TEKNIK
ANALISIS KORELASI
Rincian Materi
•
Definisi Korelasi
•
Karakteristik Korelasi
•
Jenis Uji Korelasi
•
Pengujian Korelasi
•
Interpretasi Korelasi
•
Penilaian Kekuatan Hubungan
Definisi Korelasi
• Derajat hubungan antara variabel-variabel • Statistik yang mengandung tingkat
hubungan atau kerjasama di antara dua variabel.
• Pearson correlation adalah statistik bivariat yang mengandung tingkat hubungan linear di antara dua variabel kuantitatif.
• Korelasi mengukur derajat hubungan antara 2 atau lebih variabel.
Korelasi Linear Positif :
Jika semua titik (X,Y) pada diagram
pencar mendekati bentuk garis lurus dan jika arah perubahan kedua variabel
sama Jika X naik, Y juga naik.
Korelasi Non-linear:
Jika semua titik (X,Y) pada diagram pencar tidak membentuk garis lurus.
Korelasi Negatif:
Jenis uji korelasi
• Jika data interval dan normal : Pearson
product moment
• Jika data ordinal: Spearman rank (rho)
atau Kendall rank (tau)
• Jika satu interval kontinu dan satu
dikotomi : Point-Biserial
KARAKTERISTIK KORELASI
• Disimbolkan dengan r atau ρ
• Nilai korelasi : -1 sampai dengan 1 • Arah
– Korelasi Positif : nilai positif antara 0 dan 1; nilai tinggi pada X adalah terkait dengan nilai tinggi pada Y dan sama untuk nilai
rendah
– Korelasi Negatif : nilai negatif antara 0 dan -1; nilai tinggi pada X dihubungkan dengan nilai rendah pada Y dan
sebaliknya.
Lanjutan
• Koefisien determinasi (r2): seberapa
besar nilai X dapat menjelaskan nilai Y atau seberapa besar nilai X dapat
mempengaruhi nilai Y (kontribusi X terhadap Y)
• Koefisien korelasi (r): keeratan
Karakteristik korelasi
• Tingkat/kekuatan hubungan
– Hubungan sempurna = 1 atau –1
• Positif : setiap kali nilai X meningkat, maka dapat diprediksi akan semakin meningkat nilai Y (perfect covariance).
• Negatif : setiap kali nilai X meningkat maka diprediksi nilai Y akan menurun
– Nilai r tinggi (mendekati 1 atau –1) mengindikasikan hubungan yang lebih erat,
– Nilai r rendah (mendekati 0) mengindikasikan hubungan yang lebih lemah,
– Hubungan yang mendekati 0 mengindikasikan hubungan
yang tidak linear sehingga perubahan X tidak cocok untuk memprediksi perubahan variabel Y
Lanjutan
• Dengan korelasi positif sempurna
(
r
= 1), setiap individu mengandungnilai z yang sama persis pada kedua variabel
• Dengan korelasi negatif sempurna
(
r
= -1), setiap individu mengandungnilai z yang sama persis pada kedua variabel tetapi dengan tanda yang
Rumus Korelasi PPM
(1)
Keterangan :
x :
y :
X : skor rata-rata dari X Y : skor rata-rata dari Y
2
2Y
X
xy
r
XY
X -X
Y -Y
Rumus Korelasi PPM
(2)
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi variabel x dengan variabel y. xy = jumlah hasil perkalian antara variabel x dengan
variabel y.
x = jumlah nilai setiap item. y = jumlah nilai konstan.
N = jumlah subyek penelitian
Rumus Korelasi PPM
Lihat Husaini dan Purnomo (2008:202) rumus korelasi product-moment yang dapat digunakan untuk mencari korelasi dua variabel kuantitatif ada sejumlah delapan rumus.
Pengujian Korelasi
Meskipun telah diperoleh nilai koefisien korelasi dari hasil perhitungan, namun keberartian
(signifikansi) nilai tersebut perlu di uji secara statistik.
Hipotesis yang diuji adalah :
Ho : koefisien korelasi adalah sama dengan nol
Pengujian koefisien ini dilakukan dengan uji-t, sehingga :
Dengan derajat bebas (db/df) = n – 2
Kriteria pengujiannya :
Ho ditolak jika nilai thitung lebih besar dari ttabel dengan derajat bebas (db/df) = n-2, dan demikian pula
sebaliknya.
) 1
(
2
2 r n r
t
Karakteristik
Kumpulan Korelasi dari Scatterplot
• Assosiasi – Lebih kuat hubungan antara dua variabel maka titik-titik data akan
lebih mengelompok sepanjang garis bayangan
Scatterplot
SALARY
50000 40000
30000 20000
10000
G
P
A
4.0
3.5
3.0
2.5
2.0
1.5
• Arah
Jika terdapat hubungan antara dua
variabel, maka juga akan mengarah ke hubungan positif atau negatif.
– Positif : variabel bergerak atau pindah atau di arah yang sama
Pengertian Kekuatan Hubungan
Koefisien Determinasi (KP) =
r
2 x 100%Proporsi keragaman dalam satu variabel yang dapat diterangkan oleh variabel lainnya;
Contoh: kecantikan dengan kepandaian
• r = 0.3 KP = r 2 x 100%= 0.09 x 100%
• 9% keragaman kepandaian dapat dinilai dari kecantikan
• 91% keragaman sisanya tidak dapat dinilai. Ini disebut koefisien nondeterminasi.
Penggunaan Korelasi
•
Mengetahui korelasi/hubungan
•
Validitas uji
•
Reliabilitas uji
Contoh Korelasi Pearson Product-Moment
SOAL :
JUDUL :Hubungan Motivasi dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMA Persada Karya Tahun Pelajaran 2011/2012.
Data motivasi (X) :
50, 45, 55, 65, 43, 60, 56, 50, 42, 50, 60, 65
Data Hasil Belajar (Y) :
75, 60, 85, 85, 70, 80, 90, 80, 65, 65, 80, 90
Pertanyaan :
1. Berapakah besar hubungan variabel X terhadap Y ?
2. Berapakah besar sumbangan (kontribusi) variabel X terhadap Y ?
3. Buktikan apakah ada hubungan yang signifikan variabel X terhadap Y !
Penyelsaian :
Langkah-langkah menjawab :
Langkah 1 : Menentukan hipotesis penelitian ;
Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan hasil belajar
matematika siswa kelas X SMA PK tahun pelajaran 2010/2011.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara
motivasi dengan hasil belajar matematika siswa kelas X SMA PK tahun pelajaran
Langkah 2 : Menentukan hipotesis statistik
Ho : r
xy
= 0
Ha : r
xy
≠ 0
Langkah 3 : Membuat tabel penolong untuk menghitung korelasi PPM
No. X Y X2 Y2 XY
1 50 75 2500 5625 3750 2 45 60 2025 3600 2700 3 55 85 3025 7225 4675 4 65 85 4225 7225 5525 5 43 70 1849 4900 3010 6 60 80 3600 6400 4800 7 56 90 3136 8100 5040 8 50 80 2500 6400 4000 9 42 65 1764 4225 2730 10 50 65 2500 4225 3250 11 60 80 3600 6400 4800 12 65 90 4225 8100 5850 Statistik ∑X ∑Y ∑X2 ∑Y2 ∑XY
Langkah 4 : Mencari rhitung dengan rumus Pearson Product Moment
} (925)
-25) }.{12.(724
(641)
-) {12.(34949
) (641).(925
-12(50130) r 10706
8635
rxy
r
0,8065
xy
Langkah 5 : Mencari besarnya sumbangan (kontribusi) variabel X
terhadap Y dengan rumus :
KP = r2 x 100 %
= (0,8065)2 x 100 %
= 0,6504 x 100 % = 65,04 %
Artinya : variabel motivasi memberikan
kontribusi terhadap hasil belajar matematika siswa sebesar 65,04 % dan sisanya
Langkah 6 : Menguji signifikansi dengan
rumus :
Kaidah pengujian :
Jika thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak artinya
signifikan.
Jika thitung ≤ ttabel maka Ho diterima artinya tidak signifikan.
2 2
hitung
0,8065
-1
2 -12 0,8065
r -1
2 -n r
t
3132 ,
4 0,3496
623 0,8065.3,1
thitung
Langkah 6 : lanjutan...
Berdasarkan perhitungan dengan mengambil α =
0,05 dan n = 12, uji satu pihak maka :
dk = n – 2 = 12 – 2 = 10 sehingga diperoleh ttabel = 1,812. Ternyata thitung lebih besar dari ttabel atau
4,3132 > 1,812 maka Ho ditolak artinya ada
Langkah 7 : Membuat kesimpulan
Variabel motivasi belajar siswa
tergolong kuat, artinya
motivasi sangat berperan
dalam hasil belajar
matematika siswa dengan
kontribusi sebesar 65,04 %.
Korelasi Parsial
Korelasi Ganda
Korelasi Parsial
Korelasi parsial (
partial correlation
)adalah suatu nilai yang memberikan
kuatnya hubungan dua atau lebih variabel X dengan variabel Y, yang salah satu
variabel bebasnya dianggap konstan atau dibuat tetap.
Korelasi Parsial
Koefisien korelasi parsial dirumuskan sebagai berikut (Riduwan, 2003) :
1. Hubungan antara variabel bebas X1 dengan
variabel terikat Y, apabila variabel X1 tetap.
Korelasi Parsial
2. Hubungan antara variabel bebas X2 dengan
variabel terikat Y, apabila variabel X2 tetap.
Korelasi Parsial
3. Hubungan antara variabel bebas X1 dengan
variabel terikat X2, apabila variabel terikat Y
tetap.
Korelasi Parsial
Selanjutnya untuk mengetahui apakah
hubungan antar variabel tersebut berarti atau tidak, maka dilakukan pengujian keberartian
koefisien korelasi parsial dengan menggunakan rumus :
Kriteria pengujian :
Tolak Ho jika nilai hitung t lebih besar dari nilai
t tabel, dengan db = n – 1.
2
1
3
s s
r n r
t
Korelasi Ganda
Korelasi ganda (
multiple correlation
) adalahsuatu nilai yang memberikan kuatnya
hubungan dua atau lebih variabel bebas X
secara bersama – sama dengan variabel terikat
Y. Koefisien korelasi ganda diumuskan :
X1
X2
Y
rx1x2
rx1Y
Korelasi Ganda
Ryx1x2 = Korelasi antara variabel X1 dengan X2
secara bersama-sama dengan variabel Y. ryx1 = Korelasi Product-Moment antara X1 dengan
Y.
ryx2 = Korelasi Product-Moment antara X2 dengan Y.
Korelasi Ganda
Selanjutnya untuk mengetahui apakah
hubungan antar variabel tersebut berarti atau tidak, maka dilakukan pengujian keberartian
koefisien korelasi ganda dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
) 1 /(
) 1
(
/ 2
2
k n
R
k R
Fh
Fh= Tingkat signifikansi korelasi ganda
R = Koefisien korelasi ganda k = Jumlah variabel
independent n = Jumlah sampel
Konsultasikan dengan tabel F; dengan dk pembilang = k dan dk penyebut = n – k – 1.
Contoh :
Seorang peneliti ingin mengetahui hubungan
antara Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) dan
Motivasi Kerja Guru (X2) dengan Kinerja Guru
(Y) di suatu sekolah menengah. Sejumlah angket kemudian disebar kepada 10 orang guru sebagai responden untuk tujuan
penelitian tersebut. Dari penelitian diperoleh rekapitulasi skor hasil pengumpulan data
sebagai berikut :
Contoh :
Tentukan :
a). Koefisien korelasi parsial b). Koefisien korelasi ganda
c). Ujilah keberartian dari masing-masing koefisien korelasi tersebut !
Responden X1 X2 Y
A 164 155 202
B 163 144 179
C 152 144 183
D 183 171 228
E 182 171 225
F 171 160 213
G 180 165 224
H 186 167 230
I 184 156 202
Jawab :
Berdasarkan data tersebut, diketahui koefisien korelasi antar variabel berikut :
rx1y = 0,8097
rx2y = 0,9479
rx1x2 = 0,8450
Penyelesaian :
a). Koefisien korelasi parsial :
1. Hubungan antara kepemimpinan kepala
sekolah (X1) dengan kinerja guru (Y) :
Penyelesaian :
8450 ,9479 , 8450 ,
0 ).( 9479 ,
0 ( 8097 , 7140 ,
0 1
).( 8985 ,
0 1
(
8009 ,
0 8097
,
0469 ,
0 1704
, 0
0088 ,
0 )
286 ,
0 ).( 1015 ,
0 (
Penyelesaian :
2. Hubungan antara motivasi kerja (X2) dengan
kinerja guru (Y) :
) ) 8450 ,
8097 , 8450 ,
0 ).( 8097 ,
0 ( 9479 , 7140 ,
0 1
).( 6557 ,
0 1
(
6842 ,
0 9479
,
8403 ,
0 3138
, 0
2637 ,
0 )
286 ,
0 ).( 3443 ,
0 (
Penyelesaian :
3. Hubungan antara kepemimpinan kepala
sekolah (X1) motivasi kerja (X2) :
) ) 9479 ,
8097 , 9479 ,
0 ).( 8097 ,
0 ( 8450 ,
4147 ,
0 1869
, 0
0775 ,
0 )
1015 ,
0 ).( 3444 ,
0 (
0775 , 8985 ,
0 1
).( 6556 ,
0 1
(
7675 ,
0 8450
Penyelesaian :
b). Koefisien korelasi ganda
Hubungan antara kepemimpinan kepala
sekolah (X1) dan motivasi kerja (X2) dengan
kinerja guru (Y) :
2 8450 ,
0 ( 1
) 8450 ,
0 ).( 9479 ,
0 ).( 8097 ,
0 .( 2 )
9479 ,
0 ( )
Penyelesaian :
7140 ,
0 1
) 6485 ,
0 .( 2 8985
, 0 6556
,
286 ,
0
2970 ,
1 5541 ,
9481 ,
0 8989
286 ,
0
Penyelesaian :
c). Pengujian keberartian koefisien korelasi
1. Koefisien korelasi rx2(x1y) = 0,0469
2 0469 ,
0469 ,
9978 ,
0 7 .
0469 ,
0 0022
, 0 1
7 0469
,
0
t
1242 ,
0 6488
, 2 . 0469 ,
0
t
Penyelesaian :
2. Koefisien korelasi rx1(x2y) = 0,8403
2 8403 ,
8403 ,
2939 ,
0 7 8403
, 0
t
1009 ,
4 8803
, 4 . 8403 ,
0
Penyelesaian :
3. Koefisien korelasi rxy(x1x2) = 0,4147
2 4147 ,
4147 ,
8281 ,
0 7 4147
, 0
t
2056 ,
1 9074
, 2 . 4147 ,
0
t
Penyelesaian :
4. Koefisien korelasi ganda Rx1x2y = 0,9481
) 9481 , 9481 , 8989 , 8989 ,
0
Fh
2152 ,
31 0144
, 0
4495 ,
0