Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis
Halaman 108
IMPLEMENTASI
TAX PLANNING
SEBAGAI UPAYA EFISIENSI PAJAK
PENGHASILAN (PPh) BADAN PADA PT YATAHARAKU TIJARA ABADI
Fatahul Rahman1), Chottam2) Nurhalimah3)
[email protected],[email protected], [email protected]
123 Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Samarinda
123 Jl. Cipto Mangunkusumo, Sungai Keledang, Kec. Samarinda Seberang Kota Samarinda, 75242
Abstract
This research aims to know the implementation of tax planning and calculate how efficient the income tax by using tax planning. The object used in this research is one of the coal companies that exist, namely PT Yataharaku Tijara Abadi using a descriptive quantitative method. The analysis tool used is UU No. 36 year 2008 on income tax and formula that use as comparator. The research results of the implementation of tax planning on PT Yataharaku Tijara Abadi that the company can streamline its income tax burden by holding the cost of Human development, adding food costs, entertainment costs, and salary costs for employees. The purpose of adding this cost can reduce the value of profit so that the tax burden becomes smaller. Keywords: Tax Planning, taxation efficiency, income tax.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi tax planning dan menghitung seberapa efisien Pajak Penghasilan Badan dengan menggunakan tax planning. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah salahsatu perusahaan batubara yang ada disamarinda yaitu PT Yataharaku Tijara Abadi dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Alat analisis yang digunakan adalah UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan dan formula yang gunakan sebagai pembanding. Hasil penelitian implementasi tax planning pada PT Yataharaku Tijara Abadi bahwa perusahaan dapat mengefisiensikan beban pajak penghasilannya dengan mengadakan biaya pengembangan SDM, menambahkan biaya makan, biaya entertainment, dan biaya gaji untuk karyawan. Tujuan penambahan biaya ini dapat mengurangi nilai laba sehingga beban pajak menjadi lebih kecil.
Kata Kunci : Tax Planning, Efisiensi Pajak, Pajak Penghasilan Badan.
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara yang berkembang memiliki tujuan untuk membangun suatu negara yang makmur dan sejahtera agar menjadi negara yang maju. Salah satu cara mewujudkan tujuan tersebut yaitu dengan melakukan pembangunan yang bersifat mengembangkan, meningkatkan dan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Pajak yang berperan sebagai pendapatan negara akan membantu pembiayaan pembangunan umum dan tugas pemerintahan agar tercapainya tujuan negara. Seperti yang tertuang dalam naskah Undang-Undang Dasar 1945 pasal 23 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut: “Segala pajak yang dipungut berdasarkan undang-undang demi kepentingan negara yang ditujukan kesejahteraan rakyat”.
Dalam pelaksanaan APBN hingga akhir Januari 2018 realisasi penerimaan pajak tercatat sebesar Rp78,94 triliun atau tumbuh 11,17% secara year-on-year. Angka pertumbuhan tinggi dalam empat tahun terakhir memberikan optimisme dalam mencapai kinerja penerimaan pajak yang diperkuat dengan data pertumbuhan PPh Orang Pribadi maupun PPh Badan (Kemenkeu, 2018).
Adanya peningkatan pendapatan pemerintah dari pajak dalam APBN menjadikan peran pajak semakin besar dan signifikan dalam menyumbang penerimaan negara. Pemungutan pajak di
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 109
Indonesia mengacu pada sistem self assessment. Sistem self assessment adalah sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar (Anastasia, 2014:1).
Dengan kepercayaan dan tanggung jawab tersebut diharapkan wajib pajak mematuhi dan taat terhadap peraturan perpajakan yang ada, tetapi masih ditemukan kasus-kasus penggelapan dan kecurangan oleh suatu perusahaan setelah dilakukannya pemeriksaan oleh dirjen pajak. Dengan adanya tanggung jawab wajib pajak menghitung dan membayarkan pajaknya sendiri berdasarkan laba yang diperoleh menyebabkan beberapa perusahaan sebagai wajib pajak melakukan tindakan pelanggaran dalam perhitungan pembayaran pajak penghasilan badan contohnya dengan menurunkan omset, atau menambah biaya yang pada akhirnya menghilangkan keuntungan fiskal dikarenakan jika tidak dilakukannya hal tersebut akan meningkatkan persentase tarif pajak yang akan dibebankan oleh perusahaan. Kurangnya pengetahuan tentang perpajakan juga mengakibatkan wajib pajak melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan.
Disisi lain tujuan suatu perusahaan yaitu mendapatkan laba yang besar dalam jangka panjang dan meminimalisir beban pajak penghasilan badan dengan tidak melakukan tindakan kecurangan, maka perusahaan harus melakukan manajemen pajak dimana perusahaan akan melakukan strategi pajak yang efisien dan berpedoman pada peraturan perpajakan UU No. 36 Tahun 2008, karena semakin besar laba maka semakin besar pula pajaknya.
Salah satu strategi dalam meminimalisir beban pajak penghasilan badan dengan tidak melanggar peraturan undang-undang perpajakan adalah penghindaran pajak (Tax Avoidance). Walaupun kalimat penghindaran pajak terlihat seperti suatu tindakan yang negatif, tetapi tindakan tersebut dikatakan legal karena didalamnya masih mencakup perpajakan dan mengikuti aturan perundangan perpajakan.Untuk melakukan penghindaran pajak tersebut maka membutuhkan perencanaan pajak (Tax Planning). Pohan (2018:8) menyatakan bahwa perencanaan pajak (tax planning) tidak dimaksudkan untuk mengelak dari kewajiban perpajakan (Tax Evasion) melalui cara-cara yang melanggar aturan perpajakan.Namun demikian, dalam praktik sulit dibedakan antara cara-cara yang tidak melanggar dan yang melanggar aturan karena banyaknya peraturan perpajakn yang bisa ditafsirkan berbeda.
Perencanaan pajak (Tax Planning) sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan agar perusahaan membayar pajak dengan efisien. Dengan adanya perencanaan pajak maka dapat menghindari adanya kecurangan dan penggelapan pajak yang dapat merugikan pemerintah. Tax Planning merupakan bagian dari manajemen perpajakan secara luas. Namun istilah Tax Planning lebih dikenal daripada Tax Management.Tujuan utama dari manajemen perpajakan adalah untuk melaksanakan kewajiban perpajakan dengan benar dan meminimalisasi beban pembayaran pajak untuk memaksimalkan laba.
Adapun tahap pelaksanaan kewajiban perpajakan (Tax Implementation) dan pengendalian pajak (Tax Control) yaitu dilakukannya pengumpulan dan penelitian peraturan perpajakan. Tujuannya untuk memilih jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan perencaan pajak pada wajib pajak badan untuk mengefisiensikan pembayaran PPh Badan yaitu dengan memilih metode penyusutan aktiva tetap, melakukan pemberian kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk natura atau cash, dan memilih metode pemotongan PPh Pasal 21 yang paling tepat.
Pajak
Menurut UU No. 28 Tahun 2007 pasal 1 angka 1 tentang KUP dan Tata Cara Perpajakan “Pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada negara yang terutang orang pribadi atu badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Menurut Pohan (2014:1) Pajak merupakan salah satu sumber dana terpenting bagi kesinambungan gerak roda pembangunan nasional yang antara lain terwujud dengan tersedianya sarana-sarana pelayanan umum yang telah kita nikmati bersama.
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 110
Menurut Pramukti dan Primaharsya (2015:3) Pajak diartikan sebagai pungutan yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang hasilnya digunakan untuk pembiayaan pengeluaran umum pemerintah, yang balas jasanya tidak secara langsung diberikan kepada pembayarnya, sedangkan pelaksanaan-nya dimana perlu dipaksakan.
Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) mengatur pengenaan Pajak Penghasilan terhadap subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Subjek pajak tersebut dikenai pajak apabila menerima atau memperoleh penghasilan.
Pajak Penghasilan Badan menurut UU No. 28 Tahun 2007 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan, pasal 1 dan 3, Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, BUMN atau BUMD dengan nama dan dalam bentuk apapun, organisasi masa, organisasi sosial politik atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya.
Rekonsiliasi Fiskal
Rekonsiliasi fiskal adalah sebuah lampiran SPT Tahunan PPh Badan berupa kertas kerja yang berisi penyesuaian laba/rugi sebelum pajak menurut komersial atau pembukuan (yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi) dengan laba/rugi yang terdapat dalam laporan keuangan fiskal (yang disusun berdasarkan prinsip fiskal) (Pohan, 2018:318).
Manajemen Perpajakan
Manajemen perpajakan adalah usaha menyeluruh yang dilakukan tax manager dalam suatu perusahaan atau organisasi agar hal-hal yang berhubungan dengan perpajakan dari perusahaan atau organisasi tersebut dapat dikelola dengan baik, efisien dan ekonomis, sehingga member kontribusi maksimum bagi perusahaan (Pohan, 2018:13).
Perencanaan Pajak
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan (Suandy, 2017:7).
Aktiva Tetap
Waluyo (2012:108) menyatakan bahwa asset tetap merupakan bagian dari neraca yang dilaporkan oleh manajemen dalam setiap periode atau setiap tahun.Aset ini digolongkan menjadi asset tetap berwujud (tangible fixed assets) dan asset tetap tidak berwujud (intangible fixed assets).
Kerangka Konseptual Penelitian
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 111
Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian
METODE PENELITIAN Objek Penelitian
Objek penelitian adalah suatu data yang berkaitan dalam penelitian berupa fakta yang dapat diolah dan menjadi informasi yang meyakinkan.Penyajian data yang diperlukan Peneliti berupa : 1. Gambaran umum perusahaan dan struktur organisasi
2. Laporan Rugi Laba Tahun 2018 3. Daftar Aktiva Tetap Tahun 2018
Metode Penelitian
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif deskriptif, metode penelitian kuantitatif menurut Sugiyono (2013:13) dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan onjek penelitian ataupun hasil penelitian.adapun deskriptif menurut Sugiyono (2012:29) adalah metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau member gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2017:224).
1. Observasi
Nasution (1988) dalam (Sugiyono, 2017:226) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Dengan observasi maka data yang akan diperoleh berupa fakta mengenai dunia kenyataan akan membantu pengumpulan data penelitian. Data yang akan terkumpul adri observasi berupa informasi penerapan tax planning yang dilakukan pada perusahaan yang di dapat melalui pengamatan peneliti ketika melihat secara langsung bagaimana proses penerapan tax planning berlangsung di perusahaan.
2. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2017:240). Dokumen yang diterima adalah gambaran umum perusahaan dan struktur organisasi, laporan laba rugi tahun 2018, serta daftar aktiva tetap tahun 2018 yang didapatkan langsung dari Direktur PT Yataharaku Tijara Abadi.
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 112
3. Studi Pustaka
Menurut Nazir (2013:93) teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaah terhadap buku-buku, literature-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Teknik ini digunakan untuk memperoleh dasar-dasar dan pendapat secara tertulis yang dilakukan dengan cara mempelajari berbagai literature yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Hal ini juga dilakukan untuk mendapatkan data sekunder yang akan digunakan sebagai landasan perbandingan antara teori dengan prakteknya di lapangan.
Jenis dan Sumber Data
Untuk penelitian ini akan menggunakan jenis kuantitatif dan sumber data adalah data sekunder yaitu data Laporan Laba Rugi tahun 2018, Gambaran Umum Perusahaan dan Struktur Organisasi PT Yataharaku Tijara Abadi serta dokumen-dokumen lain yang di ada dalam pembahasan.
Alat Analisis
Alat analisis berperan penting dalam memecahkan masalah penelitian ini, alat analisis yang digunakan berupa pedoman dalam melakukan tax planning yaitu Peraturan Perpajakan UU No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan.
Analisis
Laporan keuangan yang menjadi dasar pada SPT Tahunan PPh yang akan disampaikan ke kantor pelayanan pajak wajib dilakukannya penyesuaian fiskal. Hal ini disebabkan laporan keuangan perusahaan mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
Data yang peneliti peroleh yaitu laporan laba rugi diketahui bahwa jumlah laba bersih tersebut diperoleh dari pendapatan dikurangi biaya-biaya yang kemudian ditambah koreksi fiscal hingga mendapat jumlah dasar pengenaan pajak sebesar 25%. Sebelum penyusunan laporan keuangan dalam hal ini laporan laba rugi fiskal setelah kebijakan tax planning, Peneliti membuat laporan rekonsiliasi fiskal yang bersumber dari laporan keuangan komersial berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk menentukan laba kena pajak sebagai dasar menghitung Pajak Penghasilan terhutang.
Berdasarkan laporan rekonsiliasi fiskal PT Yataharaku Tijara Abadi terdapat beberapa koreksi fiskal yaitu:
1. Beban Perjalanan
Beban perjalanan dikoreksi positif sebesar Rp.68.750.000 karena dalam beban perjalanan terdapat biaya perjalanan untuk kepentingan pribadi pemilik perusahaan. Sesuai dengan Pasal 9 ayat (1) huruf b, biaya perjalanan untuk kepentingan pribadi tidak dapat dibebankan sebagai biaya.
2. Biaya Telpon dan Internet
Biaya telepon dan internet dikoreksi sebesar 50% dari biaya tersebut karena terdapat biaya telepon rumah pemilik perusahaan. Dalam Pasal 9 ayat (1) huruf e, penggantian/ imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan merupakan biaya yang tidak boleh dikurangkan.
3. Biaya Listrik & Air
Dikoreksi fiskal positif sebesar Rp 14.225.728 karena merupakan suatu bentuk kenikmatan yang diberikan perusahaan kepada salah salah satu karyawan. Sesuai dengan Undang-Undang Pasal 9 ayat (1) huruf e, penggantian/ imbalan sehubungan dengan pekerjaan/ jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan merupakan biaya yang tidak boleh dikurangkan.
4. Bahan Bakar
Dikoreksi positif sebesar Rp 11.677.100 karena terdapat biaya bahan bakar kendaraan untuk pemilik perusahaan. Bedasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-220/PJ/2002 tanggal 18 April 2002 tentang perlakuan biaya kendaraan perusahaan yang
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 113
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50%.
5. Pendapatan Jasa Giro
Dikoreksi fiscal negatif seluruhnya sebesar Rp 25.804.375 karena pendapatan jasa giro telah dikenakan pajak bersifat final sehingga pendapatan tersebut tidak dapat dijumlah sebagai penghasilan untuk perhitungan pajak penghasilan pada akhir tahun sesuai dengan pasal 4 ayat 2.
Adapun koreksi fiscal yang disebabkan dari metode penyusutan yang perhitungkan sebagai berikut:
A. Menurut Perusahaan
Penyusutan dilakukan menggunakan Metode Garis Lurus yang sesuai dengan SAK. Biaya Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai Residu / Umur Ekonomis
a. Bangunan
Rp 400.000.000 – Rp 150.000.000 / 20 tahun = Rp 12.500.000 (Beban Penyusutan)
Rp 400.000.000 – Rp 12.500.000 = Rp 387.500.000 (Nilai Buku)
b. Peralatan Kantor (Handphone, Printer, Laptop, dan AC) Rp 12.801.300 – Rp 6.100.000 / 4 tahun = Rp 1.675.325 (Beban Penyusutan) Rp 12.801.300 – Rp 1.675..325 = Rp 11.125.975 (Nilai Buku) c. Kendaraan Rp 368.000.000 – Rp 130.000.000 / 8 tahun = Rp 29.750.000 (Beban Penyusutan) Rp 368.000.000 – Rp 29.750.000 = Rp 338.250.000 (Nilai Buku) B. Menurut Perpajakan
Penyusutan dilakukan menggunakan Metode Saldo Menurun dengan tarif UU yang berlaku. Biaya Penyusutan = Harga Perolehan x Tarif Penyusutan
a. Bangunan
Tidak dilakukan penyusutan karena menggunakan Metode Saldo Menurun yang disebutkan pada pasal 11 ayat 2 yaitu Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana dimaksud pada ayat 1 selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas.
b. Peralatan Kantor (Handphone, Printer, Laptop, dan AC) Rp 12.801.300 x 50% = Rp 6.400.650 (Beban Penyusutan) Rp 12.801.300 – Rp 6.400.650 = Rp 6.400.650 (Nilai Buku) c. Kendaraan Rp 368.000.000 x 25%
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 114
= Rp 92.000.000 (Beban Penyusutan) Rp 368.000.000 – Rp 92.000.000 = Rp 276.000.000 (Nilai Buku)
Berdasarkan hasil perhitungan penyusutan aktiva tetap menurut perusahaan biaya penyusutan sebesar Rp 69.200.325 yang telah dicantumkan ke dalam laporan laba rugi yang telah dilampirkan diatas. Namun, terdapat perbedaan nilai penyusutan saat dilakukannya perhitungan dengan metode yang berbeda yaitu Saldo menurun yang menjadi koreksi fiscal pada biaya penyusutan dengan rincian sebagai berikut:
1. Biaya Penyusutan Bangunan
Menurut Perususahaan = Rp 12.500.000 Menurut Perpajakan = Rp -
Rp 12.500.000 (koreksi positif) 2. Biaya Penyusutan Peralatan Kantor
Menurut Perususahaan = Rp 1.675.325 Menurut Perpajakan = Rp 6.400.650 Rp 4.725.325 (koreksi negatif) 3. Biaya Penyusutan Kendaraan
Menurut Perususahaan = Rp 29.750.000 Menurut Perpajakan = Rp 92.000.000 Rp 62.250.000 (koreksi negatif)
Sehingga total selisih biaya penyusutan yang dikoreksi postif dan negatif adalah Rp 54.475.325 yang menjadi total koreksi negatif pada tabel laporan rekonsiliasi fiskal dibawah ini:
Tabel 1
Implementasi Tax Planning pada PT Yataharaku Tijara Abadi
Laba Fiskal Sebelum Pajak Rp 5.843.949.666
Dikurangi (-)
a. Biaya Pengembangan SDM Rp 24.000.000
b. Biaya Makan Rp 9.000.000
c. Biaya Entertainment Rp 20.000.000
d. Biaya Gaji Karyawan Rp 2.000.000
1. Laba Sebelum Sumbangan Keagamaan (a+b+c+d) Rp 5.788.949.666 2. Sumbangan Keagamaan 10% dari Laba Bruto Rp 578.894.967 3. Laba Setelah Sumbangan Keagamaan (1-2) Rp 5.210.054.700
Selisih Laba sebelum dan setelah sumbangan Rp 578.894.967
Sumber: Data diolah
Keterangan:
a. Pemberian pengembangan SDM dengan memberikan pelatihan kursus Bahasa Inggris bagi karyawan perusahaan, sehingga menambah biaya sebesar Rp. 24.000.000,- sesuai pasal 6 ayat 1 huruf f.
b. Menambah biaya makan untuk karyawan ditempat kerja sebesar Rp 9.000.000 sesuai dengan KEP.51/PJ/2009, dimana biaya makan ini termasuk fasilitas pajak.
c. Biaya entertainment ditambahkan sebagai biaya sebesar Rp 20.000.000 yang sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-27/PJ.22/1986 dan harus memperhatikan ketentuan pajak yang berlaku yaitu sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 6 aya 1 huruf a.
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 115
d. Menambahkan biaya gaji karyawan sebesar Rp 1.000.000 / karyawan dengan jumlah karyawan PT Yataharaku Tijara Abadi 2 orang sehingga jumlahnya Rp 2.000.000,- sesuai dengan pasal 9 UU No.36 tahun 2008.
Berdasarkan laporan laba rugi fiscal yang telah diolah Peneliti maka dapat menjadi pedoman untuk melakukan ikhtisar perhitungan laba rugi sebelum tax planning dan setelah tax planning untuk laporan laba rugi tahun 2018 sebagai berikut :
Tabel 2
Laporan Laba Rugi Fiskal sebelum dan setelah Tax Planning
Keterangan L/R Fiskal sebelum
Tax Planning
L/R Fiskal setelah Tax Planning
Pendapatan Usaha Rp 29.738.111.655 Rp 29.738.111.655 Beban Pokok Pendapatan Rp (20.563.441.605) Rp (20.563.441.605) Laba (Rugi) Bruto Rp 9.174.670.050 Rp 9.174.670.050
Beban Usaha Rp - Beban Penjualan Rp - Biaya Transportasi Rp 2.467.612.993 Rp 2.467.612.993 Komisi Penjualan Rp 270.562.121 Rp 270.562.121 Total beban Penjualan Rp 2.738.175.114 Rp 2.738.175.114
Beban Adm. Dan Umum Rp -
Rp -
Gaji dan tunjangan Karyawan Rp 100.800.000 Rp 100.800.000 Penyusutan Rp 98.400.650 Rp 98.400.650 Biaya Pemeliharaan Rp 23.816.760 Rp 23.816.760 Sewa Kantor Rp 150.000.000 Rp 150.000.000 Perlengkapan & Peralatan Kantor Rp 37.782.188 Rp 37.782.188 Biaya Perjalanan Rp 94.450.000 Rp 94.450.000 Biaya Telpon dan internet Rp 7.424.334 Rp 7.424.334 Bahan Bakar Rp 11.677.100 Rp 11.677.100 Biaya Listrik & Air Rp 42.389.863 Rp 42.389.863
Biaya Pengembangan SDM - Rp 24.000.000
Biaya Makan - Rp 9.000.000
Biaya Entertainment - Rp 20.000.000
Biaya Gaji Karyawan - Rp 2.000.000
Total Beban Adm dan Umum Rp 566.740.895 Rp 621.740.895
Jumlah Beban Usaha Rp 3.304.916.009 Rp 3.359.916.009
Laba (Rugi) Usaha Rp 5.869.754.041 Rp 5.814.754.041
Pendapatan (Beban) Lain-lain
Pendapatan jasa giro Rp -
Rp -
Beban lain-lain Rp (25.804.375) Rp (25.804.375) Jumlah Pendapatan (Beban) Lain-lain Rp (25.804.375) Rp (25.804.375)
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 116
Laba (Rugi) Sebelum Sumbangan
Keagamaan Rp 5.843.949.666 Rp 5.788.949.666
Sumbangan Keagamaan 10% dari Laba
Bruto Rp 584.394.967 Rp 578.894.967 Laba (Rugi) Setelah Sumbangan
keagamaan Rp 5.259.554.700 Rp 5.210.054.700 PPh Badan pasal 17 (25% X PKP Fiskal) Rp 1.314.888.675 Rp 1.302.513.675
Laba (Rugi) Setelah Pajak Rp 3.944.666.025 Rp 3.907.541.025
Sumber: Data diolah
Tabel 3
Data Perhitungan Pajak Penghasilan PT Yataharaku Tijara Abadi Sebelum dan Sesudah Tax Planning
Keterangan Sebelum (1) Sesudah (2)
a. Laba Sebelum Pajak (tabel 4.7) Rp 5.843.949.666 Rp 5.788.949.666 b. Pajak (tabel 4.7) Rp 1.460.987.417 Rp 1.447.237.417 c. Laba Setelah Pajak (4.7) (a – b) Rp 4.382.962.250 Rp 4.341.712.250
Selisih Laba Setelah Tax Planning
(1c – 2c) Rp 41.250.000
Sumber: Data diolah
Tabel 4
Hasil Perhitungan Pajak Penghasilan PT Yataharaku Tijara Abadi Sebelum dan Sesudah Tax Planning
a. Beban Pajak Sebelum Tax Planning Rp 1.460.987.417
b. Beban Pajak Setelah Tax Planning Rp 1.447.237.417
Perencanaan Pajak (a – b) Rp 13.750.000
Sumber: Data diolah
Pembahasan
Sebagai perusahaan yang baru saja memulai usahanya PT Yataharaku Tijara Abadi dalam kondisi perpajakan saat ini sudah cukup efektif, tetapi masih dapat ditambahkan biaya-biaya lain sebagai alternative untuk mengefisiensikan pajaknya yang belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh perusahaan. seperti biaya-biaya dibawah ini.
a. Pemberian pengembangan SDM sesuai dengan UU No. 36 tahun 2008 pasal 6 ayat 1 dengan memberikan pelatihan kursus Bahasa Inggris bagi karyawan perusahaan, sehingga menambah biaya sebesar Rp. 24.000.000,- yang gunanya mengembangkan kemampuan karyawan dalam menggunakan Bahasa Inggris untuk keperluan pekerjaan pada PT Yataharaku Tijara Abadi Pengembangan ini dapat dilakukan selama 1 tahun.
b. Menambah biaya makan untuk karyawan ditempat kerja sehingga memberikan kesejahteraan untuk karyawan yang masuk kerja sebesar Rp 9.000.000 sesuai dengan KEP.51/PJ/2009, dimana biaya makan ini termasuk fasilitas pajak.
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 117
c. Biaya entertainment dapat mengurangi penghasilan bruto dengan syart adanya bukti-bukti yang sah dengan kenyataan bahwa biaya tersebut untuk operasi perusahaan sebesar Rp 20.000.000 seperti adanya daftar nominatifnya, berisi tanggal, tempat usaha, jenis usaha, jumlah pertunjukannya serta dengan siapa (relasi usaha) pertunjukan dilakukan dari perusahaan mana dan dalam kedudukan apa yang sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-27/PJ.22/1986 dan harus memperhatikan ketentuan pajak yang berlaku yaitu sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 6 aya 1 huruf a.
d. Menambahkan biaya gaji karyawan sebesar Rp 1.000.000 / karyawan dengan jumlah karyawan PT Yataharaku Tijara Abadi 2 orang sehingga jumlahnya Rp 2.000.000,- sesuai dengan pasal 9 UU No.36 tahun 2008. Tujuannya menambah kinerja karyawan, menambahkan loyalitas karyawan kepada perusahaan sebagai bentuk apresiasi perusahaan kepada karyawan.
Penerapan tax planning tersebut menyebabkan jumlah biaya meningkat sehingga penghasilan kena pajak menurun. Tujuannya adalah menghindari pembengkakan biaya pajak yang akan dibayarkan tetapi tetap mengikuti aturan perpajakan yang berlaku sehingga pengaturan aktivitas perusahaan terhindar dari konsekuensi perpajakan seminimalnya.
Simpulan
Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan diatas, maka didapatkan beberapa simpulan dari pembahasan penelitian tersebut, yaitu:
1. Setelah melakukan penelitian mengenai implementasi tax planning pada PT Yataharaku Tijara Abadi maka didapatkan hasil bahwa perusahaan tersebut telah mengikuti peraturan undang-undang perpajakan yang berlaku namun masih belum memaksimalkan strategi alternatif tax planning yang ada. Sehingga dapat dilakukan tax planning dengan mengadakan biaya-biaya yang dapat mengurangi laba bruto yang telah diatur dalam UU No. 36 tahun 2008 serta peraturan perpajakan untuk mengefisiensikan beban pajak yang akan dibayarkan oleh perusahaan.
2. Sebelum dilakukannya implementasi tax planning peneliti memperhitungkan laba komersial yang koreksi fiscal sehingga menjadi laporan laba rugi fiscal yang siap dilakukan perencanaan pajak (tax planning) dimana saat dilakukannya perhitungan perbandingan ditemukan selisih beban pajak yang harus dibayar perusahaan menjadi lebih kecil setelah adanya tax planning, sehingga implementasi tax planning tersebut dapat diterapkan perusahaan sebagai kebijakan tahun selanjutnya dalam mengefisiensikan beban pajak penghasilan badan.
Saran
Berdasarkan hasil simpulan diatas, maka hal-hal yang bisa disarankan oleh peneliti kepada objek penelitian yaitu PT Yataharaku Tijara Abadi dan kepada peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian ini, adalah :
1. Perusahaan seharusnya menambah karyawan khusus bagian-bagian yang dapat berfokus dengan tugasnya dimasa depan, seperti bagian pajak sehingga perusahaan dapat memahami lebih tentang peraturan perpajakan yang berlaku terutama pajak penghasilan yang diatur dalam UU No. 36 tahun 2008 agar mengefisiensikan pajak sesuai dengan aturan yang berlaku. Serta mengikuti setiap perkembangan perpajakan yang ada di Indonesia, karena saat peraturan perpajakan diperbarui maka perhitungan atau pelaksanaan perpajakan pada perusahaan juga dapat berubah.
2. Untuk mengefisiensikan biaya dapat dilakukan penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode saldo menurun dibandingkan dengan metode garis lurus. Karena metode garis lurus dan metode saldo menurun adalah metode penyusutan aktiva tetap yang diperbolehkan berdasarkan peraturan perpajakan.
3. Mengimplementasikan tax planning diperlukannya informasi perusahaan yang membantu dalam melakukan tax planning, serta sebelum dilakukannya tax planning yaitu koreksi fiscal
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 118
dibutuhkan informasi tambahan tentang biaya-biaya yang digunakan perusahaan, atau laporan laba rugi perusahaan yang telah dilakukan fiscal karena saat melakukan tax planning laba yang akan dikenakan pajak penghasilan badan adalah laba fiscal.
4. Berhubung peraturan perpajakan yang selalu diperbarui maka peneliti selanjutnya harus mengikuti perkembangan peraturan perpajakan yang terbaru yang dapat ditemukan diberbagai situs edukasi perpajakan.
5. Penelian selanjutnya dapat memperluas objek pembahasan yang akan dilakukan penerapan atau implementasi tax planning sebagai upaya efisiensi PPh Badan.
DAFTAR RUJUKAN
Anastasia Diana & Lilis Setiawati, (2014). Perpajakan, Teori dan Peraturan Terkini.Yogyakarta: Andi.
Christa, U. R. (2013). Peran Human Capital dan Structural Capital Dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi (Suatu Kajian Konseptual) (Vol. 1). Palangkaraya: Fakultas Ekonomi. Universitas Palangkaraya.
Haryono, M. (2012). Penegakan Hukuman Disiplin Berat Bagi Pegawai Negeri Sipil Di
Pemerintahan Kota Bandung Propinsi Jawa Barat. Purwokerto: Fakultas Hukum.
Universitas Jendral Soedirman
Hery. (2013). Akuntansi Perusahaan Jasa dan Dagang. Bandung: Alfabeta.
Ibrahim, P. (2013). Akuntansi Akrual dan Penerapannya di Sektor Publik Telaah Pustaka. Makassar: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Hasanuddin Makassar.
Jusup, A. H. (2014). Dasar-dasar Akuntansi (Ketujuh). Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Kadarisman, M. (2018). Manajemn Aparatur Sipil Negara (Kesatu). Depok: Rajawali Pers.
Kalangi, R. (2015). Pengaruh Komitmen Organisasi Dan Partisipasi Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial Pada Perusahaan Manufaktur Di Kota Manado. Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum, 2(1), 1–18.
Kambey, M. D. (2015). Perlakuan Akuntansi Sumber Daya Manusia Sebagai Aset Entitas (Studi Kasus Pada PT Sinar Purefoods International Bitung). Manado: Politeknik Negeri Manado. Mardiasmo, (2018).Perpajakan.Yogyakarta. Penerbit: Andi.
Muljono, Djoko. (2009). Akuntansi Pajak Lanjutan. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat.
Naukoko, P. A. (2014). Akuntansi Sumber Daya Manusia. In Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Vol. 9). Manado: Universitas Sam Ratulangi Manado.
Nazir, Moh. (2013). Metode Penelitian. Bogor. Penerbit: Ghalia Indonesia.
Perwira, A. (2011). Analisis Pengaruh Mutasi Terhadap Semangat Kerja Pegawai Badan
Kepegawaian Daerah Kota Pekanbaru. Riau: Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial.
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim.
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 119
Pramukti, Angger Sigit & Primaharsya, Fuady. (2015). Pokok-pokok Hukum Perpajakan.Yogyakarta. Penerbit: Pustaka Yustisia.
Prasojo, Lantip Diat, Amirul. M. dan Fitri. N. M. (2017). Manajemen Strategi Human Capital Dalam Pendidikan (Kesatu). Yogyakarta: UNY Press.
Prasetyo, A. D. (2016). PSAK No. 19: Aset Tidak Berwujud. Retrieved from https:// dconsultingbusinessconsultant.com/psak-no-19-aset-tidak-berwujud.
Priyati, D. D. dan Iwan. F. (2014). Pengukuran Akuntansi Sumber Daya Manusia Dan Pengungkapannya Dalam Laporan Keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Purbalingga (Vol. 12). Purwokerto: Fakultas Ekonomi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Puspitasari, Indah Yulia. (2013). Penerapan Tax Planning Atas Pajak Penghasilan Badan.Skripsi.FE Dan Bisnis Universitas Dian Nusawantoro Semarang
Raihan. (2016). Pengambilan Keputusan Dalam Kepemimpinan Manajemen Dakwah (Vol. 22). Banda Aceh: Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.
Ramby, A. D. (2013). Pelaksanaan Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Di Madrasyah Tsanawiyah Negeri 1 Di Padangsidimpuan. Medan: Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara.
Rohman, A. (2018). Dasar-dasar Manajemen Publik. Malang: Empatdua.
Rori, Handri. (2013). Analisis Penerapan Tax Planning Atas Pajak Penghasilan Badan.Jurnal EMBA. Vol 1 No. 3 ISSN 2303-1174.
Sari, Nur. M. (2018). Kajian Kritis Akuntansi Sumber Daya Manusia Pada PT Hexindo Adiperkasa Tbk Samarinda. Samarinda: Jurusan Akuntansi. Politeknik Negeri Samarinda.
Sari, Rani. N. (2016). Perlakuan Akuntansi Biaya Pengembangan Sumber Daya Manusia Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Samarinda. In Jurnal Ekonomi dan keuangan (Vol. 13). Samarinda: Fakultas Ekonomi dan Bismis. Universitas Mulawarman.
Silitonga, Laorens. 2013. Penerapan Tax Planning Atas Pajak Penghasilan Badan Pada CV Andi Offset Cabang Manado.Jurnal EMBA. Vol. 1 No. 3 ISSN 2303-1174.
Sopiah dan Etta Mamang Sangadji. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.
Suandy, Early. (2006). Perencanaan Pajak. Edisi Empat. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat Sugiyono, (2012).Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung. Penerbit: Alfabeta. Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sujarweni, V. Ratna. (2015). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Warno. (2011). Pencatatan dan Pengakuan Sumber Daya Manusia Dalam Akuntansi (Vol. 3). Semarang: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Semarang.
Volume 15 No 2 Oktober 2019
Sosial, Ekonomi dan Bisnis Halaman 120
Waluyo, (2012).Akuntansi Pajak, Edisi Empat. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat.
Zarkasi, A. (2011). Analisis Kinerja Sumber Daya Manusia Pada Asuransi Jiwa Bringin Life. Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. ________, (2013).Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung. Penerbit: Alfabeta. ________, (2017).Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung. Penerbit: Alfabeta. ________. (2017). Perencanaan Pajak. Edisi Enam. Jakarta. Penerbit: Salemba Empat
________, (2018). Manajemen Perpajakan, Edisi Revisi. Jakarta. Penerbit: Gramedia.
PP No 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil. (n.d.). Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 63 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6037).
PP No 46 Tahun 2011 Tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil. (n.d.). Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 121 Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5258).
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 19999 Nomor 169 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890). (n.d.).
Undang-Undang Perpajakan No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Undang-Undang Republik Indonesia, Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2018). Penerimaan Perpajakan Hingga Akhir Februari 2018 Tumbuh Semakin Baik di https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/siaran-
pers/keterangan-pers-penerimaan-perpajakan-hingga-akhir-februari-2018-tumbuh-semakin-baik (di akses 30 Januari 2019).
Website Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah Kota Samarinda. Retrieved from http://bkppd.samarindakota.go.id /new/ home