• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP KESEJAHTERAAN SOSIAL DALAM ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP KESEJAHTERAAN SOSIAL DALAM ISLAM"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP KESEJAHTERAAN SOSIAL DALAM ISLAM BERDASARKAN AL-QURAN

Disusun untuk Musabaqah Makalah al-Quran dalam rangka Musabaqah Tilawatil Quran Kota Medan

Disusun oleh: Mhd. Handika Surbakti

(2)

1

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat rahmat dan karunia Allah Swt, penulis dapat merampungkan makalah al-Quran ini, dalam rangka mengikuti Musaqah Makalah Quran pada Musabaqah Tilawatil Quran Kota Medan 2017.

Makalah ini disusun dengan semangat untuk menunjukkan bahwa Islam yang Al-Quran adalah kitab sucinya merupakan agama yang paripurna dan universal rahmatan lil

alamin, Islam tidak hanya menjadi pedoman dalam beribdah, namun Islam adah the way of

life para penganutnya dalam segala aspek kehidupan.

Salah satu aspek yang urgen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah cita-cita akan kesejahteraan sosial, dan Islam melalui al-Quran turut serta memberikan pedoman dan konsep-konsep kesejahteraan sosial tersebut. Melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan konsep kesejahteraan sosial dalam Islam yang berdasarkan Al-Quran.

(3)

2 Pengertian Kesejahteran Sosial ……… 7

Perhatian Islam terhadap Kesejahteraan Sosial..……….. 7

Indikator-Indikator Kesejahteraan Sosial dalam Islam……….. 9

Peran Allah Swt dalam mewujudkan Kesejahteraan Sosial……… 11

Janji Allah Swt tentang Kesejahteraan Sosial…..………. 12

Larangan Bermegah-Megahan………..……….. 13

BAB IV (PENUTUP) Kesimpulan… ………. 14

Saran ………. 14

(4)

3 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesejahteraan sosial merupakan cita-cita setiap bangsa, bahkan dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan suatu peradaban. Tidak ada bangsa yang menafikan kesejahteraan sosial dari tujuan Negara serta konstitusinya, karena ketika masyarakat sejahtera secara sosial, sudah dapat dipastikan akan diikuti oleh aspek-aspek lainnya, ekonomi, politik, supremasi hukum dan lain sebagainya.

Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin, agama universal dan paripurna, Islam memiliki konsep yang menyeluruh dan utuh dalam memmberikan panduan hidup bagi penganutnya, begitu juga dalam hal kesejahteraan sosial.

Sejarah mencatat kesuksesan-kesuksesan para nabi, sahabat, tabiin dan ulama-ulama muslim dalam membangun kesejahteraan bagi masyarakatnya, tentunya mereka selalu merujuk kepada sumber yang sama, dan teladan yang sama, yaitu al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw.

Melalui makalah ini, penulis ingin memaparkan konsep kesejahteraan sosial dalam Islam berdasarkan al-Quran, karena penulis meyakini konsep yang ditawarkan oleh Islam melalui al-Quran tidak lekang oleh zaman dan akan selalu relevan dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, kesuksesan pemimpin-pemimpin muslim dalam menyejahterakan rakyatnya memacu rasa penasaran penulis akan pedoman yang mereka gunakan secara seragam, yaitu al-Quran.

Oleh karena itu, penulis memandang bahwa makalah dengan judul Konsep

Kesejahteraan Sosial Dalam Islam Berdasarkan Al-Quran penting dan perlu untuk

(5)

4 B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis akan membedah beberapa rumusan masalah, yaitu: 1. Apa yang dimaksud dengan kesejahteraan sosial?

2. Bagaimana konsep kesejahteraan sosial dalam Islam? 3. Apa saja indikator kesejahteraan dalam Islam?

C. Metode Penelitian

Dalam menyusun makalah ini penulis menggunkaan metode penelitian kualittattf dengan melakukan studi kepustakaan, dan kemudian dianalisis mengggunakan pendapat penulis.

D. Sistematika Penyajian

(6)

5 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Al-Quran mengandung konsep-konsep kesejahteran sosial, berikut beberapa konsep atau atau ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial:

A. Surat An-Nisa ayat 9 Tentang Anjuran Untuk Memperhatikan Kesejahteraan Sosial

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (Kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendakalah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbica dengan tutur kata yang benar.

B. Surat Quraisy ayat 3-4Tentang Indikator-Indikator Kesejahteraan Sosial

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberikan makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ras takut.

C. Surat An-Nahl ayat 97 Tentang Janji Allah Akan Kesejahteran Suatu Kaum

(7)

6

D. Surat A-Thalaq ayat 3 Tentang Peran Allah Swt dalam Memberikan Kesejahteraan Bagi Hamba-Nya

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.

E. Surat At-Takasur ayat 1-2 Tentang Larangan Bermegah-Megahan

(8)

7 BAB III PEMBAHASAN

A. Pengertian Kesejahteraan Sosial

Menurut pasal 1 undang-undang nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga Negara sehingga mampu mengembangkan diri dan menjalankan fungsi sosialnya.1

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa setidaknya ada aspek yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, yaitu aspek material (kebutuhan pokok), aspek spiritual (ketuhanan dan keagamaan), dan aspek sosial (bermasyarakat).

Sebagian ilmuan sosial barat mengartikan kesejahteraan sosial sebagai terpenuhinya keinginan, kebebasan dalam berekspresi, terjaminnya hak-hak sebagai warga Negara, dan lain sebagainya. Namun penelitian-penelitian terbaru menunjukkan ada paradigm baru dalam mengartikan kesejahteraan sosial, yaitu dibutuhkanya peran Tuhan atau aspek spiritualitas dalam mewujudkannya. Tidak ada kesejahteraan tanpa adanya peran dari nilai-nilai religious dan ketuhanan.

B. Perhatian Islam Terhadap Kesejahteraan Sosial

Islam sangat memperhatikan kesejahteraan sosial penganutnya, dan Allah Swt sebagai Tuhan menganjurkan umat Islam secara langsung di dalam Al-Quran untuk memperhatikan kesejahteraan sosial. Hal ini memperkuat posisi Islam sebagai the way

(9)

8

of life dan al-Quran sebagai kitab suci sekaligus pedoman manusia dalam mengarungi

kehidupan di dunia serta di hari akhir kelak.2

Perhatian Islam terhadap kesejahteran sosial tergambar dalam surat An-Nisa ayat 9 yang menyeru umat manusia agar takut akan kelemahan (ketidaksejahteraan) generasi penerus mereka nantinya. Artinya hendaklah manusia memperhatikan kesejahteraan generasi penerusnya, hendaklah mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai kesejahteraan sosial, dan nantinya mewariskannya kepada umat generasi berikutnya.

Terjemahan ayat tersebut adalah “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (Kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendakalah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbica dengan tutur kata yang benar”.

Di sisi lain dari ayat ini dapat kita pahami, bahwa Allah Swt secara tidak langsung menyeru kepada hamba-Nya untuk tidak apatis dan egois dalam mencapai kesejahteraan, jangan hanya mementingkan diri sendiri, namun harus memperhatikan kesejahteraan orang lain, terutama generasi penerusnya. Hal ini sesuai dengan konsep persaudaran dalam Islam, bahwa umat Islam dengan umat Islam lainnya seperti bangun, saling menguatkan satu sama lain. Tentunya tidak terlepas dari konsep saling tolong menolong dalam kebaikan dan saling memperbaiki atau mengingatkan kesalahan satu sama lain.

Umer Chapra menyatakan bahwa Islam datang sebagai agama terakhir yang bertujuan untuk mengantarkan pemeluknya kepada kebahagiaan haikiki.3 Kebahagian

hakiki adalah kebahagiaan lahir dan batin, jasmani dan rohani, luar dan dalam, fisik dan ruh manusia. Jika kebahagian jasmani dapat dipenuhi dengan hal-hal materil, kebutuhan rohani dapat dipenuhi dengan ketaatan dan kedekatan kepada Allah Swt.

(10)

9

C. Indikator-Indikator Kesejahteraan Sosial dalam Islam

Dalam surat Quraisy ayat 3-4 Allah Swt terdapat tiga indicator kesejahteraan dalam Islam, yaitu:

1. Tauhid

2. Pemenuhan Konsumsi

3. Hadirnya Rasa Aman dan Nyaman

Jika para Ilmuan sosial mengartikan kesejahteraan sosial adalah pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan, Islam hadir dengan konsep yang berbeda dengan adanya tambahan indikator spiritual, yaitu tauhid. Artinya manusia harus percaya dan meyakini akan Tuhan mereka, Allah Swt dan juga menyembahnya sesuai dengan apa yang telah disyariatkan Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Dewasa ini, muncul beragam penelitian tentang aspek-aspek kebahagian manusia, dimana ditemukan bahwa yang membuat manusia bahagia tidak cukup hanya harta, kekuasaan, jabatan, kemewahan dan lain sebagainya. Namun sangat sulit untuk menemukan kebahagiaan manusia tanpa adanya aspek-aspek spiritulitas, dalam surat Quraisy disebut dengan menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah) yaitu Allah Swt. Oleh karena ini para era ini sering kita temukan gagasan reclaim the religion atau mengklaim kembali agama, atau kembali kepada agama.

(11)

10

Di sisi lain, ayat ini juga memberikan pemahaman bagi kita bahwa untuk sejahtera kita harus mampu memenuhi kebutuhan pokok kita, dalam ayat tersebut disebutkan“memberikan makan” atau pemenuhan kebutuhan konsumsi. Dalam ilmu ekonomisetidaknya kita dapat memenuhi kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal). Hal ini mengindikasikan bahwa umat Islam harus merdeka secara ekonomi, kemerdekaan akan ekonomi akan mempermudah manusia untuk mencapai kesejahteraan sosialnya.

Selain itu, hadirnya rasa aman juga menjadi indikator kesejahteraan sosial berdasarkan ayat ini, hal ini membuktikan bahwa dalam memabangun kesejahteraan sosial, harus ada peran dari pemerintah yang berkewajiban dalam menyelenggarakan Negara, dalam hal ini adalah memberikan rasa aman bagi masyarakatnya. Tidak ada kesejahteraan sosial dibawah bayang-bayang ketakutan, tidak ada kesejahteraan di negeri yang dipenuni dengan perang, oleh karena itu dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, harus ada peran pemerintah4 dan masyarakat sipil dalam rangkan menghadirkan

rasa aman, nyaman dan tenteram.

Rasulullah Saw telah memberikan contoh nyata sebagai pemimpin dalam menghadirkan rasa amat bagi rakyatnya, hal tersebut tercermin dalam Piagam Madinah. Walau kala itu masyarakat Madinah sangat majemuk dan beragam secara suku, ras dan agama namun Rasulullah Saw melalui Piagam Madinah dapat menghadirkan kenyaman dan kepastian hukum bagi rakyatnya. Tidak hanya bagi umat Islam tetapi juga kepada kaum Quraisy dan penduduk Madinah lainnya. Salah satu klausul dari piagam tersebut adalah, tidak ada satu kaum atau orangpun yang boleh memerangi satu kaum dengan yang lainnya di dalam kota Madinah, dan jika ada orang yang menyerang Madinah maka seluruh penduduk Madinah akan ikut memeranginya, memperjuangkan rasa aman

(12)

11

bagi mereka. Inilah yang dimaksud dengan masyarakat yang memiliki peradaban yang baik.5

D. Peran Allah Swt dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial

Sebagaimana salah satu indikator kesejahteraan sosial dalam Islam, yaitu tauhid, maka tidak bisa dipungkiri bahwa ada peran dari Allah Swt dalam mewujudkan kesejahteraan bagi umat manusia, manusia berusaha semaksimal mungkin namun tetaplah Allah Swt yang menentukan hasilnya, termasuk dalam hal kesejahteraan sosial ini.

Hal ini tercermin dari ayat ketiga dari surat At-Thalaq yaitu:”Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”.

Jika kecukupan akan konsumsi salah satu faktor dalam kesejahteraan sosial, maka tidak dapat dipungkiri adanya peran Allah Swt dalam mewujudkannya, sebagaimana pada ayat diatas, yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan

mencukupkan (keperluan) nya. Ini membuktikan bahwa ketaqwaan yang merupakan

bagian dari tauhidberperan dalam kesejahteraan sosial, selain itu ayat ini menyampaikan makna bahwa manusia sebagai hamba Allah Swt tetap dan akan selalu membutuhkan-Nya. Manusia tidak akan mampu mencapai apapun dalam hidupnya, terutama kesejahteraan sosial jika menafikan keberadaan Tuhan mereka.

5Din Syamsuddin,Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, (Penerbit Kalimah, Ciputat: 2001),

(13)

12

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah pernah bersabda:”Wahai Abu Dzar seandainya sjaa umat manusia ini secara keseluruhan

berpegang teguh kepadanya (At-Thalaq:3), niscaya hal itu cukup bagi mereka”.6

E. Janji Allah Tentang Kesejahteraan

Allah Swt berjanji akan menganugerahkan kesejahteraan bagi hamba-Nya yang mengerjakan kebajikan, tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, sebagaimana tersurat dalm ayat 97 Surat An-Nahl yang artinya: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Hal ini semakin menguatkan pendapat bahwa untuk mencapai paripurnanya sebuah kebahagiaan atau kesejahteraan, harus ada peran dan kesertaan Allah Swt di dalamnya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kehidupan yang baik itu mencakup seluruh bentuk ketenangan, bagaimanapun wujudnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari “Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh beruntung orang yang berserah diri, yang diberi rizki dengan rasa cukup, dan diberikan perasaan cukup oleh Allah atas apa yang teah Dia berikan

kepadanya”. (HR. Muslim)7

Jika salah satu indikator utama dalam kesejahteraan adalah ketenangan atau rasa aman dan tentram, maka sangat jelas jika Allah Swt berperan atas hal tersebut, dan Dia juga menjanjikan kesejahteraan berupa segala bentuk ketenangan kepada hambaNya yang mengerjakan kebajikan sebagaimana disebutkan dalam ayat 97 surat An-Nahl. Selain itu hadits dari Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin ‘Umar juga menegaskan bahwa

6 Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, (Pustaka Imam

Syafi’i, Jakarta: 2008), hal 27.

7Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, (Pustaka Imam Syafi’i,

(14)

13

Allah Swt akan menganugerahi rasa cukup bagi hambaNya yang berserah diri, rasa cukup atas apa yang dianugerahkan oleh Allah Swt merupakan cikal bakal dari kesejahteraan sosial atau kebahagiaan.

F. Larangan Bermegah-Megahan

Sebagaimana bahasan di sub sebelumnya bahwa rasa cukuplah yang menjadi cikal bakal kebahagiaan seseorang, bukan ketamakan akan harta dan tidak juag kemegahan yang dapat melalaikan. Oleh karena itu, Allah Swt mengingatkan manusia, bahwa kebahagiaan tidaklah dengan bermegah-megahan, dan Allah Swt melarang kemegahan yang mengarah kepada kelalailan. Sebagaimana disebutkan dalam surat At-Takasur ayat 1-2 yang artinya: ”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur”.

(15)

14 BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Menurut pasal 1 undang-undang nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga Negara sehingga mampu mengembangkan diri dan menjalankan fungsi sosialnya.8

2. Kesejahteraan sosial dalam Islam adalah keseimbangan kehidupan manusia dengan Allah Swt dan dengan sesama manusia, hablun minallah wa hablun

minannas dimana manusia dapat menjadi khalifah di dunia tanpa melupakan

kewajibannya untuk menyembah Allah Swt. Sehingga terwujudlah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

3. Berdasarkan surat Quraisy ayat 1-2 dalam Islam terdapat tigas indikator kesejahteraan sosial, yaitu: Tauhid (Aspek Spiritualitas), pemenuhan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan), dan keamanan serta ketenteraman (sosial).

B. Saran

1. Untuk ahli tafsir atau akademisi tafsir, hendaknya meneliti lebih jauh ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial, karena konsep yang digunakan oleh pemimpin-pemimpin muslim berhasil dalam menyejahterakan rakyatnya. Jika ada sumber-sumebr bacaan yang berkaitan

(16)

15

dengan hal tersebut, maka akan menjadi sumber bacaan yang menarik bagi peneliti Ilmu sosial keagamaan.

(17)

16

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahannya

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial

Dahlan, HAA. M. Zaka Alfarisi. 2000. Asbabun Nuzul. Bandung: Penerbit Diponegoro Chapra, Umer. 2011. Masa Depan Ilmu Ekonomi. Jakarta: Gema Insani Press

Antonio, Muhammad Syafi’I. 2009. Bank Syariah. Jakarta: Gema Insani Press Karim, Adiwarman Azawar. 2008. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Syamsuddin, M. Din. 2001. Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madni. Ciputat: Penerbit Kalimah

Bin Abdurrahman Alu Syaikh, Abdullah bin Muhammad. 2008. Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I

Jawwad, Muhammad Abdul. 2009. Rahasia Sukses Manajemen Rasulullah. Surakarta: Ziyad Visi Media.

Referensi

Dokumen terkait

Agama Islam memandang bahwa sesungguhnya bekerja, memiliki etos kerja yang tinggi adalah merupakan ibadah dan atau bemilai pahala di hadirot Allah SWT. Serta

Statistik) indikator yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat adalah sebagai berikut: pendapatan adalah penerimaan total kas yang diperoleh

Untuk menambah keefektifan maka Dinas Sosial menempatkan beberapa orang yang dikenal dengan nama TKSK (tenaga kesejahteraan sosial kecamatan). Adapun beberapa factor

Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa skripsi saya yang berjudul “Peran Pengelola Pasar Tradisional Dalam Kesejahteraan Pedagang Studi di Pasar Tradisional Desa Caturtunggal,

Dalam Islam perhubungan dapat dilakukan oleh seorang hamba dengan Allah SWT secara langsung, dan tidak berhajat adanya orang tengah sebagaimana yang terdapat pada

Dengan demikian pengertian pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah swt., sebagaimana Islam telah menjadi

Manusia tinjauan Islam Berbeda dengan teori filsafat dan psikologi dalam memaknai manusia, Islam memandang manusia sebagai kreasi terbaik Allah swt., makhluk yang diciptakan dalam