Ansori
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.
Abstrak
The article discusses the thought of a prominent muslim scholar, Khaled M. Abou el-Fadl, on democracy. Some important issues are discussed through the article. Among others are the question whether democracy is compatible with Islam and the issue on khila>fah. It argues that el-Fadl is against the khila>fah as the contemporary political system and argues that democracy is in agreement with Islam.
Artikel ini menjelaskan pemikiran Khaled M. Abou el-Fadl mengenai demokrasi. Beberapa isu dijelaskan di antaranya apakah demokrasi sesuai dengan Islam, apakah khilafah adalah sistem yang benar. Artikel ini menemukan bahwa pemikiran Abour El-Fadl menentang asumsi ketidaksesuaian Islam dan demokrasi dan menilai khilafah adalah system yang tidak tepart untuk diterapkan.
Kata Kunci: demokrasi, kekaisaran, puritan, khilafah
A. Pengantar
other).1 Perlawanan atas demokrasi yang makin menguat juga kadang disetarakan dengan perlawanan atas yang lain. Oleh karena itu, salah satu tugas berat yang harus dilakukan para cendikiawan muslim adalah mencoba menetralisir cara pandang tersebut sembari merekonstruksi wacana demokrasi yang bersumber dari tradisi dan khazanah Islam.
Khalid Abou el-Fadhl adalah salah seorang pemikir muslim yang mampu melakukan tugas berat tersebut. Dengan melakukan penelusuran atas teks suci dan doktrin-doktrin klasik dalam kaitannya dengan nilai-nilai fundamental demokrasi, ia mampu melakukan pembongkaran sekaligus pemaknaan kontemporer untuk relevansi Islam dan demokrasi. Bagaimana pembongakaran dan pemaknaan kontemporer Abou el-Fadhl tentang relevansi Islam dan demokrasi tersebut? Inilah permasalahan mendasar yang menjadi objek bahasan makalah ini.
B. Biograi dan Cultural Background Khalid Abou el-Fadhl
Nama lengkapnya adalah Khaled Medhiat Abou el-Fadhl. Ia dilahirkan di Kuwait pada tahun 1963 dari sebuah keluarga muslim berdarah Mesir. Perjalanan akademiknya dimulai di Kuwait dengan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di sana. Selain pendidikan formal, ia juga aktif mengikuti kelas-kelas (halaqah) al-Qur’an dan ilmu Syariat pada setiap liburan musim panas di masjid al-Azhar Mesir. Rasa cinta Khalid Abou el-Fadhl kepada al-Qur’an mendorong dia untuk menghafalkannya, dan pada usia yang ke-12 tahun Khalid Abou el-Fadhl telah hafal al-Qur’an.
Pada tahun 1989 Khalid Abou el-Fadhl menamatkan studi magisternya dalam bidang hukum di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat. Di tahun yang sama ia memperoleh penghargaan sebagai peserta terbaik dalam Jessup Moot Court Competition. Prestasi ini membawanya diterima bekerja pada Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justice) wilayah
1 Dalam konteks ini, biasanya sistem pemerintahan yang ditawarkan adalah
khilafah, karena ia dianggap sebagai sesuatu yang mempunyai dasar normatif dalam Islam. Khilafah secara bahasa berasal dari khalafa-yakhlifu, khilafatan yang berarti
pengganti/wakil. Term ini diambil dari irman Allah SWT QS. Al-Baqarah: 30 dan
Arizona, spesiikasi kerja sebagai pengacara bidang hukum dagang dan imigrasi. Dari Pengadilan Tinggi ini, Khalid Abou el-Fadhl kemudian mendapatkan pengakuan sebagai warga negara Amerika Serikat.
Kegiatannya sebagai pengacara dibarengi dengan mengajar di Universitas Texas di Austin USA. Di samping itu, ia juga tidak melewatkan kesempatan untuk melanjutkan studi program doktor di Universitas Princeton. Di sela-sela kesibukannya dalam bekerja, mengajar, dan kuliah, ia juga aktif menulis berbagai artikel dan buku tentang kajian Islam. Pada tahun 1999 Khalid Abou el-Fadhl berhasil mendapatkan gelar Ph.D. dalam bidang hukum dengan hasil sangat memuaskan. Disertasinya, berjudul Rebellion and Violence in Islamic Law, dinobatkan sebagai ajaran moralnya.Sejumlah karya akademik telah dihasilkannya, di antaranya adalah Islam In Challenge of Democracy: The Place of Tolerance in Islam, Speaking in God’s Name, Islamic Law, Authority and Women, God Knows The Soldiers, Conference of Books, dan lain-lain.
C. Sejarah Demokrasi
Sebelum berbicara lebih lanjut tentang demokrasi dalam kaca mata Khaled Abou el-Fadhl, maka terlebih dahulu akan dipaparkan pembahasan tentang deinisi dan sejarah munculnya demokrasi.
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘demos’ artinya ‘people’ (rakyat) dan ‘cratos’ yang artinya ‘role or authority’ (kekuasaan). Dengan demikian, demokrasi artinya role of authority by people, yaitu sebuah sistem di mana kedaulatan/kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat dan dijalankan secara langsung maupun melalui perwakilan di bawah sistem pemilihan yang bebas, atau sederhananya sebagaimana yang dikemukakan Abraham Lincolin, demokrasi adalah government of the people, by the people, and for people (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.2
Pemerintahan dari rakyat (government of the people) adalah suatu pemerintahan yang berkuasa mendapat pengakuan dan dukungan dari rakyat (legitimate government). Pemerintahan oleh rakyat (government by people) adalah pemerintahan yang menjalankan kekuasaan atas nama rakyat dan pengawasannya dijalankan oleh rakyat bukan oleh siapa-siapa atau lembaga
2 Bachtiar Efendi, “Islam dan Demokrasi: Mencari Sebuah Sintesa yang
Memungkinkan”, dalam M. nasir Tamara dan Elza Peldi Taher (ed.), Agama dan Dialog
pengawasan yang ditunjuk oleh pemerintah. Sedangkan, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) adalah suatu pemerintahan yang mendapat mandate kekuasaan yang diberikan oleh rakyat dipergunakan untuk menjalankan aspirasi rakyatnya.3
Sebagaimana diketahui, sistem pemerintahan demokrasi yang sekarang berkembang bukanlah hasil pengalaman manusia yang sekali jadi. Ia merupakan produk perkembangan sosio-kultur dengan rentang waktu yang cukup panjang. Paling tidak, terbentuk dari empat sumber gagasan dan praktik, yaitu; tradisi Yunani kuno, tradisi republikan dari Romawi kuno dan berkembang dalam negara kota Italia pada abad pertengahan dan renaissance, paham pemerintahan perwakilan dan ide persamaan (baca: ide memililh dan mengembangkan diri) dalam bentuk walfare state.4
Demokratia Yunani kuno merupakan praktik demokrasi pertama di dunia yang awalnya sebagai respon terhadap pengalaman buruk monarkhi dan kediktatoran di negara kota Yunani kuno, di mana praktik demokrasi pada waktu itu sebagai sistem seluruh warga negara membentuk lembaga legislatif. Ia dimulai setelah reformasi sistem pemerintahan di negara kota (city state) Athena oleh Kleisthenes pada tahun 508 SM.5 Kleisthenes memperoleh kekuasaan setelah pada tahun 510 SM, Hipias seorang tiran yang lalim, digulingkan oleh sekelompok bangsawan atas bantuan Sparta, yang kemudian setelah itu terjadi konlik antar faksi. Sebagai seorang aristocrat yang cerdas, Kleisthenes dengan bantuan rakyatnya menggulingkan rival-rivalnya. Segera setelah berkuasa, ia meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi demokrasi Athena. Satu hal pokok dalam hal ini adalah dibentuknya Majelis Lima Ratus yang keanggotaannya terbuka bagi warga negara laki-laki di atas tiga puluh tahun dan jumlah yang dibutuhkan dipilih dengan undian.
3 A. Ubaidillah Razak dkk., Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani (Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000), hlm. 163-165.
4 Robert A. Dahl, Demokrasi dan Pengkritiknya, terj. A. Rahman Zainuddin
(Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 3-39.
5 Athena adalah kota yang mampu merealisasikan demokrasi secara langsung
Demokrasi Athena ini, kemudian berkembang dan disempurnakan pada masa Paricies (461-429 SM). Pada periode ini, Majelis mulai menetapkan undang-undang dan yang terpenting adalah dibentuknya Dewan Sepuluh Jenderal (Startegol) yang berfungsi semacam kabinet dalam demokrasi perlementer sekarang. Kekuasaan Startegol ini diawasi oleh Majelis, di mana kebijakannya dinilai majelis, anggotanya dapat di-recall dan dapat dituntut setiap saat.
Sebagaimana keterangan di atas, demokrasi, Di samping dibentuk oleh pengalaman demokrasi di Yunani klasik, gagasan dan lembaga demokrasi juga dibentuk oleh tradisi republikanisme, perwakilan, dan ide persamaan pengembangan diri dalam bentuk welfare state. Adapun yang dimaksud dengan tradisi republikanisme adalah sejumlah pemikiran yang berasal dari gagasan dan praktik demokrasi Yunani kuno, tetapi lebih dari para pengkritiknya (salah seorang yang paling terkenal adalah Aristoteles), dari gagasan dan praktik politik Roma dan Vinisia (satu-satunya republik Roma yang bertahan hingga 1797), dan bahkan sampai Sparta.
Sedangkan demokrasi dalam bentuk perwakilan adalah bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas. Dengan demikian, dalam demokrasi perwakilan, rakyat tidak lagi memerintah dirinya secara langsung, seperti negara kota Athena, tetapi memilih pemimpinnya yang akan mengontrol jalannya pemerintahan.
Berdasarkan paparan di atas, dapat dikatakan bahwa demokrasi lahir seiring dengan perjalanan hidup manusia di muka bumi ini. Ia telah menjelma sebagai isu dan persoalan penting dalam berbagai kehidupan negara-negara di dunia, termasuk negara-negara Islam. Fenomena ini terlihat paling tidak dalam dasa warsa terakhir abad kedua puluh. Bersamaan dengan lahirnya gerakan keagamaan, ia terkadang seiring dengan pembentukan politik yang lebih demokratis, namun di wilayah lain menimbulkan kenyataan yang paradoks.6
6 John L. Esposito, “Islam and Democracy: in Search of Viable Synthesis”,
D. Demokrasi, Mengapa Harus Ditolak ?
1. Perbedaan antara Syariat dan Fikih
Menurut Khaled Abou el-Fadhl, syariat mempunyai makna yang komprehensif; teosentrik sekaligus antroposentrik. Syariat adalah jalan Tuhan yang ditafsirkan oleh manusia dalam berbagai ragam aliran pemikiran. Kendati demikian, hemat Khaled, perlu adanya pemisahan yang tegas antara syariat dan ikih. Syariat adalah nilai-nilai ideal, sedangkan ikih adalah upaya manusia dalam memahami yang ideal.7
Berdasarkan pamisahan di atas, Khaled ingin mengatakan bahwa seluruh yang dipersepsikan umat Islam tentang Syariat, termasuk di dalamnya wilayah politik (sistem pemerintahan) sesungguhnya adalah ikih (ikih siyasi). Konsekusensi dari hal ini, wacana sistem politik sebagai bagian dari ikih, ia bersifat dinamis dan plural. Dengan demikian, mengacu pada fakta sejarah di mana ada sistem politik natural, monarkhi, dan khilafah yang berbasis syariat, semuanya adalah fakta objektif perihal keberadaan iqih politik yang dinamis dan plural tersebut.
Lebih jauh, adanya pemisahan antara Syariat dan ikih seperti di atas, juga dimaksudkan Khaled Abou el-Fadhl sebagai counter terhadap pemikiran sebagaian umat Islam yang menempatkan ikih sebagai sesuatu yang baku dan inal. Fikih diperlakukan sebagai kehendak mutlak Tuhan,8 padahal ikih merupakan releksi sejarah dalam memahami pesan ketuhanan, ia bersifat situasional dan bergantung kepada konteks sosial yang melatarinya.
2. Syariat dan Demokrasi
Pada umumnya, para pakar dan penggiat politik Islam seringkali memahami bahwa Syariat adalah sebuah sistem yang sempurna.
7 Zuhairi Misrawi, “Demokrasi dan Kedaulatan Tuhan Khaled Abou el-Fadhl
dan Yusuf al-Qaradhawi”, dalam jurnal Perspektif Progresif, Edisi Perdana, Juli-Agustus 2005, hlm. 21.
8 Bagi Abou el-Fadhl, terjadinya fenomena di atas adalah akibat dari kesalahan
procedural metodologis terkait dengan relasi antara ketiga unsur, yaitu kompetensi (pengarang), penetapan makna (teks), dan perwakilan (pembaca). Seorang pembaca, misalnya, yang mengunci teks dalam sebuah makna tertentu, maka ia telah merusak integritas pengarang dan teks. Khaled M. Abou el-Fadhl, Atas Nama Tuhan; Dari Fikih
Pemahaman akan kesempurnaan Syariat sebagai sistem hukum inilah yang kemudian kaitannya dengan masalah politik dipakai untuk melawan demokrasi. Syariat adalah hukum Tuhan, sedangkan demokrasi adalah hukum oleh dan untuk manusia.9 Oleh karena itu, dalam sejumlah riset, bila dilontarkan opsi untuk memilih diantara keduanya, maka sebagian besar masyarakat muslim akan memilih Syariat, karena ia bersumber dari Tuhan yang kebenarannya tidak diragukan lagi.
Pemahaman akan supremasi Syari’ah daripada lainnya, barangkali tidaklah salah, hanya permasalahannya; apakah yang dimaksud dengan Syariat itu dan relevankah ia dilawankan dengan demokrasi?
Pertanyaan ontologis seperti di atas jelas layak diajukan agar umat Islam tidak melakukan kesewenang-wenangan dalam memakni Syariat. Hal ini, karena dari pelbagai pengalaman negara-negara yang memberlakukan Syariat, seperti; Saudi Arabia, Taliban, Nigeria, Maroko, dan belakangan beberapa propinsi di Indonesia, tidak begitu jelas menafsirkan Syariat dalam konteks sosial-politik. Pemaknaan Syariat seperti itu tidak terlepas dari Wahabisme10 yang dikopi oleh hampir sebagian besar dunia Islam sebagai cetak biru politik. Oleh karena itu, upaya penggalian makna progresif Syariat dalam konteks sistem politik modern sangatlah penting.
Berbeda dengan pemaknaan Syariat di atas, Khaled mempunyai pemaknaan tersendiri. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Syariat menurut Khaled adalah mengacu pada nilai-nilai yang ideal. Dengan pemaknaan ini, bagi Khaled Syariat pada dasarnya telah memfasilitasi untuk bisa lahirnya ikih kontekstual, khususnya tentang tata pemerintahan
9 Gagasan bahwa Tuhan merupakan pembentuk hokum dalam sebuah
negara Islam, sementara agen manusia merupakan sumber hokum dalam sebuah sistem demokrasi, merupakan pendapat Maulana Maududi. Ia berargumen bahwa dalam sebuah negara Islam, Tuhan merupakan pemegang kedaulatan satu-satunya, sementara dalam sebuah sistem demokrasi kehendak dan keinginan kelompok mayoritas memegang kendali. Khaled Abou el-Fadhl, Islam dan Tantangan Demokrasi, terj. Gifta Ayu Rahmani dan Ruslani (Jakarta: Ufuk Press, 2004), hlm. 67.
10 Dasar-dasar ideologi Wahabi oleh seorang fanatic abad ke-18 yaitu
yang lebih memberikan perhatian pada kepentingan publik.11 Dimensi Syariat yang terbuka dan membebaskan sesungguhnya modal besar untuk merancangbangun perubahan-perubahan yang mendasar bagi tercapainya keadilan dan kasih sayang di dalam sebuah sistem/tata pemerintahan yang modern. Dengan demikian, selama reinterpretasi dan revitalisasi atas Syariat selalu dilakukan, maka harapan untuk tata pemerintahan yang demokratis bukanlah hal yang mustahil bagi dunia Islam. Dari sini, jelas tidak relevan lagi mempertentangkan antara Syariat dan demokrasi.
3. Demokrasi dan Kedaulatan Tuhan
Jika Syariat diyakini tidak perlu dipertentangkan dengan demokrasi, lalu bagaimana dengan konsep kedaulatan Tuhan (al-H{akimiyyah) yang telah mempunyai akar kuat dalam tradisi politik Islam.12
Pertanyaan ini, tentu saja membutuhkan penalaran tersendiri untuk membongkar benang kusut sejumlah poin penting dalam diskursus politik Islam. Konsep kedaulatan Tuhan adalah konsep yang sejak mula kemunculannya problematis. Letak problematikanya dalam dua hal; pertama, kedaulatan Tuhan untuk apa dan siapa? Kedua, mengapa kedaulatan Tuhan dalam banyak hal sering selalu terkait dengan cara-cara kekerasan, seperti pembunuhan? Bukankah Tuhan melarang kekerasan dan tindakan kursif dalam agama?
Melihat fenomena di atas, Kholed menyatakan bahwa kedaulatan Tuhan sebagai sesuatu yang taken for granted dalam Islam. Kedaulatan Tuhan merupakan salah satu rukun iman yang paling penting di antara lainnya. Sebagai agama monoteis, kedaulatan Tuhan menjadi sesuatu yang amat penting, tetapi persoalannya, bagaimana klaim kedaulatan Tuhan dalam ranah politik?13
Dalam hal ini, Khaled sangat keberatan dengan upaya membawa 11 Zuhairi Misrawi, “Demokrasi…”, hlm.22.
12 Persoalan tentang kekuasaan politik Tuhan (hakimiyatullah), pada awal
sejarah Islam mulai dimunculkn oleh kelompok yang terkenal dengan sebutan Haruriyyah, ketika mereka memberontak terhadap khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini kemudian dikenal dengan Khawarij. Dikatakan khawarij (orang-orang yang keluar), karena sebelumnya mereka adalah orang-orang yang mendukkung Ali bin Abi Thalib, namun kemudian mereka keluar dan berbalik menyerang Ali, ketika Ali setuju dengan proses arbitrase untuk menyelesaikan perselisihan politik dengan kelompok Muawiyyah. Khaled Abou el-Fadhl, Islam, hlm. 14-15.
iman atau kedaulatan Tuhan ke dalam ranah politik. Sesungguhnya, hemat Khaled, Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang pertama kali keberatan dengan klaim kedaulatan Tuhan dalam ranah politik, karena amat mungkin disalahartikan dan disalahgunakan. Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib dengan cepat menanggapi kalangan Khawarij, bahwa klaim kedaulatan Tuhan bisa bergeser fungsinya menjadi “Kalimatu haqqin yuradu biha al-bathil”14 (kalimat yang benar tetapi digunakan untuk tujuan-tujuan yang batil), baik kepentingan politik maupun kepentingan kekerasan.
Khaled berkeyakinan bahwa munculnya kelompok konservatif dan fundamentalis untuk menggunakan kedaulatan Tuhan dalam kampanye politik sesungguhnya telah mengulangi kesalahan fatal kalangan Khawarij. Kedaulatan Tuhan yang semula menjadi slogan iman, lalu dimetamorfosa menjadi slogan politik.
Sekali lagi, bagi Khaled, sejak awal konsep kedaulatan Tuhan adalah konsep yang problematis, walaupun memberikan kesempatan kepada manusia untuk memimpin. Sebab, konsep kedaulatan Tuhan tidak sesuai dengan teologi Islam. Tidak ada seorang pun yang berhak mengatasnamakan dirinya sebagai satu-satunya wakil Tuhan yang dapat memahami kehendak Tuhan, sehingga barang siapa menganggap dirinya sebagai satu-satunya wakil Tuhan yang dapat memahami kehendak Tuhan, maka sesungguhnya ia telah berlaku otoriter.15
Dengan kata lain, klaim kedaulatan Tuhan mempunyai potensi yang sangat besar untuk melahirkan otoritarianisme yang akhirnya akan menghalalkan segala cara. Bila ini yang terjadi, maka tesis yang muncul adalah ‘kedaulatan Tuhan’ versus ‘klaim kedaulatan Tuhan’. Tuhan yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan keindahan akan dijabarkan oleh
14 Ibid.
15 Adapun mekanisme terjadinya tindakan (penafsiran) yang otoriter, menurut
klaim kedaulatan Tuhan yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Oleh karena itu, Khaled ingin menerjemahkan kedaulatan Tuhan bukan dalam konteks negara Islam, tetapi dalam konteks prinsip-prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan, sebab yang dimaksud dengan kedaulatan Tuhan adalah terwujudnya keindahan dan keadilan (kemaslahatan bersama).
Lalu bagaimana hubungan kedaulatan Tuhan dengan demokrasi? Bagi Khaled, demokrasi dipahami bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai cara dan prosedur untuk mencapai kemaslahatan bersama. Dengan demikian, prinsip ini sejalan dengan prinsip kedaulatan Tuhan yang dipahami oleh Khaled. Bahkan, ia menegaskan demokrasi sebagai hasil reinterpretasi manusia tentang sistem politik yang sesuai dengan konteks zamannya adalah konteks yang paling mungkin untuk menerjemahkan dan membumikan kedaulatan Tuhan (baca: nilai-nilai kemanusiaan) dalam ranah politik. Dalam hal ini, ada enam alasan yang dikemukakan oleh Khaled; 1) umat manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi, 2) perwakilan ini merupakan landasan tanggung jawab individual, 3) tanggung jawab dan perwakilan individual menyediakan landasan untuk hak-hak asasi manusia dan persamaan, 4) umat manusia pada umumnya, dan khusunya umat Islam memiliki kewajiban fundamental untuk melaksanakan keadilan, 5) hukum Ilahi harus dibedakan dari interpretasi-interpretasi manusia yang mungkin keliru, dan 6) negara tidak seharusnya berperan melembagakan kedaulatan dan kekuasaan Ilahi.16
E. Perlukah Khilafah?
Menurut Khaled, keadilan adalah ajaran pokok Islam yang harus ditegakkan dalam penyelenggaraan pemerintahan, karenanya umat Islam harus membangun sistem politik dan pemerintahan yang dapat menciptakan keseimbangan antara hak dan kewajiban untuk semua manusia tanpa membedakan agama. Keadilan dapat dicapai apabila sistem pemerintahan memungkinkan masyarakat memperoleh akses terhadap kekuasaan atau institusi (pemerintahan) tersebut. Berdasarkan pengalaman sejarah, menurutnya, sistem pemerintahan demokrasilah yang dapat menfasilitasi hal tersebut. Selain sistem demokrasi sangar sulit terjaminnya keadilan negara dan cenderung tidak bertanggung jawab atas berbagai penyelewengan dan terbukanya akses bagi masyarakat untuk
berperan serta membenahi dan memperbaiki ketidakadilan tersebut17. Sistem demokrasi sebenarnya merupakan representasi sistem pemerintahan yang dipraktikan oleh nabi yang terformulasikan dalam Piagam Madinah, dan sejatinya merupakan konsep al-Qur’an yaitu agar umat Islam melaksanakan urusannya lewat musyawarah (syura). Syura merupakan konsep yang didalamnya mengandung ajaran dan penegasan agar pengambilan keputusan tidak boleh hanya ditangan individu.
Khaled menolak bentuk pemerintahan teokratis yaitu negara atau pemerintahan yang dibentuk untuk menjalankan kompilasi hukum Tuhan yang tak tersentuh oleh akuntabilitas manusia dan tidak mengenal kata perubahan. Hal ini menurutnya tidak berarti bahwa bimbingan Tuhan (agama) tidak diperlukan atau tidak berguna bagi manusia, tetapi bahwa Tuhan berbicara kepada hati manusia, tidak kepada institusi. Ini dapat dilihat dalam uraiannya sebagai berikut:
”Pada saat institusi-institusi itu berlagak mewakili Tuhan institusi-institusi itu melukai Tuhan dan membohongi manusia. Tuhan terlalu indah dan abadi untuk bisa direpresentasikan oleh institusi manusia atau oleh satu orang saja”
Dari ungkapan di atas terlihat Khaled ingin menyampaikan bahwa khilafah bukan merupakan satu-satunya bentuk pemerintahan yang harus diperjuangkan mati-matian, dan jangan dianggap sebagai bentuk pemerintahan yang given, pasti, absolute, taken for granted, paling menentukan dan klaim-klaim sejenisnya, dalam Islam. Karena itu ia tidak sepakat dengan komunitas muslim yang ia sebut sebagai ”orang-orang/kaum/ kelompok puritan” yang ingin mengembalikan/membentuk sistem khilafah di dunia atau negara-negara Islam.
Menurut Khaled, nilai-nilai kebertuhanan tidak dapat dicapai oleh sebuah negara yang memaksakan begitu rupa. Ketika negara memainkan peran sebagai pelaksana Tuhan, berarti negara menggantikan Tuhan, dan di sinilah justru letak ketiadaan nilai-nilai kebertuhanan.18
Sistem khalifah yang dijalankan oleh al-Khulafa ’al-Rasyidin dan lembaga khilafah yang berjalan pada masa kejayaan dan keemasan Islam, bukan representasi suatu teori pemerintahan tertentu, melainkan merupakan sebuah institusi historis yang berhasil menyatukan banyak
17 Khaled M. Abau EL Fadl ,
Selamatkan Islam, hlm. 225 – 226.
18
umat Islam di masa silam, tidak serta merta sebagai suatu model pemerintahan tertentu. Dengan kata lain, kalau umat Islam hanya terfokus pada istilah bentuk pemerintahan (sebagai simbol), tanpa membicarakan secara kreatif, cerdas, kritis tentang prosedur seperti apa yang akan menjamin seorang pemimpin negara (pemerintahan) dapat berlaku adil, bijak, saleh, patuh terhadap undang-undang dalam menjalankan amanat bangsa dan negara, maka tidak mustahil justru akan terjadi benturan-benturan intern umat Islam dan juga dalam pergaulan global dengan umat dan negara-negara lain di dunia.
Merujuk pada konsep Us\u>l al-Fiqh, yang penting bagi Khaled, 5 (lima) hak asasi manusia yaitu agama (din, religion), kehidupan (nafs, life), akal (’aql, intellect), keturunan (nasl, lieage), dan harta (mal>, property) yang termasuk kategori dharuriyyat19 dapat terjamin dalam bentuk pemerintahan apapun. Keterjaminan 5 (lima) hak dasar manusia tersebut, tidak hanya wajib dijaga dan direalisasikan oleh Islam untuk umat muslimin tetapi juga untuk umat manusia secara keseluruhan, dan itulah inti pesan Islam rahmatan li al-alamin sebagai tujuan utama diutusnya nabi Muhammad membawa agama (Islam) di dunia ini. Sangat ironis kalau demokrasi ditolak hanya karena istilah/kata itu bukan dari Islam (bahasa Arab) dan sebaliknya terlalu berlebihan kalau istilah khilafah disakralkan hanya karena itu pernah dipraktikkan dalam sejarah (negara) Islam.
F. Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas, sebenarnya tersirat satu gagasan fundamental Khaled Abou el-Fadhl, yaitu pembongkaran terhadap potensi otoritarianisme dalam hukum Islam. Wacana demokrasi yang digagasnya adalah salah satu upayanya untuk membongkar otoritarianisme tersebut.
Sistem khilafah sebagaimana yang diperjuangkan oleh sebagian umat Islam, jika dipahami sebagai sebuah alternatif (tawaran) tata pemerintahan sebenarnya sah-sah saja, akan tetapi jika sistem khilafah itu dipahami dan dikunci maknanya sebagai satu-satunya sistem pemerintahan yang Islami (dikehendaki Tuhan), maka ini namanya otoritarianisme.
Dalam perspektif hukum, khususnya yang berkaitan dengan sistem
19 D{aru>riyya>t merupakan kebutuhan mendasar dan esensial bagi keberlangsungan
DAFTAR PUSTAKA
Dahl, Robert A., Demokrasi dan Pengkritiknya, terj. A. Rahman Zainuddin, Jakarta: Paramadina, 1992.
Efendi, Bachtiar, “Islam dan Demokrasi: Mencari Sebuah Sintesa yang Memungkinkan”, dalam M. Nasir Tamara dan Elza Peldi Taher (ed.), Agama dan Dialog antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1998. Esposito, John L., “Islam and Democracy: in Search of Viable Synthesis”,
dalam Studia Islamika, Vol. 2, No. 4, 1995.
Fadhl, Khaled Abou el-, Islam dan Tantangan Demokrasi, terj. Gifta Ayu Rahmani dan Ruslani, Jakarta: Ufuk Press, 2004.
----, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, terj. Helmi Mustafa, Jakarta: Serambi, 2006.
----, Atas Nama Tuhan; Dari Fikih Otoriter ke Fiqih Otoritatif, terj. Cecep Lukman yasin, Jakarta: Serambi, 2004.
Misrawi, Zuhairi, “Demokrasi dan Kedaulatan Tuhan Khaled Abou el-Fadhl dan Yusuf al-Qaradhawi”, dalam Jurnal Perspektif Progresif, Edisi Perdana, Juli-Agustus 2005.
Razak, A. Ubaidillah, dkk., Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani, Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000.
Siradj, Said Aqiel, Islam Kebangsaan Fikih Demokratik Kaum Santri, Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999.