• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA LIMBAH SOLUSI PANGAN DAN ENERG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PARADIGMA LIMBAH SOLUSI PANGAN DAN ENERG"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

SOLUSI PANGAN DAN

ENERGI TANPA DEBAT

SYUKRI M NUR

(2)

02

BIOENERGI UTAMA INDONESIA

PARADIGMA LIMBAH:

SOLUSI PANGAN DAN ENERGI

TANPA DEBAT

Syukri M. Nur

Tim Kerja Bioenergi Nusantara

PENDAHULUAN

Setelah masyarakat dunia menyadari bahwa biomassa mampu menjadi salah satu penyokong energy-energi terbarukan bahkan dapat dikonversi dan tersedia dalam bentuk cair, padat dan gas, maka biomassa menjadi komoditi yang bernilai ekonomi.

(3)

Di Amerika Serikat, biomassa yang berasal dari jagung telah diubah menjadi bioetanol sebagai bentuk energi untuk mendukung transportasi. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan harga bahan pangan sebesar 15% karena petani berlomba-lomba mengalihkan produksi jagungnya ke etanol sementara itu suplai untuk pakan ternak dan pangan menjadi berkurang (Biello, 2013).

Konlik kepentingan ini akan terjadi juga bagi Indonesia jika komoditi jagung dan singkong beralih ke biofuel sementara keduanya dipersiapkan untuk pakan ternak dan bahan pangan. Inilah awal terjadinya perdebatan sengit karena ada konlik kepentingan antara pangan dengan energi.

Pertentangan kepentingan antara pangan dengan energi muncul karena dua alasan utama yaitu: Pertama, pada penggunaan lahan yang akan dikuatirkan akan lebih banyak digunakan untuk penyediaan energi daripada pangan. Kedua, terjadinya pilihan penggunaan suatu komoditi antara pangan atau untuk energi.

Artikel ini berupaya memberikan solusi bahwa pendayagunaan biomassa, terutama untuk wilayah Indonesia, tidak akan bertentangan bahkan mampu sinergis dengan memanfaatkan sisi lain dari biomassa pada komoditi pertanian dan pemilihan teknologi yang tepat dan terandalkan.

POTENSI BIOMASSA GLOBAL DAN NEGARA

Sejumlah penelitian telah banyak mengungkapkan potensi biomassa dunia, baik yang akan digunakan pada saat ini maupun sebagai data yang akan meyakinkan bahwa ketersediaannya cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dunia pada masa mendatang.

(4)

04

pertanian, tanaman energi pada lahan kritis, residu pertanian, limbah (residu) hutan, pupuk kandang dan limbah organik. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa kisaran potensi global biomassa primer (dalam waktu sekitar 50 tahun) adalah terhitung sangat luas di 33-1135 EJy-1. Tanaman energi dari lahan pertanian kelebihan memiliki potensi kontribusi terbesar (0-988 EJy-1).

Faktor penting menentukan ketersediaan biomassa untuk energi adalah: (1) permintaan di masa mendatang untuk makanan, ditentukan oleh pertumbuhan penduduk dan pola makan di masa depan; (2) Jenis sistem produksi pangan yang dapat diadopsi di seluruh dunia selama 50 tahun ke depan; (3) Produktivitas tanaman hutan dan energi; (4) peningkatan penggunaan berbahan bio; (5) Ketersediaan lahan yang terdegradasi; (6) adanya persaingan penggunaan lahan.

Penelitian potensi biomassa dari skala global dilanjutkan atau bersamaan juga dengan perhitungan potensi pada suatu negara baik oleh peneliti negara itu sendiri maupun oleh bekerjasama dengan peneliti lain. Berbagai hasilnya dapat diketemukan di jurnal-jurnal ilimiah seperti Fuel and Energy; Energy; Biomass and Bioenergy, dan lain-lain.

POTENSI BIOMASSA INDONESIA

Kajian Abdullah (2005) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa dari berbagai sumber yang dikatorikan limbah pertanian. Diperkirakan bahwa Indonesia memproduksi 146.700.000 ton biomassa per tahun, setara dengan sekitar 470 GJ/ tahun (Giga Joule per tahun). Sumber utama energi biomassa di Indonesia dapat diperoleh dari limbah padi yang memberikan terbesar potensi teknis energi 150 GJ/ tahun, kayu karet dengan 120 GJ/tahun, limbah pabrik gula dengan 78 GJ/tahun, limbah minyak kelapa 67 GJ/tahun, dan sisanya dengan lebih kecil dari GJ/tahun berasal dari kayu lapis dan veneer residu, limbah penebangan, residu kayu gergajian, residu kelapa, dan limbah pertanian.

(5)

Dari sisi ketersediaan lahan bukan masalah utama di Indonesia, karena terbentang 148 juta lahan kering dan 40,2 juta lahan basah. Luasan itu berpotensi ditanami komoditi untuk bioenergi seperti kelapa sawit, kelapa, tebu, kapas, ubi kayu, dan jagung sehingga mampu memenuhi target Tim Nasional Bahan Bakar Nabati yang harus menyediakan lahan 6,5 juta hektar. (Mulyani dan Las, 2008). Jadi tak ada argumentasi untuk mempertentangkan bahwa lahan bahan pangan diserobot oleh bahan baku energi.

Oleh karena itu buka “sebuah takdir”” bahwa biomassa untuk energi menjadi tersedia pada skala besar. Selanjutnya, hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang bertujuan untuk pasokan energi dari biomassa harus mengambil faktor-faktor seperti perkembangan sistem produksi pangan ke perhitungan skema pembangunan yang komprehensif. (Hoogwijk, 2003).

KEKUATIRAN MENJADI PERTENTANGAN

Awal pertentangan terjadi ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mengubah biomassa menjadi bioenergi, terutama biofuel yang menjadi kebutuhan mendesak karena kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak. Bagian biomassa yang digunakan adalah bahan pangan atau atau pakan, dengan contoh kasus gandum atau jagung.

Perubahan itu terjadi sebagai alternatif untuk mendapatkan keuntungan inansial karena harga bahan bakar lebih tinggi daripada harga bahan pangan. Pilihan itu terjadi saat harga bahan bakar meloncak, sementara harga bahan pangan masih rendah dan tidak menguntungkan bahkan dikuatirkan juga ikut naik.

(6)

06

Seorang pakar PBB, Jean Ziegler, mengatakan bahwa tumbuhnya untuk mengubah tanaman menjadi biofuel “kejahatan terhadap kemanusiaan” karena telah menciptakan kekurangan pangan dan mengirim harga pangan melonjak, meninggalkan jutaan orang miskin kelaparan.

Konversi lahan pertanian untuk tanaman yang digunakan untuk bahan bakar hijau telah menyebabkan ledakan harga pertanian yang menghukum negara-negara miskin terpaksa mengimpor makanan mereka dengan biaya yang lebih besar. Menggunakan lahan untuk biofuel akan menghasilkan “pembantaian” ... Ini adalah total bencana bagi mereka yang kelaparan ‘ (Lederer, 2007).

PRASYARAT SOLUSI

Pertentangan antara biomassa untuk pangan, energi, atau papan (iber) dapat dihindari jika dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Prioritas hasil pertanian komoditi pangan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

2. Biomassa untuk energi lebih mengutamakan bahan baku limbah.

3. Ketika melewati tahap produksi energi, maka prioritas pilihan adalam pemenuhan energi dalam negeri kemudian dapat dilakukan ekspor sebagai alternatif untuk mendapatkan keuntungan ekonomi bagi pengusaha dan negara.

4. Upaya utama yang harus dilakukan oleh suatu negara adalah penelitian dan pengembangan energi terbarukan untuk mendapatkan beragam pilihan teknologi konversi dan bahan baku untuk penyediaan energi berbasis biomassa.

SOLUSI TANPA DEBAT

Prasyarat solusi yang diajukan oleh penulis merupakan langkah awal menghindari konlik kepentingan antara pangan dan energi, apalagi papan. Kunci utamanya adalah penelitian dan pengembangan sebagai landasan menghindari debat tersebut.

(7)

Sarin (2012) memberikan beberapa alternatif solusi untuk menghindari konlik kepentingan antara pangan dan energi:

a. Gunakan campuran bidiesel secara optimum.

b. Kembangkan sumberdaya biofuel yang membutuhkan lahan-lahan kurang subur. c. Gunakan teknologi terakhir seperti bioteknologi yang mampu menghasilkan

tanaman dengan karakteristik gen yang mampu menghasilkan lebih banyak biofuel.

d. Dayagunakan lahan-lahan kosong

e. Keluarkan kebijakan dan aturan yang tepat.

f. Kembangkan kebijakan yang peduli lingkungan dan pembangunan yang pro pada pengentasan kemiskinan (pro-poor).

Pembaca dapat mengkaji lebih dalam tentang perdebatan ini berdasarkan artikel-artikel yang penulis kumpulkan dalam disusun dalam Bahan Bacaan.

PENUTUP

(8)

08

08

BAHAN BACAAN

Abdullah, K. 2005. Biomass Energy Potentials And Utilization In Indonesia. Artikel ini diakses di www.bioenergylists.org/.../p1_kamarrudin.doc.

Calle, F. R and D. O. Hall. 1987. Brazilian Alcohol: Food versus Fuel?Biomass 12 (1987) 97-128.

Chakravorty, U., M. H. Hubert., and L. Nostbaken. 2009. Fuel versus Food. Annu. Rev. Resour. Econ.1:645–63.

Clancy, J., S. L. R. Acha and W. Chen. 2014. Biofuels and Food Security: Biting off more than we can chew?Paper presented at WREC XIII, London 4 to 8 August 2014.

David, B. 2013. Food versus Fuel: Native Plants Make Better Ethanol. Scientiic American. January 16, 2013 diakses di http://www.scientiicamerican.com/ article/native-plants-on-marginal-lands-to-reduce-food-versus-fuel-from-biofuels/.

Hoogwijk M. et al., 2003. Exploration of the ranges of the global potentialof biomass for energy. Biomass and Bioenergy 25 (2003) 119 – 133.

Lam, M. K. et al., 2009. Malaysian palm oil: Surviving the food versus fuel dispute for a sustainable future. Renewable and Sustainable Energy Reviews 13: 1456– 1464.

Lederer, E. (2007) ‘Production of biofuels “is a crime”’, TheIndependent, 27 October, www.independent.co.uk/environment/green-living/production-of-biofuels-is-a-crime-398066.html.

Mulyani, A. I. Las. 2008. Potensi sumberdaya lahan dan optimalisasi pengembangan komoditas penghasil bioenergi di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, 27 (1). Rowe, D. G. 2011. Agriculture Beyond food versus fuel .NATURE. 474. 23 JUNE 2011. Sarin, A. 2012. The Food Versus Fuel Issue:Possible Solutions. In Biodiesel: Production

and Properties. Cambridge: RSC Pub. http://oclc-marc.ebrary.com/ Doc?id=10655136.

Timilsina, G. R. 2012. Biofuels: the food versus fuel debate. CAB Reviews 2012 7, No. 036.

Zhang, Z. et al., 2010. Food versus fuel: What do prices tell us?Energy Policy 38 (2010) 445–451.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja pada semua kegiatan dalam memproduksi padi di lahan sulfat masam dengan sistem tanam pindah, baik teknologi

Toleransi menurut KBBI berasal dari kata “toleran”, yang memiliki arti bersifat atau bersikap menenggang rasa terhadap pendirian atau pendapat yang berbeda atau

Remaja yang mengikuti kegiatan marhabanan remaja masjid Al-Karomah yang diharapkan memiliki perilaku Keagamaan yang baik pada dirinya, akan tetapi mereka melakukan

Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran model Discovery Learning dalam penelitian ini adalah guru menyampaikan tujuan pembelajaran, guru memberikan stimulus yang

Pada Gambar di atas terdapat informasi proses pekerjaan yang akan di input oleh SA (Service Advisor), Mekanik, Suku Cadang, Registrasi dan Order. Masing masing

Jumlah pestisida yang digunakan dalam waktu penyemprotan akan menimbulkan efek keracunan yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan satu jenis pestisida karena

[r]