KATA PENGANTAR
ممسسبم لم ا نممحسرررلا مميحمرررلا
Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Konstitusi dan Tata Perundang-undangan” pembuatan makalah dengan tepat waktu. Tidak lupa shalawat dan berangkai salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada Dosen mata kuliah “Civic Education” yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini, orang tua yang selalu mendukung kelancaran tugas kami, serta pada anggota tim yang selalu kompak dan konsisten dalam penyelesaian tugas ini.
Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi tim penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.
Tanjung Pura April, 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
BAB II PEMBAHASAN...2
A. Pengertian Konstitusi...2
B. Tujuan dan Fungsi dari Konstitusi...4
C. Sejarah Lahirnya Konstitusi di Indonesia dan Perkembangannya...7
D. Perubahan Konstitusi di Indonesia...10
E. Tata Urutan Perundang-Undangan di Indonesia...13
BAB III PENUTUP...16
A. Kesimpulan...16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara dan konstitusi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Konstitusi adalah aturan main dalam kehidupan bernegara yang mengatur hak dan kewajiban warga negara dan negara. Konstitusi suatu negara biasa disebut dengan Undang-Undang Dasar (UUD).
Dalam pembangunan negara dan warga negara demokratis, keberadaan konstitusi yang demokratis sangatlah penting. Dengan kata lain, konstitusi demokratis lahir dari negara yang demokratis. Namun demikian, tidak ada jaminan adanya konstitusi yang demokratis akan melahirkan sebuah negara yang demokratis. Hal itu disebabkan oleh penyelewengan atas konstitusi oleh penguasa yang otoriter. Banyak negara yang menyatakan dirinya sebagai negara demokratis namun pada kenyataannya bertindak tidak demokratis.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Konstitusi ?
2. Bagaimana Tujuan & Fungsi Konstitusi ?
3. Bagaimana Sejarah dan perkembangan Konstitusi ? 4. Bagaimana Perubahan Konstitusi di Indonesia ? 5. Bagaimana Tata Perundangan di indonesia ?
A. Pengertian Konstitusi
Menurut Etimologi Kata “konstitusi” berasal dari bahasa prancis constituer dan constitution, kata pertama berarti membentuk, mendirikan dan menyusun, dan kata kedua berarti susunan atau pranata (masyarakat) (morissan). Dalam bahasa Belanda, istilah konstitusi dikenal dengn istilah “ Grondwet” yang berarti Undang-undang Dasar Grond adalah dasar,wet adalah undang-undang.1
Dalam bahasa latin, kata konstitusi merupakan gabungan dan dua kata yaitu cume dan statuere. Cume adalah sebuah preposisi yang berarti “bersama dengan”, sedangkan statuere berasal dari kata sta yang membentuk kata kerja pokok stare yang berarti berdiri. Atas dasar kata statue mempunyai arti “ membuat sesuatu berdiri atu mendirikan/menetapkan. Dengan demikian bentuk tunggal (constitutions) berarti segala sesuatu secara bersama-sama telah ditetapkan. Dan dalam praktek ketatanegaraan Republik Indonesia Serikat (RIS)
Menurut L.J Apeldoom sebenarnya antara keduanya tidak sama arti Undang-undang Dasar hanyalah sebatas hukum dasar yang tertulis, sedangkan konstitusi di samping memuat hukum dasar yang tertulis juga mencakup hukum dasar yang tak tertulis.
Menurut K.C. Wheare dalam bukunya “Modern Constitution”yang dikutip oleh Musthafa Kamal Pasha secara garis besarnya konstitusi dibagi dua yaitu:
1) Konstitusi yang semata-mata berbicara sebagai naskah hukum, suatu ketentuan yang mengatur “the rule of the constitution”.
2) Konstitusi bukan saja mengatur ketentuan-ketentuan hukum, tetapi juga mencantumkan idelogi, aspirasi dan cita-cita politik ,the statement of idea, pengakuan, kepercayaan,
Konstitusi jenis kedua ini, dimana digambarkan filsafat Negara yang akan dibentuk. Sebagai contoh seperti konstitusi Amerika Serikat, konstitusi-konstitusi Prancis dan konstitusi-konsitusi Republik Indonesia
Konstitusi Negara Republik Indonesia, baik dalam konstitusi RIS, dalam UUD-S 1950 maupun UUD 1945 sebagaimana yang diakui oleh Hans Kalsen adalah termasuk jenis konstitusi yang kedua. Di dalam ke tiga konstitusi tersebut terlihat secara jelas ideologi pancasila yang diyakini kebenarannya oleh bangsa
Indonesia. Sebab ideologi pancasila tidak saja dapat ditemukan dalam pembukannya, tetapi juga dalam batang tubuhnya, pasal demi pasal seluruhnya menampilkan warna atau jiwa ideologi pancasila secara jelas.2
Menurut Terminologi (Istilah) Menurut Sovermin Lohman, di dalam makna konstitusi terdapat tiga unsur yang sangat menonjol.
1) Konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian masyarakat (kontak sosial), artinya kostitusi merupakan hasil dari kesepakatan masyarakat untuk membina negara dan pemerintahan yang akan mengatur mereka. 2) Konsitusi sebagai piagam yang menjamin hak asasi manusia dan warga
negara sekaligus menentukan batas-batas dan kewajiban warga Negara dan alat-alat pemerintahannya.
3) Konstitusi sebagai forma regimenis, yaitu kerangka bangun pemerintahan. Dengan demikian suatu konstitusi memuat aturan atau sendi-sendi pokok yang bersifat fundamental untuk menegakkan bangunan besar yang bernama “Negara”. Karena sifatnya yang fundamental ini maka aturan itu harus kuat dan tidak boleh berubah-ubah. Dengan kata lain aturan fundamental itu harus tahan uji terhadap kemungkinan untuk diubah-ubah berdasarkan kepentingan jangka pendek yang sifatnya sesaat.
Sedangkan menurut Herman Heller dalam bukunya Ver Vassung lehre (ajaran tentang konstitusi) yang dikutip oleh Kusnardi, yang membagikan konstitusi dalam tiga tingkat berikut:
1) Konstitusi sebagai pengertian sosial politik Pada pengertian yang pertama ini konstitusi belum merupakan pangertian hukum, ia baru mencerminkan keadaan sosial politik suatu bangsa itu sendiri.
2) Konstitusi sebagai pengertian hukum. Pada pengertian kedua ini, keputusan-keputusan masyarakat tadi dijadikan suatu perumusan yang normative, yang kemudian harus berlaku (gehoren). Pengertian politik diartikan sebagai cine seine yaitu suatu kenyataan yang harus berlaku dan diberikan suatu sanksi kalau hal tersebut dilarang.
3) Konsitusi sebagai suatu peraturan hukum. Pengertian ketiga ini adalah suatu peraturan hukum yang tertulis. Dengan demikian Undang-undang asas adalah salah satu bagian dari konsitusi bukan sebagai penyamaaan pengertian menurut anggapan-anggapan sebelumnya penyamaan pengertian adalah pendapat yang keliru, apabila ada penyamaan pengertian maka ini adalah akibat pengaruh dari aliran kodifikasi (aliran modern).3
B. Tujuan dan Fungsi dari Konstitusi
Menurut Prof.K.C Where, sifat dari konstitusi sebagai berikut :
1. Tertulis dan Tidak Tertulis
Dalam dunia modern, paham yang membedakan tertulis atau tidak tertulis suatu konsititusi sudah hampir tidak ada. Kalau masih ada konsititusi yang tidak tertulis hanya di Inggris. Namun demikian gambaran dari kosintitusi ini sudah kabur atau sudah tidak bisa dibuktikan seccara pasti, demikian pula sebaliknya kalau dikatakan negara berkonsititusi tertulis dimana ada juga konsititusinya tidak tertulis. Misalnya di Indonesia banyak hal-hal yang hidup, yang pada suatu waktu menyingkirkan Undang-undang Dasar sendiri karena hidup dan diterima masyarakat. Undang-undang Dasar 1945 waktu berlaku pertama kalinya tidak pernah dijalakan sesuai dengan system pemerintahan. Misalnya, cabinet Sjahril yang parlementer dalam masa Undang-undang Dasar 1945 yang presidensil. Inilah yang disebut konvensi (convention).4
Konstitusi di Inggris seperti disebutkan Dicey dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu :
a. The Law of the Constitution (Hukum Konstitusi)
Parliamentary Statutes (Undang-undang yang dibuat oleh parlemen),
misalnya: undang-undang yang membatasi kekuasaan raja, undang-undang yang menjamin hak sipil, undang-undang yang mengatur pemungutan suara, undang-undang yang membentuk pemerintahan local, dan sebagainya.
3Ibid, hal.42-43
Judicial Decissions (Keputusan-keputusan Pengadilan), yaitu yang
menentukan arti dan memberi batasan undang-undang dan traktat.
Principles and Rule of Common Law (Prinsip-prinsip dan
ketentuan-ketentuan hukum kebiasan Inggris), ini timbul atas atas kebiasaan yang kadang-kadang diperkuat oleh putusan pengadilan dan tidak pernah diundangkan oleh parlemen misalnya prerogative raja umumnya berdasarkan commom law.
b. The Conventation of the Constitution (Konvensi-konvensi)
Kelaziman (habits) Tradisi-tradisi (traditions) Kebiasaan-kebiasaan (customs) Praktek-praktek (practices)
Unsur-unsur tersebut di atas mengatur sebagai besar aktivitas-aktivitas sehari-hari dari pemerintahan di Inggris.
Perbedaan antara hukum konstitusi dan konvensi konstitusi bukan terletek pada yang satu tertulis dan yang tidak tertulis, tertapi bentuk yang pertama (hukum konstitusi) diakui dan dapat dipaksakan oleh pengadilan, sedangkan yang kedua (konvensi konstitusi) betapa pun pentingnya dalam praktek tak dapat dipaksakan melalui badan-badan peradilan.
Kalau dititik beratkan dalam pengertian tertulis dan tidak tertulis, kita akan menolak pendapat ini, karena di Inggris sendiri banyak juga konvensi yang tertulis.
2. Fleksibel atau rigidnya suatu konstitusi tergantung dari tiga hal, yaitu:
a. Mudah atau tidak mudah diubah.
a. Untuk mengubah Undang-undang Dasar, sekarang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir.
b. Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota yang hadir.5
Berdasarkan pasal tersebut di atas, berarti untuk mengubah Undang-undang Dasar 1945 dibutuhkan minimal 2/3 x 2/3 x jumlah yang hadir. Sungguh suatu jumlah yang sukar diperoleh. Bila ditambah dengan ketentuan TAP MPR No.1 jo MPR No.lV tahun 1983, maka walaupun MPR menghendaki perubahan Undang-undang Dasar 1945, masih memerlukan persetujuan rakyat Indonesia melalui suatu referendum.
Jadi bila ditinjau dari mudah atau tidak mudah diubah, maka Undang-undang Dasar 1945 termasuk Undang-Undang-undang Dasar yang tidak mudah diubah.
2. Mudah dan tidak dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat.
Mudah atau tidak dalam menyesuaikan diri tergantung dari isi dan banyaknya pasal-pasal dari konstitusi itu sendiri. Seperti kita ketahui, isi dari konstitusi adalah mengenai garis-garis besar atau yang pokok atau yang dasar tentang kehidupan negara dan masyarakat. Ada negar yang menyangkutkan isinya dalam mengatur hal-hal yang penting. Hal ini kurang kami setujui, karena sifatnya temporer atau diartikan relatif. Tidak selalu yang penting merupakan hal yang pokok atau merupakan garis-garis besar atau hal-hal yang dasar, tetapi hal-hal yang pokok, yang dasar dan merupakan garis-garis besar pasti penting. Misalnya, kedaulatan di tangan rakyat, itu adalah penting dan juga merupakan garis-garis yang pokok atau yang dasar.
3. Tergantung kekuatan yang nyata, yang ada dalam masyarakat.
Suatu konstitusi dikatakan fleksibel atau rigid, juga tergantung dari kekutan–kekuatan dalam masyarakat itu misalnya Angkatan Bersenjata, Buruh, Tani, Pressure Group, Partai Politik, dan lain sebagainya.
Konstitusi suatu negara seharusnya tidak sering berubah, sebab kalau sering berubah mengakibatkan kemerosotan dari kewibawaan konstitusi itu sendiri. Mengubah Undang-undang Dasar bisa berarti :
Secara artifisial dipaksa dibuat. Ini dilakukan melalui revolusi, perebutan
kekuasaan, mencaplok negara lain, dan sebagainya.
Karena kehidupan sosial masyarakat itu sudah berubah (sudah jauh dari
yang tertulis).
Jallinek membedakan perubahan Undang –undang Dasar dalam dua hal yaitu verfassung sanderung dan verfassung wandlung. Verfassung sanderung adalah perubahan Undang-undang Dasar yang dilakukan dengan sengaja sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Undang-undang Dasar yang bersangkutan. Verfassung wandlung adalah perubahan Undang-undang Dasar dengan cara yang tidak disebutkan dalam Undang-undang Dasar tersebut, tetapi melalui cara istimewa seperti revolusi, coup d’etat, konvensi, dan sebagainya.6
Tujuan Konstitusi :
Membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah Menjamin hak-hak rakyat yang diperintah
Menetapkan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat.
Fungsi Konstitusi :
Menentukan dan membatasi kekuasaan penguasa Negara Penjamin hak-hak asasi manusia7
C. Sejarah Lahirnya Konstitusi di Indonesia dan Perkembangannya
Pada 29 Mei 1945 dibentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan ini beranggotakan wakil-wakil dari beberapa aliran yang terpenting dalam pergerakan kebangsaan yang berjumlah 62 orang, yang diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat. Badan ini mengadakan sidang pertama kali tanggal 27 Mei sampai 17 Juli 1945. Pada pembukaan sidang,
6 Ibid, hal.149-150
Ketua BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat menyampaikan pidato ringkas. Inti dari pidato itu berisi pernyatan. Apa bentuk dasar negara Indonesia yang akan segera lahir.8
Para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia telah sepakat untuk menyusun sebuah Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis dengan segala arti dan fungsinya. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, konstitusi Indonesia sebagai sesuatu ”revolusi grondwet” telah disahkan pada 18 Agustus 1945 oleh panitia persiapan kemerdekaan Indonesia dalam sebuah naskah yang dinamakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dengan demikian, sekalipun Undang-Undang Dasar 1945 itu merupakan konstitusi yang sangat singkat dan hanya memuat 37 pasal namun ketiga materi muatan konstitusi yang harus ada menurut ketentuan umum teori konstitusi telah terpenuhi dalam Undang-Undang Dasar 1945 tersebut.
Pada dasarnya kemungkinan untuk mengadakan perubahan atau penyesuaian itu memang sudah dilihat oleh para penyusun UUD 1945 itu sendiri, dengan merumuskan dan melalui pasal 37 UUD 1945 tentang perubahan Undang-Undang Dasar. Dan apabila MPR bermaksud akan mengubah UUD melalui pasal 37 UUD 1945 , sebelumnya hal itu harus ditanyakan lebih dahulu kepada seluruh Rakyat Indonesia melalui suatu referendum.
Perubahan UUD 1945 kemudian dilakukan secara bertahap dan menjadi salah satu agenda sidang Tahunan MPR dari tahun 1999 hingga perubahan ke empat pada sidang tahunan MPR tahun 2002 bersamaan dengan kesepakatan dibentuknya komisi konstitusi yang bertugas melakukan pengkajian secara komperhensif tentang perubahan UUD 1945 berdasarkan ketetapan MPR No. I/MPR/2002 tentang pembentukan komisi Konstitusi.9
Dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan Indonesia ada empat macam Undang-Undang yang pernah berlaku, yaitu :
a) Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949 (Penetapan Undang-Undang Dasar 1945)
8ibid, hal.45
Saat Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, Republik yang baru ini belum mempunyai undang-undang dasar. Sehari kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 Rancangan Undang-Undang disahkan oleh PPKI sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia setelah mengalami beberapa proses.
b) Periode 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 (Penetapan konstitusi Republik Indonesia Serikat)
Perjalanan negara baru Republik Indonesia ternyata tidak luput dari rongrongan pihak Belanda yang menginginkan untuk kembali berkuasa di Indonesia. Akibatnya Belanda mencoba untuk mendirikan negara-negara seperti negara Sumatera Timur, negara Indonesia Timur, negara Jawa Timur, dan sebagainya. Sejalan dengan usaha Belanda tersebut maka terjadilah agresi Belanda 1 pada tahun 1947 dan agresi 2 pada tahun 1948. Dan ini mengakibatkan diadakannya KMB yang melahirkan negara Republik Indonesia Serikat. Sehingga UUD yang seharusnya berlaku untuk seluruh negara Indonesia itu, hanya berlaku untuk negara Republik Indonesia Serikat saja.
c. Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 (Penetapan Undang-Undang Dasar Sementara 1950)
Periode federal dari Undang-undang Dasar Republik Indonesia Serikat 1949 merupakan perubahan sementara, karena sesungguhnya bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 menghendaki sifat kesatuan, maka negara Republik Indonesia Serikat tidak bertahan lama karena terjadinya penggabungan dengan Republik Indonesia. Hal ini mengakibatkan wibawa dari pemerintah Republik Indonesia Serikat menjadi berkurang, akhirnya dicapailah kata sepakat untuk mendirikan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dewan Perwakilan Rakyat dan senat Republik Indonesia Serikat pada tanggal 14 Agustus 1950 dan berlakulah undang-undang dasar baru itu pada tanggal 17 Agustus 1950.
d. Periode 5 Juli 1959 – sekarang (Penetapan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945)
Dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959 berlakulah kembali Undang-Undang Dasar 1945. Dan perubahan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Lama pada masa 1959-1965 menjadi Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Baru. Perubahan itu dilakukan karena Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Lama dianggap kurang mencerminkan pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen.10
D. Perubahan Konstitusi di Indonesia
Perubahan konstitusi merupakan keharusan dalam sistem ketatanegaraan suatu negara, karena bagaimanapun sebuah konstitusi haruslah sesuai dengan realitas kondisi suatu bangsa dan warga negaranya. Dengan kata lain, bahwa sifat dinamis suatu bangsa terhadap setiap peradaban harus mampu diakomodasai dalam konstitusi negara tersebut. Karena jika tidak, maka bukan tidak mungkin bangsa dan negara tersebut akan tergilas dengan arus perubahan peradaban tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa UUD 1945 tergolong konstitusi yang bersifat rigid, karena selain tata cara perubahannya yang tergolong sulit, juga dibutuhkan suatu prosefur khusus, yaitu dengan cara by the people through a referendum. Kesulitan tersebut semakin jelas di dalam praktik ketatanegaraan Indonesia, dengan diberlakukannya ketetapan MPR No. IV/ MPR/ 1983 jo. UU No. 5 Tahun 1985 yang mengatur tentang referendum.
Akan tetapi, kesulitan perubahan konstitusi tersebut, menurut K.C. Wheare, memiliki motif-motif tersendiri yaitu:11
10 ibid, hal.46-49
a. Agar perubahan konstitusi dilakukan dengan pertimbangan yang masak, tidak secara serampangan dan dengan sadar.
b. Agar rakyat mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangang-pandangan sebelum perubahan dilakukan.
c. Agar-dan ini berlaku di negara serikat- kekuasaan negara serikat dan kekuasaan negara-negara bagian tidak diubah semata-mata oleh perbuatan-perbuatan masing-masing pihak secara sendiri.
d. Agar hak-hak perseorangan atau kelompok seperti kelompok minoritas agama atau kebudayaannya mendapat jaminan.
Melihat realitas dan kondisi UUD 1945, sekalipun termasuk kategori konstitusi yang sulit dilakukan perubahan, tetapi apabila dilakukan dicermati, terdapat peluang untuk perubahan terhadap konsititusi Indonesia (UUD 1945), walaupun mekanismenya tergolong berat. Secara yuridis terdapat satu pasal yang mengatur mekanisme perubahan terhadap UUD 1945, yaitu pasal 37 yang menyebutkan:
a. Usul perubahan pasal-pasal UUD dapat diagendakan dalam sidang MPR apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota MPR. b. Setiap usul perubahan pasal-pasal UUD diajukan secara tertulis dan
ditunjukan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya.
c. Untuk mengubah pasal-pasal UUD, sidang MPR dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR.
d. Putusan untuk mengubah pasal-pasal UUD dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota MPR.
e. Khusus mengenai bentuk NKRI tidak dapat dilakukan perubahan.
Pasal 37 UUD 1945 tersebut mengandung empat norma dasar, yaitu:
1) Bahwa wewenang untuk mengubah UUD ada pada MPR sebagai penjelmaan dan wakil rakyat .
3) Usul perubahan dilakukan secara tertulis oleh sekurang-kurangnya 1/3 jumlah anggota MPR.
4) Untuk mengubah sekurang-kurangnya dihadiri oleh 2/3 jumlah angora MPR dan putusan untuk perubahan dilakukan dengan persetujuan lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota MPR.
Dalam sejajarah ketatanegaraan Indonesia, konstitusi atau UUD 1945 diberlakukan di Indonesia, telah mengalami perubahan-perubahan dari masa berlakunya sejak diproklamasikannya kemerdekaan negara Indonesia. Perubahan kostitusi sejak orde lama hingga orde reformasi secara terperinci adalah sebagai berikut:
1) UUD 1945 (18 Agustus 1945-27 Desember 1949). 2) Konstitusi RIS (27 Desember 1949- 17 Agustus 1950). 3) UUDS 1950 (17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959).
4) UUD 1945 (5 Juli 1959- 19 Oktober 1999).
5) UUD 1945 dan perubahan pertama (19 Oktober 1999-18 Agustus 2000). 6) UUD 1945 dan perubahan pertama dan kedua (18 Agustus 2000-10
November 2001).
7) UUD 1945 dan perubahan pertama. Kedua. Dan ketiga (10 November 2001-10 Agustus 2002).
8) UUD 1945 dan perubahan pertama, kedua, ketiga, dan keempat (10 Agustus 2002 – sekarang).
Tujuan perubahan UUD 1945
Menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara dalam mencapai
tujuan nasional dan memperkukuh Negara Kesatuan Republik indonesia Menyempurnakan aturan dasar mengeni jaminan dan pelaksanaan
kedaulatan rakyar serta memperluas partisipasi rakyat agar sesuai dengan perkembangan paham demokrasi
Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan HAM
Menyempurnakan aturan dasar penyelengaraan negara secara deomokratis
dan modern.
Melengkapi aturan dasar yang sangat penting dalam penyelenggaraan
negara bagi eksistensi negara dan perjuangan negara mewujudkn demokrasi, seperti peraturan wilayah negara dan pemilihan umum.
Menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan berbangsa dan
bernegara sesuai dengan perkembangan jaman dan kebutuhan bangsa dan negara.
Dalam melakukan perubahan terhadap UUD 1945 terdapat beberapa kesepakatan dasar yang penting kalian pahami. Kesepakatan tersebut adalah :
a. Tidak mengubah Pembukaan UDD 1945 b. Tetap mempertahankan NKRI
c. Mempertegas sistem pemerintahan presidensial
d. Penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal normatif akan di masukkan ke dalam pasal-pasal (batang tubuh).
e. Addendum tambahan pasal yang secara pisik terpisah dari pokok namun secara hukum menekat pada isi pokok.12
E. Tata Urutan Perundang-Undangan di Indonesia
Dalam perpustakaan ilmu hukum di Indonesia, istilah Negara hukum merupakan terjemahan dari rechsstaat dan the rule of law. Konsep rechsstaat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya perlindungan terhadap HAM.
2.Adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga Negara untuk menjamin perlindungan HAM.
3. Pemerintahan berdasarkan peraturan.
4. Adanya peradilan administrasi. Dalam kaitan dengan Negara hukum tersebut, Tertib hukum yang membentuk adanya tata urutan perundang-undangan menjadi suatu keniscayaan dan kemestiaan dalam menyelenggarakan Negara atau pemerintahan.
Tata urutan perundang-undangan dalam kaitan dengan implementasi konstitusi Negara Indonesia adalah merupakan bentuk tingkatan
undangan. Sejak 1966 telah dilakukan perubahan atas hierarki (tata urutan) peraturan undangan di Indonesia. Tata urutan (hierarki) perundang-undangan perlu di atur untuk menciptakan keteraturan hokum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di awal tahun 1966, melalui ketetapan MPRS No. XX/MPR/1966 lampiran 2, disebutkan bahwa hierarki peraturan perundang-undangan Indonesia adalah sebagai berikut:
a) Undang-Undang Dasar 1945 b) Ketetapan MPR
c) Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang d) Peraturan Pemerintah
Selanjutnya berdasarkan ketetapan MPR No. III Tahun 2000, tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia adalah sebagai berikut:
a) Undang-Undang Dasar 1945
a) Undang-unang Dasar 1945
b) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang c) Peraturan Pemerintah
d) Peraturan Presiden
e) Peraturan Daerah, yang meliputi: Peraturan Daerah Provinsi
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Peraturan Desa
Dengan dibentuknya tata urutan perundang-undangan, maka segala peraturan dalam hierarki perundang-undangan yang bertentangan dengan peraturan diatasnya, tidak bisa dilaksanakan hukum. Sebagai contoh peraturan presiden atau peraturan yang bertentangan dengan peraturan presiden atau peraturan pemerintah bahkan dengan undang-undang, secara otomatis tidak bisa dilaksanakan, begitu juga peraturan presiden dengan sendirinya tidak dapat dilaksanakan bila bertentangan dengan undang-undang, apalagi bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.13
BAB III
PENUTUP
A. KesimpulanKonstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana suatu pemerintah diselenggarakan dalam suatu masyarakat. Tujuan konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah, menjamin hak-hak rakyat yang diperintah, menetapkan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. Fungsi konstitusi adalah menentukan dan membatasi kekuasaan penguasa Negara. Sifat atau Klasifikasi Konstitusi: tertulis dan tidak tertulis, fleksibel dan kaku,derajat tinggi dan tidak derajat Tinggi, serikat dan Kesatuan, sistem pemerintahan Presidensial dan sistem Pemerintahan Parlementer.
Setiap warga negara seharusnya menunjukan siakap positip terhadap perubahan UUD 1945 tersebut. Sikap posistif tersebut terutama dengan sikap mematuhi dan melaksanakan UDD 1945 hasil perubahan itu dalam kehidupan bebanagsa dan bernegara
Perubahan UUD 1945 merupakan salah satu agenda reformasi, untuk menciptakan kehidupan bernegara yang lebaih baik. Perubahan terhadap UUD 1945 dilakukan sebanyak empat kali melalui sidang umum
DAFTAR PUSTAKA
Hasymi.2012. Pendidikan Kewarganegaraan.Padang:Hayfa Press.
Kusnardi.1988. Ilmu Negara. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Blog.ub.ac.id/makalah pendidikan kewarganegaraan-konstitusi Indonesia/ di akses tggl 12-04-2016, 10:37 wib
Rozak Abdul,Demokrasi,Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN syarif Hidayatullah
Dadang dkk. 2008.Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarata: Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasisonal.
puda Kiting, konstitusi yang pernah digunakan http: // kiting pudan. blogspot. co.Id, konstitusi-yang -digunakan-di. html/13-4-2016.