PENGUATAN KELEMBAGA AN
KOMITE SEKOLAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR
KEGIATAN PEMBINAAN DEWAN PENDIDIKAN/KOMITE SEKOLAH YANG TERBINA
JAKARTA, 2012
SAMBUTAN SEKRETARIS DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR
Peran serta masyarakat dalam bidang pendidikan merupakan amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peran serta masyarakat tersebut diwujudkan dalam wadah Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah untuk meningkatkan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan. Agar Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dapat melaksanakan fungsi tersebut secara optimal, maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah perlu ditingkatkan kinerjanya, melalui upaya pemberdayaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Secara kuantitatif, Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota telah dibentuk di hampir di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Demikian pula, Komite Sekolah telah dibentuk di seluruh satuan pendidikan di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Namun secara kualitatif, keberadaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/Madrasah memang belum sepenuhnya dapat mendorong peningkatan mutu layanan pendidikan. Salah satu faktor penyebabnya antara lain karena masih rendahnya pemahaman masyarakat dan pemangku kepentingan pendidikan (stakeholder) tentang kedudukan, fungsi dan tugas Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Untuk meningkatkan kinerja Komite Sekolah/Madrasah, maka diluncurkan program pemberdayaan Komite Sekolah, yang akan dilakukan secara bottom-up oleh Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota. Untuk itu, kegiatan TOT Fasilitator Pemberdayaan Komite Sekolah dimaksudkan untuk menyiapkan SDM-nya. Sedang untuk menyiapkan materinya, telah disiapkan Modul Pemberdayaan Komite Sekolah ini berserta paparan power point-nya.
Kami menaruh harapan besar agar modul ini dapat menjadi bahan yang bermanfaat untuk meningkatkan kinerja Komite Sekolah. Kepada tim penulis dan pemandu kegiatan TOT Pemberdayaan Komite Sekolah, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih.
Jakarta, Maret 2012
a.n. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Sekretaris Direktorat Jenderal,
KATA PENGANTAR
Dalam paradigma lama, hubungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dipandang sebagai institusi yang terpisah-pisah. Pihak keluarga dan masyarakat dipandang tabu untuk ikut campur tangan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Apalagi sampai masuk ke wilayah kewenangan profesional para guru. Dewasa ini, paradigma lama ini dalam batas-batas tertentu telah ditinggalkan. Keluarga memiliki hak untuk mengetahui tentang apa saja yang diajarkan oleh guru di sekolah. Orangtua siswa memiliki hak untuk mengetahui dengan metode apa anak-anaknya diajar oleh guru-guru mereka. Dalam paradigma transisional, hubungan keluarga dan sekolah sudah mulai terjalin, tetapi masyarakat belum melakukan kontak dengan sekolah. Dalam paradigma baru (new paradigm) hubungan keluarga, sekolah, dan masyarakat harus terjalin secara sinergis untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan, termasuk untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa di sekolah.
Sekolah adalah sebuah pranata sosial yang bersistem, terdiri atas komponen-komponen yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. Komponen utama sekolah adalah siswa, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, kurikulum, serta fasiltias pendidikan. Selain itu, pemangku kepentingan (stakeholder) juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini orangtua dan masyarakat merupakan pemangku kepentingan yang harus dapat bekerja sama secara sinergis dengan sekolah.
Proses penyelenggaraan pendidikan kini menggunakan pola manajemen yang dikenal dengan manajemen berbasis sekolah (MBS), yang dalam aspek teknis edukatif dikenal dengan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). Untuk itu, maka orangtua siswa, khususnya yang tergabung dalam Komite Sekolah juga harus memahami pola manajemen sekolah tersebut.
dengan konsep PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan). Ini merupakan satu bentuk keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu, Komite Sekolah perlu memahami wawasan kependidikan tersebut.
Modul dua ini meliputi lima bagian yang saling terkait, yaitu: (1) Perkembangan Komite Sekolah, (2) Pembentukan Komite Sekolah Berdasarkan PP Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, (3) Model Pembentukan dan Pemilihan Pengurus Baru Komite Sekolah (4) Pelaksanaan Fungsi dan Tugas Komite Sekolah untuk Peningkatan Mutu Layanan Pendidikan Dasar, dan (5) Membangun Hubungan Kemitraan dan Kerja Sama Secara Sinergis Antara Komite Sekolah dengan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat.
DAFTAR ISI
SAMBUTAN SEKRETARIS DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR --- iii
KATA PENGANTAR --- v
DAFTAR ISI --- vii
MODUL 2.1: PERKEMBANGAN KOMITE SEKOLAH --- 1
A. PENDAHULUAN --- 1
B. SEJARAH KELAHIRAN KOMITE SEKOLAH --- 2
C. PENUTUP --- 7
MODUL 2.2: PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN --- 9
A. PENDAHULUAN --- 9
B. PRAKTIK PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH --- 9
C. KETENTUAN POKOK TENTANG KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN --- 11
D. MEKANISME PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN 2010 --- 13
E. PENUTUP --- 13
MODUL 2.3: MODEL PEMBENTUKAN DAN PEMILIHAN PENGURUS BARU KOMITE SEKOLAH --- 15
A. PENDAHULUAN --- 15
B. MAKSUD, TUJUAN, KELUARAN (OUTPUT), HASIL (OUTCOME)PEMBENTUKAN, DAN PEMILIHAN PENGURUS BARU KOMITE SEKOLAH --- 16
D. KEGIATAN, LANGKAH KEGIATAN, DURASI, DAN KELUARAN YANG
DIHASILKAN --- 19
E. KEGIATAN, LANGKAH KEGIATAN, DURASI, DAN KELUARAN YANG DIHASILKAN --- 19
MODUL 2.4: PELAKSANAAN FUNGSI DAN TUGAS KOMITE SEKOLAH UNTUK PENINGKATAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN DASAR --- 33
A. PENDAHULUAN --- 33
B. PENINGKATAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN DASAR --- 34
C. PELAKSANAAN FUNGSI KOMITE SEKOLAH --- 34
D. PELAKSANAAN TUGAS KOMITE SEKOLAH --- 36
E. PENUTUP --- 37
MODUL 2.5: MEMBANGUN HUBUNGAN KEMITRAAN DAN KERJASAMA SECARA SINERGIS ANTARA KOMITE SEKOLAH DENGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT --- 39
A. PENDAHULUAN --- 39
B. SIFAT-SIFAT DASAR KEMITRAAN --- 39
C. PRINSIP HUBUNGAN KEMITRAAN ANTARA KOMITE SEKOLAH DENGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT --- 40
D. MENGAPA PERLU KEMITRAAN --- 41
E. JENJANG KERJASAMA DALAM KEMITRAAN --- 42
F. MEMBANGUN HUBUNGAN KEMITRAAN OLEH KOMITE SEKOLAH --- 43
G. PENUTUP --- 45
PAPARAN 2.1: PERKEMBANGAN KOMITE SEKOLAH --- 46
PAPARAN 2.2: PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN --- 49
PAPARAN 2.3: MODEL PEMBENTUKAN DAN PEMILIHAN PENGURUS BARU KOMITE SEKOLAH --- 52
PAPARAN 2.4: PELAKSANAAN FUNGSI DAN TUGAS KOMITE SEKOLAH UNTUK PENINGKATAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN DASAR --- 53
MODUL 2.1:
PERKEMBANGAN KOMITE SEKOLAH
A. PENDAHULUAN
Satu hal yang patut disyukuri pada era reformasi adalah imbas positif terhadap dunia
pendidikan. Otonomi Daerah yang dilegalisasi lewat Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004, telah menjadi rahim yang telah melahirkan desentralisasi pendidikan. Paradigma lama yang menempatkan pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan utama (sentralisasi) dikikis sedemikian rupa menjadi paradigma baru yang lebih populis yang melibatkan peran serta masyarkat, baik dalam penentuan kebijakan pendidikan sekaligus dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan.
Ciri desentralisasi pendidikan antara lain adalah adanya pelibatan orangtua siswa dan masyarakat dalam menentukan kebijakan pendidikan. Dua komponen ini bekerjasama dengan sekolah, duduk dalam satu meja, merencanakan dan mendiskusikan bagaimana menyelesaikan masalah pemerataan pendidikan sekaligus juga meningkatkan mutu pendidikan.
Dulu, sebelum reformasi, antara orangtua dan pihak sekolah diwadahi dalam lembaga Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG). Kemudian, sejak 1993, POMG berubah menjadi Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3). Badan inilah yang secara fungsional membantu sekolah menyelesaikan persoalan pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Namun dalam perjalanannya, badan ini sekadar berperan dalam
aspek inansial. Secara hierarkis pun dikontrol oleh kepala sekolah dan menjadi alat
legalitas untuk menarik berbagai pungutan kepada orangtua siswa.
Memasuki era desentralisasi pendidikan, upaya pelibatan orangtua siswa dan sekolah dalam satu wadah diperkaya lagi dengan memasukkan unsur masyarakat. Ketiga komponen ini disatukan dalam wadah Komite Sekolah sesuai Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite sekolah.
Komite Sekolah merupakan badan mandiri yang dibentuk dalam rangka
meningkatkan mutu, pemerataan, dan eisiensi pengelolaan pendidikan di satuan
sekolah. Ia merupakan badan independen yang tidak memiliki hubungan hierarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan sekolah.
B. SEJARAH KELAHIRAN KOMITE SEKOLAH
Sejak kelahiran Komite Sekolah pada tahun 2002 berdasarkan Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, lembaga yang dikenal dengan Komite Sekolah telah mengalami perkembangan konsep dan kelembagaan sebagai berikut:
1. POMG dan BP3
Latar belakang kelahiran Komite Sekolah tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan organisasi pendahulunya, yakni Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG) dan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Secara nasional BP3 lebih banyak digunakan, karena diatur dalam Keputusan Mendikbud Nomor 0293/U/1993 tentang Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan. Sementara sebutan POMG dikenal sebelum Kepmendibud tersebut diterbitkan. POMG dan BP3 inilah yang sejak lama telah ada dan berperan cukup aktif dalam memberikan dukungan dan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Secara konseptual, lembaga ini memang memiliki segi-segi positif dan negatif. Dari segi positif, peran BP3 kurang lebih memang sama dengan peran Komite Sekolah yang ada sekarang. Lembaga ini sama dengan lembaga yang ada di bebrapa negara lain, seperti Persatuan Ibu Bapa dan Guru (PIBG) di Malaysia, atau Parent Teacher Organization (PTO) atau Parent Teacher Association (PTA) di beberapa negara maju. Namun demikian, proses pembentukan BP3 di Indonesia terlalu diatur dari pemerintah pusat, dengan AD/ART dan rambu-rambu program kerja yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam AD/ART tersebut ditetapkan bahwa Kepala Sekolah berstatus sebagai pembina, dengan kedudukan berada di atas BP3 dan memiliki hubungan hierarkis dengan BP3. Meski peran BP3 memang tidak hanya dalam aspek pemberian bantuan dalam bidang finansial atau keuangan, namun dalam praktik di lapangan peran utama BP3 memang terbatas kepada peran finansial tersebut.
Ketika krisis moneter menimpa beberapa negara-negara industri baru (new industrialized countries) di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, negeri yang memiliki kekayaan alam yang besar ini ternyata harus menelan pil pahit berupa pinjaman ataupun bantuan dari negara atau sindikasi negara donor yang ternyata menjadi beban yang begitu berat dalam pengembalian bunganya.
2. Komite Sekolah – Jaring Pengaman Sosial (KS – JPS)
Pada era krisis ekonomi tersebut, untuk memberikan bantuan kepada siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan tujuan agar tidak sampai putus sekolah, pemerintah mengadakan satu program yang dikenal dengan Jaring Pengaman Sosial (JPS). Untuk menentukan sasaran program JPS, dibentuklah apa yang disebut dengan Komite Kabupaten, Komite Kecamatan, dan Komite Sekolah. Komite Sekolah versi JPS ini sama sekali tidaklah sama dengan Komite Sekolah versi Kepmendiknas. Jika orang bertanya tentang Komite Sekolah, maka yang perlu ditanyakan adalah Komite Sekolah yang mana. Karena selama ini memang ada dua nama Komite Sekolah. Pertama, Komite Sekolah yang terkait dengan program Jaring Pengaman Sosial ini. Sebut saja dengan istilah KS-JPS. Kedua, Komite Sekolah sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002.
Komite Sekolah versi Jaring Pengaman Sosial (KS-JPS) sama sekali berbeda dengan Komite Sekolah yang tertuang di dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002. Ketua KS-JPS di tingkat sekolah adalah Kepala Sekolah, dan Ketua KS-JPS di tingkat kabupaten adalah Bappeda. Dalam KS-JPS ini, para birokrat masih menjadi pemegang kebijakan yang amat menentukan. Sedang Ketua Komite Sekolah, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002, harus dipilih secara transparan dan demokratis, serta tidak boleh dari unsur birokrasi. Hal ini perlu diklarifikasi lebih dahulu, karena sampai saat ini ternyata masih ada anggapan sebagian kalangan masyarakat yang menyatakan bahwa Komite Sekolah merupakan bentuk lain dari KS-JPS atau transformasi dari BP3 atau POMG Kabupaten
Perbedaan antara KS-JPS dengan KS dapat diperjelas dalam tabel berikut: Tabel 1: Perbedaan KS Nomor 044/U/2002 dengan KS - JPS
Pembeda KS – JPS KS
Dasar Hukum Ketentuan tentang Penyaluran Dana Jaring Pengaman Sosial (JKS)
Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah
Pembeda KS – JPS KS
Kedudukan Organisasi
1. Komite Kabupaten/Kota 2. Komite Kecamatan 3. Komite Sekolah
1. Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/ tingkat provinsi atau di tingkat kecamatan.
2. Ketua di tingkat
keca-matan: Kepala Cabang Dinas Kecamatan
3. Ketua di tingkat sekolah:
Kepala Sekolah
Ketua tidak boleh dari unsur birokrasi, dipilih secara demokratis dan transparan.
Proses penentuan pengurus dan anggota
Ditetapkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Dipilih secara demokratis dan transparan dalam rapat pemilihan pengurus. Tugas dan kegiatan Menentukan sekolah yang
akan menerima dana JPS, dan menyalurkan dana kepada yang berhak menerima
Wadah mandiri peran serta masyarakat untuk meningkatkan penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah Masa berlakunya Akan berakhir jika proyek
Jaring Pengaman Sosial (JPS) selesai.
Masa berlakunya tergantung kepada AD dan ART berdasarkan atas kebutuhan masyarakat. Sumber: dari berbagai referensi.
menjadi wadah peran serta orangtua dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Namun demikian, keberadaan KS-JPS dapat saja dijadikan sebagai embrio kelahiran Komite Sekolah yang sebenarnya, seperti keberadaan BP3 atau POMG, yang juga dapat dijadikan sebagai embrio kelahiran Komite Sekolah di suatu sekolah, atau setidaknya dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran dan pertimbangan dalam proses pembentukan Komite Sekolah.
Dengan tegas dinyatakan dalam Kepmendiknas tersebut bahwa Komite Sekolah adalah “badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan”. Dalam Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tersebut ditegaskan bahwa Dewan Pendidikan (DP) berkedudukan di kabupaten/kota, sedang Komite Sekolah (KS) berkedudukan di satuan pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah.
3. Kelahiran Komite Sekolah
Ketentuan tentang Komite Sekolah tertuang dalam UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000 – 2004. Karena itu, dapat dikatakan bahwa UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Propenas merupakan ibu yang melahirkan Komite Sekolah. Dalam hal ini Bappenas yang berhasil memfasilitasi perumusan ketentuan tersebut berdasarkan hasil studi banding di berbagai negara yang maju, seperti Kanada.
Setelah melalui proses pembahasan yang cukup panjang, akhirnya istilah itu berubah menjadi Komite Sekolah sebagaimana tertuang dalam Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Mulanya istilah yang akan digunakan untuk Komite Sekolah adalah Komite Pendidikan. Namun akhirnya ditetapkan dengan istilah Komite Sekolah. Nama ini diadopsi dari nama School Board atau School Council dan Board of Education yang ada di beberapa Negara maju seperti di Kanada dan Amerika Serikat.
Dengan demikian, Komite Sekolah lahir dari rahim Propenas. Sedang kelahirannya dibidani oleh Departemen Pendidikan Nasional bersama Bappenas, Departemen Dalam Negeri, Departemen Agama, yang akhirnya berhasil melahirkan Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
saat proses pembentukan lembaga ini secara transparan, demokratis, dan akuntabel. Karena itu, setiap daerah dan sekolah diberi kebebasan untuk menentukan nama yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Seperti di Provinsi Jawa Barat, lebih banyak digunakan nama Dewan Pendidikan untuk tingkat kabupaten/kota, dan nama Dewan Sekolah untuk satuan pendidikan. Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang, ternyata lebih menyukai nama Majelis Sekolah untuk tingkat satuan pendidikan, sebagaimana digunakan di madrasah-madrasah yang dibina oleh Departemen Agama.
Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan Komite Sekolah diperkuat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
4. UU Nomor 22 Tahun 1999 jo. UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Mempercepat Kelahiran Komite Sekolah
Kelahiran UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah merupakan titik awal (starting point) perubahan paradigma pemerintahan di Indonesia, yakni dari sentralisasi ke desentralisasi. Berdasarkan UU ini, urusan pendidikan telah banyak yang diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. Urusan pendidikan yang masih menjadi urusan pemerintah pusat tinggal enam hal, yaitu:
a. penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar,
b. pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pelaksanaannya,
c. penetapan standar materi pelajaran pokok,
d. menjaga keberhasilan proses pendidikan yang bermutu, e. pengaturan dan pengembangan pendidikan jarak jauh, f, pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia.
Meskipun sebagian besar kewenangan dalam urusan pendidikan telah dilimpahkan kepada pemerintah kabupaten/kota, namun antara pemerintah pusat dan daerah tidak berarti lepas atau tidak ada hubungan sama sekali. Kewenangan pemerintah pusat dalam penetapan standar, norma, dan acuan bagi daerah dapat menjadi media yang amat efektif untuk tetap menjalin hubungan dan kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah.
Pada era desentralisasi pendidikan, peran serta orangtua dan masyarakat diharapkan akan semakin bertambah besar. Peningkatan peran serta orangtua dan masyarakat ini menjadi penting, dengan dua asalan sebagai berikut:
swasta. Sebagaimana kita ketahui, sekolah swasta, lembaga pendidikan swasta dalam berbagai hal ternyata justru lebih berkualitas dibandingkan dengan sekolah negeri, misalnya Lembaga Pendidikan Al Azhar, Lembaga Pendidikan Al Izhar, Lembaga Pendidikan Pangudiluhur, Lembaga Pendidikan Pelita Harapan, dan masih banyak yang lainnya.
Kedua, pelibatan peran serta orangtua dan masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan akan menjadi lebih efektif dengan adanya sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.
Berdasarkan kedua pertimbangan tersebut, pelaksanaan otonomi daerah dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 pada hakikatnya dapat disebut sebagai otonomi masyarakat. Dengan pertimbangan ini, maka kebijakan pemerintah tentang pendidikan berbasis masyarakat luas (broad-based education), partisipasi pendidikan berbasis masyarakat (community-based participation), danatau pembentukan Komite Sekolah, pada hakikatnya selaras dengan konsepsi otonomi daerah sebagaimana dituangkan di dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 yang sekarang telah disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004.
Salah satu alasan perlunya desentralisasi dan otonomi pendidikan digulirkan antara lain adalah untuk memperpendek jarak antara pusat dan daerah. Dengan otonomi pendidikan, permasalahan yang terjadi di nun jauh di daerah tidak harus menunggu penanganan oleh pemerintah pusat, tetapi dalam dipecahkan sendiri oleh daerah, bahkan oleh sekolah. Berbagai ragam masalah sekolah, misalnya tentang atap bocor, cat gedung sekolah yang sudah mulai kusam, dan kertas atau alat tulis kantor (ATK) yang diperlukan oleh tata usaha atau diperlukan untuk membuat soal oleh para guru, tidaklah harus menunggu bantuan dari pusat. Kepentingan semacam itu seyogyanya dapat diputuskan sendiri oleh sekolah bersama-ama Komite Sekolah, bukan oleh Dinas Pendidikan Kecamatan ataupun Kabupaten/Kota.
C. PENUTUP
Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.Komite Sekolah berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, sekaligus memperhatikan dan menindaklan-juti terhadap keluhan, saran, kritik, dan aspirasi masyarakat terhadap satuan pendidikan.
didikan) di Indonesia masih berkisar antara paradigma lama dan transisional. Indikasinya adalah sebagai berikut: (1) Keluarga, sekolah, dan masyarakat masih memandang hasil belajar siswa lebih pada sisi kemampuan akademik dan pengetahuan, (2) Hubungan ke-luarga dan sekolah masih bersifat satu arah, hierarkis, dan birokratis, (3) Antara keke-luarga dan sekolah masih bersifat saling defensif, (4) Perbedaan kultural dan sosial masih kurang mendapatkan perhatian secara wajar, (5) Sekolah sering memandang masyarakat sebagai orang lain atau pihak yang berada di luar sekolah, kecuali diperlukan.
Paradigma tersebut sangat memengaruhi perjalanan Komite Sekolah. Bahkan terjadi pula “ketegangan-ketegangan” seputar relasi antara Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. Di lapangan, pada sejumlah kasus, Komite Sekolah hanya sebagai “stempel” Kepala Sekolah. Ia menjadi alat legalisasi Kepala Sekolah dalam menentukan berbagai kebijakan di sekolah. Di kutub berbeda, Komite Sekolah memosisikan diri lebih superior ketimbang Kepala Sekolah. Apapun gerak-gerik Kepala Sekolah diawasi. Bila Kepala Sekolah melakukan kesalahan sekecil apapun, Komite Sekolah akan mengadukannya kepada Dinas Pendidikan setempat. Kalau perlu, diusulkan untuk diganti.
Fenomena di atas tentu masih jauh dari harapan bersama. Dan karena itu perlu ada pendekatan-pendekatan solutif untuk meminimalisirnya. Satu di antaranya adalah sosialiasi dan pembinaan terhadap pengurus Komite Sekolah.
Ada sebuah adegan film yang baik untuk menggambarkan salah satu peran Komite Sekolah, dan pernah disosialisasikan dalam kegiatan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah (DP/KS). Dalam film ini diceritakan, seorang guru berpenampilan sederhana masuk kelas, dan terlihatlah oleh beliau buku anak-anak yang terkena cucuran air hujan dari atap yang bocor. “Bocor nih”, kata sang guru. “Iya Pak”, jawab serempak anak-anak. Alhasil, kepala sekolah dan Komite Sekolah mengadakan rapat untuk membicarakan masalah tersebut, dan disepakatilah untuk mengadakan kerja bakti untuk memperbaiki genting yang bocor itu. Secara kebetulan, salah seorang alumni sekolah itu telah menjadi pengusaha yang sukses yang ingin melihat alamamaternya tetap dapat memberikan inspirasi bagi kehidupannya. Ada pula pengusaha lain yang bertanya-tanya tentang bagaimana caranya supaya dirinya dapat ikut berperan serta dalam memperbaiki sekolah itu. Alhamdulillah, gedung sekolah akhirnya dapat direhabilitasi, dan kemudian dapat digunakan lagi untuk tempat belajar anak-anak.
MODUL 2.2:
PEMBENTUKAN KOMITE
SEKOLAH-BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN
2010TENTANG PENGELOLAAN DAN
PENY-ELENGGARAAN PENDIDIKAN
A. PENDAHULUAN
Salah satu kebijakan pendidikan penting yang diluncurkan pemerintah pada tahun 2002 adalah pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah diharapkan antara lain dapat menjadi wadah peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Itulah sebabnya maka Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan telah mengatur antara lain mengenai Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, untuk menyempurnakan ketentuan sebelumnya yang diatur dalam Permendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Pada tahun anggaran 2012 ini, materi pelatihan tersebut dilakukan penyempurnaan, baik dari segi substansi maupun sistematikanya. Berdasarkan hasil diskusi pembahasan tentang materi tersebut, tim penulis telah menyepakati untuk selain menambah beberapa materi juga melakukan perubahan urutan penekanan materi sebagai berikut: (1) modul pertama Peningkatan Wawasan Kependidikan Pengurus Komite Sekolah, (2) modul kedua Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah, dan (3) modul ketiga Peningkatan Kemampuan Organisasional Komite Sekolah.
Salah satu tema yang tertuang dalam modul kedua Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah adalah “Pembentukan Komite Sekolah Berdasarkan PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan”.
B. PRAKTIK PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH
terbentuk Komite Sekolah yang beraneka ragam. Ada Komite Sekolah yang seakan-akan menjadi seperti atasan Kepala Sekolah, yang fungsinya lebih banyak memberikan pengawasan kepada Kepala Sekolah. Sebaliknya, ada pula Komite Sekolah “stempel” yang hanya mengikuti perintah dari Kepala Sekolah.
Setelah terbit Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang antara lain mengatur tentang pembentukan Komite Sekolah, praktik pembentukan Komite Sekolah yang beraneka ragam itu sudah barang tentu tidak boleh terjadi. Dengan kata lain, proses pembentukan Komite Sekolah harus mengacu kepada ketentuan yang berlaku, yang dahulu dikenal dengan Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dan yang sekarang dengan PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
1. Pembentukan Komite Sekolah Menurut Kepmendiknas Nomor 044/U/2002
Sebelum terbit PP Nomor 17 Tahun 2010, proses pembentukan Komite Sekolah mengacu kepada Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Proses pembentukan Komite Sekolah dikenal dengan “Tujuh Langkah Pembentukan Komite Sekolah” sebagai berikut:
Langkah Pertama, sosialisasi Komite Sekolah. Proses sosialisasi Komite Sekolah diawali dengan penjelasan singkat tentang Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, yang menjelaskan tentang latar belakang kelahiran kebijakan tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Langkah kedua, penyusunan kriteria dan identifikasi calon anggota berdasarkan usulan dari ketiga unsur komite sekolah, yakni orangtua siswa/wali siswa, tokoh masyarakat, dan pakar pendidikan. Bakal calon yang diusulkan tidak harus berdomisili di lingkungan sekolah, namun diketahui memiliki keterikatan batin dengan sekolah (misalnya alumni sekolah tersebut).
Langkah ketiga, seleksi bakal calon anggota yang diusulkan ketiga unsur komite sekolah, berdasarkan kriteria yang disepakati bersama pada langkah kedua.
Langkah keempat, pengumuman bakal calon anggota yang telah diseleksi pada langkah ketiga, dan yang menyatakan kesediaannya dicalonkan sebagai calon anggota Komite Sekolah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya keberatan dari masyarakat terhadap satu atau lebih bakal calon.
Langkah kelima, penyusunan nama-nama calon anggota yang dinyatakan resmi sebagai calon anggota komite sekolah.
dalam suatu forum pemilihan yang dilaksanakan, baik secara musyawarah mufakat maupun melalui pemungutan suara.
Langkah ketujuh, penyampaian nama-nama anggota Komite Sekolah dan struktur organisasinya kepada kepala satuan pendidikan untuk diterbitkan surat keputusan kepala satuan pendidikan tentang Komite Sekolah. Panitia persiapan memfasilitasi pengukuhan terbentuknya Komite Sekolah, dan selanjutnya panitia pemilihan dinyatakan bubar.
Langkah-langkah pembentukan Komite Sekolah seperti yang diuraikan di atas adalah langkah-langkah pembentukan Komite Sekolah untuk pertama kali, atau pembentukan ulang Komite Sekolah, yang sebelumnya tidak dilaksanakan berdasarkan ketentuan tentang pembentukan Komite Sekolah yang baku.
2. Ragam Lain Yang Tidak Mengacu Kepada Ketentuan Yang Berlaku
Ragam lain yang tidak mengacu kepada ketentuan, baik ketentuan dalam Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, maupun PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, masih terjadi karena beberapa sebab. Salah satu sebab adalah karena ketidaktahuan tentang ketentuan yang berlaku, atau karena ketergesa-gesaan dalam memenuhi ketentuan yang berlaku. Misalnya, sekolah akan memperoleh subsidi atau bantuan sosial jika telah memenuhi persyaratan memiliki Komite Sekolah. Untuk memenuhi persyaratan ini, maka Kepala Sekolah segera menerbitkan SK tentang Komite Sekolah dengan tidak melaksanakan proses pemilihan Komite Sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
C. KETENTUAN POKOK TENTANG KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Berikut ini dijelaskan beberapa ketentuan pokok tentang pembentukan atau pemilihan Komite Sekolah yang tertuang dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagai berikut:
1. Jumlah Dan Unsur-Unsur Anggota Pengurus Komite Sekolah
Berdasarkan Pasal 197 (1) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dijelaskan bahwa:
“Anggota Komite Sekolah/Madrasah berjumlah paling banyak 15 (lima belas) orang, terdiri atas unsur:
a. orang tua/wali peserta didik paling banyak 50% (lima puluh persen); b. tokoh masyarakat paling banyak 30% (tiga puluh persen); dan
c. pakar pendidikan yang relevan paling banyak 30% (tiga puluh persen)”.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka jumlah anggota pengurus Komite Sekolah
yang akan dibentuk di satuan pendidikan sekolah paling banyak adalah 15 orang.
2. Masa Jabatan
Dalam pasal berikutnya, yakni Pasal 197 (2), dijelaskan bahwa “masa jabatan keanggotaan Komite Sekolah/Madrasah adalah 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan”. Ketentuan-ketentuan yang bersifat teknis seperti ini dimasukkan ke dalam AD/ART Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. 3. Ketentuan Pengunduran Diri Atau Pembentukan Sebagai Pengurus
Dalam pasal berikutnya pula, yakni Pasal 197 (3), dijelaskan bahwa “Anggota Komite Sekolah/Madrasah dapat diberhentikan apabila (a) mengundurkan diri; (b) meninggal dunia; atau (c) tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan tetap; (d) dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.
4. Susunan Kepengurusan
Berkenaan dengan susunan kepengurusan Komite Sekolah/Madrasah, dalam Pasal 197 (4) dijelaskan bahwa “Susunan kepengurusan Komite Sekolah/ Madrasah terdiri atas ketua komite dan sekretaris”
Ketentuan tersebut tentu saja dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang berlaku, misalnya kebutuhan akan perlunya Bendahara Komite Sekolah, atau pelaksanaan fungsi-fungsi lainnya.
5. Proses Pemilihan
Dalam Pasal 197 (5) dijelaskan tentang proses pemilihan Komite Sekolah sebagai berikut: “Anggota Komite Sekolah/Madrasah dipilih oleh rapat orangtua/ wali peserta didik satuan pendidikan”.
Berdasarkan ketentuan tersebut, pertanyaan yang muncul adalah “siapa yang mengadakan rapat tersebut”. Apakah Kepala Sekolah, atau orangtua/wali peserta didik setelah berkonsultasi dengan Kepala Sekolah. Oleh karena itu, sesuai dengan mekanisme pembentukan Dewan Pendidikan, proses pemilihan anggota Dewan Pendidikan dilakukan oleh satu panitia yang dinamakan Panitia Pemilihan. Dengan demikian, rapat orangtua/wali peserta didik dapat diadakan oleh Panitia Pemilihan setelah berkonsultasi dengan Kepala Sekolah.
6. Pemilihan Ketua dan Sekretaris Komite Sekolah
7. Penetapan SK Komite Sekolah
Selanjutnya, dalam Pasal 197 (6) dijelaskan bahwa: “Anggota, sekretaris, dan Ketua Komite Sekolah/Madrasah ditetapkan oleh Kepala Sekolah”. Ketentuan ini senada dengan penetapan SK untuk Dewan Pendidikan, mulai dari tingkat nasional yang ditetapkan SK oleh Menteri Pendidikan, tingkat provinsi oleh Gubernur, dan tingkat kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota.
D. MEKANISME PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH BERDASARKAN PP NOMOR 17 TAHUN 2010
Dengan mengacu kepada ketentuan tentang proses pemilihan pengurus Dewan Pendidikan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan, mekanisme pembentukan Komite Sekolah dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pembentukan Panitia Pemilihan Komite Sekolah oleh Kepala Sekolah, berasal dari unsur orangtua/wali peserta didik, unsur tokoh masyarakat, serta tokoh pendidi-kan. Panitia inilah yang akan mempersiapkan dan melaksanakan proses pemilihan Komite Sekolah dengan langkah-langkah sebagai berikut.
2. Panitia mengumumkan secara tertulis tentang rencana pembentukan atau pemili-han Komite Sekolah.
3. Panitia menentukan kriteria bakal calon pengurus Komite Sekolah.
4. Panitia menerima pendaftaran bakal calon dari unsur-unsur keanggotaan Komite Sekolah.
5. Panitia mengadakan rapat orangtua/wali peserta didik untuk mengadakan proses pemilihan pengurus Komite Sekolah dari bakal calon anggota pengurus yang telah ditetapkan.
6. Panitia mengadakan proses pemilihan anggota pengurus Komite Sekolah, baik se-cara musyawarah mufakat maupun melalui pemungutan suara, termasuk pemili-han Ketua, Sekrektaris, dan pengurus inti Komite Sekolah.
7. Panitia mengajukan paling banyak 30 (tiga puluh) orang calon terpilih kepada ke-pala sekolah untuk dipilih 15 (lima belas) orang sebagai pengurus Komite Sekolah dengan menerbitkan SK tentang Komite Sekolah.
E. PENUTUP
Demikianlah penjelasan tentang ketentuan dasar yang perlu dipelajari dan dilaksanakan dalam proses Pembentukan Komite Sekolah Berdasarkan PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Untuk dapat memahami penjelasan dan ketentuan dasar tersebut perlu kiranya merujuk lebih lanjut kepada pasal-pasal dan ayat dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 secara langsung.
MODUL 2.3:
MODEL PEMBENTUKAN DAN PEMILIHAN
PENGURUS BARU KOMITE SEKOLAH
A. PENDAHULUAN
Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.Komite Sekolah berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, sekaligus memperhatikan dan menindaklan-juti terhadap keluhan, saran, kritik, dan aspirasi masyarakat terhadap satuan pendidikan.
Keberadaan Komite Sekolah merupakan amanat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Se-kolah, yang merupakan tindak lanjut dari Undang-undang (UU) Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000 – 2004. Kemudian, ke-beradaan Komite Sekolah diperkuat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pen-didikan Nasional, dan dalam perkembangan selanjutnya terdapat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, yang di dalamnya mengatur keberadaan Komite Sekolah.
Komite Sekolah dalam satuan pendidikan tidak hadir secara tiba-tiba, tapi melalui proses pembentukan dan pemilihan kepengurusan. Ini diatur dalam PP. Nomor 17 tahun 2010, Pasal 197, ayat (5) dan (6). Pada ayat (5) disebutkan bahwa anggota komite sekolah dipilih oleh rapat orangtua/wali peserta didik satuan pendidikan. Sementara ayat (6) me-nyatakan bahwa ketua komite dan sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dipi-lih dari dan oleh anggota secara musyawarah mufakat atau melalui pemungutan suara. Aturan ini bertujuan agar proses pembentukan dan pemilihan pengurus baru Komite Se-proses pembentukan dan pemilihan pengurus baru Komite Se-kolah bisa dilaksanakan secara demokratis, transparan, dan akuntabel, agar melahirkan kepengurusan Komite Sekolah sesuai harapan bersama.
B. MAKSUD, TUJUAN, KELUARAN (OUTPUT), HASIL (OUTCOME) PEMBENTUKAN, DAN PEMILI- PEMBENTUKAN, DAN PEMILI-PEMBENTUKAN, DAN PEMILI-, DAN PEMILI- DAN PEMILI-HAN PENGURUS BARU KOMITE SEKOLAH
Maksud, tujuan, keluaran (output), dan hasil (outcome) yang akan dicapai melalui proses pembentukan dan Pemilihan Pengurus Baru Komite Sekolah adalah sebagai beri-kut:
1. Maksud
”Membentuk Komite Sekolah yang efektif sebagai wujud peran-serta aktif orangtua siswa dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seko-lah”.
2. Tujuan
“Mendapatkan pengurus baru Komite Sekolah yang dipercaya dan dianggap mampu oleh orangtua dan masyarakat untuk dapat menjalankan peran Komite Sekolah secara optimal dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah” 3. Keluaran (output)
“Terpilihnya calon pengurus Komite Sekolah yang berasal dari 5 (lima) orang perwakilan orangtua siswa, 2 (dua) orang perwakilan sekolah, dan 4 (empat) orang perwakilan masyarakat, melalui serangkaian proses pemilihan yang demokratis, tran-sparan, dan akuntabel, untuk bersama-sama menjadi pengurus Komite Sekolah” 4. Hasil (outcome)
1) Meningkatnya dukungan orangtua dan masyarakat terhadap program-pro-gram yang direncanakan dan dilaksanakan oleh Komite Sekolah
2) Meningkatnya kepercayaan pihak luar terhadap Komite Sekolah, sehingga memperkuat sinergi yang dapat dilakukan Komite Sekolah dalam menjalan-kan program-programnya.
C. PENDEKATAN DAN METODE PELAKSANAAN
Pada tahap awal pembentukan Komite Sekolah, pendekatan yang digunakan un-tuk mencapai keluaran yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah pola pendampingan komunitas. Artinya, seluruh rangkaian kegiatan pembentukan dan pemilihan pengurus baru Komite Sekolah memposisikan masyarakat sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelaksana kegiatan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat:
1. Menumbuhkan kesadaran orangtua dan masyarakat tentang pentingnya memaha-mi beberapa masalah pendidikan di sekolah yang ada di lingkungan mereka. 2. Menumbuhkan kesadaran orangtua dan masyarakat, bahwa mereka harus dapat
3. Menumbuhkan kesadaran orangtua dan masyarakat, bahwa konsep Komite Seko-lah sangat sesuai dengan kebutuhan mereka terhadap sebuah wadah perjuangan bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan Sekolah Dasar di lingkungan mereka.
4. Menumbuhkan kesadaran orangtua dan masyarakat, bahwa agar Komite Sekolah dapat berperan efektif, maka anggota Komite Sekolah harus orang yang dipercaya dan mampu.
5. Membantu orangtua dan masyarakat untuk membentuk panitia, menyusun ren-cana kegiatan, melaksanakan kegiatan pemilihan pengurus Komite Sekolah secara demokratis, transparan dan akuntabel.
6. Membantu orangtua dan masyarakat untuk merumuskan kriteria seorang anggo-ta Komite Sekolah yang baik, dengan memperkenalkan kriteria seorang pemimpin berdasarkan nilai-nilai universal kemanusiaan (kejujuran, kepedulian, senang mem-bantu, dan kerelawanan)
Sedangkan metode yang digunakan untuk melaksanakan pemilihan pengurus Ko-mite Sekolah secara demokratis, transparan, dan akuntabel adalah:
1. Pemilihan secara langsung. Artinya, semua unsur akan melakukan pilihan secara langsung, dan tidak diwakili orang lain.
2. Pemilihan secara bebas. Artinya, semua unsur mempunyai hak memilih dan dipilih tanpa ada tekanan atau paksaan dari pihak mana pun. Semua unsur akan memilih sesuai dengan kata hatinya masing-masing.
3. Pemilihan secara rahasia. Artinya, proses pemilihan yang dilakukan seseorang un-tuk memilih calon tertentu tidak diketahui orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
4. Pemilihan tanpa melalui pencalonan. Artinya, semua calon yang akan dipilih tidak melalui tahap pencalonan, karena dengan cara ini pemilih akan dibatasi untuk me-nentukan pilihannya.
Metode pemilihan pengurus Komite Sekolah tersebut diharapkan memenuhi prin-sip pemilihan yang demokratis, transparan, dan akuntabel.
1. Kegiatan dan Langkah-langkah Kegiatan
Kegiatan pembentukan dan pemilihan pengurus baru Komite Sekolah dapat dirinci ke dalam langkah-langkah kegiatan sebagai berikut:
No. Kegiatan dan Langkah-langkah Kegiatan
I. PEMBENTUKAN PANITIA PEMILIHAN PENGURUS KOMITE SEKOLAH
a. Sosialisasi pemilihan pengurus Komite Sekolah
b. Pemilihan panitia pemilihan
No. Kegiatan dan Langkah-langkah Kegiatan
c. Rapat panitia untuk menyusun rencana kegiatan pemilihan
II. PERTEMUAN ORANGTUA SISWA UNTUK MEMILIH CALON PENGU-RUS KOMITE SEKOLAH DARI UNSUR ORANGTUA SISWA
a. Panitia melakukan sosialisasi tentang pentingnya Komite Sekolah
b. Panitia menjelaskan kriteria universal pengurus Komite Sekolah
c. Pemilihan calon pengurus Komite Sekolah dari unsur orangtua siswa untuk setiap kelas
III. PERTEMUAN SEKOLAH UNTUK MEMILIH CALON PENGURUS DARI UNSUR SEKOLAH
a. Kepala sekolah meminta kepada panitia untuk sosialisasi tentang pentingnya Komite Sekolah
b. Pemilihan calon pengurus Komite Sekolah dari unsur sekolah
IV. REMBUG WARGA MASYARAKAT UNTUK MEMILIH CALON PENGU-RUS KOMITE SEKOLAH DARI UNSUR MASYARAKAT
a.
Pamong Desa memberikan kesempatan kepada panitia untuk melakukan sosialisasi tentang pentingnya peran serta masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
b. Pemilihan calon pengurus Komite Sekolah dari unsur warga masyara-kat
V. RAPAT KOMITE SEKOLAH UNTUK PEMILIHAN SUSUNAN PENGU-RUS KOMITE SEKOLAH
a. Panitia menjelaskan bahwa proses pemilihan calon pengurus Komite Sekolah telah selesai dilaksanakan
No. Kegiatan dan Langkah-langkah Kegiatan
c.
Panitia memberikan kesempatan kepada ketua Komite Sekolah terpi-lih untuk menyampaikan kata sambutan:
• Mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada ketua terpilih
• Menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pengurus Komite Seko-lah yang baru terpilih akan segera mengadakan pertemuan perta-ma untuk menyusun AD/ART (atau mereview AD/ART yang sudah ada) dan program kerja untuk masa jabatan kepengurusannya.
D. KEGIATAN, LANGKAH KEGIATAN, DURASI, DAN KELUARAN YANG DIHASILKAN
Kegiatan, langkah kegiatan, durasi kegiatan, dan keluaran yang dihasilkan dapat dijelaskan dalam matriks sebagai berikut:
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
I. PEMBENTUKAN PANITIA PEMILIHAN
Panitia Pemilihan Pengurus Komite Sekolah siap melaksanakan tugasnya
Penentuan Panitia dari unsur sekolah dan orangtua siswa serta
masyarakat 75 menit
Dua orang dari unsur guru, dan tiga orang dari unsur orangtua siswa dan masyarakat menjadi Panitia Pemilihan
Daftar undangan dan kehadiran
Kepala sekolah memberi pengantar tentang tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara pembentukan panitia pemilihan pengurus Komite Sekolah.
5 menit
Hadirin memahami tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara penentuan panitia pemilihan ini.
Latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, metode, dan rangkaian kegiatan pemilihan anggota Komite Sekolah
Poster “Peran Komite Sekolah”
Fasilitator menjelaskan latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, metode, dan rangkaian kegiatan pemilihan anggota Komite Sekolah. Beri kesempatan kepada hadirin untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti.
15 menit
Hadirin memahami
pentingnya proses pemilihan anggota Komite Sekolah yang representatif dalam menjamin keefektifan peran Komite Sekolah
Fungsi, tugas, dan rangkaian kegiatan, kriteria dan indikator
Fasilitator menjelaskan fungsi, tugas, kriteria dan rangkaian kegiatan, dan indikator kinerja Panitia Pemilihan Anggota Komite Sekolah. Beri
15 menit
Hadirin paham akan fungsi, tugas, rangkaian kegiatan serta kriteria wakil orangtua
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
kinerja Panitia Pemilihan Anggota Komite
Sekolah
kesempatan hadirin untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti.
murid dan guru yang akan bertugas sebagai Panitia Pemilihan.
Kertas suara untuk pemilihan Panitia
Masing-masing hadirin diminta menuliskan 2 (dua) nama guru dan 3 (tiga) nama warga orangtua murid dan masyarakat yang paling sesuai dengan kriteria secara langsung, bebas dan rahasia. Ingatkan bahwa setiap hadirin berhak atas menuliskan nama-nama sesuai dengan kehendaknya
Panitia, dibantu salah seorang hadirin, menghitung perolehan suara yang masuk. Tiga orangtua siswa dan dua orang guru yang memperoleh suara terbanyak akan menjadi Panitia Pemilihan Komite Sekolah.
30 menit
Nama dua orang dari unsur guru dan tiga orang dari orangtua siswa dan masyarakat terpilih menjadi Panitia Pemilihan Komite Sekolah, melalui proses yang demokratis,
transparan, dan akuntabel.
Berita Acara penetapan nama Panitia Pemilihan Komite Sekolah.
Penetapan nama 2 (tiga) orang guru dan 3 (tiga) orang dari unsur orangtua dan masyarakat untuk menjadi Panitia Pemilihan Komite Sekolah oleh Kepala Sekolah.
10 menit
Berita Acara Penetapan Panitia Pemilihan Komite Sekolah.
b.
Rapat Panitia untuk Menyusun Rencana Kerja Panitia dan Tata-Tertib Pemilihan 75 menit
Rencana kerja Panitia, dan Tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
Panitia
Fasilitator membuka rapat, dan menjelaskan tujuan serta hasil yang diharapkan dari rapat ini.
Jangan lupa untuk meminta masing-masing Panitia 5
Menit
Panitia memahami tujuan dan hasil yang diharapkan dari rapat ini.
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
Sekolah pemilihan Komite Sekolah
menulis Biodatanya Daftar undangan dan
kehadiran
Biodata panitia pemilihan Komite Sekolah
Latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, metode, dan rangkaian kegiatan pemilihan anggota Komite Sekolah (serahkan 5 copy kepada Panitia)
Fasilitator menjelaskan latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, metode, dan rangkaian kegiatan pemilihan anggota Komite Sekolah. Beri kesempatan hadirin untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti.
10 menit
Panitia paham pentingnya proses pemilihan anggota Komite Sekolah yang representatif dalam menjamin efektivitas peran Komite Sekolah
Fungsi, tugas, kriteria, rangkaian kegiatan, dan indikator kinerja Panitia Pemilihan Anggota Komite Sekolah (serahkan 5 copy kepada Panitia)
Fasilitator menjelaskan fungsi, tugas, kriteria, rangkaian kegiatan, dan indikator kinerja Panitia Pemilihan Anggota Komite Sekolah. Beri
kesempatan hadirin untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti.
10 menit
Panitia paham akan fungsi, tugas, rangkaian kegiatan, kriteria, dan indikator kinerja Panitia Pemilihan.Anggota Komite Sekolah
Fasilitator
Fasilitator membantu panitia melakukan proses memilih Ketua Panitia dan Sekretaris. Kemudian menyerahkan pimpinan rapat kepada Ketua Panitia
10 menit Nama Ketua dan Sekretaris Panitia
Form jadwal kerja Panitia Pemilihan Anggota Komite Sekolah
Ketua Panitia memimpin penyusunan Rencana
Kerja 30 menit
Jadwal kerja Panitia Pemilihan Komite Sekolah.
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
Tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
Fasilitator menjelaskan prinsip-prinsip dalam penyusunan tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
10 menit
Panitai memahami prinsip-prinsip tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
II REMBUG ORANGTUA SISWA UNTUK MEMILIH CALON ANGGOTA KOMITE SEKOLAH
Nama 5 (lima) orangtua murid yang terpilih mewakili masing-masing jenjang kelas untuk menjadi calon
pengurus Komite Sekolah
Ayah/ ibu/
Kepala Sekolah memberi pengantar tentang tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini, serta peran serta aktif hadirin. Kemudian
mempersilahkan Ketua Panitia memimpin acara.
5 menit
Hadirin memahami tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini.
Daftar Undangan dan kehadiran
a.
Sosialisasi tentang Komite Sekolah
Peran dan fungsi Komite Sekolah
Leaflet “Peran dan Fungsi Komite Sekolah” (sebanyak orang tua murid yang hadir)
Ketua Panitia menjelaskan peran dan fungsi Komite Sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak mereka.
10 menit
Orangtua murid sadar akan kebutuhan mereka akan Komite Sekolah yang baik
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
b.
Diskusi Kriteria seorang anggota Komite Sekolah
Lembar kerja
“Pertanyaan kritis untuk diskusi tentang kriteria anggota Komite Sekolah”
Hasil diskusi
Fasilitator menyampaikan bahwa kita akan bersama-sama merumuskan kriteria bagi seorang anggota Komite Sekolah. Kemudian mereka menyampaikan pendapatnya tentang kriteria pengurus Komite Sekolah
20 menit
Orangtua murid dapat merasakan keterlibatannya dalam menentukan kriteria anggota Komite Sekolah di desanya.
Kriteria-kriteria yang berasal dari masyarakat.
Prinsip-prinsip dalam merumuskan kriteria anggota Komite Sekolah
Fasilitator membantu orangtua murid untuk menyimpulkan kriteria utama berlandaskan nilia-nilai universal kemanusiaan dari seorang anggota Komite Sekolah
10 menit
Orangtua murid dapat menyimpulkan kriteria utama berlandaskan nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti jujur, ulet, dan dapat bekerja sama.
c.
Pemilihan anggota Komite Sekolah dari unsur orangtua murid untuk setiap jenjang kelas
Tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
Ketua Panitia menjelaskan tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah yang akan digunakan sebentar lagi. Beri kesempatan hadirin untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti.
15 menit
Orangtua murid paham pemilihan anggota Komite Sekolah yang akan dilakukannya.
Kertas suara untuk pemilihan anggota Komite Sekolah.
Masing-masing orangtua/wali siswa (satu orang untuk satu murid) diminta menuliskan 2 (dua) nama orangtua murid di jenjang kelasnya, sesuai dengan kriteria yang telah dibahas sebelumnya, secara langsung, bebas dan rahasia. Ingatkan bahwa setiap hadirin berhak atas menuliskan
30 menit
Nama satu orangtua murid untuk setiap jenjang kelas yang ada yang terpilih menjadi Panitia Pemilihan Komite Sekolah, melalui proses yang demokratis
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
nama-nama sesuai dengan kehendaknya.
Panitia menghitung perolehan suara yang masuk. Nama orangtua murid yang memperoleh suara terbanyak terpilih menjadi anggota Komite Sekolah.
Berita acara penetapan nama anggota Komite Sekolah.
Penyusunan Berita Acara penetapan nama orangtua murid yang dipilih untuk menjadi anggota Komite Sekolah.
Panitia menjelaskan apa saja dan kapan proses selanjutnya dalam rangka pemilihan anggota Komite Sekolah.
Ketua Panitia menutup acara dengan terlebih dulu mengucapkan terimakasih
10 menit
Berita Acara Penetapan Nama calon pengurus Komite Sekolah dari unsur orangtua siswa
III REMBUG DEWAN PENDIDIK UNTUK MEMILIH CALON ANGGOTA KOMITE SEKOLAH DARI UNSUR SEKOLAH
Nama 2 (dua) orang guru dan atau pegawai
administrasi terpilih mewakili unsure sekolah.
Kepala Sekolah memberi pengantar tentang tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini, serta peran serta aktif hadirin. Kemudian
mempersilahkan Ketua Panitia memimpin acara.
5 menit
Hadirin memahami tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini.
Daftar Undangan dan kehadiran
a.
Penjelasan tentang calon pengurus Komite Sekolah
Peran dan fungsi Komite Sekolah
Ketua Panitia menjelaskan peran dan fungsi
Komite Sekolah dalam meningkatkan kualitas 10 menit
Dewan Pendidikan dan pegawai administrasi sadar
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
Leaflet “Peran dan Fungsi Komite Sekolah” (sebanyak guru dan tenaga administratif)
pendidikan bagi anak-anak mereka, dan menjelaskan tentang calon pengurus Komite Sekolah dari unsur sekolah
Panitia juga menjelaskan kriteria calon pengurus Komite Sekolah
akan perlunya keterwakilan mereka dalam Komite Sekolah.
b.
Pemilihan calon pengurus Komite Sekolah dari unsur sekolah
Tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
Ketua Panitia menjelaskan tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah yang akan digunakan sebentar lagi. Beri kesempatan hadirin untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti.
15 menit
Orangtua murid paham pemilihan anggota Komite Sekolah yang akan dilakukannya.
Kertas suara untuk pemilihan anggota Komite Sekolah.
Masing-masing guru dan pegawai adminisi diminta menuliskan 2 (dua) nama sesuai dengan kriteria yang telah dibahas sebelumnya, secara langsung, bebas dan rahasia. Ingatkan bahwa setiap hadirin berhak atas menuliskan nama-nama sesuai dengan kehendaknya.
Panitia menghitung perolehan suara yang masuk. Nama orangtua murid yang memperoleh suara terbanyak terpilih menjadi anggota Komite Sekolah.
30 menit
Nama 2 (dua) orang calon pengurus Komite Sekolah dari unsur sekolah melalui proses pemilihan yang demokratis
Berita acara penetapan nama anggota Komite Sekolah.
Penyusunan Berita Acara penetapan nama guru dan atau pegawai administrasi terpilih untuk menjadi calon pengurus Komite Sekolah.
Ketua Panitia menutup acara dengan terlebih dulu mengucapkan terimakasih
10 menit
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
IV. REMBUG WARGA DESA UNTUK MEMILIH CALON PENGURUS KOMITE SEKOLAH DARI UNSUR MASYARAKAT
Nama 4 (empat) orang warga yang terpilih untuk menjadi calon pengurus Komite Sekolah
Kepala Desa memberi pengantar tentang tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini. Kemudian mempersilahkan Ketua Panitia memimpin acara.
5 menit
Hadirin paham akan tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini.
Daftar Undangan dan kehadiran
a.
Sosialisasi tentang Komite Sekolah
Peran dan fungsi Komite Sekolah
Leaflet “Peran dan Fungsi Komite Sekolah” (sebanyak utusan RW yang hadir)
Ketua Panitia menjelaskan peran dan fungsi Komite Sekolah dalam meningkatkan kualitas
pendidikan bagi anak-anak mereka. 10 menit
Hadirin sadar akan kebutuhan mereka akan Komite Sekolah yang baik
Latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, metode, dan rangkaian kegiatan pemilihan anggota Komite Sekolah
Data RW (yang sudah terisi)
Ketua Panitia menjelaskan kedudukan pemetaan ini dalam rangkaian proses pemilihan anggota Komite Sekolah.
Ketua Panitia menjelaskan sebaran murid sekolah di setiap RW. Kemudian setiap Ketua RW diminta menuliskan
10 menit
Hadirin memahami
rangkaian proses pemilihan
Hadirin memahami keterikatan setiap warga masyarakat terhadap pentingnya sekolah
b. Diskusi Kriteria Pengurus Komite Sekolah
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
Lembar kerja
“Pertanyaan kritis untuk diskusi tentang kriteria anggota Komite Sekolah”
Hasil diskusi tentang kriteria pengurus Komite Sekolah
Fasilitator/panitia menyampaikan bahwa kita akan bersama-sama merumuskan kriteria bagi seorang anggota Komite Sekolah. Kemudian minta mereka untuk mendiskusikan lembar kerja yang ada. Peserta diminta untuk memberikan pendapat tentang kriteria pengurus Komite Sekolah
15 menit
Utusan warga yang hadir dapat merasakan keterlibatannya dalam menentukan kriteria anggota Komite Sekolah di desanya. Kriteria-kriteria yang berasal dari masyarakat.
Prinsip-prinsip dalam merumuskan kriteria anggota Komite Sekolah
Fasilitator/panitia membantu para peserta untuk menyimpulkan kriteria utama berlandaskan nilia-nilai universal kemanusiaan dari seorang anggota Komite Sekolah
10 menit
Para warga masyarakat dapat menyimpulkan kriteria utama dari seorang anggota Komite Sekolah.
c.
Pemilihan anggota Komite Sekolah dari unsur komunitas warga
Tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah
Ketua Panitia menjelaskan tata-tertib pemilihan anggota Komite Sekolah. Beri kesempatan hadirin untuk bertanya
15 menit
Hadirin paham tata-tertib pemilihan pengurus Komite Sekolah
Kertas suara untuk pemilihan anggota Komite Sekolah.
Masing-masing utusan warga diminta menuliskan 3 (tiga) nama yang tercantum dalam daftar utusan RW. yang sesuai dengan kriteria yang telah dibahas sebelumnya, secara langsung, bebas dan rahasia. Ingatkan bahwa setiap hadirin berhak atas menuliskan nama-nama sesuai dengan
kehendaknya
Panitia, dibantu salah seorang hadirin sebagai saksi, menghitung perolehan suara yang masuk.
30 menit
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
Nama tiga warga utusan RW yang memperoleh suara terbanyak terpilih menjadi calon pengurus Komite Sekolah.
Berita acara penetapan nama anggota Komite Sekolah.
Berita Acara penetapan nama 3 orang warga yang dipilih untuk menjadi anggota Komite Sekolah.
Ketua Panitia membacakan nama seluruh calon pengurus Komite Sekolah yang telah terpilih dari unsur orangtua siswa, unsur sekolah, dan dari unsur masyarakat
10 menit
Berita Acara Penetapan Nama calon pengurus Komite Sekolah dari untuk warga masyarakat.
V. RAPAT KOMITE SEKOLAH UNTUK PEMILIHAN SUSUNAN PENGURUS Terpilihnya susunan
pengurus Komite Sekolah.
Seluruh
Panitia memberi pengantar tentang tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini.
Panitia meminta seluruh calon pengurus Komite Sekolah menuliskan Biodata nya masing-masing
10 menit
Hadirin paham akan tujuan dan hasil yang diharapkan dari acara ini.
Daftar Undangan dan kehadiran
Biodata anggota Komite Sekolah
Kertas suara
Setiap anggota Komite Sekolah diminta menulis 2 (dua) nama untuk posisi Ketua dan Sekretaris Komite Sekolah
Fasilitator dibantu salah seorang anggota Komite Sekolah menghitung suara yang didapat. Nama yang mendapat suara terbanyak terpilih sebagai Ketua Komite Sekolah.
No. Pelaku Input Proses Durasi Output
Berita acara susunan kepengurusan Komite Sekolah.
Penyusunan Berita Acara tentang susunan Kepengurusan Komite Sekolah untuk masa bakti yang akan datang.
10 menit
Berita acara penetapan susunan kepengurusan Komite Sekolah.
P
EN
G
U
A
TA
N
K
ELE
M
B
A
G
A
A
N
K
O
M
IT
E SEK
O
LA
KEGIATAN I
PEMBENTUKAN PANITIA PEMILIHAN
[a]
Penentuan Panitia Pemilihan Dari Unsur Sekolah, Orangtua,
dan Masyarakat
[b] Rapat Panitia Pemilihan Untuk Menyusun Rencana
Kerja dan Tata Tertib
Pemilihan
[b]
Kriteria Pengurus Komite Sekolah [a]
Sosialisasi Komite Sekolah
[c]
Pemilihan Calon Pengurus Komite Sekolah Dari Unsur
Masyarkat
PEMILIHAN CALON PENGURUS DARI UNSUR
ORANGTUA SISWA
PERTEMUAN SEKOLAH UNTUK MEMILIH CALON
PENGURUS DARI UNSUR SEKOLAH
Masuk
E. PENUTUP
Tahap-tahap pembentukan Komite Sekolah sebenarnya telah diatur secara umum di dalam Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Namun dalam praktik, proses pembentukan Komite sekolah masih banyak yang dilakukan secara instan.
Pada awal tahun pelajaran baru, biasanya, kepala sekolah mengadakan pertemuan orangtua siswa. Pada saat itulah semua orangtua siswa baru dan juga orangtua siswa lama hadir untuk memenuhi undangan pertamuan itu. Kemudian, kepala sekolah memanfaat-kan waktu semaksimal mungkin untuk membentuk pengurus Komite Sekolah. Proses se-lanjutnya bisa ditebak. Orangtua siswa secara aklamasi akan menentukan tim formatur. Tim formatur kemudian diberi kewenangan untuk menyusun pengurus Komite Sekolah.
Proses pemilihan seperti itu, mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pertama, tidak
memerlukan waktu yang lama, dan (2) dapat diarahkan untuk dapat memilih igur yang
sesuai dengan keinginan kepala sekolah. Namun demikian, dalam banyak kasus, proses pemilihan secara instan semacam itu ternyata sama sekali tidak memenuhi prinsip pemili-han yang demokratis, transparan, dan akuntabel. Dan inilah sisi kekurangannya.
MODUL 2.4:
PELAKSANAAN FUNGSI DAN TUGAS
KOMITE SEKOLAH UNTUK PENINGKATAN
MUTU LAYANAN PENDIDIKAN DASAR
A. PENDAHULUAN
Pada awal pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah pada tahun 2002-an, istilah “peran” Dewan Pendidikan dan “peran” Komite Sekolah lebih sering digunakan. Bahkan dalam buku Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, istilah “peran” Dewan Pendidikan dan “peran” Komite Sekolah menggunakan istilah Bahasa Inggris yang menjadi cukup populer, yaknti (1) advisory agency atau badan yang memberikan pertimbangan, (2) supporting agency atau badan yang memberikan dukungan, (3) controlling agency atau badan melakukan pengawasan (Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, 2005: hal. 9 – 10), dan bahkan ditambah dengan peran keempat, yakni mediator antara pemerintah/sekolah dengan masyarkat/orangtua peserta didik.
Setelah terbitnya PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, istilah “peran” tersebut diganti dengan istilah “fungsi” Dewan Pendidikan tersebut tertuang sebagai fungsi Dewan Pendidikan dalam rumusan Pasal 192 (2) sebagai berikut:
“Dewan Pendidikan berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota”.
Sedang fungsi Komite Sekolah tertuang dalam Pasal 196 (1) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagai berikut:
“Komite Sekolah/Madrasah berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan”.
Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dibandingkan dengan istilah “fungsi” Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, maka sesungguhnya kedua hal itu sebenarnya merupakan satu hal yang sama, yakni fungsi Dewan Pendidikan dan fungsi Komite Sekolah sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Dalam modul ini, yang dimaksud fungsi Dewan Pendidikan dan fungsi Komite Sekolah, tidak lain adalah sebagaimana tertuang dalam Pasal 192 (2) dan Pasal 196 (1) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dan sama pula dengan peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang tertuang dalam Pedoman Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Di samping fungsi Komite Sekolah, dalam modul ini juga akan dijelaskan tentang tugas Komite Sekolah, sebagaimana tertuang dalam Pasal 196 (3) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, yang sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan pelaksanaan fungsi Komite Sekolah.
B. PENINGKATAN MUTU LAYANAN PENDIDIKAN DASAR
Peningkatkan mutu layanan pendidikan dasar pada hakikatnya merupakan kebijakan yang sangat penting yang memiliki kaitan yang tidak bisa dipisahkan dengan upaya untuk peningkatan mutu pendidikan. Kita mengenal tiga kebijakan pendidikan yang pernah menjadi upaya penting dalam pembangunan pendidikan dasar dan menengah, yakni (1) pemerataan pendidikan, (2) peningkatan mutu pendidikan, dan (3) peningkatan relevansi pendidikan dengan dunia usaha dan kerja. Ketiga kebijakan pendidikan tersebut sebenarnya merupakan satu kesatuan yang terkait satu dengan yang lain. Pemerataan pendidikan akan lebih berarti apabila diikuti dengan mutu pendidikan. Pemerataan dan mutu yang terjamin akan lebih berarti lagi apabila relevan dengan dunia kerja dan usaha. Peningkatan mutu layanan pendidikan sebenarnya dimulai dari pemberikan layanan bagi semua peserta didik dalam usia sekolah dasar. Dengan kata lain, semua anak usia sekolah dasar (7 – 12 tahun) harus memperoleh layanan pendidikan, dan layanan pendidikan itu sendiri harus sebagai layanan pendidikan yang bermutu, dengan tiga indikator utama sebagai berikut:
Pertama, semua anak usia sekolah, termasuk anak-anak usia sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu, memperoleh kesempatan bersekolah.
Kedua, sekolah tempat mereka belajar harus memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).
C. PELAKSANAAN FUNGSI KOMITE SEKOLAH
Untuk lebih memperkuat pemahaman kita tentang fungsi Dewan Pendidikan dan fungsi Komite Sekolah, sebagaimana telah disebutkan di depan, Pasal 192 (2) dan Pasal 196 (1) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dapat dijelaskan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai berikut:
1. Memberikan Pertimbangan
Dalam Pasal 192 (3) dijelaskan bahwa “Dewan Pendidikan menjalankan fungsinya secara mandiri dan profesional”. Penjelasan ini sama dengan Pasal 196 (2) yang menyatakan bahwa: “Komite Sekolah/Madrasah menjalankan fungsinya secara mandiri dan profesional”.
Pelaksanaan fungsi Komite Sekolah untuk “memberikan pertimbangan” memberikan penegasan bahwa Komite Sekolah memang bukan atasan Kepala Sekolah, dan sebaliknya Kepala Sekolah juga bukan atasan Komite Sekolah. Keduanya bukan sebagai lembaga yang mempunyai hubungan hierarkhis, tetapi organisasi yang mempunyai hubungan koordinatif. Itulah sebabnya, sebagai lembaga yang mandiri dan profesional, Komite Sekolah mempunyai fungsi untuk memberikan pertimbangan kepada sekolah, terutama jika sekolah akan menentukan kebijakan-kebijakan sekolah yang penting, bukan saja untuk meningkatkan mutu pelayanan pendidikan, tetapi juga untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Fungsi “memberikan pertimbangan” ini sangat mungkin dilaksanakan oleh Komite Sekolah, karena unsur-unsur kepengurusan Komite Sekolah bukan hanya meliputi orangtua/wali peserta didik, tetapi juga tokoh masyarakat dan juga pakar pendidikan.
2. Memberikan Arahan, Dukungan Tenaga, Sarana Dan Prasarana
Jika fungsi “memberikan pertimbangan” dikenal dengan “advisory agency”, maka fungsi “memberikan arahan, dukungan tenaga, sarana dan prasarana” juga dikenal sebagai “supporting agency” atau badan atau lembaga yang memberikan dukungan.
Fungsi ini pun memang sangat mungkin dilaksanakan oleh Komite Sekolah, karena unsur-unsur pengurus Komite Sekolah bukan hanya orangtua/ wali peserta didik, tetapi juga tokoh masyarakat dan pakar pendidikan, yang tentu saja kemungkinan memiliki kemampuan dalam memberikan dukungan, bukan saja dapat memberikan dukungan dari aspek finansial, tetapi juga tenaga, sarana, dan prasarana pendidikan.
3. Melakukan Pengawasan Pendidikan Pada Tingkat Satuan Pendidikan
Pelaksanaan fungsi pengawasan pendidikan merupakan satu fungsi yang paling dihindari oleh pihak eksekutif, dalam hal ini dari pihak sekolah. Namun, dalam rangaka peningkatan mutu pelayanan pendidikan untuk para pelanggan pendidikan, terutama untuk orangtua/wali peserta didik, pelaksanaan fungsi pengawasan pendidikan merupakan fungsi yang tidak bisa dipisahkan dengan kedua fungsi sebelumnya, yakni “memberikan pertimbangan” dan “memberikan arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana”. Pelaksanaan fungsi pengawasan dalam hal ini bukan hanya dari aspek administrasi keuangan, tetapi juga dari aspek teknis edukatif.
Dalam Bab XV tentang Pengawasan Pasal 199 (1) PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dijelaskan bahwa: “pengawasan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/madrasah”. Dari pasal ini jelas bahwa salah satu fungsi Komite Sekolah adalah melaksanakan fungsi pengawasan.
Dalam hal ini, Pasal 205 (1) PP yang sama menjelaskan sebagai berikut: “Komite Sekolah/Madrasah melaksanakan pengawasan terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan”. Dalam Pasal 205 (2) PP yang sama dijelaskan bahwa: “hasil pengawasan oleh Komite Sekolah/Madrasah dilaporkan kepada rapat orangtua/wali peserta didik yang diselenggarakan dan dihadiri Kepala Sekolah/Madrasah dan dewan guru”. Dengan mekanisme seperti ini, pelaksanaan fungsi pengawasan Komite Sekolah sesungguhnya memang sangat mungkin dilaksanakan oleh Komite Sekolah, agar Komite Sekolah dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan di satuan pendidikan sekolah.
4. Melakukan mediator antara Pemerintah/Sekolah dengan Masyarakat/Dunia Usaha
Secara eksplisit, fungsi melakukan mediator ini tidak tertuang dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Namun demikian, secara implisit pelaksanaan peran ini dapat dilakukan karena unsur-unsur yang terdapat dalam Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Dalam Pasal 192 (6) disebutkan bahwa “Anggota Dewan Pendidikan terdiri atas tokoh yang berasal dari:
a. pakar pendidikan;
b. penyelenggara pendidikan; c. pengusaha;