dan listrik yang belum memadai. Di beberapa daerah terlebih lagi setelah musim hujan ini, infrastruktur khususnya jalan semakin memburuk. Sementara Soal perizinan juga masih menjadi bagian dari kekurangan yang harus segera diperbaiki pemerintah. Perizinan investasi kita masih belum memuaskan. Kedua kekurangan tersebut menghambat derasnya laju investasi asing ke dalam negeri. Karena itu dibutuhkan terobosan khusus oleh pemerintah agar permasalahan ini dapat teratasi.
menjadi naik. Sektor manufaktur memiliki potensi besar dalam menciptakan kesempatak kerja produktif karena menyerap tenaga massal. Begitu juga sektor pertanian. Dua sektot tersebut sampai saat ini belum optimal di kembangkan. Sementara terobosan di bidang infrastruktur adalah dengan memperbaiki dan mempercepat infrastuktur jalan yang dibutuhkan seperti Jalan Tol Trans Sumatera, pelabuhan dan pembangunan jaringan jalan kereta yang dapat mempercepat distribusi barang dari berbagai wilayah di Indonesia. Sementara masalah perizinan investasi kita masih belum memuaskan. Pemerintah harusnya lebih responsif dan fokus menyelesaikan kendala tersebut untuk memberikan kepastian bagi investor atas investasi jangka panjangnya.
2.2.2.1 Indikator Penilaian Kesejahteraan Sosial Masyarakat
Menurut Kolle (1974) dalam Bintaro (1989), kesejahteraan dapat diukur dengan beberapa faktor yaitu:
A. Tingkat Kemiskinan. B. Tingkat Pengangguran. C. Tingkat Kesehatan. D. Tingkat Pendidikan.
E. Tingkat Taraf Hidup Masyarakat.
2.2.2.2 Analisis Kesejahteraan Masyarakat di Indonesia pada Masa
Pemerintahan SBY Periode 2009- 2014
A. Tingkat Kemiskinan
mengklaim penduduk miskin di Indonesia terus berkurang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 jumlahnya mencapai 11,23% atau 29,8 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Penduduk miskin menurut Pemerintah adalah penduduk yang pengeluaran perbulannya di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik ( BPS ). Pada 2013 nilanya Rp 217,726 perkapita perbulan. Dengan kata lain, jika seseorang berpendapatan Rp 225,000 maka ia tidak lagi dikategorikan sebagai orang miskin. Padahal dalam kehidupan materialisme seperti saat ini dimana hampir seluruhnya diukur dengan materi, pendapatan tersebut tentu sangat kecil. Wajar jika dalam realitas banyak orang yang mengalami kesulitan di bidang ekonomi namun tidak masuk dalam kategori miskin. Jika standarnya kemiskinan dinaikkan menjadi US$ 2/hari atau dibawah Rp 540,000 maka dengan menggunakan data Susenas 2010, sebanyak 63% penduduk Indonesia miskin. Pembanding lain, berdasarkan Survey Rumah Tangga Sasaran Penerima Bantuan Langung Tunai (BLT) oleh BPS tahun 2008 diperkirakan 70 juta orang yang masuk kategori miskin dan hampir miskin (near poor). Angkanya lebih tinggi lagi jika dilihat dari penduduk yang membeli beras miskin pada 2009 yang mencapai 52 persen atau 123 juta orang.
B. Tingkat Pengangguran
tersebut hanya memotret mereka yang berkerja minimal satu jam perhari dalam seminggu terakhir. Termasuk pula mereka yang membantu bekerja namun tidak dibayar. Dengan demikian, para pengatur lalu lintas ‘swasta’, atau kuli yang bekerja minimal sejam perhari dalam satu minggu terakhir disebut sebagai tenaga kerja. Dengan kriteria demikian, maka sangat wajar jika angka penggangguran diklaim terus menurun namun tingkat kesejahteraan rakyat tidak membaik. Apalagi seiring dengan kegagalan pemerintah mengendalikan inflasi khususnya administered inflation (barang yang harganya diatur oleh pemerintah) seperti Bahan Bakar Minyak ( BBM ) dan Tarif Dasar Listrik ( TDL ) dan volatile inflation (inflasi barang yang bergejolak) seperti pangan, membuat pendapatan riil mereka yang bekerja terus menurun. Harga-harga membumbung tinggi sementara pendapatan nominal tidak berubah.
C. Tingkat Kesehatan
Pemerintah menyatakan bahwa pelayanan di bidang kesehatan juga telah mampu memberikan jaminan kesehatan pada masyarakat miskin melalui program Askeskin (Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin) yang kemudian disempurnakan dengan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (Jampersal). Pada 1 Januari 2014, pelayanan kesehatan disempurnakan dengan diterapkannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan. JKN dan BPJS Kesehatan diresmikan Presiden SBY pada 31 Desember 2013 di Istana Bogor, Jawa Barat.
swasta maupun ke Puskesmas atau klinik, padahal pemerintah menganggap mereka telah berhasil mengatasi permasalahan kesehatan di Indonesia. Kenyataannya Sebagian besar dari mereka justru melakukan pengobatan sendiri. Meski tidak ada rincian mengenai alasan mereka, namun sebagian dari mereka tentu merupakan orang-orang yang tidak mampu menjangkau layanan kesehatan yang bersifat komersil. Kalaupun orang-orang miskin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis melalui Jamkesmas atau Kartu Miskin jumlahnya masih sangat kecil yakni sebesar 16,7 persen. Selain itu banyak dari penerima pelayanan kesehatan gratis tersebut tetap terbebani karena masih harus membayar berbagai biaya dari pelayanan kesehatan yang mereka dapatkan dan harus melakukan proes administrasi yang rumit dan berbelit-belit. Akibatnya, banyak penduduk yang menderita berbagai penyakit namun karena tidak mampu berobat dan tidak mampi mengurus pelayanan kesehatan gratis terpaksa terus menanggung penyakit mereka hingga tidak sedikit dari mereka yang meninggal dunia.
D. Tingkat Pendidikan
menggembirakan tetapi sayangnya dalam kenyataann masih sangat melimpah anak usia sekolah yang tidak mampu mengecap bangku pendidikan yang masih teramat mahal bagi mereka. Betul bahwa sebagian besar penduduk usia SD telah mengecap pendidikan, namun di tingkat SMP dan SMU jumlahnya masih sangat rendah yang masing-masing sebesar 67 persen dan 45 persen (Susenas, 2009). Penyebab rendahnya partisipasi tersebut tidak lain karena keterbatasan biaya yang mereka miliki serta sarana pendidikan yang disediakan pemerintah yang belum memadai.
E. Tingkat Taraf Hidup Masyarakat
Taraf hidup masyarakat dapat dihitung dengan pendapatan perkapitanya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita 2013 mencapai Rp 36,5 juta ada laju peningkatan sebesar 8,88 persen dibanding PDB per kapita tahun 2012 yang sebesar Rp 33,5 juta. Sepanjang 2013, PDB per kapita orang Indonesia sebesar 3.499,9 dollar AS. Sedangkan pada 2012 mencapai 3.583,2 dollar AS, dan pada 2011 sebesar 3.525,2 dollar AS. Meski angka statistik menyatakan demikian, dalam kenyataanya masih banyak masyarakat yang bahkan tidak memiliki puluh ribuan dari angka tersebut. Angka yang didapat hanya bersifat kumulatif tanpa memeperhitungkan aspek kemasyarakatannya sehingga data yang dihasilkan sangat jauh dari kenyataan yang ada.
BAB III
3.
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari analisis data diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
3.1.1 Pembangunan ekonomi adalah usaha yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah suatu negara dalam sektor penting kehidupan masyarakatnya sehingga dapat hidup dengan layak. Di indonesia pembangunan ekonomi yang dilakukakan oleh pemerintahan SBY meski menghasilkan sejumlah hasil tetapi dampaknya masih belum merata.
3.1.2 Pembangunan ekonomi yang dilakukan pada masa pemerintahan SBY secara statistik dan angka memang dapat dikatakan mengalami peningkatan yang bagus. Namun sayangnya, hal ini tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Kemiskinan yang masih merajalela, pengangguran tersebar dimana – mana, pelayanan kesehatan yang timpang serta kualitas hidup yang dibawah rata rata merupakan faktor – faktor utama penilaian tentang kegagalan SBY.
3.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Boediono. 2005. Pengantar Ilmu Ekonomi No 5. Ekonomi Moneter.Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Yustika, Ahmad Erani. 2006. Perekonomian Indinesia : Deskripsi, Preskripsi, dan Kebijakan. Malang: Bayumedia Publishing.
Subandi. 2005. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Putong, Iskandar. 2013. Economics: Pengantar Micro dan Makro. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Fauzie, Ahmad. 2014. Pendapatan Perkaita Indonesia 2013 capai Rp.36,5 Juta.( Online). ( http://www.kompas.com/ . Diakses pada 30 Mei 2014 )
Badan Pusat Statistik. (http://www.bps.go.id/ . Diakses pada 30 Mei 2014 )
Gunawan, Fandi. 2013. Ekonomi ASEAN: Meraih Potensi Perekonomian Optimum di Tengah Instabilitas Global dan Regional. (Online). (http://www.macroeconomicdashboard.com/ . Diakses pada 30 Mei 2014 )
Paket Kebijakan SBY Stabilkan Ekonomi. (Online). (http://www.presidenri.go.id/. Diakses pada 30 Mei 2014)
Mengerem Laju Inflasi Pasca Kenaikan Harga. (Online). (http://www.sektab.go.id/ . Diakses pada 30 Mei 2014)
Kesejahteraan Rakyat. (Online). (http://www.kemenkeu.go.id/ . Diakses pada 30 Mei 2014 ) Ejournal (http://www.ejournal.pin.or.id/ . Diakses pada 30 Mei 2014 )
Rully, Andre. 2013.Kebijakan Pemerintah Indonesia di Bidang Ekonomi. (Online). (http://rullyandre.blogspot.com/ . Diakses pada 5 Juni 2014 )
Gatra, Sandro. 2013. Kinerja Ekonomi Kabinet SBY Paling Dikeluhkan. (Online). (http://www.kompas.com/. Diakses pada 5 Juni 2014)
Septianraha. 2009. Pengertian Pembangunan Ekonomi Menurut Para Ahli. (Online). (http:// www.slideshare.net/. Diakses pada 5 Juni 2014 )