PERAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN TEH (Camellia sinensis
(L) O. Kuntze) DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN
INDONESIA
Risya Nur Rayhani1*, Syipa Fauziah1*
1Mahasiswa Jurusan Agroteknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
*Email : [email protected]
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki oleh masyarakat.
Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor pertanian, yaitu Sub-sektor tanaman pangan, sub sektor perkebunan, sub sektor perikanan, sub sektor perternakan, dan sub sektor kehutanan. Sub sektor perkebunan mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam perekonomian, terutama dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, penerimaan devisa negara melalui ekspor, penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku industri dalam negeri, perolehan nilai tambah dan daya saing serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam harus diselenggarakan, dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan secara terencana, terbuka, terpadu, professional dan bertanggung-jawab, sehingga mampu meningkatkan perekonomian rakyat, bangsa dan negara.
mete, jarak, kapas, kapok, kayu manis, kemiri, kina, lada, pala, panili, rami, serat karung serta tanaman perkebunan lainnya (Badan Pusat Statistik, 2011).
Dalam hal ini berarti pembangunan sub-sektor perkebunan harus dapat mendorong pembangunan sektor lain, demikian pula memerlukan dukungan dari sektor lain. Jadi antara sub-sektor perkebunan dengan sub-sektor lainnya saling keterkaitan, bila hal ini terjadi maka akan sangat bermanfaat bagi tumbuhnya perekonomian di Indonesia.
Dengan terus bertambahnya produksi sub-sektor perkebunan, sehingga menyebabkan pemasaran ke luar daerah sebagai sumber pendapatan wilayah selanjutnya. Jika sub-sektor ini berkembang maka Output yang ditawarkan meningkat dan dapat menggerakan sektor-sektor yang menggunakan Input yang berasal dari sub-sektor perkebunan. Jika dianalisis melalaui analisis ekonomi basis maka sub-sektor perkebunan tergolong sektor basis baik ditinjau dari segi pendapatan maupun dari segi tenaga kerja, sehingga dampak pengembangan diharapkan pendapatan dan tenaga kerja dapat menunjang pembangunan wilayah.
membaik dan cebderung semakin berkembang dengan tingkat pendapatan perkapita saat ini 12 ribu dollar As.
Perkembangan produktivitas teh di Indonesia selama tahun 2003-2014 cenderung berfluktuasi. Produktivitas teh nasional tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar 1.571 kg/ha, namun pada tahun 2010 menurun menjadi 1.533 kg/ha dan pada tahun 2014 menjadi 1.464 kg/ha (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2014) Pola perkembangan produksi teh nasional serupa dengan pola perkembangan produksi teh PBN. Hal ini tidak luput dari besarnya kontribusi produksi teh dari PBN terhadap produksi teh nasional walaupun kontribusinya semakin meningkat. Sementara itu perkembangan produksi teh yang berasal dari PR dan PBS juga cenderung meningkat demikian juga dengan kontribusinya. Berdasarkan kontribusinya selama tahun 2010-2014, PBN menguasai 42,41% total produksi teh Indonesia, diikuti oleh PR dengan kontribusi sebesar 34,64% dan PBS sebesar 22,95% Pada tahun 2012 terjadi penurunan konsumsi teh per kapita per tahun yang cukup signifikan, konsumsi per kapita pada tahun tersebut sebesar 0,52 kg/tahun. Agar tidak terjadi penurunan konsumsi terus menerus maka pemerintah mengambil tindakan dengan melakukan promosi teh di dalam negeri yang berguna untuk mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat untuk minum teh. Pada tahun 2014 konsumsi the di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0,61 kg/kapita/tahun, dalam hal ini upaya pemerintah berhasil (Sekjen Kementan, 2015).
Posisi daya saing teh Indonesia di pasar Internasional bernilai positif. Daya saing teh Indonesia positif dikarenakan hasil analisis RCA teh Indonesia menunjukkan hasil rata-rata RCA > 1 (4,277). Posisi daya saing teh Indonesia masih kalah dibandingkan Kenya, Sri Lanka, India namun masih lebih tinggi dibanding dengan China. Analisis keunggulan kompetitif dengan Teori Porter menunjukkan bahwa komoditi teh Indonesia berdaya saing kuat karena faktor-faktor internal dan eksternal dalam produksi teh sudah tersedia, meski ada di beberapa faktor yang harus dibenahi lebih lanjut.
B. Kontribusi Teh bagu Perekonomian Indonesia
Peranan komoditas teh dalam perekonomian di Indonesia cukup strategis. Industri teh Indonesia pada tahun 1999 diperkirakan menyerap sekitar 300.000 pekerja dan menghidupi sekitar 1,2 juta jiwa. Selain itu, secara nasional industri teh menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp 1,2 triliun (0,3% dari total PDB nonmigas) dan menyumbang devisa bersih sekitar 110 juta dollar AS per tahun. Dari aspek lingkungan, usaha budidaya dan pengolahan teh termasuk jenis usaha yang mendukung konservasi tanah dan air (ATI, 2000).
Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) sebagai komoditas perkebunan memberikan kontribusi yang besar terhadap perolehan devisa negara dari komoditas non migas sub sektor perkebunan setelah kelapa sawit, karet, kelapa, kopi, dan kakao. Pada tahun 2012, volume perusahaan pemerintah pada komoditas teh mencapai 78.730 ton, swasta mencapai 34.673 ton ,dan petani mencapai 40.132 dari jumlah produksi yang dihasilkan sebesar 153.175 ton. Posisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara pengekspor teh terbesar keenam di dunia setelah India, Cina, Srilanka, Kenya, dan Uni Emirat Arab. Luas areal perkebunan teh tahun 2011 mencapai 132.554 ha. Luas areal perkebunan teh rakyat mencapai 28.105 ha, luas areal PT Perkebunan Nusantara sebesar 38.920 ha dan luas perkebunan swasta sebesar 56.529 ha. Hal tersebut berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, (2012).
Prospek pemasaran teh mempunyai progres yang baik, tetapi di sisi yang lain terjadi penurunan produksi teh, sehingga perlu untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi teh supaya permintaan teh dapat terpenuhi. Keadaan tertentu dimana permintaan meningkat dengan cepat sehingga pihak produsen berusaha meningkatkan produksinya secara maksimal. Produksi tanaman Teh di Indonesia baru mencapai 1.006 kg/ha/thn. Hal ini disebabkan antara lain oleh umur tanaman yang tua, rendahnya produksi dan mutu produksi yang dihasilkan serta terbatasnya penanggulangan hama dan penyakit (Atik, 2002).
Tabel 1
Produksi dan Ekspor Teh di Indonesia