• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Buku Sidang Kabinet Terakhir Ord

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Buku Sidang Kabinet Terakhir Ord"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN BUKU “SIDANG KABINET TERAKHIR ORDE BARU (12 JAM SEBELUM PRESIDEN SOEHARTO MUNDUR)”

TUGAS INDIVIDU

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Dosen Pengampu : Dra. Neiny Ratmaningsih,M.Pd.

Oleh:

Yunita Herdiana

1106456

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Identitas Buku

Judul buku : Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru

(12 jam Sebelum Presiden Soeharto Mundur) Penulis : A. Makmur Makka

Penerbit : Republika

Terbit : Cetakan I, November 2008 Tebal buku : xii + 213 halaman

Ukuran buku : 20.5 x 13.5 cm

ISBN : 9789791102407

(3)

Peristiwa mundurnya Presiden Soeharto, presiden yang berkuasa selama 32 tahun masih menyisakan sejumlah misteri, antara lain mengenai apa sebenarnya pertimbangan Presiden Soeharto ketika tiba-tiba, pada tanggal 21 Mei 1998 memutuskan akan mengundurkan diri. Keputusan itu dianggap sangat mendadak, karena sebelumnya ia telah menyampaikan bahwa ia akan mengundurkan diri pada hari Kamis 24 Mei 1998. Di sini penyusun mencoba ingin memaparkan kesaksian sejarah yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia, khususnya bagi yang ingin mendalami kejadian-kejadian penting di sekitar transisi Reformasi, namun sejauh ini masih simpang siur, atau belum banyak diketahui secara jelas. Selain itu, penyusun memilih buku ini karena ingin mengetahui secara jelas sejauh mana mispersepsi atau kesalahpahaman penyusun memahami penyebab mundurnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenannya serta mengetahui peristiwa apa-apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Oleh karena itu, penyusun rasa perlu untuk membuat laporan buku yang berjudul “Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru (12 jam Sebelum Presiden Soeharto Mundur)” ini.

C. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dibahas pada buku “Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru” ini meliputi:

1. Bagaimana tuntutan reformasi yang diinginkan rakyat Indonesia?

2. Bagaimana aksi dan tanggapan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto untuk mundur?

3. Apa yang terjadi dalam rapat di Bappenas pada 20 Mei 1998?

4. Apa keputusan sidang paripurna Ad-Hoc Menteri bidang Ekuin di kediaman Wapres BJ Habibie?

5. Bagaimana detik-detik terakhir mundurnya Presiden Soeharto?

(4)

Adapun tujuan dari penyusunan laporan buku ini adalah:

1. Mengetahui tuntutan reformasi seperti apa yang diinginkan rakyat Indonesia.

2. Mengetahui aksi dan tanggapan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto untuk mundur.

3. Mengetahui apa yang terjadi dalam rapat di Bappenas pada 20 Mei 1998. 4. Mengetahui keputusan sidang paripurna Ad-Hoc Menteri bidang Ekuin di

kediaman Wapres BJ Habibie.

5. Mengetahui detik-detik terakhir mundurnya Presiden Soeharto.

E. Manfaat

Laporan buku ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis laporan buku ini berguna sebagai pembuka tabir peristiwa-peristiwa penting yang diharapkan menjadi fakta dalam membuka kebenaran sejarah, menghapuskan berbagai spekulasi saat-saat penting menjelang mundurnya Presiden Soeharto.

Secara praktis laporan buku ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Penyusun, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang sidang kabinet terakhir orde baru.

2. Pembaca, sebagai media informasi tentang sidang kabinet terakhir orde baru baik secara teoritis maupun secara praktis.

(5)

RINGKASAN ISI BUKU DAN PEMBAHASAN

A. Ringkasan Isi Buku

SIDANG KABINET TERAKHIR ORDE BARU 12 Jam Sebelum Presiden Soeharto Mundur Bab I

Indonesia Bergejolak

Memasuki tahun 1998, bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai permasalahan. Krisis moneter yang mulai muncul sejak pertengahan tahun 1997 telah merusak sendi-sendi ekonomi nasional. Lemahnya fundamen ekonomi itu pada akhirnya berpengaruh pula pada sektor-sektor kehidupan lain secara luas. Dampak krisis ekonomi itu serta-merta mengubah kondisi masyarakat. Bangsa Indonesia yang sejak tahun 1980-an bangga atas keberhasilan menekan angka kemiskinan, tiba-tiba kembali terpuruk ke dalam jurang kemiskinan. Inflasi tinggi, harga-harga melonjak, sektor usaha mengalami kemunduran drastis, jumlah pemutusan kerja (PHK) meningkat. Pada saat yang sama, barang-barang tiba-tiba raib dan langka di pasaran.

Ekses lebih jauh, masyarakat mulai resah dan takut pada kenyataan yang akan menimpa mereka. Kecemasan masyarat itu akhirnya terefleksikan dalam aksi-aksi unjuk rasa, terutama yang dimotori mahasiswa. Aksi-aksi unjuk rasa itu umumnya menuntut turunnya harga hingga soal politik berupa tuntutan turunnya Presiden Soeharto. Lebih dari itu, aksi-aksi kerusuhan dan kekerasan massa pun tidak terhindarkan lagi di berbagai daerah.

(6)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah) dan beberapa aktivitas lembaga swadaya masyarakat(LSM) membentuk organisasi baru, yaitu Majelis Amanat Rakyat (MAR), dan mengajukan tuntutan yang sama.

Menurut tokoh cendikiawan Islam, Dr. Nurcholish Madjid, tuntutan reformasi telah mencapai titik yang tidak mungkin dibendung. Berdasarkan pengamatannya, ada tiga skenario reformasi yang ia tangkap dari rakyat. Pertama, reformasi dalam kerangka sistem Orde Baru. Reformasi itu menghendaki Soeharto mundur sekarang dan diganti orang lain. Kedua, reformasi yang dilakukan melalui Sidang Istimewa MPR yang menunjuk wapres menjadi presiden, menunjuk presiden baru dari selain wapres, atau Soeharto sendiri yang menunjuk penggantinya sesuai dengan wewenang khusus dari MPR. Ketiga, reformasi radikal dengan penggantian sistem politik.

Juru kebijakan Presiden Sabtu, 16 Mei 1998

Presiden Soeharto membuat klarifikasi melalui Alwi Dahlan Menteri Penerangan tentang pernyataannya. Katanya, ia tidak pernah mengatakan akan mengundurkan diri, tetapi seperti ia katakan sebelumnya, bahwa kalau memang rakyat Indonesia tidak memercayainya lagi, ia akan pensiun. Hidup sebagai orang bijak, mengabdikan sisa hidupnya kepada agama dan keluarga. Presiden pun menyambut baik reformasi politik dan ekonomi, tetapi ia mengingatkan semua itu harus dilakukan melalui cara-cara konstitusional.

Tepat pukul 11.00, pada waktu itu, para pimpinan DPR – Ketua MPR/DPR didampingi wakil-wakil Ketua, yaitu Syarwan Hamid, Ismail Hasan Metareum, Fatimah Ahmad, Abdul Gafur, dan Sekjen MPR/DPR Afif Ma’ruf – diterima Presiden. Harmoko yang berbicara atas nama pimpinan MPR/DPR menyampaikan bahwa tuntutan reformasi semakin mengalir deras. Tuntutan reformasi itu pada intinya dapat disimpulkan,

(7)

2. Pengunduran diri Presiden Soeharto 3. Pelaksanaan Sidang Istimewa MPR

Tuntutan itu mendapat tanggapan langsung dari Presiden,

1. Silakan reformasi berjalan terus

2. Reshuffle kabinet akan diadakan untuk memperbaiki kinerja pemerintahan 3. Presiden akan menggunakan wewenangnya berdasarkan pada TAP MPR

No.5/199 untuk melindungi keamanan rakyat

Sikap Menteri dan Sikap Golkar Ahad, 17 Mei 1998

Ribuan mahasiswa praktis sudah menduduki gedung MPR/DPR. Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Drs. Abdul Latief mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Soeharto. Inti surat yang bertanggal 17 Mei 1998, Abdul Latief mengundurkan diri karena tuntutan keluarga, yaitu desakan anak-anaknya. Aksi unjuk rasa semakin luas, para mahasiswa menuntut turunnya harga BBM dan berbagai bahan kebutuhan pokok sehari-hari lainnya, di samping tuntuta yang paling mendesak, yaitu turunnya Presiden Soeharto.

Sementara itu dari gedung DPP Golkar, pimpinan pusat Golkar memberikan penjelasan tentang beberapa hal yang dibahas dalam rapat pleno DPP Golkar. DPP Golkar menyikapi tuntutan reformasi yang digalakkan harus tetap dilakukan di semua bidang, baik di bidang politik, ekonomi, maupun di bidang hukum dan reshuffle kabinet merupakan prerogatif presiden.

Seruan bagi reformasi dan pelengseran presiden kian keras dan diikuti kalangan yang makin luas. Kaum cendikiawan dan akademisi yang sebelumnya diam-diam mulai muncul dan secara terbuka mendukung tuntutan para mahasiswa akan reformasi. Mereka terutama datang dari UI yang telah memasok pemerintah dengan teknokrat-teknokrat serta pakar-pakar ekonomi sejak awal Orde Baru.

(8)

isyarat menyemangati massa selain juga memberi sambutan-sambutan. Dari hari ke hari simpati masyarakat kian meninggi ditunjukkan dengan dukungan logistik yang diberikan kepada para mahasiswa dalam bentuk makanan, air,dan pengangkutan.

Semarak Aksi Mahasiswa di Gedung MPR/DPR Senin, 18 Mei 1998

Aksi dan tuntutan reformasi agar Presiden Soeharto mundur semakin menguat. Seperti aksi-aksi sebelumnya, mahasiswa dari penjuru tanah air tetap menuntut reformasi total. Aksi unjuk rasa merata dilakukan semua mahasiswa di Indonesia. Di bawah tekanan yang kian kuat dari para mahasiswa yang terus membanjiri gedung DPR, pimpinan MPR/DPR akhirnya memutuskan untuk bertindak. Ketua MPR/DPR didampingi seluruh wakil ketua-mencerminkankomposisi faksi-faksi di parlemen- mengumumkan pandangan mereka bersama agar Soeharto menundurkan diri dan bahwa mereka mengirim pesan kepada Presiden untuk minta bertemu keesokan harinya.

(9)

Tanggapan atas Seruan Ketua MPR/DPR

Selain suara dari anggota DPR, suara dari para tokoh kritis dan para mahasiswa semakin bergaung. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi telah menduduki gedung DPR menuntut reformasi dan mendesak agar Presiden Soeharto mundur. Namun, walaupun pihak mahasiswa, para aktivis reformasi, cendikiawan, dan DPR RI sudah meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri, ABRI ternyata berpendapat lain. ABRI berpendapat, pernyataan Ketua MPR/DPR yang menghendaki Presiden Soeharto mundur merupakan pernyataan individu sekalipun hal itu dinyatakan secara kolektif. Selain itu, agar reformasi yang hendak dilakukan berjalan dengan baik, ABRI menyarankan pembentukan Dewan Reformasi yang beranggotakan unsur pemerintah dan masyarakat, terutama kampus dan tokoh-tokoh kritis. Menurut ABRI, dewan ini akan berdampingan dengan DPR dan bekerja secara intensif.

Di sisi lain, setelah mendengar permintaan agar mengundurkan diri dari Ketua MPR/DPR Harmoko, Presiden Soeharto tampak tenang dan tegar. Sejak sore, Senin 18 Mei 1998, sejumlah pejabat tinggi penting silih berganti datang ke kediaman Presiden di Cendana. Tersiar pula kabar bahwa Soeharto telah memberi kuasa kepada Panglima ABRI Jendral Wiranto untuk melaksanakan kekuasaan luar biasa. Ternyata kemudian, Presiden Soeharto benar-benar mengeluarkan Intruksi Presiden yang menunjuk Menteri Pertahanan/ Panglima ABRI (Menpangab) sebagai Panglim Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Intruksi itu barangkali merupakan upaya terakhir Presiden, tetapi tidak pernah dilaksanakan. Kalau saja sampai dijalankan, dapat dibayangkan akibatnya: konfrontasi antara pasukan keamanan dengan para mahasiswa dan massa yang mendukung mereka.

(10)

Gedung MPR/DPR telah diduduki mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi di sekitar Jabotabek. Mereka tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), Forum Komunikasi Mahasiswa se-Jabotabek (FKMJ), Kesatuan Aksi Mahasiswa Keluarga Besar UI, Kesatuan Aksi Mahasiswa Reformasi Indonesia, Front Nasional, dan beberapa kelompok yang lebih kecil. Mereka datang secara bergelombang. Kendaraan yang digunakan tidak terbatas pada bus, tetapi juga mobil pribadi. Masing-masing memakai jaket almamater.

Sebenarnya mereka ingin menemui Ketua MPR/DPR Harmoko untuk menyampaikan tuntutan reformasi total dan pengunduran Presiden Soeharto melalui Sidang Istimewa MPR. Namun, mereka gagal lalu menggelar mimbar bebas. Para mahasiswa tetap menuntut agar reformasi di segala bidang segera dilakukan. Tuntutan mereka yang paling mendesak adalah meminta agar Presiden Soeharto segera meletakkan jabatannya. Bahkan mereka mengancam tidak akan meninggalkan gedung Dewan sebelum ada kepastian pelaksanaan sidang istimewa.

Selain menuntut Presiden mundur, para mahasiswa meminta kepada anggota Dewan agar tidak meninggalkan gedung DPR sehingga sidang istimewa dapat dilakukan secepatnya. Para siswa tampak memblokade jalan-jalan keluar. Kepada setiap pengendara yang lewat, mereka meminta agar dapat menunjukkan kartu identitas mereka. Menurut salah seorang mahasiswa, hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan anggota dewan tidak keluar.

Mundur tak Masalah

Pimpinan MPR/DPR bertemu dengan ketua faksi. Suatu konsensus tercapai dalam pertemuan yang menghasilkan dukungan kepada pernyataan Ketua dan para Wakil Ketua sehari sebelumnya. Keputusan sudah ditetapkan. Presiden Soeharto telah kehilangan basis formal kekuasaan politiknya selama lebih dari tiga dasawarsa. Namun, pada saat itu Presiden belum bersedia mundur.

(11)

kacau balau akibat kerusuhan 14 Mei dan prektis macet. Harga-harga meroket akibat lumpuhnya sistem distribusi dengan tidak beroperasinya para pedagang keturunan Tionghoa. Transportasi umum tidak berjalan karena ada rintangan jalan dan ketakutan akan terjadinya gelombang kerusuhan baru. Bank-bank, toko-toko, dan kantor-kantor tutup. Lebih parah lagi, ada tanda-tanda bahwa Presiden akan memaklumkan keadaan darurat dan menggunakan kekuasaan luar biasa untuk menangani penentangan terhadap dirinya.

Pada 16 Mei 1998, dua hari sebelum pertemuan dengan Presiden Soeharto, berlangsung pertemuan di rumah dinas Menag Quraish Shihab di jalan Widyacandra. Hadir di situ Malik Fadjar, Quraish Shihab, dan Cak Nur. Mereka membahas agenda reformasi. Dari pertemuan itu, lahir konsep, misalnya reshuffle kabinet dan pengembalian harta kekayaan Soeharto kepada negara. Quraish Shihab berjanji menyampaikan gagasan itu secara lisan kepada Presiden. Itulah yang mengawali pertemuan Presiden dan tokoh masyarakat pada 19 Mei 1998. Pukul 09.00 – 11.32

Pertemuan tanggal 19 Mei 1998 akhirnya berlangsung. Tokoh yang diundang datang menemui Soeharto membawa konsep reformasi. Meskipun mereka lebih memberi toleransi dibanding para tokoh yang bergaris keras, tetapi mereka jelas tidak berada dalam posisi untuk mengulurkan tangan bagi Presiden yang sudah serba terdesak itu untuk tetap berkuasa. Dalam pertemuan dengan para tokoh itu, Presiden Soeharto mengemukakan bahwa jabatan sebagai Presiden bukan hal yang mutlak karena itu tidak masalah baginya jika harus mundur. ”Bagi saya, sebetulnya tidak masalah kalau harus mengundurkan diri. Namun perlu kita perhatikan apakah dengan mundurnya saya, keadaan ini dapat segera diatasi,” ujarnya.

(12)

meninggalkan keadaan yang sebenarnya saya masih harus turut bertanggung jawab,” katanya.

Menurut Presiden, kalau tuntutan itu dipenuhi, secara konstitusional ia harus menyerahkan jabatan kepada Wapres BJ Habibie. “Apakah itu merupakan jalan penyelesaian terbaik dan tidak akan timbul lagi masalah? Jangan-jangan nanti Wakil Presiden didemo pula dan harus mundur. jika begitu terus, itu menjadi preseden (buruk) dalam kehidupan kita berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Dengan sendirinya timbul kekacauan seolah-olah kita tidak mempunyai landasan dalam menjamin kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujarnya.

Sidang Umum MPR, menurut Presiden, akan dilaksanakan pada tahun 2000, lalu pemilu untuk memilih presiden dan wapres baru. Soeharto menegaskan bahwa dirinya tidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai presiden. Akan halnya tuntutan masyarakat atas pengunduran dirinya, Soeharto menyatakan bahwa alternatif untuk mengundurkan diri sekarang tidak akan menyelesaikan persoalan karena pengganti yang sesuai dengan konstitusi, yaitu wapres, masih diragukan mampu melanjutkan pemerintahan karena bukan tidak mungkin ia pun akan didemo para demonstran. Oleh karena itu, ia mengambil kebijaksanaan yang tepat untuk meneruskan pemerintahan sampai selesai.

Pukul 19.00

Pada pukul 19.00, pimpinan MPR/DPR Harmoko mengirim surat kepada Presiden Soeharto perihal hasil pertemuan rapat pimpinan Dewan yang mengharapkan Presiden Soeharto mundur dari jabatan. Di dalam surat itu, disebutkan juga bahwa para pimpinan Dewan meminta waktu untuk berkonsultasi mengenai kemungkinan pengunduran diri tersebut. Soeharto malam itu tampak ceria. Ia sempat bertanya, “Apa sih yang dikehendaki mahasiswa-mahasiswa itu?” Yusril menjawab bahwa mereka menghendaki Sidang Istimewa dan Soeharto mundur. Dengan kalem Soeharto berujar, “Mereka tidak mengerti bahwa SI bisa berlarut-larut sehingga keadaan tambah kacau. Kalau sudah begitu, ABRI akan mengambil kendali,toh?”

(13)

sendiri yang menghendaki ia turun dari kursi kepresidenan.” Kekecawaan itu disampaikan Amien Rais dalam suatu jumpa pers didampingi tokoh intelektual Nurcholish Madjid, aktivis musli AM Fatwa, Sekum ICMI Adi Sasono, dan Ketua KAMMI Fachri Hamzah.

Pada kesempatan itu, Amien Rais menyebutkan ada dua mazhab reformasi. Di satu sisi, ada reformasi menuntut penguasa, yaitu reformasi ekonomi dijalankan dengan mempertahankan status quo politik. Di sisi lain, ada mazhab yang dianut mahasiswa dan cendekiawan, yaitu reformasi ekonomi tidak mungkin berjualan kecuali disertai reformasi politik, (sedangkan) reformasi politik mustahil terjadi kalau tidak terjadi pergantian kepemimpinan nasional.

Rencana Aksi di Monas Dibatalkan Rabu, 20 Mei 1998

Beberapa hari sebelumnya telah tersiar kabar bahwa bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei, peringatannya akan dilaksanakan mahasiswa dan masyarakat dari Jakarta dan luar Jakarta di Monumen Nasional (Monas). Salah seorang pelopornya adalah Amien Rais yang telah menulis undangan kepada masyarakat. Bahkan, publikasi rencana aksi tersebut ada yang melalui surat kabar. Acara ini direncanakan akan dihadiri sekitar satu juta orang. Namun sehari sebelum peringatan Harkitnas yang akan digelar di kawasan Monas itu, pihak keamanan mengantisipasinya dengan memblokade kawasan Monas. Akibatnya, aksi mimar bebas di halaman gedung MPR/DPR makin semarak, sedangkan kawasan lainnya, terutama sekitar Monas, tampak sepi dan benar-benar mencekam.

(14)

Sudirman, dan Gatot Subroto terlihat kosong. Seluruh aktivitas dan perhatian masyarakat pada hari itu hanya tertuu pada satu titik: Gedung MPR/DPR RI. Pukul 01.55

Pagi dinihari sekitar pukul 01.55, setelah mengambil berbagai pertimbangan berkaitan dengan perkembangan situasi yang semakin memanas, tokoh gerakan reformasi Amien Rais menyampaikan pengumuman melalui televisi bahwa aksi peringatan Harkitnas di Monas dibatalkan. Alasannya, penjagaan aparat keamanan dari ABRI begitu ketat sehingga dikhawatirkan timbul hal-hal yang tidak diinginkan jika acara itu tetap dilaksanakan. Amien tahu bahwa mahasiswa kecewa dengan pembatalan acara itu, tetapi ia merasa lebih kecewa lagi. Sebagai gantinya, Amien meminta agar seluruh masyarakat tenang, tinggal di rumah masing-masing, dan memanjatkan doa semoga reformasi berjalan lancar sampai berhasil mencapai tujuan.

Pukul 08.30

Mahasiswa sekitar terus membanjiri gedung MPR/DPR. Mereka menolak pembentukan Komite Reformasi yang melibatkan tokoh-tokoh kritis dan para akademisi dari berbagai universitas, serta rencana pemilu yang dipercepat. Menurut para mahasiswa dan para pakar, langkah yang akan diambil Presiden Soeharto itu melanggar konstitusi.

Berlimpahnya mahasiswa ke gedung MPR/DPR sebagai dampak pernyataan Presiden agar mahasiswa menyampaikan aspirasi ke MPR/DPR dan dibatalkannya Aksi Harkitnas di Monas. Mahasiswa bermalam di gedung MPR/DPR untuk mendesak para wakil rakyat segera mengambil langkah strategis berkaitan dengan tuntutan reformasi mereka.

Pukul 16.45

(15)

sambil bergegas pergi. Pada saat itu,sambil duduk dikerumuni mahasiswa, penasehat fraksi ABRI Syarwan Hamid menjelaskan dua pola penyelesaian. Pertama, Presiden mundur. Kedua, Sidang Istimewa MPR dilaksanakan.

Pukul 18.30

Mensesneg Saadillah Mursjid menjelaskan di televisi bahwa Presiden Soeharto pada Kamis pagi 21 Mei 1998 secara resmi akan mengumumkan susunan awal Komite Reformasi. Komite itu sendiri yang akan menentukan kepemimpinan, pembagian kerja, dan tatacara kerjanya. Anggota Komite Reformasi terdiri dari tokoh masyarakat, pakar, dan kalangan perguruan tinggi. Namun, akhirnya rencana itu tidak terlaksana.

Sementara itu, pemerintah AS menyambut baik niat Presiden Soeharto untuk tidak lagi memangku jabatannya dan melakukan reformasi politik. Juru bicara Gedung Putih James Rubin mendesak agar pemerintah Indonesia membiarkan unjuk rasa damai mahasiswa, aparat keamanan menahan diri, dan semua pihak hendaknya menghindari kekerasan.

Detik – Detik Terakhir Pukul 10.00 – 16.00

Isu pengunduran diri Presiden Soeharto sebenarnya sudah santer beredar pada hari Rabu 20 Mei 1998, terutama setelah adanya desakan dari F-KP DPR yang meminta Presiden Soeharto segera mundur. Menurut Harmoko, desakan mereka agar Soeharto mundur dijawab pimpinan DPR dengan meminta mahasiswa agar sabar menunggu. Namun mereka terus mendesak agar permintaan pengunduran diri Presiden oleh DPR itu segera dijawab Presiden. “Saya katakan kepada mereka bahwa jawaban dari Presiden pasti ada. Kalau sampai Jumat (22Mei 1998) tidak ada jawaban dari Presiden, pimpinan Dewan akan segera mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan dengan fraksi-fraksi guna membahas persiapan Sidang Istimewa MPR. Menurut tata tertib, dalam setiap agenda kegiatan di Dewan, ada aturan yang harus diikuti,” tegas Harmoko.

(16)

Soeharto itu berlangsung tegang kaena dari 45 orang yang dihubungi hanya tiga orang bersedia menjadi anggota. Sebanyak empat belas menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin menyatakan tidak bersedia menjadi menteri lagi dalam kabinet yang akan di reshuffle. Di alinea pertama surat, mereka agak mendesak agar Presiden mundur. Ada keinginan dari mereka untuk menyampaikan langsung cara lisan kepada Presiden, tetapi akhirnya dibuatlah surat dan dikirim ke Cendana.

Menurut Ginandjar, setelah selesai rapat empat belas menteri, surat itu diantar Nugroho, Kabiro dari Bappenas, ke ajudan Presiden, Kol.Teddy. Sebelumnya, Ginandjar menelpon Harmoko, Widjojo, dan Wiranto untuk meminta mereka memberitahu Presiden tentang surat itu. Namun Wiranto merasa berat untuk menyampaikannya kepada Soeharto. Ia mengusulkan agar Mbak Tutut saja yang menyampaikannya. Ginandjar lalu menelpon Habibie. Ketika itu, Habibie dalam perjalanan menuju Cendana. Ia menjelaskan tentang isi surat itu, tetapi Habibie bilang,”Tahan dulu,” tetapi surat terlanjur dikirim. Ginandjar lalu menelpon Soedharmono, mantan wapres. Reaksi Sudharmono lebih keras dan marah sambil membanting telepon. Ia dianggap tidak loyal. Padahal semua itu dilakukan Ginandjar secara terbuka, bukan sembunyi-sembunyi. Rapatnya pun terbuka.

Masih mengenai surat, menurut Yusril, surat itu ia terima dari Akar Tandjung yang bilang, “Barangkali Pak Harto belum terima surat kami. Ini saya titip sama you.” Surat itu sampai sekitar maghrib. Kemudian Yusril menyerahkan surat itu ke Mensesneg. Mensesneg Saadillah Mursjid gemetar setelah melihat surat itu. Surat itu disampaikannya kepada Presiden. Setelah Presiden membacanya, sepotong kalimat yang akan mengakhiri kekuasaannya selama 32 tahun terucap,”Saya berhenti.”

(17)

tugas sebaik-baiknya. Pak Harto juga meminta agar saya menyelesaikan masalah Ginandjar dan kawan-kawan dengan baik.” ucap BJ Habibie.

Ginandjar memperkirakan, “Ya, mungkin ada yang menyampaikan secara lisan (tentang surat itu ke Presiden), Mak Tutut atau Wiranto, tetapi surat itu belum sampai ke Presiden. Ketika surat itu sampai pada malam harinya, beliau memutuskan mundur. Surat itu sepertinya sudah dibaca banyak orang dan seakan-akan surat itulah yang membuat Presiden mundur. sayapun dianggap menghianati beliau.” terang Ginandjar.

Ginandjar menyatakan pula mungkin Saadillah Mursjid yang terima dari ajudan presiden dan dia yang membawa masuk ke ruang Presiden. Jadi, surat aslinya ada di Cendana. Saya tidak tahu dimana. Namun, Ginandjar dengan penuh keyakinan mengatakan,”Tidak benar Habibie yang merekayasa surat itu. Kedua, Habibie yang mencegah kami melakukan hal itu. Ketiga, dia meminta supaya kami mencabut kembali surat itu. Bagi kami, tentu sulit mencabut surat itu kembali karena kami kan bukan orang tolol dan oportunis yang sembarangan membuat surat. Di antara kami, ada yang profesor, lho. “

BAB II

Kilas Balik Rapat di Bappenas

Apa yang sebetulnya terjadi ketika berlangsung rapat para menko dan menteri bidang ekuin di Bappenas tanggal 20 Mei 1998? Kenapa Menko Ekuin dan para menteri menandatangani surat penolakan mereka untuk duduk dalam Kabinet Reformasi yang akan diberntuk Presiden Soeharto? Apa yang mereka bicarakan? Dan apakah pertemuan itu sebuah rekayasa yang terencana dari suatu kelompok yang memang menginginkan Presiden Soeharto mundur? apa pula yang menjadi pembicaraan di kediaman Wapres BJ Habibie pada malam harinya? Sejumlah menko dan menteri memerikan kesaksian mereka berikut ini.

(18)

mengundurkan diri dan pernah ia ungkapkan kepada Mbak Tutut. Hendropriyono pun menjelaskan bahwa ia mundur karena tidak ingin menjadi bagian dari pemerintahan yang gagal karena adanya orang-orang yang ambisius tadi yang salah dalam menangani kerusuhan sehingga rakyat menjadi korban.

Dalam keterangannya, Hendropriyono menyatakan pula bahwa tidak ada preseden surat pernyataan dari empat belas menteri telah direncanakan sebelumnya, terutama menyangkut dirinya. Ia mundur leih karena, berdasarkan pengamatannya, pembantu Soeharto-beberapa,bukan semua- punya ambisi politik. Semuanya proreformasi: mendukung Soeharto turun (lengser) atau turun secara konstitusional.

Haryono Suyono yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Kabinet Pembangunan VII, pertemuan empat belas menteri itu diadakan atas undangan Menteri Ekuin karena ingin mengadakan rapat bidang ekonomi. Ia pun menjelaskan bahwa saat itu di kalangan para menteri sudah ada pemikiran, semacam suasana, tampaknya Soeharto tidak dapat dipertahankan. Ia menjelaskan pula bahwa ia tidak berpikir mengundurkan diri karena bidang kesra sedang happy. Maksudnya, Soeharto telah menyetujui akan melakukan rapat kabinet di bidang kesra rutin tiap bulan. Saat itu seperti sebelumnya, rapat rutin hanya dilakukan untuk bidang ekonomi.

Keadaan negara yang semakin buruk itu mendorong para menteri itu untuk membuat pernyataan kepada Presiden Soeharto bahwa mereka tidak bersedia jika diminta menjadi menteri lagi. Alasan Haryanto Dhanutirto ikut menandatangani pernyataan ketika itu adalah karena ia yakin tidak akan diminta lagi menjadi menteri. Selain itu, Ginandjar pun bilang jika menteri-menteri yang hadir tidak ada yang memberikan pernyataan, para menko akan membuat pernyataan sendiri. Seakan-akan Ginandjar memang sudah tidak mau duduk dalam kabinet.

(19)

surat pernyataan yang dibuat tidak diedarkan lebih dulu karena ada menteri yang tidak mau tanda tangan.

Pertemuan di Bappenas itu diawali keprihatinan terhadap situasi bangsa yang dimulai dengan peristiwa Trisakti tanggal 12 dan 13 Mei 1998, lalu kerusuhan pada 14,15,16,dan 17 Mei 1998. Bagi empat belas menteri itu, pertemuan itu bukan urusan rapat dalam lingkungan menteri perekonomian saja. Akhirnya, keluarlah surat pernyataan itu dan inisiatornya adalah Ginandjar yang memimpin rapat. Mereka berpendapat, perlu ada langkah drastis menuju perubahan. Perombakan kabinet tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi, perlu penyelesaian politik. Adapun yang merumuskan Akbar. Intinya, langkah Presiden untuk mereformasi kabinet bukanlah penyelesaian. Penyelesaian harus dengan keputusan politik sesuai dengan tuntutan rakyat dan permitaan ketua MPR/DPR.

Namun, strategi itu tidak cukup meyakinkan para tokoh masyarakat yang sudah tidak sabar. Ada yang menganalisis seandainya langkah yang digagas Soeharto dilakukan dan dijalankan, mungkin situasinya tidak akan menjadi seburuk sekarang. Ada yang mengatakan kita seperti membeli “cek kosong” karena konsep reformasinya tidak jelas sampai hari ini. Soeharto ingin Komite Reformasi menyusun konsep reformasi dan mengadakan pemilihan umum. Namun, waktu itu rakyat tidak sabar. Takut. Mereka kira Soeharto mau mencalonkan lagi. Ada juga yang ingin cepat-cepat menjadi pimpinan. Padahal Soeharto hanya ingin perubahan yang konstitusional, tetapi orang terlanjur tidak percaya kepada beliau dan tidak sabar.

(20)

BAB III

Sidang Paripurna Ad Hoc Menteri Bidang Ekuin di Kediaman Wapres BJ Habibie

Mengenai pertemuan pada malam harinya di kediaman Habibie di Kuningan, Hayono Suyono tidak sepakat jika pertemuan itu dianggap sidang paripurna ad-hoc, bukan pula rapat. Hanya pertemuan biasa. Kehadirannya di sana karena ada undangan lewat telepon dari ajudan Habibie yang bilang akan ada pertemuan itu jam 19.00.

Dalam pertemuan itu, Habibie memberi kami sebuah daftar yang diperoleh Habibie dari Presiden Soeharto untuk membentuk susunan kabinet berikutnya. Nama-nama calon menteri itu sudah given. Artinya, kami tidak boleh menambah atau mengurangi, hanya mempelajari, menganalisis, dan membuat usul pilihan. Di dalam daftar itu, sudah ada nama-nama yang harus kami pelajari, nilai, dan kami diberi hak untuk memilih. Jumlahnya puluhan dan sudah dikelompok-kelompokkan sesuai bidangnya. Sepanjang ingatan saya, baru kali ini selama Presiden memerintah, beliau mengikutsertakan kami memilih. Biasanya, beliau sendiri yang akan memberi kata akhiir siapa saja yang akan ditunjuk untuk menjadi pembantunya dalam pemeritahan. Beliau sendiri pula yang akhirnya akan menghubungi para menteri calon itu. Namun karena diperitahkan Wapres Habibie untuk memberi usulan, ya kami membahas siapa saja yang paling mungkin duduk di kabinet.

Habibie ketika memimpin rapat bersikap sangat friendly. Itu dapat terjadi karena kami sama-sama intelektual dan sama-sama mengabdi buat bangsa. Cukup lama pertemuan untuk menentukan calon anggota kabinet itu berlangsung. Ketika kami tengah melakukan pemilihan, (Haryono mengaku lupa jam berapa, tetapi bekisar antara pukul 19.00-21.00) ada sela ketika Saadillah Mursyid menelpon Habibie di ruang lain.

(21)

Namun, kami guyon-guyon di meja rapat,´”Kalo gitu, Pak Habibie presidennya. Pak Habibie yang akan melantik para menteri itu.”

Kami lalu mengundang Ibu Ainun Habibie ke ruang pertemuan dan kami berdoa bersama untuk kebaikan Presiden Soeharto yang memilih untuk mundur dan kebaikan bangsa. Kami mengembalikan semuanya kepada Yang Mahakuasa. Setelah itu, rapat dilanjutkan. Kali ini Habibie lebih serius mengisi portopolio bakal kabinet, tetapi semua menko dipertahankan. Menurut Haryono, hingga 21 Mei 1998, susunan bakal anggota kabinet masih terus dirapikan. Para menko dan menteri tidak diundang pada saat Presiden mengumumkan lengser dan pelantikan Habibie. Mungkin karena itu sekedar transfer of presidency sehingga kabinet sebelumnya dianggap demisioner.

Bukan karena surat itu Presiden mengundurkan diri. Gagasan mengundurkan diri itu sudah ada sebelum surat itu diterimanya. Ide mengundurkan diri yang pertama dari Soeharto itu adalh pernyataan beliau yang akan membentuk Komite Reformasi, Kabinet Reformasi, mengadakan pemilihan umum, dan tidak bersedia lagi dicalonkan (sebagai Presiden). Itu satu indikasi. Kedua, Ketua MPR meminta belaiu mundur. beliau pun mau lengser pada hari senin tanpa menunggu pemilu. Beliau pun ingin kemundurannya pada hari Senin itu konstitusional. Namun, rencana itu dipercepat lagi menjadi hari Kamis dengan adanyas surat pernyataan yang masuk itu karena berarti ia tidak dapat membentuk Kabinet Reformasi yang anggotanya justru sebagian besar dari empat belas menteri yang menandatangani surat itu.

Awalnya, Presiden Soeharto itu mau mundur memang keinginan beliau sendiri. Tinggal masalah waktu. Beliau ingin setelah pemilihan umum dan tidak bersedia dicalonkan lagi. Kedua, ada desakan dari masyarakat, terutama MPR, agar membuat pernyataan pengunduran diri. Beliau pun mau mundur pada hari Senin.

(22)

Suasana di Cendana pada saat itu menurut Probosutedjo, adik Soeharto, yang berada di kediaman Jalan Cendana, malam itu, Soeharto terlihat gugup dan bimbang. “Pak Harto gugup dan bimbang, apakah Habibie siap dan bisa menerima penyerahan itu. Suasana bimbang ini baru sirna setelah Habibie menyatakan diri siap menerima jabatan Presiden,”ujarnya.

Probosutedjo menggambarkan suasana di kediaman Soeharto malam itu cukup tegang. Perkembangan detik per detik selalu diikuti dan segera disampaikan ke Soeharto. Diaktakan,”Saya berusaha memberikan informasi terkini, tentang tuntutan dan permintaan yang terjadi di DPR, informasi bahwa akan ada orang-orang yang bergerak ke Monas, serta perkembangan dari laur negeri,”ujar Probosutedjo, seraya menambahkan bahwa pada saat itu semua anak-anak Soeharto berkumpul di jalan Cendana. Soeharto kemudian bertemu dengan tiga mantan Wakil Presiden; Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno.

Pukul 23.00 WIB, Soeharto memerintahkan ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadillah Mursyid, dan Panglima ABRI Jendral TNI Wiranto. Soeharto sudah membulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie. Wiranto sampai tiga kali bolak-balik Cendana-Kantor Menhankam untuk menyikapi keputusan Soeharto. Wiranto perlu berbicara dengan para Kepala Staf Angkatan mengenai sikap yang akan diputuskan ABRI dalam menanggapi keputusan Soeharto untuk mundur. setelah mencapai kesepakatan dengan Wiranto, Soeharto kemuadian memanggil Habibie.

Di balik semua peristiwa ini, memang muncul manipulasi berita, misalnya mengenai diri Habibie.

“Habibie pun dituduh merekayasa, ingin kudeta melalui kami menteri-menteri ekonomi karena kedekatan kami di ICMI. Banyak diantara kami yang ICMI dalam kabinet terakhir Presiden. Ada yang bilang itu kabinet ICMI. Jadi, buat saja statement besar-besar dari Ginandjar,”Habibie bukan yang merekayasa, bahkan beliau mencegah saya, meminta saya menahan surat itu, dan agar menarik kambali surat itu.”

(23)

Tuhan untuk menyelamatkan semua kelompok. Pada 21 Mei, dalam upacara singkat di Istana Kepresidenan, Presiden Soeharto meletakkan jabatan melalui pernyataan ringkas dan Habibie diambil sumpahnya oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai presiden ketiga Republik Indonesia. Saat bersejarah itu menandai berakhirnya era Soeharto dan terbitnya era baru meskipun sama-sama tidak pasti.

BAB IV Tabir Terbuka

Berdasarkan fakta yang telah dipaparkan sebelumnya dari berbagai sumber media dan wawancara terhadap pelaku sejarah, terbukalah tabir bagaimana rapat 14 menteri di Bappenas terlaksana dan apa sebetulnya yang terjadi dalam rapat dan di rumah kediaman Wapres BJ Habibie tanggal 20 Mei 2008, yang oleh BJ Habibie dinyatakan sebagai “Sidang Ad Hoc Terakhir Kabinet Pembangunan VII Bidang Ekonomi Orde Baru”.

Kita mulai dengan kejadian yang dramatis lahirnya surat Presiden Soeharto yang menyatakan dia berhenti dari jabatan presiden. Penggalan surat itu sbb:

Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun, hingga hari ini Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.

Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara-cara sebaiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI.

(24)

dengan demikian dengan “tidak dapat diwujudkannya” Komite Reformasi perubahan susunan (reshuffle) Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Kenapa Komite Reformasi tidak dapat diwujudkan, ada kisahnya tersendiri. Menurut Yusril Ihza Mahendra yang ketika itu sebagai speech writer Presiden, ia bersama Mensesneg Saadillah Mursjid diminta menghubungi 45 orang calon anggota Komite Reformasi. Keduanya gagal meyakinkan ke-45 orang itu, kecuali sedikit, lalu melaporkannya kepada Presiden. “Pak, kita gagal membentuk (komite) ini,” kata Yusril kepada Presiden.

Kemudian Yusril bertanya kepada Saadillah, “Apakah calon-calon menteri kabinet baru sudah dikontak semua, dikonfirmasi?”

Dia jawab,”belum semua.”

“Keadaan bisa gawat,” kata Yusril. “Kalau masuk dalam Komite Reformasi ternyata tidak ada yang mau, masih oke kita tunda. Tapi, kalau anggota kabinet baru diumumkan ternyata sebagian besar orangnya tidak bersedia duduk di dalamnya, Pak Harto kehilangan muka.”

“Mengapa you bilang begitu?” tanya Saadillah.

“Sebelas menteri (maksudnya empat belas) sudah mundur. Ini suratnya,” timpal Yusril.

Saadillah gemetar melihat surat itu. Jika Kabinet Reformasi yang gagal dibentuk karena banyak menteri yang tidak bersedia, tentu hal itu akan merugikan Presiden. Akhirnya, Mensesneg menyampaikan surat itu kepada Presiden. Sebelumnya, Presiden sudah berniat akan mengundurkan diri pada Senin 25 Mei 1998. Namun, dengan adanya surat itu, Presiden memutuskan mempercepat pengunduran dirinya pada Kamis 21 Mei 1998.

Bagaimana halnya BJ Habibie mengenai surat ke-14 menteri tersebut? Wapres BJ Habibie mengakui bahwa ia tahu pertama kali adanya surat ke-14 menteri yang dikirim ke Presiden Soeharto itu dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. Berikut pengakuannya:

(25)

pernyataan mereka saya tidak pernah menerimanya. Atas pertanyaan saya pada Ginandjar apakah Pak Harto sudah mengetahui informasi tersebut, Pak Ginandjar menjawab bahwa sudah disampaikan kepada Ibu Tutut.”

Ginandjar Kartasasmita bahkan menuturkan bahwa Wapres BJ Habibie terperanjat ketika ia diberitahu bahwa empat belas menteri sudah membubuhi tanda tangan pada surat pernyataan tidak bersedia dilibatkan dalam kabinet Reformasi. Menurut Ginandjar, Habibie dengan suara keras mengatakan, “Tahan dulu!”

Lebih lanjut Ginandjar menjelaskan,”Ketika saya masih di kantor, kira-kira jam tujuh malam, Habibie menelpon saya. Saya itu baru pulang dari Cendana,”Surat itu jangan dikirim,” padahal sudah terlanjur dikirim,” “Tadi Pak Harto bilang supaya dicabut.”

“Bagaimana mungkin? Yang memberi tanda tangan ‘kan banyak.”

“Kalau begitu, kita kumpul di rumah saya,” kata Habibie. Demikian keterangan Ginandjar.

Ketika Habibie ditanya apa tujuannya meminta surat tersebut “ditahan”? Ia menjawab: “Tujuan saya untuk tidak mempersulit keadaan yang sudah sangat memprihatinkan dan tidak mengganggu penyusunan “reshuffle kabinet” yang sebentar lagi akan disusun oleh Presiden dan dibantu oleh “Koordinator keluarga besar Golkar” yang mengkoordinir Fraksi ABRI, Fraksi Utusan Daerah, dan Fraksi Golkar.selain itu tokoh yang dipilih untuk duduk dalam kabinet yang di reshuffle dinilai berdasarkan kerja nyata mereka dan mampu mengembalikan momentum pembangunan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

(26)

B. Pembahasan

Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 telah merusak sendi-sendi ekonomi nasional yang kemudian memberikan pengaruh kepada sektor kehidupan lainnya secara luas. Dampak krisis yang terjadi menimbulkan kecemasan pada masyarakat yang kemudian ditunjukkan melalui unjuk rasa, terutama dimotori oleh mahasiswa. Mereka menuntut diadakan reformasi secara total, pengunduran diri Presiden Soeharto, serta dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR. Namun sejalan dengan itu Presiden Soeharto mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengundurkan diri, kecuali apabila rakyat Indonesia tidak mempercayainya lagi maka ia akan pensiun. Sehingga ia menanggapi tuntutan reformasi tersebut dengan melakukan reshuffle kabinet untuk memperbaiki kinerja pemerintahan.

Para cendekiawan dan akademisi yang semula diam-diam mulai muncul secara terbuka mendukung mahasiswa, begitu juga para pemimpin oposisi seperti Megawati dan Amien Rais. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi telah menduduki gedung DPR menuntut reformasi dan mendesak agar Presiden Soeharto mundur. Soeharto bersikukuh mengatakan Sidang Umum MPR akan dilaksanakan pada tahun 2000, lalu pemilu untuk memilih presiden dan wapres baru. Soeharto menegaskan bahwa dirinya tidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai presiden. Namun, masyarakat sudah terlanjur tidak percaya lagi padanya. Mereka tetap menginginkan Soeharto lengser dari jabatannya sekarang juga.

(27)

agar Presiden mundur. Ada keinginan dari mereka untuk menyampaikan langsung cara lisan kepada Presiden, tetapi akhirnya dibuatlah surat dan dikirim ke Cendana.

Surat dibuat tersebut pun menimbulkan kotroversial tersendiri. Rapat penandatanganan surat tersebut berlangsung di Bappenas pada 20 Mei 1998 yang dipimpin Ginandjar Kartasasmita selaku Menko bidang Ekuin. Setelah mengirimkan surat tersebut melalui Kabiro dari Bappenas, Ginandjar pun menelpon Wapres BJ Habibie. Pak Habibie mengatakan agar suratnya ditahan terlebih dahulu, namun surat terlanjur dikirim. Alhasil, ada desas desus yang mengatakan bahwa surat tersebut merupakan rekayasaan dari Habibie. Namun Ginandjar dengan tegas menentang isu tersebut. Ia mengatakan, bukan Pak Habibie yang merekayasa surat tersebut, kedua, Pak Habibie yang mencegah melakukan tindakan itu, dan ketiga Pak Habibie meminta agar surat itu dicabut.

(28)

BAB III KESIMPULAN

Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 telah membuat perekonomian Indonesia terpuruk. Rakyat Indonesia menginginkan reformasi total, dan mahasiswa menuntut agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Presiden Soeharto beranggapan bahwa ia tidak mungkin mundur dalam keadaan Indonesia yang sedang kacau pada saat itu. Ia merencanakan mengadakan reshuffle kabinet untuk melakukan reformasi. Namun, keadaan yang terjadi di luar kendalinya, ribuan mahasiswa membanjiri DPR/MPR menuntut agar ia segera mundur. Begitu juga dengan empat belas menteri yang berada di bawah Menko bidang Ekuin menolak untuk menjadi menteri kembali dalam kabinet yang akan di reshuffle nya. Presiden Soeharto seakan kehilangan pendukungnya. Begitu juga dengan hilangnya kepercayaan rakyat kepada dirinya. Padahal ia bermaksud untuk untuk menstabilkan keadaan yang terjadi, dan berjanji tidak akan mencalonkan diri kembali pada pemilu berikutnya. Namun rakyat terlanjur terlalu takut dan makin menuntut beliau segera berhenti dari jabatannya.

Referensi

Dokumen terkait

Teorema Van Aubel dikontruksi dari segiempat sebarang kemudian pada setiap sisi segiempat sebarang dibangun persegi, titik-titik potong diagonal persegi yang

Akifer Tertekan (Confined Aquifer) Akifer Tertekan (Confined Aquifer) yaitu aquifer yang seluruh jumlahnya air yang dibatasi yaitu aquifer yang seluruh jumlahnya air yang dibatasi

Dalam konsep Deep Ecology, perlindungan dan penyelamatan lingkungan hidup yang dilakukan manusia pada dasarnya beranjak dari kesadaran bahwa manusia merupakan bagian

Crawford (2004:3) juga menerangkan bahwa analitis ANT berpusat pada bagaimana cara jaringan mengatasi hambatan dan memperkuat internal, mendapatkan koherensi dan

Sejak adanya Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) penghasilan masyarakat Desa Kalikurmo mengalami peningkatan yang berpengaruh terhadap kemampuan

Kedua dari segi komputasi, naïve Bayesian adalah motode yang paling tepat untuk mengatasi masalah yang temui pada kasus ini, terdapat banyak gejala yang merupakan

Penetapan jumlah kelulusan TKD dengan sistem CAT SPCP IPDN paling banyak 3.0 (tiga koma nol) kali jumlah kuota masing-masing provinsi dan berhak mengikuti

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul” Pengaruh Efektivitas Audit Internal dan Etika Bisnis Terhadap Total Quality