• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARXISME SEBAGAI ILMU DAN ALAT PERJUANGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MARXISME SEBAGAI ILMU DAN ALAT PERJUANGA"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

MARXISME SEBAGAI ILMU DAN ALAT PERJUANGAN Ketika mereka membakar buku,

Pada akhirnya, mereka juga akan membakar manusia (Heinrich Heine)

Hari ini 30 september 2016 adalah hari dimana kita memperingati hari paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. ada berbagai versi penamaan atas peristiwa bersejarah 30 September 1965 ini, tergantung posisi keberpihakannya. Ada yang menyebutnya hanya G30S, adapula yang menyebutnya G30S/TNI, G 30S/PKI atau GESTOK (Grakan Satu Oktober) versi militer. dari penamaanya saja kita sudah bisa melihat dengan terang bagaimana peristiwa sejarah kejahatan atas kemanusiaan, yang telah mengorbankan jutaan hak hidup dan penghidupan, baik anggota PKI maupun orang yang diidentifikasi PKI serta keturunannya dihilangkan secara paksa, belum terdamaikan dalam sejarah bangsa ini. Namun dari sekian versi tersebut, yang paling lazim kita kenal adalah G 30 S/ PKI, karena masifnya propoganda orde baru (pihak pemenang). Melalui berbagai bentuk, dari pemusnahan buku sejarah hingga teori marxisme, penghilangan bukti sejarah, doktrinase dalam ruang-ruang pendidikan mengenai kejahatan PKI sampai pada bentuk teror.

Memang sampai hari ini kita belum mengetahui kejelasan sejarah peristiwa yang pelik dan kompleks tersebut. Tentang bagaimana keterlibatan PKI, TNI maupun pihak asing, atau keterlibatan Sjam Komarudin pria lima alias yang diklaim sebagai mata-mata PKI maupun tentara, keterlibatan Gerwani, Lekra, CGMI, maupun cendikiawan kampus yang berhaluan kiri. Apakah mereka benar-benar atheis atau bukan, melakukan kegiatan free sex, atapun prilaku anggota PKI yang suka membunuh lawannya secara keji, dan lain sebagainya. Namun, yang menjadi titik poin kita hari ini adalah apakah kita mengamini dan melupakan begitu saja penghilangan hak hidup dan penghidupan mereka yang dituduh PKI maupun keturunan PKI? Atau meminjam istilah DR. Abdul Wahid “Genocida intelektual” berupa penghilangan paksa intlektual kiri hingga, pelarangan mempelajari Marxisme pasca 65 hingga hari ini.

Rupa-rupanya, genocida intelektual masih terjadi ppasca era reformasi ini. ini terbukti dari masih dipertahannkannya KUHP Nomor .27 tahun 1999, yang merupakan serapan dari Tap MPRS nomor XXV/MPRS/1966 mengenai penyebaran komunisme/Marxisme-Leninnisme dianggap sebagai ‘kejahatan’ terhadap keamanan negara. dan barang siapa melakukan penyebaran Marxisme akan dipidana 15 tahun penjara. Tentu saja, ada pengecualian untuk aktivitas ilmiah terkait dengan kajian Marxisme. Namun, tetap saja, akhir-akhir ini kita melihat berbagai diskusi ilmiah mengnai Marxisme, sejarah 65, pemutaran film, hingga pada pembubaran perpustakaan jalanan, oleh militer maupun ormas reaksioner terjadi. bahkan yang paling konyol adalah penangkapan ikan oleh intel gabungan, karena dari sisik ikan tersbut terlihat seperti lambang palu arit lambang PKI. sungguh, kabar ini merupakan sebuah ironi apalagi kekonyolan ini terjadi di Indonesia pasca-Orde Baru.

(2)

sumbangan Marxisme terhadap ilmu pengetahuan serta perannya terhadap perubahan sosial dunia khususnya Indonesia.

“Ada hantu bergentayangan di Eropa, hantu Komunisme.” Kira-kira demikianlah bunyi paragraf awal pamflet politik Manifesto Komunis karya Marx dan Engels. Marx maupun Engels menulis kata-kata tersbut bukanlah tanpa dasar, atau sekedar menarik perhatian orang banyak untuk memahami kapitalisme secara lebih baik, namun juga sebuah saksi atas kenyataan sejarah dimana Marxisme dikutuk semenjak kelahirannya. Kutukan tersebut lahir atas dasar bahwa Marxisme memberikan dasar-dasar keilmuan serta pisau analisa yang ilmiah untuk mengafirmasi perlawanan terhadap berbagai struktur yang menindas. Marxisme memberikan dasar historis bagi perjuangan kaum tertindas, menggoncang kemapanan borjuasi dan rejim absolutis Eropa pada zamannya.

Tidak hanya di Eropa, tetapi hampir semua gerakan dekolonialisasi di dunia termasuk Indonesia menggunakan Marxisme sebagai cara pandanngnya. Di Indonesia misalnya kita mengenal banyak tokoh yang menggunakan cara pandang Marxisme sebagai alat pembebasan. seperti Seokarno, ia secara terang-terangan mengatakan bahwa cara pandanngnya adalah cara pandang Marxis (cindy Adamas: Soekarno penyambung lidah rakyat), Tan Malaka salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia dan merupakan salah satu pemimpin Komintern, hingga Haji Mischbah yang biasa kenal sebagai haji merah, seorang agamais dan tokoh pergerakan nasional yang dalam pidatonya selalu mempertautkan Islam dan Marxisme. Dan masih banyak tokoh laiinya yang menggunakan Marxisme sebagai cara pandang politiknya melawan penjajahan.

Marxisme, dalam ulasan Marx yang klasik itu, membantu kita untuk tidak hanya memahami dunia secara ilmiah, namun juga untuk mengubahnya. Marxisme bukanlah ‘propaganda,’ atau dalam hasutan ala Orde Baru, kampanye untuk menyebarkan Atheisme dan kekerasan terhadap kawan sebangsa. Ratusan bahkan ribuan halaman yang ditinggalkan oleh Marx dan Engels merupakan dokumen ilmiah yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk menganalisa berbagai persoalan sosial: implikasi dari debat idealisme versus materialisme, analisa terhadap kapitalisme, pengaruh kapitalisme dalam berbagai bidang kehidupan mulai dari politik hingga kebudayaan, panduan dan taktik bagi politik rakyat pekerja, dan berbagai problem sosial lain. Pengaruh Marxisme juga terasa di berbagai bidang keilmuan, mulai dari filsafat ilmu, ilmu politik, hingga sejarah dan banyak bidang lainnya. Mengamini Marxisme sebagai sebuah ‘doktrin’ sekaligus melabelinya sebagai ‘dogmatis’ dan bahkan ‘totaliter’ sebagaimana dilakukan oleh kaum empirisis dan positivis tentu lebih mudah dari pada mencoba memahami bagaimana metode Marxis bekerja dalam menginvestigasi berbagai problem sosial. Bahkan, kita cenderung abai bahwa apa-apa yang sering disebut sebagai ‘ilmiah’ dan ‘bermanfaat bagi kepentingan umum’ sesungguhnya patut dicurigai karena klaim-klaim tersebut kadang mewakili berbagai kepentingan ekonomi-politik tertentu.

(3)

agama, karena Marxisme sering di identikan sebagai atheisme yang merupakan bentukan propoganda orde baru. setiap teori memang tidak boleh diterima begitu saja, melainkan harus dikaji ulang, seperti halnya Marxisme iya harus dikontekstualisasikan sesuai keadaan objektif rakyat indonesia, karena memang kajian yang digunakan Marx maupun Engels dalam bukunya sangatlah Eropa sentris.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, motivasi berprestasi siswa perlu diperhatikan dalam pembelajaran IPA mengingat pembelajaran IPA banyak melibatkan predisposisi untuk merespon

[r]

Peraturan Daerah Kabupaten Pamekasan Nomor 14 Tahun 2Ol2 tentang Retribusi Jasa Usaha (Lembaran Daerah Kabupaten Pamekasan Tahun 20L2 Nomor 13 Seri C);. Dengan

Dimana perpustakaan Islam saat peradaban Islam terletak di sebuah masjid dan buku pertama yang menjadi koleksi adalah Al-Quran.. Perpustakaan ini juga berperan

Ekstrak etanol 70% daun kelor ( Moringa oleifera Lam.) dengan dosis 300 dan 600 mg/KgBB mempunyai aktivitas yang sama dalam menurunkan kadar trigliserida darah

godine, gdje Le Corbusier kritizira trenutno stanje gradova ( kako je napučenost starih djelova grada postala prevelika, nepodudaranje s okolnim terenom, zasićenost prometnica itd..)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil jadi arashi shibori motif horizontal stripes ditinjau dari hasil motif, hasil pewarnaan dan pengaruh jarak lilitan benang

Meskipun dalam pemeriksaan bukti-bukti, Mahkamah menemukan adanya rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara yang berisi rincian perolehan suara Pasangan Calon Nomor Urut 1