• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Referensi Variable Bidang Manajem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Buku Referensi Variable Bidang Manajem"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Buku Referensi

Teori dan Variable di Bidang Manajemen Pemasaran

Dr. Muslichah Erma Widiana, MM.

Editor:

(3)

Buku Referensi:

Teori dan Variable di Bidang Manajemen Pemasaran

Penulis : Dr. Muslichah Erma Widiana, MM

Penerbit : UBHARA Manajemen Press

Pemasaran : Universitas Bhayangkara

Jl. Ahmad Yani no 114

Surabaya, Jawa Timur

Cetakan Pertama : Agustus 2013

ISBN : 978-602-14601-2-2

(4)

n

g

a

n

t

a

r

T

e

o

r

i

E

k

o

n

o

m

i

M

ik

r

o

Buku Pemenang

Penerima Hibah Doktor Tahun 2011 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian Mahasiswa

Program Doktor

(5)

n

Adalah buku referensi yang menceritakan teori dari beberapa variabel dalam penelitian pemasaran.

Ada beberapa keunggulan dan topik yang dapat ditemukan dalam buku ini antara lain:

Customer Relationship Management

Technology Acceptance Model

Satisfaction

Usage Intention

Barangkali belum banyak buku referensi yang mengupas mengenai kegiatan pemasaran yang dilakukan secara modern. Tujuan penulis hanyalah untuk menyajikan sebuah buku referensi yang kiranya dapat menjadi ranah pembelajaran dan stimulator beraneka gagasan kepada pembaca terhadap pemikiran, praktek dan penelitian pemasaran.

Penulis menyadari buku ini tidak luput dari segala kekurangan. Karena itu sangat mengharapkan serta menghargai segala kritik dan saran yang bermanfaat guna menyempurnakannya.

Sidoarjo

(6)

Ucapan Terimakasih

Kalaupun semua ini bisa terwujud bukan karena kehebatan dan

kekuatanku tetapi semua ini karena CINTA.

Cinta terhadap yang menciptakan dan Cinta terhadap sesama,

maka kiranya tak berlebihan bila penulis menyampaikan ucapan terima

kasih kepada berbagai pihak yang telah memungkinkan terbitnya buku

ini:

 Allah SWT atas rahmat dan karuniaNYA.

 Promotor dan Co-Promotor semasa pendidikan program Doktor: Prof. V. Henky Supit, Drs. Ec. Ak. Guru besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Airlangga Surabaya, dan Dr. Hj. Sri Hartini, SE., M.Si dengan penuh kesabaran, kearifan dan ketulusan hati memberikan masukan dan selalu memotivasi.

 Pemerintah Republik Indonesia c.q. Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr.H.Mohammad Nuh, Ir., DEA,. Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Bapak Agus Subekti terimaksih atas kesempatannya sebagai penerima hibah Doktor 2011 Unair.

 Prof. Dr. Fasich, Apt., Selaku Rektor yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk mengikuti program Doktor dalam bidang Ilmu Ekonomi pada Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya.

 Direktur Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya Prof. Dr. Hj. Sri Hajati, S.H., M.S., Wakil Direktur I, Prof. Dr. Suhariningsih, Ir., Wakil Direktur II, Dr. I Made Narsa, Drs. Ec., M.Si., Ak., mantan Wakil Direktur I, Prof. Dr. H. Eddy Rahardjo dr. Sp. Ank.Ic., Ph.D., dan mantan Wakil Direktur II Prof. H. Tjiptohadi Sawarjuwono, Drs. Ak., M.Ec., Ph.D., beserta seluruh staf dan karyawan pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya yang telah memberikan fasilitas dan bantuan kepada penulis selama menjalani masa studi S-3 pada Program Studi Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Universitas Airlangga.

 Mantan Ketua Program Studi Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya Prof. Dr. Effendie, S.E., dan Dr. Rudi Purwono, SE. MSE. Semangat, kedisiplinan tinggi, kearifan, ketulusan dan kesabaran selalu menyediakan waktu untuk mengarahkan penulis sejak dimulai hingga selesainya Pendidikan Doktor pada Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya.

 Dosen-dosen Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya Prof. V. Henky Supit, Drs. Ec. Ak., Prof. Dr. Effendie, S.E., Prof. Dr.

(7)

 Sri Wahyuni Astuti, M.S., Prof. Budiman Christiananta, Drs., M.A., S.E., M.Si., staff pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya yang telah meletakkan dasar-dasar teoritik yang dapat dijadikan bekal sehingga penulis semakin menyadari arti kesabaran dan ketangguhan hidup.

 Bapak dan Ibu, Staf Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya yang telah banyak membantu dan melayani peneliti dalam mencari bahan pustaka. Staf dan Karyawan Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya yang telah membantu dan melayani dalam mencari bahan pustaka.

 Pemilik UKM Boss Batik Malang H. Sugeng Waluyo, S.Sos, MM., UKM Sekar Jati Star Jombang Ibu Hj.Maniati, UKM Sari Kenongo Sidoarjo Ibu Hartono, UKM Azizah Sidoarjo Bapak. H. Nur Wahyudi, UKM Kusuma Share Sidoarjo Ibu Anita Kusumawati, UKM Kenongo Sidoarjo Ibu Watie, UKM Djoeragan Batik Surabaya Ibu Santi, UKM Moya Zham Shop Hj Dihliza Basya, S.S, M.Pd., UKM Pramudya Surabaya Bapak Riyono, Omah Batik Surabaya Ibu Utamiyah, UKM Mutiara Pamekasan Bapak Ilzahmudin, UKM Mandora Pamekasan Estu Anas W.A, Pesona Batik Madura Ibu Siti Maimuna, beserta staf dan karyawannya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, atas bantuannya selama proses penelitian dan yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.

 Rektor Universitas Bhayangkara Surabaya Dr. Suharto, Drs., M.Hum., yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk mengikuti program Doktor dalam bidang Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.

 Dekan Fakultas Ekonomi Dra.Ec. Cholifah, MM. Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara Surabaya Drs.Ec. Achmad Usman, MM saya menghargai pembelajaran selama bekerja sama dalam kepemimpinannya. Kusni Hidayati Dra., M.Si, Ak., Juliani Pudjowati, SE., M.Si, Widya Susanty, SE., M.Si, Ak., Siti Rosyafah, Dra. Ec., MM., Anggraeni Rahmasari, SE., MM., Agus Susetyohadi, SE., Ana Yuli Batubara, Sunarto, Elis Hendra, SE., dan rekan-rekan sesama pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Bhayangkara Surabaya yang

(8)

telah memberikan dukungan. Beserta adik-adik mahasiswa FE Prodi manajemen Ubhara Surabaya.

 Dr. H. R.B. Fattah Jasin, Ir. MS., selaku Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.

 Penerbit Lubuk Agung Drs Asril dan Mbak Veby.

 Teman-teman kuliah program S-3 angkatan 2008-2009 pada Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya: Abdul Aziz Jahfar Ir., M.T., Agus Setiawan B., Drs., Ir., M.T., H. Arief Widijatmoko, Drs. Ak., M.T., Diana Zuhroh, Dra. Ec., M.Si. Ak., Dr.H. M. Miqdad Drs.Ak., MM., Dr.Hj.Sri Langgeng Ratnasari, S.E., MM., Dr.Hj. M. Enny Widyaningrum, Dra. Ec., M.Si., Dr.M.Munir Rachman, Drs. Ec., M.Si., Dr.Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si., Hj. Pawana Manossoh, SE., M.Si., Dr.Supriyono, SE., MM., serta teman-teman lain seperjuangan di Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya semoga ilmu kita bermanfaat dan kita didekatkan dari perilaku rendah hati.

 Ucapan terima kasih saya yang terbesar tentu saya tujukan untuk suamiku tercinta, Ir. Haryo Indrayono, yang telah menyediakan waktu, dukungan, inspirasi dan cinta kasih yang dibutuhkan. Dan anandaku Bagus dan Brahma yang telah membuat semuanya menjadi bernilai.

 Ayahanda Syahlan Dirdjosoeprapto (Alm.) dan ibunda Muslimah (Alm.) yang penuh tanggung jawab telah mendidik, perannya sebagai teladan yang positif, membesarkan, memberi semangat, mendoakan dan selalu memberikan arti tersendiri, serta keteguhan hati bagi penulis dalam menjalani hidup, menapak masa depan sehingga penulis mampu mewujudkan harapan beliau walaupun beliau tak sempat menyaksikan setiap tahap dari penyelesaian proses pendidikan. (alm) Ibu adalah sumber inspirasi bagi penulis. Serta ayah mertua H. Soemardijono yang selalu memberikan restu serta doa dan Ibu Mertua Hj. Misbaidah (Alm).

(9)

SpP (K), dan keluarga, H.M.N. Wijaya, Drs, SH., M.Hum, dan keluarga, H. A.A. Wibowo, Drs., dan keluarga, Hj. F.A. Widjayati, Dra. M.Si., dan keluarga, Hj. R.F. Widyastuti, Dra. Dan keluarga, Hj. Dr. M.E. Widyaningrum, Dra. Ec. M.Si., dan keluarga, H. F.A. Wiwoho, Drs. Ak., dan keluarga, Hj. L.M. Wirianti, Dra.Ec, dan keluarga, Hj. S.Y. Widowati, Dra.Ec. Ak. dan keluarga.

 Kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu atas segala bantuan dan doanya, semoga menjadi amal sholeh yang diridhoi oleh Allah SWT dan diberikan pahala yang berlipat ganda serta kebaikan yang berlimpah, amin.

 Sebagai akhir kata dalam kesempatan ini saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang tidak disengaja. Terima kasih.

(10)

DAFTAR ISI

B. Lingkup Kajian Customer Relationship Management 19

C. Usaha Kecil dan Menengah 25

D. Kedudukan serta Peranan Usaha Kecil dan Menengah 26

E. Technology Acceptance Model 26

F. Satisfaction 31

A. Populasi, Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 49

A. Deskripsi Umum Responden Penelitian 70

B. Deskripsi Penelitian Responden 80

C. Analisis Hasil Usaha 104

D. Hasil Pengujian Hipotesis 106

E. Pembahasan Hasil Studi 110

(11)

Bagian Kelima

Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan 121

B. Saran 123

(12)
(13)

PENDAHULUAN

Secara menyeluruh buku ini menjelaskan kaitan antara latar

belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan dari penelitian

ini. Selain itu dibahas pula metode penelitian, yang merupakan metode

ilmiah untuk mendapatkan jawaban-jawaban atas permasalahan yang ada.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut perlu dikemukakan bahwa

penelitian ini dilakukan dengan melakukan kajian terhadap teori-teori dan

karya-karya atau penelitian sebelumnya dengan harapan dapat

membedakan dan menghasilkan orisinalitas.

A. Latar Belakang Masalah

Internet telah membuka peluang yang begitu lebar. Hal ini

disebabkan oleh kemampuannya memberi ruang gerak dalam

menjalankan bisnis pasar siber (cybermarket), atau menghubungkan

manusia di muka bumi ini dengan tanpa limitasi geografis dan waktu.

Konsumen dapat memesan barang dan jasa dari mana saja dan kapan

saja 24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa kerisauan tentang jam buka

toko, zona waktu, dan bahkan kemacetan lalu lintas. Inilah yang

dimaksudkan dengan era digital. Generasi era “e” telah tiba. Hampir

segala aktivitas dapat ditawarkan solusinya dengan sarana elektronik.

Misalnya e-Commerce, e-Business, e-Supply Chain, e-Market Place,

e-Payment, e-Entertainment, e-Ticketing, e-Learning, e-Citizen dan

e-Government.

Pemimpin bisnis akan mengambil keuntungan dari cara

berbisnis yang baru, cara yang didasarkan pada meningkatnya

kecepatan informasi. Cara baru itu bukan hanya sekadar disebabkan

(14)

B

penggunaannya membentuk kembali kiprah perusahaan. Untuk

mendapatkan manfaat teknologi, para pemimpin bisnis harus

memodernisasikan proses-proses teknologi informatika dalam

organisasi mereka.

Ma’ruf (2004) menyampaikan bahwa pertumbuhan pengguna

internet begitu pesat. Pengguna internet dunia dari tahun 2000 sampai

tahun 2006 sebanyak 506.700.000 orang menjadi 1.086.250.903 orang

terjadi peningkatan 100%. Begitu juga pengguna internet di Asia

meningkat dari 114.303.000 orang tahun 2.000 menjadi 394.872.213

orang pada tahun 2006 atau terjadi peningkatan 245% dalam enam

tahun. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, dimana hanya

2.000.000 orang pengguna internet pada tahun 2.000 menjadi

18.000.000 orang tahun 2006, atau dengan kata lain meningkat 6 kali

lipat selama enam tahun. Penggunaan internet untuk bisnis secara

online telah tumbuh dengan pesatnya. Total nilai perdagangan barang

dan jasa dunia melalui e-Commerce mencapai $4,3 trilliun pada tahun

2004. Tingkat pertumbuhan perdagangan via internet dari tahun 2001

hingga 2005 mencapai 68% di Amerika Serikat, Eropa 91% dan Asia

109%. Menariknya lagi bahwa 85% dari perusahaan yang melibatkan

perdagangan online tersebut adalah usaha berskala kecil dan

menengah.

Dalam proses jual beli online pelangganlah yang memulai dan

mengontrol hubungan. Orang-orang aktif memilih situs yang akan

mereka kunjungi, informasi yang didapat, mengenai barang apa dan

dalam kondisi seperti apa. Sebagai contoh pembeli mengunjungi

website perusahaan penjual, melihat deskripsi produk, memilih

(15)

B

kemudian berhubungan dengan staff dari perusahaan penjual. Sistem

penjualan online membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan.

Philip Kotler (2001: 445) internet memberikan jalan yang begitu

luas bagi pemasar untuk membangun hubungan dengan pelanggan.

Sekarang banyak perusahaan yang dulunya memasarkan produk

secara tradisional, kini menggunakan internet. Sulit ditemui

perusahaan yang tidak memiliki situs internet untuk mengenalkan

produk mereka pada pasar. Penjualan barang dan jasa secara online

kepada konsumen akhir, konsumen bisa membeli barang dan jasa apa

saja melalui internet. Sebanyak 65% pengguna internet di Amerika

berbelanja secara online. Internet mempengaruhi 50% penjualan

retail. Pemasar yang pintar tentunya akan menggunakan strategi ini

untuk memasarkan produk.

Usaha bisnis secara online tidak dapat dipisahkan dari aspek

Customer Relationship Management (CRM) untuk menciptakan

hubungan melalui teknologi yang mengacu pada hubungan yang

sifatnya jangka panjang. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa

antara produsen dan konsumen semakin sadar bahwa mereka saling

tergantung satu dengan yang lain. Di satu sisi konsumen memerlukan

produk dalam usaha memenuhi kebutuhannya, sementara di lain pihak

produsen perlu menjual produknya untuk kelangsungan hidupnya.

Kesadaran akan adanya saling ketergantungan inilah yang akan

membawa setiap pihak yang berinteraksi dalam internet bisnis akan

berperilaku sedemikian rupa sehingga proses interaksi dan transaksi

dapat berlangsung secara sehat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan perspektif teknologi, CRM mencerminkan proses

(16)

B

dalam aktivitas-aktivitas yang memberikan hasil terbesar dan

berdampak pada relasi dengan pelanggan yang menguntungkan

(Harris, 1999). Karena itu CRM merupakan strategi yang difasilitasi

teknologi untuk mengubah keputusan berbasis data menjadi tindakan

bisnis dalam rangka merespons dan mengantisipasi perilaku

pelanggan aktual.

Strategi bisnis dengan menggunakan CRM banyak terkait

dengan strategi bisnis yang lain seperti teknologi. Technology

Acceptance Model (TAM) memberikan informasi atau hasil tentang

minat dan perilaku pemakai sistem dalam menerima sistem teknologi

informasi. TAM hanya menjelaskan alasan mengapa pemakai

menggunakan sistem yaitu percaya bahwa sistem mudah digunakan

(perceived ease of use) dan berguna (perceived usefulness).

Davis et al. (1989) mendefinisikan perceived ease of use sebagai

keyakinan akan kemudahan penggunaanyaitu tingkatan di mana user

percaya bahwa teknologi/sistem tersebut dapat digunakan dengan

mudah dan bebas dari masalah. Kemudahan penggunaan website tidak

selalu disediakan oleh perusahan bagi konsumen supaya mudah

melakukan pembelanjaan secara online. Masih banyak perusahaan

yang melakukan bisnis online sekedar melakukan penawaran di

facebook atau menggunakan blog di wordpress, tanpa memperhatikan

kaidah-kaidah bisnis online secara professional yaitu menyediakan

menu-menu khusus untuk melakukan pesanan, pembayaran dan

penawaran-penawaran produk secara khusus.

Teknologi informasi tidak hanya memberikan kemudahan

penggunaan bagi para penggunanya, menurut Davis et al. (1989)

(17)

B

penggunaan teknologi/sistem akan meningkatkan performa mereka

dalam bekerja. Kemanfaatan yang dapat diperoleh konsumen dalam

melakukan pembelanjaan online tidak begitu banyak dimengerti,

terutama pada manfaat bahwa konsumen dapat membandingkan harga

produk yang hampir sama antara satu toko online dengan toko online

yang lainnya dalam waktu yang bersamaan, sehingga konsumen dapat

memperoleh produk yang diinginkan dengan harga yang sesuai

dengan harapan.

Investasi teknologi merupakan kunci CRM memberikan

sejumlah manfaat, di antaranya pemahaman yang lebih baik mengenai

pelanggan, meningkatnya akses atas pelanggan dan interaksi

pelanggan yang lebih efektif (Buttle, 2004: 120). Manfaat relasional

sangatlah sesuai dengan lingkungan online. Hubungan dengan

komputer berbeda hubungan dengan orang-orang. Manfaat relasional

memegang peranan penting dalam transaksi lewat internet.

Teknologi yang mudah dan berguna akan meningkatkan

marketing outcome yaitu antara lain: satisfaction dan usage intention.

Satisfaction merupakan perbedaan antara harapan konsumen dengan

kinerja aktual yang dirasakan sebagai evaluasi purnabeli yang

dilakukan oleh konsumen pada perusahaan. Karena itu perusahaan

yang bergerak di bidang penjualan online harus memenuhi apa yang

diharapkan oleh konsumen supaya konsumen dapat melakukan

pembelian berulang (usage intention). Kenyataan yang dilakukan oleh

perusahaan online belum dapat memuaskan konsumen. Hal ini dapat

diketahui dari beberapa testimoni yang diberikan oleh konsumen pada

(18)

B

dipesan dengan barang yang dikirimkan. Ketidakpuasan yang

dirasakan oleh konsumen karena ketidaksesuaian kenyataan yang

diterima dengan harapan konsumen akan menghambat pembelian

berulang pada perusahaan tersebut, atau konsumen akan berpindah

mencari perusahaan lain yang menjual produk yang sama.

Usage intention merupakan kecenderungan perilaku untuk tetap

menggunakan suatu teknologi dalam melakukan pembelian secara

online melalui internet dan merekomendasikan pembelian online

kepada orang lain (Davis, 1989). Karena itu perusahaan bisnis online

harus mendesain websitenya mulai dari tampilan produk yang akan

ditawarkan, pemilihan produk sampai pada cara pembelian dan

pembayaran yang kesemuanya itu dapat memberikan dorongan pada

konsumen untuk melakukan pembelian berulang atau

merekomendasikan produk tertentu untuk membeli di website

tersebut. Pada kenyatannya, sebagian besar perusahaan online hanya

mendesain website supaya konsumen dapat melakukan pembelian

produk di perusahaan tersebut tanpa memperhitungkan bagaimana

caranya konsumen tersebut dapat melakukan pembelian berulang

kembali.

Untuk mendapatkan kepercayaan konsumen melakukan

transaksi online tidaklah mudah, karena itu perusahaan online harus

benar-benar memberikan pengamanan dengan prosedur tertentu pada

saat konsumen melakukan transaksi online dan mengirimkan bukti

pembayaran produk pesanannya melalui email. Kenyataannya masih

banyak konsumen yang masih merasa cemas ketika melakukan

(19)

B

setelah melakukan pembayaran dikirim sesuai dengan pesanan dan

waktu yang dijanjikan.

Kemudahan menggunakan (perceived ease of use) internet

mempengaruhi kesenangan konsumen dan menjadikannya puas

(satisfaction). Perceived ease of use mempengaruhi penggunanya

untuk lebih kontinyu dan lebih meningkatkan penggunaan internet di

masa mendatang (usage intention) (Joon Hong and James Thong,

2006). Masih banyak perusahaan yang belum memanfaatkan

kemudahan penjualan secara online untuk meningkatkan kepuasan

konsumen dan pembelian berulang di masa mendatang. Hal ini dapat

dilihat pada beberapa perusahaan online yang masih menggunakan

website hanya sebatas untuk menampilkan produknya namun tidak

disediakan bagaimana prosedur pembelanjaan dan pembayarannya.

Perceived usefulness internet bagi kehidupan para penggunanya

dapat mempengaruhi satisfaction (Joon Hong and James Thong, 2006;

Grace T.R Lin and Sun, 2009) dan perceived usefulness juga

berpengaruh pada usage intention (Janelle Rose and Fogarty, 2006;

Joon Hong and Thong, 2006). Kepuasan konsumen dapat

mempengaruhi usage intention (Thorsten et al., 2002). Konsumen

dapat memperoleh kepuasan dan melakukan pembelian berulang

karena memperoleh kegunaan yaitu dapat mengontrol harga ketika

melakukan pembelian berulang. Hal ini tidak banyak dilakukan oleh

perusahaan online dengan menawarkan beberapa variasi produk

dengan harga yang bervariasi pula.

Hasil penelitian Changki Kim (2007) dan Jiun Sheng (2007)

menunjukkan bahwa kesuksesan teknologi informasi ditentukan oleh

(20)

B

kontribusi kepuasan kepada para pengguna teknologi secara individu

maupun organisasi, sehingga dengan memberikan kontribusi positif

kepada para peggunanya dapat mempengaruhi intensitas penggunaan

teknologi tersebut yang ditunjukkan oleh semakin sering dan semakin

lamanya menggunakan teknologi informasi. Namun pada

kenyataannya, perusahaan online belum memberikan kesesuaian harga

produk batik yang ditawarkan secara online dibanding kualitas,

sehingga konsumen merasa tidak puas dan tidak akan melakukan

pembelian berulang.

Strategi bisnis penting untuk pengembangan ekonomi,

khususnya pengembangan industri termasuk industri batik. Indonesia

mulai melihat bahwa berbagai subsektor dalam industri berpotensi

untuk dikembangkan, karena bangsa Indonesia memiliki sumberdaya

insani kreatif dan warisan budaya yang kaya (Karya

Indonesia-Kementrian Perindustrian, 2010).

Warisan budaya yang dimiliki Indonesia antara lain produk

batik. Namun, batik Indonesia beberapa tahun terakhir menghadapi

persaingan ketat dengan produksi dari sejumlah negara seperti

Malaysia, Thailand, Singapura, Afrika Selatan dan Polandia. Apalagi

mereka menggunakan teknologi yang lebih canggih hingga mampu

memproduksi batik dengan cepat dan harganya pun lebih murah.

Menurut Ketua Yayasan Batik Indonesia Jultin Ginandjar

Kartasasmita selama ini Batik Indonesia digarap maksimal oleh Usaha

Kecil dan Menengah sebagai andalan diantara komoditi tekstil

nasional yang meningkatkan pendapatan masyarakat.

Usaha kerajinan Batik Indonesia mencapai 48.287 unit dengan

(21)

B

sebagai basis produksi, agar generasi muda lebih mencintai batik asal

negeri sendiri, maka harus diupayakan agar Batik menjadi salah satu

kebanggaan. Batik harus dijadikan high fashion dunia, trend dan yang

digandrungi kaum muda, Jultin Ginandjar Kartasasmita

(bisnisukm.com, 2010).

Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta kepada

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk

mempromosikan penggunaan batik kepada para pengusaha. Hal ini

karena batik dinilai sebagai salah satu potensi usaha perekonomian.

Karena dengan menggunakan batik selain mempertahankan warisan

budaya juga dapat menjadi salah satu peluang bagi dunia usaha yang

cukup potensial untuk dikembangkan. Kementerian Perdagangan akan

melakukan koordinasi dengan Kementerian Perindustrian, agar

Kemenperin dapat langsung menerapkan pemakaian batik ke

sektor-sektor industri (okezone.com, 2010).

Untuk mewujudkan pengembangan industri batik Indonesia,

serta meningkatkan ekspor batik ke mancanegara, pemanfaatan

teknologi khususnya e-commerce sangat diperlukan oleh Usaha Kecil

dan Menengah (UKM) untuk mempromosikan produknya secara

global. Usaha Kecil Menengah batik dapat menggunakan teknologi

informasi untuk mempromosikan seluruh produknya melintasi batasan

geografis. Tidak hanya dapat mempromosikan saja namun dapat

melakukan transaksi melalui pembelanjaan online. Karena itu,

penerapan strategi CRM dengan menggunakan fasilitas teknologi

(22)

B

produknya melalui internet. Enam kabupaten yang memasarkan

produk batik dengan menggunakan teknologi informasi adalah:

Surabaya, Bangkalan, Pamekasan, Sidoarjo, Malang, dan Jombang.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi yang diambil dari 24 sentra

UKM batik di Jawa Timur dapat disajikan data omset penjualan batik

mulai tahun 2005-2010.

Tabel 1

OMSET PENJUALAN BATIK DI UKM JAWA TIMUR TAHUN 2005-2010

No. Tahun Omset Penjualan (Milyar)

1 2005 15,6

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa selama tahun

2005-2008 omset penjualan UKM batik di Jawa Timur mengalami

penurunan. Adanya pengakuan batik sebagai warisan budaya

Indonesia dari Unesco PBB di bulan Oktober 2009 berdampak pada

peningkatan omset penjualan batik.

Secara umum kelemahan utama dari UKM Jawa Timur adalah

dalam hal pemasaran dan permodalan. Customer Relationship

(23)

B

digunakan oleh perusahaan besar. Customer Relationship

Management akan lebih efektif jika menggunakan teknologi (Harris,

1999). Berdasarkan tantangan pengembangan ekonomi dan semakin

tingginya persaingan disisi lain batik merupakan warisan budaya

bangsa Indonesia, maka penelitian ini menguji dan menganalisa

teknologi informasi sebagai fasilitas penerapan strategi CRM untuk

mengoptimalkan sumberdaya organisasional yang dimiliki oleh UKM

batik di Jawa Timur pada bidang pemasaran yang dapat memberikan

manfaat bagi relasi agar konsumen puas dan melakukan pembelian

lagi sehingga meningkatkan omset penjualan dan laba usaha.

Fenomena yang ada menunjukkan Indonesia memiliki produk

yang khas yaitu batik yang merupakan budaya asli Indonesia. Namun

keberadaannya belum mendapat perhatian, beberapa tahun

menghadapi persaingan sangat ketat dengan negara lain. Selama ini

batik digarap maksimal oleh UKM sebagai andalan yang dapat

meningkatkan pendapatan mereka. Maka batik harus dijadikan

kebanggaan, high fashion, trend, dan disenangi oleh masyarakat

Indonesia. Karena dengan menggunakan batik merupakan wujud

untuk mempertahankan budaya bahkan peluang bagi dunia usaha.

Untuk usaha pengembangan dan peningkatan ekspor maka teknologi

sangat diperlukan UKM sesuai dengan strategi CRM.

Berdasarkan permasalahan maka hal itu perlu diuji dengan

judul E-Commerce Meningkatkan Kepuasan Dan Pembelian Berulang

Produk Batik di Usaha Kecil Dan Menengah Jawa Timur. Batik

merupakan warisan budaya Indonesia yang disyahkan oleh UNESCO

pada tanggal 2 Oktober 2009, dan di Indonesia tanggal 2 Oktober

(24)

B

sebagai suatu bentuk keikut sertaan peneliti untuk ikut partisipasi

melestarikan dan mencintai batik. Batik memberikan kontribusi yang

tinggi terhadap peningkatan keberadaan UKM, dengan menggunakan

teknologi Informasi sebagai media pemasaran dengan menjalin

hubungan secara jangka panjang dengan konsumen agar diperoleh

kesesuain antara pemasar dengan konsumen sehingga konsumen

merasakan puas dan pemasar mendapatkan implikasinya yaitu usage

intention.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, rumusan masalah yang

diajukan sebagai berikut:

1). Apakah perceived ease of use berpengaruh terhadap perceived

usefulness konsumen yang melakukan pembelian produk batik

secara online di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur ?

2). Apakah perceived ease of use berpengaruh terhadap satisfaction

konsumen yang melakukan pembelian produk batik secara online

pada di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur ?

3). Apakah perceived ease of use berpengaruh terhadap usage

intention konsumen yang melakukan pembelian produk batik

secara online di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur ?

4). Apakah perceived usefulness berpengaruh terhadap satisfaction

konsumen yang melakukan pembelian produk batik secara online

pada di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur ?

5). Apakah perceived usefulness berpengaruh terhadap usage intention

konsumen yang melakukan pembelian produk batik secara online

(25)

B

6). Apakah satisfaction berpengaruh terhadap usage intention

konsumen yang melakukan pembelian produk batik secara online

di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka tujuan

penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memproleh bukti empiris,

yaitu:

1). Menguji dan menganalisis pengaruh perceived ease of use

terhadap perceived usefulness konsumen yang melakukan

pembelian produk batik secara online di Usaha Kecil dan

Menengah Jawa Timur.

2). Menguji dan menganalisis pengaruh perceived ease of use terhadap

satisfaction konsumen yang melakukan pembelian produk batik

secara online di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur.

3). Menguji dan menganalisis pengaruh perceived ease of use

terhadap usage intention konsumen yang melakukan pembelian

produk batik secara online di Usaha Kecil dan Menengah Jawa

Timur.

4). Menguji dan menganalisis pengaruh perceived usefulness terhadap

satisfaction konsumen yang melakukan pembelian produk batik

secara online di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur.

5). Menguji dan menganalisis Pengaruh perceived usefulness terhadap

usage intention konsumen yang melakukan pembelian produk

batik secara online di Usaha Kecil dan Menengah Jawa Timur.

6). Menguji dan menganalisis Pengaruh satisfaction terhadap usage

intention konsumen yang melakukan pembelian produk batik

(26)

B

1). Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap

landasan pemasaran yang menekankan bahwa melaksanakan

strategi pemasaran dapat dilakukan dengan investasi

teknologi dengan pengalokasian sumber daya organisasional

ke dalam aktivitas pemasaran sehingga dapat memberikan

manfaat pada hubungan jangka panjang pada konsumen

aktual dan potensial, terutama dalam mengidentifikasi faktor

yang mempengaruhi kepuasan dan pembelian berulang,

khususnya bagi Usaha Kecil dan Menengah untuk produk

batik.

2). Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi yang lebih

komprehensif, terutama menyajikan bukti empiris tentang

teknologi terhadap kepuasan dan pembelian berulang.

3). Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi kepada

Usaha Kecil dan Menengah, organisasi atau perusahaan baik

pada bidang produk secara online maupun yang lain akan

pentingnya kepuasan konsumen yang akan berdampak

terhadap pembelian ulang.

(b). Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat menegaskan peranan teknologi terhadap

sistem pembelanjaan online, sehingga aktivitas pemasaran dapat

memberikan manfaat pada hubungan jangka panjang pada

konsumen aktual dan potensial, terutama dalam mengidentifikasi

faktor yang mempengaruhi kepuasan dan pembelian berulang

(27)

KONSEP DAN TEORI

Untuk mencapai keberhasilan penelitian, maka terdapat beberapa

konsep dan teori sebagai analisis dalam menjelaskan hubungan atau

fakta-fakta lapangan yang relevan dengan teori-teori yang relevan.

A. Customer Relationship Management

Customer Relationship Management adalah proses

mengidentifikasi pelanggan, menciptakan customer knowledge,

membangun customer relationships, dan membentuk persepsi

pelanggan terhadap organisasi dan solusinya (Srivastava, Shervani

Fahey, 1999). Customer Relationship Management merupakan strategi

yang difasilitasi teknologi untuk mengubah keputusan berbasis data

menjadi tindakan bisnis dalam rangka merespons dan mengantisipasi

perilaku pelanggan aktual. Berdasarkan perspektif teknologi, Customer

Relationship Management mencerminkan proses untuk mengukur dan

mengalokasikan sumber daya organisasional ke dalam

aktivitas-aktivitas yang memberikan hasil (return) terbesar dan berdampak pada

relasi dengan profitable customers (Harris, 1999).

Customer Relationship Management bukan sekadar konsep

melainkan suatu strategi bisnis yang bertujuan untuk memahami,

mengantisipasi, dan mengelola kebutuhan pelanggan organisasi, baik

pelanggan saat ini maupun pelanggan potensial. Customer Relationship

Management merupakan dinamika perubahan strategis, proses,

organisasional, dan teknis yang dilakukan organisasi dalam rangka

mengelola perusahaannya secara lebih baik dan selaras dengan perilaku

(28)

B

Customer Relationship Management adalah proses mendapatkan,

mempertahankan dan mengembangkan pelanggan yang

menguntungkan (profitable customers). Customer Relationship

Management membutuhkan fokus yang jelas atas atribut layanan yang

bernilai tambah bagi para pelanggan dan menciptakan loyalitas

pelanggan. Customer Relationship Management terdiri atas lima

elemen utama, yakni strategi, segmentasi, teknologi, proses, dan

organisasi (Handen, 2000).

Customer Relationship Management merupakan enterprise-wide

business strategy yang dirancang untuk mengoptimalkan profitabilitas,

pendapatan dan kepuasan pelanggan dengan cara mengorganisasikan

perusahaan berdasarkan segmen pelanggan, memperkokoh perilaku

pemuasan pelanggan, dan mengaitkan proses-proses dari pelanggan

sampai pemasok. Investasi teknologi kunci CRM memberikan

sejumlah manfaat, di antaranya pemahaman yang lebih baik mengenai

pelanggan, meningkatnya akses atas pelanggan, interaksi pelanggan

yang lebih efektif, dan integrasi antara fungsi-fungsi customer channels

dan back-office. Bidang aplikasi CRM meliputi technology-enabled

selling, layanan dan dukungan pelanggan, dan technology-enabled

marketing. Customer Relationship Management adalah strategi bisnis

inti yang mengintegrasikan proses dan fungsi internal serta jaringan

eksternal untuk menciptakan dan menyampaikan nilai bagi pelanggan

sasaran dalam rangka mendapatkan laba. Customer Melationship

management ditunjang dengan data pelanggan berkualitas tinggi dan

difasilitasi teknologi informasi (Buttle, 2004).

Customer Relationship Management proses membangun dan

(29)

B

jalan memahami, mengantisipasi, dan mengelola kebutuhan pelanggan

berdasarkan pengetahuan yang didapatkan mengenai pelanggan, dalam

rangka meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan profitabilitas organisasi

(Plessis and Boone, 2004).

Dapat disimpulkan bahwa Customer Relationship Management

lebih mengarah ke strategi bisnis yang difasilitasi oleh teknologi yang

mengalokasikan sumber daya organisasional untuk memahami,

mengantisipasi, dan mengelola kebutuhan pelanggan organisasi, baik

pelanggan saat ini maupun pelanggan potensial, menciptakan dan

menyampaikan nilai bagi pelanggan sasaran dalam rangka

mendapatkan laba.

B. Lingkup Kajian Customer Relationship Management

Tiga lingkupCcustomer Relationship Management menurut

Buttle (2004) (1)strategis, (2)operasional, (3)analitis. Masing-masing

dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1). Strategis

Customer Relationship Management strategis terfokus pada

upaya untuk mengembangkan kultur usaha yang berorientasi pada

pelanggan atau customer-centric. Kultur ini ditujukan untuk

merebut hati konsumen dan menjaga loyalitas mereka dengan

menciptakan serta memberikan nilai bagi pelanggan yang

meng-ungguli para pesaing. Kultur itu tercermin dari perilaku pucuk

pimpinan perusahaan, desain sistem formal di dalam lingkungan

perusahaan dan berbagai mitos dan cerita yang beredar di dalam

perusahaan. Di dalam kultur yang berorientasi pada pelanggan,

semua sumber daya akan dialokasikan untuk mendukung semua

(30)

B

pelanggan, serta sistem ganjaran (reward sistem) yang dapat

meningkatkan perilaku positif para karyawan yang bermuara pada

satisfaction, serta peningkatan sistem pengumpulan,

penyebarluasan, dan aplikasi informasi tentang pelanggan untuk

menunjang berbagai aktivitas perusahaan.

Pada moment yang tepat akan muncul beberapa sosok

pahlawan perusahaan, yakni orang-orang yang mampu

memberikan nilai kepada para pelanggan. Banyak perusahaan

yang menyatakan bahwa pihaknya sudah bersikap mengutamakan

pelanggan, berorientasi pada pelanggan, menyesuaikan diri dengan

keinginan pelanggan, atau terfokus pada pelanggan, namun dalam

praktiknya tak banyak yang berhasil merealisasikan semboyan

tersebut.

(2). Operasional

Customer Relationship Management operasional lebih

terfokus pada otomatisasi cara-cara perusahaan dalam

berhubungan dengan para pelanggan. Otomatisasi tersebut

meliputi : (1)otomatisasi pemasaran adalah pemanfaatan teknologi

pada proses-proses pemasaran; (2)otomatisasi tenaga dengan

mengaplikasikan teknologi dalam mengelola berbagai aktivitas

penjualan perusahaan; (3)otomatisasi layanan, perusahaan dapat

menjalankan fungsi pelayanan terhadap para pelanggan secara

otomatis, baik melalui call centre atau contact center yang

dimiliki, atau melalui fasilitas website perusahaan, bahkan melalui

tatap muka secara langsung antara petugas pelayanan dengan

konsumen di lapangan. Ketiga otomatisasi akan dijelaskan secara

(31)

B

Otomatisasi pemasaran adalah pemanfaatan teknologi

pada proses-proses pemasaran. Perangkat lunak otomatisasi

pemasaran menawarkan berbagai kemampuan sekaligus, antara

lain segmentasi konsumen, manajemen kampanye promosi dan

pemasaran berbasis event. Perangkat lunak itu juga

memudahkan para pemakainya mengeksplorasi data tentang

pelanggan untuk menjalin komunikasi dan memberikan

penawaran kepada pelanggan yang dianggap potensial.

Lingkungan yang bersifat 'multichannel', manajemen

kampanye komunikasi merupakan tantangan tersendiri. Banyak

perusahaan pengecer produk-produk fashion, misalnya

mendirikan jaringan toko di berbagai kota besar, menawarkan

'e-tail website', dan layanan 'home shopping', 'catalogue stores',

dan bahkan memiliki saluran khusus di televisi yang disebut

'shopping channel'.

2. Otomatisasi armada penjualan

Otomatisasi armada penjualan (Sales-Force Aautomation

=SFA) merupakan cikal-bakal CRM. Sistem tersebut

mengaplikasikan teknologi dalam mengelola berbagai aktivitas

penjualan perusahaan. Proses-proses penjualan dapat diuraikan

menjadi beberapa tahapan, misalnya menjaring prospek,

kualifikasi prospek, identifikasi kebutuhan, pengembangan

spesifikasi, pembuatan proposal, presentasi proposal, mengatasi

penolakan, dan realisasi penjualan. Perangkat lunak otomatisasi

(32)

B

sehingga secara spesifik modelnya dapat disesuaikan dengan

proses penjualan di dalam organisasi atau industri apa saja.

Aplikasi contact management memungkinkan para

pemakainya mengatur program komunikasi mereka dengan para

pelanggan. Sistemnya mengembangkan database konsumen

yang mencakup riwayat kontak sebelumnya. Aplikasi contact

management sering menampilkan fitur-fitur yang menampilkan

fungsi 'automatic customer dialing' (program yang secara

otomatis akan menghubungi nomor telepon pelanggan),

kalender pribadi petugas penjualan, serta fasilitas e-mail secara

otomatis. Sebagai contoh, dengan aplikasi tersebut pemakai

dapat membuat template e-mail pada program Microsoft

Outlook yang formatnya dapat dibuat khusus sesuai detail setiap

pelanggan sebelum e-mail-nya disebarkan. Template e-mail-nya

dapat dibuat secara khusus untuk menyampaikan terima kasih

kepada klien atas pesanan mereka, atau untuk memberikan

daftar harga produk. Paket perangkat lunak SFA dapat

berfungsi baik jika didukung oleh informasi pelanggan yang

tepat, yang tersedia bagi para anggota tim armada penjualan

dan/atau konsumen pada saat yang tepat pula. Pada unit-unit

pengambilan keputusan yang melibatkan banyak orang, setiap

orang harus mendapatkan jenis informasi yang relevan.

Perusahaan berkewajiban memberikan informasi yang tepat

bagi para anggota armada penjualannya.

3. Otomatisasi layanan

Otomatisasi layanan adalah fungsi pelayanan yang

(33)

B

dimiliki, atau melalui fasilitas web site perusahaan, bahkan

melalui tatap muka secara langsung antara petugas pelayanan

dengan konsumen di lapangan. Paket-paket perangkat lunak

seperti itu memudahkan perusahaan dalam mengatur dan

mengoordinasikan segala bentuk komunikasi keluar atau masuk

yang terkait dengan aspek pelayanan konsumen melalui semua

saluran yang ada. Para vendor perangkat lunak sering kali

mengklaim bahwa aplikasi seperti itu akan meningkatkan

keefektifan dan efisiensi perusahaan berkat penghematan

ongkos pelayanan, dan peningkatan kualitas layanan sehingga

melambungkan produktivitas dan meningkatkan kepuasan

pelanggan.

Ada berbagai format otomatisasi layanan, bergantung

pada jenis produk yang dipasarkan. Pelayanan yang terkait

dengan produk-produk konsumen biasanya dilakukan melalui

outlet-outlet ritel, website perusahaan atau call center sebagai

titik kontak pertama dengan pihak konsumen. Saluran-saluran

kontak itu sering kali didukung oleh perangkat yang disebut

online scripting tool yang memudahkan para petugas

men-diagnosis masalah yang dialami konsumen sejak dilakukan

kontak pertama. Perangkat lunak yang disebut call routing

dapat digunakan untuk mengalihkan panggilan telepon dari

konsumen kepada petugas yang tepat. Berbagai teknologi

seperti interactive voice response (IVR) dapat membantu

(34)

B

konsumen dapat memberikan input yang tepat ke dalam sistem

IVR itu setelah mendengarkan instruksi tentang berbagai menu.

(3). Analitis

Customer Relationship Management analitis adalah

pengembangan sistem berdasarkan data dan informasi mengenai

konsumen. Data pelanggan dapat diperoleh dari pusat-pusat

informasi atau bank data yang dimiliki setiap perusahaan yang

relevan, yakni data penjualan yang berisi mengenai riwayat

pembelian barang atau jasa oleh pelanggan, data financial yang

berisi riwayat pembayaran atau skor kredit, data pemasaran yaitu

respons konsumen terhadap kampanye iklan, data skala loyalitas

produk, dan data layanan. Selanjutnya, data internal itu dapat

dilengkapi dengan data eksternal, misalnya data geodemografis

dan data tentang gaya hidup konsumen yang disediakan oleh

organisasi-organisasi intelijen bisnis.

Customer Relationship Management analitis sekarang sudah

menjadi bagian penting dalam penerapan yang efektif. Berusaha

mencapai taraf keefektifan puncak tanpa bekal informasi analitis

mengenai nilai para pelanggan. Kalau dilihat dari perspektif

konsumen, CRManalitis dapat memberikan solusi yang lebih tepat

waktu, bahkan bersifat amat personal bagi segala permasalahan

konsumen sehingga semakin meningkatkan kepuasan mereka.

Sudut pandang perusahaan selain dapat mempertahankan kesetiaan

konsumen dan mendukung program-program penjaringan

konsumen, semakin memperbesar kemungkinan untuk

(35)

B

Pemahaman mengenai pengertian Usaha Kecil dan Menengah

antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984

tentang Perindustrian. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang

Usaha Kecil. Pada penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 9 Tahun

1995 dinyatakan bahwa dalam Pembangunan Nasional, Usaha Kecil

sebagai bagian integral dunia usaha yang merupakan kegiatan ekonomi

rakyat mempunyai kedudukan, potensi dan peran yang strategis untuk

mewujudkan struktur perekonomian nasional yang semakin seimbang

berdasarkan demokrasi ekonomi. Pemberdayaan usaha kecil

dilaksanakan oleh pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menuju

terciptanya kondisi UKM yang tangguh dan mandiri, yang pada

gilirannya akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap

penerimaan Negara. (Peraturan Pemerintah No.9/1995, 1-6). Dari

kedua fakta tersebut jelas terlihat bahwa UKM mempunyai kedudukan

dan memainkan peranan sebagai salah satu pilar penyangga sistem

ekonomi kerakyatan. Akan tetapi pada kondisinya sekarang pilar-pilar

tersebut masih rapuh, belum dapat menunjukkan kemampuan dan

perannya secara optimal dalam perekonomian nasional maupun daerah.

Ketika kemudian pada beberapa tahun yang lalu muncul

gelombang globalisasi yang pengaruhnya menyentuh seluruh

sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu

ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya dan keamanan, maka pada

pilar yang sudah rapuh tersebut selanjutnya terjadi retak-retak yang

bilamana tidak segera diambil tindakan atau langkah-langkah strategis

untuk segera memperbaikinya pasti akan dapat mengakibatkan

(36)

B

D. Kedudukan serta Peranan Usaha Kecil dan Menengah

Untuk mewujudkan tujuan Pembangunan Nasional pada

umumnya dan tujuan Pembangunan Ekonomi pada khususnya UKM

mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat strategis,

karena sektor tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja

yang relative besar, memberikan pelayanan ekonomi yang luas kepada

masyarakat, memberi kontribusi dalam proses pemerataan peningkatan

pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional

serta memperkokoh integrasi sosial melalui upaya pengikisan

kemiskinan.

Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa sampai pada

kondisinya sekarang UKM belum bisa memainkan peranannya secara

optimal sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan sebagai akibat

masih banyaknya kendala dan hambatan, baik itu yang bersifat internal

maupun eksternal.

E. Technology Acceptance Model

Technology Acceptance Model yang selanjutnya disebut TAM

diadaptasi dari Theory Reasoned Action (TRA) (Fishbein and Ajzen

1975; Ajzen and Fishbein 1980), untuk menetapkan hubungan kausal

antara keyakinan, sikap pengguna, niat dan perilaku aktual. Dalam

TAM, penggunaan sistem aktual ditentukan oleh perilaku niat dalam

menggunakan, yang pada gilirannya ditentukan bersama dengan sikap

terhadap penggunaan dan kegunaan yang dirasakan. Kemudahan

(37)

B

langsung atas sikap (Davis, Bagozzi and Warshaw 1989).

Gambar 1

Technology Acceptance Model

Berdasarkan Gambar 1 model penerimaan teknologi, kegunaan

yang dirasakan mengacu pada persepsi pengguna mengenai sejauh

mana penggunaan sistem tersebut akan meningkatkan prestasi kerja

dan memberikan kemudahan dalam penggunaan, kepercayaan bahwa

penggunaan sistem akan mempermudah usaha (Davis 1989). Dalam

model awal Davis, Bagozzi, and Warshaw (1989) juga mengemukakan

bahwa kegunaan dan kemudahan yang dirasakan atas penggunaan

sepenuhnya memediasi dampak-dampak dari semua variabel eksternal

seperti perbedaan individu, kendala situasional, dan karakteristik

desain sistem pada sikap individu dan perilaku penggunaan.

Meskipun struktur teoritis yang mendasari sama, TAM berbeda

dari TRA di beberapa aspek penting. Pertama, norma subjektif

dihilangkan dari model karena status teoretis dan psikometrinya yang

tidak pasti (Davis, Bagozzi and Warshaw, 1989). Kedua, kegunaan

yang dirasakan selain sikap, memiliki pengaruh langsung terhadap niat

perilaku. Akhirnya, dua variabel keyakinan kegunaan yang dirasakan

dan kemudahan penggunaan yang dirasakan, dipostulasikan apriori dan

(38)

B

diperlakukan sebagai dua variabel berbeda yang mempengaruhi sikap

terhadap penggunaan (Davis, Bagozzi and Warshaw (1989).

Setelah pengujian awal TAM dari Davis, Bagozzi, and Warshaw

(1989) menghilangkan variabel sikap terhadap penggunaan karena

kontribusi marjinal tersebut dibuat untuk menjelaskan hubungan kausal

antara keyakinan dan niat. Hubungan langsung yang kuat antara

kegunaan yang dirasakan dan niat untuk menggunakan dalam konteks

organisasi diartikan sebagaimana minat karyawan untuk menggunakan

suatu teknologi karena hal tersebut berguna dan membantu

pengembangan karir meskipun mereka mungkin tidak memiliki sikap

positif terhadap penggunaannya (Venkatesh, 2000). Dalam telaah

mereka mengenai 55 studi TAM yang diterbitkan di jurnal system

informasi, Sun and Zhang (2006) menemukan bahwa kurang dari

setengah studi ini mempertahankan variabel sikap. Berdasarkan

penggunaan yang tidak konsisten atas TAM, kekuatan teori dasarnya

pada TRA, dan konteks konsumen dari penelitian ini, maka TAM

diadopsi sebagai landasan untuk penelitian saat ini.

Melalui banyaknya literatur diketahui TAM dapat diterapkan

dalam berbegai situasi. Perolehan suatu pemahaman atas kondisi

sebelumnya mengenai kemudahan yang dirasakan dalam penggunaan

dan kegunaan yang dirasakan akan memungkinkan pengembangan

desain yang lebih berarti dan intervensi-intervensi pelatihan untuk

meningkatkan penerimaan pengguna dan penggunaan teknologi

informasi. Selanjutnya, dimasukkannya variabel eksternal sebagaimana

diusulkan dalam TAM (Davis, Bagozzi and Warshaw, 1989) akan

meningkatkan kekuatan penjelas dari model (Venkatesh and Davis,

(39)

B

Davis (1993) menemukan dukungan bagi kegunaan dan kemudahan

penggunaan yang dirasakan dianggap sebagai mediator dari dampak

karakteristik sistem dan kualitas output yang dirasakan pada perilaku

penggunaan. Variabel eksternal yang banyak diteliti dalam penelitian

baru-baru ini termasuk efektivitas komputer bagi diri sendiri (Igbaria

and Iivari, 1995; Venkatesh and Davis, 1996; Agarwal and Karahanna,

2000; Hong et al., 2002), kualitas sistem (Fogarty et al., 2003).,

kualitas informasi dan pentingnya sistem (Armstrong et al., 2005),

berbagai pengaruh individu dan situasional (Agarwal and Prasad,

1999), kecemasan komputer (Igbaria and Ivari, 1995), mood

(Venkatesh and Speier, 1999), kehadiran sosial, pengaruh sosial,

aksesibilitas yang dirasakan, serta pelatihan dan dukungan (Karahanna

and Straub, 1999), penyerapan kognitif (Agarwal and Karahanna,

2000), dan kepercayaan (Gefen, Karahanna and Straub, 2003). Dalam

dua studi utama Venkatesh (2000) mengkaji dampak dari pengaruh

sosial (norma subyektif, kesukarelaan, dan image) dan proses

instrumental kognitif (relevansi pekerjaan, kualitas output, dan

kemampuan mendemonstrasikan hasil) pada kegunaan yang dirasakan.

Dalam penelitian kedua, Venkatesh and Davis (2000) menguji

pengawasan (efektivitas komputer bagi diri sendiri dan

pengkondisian), motivasi intrinsik (bermain-main komputer), dan

emosi (kecemasan komputer) pada kemudahan penggunaan yang

dirasakan. Untuk mengkonsolidasikan luasnya penelitian pada wilayah

ini, Venkatesh, Morris, and Davis (2003) merumuskan suatu teori

(40)

B

mengungkap elemen-elemen penting dari model yang dibentuk

sebelumnya.

Kesimpulannya, penerimaan pengguna mengenai literatur

teknologi informasi merupakan suatu kekayaan dan kekuatan

pengetahuan yang telah membantu peneliti dan praktisi untuk lebih

memahami faktor-faktor penentu niat individu dan atau perilaku

penggunaan teknologi dalam konteks organisasi. Pemahaman

perbedaan pengguna individu, faktor situasional, dan pengaruh sosial

dalam konteks konsumen memberikan kesempatan untuk

meningkatkan penerimaan pengguna dan penggunaan teknologi.

Sementara penerapan technology TAM dalam domain pemasaran jasa

merupakan suatu hal yang terbatas, penelitian ini mengembangkan

suatu perluasan TAM untuk meningkatkan pemahaman kita tentang

faktor-faktor kunci yang mempengaruhi sikap, minat, dan perilaku

dalam hubungannya dengan penggunaan SSTs dari perspektif

konsumen. Pada bagian berikut, literatur teknologi layanan sendiri dari

domain pemasaran jasa diuji untuk mengontekstualkan dan

menginformasikan perkembangan perluasan TAM dalam konteks

konsumen.

F. Satisfaction

Usmara (2003) menyatakan Satisfaction adalah perbandingan

antara kinerja yang diterima dengan standard perbandingan ekspektasi,

ideal, pesaing, janji pemasar dan norma. Kepuasan dan ketidakpuasan

merupakan perbandingan antara harapan kinerja sebelum membeli dan

persepsi kinerja yang diterima konsumen setelah membeli. Satisfaction

(41)

B

membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dengan harapannya.

Engel (2001) mendefinisikan masalah Satisfaction sebagai evaluasi

purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau

melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul

apabila outcome tidak memenuhi harapan. Jadi pada dasarnya

Satisfaction itu merupakan perbedaan antara harapan konsumen dengan

kinerja aktual yang dirasakan.

Usaha memuaskan kebutuhan pelanggan harus dilakukan secara

menguntungkan atau bersifat “win-win solution” yaitu keadaan dimana

kedua belah pihak merasa menang dan tidak ada yang merasa

dirugikan. Indikator dalam Satisfaction secara universal menurut Dutka

(1995) adalah: (1) Attributes related to the, product, (2) Attributes

related to service, (3) Attributes related to purchase.

G. Usage Intention

Suatu usaha untuk dapat bertahan harus memiliki kemampuan

mempertahankan dan meningkatkan konsumen secara

berkesinambungan. Dalam jangka panjang usage intention menjadi

tujuan perencanaan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Usage

intention merupakan ukuran kedekatan konsumen terhadap niat/tingkat

kemungkinan menggunakan dan merekomendasikan pembelian secara

online. Seperti yang didefinisikan Mowen and Minor (1998) bahwa

konsumen mempunyai sikap positif, mempunyai komitmen, dan

bermaksud meneruskan pembeliannya dimasa mendatang secara

berulang karena aspek kesukaan. Peter and Olson (2005:157)

menyatakan keinginan berperilaku (behavioral intention) adalah suatu

(42)

B

perilaku khusus guna mencapai tujuan. Keinginan berperilaku tercipta

melalui proses pilihan/keputusan. Boulding (1993) mengemukakan

bahwa terjadinya usage intention disebabkan keputusan konsumen

adanya pengaruh kepuasan-ketidakpuasan yang terakumulasi secara

terus-menerus disamping adanya persepsi tentang kualitas produk.

Menurut Gremler and Brown (1997) bahwa usage intention tidak

hanya merupakan sikap karena suka tetapi juga mempunyai komitmen

misal merekomendasikan pada orang lain. Davis (1998)

mendefinisikan usage intention adalah niat untuk menggunakan suatu

teknologi. Pavlou (2001), Geven et al.(2003) dalam penelitiannya

mendefinisikan usage intention adalah niat penggunaan kembali.

Edwin Cheng (2005) mengembangkan pengukuran usage intention

sebagai berikut :

(1). selalu menggunakan internet banking untuk keperluan perbankan

(2). menggunakan internet banking untuk menyelesaikan transaksi

perbankan

(3). saya menggunakan sendiri internet banking untuk menyelesaikan

transaksi perbankan saya sendiri.

Pada hakikatnya hubungan antara penyedia layanan dan publik

bisa langgeng dilandasi sepuluh prinsip yaitu: (1)kemitraan yang

didasarkan pada etika dan integritas utuh, (2)nilai tambah (kualitas,

biaya, waktu, teknologi, profitabilitas, dan sebagainya), (3)saling

percaya secara internal dan eksternal, (4)keterbukaan, (5)saling

membantu secara aktif dan konkrit, (6)komunikasi, kooperatif,

(7)berfokus pada faktor-faktor tak terduga, (8)kedekatan dengan

(43)

B

purnabeli, (10)antisipasi kebutuhan dan harapan konsumen di masa

datang.

H. Hubungan Antar Variabel

1. Hubungan Perceived Ease of Use Terhadap Perceived Usefulness

Pengguna teknologi informasi mempercayai bahwa teknologi

informasi yang lebih fleksibel, mudah dipahami dan mudah

pengoperasiannya (Davis et al., 1989). Antara lain menjadikan

pekerjaan lebih mudah, mempertinggi efektivitas, mengembangkan

kinerja pekerjaan (Chin and Todd, 1991). Hasil penelitian Sally Rao

and Throshani (2007) membuktikan bahwa kemudahan

menggunakan layanan mobile technology setiap harinya

meningkatkan kegunaan untuk browsing internet melalui fasilitas

yang disediakan oleh mobile technology. Alasan yang mendasar

adalah konsumen yakin bahwa berbelanja secara online mudah

dikontrol sehingga konsumen akan mendapatkan produk yang

terbaik dan harga yang termurah, dapat meningkatkan hambatan

untuk berpindah (Guiltinan, 1989) dan dapat menghasilkan

peningkatan usage intention (Selnes, 1993).

2. Hubungan Perceived Ease of Use Terhadap Satisfaction

Kemudahan mempelajari bagaimana cara menggunakan

mobile internet. Satisfaction menggunakan mobile internet (Joon

Hong and Thong, 2006). Penelitian Grace T.R Lin and Chia-Chi

Sun (2009) menunjukkan bahwa Perceived ease of use berpengaruh

terhadap kepuasan konsumen yang melalukan pembelanjaan online.

(44)

B

pembelanjaan online menjadikan konsumen puas karena

mendapatkan garansi untuk produk yang tidak sesuai pesanan.

3. Hubungan Perceived Ease of Use Terhadap Usage Intention

Joon Hong and James Thong (2006) membuktikan bahwa

kemudahan untuk mempelajari dan dapat dimengerti dalam

menggunakan mobile internet dapat mempengaruhi penggunanya

untuk lebih kontinyu dan lebih meningkatkan penggunaan mobile

internet di masa mendatang. Edwin Cheng et al. (2005)

membuktikan bahwa kemudahan yang diperoleh nasabah ketika

menggunakan initernet banking dapat meningkatkan intensitas

penggunaan internet banking untuk menyelesaikan transaksi

keuangannya.

Grace T.R Lin and Sun (2009) membuktikan adanya pengaruh

perceived ease of use terhadap usage intention. Kemudahan

melakukan transaksi secara online dapat mempengaruhi usage

intention konsumen untuk melakukan pembelanjaan online.

Konsumen yakin bahwa berbelanja dengan sistem online mudah,

jelas dan menyenangkan. Karena mudah, jelas dan menyenangkan

maka konsumen melakukan pembelian ulang produk batik secara

online.

4. Hubungan Perceived Usefulness Terhadap Satisfaction

Joon Hong and Thong (2006) membuktikan bahwa perceived

usefulness berpengaruh terhadap satisfaction penggunaan mobile

internet. Konsumen yang menggunakan mobile internet menyatakan

bahwa hidup menjadi lebih mudah dengan adanya mobile internet

(45)

B

Karena mobile internet bermanfaat maka konsumen merasa senang

dan puas.

Hasil penelitian Grace T.R Lin and Sun (2009) menunjukkan

bahwa variabel perceived usefulness berpengaruh terhadap kepuasan

konsumen yang melalukan pembelanjaan online. Konsumen yakin

bahwa membeli batik secara online adalah efisien waktu, dan

mendapatkan kemudahan untuk mengevaluasi harga. Karena

membeli batik secara online memberikan banyak kegunaan yaitu

efektif, efisien maka konsumen puas pada pembelian produk batik

secara online.

5. Hubungan Perceived Usefulness Terhadap Usage Intention

Nasabah bank dalam mengadopsi Self Service Banking

Technologies (SSBT) setelah mengetahui kemanfaatannya, dapat

mempengaruhi niat untuk menggunakan SSBT. Hal ini ditunjukkan

oleh 62% pengguna SSBT dengan intensitas tinggi yaitu dengan

menggunakan EFTPOS sebanyak 56%, ATM sebanyak 67%,

telepon banking 41%, internet banking 15% (Janelle Rose and

Gerard Fogarty, 2006).

Hasil penelitian Joon Hong and Thong (2006) membuktikan

bahwa menggunakan mobile internet membantu mempercepat

penyelesaian pekerjaan dapat mempengaruhi penggunanya untuk

lebih kontinyu dan lebih meningkatkan penggunaan mobile internet

di masa mendatang.

6. Hubungan Satisfaction Terhadap Usage Intention

Pengaruh satisfaction terhadap usage intention dibuktikan

oleh hasil penelitian Changki Kim (2007) bahwa kesuksesan

(46)

B

teknologi tersebut dapat memberikan kontribusi kepuasan kepada

para pengguna teknologi secara individu maupun organisasi,

sehingga dengan memberikan kontribusi positif kepada para

peggunanya dapat mempengaruhi intensitas penggunaan teknologi

tersebut yang ditunjukkan oleh semakin sering dan semakin

lamanya menggunakan teknologi informasi.

Jiun Sheng (2007) juga membuktikan hal yang sama yaitu

kepuasan menggunakan self service technology antara lain untuk

membeli tiket pesawat terbang, menggunakan fasilitas perbankan

dapat mempengaruhi intensitas untuk menggunakan kembali self

service technology di masa mendatang. Konsumen yang loyal juga

akan mendatangkan konsumen-konsumen baru karena konsumen

yang loyal akan menyampaikan rekomendasi dari mulut ke mulut

yang positif kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan apa yang

disampaikan Fandy Tjiptono (1997:24).

I. Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan

penelitian yang akan dilakukan. Hasil penelitian terdahulu merupakan

dasar atau landasan yang cukup kuat bagi pengembangan kerangka

teoritis untuk menjawab permasalahan yang ada.

1. Hsiu Ju Rebecca Yen and Gwinner (2003)

Hsui Ju Rebecca Yen and Gwinner (2003) melakukan

penelitian berjudul “Internet Retail Customer Loyalty : the mediating role of relational benefits”. Studi ini mengusulkan sebuah

model konseptual yang memanfaatkan variabel relational benefit

(47)

B

berbasis internet (ISST), loyalitas dan kepuasan. Kerangka konsep

ini berpendapat bahwa atribut ISST yaitu perceived control dan

performance dapat berpengaruh terhadap kepuasan dan loyalitas

dimediasi oleh variabel relational benefit yaitu confidence benefit.

Gambar 2

MODEL KONSEPTUAL REBECCA and GWINNER (2003)

Sedangkan atribut ISST convenience dan efficency

berpengaruh terhadap kepuasan dan loyalitas dimediasi oleh

variabel relational benefit yaitu special treatment benefit. Model

konseptual Rebecca and Gwinner (2003) dapat dilihat pada Gambar

2. Internet Self Service Technology atributes pada dasarnya

menggunakan teori TAM. Internet Self Service Technology

atributes memiliki kesamaan dengan variabel TAM atribut Internet

Self Service Technology perceived control dan convenience sama

dengan indikator variabel perceived ease of use dalam TAM,

sedangkan performance dan efisiensi sama dengan indikator

Gambar

Tabel 1 OMSET PENJUALAN BATIK DI UKM JAWA TIMUR TAHUN
Gambar 1 Technology Acceptance Model
Gambar 4
MODEL KONSEPTUAL SALLY RAO Gambar 5  and INDRIT
+7

Referensi

Dokumen terkait