View of PENDIDIKAN NILAI DALAM TEMBANG MACAPAT DHANDANGGULA

28 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1344

1Heru Budiono & Nara Setya Wiratama

1Dosen Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Nusantara PGRI Kediri,

2nara_setya@yahoo.com

Abstract:

Indonesia is an archipelago country full of culture and customs. Culture is very diverse and has the values of a noble and character, one of them is tembang macapat. Tembang macapat is a characteristic of Indonesian culture that has deep philosophical value and beauty. Tembang macapat has various functions as the bearer of speech, means of speech, the presentation of the expression of taste, the conveyor of the puzzle, the media of da’wah, the educational tools and the counseling, etc. Tembang Dhandanggula is one of the tembang macapat which describes the state of human life that has reached the stage of social establishment, welfare and has enjoyed his lifetime. The word dhandang means crow which symbolizes sorrow or sorrow. The word gula means sugar that has a sweet taste as a symbol of happiness or likes. Every family in the Javanese society should be able to surpass the sometimes sweet life of a household like sugar but sometimes also have to take bitter pills as a medicine to make them tougher, responsive and responsive in every circumstance. They can be called value education. Value education is included in affective learning strategies (attitudes). The affective learning strategy is not only aimed at achieving cognitive education, but also the attitudes and skills of a person. Affective ability is something that is difficult to measure because it is related to self-awareness of each person.

Keywords : Education, value, value education, tembang, macapat, tembang macapat, dhandhanggula.

Abstrak:

(2)

tersebut adalah sebagai nilai-nilai pendidikan. Nilai pendidikan tersebut sudah semestinya diinternalisasikan ke dalam strategi pembelajaran afektif (attitude). Strategi pembelajaran

afektif tidak hanya ditujukan untuk mencapai pendidikan kognitif, tapi juga sikap dan keterampilan seseorang. Kemampuan afektif adalah objek yang sulit diukur karena berkaitan dengan kesadaran diri setiap orang.

Kata kunci: Pendidikan, nilai, nilai pendidikan, tembang, macapat, tembang macapat, dhandhanggula

Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh dengan budaya dan adat istiadat. Budayatersebut sangatlah beragam dan memiliki nilai-nilai yang adiluhung serta berkarakter. Indonesia dikenal sebagai bangsa Timur yang ramah, santun, andhap-asor, lembahmanah,suka

bergotong royong, dan religius. Negara yang dikenal sebagai bangsa multi agama, multi etnis, multi kulturnamun dapat bersatu di atas panji-panji Bhineka Tunggal Ika. Negara yang subur

makmur tata tentrem gemah ripah loh jinawi

(wiratama, 2014: 2).

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU RI No 20 th 2003, 2012: 11).

Pembelajaran sejarah merupakan ilmu yang tidak dapat dipisahkan dalam mendidik generasi muda. Melalui pelajaran inilah, guru di Sekolah menengah atas dapat memberikan fondasi kebangsaan. Di sekolah pelajaran Sejarah seringkali dikenal sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik karena harus menghafalkan nama-nama tokoh, tanggal, peristiwa, dan angka tahun. Minat peserta didik sangat kurang dibandingkan minat pelajaran lainnya khususnya pelajaran ilmu alam. Hal ini disebabkan pembelajaran Sejarah yang diajarkan hanya bersifat kontekstual dan hanya sebatas menghafal. Selain faktor diatas juga ada faktor selanjutnya, yaitu kurangnya guru memaksimalkan model dan media pembelajaran guna menarik minat peserta didik.

Arikunto (1993: 211) menyatakan bahwa para guru mempunyai peranan penting dan

diharapkan dapatmemberikan sumbangan besar bagi kemajuan bangsa yaitu dapatmembimbing para peserta didik agar menguasai ilmu dan keterampilan yang bergunaserta memiliki sikap positif. Selain itu diharapkan juga guru dapat menyajikanpelajaran yang cocok dengan kebutuhan dan keadaan peserta didik serta menyajikanpelajaran yang berguna dan ber-manfaat bagi mereka. Seorangguru diharapkan mempunyai kualitas pembelajaran yang bervariasi sesuaidengan kurikulum yang di sajikan. Kurikulum bukan sekedar materi pelajaransaja tetapi metode, strategi, pengelolaan peserta didik dan lain-lain merupakan aspekkurikulum.

Perkembangan peradaban duniayang semakin maju, seseorang dapat mengalami peristiwa’kebanjiran budaya’ (culturally overn helmed) yaitumunculnya pengaruh dari dua

budaya atau lebih sekaligus,atau bersama-sama (Spradley dalam Nugrahani, 2008:16).Langkah awal untuk mengatasi hal ini yaitu kembali kebudaya lokal Indonesia sebagai landasan dalam kehidupanbermasyarakat khususnya masyarakat Jawa.

KebudayaanJawa telah berusia ribuan tahun. Salah satu bagian darikebudayaan tersebut adalah kesenian, khususnya senitembang. Seni tembang dalam budaya Jawa mengandungunsur estetis, etis dan historis (Purwadi, 2010: 4).

Tembangmacapat merupakan ciri khas kebudayaan

Indonesia yangmemiliki nilai filosofis mendalam serta keindahan saat dilantunkan. Tembang macapat dihiasi pula dengan anekasimbol di

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Nilai

Nilai berasal dari bahasa latin yaitu valere

yang berarti berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, sehingga nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, dikejar, dihargai, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya menjadi bermartabat (Adisusilo, 2014: 56).

Nilai merupakan suatu konsep yang ber ada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi, tidak berada di dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain sebagainya. Oleh karena itulah nilai pada dasarnya sntandar perilkau, ukuran menentukan atau kriteria seseorang tentang baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, dan lain sebagainya, sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman nilai kepada peserta didik dengan harapan agar peserta didik dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku (Sanjaya, 2014:274).

Fraenkel (dalam Agung dan Suryani, 2012: 124-125), mengemuka-kan beberapa tentang ciri nilai sebagai berikut: (1) nilai adalah suatu konsep yang tidak berada di dalam dunia empiria, tetapi di dalam pikiran manusia. Studi tentang nilai biasanya berada di lapangan estetika dan etika. Estetika terkait dengan apa yang indah, enak dinikmati, sedangkan etika berhubungan dengan bagaimana seahrusnya orang berperilaku; (2) nilai adalah standar perilaku, ukuran menentukan yang indah apa yang berharga, yang ingin dipelihara dan dipertahankan sebagai standar, nilai merupakan pedoman untuk menentukan pilihan, antara lain perbuatan apa yang patut dilakukan; (3) nilai itu direfleksikan dalam perkataan atau perbuatan. Nilai itu sangat abstrak dan menjadi konkret bila seseorang bertindak dengan cara tertentu; (4) nilai itu merupakan abstraksi atau idealis manusia tentang apa yang dianggap paling penting dalam hidup mereka.

Pendidikan nilai termasuk dalam strategi pembelajaran afektif (sikap). Strategi pem-belajaran afektif bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, melainkan juga sikap dan keterampilan seseorang. Ke-mampuan afektif merupakan sesuatu hal yang sulit untuk diukur karena memang berhubungan dengan kesadaran diri dari setiap pribadi. Kemampuan aspek afektif, misalnya tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, religius, solidaritas sosial, dan lain sebagainya ini harus menjadi salah satu tujuan dari sekolah lewat proses pembelajaran. Dengan demikian, peserta didik selain mendapat aspek kognitif, juga memiliki nation character buliding

yang dapat diimplemtasikan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tembang Macapat

Kata tembang sebagai nyanyian bersinonim

dengan kidung, kakawin, dan gita. Kata kakawin

berasal dari kawi (bahasa Sansekerta) yang

berarti penyair. Kakawin berarti syair, gubahan,

kidung, nyanyian (Mardiwarsito, dalam Sahlan A dan Mulyono, 2012: 104). Kata kidung berarti

nyanyian, sudah dikenal sejak terciptanya karya sastra Jawa Kuno. Kata tembang baru.

Tembang macapat merupakan bagian

penting dari budaya Indonesia utamanya Jawa. Kandungan isinya memiliki berbagai fungsi sebagai pembawa amanat, sarana penutu ran, penyampaian ungkapan rasa, media penggamba-ran suasana, penghantar teka-teki, media dakwah, alat pendidikan serta penyuluhan, dan sebagainya (Purna,1996:3).Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra

mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan)

tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Pada umumnya macapat diartikan sebagai maca papat papat (membaca empat-empat),

yaitu cara membaca terjalin tiap empat suku kata.

Macapat sebagai sebutan puisi jawa pertengahan

dan jawa baru hingga kini masih digemari masyarakat. Jenis tembang ada tiga yaitu tembang alit, tembang tengahan dan tembang gedhe. Tembang gedhe atau tembang kawi adalah puisi

jawa yang aturan penciptaannya mirip dengan

kakawin, sedangkan tembang tengahan adalah

(4)

15-16), sedangkan tembang macapat masuk kedalam

tembang cilik atau alit.

Tembang macapat (yang mencakup 11

metrum) di ciptakan oleh Prabu Dewawasesa atau Prabu Banjaran Sari di Sigaluh pada tahun Jawa 1191 atau tahun Masehi 1279 (Sahlan A, dan Mulyono. 2012: 106). Menurut sumber lain, macapat tidak hanya diciptakan oleh satu orang, tetapi oleh beberapa orang wali dan bangsawan (Laginem,1996:27). Para pencipta itu adalah Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muryapada, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra dan Adipati Nata Praja Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa

tembang macapat Asmaradana dan Pucung

adalah ciptaan Sunan Giri. Tembang macapat

Sinom dan Kinanthi ialah ciptaan Sunan Muria. Meskipun ada sedikit perbedaan, beberapa pendapat tersebut akan mengarahkan perhatian untuk berkesimpulan sementara bahwa tembang macapat memang ciptaan para Wali yang besar

perhatiannya terhadap seni Jawa. Sejak itu para Wali Sanga, mulai berkiprah menyebarkan agama Islam.

Nilai-nilai Pendidikan dalam Tembang Macapat Dhandanggula

Ada beberapa nilai karakter sebagai bagian dari nilai kearifan lokal yang penting untuk ditanamkan dalam pembentukan kepriba-dianpeserta didik. Berbagai karakter tersebut sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang mengandung nilai luhur universal, meliputi: 1) cinta kepada Tuhan dan alam semesta, 2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, 3) kejujuran, 4) hormat dan sopan santun, 5) kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, 8) baik dan rendah hati, 9) toleransi, cinta damai, dan persatuan. Nilai karakter di atas sudah ada dalam tembang macapat sebagai hasil karya

nenek moyang bangsa Indonesia, khususnya

macapat dhandanggula.

TembangDhandanggula meng-gambarkan

keadaan kehidupan manusia yang telah mencapai tahap kemapanan sosial, kesejahteraan telah tercapai dan telah menikmati masa hidupnya. Kata dhandang berarti burung gagak yang

melambangkan kesedihan atau duka. Kata gula

berarti gula yang mempunyai rasa manis sebagai lambang kebahagiaan atau suka (Heliarta, S, 2009: 45). Setiap keluarga dalam masyarakat Jawa harus mampu melampui kehidupan berumah tangga yang terkadang manis seperti gula tetapi terkadang mereka juga harus mau untuk menelan pil pahit sebagai obat untuk men jadikan mereka lebih tangguh, tanggon dan tanggap dalam setiap keadaan. Dhangdhanggula,

mem bawakan suasana yang serba manis, menye nangkan, santai dan mengungkapkan rasa kasih (Depdikbud,1996:6). Berikut contoh

tembang Dhangdhanggula, sekaligus nilai-nilai

didalamnya:

werdi ingkang wasita jinarwi 10i wruh ing kukum iku watekira 10a ngupa boga dene kalakuwan becik 12i weh rahayuning raga 7a

(Purwadi, 2011: 25)

Pemaknaan Tembang

Pesan-pesan yang tersirat dalam tembang dhandanggula diatas berupa nasehat yang

berkaitan dengan sifat dan sikap yang pantas dimiliki dan dihayati oleh setiap orang. Seseorang haruslah menjauhi perbuatan keji dan munkar, yang pada akhirnya hanya menyusahkan diri sendiri. Sebaiknya seseorang harus mematuhi norma-norma yang berlaku disekitarnya, bersikap sopan santun terhadap sesama. Baik dalam berbicara, sikap duduk, dan sebagainya.

Masyarakat Jawa dahulu dikenal oleh bangsa asing sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kesopanan, saling menghargai, dan sopan santun. Orang yang memiliki perilaku seperti ini dalam bermasyarakat akan disegani karena sikap dan perbuatannya yang ramah, baik, dalam bergaul. Orang ini akan ringan tangan dalam membantu sesama dan terasa ringan dalam menjalani kehidupannya.

(5)

karakter jujur, bersahabat, serta peduli sosial. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan bekerja sama dengan orang lain (Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, 2009: 9-10).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh dengan budaya dan adat istiadat. Budaya tersebut sangatlah beragam dan memiliki nilai-nilai yang adiluhung serta berkarakter.Pendidikan nilai termasuk dalam strategi pembelajaran afektif (sikap). Strategi pembelajaran afektif bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, melainkan juga sikap dan keterampilan seseorang. Kemampuan afektif merupakan sesuatu hal yang sulit untuk diukur karena memang berhubungan dengan kesadaran diri dari setiap pribadi. Kemampuan aspek afektif, misalnya tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, religius, solidaritas sosial, dan lain sebagainya ini harus menjadi salah satu tujuan dari sekolah lewat proses pembelajaran.

Tembang Dhandanggula menggambarkan

keadaan kehidupan manusia yang telah mencapai tahap kemapanan sosial, kesejahteraan telah tercapai dan telah menikmati masa hidupnya. Kata dhandang berarti burung gagak yang

melambangkan kesedihan atau duka. Kata gula

berarti gula yang mempunyai rasa manis sebagai lambang kebahagiaan atau suka. Setiap keluarga dalam masyarakat Jawa harus mampu melampui kehidupan berumah tangga yang terkadang manis seperti gula tetapi terkadang mereka juga harus mau untuk menelan pil pahit sebagai obat untuk menjadikan mereka lebih tangguh, tanggon dan tanggap dalam setiap keadaan. Dhangdhanggula,

membawakan suasana yang serba manis, menyenangkan, santai dan mengungkapkan rasa kasih.

Saran

(Filenya nggak ada sarannya)

Daftar Pustaka

Adisusilo, Sutarjo.2014. Pembelajaran Nilai Karakter (Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajan Afektif). Jakarta: Rajawali Press.

Agung, dan Suryani. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Ombak.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Peng-ajar an. Jakarta:Rineka Cipta.

Chodjim, A. 2013. Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga.Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Depdikbud RI. 1996/1997. Macapat dan Gotong Royong. Jakarta: Depsikbud RI.

Heliarta, S. 2009. Seni Karawitan Jawa. Semarang: Aneka Ilmu.

Laginem dkk. 1996. Macapat Tradisional Dalam Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan

dan Pengembangan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nugrahani, Farida. 2008. Reaktualisai Pem-belajaran Bahasa dan Sastra Jawa dalam Konteks Multikultural dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nugrahani, Farida. 2012. Reaktualisasi Tembang Dolanan Jawa Dalam Rangka Pemben-tukan Karakter Bangsa(Kajian Semiotik).

Program Pascasarjana Universitas Veteran. Purna, I Made. dkk. 1996. Macapat dan

Gotong Royong, Macapat dan Gotong Royong, Jakarta: Direktorat Sejarah dan

Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Purwadi. 2011. Diktat, Seni Tembang II.

Yogyakarta: Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta

Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas, 2009,

Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah,

Jakarta: Puskur Balitbang Kemdiknas. Sahlan, A dan Mulyono. 2012. Pengaruh

Islam Terhadap Budaya Jawa Tembang Macapat. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN

(6)

Sanjaya, W.2013. Perencanaan&DesainSistemP embelajaran. Jakarta: Kencana.

Sundari, Asri. 2005. Buku Ajar Sastra Daerah.

Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.

Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2012. Yogyakarta: Laksana.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...